Anda di halaman 1dari 19

BAB I

LAPORAN KASUS

I.

II.

Identitas Pasien
Nama

: Ny. H

Jenis Kelamin

: Wanita

Usia

: 31 tahun

Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

Agama

: Islam

Pendidikan

: SMA

Alamat

: Kramat Jati

No. rekam medis

: 591721

Tanggal Admisi

: 12 Desember 2014

Nama Suami

: Tn. A

Usia

: 30 tahun

Pekerjaan

: Karyawan

Agama

: Islam

Anamnesa (Autoanamnesa pada tanggal 12 Desember 2014)

Keluhan utama
Pasien datang atas rujukan bidan untuk terminasi kehamilan secara SC atas
indikasi letak sungsang dengan riwayat SC pada kehamilan sebelumnya.

Keluhan Tambahan
Pasien mengaku ada kalanya dimana ia sering merasa tidak nyaman saat
bernafas, terutama ketika sedang berbaring. Hal ini mulai dirasakan sejak
usia kehamilan 7-8 bulan.

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien G2P1A0 diketahui hamil 9 bulan, datang dengan rujukan dari bidan
untuk melakukan terminasi kehamilan secara seksio sesarea atas indikasi
letak sungsang dan riwayat seksio sesarea sebelumnya. Pasien menyangkal
adanya mulas teratur, keluarnya lendir dan darah, serta air ketuban dari

jalan lahir. Gerak janin diakui masih dirasakan. Kunjungan selama


kehamilan diakui teratur setiap bulan di bidan, tanpa adanya masalah
selama kehamilan.

Riwayat Obstetrik
1. SpOG di RS. Pasar Rebo, aterm, 2800 gram, SC atas indikasi letak
lintang, , 6 tahun, hidup
2. Hamil ini

Riwayat Menstruasi
Menarche

: 14 tahun

Sikluas

: teratur, 30 hari

Durasi

: 7 hari

Dysmenorrhea

: disangkal

HPHT

: 3 Maret 2014

Taksiran Persalinan menurut HPHT: 10 Desember 2014

Riwayat Seksual dan Marital


Jumlah pasangan seksual : 1

Coitarche

: 23 tahun

Usia Pernikahan

: 3 tahun

Dyspareuni

: disangkal

Post-coital bleeding

: disangkal

Riwayat Kontrasepsi
Pasien mengaku tidak pernah menggunakan kontrasepsi dalam bentuk
apapun

Riwayat Penyakit Dahulu


o Pasien menyangkal riwayat hipertensi, jantung, DM, dan asma.
o Pasien menyangkal pernah di opname

Riwayat Penyakit Keluarga


o Riwayat penyakit hipertensi, jantung, DM, asma, dan penyakit
turunan lainnya disangkal

Riwayat Sosial, Ekonomi, dan Lingkungan


Pasien adalah seorang ibu rumah tangga, tinggal bersama suami dan
anaknya. Kondisi ekonomi pasien yaitu menengah.

Riwayat Kebiasaan
Pasien menyangkal kebiasaan merokok, konsumsi alkohol maupun obatobatan terlarang.

Riwayat Pengobatan
Pasien mengkonsumsi tablet kalsium dan Fe dari bidan, satu kali sehari.

III.

Pemeriksaan Fisik

Keadaan umum

: baik

Kesadaran

: compos mentis

Tanda vital
o Tekanan darah

: 120/80 mmHg

o Nadi

: 92 x/menit

o Laju nafas

: 24 x/menit

o Suhu

: 36,1oC

BB saat ini

: 56 kg

Kenaikan BB

: 8 kg

TB

: 155 cm

Status Lokalis
Kepala dan Leher
Kepala

Mata
THT

Normosefali, tidak tampak adanya


lesi, rambut tidak mudah dicabut
Sklera tidak ikterik, konjungtiva
tidak pucat
Bentuk normal, tak tampak sekret

dari hidung maupun telinga, tonsil


T1/T1, faring tidak hiperemis
Tidak ditemukan pembesaran KGB,
Leher

tiroid tidak membesar, tidak ada


deviasi trakea

Thorax
- Inspeksi: simetris dan tidak
tampak retraksi
- Palpasi: gerakan napas dan
tactile fremitus normal, tidak
Paru

ada nyeri tekan


- Perkusi: sonor pada kedua
lapang paru
- Auskultasi:

suara

nafas

vesikuler, ronchi -/-, wheezing


-/- Inspeksi: tidak tampak iktus
kordis
- Palpasi:
Jantung

iktus

kordis tidak

teraba
- Perkusi: batas jantung normal
- Auskultasi:

