Anda di halaman 1dari 29

MAKALAH

MOLA HIDATIDOSA
Bagian Ilmu Obstetri dan Ginekologi
Rumah Sakit XXX

DISUSUN OLEH :
XXX
012095841
Fakultas Kedokteran
Fuckingham University

KEPANITERAAN KLINIK DEPARTEMEN OBSGYN


RUMAH SAKIT XXX
2015

I.

PENDAHULUAN
Mola Hidatidosa adalah salah satu penyakit trofoblas gestasional
(PTG), yang meliputi berbagai penyakit yang berasal dari plasenta yakni mola
hidatidosa parsial dan komplet, koriokarsinoma, mola invasif dan placental
site trophoblastic tumors. Para ahli ginekologi dan onkologi sependapat untuk
mempertimbangkan kondisi ini sebagai kemungkinan terjadinya keganasan,
dengan mola hidatidosa berprognosis jinak, dan koriokarsinoma yang ganas,
sedangkan mola hidatidosa invasif sebagai borderline keganasan. Frekuensi
Mola banyak ditemukan di Negara negara asia, Afrika dan Amerika latin
dari pada di Negara negara barat. Mola hidatidosa merupakan penyakit
wanita dalam masa reproduksi antara umur 15 tahun sampai 45 tahun.
Insidensi mola hidatidosa dilaporkan Moore dkk (2005) pada bagian
barat Amerika Serikat, terjadi 1 kejadian kehamilan mola dari 1000-1500
kehamilan. Mola hidatidosa ditemukan kurang lebih 1 dari 600 kasus abortus
medisinalis. Di Asia insidensi mola 15 kali lebih tinggi daripada di Amerika
Serikat, dengan Jepang yang melaporkan bahwa terjadi 2 kejadian kehamilan
mola dari 1000 kehamilan. Di negara-negara Timur Jauh beberapa sumber
memperkirakan insidensi mola lebih tinggi lagi yakni 1:120 kehamilan.
Soejoenoes dkk (1997) melaporkan 1:85 kehamilan, Rs Dr. Cipto
Mangunkusumo Jakarta 1:31 Persalinan dan 1:49 kehamilan; Luat A siregar
(Medan) tahun 1982 : 11 16 per 1000 kehamilan; Soetomo (Surabaya) : 1:80
Persalinan; Djamhoer Martaadisoebrata (Bandung) : 9-21 per 1000 kehamilan.
Biasanya dijumpai lebih sering pada umur reproduksi (15-45 tahun) dan pada
multipara. Jadi dengan meningkatkan paritas kemungkinan menderita mola
lebih besar1.8.9.
Penanganan mola hidatidosa tidak terbatas pada evakuasi kehamilan
mola saja, tetapi juga membutuhkan penanganan lebih lanjut berupa
monitoring untuk memastikan prognosis penyakit tersebut. Mola Hidatidosa
adalah neoplasma jinak dari sel trofoblast. Pada mola hidatidosa kehamilan

tidak berkembang menjadi janin yang sempurna, melainkan berkembang


menjadi keadaan patologik, seberapa jauh tingkat bahaya mola terhadap
pasien, bagaimana tatalaksananya makalah berikut akan mengungkapkan
berdasarkan studi kasus Hampir semua wanita dengan penyakit trophoblastic
gestasional yang malignan dapat disembuhkan dengan mempertahankan
fungsi reproduksi. Diskusi berikut terbatas pada mola hidatidosa. Kehamilan
mola secara histologis ditandai dengan kelainan vili khorionik yang terdiri dari
proliferasi trofoblas dengan derajat bervariasi dan edema stroma vilus. Mola
biasanya terletak di rongga uterus, namun kadang-kadang terletak di tuba
fallopi dan bahkan ovarium 2.4.6.
II.

DEFINISI MOLA HIDATIDOSA


Mola Hidatidosa adalah kehamilan abnormal dimana seluruh villi
korialisnya mengalami perubahan hidrofobik. Mola hidatidosa dihubungkan
dengan edema vesikular dari vili khorialis plasenta dan biasanya tidak disertai
fetus yang intak. Secara histologis terdapat proliferasi trofoblast dengan
berbagai tingkatan hiperplasia dan displasia. Vili khorialis terisi cairan,
membengkak, dan hanya terdapat sedikit pembuluh darah. Mola hidatidosa
terbagi atas 2 kategori. Yakni komplet mola hidatidosa dan parsial mola
hidatidosa. Mola hidatidosa komplet tidak berisi jaringan fetus. 90 % biasanya
terdiri dari kariotipe 46,XX dan 10% 46,XY. Semua kromosom berasal dari
paternal. Ovum yang tidak bernukleus mengalami fertilisasi oleh sperma
haploid yang kemudian berduplikasi sendiri, atau satu telur dibuahi oleh 2
sperma. Pada mola yang komplet, vili khoriales memiliki ciri seperti buah
angur,dan terdapat tropoblastik hiperplasia.

Gambar1. Gambaran Mola Hidatidosa


http://www.mdguidelines.com

Pada mola hidatidosa parsial terdapat jaringan fetus. Eritrosit fetus dan
pembuluh darah di vili khorialis sering didapatkan. Vili khorialis terdiri dari
berbagai ukuran dan bentuk dengan stroma tropoblastik yang menonjol dan
berkelok-kelok. 4.5.
III.

