Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Ubi kayu (Manihot esculenta crantz) merupakan komoditas tanaman
pangan yang utama, tidak saja di Indonesia tetapi juga di dunia. Di Indonesia, ubi
kayu merupakan makanan pokok ketiga setelah padi dan jagung. Komoditas ubi
kayu sangat potensial untuk dibudidayakan di negara-negara tropis termasuk
Indonesia. Peranan ubi kayu akhir-akhir ini menunjukan peningkatkan yang cukup
pesat. Sekarang ini ubi kayu tidak hanya digunakan sebagai komoditas bahan
makanan saja, tetapi sudah dikembangkan kedalam bentuk penggunaan bahan
baku industri

lainnya, atau dapat dikatakan komoditas yang memiliki nilai

multiguna. Peluang pemanfaatan ubi kayu masih terbuka luas sejalan dengan
berkembangnya industri pangan olahan, pakan ternak dan industri lainnya yang
menggunakan bahan baku dari ubi kayu. Teknologi yang semakin maju beberapa
tahun belakangan ini, berdampak pula pada pergeseran peran dan fungsi
pemanfaatan ubi kayu. Salah satu bentuk tren teknologi yang berdampak pada
komoditas ubi kayu adalah dikembangkannnya bahan baku sumber energi
alternatif pengganti BBM dalam bentuk biofuel atau bioethanol. Pemerintah
Indonesia telah mencanangkan program pemanfaatan sumber energi alternatif
yang tertuang dalam Peraturan Presiden (PERPRES) No.5 tahun 2006 tentang
konsumsi energi biofuel lebih dari 5% pada tahun 2025, dan INPRES No. 1 tahun
2006 kepada Menteri Pertanian tentang percepatan penyedian bahan baku biofuel,
salah satunya ubi kayu. Dengan adanya kebijakan ini, tentunya komoditas ubi
kayu merupakan komoditas yang mempunyai prospek sangat besar sebagai salah
satu bahan baku produksi bioethanol.
Penggunaan ubi kayu sebagai substitusi bahan baku bioethanol dapat dikatakan
sebagai gelombang ketiga kebangkitan ubi kayu. Gelombang pertama
menjadikan ubi kayu sebagai makanan, gelombang kedua adalah menjadikan
ubi kayu sebagai bahan agroindustri dan gelombang ketiga penggunaan ubi
kayu sebagai bahan baku bioethanol (Alfarisi, 2010 dalam Anggraini, Hasyim
& Situmorang, 2013:80)
1

Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, permintaan akan ubi kayu


akan terus meningkat sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk, pesatnya
perkembangan industri pangan dan pakan berbahan dasar ubi kayu, serta
penyediaan bahan baku dasar bioethanol. Pada ahun 2010 kebutuhan akan ubi
kayu diproyeksikan sebesar 4.309 ton yang meningkat rata-rata sebesar 4.78%
pertahun, sehingga pada tahun 2014 kebutuhannya di proyeksikan sebanyak 5.194
ton (Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementrian Pertanian, 2012). Berikut
ini data nilai perkembangan produksi dan impor ubi kayu Indonesia Tahun 20022011:
Tabel 1.1. Perkembangan Produksi dan Impor Ubi Kayu Tahun 2002-2011
No.
Tahun
Produksi (Ton)
Impor (Ton)
Jumlah (Ton)
1.
2002
16.913.104
25.977
16.939.081
2.
2003
18.523.810
190.627
18.714.437
3.
2004
19.424.707
56.760
19.481.467
4.
2005
19.321.183
103.075
19.424.258
5.
2006
19.986.640
269.860
20.256.500
6.
2007
19.988.058
209.669
20.197.727
7.
2008
21.756.991
64.443
21.821.434
8.
2009
22.039.145
168.715
22.207.860
9.
2010
23.918.118
294.839
24.212.957
10.
2011
24.044.025
435.423
24.479.448
Sumber:(Produksi: Badan Pusat Statistik (BPS), Impor: Pusdatin, dalam Road
Map Peningkatan Produksi Ubi Kayu 2012-2014, 2012: 7)
Dari data di atas, dapat dilihat bahwa dari segi nilai produksi, dari tahun
2002 sampai 2012 produksi ubi kayu di Indonesia terus mengalami peningkatan
yang cukup drastis, tetapi hal itu ternyata dibarengi dengan peningkatan nilai
impor ubi kayu. Hal itu menunjukan bahwa produksi ubi kayu nasional belum
mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, sehingga Indonesia masih harus
mengimpor ubi kayu dari negara lain. Untuk itu, agar dapat mencukupi kebutuhan
ubi kayu dalam negeri diperlukan adanya strategi pencapaian produksi untuk
pemenuhan kebutuhan ubi kayu dalam negeri. Kementrian Pertanian melalui
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan mengungkapkan bahwa salah satu strategi
yang dapat digunakan untuk meningkatkan produksi ubi kayu dalam negeri adalah

