Anda di halaman 1dari 18

BAB I

LATAR BELAKANG

Merencanakan kehamilan merupakan bagian penting dalam membentuk


keluarga bahagia dan sejahtera. Salah satu solusinya adalah melalui pemakaian
alat kontrasepsi yang dianggap sebagai upaya jitu menekan ledakan populasi
penduduk.1
Paradigma baru program Keluarga Berencana Nasional telah diubah
visinya dari mewujudkan norma keluarga kecil bahagia sejahtera (NKKBS)
menjadi visi untuk mewujudkan Keluarga berkualitas tahun 2015. Keluarga
yang berkualitas adalah yang sejahtera, sehat, maju, mandiri, memiliki jumlah
anak yang ideal, berwawasan kedepan, bertanggung jawab, harmonis dan
Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.1
Berdasarkan visi dan misi tersebut, program keluarga berencana nasional
mempunyai kontribusi penting dalam upaya meningkatkan kualitas penduduk.
Dalam kontribusi tersebut Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional
(BKKBN) telah mewujudkan keberhasilannya selain berhasil menurunkan angka
kelahiran dan pertumbuhan penduduk, juga terpenting adalah keberhasilan
mengubah sikap mental dan perilaku masyarakat dalam upaya membangun
keluarga berkualitas.2
Penggunaan kontrasepsi yang efektif, proses reproduksi dapat ditekan dan
dengan demikian angka kematian ibu juga dapat diturunkan. Selain itu, dengan
membatasi kehamilan dan kelahiran, wanita akan memiliki waktu dan kesempatan
yang lebih luas untuk mencapai status sosial dan ekonomi yang lebih tinggi.2
Dalam referat ini, akan dibahas kontrasepsi non hormonal, meliputi : AKDR,
Tubektomi dan Vasektomi.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 AKDR
2.1.1. Definisi
AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim) adalah suatu alat atau benda yang
dimasukkan ke dalam rahim yang sangat efektif, reversibel dan berjangka
panjang, dapat dipakai oleh semua perempuan usia reproduktif.1
AKDR atau IUD atau Spiral adalah suatu alat yang dimasukan ke dalam
rahim wanita untuk tujuan kontrasepsi.1
AKDR adalah suatau usaha pencegahan kehamilan dengan menggulung
secarik kertas, diikat dengan benang lalu dimasukkan ke dalam rongga rahim.3
AKDR atau IUD atau Spiral adalah suatu benda kecil yang terbuat dari
plastik yang lentur, mempunyai lilitan tembaga atau juga mengandung hormon
dan dimasukkan ke dalam rahim melalui vagina dan mempunyai benang.2
2.1.2 Macam Macam AKDR

Gambar 2.1 Jenis Jenis AKDR


2

Pada saat ini AKDR telah memasuki generasi ke 4 karena itu berpuluhpuluh macam AKDR telah dikembangkan. Mulai dari genersi pertama yang
terbuat dari benang sutra dan logam sampai generasi plastic (polietilen) baik yang
ditambah obat maupun tidak. Yang paling banyak digunakan dalam program
Keluarga Berencana di Indonesia adalah AKDR jenis Lippes Loop. AKDR dapat
dibagi dalam bentuk yang terbuka linear dan bentuk tertutup sebagai cincin. Yang
termasuk dalam golongan bentuk terbuka dan linear antara lain adalah Lippes
loop, saf T coil, multiload 250, Cu-7, Cu-T, Cu T 380A, Spring coil, Margulies
spiral, dan lain lain. Sedang yang termasuk dalam golongan bentuk tertutup
dengan bentuk dasar cincin antara lain adalah Ota ring, Antigon F, Ragab ring,
cincin Gravenberg, cincin Hall-stone, Birnberg bow, dan lain lain.3,4,5
Jenis Jenis IUD yang ada di Indonesia, antara lain :5

Gambar 2.2 Jenis Jenis IUD


a)

Copper T
IUD berbentuk T, terbuat dari bahan polyethelene di mana pada bagian

vertikalnya diberi lilitan kawat tembaga halus. Lilitan kawat tembaga halus ini
mempunyai efek antifertilisasi (anti pembuahan) yang cukup baik. IUD bentuk T
yang baru IUD ini melepaskan lenovorgegestrel dengan konsentrasi yang rendah
selama minimal lima tahun. Dari hasil penelitian menunjukkan efektivitas yang
tinggi dalam mencegah kehamilan yang tidak direncanakan maupun perdarahan
menstruasi. Kerugian metode ini adalah tambahan terjadinya efek samping
hormonal dan amenorhea.

