Anda di halaman 1dari 51

BAB I

PROBLEMATIKA TEORI SOSIAL

A. Beban Masa Lalu Dalam Teori Sosial


Sudah menjadi rahasia umum bahwa tokoh-tokoh besar meninggalkan beban bagi
generasi sesudah mereka. Akibatnya, generasi penerus seakan menghadapi dilema: menjadi
sekedar pelestari karya-karya agung yang diwariskan tokoh-tokoh besar, ataukah berbekal
hasrat akan kemandirian, tetapi kalah dalam kecemerlangan mengerucutkan ambisi secara
drastis dan dengan keahlian teknisnya bertekad untuk menguasai satu bidang yang sempit.
Dalam sejarah pemikiran spekulatif, bentuk dilema ini memang khas. Di satu sisi,
para peniru (epigone) dapat menjadi peneliti dan penafsir teks-teks klasik. Sebagai alternatif
agar terhindar dari pembandingan dengan para pendahulu, mereka menekuni spesialisasi
dengan resiko terjerumus ke dalam semacam minoritas intelektual permanen.
Tokoh-tokoh yang menciptakan teori sosial dalam paruh terakhir abad ke-19 dan
beberapa dasawarsa pertama abad ke-20. Nama-nama seperti Marx, Durkheim, dan Weber,
paling banyak mendapat sorotan. Pemikiran sosial setelah zaman mereka dibedakan antara
ulasan mengenai doktrin-doktrin mereka atau spesialisasi menurut tradisi-tradisi yang
mereka bangun. Lambat laun, bidang-bidang yang di spesialisasikan ini kian jauh dari citacita para pendirinya semula. Semakin bidang-bidang tersebut diupayakan berdalih sebagai
kebebasan ilmiah, semakin sedikit pencerahan yang diberikan.
Kendati demikian, dari banyak sisi, agaknya semakin jelas bahwa kita mulai dapat
melihat Marx, Durkheim, dan Weber sebagai tokoh klasik dan memandang karya - karya
mereka sebagai teori sosial klasik yang sangat berbeda dengan tradisi panjang filsafat politik
yang sudah ada sebelumnya.

B. Teori Sosial dan Filsafat Politik


Page 1

Teori sosial adalah kajian tentang masyarakat yang ciri-ciri khasnya mulai muncul
dalam tulisan-tulisan Montesquieu, tokoh-tokoh sezamannya, tokoh-tokoh sesudahnya, dan
mencapai semacam puncak pada karya Marx, Durkheim, dan Weber. Awalnya teori sosial
membangun identitas dengan cara membuat kontras dengan pemikiran politik tokoh-tokoh
dimanapun tempatnya dalam sejarah. Para teoritisi zaman kuno berpendapat, rezim
pemerintahan terbaik adalah rezim yang mampu sebanyak-banyaknya menonjolkan sisi - sisi
baik watak dasar manusia dan sedapat mungkin menekan sisi buruknya.
Salah satu konsekuensi dari pendekatan ini adalah munculnya kecenderungan untuk
memperlakukan sejarah sebagai semacam latar belakang kehidupan yang mengubah keadaan
tanpa mengubah persoalan dasarnya, karena persoalan-persoalan itu berpangkal pada watak
dasar manusia yang tidak pernah berubah.
Konsepsi sejarah terkait watak dasar manusia sangat erat hubungannya dengan
penekanan pada perbedaan antara pemahaman dan evaluasi. Dimata teoritisi-teoritisi
modern, teoritisi-teoritisi zaman kuno telah menciptakan sekumpulan pengetahuan khayali
dan mubazir berdasarkan pandangan tentang manusia seperti yang seharusnya, bukan
manusia seperti apa adanya.
C. Kesatuan dan Krisis dalam Teori Sosial
Ada dua pandangan yang sering dikemukakan dalam pemikiran kontemporer tentang
ilmu-ilmu sosial, dan keduanya saling melengkapi. Pandangan pertama menyatakan, kajiankajian kita di masa sekarang tentang masyarakat, yang dilakukan dicabang-cabang khusus
ilmu sosial, berpijak pada konsep, metode, teori, dan asumsi tersirat yang diwariskan kepada
kita oleh teoritisi-teoritisi sosial terkemuka dari akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Inilah
yang menyebabkan karya-karya mereka tampak klasik bagi kita.
Gagasan bahwa kita senantiasa dibatasi kerangka yang mewadahi pemahaman teori
sosial klasik tentang masyarakat, lambat-laun diikuti perspektif kedua terkait kondisi

Page 2

pemikiran sosial saat ini, yaitu pemikiran adanya sesuatu yang penting yang telah keliru pada
karya-karya klasik dan generasi sesudahnya.
Ada tiga masalah utama. Pertama, masalah metode : bagaimana seharusnya
hubungan antara fakta-fakta sosial dalam pemikiran dan dalam bahasa ? kedua, masalah
tatanan sosial (sosial order): apa yang menjadi pemersatu masyarakat? Teori tentang metode
adalah pandangan akan cara penataan gagasan-gagasan kita mengenai masyarakat,
sedangkan doktrin tatanan sosial menawarkan penjelasan tentang susunan masyarakat itu
sendiri. Perhatian utamanya tertuju pada aturan-aturan yang dipakai masyarakat untuk
mengatur urusannya satu sama lain. Ketiga, masalah kemodernan: apa bedanya masyarakat
modern yang muncul di Eropa dengan semua masyarakat lainnya, dan sebagaimana
hubungan antara citra-diri (self-imagine) dan realitas, antara apa yang terlihat dan apa yang
sesungguhnya berlangsung? Ketiga pertanyaan tersebut saling berhubungan, walaupun pola
hubungannya sangat kabur dan kompleks.
D. Masalah Metode
Pendekatan teoritisi sosial terhadap masalah metode yang senantiasa kita hadapi itu
sebagian besar ditentukan oleh sangat terbatasnya ketersediaan pola-pola dasar penjelasan
yang ada bagi pemikiran Barat Modern. Bahkan, boleh dibilang semua prosedur yang ada
merupakan variasi dari dua jenis prosedur dasar: analisis logika dan penjelasan kausal
(sebab-akibat). Masing-masing prosedur memberikan penafsiran mengenai apa yang
dimaksud dengan menjelaskan sesuatu, baik dalam arti memberitahukan seperti apakah
sesuatu itu-deskripsi-atau dalam arti membuktikan alasan sesuatu itu harus berlangsung
mengikuti sesuatu yang lain-penjelasan dalam arti setepat-tepatnya.
Baik logika maupun kausalitas tidak mencapai maknanya yang sekarang ini secara
bersama-sama. Sebaliknya, keduanya mengalami sejarah yang panjang dan berliku-liku;
keduanya muncul di saat-saat tertentu, dan keduanya mengalami berbagai perubahan.
Page 3

Hubungan logika berbeda dengan hubungan kausal dalam hal hubungan kausal
membutuhkan durasi untuk urutan selanjutnya, sedangkan hubungan logika hanya
menampilkan urutan saja. Gabungan antara urutan dan durasi disebut waktu. Penjelasan
kausal selalu berupa uraian tentang hubungan diantara peristiwa-peristiwa menurut waktu.
Analisis logika menerangkan hubungan antara konsep-konsep diluar waktu.
Hubungan logika selalu bersifat normal, cirinya adalah pembedaan antara isi dan
bentuk. Sebaliknya penjelasan kausal selalu dimulai sebagai upaya untuk memperjelas
hubungan diantara peristiwa-peristiwa khusus.
Metode logika dan metode kausal berfungsi sebagai titik tolak untuk dua cara
penanganan masalah penjelasan dalam kajian sosial. Dalam beberapa hal, teori sosial klasik
merupakan upaya untuk mengatasi keterbatasan-keterbatasan dua cara berpikir tersebut.
Salah satu kelemahannya yang fatal terletak pada kegagalan teori ini dalam menyelesaikan
tugas itu.
Tipe yang berlandaskan pada metode logika disebut Rasionalisme. Contoh yang
paling mendekati adalah ilmu ekonomi neoklasik. Ilmu sosial rasionalis ingin menjadi sistem
proposisi yang segala interdepensinya diatur oleh gagasan-gagasan sebab, konsistensi, dan
kontradiksi yang logis dan tepat.
Tradisi pemikiran yang paling bertolak-belakang dengan rasionalisme dalam
urainnya untuk masalah penjelasan, dikenal dengan historisme. Dilema yang dihadapi
penganut historisme adalah kebalikan dari dilema yang dihadapi penganut rasionalisme, dan
merupakan bentuk khusus paradoks umum kausalitas.
Ada sebuah pandangan yang menyatakan bahwa sikap rasionalis dan historisis samasama memiliki satu ciri pengganggu. Dalam bentuk murni, kedua aliran itu sama-sama
menjabarkan hubungan keniscayaan sebab atau hubungan sebab-akibat. Kecuali jika
berkembang sampai taraf yang membingungkan, keduanya mengundang semacam
determinisme sehingga memalsukan atau melenyapkan sifat lentur dalam kehidupan sosial
dan sejarah.

Page 4

Untuk menghindari lubang-lubang dalam pendekatan rasionalis dan historisis,


caranya ialah dengan menyusun metode yang menanggalkan, walaupun harus mengabaikan
sisi perbedaannya yang penting, sesuatu yang biasanya sama-sama terdapat dalam modus
penjelasan logika dan kausal: perhatian pada urutan dan pencarian hubungan keniscayaan.
Sebuah definisi ulang tentang apa yang dimaksudkan dengan menerangkan sesuatu atau
menjabarkan dan menjelaskan sesuatu, sedang dipertaruhkan.
Berbagai macam pencarian metode telah mendasari banyak konsepsi yang berbeda,
tetapi saling melengkapi, yang telah mendominasi doktrin dan praktek metodologis teori
sosial. Konsepsi tersebut antara lain dialektika,tipe-ideal, dan struktur. Masing-masing
konsepsi memiliki makna sendiri dan terkait dengan tradisi intelektual tersendiri. Namun,
semua konsepsi itu sama-sama memiliki sifat-sifat yang paling penting. Metode dialektika
yang dikembangkan oleh Marx, tipe-ideal yang digunakan oleh Weber, dan strukturalisme
kontemporer, semuanya berpotensi menjadi jalan keluar dari dilema rasionalisme dan
historisme.
Ada tiga keterbatasan metodologis dalam tradisi teori sosial klasik. Pertama, sejauh
ini belum ada definisi yang tepat dan rinci untuk metode nonkausal dan nonlogika. Kedua,
sebagian karena alasan inilah maka, hubungan antara jenis uraian yang ketiga dan kausalitas
tetap tidak jelas. Ketiga, perlu dibuktikan bahwa pernyataan-pernyataan subjektivitas
ataupun objektivitas sama-sama dapat dipertimbangkan untuk memahami tindakan manusia.
E. Masalah Tatanan Sosial (Social Order)
Tahap perbincangan masalah tatanan sosial dalam teori sosial klasik tercetus dari
persaingan antara dua tradisi pemikiran. Kedua tradisi pemikiran tersebut adalah doktrin
instrumentalisme atau kepentingan pribadi dan doktrin legitimasi atau konsensus.
Doktrin kepentingan pribadi adalah konsepsi dalam dasar-dasar tatanan sosial yang
sering disamakan dengan utilitarianisme dan ekonomi politik klasik. Doktrin ini juga
menjadi unsur penting dalam banyak tradisi intelektual lainnya. Doktrin kepentingan pribadi
Page 5

dicirikan oleh hubungannya dengan konsepsi tertentu ikatan sosial dan pandangan tentang
bentuk kaidah-kaidah yang menentukan kehidupan sosial yang teratur. Doktrin ini
berpendapat bahwa manusia diatur oleh kepentingan pribadi dan dituntun oleh pertimbangan
cara yang paling efisien untuk mencapai tujuannya yang dipilih secara pribadi. Gagasan
kepentingan pribadi dapat diperluas hingga mencakup perhatian altruistis bagi kesejahteraan
manusia lain selama pilihan ini didasarkan pada kehendak bebas manusia itu sendiri, juga
jika yang diinginkan adalah agar manusia lain mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Menurut teori kepentingan pribadi, tujuan masing-masing individu relatif tidak tergantung
pada tujuan individu-individu lain. Kalaupun mungkin relatif dipengaruhi oleh tujuan-tujuan
orang lain, tetapi tujuan-tujuan tersebut tetap dikatakan berbeda menurut maknanya. Teori ini
menyatakan, faktor penentu langsung perilaku ada di dalam diri individu sendiri, bukan pada
kelompok-kelompok yang diikutinya.
Terdapat dua alasan rasional mengenai hubungan umum antara gagasan-gagasan
kepentingan pribadi dengan instrumentalisme, yakni :
a.

Makin luas ruang lingkupnya, makin terperinci pula muatan kepentingan-kepentingan


kolektif; dan makin besar otoritas untuk menentukan apa yang harus diperbuat individu,
maka makin sedikit peranan yang tersisa bagi pertimbangan-pertimbangan efisiensi
pribadi. Individu akan lebih mudah menata ulang tujuannya sendiri berdasarkan
pengetahuan akan sarana-sarana yang dimilikinya daripada mempengaruhi tujuantujuan bersama milik kelompok.

b.