S1S2

regular,

murmur (-), gallop (-)


- Inspeksi: pembesaran sesuai
usia

kehamilan,

striae

gravidarum (+)
- Palpasi: teraba fundus uteri 2
Abdomen

jari

di

bawah

prosesus

xyphoideus
- Perkusi: timpani pada seluruh
lapang abdomen
- Auskultasi: bising usus (+)
normal

Ekstrimitas
Akral hangat, tidak tampak edema,
Ekstrimitas Atas

tidak tampak sianosis, capillary


refill < 2 detik
Akral hangat, tidak tampak edema,

Ekstrimitas Bawah

tidak tampak sianosis, capillary


refill < 2 detik

Pemeriksaan Obstetrik Luar


o TFU

: 31 cm

o TBJ

: 2945 gram

o Leopold I

: Teraba bagian bulat, keras, balotemen (+),

kesan kepala
o Leopold II

: kesan PUKA, teraba bagian-bagian kecil janin

pada sisi sinistra, kesan ekstrimitas


o Leopold III

: teraba bagian lunak pada bagian bawah, kesan

bokong
o Leopold IV

: konvergen, bagian bawah janin belum masuk

pintu atas panggul

o DJJ

: 138x/menit

o His

:-

Pemeriksaan Obstetrik Dalam


o Vulva/vagina

: tak ada kelainan

o Porsio

: tebal, lunak

o Pembukaan

:-

o Dilatasi serviks

:-

o Penurunan

:-

o Ketuban

: utuh

IV.

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan USG 11 November 2014 (di RS. Pasar Rebo)
Hasil: Janin tunggal, presentasi bokong, plasenta di fundus, DJJ, usia kehamilan
34 minggu, taksiran berat janin 2200 gram, taksiran persalinan 10 Desember 2014

Pemeriksaan USG 12 Desember 2014 (dr. Reino Rambey, Sp.OG)


Hasil: Janin tunggal, presentasi bokong, plasenta di fundus, usia kehamilan 38
minggu, taksiran berat janin 2700 gram

Pemeriksaan Laboratorium 12 Desember 2014


PEMERIKSAAN
Hemoglobin
Hematokrit
Platelet
WBC
BT
CT
GDS

V.

HASIL
12.70
36.8
311.000
9.700
1.3 menit
11 menit
110

NILAI NORMAL
12-14 g/dl
35-47 %
150-450 x103/l
3.6-11 x103/l
1-3 menit
8-15 menit
< 200 mg/dl

Resume
Pasien wanita, 31 tahun, G2P1A0 usia kehamilan 38 minggu, datang dengan
rujukan dari bidan untuk terminasi kehamilan secara SC atas indikasi letak
sungsang dan BSC 1x. Pasien tidak mengeluhkan mulas, serta keluarnya lendirdarah dan air ketuban dari jalan lahir disangkal.
Dari hasil pemeriksaan luar didapatkan janin dalam presentasi bokong, sedangkan
dari pemeriksaan dalam OUE masih tertutup, selaput ketuban intak.
Pemeriksaan laboratorium memberi kesan normal. Pemeriksaan USG terakhir
(12/12/2014) memberi kesan usia kehamilan 38 minggu, letak sungsang dengan
posisi plasenta pada fundus, TBJ 2700 gram.

VI.

Diagnosis
G2P1A0 gravida aterm 38 minggu dengan letak sungsang dan BSC 1x atas indikasi
letak lintang.

VII.

Tatalaksana

Pre-operatif:

Puasa (NPO)

Konsul ke jantung, paru, internis, dan anestesi untuk toleransi operasi

Laporan Operasi
Seksio Cesarea pada tanggal 12 Desember 2014 oleh dr. Reino Rambey, Sp.OG

Pasien dalam posisi terlentang dengan spinal anestesi

Asepsis dan antisepsis daerah op dan sekitarnya

Insisi pfannestial 10cm, mengitari parut luka lama

Setelah peritoneum dibuka, tampak uterus gravidarus

Plika vesika uterine disayat semilunar, VU disisihkan ke bawah

SBU disayat tajam, dilebarkan secara tajam

Dengan menarik kaki, lahir bayi laki-laki, BBL 2850 gram, PBL 48 cm, Apgar
score 9/10

Air ketuban cukup, warna jernih

Plasenta berimplantasi di fundus, dilahirkan lengkap.

