Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH NUTRISI

IODINE

Disusun oleh:

AYUNINGTYAS GALUH PURWANDITYO

12613052

BELA DWI NURDITIA

12613144

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
2014

IODINE
Iodine atau iodium merupakan komponen penting dari hormon tiroid, dan asupan
iodium yang memadai sangat diperlukan untuk fungsi normal tiroid. Asupan iodium dari
populasi dinilai dengan mengukur konsentrasi iodium urin dalam sampel urin spot. Kisaran
optimal asupan yodium untuk mencegah penyakit tiroid relatif sempit. Asupan iodium
rendah maupun tinggi keduanya dapat mengganggu fungsi tiroid. Hubungan antara asupan
iodium dan fungsi tiroid telah dinilai dalam cross-sectional, longitudinal, dan intervensi
penelitian dengan mengukur UIC (Urinary Iodine Concentration) dan hormon tiroid pada
populasi dengan status iodiumnya yang berbeda(1).
Iodium ada di dalam tubuh dalam jumlah sangat sedikit, yaitu sebanyak kurang lebih
0,00004% dari berat badan atau 15-23 mg. Sekitar 75% dari iodium ini ada di dalam kelenjar
tiroid, yang digunakan untuk mensintesis hormone tiroksin, tetraiodotironin (T4) dan
triiodotironin (T3). Hormon-hormon ini diperlukan untuk pertumbuhan normal,
perkembangan fisik dan mental hewan dan manusia. Sisa iodium ada di dalam jaringan lain,
terutama di dalam kelenjar-kelenjar ludah, payudara, dan lambung serta di dalam ginjal. Di
dalam darah iodium terdapat dalam bentuk iodium bebas atau terikat dengan protein
(Protein-Bound IodineI/PBI)(2).
A. Fungsi Iodium
Mengapa iodium sangat penting ? Sebagai iodida, diperlukan untuk sintesis hormone
tiroid yang meregulasi perkembangan dan metabolisme(8). Iodium adalah mineral yang
sangat penting untuk fungsi tiroid yang tepat. Iodium, bila dikombinasikan dengan asam
amino tirosin, menghasilkan hormon tiroid penting yang mengontrol metabolisme, enzim
dan sintesis protein, dan sangat penting dalam pengembangan sistem saraf skeletal dan
pusat janin berkembang. Iodium merupakan bagian integral dari kedua macam hormon
tiroksin triiodotironin (T3) dan tetraiodotironin (T4). Fungsi utama hormon-hormon ini
adalah mengatur pertumbuhan dan perkembangan. Hormon tiroid mengontrol kecepatan
tiap sel menggunakan oksigen. Dengan demikian, hormon tiroid mengontrol kecepatan
pelepasan energi dari zat gizi yang menghasilkan energi. Kadar iodin di dalam banyak
mempengaruhi kerja hormon tiroksin, dimana salah satu fungsi penting hormon tiroksin
adalah berperan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan tubuh serta menjadi faktor
penting dalam proses perkembangan otak pada anak(3,4,5).
Tiroksin dapat merangsang metabolisme sampai 30%. Di samping itu kedua hormone
ini mengatur suhu tubuh, reproduksi, pembentukan sel darah merah serta fungsi otot dan
saraf. Iodium berperan dalam perubahan karoten menjadi bentuk aktif vitamin A, sintesis
protein, sintesis kolesterol darah dan adsorpsi karbohidrat dari saluran cerna(2).
Iodium mungkin juga memiliki fungsi fisiologis lain dalam tubuh. Sebagai contoh,
iodium berperan dalam respon imun dan mungkin memiliki efek menguntungkan pada
displasia mammae dan penyakit payudara fibrokistik(5).

