Anda di halaman 1dari 14

PERBANDINGAN KADAR KALIUM PADA PENDERITA

DIABETES MELLITUS TIPE II TERKENDALI DAN


TAK TERKENDALI DI RSUD.Dr.H.ABDUL
MOELOEK BANDAR LAMPUNG
TAHUN 2014

Jurnal

Oleh :
SINGGIH SYAHRIAL
10310367

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MALAHAYATI
BANDAR LAMPUNG
TAHUN 2014

ABSTRAK
Latar Belakang : Diabetes Mellitus merupakan suatu penyakit metabolik dengan
karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin
atau keduanya. Pada keadaan normal insulin memiliki peran dalam merangsang
ambilan kalium ke dalam sel namun pada penderita diabetes terjadi
ketidakseimbangan kalium. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui
perbandingan kadar kalium pada diabetes mellitus tipe II terkendali dan tak
terkendali di poliklinik di RSUD.Dr.H. Abdul Moeloek.
Metode : Jenis penelitian ini merupakan penelitian perbandingan (coparative study)
dengan pendekatan cross sectional untuk mengetahui perbandingan kadar kalium
pada penderita diabetes mellitus tipe II terkendali dan tak terkendali. Pada penelitian
ini dilakukan pemeriksaan terhadap sampel darah pasien diabetes mellitus tipe II di
RSUD.Dr.H. Abdul Moeloek. Data dari hasil pemeriksaan diuji statistik dengan uji ttest. Sampel yang didapatkan berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi pada
penelitian ini berjumlah 50 pasien.
Hasil Penelitian : Hasil uji statistik dengan t-test didapatkn nilai p = 0,000 (p <
0,05) menunjukan bahwa terdapat perbedaan kadar kalium yang bermakna pada
diabetes mellitus tipe terkendali dan tak terkendali.
Kesimpulan : Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kadar kalium
yang bermakna pada penderita diabetes Mellitus tipe II terkendali dan tak terkendali.
Kata kunci : kadar kalium, Diabetes Mellitus tipe II
ABSTRACT
Background: Diabetes Mellitus is a metabolic disease characterized by
hyperglycemia since insulin deficiency, insulin activity or both. In a normal
condition, insulins role stimulates potassium withdrawal to cell body in order to
make potassium balance. The objective of the study is to compare potassium level
among patients of controlled and uncontrolled diabetes mellitus type II at Polyclinic
of Dr. H. Abdul Moeloek Local Hospital.
Method: This is a comparative study with cross sectional design to identify the
different of potassium level among patients of controlled and uncontrolled diabetes
mellitus type II. The study was done on blood sample on patients of diabetes mellitus
type II amounting to 50 people at Dr. H. Abdul Moeloek Local Hospital. The data
was analyzed through t- test.
Result: The statistical t-test found that p = 0.000 (p < 0.05) showing significant
difference between potassium content on patients of controlled and uncontrolled
Diabetes Mellitus type II.
Conclusion: there was difference on potassium content on patients of controlled and
uncontrolled diabetes mellitus type II.
Keywords : potassium level, Diabetes Mellitus type II

Metode yang digunakan


untuk
menentukan
pengendalian glukosa darah
pada semua tipe DM adalah
pengukuran
glikat
hemoglobin (HbA1c).

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Diabetes Mellitus (DM)
merupakan suatu penyakit
metabolik
dengan
karakteristik
hiperglikemia
yang terjadi karena kelainan
sekresi insulin, kerja insulin
atau kedua-duanya. 1, 2

Pada pasien DM tipe II


yang terkendali dengan nilai
HbA1c
6,5 % maka
kemungkinan pasien dalam
keadaan
hipoglikemia
sehingga pasien mengalami
hipokalemia
karena
berpindahnya kalium plasma
ke dalam sel yang dibantu
oleh insulin. Sedangkan pada
pasien DM tipe II yang tidak
terkendali
dengan
nilai
HbA1c > 6,5 % maka pasien
mengalami
hiperglikemia
sehingga pasien mengalami
hiperkalemia karena kalium
plasma tidak dapat masuk ke
dalam sel diakibatkan oleh
resistensi insulin.2, 7

