Anda di halaman 1dari 13

Bab 12

Beragam Aspek dari Percakapan


Analisis Percakapan

Kata Kunci
Penggantian pembicara, tumpang tindih, jeda, pasangan berdekatan, penyisipan berkelanjutan,
bentuk respon yang didahulukan, bentuk respon yang tidak didahulukan, umpan balik, aidzuchi,
penyaring, pengembalian (mengatasi kesalahan), pengembalian kesesuaian, segera
mengembalikan, terlambat mengembalikan, analisis protocol.
Pada bagian awal yang telah dilewati dan dibahas mengenai percakapan telepon pada bab
sebelumnya dan diobservasi sekitar sepuluh ribu, tetapi mengenai pergantian pembicara,
penyisipan berkelanjuan, pilihan yang menunjukkan antusiasme beragam dari berbagai aspek
dalam percakapan menggunakan kata kunci seperti bentuk, restorasi akan dibahasa dalam bab
ini.
1. Pergantian pembicara, tumpang tindih, penundaan
Percakapan telah dilakukan sementara pembicara berubah (kembali mengumpulkan
ucapannya). Kemudian jenis aturan yang bagaimana yang dapat diterima pada perubahan
pembicara?, Hanya satu aturan dasar yang digunakan pada suatu waktu.
Oleh karena harus terjadi pergantian pembicara, hubungan dari pendengar antara 2
orang dengan percakapan dari dua orang, sepertinya untuk hal yang mudah. Tapi itu
menjadi agak rumit ketika terdapat lebih dari tiga orang. Siapa yang akan mendapatkan
giliran, bagaimana selanjutnya sekarang ketika pembicara berhenti bicara? Berikut akan
dipaparkan tiga kemungkinan.
A: Pihak yang berwenang adalah pembicara yang ada (CS) yang mendesain percakapan
menunjuk pembicara selanjutnya (NS). Kemudian tugas dari pembicara melanjutkan
percakapan dari suara yang baru terjadi.
B: Ketika pembicara yang ada (CS) tidak menunjuk pembicara berikutnya (NS),
pembicara lain punya hak untuk mulai, siapa pun itu, pembicara berikutnya adalah orang
kecuali pembicara yang ada.
C: Pembicara yang ada (CS) tidak menunjuk pembicara berikutnya (NS) ; orang lain
(selain CS). Jika tidak ada yang berbicara, maka giliran kembali kepada pembicara yang
ada (CS).

Ada tiga prioritas dalam percakapan ini, dan A harus didahulukan dari B, dan B harus
lebih didahulukan dari C. Dengan kata lain terdapat hirarki dalam aturan.
Saya tidak terlalu setuju dengan metode yang digunakan dalam pertemuan dan kelas.
Dalam kelas, guru bertanya dan menominasikan seseorang. Siswa yang ditujuk harus
menjawab. Di sisi lain saya lebih setuju jika bertanya, kemudian beberapa siswa
mengangkat tangan kemudian jawaban yang diberikan berbeda dan menyenangkan.
Kemudian dalam pertemuan informal adanya pendapat dari individu yang diberi
kewenangan yang disebut dengan pembicara yang ada.
Pada umumnya pembicaraan terjadi pada bagian B, pergantian pembicara dilakukan
dengan cepat. Dalam hal ini, pembicara potensial lain mengharapkan adanya pergantian
pembicara baik pendapatnya telah selesai dan mungkin belum berakhir. Misalnya,
selanjutnya mari kita bandingkan (1a) dengan (1b).
1.a Apakah kau sudah dengar Nomo membeli mobil baru?
1.b Apakah kau sudah dengar Nomo membeli mobil baru kemarin?
Sehingga untuk melengkapi pola kalimatnya dibuat bersama. Sebagai contoh (1b)
berniat menjawab sementara (1a) baru selesai berpikir alasan tentang mobil baru telah,
serentak berkata apa itu benar? , benarkah? , saya tidak terkejut, sebagai bentuk
interupsinya. Kemudian terkait dengan kemarin terjadi adanya tumpang tindih (overlap)
yang ekstrem antara pembicara dan pembicara selanjutnya. Pengulangan tersebut
digunakan untuk menghindari komunikasi melingkar.
Dengan percakapan aktif penuh kebebasan, pergantian pembicara sangat ketat: Perubahan
pembicara menghasilkan tidak hanya tumpang tindih ucapan terjadi secara teratur, tetapi
juga tidak adanya jeda. Ucapan berpindah dari satu ke yang lain tanpa jeda = tanda pada
akhir ucapan yang ada dan awal ucapan berikutnya dan dapat menunjukkan tersebut
dalam percakapan (Yamada 1995: 125) Lihat contoh percakapan dari mahasiswa berikut .
18C: Apa isinya?, Cerita wanita? Cerita pria?
19B : Yang mana? Macam-macam
20 C: hmm, cerita pria?
21 A : ee, mau liat
Peserta lain tidak bersuara atas sebagai pembicara yang ada, dan pembicara yang ada dan
menunda dalam (jeda) berlangsung, atau selang waktu.) Diukur lama panjang dan
pendeknya kemudian direkam menjadi pose pendek, pose sedang, dan pose lama. Hal ini
dilakukan untuk memeriksanya.

