Anda di halaman 1dari 3

Regulator tregangan adalah bagian power supply yang berfungsi untuk memberikan

stabilitas output pada suatu power supply. Output tegangan DC dari penyearah tanpa
regulator mempunyai kecenderungan berubah harganya saat dioperasikan. Adanya
perubahan pada masukan AC dan variasi beban merupakan penyebab utama
terjadinya ketidakstabilan pada power supply. Pada sebagian peralatan elektronika,
terjadinya perubahan catu daya akan berakibat cukup serius. Untuk mendapatkan
pencatu daya yang stabil diperlukan regulator tegangan. Regulator tegangan untuk
suatu power supply paling sederhana adalah menggunakan dioda zener. Rangkaian
dasar penggunaan dioda zener sebagai regulator tegangan dapat dilihat pada
gambar rangkaian dibawah.

Rangkaian pencatu daya (power supply) dengan regulator diode zener pada gambar
rangkaian diatas, merupakan contoh sederhana cara pemasangan regulator
tegangan dengan dioda zener. Diode zener dipasang paralel atau shunt dengan L
dan R . Regulator ini hanya memerlukan sebuah diode zener terhubung seri dengan
resistor RS . Perhatikan bahwa diode zener dipasang dalam posisi reverse bias.
Dengan cara pemasangan ini, diode zener hanya akan berkonduksi saat tegangan
reverse bias mencapai tegangan breakdown dioda zener. Penyearah berupa
rangkaian diode tipe jembatan (bridge) dengan proses penyaringan atau filter berupa
filter-RC. Resistor seri pada rangkaian ini berfungsi ganda. Pertama, resistor ini
menghubungkan C1 dan C2 sebagai rangkaian filter. Kedua, resistor ini berfungsi
sebagai resistor seri untuk regulator tegangan (dioda zener). Diode zener yang
dipasang dapat dengan sembarang dioda zener dengan tegangan breakdown misal
dioda zener 9 volt. Tegangan output transformer harus lebih tinggi dari tegangan
breakdown dioda zener, misalnya untuk penggunaan dioda zener 9 volt maka
gunakan output transformer 12 volt. Tegangan breakdown dioda zener biasanya
tertulis pada body dari dioda tersebut.

Titik breakdown-nya sebuah dioda zener bisa diatur dgn membuat berbagai ragam konsentrasi
doping-nya. Pada kondisi konsentrasi doping yg tinggi menyebabkan peningkatan total
pengotoran hingga tegangan zener / Vz menjadi kecil. Demikian dengan kondisi sebaliknya yaitu
bila konsentrasi dopingnya rendah, menyebabkan perolehan zener yg tinggi. Dipasaran kita akan
lebih sering menemukan dioda jenis ini dari yang tertinggi adalah 200v dan yang terendah Vz
1,8v, yang kemampuan dayanya mulai w sampai 50w.

Dioda zener adalah komponen yang berbeda dari jenis dioda lain karena mempunyai sisi eklusif
didaerah breakdown-nya, yang bisa difungsikan untuk stabilisator maupun untuk melakukan
pembatasan tegangan. Walaupun berbeda, namun pada umumnya jenis ini memliki kesamaan
strukttur dengan dioda lainnya. Dari kesamaan itu pun bisa kita lihat sedikit perbedaan dari
konsentrasi dopingnya. Persamaan umum lainnya adalah curva caracteristic-nya, sedangkan
perbedaannya adalah diwaktu bias menjadi mundur dan sampai pada tegangan breakdown-nya
menyebabkan arus dioda-nya jadi naik dgn begitu cepat layaknya yang di ilustrasikan di gambar
dibawah ini. Kawasan breakdown itulah yg dijadikan sebagai reference diterapkannya komponen
jenis dioda ini. Sebaliknya dengan jenis dioda lainnya, kawasan breakdown ini adalah daerah
sensitif yg mesti dijauhi serta janganlah sampai dikasih tegangan-mundur hingga ke kawasan
breakdown-nya itu. Alasannya karena pada dioda biasa bila dilakukan hal tersebut akan
membuatnya menjadi rusak.

