Anda di halaman 1dari 12

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Ikan adalah hewan bertulang belakang (vertebrata) yang berdarah dingin
dimana hidupnya dilingkungan air, pergerakan dan keseimbangan dengan
menggunakan sirip serta pada umumnya bernafas dengan insang. Ikan lele
(Clarias sp.) merupakan ikan konsumsi air tawar yang cukup digemari masyarakat
karena rasa dagingnya yang gurih, harganya terjangkau dan memiliki protein yang
cukup tinggi. Ikan lele pada dasarnya cukup mudah dibudidayakan karena
mempunyai kelebihan yaitu pertumbuhannya cepat dan dapat mencapai ukuran
yang besar dalam waktu pemeliharaan yang relatif singkat (Setiaji, 2009).
Darah merupakan jaringan pengikat yang terdiri atas cairan, yang memiliki
korpuskula yang tersuspensi dalam plasma. Plasma darah adalah adalah cairan
yang komplek yang berada dalam keadaan keseimbangan dinamik dengan cairan
tubuh lain. Plasma terdiri atas 90% air, 7-8% protein yang dapat larut, 1%
elektrolit, dan sisanya 1-2% berbagai zat yang lain (Villee et al., 1988). Hewan
vertebrata memiliki komposisi darah yang hampir sama. Darah terdiri dari cairan
plasma kurang lebih 55% dan komponen seluler (sel darah) yang berada dalam
plasma kurang lebih 45%. Sel-sel darah terdiri atas eritrosit (sel darah merah),
leukosit (sel darah putih), dan trombosit (Yuwono, 2001).
Darah ikan tersusun atas cairan plasma dan sel-sel darah yang terdiri dari
sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit), dan keping darah
(trombosit). Di dalam plasma darah terkandung garam-garam anorganik (natrium
klorida, natrium bikarbonat dan natrium fosfat), protein (dalam bentuk albumin,
globulin, dan fibrinogen), lemak (dalam bentuk lesitin dan kolesterol) serta zat-zat
lainnya misalnya hormon, vitamin, enzim dan nutrient. Plasma merupakan cairan
koloid jernih yang mengandung mineral terlarut, hasil-hasil metabolisme seluler
dan jaringan, enzim, gas terlarut, protein dan antibodi (Affandi dan Tang, 2002).
Pembekuan darah adalah proses yang terjadi dari cairan menjadi padatan.
Darah akan membeku, apabila tidak diberi perlakuan apapun. Sistem pembekuan
darah ikan umumnya sama dengan vertebrata yang lain. Tiga komponen utama

12

13

dalam pembekuan darah yaitu, enzim yang menghasilkan serabut fibrin dari
fibrinogen, sel-sel darah (pada ikan trombosit,pada manusia keping-keping darah)
dapat menjadi perekat menyumbat permukaan yang rusak, dan sistem enzim
fibrinotic yang melarutkan bekuan (Cahyono, 2009).

1.2. Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui teknik pengukuran
lama waktu pembekuan darah ikan.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Sistematika dan Morfologi Ikan Lele (Clarias sp.)


Sistematika ikan lele menurut Saanin (1984) dalam Utami (2009) adalah
sebagai berikut:
kingdom

: Animalia

filum

: Chordata

kelas

: Pisces

Ordo

: Ostariophysi

famili

: Clariidae

genus

: Clarias

spesies

: Clarias sp.
Morfologi ikan lele secara umum adalah tubuh memanjang dan berbentuk

silindris, kepala pipih berbentuk seperti setengah lingkaran, ekor berbentuk pipih,
permukaan kulit licin dan tidak bersisik, mengeluarkan lendir dan warna tubuh
bagian atas gelap dan bagian bawah agak terang. Ikan lele memiliki mata yang
kecil, memiliki 4 pasang alat peraba atau biasa disebut sungut, terdapat 2 buah alat
olfaktori yang terletak dekat sungut hidung yang berfungsi sebagai alat peraba
atau penciuman dan pada bagian depan sirip dada terdapat jari-jari sirip yang
mengeras atau biasa disebut patil yang berfungsi sebagai alat pergerakan di air
dan alat pertahanan diri. Ikan lele memiliki alat pernapasan tambahan yang sering
disebut arborescent organ berbentuk seperti bunga karang. Alat genital dekat anus
tampak sebagai tonjolan (Utami, 2009).

