Anda di halaman 1dari 9

ASPEK HUKUM

DI KAMAR OPERASI
Oleh : Drs. Oka Dhermawan, SH. M. HUM

INSTALASI BEDAH SENTRAL

RSU PURBOWANGI GOMBONG


Jl. Yos Sudarso Barat No.1 Telp. (0287) 471080 Fax. (0287) 472111

I.

Pendahuluan.
A. Latar Belakang
Bagi kita di Indonesia mendengar ikut campurnya Aspek Hukum
di Kamar Operasi agak terasa aneh, karena rasanya sudah terbiasa bahwa
operasi berjalan ditangani oleh orang-orang yang sudah ahli pada
bidangnya dan bagi pasien atau keluarganya sudah membuat pernyataan
terlebih dulu bahwa ia akan melakukan operasi/bedah untuk suatu
penyembuhan sakitnya kelak.
Anggapan ini jika dilihat dari aspek hukum adalah merupakan suatu
anggapan yang keliru karena sesuatu kealpaan yang dapat menyebabkan
penyakit yang baru timbul bias saja terjadi.
Dari sinilah hukum tersebut akan mulai berhadapan dengan para pelayan
Kesehatan atau siapa-siapa saja yang berada di kamar operasi yang
melakukan operasi dan bahkan lebih luas lagi.
B. Hukum Sebagai suatu Penyeimbang
Suatu penyeimbang dalam hubungan terapeutik akan mengikat
para pihak baik ia sebagai pasien maupun mereka sebagai Pelayan
Kesehatan.
Pada awalnya hubungan tersebut adalah merupakan hubungan vertical
karena pasien sebagai konsumen datang menyerahkan diri dalam
keadaan sakit dan tidak mengerti bagaimana harus menyembuhkan
dirinya,apalagi ia tahu bahwa sesuatu harus terjadi di kamar operasi.
Di satu pihak para Pelayan Kesehatan adlah orang-orang atau suatu
profesi dan juga lembaga seperti Rumah Sakit yang memiliki
pengetahuan, keahlian yang mengerti/tahu tentang seluk beluk penyakit
dan cara menanggulanginya,sehingga dari sinilah timbul hubungan
paternalistik.
Sebaliknya Lembaga Kesehatan berdasarkan prinsipFather
Knows Bestdiharapkan dalam hubungan paternalistic ini dapat
bertindak sebagai Bapak yang baik. Dengan pengharaan secara cermat
dan hati-hati sesuai dengan pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki
sangat diharapkan tenaga kesehatan ini dapat menyembuhkan pasiennya
dengan baik.
Walaupun sebagai tenaga professional kesehatan di kamar
operasi, tetapi ia juga adalah manusia biasa yang tidak bisa menghindar
dari ketentuan hukum yang berlaku bagi setiap warga negara. Sedangkan
di pihak pasien dan atau keluarga pasien semakin sadar akan hak-haknya
termasuk perlindungan hukum atas dirinya sebagai konsumen.
Dan selanjutnya dari sinilah permasalahan hubungan antara tenaga
kesehatan dengan pasien dapat menjadi hubungan para pihak.

II.

Hak dan Kewajiban para pihak di kamar operasi.


Di Indonesia dengan diterbitkannya dan diberlakukannya UU. No 23
tahun 1992 tentang Kesehatan tanggal 17 September 1992 dimana hak atas
perawatan memperoleh landasan hukum dalam Hukum Nasional.
Sebagai hukum positif maka ia telah mengikat setiap warga negara, badan
usaha, para tenaga kesehatan dan juga orang yang datang sebagai pasien atau
pihak yang akan melibatkan dirinya dalam suatu perikatan.
Dari perikatan tersebutlah akan menentukan hak-hak dan kewajibankewajiban yang harus dilaksanakan atau yang tidak boleh dilaksanakan oleh
salah satu pihak dalam perikatan tersebut.
Tenaga Kesehatan di ruang operasi atau yang terkait dengan suatu operasi
adalah :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Tenaga Medis/Dokter dan dokter gigi.