Gagasan untuk memanipulasi alam, yang dicontohkan oleh instrumentalisme, juga


menyatakan gagasan untuk memanipulasi manusia lain. Alam maupun manusia lain itu
merupakan dunia eksternal yang berbeda dengan dunia individu.
Doktrin kepentingan pribadi memiliki implikasi tertentu tentang wujud sistem

peraturan atau hukum. Seluruh implikasi ini menjurus pada pandangan instrumental terhadap
Page 6

peraturan. Individu menganggap peraturan instrumental sebagai satu faktor tambahan untuk
dipertimbangkan dalam perhitungan efisiensinya. Artinya, individu akan menuruti peraturan
instrumental hanya selama tujuan-tujuannya sendiri terlayani lebih baik dengan menuruti
peraturan daripada melanggarnya. Akibatnya, sanksi menjadi bagian penting dalam
peraturan. Ketakutan terhadap sanksi berfungsi untuk memasukkan kewajiban-kewajiban
tatanan sosial ke penalaran individu terkait sarana terefektif untuk mencapai tujuan-tujuan
pribadi. Kelemahan-kelemahan doktrin kepentingan pribadi :
a. Kegagalannya dalam menjelaskan bagaimana perilaku manusia dapat memiliki cukup
kesinambungan atas waktu dan kesamaan antar-individu untuk memungkinkan
terwujudnya masyarakat yang teratur.
b. Memiliki implikasi-implikasi kontradiktif terhadap pandangan seseorang terkait
kedudukan peraturan dalam masyarakat.
c. Konsepsi kehidupan sosial dalam wujud doktrin ini tidak memasukkan nilai-nilai
solidaritas. Nilai-nilai ini menunjukkan manfaat yang dilekatkan pada penerapan,
pranata, dan keberadaan kehidupan berkelompok itu sendiri tanpa mempedulikan
penerapannya pada kehendak individu atau gabungan beberapa kehendak individu.
Teori legitimasi atau konsensus berawal dari masyarakat atau kelompok berikut
nilai-nilai dan pemahaman yang dianut bersama. Cita-cita dan kepercayaan ini bisa
bervariasi sesuai besarnya persesuaian di antara mereka, kadar relatif keabstrakan atau
kekonkretannya, intensitas ketaatan terhadapnya, dan koherensinya. Meskipun bervariasi
dari segi keluasan, kekonkretan, intensitas dan koherensinya, kehadiran orientasi-orientasi
moral dan kognitif yang dianut bersama selalu memungkinkan terwujudnya kehidupan sosial
yang teratur. Kepercayaan yang sama memungkinkan manusia saling memahami dan
mengerti harapan mereka terhadap satu sama lain.
Page 7

Menurut penganut doktrin legitimasi, peraturan menjadi perwujudan nilai-nilai


bersama yang dianut kelompok. Peraturan melakukan tugas-tugas penunjang yang vital:
memperjelas implikasi dan batasan tujuan-tujuan tersebut terhadap calon-calon pelanggar
peraturan. Namun, semakin luas cakupan, kekonkretan, intensitas dan koherensi konsensus,
peraturan menjadi semakin tidak diperlukan. Berdasar hal tersebut dapat diketahui bahwa
penyebab utama hukum ditaati adalah karena anggota-anggota kelompok mempercayai nilainilai yang dinyatakan hukum dan mewujudkannya dalam perilaku. Ketaatan seseorang
terhadap peraturan datang dari kesanggupan peraturan untuk menyatakan tujuan-tujuan
bersama sehingga orang dapat berpartisipasi di dalamnya, bukan dari ancaman-ancaman
kesalahan untuk menjamin tegaknya peraturan tersebut. Maka, fokus kepentingan bergeser
dari sanksi ke standar perilaku yang ditentukan oleh peraturan.
Keberatan terhadap doktrin legitimasi dan konsepsi peraturannya sangat berlawanan
dengan kritik yang dialamatkan pada teori instrumentalisme, sebab kedua pandangan
mengenai masyarakat tersebut saling melengkapi. Keberatan tersebut sebagai berikut :
a. Kecenderungan inheren yang terlalu berlebihan sekaligus terlalu terbatas dalam
memberikan penjelasan. Doktrin ini menerangkan kemungkinan keselarasan pandangan
dan cita-cita, tetapi tidak menerangkan kemungkinan adanya konflik. Dalam kerangka
berfikir seperti ini, konflik hanya menjadi tanda adanya suatu yang terabaikan. Konflik
pasti mewakili kegagalan untuk mencapai kesepakatan yang menjadi landasan tatanan
sosial, kegagalan akibat terbatasnya keluasan, kekonkretan, intensitas atau koherensi
dalam nilai-nilai dan pemahaman yang dianut bersama oleh masyarakat.
b. Implikasi-implikasi terhadap pemahaman peraturan. Semakin ketat kesepakatan yang
mengikat individu-individu bersama dan semakin besar kekuasaan kesepakatan itu dalam
menentukan perilaku mereka, peran yang tersisa untuk peraturan semakin berkurang.

Page 8

c. Doktrin ini dituduh sebagai bias yang tidak dapat dilenyapkan terhadap kolektivisme
sebuah bias yang dibangun dalam pandangan deskriptif teori itu sendiri. Dengan
mengutamakan pemahaman relasi sosial daripada analisis perilaku individu dan
pentingnya nilai-nilai kelompok yang dianut bersama melebihi segala-galanya,
tampaknya teori tersebut mengurangi dasar-dasar untuk mempertimbangkan individu
secara tersendiri dan menolak tuntutan individu untuk berdikari, demi mendukung
tuntutan solidaritas kolektif.
Terkait dengan solusi atas masalah teori sosial ini, penulis mengajukan solusi yang
sekiranya dapat menyatukan berbagai bentuk doktrin tersebut, solusi yang diajukan ini akan
berakibat pada adanya pengakuan terhadap arti penting peraturan-peraturan instrumental,
yaitu norma-norma yang meringkas pertimbangan efisiensi. Namun, pada saat yang sama,
pandangan ini menegaskan adanya peraturan-peraturan yang artinya lebih dari sekedar
instrumental sebab peraturan-peraturan itu dirasakan dan dipakai sebagai pengungkapan
nilai-nilai kelompok. Solusi ini mengungkapkan kebutuhan masyarakat terhadap perangkat
hukum atau peraturan yang eksplisit, dengan diperkuat adanya ancaman pemaksaan yang
dapat menjamin keefektifannya ketika batasan-batasan keluasan nilai-nilai yang mendasari
hukum atau intensitas ketaatan yang dituntut tujuan-tujuan hukum melebihi kemampuan
hingga muncul perilaku menyimpang.
Dalam penerapannya, solusi ini belum dapat disebut sebagai solusi utama penyatuan
doktrin. Hal ini disebabkan tidak adanya kesinambungan antara sarana dan tujuan
masyarakat ketika diterapkan dalam corak masyarakat yang berbeda-beda. Kedua hal
tersebut hanya dapat disatukan jika keduanya diterapkan pada situasi sosial apapun untuk
membedakan dengan jelas aspek-aspek kehidupan. Namun dalam kenyataannya, apa yang
menjadi sarana dalam suatu konteks, merupakan tujuan dalam konteks lain, begitupun
sebaliknya. Beralih dari kondisi demikian, bukan berarti solusi yang ada lantas disingkirkan
Page 9

begitu saja oleh masyarakat. Justru mereka terus berusaha menemukan solusi-solusi yang
dirasa dapat meredam persoalan yang ada, sebab kebutuhan mereka.
F. Masalah Kemodernan
Bagi semua teoritisi sosial klasik, upaya untuk menetapkan pandangan yang
komprehensif tentang manusia dan masyarakat tidak dapat dipisahkan dari minat untuk
memahami kondisi dan prospek-prospek zaman mereka. Hal ini yang kemudian
mengantarkan mereka pada perbedaan cara pendekatan terhadap masyarakat, hingga sampai
pada masalah perumusan konsepsi kemodernan. Hubungan antara ideologi dan aktualitas
dalam kehidupan modern membutuhkan kejelian tersendiri. Sikap para teoritisi sosial klasik
terhadap hubungan ini tercermin pada reaksi mereka terhadap garis pemikiran doktrin
kontrak sosial.
Para penganut doktrin kontrak sosial memandang masyarakat sebagai perkumpulan
individu dengan kepentingan-kepentingan yang saling bertentangan dan dapat dipersatukan
oleh peraturan-peraturan yang diberlakukan secara koersif dan pertukaran ekonomi. Doktrin
ini sangat mempengaruhi ideologi penguasa.melalui kacamata kelompok-kelompok
masyarakat yang dominan dan pembicara intelektualnya, masyarakat modern memandang
dirinya sebagai peradaban yang sangat individualistis, yang aturan dan kebebasannya
dijamin oleh hukum. Peraturan-peraturan hukum memang tampak berperan, akan tetapi
sangat kecil artinya dalam membina kehidupan sosial. Sehingga, masalah utama dalam
kemodernan sebenarnya adalah hal metode dan tatanan sosial, yang perlu ada bagian yang
dapat mengkombinasikan keduanya dalam membentuk masyarakat tersebut.
G. Watak Dasar Manusia dan Sejarah
Untuk menyelesaikan resolusi masalah metode, tatanan sosial dan kemodernan,
akhirnya dibutuhkan sebuah pandangan mengenai watak dasar manusia. Pada dasarnya, teori
Page 10

sosial membentuk identitasnya sendiri dan menolak gagasan bahwa watak dasar manusia itu
satu dan mengatasi sejarah. Permasalahan sebenarnya adalah bolehkah wawasan zaman kuno
ditanggalkan dari angan-angan zaman kuno bahwa kemanusiaan tidak pernah berubah
sepanjang sejarah. Yang wajib dilakukan adalah mengembangkan doktrin yang mengakui
watak dasar manusia secara lebih serius, sambil menegaskan bahwa watak dasar manusia
mengalami perubahan seiring dengan sejarah, dan bahwa watak dasar manusia tersebut
ditemukan kembali dalam bentuk yang berbeda-beda oleh masing-masing bentuk kehidupan
sosial.
Teori tentang watak dasar manusia tidak boleh langsung membatasi diri pada
deskripsi. Gambaran umum tentang manusia yang mencirikan keadaannya di dunia
menyiratkan manusia bisa menjadi apa dan seharusnya menjadi apa. Sebaliknya, pilihan di
antara pandangan-pandangan yang mungkin tentang kemanusiaan cenderung terpengaruh
perspektif moral dan politik yang tidak mungkin seluruhnya didukung oleh pandangan yang
dipilih seseorang.
Berdasar hal tersebut, hal yang patut menjadi tugas bersama bahwa masalah-masalah
teori sosial tidak dapat diselesaikan kecuali jika kebenaran-kebenaran dalam teori tersebut
dipertemukan dengan kebenaran-kebenaran filsafat politik zaman kuno. Perkembangan
pemikiran menghendaki agar kedua tradisi dipersatukan dalam bentuk pengetahuan yang
lebih inklusif.

H. Hukum
a. Hukum terlibat dalam masalah metode.
Setelah paham Aristoteles ditolak dalam pemikiran politik, fenomena atau gejala sosial
perlu dijelaskan dan digambarkan dalam istilah-istilah yang berbeda dengan istilahistilah tradisional untuk tujuan dan manusia. Namun, pada saat yang sama, menjadi
Page 11

jelas bahwa kita memang mengandalkan peraturan-peraturan preskriptif. Peraturanperaturan ini bukan sekedar fakta tanpa signifikansi moral bagi orang-orang yang
membuat, menerapkan dan menaatinya, serta memberikan penghargaan atau kecaman
dengan berpedoman pada peraturan-peraturan tersebut. Inti teori masyarakat adalah
menerangkan hubungan antara hukum yang menerangkan dan hukum yang bersifat
mengatur.
b. Kajian terhadap hukum berhubungan erat dengan masalah tatanan sosial.
c. Resolusi untuk masalah kemodernan mengharuskan kita menemukan hubungan antara
ideologi dominan yang menempatkan hukum impersonal sebagai pusat masyarakat dan
pengalaman keseharian tatkala hukum tersebut hanya berdiri di pinggiran kehidupan
sosial.

