Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Pengertian krim
Menurut FI.IV,Krim adalah bentuk sediaan setengah padat, mengandung satu atau lebih
bahan obat terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai. Istilah ini secara
tradisional telah digunakan untuk sediaan setengah padat yang mempunyai konsistensi relatif
cair diformulasi sebagai emulsi air dalam minyak atau minyak dalam air.
Krim terdiri dati emulsi minyak dalam air atau dispersi mikrokristal asam-asam lemak
atau alkohol berantai panjang dalam air, yang dapat di cuci dengan air dan lebih ditujukan
untuk pemakaian kosmetika dan estetika. Krim dapat juga digunakan untuk pemberian obat
melalui vaginal.
1.2 Tipe krim
Ada dua tipe krim yaitu krim tipe minyak air (m/a) dan krim tipe air minyak(a/m).
pemilihan zat pengemulsi harus disesuaikan dengan jenis dan sifat krim yang dikehendaki.
Untuk krim tipe a/m digunakan sabun polivalen , span , adeps lanae , kolesterol ,dan cera.
Sedangkan untuk krim tipe m/a digunakan sabun monovalen seperti trietanolamin, natrium
stearat, kalium stearat dan amonium stearat. Selain itu dapat juga dipakai tween, natriun
laurylsulfat, kuning telur, gelatinum, caseinum, CMC dan emulgidum.
1.3 Kestabilan krim
Kestabilan krim akan tergangg / rusak jika sistem campuranya terganggu,terutama
disebabkan oleh perubahan suhu dan perubahan komposisi yang disebabkan perubahan salah
satu fase secara berlebihan atau zat pengemulsinya tidak tercampurkan satu sama lain.
Pengenceran krim hanya dapat dilakukan jika diketahui pengenceranya yang cocok dan
dilakukan dengan tehnik aseptik. Krim yang sudah diencerkan harus digunakan dalam jangka
waktu 1 bulan. Sebagai pengawet pada krim umumnya digunakan metil paraben (nipagin)
dengan kadar 0,12% hingga 0,18% atau propil paraben (nipasol)dengan kadar 0,02% hingga
0,05%.
1.4 Kelebihan sediaan krim
Mudah menyebar rata
Praktis
Mudah dibersihkan atau dicuci
Cara kerja berlangsung secara setempat
1

Tidak lengket terutama tipe m/a


Memberikan rasa dingin (cold krim) tipe a/m
Digunakan sebagai kosmetik
1.5 Kekurangan Krim
Susah dalam pembuatanya harus dalam keadaan panas
Gampang pecah disebabkan dalam pembuatan formula tidak pas
Mudah kering dan mudah rusak khususnya tipe a/m karena terganggu sistem
campuran terutama disebabkan oleh perubahan suhu dan perubahan komposisi
disebabkan penambahan salah satu fase secara berlebihan.
1.6 Tujuan
Untuk mengetahui sediaan krim
Mengetahui tipe krim
Untuk mengetahui kestabilan krim
Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan krim

BAB II
PROSEDUR PRAKTIKUM
1.1 Resep

R/ Parafin

3g

Cataceum

4g

Cera alba

2g

Ol.olivae

30g

Borax

1g

Aqua

20 ml

M.ds night cream

Da 20

1.2 Kelengkapan Resep

Nama Dokter

Alamat Dokter

Sip Dokter

No dan tanggal resep

Aturan pakai

Nama pasien

Umur pasien

Alamat pasien

Paraf Dokter

1.3 Monografi Obat


Parafin

Pemerian : Padat, sering menunjukan susunan hablur, agak licin tidak berwarna atau
3

putih

Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol

Wadah

: Dalam wadah tertutup baik

Khasiat

: Zat tambahan

Cataceum

Pemerian : Masa hablur, bening licin putih muhara bau dan rasa lemah

Kelarutan : Tidak larut dalam air dan dalam etanol dingin, larut dalam 20 bagian
Etanol mendidih

Wadah

: Dalam wadah tertutup baik

Khasiat

: Zat tambahan

Cera alba

Pemerian : Zat padat,lapisan tipis,bening,putih,kekuningan bau khas lemah

Kelarutan : Tidak larut dalam air,agak sukar larut dalam etanol

Wadah

: Dalam wadah tertutup baik

Khasiat

: Zat tambahan

Oleum olivae

Pemerian : Cairan kuning pucat/kuning kehijauan,bau lemah,tidak tengik,rasa khas

Kelarutan : Sukar larut dalam etanol,mudah larut kloroform

Wadah

:Dalam wadah tertutup baik

Khasiat

:Zat tambahan

Boraks

Pemerian : Hablur transparan tidak berwarna atau serbuk hablur putih,tidak berbau
rasa asin dan basa.