FISIOLOGI AWAL KEHAMILAN


Untuk menahan ovum yang telah dibuahi selama perkembangan sebutir
ovum, sesudah keluar dari overium diantarkan melalui tuba uterin ke uterus
(pembuahan ovum secara normal terjadi dalam tuba uterin) sewaktu hamil
yang secara normal berlangsung selama 40 minggu, uterus bertambah besar,
tapi dindingnya menjadi lebih tipis tetapi lebih kuat dan membesar sampai
keluar pelvis, masuk ke dalam rongga abdomen pada masa fetus.
Pada umumnya setiap kehamilan berakhir dengan lahirnya bayi yang
sempurna. Tetapi dalm kenyataannya tidak selalu demikian. Sering kali
perkembangan kehamilan mendapat gangguan. Demikian pula dengan
penyakit trofoblast, pada hakekatnya merupakan kegagalan reproduksi. Di sini
kehamilan tidak berkembang menjadi janin yang sempurna, melainkan
berkembang menjadi keadaan patologik yang terjadi pada minggu-minggu
3

pertama kehamilan, berupa degenerasi hidrofik dari jonjot karion, sehingga


menyerupai gelembung yang disebut mola hidatidosa Sebagian dari villi
berubah menjadi gelembung gelembung berisi cairan jernih merupakan kista
kista kecil seperti anggur dan dapat mengisi seluruh cavum uteri. Secara
histopatologic kadang kadang ditemukan jaringan mola pada plasenta
dengan bayi normal. Bias juga terjadi kehamilan ganda mola adalah : satu
jenis tumbuh dan yang satu lagi menjadi mola hidatidosa. Gelembung mola
besarnya bervariasi, mulai dari yang kecil sampai yang berdiameter lebih dari
1 cm 5.
Pada ummnya penderita mola hidatidosa akan menjadi baik kembali, tetapi
ada diantaranya yang kemudian mengalami degenerasi keganasan yang berupa
karsinoma 3.4.

IV.

PATOFISIOLOGI MOLA HIDATIDOSA


Teori terjadinya penyakit trofoblas ada 2, yaitu teori missed abortion dan
teori neoplasma dari Park.
1. Teori missed abortion menyatakan bahwa mudigah mati pada kehamilan
3-5 minggu (missed abortion) karena itu terjadi gangguan peredaran darah
sehingga terjadi penimbunan cairan dalam jaringan mesenkim dari villi
dan akhirnya terbentuklah gelembung-gelembung.
2. Teori neoplasma dari Park menyatakan bahwa yang abnormal adalah selsel trofoblas dan juga fungsinya dimana terjadi resorbsi cairan yang
berlebihan ke dalam villi sehingga timbul gelembung. Hal ini
menyebabkan gangguan peredaran darah dan kematian mudigah.

Gambar 2. Jaringan Mola


http://missinglink.ucsf.edu/lm/IDS_107_Placenta_Lab/Assets/Slide8.gif
Mola hidatidosa komplit berasal dari genom maternal (genotype 46XX
lebih sering) dan 46 XY jarang, tapi 46 XX nya berasal dari replikasi
haploid sperma dan tanpa kromosom dari ovum. Mola parsial mempunyai
69 kromosom terdiri dari kromosom 2 haploid paternal dan 1 haploid
maternal (tripoid, 69XX atau 69XY dari 1 haploid ovum dan lainnya
reduplikasi paternal dari 1 sperma atau fertilisasi disperma).
V.

KLASIFIKASI MOLA HIDATIDOSA

1. Mola Hidatidosa Sempurna


Villi korionik berubah menjadi suatu massa vesikel vesikel jernih.
Ukuran vesikel bervariasi dari yang sulit dilihat, berdiameter sampai
beberapa sentimeter dan sering berkelompok kelompok menggantung
pada tangkai kecil.
Temuan Histologik ditandai oleh:
a.

Degenerasi hidrofobik dan pembengkakan Stroma Vilus

b. Tidak adanya pembuluh darah di vilus yang membengkak


c. Proliferasi epitel tropoblas dengan derajat bervariasi
d. Tidak adanya janin dan amnion.

Mola sempurna tidak memiliki jaringan fetus. 90% merupakan genotip


46XX dan sisanya 46XY. Vili korionik berubah menjadi suatu massa
vesikel-vesikel jernih.
2. Mola Hidatidosa Parsial
Apabila

perubahan

hidatidosa

bersifat

fokal

dan

kurang

berkembang, dan mungkin tampak sebagai jaringan janin. Terjadi


perkembangan hidatidosa yang berlangsung lambat pada sebagian villi
yang biasanya avaskular, sementara villi villi berpembuluh lainnya
dengan sirkulasi janin plasenta yang masih berfungsi tidak terkena 6.7.
Pasien dengan mola parsial tidak memiliki manifestasi klinis yang sama
pada mola sempurna. Pasien ini biasanya datang dengan tanda dan gejala
yang mirip dengan aborsi inkomplit atau missed abortion yakni
Perdarahan vagina dan hilangnya denyut jantung janin, Pada mola parsial,
jaringan fetus biasanya didapatkan, eritrosit dan pembuluh darah fetus
pada villi merupakan penemuan yang seringkali ada. Komplemen
kromosomnya yaitu 69,XXX atau 69,XXY. Ini diakibatkan dari fertilisasi
ovum haploid dan duplikasi kromosom haploid paternal atau akibat
pembuahan dua sperma. Tetraploidi juga biasa didapatkan. Seperti pada
mola sempurna, ditemukan jaringan trofoblastik hyperplasia dan
pembengkakan villi chorionic. .
Gambaran

Mola parsial

Mola Komplet

(inkomplet)

(klasik)

Jaringan embrio atau janin

Ada

Tidak ada

Pembengkakan hidatidosa

Fokal

Difus

Hyperplasia

Fokal

Difus

Inklusi stroma

Ada

Tidak ada

Lekukan vilosa

Ada

Tidak ada

pada vili

VI.