BAB II
HUKUM DAN BENTUK-BENTUK MASYARAKAT

A. Hukum Dan Bentuk Bentuk Masyarakat


Dalam bab kedua ini, akan membahas persoalan tentang tatanan sosial (sosial order)
dengan membahas hubungan antara bentuk hukum dan bentuk masyarakat. Dalam bab
sebelumnya telah disinggung bahwa kedua doktrin utama tentang tatanan sosial sama-sama
mencakup pandangan terhadap bentuk dan penggunaan peraturan. Apabila tiap-tiap doktrin
tersebut paling cocok untuk satu jenis masyarakat tertentu, maka diharapkan akan diketahui
Page 12

bahwa karakter hukum mengalami perubahan dari satu bentuk kehidupan sosial ke bentuk
kehidupan sosial yang lain. Kiat masyarakat dalam menyatukan manusia terungkap lewat
hukum. Selain itu, konflik di antara jenis-jenis hukum mencerminkan ragam cara yang
berbeda dalam menata kelompok-kelompok manusia. Langkah pertama dalam menjelaskan
hubungan antara hukum dan masyarakat adalah dengan membedakan jenis hukum. Tahap
kedua yaitu dengan mengungkapkan secara spekulatif kondisi-kondisi sejarah bagi
munculnya tiap-tiap jenis hukum.
1. Tiga Konsep Hukum
a. Hukum Adat (hukum sebagai interaksi)
Sebagian aliran pemikiran memandang hukum sebagai fenomena universal yang
umum dijumpai pada semua masyarakat. Karena itu, aliran-aliran tersebut tidak dapat
memahami gagasan bahwa hukum bisa saja muncul atau tidak muncul, bahwa hukum
memang memiliki ciri-ciri khusus sesuai jenis masyarakatnya.
Dalam pengertiannya yang lebih luas, hukum adalah setiap pola interaksi yang
muncul berulang-ulang diantara banyak individu dan kelompok, diikuti pegakuan
eksplisit kelompok dan individu tersebut bahwa pola-pola interaksi demikian
memunculkan ekspektasi perilaku timbal balik yang harus dipenuhi. Pengarang
menyebutnya sebagai hukum adat (customary law) atau hukum interaksional
(interactional law). Ada dua sisi dalam konsep hukum sebagai interaksi. Sisi yang satu
adalah keseragaman yang tampak nyata dalam berperilaku. Sisi yang kedua lebih
bersifat normatif: sentimen akan kewajiban dan hak, atau kecenderungan untuik
menyamakan bentuk-bentuk perilaku yang sudah mapan dengan gagasan mengenai
tatanan yang benar di masysrakat dan dunia secara umum.
Hukum adat tidak punya sifat positif, namun lebih bersifat tersirat daripada terungkap
secara lisan. Sehingga mengkodifikasinya berarti merubahnya. Justru karena hukum
Page 13

ini bersifat nonpositif, maka maka tidak mengenal antara pembedaan keteraturan dan
norma. Hukum adat terdiri dari standar dari implisit perilaku, bukan standar peraturan
yang dirumuskan. Standar ini berupa peraturan tidak tertulis dan seringkali amat ketat
tentang cara individu dalam status tertentu harus berperilaku ke orang lain.
b. Hukum Birokratis
Perbedaan hukum adat dengan hukum birokratis (bureaucratic law) atau hukum
pengatur (regulatory law) terletak pada sifatnya yang publik dan positif. Hukum
birokratis terdiri dari peraturan eksplisit yang ditetapkan oleh pemerintah yang sah.
Sehingga hukum ini diciptakan oleh pemerintah dengan sengaja, bukan tercipta secara
spontan oleh masyarakat. Hukum birokratis terdiri dari peraturan dengan lingkup luas
atau perintah-perintah yang ditujukan untuk situasi-situasi yang ditentukan secara
sempit menurut ruang dan waktu.
Peraturan birokratis senantiasa diikuti hukum jenis lain yang boleh jadi membatasi
ruang lingkupnya secara drastis. Pola ini tampak jelas pada kekaisaran besar zaman
kuno. Peraturan pemerintah dinegara kaisar biasanya dibatasi dalam dua hal. Disuatu
sisi, ada adat yang senantiasa mengatur sebagian besar kahidupan sehari-sehari. Disisi
lain, ada hukum agama yang kerap kali dipegang badan agama indepnden. Hukum
agama ditentukan oleh aturan-aturan teologis yang isinya tidak dapat dipengaruhi
langsung oleh penguasa.
Hukum adat dan hukum agama disatu sisi, dan hukum birokratis disisi yang lain,
mambagi wilayah sosial menjadi dua. Wilayah pertama relatif diluar jangkauan
kekuasaan raja. Wilayah kedua tunduk pada kebijaksanaan raja yang nyaris tak
terbatas. Salah satu contoh masyarakat yang hukum agama diatas hukum birokratis
adalah kekaisaran cina.
c. Tatanan Hukum
Page 14

Hukum ketiga ini tidak begitu dikenal oleh semua jenis masyarakat. Karena muncul
dan bertahan hanya dalam keadaan-keadaan tertentu. Tatanan hukum (legal order)
atau sistem hukum (legal system) diyakini bersifat general dan otonom, sekaligus
publik dan positif.
Hukum bersifat otonom alam arti substansif tatkala peraturan-peraturan yang
dirumuskan dan ditegakkan oleh pemerintah tidak bisa dianalisis sebagai pengulangan
setiap perangkat kepercayaan atau norma non hukum. Lebih khusus lagi, sistem
hukum otonom tidak tidak mengkodifikasikan teologi khusus. Sebagai perangkat
aturan duniawi, sistem hukum otonom terpisah dari prinsip-prinsip yang mengatur
hubungan antara manusia dengan Tuhannya dan terpisah pula dari pandangan agama
terhadap relasi sosial.
Ketiga konsep hukum diatas dapat dianggap sebagai spesies dalam genus tatanan
normatif (normative order). Ketiganya menjabarkan bagaimana standar-standar perilaku
yang menentukan apa yag boleh dan tidak boleh dilakukan.

2. Munculnya Hukum birokratis


Kodisi yang menonjolkan peraturan publik dan peraturan positif dalam tatanan normatif
masyarakat dapat dibagi menjadi dua kategori. Yaitu pemisahan negara dengan masyarakat,
dan disintegrasi komunitas. Kategori yang pertama bertanggung jawab atas sifat publik
hukum birokratis, sedangkan yang kedua bertanggung jawab atas sifat positif.
a. Pemisahan negara dan masyarakat
Pemisahan negara dan masyarakat mengisyaratkan konsepsi yang sangat berbeda
terkait tatanan normatif dan keteraturan perilaku. Negara didefinisikan justru atas
keunggulannya atas relasi-relasi sosial. Batasan penting pada tesis hubungan antara
Page 15

pembedaan negara-masyarakat dan gagasan masyarakat sebagai ciptaan kehendak.


Pertama, walaupun negara tampil sebagai manipulator kehidupan sosial, karakter dan
aktifitas negara, sebagian besar ditentukan oleh hubungan-hubungan kelompok antar
masyarakat. Batasan yang kedua ialah dunia baru hukum pemerintahan yang dibawa
oleh pemerintahan dan masyarakat, cenderung membedakan wilayah kehidupan sosial
yang sakral dan tidak tersentuh dengan lingkungan kehidupan sosial yang tunduk pada
kepentingan-kepentingan penguasa.
Hanya satu entitas yang dapat membatasi kekuasaan semua kelompok sekaligus
bersikap seakan-akan tidak memihak, adil, atau ditakdirkan selaras yang mengesahkan
tuntutannya untuk memperoleh kesetiaan dari mereka. Pada saat yang sama, negara
harus memperkuat hubungan dominasi dan ketergantungan. Semua konflik yang
mendandai sejarah pemisahan antara negara dan masyarakat pada akhirnya bersumber
pada paradoks implisit dalam situasi ini.
b. Disintegrasi Komunitas
Dari perspektif kesadaran sosial, disintegrasi komunitas berarti perkembangan situasi
ketika orang semakin merasa mampu mempertanyakan kebenaran praktik-praktik yang
sudah mapan sekaligus melanggarnya. Sehingga peraturan positif harus diterapkan
untuk memperjelas apa yang telah dikaburkan oleh disintegrasi manusia.
c. Pembagian Kerja dan Hierarki Sosial
Pemunculan negara dan disintegritas komunitas merupakan dasar bagi hukum
birokratis. Keduanya sama-sama bergantung pada perubahan pengorganisasian sosial.
Perubahan ini didefinisikan pengarang sebagai kemajuan yang menonjol dalam
pembagian kerja seairing dengan meluasnya spektrum pelapisan dan pembedaan status
sosial.
Page 16

d. Ketegangan di dalam Hukum Birokratis


Apa pun sebabab perubahan sosiala yang menjelaskan perkembangan peraturan publik
dan peraturan positif, hukum birokratis mengalami konflik intern yang musabb
membuatnya

tidak

stabil

dan

membawanya

pada

transformasi.

Pengarang

menyimpulkan, bahwa hukum publik bertindak sebagai alat negara untuk memanipulasi
relasi-relasi sosial. Huku menjadi alat kepentingan kekuasaan kelompok-kelompok
yang mengendalikan negara.
Namun, pada saat yang sama, menciutnya ruang lingkup persepsi tak sadar manusia
dan ketaatan pada standar untuk perilaku menancam bentuk kehidupan sosial yang
sudah mapan. Jika tatanan normatif ditafsirkan sebagai sekumpulan alat untuk
memenuhi kepentingen-kepentingan penguasa, maka tatanan itu tidak akan bisa
menuntut untuk ditaati, kecuali dengan terror yang digunakan untuk memaksanya.
3. Munculnya Tatanan Hukum
Terdapat dua kondisi sejarah yang memunculkan rule of law. Kondisi pertama menjabarkan
pengalaman dan pandangan relasi kelompok. Agar tatanan hukum dapat berkembang, tidak
boleh ada satu pun kelompok yang memegang posisi dominan secara permanen atau
dipercayai memiliki hak inheren untuk memerintah.hubungan antar kelompok seperti tiu
disebut masyarakat liberal atau dalam bahasa ilmu politik amerika, pluralisme kelompok
kepentingan. Kondisi yang kedua adalah kepercayaan pada hukum universal yang lebih
tinggi atau hukum Tuhan sebagai standar untuk menilai dan meninjau hukum positif
negara.
a. Pluralisme Kelompok

Page 17

Dalam kehidupan sosial terdapat masyarakat liberal atau seringkali disebut dengan
pluralisme kelompok, yang bentuknya sendiri mempengaruhi manusia untuk berjuang
demi ideal rule of ideal . adapun yang dimaksud dengan masyarakat liberal adalah
sebentuk kehidupan yang tidak ada satu kelompok didalamnya yang mampu menuntut
loyalitas dan ketaatan seluruh kelompok lain dalam waktu lama. maka, menjadi penting
untuk menemukan sistem hukum yang muatannya sanggup mengakomodasi
kepentingan-kepentingan yang bertantangan dan prosedurnya sedemikian rupa sehingga
sebagian besar orang merasakan, kepentingan mereka untuk mentaati peraturan
tersebut.
b. Hukum Alam
Faktor utama kedua bagi munculnya tatnan hukum adalah kepercayaan luas pada
sesuatu yang umumnya disebut hukum alam. Pendukung gagasan hukum alam adalah
religiositas transenden. Inti agama transedensi adalah keyakinan bahwa dunia
diciptakan satu Tuhan sesuai kehendakNya. Karena dunia diciptakan bukan dihasilkan,
maka dunia tidak sepenuhnya memiliki sifat-sifat sakral dan illahi yang sama dengan
Penciptanya. Meskipun demikian, alam yang taat hukum ini memperlihatkan kekuasaan
Sang Pembuat Hukum Yang Maha Agung. Sehingga agama transenden merupakan
pandangan sekaligus kumpulan dari kelompok yang berbeda-beda, pranata, dan ritual.
Aturan-aturan ketuhanan ini sudah ada sebelum aturan dari kehendak manusia. Aturan
tersebut berlaku untuk masyarakat dan zaman yang berbeda-beda karena sang pembuat
hukum berdiri terpisah dari waktu dan mengunggulinya. Jadi, ada hukum yang lebih
tinggi atau hukum alam, yang terpisah dan lebih tinggi daripada adat istiadat kelompok
sosial tertentu dan perintah penguasa duniawi.
c. Masyarakat Liberal Dan Hukum Yang Lebih Tinggi
Page 18

