Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Penulisan
Di tengah meningkatnya ketidakpastian perekonomian global, melalui
jalur pasar keuangan (financial market channel), di mana krisis utang Eropa dan
AS menimbulkan gejolak di pasar keuangan global yang diiringi maraknya berita
negatif seputar eskalasi krisis utang pemerintah terutama di dua negara maju
tersebut menimbulkan sentimen negatif di pasar keuangan yang mengakibatkan
meningkatnya perilaku menghindari risiko (risk aversion) dan flight to quality.
Berlawanan dengan itu, perkembangan makroekonomi dan sistem
keuangan Indonesia selama tahun 2011 malah menunjukkan ketahanan yang kuat.
Dampak rambatan krisis global terhadap ekonomi Indonesia melalui jalur
perdagangan relatif terbatas, kinerja perbankan dan pasar keuangan Indonesia
pada tahun 2011 secara umum menunjukkan perbaikan. Berlanjutnya perbaikan
kinerja perekonomian dan rendahnya risiko utang luar negeri, yang didukung oleh
kebijakan makroekonomi dan berbagai langkah kebijakan struktural yang telah
ditempuh, telah membuahkan hasil di antaranya peningkatan peringkat Indonesia
mencapai posisi layak investasi.
Pertumbuhan ekonomi tahun 2011 meningkat menjadi 6,5%, dan
merupakan angka pertumbuhan tertinggi dalam sepuluh tahun terakhir. Secara
umum, tingginya pertumbuhan ekonomi ini didukung oleh terjaganya stabilitas
makroekonomi dengan nilai tukar rupiah yang stabil dan inflasi yang rendah,
peningkatan kapasitas perekonomian, serta stabilnya kondisi politik dan
keamanan dalam negeri. Potensi pengembangan yang dimiliki perekonomian
nasional memberikan optimisme akan prospek ekonomi yang tetap kuat ke depan
dengan stabilitas ekonomi yang tetap terjaga.
Potensi ini akan terealisasi jika ditopang dengan sumber dana atau modal
pembangunan yang memadai. Dalam teori ekonomi pembangunan banyak
ditegaskan secara implisit tentang peranan modal dalam proses pembangunan.
Menurut

Adam

Smith,

modal

memiliki

proses pertumbuhan output.

peranan

sentral

dalam

Akumulasi modal sangat diperlukan untuk menaikkan daya serap


perkonomian terhadap angkatan kerja. Semakin tinggi modal yang tersedia dalam
perekonomian, semakin tinggi pula kemampuan perekonomian tersebut menyerap
tenaga kerja. Modal juga dapat meningkatkan produktivitas perekonomian. Proses
produksi yang lebih banyak modal dibandingkan dengan tenaga kerja dapat
meningkatkan produktivitas pada proses produksi tersebut
Pasar keuangan merupakan alternatif menggali pembiayaan pembangunan.
Sumber pendanaan yang diperoleh dari pasar keuangan dapat berasal dari dalam
maupun luar negeri. Di pasar keuangan yang diperjualbelikan berbagai macam
instrument keuangan. Dalam sektor finansial (keuangan), peranan pasar keuangan
memiliki kedudukan yang penting. Pasar keuangan menurut pernyataan Frederick
(2008 : 11) bahwa Pasar keuangan merupakan suatu pasar dimana dana yang
ditransfer dari pihak yang memiliki kelebihan dana kepada pihak yang
kekurangan dana. Berdasarkan pendapat tersebut fungsi dari pasar keuangan
adalah sebagai penyalur dana dari pihak-pihak yang tidak produktif dalam
menggunakan dananya kepada pihak yang produktif sehingga menghasilkan
efisiensi. Dengan hadirnya pasar keuangan dalam perekonomian maka pemisahan
tindakan menabung dan investasi akan semakin jelas, karena unit ekonomi yang
kelebihan dana dapat menabung tanpa harus mempertimbangkan investasi yang
sebaiknya dilakukan.
Pasar keuangan terdiri dari pasar uang, pasar modal, pasar valas. Pasar
uang dan pasar modal, keduanya merupakan bursa keuangan, tetapi jenis sekuritas
serta jangka waktu yang dikelola berbeda. Pasar uang menurut Kasmir (1999:
205) adalah Tempat terjadinya transaksi tagihan keuangan berjangka waktu
pendek (umumnya kurang dari satu tahun) salah satu contoh dari instrumen yang
diperjual-belikan di dalam pasar uang yaitu Sertifikat Bank Indonesia.
Sedangkan, pengertian umum pasar modal menurut Kasmir (1999: 179) adalah
Suatu tempat bertemunya para penjual dan pembeli untuk melakukan transaksi
dalam rangka memperoleh modal. Pada dasarnya terdapat beberapa peranan
strategis dari pasar modal bagi perekonomian suatu negara, yaitu sebagai sumber
penghimpunan dana, sebagai alternatif investasi para pemodal, serta bagi negara,
pasar modal akan mendorong perkembangan investasi. Peran pasar modal dalam
kegiatan ekonomi secara makro adalah sebagai alat untuk mengalokasikan
sumber daya ekonomi secara optimal. Perusahaan yang memerlukan dana
2