ETIOLOGI
Penyebab mola hidatidosa tidak diketahui, faktor faktor yang dapat
menyebabkan antara lain1,2, :
1. Faktor ovum : ovum memang sudah patologik sehingga mati, tetapi
terlambat dikeluarkan
2. Imunoselektif dari tropoblast: yaitu dengan kematian fetus,pembuluh
darah pada stroma villi menjadi jarang dan stroma villi menjadi sembab
dan akhirnya terjadi hyperplasia.
3. Keadaan sosio-ekonomi yang rendah: keadaan sosial ekonomi akan
berpengaruh terhadap pemenuhan gizi ibu yang pada akhirnya akan
mempengaruhin pembentukan ovum abnormal yang mengarah pada
terbentuknya mola hidatidosa.
4. Paritas tinggi: ibu dengan paritas tinggi, memiliki kemungkinan terjadinya
abnormalitas pada kehamilan berikutnya,sehingga ada kemungkinan
kehamilan berkembang menjadi mola hidatidosa.
5. Kekurangan protein:sesuai dengan fungsi protein untuk pembentukan
jaringan atau fetus sehingga apabila terjadi kekurangan protein saat hamil
menyebabkan gangguan pembentukan fetus secara sempurna yang
menimbulkan jonjot-jonjot korion.
6. Infeksi virus dan faktor kromosom yang belum jelas

VII.

GEJALA KLINIS
1. Amenorrhoe dan tanda tanda kehamilan
2. Perdarahan pervaginam dari bercak sampai perdarahan berat. Merupakan
gejala utama dari mola hidatidosa, sifat perdarahan bisa intermiten selama
berapa minggu sampai beberapa bulan sehingga dapat menyebabkan
anemia defisiensi besi.

3. Uterus sering membesar lebih cepat dari biasanya tidak sesuai dengan usia
kehamilan.
4. Tidak dirasakan tanda tanda adanya gerakan janin maupun ballotement
5. Hiperemesis,Pasien dapat mengalami mual dan muntah cukup berat.
6. Preklampsi dan eklampsi sebelum minggu ke 24
7. Keluar jaringan mola seperti buah anggur, yang merupakan diagnosa pasti
8. Tirotoksikosis

VIII.

DIAGNOSIS
Diagnosis ditegakkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan
penunjang seperti laboratorium, USG dan histologis. Pada mola hidatidosa
yang komplet terdapat tanda dan gejala klasik yakni:

Perdarahan vaginal. Gejala klasik yang paling sering pada mola komplet
adalah perdarahan vaginal. Jaringan mola terpisah dari desidua,
menyebabkan perdarahan. Uterus membesar (distensi) oleh karena jumlah
darah yang banyak, dan cairan gelap bisa mengalir melalui vagina. Gejala
ini terdapat dalam 97% kasus.

Hiperemesis. Penderita juga mengeluhkan mual dan muntah yang berat.


Hal ini merupakan akibat dari peningkatan secara tajam hormon -HCG.

Hipertiroid. Setidaknya 7% penderita memiliki gejala seperti takikardi,


tremor dan kulit yang hangat.

Secara umum gambaran diagnostik klinik mola hidatidosa adalah:

Pengeluaran darah yang terus menerus atau intermitten yang terjadi


pada kehamilan kurang lebih 12 minggu.

pembesaran uterus yang tidak sesuai dengan usia kehamilan.

pada palpasi tidak teraba bagian janin dan denyut jantung janin tidak
terdengar

gambaran ultrasonografi yang khas.

kadar HCG yang tinggi setelah hari ke 100.

preeklampsia-eklampsia yang terjadi sebelum minggu ke-24.

Gambar 3. Gambaran USG mola hidatidosa


http://drzubaidi.com

1. Anamnesis
Berdasarkan anamnesis: ada kehamilan disertai gejala dan tanda
kehamilan muda yang berlebihan, perdarahan pervaginam berulang
cenderung berwarna coklat dan kadang bergelembung seperti busa.
2. Pemeriksaan Fisik 6.9
Mola sempurna

Ukuran yang tidak sesuai dengan umur gestasi. Pembesaran uterus lebih
besar daripada biasanya pada usia gestasi tertentu merupakan tanda yang
klasik dari mola sempurna. Pembesaran tidak diharapkan disebabkan oleh
pertumbuhan trofoblastik berlebih dan darah yang tertampung. Namun,
pasien yang datang dengan ukuran sesuai dengan umur kehamilan bahkan
lebih kecil tidak jarang ditemukan.

Preeklampsia: Sekitar 27% pasien dengan mola sempurna mengalami


toxemia ditandai oleh adanya hipertensi (tekanan darah [BP] >140/90 mm

Hg), proteinuria (>300 mg/d), dan edema dengan hyperreflexia. Kejang


jarang terjadi..

