Anda di halaman 1dari 12

PENDAHULUAN

Kelahiran merupakan puncak dari proses kebuntingan. Pengetahuan yang baik


mengenai kelahiran yang normal sangat penting bagi seorang dokter hewan untuk
memahami tingkat abnormalitas yang tampak pada kasus distokia. Hal tersebut juga akan
memberikan petunjuk terhadap fakta penting lainya seperti prospek kehidupan fetus jika
kelahiran tertunda .
Tanda kelahiran pada masing-masing spesies berbeda - beda. Perubahan tingkah
laku mulai terlihat dimana hewan tersebut salah satunya yaitu menyendiri dari kelompoknya
saat menjelang kelahiran. Saat kelahiran sudah dekat, induk biasanya akan terlihat tidak
nyaman, gelisah, dan stress.
Saat bunting, fetus berada di sepanjang masing-masing uterus. Masing-masing fetus
terdiri dari membran dan memiliki plasenta yang berfungsi memberi makan fetus. Untuk
mempermudah jalan keluarnya fetus, masing-masing fetus yang berada dalam kantung
selaput ganda dari membran fetus, dikelilingi oleh cairan yang berfungsi melindungi dan
melumasi serta menyebabkan uterus mengembang, mengkerut saat uterus relaksasi dan
kontraksi selama proses kelahiran.
Tugas ini dibuat

dan bertujuan agar pembaca dapat mengetahui serta mengerti

mengenai masalah ganguan reproduksi yang terjadi pada beberapa hewan salah satunya
yaitu distokia,menjelaskan pengertian distokia,diagnosa penyakit distokia, macam macam
atau bentuk distokia, dan cara menangani masalah distokia yang kerap terjadi pada kasus
kelahiran yang abnormal.

PEMBAHASAN
1. Pengertian Distokia
KELAHIRAN NORMAL
Etokia = fetus cukup umur, keluar dengan kemampuan bersama antara anak dan induk
dalam kisaran normal stadium-1 dan stadium-2 dari kelahiran dan tanpa bantuan manusia
KELAHIRAN TIDAK NORMAL
Distokia = abnormalitas / kesulitan kelahiran (penundaan ringan sampai ketidak mampuan
total dari induk untuk melahirkan)
Secara garis besar ada 2 bentuk distokia:

Maternal Distokia, yaitu distokia karena ada gangguan pada induknya. Sebagian
besar adalah faktor faktor yang menyebabkan penyempitan atau stenosis
saluran kelahiran atau yang menghalang halangi pemasukan foetus secara
normal ke dalam saluran kelahiran.

Foetalis Distokia, yaitu distokia karena ada kelainan pada fetusnya antara lain
kelainan presentasi, posisi dan postur foetus, anasarca atau acites foetalis, tumor
foetus, pembesaran rongga tubuh foetus, abnormalitas foetus dan mouster
(Hardjopranjoto, 1995)

Pada sapi yang menujukkan tanda-tanda melahirkan, biasanya sangat terlihat pada bagian
vulva yang mengendor dan adanya lendir berwarna kekuningan yang menggantung.
Masalah yang sering terjadi adalah distokia dalam posisi posterior (posisi kepala pedet
menghadap kedalam). Jika sapi tersebut mengalami distokia maka dengan segera dokter
hewan ataupun veteriner membetulkan posisi pedet dalam kondisi normal. Setelah itu pedet
akan dikeluarkan dengan menarik pada bagian kaki yang diikat tali saat sapi merejan hingga
semua tubuh pedet keluar. Dalam kondisi normal proses kelahiran pedet terbagi kedalam
beberapa tahap atau fase, yaitu: (Hardjopranjoto, 1995)
1. Fase pertama : sapi gelisah, vulva kendor, vulva mengeluarkan lendir, sapi
merejan, amnion terlihat dan amnion pecah.
2. Fase kedua : organ tubuh pedet sebagian terlihat, sapi merejan dan seluruh
tubuh pedet terlihat
3. Fase ketiga : plasenta keluar

2.