Laporan
hasil
Riset
Kesehatan
Dasar
(RIKESDAS) Lampung 2007
menunjukan
bahwa
prevalensi DM adalah 0,4 %.
Menurut Kabupaten dan kota
di
Provinsi
Lampung
prevalensi DM sekisar 0,1
0,9 % , dan yang mempunyai
prevalensi
paling
tinggi
adalah kota Bandar Lampung
0,9 % dan terendah berada di
Lampung Utara 0,1, di Dinas
Kesehatan Provinsi Lampung
tercatat bahwa pada tahun
2005 2006 jumlah penderita
DM mengalami peningkatan
12
%
dari
periode
sebelumnya yaitu sebanyak
6.256 jiwa. 5
Pada keadaan normal
insulin memiliki peran dalam
merangsang ambilan kalium
ke dalam sel. Pada penderia
diabetes yang mengalami
defisiensi
insulin
terjadi
ketidakseimbangan kalium,
sehingga terjadi peningkatan
kalium plasma (hiperkalemia)
dan penurunan kadar kalium
dalam sel. 6

Berdasarkan uraian diatas


mendorong penulis untuk
melakukan penelitian yang
berjudul Perbandingan kadar
Kalium
pada
penderita
Diabetes Melitus tipe II
terkendali dan tak terkendali
di
RSUD.Dr.H.
Abdul
Moeloek Bandar Lampung.
1.2

Rumusan Masalah
Bagaimanakah
perbandingan kadar kalium
pada pasien Diabetes Melitus
tipe II terkendali dan tak
terkendali di RSUD.dr.H.
Abdul Moeloek ?

1.3

kedokteran khususnya ilmu


penyakit dalam dan patologi
klinik serta dapat menerapkan
ilmu yang di dapat selama
perkuliahan.

Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum


Mengetahui
perbandingan
kadar kalium pada pasien
Diabetes Mellitus tipe II
terkendali dan tak terkendali
di RSUD. Dr.H. Abdul
Moeloek tahun 2014.

1.4.2 Bagi Penderita


Hasil penelitian ini dapat
digunakan sebagai landasan
pertimbangan penderita untuk
mendorong mengkonsumsi
kalium serta ketaatan dalam
pengendalian
diabetes
mellitus.

1.3.2 Tujuan Khusus


1. Mengetahui
gambaran
kadar
Kalium
pada
penderita DM tipe II yang
terkendali di RSUD.Dr.H
Abdul Moeloek.
2. Mengetahui
gambaran
kadar
Kalium
pada
penderita DM tipe II yang
tak
terkendali
di
RSUD.Dr.H.Abdul
Moeloek.
3. Mengetahui perbandingan
gambaran kadar kalium
pada penderita DM tipe II
yang terkendali dan tak
terkendali
di
RSUD.Dr.H.Abdul
Moeloek.
4. Mengetahui
distribusi
pasien
DM
tipe
II
terkendali di RSUD.Dr.H
Abdul Moeloek tahun
2014.
5. Mengetahui
distribusi
pasien DM tipe II tak
terkendali di RSUD.Dr.H
Abdul Moeloek tahun
2014.
1.4

Manfaat Penelitian

1.4.1 Bagi Peneliti


Menambah
pengetahuan

ilmu
dan
di
bidang

1.4.3 Bagi Rumah Sakit


Sebagai masukan kepada
Rumah
sakit
untuk
mengusahakan tindak lanjut
dalam upaya kuratif diabetes
mellitus
di
Provinsi
Lampung.
1.4.4 Bagi Institusi Pendidikan
Digunakan sebagai sumber
informasi,
wacana
kepustakaan atau sebagai
referensi bagi penelitian
selanjutnya.
1.4.5 Bagi Peneliti Selanjutnya
Dapat
menjadi
bahan
referensi serta pertimbangan
bagi penelitian yang memiliki
ruang lingkup yang sama.
1.5

Ruang Lingkup

1.5.1 Judul Penelitian


Perbandingan kadar Kalium
pada penderita Diabetes
Mellitus tipe II terkendali dan
tak terkendali di RSUD.Dr.H
Abdul Moeloek tahun 2014.

kecil sel yang tersebar di


seluruh organ. Ada 3 jenis sel
penghasil
hormon
yang
teridentifikasi dalam pulaupulau tersebut.6

1.5.2 Metode Penelitian


Jenis
penelitian
yang
digunakan adalah penelitian
perbandingan (Comparative
Study).
2.2
1.5.3 Subyek Penelitian

