Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI DAN FABRIKASI PAKAN


Acara Teknologi Pengolahan Konsentrat

Disusun oleh :
Disusun oleh:
Kelompok III

LABORATORIUM TEKNOLOGI MAKANAN TERNAK


BAGIAN NUTRISI DAN MAKANAN TERNAK
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2014

BAB I
PENDAHULUAN

Teknologi pakan banyak didominasi oleh aspek nutrisi, tetapi teknologi


yang berhubungan dengan aspek manufakturing yang menghasilkan produk.
Beberapa sisi penting dari aspek manufakturing yaitu grinding, mixing dan
pelleting. Tujuan pengolahan pakan yaitu meningkatkan keuntungan,
merubah ukuran partikel, merubah kadar air, merubah densitas pakan,
meningkatkan palatabilitas, merubah kandungan nutrien, meningkatkan
ketersediaan

nutrien,

detoksifikasi,

mempertahankan

kualitas

selama

penyimpanan dan mengurangi kontaminasi.


Faktor kuantitas dan kualitas pakan merupakan faktor utama penentu
keberhasilan usaha peternakan, karena hampir 2/3 biaya produksi berasal
dari pakan. Oleh karena itu perhatian terhadap asupan zat makanan kepada
ternak sangat menentukan keberhasilan budidaya peternakan.
Ada 2 masalah utama penyebab pakan ternak yng diberikan keada
ternak ruminansia tidak mencukupi kebutuhan jumlah dan nutrien. Masalah
pertama adalah karena bahan pakan ternak biasanya diperoleh dari limbah
hasil pertanian yang memiliki kadar protein rendah dan serat kasar tinggi.
Masalah lainnya adalah karena ketersediaan pakan yang tidak tersedia
secara terus-menerus. Masalah ini biasanya terjadi ketika musim kemarau
yang menyebabkan produksi hijauan pakan turun karena kekeringan. Untuk
mengatasi berbagai masalah tersebut beberapa trobosan telah dilakukan.
Untuk meningkatkan nilai gizi dari pakan ternak yang umum dilakukan adalah
pembuatan awetan hijauan dan konsentrat.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Bahan Pakan
Pakan atau feed adalah segala sesuatu yang dapat dimakan oleh
ternak untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Adapun pangan atau food
adalah segala sesuatu yang dapat dimakan oleh manusia. Pangan dan
pakan

mempunyai

kemiripan,

perbedaannya

terletak

pada

cara

pemanfaatannya dan pengolahannya. Pakan ternak mengandung empat


golongan zat makanan, yaitu karbohidrat, protein, lemak dan zat-zat mineral
(Retnani, 2011).
Konsentrat
Konsentrat adalah bahan pakan rendah serat kasar dan tinggi
kandungan nutrien yang lain. Pakan konsentrat adalah setiap bahan pakan
yang kandungan serat kasarnya kurang dari 18% dan TDN-nya diatas 60%
berdasarkan bahan kering. Nutrien lain yang tinggi kandungannya dapat
hanya satu macam nutrien atau lebih, dan gunanya untuk menambah atau
mempertinggi nutrien di dalam campuran pakan atau ransum agar terpenuhi
apa yang dibutuhkan ternak. (Agus, 2007)
Berdasarkan macam nutrien yang terkandung di dalamnya, maka ada
dua macam bahan pakan konsentrat utama yaitu konsentrat sumber energi
dan konsentrat sumber protein. Konsetrat sumber energi yaitu semua macam
bahan pakan yang merupakan sumber energi dan mengandung serat kasar
kurang dari 18%, dinding sel kurang dari 35% dan protein kasar kurang dari
20%. Kegunaan konsentrat sumber energi terutama adalah untuk menaikkan
jumlah konsumsi energi atau untuk menaikkan densitas energi di dalam
ransum. Energi yang terkandung di dalam konsentrat energi terutama berasal
dari karbohidrat yang mudah larut ataupun minyak dan lemak. Bahan pakan
yang tinggi kandungan energinya (DE, ME, atau NE) pada umumnya

mengandung

protein

rendah

sampai

sedang.