b)

Copper-7
IUD ini berbentuk angka 7 dengan maksud untuk memudahkan

pemasangan. Jenis ini mempunyai ukuran diameter batang vertikal 32 mm dan


ditambahkan gulungan kawat tembaga (Cu) yang mempunyai luas permukaan 200
mm2, fungsinya sama fjseperti halnya lilitan tembaga halus pada jenis Copper-T.
c)

Multi Load
IUD ini terbuat dari plastik (polyethelene) dengan dua tangan kiri dan kanan

berbentuk sayap yang fleksibel. Panjangnya dari ujung atas ke bawah 3,6 cm.
Batangnya diberi gulungan kawat tembaga dengan luas permukaan 250 mm2 atau
375 mm2 untuk menambah efektivitas.
d)

Lippes Loop
IUD ini terbuat dari bahan polyethelene, bentuknya seperti spiral atau huruf

S bersambung. Untuk memudahkan kontrol, dipasang benang pada ekornya.


Lippes Loop terdiri dari 4 jenis yang berbeda menurut ukuran panjang bagian
atasnya. Tipe A berukuran 25 mm (benang biru), tipe B 27,5 mm 9 (benang
hitam), tipe C berukuran 30 mm (benang kuning), dan 30 mm (tebal, benang
putih) untuk tipe D. Lippes Loop mempunyai angka kegagalan yang rendah.
Keuntungan lain dari pemakaian spiral jenis ini ialah bila terjadi perforasi jarang
menyebabkan luka atau penyumbatan usus, sebab terbuat dari bahan plastik. Yang
banyak dipergunakan dalam program KB nasional adalah IUD jenis ini.
e)

IUD Nova T
Terbentuk dari rangka plastik dan tembaga. Pada ujung lengan IUD

bentuknya agak melengkung tanpa ada tembaga, tembaga hanya ada pada batang
IUD.
2.1.3 Mekanisme Kerja AKDR
Sampai sekarang mekanisme kerja AKDR belum diketahui dengan pasti.
Kini pendapat yang terbanyak ialah bahwa AKDR dalam kavum uteri
menimbulkan reaksi peradangan endometrium yang disertai dengan sebukan
leukosit yang dapat menghancurkan blastokista atau sperma. Pada pemeriksaan

cairan uterus pada pemakai AKDR sering kali dijumpai pula sel sel makrofag
(fagosit) yang mengandung spermatozoa.3
Kar dan kawan kawan selanjutnya menemukan sifat sifat dan isi cairan
uterus mengalami perubahan perubahan pada pemakai AKDR, yang
menyebabkan blastokista tidak dapat hidup dalam uterus, walaupun sebelumnya
terjadi nidasi. Penyelidik penyelidik lain menemukan sering adanya kontraksi
uterus pada pemakai AKDR, yang dapat menghalangi nidasi. Diduga ini
disebabkan oleh meningkatnya kadar prostaglandin dalam uterus pada wanita
tersebut.3
Pada AKDR bioaktif mekanisme kerjanya selain menimbulkan peradangan
seperti pada AKDR biasa, juga oleh karena ion logam atau bahan lain yang
melarut

dari

AKDR

mempunyai

pengaruh

terhadap

sperma.

Menurut

penyelidikan, ion logam yang paling efektif adalah ion logam tembaga (Cu);
pengaruh AKDR bioaktif dengan berkurangnya konsentrasi logam makin lama
makin berkurang.3
Sebagai metode biasa (yang dipasang sebelum hubungan seksual terjadi)
AKDR mengubah transportasi tuba dalam rahim dan mempengaruhi sel telur dan
sperma sehingga pembuahan tidak terjadi. Sebagai kontrasepsi daruat (dipasang
setelah hubungan seksual terjadi) dalam beberapa kasus, mekanisme yang lebih
mungkin adalah dengan mencegah terjadinya implantasi atau penyerangan sel
telur yang telah dibuahi ke dalam dinding rahim.2
2.1.4 Keuntungan AKDR3,5
AKDR mempunyai keunggulan terhadap cara kontrasepsi yang lain, karena :
1) Umumnya hanya memerlukan satu kali pemasangan dan dengan demikian
satu kali motivasi
2) Tidak menimbulkan efek sistemik
3) Ekonomis dan cocok untuk penggunaan secara massal
4) Efektivitas cukup tinggi
5) Reversibel

