Anda di halaman 1dari 6

FMM_CA_TUGAS 12_KEL 6

1. Fita Ishfah Aini


2. Annina Maulida
3. Karimah Jamal

-125020301111007
-125020301111017
-125020307111053

OBLIGASI SYARIAH
Istilah sukuk berasal dari bentuk jamak dari bahasa Arab sak atau sertifikat.
Secara singkat AAOIFI mendefinisikan sukuk sebagai serti- fikat bernilai sama yang
merupakan bukti kepemilikan yang tidak di- bagikan atas suatu asset, hak manfaat,
dan jasa-jasa atau kepemilikan atas proyek atau kegiatan investasi tertentu. Sukuk
pada prinsipnya mirip seperti obligasi konvensional, dengan perbedaan pokok antara
lain berupa penggunaan konsep imbalan dan bagi hasil sebagai pengganti bunga,
adanya suatu transaksi pendukung (underlying transaction) berupa sejumlah tertentu
aset yang menjadi dasar penerbitan sukuk, dan adanya aqad atau penjanjian antara
para pihak yang disusun berdasarkan prinsip-prinsip syariah. Selain itu, sukuk juga
harus distruktur secara syariah agar instrumen keuangan ini aman dan terbebas dari
riba, gharar dan maysir. Karakteristik Sukuk merupakan bukti kepemilikan suatu aset
berwujud atau hak man- faat (beneficial title); pendapatan berupa imbalan (kupon),
marjin, dan bagi hasil, sesuai jenis aqad yang digunakan; terbebas dari unsur riba,
gharar dan maysir; penerbitannya melalui special purpose vehicle (SPV);
memerlukan underlying asset. penggunaan proceeds harus sesuai prinsip syariah.
Tujuan Penerbitan memperluas basis sumber pembiayaan anggaranSukuk Negara
(SBSN) negara; mendorong pengembangan pasar keuangan syariah; menciptakan
benchmark di pasar keuangan syariah; diversifikasi basis investor; mengembangkan
alternatif instrumen investasi; mengoptimalkan pemanfaatan Barang Milik Negara;
dan memanfaatkan dana-dana masyarakat yang belum terjaring oleh sistem
perbankan konvensional Kelebihan berinvestasi dalam Sukuk Negara, khususnya
untuk struktur Ijarah. Memberikan penghasilan berupa Imbalan atau nisbah bagi hasil
yang kompetitif dibandingkan dengan instrumen keuangan lain. Pembayaran Imbalan
dan Nilai Nominal sampai dengan sukuk jatuh tempo dijamin oleh Pemerintah.
Dapat diperjual-belikan di pasar sekunder. Memungkinkan diperolehnya tambahan
penghasilan berupa margin (capital gain). Aman dan terbebas dari riba (usury),

gharar (uncertainty), dan maysir (gambling). Berinvestasi sambil mengikuti dan


melaksanakan syariah.
Obligasi Syariah adalah suatu surat berharga jangka panjang
berdasarkan prinsip syariah yang dikeluarkan Emiten kepada pemegang Obligasi
Syariah yang mewajibkan Emiten untuk membayar pendapatan kepada pemegang
Obligasi Syariah berupa bagi hasil/margin/fee serta membayar kembali dana obligasi
pada saat jatuh tempo (Fatwa DSN-MUI, 2002). Obligasi syariah biasa juga disebut
sukuk. Sukuk berasal dari bahasa Arab , jamak dari sakk yang berarti
instrumen legal, amal, cek. Sukuk dapat pula diartikan dengan efek syariah berupa
sertifikat atau bukti kepemilikan yang bernilai sama dan mewakili bagian penyertaan
yang tidak terpisahkan, yang paling tidak terbagi atas:
1.

kepemilikan aset berwujud tertentu;

2.

nilai manfaat dan jasa atas aset proyek tertentu atau aktivitas
investasi tertentu

3.

kepemilikan atas aset proyek tertentu atau aktivitas investasi


tertentu

Dasar Hukum Obligasi Syariah (Sukuk)


Menurut Sapto Rahardjo (2003: 142) dasar hukum obligasi syariah di Indonesia
adalah sebagai berikut:
1. Pendapat ulama tentang keharaman bunga (interest).
2. Pendapat ulama tentang keharaman obligasi yang penghasilannya berbentuk
bunga (kupon).
3. Pendapat ulama tentang obligasi syariah yang menggunakan prinsip
mudarabah, murabahah, musyarakah, istishna, dan salam.
4.

