Anda di halaman 1dari 5

MENYIKAPI KONTROVERSI AUTISME DAN IMUNISASI

MMR

dr. Widodo Judarwanto, Rumah Sakit Bunda Jakarta

Dalam waktu terakhir ini kasus penderita autisme tampaknya semakin meningkat pesat. Autisme
tampak menjadi seperti epidemi ke berbagai belahan dunia. Dilaporkan terdapat kenaikan angka
kejadian penderita Autisme yang cukup tajam di beberapa negara. Keadaan tersebut di atas
cukup mencemaskan mengingat sampai saat ini penyebab autisme multifaktorial, masih
misterius dan sering menjadi bahan perdebatan diantara para klinisi.
Autisme adalah gangguan perkembangan pervasif pada anak yang ditandai dengan adanya
gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi dan interaksi
sosial. Perdebatan yang terjadi akhir-akhir ini berkisar pada kemungkinan hubungan autisme
dengan imunisasi MMR (Mumps, Measles, Rubella). Banyak orang tua menolak imunisasi
karena mendapatkan informasi bahwa imunisasi MMR dapat mengakibatkan autisme. Akibatnya
anak tidak mendapatkan perlindungan imunisasi untuk menghindari penyakit-penyakit justru
yang lebih berbahaya seperti hepatitis B, Difteri, Tetanus, pertusis, TBC dan sebagainya. Banyak
penelitian yang dilakukan secara luas ternyata membuktikan bahwa autism tidak berkaitan
dengan imunisasi MMR. Tetapi memang terdapat penelitian yang menunjukkan bahwa Autism
dan imunisasi MMR berhubungan.
Imunisasi MMR adalah imunisasi kombinasi untuk mencegah penyakit Campak, Campak
Jerman dan Penyakit Gondong. Pemberian vaksin MMR biasanya diberikan pada usia anak 16
bulan. Vaksin ini adalah gabungan vaksin hidup yang dilemahkan. Semula vaksin ini ditemukan
secara terpisah, tetapi dalam beberapa tahun kemudian digabung menjadi vaksin kombinasi.
Kombinasi tersebut terdiri dari virus hidup Campak galur Edmonton atau Schwarz yang telah
dilemahkan, Componen Antigen Rubella dari virus hidup Wistar RA 27/3 yang dilemahkan dan
Antigen gondongen dari virus hidup galur Jerry Lynn atau Urabe AM-9.
Pendapat yang mendukung autism berkaitan dengan imunisasi :
Terdapat beberapa penelitian dan beberapa kesaksian yang mengungkapkan Autisme mungkin
berhubungan dengan imunisasi MMR. Reaksi imunisasi MMR secara umum ringan, pernah
dilaporkan kasus meningoensfalitis pada minggu 3-4 setelah imunisasi di Inggris dan beberapa
tempat lainnya. Reaksi klinis yang pernah dilaporkan meliputi kekakuan leher, iritabilitas hebat,
kejang, gangguan kesadaran, serangan ketakutan yang tidak beralasan dan tidak dapat dijelaskan,
defisit motorik/sensorik, gangguan penglihatan, defisit visual atau bicara yang serupa dengan
gejala pada anak autism.

Andrew Wakefielddari Inggris melakukan penelitian terhadap 12 anak, ternyata terdapat


