Anda di halaman 1dari 35

LAPORAN TETAP PRAKTIKUM

KIMIA ANALITIK INSTRUMENT


KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS 1 & 2

DISUSUN OLEH:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Deviana Aditya Putri


Diah Pusphasari
M. Yuda Pratama
Malati Fitri
Runi Bella Vis Kurnia
Siti Haryanti

KELAS
KELOMPOK
JURUSAN
INSTRUKTUR

:
:
:
:

(061330401054)
(061330401055)
(061330401060)
(061330401061)
(061330401069)
(061330401070)

3 KF
III (TIGA)
TEKNIK KIMIA
Anerasari, M.B.Eng, M.Si

Politeknik Negeri Sriwijaya


2014/2015

KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS - 1

I.

TUJUAN PERCOBAAN
Setelah

melakukan percobaan

ini

mahasiswa

diharapkan

dapat:

Melakukan analisa sampel (zat warna) secara kromatogarfi lapis tipis.

II.

ALAT DAN BAHAN YANG DIGUNAKAN


a. Alat yang digunakan:
1. Pelat TLC
2. Chamber kromatogarfi
3. Pipa kapiler
4. Gelas Kimia
b. Bahan yang digunakan:
1. Etanol
2. Coklat Pasta
3. Hijau Pasta
4. Tinta
5. Methylen Blue
6. Campuran

III.

TEORI SINGKAT
KLT (kromatografi lapis tipis) atau TLC (thin layer chromatography)
merupakan salah satu cara untuk memisahkan dan menganalisa zat
dalam jumlah kecil. Pada TLC, adsorben tersebar secara merata dalam
permukaan gelas dan membentuk suatu lapisan tipis.terbentuk pita-pita
yang tidak horizontal, maka sulit untuk mengumpulkan komponenkomponen, ujung dari pita kedua akan terbawa sebelum seluruh pita
pertama keluar dari kolom. Ada dua factor penyebab masalah ini yaitu
permukaan atas dari adsorben tidak rata serta kolom tidak benar-benar
vertical.
Fenomena ini adalah terbentuknya lengkungan pada salah satu sisi
pita. Hal ini dapat terjadi bila ada ketidakteraturan pada permukaan
adsorben atau terdapat gelembung udara pada kolom.
Pada TLC, cuplikan yang dipisahkan atau dianalisa diteteskan pada
pelat dengan menggunakan kapiler. Pemisahan dapat terjadi dengan
memasukkan pelat ke dalam chamber (kamar) yang telah jenuh dengan
pelarut. Pelarutakan naik secara perlahan-lahan sepanjang pelat
tersebut. Cuplikan akan terdistribusi antara fasa diam (adsorben) dan
fasa gerak (pelarut). Sebagai fasa gerak umumnya zat yang kurang polar
dibandingkan dengan fasa diam sehingga komponen dalam cuplikan
yang kurang polar akan bergerak lebih cepat dari komponen cuplikan
yang lebih polar. Bila larutan hamper mencapai ujung pelat maka pelat
dikeluarkan dari chamber dan dibiarkan hingga pelarut yang menempel
pada pelat menguap. Akan tterlihat noda-noda pada pelat yang
menunjukkan jumlah komponen yang ada dalam cuplikan. Perbandingan
antar jarak perjalanan komponen dengan jarrak perjalanan pelarut
disebut Rf. Rf dinyatakan dengan bilangan dan dapat digambarkan
seperti berikut ini:

Nilai Rf untuk setiap warna dihitung dengan rumus sebagai berikut:

Sebagai contoh, jika komponen berwarna merah berjarak 1.7 cm dari garis
awal, sementara pelarut berjarak 5.0 cm sehingga nilai Rf untuk komponen
berwarna merah menjadi:

Bila kondisi pengerjaan sama, maka Rfuntuk komponen tertentu adalah


sama. Nilai Rf dapat digunakan untuk mengidentifikasi komponen.

TEORI TAMBAHAN
1. PENGERTIAN KLT
Kromatografi lapis tipis adalah salah satu analisis kulitatif dari suatu
sampel yang ingin dideteksi dengan memisahkan komponen-komponen
sampel berdasarkan perbedaan kepolaran. Kromatografi lapis tipis
merupakan cara pemisahan campuran senyawa menjadi senyawa
murninya dan mengetahui kuantitasnya yang digunakan.

