Anda di halaman 1dari 45

I . PENDAHULUAN.

Apa yang akan dituntut menjadi seorang Supervisor yang sukses ?


Banyak yang percaya bahwa kita harus menjadi manusia yang
menyenangkan untuk memimpin dalam manajemen. Ada pendapat lain
kita harus mengambil bagian dalam pengawasan dengan ketat untuk
menjaga agar karyawan bekerja sesuai dengan ketentuan perusahaan.
Yang benar adalah sebagai seorang supervisor kita tidak perlu menjadi
seorang diktator untuk mengawasi secara efektif, melainkan jadilah
seorang teman bagi para karyawan agar mereka mematuhi supervisor.
Perlu diingat melakukan penekanan tidak harus menjadi bagian dari
pekerjaan seorang supervisor.
Keberhasilan menjadi seorang supervisor membutuhkan suatu keahlian
yang dapat dihandalkan. Pendapat yang menyatakan bahwa manajemen
sebagai suatu seni tidak seluruhnya benar, karena menjadi supervisor
tidak menuntut daya tarik yang luar biasa, sihir atau susunan pembawa
sifat keturunan ( gen ) yang khusus. Supervisor memerlukan keahlian
seperti keahlian lainnya dan supervisi / pengawasan yang efektif bisa
dipelajari.
Supervisor adalah anggota tim manajemen yang mengawasi
pekerjaan orang lain serta menjadi perantara antara manajemen
dan para karyawan.
Namun menjadi supervisor yang berhasil tidak hanya melakukan hal itu,
tetapi perlu melakukan hal-hal positip lebih banyak lagi. Menjadi
supervisor yang sukses berarti juga menjadi seorang pemimpin. Dalam
kepemimpinan , supervisor berlatih memberi perhatian dan mengizinkan
karyawan lain untuk mengembangkan kemampuan, keahlian dan
pemikirannya dalam memperoleh suatu hasil kerja. Sebagai pemimpin
seorang supervisor menginginkan peningkatan efisiensi, produktivitas,
inisiatif, kepemilikan dan kreativitas dengan mempersiapkan
pengarahan, penghargaan, tantangan dan dukungan. Seseorang menjadi
supervisor yang sukses dengan memimpin orang lain untuk sukses.
Kemampuan memimpin bukan sesuatu yang dibawa sejak lahir.
Kepemimipinan adalah sesuatu yang dapat dipelajari.

Kepemimipinan mendapatkan hasil yang terbaik jika dapat mengatur


aset perusahaan dan memimpin para karyawan. Untuk menjadi
supervisor yang berhasil harus terlebih dahulu mengetahui bagaimana
menjadi seorang pemimpin.
Supervisory Laboratorium adalah kepengawasan dalam suatu
Laboratorium. Hal-hal yang akan dibicarakan meliputi : bagaimana
menjadi pengawas di Laboratorium, bagaimana mengorganisir
pekerjaan, bagaimana tata cara berkomunikasi,
bagaimana
mengevaluasi hasil analisa, bagaimana mengeluarkan hasil analisa,
bagaimana bernegoisasi, bagaimana melakukan pembinaan dan
sebagainya.

II. KEPEMIMPINAN.
Kepemimpinan dimulai dari hati bukan dari kepala. Saat ini gambaran
kepemimpinan telah berubah secara dramatis. Kepemimpinan
mengalami perkembangan sesuai dengan jaman dan masa yang terus
mengalami perubahan. Ilmu-ilmu kepemimpinan dulu mungkin sudah
tidak relevan lagi untuk diterapkan pada masa kini. Kepemimpinan
secara teoritis dan akademispun kadang-kadang tidak semenarik
dibanding dengan kepemimipinan praktis. Namun ada nilai-nilai lama
yang tidak akan usang seperti tanggung jawab, integritas, komitmen,
karakter dan ciri-ciri yang mencerminkan sikap mental positip. Nilainilai ini mungkin kuno, tetapi tidak akan usang oleh waktu serta tetap
akan ada dan sudah teruji melalui waktu sampai kini.
Dalam menyikapi fenomena tersebut dibutuhkan suatu pribadi yang
mempunyai karakter yang berkualitas seperti ulet, kuat, dinamis dan
memiliki kepercayaan pribadi atas kemampuan dan melakukan tindakan
yang penuh asih tanpa mengalahkan dan merendahkan orang lain.
Segala sifat-sifat seperti frustasi, ketakutan, buang-buang waktu
percuma dan hal-hal yang menjadikan tidak efektif akan membuat kita
jauh dari pemenang.
II.1. Leadership.
Pengertian Leadership disebut juga sebagai kepemimpinan adalah :
- proses seorang individu mempengaruhi anggota-anggota
kelompok lainnya untuk pencapaian tujuan kelompok atau
organisasi
- proses yang melibatkan seorang pemimpin untuk mengubah
tindakan atau beberapa perilaku anggota kelompok atau
bawahan
- penggunaan teknik mempengaruhi yang tidak memaksa
mendasarkan diri pada perasaan positip antara pemimpin dan
yang dipimpin.
3

Dengan kata lain leadership berarti bawahan menerima pengaruh dari


pemimpin, karena pemimpinnya mempunyai kepribadian dan
kemampuan untuk memimpin sehingga disukai dan dihormati bukan
hanya karena para pemimpin tersebut mempunyai posisi pemegang
jabatan dan kekuasaan secara formal.
II.2. Kualitas Pemimpin yang Efektif.
Kepemimpinan mempunyai arti yang lebih dalam daripada sekedar label
atau jabatan yang diberikan kepada seorang manusia. Ada unsur visi
jangka panjang serta karakter di dalam sebuah kepemimpinan.
Pemimpin dapat didefinisikan sebagai seseorang yang mampu
menggerakkan pengikut untuk mencapai suatu tujuan organisasi.
Pemimpin yang efektif mempunyai 3 kualitas penting :
1. Pemimpin yang mengilhami kepercayaan.
2. Pemimpin yang tahu bagaimana menjadi pengikut
3. Pemimpin yang membuat hubungan.
II. 2.1. Pemimpin yang mengilhami kepercayaan.
Tindakan pemimpin demi memberi yang terbaik bagi semua yang patuh
padanya, dan pemimpin itu akan memenuhi kebutuhan kelompok /
perusahaan tanpa mengorbankan hak-hak individu / karyawan. Seorang
pemimpin harus bisa menunjukkan rasa keadilan, tahu kapan harus
meneruskan dan kapan harus beristirahat, kapan harus mengritik kapan
harus memuji. Seorang pemimpin harus tahu bagaimana mendorong
orang lain untuk berhasil.
II. 2.2. Pemimpin yang tahu bagaimana menjadi pengikut.
Kemampuan untuk memimpin mencakup menjadi seorang pemimpin
sekaligus seorang pengikut. Pemimpin harus menyadari bahwa ia tidak
memiliki jawaban untuk semua masalah. Pemimpin harus dapat
menghargai pengikutnya yang mendengar apa yang ia katakan dan

apabila waktunya tepat, ia juga mengizinkan pengikutnya untuk


memimpin.
II.2.3. Pemimpin yang membuat hubungan.
Seorang pemimpin tahu bahwa ia tidak dapat memimpin dari ruang
kerjanya yang nyaman. Mengeluarkan memo tepat untuk menangani
pekerjaan rutin, tetapi saat masalah muncul pemimpin harus berada
ditempat masalah itu untuk melakukan suatu tindakan.
II.3. Kualitas Dasar Supervisor.
Ada beberapa cara yang dapat diterapkan dan sekaligus menjadi kualitas
dasar seorang supervisor antara lain :
1. Penasehat
2. Bersikap adil
3. Lingkungan kerja.
4. Stabilisator dalam perubahan
5. Keberanian.
II.3.1. Penasehat.
Seorang Supervisor harus dapat menjadi penasehat bagi para karyawan
yang melapor kepadanya. Saat memimpin karyawan, supervisor
membela karyawan yang ada dalam supervisinya. Jika ada yang
mengeluhkan salah satu karyawan, maka harus segera diatasi. Setia
kepada karyawan, kalau perlu bela karyawan ketika seseorang
mengancam kemampuan karyawan dalam menyelesaikan pekerjaan.
Sebagai penasehat supervisor harus dapat bersikap :
- Memberikan saran dan masukan kepada pekerja
- Memberikan perlindungan kepada pekerja
- Mendahulukan kepentingan perusahaan dan pekerja

II.3.2. Bersikap adil.