2. Pasangan berdampingan, sisipan berlanjut, bentuk respon yang diseleksi.


Sekarang, Adjacency Pair (pasangan berdampingan) adalah dua ucapan yang berdekatan
yang membentuk dialog dan terhubung dari bagian sebelum dan sesudahnya. Seperti,
ucapan yang berlanjut dalam wawacara berupa pertanyaan-jawaban. Dengan kata lain,
merupakan percakapan Instutusional seperti percakapan medis, wawancara kerja,dan
wawancara di tv., yang hampir semuanya terdiri dari bentuk Q-A yang berantai. Contoh
selanjutnya adalah bentuk Q1-A1-Q2-A2 yang mengalir.
Percakapan medis (D: Dokter, P: Pasien)
D : Whats a problem?
P : Ive a cold
D : Do you have a stuffy nose?
P : A stuffy nose, yeah.and a cough
(tidak dicantumkan selanjutnya)
(Sumber Data : Geis 1988)
Pasangan berdampingan bisa mencakup pasangan lebih dari satu. Sebagai contoh,
ketika Pertanyaan 1-jawaban 1 mengalir pertanyaan 2-jawaban 2 dapat masuk.
Percakapan di Bar (C: Pengunjung, B : Penjaga Bar)
1C : Can I Have a bottle of Michelop?
2B : Are you twenty-one?
3C : No.
4B : No.
1) Merek bir Mikkaroppu
2) Terlarang bagi penjual menjual birnya kepada yang belum cukup umur (umur
dibawah 21 tahun)
(Sumber Data : Geis 1988)

Ketika Penjaga Bar dan Pengunjung bertukar pesan, ada pasangan berdampingan
yang berbeda pada umumnya. Dengan kata lain dapat dirumuskan Ql-(Q2-A2)-A1.
Percakapan berlanjut (Q2-A2) disebut dengan rangkaian menyisip (Insertion Sequence).

Rangkaian menyisip (pada ucapan 2 dan 3) juga terdapat pada percakapan ibu dan anak
di depan toko.

Percakapan depan Toko (S : Anak Laki-laku, M : ibu)