Kelarutan : Larut dalam 20 bagian air dalam 0,6 bagian air mendidih dan dalam lebih
Kurang 1 bagian gliserol

Wadah

: Dalam wadah tertutup baik

Khasiat

: Antiseptikum ekstern

Aquadest

1.4

Pemerian : Cairan jernih

Khasiat

: Pelarut

Golongan obat

1.5

O :

G : Boraks

W : Parafin, cera alba, ol olivae, aquadest

Indikasi
Parafin

: Zat tambahan

Cetaceum

: Zat tambahan

Cera alba

: Zat tambahan

Ol.olivae

: Zat tambahan

Borax

: Antiseptikum ekstern

Aquadest

:Pelarut

1.6 Perhitungan
No

Nama bahan

Formula

Bahan yang ditimbang

Parafin

3g

1g

Cataceum

4g

1,3g

Cera alba

2g

0,6g

Oleum olivae

30g

10g

Borax

1g

0,3

Aquadest

20ml

6,67

1.7 Prosedur
Mentara timbangan
Menyiapkan alat dan bahan
Menimbang semua bahan
Panaskan mortir
Melebur bahan (parafin,cetaceum,dan cera alba sampai melumer)
Buang air yang dalam mortir
5

Masukan bahan yang sudah dilebur kedalam mortir gerus sampai homogen
Tambahkan borax yang sudah dilarutkan dalam air sedikit demi sedikit kemudian
gerus sampai homogen
Tambahkan ol olivae sedikit demi sedikit gerus sampai homogen
Tambahkan air sedikit demi sedikit gerus sampai homogen dan sampai membentuk
krim
Masukan krim kedalam pot krim dan beri etiket biru.
1.8 Evaluasi sediaan
Organoleptik

Warna

Bau

Bentuk

Menghitung BJ

Viskositas

Penetapan ph

Volume terpindahkan

Pertumbuhan mikroba

1.9 Etiket dan lebel


Etiket:
Apotek Poltekkes
Jl.Cilolohan No 35 Tasikmalaya
Apoteker:Reti Nurul Oktaviyani
SIK :P2.06.30.1.13.031

NO:09

Tgl:08-05-2014

Dioleskan pada malam hari


Pro:Ny

1.10

Umur/bb:

Swamedikasi

Obat ini digunakan secara topikal dengan cara pemakain dioleskan pada malam hari
1.11

Pustaka

Surjaningrat Suwardjono.1979.Farmakope Indonesia Edisi ke III.jakarta:BPOM


6

BAB III
3.1 Pembahasan
Pada praktikum tanggal 8 mei 2014 penulis membuat sediaan night cream dimana krim
adalah salep yang banyak mengandung air, mudah diserap kulit, suatu tipe yang mudah
dicuci dengan air. Sediaan krim dibagi menjadi dua tipe yaitu krim minyak dalam air(o/w)
dan krim air dalam minyak(w/o). Krim yang penulis buat termasuk krim minyak dalam air
(o/w). dalam sediaan krim terdapat dua fase yaitu satu fase sebagai pendispers dan fase
lainya sebagai terdispers. Pada saat pembuatan krim diperlukan perlakuan khusus untuk
dapat berhasil menjadi krim yang baik yaitu pada saat pembuatan mortir dan stemper harus
dalam keadaan panas ,begitu juga dengan bahan basisnya. Pada saat penulis membuat
sediaan krim tidak mengalami kesulitan semua berjalan dengan lancar ,semua itu terjadi
karena bahan sudah tersedia dengan baik,juga peralatan yang diperlukan sudah tersedia. Pada
saat sediaan sudah penulis buat dengan pemberian etiket dan lebel,kemudian sediaan di
periksa oleh instruktur praktikum dan hasil yang didapatkan adalah sediaan yang penulis buat
masih mengandung serbuk atau sediaan yang penulis buat tidak halus ,mungkin itu terjadi
karena sediaan yang penulis buat belum homogen,jadi seharusnya perlu penggerusan lagi
supaya sediaan menjadi homogen dan halus.

