Anda di halaman 1dari 21

PENYELESAIAN KREDIT MACET PADA LEMBAGA PEMBIAYAAN DENGAN JAMINAN SEPEDA MOTOR (S

tudi di PT. Adira Dinamika Multi Finance Cabang Samarinda) Hendra L.Don1; Suhari
ningsih2; dan Sihabudin3 Pascasarjana Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum, Univer
sitas Brawijaya hendraldon@ymail.com ABSTRAK Perkembangan dunia bisnis yang begi
tu pesat, menyebabkan terjadinya kompetensi atau persaingan diantara para pelaku
pasar yang memberikan berbagai fasilitas dan kemudahan kepada masyarakat dengan
tujuan mencari keuntungan yang sebesar-besarnya salah satunya bergerak dalam bi
dang pembiayaan konsumen kredit kendaraan bermotor. Peningkatan pelayanan dan pe
nyediaan fasilitas kemudahan yang diadakan oleh para pelaku pasar dalam bidang p
embiayaan konsumen bukannya tidak berisiko bagi investasi. Karenanya, para inves
tor lebih menyukai suatu produk pelayanan yang memiliki aspek legalitas seperti
suatu aturan atau perundang-undangan yang menjamin usaha pembiayaan tersebut. Ka
ta Kunci : pembiayaan konsumen, legalitas. ABSTRACT Development of the business
world so rapidly, causing the competence or competition among market participant
s that provide a variety of facilities and services to the community with the ai
m of seeking maximum profit one is engaged in consumer financing vehicle loans.
Improvement of services and the provision of convenience facilities are held by
market participants in the field of consumer finance for investment not without
risk. Therefore, the investors prefer a product that has a service such as the l
egality of a rule or a law that guarantees the financing business. Key Word : co
nsumer financing, legalities. PENDAHULUAN Perkembangan dalam dunia bisnis yang b
ergerak dalam bidang pembiayaan konsumen tersebut berkembang pesat dan menimbulk
an persaiangan antara para pelaku pasar diantaranya adalah memberikan kemudahan
kepada debitur dalam hal pembiayaan kendaraan bermotornya tersebut. Sehingga mem
erlukan jaminan atas usaha pembiayaan tersebut. Untuk menjamin usaha tersebut da
n memberikan kepastian hukum serta mampu memberikan perlindungan hukum maka peme
rintah mengeluarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 1999 tentang
Jaminan Fidusia yang diundangkan pada
Mahasiswa Program Ilmu Hukum Kelas Kerjasama Universitas Mulawarman dan Universi
tas Brawijaya Malang 2 Dosen Universitas Brawijaya Program Magister Ilmu Hukum S
ebagai Pembimbing Utama 3 Dosen Universitas Brawijaya Program Magister Ilmu Huku
m Sebagai Pembimbing Kedua
1
1

tanggal 30 September 1999 dan diumumkan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1999 Nomor 168 yang dirumuskan sebagai penyerahan hak milik atas dasar ke
percayaan. Lembaga Pembiayaan Konsumen itu sendiri menurut Zaeni Asyhadie dalam
buku Hukum Bisnis Prinsip dan Pelaksanaan di Indonesia adalah suatu lembaga yang
dalam melakukan pembiayaan pengadaan barang untuk kebutuhan konsumen dilakukan d
engan sistem pembayaran secara angsuran atau berkala.4 Abdulkadir Muhammad dan Ri
lda Murniati dalam buku Segi Hukum Lembaga Keuangan dan Pembiayaan, telah merinc
i unsur-unsur yang terkandung dalam pengertian pembiayaan konsumen, yaitu sebaga
i berikut : 1. Subjek adalah pihak-pihak yang terkait dalam hubungan hukum pembi
ayaan konsumen, yaitu perusahaan pembiayaan konsumen (kreditur), konsumen (debit
ur), dan penyedia barang (supplier). 2. Objek adalah barang bergerak keperluan k
onsumen yang akan dipakai untuk keperluan hidup atau keperluan rumah tangga, mis
alnya kendaraan bermotor. 3. Perjanjian yaitu perbuatan persetujuan pembiayaan y
ang diadakan antara perusahaan pembiayaan konsumen dan konsumen, serta jual beli
antara supplier dan konsumen. 4. Hubungan hak dan kewajiban, yaitu perusahaan p
embiayaan konsumen wajib membiayai harga pembelian barang yang diperlukan konsum
en dan membayarnya secara tunai kepada supplier, konsumen wajib membayar secara
angsuran kepada perusahaan pembiayaan konsumen, dan supplier wajib menyerahkan b
arang kepada konsumen. 5. Jaminan, yaitu terdiri dari jaminan utama, jaminan pok
ok, dan jaminan tambahan.5 Selanjutnya hubungan antara pihak kreditur (perusahaa
n pemberi biaya) dengan konsumen (debitur sebagai pihak yang menerima biaya) ada
lah hubungan yang bersifat kontraktual, artinya didasarkan pada kontrak dalam ha
l ini adalah kontrak pembiayaan konsumen. Dimana pihak perusahaan pemberi biaya
berkewajiban utama untuk memberi sejumlah uang untuk pembelian sesuatu barang ko
nsumsi, sedangkan pihak konsumen sebagai penerima biaya berkewajiban utama untuk
membayar kembali uang tersebut secara cicilan atau angsuran kepada pihak pember
i biaya. Kontrak pembiayaan konsumen tersebut yang berdasarkan atas asas kebebas
an berkontrak dimana diatur dalam Pasal 1338 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata y
ang
Zaeni Asyhadie, Hukum Bisnis Prinsip Pelaksanaannya di Indonesia, (Jakarta: Raja
wali Pers, 2011), hal. 124. 5 Abdulkadir Muhammad dan Rilda Murniati, Segi Hukum
Lembaga keuangan dan Pembiayaan Konsumen, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2000),
hal. 246.
4
2

menyatakan bahwa semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-u
ndang bagi mereka yang membuatnya atau yang dikenal dengan asas Pacta Sunt Servan
da. Pasal ini mengandung arti bahwa para pihak boleh membuat berbagai persetujua
n atau perjanjian baik yang sudah diatur dalam undang-undang maupun yang tidak d
iatur dalam undang-undang akan tetapi kebebasan ini dibatasi oleh hukum yang sif
atnya memaksa. Selama apa yang disepakati itu sah, artinya memenuhi syarat-syara
t sahnya suatu perjanjian sebagaimana yang diatur dalam Pasal 1320 Kitab UndangUndang Hukum Perdata, yaitu :(a) sepakat mereka yang mengikatkan dirinya; (b) ad
anya kecakapan untuk membuat suatu perikatan; (c) suatu hal tertentu; dan (d) su
atu sebab yang halal. Dengan demikian, maka jika para pihak membuat perjanjian p
embiayaan konsumen yang telah memenuhi syarat-syarat sahnya suatu perjanjian, ma
ka menurut hukum yang berlaku di Indonesia, perjanjian pembiayaan konsumen itu m
empunyai kekuatan mengikat dan berlaku sebagai undang-undang bagi para pihak yan
g membuatnya. Kemudian Pemerintah Indonesia mengeluarkan Undang-Undang untuk mem
berikan kepastian hukum dan perlindungan hukum didalam kegiatan pembiayaan konsu
men yang tertuang didalam Pasal 23 Ayat 2 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor
42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia, yang menyatakan bahwa : pemberi fidusia d
ilarang mengalihkan, menggadaikan atau menyewakan kepada pihak lain benda yang m
enjadi objek benda jaminan fidusia yang tidak merupakan benda persediaan, kecual
i dengan persetujuan tertulis terlebih dahulu dari penerima fidusia. Hal tersebut
sangatlah jelas memberikan larangan bagi pemberi fidusia untuk mengalihkan obje
k benda jaminan fidusia sehingga didalam Pasal 36 Undang-Undang Republik Indones
ia Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia itu memberikan sangsi yang tegas
yaitu : pemberi fidusia yang mengalihkan, menggadaikan, atau menyewakan benda yan
g menjadi objek benda jaminan fidusia sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 23 a
yat (2) yang dilakukan tanpa persetujuan tertulis terlebih dahulu dari penerima
fidusia, di pidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan denda pal
ing banyak Rp. 50.000.000-. (lima puluh juta) rupiah. Selanjutnya didalam perjan
jian pembiayaan bersama dengan penyerahan hak milik secara fidusia yang terdapat
didalam perjanjian pembiayaan PT. Adira Dinamika Multi Finance Pasal 3, tentang
syarat-syarat perjanjian yang menyatakan bahwa: debitur dan/atau penjamin dilara
ng meminjamkan, menyewakan, mengalihkan, menjaminkan atau menyerahkan penguasaan
jaminan kepada pihak ke 3 (tiga) dengan cara atau jalan apapun juga. Pelanggara
n atas ketentuan ini dikenakan Pasal 372 dan Pasal 378 Kitab UndangUndang Hukum
Pidana jo. Pasal 23 Ayat 2 jo. Pasal 36 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4
2 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia.
3