Kalium (K+) adalah


kation utama cairan intrasel,
98 % dari simpanan tubuh
(3.000 4.000 mEq) berada
di dalam sel dan 2 % sisanya
(kira-kira 70 mEq) terutama
terdapat di kompartemen ECF
(Extra Celluler Fluid). Kadar
K+ serum normal adalah 3,5
5,5 mEq/L.6

Subyek dalam penelitian ini


adalah
pasien
diabetes
mellitus
di
poliklinik
Penyakit Dalam RSUD.Dr.H
Abdul
Moeloek
Bandar
Lampung.
1.5.4 Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan pada
bulan Agustus 2014 sampai
di Poliklinik Penyakit Dalam
RSUD.Dr.H Abdul Moeloek
Bandar Lampung.
1.5.5 Tempat Penelitian
Penelitian
dilakukan
di
Poliklinik Penyakit Dalam
dan Laboratorium Patologi
Klinik di RSUD.Dr.H Abdul
Moeloek Bandar Lampung.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Anatomi dan Fisiologi


Pankreas adalah sebuah
kelenjar yang berbentuk
memanjang dan terletak
melintang
pada
dinding
abdomen dorsal. Panjang
antara 12 15 cm dan
beratnya rata-rata 69 90
gram. 9
Sel endokrin dapat
ditemukan dalam pulau-pulau
langerhans, yaitu kumpulan

Fisiologi Kalium

2.3

Diabetes Mellitus

2.3.1 Definisi Diabetes Mellitus


Diabetes
Mellitus
merupakan
penyakit
metabolik yang ditandai
dengan
timbulnya
hiperglikemia
akibat
gangguan sekresi insulin, dan
atau peningkatan resistensi
insulin
seluler
terhadap
insulin.
2.3.3 Patofisiologi
Mellitus tipe II

Diabetes

Pada DM tipe II
terjadi 2 defek fisiologi yaitu
abnormalitas sekresi insulin,
dan resistensi kerjanya pada
jaringan sasaran. Pada DM
tipe II terjadi 3 fase urutan
klinis ; 14
1)

Pertama,
glukosa
plasma tetap normal
meskipun
terjadi
resistensi
insulin

2)

3)

2.4

karena
insulin
meningkat.
Fase kedua, resistensi
insulin
cenderung
memburuk sehingga
meskipun
terjadi
peningkatan
konsentrasi
insulin,
tetap
terjadi
intoleransi
glukosa
dalam
bentuk
hiperglikemia setelah
makan.
Fase ketiga, resistensi
insulin tidak berubah,
tetapi sekresi insulin
menurun,
sehingga
menyebabkan
hiperglikemia puasa
dan DM yang nyata.

Hemoglobin A1c (HbA1c)


Hemoglobin
A1c
(HbA1c)
merupakan
komponen kecil hemoglobin
yang stabil dan terbentuk
secara
perlahan
melalui
reaksi non-enzimatik. HbA1c
terbentuk
dari
ikatan
16
glukosa..

menyebabkan
timbulnya
suatu peristiwa tertentu.19
3.2
3.2.1

Waktu Penelitian

Tempat penelitian dilakukan


di
Poliklinik
Penyakit
Dalam dan Laboratorium
Patologi
Klinik
di
RSUD.Dr.H Abdul Moeloek
Bandar Lampung.
3.3

Subjek Penelitian
Pasien DM tipe II di
RSUD.Dr.H Abdul Moeloek
Bandar Lampung

3.3.1

Populasi
Populasi dalam hal ini
adalah
seluruh
pasien
Diabetes Mellitus tipe II di
RSUD.Dr.H Abdul Moeloek
Bandar Lampung.

3.3.2

Sampel
Sampel
adalah
sebagian dari keseluruhan
objek yang diteliti dan
dianggap mewakili seluruh
populasi.
sampel
yang
diambil
sebanyak
50
19
pasien.

METODOLOGI PENELITIAN
Jenis Penelitian
Jenis penelitian adalah
studi
perbandingan
(comparative study), yaitu
penelitian
yang
dimaksudkan dengan cara
membandingkan persamaan
dan perbedaan sebagai
fenomena untuk mencari
faktor-faktor
apa,
atau
situasi bagaimana yang

Tempat

3.2.2 Tempat Penelitan

BAB III

3.1

Waktu
dan
Penelitian

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN
PEMBAHASAN
4.1

Hasil Penelitiann

4.1.1 Analisis Univariat

Tabel
4.1
Frekuensi
berdasarkan
Kelamin
N Keter
o kendal
ian
DM
1
DM
tipe II
Terken
dali
2
DM
tipe II
tak
Terken
dali
Jumla
h