gangguan Inflamantory Bowel disesase pada anak autism. Hal ini berkaitan dengan setelah
diberikan imunisasi MMR. Bernard Rimland dari Amerika juga mengadakan penelitian
mengenai hubungan antara vaksinasi terutama MMR (measles, mumps rubella ) dan autisme.
Wakefield dan Montgomery melaporkan adanya virus morbili (campak) dengan autism pada 70
anak dari 90 anak autism dibandingkan dengan 5 anak dari 70 anak yang tidak autism. Hal ini
hanya menunjukkan hubungan, belum membuktikan adanya sebab akibat.
Jeane Smith seorang warga negara Amerika bersaksi didepan kongres Amerika : kelainan autis
dinegeri ini sudah menjadi epidemi, dia dan banyak orang tua anak penderta autisme percaya
bahwa anak mereka yang terkena autisme disebabkan oleh reaksi dari vaksinasi. Sedangkan
beberapa orang tua penderita autisme di Indonesiapun berkesaksian bahwa anaknya terkena
autisme setelah diberi imunisasi
Pendapat yang menentang bahwa imunisasi menyebabkan autisme
Sedangkan penelitian yang mengungkapkan bahwa MMR tidak mengakibatkan Autisme lebih
banyak lagi dan lebih sistematis. Brent Taylor, melakukan penelitian epidemiologik dengan
menilai 498 anak dengan Autisme. Didapatkan kesimpulan terjadi kenaikkan tajam penderita
autism pada tahun 1979, namun tidak ada peningkatan kasus autism pada tahun 1988 saat MMR
mulai digunakan. Didapatkan kesimpulan bahwa kelompok anak yang tidak mendapatkan MMR
juga terdapat kenaikkan kasus aurtism yang sama dengan kelompok yang di imunisasi MMR.
Dales dkk seperti yang dikutip dari JAMA (Journal of the American Medical Association) 2001,
mengamati anak yang lahir sejak tahun 1980 hingga 1994 di California, sejak tahun 1979
diberikan imunisasi MMR. Menyimpulkan bahwa kenaikkan angka kasus Autism di California,
tidak berkaitan dengan mulainya pemberian MMR.
Intitute of medicine, suatu badan yang mengkaji keamanan vaksin telah melakukan kajian yang
mendalam antara hubungan Autisme dan MMR. Badan itu melaporkan bahwa secara
epidemiologis tidak terdapat hubungan antara MMR dan ASD. The British Journal of General
Practice mepublikasikan penelitian De Wilde, pada bulan maret 2001. Meneliti anak dalam 6
bulan setelah imunisasi MMR dibandingkan dengan anak tanpa Autisme. Menyimpulkan tidak
terdapat perubahan perilaku anak secara bermakna antara kelompok control dan kasus. Pada
jurnal ilmiah Archives of Disease in Childhood, September 2001, The Royal College of
Paediatrics and Child Health, menegaskan bahwa tidak ada bukti ilmiah yang mendukung
adanya hipoteda kaitan imunisasi MMR dan Autisme. Para profesional di bidang kesehatan tidak
usah ragu dalam merekomendasikan imunisasi MMR pada pasiennya..
Makela A, Nuorti JP, Peltola H tim peneliti dari Central Hospital Helsinki dan universitas

Helsinky Finlandia pada bulan Juli 2002 telah melakukan penelitian terhadap 535.544 anak yang
mendapatkan imunisasi MMR sejak 1982 hingga 1986, yang dilakukan pengamatan 3 bulan
setelah di Imunisasi. Mereka menyimpulkan bahwa tidak menunjukkan hubungan yang
bermakana antara imunisasi MMR dengan penyakit neurologis (persrafan) seperti ensefalitis,
aseptik meningitis atau autisme. Kreesten Meldgaard Madsen dkk bulan November 2002,
melakukan penelitian sejak tahun 1991 - 1998 terhadap 440.655 anak yang mendapatkan
imunisasi MMR. Hasilnya menunjukkan tidak terbukti hipotesis hubungan MMR dan Autisme.
Rekomendasi Intitusi atau Badan Kesehatan Dunia
Beberapa institusi atau badan dunia di bidang kesehatan yang independen dan sudah diakui
kredibilitasnya juga melakukan kajian ilmiah dan penelitian tentang tidak adanya hubungan
imunisasi dan autisme. Dari hasil kajian tersebut, dikeluarkan rekomendasi untuk tenaga
profesional untuk tetap menggunakan imunisasi MMR dan thimerosal karena tidak terbukti
mengakibatkan Autisme.
The All Party Parliamentary Group on Primary Care and Public Health pada bulan Agustus
2000, menegaskan bahwa MMR aman. Dengan memperhatikan hubungan yang tidak terbukti
antara beberapa kondisi seperti inflammatory bowel disease (gangguan pencernaan) dan autisme
adalah tidak berdasar.
WHO (World Health Organisation), pada bulan Januari 2001 menyatakan mendukung
sepenuhnya penggunaan imunisasi MMR dengan didasarkan kajian tentang keamanan dan
efikasinya.
Beberapa institusi dan organisasi kesehatan bergengsi di Inggris termasuk the British Medical
Association, Royal College of General Practitioners, Royal College of Nursing, Faculty of Public
Health Medicine, United Kingdom Public Health Association, Royal College of Midwives,
Community Practitioners and Health Visitors Association, Unison, Sense, Royal Pharmaceutical
Society, Public Health Laboratory Service and Medicines Control Agency pada bulan januari
tahun 2001 setelah mengadakan pertemuan dengan pemerintahan Inggris mengeluarkan
pernyataan bersama yaitu MMR adalah vaksin yang sangat efektif dengan laporan keamanan
yang sangat baik. Secara ilmiah sangat aman dan sanagat efektif untuk melindungi anak dari
penyakit. Sangat merekomendasikan untuk memberikan MMR terhadap anak dan tanpa
menimbulkan resiko.
The Committee on Safety of Medicine (Komite Keamanan Obat) pada bulan Maret 2001,
menyatakan bahwa kesimpulan dr Wakefield tentang vaksin MMR terlalu premature. Tidak
terdapat sesuatu yang mengkawatirkan. The Scottish Parliaments Health and Community Care
Committee, juga menyatakan pendapat tentang kontroversi yang terjadi, yaitu Berdasarkan
pengalaman klinis berbasis bukti, tidak terdapat hubungan secara ilimiah antara MMR dan