Perawat dan Bidan.
Anaesthesi
Radiologi
Analis
Farmasi
Rumah Sakit/sebagai institusi/Yayasan
Tenaga therapy Phisik
Elektromedik
Sedangkan pihak lain adalah Pasien, Keluarga atau ahli warisnya.
1. Hak-hak dan Kewajiban Tenaga Kesehatan
Dalam memberikan pelayanan kesehatan , tenaga kesehatan berhak :
a. Menerima pembayaran sebagai balas jasa kesehatan yang telah
diberikan/dikeluarkan.
b. Hak mendapatkan perlindungan hukum dari tindakan pasien yang
tidak baik.
c. Hak untuk melakukan pembelaan sepatutnya didalam
penyelesaian hukum dan rehabilitasi nama baik.
d. Dan lain-lainnya sebagaimana di atur dalam perundangundangan.
Tenaga Kesehatan dalam memberikan pelayanan wajib :
a. Beritikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya.
b. Memberikan informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai
kondisi penyakit yang diderita pasien/sebagai kecemasan, serta
langkah-langkah yang akan di ambil dalam melaksanakan
tindakan.
c. Memperlakukan atau melayani pasien sebagai konsumen secara
benar dan jujur serta tidak diskriminatif.
d. Memberikan kompensasi, ganti rugi apabila terjadi malpraktek
terhadap pasien atau ahli warisnya.

2. Pasien
Selama dalam perawatan, Pasien berhak :
3. Atas terpenuhinya kenyamanan, keamanan dan keselamatan
selama dirawat atau selama berada di Rumah Sakit.
4. Hak atas informasi tentang obat yang dikonsumsi atau yang
harus dibeli, termasuk tentang tindakan yang dilakukan
terhadap dirinya.
5. Hak untuk mendapatkan advokasi,perlindungan dan upaya
penyelesaian sengketa tentang perlindungan konsumen.
6. Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara baik dan benar
serta tidak diskriminatif.
7. Hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan atau
penggantian apabila barang/obat/jasa pelayanan keperawatan
yang diterima tidak sesuai dengan seharusnya.
Dalam menerima pelayanan kesehatan, Pasien Wajib :
1. Membaca dan atau mengikuti petunjuk peraturan-peraturan
yang harus diperhatikan bagi seorang pasien.
2. Mempunyai itikad baik dan membayar sesuai jasa atau nilai
tukar yang seharusnya.
3. Mengikuti upaya penyelesaian hukum sengketa perlindungan
konsumen secara patut.
8. Informed Consent
Adalah awal dilakukannya perjanjian antara dokter dan pasien,
dimana pasien menyetujui hak pribadinya dilanggar setelah dia
mendapatkan informasi dari dokter/pelayan Kesehatan terhadap hal-hal
yang akan dilakukan terhadap dirinya di ruang operasi.
Oleh karena itu hal yang paling utama dalam Informed Consent adalah
sejauh mana dapat dimengertinya informasi oleh Pasien. Dengan kata
lain, kepentingan pasienlah yang harus diperhatikan. Informasi yang
diberikan oleh dokter benar-benar harus mengarah kepada memberikan
pengertian terhadap apa yang akan dilakukan dan sejauhmana resiko
yang akan terjadi secara jelas.
III.

Kelalaian dan atau Kesengajaan dalam Pealayan Kesehatan/Keperawatan


yang menyebabkan tindakan hukum di kamar operasi.
A. Malpraktek di ruang Operasi
Ialah terjadinya suatu kelalaian dalam pelayanan kesehatan atau
terjadinya suatu kesalahan/kelalaian profesi kesehatan/keperawatan.
Kapan Malpraktek terjadi ?
Ini bisa terjadi mulai dari :
1. Awal pasien masuk Ruang Operasi
2. Pada saat operasi berjalan
3. Operasi selesai

B. Salah instruksi/Memberikan petunjuk yang keliru kepada Perawat


Berupa perintah dokter yang diterjemahkan keliru oleh perawat.
C. Kesengajaan membunuh/menyakiti pasien
1. Memberikan obat-obat tertentu
2. Melebihi dosis
3. Kesengajaan-kesengajaan lain
IV.

Aspek Yuridis dalam pelayanan Kesehatan di Kamar Operasi.