Distribusi
Sampel
Jenis

Jenis
Kelami
n
LakiLaki

F %

Tabel
4.2
Distribusi
Frekuensi
Sampel
berdasarkan Umur
N
o

Keterkendali
an DM tipe
II

1
2

DM tipe II
Terkendali

2
4
2

Peremp
uan
LakiLaki

1
3
1
3

2
6
2
6

Peremp
uan

1
2

2
4

5
0

1
0
0

Tabel 4.1 menunjukkan


bahwa distribusi frekuensi
sampel berdasarkan jenis
kelamin adalah pada DM tipe
II
terkendali
laki-laki
sebanyak 12 kasus ( 24 %)
dan
pada
perempuan
sebanyak 13 kasus (26 %)
sedangkan pada DM tipe II
tak
terkendali
laki-laki
sebanyak 13 kasus
(26 %)
dan perempuan sebanyak 12
kasus ( 24 %).

DM tipe II
tak
Terkendali

Umu
r

35
55
56
65
66 >
35
55
56
65
66 >

1
1
8

22

6
1
0
1
3
2
5
0

12
20

Jumlah

16

26
4
10
0

Tabel
4.2
menunjukkan
distribusi
frekuensi sampel berdasarkan
umur adalah pada DM tipe II
terkendali umur 35 55
sebanyak 11 kasus ( 22 %),
pada umur 56 65 sebanyak
8 kasus ( 16 %), pada umur
66> sebanyak 6 kasus ( 12 %)
sedangkan pada DM tipe II
tak terkendali umur 35 55
sebanyak 10 kasus ( 20 %),
pada umur 56 65 sebanyak
13 kasus dan pada umur 66 >
sebanyak 2 kasus ( 4 %).
4.1.2 Analisis Bivariat
4.1.3 Uji Normalitas
Sebelum menyajikan
data kadar kalium pada pasien
DM tipe II terkendali dan DM
tipe II tak terkendali serta
analisa,
terlebih
dahulu
dilakukan uji normalitas
distribusi data. Uji normalitas
data digunakan test Shapiro-

Wilk
karena
jumlah
responden yang sedikit (
kurang atau sama dengan dari
50) dan juga test ini memiliki
sensitifitas
yang
tinggi
disbanding
dengan
uji
lainnya. 19

Tabel 4.4 Kadar Kalium


DM tipe II Terkendali dan
tak Terkendali

Tabel 4.3 Uji Normalitas


Data Shapiro-Wilk

DM tipe
II
terkendal
i
DM tipe
II
tak
terkendal
i

Shapiro-Wilk
Data
Kalium
DM tipe
II
terkenda
li
Kalium
DM tipe
II tak
terkenda
li

Statisti
k
0,909

0,937

D
f
2
5

2
5

Sig
0,30

0,12
4

Tabel 4.5 menunjukkan nilai


kemaknaan
untuk
kadar
kalium pada DM tipe II
terkendali dan DM tipe II tak
terkendali
masing-masing
0,30 dan 0,124. Hal ini
menunjukkan
bahwa
distribusi kedua kelompok
dapat dikatakan normal, yaitu
jika nilai kemaknaan 0,05.
Maka data selanjutnya akan
dianalisa
dengan
uji
Independent Sampels t-test. 19

Kadar
Kalium

Mi
ni
mu
m
3,0

Ma
ksi
mu
m
5,3

M
ea
n

5,5

6,3

5,
7
8

3,
7
8

St
d.
D
ev
0,
60

0,
22

Tabel 4.4 menunjukkan uji


normalitas kadar kalium yang
hasilnya adalah pada DM tipe
II terkendali didapatkan nilai
minimum 3,0, maksimum 5,3,
mean 3,78, std.dev 0,60
sedangkan pada DM tipe II
tak terkendali didapatkan
nilai
minimum
5,5,
maksimum 6,3, mean 5,78,
std.dev 0,22.
Tabel
4.5
Distribusi
Frekuensi
Sampel
berdasarkan Kadar Kalium
N
o

