Anda di halaman 1dari 19

Teks Eksposisi :

Kebijakan Berjilbab di Kalangan Polwan

Harapan Muslimah yang menjadi anggota Polisi Wanita (Polwan) untuk bisa menjalankan perintah
perintah ataupun menjalankan keyakinan agamanya secara penuh, sepertinya masih terhalang kebijakan
Polri. Para pimpinan di institusi Polri hingga kini tidak juga memberikan lampu hijau bagi penggunaan
jilbab bagi anggotanya
Tentu ini menjadi pertanyaan bagi umat Islam yang ada di negara ini, ada apa dengan intistusi
Polri?. Mungkinkah ada gerakan anti-Islam di institusi Polri?. Mungkinkah ada petinggi Polri yang
mempunyai ketakutan yang sangat besar terhadap Islam?.
Pertanyaan-pertanyaan ini bahkan sudah sangat kuat muncul di kalangan umat Islam. Hal ini tentu
sangat wajar mengingat sikap Polri yang terkesan mengingkari aspirasi umat Islam di Indonesia.
Keinginan rakyat sepertinya dihalangi sejumlah oknum petinggi Polri, yang begitu takut jika Polri
menggunakan jilbab.
Tudingan Polri telah membangkang terhadap keinginan umat Islam ini tentu bukan tanpa alasan.
Aspirasi soal jilbab ini sudah bergulir sejak

lama. Hampir semua organisasi umat Islam, mulai Muhammadiyah, NU, Persis, Forum Umat Islam
(FUI), Hidayatullah, dan sebagainya, semuanya sudah menyuarakan desakan izin penggunaan jilbab
bagi Polwan.
Nah karena itu diadakan suatu talkshow yang membahas tentang kebijakan berjilbab ini.
Talkshow tersebut dimoderatori oleh Abdul Malik Badeges S.Hum, M.Sh (ASEAN University
Network Researcher). Dari tujuh narasumber yang diundang hanya empat yang hadir, sementara tiga
lainnya: Jenderal Moeldoko (Panglima TNI), Jenderal Soetarman (Kapolri), dan Prof. Dr. Siti Ruhaini
Dzuhayatin (Independent Permanent Human Right Commition OKI) berhalangan hadir.
Empat pembicara dimaksud adalah Dr. Mardani Alisera (Anggota Komisi I DPR RI), Dr.
Irman Putra Sidin (Pakar Tata Negara), Dr. Fahmi Salim (Majelis Ulama Indonesia/ MUI), Drs.
Manager Nasution MA (Komnas HAM).
Acara tersebut juga dimaksudkan untuk mengumpulkan 10.000 tanda tangan dukungan untuk
segera diberlakukannya kebijakan jilbab bagi kalangan Polwan yang hendak mengenakannya.

Satu Suara: Desak Presiden Terbitkan PP


Fahmi menegaskan bahwa MUI mendukung langkah Polwan untuk mengenakan jilbab
pada saat bertugas. Kami mendorong Polwan yang berniat melaksanakan perintah Allah
SWT. Kebebasan berjilbab juga dilindungi dalam konstitusi karena merupakan bagian dari
Hak Asasi Manusia (HAM), terlebih lagi Indonesia adalah negara mayoritas Muslim, ujarnya.
Menanggapi pertanyaan salah satu peserta, Fahmi menyatakan bahwa kebangkitan
Islam acap kali dikaitkan dengan jilbab. Tapi, ia menyayangkan sikap mayoritas Muslim
dewasa ini yang alergi terhadap penerapan hukum syariat dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara.
Terkait dengan langkah yang sudah dilakukan MUI, Fahmi mengungkapkan rencana
pertemuan dengan Kapolri. Selain akan bertemu dengan Kapolri, MUI juga merencanakan
untuk berkonsolidasi dengan Ormas Perempuan pada acara Kongres

Muslimah Indonesia yang akan diselenggarakan di Bogor (9/3), yang antara lain akan membahas
soal desakan kepada Presiden agar memerintahkan Kapolri untuk menetapkan kebijakan tentang
jilbab di kalangan Polwan, ucapnya.
Sementara itu, Nasution menyoroti persoalan ini dari perspektif HAM. Dalam
International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR) termaktub kebebasan untuk
menjalankan keyakinan agama. Hal itu sejalan dengan UUD Pasal 29 ayat (2), yang juga
menjamin kebebasan beragama.
Adapun payung hukum yang dapat digunakan untuk penerapan persoalan jilbab
termaksud adalah UU Nomor 26 Tahun 2000 dan UU Nomor 40 Tahun 2008, ungkapnya.
Hampir senada dengan Nasution, Irman juga menyoroti dari perspektif perundangundangan; namun, lebih dipertajam pada aspek konstitusi. Filosofi hadirnya sebuah negara
antara lain untuk melindungi hak-hak konstitusional warganya, yang salah-satunya