Sejak dibukanya Kantor PT. Adira Dinamika Multi Finance Cabang Samarinda. Selaku
lembaga pembiayaan konsumen sejak tahun 2000 sampai sekarang timbul berbagai pe
rmasalahan ketika tidak terlaksananya kewajiban konsumen (debitur) seperti yang
diperjanjikan pada awal melakukan perjanjian, merupakan tindakan wanprestasi yan
g dalam perusahaan pembiayaan merupakan resiko usaha, baik motor tersebut digada
i oleh konsumen, nasabah lari keluar kota atau nasabah pindah alamat tanpa membu
at laporan secara resmi di Kantor PT. Adira Dinamika Multi Finance Cabang Samari
nda, identitas kendaraan bermotor tersebut diubah, motor tersebut dipindahtangan
kan ke pihak ketiga, dan bahkan ada perlawanan dari konsumen (debitur) maupun ke
lompok orang yang tidak menerima kenyataan bahwa barang jaminan tersebut akan di
ambil kembali oleh kreditur guna penyelesaian utang-utang debitur yang lalai mem
enuhi kewajibannya. Sehingga untuk memperkecil resiko kerugian-kerugian yang dia
lami oleh perusahaan pembiayaan yang dalam hal ini PT. Adira Dinamika Multi Fina
nce, tersebut dengan membuat klausa-klausa dalam Surat Pernyataan, yaitu : a. De
bitur wajib menjaga kendaraan /atau jaminan dalam keadaan sebaik- baiknya untuk
kepentingan kreditur, termasuk dalam hal ini, dengan cara bagaimanapun, debitur
dilarang untuk mengalihkan, baik seluruhnya maupun sebagian, kendaraan, kepada p
ihak manapun. Termasuk dalam hal ini mengganti, menukar dan mengalihkan atau mem
indahtangankan original spare parts (suku cadang asli), dan atau bagian-bagian m
ana pun dari kendaraan (asli) yang masih dalam keadaan baik atau tidak rusak ata
u masih berfungsi kepada pihak manapun. Akibat tindakan mana, dapat berakibat, l
angsung maupun tidak langsung, turunnya nilai jual kendaraan secara umum. b. Deb
itur tidak akan merubah warna, bentuk maupun fisik kendaraan selama masa perjanj
ian pembiayaan bersama. Setuju bahwa pelanggaran terhadap ketentuan diatas, dapa
t dikenakan ketentuan pasal-pasal pidana yang berlaku. Oleh karena itu, PT. Adir
a Dinamika Multi Finance berhak untuk melaporkan hal ini pada pihak Kepolisian R
epublik Indonesia. Dan debitur dengan ini melepaskan haknya untuk menuntut PT. A
dira Dinamika Multi Finance apabila debitur melanggar sebagaimana larangan terse
but di atas. Walaupun terdapat larangan mengalihkan jaminan atau kendaraan selam
a dalam ikatan perjanjian tetapi sebaliknya dalam prakteknya dilapangan sering t
erjadi perpindahan hak yang dilakukan oleh konsumen (debitur) secara sengaja ata
upun karena sebab-sebab ekonomi tindakan ini berakibat hukum terhadap perjanjian
pembiayaan konsumen dengan penyerahan hak milik secara fidusia ketika terjadi w
anprestasi, yang dibuat antara perusahaan pembiayaan PT. Adira Dinamika Multi Fi
nance dengan konsumen (debitur), maupun akibat 4

hukum terhadap objek jaminan kendaraan tersebut serta menyangkut hak-hak pihak k
e 3 (tiga) yang menerima pengalihan tersebut. Berdasarkan uraian pada latar bela
kang diatas, maka permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut :
(1) Langkah-langkah hukum apa yang bisa ditempuh oleh kreditur dalam menyelesai
kan kredit macet yang disebabkan oleh debitur wanprestasi ? (2 Bagaimana perlind
ungan hukum terhadap kreditur akibat tindakan debitur yang melakukan pelanggaran
terhadap kontrak? METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini termasuk dalam Jenis p
enelitian hukum empiris, dimana penulis akan melakukan penelitian langsung kelap
angan dengan menggunakan beberapa tehnik pengumpulan data untuk mengkaji peristi
wa hukum yang terjadi terhadap debitur PT. Adira Dinamika Multi Finance Cabang S
amarinda. Jenis penelitian ini akan dipakai oleh penulis untuk menemukan dan men
ganalisa langkah-langkah hukum apa yang bisa ditempuh oleh kreditur dalam menyel
esaikan kredit macet yang disebabkan oleh debitur wanprestasi dan Bagaimana perl
indungan hukum terhadap kreditur akibat tindakan debitur yang melakukan pelangga
ran terhadap kontrak. Pendekatan yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah
pendekatan yuridis-sosiologis. Pendekatan yuridis merupakan pendekatan yang dig
unakan untuk mengkaji perilaku orang-orang dalam melaksanakan peraturan-peratura
n yang berhubungan dengan perjanjian kredit dengan jaminan sepeda motor. Sedangk
an pendekatan sosiologis difokuskan secara langsung sesuai dengan fakta-fakta ya
ng terjadi dalam pelaksanaan perjanjian kredit dengan jaminan sepeda motor yang
dilakukan oleh PT. Adira Dinamika Multi Finance Cabang Samarinda. HASIL DAN PEMB
AHASAN PT. Adira Dinamika Multi Finance, Tbk. Didirikan sejak tahun 1990 pertama
kali di Jakarta Pusat yang bergerak bidang pembiayaan untuk berbagai merek otom
otif di Indonesia. Pada bulan maret 2004 Adira Finance melakukan penawaran saham
perdana, yang diikuti dengan pengalihan 75% kepemilikan pemegang saham lama mel
alui penempatan terbatas PT. Danamon Indonesia Tbk (Bank Danamon), salah satu Ba
nk Swasta nasional terbesar yang dimiliki oleh Grup Temasek dari Singapura. Seja
lan dengan kemampuan utama perusahaan dalam mengelola resiko pembiayaan, PT. Adi
ra Dinamika Multi Finance Tbk, lebih berkonsentrasi kepada pembiayaan dengan tin
gkat pengembalian yang tinggi baik itu dalam sektor pembiayaan sepeda motor maup
un mobil, baru maupun bekas untuk berbagai merek tanpa harus terikat pada salah
satu merek otomotif tertentu. 5

