Anda di halaman 1dari 72

Oleh : Joko Susilo, ST

Bit memiliki fungsi untuk


membuat lubang dengan
cara
menghancurkan
batuan dengan bantuan
WOB dan RPM

1. DRAG BIT
2. ROLLER CONE BIT
A. Mill Tooth Bit
B. Insert Bit
3. FIXED CUTTER BIT
A. PDC
B. Diamond Bit
- Natural Diamond
- TSP
- Impregnated Diamond

Merupakan bit pada rotary drilling tertua


yang masih tetap dipakai.
Bit ini dipakai untuk formasi sangat
lunak dan lunak.
Cara pengrusakan batuan
pengerukan (scrapping)
rendah
dan
RPM
dikombinasikan dengan
yang tinggi.

adalah dengan
dengan WOB
tinggi
serta
fluid velocity

Type :
Four Way Drag Bit.
Repleceable Blade.
Rock Cutter Blades soft Formations

Cone bit ini gigi-giginya dibuat


dari baja tempa yang berkualitas
tinggi
dan
diperkeras
permukaannya dengan carburized
serta dilapisi serbuk tungsten
carbide.
Untuk formasi lunak :
Berbentuk panjang dan bersudut
kecil (tajam) serta tersusun
jarang.
Untuk formasi yang makin keras :
Berbentuk lebih pendek dan
bersudut besar serta tersusun
rapat.

Number 1 Cone

Partially Deleted
Tooth

Gage Row Tooth

Tooth Hardfacing
(Leading flank)
Spearpoint

Number 3 Cone

Intermesh Area
or Groove

Number 2 Cone
Pitch Break

Semua gigi bit terbuat dari


tungsten carbide yang ditanam
dan dipress dengan mesin pada
cone terbuat dari alloy steel.
Bit ini dapat menghasilkan gigi
pemecah batuan yang sangat
tahan abrasive dan sangat tahan
terhadap beban tinggi.
Jenis gigi bit :
Berpangkal silinder, berujung
konis dan berbentuk
seperti betel tumpul.
Berpangkal silinder, berujung
konis bulat berbentuk
lonjong sampai bola.

Pada bit ini terdapat cone yang


dapat berputar dan mempunyai
gigi untuk merusak batuan bila
diputar
serta
diberi
beban
kebawah.
Type bit ini dibedakan dari jumlah
cone yang dipakai antara lain :
Single cone rock bit.
Two cone rock bit.
Three cone rock bit.
Four cone bit (cross roller bits).

Jenis ini memiliki beberapa jenis cutter


yang dapat diganti ganti dengan cara
melepas ball bearing melalui bit shank
nya.
Type ini tidak umum dipakai lagi karena
hasil lubang tidak baik dan ROP lambat.
Contoh :
Hasil test untuk proto type hanya mampu
mendapatkan pada formasi fracture
besalt ROP 46 Fph dan pada volcanic
lava 47 Fph dengan WOB antara 15.000
lbs sampai 18.000 lbs.

Kontruksi ini terdiri dari 2 cone


yang mempunyai gigi-gigi (cutter)
yang dapat berputar karena
dilengkapi dengan bearing yang
memiliki sistem pelumas.
Jenis ini sangat cocok pada
formasi lemah, lengket dan
unconsolidated.
Disamping itu dapat pula untuk
membuat lubang miring dengan
memasang nozzle besar pada kaki
cone yang kosong.

Bit ini merupakan jenis bit yang


paling luas dipergunakan pada
industri pengeboran.
Kontruksi
yang
dipergunakan
disesuaikan dengan formasi yang
akan dibor, mulai formasi lunak,
keras dan sangat keras.

Type ini didesain untuk mengebor


lapisan soft sampai medium yang
memiliki compressive strength
rendah dan drillability yang tinggi,
khusus
yang
medium
harus
memiliki gage protection.

Merupakan type Bit yang


tidak memiliki Cone
Dipakai pada formasi
medium sampai sngat keras

PDC (Polycrystalline Diamond Compact)


Bit ini meiliki keuntungan sama dengan
Natural Diamond bit tapi bit ini
menggunakan Synthetic Diamond.

Natural Diamond
Kekerasan dan ketahanannya merata terbuat
dari diamond asli yang digunakan untuk
mengebor

TSP (Thermally Stable Polycrystalline)


TSP di disain sama dengan PDC namun lebih
tahan pada temperatur yang tinggi

Impregnated Diamond

Rock bit terbagi dari 4


bagian utama :
1. Cutter (cone).
2. Bearing.
3. Body.
4. Water courses.

