Anda di halaman 1dari 328

Mint Chocolate Chips

MINT
CHOCOLATE
CHIPS
Alanda

Terrant Books
2005

Mint Chocolate Chips

MINT CHOCOLATE CHIPS


Penulis : Alanda
Desain sampul : Terrant Books
Ilustrasi sampul : Terrant Books
Ilustrasi isi :Terrant Books
Hak cipta : Alanda
Hak Penerbitan : Terrant Books
www.terrantbooks.com

ISBN 979-3750-10-3

Visit Terrant Books on World Wide Web at


www.terrantbooks.com

UU No. 19 Thn. 2002 Tentang Hak Cipta


Fungsi dan Sifat Hak Cipta Pasal 2
1. Hak Cipta merupakan hak eksklusif bagi Pencipta atau Pemegang Hak Cipta untuk mengumumkan
atau memperbanyak Ciptaannya, yang timbul secara otomatis setelah suatu ciptaan dilahirkan tanpa
mengurangi pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Hak Terkait Pasal 49
1. Pelaku memiliki hak eksklusif untuk memberikan izin atau melarang pihak lain yang tanpa
persetujuannya membuat, memperbanyak, atau menyiarkan rekaman suara dan/atau gambar
pertunjukannya.
Sanksi Pelanggaran Pasal 72:
1. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling
singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana
penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar
rupiah).
2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada
umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta sebagaimana dimaksud dalam ayat
(1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp.
50.000.000,- (lima puluh juta rupiah)

Mint Chocolate Chips

Gratitude
Heyz,
Ooh, finally, novel gue terbit juga! Huahhhh! Senaangg! (hysteria)
(cooling down sebentar, kemudian mari kita mulai
menulis lagi)
Sebelumnya gue ngga pernah ngebayangin novel
gue bakal diterbitin kayak gini. Malah ngga pernah
kepikiran buat bikin novel! Awalnya gue menulis cuma
buat iseng-iseng aja Maklum, lagi broken heart...
(kidding) Tapi survey memang membuktikan bahwa:
dalam keadaan patah hati, manusia selalu menjadi
semakin kreatif dan produktif dalam berkarya. (cahhhh) But still, semua ini bisa terjadi atas bantuan dan
dukungan dari banyak orang. Gue ngga akan pernah
bisa menjadi seperti sekarang ini, dan buku ini ngga
akan terbit tanpa:

Mint Chocolate Chips

Allah SWT yg telah menciptakan Alanda, memberi keluarga yg bahagia, temen-temen yang me
nyenangkan, hectic but wonderful minutes, memberi
kesempatan berharga ini, dan menciptakan suatu
hal yg rumit tapi indah bernama cinta (begggh).
Tanpa cinta itu, gue ngga akan pernah muncul di
dunia, dan buku ini ngga akan pernah terpikirkan
untuk ditulis.
My incredible parents (yeah, THE INCREDIBLES!) !!
Yang udah memberi support secara langsung dan
ngga langsung, moril dan materiil, and everything!
(udah pasti kalo jasa beliau diketik di sini, bakalan
jadi novel baru lagi, saking banyaknya jasa yang
udah beliau perbuat)
Aisya Kanya dan Aqila Fara my lovely lil sisters
yang membuat rumah gue jadi agak-agak mirip taman kanak-kanak (ngga deng)
Ayuna Nadira, for being such a very, very nice editor. Tanpamu adegan prom bakal hilang! And for my
whole big family, retrieve my whole big thank you!
Kresna (also known as Bolo!), an annoying but ins
piring close-friend. Berikut obrolan-obrolan dengan-

Mint Chocolate Chips

nya, nasehat-nasehatnya, celaan-celaannya, SMSSMS-nya (yang menyenangkan dan yang menyebalkan), dan permainan gitarnya yang memukau.
(begh) Those things mean a lot to me, and so do
you!
Ariestya dan Andini (also known as Andiez!), fantastic best-friends I ever had. Dan semua member
angkatan 8 SD Pembangunan Jaya yang ngga
bisa disebutin satu-satu namanya - yang telah me
nemani 3.153.600 menit (diitung jo!) gue di PJ yang
sibuk, bete tapi seru! Bahkan sampe sekarang. (teruntuk guru-gurunya alanda dulu, makasih yah, Pak/
Bu)
Danika (my dearest neighbor! :P) karna slalu nemenin gue di saat gue butuh temen dan sering me
ngajak gue nonton (lho?). Pepatah baru: a neighbor
in need, is a neighbor indeed!
Wulan yang selalu memberi gue support dan selalu
jadi senior yg paling baik dan paling gue sayang

Terimakasih karena udah ngenalin gue ke


Larc-en-Ciel dan The Strokes! Juga buat Henny,
Siska, Ulfa dan Vira atas support-nya. Miss yall!

Mint Chocolate Chips

The whole graffiti>12th generation of Albin family.


Mohon maaf kalo pas di sekolah mungkin gue suka
agak terlalu berisik, heboh, annoying dan terlalu
menyebalkan. dan buat guru-gurunya, minta reward
yah, Pak! (lah?)

Semua pembaca pertama novel gue: Hesty (yang


memuji-muji novel gue melulu), Zaskia, Fitria, Jecca,
Reno, Lalha (yang udah nulis kata KEREN BGT!!!
sampe-sampe pas nulis komentar), Farah, Wiwid,
Saphii (yang masih belom bisa percaya kalo gue
yg nulis novel yang dia baca), Maya, Kennya (yang
udah bilang puisi gue ngalahin Chairil Anwar. PS:
gimana? Udah puas sama konfliknya yang sekarang?) dan yang lainnya (maaf ngga bisa disebutin
satu persatu). Thanks for the splendid comments,
guys!
Mbak Via, Mbak Nita, Mas Azis dan semua kakakkakak Terrant Books yang sabar, baik, and make me
definitely believe that dreams do come true!
Mba Sitta Karina, who really inspires me to keep
writing, on and on and on... dan terima kasih banyak
karena udah nyempetin baca novel aku...

Mint Chocolate Chips

Semua pihak yang udah ngedukung Alanda, secara


langsung maupun ngga langsung. Semua orang
yang selalu menerima Alanda apa adanya. Dan
semua orang yg mau kenal dan temenan sama
Alanda tanpa syarat. Thats why this book is full of
friendship!
Kakak Raditya Dika, thanks for your hilarious quote,
dan telah mengibaratkan novel gue seperti kapas
diberi cuka... Hahaha... Dan juga udah bagi-bagi
pengalaman via MSN! Makasih, kakak!

Dan buat kamu/elo/Anda, karna udah menyentuh,


mengintip, melihat, membuka, membaca, meminjam, membeli, mengkritik, atau bahkan memuji buku
ini. Thank you!

Mint Chocolate Chips

Mint Chocolate Chips

Confessions
Being an author is more than just a dream come
true for me. Just to remind you, sekarang saya baru
berusia 14 tahun, saya masih jauuuuuh sekali di
bawah semua penulis lainnya, apalagi di tengah
arus teenlit/chicklit yang tengah membludak. Belum
lagi serbuan novel terjemahan... Kadang saat-saat
ke toko buku menjadi sebuah hal yang sangat mem
bingungkan ketika saya melihat tumpukan buku berwarna-warni dengan penulis yang masih SMA pula.
Ketika mulai menulis, novel-novel, film-film, dan
sinetron-sinetron remaja belum sebanyak sekarang.
Remaja-remaja Indonesia masih tenggelam dalam
segala fantasi Harry Potter dan komik-komik Jepang
di sudut-sudut toko buku. Dan setiap kali saya menyentuh, membaca novel remaja yang ada, saya tidak menemukan sedikitpun dunia saya di sana. No
vel-novel yang ada bercerita tentang si gila belanja,

10

Mint Chocolate Chips

atau si princess, atau si petualang... Dan saya bukan


ketiganya.
Sampai kemudian saya mencoba mengetik beberapa kalimat saja, yang kemudian berlanjut sampai
empat puluh halaman HVS, dan berlanjut lagi menjadi
seratus halaman HVS, bahkan sampai seratus lima
puluh halaman. Dan masih tanpa judul yang tertera
di sana. Di awal, saya memang sempat terbawa arus
perfecto meets perfecto means happy ending. Di
mana sang cowok sempurna, ceweknya juga, mereka
jadian, dan hidup bahagia selama-lamanya.
Tapi kemudian, saya kembali menelaah kehidupan saya di hari-hari sebelumnya, yang tidak selalu
bahagia, malahan jarang. Namun selalu ada kejutan
muncul di detik-detik yang terlewati. Dan dibalik ke
sempurnaan yang kita lihat, pasti ada suatu kekura
ngan. Dan dibalik keceriaan yang kita lihat, pasti ada
biarpun sedikit konflik dan masalah terkandung di
dalamnya.
Dan biasanya penulis lain menempatkan dirinya
sebagai sang heroine* tersebut, saya justru merasa
Yoga-lah yang mencerminkan saya. Well, bukan
berarti Yoga adalah saya versi cowok, tapi saya me
nemukan banyak karakteristik Yoga di dalam diri
saya. Hmmm, mungkin saya akan mencoba menulis
lagi tentang Yoga? Hmmm, who knows?

Mint Chocolate Chips

11

Harapan saya hanyalah semoga novel ini akan


menjadi inspirasi bagi beberapa orang, bahkan ba
nyak orang, bahwa hidup memang menyebalkan dan
seringkali tidak sesuai dengan yang kita harapkan,
tapi bukan berarti hidup itu tidak indah. Dan semoga
saya akan tetap bisa melahirkan karya-karya yang
lebih baik dari buku ini. Serta kamu juga bisa menunjukkan kelebihan kamu, meskipun dalam hal yang lain
(believe me, nggak ada hal yang selalu bagus, sekaligus nggak ada hal yang selalu jelek!). Semua orang
berhak punya dan menunjukkan kelebihannya.
Kalo mau kirim kritik, pesan, saran, atau apapun,
bisa ke alanda_rocks@gmail.com dan kunjungin
www.alandarocks.tk yah! Thanks for everything!

Warm Regards,
Alanda

*) heroine = pahlawan wanita/tokoh utama wanita (bukan narkobaa!!!)

12

Mint Chocolate Chips

Mint Chocolate Chips

13

Contents
Gratitude

Confessions

Sebuah Lensa Cinta

15

Bab 1.

Waktu Kelas Satu

19

Bab 2.

Jomblobahagia

35

Bab 3.

Dua Surat Dari Tito

51

Bab 4.

Tahun Berikutnya

59

Bab 5.

Suatu Sore di Citos

91

Bab 6.

Bikin Sedih Aja!

101

Bab 7. Datangnya Cewek


Bernama Adhyana

111

Bab 8.

Fakta Terbesar Abad Ini

127

Bab 9.

Family Potrait

141

Bab 10.

Sebuah Compact Disc

159

Bab 11.

Ulang Tahun Yoga

167

Bab 12.

Jauhnya Inggris dan Jakarta

179

Bab 13.

Terpisah

199

Bab 14.

Apa Yang Baru Acya Sadari

215

Bab 15.

A Few Weeks Later...

225

Mint Chocolate Chips

14

Bab 16. 14 Lampu Merah

233

Bab 17. Kalo King-nya Di Luar Negeri?

261

Bab 18. Malam Tahun Baru

295

Epilog.

Lima Tahun Kemudian


Lima Tahun Kemudian...

Endnotes

307
323

Mint Chocolate Chips

15

Sebuah Lensa
Cinta
Cinta itu egois, cinta itu pengorbanan
Cinta juga indah, cinta pun menyedihkan
Cinta adalah satu, cinta adalah semua
Cinta itu tekstur abstrak, yang menghadapi kaca
Cinta itu sa ma, cinta pun berlawanan adanya
Cinta melahirkan senyu m, juga memunculkan airmata
Cinta itu abadi, cinta hilang dala m sesaat
Cinta membuat kita bertemu, cinta pun membuatnya berpisah
Cinta membuatku kaya, sekaligus membawaku miskin
Cinta adalah warna, cinta adalah gelap
Cinta tetap merubah bentuknya
Cinta tetap merubah arahnya
Cinta mengubah arti dirinya bagi setiap sosok
Cinta akan selalu menyinari kita
Dala m indah dala m sengsara
Karena takkan pernah tiada
Alanda, Maret 2005

16

Mint Chocolate Chips

Mint Chocolate Chips

MINT
CHOCOLATE
CHIPS
Alanda

17

18

Mint Chocolate Chips

Mint Chocolate Chips

19

Waktu Kelas
Satu
14 Juli tahun pertama SMA
Matahari memang masih bersembunyi di balik
awan. Namun, pagi itu sudah tergolong cerah. Di
pelataran parkir sebuah sekolah, terlihat sebuah mobil yang sedang menurunkan penumpangnya. Dari
dalam mobil itu turun seorang cewek yang memakai
tas selempang. Parasnya cantik, rambutnya yang
berwarna cokelat tua diikat rapi, poninya dikesam
pingkan. Ia melambaikan tangan kepada seseorang
di dalam mobil dan kemudian berjalan gontai menuju
bangunan sekolahnya. Cewek itu ternyata bernama
Acya.
Acya berjalan menuju kelas I-2, kelasnya yang

20

Mint Chocolate Chips

baru. Ini adalah hari pertamanya masuk SMA. Ia


merasa cukup bete. Ia belum kenal siapa-siapa di
sini. Tapi, ia cukup gembira, karena tidak kebagian
Masa Orientasi Siswa. OSIS-nya tidak menyediakan
program itu tahun ini karena dianggap kurang efektif.
Kelasnya masih relatif sepi. Ada seorang cewek berponi depan duduk di sebuah kursi. Ia tampak gembira
karena wajahnya berseri-seri. Sementara di koridor di
depan kelas I-2 berdiri seorang cowok gendut berpipi
chubby sedang asik mengunyah sesuatu. Acya meletakkan tasnya di sebuah meja dan kemudian menyapa cewek itu. Hai... Gue Acya. Lo? Acya memberanikan diri.
EhHai! Gue Rezzy, tapi, panggil aja Eci! ja
wabnya sambil menjabat tangan Acya.
Kok sepi banget ya? tanya Acya ramah sambil
membuka pembicaraan.
Tau ah... Payah nih! JAM KARRRREEET! Tapi
tadi gue udah punya kenalan lo... namanya Daina,
lagi di kamar mandi. katanya sih mau benerin dandanannya apa gimana gitu cerita Eci. Saat Acya
dan Eci lagi asik ngobrol, tiba-tiba seorang cewek
masuk ke dalam kelas. Rambut hitamnya yang panjang sepunggung digerai. Tubuhnya tinggi langsing,
anaknya juga cantik.
Hai, kenalan dong... Gue Daina... Nama lo sia-

Mint Chocolate Chips

21

pa? tanya Daina ramah. Acya langsung menjawab


keramahan cewek itu dengan senyuman.
Acya. Hai juga, sapanya.
Sepi amat sih nih... ah, anaknya abbal-abbal
semua nih! kata Daina.
Abbal? Apaan tuh? tanya Acya dan Eci bersamaan.
Di sekolah gue yang dulu, abbal tuh sebutan buat
barang-barang yang nggak mutu. Kayak barang-barang bajakan atau barang palsu yang nggak sukses.
Tapi, lama-lama, semua yang nggak mutu dibilang
abbal. Gue jadi ketularan deh sekarang,
Eh, udah kenalan belom sama cowok endut yang
di depan itu? tanya Eci yang nampaknya seorang
miss popular. Gampang bergaul, fleksibel, dan selalu
supel. Karisma itu yang dapat Acya tangkap dari obro
lannya sejak tadi.
Belom... emang lo udah? tanya Acya ingin tau.
Udah dongNamanya Pertama! kata Eci diikuti
tawa renyahnya.
Pertama!? Maksud lo? tanya Daina penasaran
sekaligus bingung dan heran.
Iya, namanya Pertama Akbar! Tapi panggilannya
Tama! jelas Eci.
Hah? Pertama Akbar? tanya Acya, jauh lebih bi
ngung lagi.

22

Mint Chocolate Chips

Oooh... berarti dia anak pertama dan dianggep


rejeki yang besar kali ya Daina asal menyimpulkan.
Suka asal bunyi dehGue juga ngiranya gitu...
ternyata enggak! Tama bilang, waktu dia lahir, beratnya empat setengah kilo! Makanya namanya Akbar!
Terus di rumah sakit itu dia adalah anak pertama yang
lahir dengan berat segitu dan badan segede gitu!
Jadi... anak pertama yang badannya akbar! selanjutnya Eci sudah tidak sanggup menahan tawanya lagi.
Masa sih? tanya Daina tidak percaya.
Iya! kata Eci sambil sehabis itu tertawa lagi.
Beberapa saat kemudian, dua orang cowok masuk
ke dalam kelas I-2 berbarengan. Salah satunya berambut acak-acakan, membawa tas selempang Adidas sementara yang satu lagi kepalanya botak skin
head memakai tas ransel berwarna biru tua. Yang berambut acak-acakan berbisik kepada temannya,
Ini nih, kelas kita? tanyanya pelan.
Iye, jawab temannya. Kemudian ia kembali menyahut sambil tersenyum girang,
Cihuuuy.. ceweknya.. begghhh.. gilee, lucu-lucu,
Temannya menjawab, Lucu? Ketawa dong!
Hahahaha, Si Adidas tertawa maksa. Kemudian
temannya menambahkan,
Tapi lo ada benernya juga sih. Tuh liat, yang ram-

Mint Chocolate Chips

23

butnya panjang. Aduhaiiiii,


Ah, elo mah semua cewek juga dibilang cantik,
Enggak...

gue bilang ADUHAY... tapi dia juga

cantik sih... yah, kalo jadi cewek gue cocok laaah. Dianya cantik, guenya ganteng gila, ujar Kiffi si skin
head.
Iye, ganteng-ganteng ternyata gila, celetuk Yoga
si Adidas.
Gue gitu loh! balas Kiffi.
Betul itu, elo gitu looowwwhh!! ledek Yoga. Hai.
Kenalin, gue Yoga. Kalo yang kepalanya botak salah
cukur ini namanya Kiffi, jelas Yoga kepada Acya,
Daina, dan Eci. Liat aja tuh, botak pitak krukat nggak
jelas banget kan? Atas krukat, tengah plontos, bawah
krukat lagi. Tapi plontosnya keliatan kayak pitak gitu!
komentar Yoga. Namun, Daina tidak berkutik mende
ngarnya. Ia masih terpesona dengan si Kiffi yang lumayan keren itu. Kalo Eci malah langsung menanggapi mereka. Biasa, Eci memang miss gaul!
Hai! Gue Eci... kalo yang rambut panjang ini namanya Daina... yang satunya namanya Acya, kata
Eci. Di dalam hati Yoga bergejolak suara Ooooh...
namanya Acya,
Hai... gue Yoga, anak ganteng dari negeri samurai, kata Yoga sambil menjabat tangan Acya diikuti
cengiran mantapnya.

24

Mint Chocolate Chips

Pede bener lo! protes Acya.