Keterken
dalian
DM tipe
II

1
DM tipe II
Terkendali
2
DM tipe II
tak
Terkendali
Jumlah

Kali
um

3,0
3,4

1
0

20

3,5
5, 4

1
5

30

5,5
6, 0

2
2

44

6,1 >

5
0

10
0

Tabel
4.5
menunjukkan
distribusi frekuensi sampel
berdasarkan kadar kalium
adalah pada DM tipe II
terkendali kadar kalium 3,0
4,5 sebanyak 23 kasus ( 46
%), kadar kalium 4,6 5,4
sebanyak 2 kasus
( 4 %)
sedangkan pada DM tipe II
tak terkendali kadar kalium
5,5 6,0 sebanyak 22 kasus (
44 %) dan pada kadar kalium
6,1 > sebanyak 3 kasus ( 6
%).
Tabel 4.6 Nilai HbA1c DM
tipe II terkendali dan tak
Terkendali
Nilai
HbA
1c

Mini
mum

Maksi
mum

M
ea
n

DM
tipe
II
terke
ndali
DM
tipe
II tak
terke
ndali

5,3

6,5

5,9
9

6,6

9,0

7,8
6

St
d.
D
ev
0,
3
0

0,
6
3

Tabel
4.6
menunjukkan uji normalitas
pada HbA1c yang hasilnya
adalah pada DM tipe II
terkendali didapatkan nilai
minimum 5,3, maksimum 6,5,
mean 5,99, std.dev 0,30
sedangkan pada DM tipe II
tak terkendali didapatkan
nilai
minimum
6,6,
maksimum 9,0, mean 7,86,
std.dev 0,63.

Tabel
4.7
Distribusi
Frekuensi
Sampel
berdasarkan Nilai HbA1c
N
o

Keterkend
alian DM
tipe II

1
DM tipe II
Terkendali
2
DM tipe II
tak
Terkendali
Jumlah

HbA
1c

5,0
6,0
6,1
6,5
6,6
8,0
8,1
9,0

1
6
9

32

1
5
1
0
5
0

30

18

20
10
0

Tabel
4.7
menunjukkan
distribusi
frekuensi sampel berdasarkan
nilai HbA1c adalah pada DM
tipe II terkendali nilai HbA1c
5,0 6,0 sebanyak 16 kasus (
32 %), nilai HbA1c 6,1 6,5
sebanyak 9 kasus (18 %)
sedangkan pada DM tipe II
tak terkendali nilai HbA1c
6,6 8,0 sebanyak 15 kasus (
30 %) dan pada nilai HbA1c
8,1 9,0 sebanyak 10 kasus
(20%).

Tabel

4.8
Hasil
Uji
Independent
Sample
T-test
Kadar
Kalium
DM tipe
II
Terkendali
dan
tak Terkendali

Kadar
Kalium

Mea
n

DM
tipe II
terkend
ali
DM
tipe II
tak
terkend
ali

2
5

3,78

2
5

5,78

Std
.
De
v
0,6
0

pvalu
e

0,00
0

0,2
2

Tabel
4.8
menunjukkan bahwa rata-rat
kadar kalium pada DM tipe II
terkendali adalah 3,78 mEq/L
dengan standar deviasi 0,60.
Sedangkan rata-rata kadar
Kalium pada DM tipe II tak
terkendali adalah 5,78 mEq/L
dengan standar deviasi 0,22.
Hasil uji statistic dengan
independent samples t-test
didapatkan p-value = 0,000
(p-value < = 0,05), yang
berarti ada perbedaan yang
bermakna kadar kalium DM
tipe II terkendali dan tak
terkendali di RSUD.Dr.H.
Abdul Moeloek.
Pembahasan
Analisis
univariat
terhadap
masing-masing
variabel didapatkan hasil
sebagai berikut, variabel

dependent yaitu pasien DM


tipe II terkendali dan tak
terkendali dengan penilaian
kadar HbA1c yaitu kadar
HbA1c
yang
terkendali
sebanyak 25 responden (50
%) yang berjenis kelamin
laki-laki sebanyak 12 orang
(24 %) dan dan berjenis
kelamin sebanyak 13 orang
(26 %) sedangkan responden
dengan kadar HbA1c tidak
terkendali sebanyak 25 orang
(50%) yang berjenis kelamin
laki-laki sebanyak 13 orang
(26 %) dan berjenis kelamin
perempuan sebanyak 12
orang
(24
%).
Jika
dikatergorikan berdasarkan
nilai HbA1c didapatkan nilai
HbA1c terkendali sebanyak
25 orang (50 %) sedangkan
nilai HbA1c tak terkendali 25
orang ( 50 %).
Analisis pada variabel
independent
yaitu
kadar
kalium pada DM tipe II
terkendali dan tak terkendali,
yang didapatkan pada DM
tipe II terkendali kadar
kalium menunjukkan nilai
normal sebanyak 15 orang
(30 %) dan kadar kalium
yang menunjukkan nilai di
bawah normal (hipokalemia)
sebanyak 10 orang (20 %).
Sedangkan pada DM tipe II
tak terkendali kadar kalium
menunjukkan nilai di atas
normal
(hiperkalemia)
sebanyak 25 orang (50 %).
Analisis
bivariat
menunjukkan nilai P-value =
0,000 (P-value < 0,05) yang
bermakna H0 ditolak dan Ha

