Anda di halaman 1dari 18

PERKEMBANGAN REMAJA

(TINJAUAN SECARA BIOLOGI)

Makalah
Disusun untuk memenuhi mata kuliah Biosos
yang dibina oleh Dr. Dahlia, m.s

Disusun oleh;
Jamilatus Sadiyah

(110341421534)

Risky Pradita Y.

(110341421545)

The Learning University

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
Oktober, 2014

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Remaja merupakan merupakan masa transisi dari anak-anak menjadi
dewasa. Pada periode ini berbagai perubahan terjadi baik perubahan hormonal,
sik, maupun psikologis. Perubahan ini terjadi dengan sangat cepat dan terkadang
tanpa kita sadari. Perubahan sik yang menonjol adalah perkembangan tandatanda seks sekunder, terjadinya pacu tumbuh, serta perubahan perilaku dan
hubungan sosial dengan lingkungannya. Perubahan-perubahan tersebut dapat
mengakibatkan kelainan maupun penyakit tertentu bila tidak diperhatikan dengan
seksama.
Masa remaja adalah suatu masa perubahan. Selain perubahan yang telah
disebutkan, juga terjadi beberapa perubahan selama masa remaja, yaitu;
peningkatan emosional yang terjadi secara cepat pada masa remaja awal yang
dikenal dengan sebagai masa storm dan stress. Peningkatan emosional ini
merupakan hasil dari perubahan fisik terutama hormon yang terjadi pada masa
remaja. Peningkatan emosi karena pengaruh hormonal ini merupakan tanda bahwa
remaja berada dalam kondisi baru yang berbeda dari masa sebelumnya. Pada masa
ini banyak tuntutan dan tekanan yang ditujukan pada remaja, misalnya mereka
diharapkan untuk tidak lagi bertingkah seperti anak-anak, mereka harus lebih
mandiri dan bertanggung jawab. Kemandirian dan tanggung jawab ini akan
terbentuk seiring berjalannya waktu, dan akan nampak jelas pada remaja akhir
yang duduk di awal-awal masa kuliah ( Aaro, 1990 ).
Kajian tentang perkembangan remaja secara biologis tentunya sangat
penting untuk diketahui oleh setiap individu khususnya mahasiswa yang berperan
sebagai individu terpendidik dan dipandang mampu memberikan informasi secara
ilmiah tentang setiap fenomena atau peristiwa yang terjadi dalam kehidupan.
Karenanya dalam makalah ini akan dibahas secara terperinci mengenai
perkembangan remaja berdasarkan kajian biologis.

B. Rumusan Masalah
Masalah yang akan dibahas dalam makalah ini antara lain;
1. Apakah yang dimaksud masa remaja dan pubertas?
2. Bagaimanakah perkembangan hormonal dan fisik remaja?
3. Bagaimanakah perkembangan psikis remaja?
C. Tujuan
Tujuan penyusunan makalah ini adalah;
1. Untuk mengetahui pengertian masa remaja dan pubertas
2. Untuk mengetahui perkembangan hormonal dan fisik remaja
3. Untuk mengetahuiperkembangan psikis remaja

BAB II
PEMBAHASAN
A. Masa Remaja dan Pubertas
Masa remaja adalah masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak
dan masa dewasa yang pada umumnya dimulai pada usia 12 atau 13 tahun dan
berakhir pada usia akhir belasan tahun atau awal dua puluhan tahun (Papalia dan
Olds, 2001). Sedangkan Freud (dalam Hurlock, 1990) menyatakan bahwa pada
masa remaja terjadi proses perkembangan meliputi perubahan-perubahan yang
berhubungan dengan perkembangan psikoseksual. Hurlock juga menyatakan
bahwa transisi perkembangan pada masa remaja berarti sebagian perkembangan
masa kanak-kanak masih dialami namun sebagian kematangan masa dewasa
sudah dicapai (Hurlock,1990).
1. Pengertian Remaja
Remaja dalam bahasa latin disebut adolescence yang artinya tumbuh atau
tumbuh untuk mencapai kematangan (Ali, 2009). Menurut WHO, yang disebut
remaja adalah mereka yang berada pada tahap transisi antara masa kanak-kanak
dan dewasa. Batasan usia remaja menurut WHO adalah 12 sampai 24
tahun. Menurut Depkes RI remaja adalah antara 10 sampai 19 tahun dan belum
kawin. Sedangkan Romauli (2009) menyatakan bahwa remaja adalah anak usia
10-24 tahun yang merupakan usia antara masa kanak-kanak dan masa
dewasa dan sebagai titik awal proses reproduksi, sehingga perlu dipersiapkan
sejak dini. Sarwono (2006) menyatakan bahwa Remaja adalah suatu masa ketika
individu yang berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda
seksual sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan seksual.
Berdasarkan pernyataan-pernyataan tersebut dapat dikatakan bahwa
remaja adalah masa berkembang suatu individu dari usia 10-24 tahun dari saat
pertama kali menunjukkan tanda seksual sekunder sampai mencapai kematangan
sewksualnya. Pada bahasan selanjutnya akan dibahas lebih mendetail tentang
rentangan waktu masa remaja berdasarkan berbagai pendapat ahli sehingga
terlihat secara lebih jelas rentang waktu antara masa remaja awal, remaja
pertengahan, ataupun remaja akhir.