B. Kebutuhan Iodium Per Hari


Rekomendasi asupan gizi untuk asupan iodium berdasarkan usia atau kelompok penduduk
dan kriteria epidemiologi untuk menilai asupan iodium yang memadai berdasarkan nilai
tengah konsentrasi iodium urin (UIC) median pada populasi yaitu(1) :

Kebutuhan iodium sehari sekitar 1-2 g per kg berat badan. Widyakarya Pangan dan Gizi
(1998) menganjurkan AKG untuk iodium sebagai berikut(2) :

Bayi
Balita dan anak sekolah
Remaja dan dewasa
Ibu hamil
Ibu menyusui

: 50-70 g
: 70-120 g
: 150 g
: + 25 g
: + 50 g

Referensi supan gizi (RNI) untuk mineral iodium(7):


Usia
0-3 bulan
4-6 bulan
7-9 bulan
10-12 bulan
1-3 tahun
4-6 tahun
7-10 tahun
Pria
11-14 tahun
15-18 tahun
19-50 tahun
50 tahun ke atas

Iodium g/hari
50
60
60
60
70
100
110

Wanita
11-14 tahun
15-18 tahun
19-50 tahun
50 tahun ke atas
Kehamilan
Laktasi :
0-4 bulan
4 bulan ke atas

130
140
140
140
Tidak ada
peningkatan
Tidak ada
peningkatan

130
140
140
140

Kriteria epidemiologi untuk penilaian nutrisi iodium dalam populasi berdasarkan nilai tengah
atau kisaran konsentrasi iodium urin (UIC) atau kedua pemisahan batas UIC(1) :

Tidak ada informasi tentang gizi iodium untuk ibu hamil dan menyusui di tabel penilaian
WHO. a Istilah berlebihan berarti melebihi jumlah yang dibutuhkan untuk mencegah dan
mengendalikan defisiensi iodium. b Pada wanita menyusui, angka-angka untuk median UIC
lebih rendah dari persyaratan iodium karena iodium diekskresikan dalam ASI(1).

C. Kondisi Kekurangan Iodium


Pengertian tentang defisiensi iodium saat ini tidak terbatas pada gondok dan
kretinisme saja, tetapi ternyata defisiensi iodium berpengaruh terhadap kualitas sumber
daya manusia secara luas, meliputi tumbuh kembang, termasuk perkembangan otak.
Defisiensi iodium dinyatakan sebagai gangguan akibat kekurangan iodium (GAKI) yang
menunjukkan luasnya pengaruh defisiensi iodium tersebut. Hingga sekarang masalah
gangguan akibat kekurangan iodium terdapat luas di seluruh dunia termasuk Indonesia, dan
penanggulangannya merupakan salah satu prioritas utama program WHO(2).
Pada kekurangan iodium, konsentrasi hormon tiroid menurun dan hormon
perangsang tiroid/TSH meningkat agar kelenjar tiroid mampu menyerap lebih banyak
iodium. Bila kekurangan berlanjut, sel kelenar tiroid membesar dalam usaha meningkatkan
pengambilan iodium oleh kelenjar tersebut. Bila pembesaran ini menampak dinamakan
gondok sederhana. Bila terdapat secara meluas di suatu daerah dinamakan gondok
endemik. Gondok dapat menampakkan diri dalam bentuk gejala yang sangat luas, yaitu
dalam bentuk kretinisme (cebol) di satu sisi dan pembesaran kelenjar tiroid pada sisi lain.

Gejala kekurangan iodium adalah malas dan lamban, kelenjar tiroid membesar, pada ibu
hamil dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan janin, dan dalam keadaan berat
bayi lahir dalam keadaan cacat mental yang permanen, keterbelakangan mental dan
gangguan perkembangan saraf pada anak-anak, gangguan mental dan fisik pada orang
dewasa, peningkatan risiko kanker tiroid, dan beberapa penelitian menunjukkan bahwa
mungkin ada hubungan antara kekurangan iodium dan penyakit payudara fibrokistik serta
hambatan pertumbuhan yang dikenal sebagai kretinisme. Seorang anak yang menderita
kretinisme mempunyai bentuk tubuh abnormal dan IQ sekitar 20. Kekurangan iodium pada
anak-anak menyebabkan kemampuan belajar yang rendah(2, 6).
Defisiensi iodium merupakan penyebab dominan gondok endemik. Tingkat
keparahan gondok endemik yang disebabkan defisiensi iodium diklasifikasikan menurut
ekskresi iodium dalam urin (g/gr kreatinin) tahapan daripada keparahan tersebut adalah(3):
Tahap 1

: Gondok endemik dengan rata-rata lebih dari 50 g/gr kreatinin di dalam


urin. Pada keadaan ini suplai hormon tiroid cukup untuk perkembangan
fisik dan mental yang normal.