BAB IV
4.1 Kesimpulan
Krim adalah sediaan setengah padat berupa emulsi mengandung air tidak kurang dari
60% dan dimaksudkan untuk pemakaian luar. Dalam pembuatanya memerlukan perlakuan
khusus yaitu harus dalam keadaan panas baik alat dan bahanya.krim yang penulis buat
merupakan tipe minyak dalam air (o/w) dengan cara penggunaan di oleskan tipis pada malam
hari.
4.2 Saran
Sebaiknya bahan bahan yang akan di gunakan di siapkan secara benar ,supaya tidak terjadi
kekurangan bahan pada saat pembuatan karena itu dapat menghamburkan waktu dan juga
membuat sediaan menjadi tidak stabil karena di simpan dahulu tidak langsung di selesaikan.

DAFTAR PUSTAKA
8

Anief.Moh.1997.Ilmu Meracik Obat.Yogyakarta:UGM Press


Departemen Kesehatan Republik Indonesia.1979.Farmakope Indonesia Edisi III.Jakarta: Depkes
RI
Departemen Kesehatan Republik Indonesia.1995.Farmakope Indonesia Edisi IV.Jakarta: Depkes
RI
Howard C. Ansel.1989.Pengantar bentuk sediaan farmasi.Jakarta:UI-Press
Syamsuni A.2006.Ilmu Resep.jakarta:EGC

Farmakope Indonesia Edisi III, krim adalah bentuk sediaan setengah padat,
berupa emulsi mengandung air tidak kurang dari 60% dan dimaksudkan
untuk pemakaian luar.
Farmakope Indonesia Edisi IV, krim adalah bentuk sediaan setengah padat
mengandung satu atau lebih bahan obat terlarut atau terdispersi dalam bahan
dasar yang sesuai.
Formularium Nasional, krim adalah sediaan setengah padat, berupa emulsi
kental mengandung air tidak kurang dari 60% dan dimaksudkan untuk
pemakaian luar.
Secara Tradisional istilah krim digunakan untuk sediaan setengah padat
yang mempunyai konsistensi relatif cair di formulasi sebagai emulsi air
dalam minyak(a/m) atau minyak dalam air (m/a) (Budiasih, 2008).
Krim merupakan obat yang digunakan sebagai obat luar yang dioleskan ke
bagian kulit badan. Obat luar adalah obat yang pemakaiannya tidak melalui
mulut, kerongkongan, dan ke arah lambung. Menurut definisi tersebut yang
termasuk obat luar adalah obat luka, obat kulit, obat hidung, obat mata, obat
tetes telinga, obat wasir, injeksi, dan lainnya.
9

Kualitas dasar krim, yaitu:


1. Stabil, selama masih dipakai mengobati. Maka krim harus bebas dari
inkopatibilitas, stabil pada suhu kamar, dan kelembaban yang ada dalam
kamar.
2. Lunak, yaitu semua zat dalam keadaan halus dan seluruh produk menjadi
lunak dan homogen.
3. Mudah dipakai, umumnya krim tipe emulsi adalah yang paling mudah
dipakai dan dihilangkan dari kulit.
4. Terdistribusi merata, obat harus terdispersi merata melalui dasar krim
padat atau cair pada penggunaan (Anief, 1994).
Penggolongan Krim
Krim terdiri dari emulsi minyak dalam air atau dispersi mikrokristal asamasam lemak atau alkohol berantai panjang dalam air yang dapat dicuci
dengan air dan lebih ditujukan untuk pemakaian kosmetika dan estetika. Ada
dua tipe krim, yaitu:
1. Tipe a/m, yaitu air terdispersi dalam minyak
Contoh : cold cream
Cold cream adalah sediaan kosmetika yang digunakan untuk maksud
memberikan rasa dingin dan nyaman pada kulit, sebagai krim pembersih,
berwarna putih dan bebas dari butiran. Cold cream mengandung mineral oil
dalam jumlah besar.
2. Tipe m/a, yaitu minyak terdispersi dalam air
Contoh: vanishing cream
Vanishing cream adalah sediaan kosmetika yang digunakan untuk maksud
membersihkan, melembabkan dan sebagai alas bedak. Vanishing cream
sebagai pelembab (moisturizing) meninggalkan lapisan berminyak/film pada
kulit.
Kelebihan dan kekurangan sediaan krim
Kelebihan sediaan krim, yaitu:
1. Mudah menyebar rata
2. Praktis
3. Mudah dibersihkan atau dicuci
4. Cara kerja berlangsung pada jaringan setempat
5. Tidak lengket terutama tipe m/a
6. Memberikan rasa dingin (cold cream) berupa tipe a/m
7. Digunakan sebagai kosmetik