Kedua ujung SBU dijahit, hemostasis, lalu SBU dijahit jelujur 1 lapis dengan
vicryl no. 1

Dalam eksplorasi, kedua tuba dan ovarium dbn

Diyakini tidak ada perdarahan, rongga abdomen dicuci NaCl 200cc

Dinding abdomen ditutup lapis demi lapis

Perdarahan 300cc

Produksi urine 200cc

Post-operatif

Monitor TTV, urine output, perdarahan, TFU, dan kontraksi uterus

Realimentasi dini & Imobilisasi 24 jam

Cek H2TL 6 jam post-op

Aff infus bila obat injeksi sudah habis

Aff cathether post 24 jam

Terapi

Inj ceftriaxone 2 x 1gram (24 jam)

IVFD RL + Oxytocin 20 IU + Tramadol 1 ampul / 8 jam (selama 24


jam)

Profenid sup 3 x 1

Oral (mulai hari ke-2)

Clindamycin 2 x 300 mg

Asam mefenamat 3 x 500 mg

Hemobion 1 x 1

VIII. Prognosis
Ad vitam

: Ad bonam

Ad functionam

: Ad bonam

Ad sanationam

: dubia

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi
Ketika bagian terendah janin berupa bokong yang memasuki rongga pelvis, maka
presentasi janin tersebut disebut sebagai sungsang (breech presentation).

B. Epidemiologi
Insiden presentasi bokong adalah 4% dari seluruh persalinan. Sebelum usia kehamilan 28
minggu, sekitar 25% janin berada dalam posisi sungsang. Seiring dengan bertumbuhnya
janin dan menempati lebih banyak ruang dalam uterus, diasumsikan bahwa presentasi
kepala merupakan yang terbaik dalam mengakomodasi bentuk dan tepi uterus. Saat usia
kehamilan mencapai 34 minggu, sebagian besar janin telah berada pada presentasi kepala.

C. Etiologi
Ketika usia kehamilan mendekati aterm, rongga uterus biasanya akan mengakomodasi
janin letak memanjang dengan presentasi ubun-ubun. Faktor lain selain usia gestasi yang
menjadi predisposisi letak sungsang diantaranya adalah hidramnios, relaksasi uterus yang
berhubungan dengan jumlah paritas, janin lebih dari satu, oligohidramnios, hidrosefal,
anensefal, letak sungsang pada kehamilan sebelumnya, anomali uterus, dan tumor pelvis.
Fianu dan Vaclavinkova (1978) membuktikan secara sonografi bahwa prevalensi letak
sungsang lebih tinggi (73%) pada kehamilan dengan implantasi plasenta di daerah kornufundus dibandingkan pada presentasi kepala (5%). Frekuensi letak sungsang juga
meningkat pada plasenta previa, tetapi hanya sebagian kecil dari letak sungsang yang
berasosiasi dengan kejadian previa.

D. Komplikasi
Pada letak sungsang yang persisten, frekuensi terjadinya komplikasi berikut ini akan
meningkat dan dapat diantisipasi:
1. Morbiditas dan mortalitas perinatal akibat persalinan sulit
2. BBLR akibat persalinan prematur, pertumbuhan terhambat, atau keduanya
3. Prolaps tali pusat
4. Plasenta previa

5. Anomali fetus, neonatus, dan bayi


6. Anomali dan tumor uterus

E. Diagnosis
Hubungan antara ekstrimitas bawah dan bokong pada presentasi sungsang membentuk
kategori: frank (bokong murni), komplet (bokong sempurna), dan inkomplet (bokong
kaki). Pada presentasi frank breech (bokong murni), ekstrimitas bawah terfleksi pada
panggul dan ekstensi pada lutut, sehingga tungkai bawah janin berada dekat dengan
kepala. Pada complete breech (bokong sempurna), salah satu atau kedua lutut melakukan
fleksi. Sedangkan incomplete breech (bokong kaki), salah satu atau kedua panggul tidak
fleksi dan salah satu atau kedua lutut berada di bawah bokong, sehingga kaki atau lutut
janin menjadi bagian terbawah pada jalan lahir. Footling breech adalah incomplete breech
dengan salah satu atau kedua kaki berada di bawah bokong.