2.1.5 Efek Samping AKDR3,5,6,7


1) Perdarahan
Umumnya setelah pemasangan AKDR, terjadi perdarahan sedikit sedikit
yang cepat berhenti. Kalau pemasangan dilakukan sewaktu haid,
perdarahan yang sedikit sedikit ini tidak akan diketahui oleh akseptor.
Keluhan yang sering terdapat pada pemakai AKDR ialah menoragia,
spotting metroragia. Jika terjadi perdarahan banyak yang tidak dapat
diatasi, sebaiknya AKDR dikeluarkan dan diganti dengan AKDR yang
mempunyai ukuran kecil. Jika perdarahan sedikit sedikit, dapat
diusahakan

mengatasinya

dengan

pengobatan

konservatif.

Pada

perdarahan yang tidak berhenti dengan tindakan tindakan tersebut di


atas, sebaiknya AKDR diangkat, dan digunakan cara kontrasepsi lain.
2) Rasa nyeri dan kejang di perut
Rasa nyeri atau kejang di perut dapat terjadi segera setelah pemasangan
AKDR; biasanya rasa nyeri ini berangsur angsur hilang dengan
sendirinya. Rasa nyeri dapat dikurangi atau dihilangkan dengan jalan
memberi analgetika. Jika keluhan berlangsung terus, sebaiknya AKDR
dikeluarkan dan diganti dengan AKDR yang mempunyai ukuran yang
lebih kecil.
3) Gangguan pada suami
Kadang kadang suami dapat merasakan adanya benang AKDR sewaktu
bersenggama. Ini disebabkan oleh benang AKDR yang keluar dari porsio
uteri terlalu pendek atau terlalu panjang. Untuk mengurangi atau
menghilangkan keluhan ini, benang AKDR yang terlalu panjang dipotong
sampai kira kira 2 3 cm dari porsio, sedang jika benang AKDR terlalu
pendek, sebaiknya AKDRnya diganti. Biasanya dengan cara ini keluhan
suami akan hilang.
4) Ekspulsi (Pengeluaran sendiri)
Ekspulsi AKDR dapat terjadi untuk sebagian atau seluruhnya. Ekspulsi
biasanya terjadi waktu haid dan dipengaruhi oleh :

a. Umur dan paritas : pada paritas yang rendah, 1 atau 2, kemungkinan


ekspulsi dua kali lebih besar daripada paritas 5 atau lebih ; demikian
pula pada wanita muda ekspulsi lebih sering terjadi dari pada wanita
yang umurnya lebih tua.
b. Lama pemakaian :Ekspulsi paling sering terjadi pada tiga bulan
pertama setelah pemasangan.
c. Ekspulsi sebelumnya : Pada wanita yang pernah mengalami ekspulsi,
maka pada pemasangan kedua kalinya, kecenderungan terjadinya
ekspulsi lagi adalah kira kira 50%. Jika terjadi ekspulsi,
pasangkanlah AKDR dari jenis yang sama, tetapi dengan ukuran yang
lebih besar dari pada sebelumnya; dapat juga diganti dengan AKDR
jenis lain.
d. Jenis dan ukuran : Jenis dan ukuran AKDR yang dipasang sangat
mempengaruhi frekuensi ekspulsi. Pada Lippes loop, makin besar
ukuran AKDR makin kecil kemungkinan terjadinya ekspulsi.
e. Faktor psikis : Oleh karena motilitas uterus dapat dipengaruhi oleh
faktor psikis, maka frekuensi ekspulsi lebih banyak dijumpai pada
wanita wanita yang emosional dan ketakutan, yang psikis labil.
Kepada wanita wanita seperti ini penting diberikan penerangan yang
cukup sebelum dilakukan pemasangan AKDR.
2.1.6 Kontraindikasi Pemasangan AKDR3
Kontraindikasi untuk pemasangan AKDR dapat dibagi atas 2 golongan,
yaitu kontraindikasi yang relatif dan kontraindikasi yang mutlak.
a. Kontraindikasi relatif
a) Mioma uteri dengan adanya perubahan bentuk rongga uterus
b) Insufisiensi serviks uteri
c) Uterus dengan parut pada dindingnya, seperti pada bekas seksio sesarea,
anukleasi mioma dan sebagainya
d) Kelainan yang jinak serviks uteri, seperti erosion porsiones uteri