Diagnosa dan Prognosa


Anamnesa : Sewaktu pemeriksaan pendahuluan dan persiapan penanganan dilakukan,
sejarah kejadian distokia dan informasi lain perlu diperoleh dari peternak maupun dari
pengamatan sendiri. Informasi ini penting untuk pemeriksaan dan penanggulangan distokia
secara cermat dan tepat.
Pemeriksaan umum : pemeriksaan umum meliputi kondisi fisik hewan saat itu.
Pemeriksaan khusus : merupakan pemeriksaan terperinci terhadap saluran kelamin dan
foetus.
Diagnosa juga dapat terlihat dari gejala klinis
a.

Tahap pertama kelahiran yang lama dan tidak progresif.

b.

Sapi berdiri dengan postur abnormal selama tahap pertama kelahiran.

c.

Sapi mengejan dengan kuat selama 30 menit, namun anak sapi tidak muncul.

d. Cairan amnion telah tampak pada vulva selama 2 jam, namun anak sapi gagal keluar.
Fetus mengalami malpresentasi, malpostur atau maldisposisi, misalnya kepala keluar
tanpa kaki depan, ekor keluar tanpa kaki belakang atau kepala keluar dengan salah satu
kaki depan.
e.

Cairan korioalantois yang terpisah, mekonium fetus atau carian amnion yang tercemar
darah menunjukkan telah terjadi hipoksia fetus dan kemungkinan fetus telah mati
(Jackson, 2007).

Kelahiran harus sudah terjadi dalam waktu 8 jam, jika pedet belum juga keluar maka perlu
mendapat bantuan. Pertolongan diberikan dengan memastikan terlebih dahulu kondisi
pedet, setelah dirasa benar maka pedet siap dikeluarkan. Kaki depan akan diikat dengan tali
yang sudah dicelupkan iodine 7%. Begitu juga tangan yang akan dimasukkan ke dalam
vulva dicelupkan dengan iodine. Pada saat sapi merejan kaki akan ditarik. Pedet yang
keluar segera dibersihkan dari lendir-lendir yang tersisa terutama pada bagian hidung dan
mulut untuk membantu pernafasan. Induknya pun ikut menjilat-jilat tubuh pedet. Empat
sampai lima jam setelah melahirkan plasenta harus sudah keluar. Sapi yang sudah
melahirkan segera diberikan vitamin AD3E 5 ml lewat suntikkan di bagian leher (intravena),
penstrep yang disuntikkan melalui intravena bagian leher sebanyak 20 ml, dan pemberian
calcoral gel 400 ml melalui mulut. Penanganan yang diberikan bertujuan agar kondisi sapi
tidak melemah setelah melahirkan (drop). Beberapa jam setelah itu sapi akan diperah untuk
diambil kolostrumnya menggunakan mesin perah portabel(smith,2002)

Kasus distokia umumnya terjadi pada induk yang baru pertama kali beranak, induk yang
masa kebuntingannya jauh melebihi waktu normal, induk yang terlalu cepat dikawinkan,
hewan yang kurang bergerak, kelahiran kembar dan penyakit pada rahim. Distokia dapat

disebabkan oleh faktor induk dan faktor anak (fetus) Aspek induk yang dapat mengakibatkan
distokia diantaranya kegagalan untuk mengeluarkan fetus akibat gangguan pada rahim yaitu
rahim sobek, luka atau terputar, gangguan pada abdomen (rongga perut) yang
mengakibatkan ketidakmampuan untuk merejan, tersumbatnya jalan kelahiran, dan ukuran
panggul yang tidak memadai. Aspek fetus yang dapat mengakibatkan distokia diantaranya
defisiensi hormon (ACTH/cortisol), ukuran fetus yang terlalu besar, kelainan posisi fetus
dalam rahim serta kematian fetus dalam rahim(smith,2002)