Autisme atau Crohn disease. Komite tesebut tidak merekomendasikan perubahan program
imunisasi yang telah ditetapkan sebelumnya bahwa MMR tetap harus diberikan.
The Irish Parliaments Joint Committee on Health and Children pada bulan September 2001,
melakukan review terhadap beberapa penelitian termasuk presentasi Dr Wakefield yang
mengungkapkan AUTISM berhungan dengan MMR. Menyimpulkan tidak ada hubungan antara
MMR dan Autisme. Tidak terdapat pengalaman klinis lainnya yang mebuktikan bahan lain di
dalam MMR yang lebih aman dibandingkan kombinasi imunisasi. MMR.
The American Academy of Pediatrics (AAP), organisasi profesi dokter anak di Amerika Serikat
pada tanggal 12 13 Juni 2000 mengadakan konferensi dengan topik "New Challenges in
Childhood Immunizations" di Oak Brook, Illinois Amerika Serikat yang dihadiri para orang tua
penderita autisme, pakar imunisasi kesehatan anak dan para peneliti. Pertemuan tersebut
merekomendasikan bahwa tidak terdapat huibungan antara MMR dan Autisme. Menyatakan
bahwa pemberian imunisasi secara terpisah tidak lebih baik dibandingkan MMR, malahan terjadi
keterlambatan imunisasi MMR. Selanjutnya akan dilakukan penelitian l;ebih jauh tentang
penyebab Autisme.
BAGAIMANA SIKAP KITA SEBAIKNYA ?
Bila mendengar dan mengetahui kontroversi tersebut, maka masyarakat awam bahkan beberapa
klinisipun jadi bingung. Untuk menyikapinya kita harus cermat dan teliti dan berpikiran lebih
jernih. Kalau mengamati beberapa penelitian yang mendukung adanya autisme berhubungan
dengan imunisasi, mungkin benar sebagai pemicu. Secara umum penderita autisme sudah
mempunyai kelainan genetik (bawaan) dan biologis sejak awal. Hal ini dibuktikan bahwa genetik
tertentu sudah hampir dapat diidentifikasi dan penelitian terdapat kelainan otak sebelum
dilakukan imunisasi. Kelainan autism ini bisa dipicu oleh bermacam hal seperti imunisasi, alergi
makanan, logam berat dan sebagainya. Jadi bukan hanya imunisasi yang dapat memicu
timbulnya autisme. Pada sebuah klinik tumbuh kembang anak didapatkan 40 anak dengan autism
tetapi semuanya tidak pernah diberikan imunisasi. Hal ini membuktikan bahwa pemicu autisme
bukan hanya imunisasi.
Penelitian yang menunjukkan hubungan keterkaitan imunisasi dan autism hanya dilihat dalam
satu kelompok kecil (populasi) autism. Secara statistik hal ini hanya menunjukkan hubungan,
tidak menunjukkan sebab akibat. Kita juga tidak boleh langsung terpengaruh pada laporan satu
atau beberapa kasus, misalnya bila orang tua anak autism berpendapat bahwa anaknya timbul
gejala autism setelah imunisasi. Kesimpulan tersebut tidak bisa digeneralisasikan terhadap anak
sehat secara umum (populasi lebih luas). Kalau itu terjadi bisa saja kita juga terpengaruh oleh
beberapa makanan yang harus dihindari oleh penderita autism juga juga akan dihindari oleh anak
sehat lainnya. Jadi logika tersebut harus dicermati dan dimengerti.