b. Kontraindikasi mutlak
a) Kehamilan
b) Adanya infeksi yang aktif pada traktus genitalis
c) Adanya tumor ganas pada traktus genitalis
d) Adanya metroragia yang belum disembuhkan
2.1.7 Pemasangan AKDR3
AKDR dapat dipasang dalam keadaan berikut :
a.

Sewaktu haid sedang berlangsung


Pemasangan AKDR pada waktu ini dapat dilakukan pada hari hari pertama
atau pada hari hari terakhir haid. Keuntungan pemasangan AKDR pada
waktu ini antara lain : Pemasangan lebih mudah oleh karena serviks pada
waktu itu agak terbuka dan lembek, Rasa nyeri minimal, perdarahan yang
timbul sebagai akibat pemasangan tidak seberapa dirasakan, kemungkinan
pemasangan AKDR pada uterus yang sedang hamil tidak ada.

b.

Sewaktu post partum


a) Secara dini (Immediate insertion) yaitu AKDR dipasang pada wanita yang
melahirkan sebelum dipulangkan dari RS
b) Secara langsung (direct insertion) yaitu AKDR dipasang dalam masa tiga
bulan setelah partus atau abortus
c) Secara tidak langsung (indirect insertion) yaitu AKDR dipasang sesudah
masa tiga bulan setelah partus atau abortus; atau pemasangan AKDR
dilakukan pada saat yang tidak ada hubungan sama sekali dengan partus
atau abortys.
Bila pemasangan AKDR tidak dilakukan dalam waktu seminggu setelah
bersalin, sebaiknya AKDR ditangguhkan sampai 6 8 minggu post partum
oleh karena jika pemasangan AKDR dilakukan antara minggu kedua dan
minggu keenam setelah partus, bahaya perforasi dan ekspulsi lebih besar.

c.

Sewaktu postabortum

Sebaiknya AKDR dipasang segera setelah abortus oleh karena segi fisiologi
dan psikologi waktu itu adalah paling ideal. Tetapi, septic abortion
merupakan kontraindikasi.
2.2 TUBEKTOMI
2.2.1. Definisi
Tubektomi (Kontrasepsi mantap) merupakan terjemahan dari bahasa
inggris, secure contraception. Nama lain adalah sterilisasi (sterilization), atau
kontrasepsi operatif (surgical contraception). Dari sini dikenal istilah medis
operatif wanita (MOW) untuk sterilisasi wanita dan medis operatif pria (MOP)
untuk sterilisasi laki-laki. Tubektomi adalah prosedur bedah sukarela untuk
menghentikan fertilitas (kesuburan seorang perempuan). Sangat efektif dan
permanen.2
Pada wanita sterilisasi lazimnya dilakukan dengan memotong dan
mengambil sebagian saluran telur (tuba) sehingga dikenal istilah tubektomi.
Kadang kadang prosedur sterilisasi tidak dilakukan dengan memotong tuba
tetapi cukup dengan mengikatnya (membuatnya buntu), dan dari sini lahir istilah
tubal ligation atau tubal occlusion. Pendekatannya dapat dilakukan dengan
pembedahan kecil yang dikenal dengan nama minilaparotomi atau disingkat
minilap dan dengan melakukan laparoskopi disebut sterilisasi laparoskopi
(laparascopic sterilization).2

2.2.1. Cara Kerja


Dengan mengoklusi tuba fallopi (mengikat dan memotong atau memasang
cincin), sehingga sperma tidak dapat bertemu dengan ovum. 4,8
2.2.2. Indikasi 3,8
1. Usia > 26 tahun
2. Paritas > 2
3. Yakin telah mempunyai besar keluarga yang sesuai dengan kehendaknya
4. Paham dan secara sukarela setuju dengan prosedur ini.