Kemudian dengan berjalannya waktu PT. Adira Dinamika Multi Finance Tbk, jugamela
kukan usaha peminjaman dana bagi konsumen yang membutuhkan danadengan jaminan BP
KB kendaraan bermotor tersebut. PT. Adira Dinamika Multi Finance Tbk,didukung le
bih dari 28.000 karyawan dan lebih dari 245 jaringan usaha yang tersebar diberba
gai kota di Indonesia salah satunya di Samarinda provinsi Kalimantan Timurdibuka
Kantor Cabang PT. Adira Dinamika Multi Finance Cabang Samarinda Tahun 2000, PT.
Adira Dinamika Multi Finance Tbk, telah memantapkan posisinya sebagai salah sat
u perusahaan pembiayaan konsumen terbesar di Indonesia. Semenjak PT. Adira Dinam
ika Multi Finance Cabang Samarinda yang didirikan pada tahun 2000 sampai sekaran
g itu timbul berbagai permasalahan diantaranya : 1. 2. Unit dan nasabah raib; De
bitur dan atau penjamin memberikan suatu data, pernyataan, surat keterangan atau
dokumen yang ternyata tidak benar atau tidak sesuai dengan fakta sebenarnya dal
am atau mengenai hal-hal yang oleh PT. Adira Dinamika Multi Finance dianggap pen
ting ; 3. 4. 5. 6. 7. 8. Jaminan dipindahtangankan atau dijaminkan kepada pihak
ke 3 (tiga) tanpa ijin tertulis sebelumnya dari PT. Adira Dinamika Multi Finance
; Spare parts (suku cadang asli) unit (motor) ditukar; Unit di gadai; Pinjam nam
a keluarga; Pinjam nama pihak ke 3 (tiga) atau orang lain; dan Debitur atau nasa
bah mengubah warna, bentuk maupun fisik kendaraan. Adapun yang dimaksud dengan k
redit macet berdasarkan hasil wawancara penulis kepada Joko Pramono yang bertind
ak sebagai Divisi Collection PT. Adira Dinamika Multi Finance, Tbk. Maka, dipero
leh imformasi bahwa : kredit macet debitur tersebut terhitung dari hari pertama
sejak debitur jatuh tempo untuk membayar angsuran motor tersebut.6 Langkah-langk
ah Hukum Yang Ditempuh Oleh Kreditur Dalam Menyelesaikan Kredit Macet. Sebelum m
elakukan langkah-langkah hukum yang dilakukan oleh PT. Adira Dinamika Multi Fina
nce untuk menyelesaikan kredit macet, maka terlebih dahulu penulis membahas hubu
ngan hukum didalam pembiayaan konsumen yang mana ada 3 (tiga) pihak yang terliba
t, yaitu :
6 Hasil Wawancara dengan Joko Pramono, Divisi Collection, PT. Adira Dinamika Mul
ti Finance, Tbk. Jakarta, Tanggal 23 Mei 2013.
6

Tabel 1 Pembiayaan Konsumen (Consumer Finance) ADIRA FINANCE Perjanjian Kerjasam


a 1. Perjanjian Pembiayaan. 2. Perjanjian Jaminan Fidusia. DEALER Perjanjian Jua
l Beli Berdasarkan tabel di atas dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Hubungan
pihak Adira Finance dengan debitur. Hubungan antara pihak Adira Finance dengan d
ebitur sebagai pihak yang menerima biaya adalah hubungan yang bersifat kontraktu
al, yang artinya didasarkan pada kontrak yang dalam hal ini adalah perjanjian pe
mbiayaan konsumen dengan penyerahan hak milik secara fidusia. Pihak perusahaan p
emberi biaya berkewajiban utama untuk memberi sejumlah uang untuk pembelian sesu
atu barang, sedangkan pihak konsumen sebagai penerima biaya berkewajiban utama u
ntuk membayar kembali uang tersebut secara cicilan atau angsuran kepada pihak pe
mberi biaya (Adira Finance). 2. Hubungan pihak debitur dengan dealer. Antara pih
ak debitur dengan dealer terdapat hubungan jual beli (bersyarat), di mana pihak
dealer selaku penjual menjual barang kepada debitur selaku pembeli dengan syarat
, bahwa harga akan dibayar oleh pihak ketiga yaitu pihak pemberi biaya (Adira Fi
nance). Syarat tersebut memiliki arti, bahwa apabila karena alasan apapun pihak
pemberi biaya tidak dapat menyediakan dananya, maka jual beli antara dealer deng
an debitur sebagai pembeli akan batal. 3. Hubungan Adira Finance dengan dealer.
Antara pihak Adira Finance dengan dealer tidak ada hubungan hukum yang khusus, k
ecuali pihak penyedia dana hanya pihak ketiga yang disyaratkan untuk menyediakan
dana dan digunakan dalam perjanjian jual beli antara pihak dealer dengan debitu
r.7 Perlindungan hukum kreditur itu diatur dalam Pasal 20 Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia yang berbunyi : fidusia te
tap
Hasil Wawancara dengan Abed Nego, Team Legal, PT. Adira Dinamika Multi Finance,
Tbk. Samarinda, Tanggal 5 Mei 2013.
7
DEBITUR
7

mengikuti benda yang menjadi objek jaminan fidusia dalam tangan siapapun benda t
ersebut berada, kecuali pengalihan atas benda tersebut, kecuali pengalihan atas
benda persediaan yang menjadi objek jaminan fidusia. Ketentuan tersebut menegaska
n bahwa jaminan fidusia mempunyai sifat kebendaan dan berlaku terhadap asas droi
t de suite, kecuali pengalihan atas benda persediaan yang menjadi objek jaminan
fidusia. Perlindungan hukum yang sama juga dilihat dalam Pasal 23 ayat 2 UndangUndang Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia yang berbu
nyi : pemberi fidusia dilarang mengalihkan, menggadaikan, atau menyewakan kepada
pihak lain benda yang menjadi objek jaminan fidusia yang tidak merupakan benda p
ersediaan, kecuali dengan persetujuan tertulis terlebih dahulu dari penerima fid
usia. Sangsi terhadap ketentuan diatas adalah pidana sebagaimana dimaksud dalam P
asal 36 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fid
usia, yaitu : setiap orang dengan sengaja memalsukan, mengubah, menghilangkan ata
u dengan cara apapun memberikan keterangan secara menyesatkan, yang jika hal ter
sebut diketahui oleh salah satu pihak tidak melahirkan perjanjian jaminan fidusi
a, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama
5 (lima) tahun dan denda paling sedikit Rp. 10.000.000.- (sepuluh juta rupiah) d
an paling banyak Rp. 100.000.000.- (seratus juta rupiah). Atas segala tindakan dan
kelalaian pemberi fidusia, penerima fidusia berdasarkan karena kelalaian terseb
ut tidak bertanggung jawab, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 Undang-Undang Re
publik Indonesia Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia, yaitu : penerima fi
dusia tidak menanggung kewajiban atas akibat tindakan atau kelalaian pemberi fid
usia baik yang timbul dari hubungan kontraktual atau yang timbul dari perbuatan
hukum sehubungan dengan penggunaan dan pengalihan benda yang menjadi objek jamin
an fidusia. Pada intinya maksud atau tujuan dari perjanjian jaminan fidusia dari
segi perlindungan hukum bagi kreditur adalah memberikan hak istimewa atau hak di
dahulukan baginya guna pelunasan hutang-hutang debitur padanya. Timbulnya hutang
debitur pada PT. Adira Dinamika Multi Finance, karena debitur telah mendapatkan
fasilitas pembiayaan untuk membeli barang yang menjadi objek pembiayaan, dalam
hal ini khususnya kendaraan bermotor. Karena semua perjanjian yang dibuat secara
sah berlaku sebagai undang-undang bagi para pihak yang membuatnya (Pasal 1338 Kit
ab Undang-Undang Hukum Perdata). Pasal ini mengandung arti bahwa para pihak bole
h membuat berbagai persetujuan atau perjanjian baik yang sudah diatur dalam unda
ng-undang maupun yang tidak diatur dalam undang-undang akan tetapi kebebasan ini
dibatasi oleh hukum yang sifatnya memaksa. 8