memandang pasar modal sebagai suatu alat untuk memperoleh dana yang lebih
menguntungkan dibandingkan dengan modal yang diperoleh dari sektor
perbankan.
Untuk mengamati bagaimana perkembangan pasar modal, maka dapat
diikuti lewat beberapa aktivitas yang terjadi di dalam bursa efek. Bursa efek
merupakan tempat di mana terjadinya jual beli surat berharga pasar modal (efek).
Transaksi perdagangan saham di bursa efek merupakan salah satu aktivitas utama
penggerak pasar modal. Kinerja seluruh saham yang tercatat di bursa akan
ditampilkan dalam bentuk suatu indeks. Angka indeks adalah angka yang dibuat
sedemikian rupa sehingga dapat digunakan untuk membandingkan kegiatan atau
peristiwa, bisa berupa perubahan harga saham dari waktu ke waktu.
Di bursa efek terdapat beberapa jenis indeks harga saham, salah satu
indeks utama adalah indeks harga saham gabungan (IHSG). Dewasa ini Indeks
harga saham dijadikan sebagai landasan analisis statistik atas kondisi pasar modal
terakhir. Lebih jauh lagi, IHSG dapat dijadikan barometer kesehatan ekonomi
suatu negara. Di akhir periode 2008 IHSG mengalami penurunan yang cukup
signifikan, setelah itu tingkat IHSG terus mengalami kenaikan pada tahun
berikutnya walaupun sempat mengalami beberapa penurunan di akhir kuartal
kedua dan awal kuartal ketiga di tahun 2011 serta awal kuartal kedua tahun 2012
hal ini menunjukkan adanya pertumbuhan perekonomian yang signifikan di
Indonesia. Hal ini tentunya akan menarik minat para investor untuk menanamkan
dananya di Indonesia.
Kemampuan dalam memahami dan meramalkan kondisi ekonomi makro
di masa datang akan sangat berguna dalam pembuatan keputusan investasi yang
menguntungkan. Untuk itu, seorang investor harus mempertimbangkan beberapa
indikator

ekonomi

makro

yang

bisa

membantu

investor

dalam

membuat keputusan investasinya. Beberapa indikator ekonomi makro yang


seringkali dihubungkan dengan pasar modal diantaranya adalah kurs rupiah dan
fluktuasi tingkat suku bunga. Kurs merupakan variabel makroekonomi yang turut
mempengaruhi volatilitas harga saham. Depresiasi mata uang domestik akan
meningkatkan volume ekspor. Bila permintaan pasar internasional cukup elastis
hal ini akan meningkatkan cash flow perusahaan domestik, yang kemudian
meningkatkan harga saham, yang tercermin pada IHSG.