Dalam mengawasi tim, supervisor juga berperan sebagai corong bagi
kebijakan manajemen diatasnya. Supervisor yang efektif jika mau
berjuang menciptakan ketenangan, keadilan dan pengertian penuh akan
hal yang akan supervisor minta untuk dilakukan orang lain.
Supervisor harus dapat bersikap adil seperti :
- Menyampaikan kebijakan Perusahaan
- Menenangkan gejolak apabila terjadi perubahan
- Menyelesaikan dengan se-baik-baiknya masalah antar Perusahaan
( Tim Manajemen ) dengan pekerja, antar satu pekerja dengan
pekerja lainnya.
II.3.3. Lingkungan kerja.
Dapat menciptakan lingkungan kerja yang mendukung sebagai salah
satu dasar untuk mencapai tujuan. Sebagai supervisor dapat menciptakan
kepuasan atau keinginan karyawan untuk melakukan pekerjaan dengan
baik. Supervisor dapat menciptakan suatu lingkungan yang membantu
karyawan melakukan pekerjaan dengan lebih baik jika :
- Mengizinkan karyawan membantu proses pengembangan kerja
- Menanyakan kepada karyawan apa yang menghambat mereka
dalam melaksanakan pekerjaan
- Meminta manajemen untuk melengkapi peralatan kerja yang
dibutuhkan karyawan.
Dengan menciptakan suatu lingkungan dimana para karyawan dapat
merasa bangga dengan diri dan pekerjaan mereka sendiri akan
menghasilkan energi positip dilingkungan kerja.
II.3.4. Stabilisator dalam perubahan.
Salah satu tanggung jawab sebagai seorang supervisor adalah dapat
memberikan rasa stabilitas bagi karyawan terutama selama masa

perubahan. Dalam memberikan kestabilan untuk diri sendiri dan


karyawan seorang supervisor harus :
- Mengambil langkah-langkah untuk menghindari kejutan yang tidak
dikehendaki
- Berunding dengan karyawan sebelum melakukan perubahan
- Menjaga komunikasi dengan atasan
- Belajar sebanyak mungkin tentang pekerjaan seorang supervisor
- Membuat rencana jangka pendek sebagaimana halnya membuat
rencana jangka panjang.
II.3.5. Keberanian.
Ketika seseorang diangkat menjadi supervisor, berarti supervisor
tersebut telah menjadi bagian dalam kelompok manajer manajer lain.
Pribadi-pribadi yang mampu menjalankan keputusan sulit menjadi orang
yang menonjol dalam kelompok ini. Cara seorang supervisor menangani
suatu pekerjaan sekarang menetukan besarnya tanggung jawab yang
akan dipercayakan kepada supervisor tersebut dimasa depan.
Kemampuan seorang supervisor menangani isu pekerjaan adalah suatu
petunjuk akan kemampuan supervisor untuk berkarir dan memajukan
perusahaan.
Dalam menunujukkan keberanian sebagai seorang Supervisor harus
dapat antara lain :
- Memberikan keputusan yang sulit dan diupayakan merupakan winwin solution
- Menerima instruksi kerja walaupun kadang-kadang merupakan hal
yang sulit
- Mempunyai kemampuan menolak sesuatu yang tidak pada
tempatnya atau tidak sesuai prosedur
II.4. Tingkat Jabatan Kepemimpinan di Laboratorium.
Kepemimpinan adalah proses menggerakkan grup dalam arah yang sama
tanpa paksaan. Kepemimpinan sebagai salah satu aspek penting dalam
manajemen. Kekuasaan bukan merupakan inti kepemimpinan atau harus
7

mempunyai kecerdasan dan pengetahuan semata. Dengan mengadaptasi


berbagai gaya kepemimpinan dalam situasi yang berbeda, bisa
digunakan sebagai model tingkah laku leader untuk menghadapi
berbagai macam sifat anak buah yang dipimpinnya. Memimpin dalam
suatu kelompok atau organisasi tidaklah mudah.
Kepemimpinan di Laboratorium sangat diperlukan, terutama pada
tingkatan Pengawas. Sebagai contoh di PT Pertamina ( Persero )
mempunyai beberapa tingkatan dalam struktur Organisasi Laboratoriumnya.
Tingkatan jabatan pekerja dibagi atas beberapa golongan seperti :
1. Biasa
: Golongan 16 10
2. Pimpinan / Staff
: Golongan 9 6
3. Utama
: Golongan 5 1
4. Pembina
: Golongan P1 keatas.
Yang termasuk dalam tingkatan Pengawas adalah di golongan 9 6.
Sedang untuk golongan 5 keatas sudah tingkatan Pekerja Utama, Kepala,
Manajer sampai ke Direktur.
Agar tidak terlalu luas dalam membicarakan tingkatan pengawas dalam
materi ini, maka sebagai contoh akan kita batasi di lingkup
Laboratorium Refinery Unit III PT Pertamina ( Persero ).
Secara organisasi Laboratorium Refinery Unit III langsung dibawah
Manajer Produksi Refinery Unit III.
Manajer Produksi

Ka. Bag
LABORATORIUM

KEPALA MUTU

KEPALA LITBANG

KEPALA PENUNJANG

DEPUTI
MUTU BBM

AST. LAB
ADM & GUDANG

DEPUTI
MUTU NBM

PWS. LAB
PERLEMGKAPAN

PWS. LAB EVAL


LUBE OIL & CHEM

PWS. LAB.
EVAL CRUDE & PROD

TLK SR-2 EVAL


PROD. BBM / NBM

TLK SR-3
EVAL CRUDE OIL

Ka. TEKNIS

KA. TEKNIS

Pws. Ut Lab. Pengamatan

Pws. Ut. Lab. Analitis & Gas

Pws. Ut. Lab. Petrokimia

Pws. Harian NBBM

II.5. Bagaimana menjadi Pengawas di Laboratorium?


Kepemimpinan adalah proses menggerakkan suatu kelompok.
Sedangkan Pengawas adalah orang yang menggerakkan suatu
kelompok / grup atau dengan kata lain Pengawas adalah setiap orang
yang mempunyai bawahan se-kurang-kurangnya satu orang atau anggota
tim manajemen yang mengawasi pekerjaan orang lain serta menjadi
perantara antara manajemen dan para karyawan.
Sesuai dengan luasnya bidang pekerjaan dan tanggung jawabnya
masing-masing Pengawas biasanya dibedakan dengan sebutan
jabatannya seperti : Direktur, Manajer, Kepala Bagian, Kepala Seksi,
Kepala Jaga dan sebagainya. Semua itu adalah anggota Pimpinan dalam
suatu Organisasi / Perusahaan yang mempunyai fungsi yang sama
didalam manajemen. Pengemban fungsi-fungsi manajemen tentu berbeda-beda sesuai tingkatan jabatan dalam Organisasi / Perusahaan.
Fungsi Manajemen tersebut menurut George R. Terry dalam bukunya
Principles of Management dan yang umum dipakai didalam suatu
Organisasi / Perusahaan, antara lain disingkat sebagai POAC :
- Planning
: Merencanakan
- Organizing
: Mengorganisasikan
- Actuating
: Menggerakkan
- Controlling : Mengendalikan
Jadi tugas dan tanggung jawab Pengawas adalah sebagai pengemban
Fungsi Manajemen ( POAC ). Disamping ke 4 hal tersebut masih ada 2
kegiatan yang dapat di kategorikan / termasuk dalam Fungsi Manajemen
yaitu : Staffing dan Motivating. Manajemen adalah suatu bentuk kerja,
9

sedang yang melakukan pekerjaannya disebut sebagai Manajer yang


harus melaksanakan kegiatan-kegiatan tertentu yang dinamakan Fungsi
Manajemen tersebut.
II.5. 1. Planning ( Merencanakan ).
Menetapkan pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh suatu kelompok
untuk mencapai tujuan yang digariskan.
Planning mencakup kegiatan pengambilan keputusan, karena termasuk
pemilihan alternatif-alternatif keputusan.
Contoh :
- Pengawas Lab merencanakan pekerjaan serta pelaksanaan sampling
dan analisa suatu sampel sebaik mungkin agar dapat menghasilkan
hasil analisa yang baik, benar dan dapat dipertanggung jawabkan
( tepat waktu dan tepat mutu ).
- Pengawas Lab merencanakan semua kebutuhan yang bersangkut paut
dengan tugas dan pekerjaan Bagian / Seksi / Kelompok seperti :
kebutuhan tenaga kerja, alat dan kelengkapannya, bahan kimia,
anggaran biaya dan sebagainya
- Pengawas Lab merencanakan waktu pelaksanaan pekerjaan dan
metode kerjanya.
- Pengawas Lab merencanakan pendidikan atau latihan bagi pekerjanya
guna pembinaan.
II.5.2. Organizing ( Mengorganisasikan ).
Mencakup :
- Membagi komponen-komponen kegiatan yang dibutuhkan untuk
mencapai tujuan kedalam kelompok-kelompok.
- Membagi tugas kepada Pengawas untuk membuat pengelompokan
tersebut
- Menetapkan wewenang diantara kelompok atau unit-unit organisasi.
Contoh :

10

- Pengawas Lab menyusun dan menata keseimbangan dalam melakukan


kegiatan rutin di Laboratorium, seperti sampling dan analisa suatu
sampel.
- Pengawas Lab menentukan petugas yang akan melakukan kegiatan
rutin sampling dan analisa.
- Pengawas Lab menetukan kapan dan dimana kegiatan sampling dan
analisa dilakukan sampai selesai.

II.5.3. Actuating ( Menggerakkan ).


Disebut juga sebagai gerakan aksi yang mencakup kegiatan yang
dilakukan seorang Pengawas utuk mengawali dan melanjutkan kegiatan
yang telah ditetapkan oleh unsur perencanaan dan pengorganisasian agar
tujuan dapat tercapai.
Mencakup :
- Penetapan dan pemuasan kebutuhan manusiawi dari pegawaipegawainya
- Memberi penghargaan
- Memberi kompensasi
- Memerintahkan / menginstruksikan sesuatu untuk dilakukan dan diselesaikan dengan baik
- Memberi semangat dan dorongan agar kegiatan dapat dilakukan
dengan baik dan benar.
Contoh :
- Pengawas Lab memperhatikan jadual dan menu makan yang
disediakan oleh Perusahaan.
- Pengawas Lab memberikan kesempatan se-kali-kali dinas keluar
daerah kepada pekerja yang rajin, patuh, disiplin, mempunyai
dedikasi dan loyalitas tinggi dan sebagainya.
- Pengawas Lab memberikan kesempatan kerja lembur jika memang
kondisi pekerjaan membutuhkan.
- Pengawas Lab memberikan instruksi kepada pekerja untuk
menyelesaikan suatu pekerjaan sampai tuntas karena kebutuhan
11

yang mendesak / urgent.