dengan perluasan areal tanam. Indonesia sebagai negara agraris dengan sumber
daya alam yang begitu melimpah memiliki peluang yang cukup baik untuk
budidaya ubi kayu sepanjang tahun, tergantung bagaimana kita dapat
memanfaatkan faktor-faktor yang ada seperti tanah, air dan sebagainya.
Di Indonesia ada beberapa daerah provinsi yang menjadi sentra budi
daya ubi kayu. Batasan provinsi sentra produksi budidaya ubi kayu adalah
provinsi yang mempunyai rata-rata luas panen selama 5 (lima) tahun terakhir
lebih dari 50.000 ha untuk pulau Jawa dan lebih dari 25.000 ha untuk luar Pulau
Jawa. Sedangkan untuk penentuan kabupaten sentra produksi ubi kayu adalah
kabupaten yang mempunyai luas panen per tahun 5.000 ha untuk Pulau Jawa dan
luas panen 2500 ha untuk luar Pulau Jawa.
Kabupaten Kebumen merupakan salah satu dari beberapa kabupaten di
Jawa Tengah yang menjadi sentra produksi ubi kayu. Berdasarkan data dari Badan
Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Tengah, pada tahun 2012 potensi ubi kayu
sebesar 137.366 Ton dengan luas tanam 4.831 Ha, sehingga menempatkan
Kabupaten Kebumen di peringkat ke enam se Jawa Tengah dalam hal produksi
ubi kayu. Pada umumnya ubi kayu di Kabupaten Kebumen di jual dalam bentuk
segar dari petani kepada pihak-pihak yang menggunakan ubi kayu sebagai bahan
baku industri, seperti produsen tepung tapioka, produsen olahan pangan berbahan
dasar ubi kayu, bahkan dimanfaatkan sebagai bahan baku biothanol berbasis
UKM. Selain untuk memenuhi kebutuhan pasokan lokal, ubi kayu di Kabupaten
Kebumen juga dikirim ke daerah-daerah lain disekitarnya seperti Kabupaten
Banjarnegara.
Kecamatan Karanggayam merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten
Kebumen yang berpotensi untuk budidaya ubi kayu. Pada tahun 2012, Kecamatan
Karanggayam juga menjadi salah satu kecamatan di Kabupeten Kebumen yang
ditunjuk oleh Badan Ketahanan Pangan (BPK) Provinsi Jawa Tengah sebagai
daerah pendukung dalam menyediakan bahan baku industri berbasis ubi kayu
(Bahri dan Santoso, 2013). Sehubungan dengan hal tersebut, melihat peluang
budidaya ubi kayu di Kecamatan Karanggayam maka perencanaan penggunaan

lahan untuk budidaya ubi kayu di Kecamatan Karanggayam harus dilakukan


secara matang.
Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Kebumen Nomor 23 Tahun
2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah, wilayah Kecamatan Karanggayam
merupakan satu dari beberapa kecamatan di Kabupaten Kebumen yang ditetapkan
sebagai daerah kawasan lindung. Namun pada kenyataannya, peran dan fungsi
penggunaan lahan di Kecamatan Karanggayam saat ini lebih merujuk pada
produktivitas ekonomis dibanding fungsi lindungnya. Hal itu dapat dilihat pada
Tabel 1.2.
Tabel 1.2. Presentase Penggunaan Lahan di Kecamatan Karanggayam Tahun
2013
No.
1.
2.
3.
4
5.
6.
7.
8.

