Anda di halaman 1dari 3

Dermatitis Seboroik (DS) merupakan penyakit inflamasi kulit kronik yang dihubungkan dengan spesies

Malassezia. Walaupun DS dapat mengenai semua pasien dengan berbagai usia, penyakit ini paling sering
mengenai bayi dengan usia 3 bulan dan orang dewasa berusia 4-7 dekade. Pada bentuk infantil, penyakit ini
biasanya mengenai scalp (cradle cap [kulit kepala]), wajah, daerah selangkangan, dan biasanya lebih dari 70%
bayi baru lahir terkena DS pada usia 3 bulan. Namun, bentuk infantil dari DS akan membaik pada usia 1 tahun.
Walaupun DS dipertimbangkan sebagai salah satu dari penyakit kulit yang mengenai orang dewasa,
diperkirakan prevalensinya terbatas karena tidak adanya kriteria diagnostik yang tepat. Selain itu DS juga tidak
selalu dicatat dalam survey berbasis komunitas. Berdasarkan literatur, DS mengenai 3-5% populasi umum,
namun prevalensi sebenarnya bisa lebih tinggi lagi. Selain itu, ketombe, bentuk ringan dari DS, biasnaya lebih
sering terjadi dan mengenai 15-20% popolasi.
National Ambulatory Medical Care Survey (NAMCS) memeriksa data kunjungan pasien rawat jalan akiabt DS
dari tahun 1996-2009. Pada saat periode ini, jumlah kunjungan pasien rawat jalan akibat DS di Amerika serikat
diperkirakan mencapai 1-2 juta (Gabar 1). Selain itu, terdapat kunjungan pasien DS sebanyak 1.4 juta/tahun,
dimana pasien wanita terhitung mencapai 53.8% sementara pria 46.2%

Daerah yang terkena


Secara klinis, DS bermanifestai sebagai plaq eritematosa disertai dengan scaly (Squama). Lokasi anatomik yang
paling sering mengenai DS adalah daerah yang kaya dengan kelenjar sebase seperti kulit kepala, wajah, dan
dada (Gambar 2). Secara keseluruhan, kulit kepala merupakan area yang paling sering terkena DS, dan wajah
merupakan bagian kedua yang paling sering terkena. Daerah seperti wajah biasanya mengenai bagian lipatan
nasolabial, alis mata, daerah postauricular, dan daerah tempat tumbuh janggut. Selain itu, DS juga dapat
mengenai thorax, genitalia eksterna, dan daerah intertriginosa seperti ketiak, inframammary, dan lipatan
inguinal
Walaupun pasien sering terkena DS di beberapa tempat, tidak ada literatur medis yang leaporkan persentase
pasien yang terkena DS di beberapa regio. Hal ini mungkin disebabkan karena DS merupakan penyakit kronik
yang ditandai dengan periode remisi dan eksaserbasi. Akibatnya, pasien dapat terkena DS pada satu regio tubuh
pada saat episode ringan. Namun, pasien yang sama juga dapat terkena di beberapa tempat saat periode
eksaserbasi

Pendekatan pengobatan saat ini


Karena DS merupakan kondisi kronik, pasien akan membutuhkan terapi pemeliharaan jangka panjang.
Syangnya, tidak ada gold standar untuk terapi dari DS. Etiologi yang mendasari DS masih belum diketahui.
Patogensis dari penyakit ini melibatkan kombinasi dari beberapa faktor seperti kandungan lipid pada permukaan
epidermal, kolonisasi Malassezia species, dan peningkatan proliferasi spidermis. Karenanya, pemberian obat
antifungal topikal dan kortikosterid topikal merupakan prinsip dasar pengobatan untuk kondisi inflammasi kulit
ini. Dua moal pengoabtan ini, obat antifungal sebagai pengoabtan utama, dan penggunaan kortikosteroid topikal
jangka panjang sering dihubungkan dengan beberapa efek samping, termasuk atropi kulit, striae, dan
talangiectasia. Namun, pada saat esaserbasi DS akut, penggunaan kortikosteroid topkila lebih ering diberikan
sebagai terapi jangka pendek. Selain pengobatan antifugal topikal dan kortikosteroid, obat yang megandung
keratolitik seperti slfur, coal ter, dan asam salsilat dapat menolong dalam mengurangi flek dan squama ada kulit
akibat DS

Saat DS mengenai beberapa bagian tubuh, kombinasi obat dengan sediaan yang berbeda sering digunakan.
Kepatuhan pasien sangat penting untuk mendapatkan hasil efektif dari pengobatan untuk kondisi ini. Ketika
menjelaskan strategi pengobatan, dokter harus membantuk pasien untuk membuat keputusan. Selain itu, pasien
juga harus diberikan edukasi terkait beberapa jenis obat terapeutik dan ditanyakan sediaan yang mereka
inginkan. DS biasanya dapat diobati dengan obat topikal; sediaannya termasuk dalam bentuk krim, sabun, spray,
gel, sampo, dan sabun cuci rambut. Krim atau ointment topikal cukup merepotkan, terutama bila diberikan pada
kulit kepala atau daerah berambut. Sediaan ini dapat menyebabkan rambut menjadi licin dan berminyak, dan
menyebabkan perubahan warna serta rambut kering.