- Pengawas Lab mendorong pekerja agar segera menyelesaikan
tugas khususnya, karena keberhasilan pekerjaan ini dapat
mendukung peningkatan karier pekerja.
II.5.4. Controlling ( Mengendalikan )
Mencakup kelanjutan tugas untuk melihat apakah kegiatan-kegiatan
dilaksanakan sesuai rencana. Pelaksanaan kegiatan dievaluasi dan
penyimpangan-penyimpangan yang tidak diinginkan diperbaiki supaya
tujuan-tujuan dapat tercapai dengan baik.
Ada berbagai cara untuk mengadakan perbaikan, termasuk merubah
rencana dan tujuannya, mengatur kembali tugas-tugas atau merubah
wewenang. Seluruh perubahan tersebut dilakukan melalui manusianya.
Mencakup :
- Menilai dan memperbaiki sesuatu bila menyimpang dari ketentuan
seperti : penyimpangan kualitas, kuantitas, waktu, anggaran biaya,
metode dan sebagainya.
- Melakukan pengawasan dalam pelaksanaan tugas.
Contoh :
- Pengawas Lab memberikan masukan apabila hasil suatu analisa
sampel mengalami kelainan atau tidak seperti biasanya.
- Pengawas Lab se-kali-kali melakukan cecking atas pelaksanaan
analisa, metode / prosedur kerja, hasil analisa dan sebagainya.
II.5.5. Staffing ( Mengatur Pengawas ).
Mencakup mendapatkan, menempatkan dan mempertahankan anggota
pada posisi yang dibutuhkan oleh pekerjaan organisasi yang
bersangkutan serta menentukan keperluan-keperluan Sumber Daya
Manusia, pengerahan, penyaringan, latihan dan pengembangan tenaga
kerja.

12

II.5.6. Motivating ( Memotivasi ).


Mengarahkan atau menyalurkan perilaku manusia kearah tujuan-tujuan
serta lebih condong kepada perasaan yang terdorong dari hati sanubari
manusia.
II.6. Tanggung Jawab Pengawas.
Dalam melaksanakan Fungsi Pengawas, pengawas mempunyai tanggung
jawab untuk :
- mempertahankan atau meningkatkan kelancaran pekerjaan
- mengusahakan tercapainya hasil yang sudah ditetapkan
- menjaga / memelihara keselamatan kerja
- mentaati dan menjaga disiplin kerja
- memperhatikan masalah biaya.
Contoh :
- Pengawas Lab membantu pengadaan kelengkapan kerja seperti :
Alat penunjang , bahan kimia, glass-wares dan sebagainya.
- Pengawas Lab memberikan semangat atau memotivasi kepada
pekerjanya dengan memberikan penghargaan jika pekerjaan dapat
diselesaikan tepat waktu dengan hasil yang baik.
- Pengawas Lab selalu mengingatkan pentingnya keselamatan kerja
terutama saat akan bekerja di lapangan.
- Pengawas Lab harus dapat memberikan contoh atau sebagai
tauladan kepada pekerjanya seperti :
- masuk & pulang kerja tepat waktu,
- bekerja dengan ikhlas, semangat dan bertanggung jawab
- pada saat bekerja menggunakan alat keselamatan kerja
- Pengawas Lab memberikan saran kepada pekerja agar dalam
bekerja menghindari kesalahan / kekeliruan yang dapat
mengakibatkan
pengulangan pekerjaan yang berarti suatu
pemborosan.

13

III. ORGANISASI.
Apabila lebih dari satu orang dibutuhkan untuk melakukan suatu
kegiatan dalam rangka mencapai suatu tujuan tertentu, maka perlu
adanya suatu wadah. Wadah inilah yang disebut sebagai Organisasi.
Organisasi merupakan tempat untuk melakukan suatu kegiatan dan
sekaligus sebagai alat suatu kelompok orang yang secara ber-sama-sama
mencapai tujuan yang sudah ditentukan.
Organisasi Perusahaan adalah organisasi yang bertujuan mencari
keuntungan se-besar-besarnya dengan cara menjual hasil atau produknya
dengan baik yang berupa barang maupun jasa. Untuk menghasilkan
produk yang baik, maka organisasi harus melakukan usahanya dengan
baik yaitu efektif dan efisien.
Dalam melaksanakan usahanya sehingga mendapatkan produk yang
baik, organisasi perusahaan harus mempunyai unsur-unsur : Manusia,
Mesin, Modal, Material ( 4 M ) + Waktu ( 1 W ).
III.1. Tahapan Organisasi.
Agar tercapai tujuan suatu organisasi perlu dilakukan tahapan-tahapan :
1. Survey dan Forecasting
2. Perencanaan
3. Pelaksanaan
4. Kontrol
III.1.1. Survey dan Forecasting.
Dalam melakukan survey ( pengamatan / peninjauan ) dan forecasting
( ramalan ) perlu diketahui terlebih dahulu tujuan organisasi yang akan
dicapai.
Survey adalah suatu kegiatan sebelum melakukan suatu tindakan serta
guna menunjang pembuatan suatu perencanaan.

14

Forecasting adalah suatu kegiatan untuk meramal dengan dasar hasil


survey dan analisa data terhadap data yang tersedia, potensi operasional
serta kondisi-kondisi dimasa yang akan datang.
Forecasting juga mencoba untuk mengetahui terlebih dahulu situasi dari
lingkungan sosial di masa yang akan datang dimana perusahaan akan
melakukan kegiatannya. Walaupun seluruh forecast tidak luput dari
suatu kesalahan dan harus percaya kepada perkiraan-perkiraan saja,
forecasting merupakan prasyarat penting untuk perencanaan manajemen.
III.1.2. Perencanaan.
Perencanaan adalah suatu kegiatan yang dilakukan sebelum organisasi
melakukan tindakan atau pelaksanaan kerja untuk mencapai tujuan
organisasi tersebut dengan baik. Ada dua konsep perencanaan yang
banyak dipakai saat ini yaitu :
- Perencanaan Strategis
- Perencanaan Taktis
III.1.2.1. Perencanaan Strategis.
Istilah strategi mengandung arti memilih cara yang paling efektif untuk
menggunakan sumber-sumber perusahaan guna mencapai tujuan yang
telah ditetapkan. Strategi menunjukkan faktor-faktor mana yang harus
mendapatkan perhatian utama untuk mencapai tujuan yang
diinginkan.Yang menjadi bahan pokok dalam perencanaan. Strategis
ialah tujuan dari badan usaha, pengaruh-pengaruh lingkungan,
permintaan terhadap produk atau jasa dan praktek-praktek persaingan.
Sasaran perencanaan Strategis ialah untuk mengembangkan berbagai
alternatif strategi untuk mengembangkan berbagai alternatif strategi
untuk dapat memilih strategi ( siasat ) yang terbaik.

15

III.1.2.2. Perencanaan Taktis.


Perencanaan Taktis mencakup penentuan tugas-tugas yang harus
dilaksanakan, mengatur tanggung jawab masing-masing pelaksana,
mengalokasikan sumber-sumber usaha, menetapkan ukuran-ukuran
kuantitatif dari tiap-tiap tugas dan melaksanakan kegiatan-kegiatan yang
sudah direncanakan itu dengan fasilitas pengawasan untuk mengevaluasi
kemajuan-kemajuan yang telah tercapai.
Perencanaan Taktis mendukung perencanaan Strategis.
III.1.2.3. Jenis-jenis Perencanaan.
Beberapa rencana meliputi kegiatan yang sangat luas, sedangkan ada
yang meliputi kegiatan terbatas saja, ada yang se-mata-mata meliputi
pertimbangan operasional, sedangkan yang lain menitik beratkan pada
pelaksanaan, biaya, kualitas atau unsur-unsur penting lainnya.
Rencana-rencana tersebut diklasifikasikan sebagai berikut :
1. Rencana Pengembangan
2. Rencana Laba
3. Recana Pemakai
4. Rencana Anggota-anggota Manajemen.
III.1.2.3.1. Rencana Pengembangan.
Rencana yang menunjukkan arah secara grafis tujuan dari perusahaan.
Rencana ini diperlukan pengetahuan tentang posisi perusahaan, arah
tujuan dan sasaran yang harus dicapai, masalah-masalah yang akan atau
sedang dihadapi dalam rangka pencapaian tujuannya, waktu untuk
melaksanakan pengembangan rencana dan kegiatan-kegiatan khusus
perlu dilaksanakan untuk mencapainya.

16

III.1.2.3.2. Rencana Laba.