Kista teca lutein: Merupakan kista ovarium dengan diameter lebih besar
dari 6cm dan diikuti dengan pembesaran ovarium. Kista ini biasanya tidak
dapat dipalpasi pada pemeriksaan bimanual namun dapat teridentifikasi
dengan USG. Pasien biasanya mengeluhkan nyeri pelvis. Karena adanya
peningkatan ukuran ovarium, terdapat resiko torsi. Kista ini berkembang
akibat adanya kadar beta-HCG yang tinggi dan kadarnya biasanya
menurun setelah mola Gambar 1. Contoh dari Mola Sempurna

Mola Parsial

Lebih sering tidak memperlihatkan tanda fisik. Paling sering ditemukan


dengan USG

Pembesaran uterus dan preeklampsia dilaporkan terjadi hanya pada 3%


kasus

Kista Theca lutein, hiperemesis, and hiperthyroidism jarang terjadi.

3. Laboratorium
Pengukuran kadar Hormon Karionik Ganadotropin (HCG) yang tinggi
maka uji biologik dan imunologik (Galli Mainini dan Plano test) akan
positif setelah titrasi (pengeceran) : Galli Mainini 1/300 (+) maka suspek
molahidatidosa
4. Radiologik

Plain foto abdomen-pelvis : tidak ditemukan tulang janin

USG : ditemukan gambaran snow strom atau gambaran seperti badai


salju.

5. Histopatologik
Dari gelembung-gelembung yang keluar, dikirim ke Lab. Patologi
Anatomi

10

Kebanyakan mola sudah dapat dideteksi lebih awal pada trimester awal
sebelum terjadi onset gejala klasik tersebut, akibat terdapatnya alat penunjang
USG yang beresolusi tinggi. Gejala mola parsial tidak sama seperti mola
komplet mola. Penderita biasanya hanya mengeluhkan gejala seperti
terjadinya abortus inkomplet atau missed abortion, seperti adanya perdarahan
vaginal dan tidak adanya denyut jantung janin. Dari pemeriksaan fisik pada
kehamilan mola komplet didapatkan umur kehamilan yang tidak sesuai
dengan besarnya uterus (tinggi fundus uteri). Pembesaran uterus yang tidak
konsisten ini disebabkan oleh pertumbuhan trofoblastik yang eksesif dan
tertahannya darah dalam uterus. Didapatkan pula adanya gejala preeklamsia
yang terjadi pada 27% kasus dengan karakteristik hipertensi ( TD > 140/90
mmHg), protenuria (>300 mg.dl), dan edema dengan hiperefleksia. Kejadian
kejang jarang didapatkan. Kista theca lutein, yakni kista ovarii yang
diameternya berukuran > 6 cm yang diikuti oleh pembesaran ovarium. Kista
ini tidak selalu dapat teraba pada pemeriksaan bimanual melainkan hanya
dapat diidentifikasi dengan USG. Kista ini berkembang sebagai respon
terhadap tingginya kadar beta HCG dan akan langsung regresi bila mola telah
dievakuasi.
Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan antara lain kadar beta HCG
yang normal. Bila didapatkan > 100.000 mIU/mL merupakan indikasi dari
pertumbuhan trofoblastik yang banyak sekali dan kecurigaan terhadap
kehamilan mola harus disingkirkan. Anemia merupakan komplikasi yang
sering terjadi disertai dengan kecenderungan terjadinya koagulopati.sehingga
pemeriksaan darah lengkap dan tes koagulasi dilakukan. Dilakukan juga
pemeriksaan tes fungsi hati, BUN dan kreatinin serta thyroxin dan serum
inhibin A dan activin.
Pemeriksaan ultrasonografi merupakan pemeriksaan standar untuk
mengidentifikasi kehamilan mola. Dari gambaran USG tampak gambaran

11

badai salju (snowstorm) yang mengindikasikan vili khoriales yang hidropik.


Dengan resolusi yang tinggi didapatkan massa intra uterin yang kompleks
dengan banyak kista yang kecil-kecil. Bila telah ditegakkan diagnosis mola
hidatidosa, maka pemeriksaan rontgen pulmo harus dilakukan karena paru paru merupakan tempat metastasis pertama bagi PTG.
Pemeriksaan histologis memperlihatkan pada mola komplet tidak terdapat
jaringan fetus, terdapat proliferasi trofoblastik, vili yang hidropik, serta
kromosom 46,XX atau 46,XY. Sebagai tambahan pada mola komplet
memperlihatkan peningkatan faktor pertumbuhan, termasuk c-myc, epidermal
growth factor, dan c-erb B-2, dibandingkan pada plasenta yang normal. Pada
mola parsial terdapat jaringan fetus beserta amnion dan eritrosit fetus.

IX.

DIAGNOSA BANDING
1. Kehamilan ektopik terganggu
2. Abortus inkomplet
3. Blighted ovum

Mola

KET

Hidatidosa
Warna

Merah tua

Merah kehitaman

darah

Blighted

Abortus

Ovum

Inkomplitus

Flek

Merah tua

kecoklatan

disertai
prongkolan

Sifat

Intermiten

perdarahan
Nyeri perut

Tidak ada

Kontinyu, tidak

Tidak

Terus-menerus

banyak

menentu

Ada, sampai

Tidak ada

Merasa mulas

pingsan
Hasil

Jaringan

Berimplantasi di

Tidak

Sebagian masih

konsepsi

trofoblas

tempat ektopik

terbentuk

di dalam uterus

12

Uterus

Lebih besar

Normal atau

Lebih kecil

Lebih kecil dari

dari usia

membesar tetapi

dari usia

usia kehamilan

kehamilan

tdk sesuai usia

kehamilan

kehamilan
Tidak khas

VT

Nyeri goyang

Tidak khas

servik, cavum

Ada dilatasi
servik

douglas cembung
USG

Gambaran

Bangunan massa

Kantong

Cavum uteri

buah anggur

hiperekoik tidak

gestasi

tampak

atau badai

beraturan, ada

yang

hiperekoik yang

salju

gambaran darah

kosong

bentuknya tidak

intraabdominal

X.