Gambar 1. Kromatografi Lapis Tipis

Dalam KLT terjadi 2 fase, yaitu :


1. Fase Diam

Penjerap yang sering digunakan dalam KLT adalah silika gel


sementara

mekanisme

sorpsi-desorpsi

suatu

mekanisme

perpindahan solut dari fase diam ke fase gerak atau sebaliknya )


yang utama pada KLT adalah partisi dan adsorbsi.
2. Fase Gerak

Fase gerak pada KLT, yaitu pelarut atau campuran pelarut yang
sesuai.

Sistem yang paling sederhana adalah dengan menggunakan


campuran 2 pelarut organik karena daya elusi campuran kedua
pelarut ini dapat mudah diatur sedemikian rupa sehingga
pemisahan dapat terjadi secara optimal.

Petunjuk Memilih Fase Gerak


1. Fase gerak harus mempunyai kemurnian yang sangat tinggi karena
KLT merupkan teknik yang sensitive
2. Daya elusi fase gerak harus diatur sedemikian rupa sehingga harga
Rf solut terletak antara 0,2-0,8 untuk memaksimalkan pemisahan
3. Untuk pemisahan dengan menggunakan fase diam polar seperti
silika gel, polaritas fase gerak akan menentukan kecepatan migrasi
solut yang berarti juga menentukan nilai Rf. Penambahan pelarut
yang bersifat sedikit polar seperti dietil eter ke dalam pelarut non
polar seperti metil benzen akan meningkatkan harga Rf secara
signifikan .
4. Solut-solut ionik dan solut-solut polar lebih baik digunakan
campuran pelarut sebagai fase geraknya seperti campuran air dan
metanol dengan perbandingan tertentu. Penambahan sedikit asam
etanoat atau amonia masing-masing akan meningkatakan elusi
solut-solut yang bersifat basa dan asam.

2. Syarat-syarat pelarut yang diinginkan dalam KLT :


1.

Pelarut yang digunakan tergantung pada sifat zat yang akan


dianalisa. Yang polar akan larut pada pelarut polar.

2.

Untuk komponen yang lebih polar.

3. Fungsi Kromatografi Lapis Tipis


1.

Digunakan untuk tujuan analitik

2.

Identifikasi komponen dapat dilakukan dengan pereaksi warna,


fluoresensi atau pemadaman fluoresensi, radiasi UV

3.

Dapat dilakukan elusi dengan mekanik ( ascending ) atau menurun


( descending ) atau dengan cara elusi 2 dimensi

4.

Ketepatan penentuan kadar akan lebih baik karena komponen


yang ditentukan merupakan noda yang tidak bergerak

5.

Identifikasi komponen dijabarkan dalam harga Rf ( retardation


factor ) yang dalam penentuan kualitatif dibandingakan dengan
standar.

6.

Untuk penentuan jumlah komponen dalam campuran.

7.

Untuk penentuan identitas antara dua campuran.

8.

Untuk memonitor perkembangan reaksi.

9.

Untuk penentuan keefektifan pemurnian.

10. Untuk penentuan kondisi yang sesuai untuk pemisahan pada


kromatografi kolom.
11. Untuk memonitor kromatografi kolom .

4. Pelaksanaan KLT
Pelaksanaan kromatografi lapis tipis menggunakan sebuah lapis
tipis silika atau alumina yang seragam pada sebuah lempeng gelas
atau logam atau plastik yang keras. Jel silika atau alumina merupakan
fase diam. Fase diam untuk kromatografi lapis tipis seringkali juga
mengandung substansi yang mana dapat berpendarflour dalam sinar
ultraviolet. Fase gerak merupakan pelarut atau campuran pelarut yang
sesuai. Pelaksanaan ini biasanya dalam pemisahan warna yang
merupakan gabungan dari beberapa zat pewarna atau pemisahan dan
isolasi pigmen tanaman berwarna hijau dan kuning.