Suku bunga menurut Karl dan Fair (2001:635) suku bunga adalah
pembayaran bunga tahunan dari suatu pinjaman, dalam bentuk persentase dari
pinjaman yang diperoleh dari jumlah bunga yang diterima tiap tahun dibagi
dengan jumlah pinjaman. Jika suku bunga tinggi, otomatis orang akan lebih suka
menyimpan dananya di bank karena ia dapat mengharapkan pengembalian yang
menguntungkan. Dan pada posisi ini, permintaan masyarakat untuk memegang
uang tunai menjadi lebih rendah karena mereka akan mengalokasikannya ke
dalam bentuk portfolio perbankan (deposito dan tabungan). Seiring dengan
berkurangnya jumlah uang beredar, gairah belanja pun menurun. Selanjutnya
harga barang dan jasa umum akan cenderung stagnan, atau tidak terjadi dorongan
inflasi. Sebaliknya jika suku bunga rendah, masyarakat cenderung tidak tertarik
lagi untuk menyimpan uangnya di bank.
1.2. Maksud dan Tujuan Penulisan
Maksud dari penulisan ini adalah untuk memperoleh data tentang
gambaran umum dari nilai tukar (kurs) rupiah, suku bunga Sertifikat Bank
Indonesia dan Indeks Harga Saham Gabungan selama periode tahun 2011-2012.
Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui nilai tukar (kurs) rupiah selama
periode tahun 2011-2012, nilai suku bunga Sertifikat Bank Indonesia selama
periode tahun 2011-2012 dan mengetahui nilai IHSG selama periode 2011-2012
serta untuk mengetahui pengaruh nilai kurs dan suku bunga Sertifikat Bank
Indonesia (SBI) terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek
Jakarta.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1

Suku Bunga

2.1.1 Pengertian Suku Bunga


Pengertian suku bunga menurut Karl dan Fair (2001:635) suku bunga
adalah pembayaran bunga tahunan dari suatu pinjaman, dalam bentuk persentase
dari pinjaman yang diperoleh dari jumlah bunga yang diterima tiap tahun dibagi
dengan jumlah pinjaman. Sedangkan menurut Sunariyah (2004:80) suku bunga
adalah harga dari pinjaman. Suku bunga dinyatakan sebagai persentase uang
pokok per unit waktu. Bunga merupakan suatu ukuran harga sumber daya yang
digunakan oleh debitur yang harus dibayarkan kepada kreditur.
Adapun fungsi suku bunga menurut Sunariyah (2004:81) adalah :
a. Sebagai daya tarik bagi para penabung yang mempunyai dana lebih untuk
diinvestasikan.
b. Suku bunga dapat digunakan sebagai alat moneter dalam rangka
mengendalikan penawaran dan permintaan uang yang beredar dalam suatu
perekonomian.
c. Pemerintah dapat memanfaatkan suku bunga untuk mengontrol jumlah uang
beredar.
Suku bunga itu sendiri ditentukan oleh dua kekuatan, yaitu : penawaran
tabungan dan permintaan investasi modal (terutama dari sektor bisnis). Tabungan
adalah selisih antara pendapatan dan konsumsi. Bunga pada dasarnya berperan
sebagai pendorong utama agar masyarakat bersedia menabung. Jumlah tabungan
akan ditentukan oleh tinggi rendahnya tingkat bunga. Semakin tinggi suku bunga,
akan semakin tinggi pula minat masyarakat untuk menabung, dan sebaliknya.
Tinggi rendahnya penawaran dana investasi ditentukan oleh tinggi rendahnya
suku bunga tabungan masyarakat.
Menurut Lipsey, Ragan, dan Courant (1997 : 471) suku bunga adalah
harga yang dibayarkan untuk satuan mata uang yang dipinjam pada periode waktu
tertentu. Menurut Lipsey, Ragan, dan Courant (1997 : 99-100) suku bunga dapat
dibedakan menjadi dua yaitu :
5