Bila terpengaruh oleh pendapat yang mendukung keterkaitan autism dan imunisasi tanpa melihat
fakta penelitian lainnya yang lebih jelas, maka kita akan mengabaikan imunisasi dengan segala
akibatnya yang jauh lebih berbahaya pada anak. Penelitian dalam jumlah besar dan luas secara
epidemiologis lebih bisa dipercaya untuk menunjukkan sebab akibat dibandingkan laporan
beberapa kasus yang jumlahnya relatif tidak bermakna secara umum. Beberapa institusi atau
badan kesehatan dunia yang bergengsi pun telah mengeluarkan rekomendasi untuk tetap
meneruskan pemberian imunisasi MMR. Hal ini juga menambah keyakinan kita bahwa memang
Imunisasi MMR memang benar aman.
Kontroversi itu terus berlanjut terus, namun kita bisa mengambil hikmah dan jalan yang terbaik
anak kita harus imunisasi atau tidak ? Untuk meyakinkan hal tersebut mungkin kita bisa
berpedoman pada banyak penelitian yang lebih dipercaya validitasnya secara statistik dengan
populasi lebih banyak dan luas yaitu Autisme tidak berhubungan dengan MMRl. Demikian pula
kita harus percaya terhadap rekomendasi berbagai badan dunia kesehatan yang independen dan
terpercaya setelah dilakukan kajian ilmiah terhadap berbagai penelitian yang dilakukan oleh
beberapa pakar kesehatan anak di berbagai dunia maju.
Dari beberapa hal tersebut diatas, tampaknya dapat disimpulkan bahwa Imunisasi MMR tidak
mengakibatkan Autisme, bila anak kita sehat dan tidak berbakat autisme. Tetapi diduga
imunisasi dapat memicu memperberat timbulnya gangguan perilaku pada anak yang sudah
mempunya bakat autisme secara genetik sejak lahir.
Tetapi tampaknya teori, penelitian atau pendapat beberapa kasus yang mendukung keterkaitan
autisme dengan imunisasi, tidak boleh diabaikan bergitu saja. Meskipun laporan penelitian yang
mendukung hubungan Autisme dan imunisasi hanya dalam populasi kecil atau bahkan laporan
perkasus anak autisme. Sangatlah bijaksana untuk lebih waspada bila anak kita sudah mulai
tampak ditemukan penyimpangan perkembangan atau perilaku sejak dini, memang sebaiknya
untuk mendapatkan imunisasi MMR harus berkonsultasi lebih jelas dahulu dengan dokter anak.
Bila anak kita sudah dicurigai ditemukan bakat kelainan Autism sejak dini atau beresiko terjadi
autisme, mungkin bisa saja menunda dahulu imunisasi MMR sebelum dipastikan diagnosis
Autisme dapat disingkirkan. Meskipun sebenarnya pemicu atau faktor yang memperberat
Autisme bukan hanya imunisasi. Dalam hal seperti ini kita harus memahami dengan baik resiko,
tanda dan gejala autisme sejak dini.
Tetapi bila anak kita sehat, tidak beresiko atau tidak menunjukkan tanda dini gejala Autisme
maka kita tidak perlu kawatir untuk mendapatkan imunisasi tersebut. Kekawatiran terhadap
imunisasi tanpa didasari pemahaman yang baik dan pemikiran yang jernih akan menimbulkan
permasalahan kesehatan yang baru pada anak kita. Dengan menghindari imunisasi maka akan
timbul permasalahan baru yang lebih berbahaya dan dapat mengancam jiwa terutama bila anak
terkena infeksi yang dapat dicegah dengan imunisasi