Kromatogram

Gambar 2. Kromatogram
Sebuah garis menggunakan pinsil digambar dekat bagian bawah
lempengan dan setetes pelarut dari campuran pewarna ditempatkan pada
garis itu. Diberikan penandaan pada garis di lempengan untuk menunjukkan
posisi awal dari tetesan. Jika ini dilakukan menggunakan tinta, pewarna dari
tinta akan bergerak selayaknya kromatogram dibentuk. Ketika bercak dari
campuran itu mengering, lempengan ditempatkan dalam sebuah gelas kimia
bertutup berisi pelarut dalam jumlah yang tidak terlalu banyak. Perlu
diperhatikan bahwa batas pelarut berada di bawah garis dimana posisi
bercak berada. Alasan untuk menutup gelas kimia adalah untuk meyakinkan
bawah kondisi dalam gelas kimia terjenuhkan oleh uap dari pelarut. Untuk
mendapatkan kondisi ini, dalam gelas kimia biasanya ditempatkan beberapa
kertas saring yang terbasahi oleh pelarut. Kondisi jenuh dalam gelas kimia
dengan uap mencegah penguapan pelarut. Karena pelarut bergerak lambat
pada lempengan, komponen-komponen yang berbeda dari campuran
pewarna akan bergerak pada kecepatan yang berbeda dan akan tampak
sebagai perbedaan bercak warna.

Gambar 3. Lempengan Kromatogram


Gambar

menunjukkan

lempengan

setalah

pelarut

bergerak

setengah dari lempengan. Pelarut dapat mencapai sampai pada bagian


atas dari lempengan. Ini akan memberikan pemisahan maksimal dari
komponen-komponen yang berwarna untuk kombinasi tertentu dari pelarut
dan fase diam.

5. Perhitungan Nilai Rf
Jumlah perbedaan warna yang telah terbentuk dari campuran,
pengukuran diperoleh dari lempengan untuk memudahkan identifikasi
senyawa-senyawa yang muncul. Pengukuran ini berdasarkan pada
jarak yang ditempuh oleh pelarut dan jarak yang ditempuh bercak
masing-masing.

Gambar 4. Lempeng Kromatogram

Sebagai contoh, jika komponen berwarna merah bergerak dari 1.7 cm


dari garis awal, sementara pelarut berjarak 5.0 cm, sehingga nilai R f
untuk komponen berwarna merah menjadi:

6. Faktor yang mempengaruhi gerak dan harga Rf :


1.

Sifat dari penyerap dan derajat aktivitas.

2.

Struktur kimia dari senyawa dipisahkan.

3.

Kerapan dari satu pasang penyerap.

4.

Pelarut (derajat kemurnian) fase bergerak.

7. Analisis Sampel yang Tidak Berwarna


1. Menggunakan Pendarflour
Fase diam pada sebuah lempengan lapis tipis seringkali
memiliki substansi yang ditambahkan kedalamnya, supaya
menghasilkan pendaran flour ketika diberikan sinar ultraviolet (UV).
Pendaran ini ditutupi pada posisi dimana bercak pada
kromatogram berada, meskipun bercak-bercak itu tidak tampak
berwarna jika dilihat dengan mata. Ketika sinar UV diberikan pada
lempengan, akan timbul dari posisi yang berbeda dengan posisi
bercak-bercak. Bercak tampak sebagai bidang kecil yang gelap.

Gambar 5. Lempeng Kromatogram Pendaran

2. Penunjukkan bercak secara kimia


Dalam beberapa kasus, dimungkinkan untuk membuat bercakbercak menjadi tampak dengan jalan mereaksikannya dengan zat
kimia sehingga menghasilkan produk yang berwarna. Sebuah contoh
yang baik adalah kromatogram yang dihasilkan dari campuran asam
amino. Kromatogram dapat dikeringkan dan disemprotkan dengan
larutan ninhidrin.
Ninhidrin bereaksi dengan asam amino menghasilkan senyawasenyawa berwarna, umumnya coklat atau ungu. Dalam metode lain,
kromatogram dikeringkan kembali dan kemudian ditempatkan pada
wadah bertutup (seperti gelas kimia dengan tutupan gelas arloji)
bersama dengan kristal iodium. Uap iodium dalam wadah dapat
berekasi dengan bercak pada kromatogram, atau dapat dilekatkan
lebih dekat pada bercak daripada lempengan. Substansi yang
dianalisis tampak sebagai bercak-bercak kecoklatan.

Gambar 6. Lempeng Kromatogram

8. Keuntungan dan Kelemahan KLT


Keuntungan KLT :
1.

Waktu relatif singkat

2.

Menggunakan inestasi yang kecil.