Rencana yang difokuskan pada laba per produk atau sekelompok
produk. Seluruh rencana berusaha menekan pengeluaran supaya dapat
mencapai laba secara maksimum.
III.1.2.3.3. Rencana Pemakai.
Rencana ini sering disebut sebagai rencana rencana produk atau rencana
pemasaran. Rencana Pemakai ini dapat menjawab pertanyaan sekitar
cara memasarkan suatu produk tertentu atau memasuki pasaran dengan
cara yang lebih baik.
III.1.2.3.4. Rencana Anggota-anggota Manajemen.
Rencana yang dirumuskan untuk menarik, mengembangkan dan
mempertahankan anggota-anggota manajemen yang ada dan semakin
hari semakin penting.
III.1.3. Pelaksanaan.
Dari semua yang telah direncanakan dengan masak mulailah dilakukan
pelaksanaan kegiatan.
Dalam melaksanakan kegiatan sebaiknya dilakukan sesuai dengan apa
yang telah direncanakan. Tahap demi tahap dilakukan dari awal kegiatan
hingga berakhirnya kegiatan. Ada kalanya dalam pelaksanaan menemui
suatu kendala atau hal-hal yang diluar rencana. Perencanaan yang
matang tentu mempunyai beberapa alternatif sebagai jalan keluar apabila
dalam pelaksanaan kegiatan mendapat kendala atau hambatan yang sulit
untuk dihindari.
Contoh :
- Lab mendapat permintaan analisa suatu sampel.
- Pengawas Lab membuat perencanaan

17

- Sesuai rencana Lab melakukan persiapan sampling, sampling,


persiapan analisa, analisa, evaluasi, pelaporan hasil analisa dan
pembuatan sertifikat hasil analisa.
III.1.4. Kontrol.
Kontrol suatu hal yang sangat penting untuk dilakukan. Dengan
melakukan kontrol dapat diketahui sejauh mana pelaksanaan suatu
kegiatan sesuai dengan perencanaan. Apabila ada ketidak sesuaian antara
rencana dan pelaksanaan, maka segera dilakukan usaha-usaha dan
mencari jalan keluarnya.
Dengan melakukan kontrol juga dapat diketahui apakah perencanaan
kegiatan yang telah disusun masih sesuai atau relevan dengan kondisi
dan situasi saat ini. Apabila sudah tidak sesuai lagi, maka segera
dilakukan revisi atau perubahan rencana.
Contoh :
- Lab mendapat permintaan analisa suatu sampel.
- Pengawas Lab membuat perencanaan
- Dalam pelaksanaannya ternyata pada saat sampling di Pabrik,
sample point buntu
- Pengawas Lab menyarankan kepada Pengawas Pabrik untuk
melakukan perbaikan terlebih dahulu atau apabila analisa sampel
sangat dibutuhkan segera mencari alternatif sample point yang
memungkinkan untuk dilakukan sampling.
Demikian pentingnya peran Pengawas di Laboratorium, maka seorang
Pengawas perlu mempunyai kemampuan dibidang manajerial agar
tercapai tujuan akhir organisasi atau perusahaan dengan se-baik-baiknya.
III.2. Struktur Organisasi.
Sebuah struktur organisasi yang baik tentu akan menolong untuk
mencapai pelaksanaan yang baik dalam organisasi-organisasi. Garisgaris kekuatan yang cukup dan tepat digabung dengan departementasi
yang tepat memberi landasan untuk struktur organisasi. Struktur
18

organisasi merupakan kerangka dalam mana organisasi itu beroperasi.


Walaupun terdapat beribu-ribu struktur organisasi yang ber-beda-beda,
semuanya itu merupakan variasi-variasi atau kombinasi-kombinasi saja
dari 3 jenis dasar : Organisasi Garis, Organisasi Garis dan Staf dan
Organisasi Matriks.
III.2.1. Organisasi Garis.
Organisasi Garis adalah struktur organisasi yang paling sederhana.
Organisasi ini bercirikan mata rantai vertikal antara berbagai-bagai
tingkat organisasi. Semua anggota organisasi ini menerima perintah
melalui suatu rantai komando. Pekerjaan dari semua satuan-satuan
organisasi secara langsung dilibatkan dalam produksi dan pemasaran
barang dan jasa dari organisasi itu.
Keuntungan organisasi ini :
- Struktur kekuasaan yang jelas
- Pembuatan keputusan yang cepat
- Terhindar dari pelemparan kewajiban
- Terhindar dari saling menyalahkan.
Kekurangan-nya :
- Tugas manajer menjadi lebih luas dan kadang-kadang berlebihan
dalam menjalankan lingkup pekerjaannya.
- Ketergantungan terhadap satu atau dua orang pemegang kunci
yang mampu melaksanakan banyak kewajiban.
III.2.2. Organisasi Garis dan Staf.
Organisasi Garis dan Staf adalah organisasi yang secara langsung
terlibat dalam pemasaran barang dan jasa sehingga dapat tercapai tujuan
organisasi serta mempunyai staf ahli yang dapat mendukung dan
mempermudah tercapainya tujuan tersebut dengan memberikan nasihat
dalam melaksanakan efisiensi dan pemeliharaan organisasi.
Staf ahli biasanya mempunyai keahlian tertentu dan kekuasaannya
biasanya sebatas membuat rekomendasi-rekomendasi kepada orangorang garis di organisasi. Tugas staf ahli juga meliputi penelitian dan
19

pengembangan, manajemen kepegawaian, latihan kepegawaian dan


sebagainya.
III.2.3. Organisasi Matriks.
Organisasi Matriks adalah organisasi garis staf yang di dalamnya
mempunyai regu-regu proyek. Proyek adalah suatu kombinasi sumbersumber manusia dan yang bukan manusia di gabung ber-sama-sama
dalam suatu organisasi sementara untuk mencapai tujuan-tujuan khusus.
Proyek mempunyai hidup sementara, maka agar struktur organisasi tidak
terganggu dan tetap dapat mempertahankan efisiensi setiap orang yang
bekerja pada suatu proyek secara resmi diperbantukan kepada proyek
dan bagian asalnya atau bagian pangkalannya. Pegawai fungsional
ditugaskan dan dinilai oleh manajer proyek selagi pekerja tersebut
bekerja di proyek.

20

IV. KOMUNIKASI.
Komunikasi berasal dari perkataan Communicare yang berarti
berpartisipasi atau memberitahukan.
Komunikasi adalah pekerjaan yang dilakukan oleh seseorang dalam
menjamin pengertian antara orang itu dengan orang lain.
Komunikasi menitik beratkan pada suatu kegiatan atau proses
sosial.
Seorang Manajer atau Pengawas dalam menjalankan tugas se-hari-hari
dalam usahanya untuk mencapai tujuan Organisasi / Perusahaan /
Kelompok yang dipimpinnya memerlukan kerja sama dan bantuan orang
lain dalam menjalankan tugasnya. Berhasil tidaknya pencapaian tujuan
yang sudah ditetapkan sebagian besar tergantung pada komunikasi yang
dilakukannya.
Gambaran tentang komunikasi ialah mempercayai bahwa saling
pengertian terjadi karena satu orang berbicara dengan orang lain atau
karena hal-hal yang telah ditulis oleh seseorang dibaca oleh orang lain.
Komunikasi ditentukan oleh kondisi interpretasi dari penerima berita
tersebut dan sikap dari komunikator dan penerimanya, bukan saja
diantara manusia tetapi juga terhadap subyeknya. Usaha menciptakan
saling percaya mempercayai sebagai kondisi yang baik untuk
berkomunikasi. Memanfaatkan waktu yang tepat dan bersifat dinamis
merupakan suatu hal yang penting dalam berkomunikasi.
Suatu keterampilan utama yang diharapkan dari seorang Manajer atau
Pengawas ialah kemampuan untuk berkomunikasi secara efektif.
Keterampilan untuk memberlakukan kebijaksanaan, mengusahakan
supaya instruksi-instruksinya dapat dipahami dengan jelas dan
menyempurnakan pelaksanaan kerja tergantung dari komunikasi yang
efektif.
IV.1. Prinsip Komunikasi.
Menurut Seiler ( 1988 ) untuk dapat memahami hakikat suatu
komunikasi perlu diketahui 4 prinsip dasar dari komunikasi yaitu : suatu
21

proses, suatu sistemik, interaksi dan transaksi, dimaksudkan atau tidak


dimaksudkan.
IV.1.1. Komunikasi adalah Suatu Proses.
Komunikasi adalah suatu proses karena merupakan suatu seri kegiatan
yang terus menerus, yang tidak mempunyai permulaan atau akhir dan
selalu ber-rubah-rubah.
IV.1.2. Komunikasi adalah Sistim.
Komunikasi terdiri dari beberapa komponen dan masing-masing
komponen tersebut mempunyai tugas masing-masing. Tugas dari
masing-masing komponen itu berhubungan satu sama lain untuk
menghasilkan suatu komunikasi.
IV.1.3. Komunikasi Bersifat Interaksi dan Transaksi.
Komunikasi bersifat Interaksi adalah saling bertukar komunikasi.
Komunikasi bersifat Transaksi adalah disamping menjadikan pesan juga
menginterpretasikan pesan yang diterima.
IV.1.4. Komunikasi Dapat Terjadi Disengaja Maupun Tidak Disengaja.
Komunikasi yang disengaja terjadi apabila pesan yang mempunyai
maksud tertentu dikirimkan kepada penerima yang dimaksudkan.
Komunikasi tidak disengaja apabila pesan yang tidak disengaja
dikirimkan atau tidak dimaksudkan untuk orang tertentu untuk
menerimanya.
IV.2. Jenis Komunikasi dalam Pekerjaan.
- Komunikasi searah / sejalan.
Dimana komunikator yang aktip menyampaikan sesuatu dan
komunikan pasip atau diam, tidak ada dialog.
Contoh : Pengumuman, buletin, nota / memo, perintah / instruksi
22

kerja dan sebagainya.


