Anda di halaman 1dari 2

Diaper Rush

1. Tinjauan teori
Diaper rush (ruam popok) adalah adanya keluhan bintik merah pada kelainan dan bokong pada
bayi yang mengenakan pampers yang diakibatkan oleh gesekan-gesekan kulit dengan pampers.
Diaper rush/ruam popok biasanya dialami oleh bayi berusia 4-15 bulan.
Penyebab ruam popok bisa karena kebersihannya tidak terjaga, sering buang air, bayi sedang
mengkonsumsi antibiotik dari air susu ibunya. Ruam popok dapat terpicu akibat beberapa sebab
yaitu :
a. Ruam yan memang disebabkan penggunaan popok, termasuk iritasi kulit, biang keringat
dan infeksi jamur candida albicans yang berasal dari kotoran.
b. Ruam yang terjadi diarea popok dan ditempat lain, tetapi diperparah dengan pengunaan
popok, misalnya radang kulit akibat alergi (dermatitis atopi), dermatitis seboroik dan
psoriasis.
c. Ruam popok yang terjadi di area popok tetapi tidak berkaitan dengan penggunaan popok,
tetapi akibat infeksi kulit akibat bakteri, kelainan daya tahan tubuh , kekurangan zat seng,
sipilis, skabies hingga HIV
d. Ruam popok yang sebenarnya dan akan sembuh hanya dengan mengganti popok lebih
sering serta menjaga kebersihan sekitar popok.
Tanda dan gejala:
a. Iritasi pada kulit yang terkena muncul sebagai crytaema
b. Crupsi pada daerah kontak yang menonjol seperti pantat, alat kemaluan, perut bawah
dan paha atas.
c. Keadaan lebih parah terdapat : pencipta, crythamatosa.
2. Penatalaksanaan
Subyektif :
a. Orangtua mengatakan, bayinya usia 7 bulan.
b. Orangtua mengatakan, pada pantat bayinya terdapat bintik-bintik merah.
c. Orangtua mengatakan, bayinya sering memakai pampers.

Obyektif :
a. Inspeksi : pantat bayi berwarna kemerahan
b. Palpasi : ada bintik-bintik pada pantat bayi.

Assessment :
Diaper Rush
Planning :
a. Menjelaskan hasil pemeriksaan kepada orangtua bayi.
b. Menjelaskan kepada orangtua bayi mengenai apa yang dimaksud dengan diaper rush.
c. Daerah yang terkena diaper rash, tidak boleh terkena air dan harus dibiarkan terbuka dan
tetap kering.
d. Untuk membersihkan kulit yang iritasi dan menggunakan kapas yang mengandung
minyak.
e. Segera dibersihkan dan dikeringkan bila anak kencing atau BAB.
f. Posisi tidur anak diatur supaya tidak menekankan kulit/ daerah yang iritasi.
g. Usaha memberikan makanan TKTP.
h. Memperhatikan kebersihan kulit dan membersihkan kulit secara keseluruhan.
i. Memelihara kebersihan pakaian dan alat- alatnya.
j. Pakaian/celana yang basah oleh air kencing harus direndam di dalam air di campur
acidum boricun.
k. Pencegahan :
1) Jika menggunakan popok dari kain, sebaiknya haruslah terbuat dari bahan katun
yang lembut. Jangan lah terlalu ketat menggunakan diaper, hal ini agar kulit bayi
tidak tergeser.
2) Sebaiknya perhatikanlah daya tamping dari diaper tersebut.
3) Cobalah menghindari pemakaian diaper yang terlalu sering.
4) Janganlah ada sisa urine/kotoran saat mebersihkan kulit bayi karena kulit tidak
bersih akan sangat mudah mengalami ruam popok.
5) Jangan lupa menggunakan sabun jika kulit bayi yang tertutup diaper terdapat
merah dan kasar.
6) Beri krim nistatin pada lesi atau olesi lesi dengan larutan gentian violet 0,5%
setiap mengganti popok, lanjuykan sampai 3 hari setelah lesi menghilang.
7) Pastikan bahwa popok diganti setiap basah/kotor.

Buku Sumber Neonatus, Bayi dan Balita, Pengarang Dwi Maryanti, S.SiT, Sujianti, S,Sit, Tri
Budiarti, S.SiT dan Penerbit Trans Info Media, Jakarta