3.

Paling cocok untuk analisis bahan alam dan obat.

4.

Jumlah cuplikan yang dengan sedikit.

5.

Kebutuhaan ruang minimum.

6.

Penanganan sederhana.

7.

Zat yang bersifat asam/basa kuat dapat dipisahkan dengan

KLT.
Kelemahan KLT :
1. Hanya merupakan langkah awal untuk menentukan pelarut
yang cocok dengan pada kromatografi kolom
2. Noda yang terbetuk belum tentu senyawa murni.

IV.

PROSEDUR KERJA
1. Menyediakan pelat yang telah dilapisi.
2. Meneteskan cuplikan dengan menggunakan pipa kapiler pada
permukaan pelat.
3. Memasukkan pelat kedalam chamber yang telah diisi dengan
etanol. Tetesan yang berada pada pelat tidak boleh terendam
dalam pelarut.
4. Membiarkan pelarut naik perlahan sepanjang pelat hingga hampir
dicapai ujung yang lebih dari pelat. Menandai batas perjalanan
pelarut.
5. Membiarkan pelat kering dan membandingkan harga Rf dari nodanoda yang terbentuk.

V.

DATA PENGAMATAN
Zat Warna

Jarak (cm)
Pelarut

Coklat Pasta

Hijau Pasta

Tinta

Methylen Blue
Campuran

11

Nilai

Waktu

Komponen

Rf

(menit)

1. 10,1

1. 0,9182

2. 10,8

2. 0,9818

1. 10,7

1. 0,9727

2. 11

2. 1

1. 10

1. 0,9091

2. 10,6

2. 0,9636

3. 11

3. 1

1. 0,6

1. 0,0545

1. 3

1. 0,2727

2. 10,8

2. 0,9899

3. 11

3. 1

48

VI.

PERHITUNGAN

a. Sampel 1 (Coklat Pasta)


1.
2.

b. Sampel 2 (Hijau Pasta)


1.
2.

c. Sampel 3 (Tinta)
1.
2.
3.

d. Sampel 4 (Methylen Blue)


1.

e. Sampel 5 (Campuran)
1.
2.
3.

VII.

ANALISA PERCOBAAN
Dari percobaan yang dilakukan yaitu: Percobaan Kromatografi
Lapis Tipis dapat dianalisis bahwa kromatografi lapis tipis adalah salah
satu analisis kualitatif dari suatu sampel yang ingin dideteksi dengan
memisahkan komponen-komponen sampel berdasarkan perbedaan
kepolaran. Didalam kromatografi lapis tipis terjadi 2 fase yaitu fase diam
dan fase gerak. Fase diam pada KLT adalah silica gel, sedangkan fase
gerak etanol yang bersifat semi polar. Eluen tersebut dimasukkan ke
dalam chamber kromatografi kemudian ditutup. Menutup chamber
tersebut bertujuan unutk menyakinkan bahwa kondisi di dalam chamber
terjenuhkan oleh uap dari pelarut. Kondisi dalam chamber yang jenuh
dapat mencegah penguapan karena pelarut bergerak lambat pada
lempengan. Komponen-komponen yang berada dari campuran (sampel)
akan bergerak pada kecepatan yang berbeda dan akan tampak sebagai
perbedaan warna pada masing-masing sampel. Senyawa yang memiliki
polaritas tinggi akan berinteraksi baik dengan silica gel (pelat) dan
memiliki nilai Rf yang kecil, sedangkan senyawa dengan polaritas rendah
akan berinteraksi dengan pelarut dan memiliki nilai Rf yang besar.
Adapun sampel yang digunakan yaitu:
1. Zat warna coklat (Pasta Coklat)
2. Zat warna hijau (Pasta Pandan)
3. Zat warna hitam (Tinta)
4. Methylen Blue
5. Campuran

VIII.

KESIMPULAN
Dari percobaan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa:
1. Kromatografi lapis tipis adalah salah satu analisis kualitatif dari
suatu sampel yang ingin dideteksi dengan memisahkan komponenkomponen sampel berdasarkan perbedaan kepolaran
2. Fase diam pada percobaan kali ini adalah silica gel, sedangkan
fase geraknya adalah etanol.
3. Cara menentukan sifat kepolaran suatu sampel dapat dilihat dari
adanya komponen yang merambat mengikutii fase gerak.
4. Nilai Rf akan semakin besar bila senyawa tersebut kurang polar
dan berinteraksi dengan absorben polar pada pelat KLT.