Fatwa Dewan Syariah Nasional No. 20 DSN/IV/2001 mengenai Pedoman


Pelaksanaan Investasi Reksadana Syariah

5. Fatwa Dewan Syariah Nasional Nomor: 32/DSN-MUI/IX/ 2002 tentang


Obligasi Syariah.

Adapun isi Fatwa Dewan Syariah Nasional Nomor: 32/DSN-MUI/IX/ 2002


tentang Obligasi Syariah adalah (MUI:2010), Pertama, Ketentuan Umum:
obligasi yang tidak dibenarkan menurut syariah yaitu obligasi yang bersifat utang
dengan kewajiban membayar berdasarkan bunga; obligasi yang dibenarkan
menurut syariah yaitu obligasi yang berdasarkan prinsip-prinsip syariah; Obligasi
Syariah adalah suatu surat berharga jangka panjang berdasarkan prinsip syariah
yang dikeluarkan Emiten kepada pemegang Obligasi Syariah yang mewajibkan
Emiten untuk membayar pendapatan kepada pemegang Obligasi Syariah berupa
bagi hasil/margin/fee serta membayar kembali dana obligasi pada saat jatuh
tempo. Kedua, Ketentuan Khusus: Akad yang dapat digunakan dalam penerbitan
obligasi syariah antara lain: Mudharabah (Muqaradah)/ Qirad. Musyarakah.
Murabahah. Salam. Istishna. Ijarah. Jenis usaha yang dilakukan Emiten
(mudarib) tidak boleh bertentangan dengan syariah dengan memperhatikan
substansi Fatwa DSN-MUI Nomor 20/DSN-MUI/IV/2001 tentang Pedoman
Pelaksanaan Investasi untuk Reksa Dana Syariah; Pendapatan (hasil) investasi
yang dibagikan Emiten (mudarib) kepada pemegang Obligasi Syariah
Mudharabah (shahibul mal) harus bersih dari unsur non halal; Pendapatan (hasil)
yang diperoleh pemegang Obligasi Syariah sesuai akad yang digunakan;
Pemindahan kepemilikan obligasi syariah mengikuti akad-akad yang digunakan.
Adapun landasan hukum yang menjadi pegangan DSN-MUI dalam menetapkan
bolehnya penggunaan obligasi adalah (Muhammad Firdaus dkk.[ed.], 2005:7779),
1. Q.S. al-Maidah [5]: 1, Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad
itu
2. Q.S. al-Isra [17]: 34, dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti
diminta pertanggungan jawabnya.
3. Q.S. al-Baqarah [2]: 275, Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak
dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan
lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah
disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama
dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan
riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu

terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah
diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah)
kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah
penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.
4. H.R. at-Tirmidzi, Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum Muslimin
kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau mengharamkan
yang haram; dan kaum Muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali
syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram
5. H.R. Ibnu Majah, Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan diri orang
lain.
6. Kaidah Fiqh: Pada dasarnya semua bentuk muamalah boleh dilakukan
kecuali ada dalil yang mengharamkannya.; Kesulitan dapat menarik
kemudahan; Sesuatu yang berlaku berdasarkan adat/ kebiasaan sama
dengan sesuatu yang berlaku berdasarkan syara (selama tidak bertentangan
dengan syariah).