Adherence and Patient Preference


Patients with chronic skin diseases frequently dont
adhere to topical management regimens, which contributes
to unsuccessful treatment outcomes. Factors
affecting patient adherence include complexity of management
regimens, cost of the products, and individual
motivation to improve their health.
An SD management regimen may involve a combination
of different agents due to SD involvement over multiple
body regions. Furthermore, different vehicles are
preferred for hair-bearing and non-hair-bearing areas.
As a result, effectively managing moderate to severe SD
often requires combination therapy.
But complicated, multi-agent regimens can pose a
challenge to patient adherence. For instance, applying
topical medications can be messy, time-consuming
and inconvenient, especially when multiple applications
per day are required. Prescribing topical combination
formulations could enhance patient adherence,
because using a single product can improve the ease
of application.

Kepatuhan dan Keinginan Pasien


Pasien dengan penyakit kulit kronik biasanya tidak patuh menggunakan sediaan pengoabtan topikal dan
menyebabkan kegagalan pengobatan. Faktor yang mempengaruhi tingkat keptahuan pasien termasuk
kompleksitas sediaan pengobatan, biaya pengobatan, dan motivasi individu untuk sembuh.
Sediaan pengobatan DS melibatkan kombinasi beberapa obat apabila DS mengenai beberapa bagia tubuh, selain
itu, sediaan yang berbeda harus dicegah peberiannya pada lokasi tempat tumbuh rambut atau tidak tumbuhnya
rambut.
Beban biaya untuk pengobatan DS biasanya beragan dan mempengaruhi pendekatan terapeutik dan tingkat
kepatuhan pasien. Ahli kesehatan profesional akan mempertimbangkan secara rutin total biaya terapi pasien
untuk pembelian obatnya. Hal ini menjadi sensitif dalam beberapa tahun terakhir, karena faktor ekonomi juga
mempnegaruhi individu. DS merupakan penyakit inflammasi kulit kronik dan berulang sehingga pasien
membutuhkan pengobatan obat topikal jangka panjang yang lebih dari satu. Karena hal ini, pengobatan DS
harus mempertimbangkan faktor efektifisitas, mudah digunakan, dan harganya ekonomis
Formula yang digunakan pasien dapat membantu tingkat kepatuhan pasien. Pada umumnya, pasien lebih suka
menggunakan sediaanyang tidak merepotkan, walaupun hal ini berdasarkan pertimbangan pasien itu sendiri.
Pasien biasanya lebih sering menggunakan produk dalam bentuk sampo (scalp wash), sabun atau gel ketika
mengobati gangguan inflammasi pada kulit kepala. Selain itu, spray, sabun, atau gel juga sering digunakan pada
DS yang mengenai daerah berambut, seperti daerah jenggot, dada, atau genitalia eksterna. Produk ini dapat
menunjukkan keuntungan lebih dibandingkan krim dan oitment untuk DS yang mengenai kulit kepala
Salah satu keuntungan dari sampo cuci rambut adalah sediaan ini dapat dipakai secara langsung terhadap flek
pada kulit kepala untuk jangka waktu pendek sebelum dibilas lagi, sementara krim dan ointment biasanya
mengganggu kosmetik, karena sisa produk akan tetap ada pada kulit untuk jangka waktu lama. Selain itu, scalp
wash dapat dipakai pada pasien karena kebiasaan mereka untuk mandi

Sediaan Baru DS untuk daerah kulit kepala dan daerah berambut lainny
Diedar di pasar pada tahun 2009, Krim topikal Promised merupakan obat nonsteroid topikal yang biasa
digunakan untuk SD. Efisiensi dari krim Promiseb vs krim desonide 0.05% dinilai berdasarkan penelitian
investigator-blinded, randmisasi, dan pemantauan selama 4 minggu. 77 paien dengan DS pada wajah
dirandomisasi dan dibagi ke dalam 2 kelompok: satu kelompok mendapatkan pengobatan dengan krim Promiseb
2x/hari dan satu kelompok lagi dengan pengobatan krim desonide 0.05% 2x/hari
Pada akhir periode penelitian di ahri 28, kedua pengobatan menunjukkan penurunan gejala facial DS yang sama.
Sekitar 90% pasien sembuh atau hampir sembuh sempurna. Selain itu, oabt topkial dihubungkan dengan
pengurangan eritema, squama, dan pruritus. Selain itu, pasien menggunakan krim Promised mempunyai tingkat
relaps DS yang lebih rendah dibandingkan pasien yang menggunakan krim steroid potensi rendah
25 pasien dengan buicosmetik ringan hingga berat dinilai positif pada semua pasien. Bau dan Kuantitas dari
penggunaan sediaan ini dinilai optimal, dan semua pasien meyatakan akan membeli produk ini jika tersedia di
pasaran. Kombinasi Krim dan Scalp wash saat ini tersedia dalam Promiseb Complete (30 gr krim tube dan 100
cc botol scalp ash), yang dapat diberikan pada beberapa pasien

Kesimpulan
Dermatitis seboroik merupakan penyakit kronik dimana tingkat kepatuhan pasien terhadap pengobatan dapat
menjadi hambatan untuk penyembuhan. Ketersediaan pilihat obat non-steroid dapat membantu memperbaiki
tingkat kepatuhan pasien, atau menggantinya dengan terapi steroid topikal, dan menolong untuk menghindari
efek samping dari penggunaan koritikosteroid jangka panjang, semuanya dapat mempengaruhi tingkat
penyembuhan pasien