beraturan

KOMPLIKASI
1. Keganasan yang disebut koriokarsinoma terjadi pada 26% dari kasus
molahidatidosa akibat displasi dan hiperplasi sel trofoblas sisa
molahidatidosa yang kurang bersih saat suction curetage yang menginvasi
organ lain.
2. Anemia akibat hiperemesis dapat terjadi pada penderita mola. Anemia
defisiensi besi juga terjadi akibat perdarahan per vagina yang merupakan
gejala yang sering ditemukan pada molahidatidosa.
3. Kista teka lutein sering terjadi pada molahidatidosa komplet akibat
perangsangan sel-sel korpus luteum oleh hCG yang diproduksi berlebih.
Sebagian kista ini dapat mengalami torsio, infark, dan perdarahan.
Ooforektomi tidak diperlukan pasca pengeluaran kista kecuali telah terjadi
infark yang luas.
4. Hipertiroid dan krisis tiroid dapat terjadi pada penderita molahidatidosa
akibat tingginya kadar hCG yang berikatan dengan reseptor TSH di
kelenjar tyroid sehingga meningkatkan tyroid stimulating activiti,
kemudian diikuti peningkatan produksi T3 dan T4.

13

5. Hipertensi akibat kehamilan juga dapat terjadi pada usia kehamilan <24
minggu dan menetap hingga trimester II. Hipertensi ini diduga akibat
neoplastik sel trofoblas mengakibatkan debris trofoblas yang apoptosis dan
nekrotik juga semakin meningkat dibandingkan pada kehamilan normal.
Debris ini menjadi benda asing yang kemudian merangsang timbulnya
inflamasi yang mengaktifkan sel endotel dan sel fagosit lebih banyak.
Selanjutnya terjadi disfungsi endotel yang memicu agregasi trombosit dan
produksi tromboksan untuk memperbaiki disfungsi endotel tersebut. Efek
dari tromboksan berupa vasokonstriksi pembuluh darah sehingga dapat
menyebabkan hipertensi.

XI.

PENATALAKSANAAN
Terapi mola terdiri dari 4 tahap yaitu:
1) perbaiki keadaan umum; 2) pengeluaran jaringan mola; 3) terapi profilaksis
dengan sitostatika; 4) pemeriksaan tindak lanjut (follow up).
1. Perbaikan keadaan umum.
Yang dimaksud usaha ini yaitu koreksi dehidrasi, transfuse
darah bila anemia (Hb 8 gr%), jika ada gejala preeklampsia dan
hiperemis gravidarum diobati sesuai dengan protocol penanganannya.
Sedangkan bila ada gejala tirotoksikosis di konsul ke bagian penyakit
dalam.
2. Pengeluaran jaringan mola.
a. Kuretase

Dilakukan

setelah

persiapan pemeriksaan

selesai

(pemeriksaan

darah rutin, kadar -hCG, serta foto thoraks) kecuali bila jaringan
mola sudah keluar spontan.

14

Bila

kanalis

servikalis

belum

terbuka,

maka

dilakukan

pemasangan laminaria dan kuretase dilakukan 24 jam kemudian.

Sebelum kuretase terlebih dahulu disiapkan darah dan pemasangan


infus dengan tetesan oxytocin 10 UI dalam 500 cc Dextrose 5%/.

Kuretase dilakukan sebanyak 2 kali dengan interval minimal 1 minggu.

Seluruh jaringan hasil kerokan dikirim ke laboratorium PA.

b. Histerektomi: tindakan ini dilaku-kan pada wanita yang telah cukup


(> 35 tahun) dan mempunyai anak hidup (>3 orang).
3. Terapi profilaksis dengan sitostatika
Pemberian kemoterapi repofilaksis pada pasien pasca evaluasi
mola hidatidosa masih menjadi kontroversi. Beberapa hasil penelitian
menyebutkan bahwa kemungkinan terjadi neoplasma setelah evaluasi
mola pada kasus yang mendapatkan metotreksat sekitar 14%, sedangkan
yang

tidak mendapat

kemoterapi

sekitar

pada kasus

47%. Pada umumnya

mola

hidatidosa

profilaksis

ditinggalkan dengan

pertimbangan efek samping dan pemberian kemoterai untuk tujuan


trapi definitive memberi-kan keberhasilan hampir 100%. Sehingga
pemberian profilaksis
pilihan

diberikan

profilaksis kemoterapi

apabila.

apabila dipandang

adalah: Metotreksat

perlu

20 mg/ hari IM

selama 5 hari.
4. Pemeriksaan tindak lanjut

Lama pengawasan berkisar satu sampai dua tahun

Setelah pengawasan penderita dianjurkan memakai kontrasepsi


kondom, pil kombinasi atau diafragma dan pemeriksaan fisik
dilakukan setiap kali pada saat penderita datang kontrol

Pemeriksaan

kadar

-hCG

dilakukan setiap minggu sampai

ditemukan kadar -hCG normal tiga kali berturut-turut

Setelah itu pemeriksaan dilanjutkan setiap bulan sampai kadar hCG normal selama 6 kali berturut-turut
15

Bila terjadi remisi spontan (kadar -hCG, pemeriksaan fisis, dan


foto thoraks setelah saru tahun semua-nya normal) maka penderita
tersebut dapat berhenti menggunakan kontrasepsi dan hamil lagi.