IX.

DAFTAR PUSTAKA
Jobsheet.

2014.

Kimia

Sriwijaya. Palembang

Analitik

Instrument.

Politeknik

Negeri

KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS - 2

I.

TUJUAN PERCOBAAN
Setelah

melakukan percobaan

ini

mahasiswa

diharapkan

dapat:

Melakukan analisa sampel (zat warna) secara kromatogarfi lapis tipis.

II.

ALAT DAN BAHAN YANG DIGUNAKAN


a. Alat yang digunakan:
1. Pelat TLC
2. Chamber kromatogarfi
3. Pipa kapiler
4. Gelas Kimia
b. Bahan yang digunakan:
1. Etanol
2. Blue
3. Saos
4. Betadine
5. Obat Batuk
6. Sirup
7. Campuran (Obat batuk + Sirup)

III.

TEORI SINGKAT
KLT (kromatografi lapis tipis) atau TLC (thin layer chromatography)
merupakan salah satu cara untuk memisahkan dan menganalisa zat
dalam jumlah kecil. Pada TLC, adsorben tersebar secara merata dalam
permukaan gelas dan membentuk suatu lapisan tipis.terbentuk pita-pita
yang tidak horizontal, maka sulit untuk mengumpulkan komponenkomponen, ujung dari pita kedua akan terbawa sebelum seluruh pita
pertama keluar dari kolom. Ada dua factor penyebab masalah ini yaitu
permukaan atas dari adsorben tidak rata serta kolom tidak benar-benar
vertical.
Fenomena ini adalah terbentuknya lengkungan pada salah satu sisi
pita. Hal ini dapat terjadi bila ada ketidakteraturan pada permukaan
adsorben atau terdapat gelembung udara pada kolom.
Pada TLC, cuplikan yang dipisahkan atau dianalisa diteteskan pada
pelat dengan menggunakan kapiler. Pemisahan dapat terjadi dengan
memasukkan pelat ke dalam chamber (kamar) yang telah jenuh dengan
pelarut. Pelarutakan naik secara perlahan-lahan sepanjang pelat
tersebut. Cuplikan akan terdistribusi antara fasa diam (adsorben) dan
fasa gerak (pelarut). Sebagai fasa gerak umumnya zat yang kurang polar
dibandingkan dengan fasa diam sehingga komponen dalam cuplikan
yang kurang polar akan bergerak lebih cepat dari komponen cuplikan
yang lebih polar. Bila larutan hamper mencapai ujung pelat maka pelat
dikeluarkan dari chamber dan dibiarkan hingga pelarut yang menempel
pada pelat menguap. Akan tterlihat noda-noda pada pelat yang
menunjukkan jumlah komponen yang ada dalam cuplikan. Perbandingan
antar jarak perjalanan komponen dengan jarrak perjalanan pelarut
disebut Rf. Rf dinyatakan dengan bilangan dan dapat digambarkan
seperti berikut ini:

Nilai Rf untuk setiap warna dihitung dengan rumus sebagai berikut:

Sebagai contoh, jika komponen berwarna merah berjarak 1.7 cm dari garis
awal, sementara pelarut berjarak 5.0 cm sehingga nilai Rf untuk komponen
berwarna merah menjadi:

Bila kondisi pengerjaan sama, maka Rfuntuk komponen tertentu adalah


sama. Nilai Rf dapat digunakan untuk mengidentifikasi komponen.

TEORI TAMBAHAN
1. PENGERTIAN KLT
Kromatografi lapis tipis adalah salah satu analisis kulitatif dari suatu
sampel yang ingin dideteksi dengan memisahkan komponen-komponen
sampel berdasarkan perbedaan kepolaran. Kromatografi lapis tipis
merupakan cara pemisahan campuran senyawa menjadi senyawa
murninya dan mengetahui kuantitasnya yang digunakan.

Gambar 1. Kromatografi Lapis Tipis

Dalam KLT terjadi 2 fase, yaitu :


3. Fase Diam

Penjerap yang sering digunakan dalam KLT adalah silika gel


sementara

mekanisme

sorpsi-desorpsi

suatu

mekanisme

perpindahan solut dari fase diam ke fase gerak atau sebaliknya )


yang utama pada KLT adalah partisi dan adsorbsi.
4. Fase Gerak

Fase gerak pada KLT, yaitu pelarut atau campuran pelarut yang
sesuai.