Tahap 2

: Gondok endemik dengan sekresi iodium dalam urin rata-rata 25-50 g/gr
kreatinin pada kondisi ini sekresi hormon tiroid boleh jadi tidak cukup
sehingga menanggung risiko hipotiroidisme, tetapi tidak sampai ke
kreatinisme.

Tahap 3

: Gondok endemik dengan rata-rata ekskresi iodium dalam urin kurang dan
25 mg/gr kreatinin. Pada kondisi ini populasi memiliki risiko menderita
kreatinisme.

Spektrum Gangguan Akibat Kekurangan Iodium(7)


Tahap Perkembangan
Janin

Bentuk Gangguan
Keguguran (aborsi)
Lahir mati
Kelainan congenital
Kematian perinatal
Kretinisme bayi
Kretinisme saraf
Kretinisme miksedema
Kerusakan psikomotor

Bayi baru lahir

Gondok neonatus
Hipotiroidisme neonates

Anak dan remaja

Gondok
Hipotiroidisme juvenile
Fungsi mental
Perkembangan fisik terhambat

Dewasa

Gondok dan penyulit


Hipotiroidisme
Fungsi mental
Hipertiroidisme diimbas oleh iodium

Semua usia

Kepekaan terhadap radiasi nuklir meningkat

(Dikutip dari Trace elements in human nutrition and health WHO 1996)

D. Akibat Kelebihan Iodium


Kelebihan mengkonsumsi iodium jarang terjadi. Kelebihan iodium di dalam tubuh
biasanya terjadi akibat mengkonsumsi supplemen yodium untuk mengobati kekurangan
iodium di dalam tubuh dalam waktu lama. Suplemen iodium dalam dosis terlalu tinggi dapat
menyebabkan pembesaran kelenjar tiroid, seperti halnya kekurangan iodium. Dalam
keadaan berat hal ini menutup jalan pernapasan sehingga menimbulkan sesak napas.
Terkadang orang-orang yang tinggal di dekat laut mengkonsumsi terlalu banyak yodium
karena mereka memakan banyak makanan laut dan rumput laut, serta minum air yang
tinggi iodium. Mengkonsumsi terlalu banyak iodium biasanya tidak mempengaruhi fungsi
kelenjar tiroid, tetapi terkadang juga dapat mempengaruhinya. Hal ini dapat menyebabkan
kelenjar tiroid menjadi terlalu aktif dan menghasilkan hormon tiroid yang berlebihan
(hipertiroidisme). Akibatnya, kelenjar tiroid menjadi membesar, sehingga terbentuk goiter
(goiter juga dapat terbentuk ketika kelenjar tiroid menjadi kurang aktif). Jika seseorang
mengkonsumsi iodium dalam jumlah yang sangat besar, maka ia dapat mengalami rasa tidak
enak pada mulutnya dan menghasilkan air liur yang lebih banyak. Iodium juga dapat
mengiritasi saluran pencernaan dan menimbulkan ruam(2).
Penderita dianjurkan untuk menggunakan garam yang tidak beriodium dan
mengurangi makanan yang mengandung yodium. Hipotiroidisme yang disebabkan
mengkonsumsi terlalu banyak iodium biasanya dapat diatasi dengan mengurangi konsumsi
iodium, tetapi beberapa orang memerlukan pemberian hormon tiroid seumur hidupnya (2).
E. Sumber Makanan
Ada beberapa jenis makanan yang menjadi sumber iodium antara lain : makanan
laut, termasuk rumput laut merupakan sumber yang kaya akan iodium; susu merupakan
sumber dari senyawa iodide dalam industri pengolahan susu. Roti dan kue mengandung
iodide yang berasal dari zat pengembang kue(8).
Zat yang bersifat goitrogenik banyak sekali terkandung pada bahan pangan pokok di
Negara sedang berkembang, misalnya ubi kayu, ubi jalar, maizena, rebung, buncis, dan padi.
Zat goitrogenik ini diturunkan daricyanogenic glycosides yang berpotensi melepas sejumlah
sianida (termasuk hasil metabolismenya di dalam tubuh: tiosianat) melalui proses hidrolisis.
Kecuali ubi kayu, glikosida ini biasanya terkandung pada bahan pangan yang tidak dimakan,