Selama apa yang disepakati itu sah, artinya memenuhi syarat-syarat sahnya suatu
perjanjian sebagaimana yang diatur dalam Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Pe
rdata, yaitu : (a) sepakat mereka yang mengikatkan dirinya; (b) adanya kecakapan
untuk membuat suatu perikatan; (c) suatu hal tertentu; dan (d) suatu sebab yang
halal. Dengan demikian, maka jika para pihak membuat perjanjian pembiayaan kons
umen yang telah memenuhi syarat-syarat sahnya suatu perjanjian, maka menurut huk
um yang berlaku di Indonesia, perjanjian pembiayaan konsumen itu mempunyai kekua
tan mengikat dan berlaku sebagai undang-undang bagi para pihak yang membuatnya.
Hal ini dapat dilihat dari adanya blanko kelengkapan dokumentasi customer yang d
ibuat debitur pada saat melakukan perjanjian pembiayaan konsumen tersebut dengan
PT. Adira Dinamika Multi Finance. Dalam penyelesaian sengketa melalui peradilan
PT. Adira Dinamika Multi Finance menempuh jalur hukum untuk menyelesaikan kredi
t macet tersebut, yaitu pengajuan gugatan secara perdata dan ataupun pelaporan t
indak pidana. Dalam hal pengajuan gugatan secara perdata terhadap debitur yang m
elakukan wanprestasi pihak perusahaan pembiayaan (kreditur) dapat mengajukan gug
atan perdata tersebut ke Pengadilan Negeri setempat dengan tuntutan ganti rugi.
Ketentuan mengenai wanprestasi, telah dimuat secara tegas dalam perjajian pembia
yaan konsumen yang termuat dalam syarat-syarat perjanjian pembiayaan konsumen de
ngan penyerahan hak milik secara fidusia antara PT. Adira Dinamika Multi Finance
dengan debitur. Dalam perjanjian tersebut mengatur Tentang wanprestasi yang men
yatakan bahwa, Penerima fasilitas atau penerima jaminan setuju dan mengikat diri
kepada pemberi fasilitas dan/atau kuasanya mengenai terjadinya atau keadaan wanp
restasi yang dengan lewatnya waktu telah cukup membuktikan terjadinya salah satu
atau lebih keadaan sebagai berikut : a. Debitur dan/atau penjamin mengajukan pe
rmohonan untuk dinyatakan pailit atau permohonan penundaan kewajiban pembayaran
hutang-hutangnya (surseance van betalling) atau debitur digugat pailit oleh piha
k manapun juga; b. Debitur dan/penjamin meninggal dunia, kecuali bila penerima h
ak/para ahli warisnya dapat memenuhi seluruh kewajiban debitur dan dalam hal ini
disetujui oleh kreditur (dalam hal debitur adalah perusahaan atau badan hukum a
tau badan usaha atau lembaga maka klausal ini tidak berlaku); c. Debitur dan/ata
u penjamin ditaruh di bawah pengampuan ( onder curatele gesteld); debitur dan/at
au penjamin lalai/tidak memenuhi syarat-syarat dalam perjanjian ini atau perjanj
ian/pernyataan lain yang berhubungan dan merupakan satu kesatuan dengan perjanji
an ini dan/atau perjanjian lainnya yang terpisah dari perjanjian ini. 9 d. Debit
ur lalai membayar angsuran secara penuh pada tanggal yang telah ditetapkan, atau

Sedangkan secara pidana debitur dapat dituntut dengan Pasal 372 dan Pasal 378 Ki
tab Undang-Undang Hukum Pidana. 1. Tindak Pidana Penggelapan (Pasal 372 KUHP) 2.
Tindak Pidana Penipuan (Pasal 378 KUHP). Kemudian di dalam Pasal 23 ayat 2 jo.
Pasal 36 Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia juga telah me
ngatur sangsi yang tegas apabila debitur telah melakukan suatu pelanggaran tinda
k pidana seperti yang telah di jelaskan diatas. Adapun bunyi Pasal tersebut yait
u sebagai berikut : a. Pasal 23 ayat 2 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 42
Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia, yaitu : pemberi fidusia dilarang mengalihkan
, menggadaikan, atau menyewakan kepada pihak lain benda yang menjadi objek jamin
an fidusia yang tidak merupakan benda persediaan, kecuali dengan persetujuan ter
tulis terlebih dahulu dari penerima fidusia. Dalam hal ini, PT. Adira Dinamika Mu
lti Finance Tbk. b. Pasal 36 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 199
9 tentang Jaminan Fidusia, yaitu : pemberi fidusia yang mengalihkan, menggadaikan
atau menyewakan benda yang menjadi objek jaminan fidusia sebagaimana dimaksud d
alam Pasal 23 ayat (2) yang dilakukan tanpa persetujuan tertulis terlebih dahulu
dari penerima fidusia, dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun
dan dengan paling banyak Rp. 50.000.000-. (lima puluh juta) rupiah.
Adapun penyelesaian sengketa diluar pengadilan seperti yang dijalankan oleh PT.
Adira Dinamika Multi Finance Cabang Samarinda, didalam menyelesaikan kredit mace
t kendaraan bermotor tersebut dijelaskan sebagai berikut : 1. Pada Overdue /kete
rlambatan 1-3 hari pihak Provider yang telah berkerja sama dengan PT. Adira Dina
mika Multi Finance, Tbk. yang berkedudukan di Surabaya akan menelepon debitur da
n mengingatkan bahwa debitur sudah terlambat melakukan pembayaran angsuran motor
tersebut. 2. Apabila tidak ada pembayaran dari penerima fasilitas atau debitur
pada keterlambatan 1 (satu) sampai dengan 3 (tiga) hari tersebut, maka pada hari
ke 4 (empat) A/R Head Bucket 1 dan 2 berdasarkan DKHC (Daftar Kerja Harian Coll
ector) menugaskan Aro (Account Receivable Officer) untuk melakukan penagihan lan
gsung kerumah/ ketempat kerja debitur ataualamat lainsambil mencari informasi ke
beradaan unit tersebut, penagihan ini maksimal 4 (empat) kali kunjungan dalam 1
(satu) bulan.
10