2.2.3. Keuntungan3,5,8
1. Sangat efektif (terjadi 0,2-0,4 kehamilan per 100 perempuan selama
tahun pertama penggunaan).
2. Tidak mempengaruhi proses menyusui (breastfeeding).
3. Tidak bergantung pada faktor sanggama.
4. Pembedahan sederhana, dapat dilakukan dengan anestesi local
5. Tidak ada efek samping dalam jangka panjang.

2.2.4

Pembedahan Tubektomi 3,7,9


Ada dua pendekatan operasi yang lazim ditempuh untuk melakukan
sterilisasi wanita yakni minilaparotomi dan laparoskopi.
a. Mini Laparotomi
adalah operasi membuka rongga perut melalui irisan kecil yang tidak
lebih dari 5 cm, tetapi secara teknis, istilah ini dipakai untuk operasi
strerilisasi wanita dengan membuat irisan kecil melalui dinding perut.
Minilaparotomi juga dapat dilakukan dalam masa interval dengan
irisan suprapubik, baik vertikal maupun horizontal, tergantung
ketrampilan

operator.

Pasien

harus

dalam

posisi

litotomi.

Minilaparotomi merupakan cara yang lebih tepat dibandingkan


laparoskopi karena tekniknya yang sederhana, sehingga lebih mudah
untuk melatih operator.
b. Laparoskopi
adalah melihat isi rongga perut dengan menggunakan lensa, sejenis
teleskop. Menutup tuba dengan bantuan laparoskop. Keuntungan cara
ini adalah, ia dirasakan lebih mudah, lebih cepat, dan lebih aman.
Kerugiannya adalah bila terjadi perlukaan alat dalam (trauma pada
usus), atau terjadi perdarahan, kadang-kadang memerlukan operasi
terbuka. Sehingga sampai sekarang laparoskopi hanya boleh
dikerjakan oleh dokter yang sudah terlatih dan biasanya adalah ahli
obstetric dan ginekologi. Pada dasarnya ada dua cara untuk menutup
10

tuba secara laparoskopi, yakni secara elektris dan mekanis. Pada yang
pertama pada satu segmen tuba sepanjang 3-4 cm di daerah isthmus,
dijepit dengan penjepit yang beraliran listrik. Dengan cara ini segmen
tuba yang terjepit akan mengalami koagulasi. Pada cara ini, ujung
penjepit (forceps) dibuat panas dengan aliran listrik lemah yang berasal
dari lilitan kawat halus yg berada di dalam lengan penjepit sehingga
tidak ada arus yang menyentuh tubuh, tetapi tuba dibakar dengan panas
yang dihasilkan oleh aliran listrik tersebut. Secara mekanisme tuba
dibuntu dengan memasang sebuah klip atau cincin yang terbuat dari
karet silikon. Klip yang terkenal adalah klip Filshier (inggris) dan
Hulka Clemens (USA). Kedua klip ini tidak banyak dipakai di
Indonesia, tetapi cincin tuba (tubal ring) atau cinci Falop (Falope ring)
sangat banyak digunakan. Pasien cukup diberi sedative dan analgesia
ringan.

2.2.5

Jenis Jenis Tubektomi3,5

1. Metode Irving
a. Fenestrasi dilakukan di bawah tuba sekitar 4 cm dari uterotubal junction
menggunakan gunting atau hemostat.
b. Tuba kemudian diligasi dua kali dan dipotong. Rongga yang dalam dibuat
di miometrium uterus bagian posterior. Garis putus-putus menunjukkan
garis insisi jika mobilisasi tambahan tuba proksimal dibutuhkan untuk
mengubur ujung tuba dalam miometrium.
c. Ujung-ujung tuba proksimal dijahit ke dalam rongga miometrium dan
jarum dikeluarkan melalui lapisan serosa uterus.
d. Pengikatan jahitan mengamankan ujung-ujung tuba proksimal di dalam
rongga miometrium

