Anda di halaman 1dari 6

Pemuda dan Remaja Hindu Masa Kini

(Perspektif Analisa SWOT)


Oleh : Ni Kadek P. Noviasih

1. Siapakah yang disebut sebagai pemuda dan remaja?


Pemuda adalah orang atau individu baik laki-laki maupun perempuan yang
secara fisik berumur 17 tahun ke atas. Sedangkan remaja usianya masih di
bawah 17 tahun. Pemuda merupakan kelompok strategis dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Mereka memperoleh kesempatan
belajar di lembaga pendidikan dimana mereka menimba ilmu pengetahuan yang
lebih tinggi dan nilai-nilai baru yang kemudian disebarkan ke tengah-tengah
masyarakat.

2. Apakah orang yang sudah menikah masih tergolong pemuda?


Tentu saja, selama yang bersangkutan masih mampu berpikir kreatif dan
fleksibel serta memiliki semangat pembaharuan dalam artian berjiwa muda.
Pemuda tidak harus orang yang umurnya muda dan belum menikah, seperti
pelajar dan mahasiswa. Dalam konteks yang luas, pemuda sesungguhnya adalah
orang yang mampu membangkitkan semangat-semangat pemuda lainnya untuk
terus bangkit dan berkarya. Sebagai contoh adalah Organisasi PERADAH.
Dalam organisasi ini, yang termasuk kategori pemuda secara fisik berumur
tidak lebih dari 40 tahun. Karena pada usia tersebut, seseorang masih memiliki
produktivitas yang tinggi, semangat kerja dan motivasi yang kuat dalam
mengerjakan sesuatu hal, seperti ngayah untuk umat misalnya.

3. Pemuda dan Remaja Hindu?


Pemuda dan remaja Hindu adalah generasi muda Hindu yang sadar akan
kewajibannya sebagai tunas/cikal bakal penerus, penjaga, pembangun dan
pengembang ajaran dharma. Artinya setiap remaja/pemuda mempunyai tugas
dan tanggung jawab yang sama dalam mengemban ajaran dharma. Tidak perlu
dalam skala yang besar, cukuplah dalam hal-hal yang sederhana saja dulu.
Salah satunya adalah bangga menjadi anak Hindu. Kita tidak boleh malu
mengaku Hindu, meskipun kita lahir dan berkembang di tengah-tengah
perbedaan agama dan kultur, bukan alasan kita untuk tidak percaya diri.
Sejarah telah menorehkan bahwa Hindu pernah menjadi agama terbesar di
Nusantara, dengan peradaban yang tinggi serta peninggalan kebudayaannya
yang luar biasa.

4. Kekuatan Pemuda & remaja Hindu (STRENGTH)


Dalam ajaran agama Hindu, masa muda atau masa remaja merupakan
kesempatan hidup yang sangat berharga untuk dilewatkan/disia-siakan begitu
saja. Di dalam Sarasamuccaya karya Bhagawan Wararuci, dengan jelas
menyatakan Karenanya usaha seseorang selagi masih muda, selagi badan
kuat,

supaya

diabdikan

untuk

mengusahakan

dharma,

artha

dan

pengetahuan, sebab tidak sama kekuatan sesudah tua dibanding dengan


anak muda, ibarat alang-alang yang masih muda ujungnya begitu tajam dan
bisa melukai, namun alang-alang yang sudah tua mudah rebah, ujungnya
tidak tajam lagi.
Demikian pula halnya dengan remaja dan pemuda, tidak ubahnya seperti alangalang tersebut. Usia yang muda, otak dan ingatan yang tajam, serta fisik yang
kuat hendaknya dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Apakah itu dengan
belajar sungguh-sungguh, maupun mengoptimalkan minat dan bakat yang
dimiliki. Jika anda unggul di bidang sains, belajarlah dengan baik, dan rajinrajinlah membaca buku. Siapa tahu nanti nama anda tercatat sebagai salah satu
penerima nobel karena telah menemukan mesin waktu yang bisa membawa
manusia ke masa lalu? Karena tidak ada yang tidak mungkin selagi kita mau
berusaha. Nah, jika anda termasuk orang yang kurang potensi akademiknya
silahkan kembangkan diri di bidang non akademik. Olahraga dan kesenian
misalnya. Apakah itu atletik, renang, badminton, atau pemain bola. Di bidang
seni misalnya tari, tabuh, melukis, kerajinan tangan, atau bahkan pemain
sinetron.
Semua itu bisa dilakukan ketika masih muda. Segenap potensi maksimal yang
ada dalam diri manusia ada ketika masih muda. Karena itu Hindu membagi
tahapan kehidupan manusia menjadi empat bagian yang disebut Catur Asrama.
Bagian-bagiannya