- Komunikasi dua arah / timbal balik.
Dimana komunikator dan komunikan sama-sama aktip, ada
dialog.
Contoh : Diskusi, wawancara, perdebatan, tanya jawab, surat
menyurat dan sebagainya.
IV.3. Komponen Dasar Komunikasi.
Komunikasi merupakan proses dua arah atau timbal balik, maka
komponen balikan perlu ada dalam proses komunikasi. Dengan
demikian komponen dasar komunikasi ada 5 yaitu : pengirim pesan,
pesan, saluran, penerima pesan dan balikan.
IV.3.1. Pengirim Pesan.
Pengirim pesan adalah individu atau orang yang mengirim pesan. Pesan
atau informasi yang akan dikirimkan berasal dari otak si pengirim pesan.
Oleh karena itu si pengirim pesan harus menciptakan dulu apa yang akan
di kirimkannya.
IV.3.2. Pesan.
Pesan adalah informasi yang akan di kirimkan kepada si penerima.
Pesan ini dapat berupa verbal : secara tertulis seperti surat, buku,
majalah, memo. Secara lisan seperti percakapan tatap muka atau melalui
telepon, radio dan sebagainya. Pesan non verbal : isyarat, gerakan badan,
ekspresi muka dan nada suara.
IV.3.3. Saluran.
Saluran adalah jalan yang dilalui pesan dari si pengirim dengan si
penerima.

23

IV.3.4. Penerima Pesan.


Penerima pesan adalah yang menganalisis dan menginterpretasikan isi
pesan yang diterimanya.
IV.3.5. Balikan.
Balikan adalah respons terhadap pesan yang diterima yang dikirimkan
kepada si pengirim pesan. Dengan diberikannya reaksi ini kepada
sipengirim, pengirim akan dapat mengetahui apakah pesan yang akan
dikirimkan tersebut diinterpretasikan sama dengan apa yang
dimaksudkan oleh sipengirim. Bila arti pesan yang dimaksudkan oleh
sipengirim diinterpretasikan sama oleh sipenerima berarti komunikasi
tersebut efektif.
IV.4. Hambatan Komunikasi.
Hambatan dalam berkomunikasi adalah hal-hal yang dapat mengurangi
bahkan dapat menggagalkan komunikasi.
Hambatan-hambatan ini dapat terjadi, karena :
1. Cara penyampaian.
- Bahasa / istilah yang tidak dimengerti
- Ucapan yang kurang atau tidak jelas
- Susunan kalimat yang tidak teratur
- Suara tidak terdengar ( pelan )
- Tulisan tidak jelas
- Terlalu lambat atau cepat
- Kaku atau tidak bersahabat
- Kasar atau arogan
- Membingungkan
- dan sebagainya.
2. Peralatan.
- Telepon atau Hand Phone, banyak gangguan
- Radio yang tidak bekerja dengan baik.

24

3. Manusia.
- Sikap antara komunikator atau komunikan yang dipengaruhi
oleh situasi, keadaan, perasaan.
- Pola berfikir yang berlainan atau tidak cocok, karena pengaruh
pendidikan, pengalaman, masyarakat dan lingkungannya.
- Salah pengertian, dan sebagainya
Untuk mengurangi atau menghindari hambatan-hambatan komunikasi
biasanya dilakukan dengan cara Komunikasi Timbal Balik.
Komunikasi yang baik terjadi apabila :
- menimbulkan saling pengertian
- menghasilkan kerja sama yang baik
- mengurangi atau dapat menghilangkan kesulitan
- memperlancar pekerjaan
- tujuan dapat tercapai dengan mudah
- dan sebagainya.

25

V. MEMBERI PERINTAH.
Sebagai Pengawas ( Supervisor ) salah satu kegiatan se-hari-hari dan
sekaligus menjadi tugas dan tanggung jawabnya adalah memberi
perintah kepada bawahannya. Wewenang itu diberikan oleh atasannya
guna melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya serta untuk
mempertanggung jawabkan hasil pekerjaan yang telah ditetapkan.
Memberi Perintah berarti melaksanakan wewenang yang telah
diberikan atasan untuk tugas yang dibebankan kepada seseorang
melalui orang lain dan dapat mempertanggung jawabkan hasil
pekerjaannya.
Memberi perintah kepada bawahan tidak semudah apa yang
dibayangkan orang, karena memberi perintah tidak dapat dilakukan
dengan sekehendak hati, se-wenang-wenang, sembarang waktu dan
tempat tanpa memperhatikan kepentingan, kondisi serta harkat sebagai
manusia.
V.1. Mengapa Perintah Dijalankan ?
Suatu perintah dijalankan oleh seseorang, karena ber-macam-macam
alasan antara lain :
- Ingin maju
- Takut dengan si pemberi perintah
- Menurut karena ingin dipuji
- Ambil muka dan untuk menarik perhatian
- Ingin cepat naik jabatan atau pangkat
- Senang dengan pekerjaan yang diperintahkan
- Sadar dengan kedudukan
- Ingin memenuhi kewajiban dan tanggung jawab
Jika kita menjalankan perintah karena ingin maju, senang dengan
pekerjaan yang diperintahkan, sadar dengan kedudukan dan memenuhi
kewajiban dan tanggung jawab, maka kita termasuk kategori pekerja
yang mengerti dan sadar atas tugas dan kewajiban.
V.2. Bagaimana Cara Memberi Perintah ?
26

Cara-cara memberi perintah yang baik dan akan dilaksanakan dengan


baik dan benar, maka perlu dilakukan sebagai berikut :
- Sopan
Perintah dilakukan dengan sopan atau memenuhi syarat etika.
Sopan dalam menyampaikan dengan ucapan, sopan dengan
perbuatan dan tindakan atau sikap.
- Jelas.
Perintah harus disampaikan dengan jelas, sehingga sipenerima
perintah tidak ragu-ragu dan mantap dalam menjalankan perintah.
Jelas maksud dan tujuan perintah, jelas target yang harus dicapai
dan bagaimana cara mencapainya.
- Tegas.
Perintah harus dilakukan dengan tegas dan tidak kasar,
menunjukkan kesungguhan, tidak bermuka seram atau sambil
berkelakar, sehingga perintah tidak dianggap sebagai permainan.

27

VI. MOTIVASI.
Motivasi berasal dari bahasa latin Mavere yang berarti dorongan atau
daya penggerak. Motivasi ini hanya diberikan kepada manusia,
khususnya kepada para pekerja.
Motivasi adalah bagaimana caranya agar sesorang pekerja mau
bekerja dengan senang hati, bekerja dengan penuh semangat
dengan memberikan semua kemampuan dan keterampilannya
untuk mewujudkan tujuan perusahaan. Pada dasarnya perusahaan
bukan saja mengharapkan pekerja yang mampu, cakap dan terampil,
tetapi yang terpenting pekerjanya mau bekerja dengan giat dan
berkeinginan untuk mencapai hasil kerja yang optimal. Kemampuan,
kecakapan dan keterampilan pekerja tidak ada artinya bagi perusahaan
jika mereka tidak mau bekerja keras dengan menggunakan kemampuan,
kecakapan dan keterampilan yang dimilikinya untuk perusahaan.
Motivasi ini penting karena dengan motivasi diharapkan setiap pekerja
mau bekerja keras dan antusias untuk mencapai produktivitas kerja yang
tinggi. Perlu diperhatikan, karena motivasi ini hanya dapat diberikan
kepada pekerja yang diperkirakan mampu untuk mengerjakan pekerjaan
yang diberikan kepadanya. Bagi pekerja yang tak mampu mengerjakan
pekerjaan yang diberikan tersebut tidak perlu dimotivasi karena
percuma. Memotivasi ini sangat sulit, karena pimpinan sulit untuk
mengetahui kebutuhan ( needs ) dan keinginan ( wants ) yang diperlukan
pekerja dari hasil pekerjaannya.
Orang-orang mau bekerja untuk dapat memenuhi kebutuhan dan
keinginan baik fisik maupun mental, kebutuhan yang disadari maupun
tidak disadari. Kebutuhan setiap orang hampir sama, misalnya setiap
orang butuh makan dan minum, tetapi keinginan setiap orang belum
tentu sama, karena banyak faktor yang mempengaruhinya misal selera,
kebiasaan, lingkungannya.
Dalam memotivasi ini seorang supervisor hanya berdasarkan perkiraanperkiraan mengenai kebutuhan atau keinginan-keinginan yang dapat
merangsang gairah bekerja seorang pekerjanya. Supervisor dalam
memotivasi ini harus menyadari, bahwa seorang pekerja mau bekerja