3. Jika masih juga tidak dilakukan pembayaran maka secara sistem akan terbit Sur
at Peringatan (SP) 1 (satu) pada keterlambatan 18 hari yang batas waktunya diber
ikan 7 (tujuh) hari kerja kepada penerima fasilitas. Apabila Surat Peringatan (S
P) 1 (satu) tadi tidak ditanggapi oleh debitur dan debitur tetap tidak membayar
angsuran motor yang tertunggak tersebut, maka terbit Surat Peringatan (SP) 2 (du
a) pada keterlambatan 25 hari yang batas waktunya juga 7 (tujuh) hari kerja, jik
a tetap tidak dilakukan pembayaran maka pada overdue/keterlambatan 31 hari secar
a sistem dan DKHR (Dafrar Kerja Harian Remedial) Rem.Off (Remedial Ofiicer) terb
it Surat Tugas (ST) Penarikan yang di laksanakan oleh Rem. Off (Remedial Officer
) untuk melakukan penagihan atau untuk melakukan penarikan unit tersebut, pada k
eterlambatan 31 hari atau sebelum masuk Over Due/keterlambatan 61 hari penerima
fasilitas masih juga diberikan kesempatan untuk melakukan pembayaran melalui kas
ir-kasir PT. Adira Dinamika Multi Finance atau Aro (Account Receivable Officer)
atau Rem. Off (Remedial Officer), Sebelum masuk Overdue/keterlambatan 61 hari. 4
. apabila Overdue /keterlambatan 60 hari masih juga tidak dilakukan pembayaran o
leh debitur, maka secara sistem akanterbit Surat Keputusan (SK) Penarikan unit t
ersebut yang dilaksanakan oleh Eksternal Collector atau yang lebih dikenal denga
n sebutan Deft Collector (DC) dibawah kepemimpinan A/R Head Bucket 3. jika unit
berhasil dilakukan penarikan oleh Eksternal Collector, disini debitur masih dibe
rikan kesempatan oleh PT. Adira Dinamika Multi Finance untuk melakukan penebusan
terhadap kendaraan yang telah ditarik, debitur harus mengajukan kredit lancar,
yaitu dengan membayar angsuran tertunggak ditambah dengan membayar angsuran 3 bu
lan dimuka ditambah dengan denda keterlambatan yang timbul dan biaya proses pena
rikan. Proses kredit lancar hanya bisa dilakukan maksimal 7 hari setelah tanggal
unit debitur ditarik oleh pihak PT. Adira Dinamika Multi Finance, biaya penarik
an tetap akan dikenakan kepada debitur walaupun debitur telah mengajukan kredit
lancar atau melunasi kredit kendaraannya untuk mengambil kembali kendaraannya.8
5. Jika Eksternal Collector Bucket 3 tidak bisa melakukan penarikan unit tersebu
t maka secara otomatis berpindah ke Eksternal Collector Bucket 4 yang di pimpin
oleh A/R Head Bucket 4 yaitu pada Overdue/keterlambatan 121-209 hari dan A/R Hea
d Bucket 4 disini mempunyai waktu untuk melakukan penarikan unit tersebut sampai
dengan keterlambatan 209 hari.
8
Kartu Angsuran; Buku Pintar Adira, PT. Adira Dinamika Multi Finance, hal. 23.
11

6. Apabila tetap tidak ada penyelesaian pada keterlambatan 121-209 hari maka sec
ara sistem masuk kategori WO (Write.Off) pada keterlambatan 210 hari, yang diamb
il alih oleh ROA (Recovery Officer Area). 9 Prosedur Dan Mekanisme Penyelesaian
Kredit Macet yang dibuat Oleh PT. Adira Dinamika Multi Finance, Tbk. Adapun pros
edur Medium Risk yang dilakukan oleh PT. Adira Dinamika Multi Finance Cabang Samar
inda, didalam menyelesaikan kredit macet kendaraan bermotor tersebut dijelaskan
sebagai berikut : a. Pada Overdue /keterlambatan 1-3 hari pihak Provider yang te
lah berkerja sama dengan PT. Adira Dinamika Multi Finance, Tbk. yang berkeduduka
n di Surabaya akan menelepon debitur dan mengingatkan bahwa debitur sudah terlam
bat melakukan pembayaran angsuran motor tersebut. b. Apabila tidak ada pembayara
n dari penerima fasilitas atau debitur pada keterlambatan 1 (satu) sampai dengan
3 (tiga) hari tersebut, maka pada hari ke 4 (empat) A/R Head Bucket 1 dan 2 ber
dasarkan DKHC (Daftar Kerja Harian Collector) menugaskan Aro (Account Receivable
Officer) untuk melakukan penagihan langsung kerumah/ ketempat kerja debitur ata
ualamat lainsambil mencari informasi keberadaan unit tersebut, penagihan ini mak
simal 4 (empat) kali kunjungan dalam 1 (satu) bulan. c. Jika masih juga tidak di
lakukan pembayaran maka secara sistem akan terbit Surat Peringatan (SP) 1 (satu)
pada keterlambatan 18 hari yang batas waktunya diberikan 7 (tujuh) hari kerja k
epada penerima fasilitas. Apabila Surat Peringatan (SP) 1 (satu) tadi tidak dita
nggapi oleh debitur dan debitur tetap tidak membayar angsuran motor yang tertung
gak tersebut, maka terbit Surat Peringatan (SP) 2 (dua) pada keterlambatan 25 ha
ri yang batas waktunya juga 7 (tujuh) hari kerja, jika tetap tidak dilakukan pem
bayaran maka pada overdue/keterlambatan 31 hari secara sistem dan DKHR (Dafrar K
erja Harian Remedial) Rem.Off (Remedial Ofiicer) terbit Surat Tugas (ST) Penarik
an yang di laksanakan oleh Rem. Off (Remedial Officer) untuk melakukan penagihan
atau untuk melakukan penarikan unit tersebut, pada keterlambatan 31 hari atau s
ebelum masuk Over Due/keterlambatan 61 hari penerima fasilitas masih juga diberi
kan kesempatan untuk melakukan pembayaran melalui kasir-kasir PT. Adira Dinamika
Multi Finance atau Aro (Account Receivable Officer) atau Rem. Off (Remedial Off
icer), Sebelum masuk Overdue/keterlambatan 61 hari.
Hasil Wawancara dengan Mulyadi, A/R Head Bucket 1, 2, dan 4, PT. Adira Dinamika
Multi Finance Cabang Samarinda, Tanggal 3 Desember 2012.
9
12