Pluralisme kelompok saja atau kepercayaan pada hukum yang lebih tinggi saja, tidak
akan sanggup menciptakan tatanan hukum. Negara liberal memberi isyarat bahwa tidak
ada satu golongan dalam masyarakat yang memiliki akses istimewa terhadap kebenaran
norma dan agama.
B. Kasus China : Sebuah Analisis
1. Hipotesis
Upaya untuk menemukan landasan-landasan sejarah tatanan hukum memaksa
kita untuk memperjelas pemikiran kita tentang aspek-aspek paling mendasar dalam
masyarakat yang di dalamnya terbentuk rule of law. Dalam peradaban-peradaban lain,
kita menemukan perubahan-perubahan social yang berdampak pada pluralisme
kelompok tertentu atau penguatan pandangan transenden akan dunia, sebuah pandangan
yang kerap diikuti dengan penafsiran kumpulan-kumpulan sistematis hukum agama.
Namun, dimanapun tidak pernah terjadi kedua unsure tersebut bergabung sempurna dan
menghasilkan rule of law modern dari interaksi tersebut.
Peradaban China, terutama pada era yang berlangsung sejak awal periode
Musim Semi dan Musim Gugur sampai penyatuan di zaman Chin dan berdirinya Negara
kaisar pada 221 SM. Masyarakat disini tumbuh dan mengandalkan peraturan publik dan
peraturan positif sebagai alat kontrol politik. Pembandingan dengan China sebagai kasus
yang bertolak belakang, menjanjikan akan memperdalam wawasan kita tentang
hubungan kompleks antara cara-cara pengaturan social, jenis-jenis kesadaran, dan
bentuk-bentuk tatanan normatif.
Pembandingan ini berlangsung dalam tiga tahap analisis. Pertama, telaah cirriciri khusus salah satu periode dalam sejarah China. Peraturan positif dan peraturan
publik (hukum sebagai regulasi) tidak terlalu dianggap penting. Kedua, hubungan antara
penekanan keduanya sebagai telaah absennya kondisi-kondisi bagi sebuah tatanan
Page 19

hukum otentik di China. Ketiga, bagaimana isu-isu perkiraan sosial dan cultural dalam
berbagai jenis hukum telah diangkat dalam perdebatan antara dua aliran pemikiran
selama periode dalam sejarah Cina ini aliran Konfusianis dan aliran Legalis.
2. Adat Istiadat dan Foedalisme pada Cina Awal
Sesuai kesepakatan, periode dalam sejarah Cina kuno dibagi dua. Pertama,
periode feudal yang meliputi sebagian besar masa Chou Barat (1122-771 SM) dan
sebagian dari masa Musim Semi dan Musim Gugur sesudahnya (722-464 SM) sampai
sekitar pertengahan abad ke-6 SM. Periode kedua, periode transformasi yang
menyaksikan

perubahan

kepercayaan

dan

pengorganisasian

social,

sehingga

menghasilkan revisi besar-besaran pada tatanan normative masyarakat. Periode ini


dimulai pertengahan masa Musim Semi dan Musim Gugur, termasuk masa Chan Kuo
(463-222 SM) sampai penyatuan Chin pada 221 SM.
Aspek-aspek terpenting dalam periode feudal untuk memahami jenis tipikal
hukumnya adalah pengaturan politiknya, hubungan antar status social yang mencirikan
periode itu, serta visi religious yang mendominasi. Pengorganisasian feudal berhadapan
dengan latar belakang ekonomi pertanian penghasil bahan baku, yang sudah mulai
menggunakan pengaruh sentralisasi. Berhadapan juga dengan perang yang relatif sengaja
diciptakan oleh para bangsawan utama dan para shih pengikutnya. Untuk memahami
cara politik itu, kita harus mempertimbangkan system status sosialnya.
Ada dua kategori yang sangat mencolok perbedaannya : bangsawan (chun zu)
dan rakyat jelata (Hsiao jen). Bangsawan adalah keluarga kaisar, para pemilik tanah
hadiah raja, golongan dominan yang dikendalikan oleh tanah hadiah bangsawan feudal
dan golongan shih. Golongan shih setara dengan golongan ksatria di Eropa Barat,
samurai di Jepang zaman Tokugawa, dan equite zaman Romawi Republic awal.
Gambaran singkat tentang masyarakatb feudal Cina ini ditutup dengan
menambahkan cara-cara khas kepercayaan religiusnya. Kesatuan ketuhanan ditegaskan
Page 20

sebagai hail persatuan roh-roh fungsional yang mewujudkan kekuatan alam yang
menjadi penopang masyarakat. Pengaruh agama dalam periode feudal terhadap gagasan
ketuhanan universal bersifat ambigu dikarenakan adanya dua sebutan bagi Tuhan : Shang
Ti (kaisar, penguasa tinggi) dan Tien (langit). Sebutan Tien perlahan-lahan
menggantikan Shang Ti.
Ketika citra dominan masyarakat adalah citra pemerintah terpusat di bawah satu
penguasa, kosmos dipahami sebagai versi luas tatanan social. Maka, Tuhan menjadi
pemimpin militer tertinggi, lalu menjadi pembuat hukum yang dilambangkan sebagai
Yaweh pada agama Yahudi awal. Terbukalah jalan bagi agama-agama transendensi.
Peraturan-peraturan tertulis atau kitab undang-undang yang belum dikenal, dan
wewenang pangeran-pangeran penguasa yang tak terbatas, masih dijaga dalam batasbatas yang paling ketat.
Hukum milik masyarakat feudal terangkum oleh konsep li yang mendominasi
pemikiran Konfusianis. Li adalah standar hierarkis untuk perilaku, li mengatur hubungan
sesuai kedudukan social relative individu. Sifat hierarkis li merupakan respon terhadap
struktur politik masyarakat feudal dan system statusnya. Maka jurang pemisah antara
chun zhu dan Hsiao jen diterima begitu saja. Hanya bangsawan yang ambil bagian dalam
system kewajiban saling bersikap sopan, jika dipakai untuk kalangan rakyat biasa makna
asli li melebur menjadi konsep adat istiadat yang lebih luas. Li dipandang sebagai
bentuk perilaku yang intristik dengan situasi dan kedudukan social tertentu.
Li bukan peraturan positif, bahkan dalam satu pengertian, li bukan peraturan
sama sekali. Li bukan sifat positif karena tidak dipahami, dirumuskan, atau dipatuhi
sebagai sesuatu yang terpisah dari hubungan-hubungan konkret yang menentukan
identitas individu dan kedudukan sosialnya. Tatanan normative yang sangat
mengandalkan citra perilaku yang benar secara tegas namun tidak teraktualisasikan itu
hanya berlangsung efektif dalam konteks social yang memiliki consensus nilai dan
persepsi yang kuat.
Page 21

Landasan social bagi karakteristik li terletak pada tidak adanya pemisahan


Negara dan masyarakat selama periode feudal. Li tidak bersifat publik dan tidak
dianggap sebagai produk lembaga Negara. Li menyentuh segala aspek dalam kehidupan
social. Kedudukan seseorang dalam urutan status nyaris sepenuhnya menentukan
aksesnya terhadap kekuasaan. Secara umum, periode feudal Cina kuno memberikan
contoh yang bagus sekali tentang masyarakat yang hampir sepenuhnya bergantung pada
hukum interaksional dan belum mengenal jenis hukum lain. Gejala ini menjadi gambling
setelah kita memahami kondisi social dan budaya tiap-tiap tatanan normatif.
3. Periode Transformasi : Dari Hukum Adat Menuju Hukum Birokratis
Masyarakat dan kebudayaan Cina mengalami perubahan mencolok menjelang
pertengahan periode Musim Semi dan Musim Gugur, yaitu abad ke-6 SM. Perubahan ini
semakin cepat dengan dimulainya periode Negara-negara yang sedang berperang pada
436 SM. Dan mencapai puncaknya dengan berdirinya Negara kaisar bersatu pada 221
SM. Masa ini disebut masa transformasi.
Sejarah politik periode transformasi merupakan sejarah runtuhnya system feudal
secara terus menerus. Pada lingkupn antar Negara, kecenderungan dasarnya mengarah
pada sentralisasi politik. Konflik dalam masyarakat feudal menyebabkan jumlah Negara
yang berperang menyusut dengan cepat dan tiap-tiap Negara mengalami pemekaran
wilayah. Perang membawa akibat penting bagi peraturan dalam negeri negara-negara
yang bermusuhan.

Disamping itu, pemisahan yang tiba-tiba serta berbaliknya

peruntungan yang tidak disangka-sangka akibat situasi pergolakan memunculkan kader


diplomat, sarjana dan sofis yang cekatan.
Rakyat jelata maupun bangsawan tidak luput dari sapu gelombang perubahan
social. Dengan terbentuknya pemerintahan terpusat dan penataan ulang system
perpajakan, budak-budak dari masyarakat feudal beralih menjadi penyewa tanah yang
Page 22

membayar upeti. Secara keseluruhan, dampak dari segala peristiwa politik dan social ini
memisahkan Negara dari masyarakat. Ada dugaan bahwa semua peristiwa itu juga turut
berperan dalam meruntuhkan kesatuan nilai dan persepsi yang sangat kuat, yang menjadi
landasan tatanan feudal dan hukum adatnya. Menjelang abad ke-7 SM, kitab undangundang hukum tertulis mulai bermunculan di negeri-negeri Cina.
4. Kaum Konfusianis dan Legalis
Pengalaman Cina kuno mengungkapkan hubungan diantara tipe-tipe hukum,
struktur social, dan kesadaran serta memajukan pemahaman akan kondisi-kondisi tatanan
hukum di masyarakat kita sendiri. Konflik doktrinal utama pada periode transformasi
adalah pertentangan antara murid-murid Konfusius dan Fa Chia, begitulah sebutan bagi
kaum legalis. Legalisme dan Konfusianisme punya inti pandangan sendiri-sendiri yang
mencampuradukan

deskripsi

dan

preskripsi.

Inti

pandangan

Legalisme

dan

Konfusianisme juga mencakup penjelasan tentang watak dasar manusia, pandangan


tentang manusia yang sepatutnya antara pemerintah dan kelompok-kelompok social serta
doktrin tatanan normatif.

C. Batas Batas Perbandingan Dengan China : Pengalaman Peradaban Peradaban


Yang Lain
Perbandingan antara pengalaman hukum Cina kuno dengan Eropa modern
menyisakan banyak pertanyaan yang belum terjawab. Kedua tradisi mewakili akstrem dari
spectrum ada atau tidak adanya rule of law. Kedua masyarakat itu sama-sama mengalami
perubahan-perubahan yang mengarah pada pebanyakan hukum birokratis, tetapi hanya satu

Page 23

masyarakat yang mengembangkan tatanan hukum yang sesungguhnya. Kebanyakan


peradaban menempati posisi menengah dalam spectrum ini.
Ada dua jenis situasi utama yang dalam hal-hal tertentu mendekati rule of law,
sementara dalam hal-hal lainnya tidak teralalu mendekati. situasi pertama meliputi hukum
agama di India kuno, Islam, dan Yudaisme. Dan yang kedua adalah sejarah hukum YunaniRomawi.
1. Hukum agama di India kuno, Islam, dan Yudaisme
Semua system hukum agama ini dipercaya memilki otoritas yang mengatasi
manusia sebagai kehendak dari Tuhan Yang Maha Esa atau sebagai refleksi tatanan
impersonal. Dharmarasta Hindu menerangkan implikasi terhadap pelaksanaan dharma
manusia. Hukium Syariah menetapkan perintah-perintah Allah bagi umat manusia. Wahyu
ilani yang ditetapkan lewat ayat-ayat Quran, Sunnah, Ijma, dan Qiyas. Demikian pula
halakhah Yahudi menunjukan tatanan komprehensif bagi kehidupan manusia. Sumber
utama adalah Taurat, wahyu Tuhan diatas Gunung Sinai kepada manusia pilihan-Nya.
Agama India (Hinduisme) turut berperan terhadap konsepsi karakteristik dewa
tertinggi selalu ambivalen. Dalam Islam, Syariah adalah hukum universal yang
mencerminkan kehendak Tuhan dan menetapkan kesetaraan diantara umat manusia.
Halakhah Yahudi lebih mendekati bentuk tatanan hukum daripada kumpulan hukum agama
lainnya. Asal usul ilahi kitab Taurat memperkuat kepercayaan akan universalisme hukum
agama dan doktrin kitab Injil menekankan kesetaraan hakiki semua bangsa.
2. Varian Yunani-Romawi
Sejarah hukum Yunani dan Romawi menawarkan satu lagi contoh tradisi yang
terletak di antara penolakan Cina kuno dan penerimaan Eropa modern terhadap rule of law.
Factor social disini tidak seperti di Cina, sentralisasi di Yunani tidak pernah cukup kuat
Page 24

untuk mengendalikan, apalagi menekan konflik kelompok. Menjelang abad ke-7,


kekuasaan raja-raja di sebagian besar wilayah Hellas sudah lama surut ke tangan oligarki
aristokratis. Dari abad ke-7 sampai awal ke-5 SM, perekonomian semakin melibatkan
uang.
Tirani menjadi tahap menentukan dalam evolusi tatanan sosial yang relatif
pluralistis. Demikianlah rezim Peisis-tradid di Athena mengadu domba komunitas
pedagang asing dengan golongan Eupatrid. Kadar pluralisme kelompok dan konflik
kelompok yang dicapai tidak pernah cukup memadai untuk mentransformasi masyarakat
itu menjadi masyarakat liberal. Ketika konsep alam berhasil terbentuk, landasan
teologisnya teralalu lambat dan lemah, dengan penguatan social yang yang kelewat kurang
untuk menjadi pengaruh yang signifikan terhadap pengorganisasian.
D. Hukum Sebagai Respons Terhadap Merosotnya Ketertiban
Situasi yang digambarkan oleh pandangan konsensus terhadap tatanan sosial
merupakan dasar bagi hukum interaksional. Adat istiadat tumbuh subur sampai mencapai
tahap ada kesatuan pemahaman dan ideal yang berpadu erat, menyebar luas, saling berkaitan
secara koheren, dengan norma-norma yang konkret dan dipegang teguh. Dalam situasi yang
memunculkan hukum birokratis, penguasa atau kelompok yang berkuasa bisa melihat
masyarakat dari sudut pandang doktrin instrumentalis.
Hukum publik dan hukum positif menjadi sarana untuk memanipulasi relasi sosial
atas nama kebijakan-kebijakan yang sengaja dipilih oleh kelompok yang berkuasa.
Pemisahan Negara dari masyarakat menciptakan wahana institusional untuk kontrol tersebut.
Selama ribuan tahun manusia memandang alam dan masyarakat sebagai perlambang tatanan
suci yang sifatnya hidup sendiri. Bentuk eksistensi dan kesadaran yang benar-benar berbeda
hanya muncul di dalam lingkup sejarah yang relative modern. Setiap upaya solusi terhadap
krisis tatanan tersebut terbatas kemampuannya dalam mengesahkan kesepakatan sosial.
Page 25

