Anda di halaman 1dari 8

Penguasa Otoritas Kampus

Sumber : http://edukasi.kompasiana.com/2012/03/12/penguasa-otoritaskampus-445760.html
Otoritas kampus merupakan kekuasaan penuh pimpinan sebuah perguruan
tinggi. Jadi, sangat berpengaruh kepada civitas academicadalam kampus.
Seorang pimpinan perguruan tinggi diharapkan mampu memberikan
kebijakan yang seadil-adilnya untuk semua pihak. Ironis ketika pimpinan
perguruan tinggi justru malah memanfaatkan jabatan yang dimiliki dalam
pengambilan kebijakan. Baru-baru pemberitaan yang mencengangkan
telinga, ketika rektor sebuah perguruan tinggi di Indonesia memberikan gelar
DR HC kepada Raja Arab Saudi tanpa prosedur yang ada, disebut-sebut
malah karena faktor politik. Hal itu hanya satu dari banyaknya kesewenangan
kebijakan yang diambil pimpinan kampus yang mencuat ke permukaan. Masih
banyak kasus yang mungkin malah jauh lebih parah dari itu namun, tidak
muncul ke hadapan publik.
Adanya RUU PT makin memberikan ancaman bagi mahasiswa apabila
disahkan. RUU PT hanya menjiplak dari UU BHP (Undang Undang Badan
Hukum Pendidikan) dengan memberikan sedikit klise, jadi tidak jauh berbeda
dengan isi UU BHP. Otonomi yang diberikan oleh pemerintah kepada masingmasing perguruan tinggi akan semakin membuat pengambil otoritas kampus
merajalela. Para aktivis kampus diharapkan dapat mengoreksi kebijakankebijakan yang mungkin kurang tepat. Namun, di sisi lain mental keberanian
dan kepekaan para mahasiswa justru semakin menurun untuk kritis terhadap
setiap kebijakan yangdiambil. Mahasiswa diharapkan jeli terhadap masalahmasalah di lingkungan sekitar. Seyogiyanya mahasiswa tidak hanya kuliah,
kantin, kos dan pulang kampung saja.
Tidak peduli
Mahasiswa yang disibukkan dengan perkuliahan dan pengadaan eventevent tertentu, menyingkirkan kepedulian untuk menyumbangkan
pemikirannya (koreksi) atas kebijakan yang dilakukan birokrat dan jajarannya.
Mahasiswa yang menjadi aktivis pun kian menurun karena banyaknya tugastugas perkuliahan. Selain itu dewasa ini mahasiswa sendiri malas untuk aktif
berorganisasi. Kebanyakan mahasiswa yang ikut organisasi hanya untuk
senang-senang saja, tidak mau mengembangkan kemampuan untuk menjadi
yang lebih baik. Lihat saja banyak sekali Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan
Lembaga Kemahasiswaan (LK) yang menawarkan berbagai bidang bakat dan

minat yang bisa menyalurkan potensi kita namun, hanya sedikit mahasiswa
yang mau mengikutinya, bahkan hanya segelintir saja yang aktif di dalamnya.
Jika ada kegiatan yang berat sedikit dengan berbagai alasan ini-itu mereka
meminta ijin untuk tidak mengikutinya. Mereka ditekankan untuk belajar, fokus
pada perkuliahan dan lulus tepat waktu. Seharusnya bukan lulus tepat waktu,
melainkan lulus tepat pada waktunya dengan begitu mereka telah siap untuk
terjun di masyarakat.
Sulit sekali untuk menemukan mahasiswa yang benar-benar peduli terhadap
lingkungannya. Bahkan permasalahan yang menghimpit dirinya sendiri pun
tak disadari. Mahasiswa harus berani menentang ketidaksesuaian peraturan
yang ada, dan tidak menutup mata. Karena mahasiswalah yang diharapkan
menjadi pengubah kehidupan di masyarakat untuk lebih baik dari
sebelumnya. Mahasiswa di dalam masyarakat dianggap mampu dalam
segala hal padahal tidak semua hal dikuasainya. Maka dari itu selagi masih
menjadi mahasiswa berbuat kritislah dengan keadaan di sekelilingmu.
Untuk semua itu, sebaiknya bersama-sama seluruh civitas academicasaling
melaksanakan kewajiban dan menggunakan hak secara seimbang. Bersama
saling mengingatkan dan mengoreksi atas apa pun keputusan yang diambil.
Pimpinan tidak selalu benar, dan yang dibawahnya juga tidak selalu
mempunyai pemikiran-pemikiran yang kolot. Jika, memang ada suatu
kesalahan entah pimpinan atau bawahan jangan sungkan untuk mengucap
kata maaf Jika dalam kehidupan saling legowo untuk mengoreksi dan
dikoreksi tentu akan enak dalam menjalankan apa pun.