2.2. Habitat dan Penyebaran


Ikan lele (Clarias sp.) hidup dan berkembang biak diperairan tawar seperti
rawa-rawa, danau atau sungai tenang. Ikan lele dapat hidup pada air yang
tercemar seperti di got-got dan selokan pembuangan. Semua kelebihan tersebut
membuat ikan ini tidak memerlukan kualitas air yang jernih atau air mengalir
ketika dipelihara di dalam kolam (Khairuman dan Amri, 2008). Ikan lele (Clarias
sp.) tersebar luas di Benua Afrika dan Asia, terutama di perairan tawar. Di

14

15

beberapa Negara seperti di Filipina, Thailand, Indonesia, Cina, Laos, Kamboja,


Vietnam, Birma dan India yang telah dibudidayakan. Di Indonesia, secara alami
ikan lele ditemukan di Kepulauan Sunda Besar dan Kepulauan Sunda Kecil
(Mahyuddin, 2008).

2.3. Darah
Darah merupakan medium dalam sistem sirkulasi, dimana fungsinya
mengedarkan nutrisi esensial ke seluruh tubuh dan membawa sisa-sisa hasil
metabolisme dan patogen sebelum mencapai konsentrasi yang berbahaya. Darah
ikan tersusun dari sel-sel darah yang tersuspensi di dalam plasma yang diedarkan
ke seluruh jaringan tubuh (Moyle dan Cech, 2004). Volume darah ikan teleostei,
heleostei, dan chondrostei sebanyak 3% dari bobot tubuh, sedangkan ikan
chondrocthyes 6.6% dari bobot tubuh.
Darah terdiri dari cairan plasma dan sel-sel darah yaitu sel darah merah
(eritrosit), sel darah putih (leukosit) dan keping darah (trombosit). Plasma darah
adalah suatu cairan jernih yang mengandung mineral-mineral terlarut, hasil
absorbsi dari pencernaan makanan, buangan hasil metabolisme oleh jaringan,
enzim, antibodi serta gas terlarut (Lagler et al. 1977). Di dalam plasma darah
terkandung garam-garam anorganik (natrium klorida, natrium bikarbonat dan
natrium fosfat), protein (dalam bentuk albumin, globulin dan fibrinogen), lemak
(dalam bentuk lesitin dan kolesterol), hormon, vitamin, enzim dan nutrient
(Dellman dan Brown, 1989).
Hematokrit adalah persentase eritrosit di dalam darah. Hematokrit
digunakan untuk mengukur perbandingan antara eritrosit dengan plasma, sehingga
hematokrit memberikan rasio total eritrosit dengan total volume darah dalam
tubuh. Nilai hematokrit dipengaruhi oleh ukuran dan jumlah eritrosit (Ganong
1995). Nilai hematokrit pada ikan teleostei berkisar antara 20 - 30% dan pada ikan
laut bernilai sekitar 42% (Bond 1979). Presentase nilai hematokrit ikan lele
(Clarias sp.) normal berkisar antara 30,8 - 45,5% (Angka et al., 1985 dalam
Dopongtonung, 2008). Nilai hematokrit secara langsung berhubungan dengan
jumlah eritrosit dan konsentrasi hemoglobin. Nilai hematokrit di bawah 30%
menunjukan adanya defisiensi eritrosit. Amlacher (1970) dalam Dopongtonung