10

8. Bahan untuk pemakaian topikal jumlah yang diabsorpsi tidak cukup


beracun.
Kekurangan sediaan krim, yaitu:
1. Susah dalam pembuatannya karena pembuatan krim harus dalam keadaan
panas.
2. Gampang pecah disebabkan dalam pembuatan formula tidak pas.
3. Mudah kering dan mudah rusak khususnya tipe a/m karena terganggu
sistem campuran terutama disebabkan oleh perubahan suhu dan perubahan
komposisi disebabkan penambahan salah satu fase secara berlebihan.
Bahan-bahan Penyusun Krim
Formula dasar krim, antara lain:
1. Fase minyak, yaitu bahan obat yang larut dalam minyak, bersifat asam.
Contoh : asam stearat, adepslanae, paraffin liquidum, paraffin solidum,
minyak lemak, cera, cetaceum, vaselin, setil alkohol, stearil alkohol, dan
sebagainya.
2. Fase air, yaitu bahan obat yang larut dalam air, bersifat basa.
Contoh : Na tetraborat (borax, Na biboras), Trietanolamin/ TEA, NaOH,
KOH, Na2CO3, Gliserin, Polietilenglikol/ PEG, Propilenglikol, Surfaktan
(Na lauril sulfat, Na setostearil alkohol, polisorbatum/ Tween, Span dan
sebagainya).
Bahan-bahan penyusun krim, antara lain:
Zat berkhasiat
Minyak
Air
Pengemulsi
Bahan Pengemulsi
Bahan pengemulsi yang digunakan dalam sediaan krim disesuaikan dengan
jenis dan sifat krim yang akan dibuat /dikehendaki. Sebagai bahan
pengemulsi dapat digunakan emulgide, lemak bulu domba, setaseum, setil
alkohol, stearil alkohol, trietanolamin stearat, polisorbat, PEG. Sedangkan,
bahan-bahan tambahan dalam sediaan krim, antara lain: Zat pengawet, untuk
meningkatkan stabilitas sediaan.
Bahan Pengawet
Bahan pengawet sering digunakan umumnya metil paraben (nipagin) 0,120,18%, propil paraben (nipasol) 0,02-0,05%. Pendapar, untuk
mempertahankan pH sediaan Pelembab. Antioksidan, untuk mencegah
ketengikan akibat oksidasi oleh cahaya pada minyak tak jenuh.
11

METODE PEMBUATAN KRIM


Pembuatan sediaan krim meliputi proses peleburan dan proses emulsifikasi.
Biasanya komponen yang tidak bercampur dengan air seperti minyak dan
lilin dicairkan bersama-sama di penangas air pada suhu 70-75C, sementara
itu semua larutan berair yang tahan panas, komponen yang larut dalam air
dipanaskan pada suhu yang sama dengan komponen lemak. Kemudian
larutan berair secara perlahan-lahan ditambahkan ke dalam campuran lemak
yang cair dan diaduk secara konstan, temperatur dipertahankan selama 5-10
menit untuk mencegah kristalisasi dari lilin/lemak. Selanjutnya campuran
perlahan-lahan didinginkan dengan pengadukan yang terus-menerus sampai
campuran mengental. Bila larutan berair tidak sama temperaturnya dengan
leburan lemak, maka beberapa lilin akan menjadi padat, sehingga terjadi
pemisahan antara fase lemak dengan fase cair (Munson, 1991).
PENGEMASAN
Sediaan krim dikemas sama seperti sediaan salep yaitu dalam botol atau tube.
STABILITAS SEDIAAN KRIM
Sediaan krim dapat menjadi rusak bila terganggu sistem campurannya
terutama disebabkan oleh perubahan suhu dan perubahan komposisi karena
penambahan salah satu fase secara berlebihan atau pencampuran dua tipe
krim jika zat pengemulsinya tidak tercampurkan satu sama lain. Pengenceran
krim hanya dapat dilakukan jika diketahui pengencer yang cocok. Krim yang
sudah diencerkan harus digunakan dalam waktu satu bulan.
EVALUASI MUTU SEDIAAN KRIM
Agar system pengawasan mutu dapat berfungsi dengan efektif, harus
dibuatkan kebijaksanaan dan peraturan yang mendasari dan ini harus selalu
ditaati. Pertama, tujuan pemeriksaan semata-mata adalah demi mutu obat
yang baik. Kedua, setia pelaksanaan harus berpegang teguh pada standar atau
spesifikasi dan harus berupaya meningkatkan standard an spesifikasi yang
telah ada.
1. Organoleptis
Evalusai organoleptis menggunakan panca indra, mulai dari bau, warna,
tekstur sedian, konsistensi pelaksanaan menggunakan subyek responden
( dengan kriteria tertentu ) dengan menetapkan kriterianya pengujianya
( macam dan item ), menghitung prosentase masing- masing kriteria yang di
peroleh, pengambilan keputusan dengan analisa statistik.
2. Evaluasi pH
12