Apabila terjadi suatu malpraktek, slah instruksi dan terjadinya suatu
kesengajaan menyakiti/membunuh pasien di ruang operasi maka akan
terjadi.
Aspek Yuridis sebagai berikut :
1. Hubungan hukum yang dilahirkan dari hubungan tenaga
pelayanan kesehatan dengan pasien dalam upaya pelayanan
kesehatan telah melahirkan aspek hukum baik di bidang hukum
perdata, hukum administrasi, maupun hukum pidana.
Hukum kesehatan sebagaimana dimaksud sebagai kumpulan
peraturan-peraturan yang mengatur hubungan hukum dimana
salah satu pihak adalah tenaga pelayanan kesehatan (Undangundang No. 23 tahun 1972) L.N. 1992 No. 100 T.L.N. No. 3495
yang berlaku 17 September 1992.
Dalam Undang-undang Kesehatan tersebut juga mengatur soal
penyidikan pasal 79 dan ketentuan pidana. Pada pasal 80 dan
81, 82 adlah termasuk kejahatan dan pasal 84 adalah termasuk
Pelanggaran.
2. Dalam Undang-undang perlindungan konsumen penekanannya
terletak pada mengangkat derajat konsumen di satu pikhak dan
dilain pihak konsumen sebagai salah satu pihak yang harus
dilindungi, serta penekanannya adalah atas suatu perbuatan
yang dilarang bagi pelaku usaha.
Bahwa dalam suatu pihak yang sama-sama memiliki
kedudukan yang sama dimana pihka yang satu tidak boleh
membohongi pihak lainnya sebagaimana disebutkan dalam hak
dan kewajiban masing-masing pihak. Misalnya dalam
pemasangan alat kontrasepsi tanpa informasi sebelumnya.
3. Informed Consent
Dari segi yuridis, hubungan antara dokter dengan pasien
merupakan suatu hubungan perjanjian diantara mereka. Apabila
ada suatu persetujuan yang harus ditandatangani pasien, berarti
telah terjadi perjanjian secara tertulis
Sedangkan apabila tidak dilakukan penandatanganan suatu
persetujuan, artinya telah terjadi perjanjian secara diam-diam.
Bertitik tolak dari adanya perjanjian di atas, maka suatu
informed Consent haruslah sedemikian rupa agar isi perjanjian
tersebut, baik tertulis maupun lisan, dapat dimengerti oleh

pihak-pihak yang melakukan perjanjian. Dalam hal ini tentunya


informasi yang diberikan oleh pelayanan kesehatan di ruang
operasi diharapkan dapat dimengerti oleh pasien. Oleh karena
itu informasi tersebut haruslah dapat menunjukkan sejauhmana
resiko yang akan terjadi terhadap pasien di ruang operasi
sehingga bagi pelayanan kesehatan akan terjadi suatu
keseriusan untuk mengurangi/meniadakan resiko sekecil
apapun.
4. Dalam Pertanggungjawaban pelaku usaha ada penekanan ganti
rugi kepada konsumen, ganti rugi sebagaimana yang dimaksud
pasal 19 (1) dapat berupa :
a. Pengembalian uang atau penggantian barang dan jasa
yang sejenis atau setara nilainya,
b. Perawatan kesehatan dan atau pemberian santunan yang
sesuai dengan ketentuan-ketentuan perundang-undangan
yang berlaku.

5. Pertanggungjawaban Perdata.
a. Terjadinya Wan Prestasi (tidak dipenuhinya suatu kontrak)
Pasal 1248 KUH Perdata.
Hal ini terjadi apabila pasien merasa dirugikan akan
pelayanan, fasilitas serta hak-hak lainnya yang seharusnya
di dapat selama perawatan.
Hal ini bisa menimbulkan gugatan perdata mengenai
penggantian biaya atas kekurangan yang dirasakan dan
atau dialami oleh pasien.
b. Terjadinya PMH (Perbuatan Melanggar Hukum)
Pasal 1365 KUH Perdata Berbunyi :
Tiap perbuatan melanggar hukum yang membawa
kerugian kepada orang lain, mewajibkan orang yang
karena salah, salahnya membuat kerugian itu mengganti
kerugian tersebut.
c. Demikian juga pasal 1370 KUH Perdata yang berbunyi :
Dalam halnya suatu pembunuhan dengan sengaja atau
kurang berhati-hatinya seseorang, maka ahli waris korban
yang lazimnya mendapatkan nafkah dari korban,
mempunyai hak menuntut suatu ganti rugi yang harus
dinilai menurut kedudukan dan kekayaan kedua belah
pihak serta menurut keadaan.
Tindakan-tindakan
medis/kelalaian
perawat
yang
menyebabknan pengetrapan-pengetrapan pasal-pasal
KUH perdata tersebut biasanya karena terjadinya suatu
kesalahan profesi medis/keperawatan yang kita kenal
dengan malpraktek, slah instruksi dan lain-lain.