1S:
2M:
3S:
4M :
(Contoh data : Meinaado 1993:26)
Jadi, Pertanyaan-Jawaban saja bukan merupakan pasangan berdampingan. PanggilanJawaban, kritik-persetujuan, penyangkalan, bertaruh-mendapatkan; dan sebagainya tidak
termasuk. Percakapan apapun yang didalamnya terdapat ucapan untuk memberi tahu
sesuai dengan permintaan untuk dijawab disebut dengan pasangan berdampingan.
Sebagai sebuah permintaan atau usulan yang percakapan itu disebut dengan undangan,
ucapan itu dapat disetujui atau ditolak. Sebagai contoh dalam pasangan berdampingan,
ingin dijelaskan tendensi pilihan namun tetap menjaga maksud pembicara (preferensi)
Dalam pasangan berdampingan, balasan bertentangan dan balasan untuk memenuhi
harapan ucapan pertama adalah mungkin. Kedua jenis ucapan ini dapat diterima.
Ketika kita mengundang seseorang, kita mengadopsi aksi bahasa, saya dapat mengukur
harapan lawan cara. Saya kadang segera menjawab singkat dengan Sure, Id love to,
atau Yeah, thats sound great. Dengan kata lain ini merupakan sebuah format percakapan
(karena di dalamnya terdapat respon preferensi) yaitu afirmasi jawaban dari suatu pilihan
dalam percakapan.
1. Tanpa memerlukan selang waktu lama setelah mendengar permintaan atau undangan
2. Sebuah bentuk balasan singkat, sederhana.
Sebaliknya, ketika saya berbicara alasan untuk menyatakan tidak dan menyisipkan terima
kasih, (How nice to you to think of me), menolak (' Gosh, I wish I could '),dan harapan,
(`I think Ive previous commitments) merupakan bentuk penolakan dengan
melembutkan agar tidak menyakiti kehormatan pasangan karena hal itu bertentangan
harapannya.
Dengan kata lain, ada pula jawaban balasan yang tidak teratur karena
jawaban memerlukan tanggapan namun tidak memenuhi konsep pilihan (dispreffered
responses) yang terjadi karena

1. Perlu waktu membalas dan terlambat menjawab (delay) dan mengambil awalan yang
salah dalam menjawab sambil meraba-raba kata yang tepat (filler)
2. Menggunakan berbagai macam ekspresi (mitigators) dengan jarak sedang; sampai agak
panjang; untuk menjawab
3. Bunyi unik: Karakteristik yang berlaku dan memperlihatkan permukaan.

3. Umpan balik dan pengembalian


Lalu, kemajuan dalam umpan balik percakapan diperlukan, kami melihat suatu
percakapan dan melihat riwayatnya perlahan (Hashiuchi 1998)
Pada awalnya, sebagai seorang pembicara, harus berhati-hati memberi umpan balik
kepada pendengar. Saya khawatir akan reaksi yang timbul dari ucapan tersebut. Aizuchi
(backchannel) adalah bukti jika lawan bicara yang tertarik pada ucapan anda dan
mengungkapkan dengan tubuh, mengangguk dan mengambil bentuk yang disebut
mendekati. Ini seperti pembicara memberikan tempat lebih tinggi, dan pendengar antusias.
Tidak hanya pendengar yang mengemas umpan balik dan mengeceknya. Sementara
pembicara memastikan ucapannya tepat, dan memajukan pembicaraan. Karena pada
percakapan sehari-hari (percakapan biasa), rencana percakapannya belum jelas
sebelumnya. Sehingga di tengah percakapan dapat muncul ucapan itu, sebagai pengisi
filler (pengisi celah sempit), ekspresi bimbang, mengoreksi kalimat sebelumnya,
kemudian merevisinya, seperti kata eeto atau hem dan well
Sungghu hal yang luar biasa alami dengan menandai kembali ucapan dan merevisinya di
tengah percakapan. Saya menyebutnya pengembalian (perbaikan) dengn beberapa
modifikasi (untuk mengoreksi) pada analisis percakapan.
Dilihat dari cara sudut pandang aksi mutu sosial, terdapat 4 tipe pengembalian. Saya
menjadikan pembicara (S) sebagai fokus, yang berbicara dengan pendengar (H).
(Geluykens 1994:18).
A : Pembicara mengetahui kesalahannya sendiri dan merevisinya
B : Pendengar memperingatkan kesalahan, dan pembicara memperbaikinya.
C : Pendengar memperingatkan kesalahan dan memperbaikinya
D : Pembicara menyadari kesalahan dan pendengar yang memperbaikinya

Selanjutnya saya akan perkenalkan tiap model di atas, Contoh pertama adalah bagian A
yang merupakan ucapan pembicara.
(1)

She was givin me all the people that were gone this year I mean this quarter.