Bila selama masa observasi kadar -hCG tetap atau bahkan meningkat
atau pada pemeriksaan klinis, foto

thoraks ditemukan

adanya

metastase maka penderita harus dievaluasi dan dimulai pemberian


kemoterapi.

XII.

PROGNOSIS
Kematian pada mola hidatidosa dapat disebabkan karena perdarahan,
infeksi, eklampsia, payah jantung atau tirotoksikosis. Di negara maju hampir
tidak ada lagi, namun di Negara berkembang masih cukup tinggi antara 2%
sampai

5%.

dikeluarkan

Sebagian wanita akan sehat kembali setelah


tetapi ada sekelompok wanita yang

kemudian

jaringan
menderita

degenerasi keganasan menjadi koriokarsinoma. Proses degenerasi ganas


dapat berlangsung antara tujuh hari sampai tiga tahun dengan terbanyak
dalam waktu enam bulan.

16

DAFTAR PUSTAKA
1. Abdullah. M.N. dkk. Mola Hidatidosa. Pedoman diagnosis dan terapi lab/upf.
Kebidanan dan penyakit kandungan. Rsud dokter soetomo surabaya. 1994.
Hal 25-28.
2. Ayurai, 2009. Mola Hidatidosa. Download at 22 september 2009 from :
http://ayurai.wordpress.com/2009/06/26/mola-hidatidosa/
3. Cuninngham. F.G. dkk. Mola Hidatidosa Penyakit Trofoblastik Gestasional
Obstetri Williams. Edisi 21. Vol 2. Penerbit Buku Kedokteran. EGG Jakarta.
2006. Hal 930-938.
4. Diyah Metta Ningrum dan Ova Emilia, 2008. Diagnosis Dan Manajemen
Mola

Hidatidosa.

Download

tanggal

14

september

2009

dari

http://theeyebrow.blogspot.com/2008/01/mola-hidatidosa.html
5. Harnawatiaj, 2008. Askep Mola Hidatidosa. Download at 20 september 2009,
available

from:

http://harnawatiaj.wordpress.com/2008/05/10/askep-mola-

hidatidosa/
6. Lisa E Moore, 2008. Hydatidiform Mole. Download at 15 september 2009
available from: www.e-medicine.com
7. Mansjoer, A. dkk. Mola Hidatidosa. Kapita Selekta Kedokteran. Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. Jilid I. Media Aesculapius. Jakarta.2001.
Hal 265-267
8. Martaadisoebrata. D, & Sumapraja, S. Penyakit Serta Kelainan Plasenta &
Selaput Janin. Ilmu Kebidanan. Yayasan Bina pustaka SARWONO
PRAWIROHARDJO. Jakarta.2002 Hal 341-348.
9. Mochtar. R. Penyakit Trofoblas. Sinopsis Obstetri. Jilid I. Edisi2. Penerbit
Buku Kedokteran. ECG. Jakarta. 1998. Hal. 238-243. 6.
10. Prawirohadjo, S. & Wiknjosastro, H. Mola Hidatidosa. Ilmu Kandungan.
Yayasan Bina Pustaka SARWONO PRAWIROHADJO. Jakarta. 1999. Hal .
262-264
11. Ross S. Berkowitz, M.D., and Donald P. Goldstein, M.D, 2009. Molar
Pregnancy. Downloaded from www.nejm.org on September 16, 2009

17

12. Sastrawinata, S.R. Mola Hidatidosa. Obsetetri Patologik. Bagian Obstetri dan
Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran. Elstar Offset.
Bandung. 1981. Hal38-42.

18

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG
2014

A.

B.

IDENTITAS
1.

Nama

: Ny. S.H.

2.

Umur

: 29 tahun

3.

Jenis kelamin

: Perempuan

4.

Alamat

: Pakintelan RT 2 RW 2

5.

No CM

: 05-71-97

6.

Agama

: Islam

7.

Pendidikan

: SMA

8.

Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

9.

Status

: Menikah

10. Nama Suami

: Tn. M.Y.

11. Tanggal Masuk

: 30 November 2014

12. Jam Masuk

: Pk 16.25 wib

13. Kelas

: BPJS kelas II

ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis pada tanggal 30- 11- 2014
1. Keluhan Utama :
Keluar darah dari jalan lahir berupa flek-flek sejak kurang lebih 1 minggu
yang lalu (24-11-2014).
2. Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien 29 tahun dengan G2P1A0 hamil 20 minggu datang ke VK dari
IGD dengan keluhan keluar darah dari jalan lahir berupa flek-flek sejak
kurang lebih 1 minggu yang lalu (24-11-2014). darah yang keluar berupa
darah segar bercampur gelembung-gelembung seperti mutiara sebanyak 1
pembalut setiap harinya. Saat keluar darah perut terasa mules-mules.

19

Pasien juga mengeluh sering mual muntah sejak 1 bulan ini. Riwayat
trauma tidak ada.
3. Riwayat Kehamilan
Pasien mengaku hamil ke-II dengan usia kehamilan 20 minggu, hari
pertama haid terakhir pada tanggal 2 - 08 - 2014
Dua minggu setelah terlambat haid pada bulan September, pasien
melakukan tes kehamilan dan hasilnya (+)
Pada usia kehamilan 19 minggu, pasien mengeluh keluar flek-flek
coklat selama 4 hari tetapi pasien tidak memeriksakan ke dokter

4. Riwayat Obstetri
I

: Anak pertama laki-laki sekarang usia 5 tahun, sehat, lahir spontan

di bidan, aterm, BBL 3100 gram.