Jenis Penggunaan
Lahan
Permukiman
Sawah Irigasi
Sawah Tadah Hujan
Kebun
Hutan
Semak/Belukar
Tegalan
Lahan Kosong
Jumlah

Simbol
Pmk
Sw
Sh
Kb
H
B
Tg
Lk

Luas (Ha)
763
142
2209
4747
84
475
2481
28
10929

Luas
Presentase (%)
6.98
1.30
20.21
43.43
0.77
4.35
22.70
0.26
100

(Sumber: Hasil Analisis Data,2014)


Dari Tabel 1.2. dapat diketahui bahwa Kecamatan Karanggayam lebih
difungsikan untuk menghasilkan berbagai produk pertanian dengan presentase
penggunaan lahan untuk budidaya tanaman pertanian mencapai 87,51% (terdiri
dari sawah, tegalan, dan kebun), sedangkan presentase hutan hanya 0,77%.
Peruntukan penggunaan lahan di Kecamatan Karanggayam memang seharusnya
sebagian besar berupa kawasan lindung, tetapi karena dorongan untuk memenuhi
kebutuhan masyarakatnya yang mayoritas terdiri dari petani, terkadang kegiatan
budidaya pertanian tidak memperhatikan prinsip keseimbangan dan keberlajutan
lingkungan. Untuk itu, penggunaan lahan untuk budidaya pertanian di Kecamatan
Karanggayam hendaknya dilakukan penataan agar tidak mengganggu fungsi
lindungnya.

Kegiatan budidaya pertanian di Kecamatan Karanggayam memang


secara umum terletak pada kawasan perbukitan dan pegunungan, sehingga
dihadapkan kepada faktor pembatas biofisik lahan seperti lereng yang relatif
curam, kepekaan tanah terhadap erosi, curah hujan yang relatif tinggi dan lain
sebagainya. Kesalahan dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya lahan di
daerah ini dapat

menimbulkan kerusakan berupa degradasi lahan. Longsor

merupakan salah satu bentuk nyata degradasi lahan yang selalu mengancaman
Kecamatan Karanggayam ketika musim hujan datang. Selain karena pengaruh
kondisi geologinya, kejadian longsor di Kecamatan Karanggayam terjadi akibat
penggunaan lahan yang tidak sesuai peruntukannya. Maka, untuk mencegah
terjadinya gejala tersebut, hendaknya kegiatan budidaya pertanian di daerah ini
disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan lahannya, termasuk halnya dalam
budidaya ubi kayu.
Berdasarkan

permasalahan yang telah dikemukaan, maka perlu

dilakukan perencanaan penggunaan lahan yang tepat kaitannya dengan


pemanfatan penggunaan lahan untuk budidaya ubi kayu di Kecamatan
Karanggayam, agar hasilnya optimal, sehingga memberi keuntungan ekonomi dan
melindungi lingkungan secara simultan. Dalam Peraturan Menteri Pekerjaan
Umum No.20/PRT/M/2007 Tentang Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang
dijelaskan bahwa analisis karakteristik sumber daya fisik lingkungan, sosialekonomi sangat diperlukan dalam perencanaan pemanfaatan penggunaan lahan
agar pengembangan wilayah dan kawasan dapat dilakukan secara optimal,
sehingga

secara

ekonomi

menguntungkan

mempertahankan kelestarian sumberdaya.

dan

secara

ekologi

tetap

Dari rumusan tersebut dapat

disimpulkan bahwa upaya perencanaan penggunaan lahan seyogyanya harus


melalui dua pendekatan, yaitu pendekatan dari aspek fisik (ekologis) maupun
aspek sosial-ekonomi.