16

(2008), melaporkan bahwa selain infeksi bakteri, nafsu makan juga berpengaruh
pada jumlah eritrosit sehingga berpengaruh pula terhadap nilai hematokrit dan
konsentrasi hemoglobin di dalam sirkulasi darah.
Leukosit dikelompokkan ke dalam granulosit dan agranulosit berdasarkan
ada tidaknya butir-butir (granul) di dalam sitoplasma. Termasuk kedalam
kelompok granulosit yaitu heterofil, eosinofil dan basofil. Jenis leukosit ini
memiliki sifat reaksi terhadap zat tertentu yaitu eosinofil yang bersifat asidofil
(berwarna merah oleh eosin), basofil berwarna basofil (ungu), dan heterofil
bersifat tidak basofil maupun asidofil. Agranulosit dibagi menjadi monosit dan
limfosit. Agranulosit tidak memiliki butir sitoplasmik spesifik dan ditandai
dengan inti berbentuk lonjong, bulat dengan lekuk yang khas (Dellman dan
Brown 1992 dalam Dopongtonung, 2008).
Eritrosit pada ikan merupakan jenis sel darah yang paling banyak
jumlahnya. Bentuk eritrosit pada semua jenis ikan hampir sama. Eritrosit pada
ikan memiliki inti, seperti pada bangsa burung dan reptil. Jumlah eritrosit pada
ikan teleostei berkisar antara (1,05 - 3,0) x 106 sel/mm3 (Irianto 2005). Eritrosit
yang sudah matang berbentuk oval sampai bundar, inti berukuran kecil dengan
sitoplasma besar. Ukuran eritrosit ikan lele (Clarias sp.) berkisar antara (10 x 11
m) (12 x 13 m), dengan diameter inti berkisar antara 4 5 m. Jumlah
eritrosit ikan lele (Clarias ssp) adalah 3,18 x 106 sel/ml. Jika diwarnai dengan
pewarnaan Giemsa, inti sel akan berwarna ungu dan dikelilingi oleh plasma
berwarna biru muda. Rendahnya eritrosit merupakan indikator terjadinya anemia,
sedangkan tingginya jumlah eritrosit menandakan ikan dalam keadaan stres
(Wedemeyer dan Yasutake, 1977 dalam Dopongtonung, 2008).

2.4. Lama Waktu Pembekuan Darah


Pembekuan darah adalah transformasi darah dari cairan menjadi gel padat.
Trombosit atau keping-keping darah salah satu yang berperan penting dalam
proses pembekuan darah. Ciri khusus trombosit adalah lingkaran sitoplasma tipis
di sekeliling inti yang berwarna biru cerah dengan pewarnaan wright dan giemsa.
Ukuran rata-rata trombosit adalah 4x7 m hingga 5x13 m (Chinabut et al., 1991
dalam Utami (2009). Roberts (1978) dalam Utami (2009), menyatakan bahwa

17

trombosit mengeluarkan tromboplastin yakni enzim yang membuat polimeri dan


fibrinogen yang berperan penting dalam pembekuan darah. Jika trombosit ikan
naik berarti ada indikator yang berperan dalam penyembuhan luka.

BAB 3
PELAKSANAAN PRAKTIKUM

3.1.Waktu dan Tempat


Praktikum ini dilaksanakan pada tanggal 01 Oktober 2014 di
Laboratorium Bersama Perikanan Program Studi Akuakultur Fakultas Pertanian
Universitas Sriwijaya Indralaya.

3.2. Alat dan Bahan


Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum preparat ulas darah adalah
sebagai berikut :
Tabel 3.2. Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum pembekuan darah.
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Alat dan Bahan


Ikan lele (Clarias sp.)
Spuit suntik
Kaca dan cover preparat
Mikroskop
Pisau bedah
Tusuk gigi
Stopwatch

Kegunaan
Hewan uji
Mengambil sampel darah ikan uji
Mengamati sel darah
Mengamati sel darah
Untuk membedah ikan
Untuk mengulas darah
Untuk menghitung waktu pembekuan
darah

3.3. Cara Kerja


Adapun cara kerja pada praktikum ini adalah darah ikan diambil dari
batang ekor (vena caudalis) menggunakan spuit suntik. Lalu darah diteteskan
diatas kaca preparat sebanyak satu tetes. Kemudian darah yang telah menempel di
kaca preparat, ditarik menggunakan ujung tusuk gigi hingga membentuk seperti
benang. Dan terakhir hitung lama waktu mulai darah dari masih cair hingga
membentuk seperti benang dicatat (lama pembekuan darah).