KARAKTERISTIK DAN JENIS SUKUK


Menurut Fatwa DSN Obligasi Syariah (sukuk) adalah surat berharga jangka panjang
berdasarkan prinsip syariah yang dikeluarkan emiten kepada pemegang obligasi
syariah, yang mewajibkan emiten untuk membayar pendapatan kepada pemegang
oligasi berupa bagi hasil/margin/fee serta membayar kembali dana obligasi pada saat
jatuh tempo.. Sedangkan menurut AAOIFI Sukuk adalah sertifikat bernilai sama
yang merupakan bukti kepemilikan yang tidak di- bagikan atas suatu asset, hak
manfaat, dan jasa-jasa atau kepemilikan atas proyek atau kegiatan investasi tertentu.
Pada dasarnya sukuk sama dengan obligasi, tetapi terdapat perbedaan pokok yakni
adanya bagi hasil/ imbalan sebagai pngganti bunga, underlying aset yang jelas, serta
penggunaan prinsip yang sesuai syariah. Jenis akad yang digunakan bukanlah utang
piutang melainkan investasi.
Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa karakteristik Sukuk adalah sebagai
berikut:
1. Sukuk merupakan bukti kepemilikan suatu aset atau hak manfaat

2. Pendapatan berupa imbalan, mrjin dan bagi hasil, sesuai dengan akad yang
disepakati
3. Terbebas dari unsur Maghrib (maysir, gharar, riba)
4. Adanya underlying asset
5. Semua proses dalam transaksi harus sesuai dengan prinsip syariah
Karakteristik sukuk menurut Siti Wasilah:
1. Merupakan sertifikat kepemilikan/penyertaan atas suatu aset dengan
penghasilan berupa imbalan, bagi hasil, fee serta adanya underlying asset
yang jelas.
2. Jangka waktunya pendek-menengah
3. Pihak yang terkait dalam transaksi yaitu issuer, SPV, investor baik islam
maupun konvensional, trustee
4. Diperlukan syariah endorsement
5. Semua transaksi, termasuk penerbitan, harus sesuai syariah.
6. Dokumen yang digunakan adalah dokumen pasar modal dan syariah
7. Metode penerbitan: lelang, bookbuilding, private placement.
Jenis sukuk yang mendapatkan endorsement oleh AAOIFI yaitu:
1. Sukuk Ijarah, yaitu sukuk yang diternitkan berdasarkan perjanjian atau akad
ijarah dimana satu pihak bertindak sendiri atau melalui wakilnya menjual
atau menyewakan hak manfaat atas suatu aset kepada pihak lain berdasarkan
harga sewa dan periode sewa yang disepakati tanpa diikuti dengan
pemindahan kepemilikan aset itu sendiri. Jenis dari sukuk ini antara lain: (1)
Ijarah Sale and Lease Back, yaitu Sukuk Negara; (2) Ijarah Al-Khadamat,
yaitu Sukuk Negara seperti Sukuk Dana Haji Indonesia yang diterbitkan
melalui privat placement. Underlying aset: pemondokan, transportasi,
catering; (3) Ijarah Headlease and Sublease yaitu Sukuk Korporasi.
2. Sukuk Mudharabah, yaitu sukuk yang diterbitkan berdasarkan perjanjian atau
akad mudharabah dimana satu pihak menyediakan modal dan pihak lain
menyediakan tenaga dan keahlian. Keuntungan dari kerjasama tersebut akan
dibagi berdasarkan perbandingan yang telah disetujui sebelumnya, sedangkan
kerugian ditanggung oleh penyedia dana.

3. Sukuk Musyarakah, adalah sukuk yang diterbitkan berdasarkan perjanjian


atau akad musyarakah dimana dua pihak atau lebih bekerjasama
menggabungkan yang digunakan untuk membuat suatu usaha atau proyek
baru, mengembangkan uasaha yang sudah ada, atau membiayai suatu
kegiatan usaha. Keuntungan dibagi sesuai nisbah ang disepakati antar pihak,
sedangkan kerugian ditanggung sesuai porsi modalnya.
4. Sukuk istishna, yaitu sukuk yang diterbitkan berdasarkan perjanjian atau akad
istishna dimana para pihaknya menyepakati jual beli dalam dalam rangka
pembiayaan suatu barang atau proyek. Mengenai harga, waktu penyerahan
dan spesifikasi barang/proyek ditentukan sesuai kesepakatan di awal.