6. Pertanggungjawabab Pidana.

Hukum Pidana baru diterapkan apabila seseorang atau


lebih dikenal dengan istilah barangsiapa/siapa saja melanggar
norma atau aturan-aturan yang telah diatur lengkap denga
unsure-unsurnya dalam KUHP.
a. Pasal 351 KUHP tentang Penganiayaan.
Pasal ini bisa diterapkan apabila nyata-nyata telah
terjadi pelanggaran kode etik profesi/sengaja menganiaya
dengan cara-cara medis meberikan dosis lebih sehingga
menimbulkan sakit yang lebih dari semula, padahal dari
teori hubungan paternalistic seharusnya perawat harus
dapat berbuat baik terhadap pasien.
b. Malpractise
Penerapan pasal-pasal untuk menjerat kasus-kasus
seperti ini adalah :
1. Pasal 359 KUHP karena salahnya menyebabkan
matinya orang lain.
2. Pasal 360 karena salahnya menyebabkan luka
berat.
3. Pasal 361 karena salahnya melakukan suatu
profesi.
4. Pasal 346,347.348 KUHP melakukan Abortus
Provocatus.
5. Pasal 344 melakukan Euthanasia/Mercy killing
6. Pasal 322 tentang rahasia kedokteran.

c. Undang-undang Perlindungan Konsumen Sebagai


penekanan Undang-undang Sebelumnya.
Walaupun sebelumnya lahirnya undang-undang
perlindungan konsumen telah terjadi pula perlindungan
akan hak-hak pasien sebagai profesi keperawatan namun
dengan lahirnya undang-undang perlindungan konsumen
akan merupakan suatu kelengkapan yang lebih rinci pada
bidang keperawatan 9lihat Bab VI Pasal 19 ayat 1,2,4 dan
ayat 5).
Demikian pula pada Bab XIII tentang sanksi pasal
60, 61, 62 ayat 1,2,3 dan pasal 63.
V.

Kesimpulan Dan Saran.


A. Kesimpulan
1. Bahwa aspek Hukum bisa timbul akibat adanya operasi di
ruang operasi walaupun telah ditandatngani secara professional,
serta telah adanya informed consent, tetapi apabila terjadi suatu
kelalaian/malpraktek, maka tuntutan pidana maupun perdata
tetap saja bisa terjadi.

2. Karena masing-masing pihak memiliki hak dan kewajiban


maka masing-masing pihak haruslah memegang prinsip-prinsip
tentang hak dan kewajiban tersebut secara professional dan
tidak hanya menguntungkan diri sendiri dengan mencari celah
celah kelemahan hukum.
3. Dasar hukum adalah orang jangan membuat kesalahan, terlebih
lagi apabila akibat kesalahannya dapat menyebabkan
penderitaan orang lain yang diasumsikan adanya suatu
perbuatan melawan hukum.
4. Kesalahan yang paling berat dalam hal operasi dilaksanakan di
ruang operasi ialah apabila terjadinya suatu kesembronoan
seperti adanya tampon yang tertinggal, gunting dan sebagainya.
5. Kesembronoan tersebut tidak menutup kemungkinan dalam
tuntutan hukum adalah disamakan sebagai suatu kesengajaan
yang sebenarnya adalah perbuatan tesebut disadarai, sehingga
menyebabkan penderitaan orang lain.
B. Saran
1. Bahwa terjadinya aspek hukum di kamar operasi secara tidak
disadari oleh para pihak baik pelaksana maupun pasien
hendaklah dapat menjadikan pemikiran awal oleh para Pelayan
Kesehatan Kamar Bedah.
2. Sangat diharapkan melalui diskusi/Pelatihan para Pelayan
Kesehatan Kamar Operasi dapat mengetahui betapa hebatnya
jeratan- jeratan hukum yang harus dihadapinya, maka
kecermatan, kehati-hatian, dan keahlian profesi betul-betul
dapat ditunjukkan sehingga jeratan-jeratan hukum tersebut
dapat terhindar dan kepercayaan masyarakat dapat timbul
terhadap kamar operasi dimana Rumah Sakit berada.

INSTALASI BEDAH SENTRAL


RSU PKU MUHAMMADIYAH GOMBONG