kalaupun ada dalam bahan pangan yang dikonsumsi jumlahnya sedemikian kecil sehingga
tidak membahayakan(7).
Asupan, penyerapan, dan ketersediaan iodium. Kandungan iodium dalam makanan
dan diet iodium total sangat bervariasi, bergantung pada keadaan geokimiawi, tanah dan
budaya. Ketiga hal ini mempengaruhi asupan iodium oleh tumbuhan ynag dijadikan
makanan pokok, serta bahan pangan yang berasal dari hewan. Selain itu, selama proses
memasak, keterkandungan iodium dalam makanan dapat susut. Sebagai contoh,
penggorengan akan mengurangi kadar iodium sebanyak 20%, penggilingan 23%, dan
perebusan sebesar 58%(7).

*DV = Daily Value. Dvs dikembangkan oleh US Food and Drug Administration (FDA) untuk
membantu konsumen membandingkan isi produk gizi dalam konteks diet keseluruhan. DV
iodium 150 mcg untuk orang dewasa dan anak-anak berusia 4 tahun atau lebih. Namun, FDA
tidak memerlukan label makanan untuk daftar isi iodium kecuali makanan telah diperkaya
dengan nutrisi ini. Makanan menyediakan 20% atau lebih dari DV dianggap sumber tinggi
nutrisi(5,6).

Kandungan Iodium dalam Makanan(7) :


Jenis Makanan
Keadaan Segar (g/gr)
Keadaan Kering (g/gr)
Ikan air tawar
17-40
68-194
Ikan air laut
163-3180
471-4591
Kerang
308-1300
1292-4987
Daging hewan
27-97
Susu
35-56
Telur
93
Serealia biji
22-72
34-92
Buah
10-29
62-277
Tumbuhan polong
23-36
223-245
Sayuran
12-201
204-1636
(Dikutip dari Trace elements in human nutrition and health WHO 1996)