(Scheglolff, Jefferson and Sacks 1977: 364)


Dia memberikan saya semua orang yang telah pergi tahun ini, maksud saya kuartal.
Dalam kasus ini pembicara berpikir mengatakan this year sebagai sebuah kesalahannya,
dia mencatatnya dan menyebutkan kuartal segera dan mengembalikan bagian yang
hilang dalam percakapan. Dalam kasus ini dipahami bahwa S (pembicara) menggunakan
kata maksud saya sebagai bentuk revisi.
Selanjutnya contoh , mari kita lihat ucapan H.
(2)

S : She was givin me all the people that were gone this year.
H : What ? This year?
S : This quarter I mean

Ketika S berbicara, H mengemukakan keraguannya sehingga memberi respon pernyataan


apakah pernyataan S sudah tepat.
Kemudian, kasus C pada situasi yang mana?
(3)

S : She was givin me all the people that were gone this year.
H This year? This quarter you mean.
S : Yeah right.

Pada bagian ini, seperti pada contoh 3 H mengemukakan keraguannya, S kemudian


meminta maaf sebagai bentuk pemahaman bahwa itu benar.
Terakhir, mari kita lihat kasus D.
(4)

S : She was givin me all the people that were gone this year i mean...
H : This quarter you mean.
S : Yeah right.

Pada contoh ini, S mencatat bahwa mengatakanthis year merupakan ekspresi yang tepat,
H membantu dengan menawarkan bentuk yang tepat. Mengingatkan you mean. Dari
jumlah tersebut kasus (1) paling sering terjadi, sementara kasus (3) jarang terjad.
Penggunaan bahasa pada kasus (3) karena melukai kehormatan orang yang berbicara.
Contoh percakapan (1)-(4) di atas mengoreksi kesalahan, sebagai pembaca, terdapat ilusi
yang disebut dengan restorasi (pengembalian) = koreksi yang dilakukan. Akan tetapi,
perlu diperhatikan lokasi masalah yang akan di restorasi. Tetapi perlu diperhatikan,
(1)
Restorasi kesalahan,
(2)
Restorasi ketidaksesuaian
Restorasi kesalahan dapat dikoreksi melalui bentuk leksikal atau gramatikalnya. Contoh
(1)-(4) mengoreksi secara leksikal (kosakatanya).

Di sisi lain restorasi ketidaksesuian adalah sarana mengungkapkan dengan bentuk lain
yang tepat.
(5)

Ill come over the day after tomorrow; Tuesday I mean.

Hal yang ditanyakan dari contoh (5) adanya restorasi ketidaksesuaian terdapat
korespondensi yang tumpang tindih dengan masalah sebelumnya.
Kemudian akan diobeservasi fenomena ini;
(1) Percakapan diputus
(2) Perubahan ekspresi (I mean, this is)
(3) Adanya restorasi (mengekspresikan)
3 proses tersebut akan dijelaskan bentuknya. Untuk memahaminya dapat dilihat dari titik
mana dalam saat percakapan mengalir melakukan interupsi.
A. Perbaikan menengah (Intermediate Repair)
Ketika melakukan perbaikan ketika baru saja memulai di awal perkataan. Dapat dilihat
pada contoh 6.
(6)

She, Mary I mean, came to visit me yesterday.

B. Perbaikan tertunda (Delayed Repair)


Ketika perbaikan terjadi sedikit terlambat setelah percakapan. Dapat dilihat pada contoh 7.
(7)

She came to visit me yesterday, Mary I mean.

