Anda di halaman 1dari 4

TEHNIK KOMUNIKASI PADA KEADAAN KHUSUS

Gangguan indra pada klien yang dirawat di Rumah Sakit ataupun individu di dalam
masyarakat umum antara lain disebabkan oleh :
1. Gangguan anatomik organ
2. Gangguan fisiologik organ
3. Kematangan/ maturasi
4. Degenerasi
5. Kognitif persepsi
Dalam melakukan komunikasi, berbagai organ tubuh diperlukan untuk menghasilkan
penyampaian pesan kepada lingkungan. Sistem organ penginderaan yang terlibat dalam
komunikasi dikenal dengan pancaindera, yang meliputi penglihatan, penciuman,
pendengaran, wicara dan peraba. Keseluruhan indra dikontrol oleh sistem saraf yang
mengintegrasi sensasi / sensori yang dirasakan dan memori serta emosi yang tersimpan dalam
otak.
Ada dua tingkat gangguan komunikasi yaitu gangguan pada sistem penginderaan dan pada
tingkat integratif. Gangguan pada sistem penginderaan meliputi gangguan penglihatan,
gangguan penginderaan dan gangguan wicara. Sedangkan gangguan yang melibatkan sistem
integratif yang lebih tinggi, antara lain gangguan mental, gangguan maturasi pikir (degenerasi
proses pikir) dan pada klien yang tidak sadar ; termasuk klien yang berbahasa asing.
Keadaan-keadaan khusus :
1. Komunikasi pada klien dengan gangguan penglihatan
2. Komunikasi pada klien dengan gangguan pendengaran
3. Komunikasi pada klien dengan gangguan wicara
4. Komunikasi pada klien yang tidak sadar
5. Komunikasi pada klien yang berbahasa asing
6. Komunikasi pada klien dengan tingkat pengetahuan rendah / gangguan kematangan
kognitif.
KOMUNIKASI PADA KLIEN DENGAN GANGGUAN WICARA
Neurofisiologi Bicara
Korteks serebri adalah permukaan serebrum yang merupakan pusat dari semua organ yang
terdapat pada tubuh manusia. Korteks serebri merupakan pusat dari fungsi-fungsi sensoris
dan fungsi-fungsi motoris.
Pergerakan organ bicara banyak ditentukan atau dikendalikan oleh kedua hemisfer akan tetapi
kemampuan bahasa banyak ditentukan oleh hemisfer kiri. Pusat-pusat bahasa terdapat pada
lobus frontalis, girus parasentralis, girus supramarginal, girus angularis, girus parietalis
inferior, lobus temporalis serta bagian anterior dari lobus oksipitalis.
Mekanisme bicara
Organ pendengaran :
Sumber bunyi bunyi / getaran udara impuls mekanik (telinga tengah) impuls elektrik
(telinga dalam) saraf pendengaran (saraf austikus) korteks pendengaran di otak.

Pusat persepsi (Wernicke) :


Di sini impuls diolah dan diamati sehingga terdapat proses-proses : pembedaan rangsangan
dengan latar belakang, penyimpanan rangsangan, pembentukan struktur dan analisa.
Sound bank :
Bagian yang berfungsi sebagai relay station yang menghubungkan antara pusat persepsi
dengan pusat pengertian. Disini rangsangan-rangsangan yang berarti atau akan diartikan
dismpan dan diteruskan ke pusat pengertian untuk diolah lebih lanjut.
Pusat pengertian :
Rangsangan yang diterima (setelah melalui proses sensasi dan persepsi) selanjutnya
diasosiasikan dengan pengertian yang sudah dimiliki, melaui proses berpikir akhirnya
rangsangan tersebut menjadi suatu konsep. Konsep tersebut selanjutnya disimpan dan siap
dipergunakan dalam proses asosiasi, reproduksi, imajinasi, abstraksi, dan sekaligus akan
berfungsi pula dalam proses berpikir.
Engram otak :
Pusat menyimpan pola-pola garakan bunyi-bunyi (terutama bunyi bicara) yang diterima. Hal
ini berfungsi ketika seseorang hendak mengekspresikan ide atau knsep yang diekspresikan
tersebut dapat diterina dan dinengerti oleh pendengar sesuai dengan maksud pembicaranya.
Pusat motorik :
Pusat mengendalikan pergerakan organ bicara, mekanisme pernafasan, fonasi, artikulasi dan
resonansi sewaktu berbicara. Mekanisme tersebut sesuai dengan pola gerakan yang sudah
ditentukan oleh engran bank.
Organ bicara :
Meliputi seluruh organ yang berfungsi dalam proses pernafasan, fonasi, artikulasi dan
resonansi. Organ pernapasan : diafragma, otot-otot dada, otot-otot perut, dan saluran
pernapasan. Organ fonasi : laring terutama plika vokalis. Organ artikulasi : labium, palatum,
lidah dan gigi serta faring.
Umpan balik :
Merupakan suatu proses sensorik untuk mengendalikan (kesadaran dan kontrol ) pergerakan
organ bicara. Dibedakan menjadi 2 macam :
1. Umpan balik auditorius : dimana dalam kurun waktu kurang dari seperseratus dua puluh
lima detik (0.008 detik) seseorang akan mendengar suaranya sendiri. Dengan demikian ia
akan mengetahui dan sadar terhadap kebenaran atau kesalahannya.
2. Umpan balik kinestetis : waktu terjadi mpuls motorik dari saraf ke otot sekaligus oaring
akan merasakan pergerakan yang terjadi. Dengan demikian orang akan sadar tentang
kebenaran atau kesalahan gerakan organ bicaranya.
Kesimpulanya mekanisme bicara dibedakan menjadi 2 proses :
1. Proses yang dimulai dari saat dimana seseorang mendengar rangsangan auditorius hingga
terbentuk suatu konsep pengertian (proses reseptif).
2. Proses dimana seseorang mengungkapkan konsep pengertian melalui symbol bunyi yang
diproduksi oleh organ bicara (proses ekspresif ) termasuk kesadaran dan pengendalian
mekanisme bicara tersebut.