Ternak

lebih

mudah

mendapatkan energi dari konsentrat energi daripada yang berasal dari forage
walaupun energi bruto (GE) hampir sama. Konsentrat energi meliputi
berbagai macam bahan pakan butiran sebangsa padi termasuk hasil
sampingannya, berbagai macam jenis umbi, berbagai macam jenis tetes dan
yang sejenis, berbagai macam minyak dan lemak dan bahan pakan sumber
energi lain (Retnani, 2011).
Konsetrat sumber protein adalah kumpulan semua macam bahan
pakan yang mengandung protin kasar lebih dari 20%. Penggunaan
konsentrat protein terutama ditujukan untuk unggas muda, ternak tumbuh
cepat dan ternak produksi tinggi. Berdasarkan sumbernya, konsentrat protein
berasal dari ikan laut, hewan darat, tanaman dan asam amino sintetik.
Konsentrat protein terdiri dari tiga macam yaitu konsentrat protein hewani,
konsentrat protein nabati dan konsentrat protein sinteti (Anggorodi, 1999).
Jagung. Jagung atau zea mays merupakan bahan pakan sumber
energi dari bahan baku nabati dalam komponen penyusun pakan ternak yang
digunakan dalam proses pembuatan pakan di pabrik pakan. Jagung memiliki
energi metabolis 3.329 kcal/kg, protein kasar 8,6% dan kandungan serat
kasarnya 2,5% (Retnani, 2011). Alamsyah (2008) menyatakan bahwa jagung
sering disebut the king of cereal atau the golden grain, hal ini karena jagung
mempunyai nilai nutrien yang tinggi. Beberapa sifat jagung antara lain
palatabel, serat kasar rendah, nilai kecernaan tinggi yaitu TDN-nya sekitar
80%.
Energi

jagung

jagung

digunakan

sebagai

standar

untuk

membandingkan dengan energi dari bahan pakan butiran lain. Bila energi
jagung diberi 100 ternyata nilai energi butiran yang lain adalah kurang dari
100. Penggunaan jagung sebagai pakan dapat diberikan pada ternak dalam
keadaan masih dalam bentuk bulir utuh, sudah digiling kasar, digiling kasar
bersama tongkol dan masih dalam keadaan segar bersama tongkolnya

(Retnani , 2011). Kelebihan dan kekurangan jagung antara lain jagung kuning
mengandung pigmen kriptosantin yang sebagian dapat diubah menjadi
vitamin A di dalam tubuh ternak, kandungan protein (zein) dan mineral
rendah, kandungan sistin tinggi tetapi metionin, lisin dan triptofan rendah,
kandungan lisin dan triptofan pada jagung opaque-2 tinggi, dapat diberikan
pada semua jenis ternak (Bahnke, 1996).
Pollard.

Pollard

merupakan

limbah

dari

pengolaha

gandum.

Kandungan nutrien pollard cukup baik yaitu energi metabolisme 1.140


kkal/kg, protein 11,8%, serat 11,2%, dan lemak 3,0. Pollard merupakan hasil
samping penggilingan gandung yang mengandung kulit ari gandum halus
serta mempunyai kandungan serat dan protein yang tinggi dan profil asam
aminonya mirip gandum. Protein pollard lebih tinggi daripada protein jagung
dan mengandung lisin dua kali lipat lebih banyak daripada protein endosperm
(Retnani, 2011).
Bekatul.

Bekatul

merupakan

hasil

sampingan

atau

limbah

penggilingan padi. Sebanyak 8 hingga 8,5% berat padi adalah bekatul.


Nutrien yang terdapat dalam bekatul, yaitu protein kasar 9 hingga 12%, pati
15 hingga 35%, lemak 8 hingga 12%, serat kasar 8 hingga 11%. Kandungan
serat kasar yang lebih tinggi daripada jagung atau sumber lain menyebabkan
bekatul diberikan dalam jumlah yang terbatas tergantung pada jenis
ternaknya. Sebaiknya bekatul dijemur terlebih dahulu selama 3 hingga 4 hari
untuk menghindari serangga atau bau tengik agar kualitas bekatul tidak
berkurang. Penjemuran dilakukan sebelum bekatul disimpan atau digunakan
sebagai bahan baku pakan. Ketersediaan bekatul yang tergantung pada
musim panen padi,sifatnya yang mudah rusak, dan menjadi kebutuhan utama
bagi peternak yang membuat pakan campuran sendiri mendorong tingginya
harga bekatul di pasaran. Hal ini dimanfaatkan oleh para penjual maupun
pengepul