Baik contoh (6) dan (7) masalahnya terletak pada persona she
Perbaikan dan sebagainya tampak seperti sekedar pengembalian pernyataan tetapi, itu akan
menjadi tema yang menarik tentang perbedaan tipe yang menjelaskan lebih banyak.
Pada bab ini, saya menganggap berbagai fenomena yang terjadi dalam percakapan mulai
dari pergantian pembicara hingga perbaikan yang telah disebutkan diatas. Metode ini tidak
berhenti hanya pada percakapan sehari dan percakapan institusi, tetapi juga dalam
komposisi materi sejarah hidup dan analisis protokol (pelajaran mengoreksi karangan,
penelitian penulisan), yang memiliki banyak espektasi memajukan masa depan. (Yamada,
1995)

Bab 13
Penelitian Aspek Non Lingual
Kedekatan, Mata, Gerakan Kepala
Kata Kunci
Aspek non lingual (Non Verbal Communication/NVC), hubungan karakter bahasa,
karakter gerakan fisik, karakter ekspresi wajah, karakter jarak kedekatan, karakter kontak
fisik, karakter objek, kedekatan, jarak tertutup, jarak personal, jarak sosial, jarak publik,
penyesuaian ruang, garis pandangan, kontak mata, sikap duduk, gerakan kepala (ayunan
panjang; ayunan lebar), mengangguk (jenis menyimpulkan sekali, jenis pengurangan,
model pendek dan cepat, rangkaian kesatuan.
Membuat tanggapan persetujuan atau aizuchi yang digunakan sebagai umpan baik telah di
bahas dalam percakapan seperti pada bab sebelumnya. Selanjutnya, aspek non lingual kan
dengan aksi bahasa, dan kecakapan berbahasa. Oleh karena itu akan dibahasa tentang
komunikasi non-verbal dalam percakapan pada pertemuan bab ini.
1. Komunikasi tanpa menggunakan bahasa
Kita cenderung berpikir komunikasi yang biasanya dilakukan hanya dengan kata-kata.
Tapi sebenarnya terdapat komunikasi yang tidak bergantung pada kata-kata, dan mereka
bekerja yang lebih penting dalam satu komunikasi. Contohnya; Menurut Birdwhistell
(1970), jumlah pesan yang tersampaikan oleh kata-kata percakapan satu-satu hanya
30-35% dari keseluruhan dan sisanya sebanyak 65-70% bergantung pada intonasi, jeda
waktu,, ekspresi, dan gerakan yang termasuk dalam aspek non-lingual. Mehrabian (1968),
pesan ditentukan oleh 7% bahasa, 38% semi bahasa (karakter suara yang ditentukan oleh
kualitas suara, intonasi, batas suara, tekanan, volume suara) dan 55% disalurkan melalui
ekspresi wajah. Ketika berkata bohong, suara menyampaikan kebenaran dan wajah
menggambarkannya.
Komunikasi Non lingual (Komunikasi Non Verbal atau disingkat NVC) dimulai setelah
tahun 1960an dan bergerak mempengaruhi berbagai penelitian dalam waktu singkat.
Pendekatannya interdisipliner, dalam berbagai bidang studi antara lain; linguistik,
antropologi budaya, etologi, sosiologi, dan psikologi sosial. Objek yang tidak rapi dalam
keseharian dalam kajian NVC disusun kembali untuk menjelaskan elemennya yaitu tanda
non lingualnya yang beraneka ragam. Dengan kemajuan NVC saat ini, kajiannya
disistematiskan ke dalam 5 (kadang7) bidang besar.