Roller Cone Bit Terminology

Lubricant
Reservoir

Lubricant
Passageway

Primary
(Outer)
Secondary Bearing
(Inner)
Bearing

Seals
Ball Bearings

Cutter yang memiliki gigi-gigi


yang
berfungsi
untuk
melakukan
pengrusakan
batuan selama bit diputar.
Jarak antara titik pusat bit
dengan garis poros dari cutter
disebut cutter offset.
Dengan melihat cutter offset ini
jenis dan type bit dapat
diketahui. Untuk jenis formasi
dengan melihat titik offset,
jarak
yang
lebih
besar
digunakan pada formasi lunak.
Sedangkan titik offset yang
rapat atau tidak memiliki offset
digunakan
formasi
yang
semakin keras.

Pada saat bit diberi beban selama mengebor


nose fristion dan ball bearing mempunyai
fungsi utama menahan beban longitudinal
thrust.
Sedangkan friction bearing dan roller
bearing berfungsi melawan beban radial.
Untuk bit yang akan diberi beban yang tinggi
roller bearing ini diganti dengan journal
bearing.

Agar cone pada bit berputar dengan baik dan kokoh


pada poros cone diperlukan suatu sistem bearing yang
memadai.
Konstruksi bearing :
- Nose friction bearing.
- Friction bearing.
- Ball bearing.
- Roller bearing.

Roller Bearing

Rollers

Roller Bearing Exploded View


Bearing
Seals(s)
Rollers
Ball Bearings
Thrust Washer
Rollers

Thrust Plug

Friction / Journal Bearing

Bearing Sleeve

Friction Bearing Exploded View


Bearing
Seals(s)
Bearing Sleeve

Ball Bearings
Thrust Washer
Thrust Cap

Roller Bearing: Loading Conditions


High point loading
Potential fatigue failure

Applied Load (WOB)

Friction Bearing: Loading Conditions


Even load distribution
Higher load capability

Applied Load (WOB)

Dilumasi dengan lumpur bor, untuk cone yang tidak memiliki

seal (bit yang berukuran besar).


Dilumasi dengan pelumas yang tersimpan di reservoir pada rib

badan bit dan ditutup diafrahma, ini dilengkapi seal pada


pangkal cone.
Dilumasi dengan udara, untuk bit yang digunakan mengebor

dengan udara.

Ada dua type water courses yaitu type conventional dan type
jet.
Type Conventional.
Type ini lumpur akan memancar tepat diatas cone dengan
tujuan untuk membersihkan cone dan gigi-gigi bit dari
cutting, kemudian lumpur baru membersihkan dasar lubang.
Type Jet.
Type ini lumpur memancar kearah dasar lubang dengan
tujuan utama membersihkan cutting didasar lubang dan
membersihkan gigi dan cone dari bit.
Dari kedua type ini sampai sekarang masih dipakai karena
dapat menghasilkan ROP yang lebih besar.

Type Conventional

Type Jet

Nozzle Size

Menyambung bit yang perlu diperhatikan adalah :


1. Pin dapat terulir baik dengan bit sub.
2. Ikatan torsi harus sesuai yang di ijinkan.
3. Jika terlalu keras ikatan sambungan dapat
menyebabkan ulir tertarik menyebabkan tegangan
pada pin.
4. Jika kerapan sambungan hanya dishoulder
mengakibatkan bocor pada sambungan ini akan
menjadikan wash out.
5. Cek Box DC atau Bit sub apakah rusak.
6. Untuk insert hati-hati saat handling, jangan sampai
jatuh.
7. Gunakan bit breaker yang sesuai.
8. Khusus extended nozzle harus mempergunakan bit
breaker yang khusus.

Ukuran Bit
inch

Ukuran API Reg. Shank


inch

Torsi
Ft - lbs

3 - 4
4 - 5
5 - 7
7 - 9
9 - 9
9 - 26
14 - 26
17 - 26

2 Reg
2 Reg
3 Reg
4 Reg
5 Reg
6 Reg
7 Reg
8 Reg

3.000 3.500
6.000 7.000
7.000 9.000
12.000 16.000
23.000 27.000
28.000 32.000
34.000 40.000
20.000 60.000

Untuk menurunkan bit baru yang harus di perhatikan :


1.

Pelan-pelan bila melalui dog leg.

2.

Apabila bit yang keluar berkondisi under gauge


lakukan reaming.

3.

Hati-hati jika melalui top liner jangan sampai


benturan.

4.

Jika DP panjang jangan menghentikan


mendadak saat mendekati dasar lubang.

5.

Lakukan pembersihan lubang dahulu.

bit

Untuk memperoleh efektifitas rock bit performance


adalah dengan breaking in yang benar.
Cara melakukan break in :
1. Bor lubang 1 ft dengan RPM dan WOB rendah.
2. Naikkan WOB secara bertahap 5.000 lbs.
3. Naikkan RPM secara bertahap 10 20 smp RPM
yang diinginkan.
4. Lanjutkan dengan Drill off test.