28

keras tentu dengan harapan akan dapat memenuhi kebutuhan dan


keinginan-keinginannya dari hasil pekerjaannya.
VI.1. Motivasi Dilakukan Pimpinan Terhadap Bawahannya.
Mengapa Motivasi harus dilakukan seorang pimpinan terhadap
bawahannya ? Motivasi tersebut dilakukan, karena :
- Pimpinan akan melakukan pembagian pekerjaan kepada bawahannya untuk dikerjakan dengan se-baik-baiknya.
- Ada bawahan yang sebenarnya mampu untuk mengerjakan pekerja
annya, tetapi malas atau kurang bergairah mengerjakannya.
- Untuk meningkatkan kegairahan kerja bawahan dalam menyelesai
kan tugas-tugasnya.
- Untuk memberikan penghargaan dan kepuasan kerja bagi bawahannya.
Seorang pimpinan dalam memberikan motivasi kepada bawahannya
sebaiknya perlu mengetahui apa yang dikehendaki seorang bawahan
yang bekerja tanpa merasa tertekan, bersemangat dan bertanggung jawab
yang akhirnya dapat menyelesaikan suatu pekerjaan dengan baik.
Pimpinan harus mengetahui keinginan ( wants ) dan kebutuhan ( needs )
bawahannya.
VI.1.1. Keinginan ( Wants ).
Dalam memotivasi ini pimpinan hanya berdasarkan perkiraan-perkiraan
mengenai keinginan yang dapat merangsang gairah kerja bawahannya.
Manajer dalam memotivasi ini harus menyadari, bahwa orang akan mau
bekerja keras dengan harapan, manajer akan dapat memenuhi keinginan
dari hasil pekerjaannya.
Menurut Peterson dan Plowman keinginan-keinginan itu adalah :
- The desire to live, artinya keinginan untuk hidup. Keinginan ini
merupakan keinginan utama setiap orang. Manusia bekerja untuk
dapat makan dan makan untuk dapat melanjutkan hidupnya.
- The desire for posession, artinya keinginan untuk memiliki sesu
tu. Keinginan ini merupakan keinginan selangkah diatas keingin29

an untuk memiliki dan mendorong orang mau bekerja.


- The desire for recognation, artinya keinginan akan pengakuan.
Keinginan ini merupakan jenis terakhir dari kebutuhan dan juga
mendorong orang untuk bekerja.
VI.1.2. Kebutuhan ( Needs ).
Kebutuhan yang dipuaskan dengan bekerja itu adalah :
- Kebutuhan fisik, psikologis dan keamanan, menyangkut
kepuasan kebutuhan fisik ( biologis ) seperti makan, minum,
tempat tinggal dan lain-lain disamping kebutuhan akan rasa aman
dalam menikmatinya.
- Kebutuhan Sosial. Manusia sebagai mahluk sosial tergantung
satu
sama lain. Berbagai kebutuhan hanya dapat dipuaskan, jika
masing-masing individu saling tolong menolong atau diakui oleh
yang lain.
- Kebutuhan Egoistik yang berhubungan dengan keinginan orang
untuk bebas mengerjakan sesuatu sendiri dan puas karena berhasil
menyelesaikannya dengan baik.
- Memenuhi kebutuhan sendiri yaitu mengembangkan pribadi
dan kreativitas.
VI.2. Dasar Pendekatan.
Dasar pendekatan untuk bermotivasi diantara para pimpinan atau
manajer berbeda. Ada 3 pendekatan yang biasa dilakukan adalah :
- Partnership
- Produktivitas
- Pemuasan kebutuhan.
VI.2.1. Partnership.

30

Pendekatan Partnership yang diasumsikan bahwa seorang pekerja tidak


menyukai pekerjaannya, namun mereka akan melaksanakannya dengan
baik jika mereka mempunyai perasaan bahwa mereka telah
berpartisipasi dalam hasil-hasil perusahaan. Untuk menumbuhkan
motivasi para pimpinan perlu bersikap ramah dan perlu pertimbangan,
menghindari konflik-konflik kepegawaian, menciptakan kondisi kerja
yang nyaman dan apabila perusahaan makmur pekerjanya-pun harus
turut makmur.
VI.2.2. Produktivitas.
Pendekatan Produktivitas menekankan pada imbalan yang didasarkan
pada produktivitas kerja. Pemberian tugas menjadi spesifik dan tingkat
upah atau gaji ditetapkan sesuai prestasinya. Kebijaksanaankebijaksanaan perusahaan diikuti dengan seksama, tugas-tugas diuraikan
dengan jelas, pelaksanaan tugas dihitung dengan tepat dan pelaksanaan
tugas yang baik diberi imbalan yang memadai. Dasar pemikiran
pendekatan ini adalah orang yang melaksanakan suatu pekerjaan dan
diberi imbalan akan berusaha untuk mengulang kembali pekerjaan
tersebut. Sebaliknya, apabila pekerja dikenakan hukuman sebagai akibat
dari tindakannya, maka pekerja tersebut tidak akan berusaha untuk
mengulanginya lagi.
VI.2.3. Pemuasan Kebutuhan.
Pendekatan Pemuasan Kebutuhan dilakukan apabila adanya suatu usaha
untuk memberikan perhatian terhadap kebutuhan manusiawi dan
memberi kepuasan melalui kondisi-kondisi kerja. Perhatian tersebut
tidak ditujukan kepada kebutuhan manusiawi, tetapi kepada kepuasan
yang akan diperjuangkan oleh mereka. Manusia selalu mempunyai
kebutuhan, maka jika satu kebutuhan telah terpenuhi akan timbul
kebutuhan lain sebagai penggantinya. Akibatnya manusia terus mencari
jalan untuk memenuhi kebutuhannya. Pendekatan untuk memenuhi
kebutuhan tersebut dengan cara dan suasana kerja yang ditetapkan
mengikuti keterampilan bekerja pekerjanya supaya ada perimbangan
31

antar kepuasan dan kebutuhan serta hubungan antar anggota kelompok


dan pekerjaannya.
Pendekatan ini yang paling efektif karena disamping semakin banyak
mengetahui tentang perilaku pekerja sekaligus dapat menyaksikan hasilhasil yang menakjubkan.
VI.3. Kondisi-kondisi yang Memudahkan Motivasi.
Dalam memberikan motivasi kepada pekerja diperlukan adanya kondisi
yang dapat memudahkan motivasi antara lain :
- Memperluas tugas
- Pertukaran tugas
- Manajemen menurut sasaran
- Partisipasi
- Manajer ganda
- Mencapai tujuan
- Pertumbuhan
- Pengakuan
- Tanggung jawab
VI.3.1. Memperluas Tugas.
Isi tugas diperluas dengan memberikan tanggung jawab yang lebih
besar. Ruang lingkup dapat terlihat dari seluruh tugas ini. Tantangan
sejalan dengan kebutuhan pribadi pekerja yang melaksanakan tugas
tersebut akan terkena pengaruh dari motivasi.
VI.3.2. Pertukaran Tugas.
Pertukaran tugas antar pekerja dilakukan secara berkala untuk
mengurangi rasa jenuh dan kehilangan perhatian terhadap suatu tugas.
Diperlihatkan gabungan tugas tersebut sehingga dapat mendorong
pengembangan dan pemuasan kebutuhan pekerjaan.

32

VI.3.3. Manajemen Menurut Sasaran.


Menentukan tujuan dan cara mencapai tujuan ini harus persetujuan
atasan atau pimpinannya dan mengandung nilai motivasi yang luas.
Pendekatan ini menekankan pada hasil yang harus dicapai bukan
kegiatannya, menekankan pada kemampuannya bukan kelemahannya
dan bersifat manajerial.
VI.3.4. Partisipasi.
Cara terbaik bagi seorang individu untuk menyumbangkan tenaga dan
pikirannya melalui partisipasi. Seseorang mengetahui bahwa gagasannya
turut memberikan bentuk pada keputusan yang dicapai dan menolong
diri sendiri adalah efektif sudah merupakan motivasi. Melalui partisipasi
keinginan yang bersangkutan merasa menjadi penting dan turut serta
memberikan sumbangan kepada kemajuan perusahaan dapat diakui dan
dimanfaatkan secara baik.
VI.3.5. Manajer Ganda.
Kunci sukses dari cara kerja manajer ganda untuk menggalakkan
motivasi adalah dengan membantu anggota kelompok untuk
melaksanakan tugas-tugasnya dengan lebih baik dan mengembangkan
bakat anggotanya dengan sepenuhnya. Manajer ganda juga dapat
membantu menciptakan hubungan kerja yang erat antara keterampilan
pekerja dan keinginan perusahaan.
VI.3.6. Mencapai Tujuan.
Manajer atau pimpinan dapat mengusahakan agar tujuan yang hendak
dicapai oleh pekerja penuh dengan tantangan. Pekerjaan harus
mempunyai arti dan nilai yang tinggi dimata individu pekerja tersebut
serta segera harus diberi tahu hasil evaluasi dari pelaksanaan pekerjaan.
33

Pencapaian tujuan akan lebih efektip apabila tugas atau pekerjaan


tersebut cukup menarik dan pekerja dapat menyelesaikan dengan baik.
VI.3.7. Pertumbuhan.
Semua pekerja semua tingkatan memiliki keinginan untuk berkembang
dan maju. Keinginan tersebut tercermin dari kesadaran pekerja terhadap
potensinya dan keinginan untuk mendapatkan promosi. Manajer atau
pimpinan yang aktif berusaha untuk memenuhi keinginan pekerja
tersebut dengan menciptakan dan memelihara lingkungan kerja dimana
pekerja dapat mengejar dan mampu mengikuti laju pertumbuhan
perusahaan.
VI.3.8. Pengakuan.
Pada umumnya seseorang ingin diterima sebagai anggota kelompok dan
memperoleh status, karena status berhubungan dengan pengakuan.
Orang menyukai pengakuan atas kehadiran mereka, pengakuan terhadap
hal-hal yang telah mereka capai dan sumbangkan terhadap
kelompoknya. Seorang pekerja yang mendapat pengakuan harus
mengetahui mengapa dia diberi pengakuan dan dia harus merasa bahwa
ia memang layak menerimanya.
VI.3.9. Tanggung Jawab.
Setiap pekerja harus mengetahui dan menyadari tanggung jawabnya
masing-masing. Apabila suatu tanggung jawab tidak diketahui secara
khusus, maka banyak pekerja akan mengambil sikap bahwa pekerja lain
yang harus menangani pekerjaan tersebut. Keinginan batin pekerja untuk
diberi tugas-tugas yang bersifat pasti dan dinilai dari hasilnya
merupakan gambaran dari motivasi yang didapat dari pelaksanaan
tanggung jawab yang efektip.