2. Rentangan waktu masa Remaja


Wong, et al (2009) mengemukakan masa remaja terdiri atas tiga subfase
yang jelas, yaitu:
a. Masa remaja awal usia 11-14 tahun
b. Masa remaja pertengahan usia 15-17 tahun
c. Masa remaja akhir usia 18-20 tahun
Agustiani (2006) mengemukakan masa remaja menjadi tiga
bagian, yaitu :
1) Masa remaja awal (12-15 tahun), pada masa ini individu mulai meninggalkan
peran sebagai anak-anak dan berusaha mengembangkan diri sebagai individu
yang unik dan tidak tergantung pada orangtua. Fokus dari tahap ini adalah
penerimaan terhadap bentuk dan kondisi fisik serta adanya konformitas yang
kuat dengan teman sebaya.
2) Masa remaja pertengahan (15-18 tahun), masa ini ditandai dengan
berkembangnya kemampuan berpikir yang baru. Teman sebaya masih
memiliki peran yang penting, namun individu sudah lebih mampu
mengarahkan diri sendiri. Pada masa ini remaja mulai mengembangkan
kematangan tingkah laku. Belajar mengendalikan impulsivitas, dan membuat
keputusan-keputusan awal yang berkaitan dengan tujuan vaksional yang ingin
dicapai. Selain itu penerimaan dari lawan jenis menjadi penting bagi individu.
3) Masa remaja akhir (19-22 tahun), masa ini ditandai oleh persiapan akhir untuk
memasuki peran-peran orang dewasa. Selama periode ini remaja berusaha
memantapkan tujuan vaksional dan mengembangkan sense of personal
identity. Keinginan yang kuat untuk menjadi matang dan diterima dalam
kelompok teman sebaya dan orang dewasa, juga menjadi ciri dari tahap ini.
3. Pubertas pada Remaja
Menurut Pardede (2002) Pubertas disebut sebagai masa transisi antara
masa anak dan dewasa, dimana terjadi suatu percepatan pertumbuhan (Growth
spurt), timbul ciri-ciri seks sekunder dan terjadi perubahan psikologis yang
mencolok. Sarwono (2007) mengemukakan bahwa pubertas pada wanita dimulai
dengan awal berfungsinya ovarium dan berakhir pada saat ovarium sudah
berfungsi dengan baik dan teratur.