Gue punya prinsip: Lebih baik kepedean daripada minder, terang Yoga.
Kalo gue punya prinsip: Iyain aja deh biar cepet.
Nama gue Acya, jawab Acya ramah. Tiba-tiba ke
seruan perkenalan mereka buyar saat Akbar berteriak
senyaring-nyaringnya.
OOOII! UDAH DONG KENALAN-KENALANNYA POKOKNYA NAMA GUE PERTAMA AKBAR.
MUNGKIN ANEH DAN LO KIRA GUE MALU PUNYA
NAMA KAYAK BEGITU TAPI GUE BERSYUKUR
PUNYA NAMA YANG BAGUS! PANGGIL AJA GUE
TAMA DAN JANGAN MARAH KALO KERJAAN GUE
ADALAH MAKAN, MAKAN, MAKAN, DAN Omo
ngan Akbar terputus saat Daina angkat bicara.
Dan makan? tanya Daina sok tau.
Bukan! Dan tidur! Paling nggak, dua puluh lima
persen dari hari gue harus diisi tidur, Jo! Baru enam
puluh lima persen buat makan, terus sisanya buat
mandi sama sholat... o iya, sekolah lupa. Tapi, di
sekolah gue juga makan dan tidur kok! jawab Tama
santai.
Oooo Daina cuma bisa melongo.
Lagian, elu juga sih, Dan. Soteu! ledek Yoga.
Elo tuh yang sok tau! Orang nama gue Daina,
bukan Dania! Lagian, suka-suka gue dong! bentak

Mint Chocolate Chips

25

Daina. Hhhhkalo gue sihsoal dandan yang ja


ngan ditanya. Maap-maap aja dah kalo misalnya gue
dandan kagak kenal waktu... jangan marah kalo gue
lelet di dalem kamar mandi, tambah Daina.
Emangnya dandan tuh penting ya buat cewek?
tanya Kiffi.
Penting banget gitu loh! seru Eci dan Daina bersamaan.
OoooIya deh gitu loh! balas Yoga. Sementara
Kiffi yang hanya bisa melongo mendengarnya. Dalam
hatinya timbul statement: Emangnya kalo nggak
dandan cewek tuh bisa mati ya? Emang seberapa
pentingnya sih? Nyokap gue juga dandan kalo pergipergi doang kok! Nyokap nggak kenapa-kenapa kalo
nggak dandan?.
Beberapa saat kemudian, mereka baru menyadari
bahwa kelas mulai ramai. Anak-anak lain berdata
ngan memenuhi ruangan kelas I-2. And this would be
a blast!

15 Juli tahun pertama SMA


Gitu, Yo kata Acya dan kemudian meneguk
minumannya. Ia bersama teman-teman barunya sedang mengobrol bersama sekaligus makan siang di
kantin.

26

Mint Chocolate Chips

Oh, gitu ujar Yoga dan kemudian melahap


chicken teriyaki-nya.
Lo lagi pada ngomongin apaan sih? Kok kayaknya
mesra amat? tanya Reva menyela obrolan Acya dan
Yoga.
Reva tadi muncul agak telat di sekolah. Dan karena bangku yang tersedia adalah di belakang Acya,
akhirnya Reva duduk di sana dan agak sedikit mulai
akrab dengan Acya.
Ini urusan gue ama Acya, kata Yoga terus terang.
Ia menatap Reva sekilas, kemudian kembali menatap
Acya. Iya, nggak? tanyanya kepada Acya.
Iyain aja deh, jawab Acya.
Tuh kan? Udah gue bilangin ini urusan gue sama
Acya tambah Yoga sambil melirik Reva dengan
tatapan kemenangan dan senyum licik.
Ya gue tau. Tapi apaan? Reva mendesak. Urusan, urusan, urusan. Semua orang juga tau itu urusan! gerutu Reva.
Aduh, Si Neng ngedumel aja, Neng sahut
Yoga.
Gini... si Yoga nanya, kenapa persisnya gue
makan baksonya nggak mau pake sambel? Kata
Yoga, sambel itu kan enak, trus kenapa lo nggak
mau? Apa lo udah pernah makan di sini dan ngerasa bahwa sambelnya nggak enak dan lo nggak mau

Mint Chocolate Chips

27

trauma itu terulang? Atau apakah elo punya alergi terhadap sambel karena kandungan cabai di dalamnya?
Atau mungkin, elo memiliki trauma mendalam karena
mungkin dulu mata lo pernah kemasukkan sambel?
Gitu, Rev jelas Acya panjang lebar. Ia meminum
Fanta Elektrik Melonnya.
Ooooodetil betul, komentar Reva heran.
Gue gitu loh. Detil, jawab Yoga.
Gue cuman bingung aja manusia gila kayak elo
bisa mikirin hal-hal kecil kayak gitu, ujar Reva agak
nyindir. Kan kocak tambahnya. Manusia aneh
mengeluarkan kalimat-kalimat yang detil. Pas ba
nget! tambahnya lagi. Kemudian Reva meneguk teh
botolnya.
Manusia aneh gimana? tanya Yoga dengan suara lantang. Ia mengetuk-ngetukkan sumpit chicken
teriyaki-nya ke meja, sok-sok nge-drum.Hal itu membuat Reva makin bete. Ia menganggap Yoga tidak
fokus akan obrolan mereka.
Ya aneh! Makanya gue bingung kok elo bisa sedetil itu kalo nanya! bentak Reva kemudian.
Trus kenapa? tanya Yoga nantangin Reva de
ngan nada yang pelan dan datar. Reva semakin kesal. Bagaimana mungkin cowok ini tetap santai? Padahal gue udah ngajak dia ribut?!
Lo tuh nggak mau ngalah banget sih!? bentak

28

Mint Chocolate Chips

Reva lagi.
EMANG! TRUS MAU LO APA!? Yoga semakin
menjadi-jadi.
Buat info elu-elu aja, dia juara satu lomba debat
sekolah gue gara-gara nggak mau kalah. Tiap tujubelasan pasti menang, sahut Kiffi.
OH YA!? Nada suara Reva semakin tinggi.
IYAAAA! Yoga juga nggak mau kalah.
Trus, lo jawab apa, Cya? tanya Daina ikut penasaran juga seperti Reva, beberapa menit yang lalu. Ia
melakukannya sembari menyela acara bentak-bentakan itu.
Ya... gue jawab... jadi, usus gue cukup sensitif.
Kalo kena sambel, merica yang banyak, dan paprika... itu bisa-bisa sakit perut dan penyakit maag gue
kambuh. Trus, Yoga nanya, paprika merah apa ijo...?
Ya gue bilang, dua-duanya... Trus dia nyahut lagi,
maksud lo dua-duanya itu, paprika merah dan hijau?.
Dan gue bilang iya. Dia nanya, kenapa usus lo bisa
sensitif? Gue jawab, karena udah dari sananya. Dia
nanya lagi, dari sana maksudnya dari mana? Gue bilang, dari lahir usus gue udah begini. Dia nanya, usus
besar apa usus halus yang lo maksud? Gue bilang,
ya dua-duanya. Terus Kalimat Acya selanjutnya
diberhentikan oleh Eci.
Iya, cukup-cukup... Tama ada nggak? tanya Eci.

Mint Chocolate Chips

29

Siapa di situ? tanya Tama.


Eci, Tam! jawab Eci dengan nada centil. Tiba-tiba
Yoga tertawa terbahak-bahak sendirinya.
Heh, kesambet lo, Jo? tanya Kiffi.
Kesambet, kesambet Ja Jo Ja Jo Ja Jo, bapak
lo ibu! Enggak... Eci ngomongnya kayak gitu, gue
jadi inget iklan: Halo? Tama ada, Om? Siapa ini?
Eci... Om! Edy? Eeeeeccciii! Egy? C, C! Charlie, Charlie! Ooooh, Charlie. Kok suaranya kayak
perempuan? Yoga meniru sebuah iklan. Kemudian
ia kembali tertawa lepas. Mau nggak mau Kiffi ikut
tertawa kemudian.
Eh, Bang, lo SMP-nya di mana sih? tanya
Tama.
Emang napa, Bang? tanya Yoga.
Enggak, gue pengen tau aja kenapa lulusannya
gokil kayak lo, Bang, jawab Tama jujur kemudian ia
menggigit burger ketiganya.
Ooooh, SMP Medan Merdeka Barat, Bang! ja
wab Yoga.
Yaelah, nama jalan kali, Bang!? ujar Tama.
Enggak, Bang. Maksud gue, SMP Merdeka aja
gitu loohhh, tambah Yoga.
SMP Merdeka aja gitu looowhhh? Kenal sama
Adit nggak? tanya Eci.
Adit mana? Oooh, hmmm, Adit yang kurus, botak,

30

Mint Chocolate Chips

kalo jalan tuh ngesok kayak model gitu kan? Sok


pendiem, sok cool, sok jago main basket, sok jutek?
Itu orang kan sok Sammy abis gayanya..Iya kan? Be
tul? Yoga berbalik tanya.
Iya! Kenal kan? Dia cakep kan? kata Eci.
CAKEP DARI HONG KONG! CAKEPAN JUGA
GUE, KALIIIII!!! teriak Yoga.
Bodo amat! Pokoknya elo kenal kan sama Adit?
tanya Eci lagi.
Iiiiiyyy Enggak, jawab Yoga pelan, tenang, dan
datar.
Yaaaah... kirain kenal, gumam Eci pelan.
Tapi celetuk Yoga kemudian.
Tapi apa? Eci langsung antusias.
Enggak jadi deh... Gue takut lo marah, jawab
Yoga dan kemudian menunduk. Ia berhenti memperlakukan sumpitnya seperti stik drum.
Tapi kenapa sih? tanya Eci makin penasaran.
Gue nggak mau ngasitau. Ntar gue bisa lo
bunuh Yoga bungkam.
PDA! Please dong ah! Ayo dong! Please, please,
please Gue pengen banget tau! Gue nggak akan
marah deh. Please! ikrar Eci.
Yakin? Eci menggangguk. Bener? Eci me
ngangguk lagi. Jangan marah ya? Eci mengangguk
pasti. Tadi, gue mau bilang kayaknya dia itu

Mint Chocolate Chips

31

cucu anaknya keponakan pakdenya kakak ipar sepupunya eyang kakung saya! ujar Yoga.
Yeeeee! Elo tuh korban iklan amat sih jadi
orang, Eci melas.
Bodo! Emangnya kenapa? Yoga si manusia ganteng dari negeri jiran emang begitu dari sananya,
tau?! ujar Yoga tetap narsis1.
Lo kenal Irsyad nggak? tanya Acya kemudian.
Hah? Irsyad? Irsyad mana? Kayaknya nggak ada
yang namanya Irsyad deh. Gue nggak kenal! ujar
Yoga.
Masa nggak kenal sih? Aaaaah... kuper lo! Masa
ama Irsyad aja nggak kenal sih?! ledek Acya.
Hmmm Irsyad? Yang mana ya...? Oooh inget,
inget. Irsyad yang tinggi, putih, jabrik... sukanya ngeshoot three point... yang pinter itu ya? Lo kenal sama
dia? Eh, dia banyak fansnya kan? Tapi tetep aja, jumlah fans-nya belom sebanyak gue, tanya Yoga.
Ya terserah lo deh! Mending lo punya fans gitu?
Tapi, lo kenal kan? ujar Acya.
Enggak. Tapi kalo lo suka cowok kayak gitu, jadian sama gue aja. Nggak beda jauh kok! jawab Yoga
tetap dengan pede sejutanya.
Idih! Irsyad tuh ganteng, keren, pinter! Nggak
kayak lo! Pertama elo mesti ngaca, kedua elo belom
bisa main basket, ketiga elo nggak bisa main drum,

32

Mint Chocolate Chips

keempat lo nggak pinter


EITS!! Siapa bilang?! Gue ganteng, mantan gue
aja ada tujuh belas! protes Yoga.
Ah, boong lo! celetuk Kiffi.
SUMPAH!!
DEMI ALLAH!!
GUE BOONG, jawab Yoga santai.
Yeeeee! ujar Kiffi. Nggak usah ngomong! tambahnya.
Ngomong lo? tanya Tama.
Iye, gue ngomong, jawab Yoga santai.
Gue kirain kumur-kumur, ujar Tama.
Hari gini kumur-kumur?! Yoga menirukan sebuah
iklan operator CDMA.
Emangnya contoh lo nggak beda jauh sama dia
apaan? tanya Acya lagi sambil menghentikan keributan dan kericuhan.
Yaaague tinggi, gue ganteng, rambut gue spikespike gitu lah. Tapi gue rasa rambut gue masih ada
campuran antara spike, mohawk ama indies-nya deh.
Lo liat kan rambut gue yang bagian depan nih agak
nyamping terus atasnya mohawk tapi belakangnya
masih nyisa gitu kayak bebek, dan bagian sebelah
sini ama sebelah yang agak sini agak spike dikit gitu?
Pokoknya rambut gue tuh AJAIB! Oh yah, poni gue
yang bagian sini kan agak gue ke siniin nih, itu tan-

Mint Chocolate Chips

33

danya rambut gue masih menganut aliran mohican


juga. Terus, gue bisa three point, gue pinter, gue jaim.
Liat aja, Cya, liat! Suatu hari nanti, kita bakal pacaran.
Gue yakin, gue janji. Tapi gue belom bisa ngasih tau
elo kapan hal itu kejadian jawab Yoga.
Yah, nanti malem kali. Dalem mimpi lo! celetuk
Reva lagi-lagi menyela obrolan mereka berdua.
Elo tuh ya!!!?? Norak! Gue tuh bikin semua cewek
terpesona! Termasuk Acya! Mungkin nggak sekarang.
Tapi gue yakin, suatu hari nanti, cinta gue ke dia bakalan terbalas!!! bantah Yoga.
Kok gue nggak terpesona ya sama lo? tanya
Reva.
Yaaaelonya aja yang beda species sama cewek-cewek laen. Liat aja nanti, camkanlah kata-kata
gue ini, kalo MOS2 dan ada anak-anak baru, pasti
pada klepek-klepek ketemu gue! kata Yoga.
IIIIH, NAJIIIISSS! Maksud lo apa gue beda species, hah!? Reva makin bete.
Ngaca gih sono! Liat tuh gaya lu! Liat tuh bodi
lu! Liat tu tampang lu! Udah kumel, berantakan, lagi!
Kasar! Nggak pernah bisa sopan kalo ngomong!!! ba
las Yoga. Reva teramat sangat tersinggung. Kelewatan
bener ini makhluk! Kelewatan!!! Kalo boleh nonjok,
bisa-bisa tuh anak udah gue bikin babak belur!
BODO!!! ujar Reva. Lantang, namun nada sua

34

Mint Chocolate Chips

ranya bergetar.
Gue ingetin ya, Rev. Elo tuh udah keenakan nye
la orang, sekarang giliran elo dicela. Jadi, JANGAN
NANGIS! kata Yoga semakin menusuk hati Reva.
Siapa yang nangis? tanya Reva dengan suara
yang pelan.
ELO! kata Yoga.
Udah, udah, Eci melerai. Emang lo jaim? tanya
Eci.
So pasti, jawab Yoga.
Masa sih? Kayaknya enggak deh sahut Daina.
Trus, ngapain lo percaya? Dia itu, cowok paling
nggak bisa jaim yang pernah gue kenal, TAU!? tambah Kiffi.

Mint Chocolate Chips

35

Jomblobahagia
Semakin Acya mengenal Yoga lebih dekat, Acya
semakin merasa kalau cowok itu memang agak-agak
aneh kelakuannya. Kadang-kadang dia bengal sete
ngah mati, berisik, kocak, tapi narsis. Nggak lama, dia
langsung berubah jadi pendiam, dingin, tapi alim. Ya,
itulah Yoga. Ternyata.
Aduh, gue takut, ujarnya tiba-tiba.
Takut apa? tanya Tama.
Takut mati, jawab Yoga serius, namun nada suaranya tetap ceria dan santai.
Lah, itu. Semua orang juga ngeri, tambah Kiffi.
Gila, dosa gue banyak nih. Naauzubika min zalik. Ya Allah, Ya Tuhan Gue takut. Gue kan sering
nyontek, gue kan sering nonton Kalimat Yoga berhenti sampai situ.

36

Mint Chocolate Chips

Nonton apaan? tanya Tama penasaran.


Nonton film, jawab Yoga.
Emangnya dosa? Emangnya lo nonton film apa
an? tanya Kiffi juga penasaran.
Ah, enggak. Yah, pokoknya begitulah! jawab
Yoga setengah-setengah. Terus, gue takut apaan lagi
ya? Gue takut jarum suntik, makanya, insya Allah gue
nggak akan nyuntik. Aduh, diimunisasi aja gue takut!
Ambil darah juga takut! Gue nggak akan deh make
yang namanya tuh shabu-shabu!! Yang gue tau mah
shabu-shabu yang enak temennya yakiniku! Sumpah,
itu top banget dah! Gue benci asap, jadi, insya Allah
gue nggak akan ngerokok, apalagi nyimeng3. Aduh,
malesin banget deh! Cannabis tuh lebih keren kalo
dijadiin motif di boxer, belt, handband, sama di tas
ransel. Kalo di sepatu Vans juga keren sih. Terus, gue
takut sama apaan lagi ya? Ya, pokoknya gitu lah. Gue
tuh sering nyontek. Kan dosa, kata Yoga.
Gue jadi bingung. Lo tuh bengal apa alim? tanya
Kiffi.
Udahlah, ntar bulan puasa, lo bakar tuh dosadosa lo! usul Tama.
Kalo beli minyak tanah tuh di mana sih? Ada nggak yang buat makhluk penuh dosa kayak gue gini?
tanya Yoga polos, lugu dan tanpa rasa bersalah sedikitpun. Nada bicaranya mirip anak kecil yang se-

Mint Chocolate Chips

37

dang menanyakan di manakah ia bisa membeli permen.


Heh, bego jangan dipelihara! Minyak tanah
Puasa, tolol! umpat Tama.
Ooh, puasa. Abis elo bilangnya bakar. Kalo puasa
sih alhamdulillah dari dulu gue pol melulu. Semoga
tahun ini pol juga. AMINNNNN Yoga mengusap
wajahnya. Tiba-tiba terdengar celetukan,
HEH, ADHYOGA!!!! MAKSUD LO APA NYEBUTNYEBUT NAMA BOKAP GUE, HAH?! NGELEDEK
LO?! HAH?! SINI LO, NGAJAK RIBUT LO?! tanya
Didit ke-GR-an.
Laaaahh Sori, Dit, tapi gue malah belom tau
nama bokap lo. Jadi, nama bokap lo tuh Amin ya?
Mulut Yoga meluncurkan pertanyaan retoris. Kemudian, tiga cowok itu Kiffi, Tama dan Yoga samasama ngakak. Didit pun menghilang dengan muka
yang merah.

Setelah beberapa hari bergaul dengan enam teman barunya, Acya jadi tahu kalau yang tingkahnya
ajaib bukan hanya Yoga. Namun, yang lainnya juga.
Contoh nomor satu: Reva.
Reva itu galak banget orangnya. Apalagi kalo
sama cowok. Karakteristik dan pembawaannya yang

38

Mint Chocolate Chips

terlalu prokem4 bikin cowok-cowok ngeri banget sama


dia. Tidak ada satupun cowok yang berkutik kecuali
YOGA. Yoga sih emang nggak usah ditanya, kalau
ada kakak kelas ngajakin ribut juga pastinya dicuekin
doang sama dia.
Tapi, cowok-cowok yang lain malah memposisikan
Reva sebagai preman pengkolan sekolah mereka!
Satu kata ledekan bayarannya nyawa! Nggak segitunya juga sih, yang jelas, kalo sampai ada cowok yang
berani ngeledek Reva, itu cowok bakalan dimarahin
non-stop dari pagi sampai pulang sekolah.
Rev, elo tuh jangan galak-galak jadi cewek, saran Acya di suatu meja di kantin sekolah. Sudah waktunya pulang sekolah, namun, mereka masih iseng
makan siang di kantin dulu.
Bodo. Ngurusin amat sih lo? Reva berkomentar
dengan agak kasar.
Asal lo tau aja ya, waktu SD tuh gue jauh lebih
parah daripada elo, terang Acya.
Parah gimana?
Ya parah. Lo mah kalo diledekin cuman marah
doang. Nah gue, tiap ada yang ngeledekin, gue kejar
sampe keliling sekolah. Nggak pandang bulu, nggak
pandang kelamin, nggak pandang body. Mau tuh anak
badannya segede gajah, apa mungil banget sepinggang gue, tetep aja gue bikin ngibrit tuh anak. Apalagi

Mint Chocolate Chips

39

kalo cowok. Itu cowok bisa abis minta ampun sama


gue. Terus, gue tuh, waktu SD, semua olahraga gue
jabanin. Dari catur, sampe bola! Tiap istirahat sama
pulang sekolah gue selalu berjemur di lapangan se
kaligus main bola sama anak-anak cowok. Waktu
SD aja panggilan gue kan bukan Acya, cerita Acya
membuat semua pendengarnya terperangah. Coba lihat kondisi Acya sekarang, rambut rapi, pakaian rapi,
muka putih bersih, senyum manis, nggak kebayang!
Waktu SD, kayak gimana yah dia? Kayak cowok? Ah,
nggak mungkin!!! Orang gedenya cantik begini
HAH?! Nggak kebayang. Emang nama lo siapa,
dulu? tanya Yoga ingin tahu.
Abek, jawab Acya santai.
Hah? Apaan tuh? tanya Tama dan Yoga berbarengan.
Acya Beckham! Ada juga sih yang manggil Aron
yaitu Acya Ronaldo, Awen yaitu Acya Owen, sama
Acya Shearer. Tapi, yang paling populer sih, Abek!
cerita Acya.
Ah, ngelawak lo! Yang bener? tanya Yoga lagi.
Iya, beneran! kata Acya.
Gokil ini anak. Duh, gue jadi makin naksir sama
lo, Cya, celetuk Yoga. Yang lain tidak terlalu memperhatikan kalimat Yoga yang terakhir. Yoga masih
terpesona akan cewek bernama Acya itu.