d. apabila Overdue /keterlambatan 60 hari masih juga tidak dilakukan pembayaran


oleh debitur, maka secara sistem akan terbit Surat Keputusan (SK) Penarikan unit
tersebut yang dilaksanakan oleh Eksternal Collector atau yang lebih dikenal den
gan sebutan Deft Collector (DC) dibawah kepemimpinan A/R Head Bucket 3. jika uni
t berhasil dilakukan penarikan oleh Eksternal Collector, disini debitur masih di
berikan kesempatan oleh PT. Adira Dinamika Multi Finance untuk melakukan penebus
an terhadap kendaraan yang telah ditarik, debitur harus mengajukan kredit lancar
, yaitu dengan membayar angsuran tertunggak ditambah dengan membayar angsuran 3
bulan dimuka ditambah dengan denda keterlambatan yang timbul dan biaya proses pe
narikan. Proses kredit lancar hanya bisa dilakukan maksimal 7 hari setelah tangg
al unit debitur ditarik oleh pihak PT. Adira Dinamika Multi Finance, biaya penar
ikan tetap akan dikenakan kepada debitur walaupun debitur telah mengajukan kredi
t lancar atau melunasi kredit kendaraannya untuk mengambil kembali kendaraannya.
10 e. Jika Eksternal Collector Bucket 3 tidak bisa melakukan penarikan unit ters
ebut maka secara otomatis berpindah ke Eksternal Collector Bucket 4 yang di pimp
in oleh A/R Head Bucket 4 yaitu pada Overdue/keterlambatan 121-209 hari dan A/R
Head Bucket 4 disini mempunyai waktu untuk melakukan penarikan unit tersebut sam
pai dengan keterlambatan 209 hari. f. Apabila tetap tidak ada penyelesaian pada
keterlambatan 121-209 hari maka secara sistem masuk kategori WO (Write.Off) pada
keterlambatan 210 hari, yang diambil alih oleh ROA (Recovery Officer Area). 11
Adapun Surat Tugas (ST) Penarikan secara sistem terbit pada
overdue/keterlambatan 31 hari atau kurang dari 31 hari tergantung pada history p
ayment (pembayaran) debitur apakah masuk kategori High/Medium/Low.12 Dan juga bi
la telah diketahui kasusnya oleh Aro (Account Reveible Officer) karena debitur t
elah mengalihkan atau menggadaikan kendaraannya tanpa memberitahukan kepada PT.
Adira Dinamika Multi Finance secara resmi.13 Atau Surat Tugas (ST) bisa terbit s
ebelum 31 hari apabila terdapat kasus-kasus yang tidak bisa diselesaiakan oleh A
ro (Account Receivable Officer) atau Rem. Off (Remedial Officer) dengan eskalasi
dan membuat analisa kasus yang lengkap tentang penyebab keterlambatan tersebut.
14 Sedangkan Surat Keputusan Penarikan (SKP) secara sistem terbit pada overdue/k
eterlambatan 61 hari atau kurang dari 61 hari tergantung dari eskalasi yang dila
kukan
10 11
Kartu Angsuran; Buku Pintar Adira, PT. Adira Dinamika Multi Finance, hal. 23. Ha
sil Wawancara dengan Mulyadi, Op.Cit. 12 Hasil Wawancara dengan Vita, Loc.Cit. 1
3 Ibid. 14 Hasil Wawancara dengan Mulyadi,Op.Cit.
13

oleh Rem. Off (Remedial Officer) dengan membuat analisa kasus yang lengkap tenta
ng penyebab keterlambatan tersebut dan juga dilihat dari karakter si debitur.15
Selanjutnya didalam menyelesaikan kredit macet yang dilakukan oleh debitur dalam
hal ini PT. Adira Dinamika Multi Finance memberikan solusi kepada debitur supay
a tidak terjadinya kemacetannya pembayaran, adapun tindakan tersebut yaitu denga
n program rehab dan rectructure. Rehab adalah usaha penyelamatan aset dengan pem
berian fasilitas kepada debitur yang memiliki kendala dalam membayar angsuran un
tuk melakukan perubahan terhadap tanggal jatuh tempo angsuran maupun term of pay
ment.16 Restructure adalah usaha penyelamatan aset dengan pemberian fasilitas ke
pada debitur yang memiliki kendala dalam membayar angsuran untuk melakukan perub
ahan term of payment pada perjanjian kredit seperti perubahan pada besar angsura
n dan jangka waktu pembayaran (berupa perpanjangan tenor).17 Berdasarkan hasil w
awancara kepada Heldi yang bertindak sebagai Wakil Manager PT. Adira Dinamika Mu
lti Finance Cabang Samarinda maka diperoleh penjelasannya bahwa : prosedur yang
telah ditetapkan oleh Direksi didalam Memo Internal itu harus dilakukan sesuai m
emo tersebut, karena untuk menghindari permasalahan di kemudian hari.18 Apabila
prosedur tersebut tidak di jalankan oleh karyawan PT. Adira Dinamika Multi Finan
ce Cabang Samarinda maka akan mendapatkan sangsi yang tegas yang paling berat be
rupa pemecatan atau jika hal tersebut berdampak merugikan PT. Adira Dinamika Mul
ti Finance, maka karyawan tersebut akan dilaporkan ke kepolisian untuk dilakukan
penuntutan.19 Perlindungan Hukum Terhadap Kreditur Akibat Tindakan Debitur Yang
Melakukan Pelanggaran Terhadap Kontrak. Berdasarkan hasil wawancara penulis den
gan Heldi selaku Wakil Manager PT. Adira Dinamika Multi Finance Cabang Samarinda
tentang perlindungan hukum terhadap kreditur akibat tindakan debitur yang melak
ukan pelanggaran terhadap kontrak adalah dengan didaftarkan jaminan fidusia ke K
antor Pendaftaran Fidusia, dan akan memperoleh sertifikat jaminan fidusia berira
h-irah demi keadilan berdasarkan ketuhanan yang maha esa. Hal ini
Hasil Wawancara dengan Stenly J.D Mondigir, Loc. Cit. Memo Internal, No. MI-007/
OPR.COLL/IX/2009, Kriteria Debitur Program Rehab, Kriteria Rehab Cabang dan Jenj
ang Approval Program Rehab, PT. Adira Dinamika Multi Finance, Tbk. 17 Memo Inter
nal, No. MI-015/OPR/COLL/VII/2012, Ketentuan Program Rectructure Pembiayaan Konv
ensional , PT. Adira Dinamika Multi Finance, Tbk. 18 Hasil Wawancara dengan Held
i, Wakil Manager, PT. Adira Dinamika Multi Finance, Samarinda, Tanggal 2 Januari
2013. 19 Hasil Wawancara dengan Abed Nego, Loc. Cit.
15 16
14

memberikan kepastian hukum kepada PT. Adira Dinamika Multi Finance Samarinda unt
uk melakukan penarikan unit kendaraan debitur apabila debitur melakukan pelangga
ran kontrak atau wanprestasi. Sesuai Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 42 T
ahun 1999 tentang Jaminan Fidusia.20 Sehingga apabila debitur melanggar larangan
tersebut dan tetap tidak ada pembayaran maka jalan terakhir yang ditempuh oleh
PT. Adira Dinamika Multi Finance Samarinda adalah melakukan penarikan unit kenda
raan bermotor tersebut. Kemudian perlindungan hukum kreditur itu diatur dalam Pa
sal 20 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidu
sia yang berbunyi : fidusia tetap mengikuti benda yang menjadi objek jaminan fidu
sia dalam tangan siapapun benda tersebut berada, kecuali pengalihan atas benda t
ersebut, kecuali pengalihan atas benda persediaan yang menjadi objek jaminan fid
usia. Ketentuan tersebut menegaskan bahwa jaminan fidusia mempunyai sifat kebenda
an dan berlaku terhadap asas droit de suite, kecuali pengalihan atas benda perse
diaan yang menjadi objek jaminan fidusia. Perlindungan hukum yang sama juga dili
hat dalam Pasal 23 ayat 2 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 1999 t
entang Jaminan Fidusia yang berbunyi : pemberi fidusia dilarang mengalihkan, meng
gadaikan, atau menyewakan kepada pihak lain benda yang menjadi objek jaminan fid
usia yang tidak merupakan benda persediaan, kecuali dengan persetujuan tertulis
terlebih dahulu dari penerima fidusia. Sangsi terhadap ketentuan diatas adalah pi
dana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor
42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia, yaitu : setiap orang dengan sengaja memals
ukan, mengubah, menghilangkan atau dengan cara apapun memberikan keterangan seca
ra menyesatkan, yang jika hal tersebut diketahui oleh salah satu pihak tidak mel
ahirkan perjanjian jaminan fidusia, dipidana dengan pidana penjara paling singka
t 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling sedikit Rp. 10.
000.000.- (sepuluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. 100.000.000.- (seratus jut
a rupiah). Atas segala tindakan dan kelalaian pemberi fidusia, penerima fidusia be
rdasarkan karena kelalaian tersebut tidak bertanggung jawab, sebagaimana dimaksu
d dalam Pasal 24 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 1999 tentang Ja
minan Fidusia, yaitu : penerima fidusia tidak menanggung kewajiban atas akibat ti
ndakan atau kelalaian pemberi fidusia baik yang timbul dari hubungan kontraktual
atau yang timbul dari perbuatan hukum sehubungan dengan penggunaan dan pengalih
an benda yang menjadi objek jaminan fidusia.
20
Hasil Wawancara dengan Heldi, Loc. Cit.
15