Pubertas diartikan sebagai proses biologis yang akhirnya menuju pada


kemampuan reproduksi. Selama masa pubertas, perubahan penting terjadi dalam
sistem pengaturan hormonal pada sistem syaraf pusat, gonad, dan adrenal,
menyebabkan perubahan pada pertumbuhan skeleton dan dalam komposisi tubuh
serta diperolehnya ciri-ciri seks sekunder (Isselbacher et al, 1999). Pubertas
adalah proses kematangan, hormonal, dan pertumbuhan yang terjadi ketika organ
reproduksi mulai berfungsi dan karakteristik seks sekunder mulai muncul.
Proses ini umumnya dibagi dalam tiga tahapan, yaitu prapuberitas, yaitu
periode sekitar 2 tahun sebelum pubertas ketika anak pertama kali mengalami
perubahan fisik yang menandakan kematangan seksual, kemudian pubertas, yang
merupakan titik pencapaian kematangan seksual, ditandai dengan keluarnya darah
menstruasi pertama kali pada remaja putri; dan pasca pubertas, merupakan periode
1 sampai 2 tahun setelah pubertas, ketika pertumbuhan tulang telah lengkap dan
fungsi reproduksi terbentuk dengan cukup baik. (Wong et al.2009).
Menurut Isselbacher et al (1999) Permulaan terjadinya pubertas dalam
kelompok populasi berbeda-beda pada tiap individu, usia rata-rata permulaan
pubertas untuk perempuan ditentukan oleh penonjolan payudara 11,2 sampai
kuranglebih 1,6 tahun. Ciri lain akan tampak dalam 2,5 tahun kemudian. Puncak
pubertas terjadi ketika terjadi menstruasi. Penjelasan mengenai perubahan pada
masa pubertas akan dibahas secara lebih terperinci pada pembahasan selanjutnya.
B. Perkembangan Hormonal dan Fisik Remaja
Perubahan hormonal pada remaja dapat menyebabkan perubahan fungsi
fisiologis dalam tubuh remaja. Pada masa ini terjadi perubahan fisik yang
membedakan antara remaja laki-laki dengan perempuan. Menurut Harlock dalam
Mardiyah (2011), pada masa pubertas terjadi perubahan fisik, meliputi perubahan
ukuran tubuh dan munculnya ciri-ciri seks. Perubahan fisik yang terjadi bervariasi
pada setiap individual tetapi pada umumnya mengikuti suatu pola khas yang
sama. Remaja laki-laki biasanya mengawali pertumbuhan dan perkembangan
yang lebih lambat dibandingkan remaja perempuan. Namun, meskipun awalnya
lebih lambat, pertumbuhan remaja laki-laki berlangsung lebih lama sehingga pada
saat usia matang biasanya laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan (Kelly,
2010).

1. Perkembangan Fisik pada Remaja Perempuan


Terdapat empat perubahan tubuh yang paling menonjol pada remaja
perempuan yaitu pertambahan tinggi yang cepat, menarche (menstruasi pertama),
pertumbuhan buah dada, dan tumbuhnya rambut pada kemaluan. Untuk anak
perempuan biasanya perkembangan fisik yang menandai permulaan masa remaja
diawali pada usia 10-11 tahun. Namun, bisa juga terjadi pada usia yang lebih awal
yaitu sekitar 8 tahun, bahkan bisa juga terjadi pada individu yang sudah berusia 13
tahun ke atas (raisingchildren.net.au, 2014). Perkembangan fisik yang berbeda ini
disebabkan karena adanya perbedaan genetis antar setiap individu, status asupan
nutrisi setiap hari dan kebutuhan nutrisi setiap individu yang berbeda-beda.
Terkait dengan asupan nutrisi, perubahan fisik yang terjadi pada masa remaja
akan mempengaruhi kebutuhan mereka terhadap ketersediaan asupan protein,
vitamin, dan mineral yang lebih banyak dibandingkan ketika mereka masih
kanak-kanak (Stang dan Story, 2013).
Ciri perubahan fisik pertama yang menonjol dari remaja perempuan adalah
adanya perkembangan buah dada (payudara) yang dalam istilah kedokteran
disebut thelarche. Seperti yang telah dijelaskan dalam bahasan sebelumnya,
perkembangan payudara pada remaja wanita disebabkan karena adanya pengaruh
hormonal. Hormon estradiol yang disekresikan oleh kelenjar endokrin ke
pembuluh darah menyebabkan adanya perubahan pada ukuran payudara yang
menjadi lebih besar. Estradiol juga berpengaruh pada perkembangan rahim dan
kerangka yang terjadi pada remaja perempuan (Kelly, 2010). Pada masa remaja,
hormon estradiol meningkat 8 kali pada remaja perempuan sementara pada remaja
laki-laki hanya meningkat 2 kali.
Pada masa remaja terjadi peningkatan aktivitas kelenjar pituitari
bagian atas yang menyebabkan adanya induksi progresif terhadap ovarium
untuk menghasilkan hormon esterogen dalam bentuk estradiol yang pada
akhirnya akan mempengaruhi perkembangan morfologi berupa perubahan ukuran
payudara yang lebih besar akibat adanya restibusi lemak pada bagian payudara
(Schwitczgebel, 2004). Pada masa pubertas, selain terjadi perubahan pada ukuran
payudara, remaja putri juga mengalami perubahan pada uterus. Sebelum pubertas,
uterus berbentuk tear-drop dengan ukuran tuba falopii yang lebih panjang dan