40

Mint Chocolate Chips

Terus, rambut lo panjang? Apa tanya Daina.


Enggaklah! Rambut gue cepak banget dulu. Pa
ling panjang juga yang nyisa kayak bebek gitu. Ya
gue indies-in aja pake wax. Kan keren cerita Acya
lagi.
HAH??? Nggak percaya gue. Nggak kebayang!!!
Eci mulai heboh seperti biasanya.
Tapi, sekarang elo tuh udah tobat kan? tanya
Reva.
Iya, lo udah tobat kan? Biar kalo gue nembak lo,
bakalan lo terima gitu celetuk Yoga lagi.
Pede bener sih, lo, Yo. Iya, gue tobat pas lulus SD!
Sebelomnya sih, nggak pernah terlintas kata TOBAT!
Pokoknya dulu gue galak banget deh. Konsekuensi
dan resikonya adalah jadi jomblobahagia, sampe
sekarang, terang Acya melanjutkan.
Hah? Lo belom pernah punya cowok sama sekali!??? tanya Eci. Acya menggeleng. SAMA SEKALIII?! Eci menegaskan lagi pertanyaannya.
Sama sekali, jawab Acya. JOMBLOBAHAGIA !!!
Setuju! Jomblobahagia! tambah Reva.
Tau nih. Gue sama Tama juga menjomblobahagia. Kalo yang botak ini nih, nggak akan rela jomblo!
ledek Yoga sambil menunjuk ke arah Kiffi. Betul?
tanya Yoga sambil melirik Kiffi.
Betul, jawab Kiffi santai.

Mint Chocolate Chips

41

Ci, lo jomblo nggak? tanya Reva tiba-tiba. Iseng.


Nggak tau juga nih, jawab Eci pelan.
Nggak tau? Maksud lo? tanya Acya penasaran.
Ya nggak tau. Seperti biasa, cowok gue ngilang,
Ngilang? Seperti biasa? Emang cowok lo siapa
sih? Anak mana? tanya Reva ingin tau. Yah, siapa
tau gue kenal, gitu tambahnya.
Namanya Tito. Anak SMA 234, jawab Eci. Tito?
TITO?! DA**!!!
Jangan bilang nama lengkapnya Pratito Adrian!
ujar Reva panik.
Lo kenal Tito? tanya Eci bingung.
Pratito Adrian, SMA 234, kelas dua sekarang!?
Pratito Adrian yang nggak naek berapa kali!? Dua apa
tiga kali??? tanya Reva.
Iya, lo kenal? tanya Eci lagi.
Kenal banget! Putusin aja itu orang! Cowok brengsek kayak gitu jangan dipacarin! nasehat Reva. Tepatnya, bentak Reva.
Emang dia kenapa, Rev? Kok lo ngomongnya ka
yak gitu? Nada suara Eci bergetar. Ia ingin menangis
saat mendengar Reva menyebut cowoknya brengsek. Yah, mungkin itu memang benar, tapi
Dia itu brengsek. Dia yang bikin kakak gue sakit!
Nada suara Reva ternyata jauh lebih bergetar.
Kakak? tanya Daina.

42

Mint Chocolate Chips

Sepupu, jawab Reva.


Mm..mm..mmakk..maksud lo? tanya Eci. Suaranya masih terdengar bergetar. Ia ingin sekali
menangis, walaupun ia belum tau masalah apa lagi
yang akan ia hadapi untuk kesekian kalinya semenjak
ia berpacaran dengan Tito. Sudah banyak masalah
yang ia terima, namun, demi Tito dan rasa sayangnya
untuk Tito, ia rela menghadapi semuanya. RELA!
Dia bikin masa depan kakak sepupu kesayangan
gue ancur tau nggak!? Tito bikin sodara gue ngobat!
Tito bikin sodara gue harus nerima kenyataan kalo
dia kena AIDS! Reva menunduk. Menangis.
Kok Tito? tanya Eci tidak percaya. Akhirnya ia
mendengarnya, akhirnya ia mendapatkan masalah
baru lagi. Kenapa rasanya semua orang menghambat
hubungannya dengan Tito? Padahal, katanya cinta itu
indah. Cinta itu membuat kita tersenyum dan cinta itu
abadi! Ingin rasanya Eci membenci makhluk bernama
cinta itu. Tapi, lihat saja belum pernah! Cinta selalu
ada di sekelilingnya. Selalu ada. Dan cinta itu untuk
Tito. Kenapa rasanya semua orang menghambat
hubungan mereka berdua? Kisah cinta mereka yang
seharusnya indah dan penuh warna, kenapa selalu
diubah menjadi gelap dan kasar?
Iya! Tito! Tito yang bikin sodara gue ikut-ikutan
make. Tito bikin kakak gue ngobat! Tito maksa kakak

Mint Chocolate Chips

43

gue! Tito maksa. Dasar orang gila! Reva masih saja


tenggelam dalam tangisannya.
Maksud lo, Rev? tanya Eci. The gank yang lain
memperhatikan mereka tanpa mampu berkata-kata
karena mereka masih menyusun puzzle ini. Tito yang
mana aja mereka belum tahu, belum sapa, belum lihat, belum dengar, belum kenal.
Iya... Tito. Tito ngerampas kehormatan sodara
gue secara paksa, dan dan sodara gue kena AIDS.
Sodara gue nggak bisa ke mana-mana lagi sekarang.
Ketularan dari Tito! AIDS memang nggak bikin dia
meninggal sekarang, tapi, bakal menggerogoti dia
dulu, pelan-pelan. Dan semua gara-gara Tito! Tito-lo
tuh sakit jiwa tau nggak!? Reva tidak lagi bisa menahan amarah dan tangisnya. Dia juga bikin sodara
gue terjerat obat-obatan terlarang! Bikin masa depan
sodara gue ancur!!!!
Hah? ujar Eci. Hah-nya Eci terdengar sangat
pelan, persis dengan sosoknya yang sekarang lunglai. Tito? AIDS? Date rape? Tito? Separah itukah pacar gue? Segila itukah? Senggakbertanggungjawab
itukah? Apa iya, Tito begitu? Apa iya?! Nggak mungkin. Enggak. Hes my love. My only one. Nggak mungkin enggak sampe segitunya lah... yeah, gue tau
dia badung, bandel, jahat, nakal, galak, misterius
apa segala macem tapi, sampe segitunya?

44

Mint Chocolate Chips

Iya! Masa lo nggak nyadar juga sih!? Tito bikin


sodara gue yang namanya Fina ngobat. Tito yang
maksa. Pertama cuma maksa supaya Fina mau nyi
meng selinting-dua linting5. Lama-lama lebih dari itu.
Tito yang ngejerumusin Fina sampe ancur. Abis itu dia
merkosa Fina juga! Bener-bener brengsek itu orang!
kata Reva marah, tapi nada suaranya sangat amat
pelan. TITO-LO NGANCURIN SODARA GUE! SODARA KESAYANGAN GUE! Reva nyaris berteriak
dalam suaranya yang perlahan menghilang. Menghilang di balik tangisnya. Dan abis ngabisin masa
depan sodara gue, dia mutusin Fina. Dia bikin Fina
jauh lebih sakit! Dia nggak mau sama Fina lagi! Dasar
cowok nggak punya perasaan! Dan.. dan gue takut..
gue takut kalo dia akan melakukan itu lagi, sama lo..
gue nggak mau.. sodara gue udah kena, gue nggak
mau temen gue kena juga.. Kita emang nggak bisa
ngerubah masa lalu, dan jangan menyesali apa yang
udah terjadi. Yang bisa kita lakuin cuma, merubah
sesuatu, sebelum hal itu terjadi dan akan kita sesali kata Reva berubah bijak. Dia sudah mulai tenang,
walaupun masih terdengar seguk tangisnya. Kalo
bisa, kalo boleh, gue juga pengen bunuh itu makhluk. Tapi kan nggak mungkin. Masalahnya Fina masih cinta juga sama dia. Gue nggak nyangka kalo Tito
sekarang pacaran sama lo. Dia udah nggak pernah

Mint Chocolate Chips

45

ngubungin Fina, dia ngilang dari hadapan Fina, SMS


dari Fina nggak pernah dibales, telefon nggak pernah
diangkat. Selalu aja di-reject. Sorry, sorry banget kalo
hal ini nyakitin hati lo, tapi sepupu gue udah sakit duluan dan lebih parah dari yang elo rasain Elo cantik,
elo seru, asik. Gue yakin elo akan dapet yang lebih
baik dari Tito. Gue yakiiiiin banget tambah Reva
lagi. Kemudian ia terus-terusan terisak tanpa henti.
Acya yang duduk di sebelah Reva, langsung
memeluk cewek itu setelah ia selesai bicara. Memeluk Reva dalam dekapannya. Tanpa berkata apa-apa,
karena Acya yakin, dekapannya sudah cukup bisa
membuat Reva lebih tenang. Meskipun sedikit.
Dalam diamnya, Eci jauh lebih sakit. Eci jauh lebih
sedih. Eci jauh lebih kecewa, daripada yang temantemannya tau. NGGAK! SEMUA BOONG! ENGGAK!
NGGAK MUNGKIN! GUE NGGAK PERCAYA SAMA
LO! ELO JAHAT BANGET, REV! teriak Eci yang kemudian beranjak dan berlari sekencang-kencangnya.
Ke tempat di mana ia bisa menangis dan berteriak
sekuat tenaga. Dan bisa menganggap kalau semua
yang baru saja ia dengar adalah bohong. Daina
segera ikut berlari supaya Eci tidak menghilang. Tidak
melakukan hal-hal bodoh yang akan membuat semua
orang menyesal karenanya.
Ci! teriak Daina. Eci tetap berlari menjauh, tapi,

46

Mint Chocolate Chips

Daina tidak pantang menyerah. Ia tetap berlari sekuat


tenaga mengejar cewek itu. Sampai akhirnya ia dapat
menahan Eci dengan menggenggam lengannya. Ci,
tunggu!
Mau apa lagi? Mau ngeledek gue? Mau nyalahin
gue? Gitu? Jadi semua salah gue?! Ya udah sana
salahin gue! Ledek gue terus! Bilang gue tolol! Nggak
bisa milih cowok! Nggak punya otak! kata Eci sinis
tapi sambil menangis.
Gue nggak mau ngomong gitu kok, Ci. Gue cuman pengen nemenin elo, waktu elo sedih. Itu kan,
yang namanya temen. Gue nggak akan nyalahin elo.
Elo kan cuma terlambat tau. Dan Reva, dia juga nggak nyalahin elo kok. Dia cuman nggak pengen elo
terjerumus, karena si Tito itu, ujar Daina. Hanya itu
yang bisa keluar dari mulutnya. Ia hanya ingin me
nenangkan Eci, bagaimanapun caranya.
Bull****, semua tau nggak!? Itu pasti fitnah! Cuman gara-gara dia nggak punya cowok, dia jadi ngeje
lek-jelekin cowok gue, Eci tidak mau mengakui ke
sedihannya, Eci tidak ingin mengakui kejelekan pacarnya. Kejelekan orang yang sangat ia sayangi dan
sangat ia cintai. Eci tidak rela. Dalam hatinya ia sadar,
bahwa cinta telah membuatnya menjadi egois.
Kalo itu boong, kenapa dia tau nama panjangnya
Tito? Kenapa dia tau sekolahnya? Kenapa dia tau?

Mint Chocolate Chips

47

Emangnya, kenapa sih kok lo bisa suka sama dia?


Emang depan lo dia gimana? tanya Daina ingin tau.
Mereka mengobrol di WC cewek. Rata-rata, semua
anak yang menangis di sekolah memang melarikan
dan memisahkan diri ke tempat tersebut.
Tito.. emang ancur, emang pemakai, emang
nyimeng, emang... Tapi, dia baik kok, dia juga cinta
sama gue, dia juga sayang sama gue, pokoknya dia
baik, terang Eci.
Kalo dia baik, kenapa dia gituin Fina? Kalo dia
baik, kenapa dia sering ngilang? Kalo dia baik Kalimat Daina terputus oleh jawaban Eci.
Karena dia selalu memandang hidupnya dengan
sinis. Dan dia pun menganggap kalo hidup orang
lain itu sama tragisnya dengan hidup dia. Tiap gue
cerita tentang impian-impian gue, yang gue pengen
jadi psikolog lah, gue pengen semua orang di dunia
bisa temenan, gue pengen bikin tempat rehab, pasti
dia bilang Impian? Omong kosong tuh semua. Nggak
guna lo ngimpi melulu. Dulu gue juga mimpi, gue punya banyak impian. Tapi lo liat gue sekarang?. Pasti
dia ngomong gitu. Dia selalu ngomong kayak gitu,
cerita Eci. Gue pengen bisa ngubah dia. Dikit aja.
Paling nggak, gue pengen dia berhenti jadi pemakai.
Belom ada cowok yang kayak dia. Belom ada cowok
yang bisa membuka pandangan gue tentang dunia.

48

Mint Chocolate Chips

Belom ada yang bisa nyeritain ke gue tentang dirinya,


sejujur-jujurnya. Semua kejelekan dia ceritain. Yang
bagus-bagus malah dia pendem sendiri aja. Dia yang
ngasitau kalo hidup itu nggak selalu indah. Kita juga
belum tentu bisa mewujudkan semua impian kita.
Belom tentu. Mungkin kita bisa, tapi, alam dan orang
lain belum tentu bisa menerimanya. Dia yang ngajarin
gue kalo hidup itu banyak sedih dan pahitnya. Dia itu
cowok paling mandiri yang pernah gue liat
Ya udah, sekarang terserah elo. Elo mau sama
dia, atau mutusin dia. Itu keputusan lo. Yang penting,
gue dan yang lain udah ngasih pendapat. Itu aja
Dan seharusnya elo bisa menilai, Tito itu cowok yang
kayak gimana kata Daina menasehati Eci, karena
hanya itu yang bisa Daina curahkan.

To, kayaknya kita pisah aja ya?


Kok gitu? tanya Tito.
To, aku sayang kamu. Kamu yang bikin aku tau
tentang dunia. Cuma kamu, cowok yang cuma nyeritain tentang kejelekan kamu. Cuma kamu yang bisa
bikin aku ngerti bahwa di dunia nggak semuanya indah. Mungkin dunia pahit, mungkin hidup kamu dan
aku pahit, mungkin kisah cinta kita pahit. Tapi, kayak kamu bilang, hidup dan cinta itu kayak es krim.

Mint Chocolate Chips

49

Kalo selalu manis, belom tentu enak. Tapi kadang,


ada pedesnya mint, ada pahitnya mocca. Kamu
yang bikin aku ngerti semua itu. Aku udah nyoba
untuk bikin kamu berubah. Aku pernah nyoba. Tapi
gimana? Kamu sering ngilang. Aku nggak bisa. Dan
lagi kamu mesti ngurusin man Belum sempat
terdengar kata tan, Eci mengganti kata terakhirnya
dengan, Fina Kasian dia, kata Eci.
Fina siapa? tanya Tito. Geblek amat ini orang.
Dodol amat. Kasian amat yang namanya Fina. Diancurin orang yang jauh lebih ancur dari dia. Yang
bernama Tito. Yang beberapa detik yang lalu masih
berstatus Pacar Gue.
ELO TUH YA! UDAH GEBLEK, LETOY, TOLOL, LEMOT, BELER, TUKANG NYIMENG, JAHAT
LAGI SAMA ORANG!!! Elo kok segitu jahatnya sih
ama FINA?!?!?! Biar mikir tuh orang. Biar nyadar itu
orang. Biarinnnnn! Lagian, jahat banget jadi cowok.
Udah ngubah masa depan orang malah ngelupain
orang yang sakit itu. Yang sakit karena dia.
Kok lo bisa kenal Fina? tanya Tito agak pasrah.
Elo nggak perlu tau, yang jelas, urusin dulu tuh
mantan lo! Gue nggak mau tau! Fina kasian. Elo udah
bikin dia ancur! Pokoknya hubungan kita selesai sampai sini! Titikkkkk!!! bentak Eci sampai rasanya meledak-ledak.

50

Mint Chocolate Chips

Eci merasakan airmata mengalir di pipinya. Dan


mulai terisak walaupun ia tidak ingin Tito tau bahwa
Eci menangis. Sudah cukup ketragisan hidup Tito.
Cukup sampai di sini! Cukup! Gue nggak mau Tito
tau gue nangis! Gue nggak mau gue nambah masalahnya dia! Nggak! Nggak mau!
Ya udah, Akhirnya,Tito menyerah. Tangis Eci
meledak saat itu juga, saat bunyi telepon ditutup.

Mint Chocolate Chips

51

Dua Surat Dari


Tito
Ci,
Makasih, udah nyoba bikin gue untuk sadar dari ketenggelaman gue di dalam hidup ini. Yang gue tau, hidup ini nggak pernah
indah bagi gue. Dan gue ngiranya, semua orang juga berpikiran
sama. Tapi, berkat elo, gue jadi tau kalo nggak semua bagian hidup
menyedihkan. Gue jadi tau kalo kita mesti berusaha dan optimis
kalo ingin mencapai sesuatu. Gue jadi tau itu. Reva itu temen lo
ya? Tadi gue liat dia.. Di rumah Fina. Gue udah coba berubah, Ci.
Berkat elo. Cuman mungkin gue gagal. Dan nggak akan pernah berhasil. Gue tau kegagalan itu keberhasilan yang tertunda, tapi kali
ini, keberhasilan itu nggak akan pernah datang buat gue kayaknya.
Fina has just passed away, this morning. Perih. Gue udah ke-

52

Mint Chocolate Chips

hilangan dia, dan sejujurnya, aku juga nggak mau kehilangan kamu.
Kamu yang ngajarin aku tentang hidup. Iya, kamu. Yang bisa bikin
aku belajar, bahwa cinta tuh nggak harus memiliki. Gue nggak mau
kehilangan elo, tapi gue lebih nggak mau elo kehilangan segalanya.
Gue rela kehilangan elo, asal lo nggak kehilangan hidup lo, kebahagiaan lo. Gue pengen lo bisa nemuin cinta sejati lo. Dan gue rasa,
orang itu bukan gue.
Udah cukup, gue dan Fina yang terampas kebahagiaannya, dan
hidupnya. Nggak perlu elo. Gue bener-bener udah nggak bisa balik
kayak dulu, Ci. Tapi makasih udah mau nyoba. Dan maaf, karena
gue nggak bisa jadi orang yang bikin lo bahagia. Tapi dengan ini,
gue nyoba. Dengan ninggalin elo, gue usaha supaya elo bisa bahagia
tanpa gue. Gue rela walaupun yang bikin lo bahagia tuh orang lain.
Asalkan elo bahagia. Pada akhirnya.
Tadi, gue nyolatin jenazah Fina. Fina Fina memang udah
sama sekali nggak berdaya. Bener kata lo. Dan semua itu terjadi
karena gue!
Gue ngerasa bersalah banget, Ci. Tadi, keluarga Fina udah ngelarang gue masuk ke rumahnya. Berkat Reva, mereka ngebolehin gue
masuk. Memang menyakitkan, kata-kata Reva. Tapi, gue tetap berterimakasih sama dia. Reva bilang, Biarin aja itu orang masuk! Biar
dia liat karyanya dia! Biar dia tobat! Biar dia mikirin kesalahan dia!