a. suku bunga nominal


Suku bunga nominal adalah rasio antara jumlah uang yang dibayarkan
kembali dengan jumlah uang yang dipinjam.
b. suku bunga riil
Suku bunga riil adalah rasio daya beli uang yang dibayarkan kembali
terhadap daya beli uang yang dipinjam.
2.1.2 Suku Bunga Sertifikat Bank Indonesia
Sertifikat merupakan suatu surat keterangan atau pernyataan tertulis atau
tercetak dari orang yang berwenang yang dapat digunakan sebagai bukti suatu
kejadian. Sertifikat yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia dikenal dengan
Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Pendapat tersebut diperkuat oleh S.K Direksi BI
No. 31/67/Kep/DIR tertanggal 23 Juli 1998 tentang penerbitan dan perdagangan
SBI serta intervensi rupiah yakni Sertifikat Bank Indonesia (SBI) adalah surat
berharga atas unjuk atas rupiah yang diterbitkan oleh Bank Indonesia sebagai
pengakuan utang berjangka waktu pendek dengan sistem diskonto.
Menurut Adler Haymans Manurung, (2003:19) Sertifikat Bank Indonesia
adalah surat berharga atas unjuk dalam rupiah yang diterbitkan oleh Bank
Indonesia sebagai pengakuan utang berjangka waktu pendek dengan sistem
diskonto. Dari pendapat tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa Sertifikat
Bank Indonesia (SBI) adalah surat berharga yang diterbitkan oleh Bank Indonesia
sebagai pengakuan utang berjangka waktu pendek dengan sistem diskonto.
Bank Indonesia menjual SBI dengan tujuan antara lain untuk memperkecil jumlah
uang beredar dan sekaligus menjaga deflasi serta membuat inflasi tidak terjadi
secara terus-menerus. Sesuai dengan konsep tersebut maka SBI mempunyai
jangka waktu maksimum dan saat ini yang diperdagangkan adalah SBI berjangka
waktu satu bulan dan tiga bulan. Berdasarkan jangka waktu dari SBI ini maka
sering para investor ataupun pemain dalam pasar uang mengklarifikasikan SBI
sebagai salah satu instrumen pasar uang dan dianggap beresiko rendah.Tujuan
penerbitan SBI berkaitan dengan tugas BI sebagai otoritas moneter yang
berkewajiban memelihara kestabilan nilai rupiah.

Dalam paradigma yang dianut, jumlah uang primer (uang kartal + uang
giral di BI) yang berlebihan dapat mengurangi kestabilan nilai Rupiah. SBI
diterbitkan

dan dijual

oleh BI

untuk mengurangi kelebihan uang primer

tersebut dan sebaliknya, bila menambah uang


beredar maka Bank Indonesia membeli surat-surat berharga di pasar uang.
Melalui penggunaan SBI, Bank Indonesia (BI) dapat secara tidak langsung dapat
mempengaruhi tingkat bunga di pasar uang dengan cara mengumumkan stop out
rate (SOR). SOR merupakan tingkat suku bunga yang diterima oleh BI atas
penawaran tingkat bunga dari peserta pada lelang harian maupun mingguan.
Selanjutnya stop out rate tersebut digunakan sebagai indikator bagi tingkat suku
bunga transaksi di pasar uang pada umumnya.
Sertifikat Bank Indonesia merupakan surat berharga atas unjuk dalam
Rupiah yang diterbitkan oleh BI sebagai pengakuan hutang berjangka waktu
pendek dengan sistem diskonto. Dasar hukum penerbitan SBI adalah Peraturan
Bank Indonesia No. 4/10/PBI/2002 tanggal 18 November 2002 tentang Sertifikat
Bank Indonesia.Penjualan SBI diprioritaskan kepada lembaga perbankan,
meskipun demikian, tidak tertutup kemungkinan masyarakat baik perorangan
maupun perusahaan untuk dapat memiliki SBI.Pembelian SBI oleh masyarakat
tidak dapat dilakukan secara langsung dengan BI melainkan harus melalui bank
umum serta pialang pasar uang dan pialang pasar modal yang ditunjuk oleh BI.
Menurut Peraturan Bank Indonesia Nomor 4/10/PBI/2002 tentang
Sertifikat Bank Indonesia (SBI), pasal 3 ayat 1 (satu), Sertifikat Bank Indonesia
memiliki karakteristik sebagai berikut:
a. Satuan unit sebesar Rp. 1.000.000,00 (satu juta)
b. Berjangka waktu sekurang-kurangnya 1 (satu) bulan dan paling lama 12
(dua belas) bulan yang dinyatakan dalam jumlah hari dan dihitungdari
tanggal penyelesaian transaksi sampai dengan tanggal jatuh tempo.
c. Penerbitan dan perdagangan dilakukan dengan sistem diskonto.
d. Diterbitkan tanpa warkat (scripless). Artinya Sertifikat Bank Indonesia
yang diterbitkan tanpa adanya fisik SBI itu sendiri, dan bukti kepemilikan
bagi pemegang SBI hanya berupa pencatatan elektronik.
e. Dapat dipindah tangankan (negotiable).
7