34

VII. PENGAMBILAN KEPUTUSAN


Salah satu tugas seorang Pengawas atau Pimpinan bahkan sampai ke
tingkat Manajer adalah mengambil keputusan.
Mengambil keputusan ialah memilih alternatip dari dua atau
beberapa alternatip yang ada untuk menentukan arah tujuan yang
ingin dicapai. Alternatip-alternatip tersebut dapat berupa suatu kondisi
fisik, atau usaha-usaha yang kreatif, atau tempat menghimpun
pemikiran, perasaan dan pengetahuan untuk melaksanakan suatu
tindakan. Untuk mencapai suatu sasaran seorang Pimpinan harus
memutuskan jenis-jenis tindakan yang perlu diambil, cara-cara baru
yang perlu digunakan dan hal-hal yang perlu dilaksanakan untuk
mempertahankan hasil kerjanya.
VII.1. Pemilihan Alternatip.
Pemilihan alternatip selalu didasarkan pada beberapa kriteria dan
bertujuan : untuk menekan biaya, menghemat waktu, untuk
mengembangkan para pimpinan. Untuk mengambil suatu keputusan
biasanya selalu ada dua atau beberapa alternatip, misal seperti
maksimumnya atau minimumnya apa. Dalam pemilihan alternatip juga
dipertimbangkan 2 Faktor Pendukung Utama yaitu : yang berwujud
( tangible ) dan yang tidak berwujud ( intangible ).
VII.1.1. Yang Berwujud ( Tangible ).
Faktor yang berwujud mencakup unsur-unsur laba, uang, jam kerja,
jam mesin dan data kuantitatif lainnya. Unsur-unsur tersebut saling
berhubungan. Misalnya untuk mendapatkan laba secara maksimum
ditentukan oleh perbandingan berbagai faktor fisik. Dalam perencanaan
produksi, pemanfaatan tenaga kerja dan beban mesin merupakan faktor
pembatas fisik untuk mengukur jadwal program-program produksi.

35

VII.1.2. Yang Tak Berwujud ( Intangible ).


Faktor-faktor yang tidak berwujud umumnya sulit dievaluasi.
Sekurang-kurangnya perlu diketahui terlebih dahulu, kemudian
ditempatkan pada urutan urgensinya, selanjutnya disesuaikan
dengan tujuan akhir yang dicapai. Berarti tetap ada usaha untuk
mempertimbangkan faktor-faktor yang tidak berwujud walaupun agak
sulit dinilai dan sering keliru.
VII.2. Cara Pemilihan.
Pilihan alternatip banyak ditentukan oleh latar belakang dan
pengetahuan seorang Pimpinan. Cara-cara pemilihan alternatip yang
penting antara lain :
- Analisa marginal.
- Teori psikologi
- Intuisi
- Pengalaman
- Mengikuti pemimpinnya
- Percobaan
- Analisa
VII.2.1. Analisa Marginal.
Membandingkan biaya tambahan dengan pendapatan yang berasal dari
tambahan satu atau beberapa unit produksi.
VII.2.2. Teori Psikologi.
Keputusan-keputusan Pimpinan tidak selalu bersifat ekonomis. Misalnya
tentang keputusan tentang luas ruangan kantor dipengaruhi oleh nilainilai psikologis.

36

VII.2.3. Intuisi.
Mengambil keputusan yang didasarkan pada naluri atau menggunakan
hati nurani pengambil keputusan. Pemimpin yang mengambil keputusan
dengan menggunakan indera keenam dan memakai perasaan untuk
melihat ke dalam suatu situasi.
VII.2.4. Pengalaman.
Untuk memahami suatu permasalahan perlu didukung oleh pengalaman.
Pengalaman memberi petunjuk, membantu membedakan dan melihat
situasi yang telah lalu, memanfaatkan pengetahuan praktis dan
menerima keputusan dari pihak-pihak lain.
VII.2.5. Mengikuti Pemimpinnya.
Banyak keputusan yang sukses diambil mengikuti contoh keputusan
yang dibuat oleh pemimpinnya.
VII.2.6. Percobaan.
Mencoba alternatif sambil melihat hasilnya merupakan cara yang cukup
efektip dalam menentukan arah tujuan yang ingin dicapai. Biasanya
dilakukan dalam eksperimen-eksperimen ilmiah dan dalam merancang
atau mengembangkan suatu produk baru.
VII.2.7. Analisa.
Untuk mengambil keputusan, maka problemanya dapat dipecah menjadi
komponen-komponen. Setiap komponen dipelajari dengan seksama dan
di hubungkan dengan komponen-komponen yang lain.

37

VII.3. Dasar Keputusan.


Pengambilan keputusan dilakukan atas dasar : perorangan dan
kelompok.
VII.3.1. Perorangan.
Pengambilan keputusan perorangan ini biasa dilakukan apabila mudah
memutuskannya dan seluruh alternatif mendukung keputusan tersebut.
Pada umunya keputusan perorangan diambil dalam situasi darurat.
VII.3.2. Kelompok.
Pengambilan keputusan secara kelompok dimana mereka yang terkena
oleh suatu keputusan kelompok diberi kesempatan untuk berpartisipasi
di dalam perumusannya. Terbuka kemungkinan memasukkan penilaian
para ahli dan teknisi yang mempunyai pengetahuan khusus tentang
permasalahan yang sedang dihadapi ke dalam pertimbangan keputusan.

38

VIII. MANAJEMEN DALAM PENERAPAN.


Dalam kehidupan se-har-hari terutama di perusahaan dimana kita
bekerja banyak sekali yang menyangkut masalah kepegawaian. Masalah
kepegawaian erat sekali hubungannya dengan pengetahuan yang ada di
dalam ilmu Manajemen.
Seorang Pemimpin atau Pengawas adalah pengemban Fungsi
Manajemen. Sebagai pengemban Fungsi Manajemen harus mengetahui
bagaimana
cara
melakukan
Perencanaan,
Pengorganisasian,
Penempatan, Pengarahan, Pemotivasian, Pengawasan dan sebagainya.
Secara praktis sebagai Pemimpin atau Pengawas di suatu Perusahaan
seperti di Laboratorium harus mampu dan mengerti bagaimana bertindak
atau berlaku sebagai seorang Pemimpin atau Pengawas yang baik.
Disini akan diberikan beberapa contoh sederhana dan hanya sebatas
bagaimana seorang Pengawas Jaga yang bekerja di Laboratorium untuk
melakukan tugas-tugasnya sekaligus sebagai pengemban Fungsi
Manajemen.
VIII.1. Penerapan Perencanaan.
Apabila kita menjadi seorang Pengawas di Laboratorium, maka sebelum
kita melakukan suatu tugas dan pekerjaan tentu mempunyai rencana
kerja. Beberapa contoh suatu perencanaan apabila kita berlaku sebagai
Pengawas Jaga Laboratorium.
- Sebelum melakukan perencanaan kerja, seorang Pengawas Jaga
harus melakukan serah terima jaga dengan Pengawas Jaga
sebelumnya dengan membaca Laporan Kerja, serta mengecek
semua asset dan kondisi tempat kerja, jadual sampel, pesan-pesan
khusus dan sebagainya.
- Dari hasil serah terima jaga dan pengecekan-pengecekan tersebut
Pengawas Jaga membuat rencana kerja seperti : Unit unit mana
yang sedang beroperasi, jenis dan jumlah sampel, tempat sampel,
petugas Laboratorium yang akan sampling dan menganalisanya,
waktu sampling, kelengkapan sampling, sarana dan fasilitas kerja,
fasilitas keselamatan dan sebagainya.
39

VIII.2. Penerapan Pengorganisasian.