Mint Chocolate Chips

53

Biar mikir! Biar dia tau siapa aja yang udah dia sakitin! Reva na
ngis. Semua di sana nangis. Fina bener-bener orang baik ya, sebelum
gue ubah. Setelah gue bikin dia kayak gitu pun, dia tetep jadi orang
yang baik. Banyak yang nganter jenazahnya. Semoga dia bahagia di
alam sana. Doain aja ya.
Rasanya gue nggak terima, sebenernya guelah yang bikin orang
sesempurna dia mesti pergi secepat ini. Gue nggak terima kenyataan ini. Ini semua salah gue. Gue nggak sempet minta maaf
sama dia, Ci! Gue nggak sempet minta maaf. Kenapa Fina yang
harus pergi, kenapa dia nggak bisa sembuh? Kenapa dia nggak sempet denger maaf gue? Kenapa? Kenapa takdir mesti kayak gitu?
Rasanya gue pengen marah. Tapi, sama siapa? Marah sama
Tuhan? Nggak mungkin. Kematian Fina itu salah gue. Gue pengen
marah sama diri gue sendiri. Gue udah capek sama hidup gue
ini Gue capek Gue capek bikin orang di sekitar gue sakit.
Gue capek ngeliat mereka nggak bisa bahagia. Gue selalu mencoba,
berusaha untuk bikin orang di sekeliling gue untuk bahagia. Tapi
cara gue selalu salah. Dan mereka selalu sakit.
Ci, sana gih, cari cinta sejati lo. Jangan dibandingin melulu
sama gue, ataupun sama orang lain. Jati diri semua orang itu
berbeda. Nggak ada yang sama. Anak kembar aja beda kan? Jadi,
cari cowok yang jutaan kali lebih baik dari gue. Karena, dibanding-

54

Mint Chocolate Chips

kan dengan elo, maupun cowok-cowok lain di luar sana, gue nggak
ada apa-apanya.
Gue yakin elo akan sukses. Yakin. Gue yakin lo bisa jadi psikolog,
bisa bikin semua orang di dunia temenan. Dan gue yakin elo bisa
jadi presiden wanita kedua di Indonesia. Atau jadi penemu planet
baru, mungkin? Gue yakin lo bisa meraih apa yang lo mau. Gue
yakin elo nggak akan nangis. Elo kuat, Ci. Kuat. Gue yakin banget.
Elo pasti bisa. Bener deh.
Maafin gue, Ci. Gue sayang banget sama elo dan Fina. Gue sadar, cinta itu nggak mesti memiliki. Karena kalo gue cinta elo, tapi
gue nggak bisa bikin elo seneng dan bahagia, buat apa? Iya nggak?
Iyain aja deh biar cepet (berkat lo gue masih bisa senyum). Inget,
Ci, apapun yang terjadi, gue akan tetap selalu ada deket elo, dan
gue akan selalu sayang sama lo.
Sekarang, apa yang harus elo lakuin cuman dua.
Pertama, hapus airmata lo, karena menangis itu sia-sia. Dan
nggak akan nyelesaiin masalah.
Kedua, lupain gue. Lupain. Karena cinta sama orang seperti
gue itu adalah hal yang menyakitkan, meskipun buat kamu kadang
indah
Cinta itu cantik
Cinta menemani setiap hembus nafasku

Mint Chocolate Chips

55

Cinta itu manis


Cinta membuang pahitnya hariku
Cinta itu lembut
Cinta melumerkan kerasnya diriku
Cinta itu terang
Cinta menyinari setiap hitam, setiap kelam
Cinta itu tidak pernah cemburu
Cinta tidak pernah marah
Cinta tidak pernah egois untukku
Cinta itu kamu
-TitoTito meletakkan surat untuk Eci di kotak pos, di
pagar rumah Eci. Semoga Eci membacanya. Dan ia
berkata, Maafin gue ya, Rezzy Artya

Fin,
Sejak lo pergi, gue selalu marah sama diri gue. Setiap hari,
Fin! Kenapa gue baru sadar sekarang?! Kenapa gue belom sempet
minta maaf sama lo sekali pun?!! Rasanya hidup ini nggak adil
buat elo, dan gue juga nggak adil sama lo.

56

Mint Chocolate Chips

Gue cinta sama lo. Saking cintanya, gue sampe nggak bisa ngebuat hidup lo bahagia. Malah bikin hidup lo ancur Sedih banget
rasanya, Fin! Dan gue takut. Gue takut sekali. Gue takut lo masih
marah sama gue. Rasanya gue nggak akan pernah bisa memaafkan
diri gue sendiri Nggak akan pernah.
Sekarang, hari-hari rasanya berjalan lebih lambat dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya, waktu elo masih ada di samping
gue, masih sedunia sama gue. Gue jadi jauh lebih murung, dan
sama sekali nggak punya semangat hidup. Rasanya gue pengen
mati aja Karena buat apa gue hidup? Nggak ada lagi orang yang
sayang sama gue Karena gue nggak pantes disayangin siapapun.
Gue nangis setiap hari
Kenapa harus elo yang pergi lebih dulu?! Lo punya banyak
banget impian yang belom sempet tercapai, dan semua itu karena
gue. Rasanya, gue pengen banget gantiin posisi lo. Bukannya gue
nggak seneng hidup. Tapi kalo gue hidup, gue malah dikejar-kejar
rasa bersalah terus. Kenapa elo? Kenapa elo yang harus duluan?
Kenapa lo harus pergi sekarang?! Kenapa gue belom sempet minta
maaf?!?!!
Kenangan kita bareng selalu terlintas, setiap detik, di pikiran gue. Senyum elo, tawa lo, wajah cantik lo, cara elo bicara.
Semuanya. Terbayang dan tergambar jelas di otak gue. Gue pe

Mint Chocolate Chips

57

ngen otak gue geser dikit aja ke pinggir. Biar gue bisa sedikiiiiiit aja,
ngelupain rasa bersalah gue ini. Ngelupain semua ini. Tapi, nggak
bisa. Dan nggak akan pernah bisa, Fin!
Gue selalu ngerasa kalo lo masih ada di deket gue Foto lo di
kamar gue setiap pagi gue ajak ngobrol. Gue ceritain tentang hari
gue yang nggak pernah dan nggak akan pernah menjadi lebih
baik. Apalagi semenjak gue kehilangan elo. Gue udah masuk RSKO,
rehab Gue selalu ceritain semuanya ke foto lo Kali-kali aja
elo denger Who knows? Gue juga makin seneng pake baju itemitem. Karena gue selalu ngerasa berkabung
Gue harap lo bisa maafin semua yang udah gue lakuin ke elo.
Mungkin lo ntar udah masuk ruangan yang beda dari dunia gue,
lewat sebuah pintu. Suatu saat nanti, kalo gue ketok pintu lo, mau
bukain nggak? Bukannya apa-apa, gue bener-bener pengen minta
maaf sama lo secara langsung, face-to-face nanti. Boleh?
Your love, kindness, and understanding will always live in my
deepest heart, hun.
Your Itto

Tito kemudian meletakkan surat itu di depan nisan


bertuliskan nama Fina. Tito setiap hari mengenakan

58

Mint Chocolate Chips

pakaian serba hitamnya. Air mata Tito menetes di atas


makam Fina saat Tito coba mengelus nisan bertuliskan nama cewek itu.
Fin, gue cabut dulu. Ati-ati ya. Jangan bosen liat
muka gue kalo besok gue balik lagi. Anggep aja gue
ngapel kayak dulu. Inget, gue cinta banget sama lo,
Fin. O iya, sorry, sekarang nggak bisa ngasih goodnight kiss kayak dulu kata Tito yang kemudian
berdiri meninggalkan makam Fina dengan airmata
mengalir. Ia berjalan keluar kompleks pemakaman
itu. Tanpa Tito ketahui, surat darinya untuk Fina terbang terbawa angin. Mungkin, menuju ruangan lain
tempat Fina berada sekarang. Dan tanpa Tito ketahui juga, dari suatu tempat yang cukup jauh, seorang
yang sejak tadi menyaksikannya berkata,
Gue udah maafin elo, To. Dan nanti, kalo udah
waktunya elo ngetok pintu gue, gue akan bukain kok.
Karena gue juga cinta banget sama lo, To

Mint Chocolate Chips

59

Tahun
Berikutnya
Jakarta, 17 April tahun kedua SMA
Deeeeeek!!! Suara itu terdengar begitu khas dan
nyaring di telinga Acya. Itu adalah suara kakaknya
yang kadang-kadang kelewat kencang kalau berbicara, Reno.
Kenapa sih??! tanya Acya mencoba menandingi
kencangnya suara kakaknya.
Telfon tuuuuhhhh! teriak Reno.
Dari siapa??!! balas Acya.
Yogaaaaa!!! teriak Reno lagi.
Thanks, ujar Acya ketika membuka pintu dan
Reno sudah menyodorkan telepon wireless itu sebelum sempat diminta.

60

Mint Chocolate Chips

Jangan lama-lama. Gue mau nelfon Shinta


pinta Reno.
Iya! jawab Acya dan kemudian menutup pintu.
Halo? sapanya kepada Yoga.
HAIIII!!!! EHHH, GUE MAU NANYA PR MATEMATIK DONGGG!! teriak Yoga. Dengan otomatis ta
ngan Acya langsung menjauhkan gagang telepon itu
dari telinga Acya.
Kurang nyaring, komentar Acya.
HAHAHAHAHA! Yoga tertawa renyah.
Kok ketawa sih? tanya Acya bingung.
Kok jutek sih? Yoga balas bertanya.
Kok nanya sih?
Ya nanya aja. Kan aku kangen banget ama
kamu ujar Yoga diikuti tawanya yang khas lagi.
Eh, eh, eh, lo lagi ngapain? tanya Yoga.
Lagi nelfon, jawab Acya dengan jujur dan polos.
Iya, gue tau. Maksud gue sebelomnya, jelas
Yoga.
Lagi nulis, jawab Acya datar.
Nulis apa? tanya Yoga. Sabar, Yoga! SABAR!!,
batin Yoga.
Ada deh. Mau tau aja jawab Acya lagi
tanpa nada.
Yaelah!! Nulis apaan?! Kan, kan Gitu banget
sih komentar Yoga.

Mint Chocolate Chips

61

Heh, katanya mau nanya matematik?


Iyah Gue mau nanya yang nomer lima a, b
sama c, nomer tujuh, sama nomer dua belas. Soalnya
itu tuh susah banget. Lo udah ngerjain belom? Udah
kan? Pasti udah, Acya kan rajin banget puji Yoga
setelah berbicara dengan cepatnya tanpa titik koma.
Terimakasiiih, tanggap Acya.
Tapi masih rajinan gue tambah Yoga santai.
Yeee!! Norak lo! Acya sewot.
Hehehe. Jangan marah dong, kan gue becanda.
Please, jangan marah yah? Yah? Yah? Yah?
Iya, iya, iya! jawab Acya.
Masih sewot ya? Nggak niat bener maafinnya?
Maafin dong, kan gue becanda. Galak amat sih? Kenapa? Lagi dapet yaaa? ledek Yoga.
Ah, enggak! Apaan sih lo?! kata Acya malu. SIALAN!!, batinnya.
Yah kan kata majalahnya adek sepupu gue, kalo
mau, lagi atau abis dapet tuh cewek biasanya jadi bad
mood, galak, emosional, ketus, jutek, terus Kalimat Yoga dipotong oleh Acya.
UDAH! UDAH! MENDINGAN SEKARANG GUE
MULAI NGAJARIN LO AJA! bentak Acya. Yoga tertawa nyaring.
Selalu saja seperti ini setiap harinya. Yoga. Yoga
adalah salah satu dari teman dekat Acya semenjak

62

Mint Chocolate Chips

kelas satu SMA. Enam teman dekat Acya itu memang nyentrik-nyentrik dan memiliki kelebihan maupun kekurangan masing-masing, begitu juga dengan
Yoga.
Si Yoga ini bisa dibilang teramat sangat mencintai
diri sendiri. Kalau di jaman sekarang istilahnya narsis. Dia punya rasa percaya diri yang kelewat tinggi
(kalau orang lain pede sejuta, kalau Yoga pede tujuh
belas juta). Sama aja kayak kadar narsismenya yang
kelewatan. Dia adalah Ketua OSIS. Orangnya bisa
dibilang keren. Standar lah. Cowok favorit di Jakarta
tuh modelan yang kayak gimana sih. Tinggi, ganteng,
keren, karismatik, ramah, murah senyum, jago basket.
Di sekolah bisa dibilang Si Yoga ini adalah salah
satu manusia ternyentrik. Selain kepedean dan narsis
(Yogas Favourite Quote: Lebih baik kepedean daripada minder), Yoga itu juga korban iklan banget. Dia
hafal semua iklan yang lagi ngetren. Dan kalimat-kalimatnya sering dipraktekkan dalam kehidupan seharihari. Kayak waktu lagi pemilihan Ketua OSIS
Saya, Krisna Daniswara, akan menyerahkan jabatan dan seluruh tanggung jawab saya kepada Ke
tua OSIS terpilih Adhyoga! ujar Kak Krisna, siswa
kelas tiga yang merupakan Ketua OSIS saat itu.
Mendengar namanya disebut, Yoga langsung

Mint Chocolate Chips

63

memasang tampang sok kaget dan nganga nggak


percaya. Hening. Padahal semua warga sekolah sudah ingin tertawa sekencang mungkin. Yoga persis
Spongebob Squarepants! Ganteng-ganteng gitu ter
nyata gila juga, batin anak-anak kelas satu.
Kakak BECANDA KAN?! ujar Yoga sambil menirukan sebuah iklan permen lolipop. Semua warga
sekolah asli ketawa!
Belum lagi waktu Yoga tiba-tiba datang ke kantin.
Ia berhasil membuat tukang minuman di kantin tertawa terbahak-bahak nggak habis-habis.
Mas, Tehbotol satu dong pinta Acya. Berapa?
Seribu lima ratus, jawab penjual minuman itu.
Hai, manisss sapa Yoga.
Elo nyapa siapa? tanya Acya dengan polos me
ngingat di sekelilingnya tidak ada siapapun selain di
rinya, Yoga, dan tukang minuman.
Gue nyapa siapa? Jelas elo lah! jawab Yoga.
Pikirlah pake otak usul Yoga sambil menunjuk
pelipisnya. Eh, beli apaan lo?
Tehbotol, jawab Acya.
Tiba-tiba, nggak ada angin, nggak ada hujan, nggak ada badai, nggak ada banjir
Lirikan matammuuuu. Yoga menyanyikan sebuah jingle iklan. Acya udah bener-bener pengen

64

Mint Chocolate Chips

ketawa, tapi ditahan. Waktu Yoga melihat minuman


yang akan Acya bayar, dia langsung bilang gini,
Mana mannnnntap??? tanya Yoga waktu Acya
baru akan merogoh sakunya. Acya langsung sete
ngah bingung, tapi pengen ketawa juga. Si penjual
minuman mengambilkan sebotol minuman soda dan
meletakkannya persis di depan Acya. Mantap pilihannya Begitupun aku lanjut Yoga sambil liriklirik ke Acya. Seribu tigaratus, bunga kuberiiiiii
Baru Yoga beraksi, dia sudah mulai kebingungan
mencari bunga. Anak-anak yang menonton masih
terdiam melihat aksi cowok gokil itu. Lhoooo Mana
bunganya??? tanya Yoga. Anak-anak langsung
ketawa semua. Tenang tenang Belom selesai
ujar Yoga. Seribu tigaratus?? Pasti kubayar lanjut
Yoga disambung dengan bertepuk tangan sendiri dan
memberikan selembar limaribuan. Dasarrrr!!!
Ada satu kisah lagi. Waktu itu Yoga akan memesan
susu cokelat dingin di kantin. Pemilik kios itu memang
orang Sunda. Jadi, logat Sundanya kental sekali.
Panggilannya si Akang. Yah, namanya juga orang
Sunda. Si Akang sedang mengaduk susu cokelat di
ngin pesanan dengan sendok saat Yoga menghampirinya.
Kang, itu apaan? tanya Yoga sok bego sambil
menunjuk ke arah gelas tadi.

Mint Chocolate Chips

65

Ini teh susu, jawab si Akang.


Mana tehnya? tanya Yoga lagi dengan nada
kekanak-kanakan. Terang aja si Akang bingung.
Kamu mau pesen susu juga? tawar si Akang.
Mau, tapi nggak pake teh! jawab Yoga, masih
dengan nada yang tadi. Si Akang jadi ketawa.
Kesimpulannya, yang namanya Yoga memang
eksentrik. Yoga memang terkadang terlihat terlalu ceria dan hiperaktif, tapi Yoga masih punya kepribadian
lain yang disembunyikan. Dan Acya benar-benar ingin tahu sisi diri Yoga yang satu itu.
Orangtua Yoga sudah bercerai sejak ia kecil. Waktu SMP, ibunya pindah ke Inggris karena ditugaskan
mengajar di sebuah universitas. Ayahnya sudah tidak
pernah mengunjungi Yoga sejak Yoga masih sangat
kecil. Hal itu membuat Yoga sensitif dan emosional,
walaupun sebenarnya ia ingin menyembunyikan
semua itu. Yoga gampang marah, tapi ia selalu berhasil menahan amarahnya di dalam hati. Yoga benarbenar nggak mau menjadi seperti ayahnya yang tidak
bertanggung jawab, maupun ibunya yang workaholic,
sampai meninggalkan anaknya segala demi suatu
pekerjaan. Yoga tau, tempat ibunya bekerja adalah
sebuah UK, tapi nggak harus sampai meninggalkan
anak satu-satunya kan? Yoga selalu tampil ceria di
sekolah, tapi Acya tetap melihat kemurungan Yoga

66

Mint Chocolate Chips

yang kadang tertutup oleh tawa renyahnya, dan senyum ramahnya.


Hampir setiap malam Yoga selalu menghubungi
Acya, apalagi kalau ada PR. Yoga kadang-kadang
emang agak telat mikirnya. Acya mengetahui hal itu
karena setiap selesai dijelaskan, Yoga pasti bilang:
Ooh, gitu doang?! Gampang amat! Gitu sih gue juga
udah bisa dari tadi!
Sementara Acya sendiri, punya hidup yang bisa
dibilang cukup terbalik dari kehidupan Yoga. Acya itu
orangnya terbuka dan gampang beradaptasi dengan
teman baru. Keluarganya juga sempurna-sempurna
aja. Serese-resenya Reno, tetap aja baik. Orangtua
Acya juga akur walaupun selisih paham kadangkadang ada.
Acya punya lima teman dekat di sekolah selain
Yoga. Yaitu Reva a tempramental girl, Kiffi the
good-looking racer, Eci the easygoing and full of
happiness girl, Tama a fat-kung-fu-boy-wannabe,
dan Daina the prettiest, loveliest and girlish one.
Semuanya nyentrik. Semuanya punya kelebihan tapi
punya kekurangan juga. Semua juga punya kisah
tersendiri, tapi Acya siap menerima mereka semua
(and of course Yoga too) apa adanya, dengan segala
kekurangan dan kelebihan mereka.

Mint Chocolate Chips

67

Halo, bisa bicara dengan Yoga? ujar Acya.