isthmus yang besar mendominasi sekitar 2/3 volume uterus. Ketika remaja putri
mengalami pubertas, rahim menjadi berbentuk seperti buah pir dan mengalami
penambahan besar dan tebal hingga melebihi ukuran panjang leher rahim
(serviks).
Ovarium juga mengalami perubahan yang sangat pesat, dari semula (saat
masa prapubertas) ukurannya hanya berkisar 0,3 hingga 0,9 cm3, ketika pubertas
menjadi lebih luas hingga menjadi lebih besar dari 1 cm3. Perkembangan ini akan
terus berlangsung dan ovarium akan berhenti bertambah ukuran ketika sudah
mencapai masa postpubertal saat ukurannya mencapai sekitar 4 cm3
(Schwitczgebel, 2004). Ketika memasuki masa pubertas, pada remaja putri juga
terjadi menarche (menstruasi pertama). Perubahan kadar hormon estradiol yang
melonjak drastis pada remaja putri akan menyebabkan adanya pematangan folikel
pada ovarium, namun belum sampai terjadi ovulasi. Hal ini akan berefek pada
peluruhan pembuluh darah pada dinding rahim yang sebelumnya mengalami
penebalan. Setelah mengalami menstruasi pertama, remaja putri akan mengalami
lonjakan progresteron. Ovulasi pertama saat memasuki masa pubertas akan terjadi
sekitar 6 hingga 9 bulan setelah menstruasi pertama didapatkan.
Saat remaja akan memasuki masa pubertas, akan terbentuk jalur interaksi
antara kelenjar hipotalamus, kelenjar hipofisis (pituitari) bagian anterior dan organ
seksual yang akan berkembang. Hipotalamus akan menyekresi molekul peptida
yang disebut sebagai GnRH (Gonadotropin Releasing Hormone) atau disebut juga
sebagai LHRH (Luteinizing HormoneReleasing Hormone). GnRH ini akan
meregulasi adanya pelepasan Luteinizing Hormone (LH) dan Folicular
Stimulating Hormone (FSH) oleh kelenjar pituitari. LH dan FSH akan
menstimulasi sekresi hormon estradiol (suatu bentuk estrogen) dan progesteron
oleh ovarium yang kemudian akan mempengaruhi bentuk dan ukuran organ target
yaitu payudara dan rahim (Merck, 2004).

Gambar. Jalur pengaruh hormonal yang mengakibatkan perubahan organ


seksual pada remaja putri saat memasuki masa pubertas (Sumber: The
Merck Manual Professional Edition, 2014).
Beberapa ciri seks sekunder yang dialami oleh remaja putri adalah
pubarche atau pertumbuhan bulu pubis dan adrenarche atau pertumbuhan rambut
ketiak. Selain itu juga terjadi aktivasi kelenjar keringat dan minyak sehingga
remaja sering mengalami masalah bau badan karena keringat berlebih serta
munculnya jerawat terutama pada wajah dan punggung (Emerson, 2006). Selain
itu, kelenjar minyak juga akan sangat aktif pada rambut dan kulit kepala. Ada
kalanya seorang anak perempuan akan mengalami pertumbuhan bulu pubis,
pembesaran payudara dan mendapatkan menstruasi pertama lebih cepat dari
teman-temannya yang lain. Hal ini normal karena terjadinya masa pubertas
bergantung pada masing masing individu. Perbedaan ras juga menjadi salah satu
faktor yang menentukan kecepatan permulaan pubertas pada remaja.

Gambar. Tahap perkembangan ciri seks sekunder pada individu perempuan


yang mengalami pubertas (Sumber: Rosenfield dalam Schwitczgebel, 2004)

Gambar. Tahap pubertas remaja putri menurut range usia. (Sumber:


(Sumber: The Merck Manual Professional Edition, 2014).
2. Perkembangan Fisik pada Remaja Laki-Laki
Pada individu laki-laki, permulaan masa remaja dimulai lebih lambat.
Biasanya perubahan fisik remaja laki-laki baru diawali pada usia sekitar 11 dan 12
tahun. Namun, pada individu tertentu, bisa juga diawali pada usia di bawah 9
tahun atau mungkin bisa juga lebih lambat dan baru terjadi selepas usia 14 tahun
(raisingchildren.net.au, 2014). Ada 4 perubahan fisik yang paling menonjol pada
individu laki-laki ketika menginjak usia remaja yaitu pertumbuhan penis dan
testis, perubahan drastis pada bentuk dan bobot tubuh, perubahan suara, sudah
dapat terjadinya proses ejakulasi dan ereksi, pertumbuhan tinggi badan dan
tumbuhnya rambut pada wajah, ketiak, sekitar kemaluan dan pada bagian dada.