bekatul

dengan

memanipulasi

isi

bekayul

agar

diperoleh

keuntungan yang lebih banyak. Beberapa bahan yang sering digunakan

untuk memanipulasi bekatul yaitu sekam giling, gamping, zeolit, dan limbah
tepung tapioka (onggok) Agus,(2007).
Konsentrat itik. Ransum makanan yang terdiri dari berbagai unsur
atau komponen makanan yang jumlahnya relatif kecil harus bercampur
merata (homogen), sehingga setiap kali itik makan selalu menerima makanan
dengan susunan zat yang sama (Anggorodi, 1999). Kandungan nutrien yang
terdapat dalam konsentrat itik antara lain protein kasar berkisar 40%, TDNnya 45%, BK 12,9% (Agus, 2007).
Garam. Garam sering disebut sebagai natrium klorida. Garam terdiri
atas natrium (39%) dan klorin (59%) yang diperlukan oleh sapi untuk
pemeliharaan dan produksi. Kebutuhan zat-zat tersebut biasanya tercukupi
dalam pakan. Aturan penambahan garam untuk mencukupi kebutuhan
natrium adalah 14 gram untuk pemeliharaan dan 28,3 gram untuk setiap
tambahan 13,6 kg produksi susu harian. Misalnya, sapi yang memproduksi
27,2 kg susu harus mengkonsumsi 71 g garam per hari. Garam harus
tersedia secara bebas untuk sapi-sapi dan ternak muda dalam bentuk balok
atau serbuk agar dapt dikonsumsi sesuai kebutuhan masing-masing
(Anggorodi, 1999).
Molases atau tetes gula tebu. Tetes gula tebu merupakan hasil
ikutan penggilingan tebu untuk dijadikan gula. Tetes gula tebu mengandung
gula hingga 77 % dan protein kasar sebesar 3.5%. tetes gula tebu berwarna
coklat kemerahan, kalau dicicip terasa manis. Oleh karena itu, tetes banyak
digunakan pada pakan sapi untuk menambah nafsu makan ternak. Bahan
pakan ini dapat dimanfaatkan untuk mengontrol debu pada pakan kering
(Agus, 2007).
Tepung tapioka. Tepung tapioka adalah produk samping ekstraksi
pati singkong. Tepung ini juga disebut produk sampingan tapioka. Tepung
tapioka mempunyai kandungan protein rendah, tetapi tinggi kandungan
karbohidrat non strukturalnya dan mengandung 72% pati (%BK). Kandungan

energi pada tepung tapioka sedikit lebih rendah daripada biji barley. Bahan
perekat atau pengikat diperlukan untuk mengikat komponen bahan pakan
agar mempunyai struktur yang kompak sehingga tidak mudah hancur, dan
mudah dibentuk pada proses pembuatannya. Bahan perekat yang biasa
digunakan dalam pembuatan pakan ternak berbentuk pellet antara lain
tapioka, sagu, tepung gaplek, dan agar-agar. Bahan perekat dapat digunakan
dengan cara dicampurkan secara langsung dengan bahan baku pakan lain
pada saat masih kering atau dapat dibuat adonan tersendiri dan dicampurkan
terakhir sebelum dilakukan pencetakan pellet (Agus, 2007).
Tahapan pembuatan pellet antara lain grinding atau pencacahan,
mixing atau pencampuran dan pelleting atau pembuatan pellet.
Grinding atau pencacahan
Grinding adalah proses pengurangan ukuran partikel bahan dari
bentuk kasar menjadi ukuran yang lebih halus untuk menyempurnakan
proses mixing yaitu hasil pencampuran yang merata dan menghindari
segregasi partikel-partikel bahan (Retnani, 2011). Grinding atau pencacahan
akan

memperkecil

ukuran

partikel

pakan,

meningkatkan

kecernaan

khususnya bagi butiran yang bijinya keras. Partikel yang lebih kecil akan
memperluas

permukaan

sehingga

kecernaannya

akan

meningkat,

mengakibatkan laju aliran pakan dalam saluran pencernaan

meningkat,

saluran pencernaan cepat kosong, dan pada gilirannya akan meningkatkan


konsumsi pakan. Penggilingan juga penting jika bahan itu akan dicampurkan
dengan lainnya sehingga akan bercampur secara mesra (homogen),
seragam dan meningkatkan kegunaan ransum tersebut bagi ternak
(Anggorodi, 1999).
Tujuan