Dari mana ini? tanya seseorang di seberang sana.
Acya, jawab Acya singkat.
Ooh, Non Acya. Sebentar ya, Non, ujarnya.
Iya, kata Acya lagi.
Mas Ada telfun dari Non Acya!
Assalamualaikum, Ibu sapa Yoga.
Waalaikumsalam, Bapak jawab Acya.
Kenapa? tanya Yoga.
Nggak. Pengen ngobrol aja. Eh, tadi elo liat TB
(baca: Tebe) nembak Risya nggak? tanya Acya.
Tentu liat! Kan TB gue yang ngajarin tuh bisa seromantis itu, kata Yoga pamer.
Bohong, ujar Acya pelan. Nggak mungkin lah!
Dih! Nggak percaya dibilangin ama yang kerenan!
TB tuh manusia dugem, nggak bakalan bisa ngelakuin
hal yang sweet kayak gitu kalo nggak ada yang ngajarin. Kalo gue, itu baru mungkin! balas Yoga.
Beggh! Sweet?! Mimpi aja kali lo ledek Acya.
Tuh kan?! Ah, norak lo! timpal Yoga bete.
Ya maap deh. Eh, gue lagi nginget-nginget jamannya kita kelas satu awal-awal nih. Gue inget waktu elo
gebuk-gebukan ama Reva. Itu kenapa sih? Gue lupa
deh, kata Acya.
Itu gara-garanya kan gue lagi ngobrol-ngobrol
sama lo soal masalah kenapa elo nggak suka makan

68

Mint Chocolate Chips

pake sambel. Terus kan Si Reva nanya kita lagi ngomongin apaan. Abis itu pas elo ceritain, Si Reva nggak
percaya. Katanya gue gila lah, nggak mungkin bisa
sedetil itu. Katanya soal gue juara debat jaman SMP
boongan lah, soalnya nggak mungkin, dari tampang
gue aja udah nggak ada tampang anak masa depan
cerah, katanya. Abis itu ya gue marah dong. Gue bilang, pinter tuh kan nggak dari tampangnya. Ya abis itu
gue gebuk-gebukan sama dia. Tapi Reva curang tuh,
masa waktu dia udah hampir gue banting malah lari
ke kamar mandi cewek. Mana berani gue masuk situ?
ujar Yoga. Acya ngakak. Yeee, ini anak malah ketawa.
Elo sarap, sedeng, apa sinting sih? tanya Yoga.
Ah, enggak, enggak. Lucu aja ngingetnya. Hahahahaha! Acya kembali tertawa. Oh yah, gimana elo
sama Tama, udah baikan? tanya Acya.
Nggak akan! Si Tama tuh brengseeeek!!!! Kenapa sih dia mesti ngeledek-ngeledek keluarga gue?!
Gue kirain dia itu temen gue, taunya enggak! Sialan,
tuh orang! teriak Yoga. Yoga diam. Kemudian ia menyanyikan lagu Simple Plan favoritnya, So thank you
for showing me that best friends cannot be trusted.
And thank you for lying to me. Your friendship. The
good times we had. You can have them back6
Yo, udah. Jangan ngomong sampe kayak gitu
dong, pinta Acya.

Mint Chocolate Chips

69

Sorry, sorry. Abis gue nggak terima digituin sama


dia. Ngapain sih dia pake bawa-bawa nama bokap
gue segala! Tau gitu dari jaman-jaman dulu nggak
gue ceritain deh tentang hidup gue kalo tau kayak gini
jadinya! bentak Yoga lagi.
Eh, udah dulu ya. Si Reno mau make telfonnya nih.
Jangan lupa lho nanti sebelom tidur baca doa mau tidur,
terus Al-Fatihah, Ayat Qursi-nya jangan lupa, abis itu surat Al Kalimat Acya keburu dipotong Yoga.
Siap, Ibu Haji!
Ih, elo tuh. Dikasih tauin yang bener, juga! kata
Acya sebal.
Iya, iya. Maaf deh. Nanti tidurnya jangan malemmalem yah. Terus, besok semoga bangunnya pagi
ya. Mau dijemput nggak nih? tanya Yoga menawarkan jasa antar-jemput.
Nggak usah, makasih. Besok gue bareng sama
kakak gue. Ya udah deh. Ngantuk nih. Yah? Daaah
ujar Acya.
Dadah, jawab Yoga. Tut! Bunyi telepon ditutup.
CYA!!! teriak suara nyaring itu. Reno. Ih, kebiasaan banget sih tuh anak Teriak nggak kirakira gumam Acya.
YAAA??? teriak Acya. Ia membalas teriakan kakaknya.
Udah selesai belom nelfonnya? tanya Reno.

70

Mint Chocolate Chips

Udah! jawab Acya. Acya berjalan menuju kamarnya. Ia mengambil buku jurnalnya dan seperti biasanya, ia mencatat kejadian-kejadian penting hari ini.
Tadi siang TB nembak Risya. Gila banget, udah
kayak acara Katakan Cinta. Jadi, pas abis Jumatan,
TB ke lapangan basket bawa-bawa teddy bear yang
dikelilingin mawar merah sekardus. Abis itu dia minta
Risya buat ke tengah lapangan terus dia ngasih satu
mawar ke Risya dan nembak Risya saat itu juga. Risyanya juga nerima, lagi! Aduh, asik banget ya jadi
Risya. Sweet banget sih TB. Yah, biarpun gue nggak
suka ama TB, tapi gue juga pengen digituin ama siapa kek gitu yang keren. Hehehe.
Ulangan Biologi sucks! Susah banget! Gimana
mau masuk IPA nih? Gila banget! Susah! Tadi sih
anak-anak lumayan banyak yang nyontek gara-gara
Pak Dedi bukannya ngawas malah tidur.
Gue ngantuk berat. Bete. Capek. Tadi abis nelfon
Yoga tapi Si Reno tuh maksa-maksa pengen minjem telfon buat nelfon Mbak Shinta. Huuuu Dasar!
Kadang jomblo enak, kadang jomblo nggak enak.
Tapi sekarang, gue lagi pengen punya pacar nih.
Bete! Mumpung baru kelas dua! Kalo kelas tiga baru
punya cowok mah repot!
Acya menutup jurnalnya dan mematikan lampu
kamarnya. Good night, Yoga.

Mint Chocolate Chips

71

Ponsel Acya bergetar, menandakan adanya SMS


yang masuk. Dari Dion, salah seorang temannya
yang merupakan salah satu anggota tim inti basket.
Gimana nggak inti? Tingginya menjulang udah kayak
pemain basket beneran! Pokoknya gede banget deh
orangnya. Tapi, nggak kurus juga. Walaupun nggak
gendut-gendut amat.
Acya membuka pesan pendek itu. Isinya, Gue
boleh jadi sahabat lo enggak? Acya mereply SMS
itu dengan, Boleh aja, Hitung-hitung menambah teman, pikir Acya.
Setelah SMS dari Acya itu terkirim, ponsel Acya
kembali bergetar. Dari Dion lagi. Isinya, Gue boleh
curhat enggak? Acya kembali membalas dengan
kata-kata yang sama, Boleh aja, Acya mengklik
send. Kemudian, ponsel Acya kembali bergetar,
Gue lagi suka sama cewek. Sukabanget! Tapi gue
takut dia benci gue. Menurut lo, gimana? Acya membalas pesan itu, kali ini dengan jawaban yang lebih
panjang, sedikit. Katakan cinta, dong! PD aja lagi!
Pesan telah terkirim. Kemudian ada SMS masuk lagi.
Wah, cowok ini memang SMS-mania, balasnya cepat
banget!, pikir Acya. Acya membuka pesan pendek itu,
Kalo cewek itu elo, lo mau nggak? Acya berpikir. Ia

Mint Chocolate Chips

72

mengambil secarik kertas dari buku hariannya, kemudian menulis.


7 HAL YANG ENGGAK GUE SUKA DARI DION
(baca: 7 Things I Hate About You)
7 Sumpah bodinya gede banget. Bukannya gue nge
hina tapi gue ngeri aja. Dia tuh tinggi banget. Nyai
ngin Shaquille ONeal! Tapi nggak kalah sama
Bajuri juga! Aduh
6 Pengecut banget. Nembak aja di SMS. Di sekolah aja
dia tuh nggak berani ngajak gue ngobrol.
5 Rambutnya nggak jelas. Modelnya kayak shaggy
gitu tapi kayak ngeblow ke dalem. Pokoknya ng
gak meaning deh! Masa cowok rambutnya diblow?
YANG BENER AJA!
4 Boros! Tajir sih tajir tapi nggak usah ditampangtampangin dong!
3 Sepatunya aneh banget. Kayaknya nggak asik aja
jalan sama cowok yang sepatunya model ikan paus
gitu.
2 Sok. Gayanya sok ngikutin Eminem banget. Baru
hafal lagu How Come aja udah ngesok banget.
Emangnya dia sekeren Eminem?
1 Suka ngatain gue Asia! Asia!. Nama bagus-ba
gus dikasih ortu gue kok diubah-ubah? Pake nama
benua, lagi!

Mint Chocolate Chips

73

Jadi kesimpulannya, Acya berbicara sendiri. Dia


memilih reply. Dia menekan tombol tiga, dua kali.
Enam, dua kali. Empat, cukup sekali. Kemudian, empat sekali lagi. Dua juga hanya sekali. Dan lima sebanyak dua kali7. Dia memilih send. Acya berpikir,
mungkin jawabannya terlalu sadis. Tapi tidak apaapalah, batinnya. Gue kan udah bikin7 Things I
Hate About You!

Jakarta, 18 April tahun kedua SMA


Saat istirahat. Acya berjalan ke kantin. Sendirian.
Teman-teman ceweknya sudah ke kantin duluan. Kela
paran. Sedangkan Acya, dia masih menyelesaikan
tugas Biologi yang diberikan oleh gurunya tadi pagi.
Lebih baik mengerjakan sekarang, bagi Acya. Daripada nanti di rumah, nambahin kerjaan aja! Hehehe
Acya melihat Daina, Yoga, Reva, Eci, Tama, dan Kiffi
sedang duduk di beberapa kursi yang mengelilingi sebuah meja di kantin.
Hai, Acya! Daina menyapanya.
Gosip, yuk! kata Eci.
Yuk ya, yuuuuk kata Daina sambil menirukan
quote dari sebuah infotainment.
Ngapain sih gosip-gosip melulu? Emangnya gosip itu penting ya buat cewek? tanya Yoga.

74

Mint Chocolate Chips

PENTING BANGET! jawab Eci. Cowok-cowok


sudah akan beranjak.
Duh. Mendingan gue main bola di lapangan daripada ngedengerin lo ngomongin orang, ujar Yoga
cuek.
Emangnya mau ngegosipin apaan, sih? tanya
Reva.
Ini tentang Hmmm Acya! ujar Eci. Yoga yang
tadi sudah berdiri akan meninggalkan kantin, duduk
lagi di bangkunya.
Acya kenapa? kata Yoga dengan antusias.
Ngapain lo balik lagi ke sini? Katanya mau main
bola kata Eci.
Nggak semua yang lo denger itu bener Yoga
ngeles sambil (lagi-lagi) menirukan sebuah iklan. Lagian, kan perilaku gue teramat sangat mendukung
slogan gue,
Emang apaan motto lo? tanya Reva.
ACYA? GUE BANGET! jawab Yoga nyebelin.
Halah-halaaaah... aneh-aneh aja ini manusia. Eh,
Ci, lanjutin dong! Gosipnya apaan sih? tanya Daina
penasaran.
Dion nangis tau! Lo abis nolak dia kan, Cya? ujar
Eci setengah yakin.
HAH? TEGA BENER LO?! KAN KESIAN! teriak
Tama tanpa mengontrol suara kencengnya.

Mint Chocolate Chips

75

Ngomongnya enggak kurang pelan, Tam? Kiffi


mengingatkan sambil nyindir.
Ya sorry... Ya maap jawab Tama sambil memasukkan snack ke dalam mulutnya (di bungkus snack
yang ia pegang terdapat tulisan Special Extra 25%,
Jumbo Pack. Gede banget maksudnya!)
Tadi malem gue lagi bete banget. Dia ngesms,
abis Yoga nelfon, jelas Acya. Tapi terpotong kalimat
Ooh... jadi gitu? Jadi tiap malem si Yoga nelfon
lo? tanya Daina sambil agak nyindir.
Penting ya? Reva menambahkan. Ia melirik
ngeledek ke arah Yoga yang udah melototin dulu
an.PENTING BANGET! ujar Yoga spontan membela diri.
Eh, lanjutin dong! Jangan dipotong-potong gitu!
pinta Eci sambil tidak sengaja mengalihkan pembicaraan.
Terus, ngajak sahabatan gitu. Abis itu, dia bilang
dia mau curhat. Dia bilang dia suka cewek. Terus, dia
bilang, Kalo cewek itu elo, gimana? Lo mau nggak?
Ya, enggak lah! Siapa juga yang mau sama cowok
segede gitu! Bukannya gue ngehina ya! Tapi Gue
ngeri aja deh sama dia. Gue semungil sekecil begini
dibandingin sama bodinya mah kalah bodi banget! Ya
udah, gue bales aja, Enggak. Lagian, cowok apaan

76

Mint Chocolate Chips

coba nembak pake SMS? Kalo nelfon, sih, masih lumayan. Biarpun enggak gentle juga. Seenggaknya,
dia ngucapin lisan walaupun perantara kawat. Kalo
SMS, itu mah tulisan, Acya memberikan testimonialnya mengenai Dion panjang lebar.
Iya! Gue setuju! Dia tuh berarti pengecut banget
dong! Masa kayak gitu! Cinta ditolak bukannya berusaha, malah nangis! Woooopayah! kata Reva
berapi-api.
Yah, Dion memang cowok pengecut ya! Setuju
enggak? tanya Eci.
Setuju! teriak Daina sendirian dengan kencangnya. Mukanya langsung semerah udang rebus. Malu.
Yang lain malah menahan tawa.
Kemudian Eci menyahut, Eh, nggak gitu juga
lagi... Waktu itu Tito nembak gue lewat e-mail... kan
bukan berarti dia pengecut,
Ya... ya... ya... Tito lagi... Makan aja tuh si Tito
sekalian! Tiap hari lo ngomongin Tito melulu. Nggak
ada kerjaan lain, apa?! Dia udah bikin hidup Fina
berubah! Dia yang bikin umur Fina nggak panjang! Lo
mesti nerima kenyataan itu! Reva males mendengar
kalimat Eci tadi.
Eci menunduk mendengarnya. Ia sadar bahwa
ia harus menerima kenyataan pahit itu. Meskipun ia
sangat mencintai Tito Tapi, kalau jadi pacar Ah

Mint Chocolate Chips

77

Tapi Eci tidak mau dikalahkan begitu saja oleh argumen Reva. Kemudian ia menyahut, Iya deh. Selalu
gue yang salah. Kalo gue cinta sama dia, itu kan bukan salah gue. Dan Fina meninggal, nggak semuanya
salah Tito. Emang udah takdirnya dia begitu. Tito kan
cuman jadi perantara doang, Eci membela mantan
pacarnya habis-habisan, walaupun ia teramat sangat
tau bahwa Tito salah. Sangat salah.
Heh, belom tentu! Kalo Tito nggak nularin AIDS
ke Fina, kalo Tito nggak nyuruh Fina ngobat, mungkin
Fina masih ada di deket gue sekarang! Pikir dong,
pake otak! Jangan seenaknya ngebela orang! Jangan
subyektif, tau nggak?! bentak Reva.
Udah, udah, Rev, Ci, sela Daina, mencegah terjadinya perang dunia kelima belas.
Acya mau bakso kuah enggak? Kalo mau sekalian gue pesenin, Say, ujar Yoga sambil mencoba
mencerahkan dan menceriakan suasana. Biarpun
mungkin akan gagal, Yoga tidak menyerah. Ia kan punya pede tujuhbelas juta. Wajar kalau Yoga pantang
mundur.
Ada apaan lo manggil gue sayang-sayang segala?! Acya agak tersinggung karena malu. Apalagi the
gank menatapnya dengan tatapan antara ingin mengucapkan what-is-this, oh-so-sweet dan yucks.
Ya udah. Nyet, lo mau makan apa? Gue beliin.

78

Mint Chocolate Chips

Bakso ya? Ya? Ya? Ya? Ya? Yoga memang memiliki kebiasaan mengulang kata terakhir dalam kalimat
yang ia ucapkan, sebagai bentuk halus dari paksaan.
NYET?! bentak Acya lebih tersinggung lagi.
Lo tuh gimana sih?! Gue panggil sayang nggak
mau, gue panggil monyet nggak mau juga. Plin-plan,
nggak punya pendirian, nggak prinsipil, aneh, judes,
jahaaaaaaaaaat! kata Yoga.
Panggil gue Acya aja kenapa sih? Acya memohon.
YA UDAH! CYA, LO MAU GUE PESENIN BAKSO
NGGAK?!!! bentak Yoga.
Mau. Tapi jangan kata Acya setengah-sete
ngah karena kemudian Yoga memotong pembicaraannya.
Tapi, jangan pake sambel soalnya nanti penyakit maag lo kambuh kan? Siap, boss! kata Yoga
dengan sikap hormat bendera diikuti langkahnya
menuju stand bakso kuah di kantin. Beberapa menit
kemudian, Yoga kembali dengan membawa dua buah
mangkok berisi bakso kuah, berikut pangsitnya serta
sendok dan garpunya.
Yo, kok gue enggak dibeliin sekalian, sih? Acya
doang nih Duh, sentimen amat sih lo ama kitakita ujar Daina, dengan suara ngeledek.

Mint Chocolate Chips

79

Yoga mah begitu! Dia kan cinta mati sama Acya!


Ya nggak sih? tambah Eci usil. Yoga duduk di sebelah Acya.
Cinta mana ada yang mati? Lagian, emangnya
kalo gue suka sama Acya kenapa? Nggak suka? Nggak boleh? Nggak seneng? Nggak rela? Ngiri? YA
UDAH! ujar Yoga diikuti ketenangan sikapnya.
Ya sorry deh. Gitu aja ngambek. Aduuuuuh, Ade
Yoga ngambek nih Yah, ngambek deh. Tuh kan,
manyun. Aduh, nggak ada balon sama permen lagi.
Aduh, gimana dong? ujar Reva dengan nada meledek.
Yoga sudah mulai bete. Sangat-sangat bete. Dia
paling sebal kalau diperlakukan seperti itu. Kenapa
sih semua orang menganggap dia kayak anak kecil?
Kenapa semua orang menganggapnya kekanakkanakan? Apa hal yang menyebabkan ia diperlakukan dengan tidak adil seperti itu? Apa yang salah
dengan sikapnya? Padahal, ia sudah cukup dewasa
dalam mengambil keputusan, usianya pun juga sudah
remaja. Apa jabatan KETUA OSIS belum cukup untuk
membuktikan rasa tanggung jawabnya yang besar?
Kenapa sih, elo semua tuh nganggep gue anakanak?! Terutama elo, Rev! Lo semua udah mulai ka
yak nyokap gue tau nggak?! Yoga membentak Reva
dengan berapi-api. Ia selalu merasa dilecehkan oleh

80

Mint Chocolate Chips

gadis itu. Emangnya lo doang yang bisa jahat?


