Anda di halaman 1dari 7

UJIAN SUB SUMATIF

EVALUASI PENDIDIKAN

RINAWATI RAFIAH
PENDIDIKAN LUAS SEKOLAH
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA

Soal
1. Dalam menyelenggarakan program PNF perlu membuat kurikulum program.
a. Jelaskan pengertian kurikulum PNF
b. Sebut dan jelaskan ciri-ciri kurikulum PNF
2. Program PNF harus dikelola dengan cara manajemen yang baik.
a. Sebut dan jelaskan unsur-unsur manajemen program PNF
b. Jelaskan pengertian tentang evaluasi program PNF yang berbasis pendekatan outcome
(dampak program).
3. Buatlah model sistem dan beri penjelasan salah satu program PNF dalam rangka peningkatan
kinerja atau keterampilan.

Jawaban
1. a. Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan
pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran
untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. (Rusman, 2009: 3).
Menurut UU SISDIKNAS No. 20 Th. 2003
Pasal 36 ayat 2: kurikulum pada semua jenjang dan jenis dikembangkan dengan prinsip
diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik. Ayat 3:
kurikulum disusun sesuai dengan jenjang pendidikan dalam rangka Negara Kesatuan Republik
Indonesia dengan memperhatikan:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.

peningkatan iman dan takwa;


peningkatan akhlak mulia;
peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat peserta didik;
keragaman potensi daerah dan lingkungan;
tuntutan pembangunan daerah dan nasional;
tuntutan dunia kerja;
perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni;
agama;
dinamika perkembangan global; dan
persatuan nasioanal dan nilai-nilai kebangsaan.

Pasal 37 Ayat 1: kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib memuat:


a.
b.
c.
d.

pendidikan agama;
pendidikan kewarganegaraan;
bahasa;
matematika;

e.
f.
g.
h.
i.
j.

ilmu pengetahuan alam;


ilmu pengetahuan sosial;
seni dan budaya;
pendidikan jasmani dan olahraga;
keterampilan/kejujuran; dan
muatan lokal.

Pasal 38 Ayat 1: kerangka dasar dan struktur kurikulum pendidikan dasar dan menengah
ditetapkan oleh pemerintah. Ayat 2: kurikulum dasar dan menengah dikembangkan sesuai
dengan relevansinya

oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan dan komite

sekolah/madrasah di bawah koordinasi atau supervisi dinas pendidikan atau kantor Departemen
Agama Kabupaten/Kota untuk pendidikan dasar dan Provinsi untuk pendidikan menengah.
Pendidikan non formal diselenggarakan di masyarakat secara terstruktur dan berjenjang, yang
berfungsi sebagai pengganti, penambah dan pelengkap. Maka dari itu kurikulum dalam PNF
mengikuti kurikulum yang diberlakukan oleh pemerintah sebagaimana pendidikan formal.
Disamping itu kurikulum dalam Pendidikan Non Formal berpusat pada kepentingan peserta
didik.
b. Fordham (1993) menyatakan bahwa th.1970an ada empat ciri terkait dengan pendidikan
nonformal: (1) relevan dengan kebutuhan kelompok yang kurang beruntung, (2) peduli dengan
kategori orang tertentu, (3) fokus pada rumusan tujuan yang jelas (4) fleksibel dalam organisasi
dan metode. (Marzuki, Saleh, 2009: 3).
Ciri-ciri kurikulum pendidikan non formal:
a. diidentifikasikan bersama
b. direncanakan bersama
c. dibuat bersama warga belajar
d. dievaluasi bersama
e. memungkinkan perubahan kurikulum lebih fleksibel sesuai dengan perubahan keadaan
tempat
f. penyusunan program melibatkan masyarakat secara partisipatif.

2. a. Manajeman pendidikan luar sekolah terdiri atas fungsi-fungsi yang berurutan dan berdaur
yaitu perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, pembinaan, penilaian dan pengembangan.