Prosedur drill off test :


1. Setelah melakukan break in dengan baik lakukan bit
putar dengan RPM yang dipilih.
2. Berikan WOB maximum yang disarankan oleh
pabrik pembuat.
3. Ikat handel rem drum drawwork.
4. Catat waktu yang diperlukan drill off WOB setiap
2.000 lbs.
5. Ulangi test serupa dengan RPM yang berbeda
beberapa kali.
6. Buat tabel.
7. Waktu yang tersingkat dengn WOB dan RPM yang
berbeda itu yang optimum.

Bit Reed HS 51 ukuran 9 pada kedalaman 9.000 ft.


Dari data yang dulu diketahui untuk bit Hughes X3A telah dipakai
WOB 100/100 dengan 35.000 lbs.
Untuk test lakukan 100 RPM dengan WOB 45.000 lbs. Ikat handel
rem drum drawwork, catat waktu drill off pada interval waktu.
Hasilnya : Waktu yang singkat itulah yang optimum.
RPM

WOB
Rata-Rata

80

100

120

43.000
41.000
39.000
37.000
35.000
33.000
31.000
29.000

20
22
24
25
25
27
28
29

25
23
22
20
20
22
24
27

22
22
20
19
17
18
19
20

Bagian bit yang diukur keausannya meliputi :

1.Gigi (teeth).
2.Bearing.
3.Diameter (gauge).
Hasil pengukuran ditulis dalam bentuk singkatan
berdasarkan standard IADC.

Keausan gigi bit diukur dan disebutkan dengan


perdelapan yang aus dan disingkat dengan huruf T
ditambah dengan bilangan angka keausan gigi bit
Penulisan keausan gigi :
T1
= Telah aus 1/8 bagian dari tinggi.
T2
= Telah aus 2/8 bagian dari tinggi.
T3
= Telah aus 3/8 bagian dari tinggi.
T4
= Telah aus 4/8 bagian dari tinggi.
T5
= Telah aus 5/8 bagian dari tinggi.
T6
= Telah aus 6/8 bagian dari tinggi.
T7
= Telah aus 7/8 bagian dari tinggi.
T8
= Telah aus semuanya.

Keterangan keausan yang ikut dituliskan :


BT
= Gigi Patah (broken teeth).
BU
= Gigi tergumpal batuan (balled up).
CT
= Gigi terluka / lekuk-lekuk (chipped teeth).
LT
= Gigi lepas (lost teeth).
TT
= Tracking teeth.
UW = Aus rata (uniform wear).
WT = Gigi aus (warn teeth).

BT

= Gigi Patah (broken teeth).

BU

= Gigi tergumpal batuan (balled up).

CT

= Gigi terluka / lekuk-lekuk (chipped teeth).

LT

= Gigi lepas (lost teeth).

TT

= Tracking teeth.

WT

= Gigi aus (warn teeth).

Kondisi cone dapat pula disertakan penulisan :


CA /AC
= Bila cone retak memanjang.
CC
= Bila cone retak melingkar.
CE/EC
= Bila cone tererosi.
CI
= Bila saling menggesek.
LC
= Bila cone lepas.

Contoh penulisan keausan gigi untuk milled tooth :


T 3 BT LC.
Gigi aus 3/8 bagian dari tinggi.
Gigi patah.
Cone lepas.

Penulisan keausan gigi Insert :


T1

= 1/8 x dari jumlah gigi yang patah/rusak.

T2

= 2/8 x dari jumlah gigi yang patah/rusak.

T3

= 3/8 x dari jumlah gigi yang patah/rusak.

T4

= 4/8 x dari jumlah gigi yang patah/rusak.

T5

= 5/8 x dari jumlah gigi yang patah/rusak.

T6

= 6/8 x dari jumlah gigi yang patah/rusak.

T7

= 7/8 x dari jumlah gigi yang patah/rusak.

T8

= semua gigi patah/rusak.

Formula penulisan keausan gigi Insert :

8B
T

=
L

Dimana :
T
= Grading (di dalam 8).
B
= Jumlah gigi yang patah/ lepas dari pahat.
L
= Jumlah seluruh gigi insert (tabel).

