Anda di halaman 1dari 2

Moeslim abdurrahman dengan jelasnya menceritakan perjalaannya bersama Jemaah-Jemaah

haji yang merupakan orang intelektual dan terpandang. Dari penuturan Moeslim dapat kita ketahui
bahwa hanya orang-orang terpandang yang dapat mengikuti Haji melalui biro Tiga Utama. Mereka
adalah orang-orang yang diceritakan Moeslim Abdurrahman berpendidikan tinggi di luar negeri,
pejabat pemerintahan, pengusaha, tokoh masyarakat serta artis-artis tanah air. Hal ini mencerminkan
betapa mereka, orang-orang dengan jabatan tinggi memilih biro perjalanan dan pemandu haji yang
prestisius dan mewah untuk mendampingi perjalanan haji-nya. Senada dengan kehidupan mewah
dan mahal orang-orang Muslim menengah.
Menurut Moeslim Abdurrahman, Kelas menengah bisa menjalankan ibadah haji dengan
paket-paket yang bergengsi, tarawih-tarawih bergengsi di hotel, rumah ibadah berdiri sangat
menumental dari segi arsitekturalnya dan sebagainya1. Dilihat dari berbagai profesi Jemaah-jamaah
haji ini jelas mencerminkan bagaimana kehidupan mereka yang selalu di limpahi materi berbeda
dengan golongan Muslim bawah yang tidak dapat menikmati perjalanan haji mewah seperti yang
Muslim menengah alami. Hal ini jelas sekali menimbulkan ketimpangan sosial yang jauh antara
Muslim bawah dan Menengah. Disaat golongan Muslim menengah dapat pergi haji setahun sekali
dengan biro perjalanan mewah, golongan Muslim bawah bahkan mungkin saja harus menabung
bertahun-tahun untuk dapat pergi haji sekali seumur hidup dengan biro perjalanan pemerintah yang
berfasilitas minim.
Pilihan dan gaya hidup Muslim menengah memang tidak dapat disalahkan, hanya saja sebuah
realita ketimpangan sosial terjadi dalam masyarakat Muslim terungkap. Dalam essai Moeslim
Abdurrahman mengkritik keadaan ini. Dimana-mana, dalam masyarakat Islam terdapat fenomena
kemiskinan, jadi bukan fenomena kejumudan. Anak-anak Islam sekarang sudah banyak menggondol
gelar PhD., sudah hebat-hebat, sementara mereka semua masih menyisakan kondisi objektif berupa
umat yang miskin tersebut. Kekuatan intelektual yang timbul dikalangan umat sekarang ini,
sedikitpun belum mengubah keadaan. Itulah tantangan intelektual yang secara moral sangat
menyentuh2.
Tokoh-tokoh dan elit Islam di masa moderen ini tidak lagi memandang persoalan
ketimpangan dan keadaan sosial, tetapi malah mementingkan permasalahan keamanan statusnya dan
kepentingan kelompok-kelompoknya. Benr menurut Moeslim Abdurrahman, di dalam proses
modernisasi itu banyak orang yang semakin tidak peduli terhadap persoalan perubahan atau proses
sosial yang semakin memarginalkan orang- orang yang tidak punya akses dengan pembangunan3.
Adanya realita dan keadaan moderenisasi yang mengesampingkan kaum lemah ini, Moeslim
Abdurrahman mengeluarkan gagasan Teologi Transformatif. Istilah dan pengertian tentang teologi
transformatif ini dimaksudkan oleh Moeslim Abdurrahman sebagai pencarian sebuah metode
berpikir dan tindakan yang memihak serta yang mampu mempersenjatai masyarakat untuk bisa
bangkit dan keluar dari keterbelakangan, kebodohan, dan kemiskinan dengan mengesampingkan
paradigma modernisasi4. Jadi Islam bukanlah identity reassertion, peneguhan identitas kelompok.
Melainkan Islam sebagai kekuatan yang punya orientasi kritik sosial, tidak hanya sebagai pencerah
atau wacana moderenisasi yakni Islam yang ingin mengubah keadaan supaya lebih adil5.

Moeslim Abdurrahman, Islam Yang Memihak (Yogyakarta: LKiS, 2005) hal. 37-47

Moeslim Abdurrahman, Islam Yang Memihak (Yogyakarta: LKiS, 2005) hal. 37-47

Moeslim Abdurrahma, Islam Sebagai Kritik Sosial (Jakarta: Erlangga, 2003), 186

M. Syafii Anwar, Pemikiran dan Aksi Islam Indonesia: Sebuah Kajian Politik Tentang
Cendekiawan Muslim Orde Baru (Jakarta: Paramadina, 1995), 172- 173
5

Moeslim Abdurrahman, Islam Transformatif (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1997)