Evaluasi pH menggunakan alat pH meter, dengan cara perbandingan 60 g :


200 ml air yang di gunakan untuk mengencerkan , kemudian aduk hingga
homogen, dan diamkan agar mengendap, dan airnya yang di ukur dengan pH
meter, catat hasil yang tertera pada alat pH meter.
3. Evaluasi daya sebar
Dengan cara sejumlah zat tertentu di letakkan di atas kaca yang berskala.
Kemudian bagian atasnya di beri kaca yang sama, dan di tingkatkan bebanya,
dan di beri rentang waktu 1 2 menit. kemudian diameter penyebaran diukur
pada setiap penambahan beban, saat sediaan berhenti menyebar ( dengan
waktu tertentu secara teratur ).
4. Evaluasi penentuan ukuran droplet
Untuk menentukan ukuran droplet suatu sediaan krim ataupun sediaan
emulgel, dengan cara menggunakan mikroskop sediaan diletakkan pada objek
glass, kemudian diperiksa adanya tetesan tetesan fase dalam ukuran dan
penyebarannya.
5. Uji aseptabilitas sediaan.
Dilakukan pada kulit, dengan berbagai orang yang di kasih suatu quisioner di
buat suatu kriteria , kemudahan dioleskan, kelembutan, sensasi yang di
timbulkan, kemudahan pencucian. Kemudian dari data tersebut di buat
skoring untuk masing- masing kriteria. Misal untuk kelembutan agak lembut,
lembut, sangat lembut
http://nanikartinah.wordpress.com/2012/02/29/sediaan-krim/

1. Rumusan Masalah

1. Apa definisi sediaan semi padat (salep) ?


2. Komponen-komponen apa sajakah yang terdapat dalam sediaan semi padat ?
3. Peraturan pembuatan salep menurut F.Van Duin ?

1. Tujuan Penulisan

1. Mampu menjelaskan pengertian sdiaan semi padat dari berbagai referensi.


13

2. Mampu menjelaskan dan menyebutkan komponen-komponen yang ada pada sediaan semi
padat.
3. Mampu menjelaskan dan menyebutkan peraturan pembuatansalep menurut F.Van Duin.
Definisi sediaan krim :
Farmakope Indonesia Edisi III, krim adalah
bentuk sediaan setengah padat, berupa emulsi
mengandung air tidak kurang dari 60% dan
dimaksudkan untuk pemakaian luar.
Farmakope Indonesia Edisi IV , krim adalah
bentuk sediaan setengah padat mengandung satu
atau lebih bahan obat terlarut atau terdispersi
dalam bahan dasar yang sesuai.
Formularium Nasional , krim adalah sediaan
setengah padat, berupa emulsi kental
mengandung air tidak kurang dari 60% dan
dimaksudkan untuk pemakaian luar.
Secara Tradisional istilah krim digunakan untuk
sediaan setengah padat yang mempunyai
konsistensi relatif cair di formulasi sebagai
emulsi air dalam minyak(a/m) atau minyak dalam
air (m/a) (Budiasih, 2008).
Krim merupakan obat yang digunakan sebagai
obat luar yang dioleskan ke bagian kulit badan.
Obat luar adalah obat yang pemakaiannya tidak
melalui mulut, kerongkongan, dan ke arah
lambung. Menurut definisi tersebut yang
termasuk obat luar adalah obat luka, obat kulit,
obat hidung, obat mata, obat tetes telinga, obat
wasir, injeksi, dan lainnya.
Kualitas dasar krim, yaitu:
1. Stabil, selama masih dipakai mengobati.
Maka krim harus bebas dari inkopatibilitas,
stabil pada suhu kamar, dan kelembaban
yang ada dalam kamar.
2. Lunak, yaitu semua zat dalam keadaan halus