Pemeriksaan Per-Abdominal
Menggunakan manuver Leopold, di mana pada umumnya Leopold I akan didapatkan
kepala janin yang bulat, keras, dan dapat digerakkan (balotemen positif), memenuhi
fundus uteri. Leopold II menunjukkan sisi punggung janin dan bagian terkecil janin pada
sisi yang berlawanan. Pada Leopold III, apabila belum terjadi engagement diameter
intertrochanteric pelvis janin belum memasuki pelvic inlet bagian bokong dapat
digerakkan di atas pelvic inlet. Setelah engagement, Leopold IV menunjukkan bagian
bokong akan berada di bawah simfisis pubis. Denyut jantung janin biasanya terdengar
paling keras di atas umbilicus.

Pemeriksaan Per-vaginam
Pada presentasi bokong murni, kedua ischial tuberosities, sakrum, dan anus biasanya
teraba, dan pada penurunan berikutnya, genitalia eksternal dapat dikenali. Terutama bila
persalinan memanjang, bokong janin akan membengkak, membuat presentasi wajah dan
bokong sulit dibedakan anus dapat dikenali sebagai mulut dan ischial tuberosities
sebagai bagian menonjol dari tulang maxilla. Informasi paling akurat adalah berdasarkan
lokasi dari sakrum dan prosesus spinosus, yang dapat menegakkan diagnosis dari posisi
dan jenis letak sungsang. Pada letak bokong sempurna (complete breech), kaki janin
dapat teraba berdampingan dengan bokong, dan pada presentasi kaki (footling), salah satu
atau kedua kaki berada lebih inferior dari bokong.

Teknik Pencitraan
Secara ideal, ultrasonografi sebaiknya digunakan untuk mengkonfirmasi presentasi klinis
letak sungsang dan untuk mengidentifikasi, apabila memungkinkan, anomaly pada janin.
Apabila sudah direncanakan untuk seksio sesarea, maka pencitraan tambahan tidak perlu
dilakukan. Namun, apabila dipertimbangkan untuk persalinan pervaginam, jenis letak
sungsang dan derajat fleksi atau defleksi kepala sangat penting. USG dapat memberikan
informasi tambahan tersebut. CT-Scan juga dapat digunakan dan dapat memberikan
informasi mengenai ukuran panggul dan konfigurasinya. MRI menyediakan informasi
terpercaya tentang kapasitas panggul dan arsitekturnya tanpa radiasi ion, tetapi fasilitas
ini tidak selalu tersedia.

F. Penatalaksanaan
Prinsip Dasar Persalinan Sungsang
Jenis pimpinan persalinan sungsang:
1. Persalinan pervaginam, dibagi menjadi 3 yaitu:
a. Persalinan spontan (spontaneous breech). Janin dilahirkan dengan kekuatan
dan tenaga ibu sendiri, disebut juga sebagai cara Bracht.
b. Manual aid (partial breech extraction; assisted breech delivery). Janin
dilahirkan sebagian dengan tenaga dan kekuatan ibu dan sebagian lagi dengan
tenaga penolong.

c. Ekstraksi sungsang (total breech extraction). Janin dilahirkan seluruhnya


dengan memakai tenaga penolong.
2. Persalinan per abdominam (seksio sesarea)

Prosedur Pertolongan Persalinan Spontan


Tahapan
1. Tahap pertama: fase lambat, yaitu mulai lahirnya bokong sampai pusar (skapula
depan).
2. Tahap kedua: fase cepat, yaitu mulai dari lahirnya pusat sampai lahirnya mulut.
3. Tahap ketiga: fase lambat, yaitu mulai lahirnya mulut sampai seluruh kepala lahir.