Otorisasi adalah verifikasi dan validasi oleh pihak yang berwenang bahwa aktivitas atau transaksi sesuai dengan kebijakan dan
prosedur yang ditetapkan.
Organisasi Dan Tata Kerja Kantor Kesyahbandaran Dan Otoritas Pelabuhan
Dalam rangka meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelaksanaan tugas dan fungsi di bidang keselamatan dan keamanan pelayaran, serta
pengaturan, pengendalian dan pengawasan kegiatan kepelabuhanan, Menteri Perhubungan menetapkan Peraturan Menteri Perhubungan
Nomor: PM 36 TAHUN 2012 Tentang Organisasi Dan Tata Kerja Kantor Kesyahbandaran Dan Otoritas Pelabuhan Kantor Kesyahbandaran dan
Otoritas Pelabuhan adalah Unit Pelaksana Teknis di lingkungan Kementerian Perhubungan yang berada di bawah dan bertanggung jawab
kepada Direktur Jenderal Perhubungan Laut. Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan mempunyai tugas melaksanakan pengawasan,
dan penegakan hukum di bidang keselamatan dan keamanan pelayaran, koordinasi kegiatan pemerintahan di pelabuhan serta pengaturan,
pengendalian dan pengawasan kegiatan kepelabuhanan pada pelabuhan yang diusahakan secara komersial. Kantor Kesyahbandaran dan
Otoritas Pelabuhan diklasifikasikan ke dalam 5 (lima) kelas, terdiri atas: Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Kelas I; Kantor
Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Kelas II; Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Kelas III; Kantor Kesyahbandaran dan
Otoritas Pelabuhan Kelas IV; dan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Kelas V. Organisasi Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas
Pelabuhan Kelas I, terdiri atas: Bagian Tata Usaha; Bidang Status Hukum dan Sertifikasi Kapal; Bidang Keselamatan Berlayar, Penjagaan dan
Patroli; dan Bidang Lalu Lintas dan Angkutan Laut, dan Usaha Kepelabuhanan. Bagian Tata Usaha mempunyai tugas melaksanakan urusan
keuangan, kepegawaian dan umum, hukum dan hubungan masyarakat serta pelaporan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan. Bidang
Status Hukum dan Sertifikasi Kapal mempunyai tugas melaksanakan pemeriksaan, pengujian dan sertifikasi kelaiklautan, keselamatan kapal,
pencegahan pencemaran dari kapal dan manajemen keselamatan kapal, serta penetapan status hukum kapal. Bidang Keselamatan Berlayar,
Penjagaan dan Patroli mempunyai tugas melaksanakan pengawasan tertib lalu lintas kapal di perairan pelabuhan dan alur pelayaran,
pemanduan dan penundaan kapal, penerbitan Surat Persetujuan Berlayar, kegiatan alih muat di perairan pelabuhan, salvage dan pekerjaan
bawah air, bongkar muat barang berbahaya, barang khusus, pengisian bahan bakar, limbah bahan berbahaya dan beracun (B3), ketertiban
embarkasi dan debarkasi penumpang, pembangunan fasillitas pelabuhan, pengerukan dan reklamasi, pelaksanaan bantuan pencarian dan
penyelamatan (Search And Rescue / SAR), pengendalian dan koordinasi penanggulangan pencemaran dan pemadaman kebakaran di
pelabuhan, pelaksanaan perlindungan lingkungan maritim, pelaksanaan pemeriksaan dan verifikasi sistem keamanan kapal dan fasilitas
pelabuhan (International Ship and Port Facility Security Code/ISPS-Code), pemeriksaan pendahuluan pada kecelakaan kapal, penegakan
hukum di bidang keselamatan dan keamanan pelayaran serta pelaksanaan koordinasi kegiatan pemerintahan di pelabuhan yang terkait dengan
pelaksanaan pengawasan dan penegakan hukum di bidang keselamatan dan keamanan pelayaran. Bidang Lalu Lintas dan Angkutan Laut, dan
Usaha Kepelabuhanan mempunyai tugas melaksanakan pengaturan lalu lintas kapal ke luar masuk pelabuhan melalui pemanduan kapal,
penjaminan keamanan dan ketertiban, kelancaran arus barang di pelabuhan, pengawasan penggunaan lahan daratan dan perairan pelabuhan
serta Daerah Lingkungan Kerja dan Daerah Lingkungan Kepentingan pelabuhan, penyediaan dan pengaturan penggunaan lahan daratan dan
perairan pelabuhan, penyediaan dan pemeliharaan penahan gelombang, kolam pelabuhan, alur pelayaran, jaringan jalan, dan Sarana Bantu
Navigasi Pelayaran, penjaminan dan pemeliharaan kelestarian lingkungan di pelabuhan, penyusunan Rencana Induk Pelabuhan, Daerah
Lingkungan Kerja dan Daerah Lingkungan Kepentingan pelabuhan, dan pengusulan tarif, serta penyediaan dan/atau pelayanan jasa
kepelabuhanan yang diperlukan oleh pengguna jasa yang belum disediakan oleh Badan Usaha Pelabuhan, pemberian konsesi atau bentuk
lainnya kepada Badan Usaha Pelabuhan untuk melakukan kegiatan pengusahaan di pelabuhan dan penyiapan bahan penetapan dan evaluasi
standar kinerja operasional pelayanan jasa kepelabuhanan. Terhitung sejak tanggal 14 Juni 2012 jumlah Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas
Pelabuhan sebanyak 96 (sembilan puluh enam) lokasi, yang terdiri atas: Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Kelas I sebanyak 9
(sembilan) lokasi; Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Kelas II sebanyak 15 (lima belas) lokasi; Kantor Kesyahbandaran dan
Otoritas Pelabuhan Kelas III sebanyak 16 (enam belas) lokasi; Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Kelas IV sebanyak 16 (enam
belas) lokasi; dan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Kelas V sebanyak 40 (empat puluh) lokasi. Lokasi, nama pelabuhan dan
wilayah kerja Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan di pelabuhan sebagaimana tercantum dalam Lampiran VI Peraturan Menteri ini.
Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan yakni tanggal 14 Juni 2012