Ukuran fetus yang terlalu besar dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu:
- keturunan/genetic
- faktor pejantan yang terlalu besar sedangkan induk kecil
- lama kebuntingan
- jenis kelamin fetus yaitu fetus jantan cenderung lebih besar
- kebuntingan kembar
- Faktor nutrisi induk juga berperan, yakni pemberian pakan terlalu banyak dapat
meningkatkan berat badan fetus dan timbunan lemak dalam rongga panggul yang dapat
menurunkan efektifitas perejanan(Toelihere,1981).
3. Permasalahan dan Penanganan Gangguan Reproduksi
Gangguan reproduksi dapat diantisipasi dengan memperhatikan beberapa faktor
diantaranya :

Seleksi genetik.

Manajemen pakan yang baik sehingga mendukung kesuburan saluran reproduksi.

Manajemen kesehatan yang baik meliputi kesehatan sapi (program pengobatan dan
vaksinasi), kebersihan kandang dan lingkungan (sanitasi dan desinfeksi) sehingga
dapat meminimalisasi agen patogen (bakteri, virus, jamur, protozoa) yang dapat
mengganggu kesehatan sapi.

Penanganan masalah reproduksi dengan prosedur yang baik dan benar sehingga
mengurangi kejadian trauma fisik yang akan menjadi faktor predisposisi gangguan
reproduksi(manan,2001)

4. Faktor faktor Penyebab distokia


Faktor yang mempengaruhi kejadian ini dapat berasal dari induk maupun anak.
1. Faktor induk antara lain :

ukuran pelvis kecil

sumbatan pada pelvis

torsio uteri

2.

Faktor yang berasal dari anak antara lain :

ukuran fetus yang terlalu besar

kematian fetus

letak fetus yang abnormal

Hal yang dicurigai pada kejadian distokia adalah jika pada waktu 1 jam terjadi kontraksi
tetapi tidak ada anak yang keluar, kelemahan pada induk, vaginal discharge dan
pendarahan pada vagina(blakely,1998).

5. Contoh kasus distokia


A.

Unilateral carpal flexion posture

Definisi: Hanya ada 1 kaki yang terlipat, kaki yang normal dan kepala ditemukan di
dalam atau menonjol di vagina. Flexi karpal dari kaki depan yang lain ditemukan pada
inlt atau terjepit dalam vagina.

Presentasi: longitudinal anterior, posisi : dorsosacrum, posture: carpal flexion


(unilateral).

Penanganan: Pada flexi carpal unilateral, satu kaki akan terjulur keluar ke vulva,
kemudian diikat dengan tali dan membiarkannya terjulur keluar. Dengan porok
kebinadanan, direpulsikan, kaki yang mengalami flexi di ekstensikan, lalu ujungnya
diikat dengan tali. Fetus ditarik keluar(bearden,2004).

B.

Bilateral carpal flexion posture

Definisi: Ada 2 kaki yang mengalami flexi carpal, ditemukan pada inlet pelvis atau
terjepit dalam vagina.

Presentasi : longitudinal, posisi : dorsosacrum, postur : bilateral carpal flexion.

Penanganan: Mencari 1 kaki yang mengalami flexi dengan cara merepulsikan kemudian
diekstensikan, menarik keluar 1 kaki dan diikat dengan tali. Untuk kaki yang sama,
diperlakukan dengan cara yang sama seperti sebelumnya, dan fetus ditarik
keluar(bearden,2004).

C.

Shoulder flexion posture

Definisi: Jika kedua kaki terlipat, dan hanya kepala fetus yang menonjol keluar vagina
atau vulva. Kaki tersebut mungkin benkak. Jika hanya ada 1 kaki yang terkena, kaki
yang lain menonjol dari vulva dengan kepala.

Presentasi: longitudinal anterior, posisi: dorsosacrum, postur: shoulder flexion.

Penanganan: Satu kaki yang normal akan menjulur keluar, diikat dengan tali dan
dibiarkan menjulur keluar. Kemudian direpulsikan, bahu yang mengalammi flexi
diekstensikan, ujung diikat dengan tali, fetus ditarik keluar(bearden,2004).