Pada remaja putra yang baru mengalami pubertas, pertumbuhan organ


kelamin dibagi menjadi lima tahap yaitu P1, P2, P3, P4 dan P5. Tahap P1 terjadi
pada masa prapubertal, yaitu ketika testis memiliki ukuran kurang lebih sekitar
2,5 sentimeter. Pada tahap P2, skrotum mulai mengalami pigmentasi, testis juga
mengalami pertambahan ukuran meskipun masih belum terlalu drastis. Di tahap
P2 ini juga terjadi pertumbuhan rambut pubis namun masih sangat sedikit. Pada
tahap P3, ukuran testis menjadi sekitar 3,3 hingga 4 sentimeter. Di tahap P3 ini
juga terjadi pemanjangan ukuran penis dan bulu pubis menjadi semakin lebat.
Pada tahap selanjutnya yaitu P4, ukuran testis menjadi berkisar antara 4,1-4,5
sentimeter dan terjadi pembesaran serta penebalan kulit penis. Sedangkan pada
tahap terakhir yaitu P5, ukuran testis sudah lebih besar dari 4,5 sentimeter dan
organ tersebut sudah sangat aktif melakukan spermatogenesis. Adanya pigmentasi
skortum pada tahap P2 biasanya dijadikan tanda kasat mata untuk menentukan
telah terjadinya peristiwa pubertas pada anak laki-laki (Schwitczgebel, 2004).
Perkembangan ciri seksual pada remaja laki-laki sangat dipengaruhi oleh
adanya sekresi hormon testosteron atau yang disebut juga sebagai hormon
androgen. Pada umunya, perjalanan pengaruh hormonal pada remaja putra hampir
sama dengan remaja putri, yang membedakan hanyalah pada jenis organ
targetnya. Jika pada remaja putri organ target yang dipengaruhi oleh LH adalah
ovarium, pada remaja putra yang dipengaruhi adalah Sel Leydig pada testis. Sel
Leydig jika dipicu oleh LH akan menghasilkan testosteron dalam jumlah besar.
Hormon inilah yang akan menyebabkan munculnya ciri sekunder pada remaja
laki-laki. Pada dasarnya, kelenjar pituitari remaja laki-laki juga menghasilkan
FSH, namun dalam kadar yang jauh lebih sedikit dibandingkan remaja perempuan
(Merck, 2014).
Hormon testosteron disintesis oleh Sel Leydig dari kolesterol. Pada
jaringan targetnya, hormon testosteron akan diubah ke dalam bentuk metabolit
dihidrotestosteron (DHT) oleh enzim 5-alfa-reduktase. DHT akan berpengaruh
besar terhadap perubahan fisik remaja laki-laki yang mengalami pubertas,
diantaranya adalah sebagai berikut.
a. Menstimulasi anabolisme protein pada jaringan otot hingga terjadi
penambahan massa otot dan perubahan bentuk badan.

b. Menstimulasi eritropoietin renalis sehingga berpengaruh terhadap


adanya penambahan produksi sel darah merah.
c. Menstimulasi sumsum tulang yang menghasilkan sel darah putih
sehingga berpengaruh pada peningkatan imunitas tubuh.
d. Menyebabkan adanya efek neural berupa peningkatan libido,
agresifitas, dan mempengaruhi ketajaman kognitif (Merck, 2014).

Gambar. Tahap pubertas remaja putra menurut range usia. (Sumber: The
Merck Manual Professional Edition, 2014).

Gambar. Perbandingan kontrol hormonal pada masa pubertas laki-laki dan


perempuan (Sumber: voer.edu.vn, 2014).