14

dan seluruh produk menjadi lunak dan


homogen.
3. Mudah dipakai, umumnya krim tipe emulsi
adalah yang paling mudah dipakai dan
dihilangkan dari kulit.
4. Terdistribusi merata, obat harus terdispersi
merata melalui dasar krim padat atau cair
pada penggunaan (Anief, 1994).
Penggolongan Krim
Krim terdiri dari emulsi minyak dalam air atau
dispersi mikrokristal asam-asam lemak atau
alkohol berantai panjang dalam air yang dapat
dicuci dengan air dan lebih ditujukan untuk
pemakaian kosmetika dan estetika. Ada dua tipe
krim, yaitu:
1. Tipe a/m, yaitu air terdispersi dalam minyak
Contoh : cold cream
Cold cream adalah sediaan kosmetika yang
digunakan untuk maksud memberikan rasa dingin
dan nyaman pada kulit, sebagai krim pembersih,
berwarna putih dan bebas dari butiran. Cold
cream mengandung mineral oil dalam jumlah
besar.
2. Tipe m/a, yaitu minyak terdispersi dalam air
Contoh: vanishing cream
Vanishing cream adalah sediaan kosmetika yang
digunakan untuk maksud membersihkan,
melembabkan dan sebagai alas bedak. Vanishing
cream sebagai pelembab (moisturizing)
meninggalkan lapisan berminyak/film pada kulit.
Kelebihan dan kekurangan sediaan krim
Kelebihan sediaan krim, yaitu:
1. Mudah menyebar rata
2. Praktis
3. Mudah dibersihkan atau dicuci
4. Cara kerja berlangsung pada jaringan

15

setempat
5. Tidak lengket terutama tipe m/a
6. Memberikan rasa dingin (cold cream) berupa
tipe a/m
7. Digunakan sebagai kosmetik
8. Bahan untuk pemakaian topikal jumlah yang
diabsorpsi tidak cukup beracun.
Kekurangan sediaan krim, yaitu:
1. Susah dalam pembuatannya karena
pembuatan krim harus dalam keadaan panas.
2. Gampang pecah disebabkan dalam pembuatan
formula tidak pas.
3. Mudah kering dan mudah rusak khususnya
tipe a/m karena terganggu sistem campuran
terutama disebabkan oleh perubahan suhu dan
perubahan komposisi disebabkan penambahan
salah satu fase secara berlebihan.
Bahan-bahan Penyusun Krim
Formula dasar krim, antara lain:
1. Fase minyak, yaitu bahan obat yang larut
dalam minyak, bersifat asam.
Contoh : asam stearat, adepslanae,
paraffin liquidum, paraffin solidum, minyak
lemak, cera, cetaceum, vaselin, setil
alkohol, stearil alkohol, dan sebagainya.
2. Fase air, yaitu bahan obat yang larut dalam
air, bersifat basa.
Contoh : Na tetraborat (borax, Na biboras),
Trietanolamin/ TEA, NaOH, KOH, Na CO ,
Gliserin, Polietilenglikol/ PEG, Propilenglikol,
Surfaktan (Na lauril sulfat, Na setostearil
alkohol, polisorbatum/ Tween, Span dan
sebagainya).
Bahan-bahan penyusun krim, antara lain:
Zat berkhasiat
Minyak