Dioda Zener adalah diode yang memiliki karakteristik menyalurkan arus listrik mengalir ke arah yang berlawanan
jika tegangan yang diberikan melampaui batas "tegangan tembus" (breakdown voltage) atau "tegangan Zener".
Ini berlainan dari diode biasa yang hanya menyalurkan arus listrik ke satu arah.
Dioda yang biasa tidak akan mengalirkan arus listrik untuk mengalir secara berlawanan jika dicatu-balik (reversebiased) di bawah tegangan rusaknya. Jika melampaui batas tegangan operasional, diode biasa akan menjadi
rusak karena kelebihan arus listrik yang menyebabkan panas. Namun proses ini adalah reversibel jika dilakukan
dalam batas kemampuan. Dalam kasus pencatuan-maju (sesuai dengan arah gambar panah), diode ini akan
memberikan tegangan jatuh (drop voltage) sekitar 0.6 Volt yang biasa untuk diode silikon. Tegangan jatuh ini
tergantung dari jenis diode yang dipakai.
Sebuah diode Zener memiliki sifat yang hampir sama dengan diode biasa, kecuali bahwa alat ini sengaja dibuat
dengan tegangan tembus yang jauh dikurangi, disebut tegangan Zener. Sebuah diode Zener memiliki p-n
junction yang memiliki doping berat, yang memungkinkan elektron untuk tembus (tunnel) dari pita valensi
material tipe-p ke dalam pita konduksi material tipe-n. Sebuah diode Zener yang dicatu-balik akan menunjukan
perilaku tegangan tembus yang terkontrol dan akan melewatkan arus listrik untuk menjaga tegangan jatuh
supaya tetap pada tegangan Zener. Sebagai contoh, sebuah diode Zener 3.2 Volt akan menunjukan tegangan
jatuh pada 3.2 Volt jika diberi catu-balik. Namun, karena arusnya terbatasi, sehingga diode Zener biasanya
digunakan untuk membangkitkan tegangan referensi, untuk menstabilisasi tegangan aplikasi-aplikasi arus kecil,
untuk melewatkan arus besar diperlukan rangkaian pendukung IC atau beberapa transistor sebagai output.
Tegangan tembusnya dapat dikontrol secara tepat dalam proses doping. Toleransi dalam 0.05% bisa dicapai
walaupun toleransi yang paling biasa adalah 5% dan 10%.
Efek ini ditemukan oleh seorang fisikawan Amerika, Clarence Melvin Zener.
Mekanisme lainnya yang menghasilkan efek yang sama adalah efek avalanche, seperti di dalam diode
avalanche. Kedua tipe diode ini sebenarnya dibentuk melalui proses yang sama dan kedua efek sebenarnya
terjadi di kedua tipe diode ini. Dalam diode silikon, sampai dengan 5.6 Volt, efek Zener adalah efek utama dan
efek ini menunjukan koefisiensi temperatur yang negatif. Di atas 5.6 Volt, efek avalanche menjadi efek utama
dan juga menunjukan sifat koefisien temperatur positif.
Dalam diode Zener 5.6 Volt, kedua efek tersebut muncul bersamaan dan kedua koefisien temperatur
membatalkan satu sama lainnya. Sehingga, diode 5.6 Volt menjadi pilihan utama di aplikasi temperatur yang
sensitif.
Teknik-teknik manufaktur yang modern telah memungkinkan untuk membuat diode-diode yang memiliki
tegangan jauh lebih rendah dari 5.6 Volt dengan koefisien temperatur yang sangat kecil. Namun dengan
munculnya pemakai tegangan tinggi, koefisien temperatur muncul dengan singkat pula. Sebuah diode untuk 75
Volt memiliki koefisien panas yang 10 kali lipatnya koefisien sebuah diode 12 Volt.
Semua diode di pasaran dijual dengan tanda tulisan atau kode voltase operasinya ditulis dipermukaan kristal
diode , biasanya dijual dinamakan diode Zener.

Beri Nilai