D.

Head neck flexion posture (lateral)

Definisi: Kaki depan fetus biasanya ditemukan dalam vagina dan kaki-kakinya dapat
menonjol melewati vulva. Kadang-kadang leher fetus berotasi ke arah lateral
(kanan/kiri).

Presentasi: longitudinal anterior, posisi: dorsosacrum, postur: head neck flexion


(lateral).

Penanganan: Kaki fetus yang keluar diikat dengan tali, fetus direpulsi, kepala dan leher
yang mengalami flexi diekstensikan yaitu dengan mengaitkan tali pada rahang bawah
fetus, tarik pelan-pelan. Dengan bantuan kedua tali pada ujung kaki, fetus ditarik
keluar(bearden,2004).

E.

Head neck flexion posture (ke ventral)/vertex

Definisi: Kepala dapat disimpangkan ke bawah anatar kaki depan yang berbatasan
dengan sternum dalam postur dada kepala.

Presentasi: longitudinal anterior, posisi: dorsosacrum, postur: head neck flexion


(ventral).

Penanganan: Kaki fetus yang keluar diikat dengan tali, repulsikan fetus dan angkat
moncong ke atas menuju pelvis. Jika kepala tidak dipindahkan di bawah kaki depan,
tidak cukup ruang untuk menuju pelvis, kecuali salah satu kaki depan digerakkan ke
belakang ke dalam uterus. Jika kepala sudah didapat, kaki deoan ditempatkan
kembali, kemuadian tarik fetus keluar(bearden,2004).

F.

Hock flexion posture

Definisi: Ujung ekor fetus dapat menonjol dari vulva dan pergelangan kaki yang
mengalami flexi teraba pada inlet pelvis tau terkunci dalam pelvis. Jika hanya 1 kaki
saja yang mengalami flexi pada hock, yang lainnya dapat enjulur ke vulva.

Presentasi : longitudinal posterior, posisi : dorsosacrum, postur : heck flexion.

Penanganan: Fetus direpulsikan, ikat ujung kaki belakang dengan tali, kemudian tali
tersebut dilewatkan pertengahan teracak ditarik keluar. Ujung teracak dilindungi agar
tidak melukai saluran peranakan induk. Dengan bantuan tali tersebut, fetus ditarik
keluar(bearden,2004).

G.

Unilateral hip flexion posture

Definisi: Salah satu panggunl tertekuk ke dalam, sedangkan tali belakang yang lain
terjulur keluar.

Presentasi: longitudinal posterior, posisi: dorsosacrum, postur: unilateral hip flexion.

Penanganan:

Kaki

yang

keluar

diikat

dengan

tali,

fetus

direpulsikan,

kaki

belakang/pinggul yang mengalami flexi diekstensikan dengan hati-hati. Lindungi teracak


agar tidak melukai uterus(bearden,2004).
H.

Unilateral tarsal flexion posture

Definisi: Jika salah satu kaki belakang terjulur keluar sedangkan flexi tarsal dari kaki
belakang yang lain ditemukan pada inlet pelvis atau terjepit dalam vagina.

Presentasi: longitudinal posterior, posisi: dorsosacrum, postur: unilateral sacral flexion.

Penanganan: Ikat kaki yang keluar dengan tali, fetus direpulsikan kemudian kaki yang
mengalami flexi distensi, kemudian ujungnya diikat dengan tali. Dan fetus ditarik
keluar(bearden,2004).

I.

Posterior presentation, ventral position (bilateral hock flexion)

Definisi: Jika kedua kaki belakang terjulur keluar, sedang kan posisi tubuh adalah
ventral.

Presentasi : longitudinal posterior, posisi : dorso pubis, postur : bilateral hock flexion.

Penanganan: Kedua ujung kaki masing-masing diikat dengan tali, pegang salah satu
pangkal kaki sambil mendorong ke dalam, kemudian dilakukan rotasi ke arahh dorsal
position. Dengan bantuan tali tersebut, fetus ditarik keluar(bearden,2004).