Otoritas Jasa Keuangan


Otoritas Jasa Keuangan (OJK) adalah lembaga negara yang dibentuk berdasarkan UU Nomor 21 Tahun 2011 yang berfungsi
menyelenggarakan sistem pengaturan dan pengawasan yang terintegrasi terhadap keseluruhan kegiatan di dalam sektor jasa
keuangan. OJK adalah lembaga yang independen dan bebas dari campur tangan pihak lain, yang mempunyai fungsi, tugas, dan
wewenang pengaturan, pengawasan, pemeriksaan, dan penyidikan. OJK didirikan untuk menggantikan peran Bapepam-LK dalam
pengaturan dan pengawasan pasar modal dan lembaga keuangan, dan menggantikan peran Bank Indonesia dalam pengaturan
dan pengawasan bank, serta untuk melindungi konsumen industri jasa keuangan.

Tujuan[sunting | sunting sumber]


OJK dibentuk dengan tujuan agar keseluruhan kegiatan di dalam sektor jasa keuangan:

1.

terselenggara secara teratur, adil, transparan, dan akuntabel;

2.

mampu mewujudkan sistem keuangan yang tumbuh secara berkelanjutan dan stabil; dan

3.

mampu melindungi kepentingan konsumen dan masyarakat.

Tugas dan wewenang[sunting | sunting sumber]


OJK melaksanakan tugas pengaturan dan pengawasan terhadap:

1.

kegiatan jasa keuangan di sektor perbankan;

2.

kegiatan jasa keuangan di sektor pasar modal; dan

3.

kegiatan jasa keuangan di sektor perasuransian, dana pensiun, lembaga pembiayaan, dan lembaga jasa keuangan
lainnya.