dari

proses

grinding

atau

pencacahan

antara

lain

meningkatkan luas permukaan partikel bahan terhadap sistem pencernaan


sehingga meningkatkan daya cerna bahan. Memperbaiki cara penanganan
terhadap bahan baku. Memperbaiki karakteristik mixing dari setiap bahan

pakan

sehingga

bisa

diperoleh

hasil mixing

yang

lebih

homogen.

Meningkatkan efisiensi pelleting dan kualitas pellet karena persentase tepung


bisa dikurangi dan mengurangi pekerjaan ulang dari proses pelleting akibat
banyaknya tepung yang kembali ke sistem pellet (Agus, 2007).
Bahan - bahan yang harus melewati proses grinding adalah jagung,
sorghum, cassava chips, groundnut meal, rape seed meal, linseed meal,
soyabean meal, copra meal. Kebanyakan sumber protein asal hewani sudah
dalam bentuk halus sehingga tidak perlu digiling. Sistem feedmill mengadopsi
teknik grinding dengan 2 pendekatan yaitu sistem pre grinding dan post
grinding. Sistem pre grinding, semua bahan baku kasar yang harus
dihaluskan akan masing-masing menjalani proses grinding untuk kemudian
ke tahap mixing. Sistem ini cocok untuk pakan tepung khususnya ayam
petelur dan memungkinkan mengatur komposisi ukuran partikel hasil grinding
sehingga tidak semua ukuran partikel akhir menjadi seragam menyebabkan
tampilan pakan lebih menarik misalnya ukuran jagung yang lebih besar
sehingga terlihat lebih kuning. Sistem post grinding, hasil mixing akan
disalurkan ke hammer mill untuk proses grinding yang kedua kalinya. Dengan
cara ini akan diperoleh hasil pakan yang sangat halus dan kualitas pellet
yang jauh lebih baik. Sistem post grinding cocok untuk feedmill dimana
persentase pakan pellet atau butiran sangat dominan (Bahnke, 1996).
Mixing atau pencampuran.
Mixing atau pencampuran merupakan proses pencampuran atau
mengkombinasikan dengan menggerakkan dua atau lebih materi untuk
tingkat

penyebaran

yang

spesifik.

Tujuan

mixing

adalah

untuk

mendistribusikan secara seragam nutrien yang ada dalam bahan pakan


(Agus, 2007). Proses pencampuran dikatakan telah berlangsung dengan baik
jika komponen yang dicampur dari sampel yang diambil selama proses
pencampuran telah terdistribusi melalui komponen lain secara acak. Hal-hal
yang perlu diperhatikan pada saat pencampuran bahan pakan antara lain

kestabilan bahan atau pakan yang digunakan, jarak waktu pencampuran


dengan penggunaan pakan dan peralatan yang digunakan (Agus, 2007).
Pelleting.
Pelleting merupakan salah satu proses pengolahan pakan dengan
menggabungkan beberapa bahan pakan yang telah melalui proses grinding
sehingga menjadi bentuk yang kompak melalui proses penekanan (proses
mekanik). Pelleting bertujuan untuk membentuk suatu kesatuan pakan yang
tidak mudah tercecer. Proses pelleting menggunakan mesin pelletizer.
Pelleting yang dilakukan dengan mesin pelletizer

akan mengefisienkan

proses pengolahan karena pellet akan berlangsung mengering sehingga


tidak perlu lagi proses pengeringan. Pelleting bertujuan untuk membentuk
suatu kesatuan pakan yang tidak mudah tercecer, selain itu pakan dalam
bentuk pellet akan mengurangi susut nutrien karena seluruh bahan akan
terwakili dalam pellet (Agus, 2007).