Sistem yang paling sederhana adalah dengan menggunakan


campuran 2 pelarut organik karena daya elusi campuran kedua
pelarut ini dapat mudah diatur sedemikian rupa sehingga
pemisahan dapat terjadi secara optimal.

Petunjuk Memilih Fase Gerak


5. Fase gerak harus mempunyai kemurnian yang sangat tinggi karena
KLT merupkan teknik yang sensitive
6. Daya elusi fase gerak harus diatur sedemikian rupa sehingga harga
Rf solut terletak antara 0,2-0,8 untuk memaksimalkan pemisahan
7. Untuk pemisahan dengan menggunakan fase diam polar seperti
silika gel, polaritas fase gerak akan menentukan kecepatan migrasi
solut yang berarti juga menentukan nilai Rf. Penambahan pelarut
yang bersifat sedikit polar seperti dietil eter ke dalam pelarut non
polar seperti metil benzen akan meningkatkan harga Rf secara
signifikan .
8. Solut-solut ionik dan solut-solut polar lebih baik digunakan
campuran pelarut sebagai fase geraknya seperti campuran air dan
metanol dengan perbandingan tertentu. Penambahan sedikit asam
etanoat atau amonia masing-masing akan meningkatakan elusi
solut-solut yang bersifat basa dan asam.

2. Syarat-syarat pelarut yang diinginkan dalam KLT :


3.

Pelarut yang digunakan tergantung pada sifat zat yang akan


dianalisa. Yang polar akan larut pada pelarut polar.

4.

Untuk komponen yang lebih polar.

3. Fungsi Kromatografi Lapis Tipis


12. Digunakan untuk tujuan analitik
13. Identifikasi komponen dapat dilakukan dengan pereaksi warna,
fluoresensi atau pemadaman fluoresensi, radiasi UV
14. Dapat dilakukan elusi dengan mekanik ( ascending ) atau menurun
( descending ) atau dengan cara elusi 2 dimensi
15. Ketepatan penentuan kadar akan lebih baik karena komponen
yang ditentukan merupakan noda yang tidak bergerak
16. Identifikasi komponen dijabarkan dalam harga Rf ( retardation
factor ) yang dalam penentuan kualitatif dibandingakan dengan
standar.
17. Untuk penentuan jumlah komponen dalam campuran.
18. Untuk penentuan identitas antara dua campuran.
19. Untuk memonitor perkembangan reaksi.
20. Untuk penentuan keefektifan pemurnian.
21. Untuk penentuan kondisi yang sesuai untuk pemisahan pada
kromatografi kolom.
22. Untuk memonitor kromatografi kolom .

4. Pelaksanaan KLT
Pelaksanaan kromatografi lapis tipis menggunakan sebuah lapis
tipis silika atau alumina yang seragam pada sebuah lempeng gelas
atau logam atau plastik yang keras. Jel silika atau alumina merupakan
fase diam. Fase diam untuk kromatografi lapis tipis seringkali juga
mengandung substansi yang mana dapat berpendarflour dalam sinar
ultraviolet. Fase gerak merupakan pelarut atau campuran pelarut yang
sesuai. Pelaksanaan ini biasanya dalam pemisahan warna yang
merupakan gabungan dari beberapa zat pewarna atau pemisahan dan
isolasi pigmen tanaman berwarna hijau dan kuning.

Kromatogram

Gambar 2. Kromatogram
Sebuah garis menggunakan pinsil digambar dekat bagian bawah
lempengan dan setetes pelarut dari campuran pewarna ditempatkan pada
garis itu. Diberikan penandaan pada garis di lempengan untuk menunjukkan
posisi awal dari tetesan. Jika ini dilakukan menggunakan tinta, pewarna dari
tinta akan bergerak selayaknya kromatogram dibentuk. Ketika bercak dari
campuran itu mengering, lempengan ditempatkan dalam sebuah gelas kimia
bertutup berisi pelarut dalam jumlah yang tidak terlalu banyak. Perlu
diperhatikan bahwa batas pelarut berada di bawah garis dimana posisi
bercak berada. Alasan untuk menutup gelas kimia adalah untuk meyakinkan
bawah kondisi dalam gelas kimia terjenuhkan oleh uap dari pelarut. Untuk
mendapatkan kondisi ini, dalam gelas kimia biasanya ditempatkan beberapa
kertas saring yang terbasahi oleh pelarut. Kondisi jenuh dalam gelas kimia
dengan uap mencegah penguapan pelarut. Karena pelarut bergerak lambat
pada lempengan, komponen-komponen yang berbeda dari campuran
pewarna akan bergerak pada kecepatan yang berbeda dan akan tampak
sebagai perbedaan bercak warna.