Untuk melaksanakan tugas pengaturan, OJK mempunyai wewenang:

1.

menetapkan peraturan pelaksanaan Undang-Undang ini;

2.

menetapkan peraturan perundang-undangan di sektor jasa keuangan;

3.

menetapkan peraturan dan keputusan OJK;

4.

menetapkan peraturan mengenai pengawasan di sektor jasa keuangan;

5.

menetapkan kebijakan mengenai pelaksanaan tugas OJK;

6.

menetapkan peraturan mengenai tata cara penetapan perintah tertulis terhadap Lembaga Jasa Keuangan dan pihak
tertentu;

7.

menetapkan peraturan mengenai tata cara penetapan pengelola statuter pada Lembaga Jasa Keuangan;

8.

menetapkan struktur organisasi dan infrastruktur, serta mengelola, memelihara, dan menatausahakan kekayaan dan
kewajiban; dan

9.

menetapkan peraturan mengenai tata cara pengenaan sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
di sektor jasa keuangan.

Untuk melaksanakan tugas pengawasan, OJK mempunyai wewenang:

1.

menetapkan kebijakan operasional pengawasan terhadap kegiatan jasa keuangan;

2.

mengawasi pelaksanaan tugas pengawasan yang dilaksanakan oleh Kepala Eksekutif;

3.

melakukan pengawasan, pemeriksaan, penyidikan, perlindungan Konsumen, dan tindakan lain terhadap Lembaga Jasa
Keuangan, pelaku, dan/atau penunjang kegiatan jasa keuangan sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundangundangan di sektor jasa keuangan;

4.

memberikan perintah tertulis kepada Lembaga Jasa Keuangan dan/atau pihak tertentu;

5.

melakukan penunjukan pengelola statuter;

6.

menetapkan penggunaan pengelola statuter;

7.

menetapkan sanksi administratif terhadap pihak yang melakukan pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan
di sektor jasa keuangan; dan

8.

memberikan dan/atau mencabut:


1. izin usaha;
2. izin orang perseorangan;
3. efektifnya pernyataan pendaftaran;

4. surat tanda terdaftar;


5. persetujuan melakukan kegiatan usaha;
6. pengesahan;
7. persetujuan atau penetapan pembubaran; dan
8. penetapan lain, sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundang-undangan di sektor jasa keuangan.

Dewan komisioner[sunting | sunting sumber]


Dewan Komisioner adalah pimpinan tertinggi OJK yang bersifat kolektif dan kolegial. Dewan Komisioner beranggotakan 9
(sembilan) orang anggota yang ditetapkan dengan Keputusan Presiden.
Susunan Dewan Komisioner terdiri atas:

1.

seorang Ketua merangkap anggota;

2.

seorang Wakil Ketua sebagai Ketua Komite Etik merangkap anggota;

3.

seorang Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan merangkap anggota;

4.

seorang Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal merangkap anggota;

5.

seorang Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Dana Pensiun, Lembaga Pembiayaan, dan Lembaga Jasa
Keuangan Lainnya merangkap anggota;

6.

seorang Ketua Dewan Audit merangkap anggota;

7.

seorang anggota yang membidangi edukasi dan perlindungan Konsumen;

8.

seorang anggota Ex-officio dari Bank Indonesia yang merupakan anggota Dewan Gubernur Bank Indonesia; dan

9.

seorang anggota Ex-officio dari Kementerian Keuangan yang merupakan pejabat setingkat eselon I Kementerian
Keuangan.

Otoritas Bandar Udara


Otoritas Bandar Udara adalah suatu entitas independen yang ditugasi operasi dan pengawasan bandar udara atau sekelompok
bandar udara. Otoritas ini biasanya dipimpin oleh sekelompok komisaris bandara, yang ditunjuk untuk memimpin otoritas oleh
seorang pejabat pemerintah. Ketika otoritas suatu entitas mencakup lebih dari bandara di daerah itu, pelabuhan dan fasilitas kereta
api, entitas ini dapat disebut sebagai otoritas pelabuhan.
Di Kanada, otoritas bandara biasanya merujuk pada perusahaan nirlaba swasta (tidak dimiliki pemerintah atau berafiliasi) yang
didirikan untuk mengelola bandar udara komersial kota.