Teknik
1. Penolong harus memperhatikan persiapan untuk ibu, janin, maupun penolong sebelum
melakukan pimpinan persalinan. Selalu sediakan cunam Piper.
2. Ibu tidur dalam posisi litotomi, penolong berdiri di depan vulva. Ketika timbul his,
suruh ibu mengejan. Pada waktu bokong mulai membuka vulva (crowning), suntikkan
2-5 unit oksitosin IM.
3. Episiotomi dilakukan saat bokong membuka vulva. Segera setelah bokong lahir,
bokong dicengkram secara Bracht, yaitu kedua ibu jari penolong sejajar sumbu
panjang paha, jari-jari lain memegang panggul.
4. Suruh ibu mengejan setiap his. Pada waktu tali pusat lahir dan tampang sangat
teregang, tali pusat dikendorkan lebih dahulu.
5. Penolong melakukan hiperlordosis pada badan janin guna mengikuti gerakan rotasi
anterior, yaitu punggung janin didekatkan ke perut ibu. Penolong melakukan gerakan
ini tanpa melakukan tarikan. Bersamaan dengan gerakan hiperlordosis, asisten
melakukan ekspresi Kristeller pada fundus uterus, sesuai sumbu panggul.

6. Dengan gerakan hiperlordosis ini berturut-turut lahir pusar, perut, bahu dan lengan,
dagu, mulut, dan seluruh kepala.

Keuntungan
1. Tangan penolong tidak masuk ke dalam jalan lahir, sehingga mengurangi bahaya
infeksi.
2. Merupakan cara yang paling mendekati persalinan fisiologis, sehingga mengurangi
trauma janin.

Kerugian
1. 5-10% persalinan secara Bracht mengalami kegagalan
2. Persalinan secara Bracht mengalami kegagalan terutama dalam keadaan panggul
sempit, janin besar, jalan lahir kaku misalnya pada primigravida, adanya lengan
menjungkit atau menunjuk.

Prosedur Manual Aid (Partial Breech Extraction)


Indikasi
1. Persalinan secara Bracht mengalami kegagalan
2. Dari semula memang hendak melakukan pertolongan secara manual aid.

Tahapan
1. Tahap pertama, lahirnya bokong sampai pusar yang dilahirkan dengan kekuatan ibu
sendiri.
2. Tahap kedua, lahirnya bahu dan lengan dengan tenaga penolong. Cara/teknik yang
digunakan:

a. Klasik (Deventer) melahirkan lengan belakang lebih dahulu, kemudian


lengan depan yang berada di bawah simfisis.
b. Mueller melahirkan bahu dan lengan depan lebih dahulu dengan ekstraksi,
kemudian melahirkan bahu dan lengan belakang.
c. Lovset memutar badan janin dalam setengah lingkaran bolak-balik sambil
dilakukan traksi curam ke bawah sehingga bahu yang sebelumnya di belakang
akhirnya lahir di bawah simfisis.

d. Bickenbach kombinasi antara cara Mueller dan Klasik.


3. Tahap ketiga, lahirnya kepala (after-coming head). Cara/teknik:
a. Mauriceau (Veit-Smellie)

b. Najouks

c. Wigand Martin-Winckel
d. Prague terbalik

e. Cunam Piper

Teknik
Tahap pertama: dilakukan persalinan secara Bracht sampai pusar lahir
Tahap kedua: melahirkan bahu dan lengan oleh penolong

Prosedur Ekstraksi Sungsang


1. Teknik ekstraksi kaki
2. Teknik ekstraksi bokong

Penyulit
1. Sufokasi
2. Asfiksia fetalis
3. Kerusakan jaringan otak
4. Fraktur pada tulang-tulang janin

Prosedur Persalinan Sungsang Per Abdominam


Persalinan letak sungsang dengan seksio sesarea merupakan cara yang terbaik ditinjau
dari janin. Banyak ahli melaporkan bahwa persalinan letak sungsang pervaginam
memberi trauma yang berarti bagi janin. Beberapa kriteria yang dapat dipakai untuk
menentukan letak sungsang harus dilahirkan per abdominam, misalnya:
a. Primigravida tua
b. Nilai sosial janin tinggi
c. Riwayat persalinan yang buruk
d. Janin besar, lebih dari 3.5 4 kg
e. Dicurigai kesempitan panggul
f. Prematuritas
Zatuchni dan Andros telah membuat suatu indeks prognosis untuk menilai lebih tepat
apakah persalinan dapat dilahirkan pervaginam atau perabdominam, sebagai berikut.