A. Semi-linguistik (paralinguistik)
Merupakan studi tentang karakter suara termasuk kualitas suara (bisikan, suara
melengking, suara, dsb), intonasi, batas suara, tekanan, volume suara, dan kecepatan.
Ditemukan oleh G.L Trager.
B. Studi Gerak tubuh (kinesiks)
Merupakan studi tentang gestur, gerakan tangan, ekspresi wajah, mata dan postur.
Pendirinya adalah R.L Birdwhistell. Informasi sains tentang wajah (studi wajah) menjadi
independen berangkat dari sini.
C. Studi Jarak kedekatan (proksemiks)
Merupakan studi yang mengasosisakan 1. Jarak, 2. Konsep Waktu, 3 Posisi (tempat)
dengan pembicara. Kajian ini merupakan proposal dari E.T Hall. Ide dari kajian ini
seberapa jauh jarak berdiri dalam suatu waktu.
D. Studi kontak fisik (haptiks)
Merupakan studi yang mempelajari penyampaian pesan (tinggi dan kedalaman minat
pembicara) dengan menanalisis berbagai jenis kontak fisik yang terjadi satu sama lain.
E. Studi objek (objektiks)
Merupakan studi yang mempelajari penampilan (pakaian dan aksesoris seperti model
rambut, makeup dan tattoo) dan juga aroma tubuh (seperti odol, parfum, losion, dsb)
Di dalam komunikasi verbal (VC) digunakan suara (bahasa lisan) dan ada pula yang tidak
menggunakan suara (bahasa tulis). Di dalam komunikasi non verbal juga terdapat
penggunaan suara (bagian A) dan ada pula yang tidak (bagian B, C, D, E). Pada saat tidak
menggunakan suara, bagian B, C, dan D merupakan aspek informasi mutu komunikasi
antar partisipan yang lebih banyak digunakan.
Di sini, mengambil tiga pendekatan elemen non-lingual sangat diperlukan, seperti jarak,
mata, gerakan tangan dan kepala, yang keseluruhannya menentukan kemajuan percakapan.
Seperti apa penggunaannya akan diamati.
2. Jarak kedekatan
Jarak dan volume saat berbicara, ada hubungan yang bisa diterima, orang pada sisi yang
berbeda, menggunakan mikrofon dengan suara diulangi, ada sesuatu yang dialamatkan
padamu, kita tidak bisa mendengar dengan suara biasa (tanpa mikrofon). Jika kita merasa
mengenal orang di seberang maka menggunakan ayunan tangan kemudian memanggil

dengan suara besar. Jika jaraknya dekat cukup menyapa dengan suara normal,
menundukkan kepala kemudian mengucapkan halo. Jika sepasang kekasih duduk
berdampingan cukup berbisik satu sama lain maka terasa nyaman dan intim. Pendekatan
antar partisipan ini yang akan dikaji.
Terkait dengan jarak kedekatan, berapa jarak antar partisipan akan diobservasi. Hall
(1966) mengukur jarak yang membentang antar partisipan, membanginya ke dalam 4
kelompok dan bekerja efektif dalam komunikasi non verbal. Dalam kasus ini yang menjadi
objek adalah jarak bicara ras kaukasia di Amerika Utara.
a. Jarak Intim (0-45 cm)
Bagian wajah dan tubuh antar partisipan berada pada jangkauan aman untuk melakukan
kontak langsung. Ketika kita merasa bagian dari mereka. Orang asing dicegah agar tidak
berada dalam jarak ini. Jarak ini merupakan ruang persahabatan. Terdapat banyak kontak
fisik seperti bahu dengan bahu, atau tangan dengan tangan yang bersentuhan antar
partisipan.
b. Jarak Personal (45-122 cm)
Merupakan jarak pribadi menjalin persahabatan. Kedekatannya antar mitra komunikasi
diperkirakan sekitar 45 cm. Jarak ini seperti pada percakapan sehari-hari, umum, dan
percakapan mendalam menyangkut hingga topik pribadi.
c. Jarak Sosial (122-366 cm)
Merupakan jarak yang digunakan pada aksi mutu sosial. Jarak ini terjadi pada bisnis dan
pertemuan. Hal yang dibahas dalam jarak ini bukan masalah pribadi.
d. Jarak Publik (366 cm atau lebih)
Merupakan jarak bicara melebihi 366 sentimeter. Merupakan jarak interaksi sosial. Kita
dapat menyapa lawan bicara dengan berbicara keras atau menggunakan mikrofon. Contoh
kasusnya. Digunakan pada situasi formal. Jarak tersebut untuk berbicara dapat
mengungkapkan status partiispan apakah teman atau kenalan pad tingkatan pribadi, tingkat
resmi seperti.pada saat dosen memberi kuliah dan ceramah di ruang kelas.
Ada kekhawatiran ketika kita berbicara jarak seperti bagaimana kita mengatur jarak
kendaraan diantara mobil-mobil di jalan. Namun terkait dengan jarak berdiri, ada
perbedaan budaya. Misalnya jarak 45-30 cm disebut sebagai jarak menengah oleh
masyarakat Amerika Utara, tetapi dekat menurut orang wilayah Amerika Latin, Laut
Mediterania, dan negara-negara Arab. Oleh karena itu jarak dalam budaya dapat diamati
misalnya pada saat mengobrol santau di pesta prasmanan. Untuk menyesuaikan ruang
pribadi dilakukan dengan cara terus maju mendekat agar suasan lebih akrab.