Materi dan Metode

Materi
Grinding
Alat. Alat yang digunakan antara lain karung dan hammer mill namun
tidak melakukan praktikum grinding tetapi diperkenalkan mesin untuk grinding
antara lain hammer mill, disk mill, willey mill.
Bahan. Bahan yang digunakan adalah biji jagung
Mixing.
Alat. Alat yang digunakan adalah mesin pencampur jenis vertikal.
Bahan. Bahan yang digunakan jagung giling, dedak halus, pollard,
garam, premix, konsentrat itik.
Pelleting.
Alat. Alat yang digunakan yaitu plastik, ember, timbangan, mesin
pellet.
Bahan. Bahan yang digunakan adalah dedak halus, pollard, molases,
konsentrat itik, jagung giling, tepung tapioka, air.

Metode
Grinding. Tidak melakukan proses grinding tetapi hanya dijelaskan
cara penggunaan mesin grinding dan dijelaskan tentang mesin grinding yaitu
hammer mill, disk mill, willey mill.
Mixing. Bahan pakan ditimbang dan dicampur sesuai formulasi.
Urutan pencamuran dari bahan pakan yang mempunyai komposisi terbesar.
Pencampuran bahan pakan menggunkan vertical mixer. Lama pencampuran
bahan pakan selama praktikum dibedakan menjadi 3 macam yaitu lama

mixing 5, 10, dan 15 menit kemudian dilihat hasil pencampurannya. Proporsi


bahan yang digunakan yaitu jagung giling 17.5 %, dedak halus 35%, Pollard
35%, Garam 2 %, Premix 2%, Konsentrat itik 8.5 %.
Pelleting. Semua bahan dicampur supaya homogen kemudian
ditambahkan tepung tapioka yang sudah diencerkan dengan air hangat.
Campuran diaduk secara merata dan langsung dimasukkan ke dalam mesin
pelletizer dan dilanjutkan dengan proses pemeletan. Proporsi bahan pakan
yang digunakan dalam proses pelleting atara lain hasil mixing (pollard,
bekatul, bekatul jagung dan garam) 85%, molasses 5% dan tepung tapioka
10%.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

Grinding
Grinding merupakan proses penggilingan atau penghancuran partikel
pakan menjadi lebih kecil. Tujuan penggilingan adalah meningkatkan luas
permukaan,

memudahkan

penanganan,

memudahkan

pencampuran,

meningkatkan efisiensi pembuatan pellet. Berdasarkan hasil praktikum,


praktikan tidak melakukan proses grinding. Bahan baku pakan yang dibuat
dalam praktikum sudah melalui proses grinding. Macam mesin grinding dan
tata cara penggunaan mesin grinding dijelaskan pada saat praktikum. Mesin
grinding antara lain adalah hammer mill, disk mill dan willey mill.
(Umardani,2012).
Macam-macam mesin grinding antara lain hammer mill, mish mill dan
willey mill. Hammer mill memiliki beberapa bagian penting salah satunya
adalah grinder untuk menggiling bahan pakan. Proses grinding cukup penting
mengingat proses pencampuran bahan baku akan berjalan dengan baik
apabila bahan baku yang akan dicampur sudah memiliki besar butir yang
relatif seragam. Pengecilan bahan pakan

terdiri dari 3 tahap yaitu

penggilingan kasar dengan hammer mill (kalau perlu didahului dengan


crusher atau penghancur), penggilingan halus dengan dish mill, dan
pengayakan dilakukan dengan ukuran mash halus (Alamsyah, 2008).
Hammer mill merupakan alat untuk menggiling jagung. Mesin ini
mempunyai suatu bagian yang berfungsi sebagai penghancur bahan baku,
yaitu pisau hammer mill. Mesin ini akan menghancurkan/menggiling bahan
baku pakan ternak yang semula berbentuk butiran besar menjadi butiran kecil
yang seragam. Alat ini bergesekan langsung dengan bahan baku sehingga
akan mengalami keausan. Maka dibutuhkan pisau hammer mill yang
mempunyai sifat mekanis yang sangat bagus. (Anwar dan Umardani 2012).