F. Absorpsi dan Ekskresi


Iodium dengan mudah diabsorpsi dalam bentuk iodida. Konsumsi normal sehari
adalah sebanyak 100-150 g sehari. Dalam bentuk ikatan organik di dalam makanan hewani
hanya separuh dari iodium yang dikonsumsi dapat diabsorpsi. Di dalam darah, iodium
terdapat dalam bentuk bebas dan terikat protein. Manusia dewasa sehat mengandung 1520 mg iodium, 70-80% di antaranya berada dalam kelenjar tiroid. Di dalam kelenjar ini
iodium digunakan untuk mensintesis hormon-hormon T3 dan T4 (tiroksin), bila diperlukan.
Kelenjar tiroid harus menangkap 60 g iodium sehari untuk memelihara persediaan tiroksin
yang cukup. Penangkapan iodida oleh kelenja tiroid dilakukan melalui transport aktif yang
dinamakan pompa iodium. Mekanisme ini diatur oleh hormon yang merangsang tiroid yaitu
TSH dan TRH yang dikeluarkan oleh hypothalamus yang dikeluarkan oleh kelenjar pituitary
untuk mengatur sekresi tiroid. Hormon tiroksin kemudian dibawa darah ke sel-sel sasaran
dan hati; di dalam sel-sel sasaran dan hati tiroksin dipecah dan bila diperlukan iodium
kembali digunakan(2).
Iodium dalam usus cepat dan mudah sekali diserap. Penyerapan biasanya
berlangsung secara menyeluruh. Kelebihan asupan diawasi oleh ginjal. KKP (Kekurangan
Kalori Protein) dapat memperlambat penyerapan. Hormon tiroid yang terkandung dalam
bahan makanan yang berasal dari hewan, dan iodium organic lain tidak terserap sempurna;
kehilangan dapat teradi sebanyak 50%(2).
Ekskresi dilakukan melalui ginjal, jumlahnya berkaitan dengan konsumsi. Kelebihan
iodium terutama dikeluarkan melalui urin, dan sedikit melalui feses yang berasal dari cairan
empedu(2). Ekskresi iodium dalam urin mencerminkan besaran asupan iodium. Cara ini telah
diterapkan pada survei gizi berskala besar. Penentuan ekskresi iodium dalam urin dapat
dilakukan dengan sampel urin 24 jam. Namun, urin 24 jam tidak praktis untuk digunakan
dalam survei berskala luas, yang melibatkan banyak sekali sampel. Oleh karena itu, contoh

urin sewaktu, tanpa harus puasa terlebih dahulu, kerap digunakan meskipun tidak cocok
diterapkan untuk pemeriksaan status iodium perorangan. Metode ini tidak dapat digunakan
jika fungsi ginjal sampel tidak normal dan/atau mengalami KKP(7).

G. Transpor Iodida
Iodida ditranspor melintasi membran basalis dari sel tiroid oleh suatu proses yang
memerlukan energi aktif yang tergantung pada ATPase Na+-K+. Sistem transpor aktif ini
memungkinkan kelenjar tiroid manusia untuk mempertahankan suatu konsentrasi iodida
bebas 30-40 kali dibandingkan plasma. Jebakan tiroiodida dirangsang jelas oleh TSH dan
oleh antibodi perangsang reseptor TSH (TSH-R ab [stim]) ditemukan pada penyakit Graves.
Sistem transpor aktif ini memungkinkan kelenjar tiroid manusia untuk mempertahankan
suatu konsentrasi iodida bebas 30-40 kali dibandingkan plasma(9).

H. Metabolisme Iodin dalam tubuh


Iodine memasuki tubuh dalam makanan atau air dalam bentuk iodida atau iodat,
dalam lambung iodat dirubah menjadi iodida. Kelenjar tiroid memekatkan dan menjebak
iodida serta mensintesa hormon tiroid dalam tiroglobulin(10).

I. DAFTAR PUSTAKA

1) Brent, Gregory A. 2010. Thyroid Function Testing. Springer: Los Angeles. 45-46
2) Almatsier, Sunita. 2011. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta. 261266
3) Supariasa, I Dewa Nyoman. 2002. Penilaian Status Gizi. EGC: Jakarta. 169-170
4) Ferdinand, fictor., Moekti ariebowo. 2010. Praktis Belajar Biologi. Visindo Media
Persada: Jakarta. 166
5) National Institute of Health. 2011. Iodine, Fact Sheet For Health Professional. Available at
NIH: http://ods.od.nih.gov/factsheets/Iodine-Health Professional. Diakses pada tanggal
23 September 2014
6) Grotto, David. RD. LDN,. 2013. The Best Things You Can Eat. Da Capo Press : USA.
7) Dr. Arisman, MB. 2009. Gizi dalam Daur Kehidupan Edisi 2. EGC: Jakarta. 165-170
8) Barasi, Mary E,. 2009. At a Glance Ilmu Gizi, Erlangga : Jakarta. 131-134
9) Wilkin TJ. Mechanism of disease : Receptor Autoimmunity in Endocrine Disorders. N Eng J
Med 1990; 323: 1318
10) Jurnal, 2000, Greenspan F S MD, Baxter J D MD, 1994