C. Perkembangan Psikis Remaja


Piaget dalam Apriansyah (2009) menyebutkan bahwa masa remaja adalah
masa ketika individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa, usia ketika anakanak sudah tidak mau lagi disebut sebagai anak-anak, termasuk juga terjadinya
perkembangan intelektual yang mencolok. Transformasi intelektual yang khas
untuk diakui oleh para orang dewasa di sekitarnya menjadi ciri perkembangan
psikis yang khas pada masa remaja. Freud dalam Fedyani (1997) menyatakan
bahwa tahap perkembangan psikis pada remaja terbagi menjadi empat tahapan
yaitu sebagai berikut.
a. Masa Juvenil
Tahap psikologis yang terletak diantara usia kanak-kanak dan pra remaja.
Biasanya pada masa ini kemampuan kognitif mulai berkembang pesat, dan
anak sudah mulai memiliki kemampuan metakognisi untuk
memperhatikan dirinya sendiri.
b. Masa pra-remaja
Pada masa ini, individu mulai berusaha untuk mendapatkan hubungan
sosial yang lebih mendalam dengan berinteraksi di lingkungan luar.
c. Masa remaja awal
Masa remaja awal ditandai dengan adanya tingkat pemikiran yang lebih
matang dan kemampuan remaja untuk mengalami orgasme. Tahap ini
disebut stressfull stage karena di satu sisi organ genitalnya sudah siap
untuk melakukan aktivitas seksual sedangkan disisi lain ia berusaha untuk
mengingkari dorongan tersebut.
d. Masa remaja akhir
Pada masa ini remaja sudah mulai berkembang menjadi manusia yang
utuh (well rounded individual).

Masa remaja adalah fase hidup yang unik untuk seorang individu. Pada
masa ini selain terjadi perubahan fisikal juga terjadi perubahan neural yang sangat
berpengaruh pada perkembangan fisik. Perubahan neural utamanya terkait dengan
adanya perubahan otak pada anak ketika mengawali masa pubertas setelah
meninggalkan masa kanak-kanak. Perubahan neurobehavioral terjadi pada masa
pubertas, yang akan menandai adanya perkembangan anak menuju tahap
kehidupan yang lebih dewasa. Pada masa pubertas terjadi perubahan yang sangat
kompleks pada tubuh individu sehingga terjadi gejolak psikis yang sangat tinggi
bersamaan dengan adanya perubahan drastis secara fisikal (Dahl, 2004).
Perubahan hormonal yang pertama kali mengawali terjadinya pubertas
diatur oleh otak. Ketika otak menginduksi adanya sekresi hormon estrogen
maupun testosteron yang sangat tinggi, di saat yang bersamaan tubuh akan
memberikan feedback pada otak. Reaksi feedback tersebut diterima oleh reseptor
otak yang disebut sebagai beta reseptor, dan rangsang yang diterima oleh beta
reseptor ini akan segera diteruskan ke pusat emosi otak sehingga menyebabkan
perubahan emosional yang cukup krusial pada remaja. Akibatnya, remaja
mengalami storm stage atau stressfull stage, yaitu sebuah keadaan ketika remaja
mengalami gejolak emosi yang luar biasa dalam hidupnya (Dahl, 2004).
Ketika memasuki masa pubertas, terjadi perkembangan pesat pada otak
anak, namun perkembangannya berbeda untuk setiap individu. Jika seorang anak
mengalami masa pubertas lebih awal (premature puberty), maka perkembangan
otaknya juga akan terjadi lebih awal. Ada sebuah perbedaan yang sangat
signifikan pada otak anak dan pada otak remaja. Ketika anak memasuki masa
pubertas, substansi kelabu (the grey matter) yang terdapat pada otak akan
mengalami pengurangan koneksi saraf jika tidak sering diasah secara kontinyu.
Hal ini terjadi sesuai dengan prinsip dasar otak: use it or lose it, dan perubahan
pada substansi kelabu ini mulai terjadi secara pesat ketika anak memasuki masa
pubertas. Namun, di sisi lain, koneksi saraf di luar substansi kelabu akan semakin
menguat ketika anak memasuki usia pubertas sehingga mengakibatkan
peningkatan kemampuan kognitif dan peningkatan taraf berpikir pada individu
tersebut dibandingkan ketika dirinya masih kanak-kanak (raisingchild.net, 2014).

Gambar. Densitas substansi kelabu pada otak yang berubah pada masa
remaja. (Sumber: health.us.news.com, 2014).