Paritas

Primi

Multi

Usia Kehamilan

>39 minggu

38 minggu

<37 minggu

TBJ

>3600 gram

3000-3600

<3000

Riwayat Persalinan Tidak pernah

1 kali

2 atau lebih

Sungsang
Dilatasi (cm)

<2

Station

-3

-2

-1 atau lebih rendah

Arti nilai:
3 : persalinan per abdominam
4 : evaluasi kembali, bila nilai tetap, dapat dilahirkan pervaginam
> 5 : dilahirkan pervaginam
G. Prognosis
Morbiditas Maternal
Karena lebih tingginya frekuensi persalinan operatif, termasuk seksio sesarea, maka
morbiditas dan mortalitas maternal akan lebih tinggi pada kehamilan dengan letak
sungsang persisten. Resiko ini akan lebih meningkat pada operasi darurat dibandingkan
dengan seksio sesarea elektif (Bingham dan Lilford, 1987).

Morbiditas dan Mortalitas Perinatal


Prognosis janin dengan presentasi bokong dapat dikatakan lebih buruk daripada janin
dengan presentasi kepala. Faktor yang berkontribusi pada kematian perinatal adalah
persalinan preterm, anomali kongenital, dan trauma jalan lahir.

BAB III
DISKUSI KASUS

Pasien, G2P1A0, telah dikonfirmasi memiliki janin dengan letak sungsang melalui
pemeriksaan luar serta pemeriksaan ultrasonografi yang dilakukan pada usia kehamilan 34
minggu dan 38 minggu. Secara teori dan pedoman literatur, tatalaksana yang dapat dilakukan
selama kehamilan (usia kehamilan 36 minggu) untuk letak sungsang adalah dengan
melakukan versi luar. Selain indikasi usia kehamilan, pada pasien ini terdapat beberapa
indikasi lain yang sebenarnya mendukung untuk dilakukannya versi luar, seperti: bagian
terendah janin masih dapat dimobilisasi, bunyi jantung janin baik, ketuban belum pecah, dan
pembukaan serviks < 3 cm. Namun, pasien memiliki riwayat SC atas indikasi letak lintang
pada kehamilan sebelumnya yang menjadi kontraindikasi dilakukannya versi luar.
Apabila versi luar tidak mungkin dilakukan, maka harus diperhatikan penilaian skor
Zatuchni-Andros yang menentukan prediksi keberhasilan persalinan letak sungsang per
vaginam. Adapun kriteria persalinan pervaginam pada letak sungsang adalah sebagai berikut:
janin harus pada presentasi bokong murni atau bokong komplet, usia kehamilan paling tidak
36 minggu, taksiran berat janin antara 2500-3800 gram, kepala janin dalam keadaan fleksi,
panggul ibu harus luas (diukur dengan pelvimetri radiologi atau diuji pada kehamilan
sebelumnya), tidak ada indikasi maternal atau fetal untuk seksio sesarea, spesialis anastesi
siap sedia, spesialis kebidanan dan kandungan berpengalaman, adanya asisten. Riwayat SC
pada pasien kembali menjadi kontraindikasi untuk dilakukan persalinan pervaginam karena
beresiko tinggi bagi ibu dan janin terutama bila persalinan tidak lancar. Riwayat SC pada
persalinan sebelumnya merupakan kontraindikasi untuk dilakukan induksi persalinan karena
meningkatkan

kemungkinan

terjadinya

ruptur

uteri.

Oleh

karena

perabdominam menjadi satu-satunya pilihan cara persalinan bagi pasien ini.

itu

persalinan

DAFTAR PUSTAKA

American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG). Vaginal birth after previous
cesarean delivery. ACOG; 2010 Aug. 14 p. (ACOG practice bulletin; no. 115)
Hacker, Gambone, Hobel. 2010. Hacker and Moores Essentials of Obstetrics and
Gynecology 5th Edition. Philadelphia: Saunders Elsevier.
Krisnadi, SR, et al, ed. 2005.Pedoman Diagnosis dan Terapi Obstetri dan Ginekologi Rumah
Sakit Dr. Hasan Sadikin: Bagian Pertama (Obstetri). Bandung: Bagian Obstetri Ginekologi
FK Universitas Padjadjaran.
Royal College of Obstetricians and Gynaecologists (RCOG). Birth after caesarean birth.
RCOG; 2007 Feb. 17 p. (Green top guideline; no. 45)
Schorge, Schaffer, et al. 2008. Williams Gynecology. US: McGraw-Hill Companies.
Wiknjosastro H, et al. Ilmu Bedah Kebidanan. 2007. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.