Pada intinya maksud atau tujuan dari perjanjian jaminan fidusia dari segi perlin
dungan hukum bagi kreditur adalah memberikan hak istimewa atau hak didahulukan b
aginya guna pelunasan hutang-hutang debitur padanya. Lebih jauh perlindungan huk
um terhadap hak atas piutang yang didahulukan dapat dilihat pada ketentuan Pasal
27 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia
, yaitu : 1. Penerima fidusia memiliki hak yang didahulukan terhadap kreditur la
innya. 2. Hak didahulukan sebagaimana, dimaksud dalam ayat 1 adalah hak penerima
fidusia untuk mengambil pelunasan piutangnya atas hasil eksekusi benda yang men
jadi objek jaminan fidusia. 3. Hak yang didahulukan dan penerima fidusia tidak h
apus karena adanya kepailitan dan atas likuidasi pemberi fidusia. Adapun beberap
a hal yang dapat menunjukkan adanya perlindungan hukum terhadap kreditur (peneri
ma fidusia) menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 1999 tentang
jaminan fidusia antara lain sebagai berikut : 1. Adanya lembaga pendaftaran jam
inan fidusia, yang tidak lain adalah untuk menjamin kepentingan pihak yang mener
ima fidusia. 2. Adanya larangan pemberi fidusia untuk memfidusiakan ulang objek
jaminan fidusia (Pasal 17). 3. Adanya ketentuan bahwa pemberi fidusia tidak dipe
rbolehkan untuk mengalihkan, menggadaikan atau menyewakan (Pasal 23 sub 2). 4. A
danya ketentuan pemberi fidusia wajib menyerahkan benda jaminan, kalau kreditur
hendak melaksanakan eksekusi atas objek jaminan fidusia. 5. Adanya ketentuan pid
ana dalam Undang-Undang Jaminan Fidusia. Berdasarkan hasil penelitian penulis da
n wawancara kepada Heldi DBM PT. Adira Dinamika Multi Finance Samarinda diperole
h bahwa PT. Adira Dinamika Multi Finance Samarinda sudah mendaftarkan Jaminan Fi
dusia per tanggal 1 Oktober 2012.21 Dengan didaftarkan jaminan fidusia maka akan
dicatat akta jaminan fidusia dalam buku daftar fidusia dan kepada kreditur dibe
rikan sertifikat jaminan fidusia berirah-irah demi keadilan berdasarkan ketuhanan
yang maha esa. sehingga asas publisitas terpenuhi sekaligus merupakan jaminan ke
pastian terhadap kreditur dalam hal ini PT. Adira Dinamika Multi Finance Samarin
da, mengenai benda yang telah dibebani dengan jaminan fidusia.
21
Ibid.
16

Pendaftaran fidusia secara langsung memberikan hak preferenterhadap kreditur unt


uk pelunasan terlebih dahulu atas piutangnya atau kepada kreditur hak yang luas
menyangkut eksekusi benda jaminan ditangan siapapun benda tersebut berada, hal y
ang perlu diingat terhadap perlindungan hukum demikian tidak dapat dimiliki oleh
kreditur apabila perjanjian jaminan fidusianya tidak didaftarkannya di kantor p
endaftaran fidusia. KESIMPULAN 1. Dalam menyelesaikan kredit macet PT. Adira Din
amika Multi Finance, Samarinda itu lebih menggunakan jasa Eksternal Collection y
ang akibatnya tidak semua kredit macet yang dilakukan oleh debitur dapat dilakuk
an penarikan sehingga tidak ada efek jera kepada debitur yang melakukan wanprest
asi. 2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fid
usia, itu sudah jelas bahwa perjanjian pembiayaan konsumen yang dilakukan oleh P
T. Adira Dinamika Multi Finance kepada debiturtersebut dilindungi oleh hukum dan
mempunyai kekuatan eksekutorial untuk dapat dilakukan penarikan apabila debitur
telah melanggar perjanjian yang telah disepakati bersama dan sudah sangat jelas
dasarnya untuk dapat dilakukan penuntutan apabila debitur telah melanggar keten
tuan isi kontrak pembiayaan bersama dengan penyerahan hak milik secara fidusia.
DAFTAR PUSTAKA 1. Literatur Anonim, Kartu Angsuran (Buku Pintar Nasabah), PT. Ad
ira Dinamika Multi Finance. Anonim, Panduan Aro dan Rem. Off, PT. Adira Dinamika
Multi Finance, Tbk. Anonim, Pedoman Penyusunan Proposal Penelitian Dan Penulisa
n Tesis Dan Desertasi, Malang, Universitas Brawijaya Press (UB Press), 2010. Ano
nim, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta, Balai Pustaka, 1995. Anonim, Collect
ion Recovery Adira Finance; Adira Suvevisory Development Program (ASDP), PT. Adi
ra Dinamika Multi Finance, 2013. Abdulkadir Muhammad dan Rilda Murniati, Segi Hu
kum Lembaga keuangan dan Pembiayaan Konsumen, Bandung, Citra Aditya Bakti, 2000.
Agus Yudha Hernako, Hukum Perjanjian Asas Proporsionalitas Dalam Kontrak Komers
ial, Ed. Pertama, Cet. 2, Jakarta, Kencana, 2011. Andi Prajitno, Problematika Yu
ridis Pemberlakuan Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999, Malang, Bayumedia Publisin
g, 2009. Arief Sidharta, Refleksi Tentang Hukum, Bandung, Citra Aditya Bakti, 19
99.
17