Perubahan otak yang terjadi ketika anak memasuki masa pubertas diawali dari
bagian belakang otak. Kemudian perubahan tersebut akan menjalar ke depan
hingga akhirnya berakhir setelah mencapai belahan prefrontal korteks (Dahl,
2004). Pada orang dewasa (post pubertal), prefrontal korteks ini digunakan untuk
berpikir, menalar dan mengambil keputusan.
Namun, karena prefrontal korteks ini menjadi bagian yang berkembang
paling yang terakhir, biasanya anak remaja menggunakan bagian otak lain yang
bernama amygdala (bagian dari sistem limbik) untuk berpikir karena mereka
belum bisa menggunakan prefrontal korteks yang belum matang ini.
Penggunaan amygdala untuk menalar masalah menyebabkan hasil berpikir anak

remaja kebanyakan masih kurang logis, masih sangat impulsif dan emosional
dalam waktu bersamaan. Para ahli menyebut otak anak remaja masih under
construction sehingga gejolak emosi labil terjadi pada mereka (raisingchild.net,
2014).

Gambar. Otak remaja yang masih dalam tahap perkembangan. Bagian


prefrontal korteks belum berfungsi secara maksimal. (Sumber:
bottomlycollege.com, 2013).

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Masa remaja adalah masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak
dan masa dewasa yang pada umumnya dimulai pada usia 12 atau 13 tahun
dan berakhir pada usia akhir belasan tahun atau awal dua puluhan tahun,
sendangkan pubertas disebut sebagai masa transisi antara masa anak dan
dewasa, dimana terjadi suatu percepatan pertumbuhan.
2. Perubahan fisik dan hormonal yang terjadi bervariasi pada setiap individual
tetapi pada umumnya mengikuti suatu pola khas yang sama, remaja laki-laki
biasanya mengawali pertumbuhan dan perkembangan yang lebih lambat
dibandingkan remaja perempuan.
3. Perkembangan psikis pada remaja terbagi menjadi empat tahapan yaitu;
Masa Juvenil, pra-remaja, remaja awal, dan remaja akhir.

B. Saran
Sebagai generasi muda utamanya mahasiswa harus terus menggali
informasi tentang kajian-kajian terbaru mengenai perkembangan remaja
sehingga menambah wawasan dan informasi dalam pengembangan makalah
selanjutnya.

DAFTAR RUJUKAN
Emerson, R. 2006. Adolescent Development: Baylors University Community
Mentoring for Adolescent Development Ebook. Texas: Baylors University
Publishers.
Jose RL. 2010. Adolescent Development (Perkembangan Remaja). Sari Pediatri.
Vol. 12, No. 1
Kelly, E. 2010. Perkembangan Fisik Masa Remaja. Malang: Fakultas Kedokteran
Universitas Brawijaya.
Mardiyah, S. 2011. Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan tentang Perubahan
Fisik pada Masa Pubertas dengan Konsep Diri Remaja SMP Negeri 6
Yogyakarta. Jurnal Kesmadaska. 2 (2): 19-23.
Marvienda Dahlia. 2007. Kecemasan Anak Perempuan pada Masa Pubertas
Menghadapi Perubahan Fisik Ditinjau dari Kualitas Pertemanan.
Semarang; Universitas Soegijapranata
Mercks Team. 2014. The Merck Manual Professional Edition: Female
Reproductive Endocrinology. Online.
(www.merckmanuals.com/female_reproductive_endocrinology.html).
Diakses: 27 Oktober 2014
Mercks Team. 2014. The Merck Manual Professional Edition: Male
Reproductive Endocrinology. Online.
(www.merckmanuals.com/male_reproductive_endocrinology.html).
Diakses: 27 Oktober 2014
Raising Childerns Doctor Team. 2014. Physical Changes Teenagers. Online.
(http:// raisingchildren.net.au/articles/physical_changes_teenagers.html).
Diakses: 20 Oktober 2014.
Schwitczgebel, V. 2004. Physiology of Puberty. Geneva: Division of Pediatric
Endocrinology and Diabetologys Hospital des Enfant.
Stang, J., Story, M. 2013. Adolescent Growth and Development. Online. (http://
raisingchildren.net.au/articles/teenagers.html). Diakses: 20 Oktober 2014.