Setelah Pengawas Jaga melakukan perencanaan kerja kemudian langkah
selanjutnya dilakukan pengorganisasian kerja seperti : mengatur
kelompok kerja, mengatur pekerja yang akan melakukan sampling dan
mengerjakan analisisnya, pekerja yang membuat laporan dan
melaporkan hasil analisisnya ke Unit dan sebagainya.
- Setelah membuat perencanaan-perencanaan kerja, seorang
Pengawas Jaga mulai membagi tugas kepada para pekerjanya.
- Pengawas Jaga sebaiknya harus sudah mengetahui kondisi dan
kemampuan pekerjanya masing-masing. Siapa yang dapat
melaksanakan sampling, siapa pula yang dapat melaksanakan
analisis sampelnya, siapa yang akan membuat laporan analisisnya
dan siapa pula yang diberi wewenang untuk melaporkan hasil
analisisnya ke Unit atau pabrik.
- Pengawas Jaga juga harus dapat mengatur pekerjaan dan pekerjanya, terutama pada saat pekerja sedang sibuk bekerja dan pada
kondisi Unit yang sedang bermasalah untuk melakukan sampling
dan analisis untuk sampel-sample ekstra atau sampel emerjensi.
VIII.3. Penerapan Pengarahan.
Pengawas Jaga harus dapat memberikan petunjuk dan pengarahan
kepada anak buahnya bagaimana cara melaksanakan suatu pekerjaan
dengan benar, tepat bertanggung jawab dan selamat. Seorang Pengawas
Jaga juga harus dapat membuat suasana kerja yang aman dan nyaman,
sehingga mendapatkan hasil pekerjaan yang memuaskan. Beberapa
penerapan di lapangan sebagai berikut :
- Sebelum mulai melaksanakan suatu pekerjaan seperti sampling,
Pengawas Jaga memberi tahukan sampel mana yang harus diambil
terlebih dahulu, keberadaan tempat sampling, peralatan yang
harus dibawa dan fasilitas keselamatan kerja-nya.
- Sampel mana yang harus dianalisis terlebih dahulu, kemudian
jenis analisis apa yang harus di dahulukan atau di-prioritaskan.
40

VIII.4. Penerapan Pemotivasian.


Sebetulnya salah satu tugas seorang Pemimpin atau Pengawas adalah
memberikan motivasi kepada pekerjanya. Bagaimana seorang pemimpin
atau pengawas memberikan motivasi agar pekerja dapat melaksanakan
tugas dengan se-baik-baiknya, sehingga mendapatkan hasil akhir yang
memuaskan dan dapat dipertanggung jawabkan ?
- Pada saat istirahat atau sedang tidak ada tugas, Pengawas Jaga
Laboratorium dengan santai dapat memberikan motivasi kepada
pekerjanya. Apabila semua tugas yang diberikan kepada pekerja
dapat selesai tepat waktu, tepat mutu dan dapat dipertanggung
jawabkan, maka hal itu berarti dapat memperlancar produksi yang
akhirnya dapat menguntungkan perusahaan. Apabila perusahaan
untung, maka diharapkan secara langsung maupun tidak langsung
dapat meningkatkan karier pekerja yang bersangkutan. Dengan
peningkatan karier pekerja biasanya disusul dengan bertambahnya
pendapatan pekerja tersebut. Dengan meningkatnya pendapatan
pekerja tentunya kesejahteraan pekerja dan keluarganya akan
meningkat pula.
- Pengawas Jaga dapat mengingatkan pula kepada pekerjanya,
bahwa jika pekerja dapat menunjukkan semangat bekerja dengan
baik, selalu siap bekerja kapan saja, tidak mudah mengeluh,
disiplin dalam bekerja, mempunyai inisiatif kerja, patuh dan taat
terhadap instruksi Pengawas-nya, dapat bekerja sama dengan
rekan sekerja, dapat menjaga hubungan kerja yang baik dan
sebagainya, maka Perusahaan akan memprioritaskan pekerja
tersebut untuk meningkatkan kariernya dengan pembinanaan
pekerja melalui pendidikan khusus, kursus-kursus, up-grading,
penyegaran dan sebagainya.
VIII.5. Penerapan Pengawasan.
Pengawasan sangat penting guna mencapai suatu hasil yang sesuai
dengan keinginan atau target yang telah ditetapkan. Salah satu letak
keberhasilan suatu pekerjaan tidak terlepas dari bagaimana cara seorang
41

Pengawas Jaga Laboratorium melakukan pengawasan terhadap semua


kegiatan di lingkungan Laboratorium.
- Seorang Pengawas Jaga Laboratorium harus mau terjun
kebawah untuk melihat pelaksanaan tugas yang telah diberikan
kepada pekerjanya. Pengawas Jaga harus dengan sabar, bijak dan
perhatian terhadap apa-apa yang dilakukan pekerjanya. Apabila
ada kekurangan ataupun kesalahan yang dilakukan oleh
pekerjanya, berilah pengarahan bagaimana yang seharusnya
dilakukan dengan benar. Pengawas bukan sebagai polisi atau
hakim, tetapi pengawas adalah seorang pemimpin yang harus
mempunyai jiwa kebapaan, tegas dan berwibawa. Pekerja harus
dapat merasakan bagaimana bekerja dengan benar, aman, nyaman
dan selamat tanpa merasa selalu diawasi dan mendapat tekanan
dari pengawasnya.
- Pengawas Jaga sebaiknya se-kali-kali melihat atau mendampingi
pekerjanya melaksanakan sampling dan analisis suatu sampel.
- Apabila pada saat sampling atau analisis sampel ada hal-hal yang
aneh, kurang tepat, menyimpang dari prosedur, kondisi tidak
aman sebagai Pengawas Jaga harus cepat tanggap dan segera
mengingatkan akan kesalahan-kesalahan tersebut serta untuk
segera diperbaiki.
VIII.6. Penerapan Komunikasi.
Penerapan Komunikasi yang baik dalam manajemen sangat penting
terutama dalam pencapaian suatu tujuan dengan harapan hasil akhir yang
baik dan juga memuaskan. Suatu pekerjaan tidak akan berhasil dengan
baik apabila tidak didukung komunikasi yang baik, di dalam maupun di
luar lingkungan Laboratorium. Komunikasi yang baik, secara langsung
maupun tidak langsung harus dilakukan oleh Pengawas Jaga dengan
pekerjanya, atau antara Pengawas Jaga dan pekerja Lab dengan
Pengawas Jaga dan pekerja Unit atau Pabrik.
- Pengawas Jaga Lab jika ingin menanyakan kondisi Unit / Pabrik
melalui telepon harus dengan sopan, jelas dan penuh rasa
persahabatan.
42

- Pengawas Jaga jika ingin memberikan perintah, tugas atau


pekerjaan kepada pekerjanya sebaiknya dilakukan dengan sopan
tetapi tegas, tidak kasar, kalau diperlukan dengan didahului
dengan kata Tolong.....
- Pengawas Jaga sebaiknya harus dapat berkomunikasi dengan baik
kepada atasan maupun bawahannya, karena dengan komunikasi
yang baik akan dapat menjadi sebuah jembatan hubungan yang
ideal antar pekerja yang akhirnya dapat memperlancar suatu tugas
atau pekerjaan.
VIII.7. Penerapan Memberi Perintah.
Memberi perintah adalah salah satu tugas seorang Pengawas juga
termasuk Pengawas Jaga di Laboratorium. Memberi perintah erat sekali
hubungannya dengan cara para Pengawas dan pekerja untuk saling
berkomunikasi. Apabila ada ketidak jelasan dalam memberi perintah
atau komunikasi tidak bagus tentunya akan membuat yang diperintah
menjadi bingung dan ragu-ragu, yang selanjutnya perintah akan
dikerjakan tidak dengan sepenuhnya. Sudah dapat dibayangkan apabila
suatu perintah yang tidak jelas, maka hasil akhirnya akan tidak jelas juga
atau jauh dari tujuan si pemberi perintah. Apabila Pengawas Jaga
memberi perintah kepada pekerja-nya untuk melaksanakan suatu tugas
tanpa melihat kondisi pekerja tersebut dengan bijak, maka dapat
menimbulkan kesalah pahaman yang dapat juga mengakibatkan
gagalnya suatu perintah.
- Apabila Pengawas Jaga Lab memberikan suatu instruksi atau
perintah yang tidak jelas kepada pekerja, maka dapat
mengakibatkan kesalahan dalam pengambilan sampel, kesalahan
analisis sampel yang akhirnya menimbulkan kesalahan laporan
hasil analisis ke Unit / Pabrik.
- Apabila ada permintaan sampling dan analisis suatu sampel, maka
Pengawas Jaga Lab sebaiknya harus mengetahui juga kondisi
pekerjanya saat akan memberikan suatu perintah. Apabila terlihat
kondisi pekerja banyak pikiran atau sedang kalut, sedang tidak
enak badan atau kelihatan cape atau lesu tentunya sebagai seorang
43

Kepala Jaga harus dapat menyikapinya dengan bijak. Sebelum


memberi tugas kepada pekerja tersebut seorang Pengawas Jaga
sebaiknya mengajak pekerja itu untuk berbicara perihal
permasalahan yang sedang dihadapi pekerja tersebut. Apabila
kondisi sudah memungkinkan atau dapat diselesaikan saat itu
juga, maka pekerja tersebut dapat diberi tugas-tugas ringan atau
tugas yang kira-kira mampu untuk dikerjakan.

44

DAFTAR PUSTAKA
- Terry, R. George, Prinsip-prinsip Manajemen, PT Bumi Aksara Jakarta, 2006
- Rue, W. Leslie, Dasar-dasar Manajemen, PT Bumi Aksara
Jakarta, 2009
- Maxwell, C. John, The Maxwell Daily Reader, PT Bhuana Ilmu
Populer Kelompok Gramedia Jakarta, 2007
- Muhammad, Ani, Dr, Komunikasi Organisasi, PT Bumi Aksara
Jakarta, 2009.
- Iensufiie, Tikno, Ir., M.Pd., Leadership Untuk Profesional dan
Mahasiswa, Esensi Divisi Penerbit Erlangga, 2010.

45