SBI ada yang mempunyai jangka waktu: 1, 2, 3, 6 dan 12 bulan. Pembeli


SBI memperoleh hasil berupa diskonto yang dibayar di muka. Besarnya diskonto
adalah nilai nominal dikurang dengan nilai tunai. Sedangkan perhitungan
diskonto dalam perdagangan SBI dengan Bank Indonesia dilakukan atas dasar
rumus diskonto murni (true discount) sebagai berikut:
Nilai nominal x 360
Nilai tunai =
360 + (tingkat diskonto x Jangka waktu)
Keterangan:
Nilai Tunai

: Nilai yang akan diterima (nilai yang dibayarkan


investor)

Nilai Nominal

: Nilai jatuh tempo

Tingkat Diskonto

: Selisih yang dibayarkan dengan nilai yang


tertera

Nilai Diskonto

dalam Sertifikat Bank Indonesia

: Nilai nominal-nilai tunai.

2.2. Nilai Tukar (Kurs) Rupiah


Nilai tukar Rupiah atau disebut juga Nilai Tukar Rupiah adalah
perbandingannilai atau harga mata uang Rupiah dengan mata uang lain.
Perdagangan antar negara di mana masing-masing negara mempunyai alat
tukarnya sendiri mengharuskanadanya angka perbandingan nilai suatu mata uang
dengan mata uang lainnya, yangdisebut nilai tukar valuta asing atau nilai tukar.
Nilai tukar terbagi atas nilai tukar nominal dan nlai tukar riil. Nilai
tukarnominal (nominal exchange rate) adalah nilai yang digunakan seseorang
saatmenukar mata uang suatu negara dengan mata uang negara lain. Sedangkan
nilai riil(real exchange rate) adalah nilai yang digunakan seseorang saat menukar
barang danjasa dari suatu negara dengan barang dan jasa dari negara lain.Nilai
tukar valuta asing akan berubah-ubah sesuai dengan perubahan permintaan dan
penawaran valuta asing. Permintaan valuta asing diperlukan guna melakukan
pembayaran ke luar negeri (impor), diturunkan dari transaksi debit dalam neraca
pembayaran internasional.