11

Gambar 2.3 Metode Irving

2. Pomeroy Modifikasi
Cara pomeroy adalah cara yang paling sederhana, mudah, paling banyak
dipakai dan merupakan cara baku. Tuba diangkat bagian tengah pada bagian
tengah sehingga terbentuk sebuah jerat (loop) pangkal jerat diikat dan
sebagian jerat dipotong. Pengikatan menggunakan benang yang mudah diserap
dengan maksud mengurangi pembentukan reaksi radang. Setelah benang
diserap kedua ujung tuba akan terpisah satu sama lain sehingga memperkecil
kemungkinan terjadinya rekanalisasi. Angka kegagalan pada teknik Pomeroy
kira-kira adalah 0,2 per 100 wanita.
Salah satu kelebihan cara ini dibanding cara lain adalah bila diperlukan
penyambungan kembali angka keberhasilannya lebih tinggi, yang dapat
mencapai 55% dengan menggunakan teknik bedah mikro. Dalam metode ini,
tuba dipegang pada bagian tengahnya, dapat dengan klem atraumatik kecil
seperti Babcock, dan lengkung tuba diangkat, ligasi dilakukan dengan jahitan
ganda dengan benang chromic catgut absorbable untuk memungkinkan ujungujung tuba yang dipotong untuk terpisah secara cepat setelah pembedahan.
Mereka percaya bahwa tindakan ini akan memungkinkan ujung-ujung tuba
mengalami fibrosis secara alami dan bersatu dengan peritoneal tanpa
pembentukan fistula ataupun hubungan (communication). Hal ini juga menjadi
alasan bagi modifikasi yang umum dilakukan untuk tekhnik Pomeroy, di mana
benang chromic asli digantikan dengan plain catgut karena degradasi plain
catgut terjadi secara lebih cepat.

12

Gambar 2.4 Pomeroy modifikasi


a. Lengkung tuba bagian isthmus diangkat dan dilitasi pada pangkalnya
dengan satu atau dua ikatan benang plain catgut no.1. jika dilakukan
melalui insisi minilaparotomi, ikatan ini harus dipegang untuk
menghindari retraksi premature potongan pangkal tuba ke dalam abdomen
ketika lengkung tuba dipotong.
b. Fenestrasi dibuat secara tumpul melalui mesenterium dalam lengkung
tuba, dan tiap bagian tuba di kedua sisi fenestrasi ini dipotong secara
individual. Ujung potongan tuba diinspeksi untuk hemostasis dan
dibiarkan beretraksi ke dalam abdomen.
3. Metode Uchida
a. Injeksi larutan vasokonstriktif diberikan di bawah lapisan serosa tuba
sekitar 6 cm dari uterotubal junction. Lapisan serosa kemudian diinsisi
(garis putus-putus).
b. Ujung antimesenterika dari mesosalfing ditarik ke arah uterus, membuka
sekitar 5 cm tuba.
c. Tuba diligasi pada proksimal dan dipotong, kemudian potongan yang
terikat dibiarkan beretraksi ke dalam mesosalfing. Hemostat pada
potongan distal tetap dipertahankan untuk memudahkan eksteriorisasi
bagian tuba ini.
d. Mesosalfing ditutup. Jahitan pursestring pada mesosalfing di sekitar
potongan tuba yang dieksteriorisasi mengamankan posisinya sehingga
terbuka ke abdomen, sedangkan tuba proksimal yang diligasi dikubur

13

dalam mesosalfing. Ketika jahitan pursestring diselesaikan, hemostat


dapat disingkirkan.

Gambar 2.5 Metode Uchida

4. Metode Parkland
a. Fenestrasi 2 hingga 3 cm dibuat di bawah bagian isthmus tuba baik
dengan gunting atau secara tumpul dengan hemostat.
b. Ligasi tuba. Penarikan benang selama ligasi atau selama pemotongan tuba
dapat merobek tuba dari mesenterium, menyebabkan perdarahan.
c. Bagian dari tuba disingkirkan

2.3 VASEKTOMI
Pada tahun-tahun terakhir ini vasektomi makin banyak dilakukan
dibeberapa negara seperti India, Pakistan, Korea, AS, dll, untuk menekan laju
pertambahan penduduk. Di Indonesia, vasektomi tidak termasuk dalam program
keluarga berencana nasional. Dan masih banyak pria di Indonesia menganggap
vasektomi tersebut identik dengan dikebiri dan dapat menimbulkan impotensi5.
Vasektomi, selain aman dari kegagalan dengan tingkat keberhasilan 79 %
menurut Kasmiyati, juga mampu menaikkan libido seks. Ini berarti, vasektomi
sama sekali tak menimbulkan impotensi atau ketidak jantanan.3
2.3.1 Indikasi Vasektomi3
Indikasi vasektomi ialah bahwa pasangan suami isteri tidak menghendaki
kehamilan lagi dan pihak suami bersedia bahwa tindakan kontrasepsi dilakukan
pada dirinya.