Mixing
Bahan pakan yang digunakan untuk mixing Proporsi bahan yang
digunakan yaitu jagung giling 17.5 %, dedak halus 35%, Pollard 35%, Garam
2 %, Premix 2%, Konsentrat itik 8.5 %. Penimbangan bahan pakan dilakukan
melalui perhitungan menggunakan kandungan nutrien tiap bahan terhadap
100 kg total berat keseluruhan bahan pakan. Jumlah bahan pakan yang
digunakan harus sesuai dengan kandungan nutriennya untuk memenuhi
kebutuhan ternak. Sugihartina (2013) menjelaskan bahwa proporsi bahan
harus sesuai dengan imbangan nutrien yang terkandung dalam pakan.
Penimbangan bahan-bahan harus dilakukan dengan timbangan yang
mempunyai tingkat ketelitian tinggi terutama untuk bahan-bahan dengan
jumlah kecil seperti vitamin, mineral, kalsium, asam amino kristal, pemacu
pertumbuhan, dan lain-lain.
Sampel bahan diambil tiap 5 menit, 10 menit dan 15 menit.
Berdasarkan hasil praktikum sampel yang paling bagus adalah sampel yang
diambil pada saat 15 menit. Sampel yang diambil pada saat 15 menit sudah
merata seluruh komponen bahan pakan dan homogen sedangkan sampel
yang diambil pada saat 5 menit belum merata dan ukuran partikel bahan
masih kasar dan sampel yang diambil pada saat 10 menit sedikit lebih merata
dan ukuran partikel bahan pakan mulai agak halus. Alamsyah (2008), juga
menjelaskan bahwa mixer tipe vertikal berkapasitas diatas 1000 kg per mix,
digunakan untuk mencampur bahan pakan dalam keadaan kering. Satu kali
mix memakan waktu berkisar 15 sampai 20 menit, tergantung bahan yang
digunakan. Berdasarkan data yang dibandingkan dengan literatur tentang
lama pencampuran bahan pakan hingga homogen yang dilakukan di
praktikum sesuai dengan literatur.
Mixing atau pencampuran merupakan proses pencampuran atau
mengkombinasikan dengan menggerakkan dua atau lebih materi untuk

tingkat penyebaran yang spesifik. Tujuan mixing adalah untuk mencampur


bahan yang ada sehingga terbentuk adonan yang homogen sehingga nutrien
dapat terdistribusi secara merata apabila pakan sudah dibentuk melalui
proses pelleting (Agus, 2007).
Mesin mixing ada dua macam yaitu vertical mixer dan horizontal mixer
Alat untuk proses mixing saat praktikum dengan mixer vertikal. Mixer vertikal
bekerja menghomogenkan bahan pakan dengan memutar bahan dari arah
bawah keatas. Retnani (2011) menyatakan mesin mixing memiliki kapasitas
yang berbeda, untuk mixer tipe horizontal dengan kapasitas 300 sampai 500
kg (daya motor 12 hp) dan mixer tipe vertikal dengan kapasitas mencapai
lebih 2 ton/jam (daya motor 3 hp dan hp). Berdasarkan kegiatan praktikum
yang dilakukan, dilakukan proses mixing menggunakan vertikal mixer.
Keuntungan menggunakan vertical mixer antara lain ekonomis untuk
peternakan yang mencampur sendiri bahan pakan, biaya instalansi lebih
rendah, sistem alur produksi yang sederhana. Sementara, kerugiannya
adalah waktu pencampuran lama, cairan yang ditambahan tidak sebanyak
pada horizontal mixer, keterbatasan jumlah bahan yang dipakai dan
kapasitas pencampuran, tidak dapat membersihkan sendiri, perlu kehatihatian dalam menangani sisa adonan, dan penurunan efisiensi pencampuran
akibat bahan yang dimasukan terlalu banyak atau kerusakan ribbon (Retnani,
2011).
Urutan

pemasukan

bahan

berdasarkan

ukuran

partikel

dapat

menentukan kerataan kecampuran atau homogenitas bahan pakan. Urutan


pencampuran dari bahan pakan diawalai dari bahan yang mempunyai
komposisi terbesar sampai yang terkecil. Urutan pemasukan dimaksudkan
agar proses mixing pada bahan pakan yang memiliki ukuran partikel lebih
besar dapat homogen dengan bahan pakan yang memiliki ukuran partikel
yang kecil (Bahnke, 1996). Alamsyah (2008), menjelaskan bahwa faktor yang
menentukan kerataan campuran bahan pakan antara lain adalah ukuran

butiran dan berat dari masing-masing bahan pakan yang akan dicampur
disamping sistem kerja alat dalam mencampur.
Hasil mixer yang baik harus memiliki kesamaan kadar bahan pakan di
tiap-tiap

bagian

atau

tercampur

merata

(homogen).