Contoh otoritas bandara yang mengawasi banyak bandara[sunting | sunting


sumber]

Kanada

Greater Toronto Airports Authority

CFBN/CFYZ (AM) (stasiun radio tak beroperasi)

Cina

Greater Toronto Airports Authority

Airport Authority Hong Kong

Bandar Udara Internasional Hong Kong

Bandar Udara Internasional Xiaoshan Hangzhou

Bandar Udara Sanzao Zhuhai

Perancis

Aroports de Paris

India

Airports Authority of India

14 bandara dekat Paris

Semua bandara di India, termasuk:

12 bandara internasional

89 bandara domestik

26 bandara enklave

Thailand

Airports of Thailand

Bandar Udara Suvarnabhumi (Internasional)

Bandar Udara Internasional Don Mueang

Bandar Udara Internasional Phuket

Bandar Udara Internasional Chiang Mai

Bandar Udara Internasional Hat Yai

Bandar Udara Internasional Chiang Rai

Amerika Serikat

Columbus Regional Airport Authority

Bandar Udara Internasional Port Columbus

Bandar Udara Internasional Rickenbacker

Lapangan Terbang Bolton

Jacksonville Aviation Authority

Bandar Udara Internasional Jacksonville

Bandar Udara Kotamadya Craig

Bandar Udara Herlong

Lapangan Terbang Cecil

Greater Orlando Aviation Authority

Bandar Udara Internasional Orlando

Bandar Udara Eksekutif Orlando

Metropolitan Washington Airport Authority (MWAA)

Bandar Udara Nasional Reagan Washington

Bandar Udara Internasional Dulles Washington

Wayne County Airport Authority

Bandar Udara Kabupaten Wayne Metropolitan Detroit

Bandar Udara Willow Run

Indianapolis Airport Authority

Bandar Udara Internasional Indianapolis

Bandar Udara Metropolitan

Bandar Udara Mount Comfort

dan lain-lain.

Otoritas Bandar Udara di Indonesia[sunting | sunting sumber]

Kantor Otoritas Bandar Udara[sunting | sunting sumber]


Berdasarkan dengan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 41 Tahun 2011 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor
Otoritas Bandar Udara.

Tugas Pokok Otoritas Bandar Udara[sunting | sunting sumber]


Kantor Otoritas Bandar Udara mempunyai tugas melaksanakan pengaturan, pengendalian, dan pengawasan kegiatan penerbangan
di bandar udara.

Fungsi Otoritas Bandar Udara[sunting | sunting sumber]


1.

Pelaksanaan pengaturan, pengendalian, dan pengawasan terhadap keselamatan, keamanan, kelancaran, serta
kenyamanan penerbangan di bandar udara;

2.

Pelaksanaan koordinasi kegiatan pemerintahan di bandar udara;

3.

Pelaksanaan pengaturan, pengendalian dan pengawasan dibidang fasilitas, pelayanan dan pengoperasian bandar udara;

4.

Pelaksanaan pengaturan, pengendalian, dan pengawasan penggunaan lahan daratan dan/atau perairan bandar udara
sesuai dengan rencana induk bandar udara;

5.

Pelaksanaan pengaturan, pengendalian, dan pengawasan penggunaan Kawasan Keselamatan Operasi


Penerbangan(KKOP) dan Daerah Lingkungan Kerja (DLKr) serta Daerah Lingkungan Kepentingan Bandar Udara
(DLKP);

6.

Pelaksanaan pengaturan, pengendalian, dan pengawasan pelaksanaan standar kinerja operasional pelayanan
bandarudara, angkutan udara, keamanan penerbangan, pesawat udara dan navigasi penerbangan;

7.

Pelaksanaan pengaturan, pengendalian, dan pengawasan pelaksanaan pelestarian lingkungan bandar udara;

8.

Pelaksanaan pengaturan, pengendalian, dan pengawasan dibidang angkutan udara, kelaikudaraan dan pengoperasian
pesawat udara di bandar udara, pelaksanaan ketentuan mengenai organisasi perawatan pesawat udara, serta sertifikat
kompetensi dan lisensi personel pengoperasian pesawat udara;

9.

Pemberian sertifikat kelaikudaraan standar lanjutan(continous airworthiness certificate) untuk pesawat udara bukan
kategori transport (non transport category) atau bukan niaga (non commercial);

10. Pelaksanaan pengaturan, pengendalian dan pengawasan dibidang keamanan penerbangan dan pelayanan darurat
dibandar udara
11. Pelaksanaan urusan administrasi dan kerumah tanggaan Kantor Otoritas Bandar Udara.

Klasifikasi Kantor Otoritas Bandar Udara[sunting | sunting sumber]


Kantor Otoritas Bandar Udara diklasifikasikan ke dalam 3 (tiga) kelas terdiri dari :

1.

Kantor Otoritas Bandar Udara Kelas Utama;

2.

Kantor Otoritas Bandar Udara Kelas I; dan

3.

Kantor Otoritas Bandar Udara Kelas II.