18

BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil
Adapun hasil dari praktikum lama waktu pembekuan darah ikan ini
disajikan pada gambar berikut ini:

Gambar 4.5. Pengambilan Darah Ikan

Gambar 4.6. Penetesan darah ke kaca preparat

19

20

Gambar 4.7. Perhitungan lama waktu pembekuan darah

4.2. Pembahasan
Darah ikan yang diambil dari bagian vena caudalis ekor ikan, diteteskan
diatas kaca preparat, selanjutnya ditarik dengan menggunakan tusuk gigi hingga
membentuk benang halus. Darah diamati hingga membeku. Darah ikan lele
(Clarias sp.) mengalami pebekuan pada 1,13 detik, artinya darah ikan lele akan
cepat mengalami pembekuan bila tidak ada bahan lain yang menunjang darah
untuk tetap cair. Pada umumnya darah yang akan diamati sering ditambahkan
antikoagulan yang dimaksudkan agar darah tidak cepat beku.
Senyawa yang dapat menghambat pembekuan dan penggumpalan darah
dinamakan antikoagulan. Antikoagulasi ada yang bekerja dengan cara
mengganggu pematangan protein faktor penggumpalan yaitu antagonis vitamin K
seperti dikumorol, selain itu ada juga antikoagulan yang bekerja dengan
mengaktifkan antitrombin, yaitu heparin, menghambat kerja thrombin yang sudah
aktif dalam mengkatalis proses penggumpalan darah (Ferdiansyah, 2000).

BAB 4
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1. Kesimpulan
Kesimpulan yang didapat dari praktikum ini adalah darah ikan yang
diambil dan dilakukan pembekuan diketahui bahwa darah mengalami pembekuan
selama 1,13 detik.

4.2. Saran
Sebaiknya untuk praktikan lebih menguasai materi pada saat praktikum
sehingga pada saat praktikum tidak terjadi kesalahan.

21

22

DAFTAR PUSTAKA

Affandi R dan Tang UM. 2002. Fisiologi Hewan Air. Unri Press, Riau.
Cahyono. 2009. Budidaya Ikan Air Tawar. Kanisius, Yogyakarta.
Dellman HD and EM Brown. 1989. Buku Teks Histologi Veteriner 1. Hartono
(Penerjemah). UI Press, Jakarta.
Dopongtonung A. 2008. Gambaran Darah Ikan Lele (clarias spp.) yang Berasal
dari Daerah Laladon-Bogor, Skripsi S1 (tidak dipublikasikan). Fakultas
Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Ferdiansyah. 2000. Toksisitas dan daya anestesi minyak cengkeh Eugenol
aromatic terhadap benih ikan patin Pangasius hypopthalamus. Skripsi S1
(tidak dipublikasikan). Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut
Pertanian Bogor, Bogor.
Fujaya, Y. 2004. Fisiologi Ikan: Dasar Pengembangan Teknologi Perikanan.
Penerbit Rineka Cipta, Jakarta.
Ganong WF. 1995. Buku Ajar fisiologi Kedokteran (Review of Medical
Physiologi). Ed ke-4. Terjemahan P Adianto. EGC, Jakarta.
Irianto A. 2005. Patologi Ikan Teleostei. Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta.
Khairuman dan Amri K. 2008. Buku Pintar Budidaya 15 Ikan Konsumsi. Agro
Media Pustaka, Jakarta.
Lagler KF., Bardach JE., RR Miller and Passino DRM. 1977. Ichthyology. John
Willey and Sons, London.
Mahyuddin K. 2008. Panduan Lengkap Agribisnis Lele. Penebar Swadaya,
Jakarta.
Moyle PB dan Jr. JJ. Cech. 2004. Fishes. An Introduction to Ichthyology. Prentice
Hall, USA.

23

Setiaji A. 2009. Efektifitas Ekstrak Daun Pepaya (Carica papaya L.) untuk
Pencegahan dan Pengobatan Ikan Lele Dumbo (Clarias sp.) yang diinfeksi
Bakteri Aeromonas hydrophila, Skripsi S1 (Tidak dipublikasikan).
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Utami WP. 2009. Efektivitas Ekstrak Paci-Paci (Leucas lavandulaefolia) yang
diberikan lewat Pakan untuk Pencegahan dan Pengobatan Penyakit Mas
(Motile Aeromonas Septicemia pada Ikan Lele Dumbo (clarias sp.),
Skripsi S1 (tidak dipublikasikan). Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Institut Pertanian Bogor, Bogor.