BAB III
HUKUM DAN MODERNITAS PERSPEKTIF MODERNITAS

A. Hukum dan Modernitas Perspektif Modernitas


Unger berpendapat bahwasannya setiap teoritisi sosial klasik bekerja menurut
perspektif modernisasi. Peradaban yang ada merupakan hasil pemisahan revolusioner dengan
peradaban-peradaban pendahulunya, sebuah pemisahan yang benar-benar baru dalam dunia
sejarah.
Para teoritisi modern cenderung menerima gagasan masyarakat modern sebagai
suatu perkumpulan banyak individu yang merdeka, yang sederajat, keselamatan dan
kebebasannya dijamin oleh hukum impersonal. Namun tidak semua menerima teori ini yang
dianggap kabur dan tidak bisa menjelaskan teori modernisme. Wawasan mereka yang
terdalam harus berhubungan dengan proses perubahan bentuk yang dialami pengorganisasian
sosial dan kesadaran sosial melalui konflik dengan satu sama lain.
Perubahan bentuk kehidupan memerlukan banyak penjelasan yang belum terbukti
dan menawarkan pandangan baru mengenai sejarah. Namun hal ini dibantah karena
menyiratkan bahwa tidak adanya keterkaitan antara unsur-unsur peradaban eropa dengan
pasca-renaisance.
Page 26

Permasalahan yang timbul ahirnya dipelajari terkait relevansinya dengan sejarah


hukum. Semua transformasi hukum memberikan sudut pandang untuk meninjau kemodernan
dari segala sudut.
B. Perbandingan Antara Berbagai Masyarakat : Sebuah Kerangka Pendahuluan
Untuk merumuskan analisis dasar sistem pembandingan masyarakat, Unger
membedakan tiga bentuk kehidupan sosial yaitu kehidupan sosial kesukuan, liberal, dan
aristokratis. Dalam hal ini, masyarakat sebagai individu berinteraksi dengan dua konteks
yaitu orang dalam dan orang luar. Kemudian timbul tiga permasalahan lain yaitu :
a. Tentang anatomi kelompok-kelompok tersebut;
b. Berhubungan dengan bentuk ikatan sosial itu sendiri;
c. Kecenderungan masyarakat untuk mendefinisikan hubungan antara pengalaman mereka
yang sebenarnya dengan apa yang seharusnya terjadi, antara kenyataan dan ideal.
Ketika membedakan ragam hukum, Unger mengemukakan bahwa dalam
memahami aspek sosial dalam perilaku manusia secara khusus, tidak bisa berhenti pada
deskripsi dan penjelasan keteraturan faktual. Karakter sejumlah relasi sosial masih dipahami
secara keliru sampai berhasil menjelaskan gagasan atau sentimen kewajiban yang diterapkan
manusia dalam mempengaruhi urusan mereka satu sama lain, saling menghargai maupun
mencela ssesamanya. Studi terhadap ikatan sosial membutuhkan pengetahuan akan jenisjenis tatanan normatif yang mengelilingi relasi sosial dengan perintah, lambang dan
kepercayaan. Terkadang tatanan normatif ini disamakan bulat-bulat dengan praktik sosial;
kenyataan dijadikan ideal dan ideal dijadikan kenyataan. Inilah yang kita lihat sudah terjadi
pada hukum adat dan agama-agama imanen. Namun ada kalanya ideal dan kenyataan akan
saling berlawanan, misalnya pada jenis hukum selain adat, dan agama-agama transenden.
Page 27

Ketiga hal diatas merupakan komponen-komponen terpenting dalam kerangka


studi komparatif mengenai bentuk-bentuk kehidupan sosial diantaranya :
1. Masyarakat kesukuan
Sebuah masyarakat yang setiap individu di dalamnya menjadi anggota sejumlah
kelompok signifikan. Jumlah kelompok signifikan sangat kecil, tetapi tiap-tiap kelompok
ini mengisi sebagian besar kehidupan individu. Dengan begitu, aktivitas dalam
kehidupan sosial lainnya dapat dihubungkan dengan aneka ragam kelompok yang
berbeda, dalam masyarakat ini terkonsentrasi pada beberapa badan kolektif. Awalnya
kelompok yang signifikan hanyalah kelompok yang keanggotaannya ditentukan oleh
ikatan kekerabatan, baik yang riil maupun teoritis. Namun pada hampir semua
masyarakat, kelompok-kelompok signifikan lainnya seperti entitas wilayah, juga
memperoleh semacam kebebasan relatif dari kelompok keluarga.
Masyarakat kesukuan tidak mempunyai konsepsi benar atau salah sebagai sesuatu yang
mengatasi dunia alam dan sosial disekeliling mereka. Kesatuan perasaan dan pemikiran
mereka yang terikat erat akan mendorong mereka untuk menyamakan ideal dengan jalan
menolak pengalaman keraguan moral. Karena itulah, hukum, agama, dan seni mereka
pada dasarnya tidak terpisahkan. Bahkan gagasan bahwa alam dan masyarakat itu sendiri
mungkin mengalami perubahan mendasar tetap asing bagi seorang manusia yang belum
pernah memutuskan lingkaran yang nyaris tertutup itu, lingkaran tempat berputarnya
segala sendi kehidupan bersuku.
2. Masyarakat liberal
Masyarakat liberal merupakan lawan dari masyarakat kesukuan. Dalam masyarakat
liberal, setiap individu menjadi anggota sejumlah besar kelompok signifikan, tetapi
masing-masing kelompok hanya mempengaruhi bagian terbatas dari kehidupannya.
Page 28

Dengan demikian kepribadian terbagi menjadi banyak aktifitas khusus yang terpisahpisah atau malah saling bentrok. Sebaliknya pengerucutan ini menyebabkan keseluruhan
pribadi seseorang mulai dipahami dan diperlakukan sebagai kumpulan abstrak
kemampuan yang tidak pernah bertemu bersama pada salah satu konteks kehidupan
berkelompok.
Dalam masyarakat liberal, Pembedaan antara orang dalam dan orang luar tidak lenyap
seluruhnya. Pembedaan itu tetap ada dalam ikatan kedaerahan, ikatan etnis, dan ikatan
nasional serta pembedaan antara lingkungan publik pekerjaan dan kehidupan pribadi
keluarga dan persahabatan. Namun keimpersonalan lingkunagn publik dan karakter
komunitas lingkungan pribadi senantiasa berubah. Pada masyarakat liberal, berkali-kali
hukum solidaritas komunitas diterapkan pada kehidupan publik dengan nama hukum
rimba, sedangkan hukum rimba pun diterapkan pada kehidupan pribadi dengan nama
hukum solidaritas komunitas.
Menurut Unger, ikatan sosial yang tidak lagi mementingkan kesatuan intra kelompok dan
permusuhan antar kelompok adalah asosiasi kepentingan. Asosiasi kepentingan yaitu
seseorang menerima dan mematuhi kerangka berstruktur (menaati peraturan) terkait
urusan timbal balik dengan orang lain itu sebagai sarana untuk mencapai tujuantujuannya sendiri. Sistem ini tidak mampu bergerak sendiri. Sistem tradisional
menyatakan bahwa seseorang yang bermain-main dengan peraturan akan mendapatkan
sanksi, namun teori ini ternyata tidak benar-benar berlaku saat sanksi-sanksi tidak ada
artinya bagi si pelaku.
Bentuk kehidupan berkelompok dan ikatan sosial dimasyarakat liberal, dapat
disimpulkan jenis-jenis kepercayaan yang dikembangkan oleh masyarakat adalah terkait
dengan ideal dan kenyataan.
Bagi masyarakat kesukuan, akal adalah kesadaran akan ideal yang sangat konkret yang
tersimpul dalam realitas. Akal seperti ini menganggap tidak ada bedanya antara yang
sebenarnya dan yang seharusnya atau antara teori dan praktik. Akan tetapi masyarakat
Page 29

liberal menganut pandangan berbeda hubungan antara ideal dan kenyataan, sehingga
pandangannya tentang ideal dan kenyataan juga berbeda.
3. Masyarakat aristokratis
Masyarakat aristokratis mempunyai ciri yang hampir sama dengan feodal dan oligarkis,
namun pada dasarnya contoh yang paling sempurna tetap standestaat Eropa. Standestaat
merupakan kategori yang khas dalam logika tipe-tipe masyarakat, karena struktur
internalnya berupa gabungan seperti halnya masyarakat kesukuan dan masyarakat liberal
juga merupakan masyarakat terkecil yang tidak bisa dibagi lagi seperti halnya kedua tipe
msyarakat lainnya itu.
Masyarakat liberal cenderung bergerak mendekati universalisme; masyarakat ini
cenderung mempersatukan orang dibawah hukum kesetaraan formal. Masyarakat
kesukuan bersifat partikularistis; ketaklukan individu terhadap kelompoknya dan
kekakuan pembedaan diantara banyak kelompok menenggelamkan pengakuan bahwa
penduduk asli maupun pendatang adalah sama-sama manusia. Masyarakat aristokratis
paling baik dipahami sebagai gabungan universalisme dan partikularisme. Baik kekuatan
maupun kelemahannya berasal dari gabungan ini.
Prinsip utama yang mempersatukan tatanan aristokratis ialah kehormatan. Bukan
solidaritas komunitas atau asosiasi kepentingan. Kehormatan adalah pengakuan dari
orang lain bahwa seseorang memiliki sifat-sifat kebajikan yang lebih, sesuai dengan
status orang tersebut terkait hak dan kewajiban yang menyertai statusnya.
Karena tatanan aristokratis menganut tatanan tunggal yang stabil, berbeda dengan
jenjang status yang banyak dan tidak stabil pada liberalisme, maka lapisan tertingginya,
aristokrasi memainkan peran penting dalam menentukan karakter masyarakat.
Setiap tipe masyarakat mempunyai titik pusat ketegangan, cacat tersembunyi dalam
mendefinisikan ikatan sosial sehingga saat cacat tersebut tampak jelas akan
menimbulkan pengambilan bentuk baru. Masyarakat kesukuan menghadapi bahaya
Page 30

berupa runtuhnya kesatuan nilai-nilai bersama dan menjadi korban konflik kelompok.
Masyarakat liberal rentan dari berbagai implikasi dari sistem statusnya yang tidak stabil
itu. Walaupun setiap kelompok tidak berhak menguasai kelompok yang lain namun
beberapa kelompok sebenarnya lebih besar kekuasaannya daripada kelompok yang lain.
Unger mendeskripsikan masyarakat aristokrasi dengan memperhatikan antara yang ideal
dan yang sebenarnya, kemudian mendekati dengan sudut pandang universalisme dan
partikularisme.
4. Perubahan Sosial
Akar terdalam dari semua perubahan sejarah adalah konflik nyata atau konflik
tersembunyi

antara

pandangan yang

ideal dan pengalaman

kenyataan

yang

sesungguhnya.
Dalam masyarakat liberal, terdapat banyak konflik dengan berbagai segi yang berbeda
antara yang ideal dan kenyataan sehingga perubahan dalam masyarakat liberal
berlangsung amat cepat dan luas dibandingkan dengan jenis kehidupan sosial lainnya.
Dalam masyarakat aristokratis, hubungan antara ideal dan pengalaman dirasakan lebih
akrab. Sehingga dalam masyarakat ini, dirasakan perubahan bisa berlangsung lebih
lambat dan kurang nyata dari pada perubahan dibawah liberalisme. Sedangkan
perubahan bagi masyarakat kesukuan cenderung tidak bertubi-tubi dan tidak disadari.
C. Hukum dan Masyarakat Aristokratis Eropa
1. Antara Feodalisme Dan Liberalisme
Umumnya tipe masyarakat Eropa yang berlangsung sesudah tatanan feodal, tetapi
sebelumnya negara liberal, disebut sebagai masyarakat golongan (sosiety of estate) atau
standestaat. Baik feodalisme abad pertengahan maupun standestaat dapat dianggap
sebagai spesies masyarakat aristokratis, tetapi standestaat-lah yang langsung melahirkan
Page 31

liberalisme dibarat. Untuk mendefinisikan kedudukan standaestaat dalam kategori tatanan


aristokratis yang lebih luas yaitu dengan mengingat karakteristik umum yang
mengutamakan pengaturan kekuasaan yaitu terdapat dua kesenjangan sosial yaitu antara
elite dan rakyat; Golongan-golongan yang menyusun elit tersebut bergerak menurut
kelompoknya sendiri (tipikal milik masyarakat aristokratis); dan terdapat upaya untuk
saling menjinakkan dan pelanggaran antara perdagangan dan birokratis terhadap hierarki
status tradisional.
Dari ketiga krakteristik tersebut, karakter pertama mengaitkan masyarakat
golongan dengan feodalisme, karakter ketiga dengan liberalisme dan masyarakat kedua
menggambarkan sifat institusionalisnya yang khas dan menentukan tempatnya yang
istimewa didalam genus tatanan aristokratis. Hintze menunjukkan bahwa ciri khas
standestaat adalah pengaturan golongan secara berkelompok yang memiliki dua bentuk
sebagai ciri institusional standestaat, yang akhirnya Unger mengatakan bahwa halk
tersebut sebagai sifat masyarakat aristokratis secara umum, yaitu :
a. Bikameral yaitu adanya majelis tinggi dan majelis rendah
b. Tripartit yaitu adanya tiga golongan (bangsawan, pendeta, dan profesional)
menjadi badan-badan dari perangkat prerogatif legislatif, administratif, dan
peradilan permanen.
c. Hukum pada standestaat
2. Hukum birokratis mencakup dua unsur yaitu :
a. Alam duniawi berisi perintah-perintah berdasarkan kebijaksanaan.