yaitu

Brahmacari,

Grehasta,

Wanaprashta,

dan

Bhiksuka/Sanyasin. Brahmacari adalah masa menuntut ilmu, Grehasta itu masa


berumah tangga, Wanaprastha pengasingan diri sebagai wujud pengendalian
diri dari nafsu duniawi, dan Bhiksuka adalah penyerahan diri secara total untuk
mengamalkan ajaran agama. Nah, posisi pemuda/remaja saat ini ada dalam fase
Brahmacari Asrama, yaitu masa menuntut ilmu pengetahuan baik itu
pengetahuan agama (spiritual), sains akademis, ketrampilan, dan sebagainya.
Dalam ajaran Hindu, pengetahuan itu dibagi menjadi dua yaitu Para Widya
(pengetahuan rohani) dan Apara Widya (pengetahuan duniawi/sains). Kedua
pengetahuan ini sama-sama penting untuk dipelajari. Ada satu ungkapan yang
menyebutkan, Ilmu tanpa agama buta, sedangkan agama tanpa ilmu
menjadi lumpuh. Jika kita hanya pintar di bidang akademis namun tanpa
2

pengetahuan agama sebagai penuntun, maka itu akan sangat berbahaya. Sama
halnya dengan orang yang tahu bawa motor, tetapi tidak paham rambu-rambu
lalu lintas. Bisa-bisa ia kena tilang, atau bahkan tertabrak di jalan. Begitu juga
sebaliknya, orang yang hanya paham akan ajaran agama saja tanpa memiliki
pengetahuan yang lain akan dilumpuhkan. Seperti orang yang paham dan
mengerti rambu-rambu lalu lintas tetapi tidak pernah berkendara. Artinya, ia
hanya akan menjadi orang pintar yang sempit pengalaman. Karena itu
hendaknya kedua jenis ilmu pengetahuan ini harus seimbang, sehingga dapat
dipadukan dengan benar dan berguna bagi kehidupan tentunya. Dengan
memiliki pengetahuan dharma, maka manusia tak akan tersesat dalam
mengarungi kehidupan. Nah, demikianlah pentingnya mempelajari pengetahuan
baik agama/spiritual/rohani maupun akademis.
Perlu diingat bahwa waktu tidak bisa diulang atau diputar kembali. Masa muda
tidak akan bisa diulang jika masa tua sudah datang. Jangan sampai anda
menyesal di kemudian hari karena menyia-nyiakan kesempatan, membuangbuang waktu.
Sifat pemuda yang patut diacungi jempol adalah jujur dan idealis. Mereka
cenderung berpikir kritis dan dinamis berani mempertanyakan realitas sosial
yang dirasakan tidak sesuai dengan apa yang mereka peroleh baik dalam teori
maupun idealisme mereka. Pemuda umumnya lebih lugu, murni dan jujur.
Mereka tidak suka plintat plintut.

5. Kelemahan Pemuda? (WEAKNESS)


Masa muda adalah masa yang berapi-api, penuh semangat, aktif dan dinamis.
Tidak jarang anak muda yang sangat menyukai hal-hal yang menantang dan
memacu

adrenalin.

Contohnya:

mendaki,

berkemah,

dan

segala

jenis

petualangan lainnya. Selama semangat itu diarahkan ke hal-hal yang positif,


tentu tidak masalah. Namun akan lain ceritanya bila itu diarahkan ke hal-hal
yang berdampak negatif dan merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Di era teknologi yang serba canggih ini, tidak urung membawa banyak
perubahan dalam hidup manusia termasuk kepribadian dan karakter generasi
mudanya. Ponsel, smartphone, ipad, laptop bukan lagi barang baru bagi anakanak muda. Kehadiran benda-benda hasil kemajuan teknologi tersebut ternyata
cukup banyak menyita waktu kita sebagai anak muda, bahkan orang tua
sekalipun. Orang menjadi sering lupa waktu dan lupa diri jika sudah
bercumbu dengan benda-benda itu. Apalagi sambil berselancar di dumay
alias dunia maya. Lupa waktu maksudnya lupa waktu kerja, waktu makan,
waktu sembahyang, waktu mandi, dan lupa lainnya. Lupa diri maksudnya lupa
3