Diperlukan

uji

homogenitas untuk mengetahui kecampuran bahan pakan dengan cara


menambahkan garam dalam bahan pakan. Garam digunakan sebagai
parameter homogenisasi pada pencampuran bahan dalam mixer. Rosida dan
Martini (1999) menjelaskan bahwa analisis kadar garam dapat digunakan
untuk menguji homogenitas pencampuran. Suparjo (2010) menjelaskan
bahwa garam merupakan salah satu bahan baku mikro yang dapat
digunakan dalam menguji performans mixer. Sifat fisik garam sebagai bahan
uji adalah lebih padat, bentuk kubik dan lebih kecil dibanding partikel lain.

Pelleting
Bahan baku yang digunakan dalam pembuatan pellet diantaranya
adalah bahan pakan hasil mixing (pollard, bekatul, bekatul jagung dan
garam), molasses , tepung tapioka. Proporsi bahan pakan hasil mixing
(pollard, bekatul, bekatul jagung dan garam) 85%, molasses 5% dan tepung
tapioka 10%. Pellet yang dihasilkan pada praktikum kompak, tidak mudah
pecah dan bentuknya silindris.
Pelleting diproses menggunakan mesin pelletizer. Penggunaan mesin
pellet bertujuan untuk membentuk bahan pakan menjadi kompak dan
memiliki bentuk seperti tabung atau silindris dengan ukuran yang
disesuaikan. Bahan pakan yang telah dimixing masih dalam bentuk mesh
kemudian di masukan kedalam pelletizer dan di tekan kemudian keluar
menjadi bentuk pellet. Sugihartina (2013) menjelaskan bahwa sistem kerja
mesin pellet adalah dengan mendorong bahan pakan campuran didalam
tabung besi atau baja mengan menggunakan ulir (screw) menuju cetakan
(die) berupa pelat berbentuk lingkaran dengan lubang-lubang berdiameter 2

sampai 3 mm sehingga pakan akan keluar dari cetakan tersebut dalam


bentuk pellet.
Jenis alat dan mesin yang dipergunakan untuk pembuatan pakan
ternak pada pabrik pakan skala kecil diantaranya adalah pencetak Pellet
(Pelletizer). Ada 2 tipe mesin pellet yang umum digunakan yaitu mesin pellet
proses basah ( tipe horizontal dengan penekan screw) dan mesin pellet
proses kering (tipe vertikal dengan penekan geardrum). Biasanya pada
pakan ungags pakan yang diinginkan adalah dalam bentuk crumble. Setelah
pakan berbentuk pellet kemudian dimasukan ke alat pemecah Pellet
(Crumble) merupakan mesin pemecah pellet (crumble) terutama digunakan
untuk pakan ayam pedaging. Mesin ini berfungsi untuk memecah pellet
menjadi dua atau tiga bagian. Tenaga motor yang digunakan 1 HP dengan
kapasitas pengolahan 400 sampai 500 kg/jam (skala kecil). Bagian terkahir
yaitu

pendingin

(cooler ).

Fungsi

cooler

untuk mendinginkan

atau

mengeringkan pellet hasil dari proses pemeletan, Atau hasil pemecahan


pellet dengan meniupkan udara dari kipas yang digerakkan motor (Gunawan,
2010).
Ransum dalam bentuk pellet merupakan ransum yang dibentuk
dengan cara menekan dan memadatkannya melalui lubang cetakan (die),
dimana bentuk fisik pellet dipengaruhi oleh jenis bahan yang digunakan,
bahan pengikat (binder), ukuran pencetak, kandungan air serta tekanan dan
metode penanganan setelah pengolahan. Adapun keuntungan menggunakan
pakan dalam bentuk pellet antara lain meningkatkan palatabilitas dan
konsumsi ransum,
ransum

lebih

memperbaiki efisiensi penggunaan pakan, membuat


homogen,

menghambat/memusnahkan

mengurangi
mikroorganisme

bagian
yang

yang

terbuang,

merugikan

dan

mempercepat laju aliran bahan (flow ability). ( Yatno dan Purwanti ,2010).
Berdasarkan praktikum yang dilakukan pelleting yang dilakukan
sebelum dimasukan ke dalam pelletizer di beri tambahan air secara langsung