YA MAAP DEH! Reva kurang ikhlas.
Orang tuh kalo ngomong pasti pake hati atau
pake otak, tau nggak?! Tapi gue rasa elo nggak punya
dua-duanya deh! bentak Yoga.
Jadi kalo lo dianggep anak kecil terus, itu salah
gue? Salah temen-temen gue? tanya Reva sambil
menirukan dialog dari sebuah film.
IYA! SALAH LO! Apa sih yang bikin elo nganggep
gue anak kecil? Apa yang salah sama gue? Gue nggak pernah mikir pendek kalo ngambil keputusan!
Kalo gue itu childish, kenapa anak-anak milih gue
jadi ketua OSIS?! Kenapa sih elo selalu ngelecehin
gue? Nyela gue? Lo kira cuman elo yang bisa jahat
sama orang? Gue juga bisa kalo gue mau! Tapi elo
tuh temen gue! Gue punya otak! Gue juga punya hati!
Gue tau lo punya perasaan! Apalagi lo cewek! Gue
tau cewek itu beda karakternya sama cowok! Gue tau
kalo cewek itu sensitif! Gue mikirin akibatnya kalo gue
ngeledek elo sembarangan! Elo tuh yang kayak anak
kecil, nggak tau aturan, sok dewasa, tau nggak?! Punya etika nggak sih lo? Kenapa elo seenaknya ngejudge seseorang kayak anak kecil? Lo kira lo udah
cukup dewasa, apa? Gue tau gue punya kekurangan,
elo juga punya. Semuanya punya. Tapi gue kan nggak pernah ngeledekin elo. Mau elo tomboy kek, ka

Mint Chocolate Chips

81

yak cowok kek, apa pernah gue bilang lo lesbian? Apa


pernah gue bilang elo cowok? Pernah nggak?! Kayak
elo yang paling bener aja! Sekarang gue yang mesti
ngomong, PIKIR DONG PAKE OTAK! Yoga terus
membentak Reva non-stop tanpa titik koma. Kali ini
ia benar-benar marah. Kemudian ia memelankan sua
ranya, Pikir pake otak, jangan pake dengkul!
Yo ya sorry ucap Reva dengan sangat pe
lan. Baru pertama kali ini ia melihat Yoga marah se
perti itu.
Lain kali, kalo mau ngomong, dipikir dulu! Punya
otak tuh dipake buat mikir! Mikir jangan pake dengkul!!!! bentak Yoga lagi. Acya dan teman-temannya
tidak sanggup berkata-kata ketika mendengarnya.
Kecuali Kiffi yang langsung berusaha menghentikan
kericuhan, keributan dan pertengkaran yang barusan
saja terjadi antara Yoga dan Reva.
Eh, ngomong-ngomong Yo, gimane? Elu kok belom dibeliin handphone juga sih? Notebook aja dikasih. Udah deh... jual aja tuh notebook. Lumayan,
sekalian beliin gue hape baru, usul Kiffi.
Nggak disetujuin tapi tetep aja, notebook itu
penting buat gue. Karena gue mau Yoga tidak
meneruskan perkataannya. Mimik wajahnya menunjukkan bahwa ia sedang berpikir keras. Acya menyandarkan kepalanya di bahu Yoga. Iseng aja, siapa tau

82

Mint Chocolate Chips

Yoga bereaksi.
Karena lo mau ngapain? tanya Kiffi penasaran.
Emmm Ah, enggak. Nggak kenapa-napa, kok.
Gue becanda, jawab Yoga sedikit ragu.
Lo kenapa sih? tanya Acya dengan nada lumayan khawatir.
Enggak apa-apa kok. Gue cuma bingung. Yah,
bisa dibilang bimbang lah! Tapi, gue cuma becanda
kok soal yang tadi. Nggak kenapa-napa? Gue kan
iseng... iya nggak? Iyain aja deh, tanya Yoga tanpa
meminta jawaban.
Beggh, lagu luu! Bimbang? Bimbang kenapa? Pertama kali aku tergugah, dalam setiap kata yang kau
ucap tanya Reva sambil kemudian menyanyikan
sepotong bait lagu Bimbang milik Melly Goeslaw.
Heh, nggak usah ngajak gue ribut lagi, deh! Emang
ada yang belom bisa gue ceritain sih. Tapi nggak pen
ting kok. Ngapain dipikirin!? Gue aja cool-cool aja tuh.
Duh, gimana ya? Yoga Si Gantenk emang cool sih
orangnya! Lagian, itu handphone kagak dibeli-beliin
ke gue gara-gara nyokap gue tuh nganggep gue anak
kecil terus kali... kayak lagunya Simple Plan lah. Im
just a kid and life is a nightmare! Yoga menyanyikan
lagu favoritnya. Acya juga sangat menyukai lagu itu.
Salah satu dari banyak kesamaan mereka.
Eh... balik ke kelas yuk. Gile, udah jam segini...

Mint Chocolate Chips

83

lets kita cabut, ajak Acya. Yoga, Acya, dan temanteman mereka yang lain beranjak dari meja di kantin
itu. Mereka menuju ke kelas karena waktu istirahat
hampir habis. Benar saja, lima menit kemudian, bel
masuk berbunyi.
Sesampainya di kelas, Acya masih penasaran tentang yang dikatakan Yoga di kantin istirahat tadi.
Yo, lo tuh kenapa, sih? Kok kayaknya lagi bete
apa uring-uringan... Lagi ada masalah ya?
Enggak. Nggak ada apa-apa kok. Lo nggak usah
mikirin gue. Mikirin diri lo sendiri jauh lebih penting
daripada mikirin orang kayak gue, kata Yoga.
Hey Elo kenapa sih? Kok lo berubah jadi gini?
Lo jangan ngomong kayak gitu, dong, Acya khawatir
dan cemas mengenai Yoga. Tapi, biar bagaimanapun
juga, Yoga tetap tertutup. Walaupun setiap hari Acya
disebut sayang oleh Yoga, setiap malam Acya ditelepon Yoga, atau Yoga sengaja memilih untuk duduk di
sebelah Acya, tapi tetap saja. Yoga tetap tidak mau
berterus terang kepada Acya.
Weeeiy... yang tadi itu... gue cuman becanda
kali, ujar Yoga lagi.
Tapi boong! Ditambahin itu maksud lo? Kenapa
sih lo nggak mau cerita sama gue? tanya Acya.
Udahlah! Nggak usah dipikirin!

84

Mint Chocolate Chips

Yoga men-dribble bola basket di tengah lapangan,


sendirian. Dilihat dari seluruh gerak gerik dan raut
wajahnya, agaknya Yoga sedang menikmati dunianya
sendiri. Menikmati kesendiriannya. Seperti cuma ada
dia di dunia ini. Yoga tidak mengindahkan siapapun.
Tidak terkecuali Acya.
Tama duduk di pinggir lapangan, tetap asyik me
ngunyah snack favoritnya seperti biasa. Sementara
Kiffi, lagi tebar pesona di antara cewek-cewek kelas
satu. Yoga memasang tampang jutek, dahsyat, dan
lumayan sadis. Nggak seperti biasanya. Biasanya
kan pandangannya super ramah, hangatnya nggak
ada yang nandingin. Tapi sekarang Ia men-dribble
layaknya orang lagi marah-marah. Biasanya kan dia
main basket dengan raut wajah gembira, sambil menyanyikan lagu-lagu kesukaannya malah. Waktu dia
habis berkelahi dengan Tama saja, Yoga masih pa
sang muka happy.
Reva lagi ke kantin bareng Daina. Sementara
Eci nemenin Acya duduk di samping lapangan basket. Rangga tiba-tiba aja nongol, kemungkinan besar
ingin mengajak Yoga duel di lapangan. Tapi Yoga
tetap cuek, seolah tidak ada seorangpun di sekolah
itu. Acya aja nggak dianggep, apalagi Rangga. Rang-

Mint Chocolate Chips

85

ga menghampiri Yoga yang sedang berada di area


three point. Yoga memang nggak pernah nggak ngeshoot di area three point kalo lagi main basket sen
dirian. Rangga berusaha merebut bola dari tangan
Yoga. Yoga berputar dan berlari ke dekat ring dan
berusaha memasukkan bola ke dalam ring. Masuk!
Rangga makin bete, padahal barusan dia bermaksud
tepe (TE-bar PE-sona). Dia kembali berusaha merebut bola dari Yoga di area three point, namun, dengan
mudahnya Yoga malah berusaha mencetak angka
lagi dari sana dan masuk! Rangga kesal dan menghalangi jalan Yoga.
Apa-apaan sih lo!? tanya Yoga sambil tetap mendribble bola di tangannya. Rangga diam. Gue tanya,
ada apa lo ke sini? tanya Yoga lagi. Rangga tetap
setia dengan kebisuan sesaatnya. Ia malah berusaha
merebut bola dari tangan Yoga, tetapi tidak berhasil.
Mau maen?... ngomong! kata Yoga. Rangga masih
tetap diam, berusaha untuk tetap cool. Kalo nggak
mau ya udah, ujar Yoga enteng dan melempar bola
ke ring tetap di area three point dan meninggalkan
lapangan dengan santainya. Ia malas bersusah-susah
melihat ke ring untuk melihat apakah bolanya masuk
atau tidak. Jelas sajamasuk! Dan bola itu mental ke
mana-mana. Rangga memunculkan ekspresi kagum
dan menyerah melihatnya.

86

Mint Chocolate Chips

Yoga mengambil tas selempangnya tanpa mengindahkan Acya. Ia cuek saja. Padahal biasanya, Yoga
selalu memaksa untuk mengantar Acya pulang. Eci
juga dicuekin aja. Tama lagi... mereka lagi berantem,
Tama juga nggak akan berharap disapa Yoga. Acya
beranjak dari tempat duduknya. Diikuti Eci yang sudah tau apa yang akan dilakukan Acya. Acya berlari
menghampiri Yoga yang berada kira-kira lima meter
di depannya, Eci tidak merubah kecepatan jalannya.
Ia tidak mau ikut campur masalah Yoga dan Acya.
Acya menarik tangan Yoga, dan Yoga berhenti.
Tapi ia tetap diam, tidak mau menoleh ke arah Acya.
Acya menatap Yoga dengan khawatir. Lo kenapa
sih? tanya Acya serius sambil terus memegang le
ngan Yoga. Oh, shoot, I hate this situation!, gumamnya dalam hati.
Gue nggak kenapa-napa, jawab Yoga, tatapannya pada cornblock masih sangat dingin. Dingin, berbeda, murung. Acya sudah mengetahui kemurungan
Yoga yang selalu disembunyikannya dibalik topeng
keceriaan dan kehebohan cowok itu. Namun, hari ini,
seolah-olah topengnya hilang. Entah kenapa.
Jangan boong. Gue tau lo lagi punya masalah,
kata Acya tulus. Ia tetap menatap Yoga dengan serius, dan tidak akan mengalihkan pandangannya. Yoga
menengok ke arah Acya dan tatapan dua insan itu

Mint Chocolate Chips

87

bertemu. Tapi kali ini tatapan Yoga berbeda dari yang


biasanya, tatapannya tajam, dan Acya tidak ingin melihatnya. Sakit
Gue nggak kenapa-napa, Cya! Lo bisa diem nggak sih? Kan udah gue bilang gue nggak kenapanapa! Yoga makin bete, tapi sebenarnya ia menyesal
setengah membentak Acya seperti itu.
Lo nggak pernah kayak gini... pasti lo lagi marah
sama seseorang. Lo marah sama gue ya? Salah gue
apa sih sama lo sampe lo kayak gini? tanya Acya lagi.
Kemudian ia menatap ke bawah, ingin rasanya ia
menangis. Yoga, youre so mean! Elo jahat banget!
Enggak! Gue tuh nggak kenapa-napa. Kenapa sih
lo maksa banget? Udah gue bilang gue nggak apaapa! Apa gue nggak boleh maen basket sendirian,
apa gue nggak boleh jadi pendiem sekali-sekali!?
Kenapa sih lo mesti kayak gitu! Gue aja biasa-biasa
aja! Yoga sekarang menatap lurus. Ia sama sekali
tidak menyentuh tangan Acya yang sejak tadi kuat
menggenggam lengannya.
Trus kenapa dari tadi lo uring-uringan? tanya
Acya kemudian.
Gue nggak bisa cerita sekarang... tapi, asal lo
tau ya, Cya, apapun yang bakalan gue lakuin, gue
pengen elo tau kalo gue... kata Yoga yang kemudian
kembali menatap cewek di sampingnya yang masih

88

Mint Chocolate Chips

menggenggam pergelangan tangannya. Emmm


Maaf kalo gue ngomong kayak gini. Mungkin kecepetan gue ngomongnya. Tapi, gue sayang sama lo.
Gue cuma pengen elo tau Acya nyaris kaku mendengarnya. Ia perlahan meregangkan genggamannya dari pergelangan tangan Yoga.
Yoga melihat ke dalam mata gadis di sebelahnya.
Sedalam mungkin. Ada kekhawatiran yang mendalam. Yoga menginginkan kekhawatiran itu hanya
untuknya. Apakah iya? Apakah mata itu ditujukan kepadanya? Girl, I really want to see those eyes, I really
want to kiss that lips, I really want to hold you, I really
want to love you. But, Im scared I will lose and hurt
you if I do that. Sorry So sorrySorry if I have to
leave you now.
Yoga kembali menunduk. Sorry banget tapi gue
bener-bener nggak bisa ngomong apapun. Gue nggak tau apa yang mesti gue jelasin! Gue nggak kenapa-napa! ucap Yoga yang kemudian berjalan meninggalkan Acya.

Halo, Yo? ujar Acya begitu mendengar suara


khas Yoga lewat telepon. Namun, kali ini suaranya
nggak seceria biasanya. Murung.

Mint Chocolate Chips

89

Kenapa? tanya Yoga dengan suaranya yang kelihatannya lebih berat daripada kemarin, maupun tadi
siang.
Nggak. Gue kangen aja sama lo, kata Acya de
ngan tulus dan jujur. Ia sangat rindu akan Yoga yang
dulu, yang selalu ceria, yang sering tertawa, yang
berisik, cerewet, bawel. Bukan yang kayak gini.
Alaaaa, besok juga ketemu, komentar Yoga
cuek.
Bukan. Gue kangen sama elo yang dulu. Yang biasa. Yang ceria, jawab Acya.
Gue dari dulu kayak gini kok,
Enggak. Dulu lo nggak kayak gini, protes Acya.
Waktu pertama liat elo, gue tau elo nyembunyiin se
suatu. Gue tau elo nggak jadi diri elo sendiri kalo di
sekolah. Dari sorot mata lo, dari dulu gue udah liat,
kalo elo nyimpen sesuatu yang menyakitkan. Gue tau
banget. Tapi elo selalu nutupin itu. Dan hari ini gue liat,
gue liat topeng itu lepas dari wajah lo. Elo nggak bisa
ngontrol diri lo lagi Semua itu pasti ada sebabnya
kan? Gue pengen tau, elo kenapa tanya Acya lagi.
Jadi cewek tuh jangan sok tau, Da**, Yo! Youre
so mean! Sejahat-jahatnya elo kalo ngomong, nggak
pernah sampe kayak giniCya, sorry. Gue lagi nggak
mood nih. Ngobrolnya lanjutin besok aja deh. Kan mau
ke Citos? Oke? Dah, Tuut! Bunyi telepon ditutup.

90

Mint Chocolate Chips

Mint Chocolate Chips

91

Suatu Sore di
Citos
Jakarta, 19 April tahun kedua SMA
Acya menatap fotonya dengan teman-temannya
yang ada di samping tempat tidurnya. Senyum Yoga
begitu ramah. Sementara semalam, ia hanya me
nemukan Yoga yang begitu dingin. Jauh berbeda dari
Yoga yang dikenalnya. Nggak seperti Yoga yang selalu happy dan cheerful, yang bikin cerah suasana.
Yang rajin ketawa Yang selalu tersenyum.
Tin! Tin! Terdengar bunyi klakson mobilnya Kiffi.
Siang itu Acya memakai salah satu dari kaos-kaos
distro kebanggaannya dan celana jeans, seperti biasanya.
Muncul rasa agak malas untuk menghampiri
orangtuanya di ruang keluarga. Namun, Acya harus

92

Mint Chocolate Chips

sopan dan berbakti. Itulah tata krama yang diajarkan


orangtuanya sejak dulu. Ia selalu diingatkan untuk
sopan dan santun kepada orangtua. Begitupun yang
diajarkan agama. Sampai saat beribadah pun, apabila Ibu kita memanggil, kita sebaiknya menunda sholat
kita.
Bu, Pa, Acya pergi dulu ya, ujarnya.
Iya. Hati-hati lho. Handphone, dompet Hati-hati
hilang, Ibunya mengingatkan.
Iya, Bu. Assalamualaikum! kata Acya.
Waalaikumsalam! ucap kedua orangtuanya.
Hati-hati ya, Nak, ujar Ibunya. Setelah mende
ngar ucapan ibunya, Acya berjalan menuju mobil
Kiffi.
Hellloooo semuaaa! sapa Acya.
Hai, Cya, jawab Daina.
Cepet jalan dong, Kiff! Gue laper! teriak Tama.
Kemudian, Kiffi mengendarai mobilnya menuju Cilandak Town Square.
Selama perjalanan, Yoga hanya memasang tatapan kosong dan dingin, yang benar-benar menghilangkan feeling gembira siapapun yang melihatnya. Tapi semuanya berusaha cuek. Dilihat dari cara
Yoga memperlakukan Acya, mereka juga tidak mau
diperlakukan sama. Biarin Acya dan Yoga nyelesaiin
masalah mereka berdua, thats none of our business.

Mint Chocolate Chips

93

Kecuali kalo mereka minta bantuan, baru kita mesti


bantu
Elo kenapa sih? tanya Acya berusaha membuka
percakapan. Sebenarnya ia sudah pesimis, Yoga pasti akan tetap dingin dan sinis. Tapi ia harus berusaha.
Ia tidak ingin tenggelam dalam kesepian ini, kesepian
yang sangat tak diinginkannya...
Elo yang kenapa, komentar Yoga dengan dingin.
Ia menatap jalanan ke luar jendela. Seperti apa yang
ia lakukan sejak tadi. Tatapannya kosong dan dingin.
Suram. Begitu gelap.
Kenapa gimana? tanya Acya lagi. Ia butuh klarifikasi dari cowok ini.
Yah, gue biasa-biasa aja. Kenapa elo nganggep
gue kenapa-napa? tanya Yoga.
Kenapa lo jadi dingin gini sih? tanya Acya.
Kenapa elo jadi tukang nanya gini sih? balas
Yoga. Acya memilih untuk diam. Yo Lo nganggep
gue siapa lo sih, sebenernya? Temen, pacar, sahabat, apa musuh?!

Sesampainya di Citos, Yoga langsung berubah


drastis menjadi kembali ceria. Seolah-olah tadi ia dan
Acya tidak bertengkar di mobil. Acya jadi kebingungan sendiri. Yoga benar-benar aneh! Tapi Acya tetap

94

Mint Chocolate Chips

melihat, ada sesuatu yang Yoga sembunyikan, walaupun Acya belum tau apa hal itu.
Daina mentraktir mereka makan di Wing Dome
yang tak lain dan tak bukan adalah restoran kesukaan
Daina sendiri. Pramusaji menyapa mereka semua,
Siang, dik. Mau pesan apa?
Pesen apa, nih? tanya Daina.
Gue... Kamikaze Wing aja deh, jawab Acya.
Sama, kata Yoga datar dan cepat.
Gue spaghetti, tambah Reva.
Kalo gue berdua Daina aja. Soalnya kalo makan
sendiri pasti gue nggak abis deh! Lagian, makan ba
nyak-banyak tuh nggak bagus tau, buat bentuk tubuh.
Ntar gendut, lagi! Aduh, gue anti banget deh! Boleh kan,
berdua, Na? tanya Eci setelah mengeluarkan banyak
statement mengenai kegendutan, diet, dan makanan.
Boleh. Spaghetti aja ya? tanya Daina.
Okeh! Siplah! jawab Eci, segera mengiyakan.
Lo berdua? tanya Daina pada Tama dan Kiffi
yang sejak tadi masih sibuk membolak-balik menu
yang dipinjamkan pramusaji.
Gue Spicy Hot Wing aja lah, jawab Kiffi, ia
memberikan menunya kepada Tama yang duduk tidak jauh darinya. Tama segera sibuk membolak-balik
halamannya, dengan tampang aneh. Antara senang
dan bingung.