Badriyah Harun, Penyelesaian Sengketa Kredit Bermasalah, Cet. 1, Yogyakarta, Pus


taka Yustisia, 2010. Budi Rachmat, Anjak Piutang Solusi Cash Flow Problem, Jakar
ta, Gramedia Pustaka utama, 2002. H. Salim, Perkembangan Hukum Jaminan Di Indone
sia, Jakarta, PT. Rajagrafindo Persada, 2011. Hadiwijaya Akuntan dan R.A. Rivai
Wirasasmita, Beberapa Segi, Mengenai Perkreditan, Bandung, CV. Pionir Jaya Bandu
ng, 1993. Handri Raharjo, Cara Pintar Memilih dan Mengajukan Kredit, Cet. 1, Yog
yakarta, Pustaka Yustisia, 2010. Hasanuddin Rahman, Aspek-aspek Hukum Pemberian
Kredit Perbankan di Indonesia, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1998. Philipus M. Ha
djon, Perlindungan Hukum Dalam Negara Hukum Pancasila Simposium Politik, Hak Asas
i Manusia dan Pembangunan Hukum, Lustrum VIII, Universitas Airlangga, Surabaya,
1994. ------------------------, Perlindungan Hukum Bagi Rakyat Indonesia, Suatu
Studi Tentang PrinsipPrinsipnya, Penanganan Oleh Pengadilan Dalam Lingkungan Per
adilan Umum dan Pembentukan Peradilan Administrasi Negara, PT. Bina Ilum, Suraba
ya, 1987. Simorangkir, J.C.T,. Rudy T.Erwin, dan J.T. Prasetyo, Kamus Hukum, Cet
. 10, Sinar Grafika, Jakarta, 2006. Tobing, M.L., Sekitar Pengantar Ilmu Hukum,
Jakarta, Erlangga, 2005. Mariam Darus Badulzaman, Aneka Hukum Bisnis , Cet. 3, A
lumni, Bandung, 2011. Muhammad Abulkadir dan Rilda Murniati, Segi Hukum Lembaga
Keuangan dan Pembiayaan, Citra Aditya Bakti. Muhammad Djumhana, Hukum Perbankan
di Indonesia, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2003. Munir Fuadi, Hukum Tentang Pemb
iayaan Dalam Teori dan Praktek (Leasing, Faktoring, Modal Ventura, Pembiayaan Ko
nsumen, Kartu Kredit), Bandung, PT.Citra Aditya Bakti, 1995. ----------------, H
ukum Tentang Pembiayaan Dalam Teori dan Praktek, Bandung, PT. Citra Aditya Bakti
, 2002. Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum, Bandung, PT. Citra Aditya Bakti, 2000. S
uhariningsih, Analisis Yuridis terhadap Perjanjian Kredit Dengan Jaminan Barang I
nventory Dalam Bingkai Jaminan Fidusia, Malang, Universitas Wisnuwardhana Press M
alang, 2011. Thomas Suyatno, Dasar-Dasar Perkreditan, Jakarta, PT. Gramedia, 199
3.
18

Zaeni Asyhadie, Hukum Bisnis Prinsip Pelaksanaannya di Indonesia, Jakarta, Rajaw


ali Pers, 2011. Zaenal Asyadie, Hukum Bisnis Prinsip dan Pelaksanaannya Di Indon
esia, RajaGrafindo Persada, 2011. Miranda Nasihin, Segala Hal Tentang Hukum Lemb
aga Pembiayaan, Yogyakarta, Buku Pintar, 2012. 2. Perundang-undangan Kitab Undan
g-Undang Hukum Perdata. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Republik Indonesia. Un
dang-Undang Tentang Jaminan Fidusia. UU Nomor 42 Tahun 1999. Lembaran Negara Rep
ublik Indonesia Tahun 1999 Nomor 168, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3889. Repub
lik Indonesia. Undang-Undang Tentang Perbankan. UU Nomor 10 Tahun 1998 Tentang P
erubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992. Tambahan Lembaran Negara Republi
k Indonesia Nomor 3790. Republik Indonesia. Peraturan Pemerintah Tentang Tata Ca
ra Pendaftaran Jaminan Fidusia dan Biaya Pembuatan Akta Jaminan fidusia. PP Nomo
r 86 Tahun 2000. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 170. Republ
ik Indonesia. Peraturan Presiden Tentang Lembaga Pembiayaan. Perpres Nomor 9 Tah
un 2009. Republik Indonesia. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 130/PMK.010/2012 T
entang Pendaftaran Jaminan Fidusia Bagi Perusahaan Pembiayaan Yang Melakukan Pem
biayaan Konsumen Untuk Kendaraan Bermotor Dengan Pembebanan Jaminan Fidusia. Ber
ita Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 786 3. Sumber Lainnya Memo Intern
al : No.MI-015/OPR/COLL/VII/2012, Ketentuan Program Restructure Pembiayaan Konve
nsional, PT. Adira Dinamika Multi Finance, Tbk. Memo Internal : MI-012/OPR/COLL/
II/2012, Surat Perjanjian Kerjasama Pemberian Jasa, PT. Adira Dinamika Multi Fin
ance, Tbk. Memo Internal : No. MI-012/OPR/COLL/V/2012, Ketentuan Perjanjian Kerj
asama (PKS) Eksternal Collection, PT. Adira Dinamika Multi Finance, Tbk. Memo In
ternal : MI-015/OPR/COLL/VII/2012, Form Analisa Kasus, PT. Adira Dinamika Multi
Finance, Tbk.
19

Memo Internal : No.MI-007/OPR/COLL/IX/2009, Kriteria Debitur Program Rehab, Krit


eria Rehab Cabang dan Jenjang Approval Program Rehab, PT. Adira Dinamika Multi F
inance, Tbk. Memo Internal : MI-008/OPR/COLL/III/2012, Berita Acara Serah Terima
Kendaraan Bermotor, PT. Adira Dinamika Multi Finance, Tbk. Memo Internal : MI-0
08/OPR/COLL/III/2012, Format Form Pengajuan Kredit Lancar, PT. Adira Dinamika Mu
lti Finance, Tbk. Memo Internal : No.MI-008/OPR/COLL/III/2012, Mekanisme Penyera
han Unit Ke Warehouse /Remote Warehouse /Cabang /RO, Pick Up Unit, Early Termina
te Unit, Pelunasan Unit Tarikan dan Kredit Lancar, PT. Adira Dinamika Multi Fina
nce, Tbk. Memo Internal : MI-012/OPR/COLL/II/2012, Form Permohonan Kerjasama Eks
ternal Collection, PT. Adira Dinamika Multi Finance, Tbk. Memo Internal : MI-012
/OPR/COLL/II/2012, Form Survey Domisili / Tempat Tinggal Eksternal Collection, P
T. Adira Dinamika Multi Finance, Tbk. Memo Internal : MI-012/OPR/COLL/II/2012, F
orm Survey Kantor / Tempat Usaha Eksternal Collection, PT. Adira Dinamika Multi
Finance, Tbk. Memo Internal : MI-021/RIM/CRD/XII/2009, Pengikat Jaminan Tambahan
Berupa Kendaraan ; Perjanjian Pemberian Jaminan Fidusia, PT. Adira Dinamika Mul
ti Finance, Tbk. Memo Internal : MI-021/RIM/CRD/XII/2009, Surat Kuasa Fidusia Ja
minan Tambahan Berupa Kendaraan Atas Nama Calon Debitur ; Surat Kuasa Fidusia, P
T. Adira Dinamika Multi Finance, Tbk. Memo Internal : MI-021/RIM/CRD/XII/2009, S
urat Kuasa Fidusia Jaminan Tambahan Berupa Kendaraan Bukan Atas Nama Calon Debit
ur, PT. Adira Dinamika Multi Finance, Tbk. Memo Internal : No. MI-005/OPR/COLL/I
II/2012, Ketentuan Piloting Pelaksanaan Sentralisasi Surat Peringatan (SP) Konve
nsional, PT. Adira Dinamika Multi Finance, Tbk. Memo Internal : MI-005/OPR/COLL/
IV/2011, Format Surat Tugas, PT. Adira Dinamika Multi Finance, Tbk. Memo Interna
l : MI-005/OPR/COLL/IV/2011, Format Surat Kuasa, PT. Adira Dinamika Multi Financ
e, Tbk. Memo Internal : MI-005/OPR/COLL/IV/2011, Format Surat Kuasa Substitusi ;
Surat Kuasa Khusus, PT. Adira Dinamika Multi Finance, Tbk. Memo Internal : No.
MI-005/OPR/COLL/IV/2011, Teknis Penanganan dan Dokumen Collection, PT. Adira Din
amika Multi Finance, Tbk. 20