16

Air
Pengemulsi
Bahan Pengemulsi
Bahan pengemulsi yang digunakan dalam sediaan
krim disesuaikan dengan jenis dan sifat krim
yang akan dibuat /dikehendaki. Sebagai bahan
pengemulsi dapat digunakan emulgide, lemak bulu
domba, setaseum, setil alkohol, stearil alkohol,
trietanolamin stearat, polisorbat, PEG.
Sedangkan, bahan-bahan tambahan dalam
sediaan krim, antara lain: Zat pengawet, untuk
meningkatkan stabilitas sediaan.
Bahan Pengawet
Bahan pengawet sering digunakan umumnya metil
paraben (nipagin) 0,12-0,18%, propil paraben
(nipasol) 0,02-0,05%. Pendapar, untuk
mempertahankan pH sediaan Pelembab.
Antioksidan, untuk mencegah ketengikan akibat
oksidasi oleh cahaya pada minyak tak jenuh.
METODE PEMBUATAN KRIM
Pembuatan sediaan krim meliputi proses peleburan
dan proses emulsifikasi. Biasanya komponen yang
tidak bercampur dengan air seperti minyak dan
lilin dicairkan bersama-sama di penangas air
pada suhu 70-75C, sementara itu semua larutan
berair yang tahan panas, komponen yang larut
dalam air dipanaskan pada suhu yang sama
dengan komponen lemak. Kemudian larutan berair
secara perlahan-lahan ditambahkan ke dalam
campuran lemak yang cair dan diaduk secara
konstan, temperatur dipertahankan selama 5-10
menit untuk mencegah kristalisasi dari lilin/
lemak. Selanjutnya campuran perlahan-lahan
didinginkan dengan pengadukan yang terusmenerus sampai campuran mengental. Bila
larutan berair tidak sama temperaturnya dengan

17

leburan lemak, maka beberapa lilin akan menjadi


padat, sehingga terjadi pemisahan antara fase
lemak dengan fase cair (Munson, 1991).
PENGEMASAN
Sediaan krim dikemas sama seperti sediaan salep
yaitu dalam botol atau tube.
STABILITAS SEDIAAN KRIM
Sediaan krim dapat menjadi rusak bila terganggu
sistem campurannya terutama disebabkan oleh
perubahan suhu dan perubahan komposisi karena
penambahan salah satu fase secara berlebihan
atau pencampuran dua tipe krim jika zat
pengemulsinya tidak tercampurkan satu sama
lain. Pengenceran krim hanya dapat dilakukan
jika diketahui pengencer yang cocok. Krim yang
sudah diencerkan harus digunakan dalam waktu
satu bulan.
EVALUASI MUTU SEDIAAN KRIM
Agar system pengawasan mutu dapat berfungsi
dengan efektif, harus dibuatkan kebijaksanaan
dan peraturan yang mendasari dan ini harus
selalu ditaati. Pertama, tujuan pemeriksaan
semata-mata adalah demi mutu obat yang baik.
Kedua, setia pelaksanaan harus berpegang teguh
pada standar atau spesifikasi dan harus
berupaya meningkatkan standard an spesifikasi
yang telah ada.
1. Organoleptis
Evalusai organoleptis menggunakan panca indra,
mulai dari bau, warna, tekstur sedian,
konsistensi pelaksanaan menggunakan subyek
responden ( dengan kriteria tertentu ) dengan
menetapkan kriterianya pengujianya ( macam dan
item ), menghitung prosentase masing- masing
kriteria yang di peroleh, pengambilan keputusan
dengan analisa statistik.

18

2. Evaluasi pH
Evaluasi pH menggunakan alat pH meter, dengan
cara perbandingan 60 g : 200 ml air yang di
gunakan untuk mengencerkan , kemudian aduk
hingga homogen, dan diamkan agar mengendap,
dan airnya yang di ukur dengan pH meter, catat
hasil yang tertera pada alat pH meter.
3. Evaluasi daya sebar
Dengan cara sejumlah zat tertentu di letakkan di
atas kaca yang berskala. Kemudian bagian
atasnya di beri kaca yang sama, dan di
tingkatkan bebanya, dan di beri rentang waktu 1
2 menit. kemudian diameter penyebaran diukur
pada setiap penambahan beban, saat sediaan
berhenti menyebar ( dengan waktu tertentu
secara teratur ).
4. Evaluasi penentuan ukuran droplet
Untuk menentukan ukuran droplet suatu sediaan
krim ataupun sediaan emulgel, dengan cara
menggunakan mikroskop sediaan diletakkan pada
objek glass, kemudian diperiksa adanya tetesan
tetesan fase dalam ukuran dan penyebarannya.
5. Uji aseptabilitas sediaan.
Dilakukan pada kulit, dengan berbagai orang yang
di kasih suatu quisioner di buat suatu kriteria ,
kemudahan dioleskan, kelembutan, sensasi yang
di timbulkan, kemudahan pencucian. Kemudian
dari data tersebut di buat skoring untuk masingmasing kriteria. Misal untuk kelembutan agak
lembut, lembut, sangat lembut

https://chulpetals.wordpress.com/2013/12/13/sediaan-krim-farmasi/

19