diterima. Dengan hasil uji


stastistik demikian maka
dapat disimpulkan bahwa
terdapat perbedaan kadar
kalium pada pasien DM tipe
II
terkendali
dan
tak
terkendali di RSUD Dr. H.
Abdul Moeloek tahun 2014.
Penelitian ini sesuai
dengan
teori
yang
menyebutkan bahwa asupan
kalium ke dalam sel di
pengaruhi oleh kadar insulin.
Pada kasus DM tipe II yang
terkendali
kadar
kalium
serum dalam batas nilai
normal atau dibawah normal
(hipokalemia)
dikarenakan
oleh
keteraturan
dalam
penanganan
pengendalian
DM tersebut sehingga kadar
insulin tetap bekerja secara
optimal, sebaliknya pada
kasus DM tipe II tak
terkendali
kadar
kalium
serum berada pada nilai diatas
normal
(hiperkalemia)
dikarenakan kalium serum
tidak masuk ke dalam sel
yang
disebabkan
oleh
kurangnya kadar insulin dan
juga terjadinya hiperglikemia
karena kekurangan dalam
pengendalian DM tersebut.
2,6,7

Hasil penelitian ini


sejalan dengan penelitian
sebelumnya yang dilakukan
oleh SabAh di rumah sakit
Lavalette Malang tahun 2009.
Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui
pengendalian
gula darah dengan dinilai dari
HbA1c dengan kadar kalium
pada pasien DM tipe II. Hasil

yang
didapatkan
menunjukkan bahwa terdapat
hubungan yang signifikan
dengan p-value=0,003. 20
Penelitian ini juga
sejalan dengan penelitian
yang dilakukan oleh Gustada
di Yogyakarta menunjukkan
hasil yang serupa. Penelitian
yang
bertujuan
untuk
mengetahui hubungan kadar
kalium dan HbA1c pada
pasien DM tipe II. Dari hasil
penelitian
didapatkan
hubungan yang signifikan
antara kadar kalium dengan
HbA1c ( p-value = 0,002). 21
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

5.1

Simpulan
Dari hasil penelitian mengenai
perbandingan kadar kalium
pada
penderita
diabetes
mellitus tipe II terkendali dan
tak
terkendali,
diperoleh
simpulan sebagai berikut :
Terdapat
perbedaan
yang
bermakna ( p-value < 0,05)
antara kadar kalium diabetes
mellitus tipe terkendali dengan
diabetes mellitus tipe II yang
tak terkendali, dengan mean
kalium terkendali 3,78 mEq/L
sedangkan mean kalium tak
terkendali 5,78 mEq/L.

5.2

Jakarta: EGC.
1202-1211

Saran
Berdasarkan penelitian yang
telah
dilakukan
penulis
menyarankan untuk :
1.

2.

3.

4.

Pada
pasien
diabetes
mellitus tipe II diharapkan
melakukan pemeriksaan
kadar Hemoglobin A1c
(HbA1c) secara rutin yakni
setiap 3 bulan.
Pada
pasien
diabetes
mellitus tipe II diharapkan
melakukan pengendalian
diabetes mellitus untuk
menjaga kadar kalium
serum tetap dalam nilai
normal.
Peneliti berharap untuk
peneliti selanjutnya untuk
menggunakan sampel yang
lebih banyak dan juga
tidak hanya meneliti kadar
kalium mungkin bisa
menghubungkan dengan
elektrolit lainnya.
Kepada pihak RSUD. Dr.
H.
Abdul
Moeloek
diharapkan
untuk
memberikan edukasi yang
lebih luas kepada pasien
diabetes mellitus tipe II
untuk
menjaga
pengendalian
penyakit
tersebut
mengingat
komplikasi yang dapat
ditimbulkan.

Sunita A. Penuntut Diet Edisi


Terbaru. Jakarta. 2004

2.