akan keberadaan diri saat itu yang seharusnya melakukan kegiatan/kewajiban


tertentu. Lupa belajar, lupa bikin tugas, lupa pelajaran, lupa teman, dan banyak
lagi lupa-lupa lainnya. Kebiasaan ini lama-kelamaan membuat kita menjadi
santai dan kerap memandang remeh suatu hal terutama pekerjaan. Santai
memang penting dibandingkan terlalu serius, tujuannya agar tidak stress.
Namun akan menjadi tidak penting jika terlalu santai, karena akan terjadi
penundaan pekerjaan. Ada istilah Jangan menunda sampai besok, apa yang
bisa kamu kerjakan hari ini.

Alangkah baiknya istilah 3S (serius, stress,

stroke) dirubah menjadi 3S (santai, serius, sukses). Cukup mudah bukan?


Kelemahan anak muda lainnya adalah kurang pertimbangan dan terlalu gegabah
dalam mengambil keputusan. Faktor usia, emosional dan kematangan diri
membuat

remaja

dan

anak

muda

berpikir

pendek

ketika

mendapat

permasalahan. Entah masalah pelajaran, teman, pacar, atau masalah keluarga.


Hal ini juga disebabkan kebanyakan remaja begitu tertutup. Mereka lebih suka
curhat dengan temannya ketimbang orang tua. Padahal, orang tua adalah teman
terbaik dalam segala keadaan. Bukan berarti sahabat tidak baik, tetapi orang tua
punya pemikiran yang jauh lebih dewasa dan bijak.
Sesungguhnya, pemikiran yang panjang dan pertimbangan yang matang dalam
mengambil keputusan itu dapat dilatih secara perlahan dengan mengasah
kembali wiweka yang dimiliki. Semua manusia dibekali wiweka, namun tidak
semua orang mampu memberdayakan wiwekanya dengan maksimal. Wiweka
adalah kemampuan untuk menimbang-nimbang, memilih dan memilah mana
yang baik dan mana yang buruk, mana yang pantas dilakukan dan tidak pantas
dilakukan. Nah, penggunaan wiweka yang tidak maksimal ini menyebabkan
remaja sering melakukan kesalahan karena tidak mampu memilih yang baik.
Dan melihat yang buruk itu sebagai yang baik.

6. Peluang ? (OPPORTUNITY)
Sebenarnya generasi muda adalah generasi yang memiliki peluang paling besar
dalam hal apapun. Baik pendidikan, pekerjaan, pergaulan, dan pengalaman. Hal
ini karena tugas dan tanggung jawab generasi muda masih lebih sedikit
dibandingkan dengan orang tua. Remaja/pemuda yang belum menikah tentunya,
belum memiliki ikatan tanggung jawab yang besar layaknya orang tua yang
terikat ikatan suami istri dan harus bertanggung jawab atas keluarga.
Karenanya, remaja memiliki waktu yang notabene jauh lebih banyak dibanding
siapapun. Itulah hendaknya remaja/pemuda memanfaatkan waktunya untuk
memperbanyak ilmu pengetahuan, pengalaman, teman, dan sebagainya.
Kesempatan yang dimiliki tersebut juga sangat bermanfaat bila digunakan
4

untuk mengasah diri, mengasah potensi, minat dan bakat (swabhawa dan
swaguna). Untuk yang tidak/sulit menemukan bakatnya, maka saat ini sangat
baik untuk menggali, mencari dan menemukan bakat yang bisa dilakoni.
Karena tidak ada manusia di dunia ini yang tidak memiliki bakat.
Pemuda/remaja Hindu juga mempunyai banyak waktu untuk menyusun
sedemikian rupa rencana atau rancangan untuk hari depan yang lebih baik.
Kesempatan untuk bermimpi dan bercita-cita setinggi dan sehebat mungkin,
serta kesempatan mewujudkan mimpi-mimpi tersebut menjadi kenyataan.
Masa

muda/remaja

juga

sangat

baik

digunakan

untuk

bergaul

dan

bersosialisasi. Mengumpulkan banyak teman/rekan kerja, partner atau relasi.