tertera dalam UUD Pasal 28. Indonesia bukan negara sekuler atau agama, tapi berdasarkan
Ketuhanan YME (Yang Maha Esa). Di sana ada jaminan kebebasan beragama, tegasnya.
Ia juga mendesak presiden untuk menentukan kebijakan tegas. Menurut saya, Polri
lamban dalam merespon persoalan ini, sehingga bergulir menjadi high politics. Padahal, jilbab
tidak mengurangi mobilitas Polwan. Nah, karena Polri berada di bawah Presiden, maka
sebaiknya kita meminta tanggung jawab SBY untuk menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP)
yang berkaitan dengan identitas pengamalan keberagamaan (religiousness), khususnya bagi
PNS, TNI, dan POLRI, ujar Irman.
Dalam perspektif yang agak berbeda, Mardani mengatakan, Dewan Perwakilan Rakyat
(DPR) belum membahas isu tersebut. Belum ada pandangan yang seragam di DPR dalam
menyikapi tuntutan jilbab dari kalangan Polwan. Memang harus dilakukan reformasi
birokrasi, terutama di tubuh Polri. Ketimpangan itu tercermin dari kontradiksi antara sikap
Kapolri dan Wakapolri, ungkap Mardani selaku Anggota Komisi I dari Fraksi PKS.

Mardani juga mengafirmasi para pembicara sebelumnya bahwa Presiden memiliki hak
prerogatif atas kebijakan yang diambil Kapolri. Kampus memiliki legitimasi yang tinggi,
sehingga bisa membuat tim yang dapat mengawal masalah ini hingga sampai kepada Presiden,
sehingga dapat menelurkan kebijakan. Saya menyarankan untuk melibatkan kalangan LSM
dan civil society untuk efektivitas pergerakan mahasiswa, ujarnya lantang.
Namun, ia menyarankan agar isu jilbab jangan dipertentangkan dengan lembaga/
instansi, apalagi negara karena dikhawatirkan ada pihak yang memperuncing keadaan.
Sementara itu, dalam menanggapi pertanyaan peserta terkait dengan kendala
penganggaran jilbab, Irman mengajak agar tidak terjebak pada kamuflase itu. Kita jangan
larut dalam perdebatan teknis untuk mengulur waktu dalam merealisasikan kebijakan ini,
ujarnya.

Kebijakan Kontradiktif
Bila kita cermati tanggapan di kalangan petinggi Polri, masih segar dalam ingatan
bahwa Kapolri Jenderal Sutarman menyatakan, anggota Polwan diperkenankan mengenakan
jilbab (bagi yang bersedia) saat bertugas (19/ 12). Itu merupakan hak asasi seseorang. Saya
sudah sampaikan kepada anggota kalau ada Polwan yang mau mengenakan jilbab, silahkan!
ujar Sutarman.
Pernyataan tersebut mendapatkan tanggapan positif di kalangan Polwan, mengingat
banyak dari mereka yang akan dapat menjalankan kewajiban agama.
Sayangnya, persoalan ini kian berlarut-larut. Pada tanggal 28 November 2013 Wakapolri
Komjen Oegroseno mengirimkan telegram rahasia yang menginstruksikan kepada jajaran Polri
untuk menunda kebijakan penggunaan jilbab bagi Polwan saat menunaikan tugas (bekerja).

Kontradiksi kebijakan di tubuh Polri, seperti tercermin di atas, semakin menimbulkan


tanda tanya besar di benak masyarakat karena Jenderal Sutarman justru kemudian
membenarkan instruksi Wakapolri. Dan alasan penundaan penerapan jilbab dilansir oleh
harian Republika.
Sutarman menyatakan bahwa belum terealisasinya kebijakan tersebut adalah karena
model jilbab (seragam) belum disepakati. Selain itu juga masih ada ketidakjelasan
penganggarannya karena sedang disusun di DPR untuk kemudian dimintakan persetujuannya
(juga di DPR).
Ironisnya, di sejumlah negara Barat, seperti Kanada dan Inggris, polisi wanita diperbolehkan
mengenakan jilbab saat bertugas. Mengapa Indonesia, yang mayoritas beragama Islam, belum
memberlakukan kebijakan yang sama?
Dengan ditundanya izin mengenakan jilbab bagi Polwan, SALAM