CONTOH
TABLE
Total Cutting structure Insert For Security Bits
SIZE

TYPE

INSERT

M 88

50

S 88
M 88
H 88
H 99

105
97
104
165

S 88
H - 100

120
187

SIZE

TYPE

INSERT

S 88
H 88
H - 99

120
133
180

S 88
M 88
H 88
H 100

139
151
127
109

S 88
M 88
H 88
H - 100

137
151
137
224

SIZE

TYPE

INSERT

S 86
S 88
M 88
H 88
H 100

146
194
168
212

10

S 88
M 88
H 88
H 100

133
177
180
275

12

S 84
S 86
S 88
M 88
H 88
H 100

122
178
174
224
198
311

Contoh :
Bit insert size 8 type M 88 kondisi insert yang
rusak atau patah 21 buah.
Penyelesaian :
8 x 21
T
=
151
= 1.11
Jadi T = 1

Untuk dapat mengukur keausan bearing perlu pengalaman


dilapangan dengan merasakan sendiri kelonggaran bearing dan
melihat bagian luar.
Penulisan keausan :
B1
= Usia bearing telah dipakai 1/8.
B2
= Usia bearing telah dipakai 2/8 (masih relatif tidak kocak).
B3
= Usia bearing telah dipakai 3/8
B4
= Usia bearing telah dipakai 4/8 (setengah aus).
B5
= Usia bearing telah dipakai 5/8.
B6
= Usia bearing telah dipakai 6/8 (lepas atau sudah aus
berat)
B7
= Usia bearing telah dipakai 7/8.
B8
= Macet atau hilang.

Dibelakang penulisan dapat ditambahkan keterangan :


BR
= Roller bearing ada yang pecah.
LB
= Bila ada bearing yang lepas.
LR
= Bila ada bearing roller yang lepas.
SE
= Bila seal baik.
SF
= Bila seal bocor.
SC
= Bila diragukan kondisinya.

Untuk mengukur diameter bit alat yang digunakan


antara lain ring gauge dan mistar pengukur.
Cara mengukur :
Masukkan ring gauge ke bit.
Ring gauge tempelkan ke dua cone.
Ukur jarak cone yang tidak nempel.
Hasil pengukuran dikalikan 2/3.
Misal :
Hasil pengukuran 7/16, karena dikalikan 2/3 maka
keausan bit 3/8 kondisi ini ditulis O 3/8 artinya out of
gauge 3/8.

Pemilihan bit untuk suatu pengeboran berdasarkan :


Bit record dari sumur sebelumnya.
Data geolgi yang akan dibor.
Analisa perhitungan biaya per feet untuk bit yang
dipakai sebelumnya.
Break even calculation.
Evaluasi keausan bit yang dicabut.
Design dari bit.

Merupakan laporan yang memberikan data selama proses


pengeboran sampai selesai.
Data tersebut :
Urutan bit yang dipakai.
Ukuran bit.
Type bit.
Ukuran nozzle.
Kedalaman cabut.
Foottage.
Jam putar bit.
ROP, WOB dan RPM.
Data pompa.
Data lumpur.
Data kondisi bit setelah dicabut.

Interpretasi dari well log yang baik akan


mendapatkan kedalaman dan ketebalan formasi.
Dengan dikombinasikan data type bit serta
keausannya dan bit record dapat menentukan
kapan bit harus dicabut dan diganti bit baru yang
sesuai dengan formasi selanjutnya.

Didalam memperkecil biaya pengeboran per foot


tergantung mengoptimalkan beberapa faktor antara
lain :
Rata-rata ROP.
Bit footage (interval yang dapat dibuat per satu bit).
Biaya rig per hari.
Waktu round trip yang diperlukan setiap bit.
Harga bit.

Formula untuk menghitung biaya per foot :


R (T + D) + B
C
=
F
Dimana :
C
= Biaya pengeboran per foot, $/ft.
R
= Biaya operasi rig, $/jam.
T
= Waktu yang diperlukan round trip, jam.
D
= Lama mengebor, jam.
B
= Harga bit, $.
F
= Panjang lubang yang dihasilkan bit (footage), ft

Data :
Rig operating cost per jam
= $ 100.
Trip time
= 8 jam.
Bit A Milled tooth harga
= $ 250.
Footage
= 200 ft dalam 10 jam.
ROP
= 20 ft/jam.
Pada kedalaman formasi yang sama pada sumur berikutnya
dipergunakan bit B Insert tungstent carbide.
Bit B insert harga
= $ 1.200
Footage
= 600 ft dalam 40 jam.
ROP
= 15 ft/jam.

Kalau dibandingkan biaya pengeboran lubang per foot adalah :


Untuk Bit A Milled Tooth.
$.100 ( 8 jam + 10 Jam ) + $.250
C
=
200 ft
= $.10.25/ft
Untuk Bit B Insert.

$.100 ( 8 jam + 40 Jam ) + $.1.200


C

=
= $.10/ft

600 ft

Tujuan utama evaluasi keausan bit :


Memperbaiki pemilihan type bit.
Meneliti operating practice pengeboran (WOB,

RPM, Hydraulic, Stabilization) ini dilihat kondisi bit


saat dicabut.
Untuk mendapatkan pemanfaatan bit semaksimal

mungkin dengan memperbaiki waktu pencabutan.