Mint Chocolate Chips

95

Kalo gue... nasi goreng sama Spicy Hot Wing, nggak lupa kentang goreng sama es krim coklatnya dua
scoop... oh iya, minumnya ice lemon tea ya, Mbak,
ujar Tama panjang lebar, tidak tanggung-tanggung!
Daina hanya memperhatikan pesanan Tama sembari
tersenyum kecut. Antara bingung, dan ingin menyesal karena mengajak Tama akan membuatnya betulbetul bangkrut.
Minumnya?
AKU JUS JINGGA! ujar Yoga lebih dulu.
Hah? Minuman apaan tuh? tanya Tama kebingungan.
Yaelah... gini nih. Pengaruh globalisasi... jus itu
arti dari juice, dan bahasa Indonesianya orange itu
jingga...! jelas Yoga.
OOOOOO Tama hanya bisa ber-ooooo.

Eh, pada mau nonton apaan nih? tanya Daina


kepada keenam temannya. Bukan sekedar basabasi, ia juga sangat bingung akan menonton film apa.
Daina bukan movie-buff, yang tau mana film yang bagus dan mana yang tidak, yang tau judul-judul film
yang sedang tayang di Citos.
Terserah elo. Kan elo yang bayarin, jawab Eci.
Yeee... enak aja! Gue bayarin makan, bukan non-

96

Mint Chocolate Chips

ton! jawab Daina.


Eh, gila lo! Gue nggak bawa duit. Jahat lo! Kenapa nggak ngomong? protes Reva.
Duit yang gue bawa cuma buat gue beli makan.
Titik, ujar Tama kemudian mengeluarkan statement
favoritnya yang tentu saja tidak bisa diganggu gugat.
Karena ada kata gue beli makan di sana.
SITU JUJUR BETTUL. Tapi boong! ujar Yoga diiringi tawa yang lain. Kalimat yang dipopulerkan Eko
dan Shenny duo gokil teman mereka, itu memang
mengundang tawa banyak orang. Walaupun mungkin, bagi orang yang bukan salah satu dari teman
mereka biasa-biasa saja, yang jelas, bagi angkatannya Yoga, bahkan, seluruh warga sekolahnya Yoga,
kalimat itu merupakan hal yang cukup lucu untuk
ditertawakan.
Waah... parah lo. Kok nggak ngomong-ngomong
lo? tambah Kiffi. GILE AJE! lanjut Kiffi dengan suara nyaring dan nada yang khas.
Gila, gue juga udah abis nih duitnya... tinggal buat
nonton sendiri, jawab Daina kemudian. Kita batal
nonton aja, deh! Gimana? Daina mengusulkan sebuah ide yang sangat masuk di akal.
Heh, gila lo ya!? Reva mulai berapi-api.
Tapi boong! ucap Daina dengan santainya kemudian. Gue bawa duit kok. Tenang aja

Mint Chocolate Chips

97

Yeeee...! Jayus tau nggak sih lo!? Reva makin


galak.
Bener banget! Elo bikin gue stres! Elo bisa-bisa
bikin gue kurussss! Tama menambahkan.
Yah bagus deh, ledek Kiffi.
Ngomong lo? ujar Tama.
Iye, ngomong!
Gue kirain kumur-kumur,
Peace love and gaul aja deh dari gue, ujar Kiffi kemudian sambil menepuk bahu Tama tanda damai.
Jadinya, pada mau nonton apa nih? tanya Daina
lagi.
Nggak tau jawab Eci, Reva, dan Acya berbarengan.
DAREDEVIL! seru tiga cowok yang ikut, berbarengan. Yoga, Kiffi, dan Tama.
Kan udah nonton Daina mengingatkan.
Iya! Minggu lalu kita baru nonton itu, gitu! kata
Reva mencoba menyegarkan kembali pikiran tiga
brainless monkeys itu.
Daredevil dong! Please! pinta Yoga dengan nada
membujuk yang teramat sangat melas dan memohon.
Daredevil aja ya? Ya? Ya? Ya? Ya? Ya? Yoga kembali dengan kebiasaan sintingnya, yakni mengulang
kata terakhir dari kalimatnya. Berulang-ulang.
Ngapain sih nonton lagi! Filmnya juga kan biasa-

98

Mint Chocolate Chips

biasa aja. Lo juga pas nonton yang ada pada nganga


semua! ujar Reva tidak setuju akan permintaan tiga
cowok itu.
Yang laen, please, pinta Acya.
Sorry, Cya, tapi kali ini gue nggak setuju sama lo,
ujar Yoga dengan dinginnya. Padahal tadi dia ceriaceria aja. Kenapa sih, tiba-tiba dia jadi kayak gitu?
Emangnya kapan kita pernah sependapat? ta
nya Acya lagi. Ia masih agak bete dengan sikap Yoga
yang dingin kepadanya. Apa sih salah gue sama elo,
Yo? Apa?! Kenapa cuma gue yang elo giniin? Sakit,
Yo! SAKIT!!
Nggak pernah juga sih. Tapi pokoknya gue mau
Daredevil. GUE MAU DARE DE-VIL! NGGAK MAU
TAU HARUS FILM ITU! Yoga memaksa. Sangatsangat memaksa. Ia menarik-narik tangan Daina layaknya anak kecil yang memaksa ingin dibelikan balon. Ya? Ya? Ya? tambah Yoga.
Iya! tambah Kiffi memberikan dukungan penuh
kepada Yoga.
Se-tu-ju. Nggak mau tau pokoknya Daredevil!
tambah Tama kemudian.
NGAPAIN!? tanya Daina. Nggak guna! Nggak
suka! Nggak rela! Nggak pengen! Buang-buang duit
aja gue nonton tuh film lagi! komentar Daina dengan
nada super bete dan super nggak rela.

Mint Chocolate Chips

99

JENNIFER GARNER! ujar tiga cowok tadi berbarengan.


Inget, ada makhluk cantik nan seksi berjudul Jennifer Garner. Yang jadi Elektra itu loooohhhh kata
Yoga.
Ngapain ngeliat dia lagi, sih? tanya Eci.
Nggak usah nonton Daredevil. Lo mau liat Jennifer Garner, liat gue aja. Nggak beda jauh kok,
tambah Reva kemudian. Tampang semua temannya
langsung males, atau tepatnya, melas.
Aduuuuuuuhhhh komentar Yoga pelan karena
ketidakrelaannya atas kalimat Reva yang barusan
terlontar.
Yaelah. Ngaca lo! ujar Kiffi.
Heh, jelek! Ngomong apa lo!? Waah, sialan lo...
dasar jelek! Reva tersinggung mendengarnya.
Iya, sorry, sorry... peace, love and gaul dari gue
buat eluh. Tapi... kalo nggak Daredevil, kita cowokcowok nggak ikutan! Kiffi berultimatum. Betul, anakanak? tanya Kiffi kepada dua temannya. Meminta
dukungan.
Betul, Bu Guru jawab Yoga dan Tama.
See? See? See? I TOLD YOU!!! kata Kiffi.
Ya udah Daredevil. PUAS LOOOO!? tanya Daina.
TERIMA KASIIIIIIIIIH! teriak tiga cowok itu girang.

100

Mint Chocolate Chips

Mint Chocolate Chips

101

Bikin Sedih Aja!


Jakarta, 23 April tahun kedua SMA
Yoga dan Acya belum akrab lagi seperti dulu.
Mereka berdua masih mengobrol seadanya, kadang
malah tidak saling menyapa. Sikap Yoga kepada Acya
pun semakin dingin, dan kejam. Tapi mereka berdua
sama-sama berlaku seperti tidak terjadi apa-apa di
depan teman-teman yang lain.
Gue mau buat pengakuan nih, kata Yoga di koridor kelas, tiba-tiba. Mendengarnya, semua temantemannya kaget dan heran, sekaligus bingung. Bahkan Tama, ia sampai tersedak makanannya ketika
Yoga melontarkan kalimat itu.
Hah? tanya Tama dan Kiffi bersamaan. O iya, sehari sebelum nonton bareng di ulangtahunnya Daina,
Tama dan Yoga sudah berbaikan. Nggak baik kan,

102

Mint Chocolate Chips

berantem lama-lama? (nggak usah lama-lama, berantem aja udah nggak baik!)
Pengakuan apaan!? tanya Kiffi agak kurang
mengerti. Bukan Kiffi dan Tama saja, teman-teman
mereka yang lain juga terkaget-kaget dengan katakata Yoga yang tiba-tiba. Apalagi dengan tampang
serius Yoga. Tidak biasa-biasanya mimik wajahnya
seserius itu. Yang namanya Yoga sih emang nggak
pernah serius! Bukan Yoga namanya kalau dia memunculkan mimik seserius itu. Kecuali setiap kali ia
akan memulai rapat OSIS, itu lain hal, keseriusan dan
ketegasan adalah wajib kudu fardhu hukumnya.
Please, dengerin, Yoga kembali berucap
Emmm Bulan Juli besok gue mau ke Inggris,
Semua temannya tersentak kaget. Inggris? What?
How? But, why?
Reva tertawa mendengarnya. Kemudian ia berujar, Ah, becanda lo! Nggak lucu, tau?!
Tapi boong! ledek Eci sambil tertawa.
Aduuuuhh... gue serius. Gue beneran mau ke
Inggris. Gue disuruh ngelanjutin SMA di sana, terus
kuliah di sana juga. Gue disuruh nyokap buat tinggal
sama nyokap aja di sana. Padahal gue udah jelasin
kalo gue pengen tetep di sini, paling nggak sampe
SMA gue selesai deh. Gue rela kok sendirian di
rumah, even sendirian di Jakarta. Biarin deh gue ng-

Mint Chocolate Chips

103

gak dikasih handphone, biarin deh gue mesti ngerjain


apa-apa sendiri, biarin deh nggak ada nyokap... gue
udah biasa kok. Lagian, gue bakalan lebih seneng
kalo tinggal di rumah Tama, ato Kiffi, kos-kosan. Apapun itu, pokoknya di Jakarta,
Iya, pintu rumah kita berdua terbuka kok buat
elo kata Tama dan Kiffi bersamaan. Yoga melanjutkan kekesalannya dan penyesalannya. Kesedihannya dan kesengsaraannya. Airmata yang tidak sanggup keluar dari matanya, dan getaran yang tidak bisa
muncul dalam suaranya.
daripada gue harus tinggal di Inggris, tanpa temen, walaupun gue nanti bisa kuliah di Oxford, Harvard, Cambridge, dan apalah itu Walaupun GUE
BISA DENGAN SERIUS MELOTOTIN CEWEK-CEWEK BULE YANG SEKSI ABEEEES... Tapi, tetep
aja sepi! Nyokap gue nganggep gue anak-anak,
gue tau nyokap gue seneng kerja jadi dosen di sana,
tapi, gue lebih seneng di sini, sama temen-temen
gue, sekolah di sebuah sekolah di Indonesia, dan
yang paling penting... gue pengen bareng cewek
yang gue sayang banget... daripada di sana! Buat
apa sih gue pake sekolah di sana? Buat apa gue
jadi lulusan Harvard? Buat apa ngeliat cewek-cewek
bule yang seksi, tapi cewek yang gue sayang, yang
gue cintain nggak ada di sana? Buat apa sih. ujar

104

Mint Chocolate Chips

Yoga dengan nada menggerutu sekaligus kesal akan


takdirnya.Takdir yang menuntutnya harus berpisah
dengan Acya. Sementara Kiffi, ia malah memasang
ekspresi aaaaaah!!! Pengeeennn!!! terutama saat
mendengar kata-kata cewek bule yang seksi.
Udah, udahYo Pasti nyokap lo ngasih jalan ini
supaya lo bisa jadi yang terbaik, karena lo anak tunggal
dan satu-satunya yang beliau punya, supaya di masa
remaja lo sekarang lo punya figur seorang ibu. Karena
lo udah kehilangan figur seorang Ayah karena nyokapbokap lo cerai pas lo kecil. Mungkin Tante Redya
merasa salah. Jadi beliau mau nebus. Gue dan semua
temen-temen juga sedih banget lah lo pergi. Tapi, ya,
gimana? Ini kan buat lo juga, Acya menenangkan
Yoga. Semua teman-temannya mengangguk.
Gue lebih rela, lebih baik gue hidup di Jakarta,
sendirian, kayak sekarang... tapi, ada elo semua. Lo
semua udah lebih dari keluarga buat gue. Gue nggak tau apakah gue bisa bertahan kalo nggak ada
lo semua. Selama ini gue udah bisa bertahan tanpa
nyokap, karena dari kecil gue udah terbiasa... tapi,
gue takut, gue nggak bisa survive kalo nggak ada elo,
gue takut kalo gue nggak bisa bertahan tanpa elo...
lo semua... gue nggak tau, apakah gue bisa tetep
gembira, apa gue bisa tetep nyanyi Im Just A Kid di
koridor kalo nggak ada elo Terutama elo, Cya. Elo!

Mint Chocolate Chips

105

Kemudian, Yoga hanya bisa terdiam. Bagaimana


mungkin, batinnya. Bagaimana mungkin gue akan
ninggalin seorang cewek yang gue sayang sepenuh
hati? Gue di Inggris, sementara dia di sini, kesepian,
dan nungguin gue?, Yoga kembali berpikir keras. Dia
melamun. Pikiran Yoga bercampur aduk.
Gue akuin. Gue sayang banget sama yang namanya Acya. Dari pertama masuk SMA, Gue udah
suka sama dia. Ternyata, orangtua kita saling kenal.
Tapi, gue nggak tau karena nyokap gue tinggal di luar
negeri dan gue terakhir ketemu orangtuanya Acya
waktu gue kecil. Gue inget banget, dulu gue pernah
maen sama seorang cewek. Tapi, gue lupa namanya.
Waktu itu, gue ngerasa kalo gue harus ngelindungin
dia, harus ada sama dia kalo kita main bareng. Walaupun cuma seharian, tapi tetep aja, senyumnya
terus kebayang. Pas gue ketemu sama dia di SMA
dan liat senyumnya, gue langsung inget kalo Acya itu
temen gue waktu kecil Senyumnya yang manis, gaya
bicaranya, kalo dia lagi marah, gue juga suka! Terus,
gimana jadinya kalo gue ninggalin dia, gue belajar
di Inggris, sementara dia di Jakarta sendirian. Siapa
yang bakalan ngelindungin dia? Siapa yang bisa gue
percaya buat jagain dia? Gimana kalo Rangga ngapa-ngapain dia? Gimana? Gue enggak tega! Nggak
bakalan tega! Gue nggak rela ninggalin dia di sini!

106

Mint Chocolate Chips

Gue pengen sama dia! Brengsek... gue nggak suka


sama kondisi kayak gini... NGGAK SUKA!!!
Ketika sadar dari lamunannya, ternyata temantemannya sudah masuk ke kelas. Kecuali Acya. Acya
masih setia berdiri di dekatnya. Yoga... apa itu yang
waktu itu mau lo bilang ke gue...? tanyanya lembut
dan pelan, tapi serius.
Waktu itu gue cuman ngerasa waktunya belom
tepat buat bilang semuanya. Gue mau minta maaf
kalo kata-kata gue waktu itu kasar ke elo. Karena gue
bingung. Gue bener-bener mesti milih, antara kebersamaan kita di sini, atau nyokap. Gue nggak mau lo
khawatir... Makanya waktu itu gue nggak ngasih tau lo
dulu... Gue nggak mau lo ngerasa kesepian duluan,
jawab Yoga.
Kenapa lo nggak mau gue khawatir dan kesepian? tanya Acya. Yoga menggenggam tangan Acya
seerat mungkin.
Karena gue baru sadar... kalo ternyata gue udah
jatuh cinta sama lo. Beneran, Cya. Gue cinta banget
sama elo, jawab Yoga. Acya terbengong-bengong
sendiri. Yoga beranjak masuk ke kelas dengan membawa Acya. Masih dalam genggamannya. Kakinya
melangkah dengan berat.

Mint Chocolate Chips

107

Jakarta, 1 Mei tahun kedua SMA


Please, dong, Mam. Kenapa sih Yoga nggak di
Jakarta aja? Kenapa Yoga mesti pergi? Yoga tau
Mama seneng di sana. Yoga tau Mama mau Yoga
ikut Mama di sana. Tapi Yoga bisa hidup di Jakarta,
Mam. Mama tau kan, Yoga mau dekat Acya. Mama
kan udah ngebolehin Yoga pacaran, sama Acya lagi.
Mama juga udah tau, Acya itu anak baik-baik, dari keluarga baik-baik pula. Please, Mam. Yoga tuh sayang
banget sama Acya. Yoga nggak mau jauh dari dia.
Di sini, Yoga bisa tinggal sama Kiffi, Tama, sendirian
juga nggak apa-apa kok. Dari dulu Yoga udah biasa
sendirian, Terdengar suara Yoga di kamarnya. Sedang menelepon ibundanya di Inggris.
Dear, I know you love her. But, please Kamu
udah terlalu lama di Jakarta. I want to live with you
here, Baby. Nggak ada kompromi lagi. Ini keputusan
Mama yang terakhir. Titik, kata Ibu Redya, Ibunda
nya Yoga.
Mam Yoga tetap memohon.
Yoga! Ini keputusan terakhir Mama! bentak Ibu
Redya.
YAUDAH! Bye, Mam, Tut! Yoga memutuskan
Sambungan Langsung Internasionalnya dengan agak
sedikit marah. Kenapa harus kayak gini sih?, Yoga
terus membatin.

108

Mint Chocolate Chips

Acya sedang berada di kamarnya. Tangan kirinya


memegang sebuah bolpen pemberian dari Yoga yang
sama. Yang berwarna biru bergambar bintang. Di atas
meja belajarnya terdapat sebuah buku catatan. Acya
sedang menulis sesuatu, di buku hariannya.
Ia mencoret-coret buku hariannya, menggambar
benang kusut. Goresan-goresan tanpa arti. Inilah hal
yang selalu dilakukan Yoga jika bete di kelas. Dan
karena Yoga duduk tidak jauh dari dirinya, Acya tertular virus nggak berguna itu.
AAKKH! YOGA MAU KE INGGRIS!!! GUE NGGAK BISA NGEBAYANGINNYA!!!
Ya, sekolah di luar negeri emang selalu bagus
kalo dibandingin dengan di Indonesia. Kecuali Timor
Leste mungkin. Tapi kenapa Yoga harus pergi sekarang? Sedih. Sementara tadi pas di sekolah gue udah
sok-sok bijak ngomong ke Yoga untuk ngebahagiain
nyokapnya. Nyatanya gue sendiri sedih nggak karukaruan sekarang! Yoga itu temen gue, yang paling
baik, sahabat gue!
Gue tau dia emang sering bikin gue kesseeeeel
banget sama dia. Sering rese, norak, malu-maluin!
Tapi jujur, gue nggak tau gimana jadinya gue kalo nggak ada dia. Gue ngerasa aman dan nyaman tiap de-

Mint Chocolate Chips

109

ket dia. Dan kalo gue nangis, gue selalu berharap ada
dia yang nenangin gue. Rasanya dua puluh empat
jam sehari nggak cukup buat ngilangin rasa kangen
gue ke Yoga. Tujuh hari tuh kurang untuk menikmati
seminggu ama Yoga. Karena Yoga itu fun! Rasanya
detik berjalan cepet banget kalo ada dia, dan me
nyenangkan!
Dia selalu ada setiap kali gue butuh dia, selalu sa
yang sama gue apa adanya, dan nggak pernah malu
ngungkapin perasaannya. Malah kadang dia suka
norak ngungkapinnya! Hehehe Gue nggak tau apa
yang gue rasain ini namanya cinta atau bukan. Pokoknya, yang gue tau, gue butuh dia. Tapi gue lebih
sayang sama dia daripada butuh dia. Nah lo, bingung
kan? Intinya, gue bakal kangen ama Yoga pasti.

110

Mint Chocolate Chips

Mint Chocolate Chips

111

Datangnya
Cewek
Bernama
Adhyana
Jakarta, 7 Mei tahun kedua SMA
Acya, ke SMP yuk! ajak Yoga.
Yuk yak yuk Tapi Ngapain? tanya Acya kemudian.
Yah, hari ini kan ada pengumuman anak-anak
baru di SMP. Gue pengen liat anak-anak SD yang
imut-imut Lucu-lucu, pasti gedenya pada cantikcantik. Kayak Mariana Renata gitu dehhh jawab
Yoga jujur.