3. Kontak Mata
Pada saat berbicara, biasanya sesorang akan melihat mata atau pinggiran mata lawan
bicara. Tentu dalam hal ini juga ada perbedaan budaya. Pada umumnya keyakinan terdekat
untuk menatap lawan bicara merupakan kultur kelas menengah di Amerika. Tetapi
menurut mereka Afrika Amerika (bangsa negro) berkarakter buruk dan tanpa percaya diri.
Oleh karena itu, kita tidak bisa memaksakan cara memandang orang kulit putih kepada
orang kulit hitam. (Furara Angel, 1981:240)
Tidak ada kebiasaan tetap menatap iris mata lawan bicara di Jepang. Ketika orang Jepang
berbicara, dia tidak menatap lawan bicaranya, tetapi iris matanya cenderung berada di
salah satu tepi bibir mata (Honmyou 1994:262)
Ketika Anda memiliki giliran menatap lawan bicara, hal itu berarti anda mencatat
informasi penting dari pembicara, dan itu merupakan aturan bagi pendengar. Sebagai hasil
analisis percakapan dalam film Bellcrest Story yang diproduksi di Inggris, mata pembicara
memahami perubahan sinyal yang terjadi (Higashiyama, 1981); yakni
1. Pada akhir percakapan, mata kembali menatap lawan bicara.
2. Pada saat mulai berbicara, mata pendengar menatap pembicara.
3. Pada saat jeda mata pendengar tidak menatap kembali.
Selain itu, sinyal mata pendengar dibagi menjadi empat, yaitu;
1. Ketika pendengar tertarik dengan cerita atau memperlihatkan rasa terkejut, maka terus
menatap pembicara.
2. Ketika pendengar keberatan dan bertahan pada cerita itu, maka terus mengawasi
pembicara setiap waktu.
3. Ketika pendengar tidak tertarik pada cerita, kedua bola mata berpencar terpisah.
4. Ketika mengihindari pertanyaan yang diajukan lawan bicara, mata tidak bertatapan
dengan pembicara.
Tanda sinyal mata pada komunikasi non verbal membantu membuat gambaran titik
pergantian antara pembicara dan pendengar.
Selanjutnya letak badan, apakah mata itu saling bertatapan atau tidak, juga berpengaruh.
Pada komunikasi berhadapan, karena pembicara face to face, maka letak (AB)
merupakan letak alami dalam pembicaraan yang mengalir. Kemudian karena letak (AC)
tubuh bersebelahan mengalami kontak langsung (bersentuhan), bertujuan menyatukan
pikiran antar dua orang, sehingga tidak tepat jika memotong argumen di awal. Kemudian
letak (AD) yang salah satu pihak berada di sudut, sesuai dengan percakapan meminta
maaf.