II : Hamil ini
5. Riwayat Haid
o Menarche

: 13 tahun

o Siklus haid

: 28 hari

o Lama haid

: 7 hari

o Dismenore

:-

6. Riwayat Perkawinan
Pasien menikah yang pertama kali dengan suami sekarang
Usia pernikahan 6 tahun.
7. Riwayat KB
Pasien menggunakan KB kondom
8. Riwayat Penyakit Dahulu
o Riwayat Sakit Seperti ini

: disangkal

o Riwayat Hipertensi

: disangkal

o Riwayat Penyakit Jantung

: disangkal

o Riwayat Penyakit Paru

: disangkal

o Riwayat DM

: disangkal

20

9. Riwayat Penyakit Keluarga


o Riwayat Sakit Seperti ini

: disangkal

o Riwayat Hipertensi

: disangkal

o Riwayat Penyakit Jantung

: disangkal

o Riwayat Penyakit Paru

: disangkal

o Riwayat DM

: disangkal

10. Riwayat Sosial Ekonomi


Pasien adalah seorang ibu rumah tangga, suami pasien bekerja swasta.
Kesan ekonomi : cukup, untuk biaya kesehatan menggunakan biaya
BPJS.

C.

PEMERIKSAAN FISIK
1.

Status Present
Keadaan Umum : baik
Kesadaran

: compos mentis

Vital Sign

Tensi : 120/80 mmHg


Nadi

: 80 x/menit

RR

: 24 x/menit

Suhu : 36,4 0C
2.

Status Internus
o Kepala

: Mesocephale

o Mata

: Conjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)

o Hidung

: Discharge (-/-), septum deviasi (-), nafas cuping

hidung (-)
o Telinga

: Discharge (-/-)

o Mulut

: Bibir sianosis (-), mukosa bibir kering (-), lidah

kotor (-)
o Tenggorokan : Faring hiperemis (-), pembesaran tonsil (-)
o Leher

: Simetris, pembesaran kelenjar limfe (-), deviasi


trachea (-)
21

o Kulit

: Turgor baik, ptekiae (-)

o Mamae

: Simetris, benjolan abnormal (-), hiperpigmentasi


areola (+/+)

o Jantung

Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak

Palpasi

: Ictus cordis teraba di ICS V 2 cm medial linea


midclavicularis sinistra

Perkusi

: Tidak dapat ditentukan batas- batasnya karena


terhalang oleh mamae yang membesar

Auskultasi : suara jantung I dan II murni, reguler, suara


tambahan (-)

o Paru

Inspeksi

: Hemithorax dextra dan sinistra simetris

Palpasi

: Stemfremitus dextra dan sinistra sama,

nyeri tekan (-)

Perkusi

: sonor seluruh lapang paru

Auskultasi

: vesikuler

o Extremitas

3.

:
Superior

Inferior

Oedem

-/-

-/-

Varises

-/-

-/-

Reflek fisiologis

+/+

+/+

Reflek patologis

-/-

-/-

Status Obstetri
- Abdomen

Inspeksi : perut membesar, striae gravidarum (-)

Palpasi

fundus

uteri

teraba

di

pertengahan

proc.

xyphoideus dan umbilikus tidak teraba bagian-bagian janin,


ballottement (-), dan gerakan janin (-).
- Genitalia

22

Externa : PPV (+), darah segar (+), gelembung-gelembung


(+), stolsel (-), lendir (-), vulva vagina oedem (-)

Interna

: VT

: Portio tebal lembut, permukaan licin,

konsistensi kenyal, sebesar jempol kaki, Nyeri goyang (-),


OUE terbuka 1 jari, teraba jaringan (+), darah (+),Tak teraba
massa pada adneksa parametrium kanan dan kiri, nyeri tekan (), Tak teraba massa dalam cavum douglas, nyeri tekan (-)
Sarung tangan terdapat darah segar dan stolsel
D. PEMERIKSAAN PENUNJANG

1.

Pemeriksaan Laboratorium Darah (30 - 11 - 2014) :


Hb

: 13,9 g/dL

Hematokrit

: 40,8 %

Lekosit

: 10.920 /uL

Trombosit

: 159.000 /uL

Lain-lain

: Golongan darah : O, Rhesus (+)


BT : 2`00``
CT : 4`00

2.

Pemeriksaan USG (tgl 1 - 12 - 2014)

Tampak uterus membesar dengan snowstorm appearance sesuai dengan


gambaran mola hidatidosa
Tak tampak gambaran janin intra uterine, endometrium line masih tebal
Tak tampak masa di regio adneksa
Tak tampak cairan bebas intraabdomen
Tak tampak kelainan intra abdomen lainnya

E. RESUME

Pasien wanita 29 tahun G2P1A0 hamil 20 minggu datang dengan keluhan


keluar darah dari jalan lahir sejak 1 bulan yang lalu, darah yang keluar berupa
flek-flek setiap harinya, bercampur gelembung-gelembung seperti mutiara
sebanyak 1 pembalut setiap harinya, perut terasa mules-mules saat keluar
darah. Pasien mengeluh sering mual muntah 1 bulan ini.