Gambar 3. Lempengan Kromatogram


Gambar

menunjukkan

lempengan

setalah

pelarut

bergerak

setengah dari lempengan. Pelarut dapat mencapai sampai pada bagian


atas dari lempengan. Ini akan memberikan pemisahan maksimal dari
komponen-komponen yang berwarna untuk kombinasi tertentu dari pelarut
dan fase diam.

5. Perhitungan Nilai Rf
Jumlah perbedaan warna yang telah terbentuk dari campuran,
pengukuran diperoleh dari lempengan untuk memudahkan identifikasi
senyawa-senyawa yang muncul. Pengukuran ini berdasarkan pada
jarak yang ditempuh oleh pelarut dan jarak yang ditempuh bercak
masing-masing.

Gambar 4. Lempeng Kromatogram

Sebagai contoh, jika komponen berwarna merah bergerak dari 1.7 cm


dari garis awal, sementara pelarut berjarak 5.0 cm, sehingga nilai R f
untuk komponen berwarna merah menjadi:

6. Faktor yang mempengaruhi gerak dan harga Rf :


5.

Sifat dari penyerap dan derajat aktivitas.

6.

Struktur kimia dari senyawa dipisahkan.

7.

Kerapan dari satu pasang penyerap.

8.

Pelarut (derajat kemurnian) fase bergerak.

7. Analisis Sampel yang Tidak Berwarna


2. Menggunakan Pendarflour
Fase diam pada sebuah lempengan lapis tipis seringkali
memiliki substansi yang ditambahkan kedalamnya, supaya
menghasilkan pendaran flour ketika diberikan sinar ultraviolet (UV).
Pendaran ini ditutupi pada posisi dimana bercak pada
kromatogram berada, meskipun bercak-bercak itu tidak tampak
berwarna jika dilihat dengan mata. Ketika sinar UV diberikan pada
lempengan, akan timbul dari posisi yang berbeda dengan posisi
bercak-bercak. Bercak tampak sebagai bidang kecil yang gelap.

Gambar 5. Lempeng Kromatogram Pendaran

2. Penunjukkan bercak secara kimia


Dalam beberapa kasus, dimungkinkan untuk membuat bercakbercak menjadi tampak dengan jalan mereaksikannya dengan zat
kimia sehingga menghasilkan produk yang berwarna. Sebuah contoh
yang baik adalah kromatogram yang dihasilkan dari campuran asam
amino. Kromatogram dapat dikeringkan dan disemprotkan dengan
larutan ninhidrin.
Ninhidrin bereaksi dengan asam amino menghasilkan senyawasenyawa berwarna, umumnya coklat atau ungu. Dalam metode lain,
kromatogram dikeringkan kembali dan kemudian ditempatkan pada
wadah bertutup (seperti gelas kimia dengan tutupan gelas arloji)
bersama dengan kristal iodium. Uap iodium dalam wadah dapat
berekasi dengan bercak pada kromatogram, atau dapat dilekatkan
lebih dekat pada bercak daripada lempengan. Substansi yang
dianalisis tampak sebagai bercak-bercak kecoklatan.

Gambar 6. Lempeng Kromatogram

8. Keuntungan dan Kelemahan KLT


Keuntungan KLT :
8.

Waktu relatif singkat

9.

Menggunakan inestasi yang kecil.

10. Paling cocok untuk analisis bahan alam dan obat.


11. Jumlah cuplikan yang dengan sedikit.
12. Kebutuhaan ruang minimum.
13. Penanganan sederhana.
14. Zat yang bersifat asam/basa kuat dapat dipisahkan dengan
KLT.
Kelemahan KLT :
3. Hanya merupakan langkah awal untuk menentukan pelarut
yang cocok dengan pada kromatografi kolom
4. Noda yang terbetuk belum tentu senyawa murni.