14

2.3.2 Kontraindikasi Vasektomi3


Kontraindikasi, sebenarnya tidak ada, kecuali bila ada kelainan lokal yang dapat
mengganggu sembuhnya luka operasi, jadi sebaiknya harus disembuhkan dahulu.

2.3.3

Keuntungan Vasektomi3
Tidak menimbulkan kelainan fisik maupun mental
Tidak mengganggu libido seksualitas
Operasinya hanya berlangsung sebentar sekitar 10 15 menit

2.3.4

Teknik Vasektomi3
Adapun tekniknya, berupa :
a)

Mula mula kulit skrotum di daerah operasi dilakukan asepsis dan


antisepsis, kemudian dilakukan anestesi lokal dengan xilokain.
Anestesi dilakukan di kulit skrotum dan jaringan sekitarnya di bagian
atas, dan pada jaringan di sekitar vas deferens

b)

Vas dicari dan setelah ditentukan lokasinya, dipegang sedekat


mungkin di bawah kulit skrotum

c)

Dilakukan sayatan pada kulit skrotum sepanjang 0,5 1 cm di dekat


tempat vas deferens. Setelah terlihat, dijepit dan dikeluarkan dari
sayatan (harus yakin itu benar vas deferens), vas dipotong sepanjang 1
2 cm dan kedua ujungnya diikat

d)

Setelah dijahit, tindakan diulang pada bagian sebelahnya.

Setelah operasi vasektomi, boleh melakukan sanggama setelah 6 hari. Itupun


wajib menggunakan kondom selama 12 kali hubungan demi pengamanan.
2.3.5 Komplikasi Vasektomi7,9
Perdarahan
Hematoma skrotum
Infeksi pada luka yang timbul atau epididimitis

15

Granuloma sperma berupa benjolan yang kadang terasa nyeri pada


krotum bagian atas. Biasanya hal ini timbul 1 2 minggu setelah
vasektomi dilakukan.

16

BAB III
KESIMPULAN

1.

AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim) adalah suatu alat atau benda yang
dimasukkan ke dalam rahim yang sangat efektif, reversibel dan berjangka
panjang, dapat dipakai oleh semua perempuan usia reproduktif

2.

Ada dua pendekatan operasi yang lazim ditempuh untuk melakukan


tubektomi yakni minilaparotomi dan laparoskopi, jenis- jenis tubektomi yang
ada yaitu: metode irving, pomeroy modifikasi, metode uchida, metode
parkland, koagulasi unipolar, koagulasi bipolar, gelang karet silikon (silicone
band method), spring clip, filshie clip, dan teknik essure.

3. Komplikasi vasektomi yaitu Perdarahan, hematoma skrotum, Infeksi pada


luka yang timbul atau epididimitis, dan Granuloma sperma

17

DAFTAR PUSTAKA

1. Saifuddin, Abdul Bari. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi..


Edisi Pertama cetakan Keempat, Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo. 2003
2. BKKBN.

Alat

Kontrasepsi

Dalam

Rahim.

Diakses

dari

http://www.bkkbn-jatim.go.id/bkkbn-jatim/html/akdr.htm
3. Wiknjosastro H. Ilmu Kandungan. Cetakan ketiga. Jakarta: Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 1999
4. Rabe, Thomas. Buku Saku Ilmu Kandungan. Jakarta : Hipokrates. 2002
5. Andrews, Gilly. Buku Ajar Kesehatan Reproduksi Wanita. Edisi 2. Jakarta:
EGC. 2009
6. Cunningham F G, Gant NF. Williams Obstetri. Edisi ke-21.Volume 2.
Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2006
7. Jones, DL. Dasar Dasar Obstetri & Ginekologi. Edisi 6. Jakarta :
Hipokrates. 2001
8. Affandi B. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta.2004.
9. Proverawati A, dkk. Panduan Memilih Kontrasepsi.Yogyakarta : Nuha
Medika. 2010

18