Kelainan Bicara
Kelainan bicara adalah salah satu jenis kelainan perilaku komunikasi yang ditandai dengan
adanya kesalahan dalam proses produksi bunyi bicara. Secara klinis gejala kelainan bicara
dalam hubungnnya dengan penyebab kelainan bicara tersebut dapat dibedakan sebagai
berikut :
1. Disaudia : Gangguan bicara akibat adanya gangguan pendengaran ini menyebabkan
penderita mengalami kesulitan untuk menerima dan mengolah intensitas, nada dan kualitas
bunyi bicara. Kompensasi : menggunakan bahas isyarat atau sikap tubuh dalam
berkomunikasi.
2. Dislogia : Kelainan bicara berkenaan dengan rendahnya kapasitas mental intelektual atau
tingkat kecerdasan.
3. Disartria : Kelainan bicara yang terjadi akibat adanya kelumpuhan, kelemahan, spastisitas
atau gangguan koordinasi otot-otot organ-organ bicara sehubungan dengan adanya kerusakan
atau lesi pada susunan saraf pusat maupun perifer.
4. Disglosia : Kelainan bicara yang terjadi akibat adanya kelainan bentuk dan struktur organ
bicara, khususnya articulator. Misal palatoskisis ( celah pada palatum kadang disertai celah
pada bibir), malokulasi (kelainan struktur gigi atas dan bawah), Anomali (sebab-sebab lain
yang menyebabkan kelainan bentuk edan struktur organ bicara : menghisap ibu jari, sariawan,
fraktur mandibula dll).
5. Dislalia : Kelainan bicara yang berkaitan dengan kondisi psikososial. Misal :
Kurang perhatian auditif : tikus kikus
Rentang memori pendek : sepatu tu atau atu
Gangguan persepsi auditorius : bunyi bicara yang hampir sama, mata maka
Kesalahan meniru
Idioglosia : pada anak kembar
Bilingualisme
Kesalahan artikulasi
Kelainan Bahasa
1. Keterlambatan perkembangan bahasa
2. Afasia
Kelainan Suara
1. Kelainan kenyaringan
2. Kelainan nada
3. Kelaianan kualitas
4. Afonia
Kelainan irama
1. Gagap
2. Cluttering : berbicara dengan suara yang sangat cepat
3. Palilalia ; Kecenderungan untuk mengulangi kata atau frase pada waktu mengucapkan
kalimat
Penatalaksanaan Teraphy Wicara
Sifat tindakan dalam terapi wicara dapat dibedakan :
1. Kuratif
2. Rehabilitatif
3. Preventif
4. Promotif

Prosedur Terapi Wicara


1. Pengkajian
Pengkajian dilakukan untuk mengetahui gejala gangguan/ kelainan perilaku komunikasi
secara sistematis, baik gejala subyektif atau gejala obyektif. Pengkajian melalui wawancara,
observasi tes khusus untuk mengukur kemampuan komunikasi.
2. Diagnostik dan Prognostik
Berdasarkan pengkajian dapat ditentukan jenis dan latar belakang gangguan/ kelainan berupa
kondisi anatomis, fisiologis, psikologis dan sosiologis. Dapat juga diperkirakan
perkembangan optimal yang dapat atau mungkin dicapai oleh penderita.
3. Perencanaan
Isi perencanaan meliputi :
Tujuan prosedur terpi wicara
Metode dan tehnik terapi wicara dan alternatifnya
Penggunaan alat dan fasilitas yang akan digunakan
Rujukan intra dan interdisiplin
4. Pelaksanaan
Stimulasi : Memberikan rangsang yang cukup kuat bias berupa visual, auditorius dan taktil
Psikoedukasi : Memberikan pengertian agar penderita memiliki sikap yang positif terhadap
perilaku komunikasinya sehingga dapat berinteraksi dengan lingkungannya.
Motokinestetik : Melatih penderita agar mampu menempatka organ atau otot dengan benar.
Penempatan fonetik : Melatih penderita agar mampu menempatkan organ bicara pada
tempat yang tepat dan menggerakkan dengan cara yang benar sehingga dapat mengucapkan
bunyi bahasa yang benar.
Kompensasi : Dilakukan apabila penderita tidak mungkin lagi untuk melakukan dengan
cara yang normal.
5. Evaluasi
Untuk mengetahui perkembangan kemampuan yang di terapi, sehingga dapat diketahui
kemungkinan penderita untuk dapat berkomunikasi dalam menjalankan tugas dan fungsinya
dalam kehidupan sehari-hari. Dapat dikatakan tahap pengembalian penderita pada aktivitas
prilaku komunikasi seperti sebelum sakit.
Terapi wicara bukan satu-satunya pendekatan terhadap gangguan komunikasi, dalam
memberikan terapi paripurna tetap diperlukan kerjasama dengan beberapa disiplin lain.
Terapi wicara pada gangguan bahasa bersifat penyembuhan dan pemulihan. Tujuan akhirnya
adalah mengembalikan penderita ke lingkungn semula atau resosialisasi. Tim rehabilitasi
beranggotakan : dokter (ahli neurology), perawat terapi wicara, fisioterapis, terapis okupasi,
protetis ortotis, pekerja social, psikolog dan keluarga penderita.