J.

Transversal presentation, cephaloillial dextra position

Definisi: Punggung dari fetus menghadap ke arah vulva.

Presentasi : transverso-dorsal, posisi : chepalo-illial dextro, postur : unilateral hip


flexion.

Penanganan: Pegang kaki yang mudah didapat, kemudian fetus direpulsikan. Putar
fetus ke arah ventral position, presentasi bisa anterior/posterior. Rotasikan fetus ke arah
dorsal position, dengan tali yang diikatkan pada badan/ujung kaki fetus, tarik
keluar(bearden,2004).

6. Penanganan distokia
Distokia Merupakan suatu kondisi stadium pertama kelahiran (dilatasi cervik) dan kedua
(pengeluaran fetus) lebih lama dan menjadi sulit dan tidak mungkin lagi bagi induk untuk
mengeluarkan fetus. Sebab sebab distokia diantaranya herediter,gizi, tatalaksana, infeksi,
traumatik dan berbagai sebab lain.Penanganan yang dapat dilakukan diantaranya:
- Mutasi: mengembalikan presentasi, posisi dan postur fetusagar normal dengan cara di
dorong (ekspulsi), diputar (rotasi) dan ditarik (retraksi).
-Penarikan paksa: apabila uterus lemah dan janin tidak ikut menstimulir perejanan.
-Pemotongan janin (Fetotomi):
Adalah memotong fetus yang tidak bisa dikeluarkan, menjadi potongan-potongan
kecil yang lebih mudah dikeluarkan apabila presentasi, posisi dan postur janin yang
abnormal tidak bisa diatasi dengan mutasi/ penarikan paksa dan keselamatan induk yang
diutamakan.
melalui saluran peranakan. Indikasi dilakukannya fetotomi antara lain penanganan distokia
yang disebabkan maldisposisi yang tidak dapat dikoreksi dengan cara manipulatif,
penanganan distokia yang disebabkan disproporsi fetopelvis dengan fetus mati dan tidak
dapat dikeluarkan dengan tarikan dan penanganan distokia yang disebabkan oleh fetus
terjepit selama pengeluaran fetus. Fetotomi dilakukan dengan mempertimbangakan
presentasi, posisi dan postur fetus. Untuk fetus dengan presentasi anterior, fetotomi
dilakukan dengan pemotongan kepala terlebih dahulu, dilanjutkan pemotongan kaki depan
kanan dan kiri, kemudian pemotongan dada, lalu pemotongan pelvis. Jika fetus dalam
keadaan presentasi posterior, dilakukan pemotongan kaki belakang terlebih dahulu. Ada 2
teknik fetotomi yaitu :

1. Dalam fetotomi perkutan digunakan embrio tubuler, yang melalui gergaji kawat
dilewatkan. Gergaji kawat untuk memotong fetus sedangkan embriotom melindungi
jaringan maternal dari kerusakan.
2. Dalam fetotomi subkutan bagian-bagian tubuh fetus dibedah keluar dari dalam
kulitnya hingga mengurangi bagian terbesar fetus.
Perawatan induk pasca fetotomi yaitu vagina dan uterus harus diperiksa secara
manual untuk mengetahui kerusakan jaringan lunak. Lalu pemberian antibiotik local
dan parenteral. Analgesi dan toksemia guna terapi non-steriodal dan anti inflamasi
(Jackson, 2007).