Universitas Indonesia (sebuah organisasi keislaman di internal kampus UI) bersama Forum
Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) menyampaikan gugatan yang didasarkan
pada pelanggaran HAM, yang antara lain dijamin dalam perundang-undangan, salah satunya
adalah UU Nomor 39 Tahun 1999 (tentang HAM).
Atas dasar ini diajukan beberapa tuntutan:
Pertama, segera cabut telegram rahasia yang diterbitkan Wakapolri Komisaris Jenderal
Oegroseno pada 28 November 2013, yang memerintahkan jajaran Polri untuk menunda
kebijakan pengenaan jilbab di kalangan Polwan karena bertentangan dengan HAM [Pasal 28
E Ayat (1)].
Kedua, segera terbitkan izin pengenaan seragam jilbab di kalangan Polwan, dengan mengacu
pada SKEP Panglima TNI No.346/X/2004 dan SKEP Kapolri No. SKEP/702/IX/2005 yang
mengatur tentang seragam berjilbab di Aceh, sehingga tercipta keseragaman.

Ketiga, TNI dan Polri adalah dua institusi yang berasal dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk
rakyat. Sehingga, diharapkan kiprah kedua institusi ini tidak melanggar HAM dan konstitusi,
khususnya yang terkait dengan kebijakan pengenaan jilbab di kalangan Polwan.
Selain dari ketiga tuntutan di atas, SALAM UI dan FSLDK juga menghimbau kepada
seluruh mahasiswa dan masyarakat untuk turut mendoakan agar proses penundaan kebijakan
penerapan jilbab bagi Polwan segera disahkan;
mendukung tuntutan legalisasi jilbab bagi Polwan (mengingat ia merupakan hak asasi setiap
Muslimah dalam menjalankan ajaran agama); dan turut aktif menginformasikan persoalan ini
kepada masyarakat luas, terutama melalui media sosial.

Struktur Teks
Eksposisi

Pernyataan
Pendapat (Tesis)

Argumentasi

Penegasan
Ulang

Harapan Muslimah yang menjadi anggota Polisi


Wanita (Polwan) untuk bisa menjalankan perintah
ataupun menjalankan keyakinan agamanya secara
penuh, seper- tinya masih terhalang kebijakan Polri.
Para pimpinan di institusi Polri hingga kini tidak juga
mem berikan lampu hijau bagi penggunaan jilbab bagi
anggotanya. Kebebasan berjilbab memang dilindungi
dalam konstitusi karena merupakan bagian dari Hak
Asasi Manusia (HAM), terlebih lagi Indonesia adalah
negara mayoritas Muslim.

Argumen 1
Dalam International Covenant on Civil
and Political Rights (ICCPR) termaktub
kebebasan untuk menjalankan
keyakinan agama. Hal itu sejalan
dengan UUD Pasal 29 ayat (2), yang
juga menjamin kebebasan beragama.

Filosofi hadirnya sebuah


negara antara lain untuk
melindungi hak-hak
konstitusional warganya,
yang
salah-satunya tertera dalam UUD Pasal 28.
Indonesia bukan negara sekuler atau agama, tapi berdasarkan
Ketuhanan YME (Yang Maha Esa). Di sana ada jaminan
kebebasan beragama,

Argumen 3
Kapolri Jenderal Sutarman menyatakan,
anggota Polwan diperkenankan mengenakan
jilbab (bagi yang bersedia) saat bertugas (19/
12). Itu merupakan hak asasi seseorang.
Saya sudah sampaikan kepada anggota kalau
ada Polwan yang mau mengenakan jilbab,
silahkan! ujar Sutarman.

Argumen 4

Sutarman menyatakan bahwa belum


terealisasinya kebijakan tersebut
adalah karena model jilbab (seragam)
belum disepakati. Selain itu juga
masih ada ketidakjelasan
penganggarannya karena sedang
disusun di DPR untuk kemudian
dimintakan persetujuannya (juga di
DPR).

Menghimbau kepada seluruh mahasiswa dan


masyarakat untuk turut mendoakan agar proses
penundaan kebijakan berjilbab bagi Polwan segera
dicabut; mendukung tuntutan legalisasi jilbab bagi
Polwan (mengingat ia merupakan hak asasi setiap
Muslimah dalam menjalankan ajaran agama); dan turut
aktif menginformasikan persoalan ini kepada
masyarakat luas, terutama melalui media sosial.

Penegasan
Ulang