Jadi, bukan hanya ilmu pengetahuan dan harta atau uang yang perlu
dikumpulkan, namun teman/kawan juga perlu dikumpulkan sebanyak mungkin.
Teman sangat berharga dalam hidup ini karena tidak ada manusia yang bisa
hidup sendiri. Manusia adalah makhluk sosial yang selalu membutuhkan
bantuan orang lain. Karenanya manusia butuh teman. Dimana kita bisa
memperoleh banyak teman? Di sekolah, dalam organisasi, dan dalam kegiatankegiatan

tertentu

seperti

perkemahan,

diklat,

seminar,

orientasi,

dan

sebagainya.
Peluang generasi muda yang lain adalah mengukir prestasi. Mereka-mereka
yang muda usianya cenderung memiliki banyak kesempatan untuk berkreasi,
mengharumkan nama keluarga, sekolah/kampus dan bangsa tentunya. Coba
perhatikan event-event

yang

selama

ini

dilaksanakan,

sebagian besar

merupakan ajang kreativitas untuk usia muda. Porseni, ajang pencarian bakat,
bintang radio/tv, Nyong Noni, Miss Indonesia, Putri Indonesia, pemilihan duta,
Festival Seni Sakral, Jambore Pasraman, Utsawa Dharma Gita, Lomba KTI
antar Perguruan Tinggi Hindu, dan sebagainya. Coba perhatikan yang menjadi
peserta dalam event-event tersebut, pasti orang-orang yang masih muda
usianya.
Dengan memanfaatkan masa muda untuk hal-hal positif dan bermanfaat, artinya
kita sekaligus telah menyenangkan dan membanggakan orang tua serta orangorang yang kita cintai. Bukankah hal ini yang diinginkan setiap orang? Nah,
karena itu tunggu apalagi, manfaatkan peluang emas ini mulai dari sekarang.

7.

Ancaman/Tantangan (THREAT)
Selain kekuatan, kelemahan dan peluang, tentu ada tantangan dalam setiap
tahapan hidup manusia. Demikian pula dengan pemuda/remaja pasti ada
tantangan yang harus dihadapi. Tidak bisa dipungkiri bahwa masa muda sangat
rentang dengan berbagai godaan yang siap menggoyahkan ketetapan diri dalam
5

proses pencapaian cita-cita. Dalam Hindu, godaan terbesar bagi manusia


termasuk anak muda, adalah nafsu (Kama). Hawa nafsu sangat banyak
jenisnya, ada yang bersifat jasmani dan rohani. Keinginan untuk bersenangsenang, bermalas-malasan, berfoya-foya menghabiskan uang, boros/royal.
Sedangkan nafsu yang bersifat rohani biasanya berbentuk aktivitas yang
berlebihan, misalnya belajar yang berlebihan hingga stress, pacaran berlebihan
sampai kebablasan, dan sebagainya.
Remaja juga sangat rentan menemukan permasalahan dalam hidupnya. Ini
karena remaja belum memiliki kematangan emosional, sehingga sering terlarut
dalam masalah sekalipun itu sepele. Apalagi jika masalah tak diselesaikan atau
dicarikan solusi, justru bisa membuat yang bersangkutan semakin stress.
Karena itu, alangkah baiknya jika remaja lebih terbuka kepada orang tua jika
ada masalah. Belum matangnya emosi remaja juga menyebabkan mereka
mudah terhasut dan dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tak bertanggung
jawab. Emosi, semangat dan idealisme yang meluap-luap tanpa pemikiran
panjang akan sangat mudah tersulut. Sehingga tidak heran jika banyak protes,
demontrasi, dan tawuran dilakoni oleh anak muda. Beberapa kelemahan yang
dimiliki pemuda/remaja tersebut juga menyebabkan mereka sulit mendapat
kepercayaan karena dianggap belum bisa bertanggung jawab. Bahkan ketika
mendapat

problematika,

mereka

kerapkali

mudah

menyerah

akibat

ketidaksiapan ataupun ketidakmandirian mereka.

8. Pemuda dan remaja Hindu yang IDEAL?


Jujur, bertanggungjawab, rajin sembahyang, rajin belajar, bisa dipercaya,
berwawasan luas baik agama dan akademis, dan mampu menggunakan
wiwekanya dengan baik.
Pemuda Hindu hendaknya menjadi sumber kekuatan moral sekaligus pemikir
yang rasional, berani mengungkapkan kebenaran ilmiah namun dengan caracara yang santun dan dalam penerangan dharma. Nah potensialitas pemuda
Hindu ini baru akan menjadi kekuatan efektif bila terorganisasi dengan baik.
Nah, disinilah peranan Peradah dan KMHDI sebagai organisasi Hindu untuk
para pemuda sangat diperlukan untuk mencetak kader-kader muda Hindu yang
militan.