- Operasi Secar (Sectio Caesaria), merupakan alternatif terakhir apabila semua cara tidak
berhasil. Operasi ini dilakukan dengan pembedahan perut (laparotomy) dengan alat dan
kondisi yang steril. Indikasi sesar pada sapi antara lain disproporsi fetopelvis, maldisposisi
fetus yang tidak dapat dikoreksi secara manipulatif, torsi uterus yang tidak dapat dibetulkan
lagi, dilatasi serviks atau bagian lain dari saluran peranakan yang tidak lengkap, monster
fetus dan kerusakan berat pada vagina. Indikasi secti caesaria :
1) Distokia karena hewan betina yang belum dewas.
2) Dilatasi dan relaksasi service yang tidak sempurna berhubungan dengan kelemah
uterus dan involution service dan uterus karena tortio uteri.
3) Fetus terlampau besar secara abnormal.
Sebelum dilakukan operasi, hewan diberi anestesi epidural untuk mencegah
pengejanan Untuk lokasi operasi, terdapat dua pilihan lokasi, yaitu :
a)

Daerah flank ( laparotomy flank )


Keuntungan : perlu anastesi local. Irisan dapat diperluas dengan mudah, resiko
pengotoran luka postoperasi atau herniasi kecil.
Kerugian :

uterus

sulit

diekspos

sebelum

pembukaan,

peritoneum

telah

terkontaminasi oleh uterus khususnya jika fetus mati dan mengalami emfisema.
b)

Daerah ventrolateral atau midline


Keuntungan : uterus (yang berisi satu anak sapi yang emfisema) dapat lebih siap
diekspos dengan sedikit risiko kontaminasi peritoneum.
(cady,2009).

KESIMPULAN
Distokia merupakan suatu abnormalitas / kesulitan kelahiran (penundaan ringan
sampai ketidak mampuan total dari induk untuk melahirkan).distokia dibagi menjadi 2 yaitu
distokia foetalis dan distokia maternal.distokia biasanya terjadi pada hewan yang baru
pertama kali melahirkan. Faktor penyebab distokia berasal dari induk dan anak. Diagnosa
Distokia juga dapat terlihat dari gejala klinis diantaranya,Tahap pertama kelahiran yang lama
dan tidak progresif,Sapi berdiri dengan postur abnormal selama tahap pertama
kelahiran,Sapi mengejan dengan kuat selama 30 menit, namun anak sapi tidak
muncul,Cairan amnion telah tampak pada vulva selama 2 jam, namun anak sapi gagal
keluar. Fetus mengalami malpresentasi, malpostur atau maldisposisi, misalnya kepala
keluar tanpa kaki depan, ekor keluar tanpa kaki belakang atau kepala keluar dengan salah
satu kaki depan,Cairan korioalantois yang terpisah, mekonium fetus atau carian amnion
yang tercemar darah menunjukkan telah terjadi hipoksia fetus dan kemungkinan fetus telah
mati.Penanganan distokia bisa dilakukan dengan mutasi,penarikan paksa,pemotongan
janin(fetotomi),dan operasi sesar(sectio caesaria).

DAFTAR PUSTAKA
Bearden,2004. Applied Animal reproduction. London : Pearson Prentice Hall

Blakely, J. dan D.H. Bade. 1998. Ilmu Peternakan. Edisi keempat. Yogyakarta Gadjah
Mada University Press

Cady,

R.A.

2009. DystociaDifficult

Calving,

What

It

Costs

and

How

to

Avoid

It.www.wvu.edu/~agexten/forglvst/Dairy/dirm20.pdf . Diakses pada 15 Januari 2014.

Hardjopranjoto, 1995. Ilmu Kemajiaran pada Ternak. Surabaya : Airlangga University Press

Jackson P.G.G, 2007. Handbook of Veterinary Obstetrics. Philadelphia : Elsevier Saunder Company

Manan, D. 2001. Ilmu Kebidanan pada Ternak. Aceh : Universitas Syah Kuala

Smith, B. P. 2002. Large Animal Internal Medicine. New York : Mosby

Toelihere, Mozes R. 1981. Ilmu Kebidanan pada Ternak Sapi dan Kebau. UI Press, Jakarta.

MINI REVIEW KEBIDANAN DAN KEMAJIRAN


DISTOKIA

Oleh:
Dessy Dwi Rachmawati
2012-A
KASUS 3 (DISTOKIA)

PROGRAM KEDOKTERAN HEWAN


UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2014