Pendidikan luar sekolah disusun secara sistematik mencangkup unsur-unsur komponen, proses,
dan tujuan program. Komponen meliputi masukan lingkungan, masukan sarana, masukan
mentah, dan masukan lainnya. Proses adalah interkasi antara masukan sarana dan masukan
mentah. Tujuan mencangkup tujuan antara intermediate goal yaitu keluaran (output) dan tujuan
akhir (final goal) yaitu pengaruh atau dampak (outcame) program pendidikan. (Sudjana,
Djudju, 2008: 12).
Unsur-unsur program pendidikan luar sekolah menurut Sepuluh Patokan Pendidikan
Masyarakat (1980), terdiri atas kelompok belajar, tujuan belajar, warga belajar, sumber belajar,
saran belajar, pamong belajar, ragi belajar, panti belajar, dana belajar, dan hasil belajar.
(Sudjana, Djudju, 2008: 4).
Dalam Permendiknas No. 49 tahun 2007 antara lain dibahas tantang perencanaan program,
pelaksanaan rencana kerja, pengawasan dan evaluasi, dan sistem informasi manajeman.
(Alifuddin, Moh., 2011: 20).
b. Evaluasi program adalah kegiatan pengumpulan, pengolahan, dan penyajian data secara
sistematis tentang program pendidikan non formal, sebagai masukan bagi pengambilan
alternatif keputusan. Alternatif keputusan itu antara lain untuk penghentian, perbaikan,
modifikasi, perluasan, peningkatan, atau tindak lanjut program pendidikan non formal.
Evaluasi produk (output) mengukur dan menginterprestasi pencapaian program selama
pelaksanaan program dan pada akhir program. Evaluasi ini berkaitan dengan pengaruh utama,
pengaruh simpangan, biaya, dan keunggulan program. Evaluasi produk melibatkan upaya
penelitian kriteria, melakukan pengukuran, membandingkan ukuran keberhasilan dengan
standar absolut atau relatif dan melakukan interprestasi rasional tentang konsteks, input dan
proses. Kriteria yang ditetapkan dapat terdiri atas kriteria consequential atau instrukmental.
Kriteria konseptual berkenaan dengan pencapaian tujuan jangka panjang yang mendasari upaya
untuk mencapai tujuan-tujuan akhir program. Kriteria instrumental berhubungan dengan
pencapaian tujuan jangka pendek dan menengah yang berkontribusi pada pencapaian tujuan
akhir.
Model evaluasi hendaknya didasari oleh teori pengambilan keputusan dan teori perubahan.
Rancangan evaluasi sesuai dengan kriteria ilmiah (seperti validitas internal dan eksternal,
reliabilitas dan objektivitas), kepraktisan (relevansi), derajat kepentingan, lingkup, kredibilitas,
ketepatan waktu dan kualitas dan nilai tampilan program (efesiensi).

Keunggulan model evaluasi diatas:


a. memperbaiki dan mengembangkan program
b. menyajikan informasi yang berkaitan dengan pengambilan keputusan
c. memberikan umpan balik untuk menyusun program yang berkelanjutan.
Kelemahan model tersebut:
a. pandangan evaluator mungkin tidak sejalan dengan pandangan pengambil keputusan
tentang langkah-langkah penyusunan program dan komponen-komponen program
b. fokus evaluasi yang sangat ditekankan pada hasil program. (Sudjana, Djudju, 2008: 56-57).

3. Model-model perencanaan pendidikan


a. Model perencanaan komperhensif
Model ini terutama digunakan untuk menganalisis perubahan-perubahan dalam sistem
pendidikan secara kesuluhan. Disamping itu juga berfungsi sebagai suatu patokan dalam
menjabarkan rencana-rencana yang lebih spesifik ke arah tujuan-tujuan yang lebih luas.
b. Model target setting
Model ini diperlukan dalam upaya melaksanakan proyeksi ataupu memperkirakan tingkat
perkembangan dalam kurun waktu tertentu.
c. Model costing
Sering digunakan untuk menganalisis proyeksi-proyeksi dalam kriteria efisien dan
efektifitas ekonomi. Dengan model ini dapat diketahui proyek yang paling fleksibel dan
memberikan suatu perbandingan yang paling baik diantara proyek-proyek yang menjadi
alternatif penanggunagan masalah yang dihadapi. (Fatah, Nanang, 2013: 50-51).
Misalnya dalam program pendidikan non formal khususnya paud
Pertama yang dilakukan adalah perencanaan. Awal berdiri program paud dengan tujuan yang
sudah mantap dan manfaatnya bagi masyarakat.
Pengorganisasian dalam penyelenggaraan program paud apakah berpusat pada satu orang atau
ada staf-staf yang berkewajiban mengatur sesuai dengan jabatannya.
Penggerakan program paud, sudah tidak bisa dipungkiri bahwa mengajar anak kecil dibutuhkan
kesabaran yang ekstra maka dari itu motivasi dalam mengajar harus kita tanamkan dalam diri
sendiri secara mendalam.
Penilaian dalam evaluasi program paud dibutuhkan ketelitian dan keseriusan dalam proses dan
hasil belajar.

Daftar Pustaka

Rusman, 2009. Manajemen Kurikulum. Jakarta: PTRAJAGRAFINDOPERSADA.


Marzuki, Saleh, 2009. Pendidikan Nonformal Bukan Residu. Malang: Fakultas Ilmu Pendidikan
(FIP) Universitas Negeri Malang (UM).
Sudjana, Djudju, 2008. Evaluasi Program Pendidikan Luar Sekolah. Bandung: PT REMAJA
ROSDAKARYA.
Alifuddin, Moh., 2011. Menyemai Pendidikan Nonformal. Jakarta: MAGNAScript Publising.
Fatah,

Nanang,

2013.

Landasan

ROSDAKARYA.

Manajemen

Pendidikan.

Bandung:

PT

REMAJA