Merujuk pada hal tersebut, maka pada penilitian ini

penentuan lahan untuk budidaya ubi kayu di Kecamatan Karanggayam dilakukan


melalui pendekatan aspek fisik (ekologis) melalui identifikasi potensi biofisik
lahan, sedangkan dari aspek sosial-ekonomi dilakukan melalui perwilayahan
komoditas unggulan. Penentuan potensi biofisik lahan dilakukan melalui

penetapan fungsi kawasan, kemampuan lahan, kesesuaian lahan dan daya dukung
lahan, tujuanya agar budidaya ubi kayu di Kecamatan Karanggayam dapat
diarahkan di lahan-lahan yang sesuai peruntukannya dan tidak melampaui
kapasitas atau kemampuan sehingga tidak menimbulkan gejala degradasi lahan.
Sedangkan perwilayahan komoditas unggulan dilakukan melalui analisis Super
Impose (SI) untuk mengetahui wilayah yang berpotensi untuk dijadikan daerah
basis budidaya ubi kayu sehingga membantu pemerintah dalam menetapkan
daerah mana yang harus diberikan perhatian khusus kaitannya dengan budidaya
ubi kayu. Gabungan dari analisis aspek fisik maupun sosial-ekonomi, diharapkan
menghasilkan sebuah peta arahan alokasi pemanfaatan penggunaan lahan optimal
untuk budidaya ubi kayu di Kecamatan Karanggayam.
Dari hasil penelitian ini diharapkan peruntukan pemanfaatan lahan di
Kecamatan Karanggayam kaitannya dengan perencaaan penggunaan lahan untuk
budidaya ubi kayu mampu diarahkan semaksimal mungkin baik dari sisi fungsi
lindungnya maupun fungsi produksinya sebagai lahan pertanian. Beberapa hal
diatas menjadi latar belakang penulis untuk menulis penelitian dengan judul
Optimalisasi Penggunaan Lahan untuk Budidaya Tanaman Ubi Kayu
(Manihot esculenta crantz) Berdasarkan Identifikasi Potensi Biofisik Lahan
dan Perwilayahan Komoditas Unggulan di Kecamatan Karanggayam
Kabupaten Kebumen Tahun 2014.
Selain itu hasil penelitian ini nantinya akan diimplementasikan dalam
Pembelajaran Geografi khususnya pada Kompetensi Dasar Menyajikan Contoh
Tindakan Bijaksana pada Pemanfaatan Sumber Daya Alam Bidang Pertanian
Kelas XI Sekolah Menengah Atas. Tema kajian penelitian ini dapat dijadikan
contoh konkret mengenai bagaimana cara yang dapat dilakukan agar pemanfatan
sumberdaya alam dapat seoptimal mungkin dilakukan dengan tetap menjaga
kelestariannya, diantaranya dengan mempertimbangkan aspek fisik lahan maupun
aspek ekonomi dengan melihat prospek keuntungan yang akan didapatkan.
Pemberian materi ajar dengan menggunakan contoh konkret akan memberikan
pemahaman yang lebih mendalam, karena peserta didik tidak hanya disuguhkan

dengan teori-teori, tetapi juga mengetahui bagaimana contoh penerapannya secara


nyata di dalam kehidupan.

B. Perumusan Masalah
Dari latar belakang yang sudah diuraikan diatas maka dapat dirumuskan
masalah yaitu:
1. Bagaimana potensi biofisik lahan pertanian untuk tanaman ubi kayu
berdasarkan hasil penilaian fungsi kawasan, kemampuan lahan, kesesuaian
lahan dan daya dukung lahan di Kecamatan Karanggayam Kabupaten
Kebumen Tahun 2014?
2. Bagaimana potensi perwilayahan komoditas unggulan untuk komoditas ubi
kayu di Kecamatan Karanggayam dilihat dari luas panen dan produksi
komoditas pertaniannya?
3. Bagaimana arahan alokasi penggunaan lahan optimal untuk pengembangan
dan budidaya tanaman ubi kayu berdasarkan hasil identifikasi potensi biofisik
lahan dan perwilayahan komoditas unggulan di Kecamatan Karanggayam
Kabupaten Kebumen Tahun 2014?
4. Bagaimana implementasi hasil penelitian Optimalisasi Penggunaan Lahan
untuk Budidaya Tanaman Ubi Kayu (Manihot esculenta crantz) berdasarkan
Identifikasi Potensi dan Perwilayahan Komoditas Unggulan di Kecamatan
Karanggayam Kabupaten Kebumen Tahun 2014

bagi pembelajaran

Geografi ?