Price SA, Wilson LM.


Patofisiologi. Konsep Klinis
Proses-Proses
Penyakit.

Hal

3.

Joseph E. Oxidative stress in


diabetic complication. A new
perspective on an
old
paradigm diabetes. 2003;
[48] Hal 1-9

4.

Soegondo
dkk.
Penatalaksanaan
Diabetes
Mellitus Terpadu Edisi 6.
Jakarta : Balai Penerbit
FKUI. 2007

5.

Badan
Penelitian dan
Pengembangan
Kesehatan.
Laporan
Hasil
Riset
Kesehatan
Dasar
(RISKESDAS).
Lampung.
2007
Diakses: 19 April 2014
(http://www.scribd.com/doc/2
5886294/RiskesdalaporanNasional)

6.

Guyton AC, Hall JE. Buku


Ajar Fisiologi Kedokteran.
Edisi 11. Jakarta : EGC.
2007; Hal 385

7.

World Health Organization.


Use
of
Glycated
Haemoglobin (HbA1c) in
diagnosis
of
Diabetes
Mellitus. 2011. Diakses; 25
Mei
2014
(http://www.who.int/diabetes/
publications/reporthba1c_2011.pdf)

8.

Waspadji S. Komplikasi
Kronik Diabetes Melitus:
Pengenalan
dan

DAFTAR PUSTAKA
1.

2002;

Penanggulanannya : Buku
Ajar Ilmu Pneyakit Dalam.
Jakarta: BP FK UI. 1996; [3]
Hal 597-600
9.

Widjaja
H.
Anatomi
Abdomen. Jakarta : EGC.
2008; Hal 63-67

10.

Putz R, Pabst R. Atlas


Anatomi Manusia Sobbota
Jilid II. Edisi 22. Jakarta :
EGC. 2006; Hal 152

11.

FM Ashcroft, FM Gribble.
Diabetologia. Edisi 42. ATPsensitive K+ channels and
insulin secretion: Their role
in health and disease. Hal
903-919

12.

WD Ward. Diabetes Care 7.


Pathophysiology of insulin
secretion in non insulin
dependent diabetes mellitus.
Hal 491-502

13.

14.

American
Diabetes
Association.
Diagnosis
Classificiation of Diabetes
Mellitus. 2009. Diakses; 1
Mei
2014
(http://care.diabetesjournals.o
rg/contect/27/supp1_1/s5.full
)
Foster,
DW.
Diabetes
Mellitus.
Harrisons
Principles
of
Internal
Medicine. Edisi 14. New
York:
McGraw-Hill
Companies. 2000; Hal 20602080

15.

PERKENI
(Perkumpulan
Endokrinologi
Indonesia).
Konsesus Pengelolaan dan
Pencegahan
Diabetes
Mellitus tipe II di Indonesia.
2011. Diakses; 1 Mei 2014
(http://perkeni.org/download/
Konsensus%20DM%202011.
zip)

16.

Murray RK, Granner DK,


Rodwell
VW.
Biokimia
Harper. Edisi 27.
Jakarta: EGC. 2009; Hal 51

17.

Frida
MS.
Pemeriksaan
Hemoglobin A1c (HbA1c)
secara Ion-Exchange
HPLC. Jurnal Kedokteran.
Surakarta:
Program
Pendidikan Dokter
Spesialis Patologi Klinik
Universitas Negeri Surakarta.
2012.

18.

Notoatmodjo S. Metodologi
Penelitian Kesehatan. Jakarta
: Rineka
Cipta. 2010; Hal 47

19.

Dahlan
Sopiyudin
M.
Statistik Untuk Kedokteran
dan Kesehatan. Jakarta :
Salemba Medika. 2012; Hal
55

20.

Sabah
S.
Hubungan
pengendalian Gulah Darah
yang dinilai dari HbA1c
dengan kadar kalium pada
pasien Diabetes Mellitus tipe
II di RS Lavalette Malang.
Karya Tulis Ilmiah. Malang:
Fakultas
Kedokteran

Universitas Muhammadiyah
Malang. 2009. 23-6.
21.

Gustada B. Hubungan Kadar


Kalium dengan HbA1c pada
pasien Diabetes Mellitus tipe
II di RS Panti Rapih. Karya
Tulis Ilmiah. Yogyakarta:
Fakultas
Kedokteran
Universitas
Islam
Indonesia.2011 41-56.