karena tidak ada alat steam. Steam pada dasarnya bertujuan untuk
memperbaiki kualitas pellet yang merupakan preconditioning sebelum
dilakukan pencetakan menjadi bentuk pellet dengan tujuan untuk mengetahui
apakah proses tersebut akan mempengaruhi kualitas (fisik) dari pellet bila
dibandingkan dengan tanpa steam. Kualitas pellet tersebut dicerminkan
dalam kandungan air, Aw, organoleptik dan ukuran kehalusan serta
ketahanan benturan. ( Yatno dan Purwanti ,2010).
Dasar proses peleting yaitu dengan penambahan bahan perekat. Pada
saat praktikum digunakan bahan perekat berupa tepung tapioka dan
molasses. Selama proses pencampuran dilakukan pengadukan secara
manual dengan tujuan untuk mendapatkan adonan yang kompak sehingga
ketika dimasukkan ke dalam mesin pelletizer tidak mudah hancur. Menurut
Retnani (2011) menyatakan tepung tapioka banyak mengandung pati dan
pada saat pengukusan pati akan diubah menjadi zat perekat atau gelatin oleh
uap panas. Penambahan air dapat dilakukan di luar seperti halnya pada
pembuatan kanji atau puding. Setelah penambahan air maka terbentuklah
suatu suspensi yang apabila dipanaskan akan

terjadi perubahan berupa

pembentukan struktur gelatinasi atau penggumpalan.


Tepung tapioka yang telah tercampur dimasukkan pada campuran
bahan pakan hingga membentuk adonan yang kompak, setelah adonan
tersebut kompak lalu adonan tersebut dimasukkan kedalam mesin pelletizer.
Hasil pelleting kemudian di tampung dan di keringkan dengan cara dianginanginkan. Hasil yang didapat adalah bentuk pelleting dengan tekstur halus,
kompak dan tidak mudah hancur. Bahnke (1996) menyatakan berbagai faktor
yang mempengaruhi kualitas pellet adalah conditioning, spesifikasi pakan,
ukuran partikel, pendinginan atau pengeringan, dan formulasi.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil praktikum teknologi pengolahan konsentrat meliputi


tiga tahapan yaitu grinding, mixing dan pelleting. Hasil mixing yang paling
baik pada menit ke 15. Pellet yang dihasilkan pada saat praktikum kompak
dan tidak mudah patah.

Daftar Pustaka
Anwar, S., Y. Umardani. 2012. Pengujian Sifat Mekanis Dan Struktur Mikro
Pisau Hammer Mill Pada Mesin Penggiling Jagung Pt. Charoen
Pokphand Indonesia Cabang Semarang. Journal Foundry.
Agus, A. 2007. Membuat Pakan Ternak Secara Mandiri. Cetakan
Pertama.PT.Citra Aji Parama, Yogyakarta.
Alamsyah, A. 2008. Panduan Bahan Pakan Ternak Ruminansia. Ardana
Media, Yogyakarta.
Anggorodi, R. 1999. Ilmu Makanan Ternak Umum. Gramedia. Jakarta.
Bahnke, K. C. 1996. Feed Manufacturing Technology : Current Issues and
Challenges. Animal Feed Science. 62 : 49-57.
Gunawan, D. 2010. Pedoman pembangunan pabrik pakan skala kecil dan
proses pengolahan pakan. Direktorat budidaya ternak non
ruminansia. Direktrorat Jendral Peternakan.
Retnani, I. 2011. Proses Produksi Pakan Ternak. Ghalia. Bogor
Rosida dan Martini. 1999. Pengujian homogenitas campuran pakan dengan
pengukuran kadar nacl. Balai Penelitian Ternak CIA. Bogor.
Sugihartina,
E.
2013.
Teknologi
pembuatan
pellet.
Http://www.scribd.com/doc/57364412/teknologi-pembuatan-pelet.
Diakses pada tanggal 5 november 2014 pukul 21.00 wib.
Suparjo. 2010. Pengawasan mutu pada pabrik pakan ternak. Laboratorium
makanan ternak universitas jambi. Jambi.
Yanto, S. Purwanti. 2010. Pengaruh Steaming Dan Lama Penyimpanan
Terhadap Sifat Fisik Pakan Burung Perkutut . JITP Vol. 1 No. 1