Gambar 1 Posisi Tempat Duduk

Jadi untuk menghindari percakapan dengan pembicara maka hindari kontak mata dengan
memperhatikan letak tempat duduk. Kemudian dalam forum berbentuk kotak memilih
tempat duduk yang berseberangan diagonal dengan seseorang. Kemudian hindari pula
letak tempat duduk yang mewakili persahabatan yakni tempat yang bersentuhan langsung.
Tetapi jika kedua kursi di depan juga telah terisi maka dapat mengucapkan saya lebih
nyaman berdiri untuk menghindar.
Ketika kereta yang akan datang beberapa menit lagi. Kita menunggu di ruang tujuan.
Penempatan bangku tunggu saling membelakangi seperti sisi uang koin. Bangku tunggu
umumnya tidak berbentuk seperti ruang pertemuan karena hal itu akan mengganggu orang
lain. Penempatan tempat duduk mengandung suatu tujuan yang khusus.

4. Gerakan kepala ------ isyarat dengan gerakan tangan dan kepala


Terkait hal ini, terkadang kita mengingat bahwa pembicara dan pendengar (partisipan
dalam percakapan) menggerakkan kepalanya. Gerakan tersebut menyerupai gelombang
yang melambai. Menurut Maynard (1993) terdapat 9 tipe ayunan kepala.
(1) Ketika pendengar memperhatikan cerita lawan bicara, dia memberikan respon
persetujuan (tanpa memperdulikan bahasa)
(2) Ketika pendengar menggunakannya setelah jeda ujaran (pendengar mengayunkan
kepala memanjang kesamping untuk mendapatkan peran pembicara)
(3) Ketika pembicara menggunakannya di akhir ujaran (sebagai tanda pergantian
pembicara)
(4) Pembicara melanjutkan gerakan kepala berkali kali setelah kasus (3) sebagai sinyal
pergantian dan mengisi kekosongan.
(5) Pembicara menggunakannya pada saat jeda antara ujaran (untuk membangkitnya
sinyal pergantian pembicara dan mengisi kekosongan.
(6) Pembicara menggunakannya seperti afirmasi Ya (kebanyakan dalam kasus Tanya
jawab)
(7) Pembicara menggunakannnya sebagai silabel yang memberi intonasi penekanan pada
ucapannya

(8) Digunakan mulai dari awal percakapan dan terus berlanjut digunakan sebagai pose
kemenangan. (pemberitahuan awal agar segera mendapat persetujuan).
(9) Digunakan sebagai ritme berbicara (irama percakapan).
Baik berdasarkan pembicara maupun pendengar, gerakan menggelengkan kepala berarti
negative. Hal ini merupakan kebalikan dari poin (6) di atas, dan umum berlaku di Jepang,
Inggris dan Amerika. Tetapi di Bangladesh, Sri Langka dan Asia Selatan hal itu berarti
Karakteristik dalam percakapan yaitu pendengar pada saat melakukan aizuchi dapat
mengangguk. Dari analisis gerakan mengangguk di Jepang dan Amerika, ditemukan
bahwa orang Jepang sekitar 2 kali mengangguk dibanding orang Amerika. (Maynard
1986). Tetapi orang Amerika yang telah lama di Jepang, tingkat mengangguknya juga
meningkat (Kubota, 1994). Hal tersebut dilaporkan ke dalam 4 tipe, yaitu;
1. bentuk kesimpulan langsung : Isyarat kepala yang langsung jelas mengatakan Un/Ya
2. bentuk reduksi: Mendorong dagu saat mengangguk, untuk mengembalikan kepala
pada posisi normal. Ada juga yang mengangguk beberapa kali.
3. bentuk cepat dan pendek : Mengangguk lama dengan cepat tetapi tidak dalam
4. bentuk kontinyu : dari no (4) juga yaitu mengangguk lama dan dalam.
Ini merupakan kesimpulan dari isyarat gerakan kepala orang Jepang dan untuk orang
Amerika memiliki karakteristik model cepat dan pendek, dan model berturutturut.(Kubota, 1964)
Dalam suatu komunikasi langsung aspek lingual dan non lingual saling terkait. Oleh
karena ini itu jarak, mata, dan isyarat kepala tangan sangat penting diketahui untuk
melihat kemajuan percakapan.