Suatu mata uang dikatakan kuat apabila transaksi autonomous kredit lebih
besar dari transaksi autonomous debit (surplus neracapembayaran), sebaliknya
dikatakan lemah apabila neraca pembayarannya mengalami defisit, atau bisa
dikatakan jika permintaan valuta asing melebihi penawaran dari valuta asing.Nilai
tukar yang melonjak-lonjak secara drastis tak terkendali akan menyebabkan
kesulitan pada dunia usaha dalam merencanakan usahanya terutama bagi mereka
yang mendatangkan bahan baku dari luar negeri atau menjual barangnya ke pasar
ekspor oleh karena itu pengelolaan nilai mata uang yang relatif stabil menjadi
salah satu faktor moneter yang mendukung perekonomian secara makro.
Menurut Sukirno (2004) besarnya jumlah mata uang tertentu yang
diperlukanuntuk memperoleh satu unit valuta asing disebut dengan Nilai tukar
mata uang asing. Nilai tukar adalah nilai mata uang suatu negara diukur dari nilai
satu unit mata matauang terhadap mata uang negara lain. Apabila kondisi
ekonomi suatu Negara mengalami perubahan, maka biasanya diikuti oleh
perubahan nilai tukar secarasubstansional. Masalah mata uang muncul saat suatu
negara mengadakan transaksi dengan negara lain, di mana masing-masing negara
menggunakan mata uang yangberbeda. Jadi nilai tukar merupakan harga yang
harus dibayar oleh mata uang suatu negara untuk memperoleh mata uang negara
lain.
Nilai tukar mempunyai peran penting dalam rangka stabilitas moneter dan
dalam mendukung kegiatan ekonomi. Nilai tukar yang stabil diperlukan untuk
tercapainya iklim usaha yang kondusif bagi peningkatan dunia usaha. Untuk
menjaga stabilitas nilai tukar, bank central pada waktu-waktu tertentu melakukan
intervensi di pasar-pasar valuta asing, khususnya pada saat terjadi gejolak yang
berlebihan. Para ekonom membedakan nilai tukar menjadi dua yaitu :
a. Nilai tukar nominal (nominal exchange rate) adalah harga relatif dari mata

uang dua negara. Sebagai contoh, jika antara dollar Amerika Serikat dan yen
Jepang adalah 120 yen per dollar, maka orang Amerika Serikat bisa menukar 1
dollar untuk 120 yen di pasar uang. Sebaliknya orang Jepang yang ingin
memiliki dollar akan membayar 120 yen untuk setiap dollar yang dibeli.
Ketika orang-orang mengacu pada nilai tukar di antara kedua negara, mereka
biasanya mengartikan nilai tukar nominal. Nilai tukar riil (real exchange rate)
adalah harga relatif dari barang-barang di antara dua negara.

Nilai tukar riil menyatakan tingkat di mana kita bisa memperdagangkan


barang-barang dari suatu negara untuk barang-barang dari negara lain. Nilai
tukar riil adalah nilai tukar nominal yang sudah dikoreksi dengan harga relatif
yaitu harga-harga di dalam negeri dibandingkan dengan harga-harga di luar
negeri. Nilai tukar dapat dihitung dengan menggunakan rumus di bawah ini:

Q=SP
P*
Q = nilai tukar riil
S = nilai tukar nominal
P = tingkat harga domestic
P*= tingkat harga luar negri
Nilai tukar inilah sebagai salah satu indicator yang mempengaruhi aktivitas
dipasar saham maupun pasar uang karena investor cenderung akan berhati-hati
untuk melakukan investasi. Menurunnya NilaiTukar Rupiah terhadap mata uang
asing khususnya Dollar AS memiliki pengaruh negative terhadap ekonomi dan
pasar modal.

2.3

Indek Harga Saham Gabungan


Menurut Jogiyanto (2000), Indek Harga Saham Gabungan (IHSG)

sebenarnya merupakan angka indek harga saham yang sudah disusun dan dihitung
sehingga menghasilkan trend, di mana angka indek adalah angka yang diolah
sedemikian rupa sehingga dapat digunakan untuk membandingkan kejadian yang
dapat berupa perubahan harga saham dariwaktu ke waktu. Dalam perhitungan
angka indek ini digunakan waktu dasar (baseperiod) dan waktu yang sedang
berjalan (given/parent period). Adapun jenis-jenis Indek Harga Saham Gabungan
adalah:
1. Seluruh saham, adalah suatu nilai yang digunakan untuk mengukur kinerja
gabungan seluruh saham yang tercatat di suatu bursa efek.
2. Kelompok saham, adalah suatu nilai yang digunakan untuk mengukur
kinerja kelompok saham yang tercatat di suatu bursa efek yang terdiri dari :
a. Indek LQ 45 adalah indek atas 45 emiten yang tercatat di Bursa Efek
Jakarta, dengan tolak ukur likuiditas dan nilai kapitalisasi pasar. Indek JII
(Jakarta Islamic Index) indek yang digunakan sebagai tolak ukur
(benchmark) untuk mengukur kinerja suatu investasi pada saham dengan
10