b. Wilayah dalam kehidupan sosial yang kebal terhadap penguasa dan tunduk sematamata terhadap suatu tatanan yang suprapositif dan suci.
Page 32

Kontras antara dua wajah hukum praliberal ini ditekankan oleh perbedaan
tradisional antara polizeisache (urusan-urusan yang menjadi wilayah kompetensi raja)
dengan justizsache (urusan-urusan yang menyangkut privilese dan kewajiban golongan di
bidang itu).
Berdasarkan perkembangan yang ada ahirnya hukum prerogatif golongan mulai
memperoleh sifat publik dan positif tanpa sepenuhnya kehilangan identitas semula.
Hukum tetap dianggap sebagai sesuatu yang lebih tinggi dan tidak dapat diusik lagi.
Hukum previlese menjadi inti dari hukum konstitusional Eropa modern sampai kaum
revolusionis Prancis menegaskan kedaulatan rakyat sebagai hal yang tertinggi. Namun
tetap saja dalam suatu permasalah itu pasti ada perbedaan sehingga ada juga yang
menerapkan sentralisasi atau otonomi.
Absolutisme birokratis dan konstitusionalisme parlementer adalah dua jalur transisi
utama dari masyarakat golongan menuju masyarakat liberal. Dalam standestaat, raja
tidak punya pilihan kecuali menegakkan rule of law. Ahirnya rul of law modern muncul
dari proses bersisi dua, yaitu ketika hukum maklumat resmi memperoleh tambahan
generalitas dan otonomi, dan hukum privilese golongan menjadi publik dan positif.
D. Masyarakat Liberal dan Hukumnya
1. Konsesus
Yang dimaksud konsesus dalam pembahasan ini adalah situasi konsesus dalam
masyarakat liberal. Bahasan ini merupakan pijakan awal untuk mengungkapkan paradoksparadoks (pertentangan makna) utama dalam sebuah ideologi yang dominan.
Kesadaran dan eksistensi pada masyarakat liberal didasarkan pada interdependensi di
antara 3 faktor :
a. Semakin bertambahnya jumlah kelompok signifikan seiring dengan mengurangnya
wilayah kehidupan individu yang didominasi oleh tiap-tiap kelompok.
Page 33

b. Sirnanya perbedaan mencolok antara orang dalam dan orang luar. Tatanan sosial
menjadi asosiasi kepentingan yang memanfaatkan kebudayaan manusia akan
persetujuan satu sama lainnya.
c. Ideal-ideal yang ternyata bertentangan dengan kenyataan.
Universalisme masyarakat liberal memang berhasil menjadikan manusia bisa
berbagi beberapa tujuan dan kepentingan, tetapi tidak bisa menjadikan kelompok mereka
sebagai komunitas.
Meskipun demikian, dalam masyarakat liberal masih terdapat kekuatan-kekuatan
yang menjalankan kesepakatan moral jika dibandingkan dengan masyarakat aristokratis.
Dan jika dibandingkan dengan masyarakat kesukuan masyarakat liberal lebih cenderung
menciptakan keseragaman keinginan dan prasangka universal dan lebih terbuka tehadap
perselisihan terus menerus daripada masyarakat kesukuan.
Dari jabaran komparasi antara masyarakat liberal dengan masyarakat aristokrasi
dan masyarakat kesukuan diatas timbullah suatu teka-teki yaitu bagaimana mungkin ada
konsesus tanpa otoritas (otoritas; aristokratis), stabilitas tanpa kepercayaan (kepercayaan;
kesukuan), dan juga tatanan tanpa adanya pembenaran (pembenaran adat sebagai sesuatu
yang suci; kesukuan).
Untuk memahami posisi hukum dan negara dalam masyarakat liberal, kita harus
memecahkan teka-teki ini. Untuk memecahkannya maka kita beralih fokus penelitian dari
konsesus menuju hierarki.
2. Hierarki
Pembahasan dilanjutkan ke asal-usul paradoks-paradoks yang telah diterangkan
dalam pembahasan sebelumnya dalam sebentuk hierarki yang khas.
Urutan status (rank order) distribusi kelompok-kelompok sosial secara hierarkis
dalam hal aksesnya terhadap kekayaan, kekuasaan dan pengetahuan.
Ada 2 bentuk urutan status dalam sebuah masyarakat :
Page 34

a. Ranking yang bersifat tertutup dan inklusif. Sifat tertutup berhubungan dengan
stabilitas kedudukan yang dimiliki masing-masing anggota. Sifat inklusif
menggambarkan pentingnya kedudukan tersebut dalam menentukan kedudukan
sosial individu. Kedua sifat ini saling mendukung. Sifat ini terjadi dalam
masyarakat aristokratis.
b. Ranking yang bersifat terbuka dan parsial. Sifat terbuka mengacu pada kemudahan
individu untuk berganti tempat dalam urutan status. Sifat parsial menggambarkan
banyaknya sistem kedudukan yang berbeda-beda. Kedua sifat ini terjadi pada
masyarakat liberal.
Dari penjabaran urutan status diatas, selanjutnya Unger memfokuskan
bahasannya pada masyarakat liberal dengan ranking yang bersifat terbuka dan parsial.
Urutan status masyarakat liberal lebih berpeluang menciptakan situasi yang tidak tetap
dan berubah-ubah, yang pada akhirnya tidak memiliki dasar apapun dalam katagori
masalahnya.
Dalam struktur masyarakat modern (liberal), kecintaan pada kesetaraan akan
semakin memperbesar penyetaraan keadaan. Hal ini menimbulkan kebutuhan untuk
manemukan dasar bagi penggunaan kekuasaan yang sah dan wewenang. Kecenderungan
budaya masyarakat modern untuk mengkritik kepercayaan atau ideal dengan cara
mengungkapkan bahwa kepercayaan atau ideal tersebut berasal dari kekuasaan politik
atau kekuasaan personal mengakibatkan pelemahan pada legitimasi urutan kedudukan
atau hierarki yang telah mapan.
Kekuasaan masyarakat liberal adalah sistem yang lambat laun tidak mampu
mempertahankan kekuasaannya. Sifat-sifatnya sendiri yang telah menghancurkan
legitimasinya dimata para penguasa dan yang dikuasai. Semua ini menimbulkan
sketisisme moral yang mendorong rasa putus asa untuk menerima tatanan yang telah ada
atau tanpa tujuan berganti-ganti pola dari satu ketidakadilan ke ketidakadilan yang lain.
Page 35

3. Hukum dan negara


Dalam pembahasan sebelumnya telah menyinggung tentang rule of law yang
dicirikan oleh komitmennya kepada generalitas dan otonomi. Kemudian dalam bahasan
hukum dan negara ini, penulis bermaksud membedakan antara konsepsi rule of law yang
lebih bebas yaitu yang merupakan respons dominan yang khas terhadap situasi liberal
dengan konsepsi rule of law yang lebih sempit yang hanya muncul dalam situasi-situasi
yang khusus.
Rule of law disini berusaha untuk memisahkan antara politik dan hukum atau
bertujuan pada obyektifitas hukum sehingga hukum bersifat netral, seragam dan dapat
diprediksikan. Dari sini muncul asumsi dua asumsi, yaitu :
a. Bahwa jenis kekuasaan yang paling signifikan dapat dikonsentrasikan di
pemerintah. Selama hierarki kelas atauu hierarki peran di masyarakat tidak bisa
mempengaruhi kebebasan-kebebasan individu tersebut, maka masalah kedudukan
yang tidak pada tempatnya masih bisa dikendalikan.
b. Ideal rule of law ialah bahwa kekuasaan dapat dibatasi secara efektif oleh
peraturan, entah peraturan itu bertindak sebagai batasan-batasan terhadap
administrasi atau sebagai hakikat pilihan dalam ajukasi.
Kedua asumsi diatas tidak sepenuhnya benar. Karena dalam masyarakat liberal
tidak semua kekuasaan yang signifikan diserahkan kepada pemerintah. Bahkan, hierarkihierarki yang paling langsung mempengaruhi situasi individu secara mendalam adalah
hierarki dalam keluarga, tempat kerja dan pasar. Dan juga metode pembuatan hukum di
masyarakat liberal tidak bisa dianggap benar-benar netral.
Alasan-alasan yang menyebabkan gagalnya

upaya

untuk

menjamin

keimpersonalan (kenetralan) kekuasaan ini adalah adanya urutan status yang relatif
terbuka dan parsial juga disintegrasi (kekacauan) konsesus yang menyertainya.
Page 36

Negara, suatu pengawas konflik sosial yang dianggap netral, selamanya terjebak
dalam pertentangan kepentingan-kepentingan pribadi dan dijadikan alat salah satu faksi.
Hal ini semakin membuktikan adanya gap antara visi tentang ideal dengan kenyataan
yang sesungguhnya dialami.
4. Hukum, birokrasi dan liberalisme: Jerman sebagai contoh
Kesimpulan sejarah negara Jerman tentang hukum masyarakat liberal :
a. Rechtsstaat adalah pengejawantahan kompromi antara kedaulatan negara dan
tatanan kelompok masyarakat golongan. Hal yang sama juga menimpa rule of law
di Inggris dengan kadar yang lebih rendah. Kasus Jerman menyiratkan bahwa
birokrasi sebagai kelas universal, berpeluang besar untuk memainkan peran
krusial dalam penciptaan liberalisme nondemokratis, yang membatasi golongan
lain dengan formalisme peraturan.
b. Kesimpulan kedua dari kasus Jerman terkait dengan hubungan tatanan hukum
dengan otoritarianisme. Komitmen pada generalitas dan otonomi dalam hukum,
serta pembedaan antara legislasi, administrasi dan ajudikasi semata-mata, tidak
memiliki signifikansi demokratis yang inheren (bersatu padu). Komitmen pada
kedua hal tersebut dapat membantu memajukan monopoli kekuasaan Oligarki atau
diktator.
c. Yang terakhir, sejarah Jerman mengilustrasikan dengan jelas, dilema yang
dihadapkan ideal legalitas bagi kaum Proletar (kaum awam, miskin) disebuah
negara yang kelas-kelas pekerjanya tidak memegang kendali secara efektif. Kaum
Proletar bertindak sebagai pengimbang kelompok-kelompok kepentingan Oligarki
(pemerintahan kaum elite) setampat dan diseluruh negeri. Sedangkan perlakuan
Page 37

yang sama oleh lembaga yudikatif semakin memperparah ketidaksetaraan antara


kaum Proletar dan kaum elite.
E. Disintegrasi Rule Of Law di Masyarakat Pasca Liberal
1. Masyarakat pascaliberal
Karakteritik pada masyarakat-masyarakat pascaliberal meruntuhkan rule of law
dan memperkuat kecenderungan terhadap kepercayaan dan pengorganisasian yang pada
akhirnya melemahkan kepercayaan pada peraturan publik dan positif sebagai dasar
tatanan sosial. kecenderungan ini menyebabkan kajian pandangan terhadap situasi dan
prospek masyarakat liberal. Ada dua perangkat ciri yang biasa tampak pada bentuk
kehidupan sosial yang baru ini yaitu :
a. Perangkat ciri yang pertama mengacu pada intervensi pemerintah dalam wilayahwilayah yang sebelumnya dianggap berada di luar lingkup tindakan negara yang
sepantasnya.
b. Perangkat ciri lain yang menonjol dari masyarakat pascaliberal adalah sisi kebalikan
dari peristiwa-peristiwa yang baru saja dipaparkan: perkiraan bertahap yang
dilakukan negara dan masyarakat tentang wilayah publik dan wilayah pribadi.
2. Negara kesejahteraan dan turunnya pamor rule of law
Perkembangan negara kesejahteraan mempengaruhi tatanan hukum masyarakat
liberal dalam bermacam-macam cara, tetapi ada dua pengaruh langsung yang secara
khusus tampak sangat signifikan yaitu :

