Anda di halaman 1dari 11

Aspek Hukum Dalam Penegakan Hukum

Terhadap Pembalakan Liar di Berau, Kalimantan

Kelompok Cremona

Nama Anggota Kelompok :


1. AJI SYARIFAH TRI MUTIA FHATONAH

(201110340311009)

2. DESSY SANIA NUR CHOLILLAH

(201110340311019)

3. AINI FARIDA

(201110340311040)

4. MOCH. ANGGA WAHYUDIN

(201110340311141)

5. HARRI MULYO RAMADHAN

(201110340311142)

6. MUFID RAHMADI

(201110340311148)

7. SIDDIQ AULIA

(201110340311151)

8. RILO PAMBUDI

(201110340311158)

9. TOMMY SUMARDI

(201110340311167)

Definisi Penebangan Liar

Pembalakan liar atau penebangan liar adalah kegiatan penebangan,


pengangkutan dan penjualan kayu yang tidak sah atau tidak
memiliki izin dari otoritas setempat. Merupakan sebuah kejahatan
yang mencakup kegiatan seperti menebang kayu di area yang
dilindungi, area konservasi dan taman nasional, serta menebang
kayu tanpa ijin dihutan hutan.

Peredaran kayu tanpa dokumen sah marak terjadi di wilayah Berau


karena adanya kerjasama masyarakat setempat yang berperan
dilapangan melakukan penebangan dengan dalih bahwa mereka
menebang kayu di lokasi ladang mereka sendiri. Kemudian mereka jual
para pembeli kayu lokal selaku penampung kayu. Sebenarnya
penegakan hukum terhadap illegal logging telah dilakukan sejak
lahirnya Undang-undang Nomor 5 tahun 1967 tentang Pokok-pokok
Kehutanan, namun ancaman terhadap tindak pidana tersebut seperti
menebang, memotong, mengambil dan membawa kayu hasil hutan
tanpa ijin dari pejabat yang berwenang dikenakan pasal-pasal dalam
KUHP tentang pencurian. Setelah berlakunya Undang-undang Nomor
41 tahun 1999 Tentang Kehutanan terhadap perbuatan memanfaatkan
kayu hasil hutan tanpa ijin pihak yang berwenang dikenakan pidana
sebagaimana tercantum dalam Pasal 50.

Terjadinya kegiatan penebangan liar didasari oleh beberapa


permasalahan yang terjadi, yaitu :
Masalah Sosial dan Ekonomi
Sekitar 60 juta rakyat Indonesia tergantung pada keberadaan
hutan, dan kenyataanya sebagian besar dari mereka hidup dalam
kondisi kemiskinan.

Kelembagaan
Kurangnya
pengawasan
dari
pemerintah,
sehingga
mempermudah penebangan illegal. Selain itu penebangan hutan
melalui pemberian hak penebangan hutan skala kecil oleh daerah telah
menimbulkan peningkatan fragmentasi hutan.

Kesenjangan Ketersediaan Bahan Baku

Terdapat kesenjangan penyediaan bahan baku kayu bulat


untuk kepentingan industri dan kebutuhan domestik yang
mencapai sekitar 37 juta m3 per tahun.

Lemahnya Koordinasi

Banyak industri yang berkembang dan melakukan perluasan


tanah. Kelemahan koordinasi antara lain terjadi dalam hal
pemberian ijin industri pengolahan kayu antara instansi perindutrian
dan instansi kehutanan serta dalam hal pemberian ijin eksplorasi dan
eksploitasi pertambangan antara instansi pertambangan dan instansi
kehutanan.
Kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya fungsi
hutan bagi kehidupan
Para penebang tidak melakukan penanaman kembali
menggunakan benih baru

Dampak Illegal Logging :


Aspek Ekonomik
Dari perspektif ekonomi kegiatan illegal logging telah
mengurangi penerimaan devisa negara dan pendapatan negara.
Berbagai sumber menyatakan bahwa kerugian negara yang
diakibatkan oleh illegal logging, mencapai Rp.30 trilyun per tahun.
Aspek Sosial
Dari segi sosial budaya dapat dilihat munculnya sikap kurang
bertanggung jawab yang dikarenakan adanya perubahan nilai
dimana masyarakat pada umumnya sulit untuk membedakan antara
yang benar dan salah serta antara baik dan buruk.

Aspek Lingkungan
Kerugian dari segi lingkungan yang paling utama adalah
hilangnya sejumlah tertentu pohon sehingga tidak terjaminnya
keberadaan hutan yang berakibat pada rusaknya lingkungan,
berubahnya iklim mikro, menurunnya produktivitas lahan, erosi dan
banjir serta hilangnya keanekaragaman hayati. Kerusakan habitat
dan terfragmentasinya hutan dapat menyebabkan kepunahan suatu
spesies termasuk fauna langka.

Upaya yang perlu dilakukan untuk melestarikan hutan, antara lain:

Reboisasi atau penanaman kembali hutan yang gundul.


Melarang pembabatan hutan secara sewenang-wenang.
Menerapkan sistem tebang pilih dalam menebang pohon.

Menerapkan sistem tebangtanam dalam kegiatan penebangan hutan.


Menerapkan sanksi yang berat bagi mereka yang melanggar ketentuan
mengenai pengelolaan hutan.

Untuk menghilangkan kesempatan timbulnya pembalakan liar


dilakukan melalui kegiatan :
Pemantapan kawasan hutan;

Menjaga kawasan hutan dan hasil hutan;


Patroli;
Koordinasi;

Meningkatkan kapasitas jaringan informasi;


Memfasilitasi terbentuknya kelembagaan masyarakat; dan
Mendorong terciptanya alternatif mata pencaharian masyarakat