basis syariah.
b. Jenis usaha (sektoral) adalah suatu nilai untuk mengukur kinerja kelompok
saham yang sudah diklasifikasikan ke dalam 9 sektor yaitu sektor pertanian,
pertambangan, industri dasar dan kimia, industri barang konsumsi, properti
dan real estate, transportasi dan infrastruktur, keuangan, perdagangan, jasa
dan investasi.
Perhitungan harga saham gabungan dilakukan untuk mengetahui
perkembangan rata-rata seluruh saham yang tercatat di bursa. Untuk menghitung
indek harga saham gabungan, digunakan formula sebagai berikut:
IHSG =

Nilai Pasar = Jumlah saham tercatat X Harga


Terakhir
Nilai Dasar = Jumlah saham perdana X Harga
Terakhir

11

X
100

Untuk mengeliminir pengaruh faktor-faktor yang bukan harga saham, nilai dasar
selalu disesuaikan bila terjadi corporate action seperti split saham, dividen saham,
saham bonus, penawaran terbatas dan sebagainya. Dengan demikian indek akan benarbenar mencerminkan pergerakan saham saja. Penilaian kinerja saham perusahaan dari
luar perusahaan dilakukan oleh pasar melalui pola perilaku pergerakan harga saham dari
waktu ke waktu. Harga saham(market price) merupakan nilai pasar (market value) dari
setiap lembar saham perusahaan.
2.4

Pembahasan
Bunga pada prinsipnya adalah balas jasa yang diberikan oleh pihak yang

membutuhkan uang kepada pihak yang meminjamkan uang.Bunga dapat dilihat dari
dua sisi yaitu sisi penawaran dan sisi permintaan. Bunga dari sisi penawaran merupakan
pendapatan atas pemberian kredit sehingga pemilik dana akan menggunakan dananya
pada jenis investasi yang menjanjikan pembayaran yang tinggi. Sedangkan bunga dari
sisi permintaan adalah biaya atas pinjaman atau jumlah yang dibayarkan sebagai
imbalan atas penggunaan uang yang dipinjam.bunga merupakan harga yang dibayar
atas modal.
Tingkat bunga yang tinggi adalah sinyal negatif terhadap harga saham. Tingkat suku
bunga meningkat akan meningkatkan suku bunga yang diisyaratkan atas investasi pada
suatu saham. Di samping itu, tingkat suku bunga yang meningkat bisa juga
menyebabkan investor menarik investasinya pada saham dan memindahkannya pada
investasi

berupa

tabungan

ataupun

deposito.

Weston

dan

Brigham

(1994)

mengemukakan bahwa tingkat bunga mempunyai pengaruh yang besar terhadap harga
saham. Suku bunga yang makin tinggi memperlesu perekonomian, menaikan biaya
bunga dengan demikian menurunkan laba perusahaan, dan menyebabkan para investor
menjual saham dan mentransfer dana ke pasar obligasi.
Suku bunga SBI mengalami fluktuasi sepanjang tahun 2011. Terjadi kenaikan
suku bunga SBI dari sebesar 6,5 persen pada bulan Januari 2011 menjadi 6,75 persen
pada bulan Februari. Suku bunga SBI kembali mengalami penurunan pada bulan
Oktober 2011 dan terjadi penurunan yang cukup signifikan pada bulan November yaitu
dari 6,5% menjadi 6%. Suku bunga SBI kembali mengalami penurunan pada Februari
2012 menjadi 5,75%. Adanya trend penurunan suku bunga SBI disertai dengan