C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang telah dipaparkan diatas maka tujuan
penelitian adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui potensi biofisik lahan pertanian untuk tanaman ubi kayu
berdasarkan hasil penilaian fungsi kawasan, kemampuan lahan, kesesuaian
lahan dan daya dukung lahan di Kecamatan Karanggayam Kabupaten
Kebumen Tahun 2014.

2. Untuk mengetahui potensi perwilayahan komoditas unggulan untuk


komoditas ubi kayu di Kecamatan Karanggayam dilihat dari luas panen dan
produksi komoditas pertaniannya.
3. Untuk mengetahui arahan alokasi penggunaan lahan optimal untuk
pengembangan dan budidaya tanaman ubi kayu berdasarkan hasil identifikasi
potensi dan perwilayahan komoditas unggulan di Kecamatan Karanggayam
Kabupaten Kebumen Tahun 2014.
4. Untuk mengetahui implementasi hasil penelitian Optimalisasi Penggunaan
Lahan untuk Budidaya Tanaman Ubi Kayu (Manihot esculenta crantz)
Berdasarkan Identifikasi Potensi dan Perwilayahan Komoditas Unggulan di
Kecamatan

Karanggayam

Kabupaten

Kebumen

Tahun

2014

bagi

pembelajaran Geografi.

D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Memberikan wawasan dalam bidang geografi khususnya evaluasi
dan perencanaan sumber daya lahan , dalam mengkaji tentang pengelolaan
dan pemanfaatan sumber daya lahan seoptimal mungkin sehingga layak
secara ekonomi, namun tetap mempertimbangkan aspek keberlanjutan.
2. Manfaat Praktis
Manfaat praktis yang diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai
berikut:
a. Bagi Pemerintah
Dapat dimanfaatkan oleh pemerintah sebagai bahan pertimbangan dalam
menetapkan perencanaan dan pembangunan pertanian khususnya dalam
pengembangan dan pemanfaatan lahan untuk budidaya ubi kayu sebagai
komoditas unggulan strategis di Kecamatan Karanggayam, Kabupaten
Kebumen.
b. Bagi Dinas Pertanian
Sebagai masukan atau bahan evaluasi khususnya dalam pengembangan
komoditas pertanian tanaman pangan khususnya ubi kayu di Kecamatan

Karanggayam Kabupaten Kebumen dengan melihat potensi kondisi fisik,


ekonomi dan sosial wilayahnya untuk menunjang usaha pertanian
berkelanjutan . Selain itu data mengenai sebaran potensi biofisik lahan,
juga dapat digunakan sebagai acuan untuk perencanaan pengembangan
atau budidaya komoditas lain di kemudian hari.
c. Bagi Masyarakat
Sebagai bahan pertimbangan masyarakat , khususnya masyarakat petani di
Kecamatan Karanggayam untuk dapat melakukan penggunaan lahan
secara bijaksana, sehingga hasilnya optimal dengan tetap menjaga
keseimbangan lingkungan untuk keberlanjutan sumberdaya di masa
datang.
d. Bagi Pendidikan
Sebagai referensi bahan ajar untuk materi Pemanfaatan Sumber Daya
Alam dengan Prinsip Ekoefisiensi di kelas XI SMA, khususnya pada
Kompetensi Dasar Menyajikan Contoh Tindakan Bijaksana pada
Pemanfaatan Sumber Daya Alam Bidang Pertanian, sehingga peserta didik
mendapatkan contoh penerapan materi secara konkret di dalam kehidupan
tidak hanya dalam angan-angan saja.
e. Bagi Peneliti
Sebagai bahan penunjang untuk peningkatan dan pemahaman kompetensi
dalam bidang ilmu geografi khususnya pemanfaatan dan perencanaan
sumberdaya lahan.