Page 38

a. Meluasnya penggunaan standar-standar yang lentur dan klausul-klausul umum


dalam legislasi, administrasi dan ajudikasi.
b. Perubahan dari gaya penalaran hukum formalitas ke gaya penalaran hukum yang
berorientasi pada kebijakan, dan perubahan dari perhatian pada kesetaraan formal ke
perhatian pada kesetaraan prosedural atau kesetaraan subtantif.
3. Negara korporat dan ancaman terhadap hukum publik dan hukum positf
Dampak kecenderungan korporatis masyarakat pasca liberal terhadap hukum
akan lebih dramatis daripada kecenderungan yang dipunyai negara kesejahteraan. Kalau
kecenderungan negara kesejahteraan turut menyumbangkan disintegrasi rule of law, maka
kecenderungan korporatis masyarakat liberal akhirnya melawan gejala hukum birokratis
yang lebih mendasar dan lebih universal: hukum publik dan hukum positif.
Pengaruh paling nyata yang dimiliki korporatisme terhadap hukum adalah
kontribusinya bagi perkembangan hukum, maka hukum administratif, korporat dan
perburuhan melebur menjadi satu kumpulan hukum sosial. Pada saat yang sama akan sulit
dibedakan antara tindakan negara dan perilaku pribadi.
4. Formalitas, keadilan dan solidaritas
a. Legalitas sebagai formalitas.
Dalam pengertian paling umum, formalitas berarti tanda-tanda yang membedakan
sebuah sistem hukum : pengupayaan hukum yang general, otonom, publik dan
positif yang membatasi walaupun tidak sepenuhnya apa yang boleh dilakukan
seorang pejabat atau seorang pribadi.
Sistem peraturan bersifat formal sepanjang sistem tersebut mengizinkan penafsir
resmi atau tak resmi membenarkan keputusan-keputusanya dengan mengacu pada

Page 39

peraturan itu sendiri dan ada tidaknya fakta yang dinyatakan oleh peraturan tersebut,
tanpa memedulikan argumen keadilan atau kemanfaatan lainnya.
Seorang formalis memandang keadilan itu tidak ada bentuknya sebab keadilan tidak
dapat dikodifikasikan sebagai sistem peraturan, dan tidak dapat dikatakan tiranis
karena semua pertimbangan moral bersifat subjektif, meskipun pertimbanganpertimbangan itu dimiliki barsama secara luas.
b. Formalitas dan keadilan.
Lawan bagi justifikasi oleh peraturan adalah keadilan, pengertian keadilan intuitif
dalam kasus tertentu. Formalisme menganggap bahwa keadilan hanya bisa
melunakkan konsekuensi formalisme yang tampaknya keras tak tertahankan
mengingat gagasan-gagasan moral yang berkuasa.
Semakin banyak keadilan yang dikorbankan demi logika peraturan, semakin lebar
jarak antara hukum pemerintah dan sentimen awam akan kebenaran. Akibatnya,
hukum kehilangan kejernihannya, juga legitimasinya di mata orang awam; orang
awam mengenal hukum sebagai catur alat ajaib yang digunakan oleh golongan
terhormat.
c. Formalitas dan solidaritas.
Tatanan hukum memberikan hak dan kewajiban; semakin formal tatanan hukum,
semakin besar kemungkinan tiap hak akan diperlakukan sebagai suatu kekuasaan
yang akan dilaksanakan sesuai kehandak pemegang kekuasaan itu.
Baik sisi formalitas individualis maupun sisi formalitas kolektivitas tidak memenuhi
tuntutan solidaritas, karena ideal solidaritas mengisyaratkan seseorang tidak boleh
memanfaatkan wewenangnya yang sah untuk mengejar tujuan-tujuannya sendiri
tanpa menghiraukan dampak yang diakibatkannya bagi orang lain.

Page 40

5. Tujuan dan standar.


Tatanan hukum sebagai sistem formalitas menghadapi 2 masalah besar yaitu :
a. Perjuangan untuk keluar dari dilema kesewenang-wenangan dan formalisme
membabi buta
b. Upaya untuk menciptakan antara legalitas dan moralitas dengan menolak ekstremekstrem individulisme dan kolektivisme serta menyediakan ruang yang lebih lapang
di dalam hukum bagi nilai-nilai solidaritas
Praktisi hukum menganggap hukum sebagai sistem peraturan yang sudah jelas
dengan makna yang dikendalikanoleh tujuan-tujuan yang bermanfaat yang harus
dihubungkan oleh para pengguna hukum dengan peraturan-peraturan itu.
Dengan cara itu praktisi hukum berharap dapat menguasai ketegangan antara
formalitas dan keadilan serta menghindari akibat-akibat yang tidak menyenangkan dalam
sebagian besar kasus.
6. Keadilan, solidaritas, dan dominasi: peran kedilan subtantif.
Ada 4 dalil yang memperjelas hubungan saling terkait antara keadilan atau
solidaritas di satu sisi dengan dominasi di sisi lain yaitu :
a. Persoalan keadilan dan solidaritas lebih umum daripada persoalan dominasi.
b. Memang benar bahwa berbagai upaya untuk mempraktikan keadilan dan solidaritas
pasti kacau, atau bahkan gagal dengan sendirinya karena persoalan mendasar
kekuasaan yang tidak pada tempatnya, belum juga terselesaikan.

Page 41

c. Kompromi antara keadilan formal dan keadilan substantif yang ditunjukkan oleh
keadaan prosedural tidak sesuai dengan pemulihan reputasi ideal-ideal hukum
keadilan dan komunitarian atau tidak sesuai dengan pengurangan dominasi.
d. Penentu utama bagi progres keadilan dan solidaritas dalam hukum adalah
penghancuran hubungan ketergantungan dan dominasi.
7. Lunturnya legalitas : sejarah Jerman pun berlanjut
Lunturnya legalitas, menyebabkan sejumlah klausul umum mendadak naik
derajat menjadi yang utama. Kalangan kritikus menyatakan bahwa kecenderungan ini
akan melemahkan tatanan hukum dengan jalan memaksa pengadilan agar memberikan
keputusan-keputusan yang sangat personal; bahwa kecenderungan itu akan membuat
lingkup peraturan hukum menjadi tidak pasti dengan mengatasnamakan keadilan.
Kasus Jerman memperlihatkan banyaknya ancaman bagi kebebasan yang muncul
dengan lunturnya tatanan hukum, juga tingginya resiko yang dijalani cendekiawan kritis
saat mengecam gagasan hukum positif atas nama gagasan komunitas yang memerintah
sendiri.
F. Disintegrasi Rule Of Law Di Masyarakat Pasca Liberal
Kecenderungan komunitarian, korporatis dan kesejahteraan yang terungkapkan
selama evolusi hukum bergabung mengubah masing-masing unsur dasar masyarakat liberal.
Ketika masyarakat mengalami transformasi sesuai pola korporatis dan menerima kebenaran
aspirasi-aspirasi komunitarian, kelompok-kelompok signifikan yang memberikan nyawa
bagi hidup individu semakin berkurang jumlahnya dan semakin penting artinya.
Karena hierarki mengalami transformasi dan kondisi komunitas bergerak maju
dalam masyarakat liberal, semakin besar peluangnya bahwa hubungan-hubungan personal
yang tidak diatur dengan peraturan yang bersifat tidak subordinatif. Setidaknya asosiasi
Page 42

kepentingan bisa secara parsial digantikan oleh tujuan bersama sebagai prinsip pembangkit
tatanan sosial. kehancuran hukum positif, publik, otonom dan general mengiringi dan
mengungkapkan metamorfosis ini.

BAB IV
MENINJAU KEMBALI PROBLEMATIKA TEORI SOSIAL
A. Meninjau Kembali Problematika Teori Sosial
Dengan mengingat kembali apa yang telah diketahui dari kajian sosial hukum,
sekarang tiba saatnya meninjau kembali masalah-masalah yang sudah disinggung di awal
buku ini. Bab-bab sebelumnya telah memperlihatkan, dan telah ditegaskan kembali oleh bab
ini, bahwa masalah metode, tatanan, dan kemodernan itu berhubungan erat. Solusi lengkap
terhadap masalah salah satu dari masalah-masalah itu mensyaratkan solusi terhadap masalahmasalah yang lain.
B. Masalah Metode
Seperti terungkapkan dalam bagian pertama buku ini, masalah metode mencakup
empat hal pokok: kemungkinan bagi sebuah alternatif terhadap logika dan sebab-akibat,
yang mampu mengatasi ketidaklayakan rasionalisme maupun historisisme; hubungan antara
Page 43

metode yang ketiga ini dengan kausalitas; hubungan antara makna suatu tindakan bagi
pelakunya dengan makna tindakan itu bagi pengamat; dan hubungan teori sistematis dengan
pemahaman sejarah.
Kajian sosial terhadap hukum memiliki signifikansi khusus karena pandangan
situasi metodologis pemikiran modern. Kita dikacaukan oleh hubungan antara tindakan dan
keyakinan, terutama ketika keyakinan mengandung aspek normatif yang nyata. Hukum kita
tampil sebagai seperangkat peraturan yang menentukan bagaimana seharusnya manusia
berperilaku, bukan menjelaskan bagaimana seharusnya perilaku manusia itu.
Metode makna umum mendefinisikan kembali istilah perdebatan dengan
memandang satuan terkecil dalam kajian sosial sebagai persesuaian tertentu antara
kepercayaan dan perilaku, Persesuaian ini disebut makna. Kejelasan perilaku manusia
mensyaratkan bahwa tindakan bisa dipahami dengan mengacu pada gagasan tentang tujuan
yang dikejar individu dan kondisi yang mendukung atau menghalangi pencapaian tujuan itu.
Perilaku manusia bisa dimaklumi khusunya dalam bahasa sosial hanya jika kita mampu
mengerti mengapa dia berlaku demikian pada situasi yang demikian, mempertimbangkan
kemampuan yang dimilikinya tentang tujuan yang ingin dicapainya, juga tentang keadaankeadaan yang membuatnya harus berbuat demikian. Perilaku juga bisa digambarkan dan
dijelaskan dengan ungkapan yang murni fisik. Cara yang lebih tepat untuk menerangkan hal
ini ialah bahwa tindakan manusia selalu berasal dari kepercayaan.
Masalah pada hipotesis bahwa tindakan berasal dari kepercayaan berhubungan
dengan implikasi-implikasinya terhadap kemungkinan kebohongan, kesadaran yang keliru,
dan perilaku tak sadar. Ada ancaman bahwa penekanan pada kedekatan hubungan antara
perilaku dengan kesadaran akan dianggap memiliki arti bahwa apa pun yang orang pikirkan
atau katakan tentang perbuatannya berarti itulah yang sebenarnya dilakukannya.
Jadi metode interpretatif demikian tidak menyamakan kepercayaan yang diucapkan
dengan kepercayaan yang sebenarnya. Sebaliknya, metode interpretatif mempergunakan
tiap-tiap kepercayaan sebagai konteks untuk memahami kepercayaan yang lain. Jadi, kita
Page 44

juga memberikan makna pada perilaku dengan asumsi bahwa si pelaku mungkin menganut
pemahaman yang keliru tentang keadaan dan dampak perbuatannya. Terakhir, memang benar
ada tindakan-tindakan yang benar-benar tidak disengaja atau tidak dipikirkan lebih dulu
dengan matang. Dan semua tindakan kemungkinan hanya setengah saja yang mengandung
unsur kesengajaan atau pertimbangan.
Barang kali muncul pertanyaan apakah pemberian makna itu selalu berseberangan
dengan gagasan tradisional kausalitas. Tujuan-tujuan pilihan yang diambil boleh dianggap
sebagai sebab primer, dan keadaan yang mendasari pilihan itu boleh dianggap sebagai sebab
atau kondisi yang melatarbelakangi. Namun, tetap akan ada batasan penting terhadap
penggunaan kausalitas.
Ketidaktepatan penyamaan metode makna umum dengan penjelasan kausal
menjadi semakin jelas ketika kita berdalih dari dua dimensi metode interpretatif, dari
kedekatan perilaku dan pengalaman menjadi cara berkumpulnya gejala sosial menjadi
kesatuan-kesatuan yang mempunyai makna. Dua bentuk utama gejala sosial adalah
perbedaan fungsional dan persamaan. Perbedaan fungsional muncul ketika gejala-gejala
yang berimplikasi khusus untuk wilayah kehidupan sosial yang berlainan, Persamaan
muncul ketika beberapa fakta sosial berubah menjadi implikasi-implikasi yang analog bagi
kepercayaan dan perilaku.
Setiap bentuk kehidupan sosial yang dibicarakan dalam buku ini, masyarakat
kesukuan, masyarakat aristokratis, dan masyarakat liberal adalah satu kesatuan bermakna
dari jenis yang paling komprehensif. Masing-masing menambahkan satu modus eksistensi
manusia secara utuh. Dan bagi tiap bentuk-bentuk kehidupan sosial tersebut, hukum
berperan krusial dalam mengungkapkan dan menentukan hubungan kepercayaan dan
pengorganisasiannya.
Dalam buku ni, meskipun metode makna umum sudah digambarkan dengan
singkat, namun belum dijelaskan hubungannya dengan penjelasan kausal. Tentu saja metode
ini tidak membebaskan untuk memperlihatkan bagaimana dan mengapa satu kejadian atau
Page 45