12

peningkatan IHSG. Tercatat IHSG dibuka pada posisi 3.409,17 pada awal tahun 2011
dan ditutup pada posisi 3.821,99 pada akhir tahun 2011.Posisi tertinggi bulanan IHSG
tercatat pada posisi 4.130,80 pada 1 juli 2011.
Kurs rupiah terhadap US$ mengalami trend yang sedikit mengalami
kenaikan(rupiah sedikit mengalami depresiasi) terutama sejak bulan April 2012.
Kenaikan yang terbesar terjadi pada tahun Mei 2012 sebesar 4%, sedangkan penurunan
terbesar terjadi pada Januari 2011 yaitu sebesar 2,58%. Perkembangan kurs yang terjadi
berfluktuasi tetapi fluktuasi yang terjadi masih cukup stabil. Hubungan antara saham
dan kurs mempunyai hasil dan mekanisasi yang saling berlawanan. Secara teoretis
perbedaan arah hubungan antara kurs dan harga saham dapat dijelaskan dengan
pendekatan tradisional dan model portofolio balance (Granger et. al, 1998).
Pendekatan tradisional mengatakan bahwa hubungan antara kurs dan harga saham
adalah positif, di mana perubahan nilai tukar mempengaruhi pendapatan dan biaya
operasional perusahaan, yang pada akhirnya menyebabkan perubahan pada harga
saham. Pendekatan portofolio balancemengasumsikan saham sebagai bagian dari
kekayaan sehingga dapat mempengaruhi perilaku nilai tukar melalui hukum demand for
money yang sesuai dengan model monetaris dari determinasi nilai tukar. Pendekatan ini
mengasumsikan terdapat hubungan yang negatif antara harga saham dan nilai tukar,
dengan arah kausalitas dari pasar saham ke pasar uang, sesuai dengan interaksi pasar
keuangan yang sangat cepat.

13

BAB III
KESIMPULAN
Dari semua pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa tingkat suku bunga SBI
memiliki pengaruh negatif yang signifikan terhadap IHSG. Hubungan dari pergerakan
tingkat suku bunga dan pergerakan nilai IHSG tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.
Secara teori, tingkat bunga dan harga saham memiliki hubungan yang negatif
(Tandelilin, 2010). Tingkat bunga yang cenderung menurun akan mempengaruhi nilai
sekarang (present value) aliran kas perusahaan, sehingga kesempatan-kesempatan
investasi yang ada akan semakin menarik. Tingkat bunga yang rendah juga akan
menurunkan biaya modal yang akan ditanggung perusahaan dan juga akan
menyebabkan return yang diisyaratkan investor dari suatu investasi akan menurun.
Selain itu, penurunan suku bunga membuat nilai imbal hasil dari deposito dan obligasi
menjadi kurang menarik, sehingga banyak investor pasar modal yang menahan bahkan
menambah portofolio sahamnya.
Sedangkan kurs rupiah memiliki pengaruh negatif tetapi tidak signifikan
terhadap IHSG, yang artinya semakin kuat kurs rupiah terhadap US $ (rupiah
terapresiasi) maka tidak akan secara langsung atau signifikan meningkatkan harga
saham, dan sebaliknya. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Gupta
et.al. (1997) menemukan bahwa nilai tukar memiliki hubungan sebab akibat yang
rendah dengan harga saham.

14

DAFTAR PUSTAKA
Anoraga, Pandji. 2001. Pengantar Pasar Modal. Edisi Revisi. Jakarta : Rineka Cipta.
Bursa Efek Jakarta, 2001. Buku Panduan Indeks BEJ. PT. Bursa Efek Jakarta

Exchange Rate And Stock Price in Emerging Markets : The Case Of The Jakarta Stock
Exchange.
Riyanto, Bambang. 2001. Dasar Dasar Pembelanjaan Perusahaan. Edisi Keempat.
Yogyakarta : BPFE
Sartono, Agus. 2010. Manajemen Keuangan : Teori dan Aplikasi. Edisi Keempat.
Yogyakarta : BPFE.
Tandelilin, Eduardus, 2010. Portofolio dan Investasi : Teori dan Aplikasi. Edisi 1.
Yogyakarta : Kanisius.

15