23

Riwayat Obstetri
G2P1A0
I

: Anak pertama laki-laki sekarang usia 5 tahun, sehat, lahir spontan

di bidan, aterm, BBL 3100 gram.


II : Hamil ini
Pasien menikah yang pertama kali dengan suami sekarang dengan usia
pernikahan 6 tahun, dan menggunakan KB kondom.
Status Present

: dalam batas normal

Status Internus

: dalam batas normal

Status Obstetri

- Abdomen : ukuran uterus melebihi usia kehamilannya


Genitalia :

Externa : PPV (+), darah segar (+), gelembung-gelembung


(+), stolsel (-), lendir (-), vulva vagina oedem (-);

Interna

: VT : Portio tebal lembut, permukaan licin,

konsistensi kenyal, sebesar jempol kaki, Nyeri goyang (-),


OUE terbuka 1 jari, teraba jaringan (+), darah (+),Tak
teraba massa pada adneksa parametrium kanan dan kiri,
nyeri tekan (-),Tak teraba massa dalam cavum douglas,
nyeri tekan (-) Sarung tangan terdapat darah segar dan
stolsel

Pemeriksaan penunjang
1. Pemeriksaan Laboratorium Darah : dalam batas normal
2.

Pemeriksaan USG : sesuai dengan gambaran molahidatidosa

F. DIAGNOSA BANDING

1 Mola hidatidosa
2 Abortus inkomplit
3 Kehamilan ektopik terganggu

24

G. DIAGNOSA KERJA

Pasien wanita 29 tahun GIIPiA0 hamil 22 minggu 2 hari dengan Mola


hidatidosa

H. PROGNOSA

Qua ad vitam

: ad bonam

Qua ad sanam

: dubia ad bonam

Qua ad fungsinam

: dubia ad bonam

Qua ad kosmetika

: dubia ad bonam

I. USULAN TERAPI

1. Perbaikan keadaan umum : rujuk dr. Sp.OG, monitoring keadaan umum,


klinis penderita, vital sign sebelum dan sesudah kuretase, tirah baring,
infus RL 20 tpm
2. Pro suction curetage + PA tanggal 1 Desember 2014
3. Profilaksis : menawarkan pilihan program histerektomi bersamaan dengan
pengambilan mola, atau beberapa hari pasca kuret dengan pertimbangan
kondisi pasien

J. EDUKASI

1. Edukasi Tindakan kuretase :

Memberi informed consent

Menjelaskan pada klien tentang penyakit yang diderita

Menerangkan kepada pasien tentang tindakan kuretase yang akan


dilakukan:
o garis besar prosedur tindakan
o tujuan dan manfaat tindakan
25

Memeriksa keadaan umum pasien, bila memungkinkan pasien


dipuasakan

2. Konseling Pasca Tindakan :

Menerangkan kepada pasien akan tanda-tanda kemungkinan


terjadinya komplikasi, perdarahan, atau infeksi.

Minta pada pasien agar segera datang ke klinik bila ada keluhan/
komplikasi.

Minta pada pasien untuk datang kontrol (1 minggu kemudian).

Memberi penjelasan tentang obat yang harus diminum sesuai resep.

K. Laporan Operasi Curetage :

1. Pasien tidur terlentang di meja operasi dengan GA.


2. Septik aseptik perineum dan sekitarnya, tutup dengan doek steril.
3. Pasang spekulum menekan commissura posterior
4. Jepit portio dengan tenakulum
5. Lakukan sondase 10cm
6. Evakuasi sisa konsepsi dengan ovarium klem
7. Lakukan kuretase dengan sendok kuret tajam, keluar jaringan + 75 cc
PA
8. Sondase ulang 8cm
9. Evaluasi dan atasi perdarahan
10. Lepas alat
11. Hitung alat lengkap
12. Operasi selesai

L. FOLLOW UP

Tanggal/ jam
1 Desember 2014

Subjectif &
Objectif
S : Mulas,

Assesment
G2P1A0 hamil 22

Planing
Inf. RL 20 tpm

26

CURETAGE

perdarahan per

minggu 2 hari

Inj. Cefotaxime

vagina (+)

suspect

(premed)

O:

molahidatidosa

Jaringan PA +

S : (-)

P1AI post curetage

Inf. RL 20 tpm

O:

HI

PO Cefadroxyl 3x1

T : 130/80
mmHg
N : 84 x/menit
RR : 20 x /menit
Suhu : 36,6 0C
2 Desember 2014

T : 110/90

PO Pospargin 3x1

mmHg

PO Asam

N : 80 x/menit

3x1

mefenamat

RR : 18 x /menit
Suhu : 36,4 0C
Abd :
I : supel.
P : TFU tak teraba,
NT Abdomen (),

supel,

tak

teraba massa.
Gen : flour/fluxus
(-/-)
Ekstremitas :
Oedem : -

27

M. PENGAMATAN LANJUTAN

Periksa ulang kadar HCG untuk memeriksa kemungkinan terjadinya


metastasis

Pada kasus yang tidak menjadi ganas kadar HCG menjadi turun dan segera
menjadi negatif

Pemeriksaan HCG dilaksanakan 1x seminggu pada triwulan pertama


sampai hasil negatif, selanjutnya setiap 2 minggu sekali selama triwulan
selanjutnya, kemudian sebulan sekali dalam 6 bulan berikutnya, kemudian
setiap 3 bulan sekali selama tahun berikutnya.

28