kesatuan bermakna terjadi mengikuti kejadian atau kesatuan bermakna lainnya. Jawaban
yang dangkal terhadap pertanyaan ini ialah metode makna umum berorientasi pada deskripsi,
sedangkan kausalitas menjadi alat bagi eksplanasi.
Kendati penjelasan kausal dan penjelasan interpretatif berbeda, keduanya juga
saling tumpang tindih. Di satu sisi, aktivitas purposif terungkapkan lewat manipulasi
pernyataan-pernyataan kausal: sarana yang dipilih pelaku guna mewujudkan tujuantujuannya dimaksudkan untuk menyebabkan tercapainya tujuan-tujuan lain. Di sisi lain,
dalam membuat penilaian tentang peristiwa sejarah, kita biasanya harus membedakan sebab
primer dengan sebab sekunder, atau antara sebab dengan kondisi yang menjadi latar
belakang. Tidak semua hal dalam masyarakat yang bisa dijelaskan secara kausal juga bisa
ditafsirkan secara bermakna. Aktivitas manusia di dalam masyarakat banyak yang
tersembunyi dari pemahaman sosial atau pemahaman manusia.
Relatif terbatasnya kisaran mode interpretasi terletak pada dualisme watak dasar
manusia. Manusia adalah kesadaran yang sanggup memiliki intensionalitas, tetapi manusia
juga hidup di dunia fisik. Walaupun maksudnya meresapi sebagian aspek situasinya, maksud
tersebut tidak pernah mencapai semua aspek. Komunikasi di antara perseorangan
mensyaratkan dua hal. Prasyarat pertama, komunikan sebagai anggota-anggota spesies yang
sama memiliki jenis wujud lahiriah atau batin yang sama. Prasyarat yang kedua, potensi atau
persamaan tersembunyi ini diaktualisasikan lewat seperangkat pengalaman, pemahaman dan
nilai yang sama.
Tuntutan objektivitas dan subjektivitas dapat terpenuhi selama terwujud kesatuan
universal aktual antara pengalaman, pemahaman dan nilai. Semakin rapuh hubungan
diantara ketiganya dengan masyarakat yang kita pelajari, semakin kita tidak mampu
memperoleh pengetahuan subjektif terkait masyarakat itu, untuk menerapkan penjelasan
interpretative atasnya. Alat krusial bagi pengakuran pemahaman sejarah yang sistematis
adalah tipe. Tipe adalah suatu kesatuan bermakna, dan kesatuan unsur-unsurnya adalah
kesatuan makna. Karena itu dasar atau pembenaran bagi metode tipologi ini adalah
Page 46

kecenderungan gejala-gejala sosial untuk berkumpul menjadi kesatuan-kesatuan bermakna.


Namun kecenderungan tersebut tidak cukup untuk menjelaskan bagaimana kita bisa
merumuskan teori-teori yang memperbandingkan banyak kehidupan social, juga tidak bisa
memberikan pedoman nyata tentang tingkat abstraksi yang bisa menghasilkan pernyataanpernyataan teoritis. Untuk menangani persoalan-persoalan tersebut harus kembali pada
gagasan metafisis, kesatuan watak dasar manusia, lalu mengembangkannya.
Dalam menafsirkan watak dasar manusia, setiap bentuk kehidupan sosial
mengubah definisi dan wujud kemanusiaan. Sehingga peluang dan hambatan yang dihadapi
masyarakat pascaliberal, tradisionalistis, dan masyarakat sosialis revolusioner (bukan hanya
menyajikan pertentangan antara individulitas dan sosiabilitas, kebebasan dan kesatuan,
dengan cara yang lebih tajam dan cermat, tetapi juga menyediakan kekayaan sarana jasmani
dan rohani yang belum ada sebelumnya guna menyelesaikan kembali masalah itu) berbeda
dengan peluang dan hambatan yang dihadapai masyarakat sebelumnya.
Pandangan tentang hubungan antara bentuk-bentuk kehidupan sosial dan watak
dasar manusia didasarkan pada dua gagasan utama yang muncul bertentangan. Gagasan
pertama menyatakan sumber masalah itu terbatas dan ada banyak peluang bagi pergaulan
manusia. Gagasan kedua menyatakan bahwa sumber masalah itu terbatas memungkinkan
adanya teori komprehensif dan perbandingan universal.
Cara untuk mengakurkan dua gagasan yang sama-sama penting ini adalah dengan
memahami watak dasar manusia sebagai satu entitas yang terwujudkan dalam bentuk-bentuk
khusus kehidupan social, tetapi tidak pernah lekang karenanya. Seluruh konsepsi kita tentang
akal tetap berlandaskan pada gagasan hal-hal universal (watak dasar manusia terhadap
hubungan seseorang dengan alam, dengan sesamanya, dan dengan dirinya sendiri) sebagai
generalisasi abstrak dari hal-hal yang khusus (bentuk kehidupan social dan kepribadian
individu yang mewakili dan membangun kemanusiaan). Doktin hal-hal universal dan hal-hal
khusus, menunjukkan batas-batas sejauh mana masalah keabstrakan tipe-tipe kehidupan

Page 47

social bisa diselesaikan, lalu menuju masalah teori sistemtis dan historiografi. Tipe yang
terakhir adalah watak dasar manusia sendiri.
Jika dilihat dari teoritisi sosial yang bisa membuat suatu tipologi menjadi jauh lebih
konkret tanpa merusak kekhasannya, masalah abstraksi dan kekonkretan dalam kajian sosial
memperoleh aspek baru. Jadi kita tahu bahwa sebagaimana dilema subjektivitas dan
objektivitas yang membutuhkan resolusi politik, persekutuan pemikiran penggeneralisasi dan
historiografi mensyaratkan perubahan pada gagasan filosofis kita. Untuk menebus
kegagalannya sendiri, teori social wajib menjangkau di luar dirinya sendiri sampai ke ilmu
politik dan metafisika.
C. Masalah Tatanan Sosial
Dalam kondisi social saat ini, ada 2 hal yang tampak nyata untuk mendekati
persoalan pemersatu masyarakat. Pertama, mencari konsepsi umum tentang ikatan social
yang mempersatukan doktrin legitimasi dan doktrin instrumentalisme. Kedua, melepaskan
pencarian hipotesis komprehensif karena tidak berguna, lalu mencoba mencari tahu keadaankeadaan yang paling cocok untuk menerapkan masing-masing deskripsi teori sosial.
Pandangan yang muncul dari esai ini, terletak diantara kedua solusi tersebut.
Pandangan yang menegaskan bahwa tidak ada masyarakat yang berhasil menyelesaikan
masalah tatanannya sendiri sampai masyarakat tersebut berhasil mempertemukan tuntutantuntutan manusia digambarkan oleh kedua doktrin tersebut.
Doktrin legitimasi berlaku dengan kekuatan khusus pada bentuk kehidupan social
(masyarakat kesukuan), dan lebih umunya, pada semua jenis komunitas berhierarki. Doktrin
ini paling lazim dalam lingkungan social hukum adat. Doktrin kepentingan pribadi
(instrumentalisme) mengalami kesulitan dalam menerangkan stabilitas dan kesatuan. Jadi,
dalam masyarakat liberalpun, setiap kesepakatan kolektif pada akhirnya dirasa rapuh dan
tidak sah.

Page 48

Krisis tatanan sosial menjadi subjek sadar perhatian manusia setiap kali konsensus
gagal atau kehilangan kemampuannya untuk menuntut kesetiaan, sebab kemudian nyatalah
bahwa adat bahkan tidak sanggup menjadi pengganti naluri. Hukum birokratis maupun
tatanan hukum tidak mampu membatalkan krisis ini. Kedua varian utama kehidupan sosial
ini, masing-masing dengan doktrin tatanan yang menopangnya, memperoleh daya hidup dari
aspek mendasar dalam watak dasar manusia. Alasan utama mengapa tidak ada masyarakat
yang sanggup memecahkan masalah tatanan dengan mengandalkan salah satu dari dua aspek
kepribadian ini adalah karena dari dua sifat kemanusiaan itu, tidak ada satupun yang bisa
ditetapkan dengan sepenuh-penuhnya.
Dalam situasi imajiner ini, secara teori, kontroversi antara doktrin instrumentalisme
dan legitimasi akan kehilangan makna, tetapi hanya kontoversi itu akan teratasi secara
praktik. Bahkan karena kemampuan kita yang terbatas dalam menguniversalkan pengalaman
komunitas, kita tidak bisa menunjukkan bahwa sintesis ini akan atau bisa benar-benar
terecapai. Karena itulah tidak ada jaminan bahwa persoalan teoritis tatanan social ini akan
benar-benar terjawab.
Ada 2 kesimpulan dalam jenis analisis ini yang perlu dikedepankan. Pertama,
memang ada hubungan antara kejelasan suatu masyarakat dengan kesempurnaannya.
Masyarakat yang mengorbankan salah satu sisi dalam dilemma tatanan social ini yang lain
akan terjerumus dalam salah satu doktrin tatanan social yang parsial. Kedua, masalah teoritis
tatanan, seperti masalah metode, juga merupakan masalah politik. Batas-batas solusinya
sama dengan batas-batas politik itu sendiri.
D. Masalah Kemoderenan
Pendekatan dengan memahami watak kemodernan yang paling dasar memaksa kita
untuk menolak 2 interpretasi terpopuler tentang masyarakat modern. Salah satunya, dengan
gaya pemikiran politik liberal, menyatakan bahwa masyarakat adalah perkumpulan individu
Page 49

yang memiliki tujuan saling bertentangan yang keamanan dan kebebasannya dijamin oleh
rule of law. Interpretasi yang lainnya menganggap masyarakat sebagai susunan kelompok,
khususnya susunan kelas, dominasi yang karakter sejatinya masih tersembunyi, belum
terungkapkan oleh ideologi yang berkuasa. Interpretasi yang pertama menganggap remeh
kesadaran; interpretasi yang kedua mengabaikannya. Sebaliknya, inti dari pendekatan
terhadap masyarakat liberal modern ialah konsepsi hubungan saling mempengaruhi antara
kepercayaan dan pengalaman, kesadaran dan pengorganisasian.
Ketika liberalisme menjadi pascaliberalisme, ketika masyarakat tradisionalistis dan
masyarakat sosialis revolusioner muncul sebagai tipe-tipe modern yang menyimpang.
Hubungan saling mempengaruhi ini mendapat bentuk baru. Masyarakat liberal terlibat dalam
paradoks cara perkumpulan yang menafikan komunitas maupun tatanan imanen, sehingga
paling baik dijabarkan dengan kepentingan pribadi. Namun, masyarakat pascaliberal,
tradisionalisitis, dan sosialis revolusioner, dengan cara berbeda-beda, semuanya terobsesi
pada bertemunya kebebasan dan persatuan. Persatuan ini merupakan bagian dari tanggung
jawab yang lebih luas; makna tatanan yang tersembunyi atau tatanan alam dalam kehidupan
social harus diselaraskan dengan kemampuan untuk mengizinkan kehendak menciptakan
kembali kesepakatan social. Untuk mencapai hasil ini, yang artinya mengupayakan ideal
komunitas universal, merupakan tugas politik yang besar bagi masyarakat-masyarakat
modern.
E. Teori Sosial, Metafisika dan Politik
Banyak teori sosial yang dibangun sebagai benteng terhadap metafisika dan politik.
Setia kepada pandangan yang dihasilkan pemeberontakan kaum modern terhadap filsafat
kuno, para teoritisi sosial klasik tidak sabar untuk membebaskan diri dari ilusi metafisika,
lalu dari ketidakpastian pertimbangan politik. Mereka ingin menciptakan kumpulan

Page 50

pengetahuan objektif tentang masyarakat, yang tidak akan dipengaruhi oleh spekulasi
metafisika maupun kontroversi politik.
Teori sosial harus mengambil sikap terhadap masalah dasar watak manusia dan
pengetahuan manusia yang tidak pernah dibicarakan dalam penjelasan ilmiah manapun.
Dan teori sosial harus mengakui bahwa masa depannya sendiri memang tidak terpisahkan
dari takdir masyarakatnya. Progres teori ini bergantung pada peristiwa-peristiwa politik.
Doktrin-doktirn yang dianut teori berupa ideal sekaligus deskripsi: pilihan-pilihan yang
wajib diambil teori sosial adalah pilihan diantara pandangan-pandangan tentang apa yang
sebenarnya. Pilihan-pilihan ini tidak berubah-ubah, juga tidak sama dengan bukti logika atau
bukti empiris. Pilihan-pilihan ini mengembangkan konsepsi-konsepsi spekulatif tentang
syarat-syarat tatanan sosial dan tuntutan-tuntutan watak dasar manusia konsepsi-konsepsi
yang mendapat informasi dari pengetahuan sejarah, tetapi tidak bisa berpura-pura senantiasa
mengikuti jalannya sejarah.
Maka, jalan pulang kepada metafisika dan politik dalam teori sosial terancam
bahaya oleh peluang bahwa pembelajaran yang diperoleh secara perlahan-lahan akan ditukar
murah dengan khayalan dan nafsu. Namun, penilaian apa pun terhadap risiko ini perlu
memperhatikan dua hal. Pertama, tidak ada jalan keluar yang nyata. Program internal milik
teori sosial itu sendiri, bebannya atas pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab, paradoksparadoks yang tak terselesaikan, serta asumsi-asumsinya yang tidak tepatlah yang memaksa
kita untuk menempuh cara ini. Selain itu, reuni kajian sosial dengan metafisika dan politik
ini mengandung janji sekaligus bahaya yang luar biasa, sebab tentu saja sama benarnya bagi
teori sosial maupun bagi cabang pengetahuan lainnya bahwa wawasan dalam kemungkinan
besar diperoleh ketika berpindah persepsi dari yang umum ke yang khusus, atau sebaliknya.

Page 51