IV.

PROSEDUR KERJA
1. Menyediakan pelat yang telah dilapisi.
2. Meneteskan cuplikan dengan menggunakan pipa kapiler pada
permukaan pelat.
3. Memasukkan pelat kedalam chamber yang telah diisi dengan
etanol. Tetesan yang berada pada pelat tidak boleh terendam
dalam pelarut.
4. Membiarkan pelarut naik perlahan sepanjang pelat hingga hampir
dicapai ujung yang lebih dari pelat. Menandai batas perjalanan
pelarut.
5. Membiarkan pelat kering dan membandingkan harga Rf dari nodanoda yang terbentuk.

V.

DATA PENGAMATAN
Zat Warna

Jarak (cm)

Nilai

Waktu

Komponen

Rf

(menit)

Blue

Saos

1. 4,9

1. 0,49

2. 7,6

2. 0,76

Pelarut

Betadine
Obat Batuk

10

1. 1,9

1. 0,19

2. 7,6

2. 0,76

Sirup

Campuran

1. 1,4

1. 0,14

(Sirup + Obat

2. 6,4

2. 0,64

Batuk)

30

VI.

PERHITUNGAN

a. Sampel 2 (Saos)
1.
2.

b. Sampel 4 (Obat Batuk)


1.
2.

c. Sampel 6 (Campuran Sirup + Obat Batuk)


1.
2.

VII.

ANALISA PERCOBAAN
Dari percobaan yang dilakukan yaitu: Percobaan Kromatografi
Lapis Tipis dapat dianalisis bahwa percobaan kali ini menggunakan zat
dengan pelarutnya adalah etanol. Sampel yang digunakan adalah:
1. Blue
2. Saos
3. Betadine
4. Sirup
5. Obat Batuk
6. Campuran (Sirup + Obat Batuk)
Pelat

yang

akan

digunakan

diteteskan

dengan

cuplikan,

sebelumya diberi tanda agar jarak antara cuplikan merata. Setelah pelat
diteteskan dan dimasukkan ke dalam chamber, kemudian diberikan
waktu agar pelarut naik. Zat-zat tersebut bergerak pada lempengan
kromatografi sebagaimana halnya pergerakan pelarut. Senyawa yang
terperangkap dibagian paling bawah menunjukkan bahwa senyawa
tersebut paling tinggi kepolarannya. Senywa ini dapat membentuk ikatan
hydrogen yang melarut pada silica lebih kuat dibanding dengan senyawa
lainnya.
Data yang didapatkan pada masing-masing sampet yaitu, jarak
pelarut yang didapatkan adalah 10 cm. Sampel 2 (Saos) memiliki 2 fase.
Sampel 4 (Obat Batuk) memiliki 2 fase. Sampel 5 (Sirup) memiliki 2 fase.
Sampel 6 (Campuran Sirup + Obat Batuk) memiliki 2 fase.

VIII.

KESIMPULAN
Dari percobaan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa:
1. Kromatografi lapis tipis adalah salah satu analisis kualitatif dari
suatu sampel yang ingin dideteksi dengan memisahkan komponenkomponen sampel berdasarkan perbedaan kepolaran
2. Fase diam pada percobaan kali ini adalah silica gel/pelat,
sedangkan fase geraknya adalah etanol.
3. Dari percobaan dapat dilihat bahwa jarak dari setiap sampel sangat
bervariasi dari yang paling pendek hingga paling panjang. Hal ini
dikarenakan semakin besar jaark komponen sampel artinya sampel
tersebut polar

terhadap pelat dibuktikan dengan nilai Rf yang

semakin besar. Sebaliknya, bila suatu sampel mempunyai nilai Rf


yang kecil atau jarak komponennya kecil/pendek maka samoel
tersebut dikatakan non polar terhadap pelat.

IX.

DAFTAR PUSTAKA
Jobsheet.

2014.

Kimia

Sriwijaya. Palembang

Analitik

Instrument.

Politeknik

Negeri

Gambar Alat

Chamber Kromatografi

Pipa Kapiler

Gelas Kimia

Pelat KLT

Gambar Alat

Chamber Kromatografi

Pipa Kapiler

Gelas Kimia

Pelat KLT