112

Mint Chocolate Chips

Idih! Acya sok jijik.


Boleh, dong! Siapa tau ada yang cocok sama
gue! goda Yoga.
Ya udah gih, sana! Ngapain ngajak-ngajak
gue!?
Kenapa sih? Cemburu? Udahlah! Yuk, temenin
gue yuk! Kan gue becanda! Ayo, dong. Please dong!
Ayolah, Sayang, temenin dong Yoga memohon.
Iya, iya! Nggak usah narik-narik tangan gue kenapa!? Yoga kemudian melepas genggamannya dari
lengan Acya. Sakit tau! ujar Acya bete. Eh, satu
lagi! Jangan manggil-manggil gue sayang! Emangnya
gue cewek lo, apa?! bentak Acya.
Iya, iya, maap,
Mereka berdua berjalan ke arah gedung SMP. Memang benar apa kata Yoga. Banyak anak-anak SD
yang masih imut-imut. Yang ceweknya masih luculucu, yang cowoknya masih amit-amit. Semoga aja
ntar pas gede pada cakep-cakep.
Yoga tetap pasang tampang cerianya, bikin calon
anak-anak baru itu kelenger semua melihatnya.
Duilee lu. Tepe bener! ujar Acya.
Boleh dong, Yoga memberi pembelaan. Acya te
rus menyaksikan senyum tebar pesona di bibir Yoga.
Tapi, nggak sampai sepuluh detik kemudian, senyum
itu hilang.

Mint Chocolate Chips

113

Lo kenapa? tanya Acya. Kok senyumnya abis?


Kayaknya itu orang gue pernah lihat deh. Artis
ya? Kayaknya tampangnya familiar gitu, kata Yoga.
Mana? Acya mencari-cari.
Itu, tunjuk Yoga. Tapi, ia hanya menunjuk sekilas.
Yang mana sih?
Itu, om-om yang dari tadi ngeliatin gue, jawab
Yoga.
Alaaa, pede sejuta lo tuh dibuang aja deh! Nggak guna, tau! Om-omnya suka sama lo kali! ledek
Acya.
Idih! Heh, gue serius. Itu lho yang rambutnya
ada warna abu-abu gitu! jelas Yoga pelan. Acya melihat sosok yang dimaksud Yoga. Seorang laki-laki
yang mungkin umurnya sudah hampir lima puluhan
dari sosoknya. Ia memang sejak tadi memperhatikan
Yoga.
Enggak. Kayaknya bukan artis. Gue marah nggak
pernah liat, tuh. Sudahlah, Yooo. Cuekin aja, mendi
ngan kita lihat daftar nama-nama anak yang diterima.
Ke situ yuk. Eh, cieeee Yoga ditaksir om-om, nih
ledek Acya.
Aaaaaaaaaaah! Yoga menggerutu.
Enggak, enggak. Becanda. Yuk, liat nama anakanak SD aja,
Emmm

114

Mint Chocolate Chips

Udahlah, tuh orang cuekin aja. Yuk,


Emmm Ya udah, Yoga mengikuti ke mana
Acya melangkah.
Mereka sudah sampai di depan papan pengumuman bertempelkan daftar nama-nama anak-anak
yang diterima di SMP tersebut. Anak-anak yang akan
menjadi adik kelas Yoga dan Acya secara tidak langsung. Saat itu, Yoga pun masih saja dingin, dahsyat,
nan alim seperti sejak ia melihat bapak-bapak tadi.
Namanya juga Yoga. Bentar bengal, bentar alim.
Yoga sibuk memperhatikan nama-nama yang terpampang, asal sekolah mereka, dan nama orangtua
mereka. Kasihan amat sih, nama orang tuanya dipajang-pajang. Untung baru SMP, belum SMA. Kalo di
SMA, nama-nama orang tua mereka pasti sudah dihafal oleh anak-anak yang lain.
Paling kasihan yang nama bapaknya Om Amin,
pasti, setiap sehabis membaca doa, kata-kata
amin itu dibaca sekencang-kencangnya oleh anakanak cowok. Kedua, yang paling menyedihkan, kalo
nama orang tuanya sama kayak nama guru. Tiap
guru itu datang pasti namanya selalu disebut-sebut.
Bukan cuma Bu atau Pak, tapi menjadi <bu/
pak><spasi><nama guru>.
Benar-benar ada yang nama ayahnya Amin! Yoga
menunjuk nama itu. Kasihan amat ini anak, pasti

Mint Chocolate Chips

115

nanti pas SMA diledekin abis-abisan tuh! prediksi


Yoga. Acya sih, no comment!
Yoga sudah bisa senyum dan tertawa-tawa lagi,
sampai ia menemukan sebuah nama yang familiar.
Surya Firdaus. Jari telunjuk Yoga berhenti di nama itu.
Kenapa lagi lo? tanya Acya heran melihat ekspresi Yoga yang lagi-lagi aneh.
Cya, nggak mungkin. Sekarang gue inget nama
bapak-bapak tadi, dan sekarang Duh, lantai telan
aku sekarang! Yoga panik.
Kenapa sih? tanya Acya lagi.
Elo tau nama belakang gue yang sebenernya?
tanya Yoga.
Tau, jawab Acya.
Siapa?
Aliffirdaus?
Iya, dan sekarang lo liat nama ini, pinta Yoga.
Kenapa? Surya Firdaus? tanya Acya.
Itu nama bokap gue, nyong! jawab Yoga
pelan, tapi pasti.
BOONG LO! Acya kaget setengah mati.
Dan bapak-bapak yang tadi itu bokap gue kata Yoga kemudian.
Dan elo nggak mau ketemu dia? tanya Acya.
Iya, gue nggak mau, nggak sudi, nggak pengen,
nggak suka, nggak boleh, nggak rela, nggak minat,

116

Mint Chocolate Chips

nggak pernah berharap! kata Yoga.


Jadi, gimana supaya gue bisa nolong lo?
Lo inget-inget nama ini anak, pinta Yoga. Adhya
na Firdausha, inget-inget! pinta Yoga lagi.
Iya, iya jawab Acya pasrah. Adhyana Firdausha Oke
Idih, itu orang. Nggak kreatif banget nyari nama
anak! Kenapa mesti dimirip-miripin sih? Beda aja gitu!
Dia juga udah nggak pernah perhatian lagi sama gue!
Dia udah ngebuang gue! Nggak usah bawa-bawa
nama gue ke anak dia yang laen! ujar Yoga berapiapi. Kayaknya Yoga emang bener-bener benci sama
ayahnya.
Yo, lo nggak boleh begitu. Gitu-gitu kan dia bokap
lo juga, Acya menasehati.
BOKAP GIMANA!? Mana ada ciri-ciri AYAH di
dia!? Nggak ada! ujar Yoga. Acya, lagi-lagi, no comment. Yang ada, kalo sampai si Acya buka mulut,
ngomong satu kataaaaa aja, bisa-bisa kondisinya pas
sampai di rumah sudah tidak utuh lagi.
Mereka berdua berjalan menuju kantin. Berduaan
aja. Setelah dengan susah payah Yoga ngumpetngumpet supaya Om Surya Firdaus itu nggak bisa
melihatnya, akhirnya, rintangan yang itu bisa ia lewati.
Yoga stres berat. Dan dia bener-bener nggak pengen
ketemu sama ayahnya, menemukan, dan tidak ingin

Mint Chocolate Chips

117

dipertemukan, maupun ditemukan. Makanya, dia sok


cuek tapi sebenarnya berusaha bersembunyi sebisanya saat harus melewati ayahnya. Akhirnya, sampai juga di kantin. Yoga dan Acya sedang berjalan
menuju tempat minuman botol, saat mereka berpapasan dengan seorang cewek berseragam SD yang
memakai name-tag8 bertuliskan ADHYANA FIRDAUSHA. Yoga nyaris histeris. Ia memberhentikan anak
tadi. Dek, dek, dek! panggilnya. Gadis tidak berhenti
berjalan. ADHYANA FIRDAUSHA! teriak Yoga kemudian. Baru anak itu berhenti dan menengok.
Elo Adhyana? tanya Yoga memastikan.
Iya, jawab anak itu.
Panggilannya Yana? tanya Yoga lagi. Ia berprediksi karena namanya sendiri. Adhyoga jadi Yoga.
Adhyana kemungkinan besar jadi Yana. Anak tadi
mengangguk. Eh, lo udah mau pulang belom? tanya
Yoga. Anak itu menggeleng takut. Eh, jangan takut.
Kenalin, gue Yoga, ujar Yoga. Sekilas terlihat raut
wajah Yana sedikit berubah. Bokap lo ke mana?
tanya Yoga.
Lagi wawancara, Kak, jawab Yana.
Masih lama? tanya Yoga lagi. Yana mengangguk. Kalo gitu, sini yuk, kita ngobrol dulu, ajak Yoga.
Yana sih percaya-percaya aja. Lo tau nggak, kirakira gue ini siapa lo? tanya Yoga. Yana mengangguk.

118

Mint Chocolate Chips

Acya diam saja sejak tadi. Memperhatikan obrolan


kakak-adik itu. Siapa? tanya Yoga.
Kakak, jawab Yana. Yoga pastinya kaget banget.
Acya pun begitu.
Kenapa elo bisa bilang gue kakak lo? tanya Yoga
bingung.
Dikasihtau Papa, jawab Yana polos. Ya ampun!
Jadi Pak Surya tahu kalau Yoga itu anaknya!
Bokap lo ngebilanginnya gimana? tanya Yoga.
Yah, Papa bilang. Yana, kakak yang itu, itu Kak
Yoga, jawab Yana.
Emang bokap lo sering cerita-cerita tentang gue?
tanya Yoga lagi.
Sering banget,
Nyeritain apaan aja? tanya Yoga penasaran.
Kalo Mama nggak di rumah, Papa suka bilang
gini. Yana, kakakmu itu orangnya pintar. Dia juga
baik sama semua orang. Kak Yoga juga hormat sama
orang-orang yang lebih tua. Nanti, kalo gede kamu
harus kayak Kak Yoga ya. Gitu, terang Yana. My
God, batin Yoga.
Iya? Yoga tidak percaya. Of course, its unbelie
vable!
Iya, jawab Yana masih dengan nada lugu dan
polosnya. Yana memang sama sekali belum tau
bagaimana karakter ayahnya yang sebenarnya.

Mint Chocolate Chips

119

Mungkin bukan yang sebenarnya, tapi, yang dikenal


Yoga dan ayahnya tunjukkan kepada Yoga.
Gini deh, biar bisa ngobrol banyak, nomer telepon
lo berapa. Handphone deh. Ada nggak? tanya Yoga.
Ada, jawab Yana. Hati Yoga meringis. Anak kecil
seumuran Yana saja punya handphone. Betapa memalukannya seorang cowok segaul Yoga, setua Yoga,
BELUM PUNYA HANDPHONE! Dih, memalukan! Kemudian, Yana memberikan nomor ponselnya.
Ya udah. Makasih ya. Sana gih samperin bokap
lo, ujar Yoga.
Lho, Kak, kenapa ngomongnya gitu? Kan Papanya Yana, Papanya Kak Yoga juga, kata Yana.
Udahlah! Sana gih, o iya, jangan bilang apa-apa
sama bokap lo! Kalo bokap lo nanya kenapa ke kantinnya lama banget, bilang aja: NGANTRI! Oke?
pinta Yoga.
Beres, Kak!
Inget! Jangan bilang lo ketemu gue, jangan sebut-sebut nama gue! ujar Yoga lagi saat Yana mulai
berjalan menjauh dan kemudian melambaikan tangan
kepadanya.

Cya, gue masih nggak abis pikir, ujar Yoga saat


berdiri di trotoar di depan sekolahnya bersama Acya.

120

Mint Chocolate Chips

Menunggu angkot! Hari ini, nggak ada yang bisa


jemput Acya di sekolah. Dan Yoga, manusia ganteng yang NGAKUNYA care setengah mati sama
Acya, kudu membuktikan bahwa ia akan menjaga
dan mengabdikan seluruh hidupnya pada cewek itu.
Termasuk nganterin itu cewek sampai rumah dengan
selamat, biarpun naik angkot. Hari ini Yoga memang
tidak bawa mobil.
Selain Yoga dan Acya, nggak beda beberapa meter dari mereka, bertenggerlah GENG ANGKOTERS
beranggotakan Eko yang tentu saja merupakan angkot lover sejati, dan teman-temannya yakni Dodit,
Diko, dan Safri Duo. Nama anggota yang terakhir sih
Sapri, tapi, karena malu namanya Betawi Asli, diganti
jadi Saphri (baca: Safri), dan ditambahin Duo supaya
kayak artis. Mereka juga sedang menunggu angkot.
Nggak abis pikir kenapa? tanya Acya.
Iya. Sentimen amat sih tuh orang sama gue.
Gilirannya sama Si Yana aja, baek! Ama gua, jahat!
jawab Yoga.
Siapa?
Om Surya Firdaus, kata Yoga. Acya mengerti
mengapa Yoga tidak ingin menyebut Bokap Gue.
Dia sudah terlalu sakit hati akibat ayahnya. Yoga selalu merasa bahwa ayahnyalah yang membuat ia menderita sejak kecil. Bahkan mungkin sampai sekarang.

Mint Chocolate Chips

121

Jika ayahnya tidak meninggalkan dirinya dan ibunya,


mungkin ibunya sekarang masih ada di Jakarta, dan
Yoga tidak akan pergi ke Inggris!
Sentimen gimana maksud lo?
Ya sentimen. Sama Yana dia baik, sama gue enggak,
Baru saja Acya akan berpendapat, tiba-tiba sebuah sedan yang berwarna biru tua berhenti di depan
Yoga dan Acya. Kaca depannya dibuka, dan Yoga
dapat melihat Rangga musuh bebuyutannya duduk
di kursi supir.
Ngapain lo? Ngalangin aja! ujar Yoga.
Elo yang ngapain di sini! Nungguin angkot? Udah
gabung lo sama Angkoters? Bagus deh! Cocok lo! Lo
kan sama udiknya sama mereka! Sama nggak modalnya kayak mereka! Kalo mau gabung sama Eko dkk,
nggak usah bawa-bawa Acya segala. Masa cewek
secantik dia lo bawa-bawa naek angkot sih? Nggak
modal amat sih lo jadi cowok! ledek Rangga.
Heh! Daripada elo! Pergi sekolah sama cewek
nomer satu, istirahat sama cewek nomer dua, pulang
sama cewek nomer tiga, nanti pake clubbing pula
sama cewek nomer empat! Norak! Lo tuh nggak bisa
memperlakukan cewek dengan benar! Mendingan
juga gue! Yoga ngasih pembelaan. Rangga tidak
menggubris pernyataan Yoga.

122

Mint Chocolate Chips

Cya, lo pulang sama gue aja yuk. Daripada ngangkot, mendingan naik mobil gue aja, pinta Rangga.
Nggak sudi, nggak pengen, nggak boleh, nggak
suka, nggak terima, nggak rela! Mendingan gue sama
Yoga dan Eko dkk daripada sama lo, tau nggak?!
ikrar Acya.
Jadi lo nggak mau nih? Rangga meyakinkan.
Enggak! jawab Acya dalem.
Apa gue bilang! Acya nggak akan mau sama lo!
Sadar diri dong lo! Dasar norak, udik! ejek Yoga sambil marah-marah. Rangga sih tetep sok stay cool dan
menutup kaca. Mobil itu melesat pergi.

Jakarta, 8 Mei tahun kedua SMA


Halo? kata seseorang di seberang sana.
Yana? tanya Yoga.
Iya, ini siapa?
Kakakmu yang ganteng, jawab Yoga pede.
Oh Kenapa, Kak? tanya Yana.
Lo lagi ngapain?
Lagi nonton TV, jawab Yana.
Ganggu nggak? tanya Yoga.
Enggak, jawab Yana.
Bokap nyokap lo di rumah? tanya Yoga memastikan.

Mint Chocolate Chips

123

Enggak. Pada pergi semua, jawab Yana.


Nah, mari kita mulai obrolan kita ini. Bokap lo pertama nyeritain gue gimana? tanya Yoga ingin tau.
Gini Dulu kan Yana bete gitu, nggak punya kakak. Waktu Yana umur berapa ya? Emmm pokoknya waktu baru-baru mau masuk SD gitu, Papa
bilang Yana punya kakak. Tapi, Papa selalu cerita pas
Mama nggak ada doang. Yah, abis itu sampe sekarang Papa sering nyeritain tentang Kak Yoga, jawab
Yana.
Ooh Pernah nyeritain tentang nyokap gue nggak? tanya Yoga.
Lho emangnya? Bukannya Mamanya Yana
Mamanya Kak Yoga juga? tanya Yana bingung. Nah
lho! Mati gue! Mesti jawab apaan nih? Gila!
Emang bokap lo nggak pernah nyeritain?
Enggak. Nyeritain apaan? tanya Yana semakin
bingung.
Gini ya, Yan. Kita emang satu bokap, tapi, lain
nyokap. Ngerti?
Maksud Kakak?
Yaelah, ini anak. Dulu, bokap gue sama nyokap
gue cerai, terus, bokap gue menikah sama nyokap
lo. Abis itu elo nongol ke dunia. Ngerti nggak? Ngerti
kan? Yoga berharap supaya Yana mengerti.
Hah? Kok Papa nggak pernah cerita? Papa cu-

124

Mint Chocolate Chips

man bilang Kak Yoga pengen mandiri, jadinya nggak


tinggal serumah sama Yana
HAH??? Ngibul tuh! Bokap lo boong tuh! Bokap lo
baik nggak sama lo? tanya Yoga.
Baik kok, jawab Yana singkat.
Kenapa sama gue enggak? tanya Yoga.
Emang Papa ke Kak Yoga gimana? tanya Yana.
Bokap lo tuh dulu jahat banget sama gue, apalagi sama nyokap gue. Makan permen aja masa gue
nggak boleh! Dari gue kecil, dari bokap lo ninggalin
gue, sampe sekarang, dia nggak pernah nelfon, nggak pernah nyari gue, nggak pernah nghubungin gue,
nggak pernah ngasih gue selamat kalo gue ulangtahun sama sekali! Sekarang dia udah kerja? tanya
Yoga.
Belom. Pengacara. Pengangguran banyak acara! Yang pengacara beneran malah Mama, jawab
Yana.
Sama aja! Nyokap gue mesti kerja banting tulang
tapi dia nggak pernah mau bantu kerja! Kerjaannya
cuman baca koran, bayar listrik, ngerokok, bayar
air, bayar telepon, tapi semuanya pake duit nyokap,
sama anter-jemput gue ke sekolah waktu gue masih
TK! Yoga mulai berapi-api.
Eh, Kak, udah dulu ya. Papa pulang. Besok kita
sambung lagi,

Mint Chocolate Chips

125

Oh, ya udah. Tapi, jangan ngomong apa-apa ya


sama bokap lo. Please! Yoga memohon.
Iya, Kak. Dah, Tuut! Bunyi telepon ditutup.

126

Mint Chocolate Chips

Mint Chocolate Chips

127

Fakta Terbesar
Abad Ini
Jakarta, 12 Mei tahun kedua SMA
Acya meletakkan tas sekolahnya di atas meja. Ia
kesal karena tadi tidak begitu maksimal mengerjakan
ulangan Kimianya. Susah! Hmmm, stres deh gue kalo
kayak gini terus! O iya! Di saat-saat membetekan begini biasanya gue makan!, batin Acya seraya membuka freezer lemari es-nya.
Diraihnya sekotak es krim satu liter dengan jenis
rasa mint chocolate chip keluaran Baskin & Robbins,
toko es krim terkenal itu. Mint chocolate chip memang
makanan favoritnya, walaupun tidak banyak orang
yang tahu bahwa dia suka rasa itu. Bahkan mungkin
Yoga tidak tahu. Di hadapan teman-temannya, dia ja-

128

Mint Chocolate Chips

rang beli es krim, padahal di kulkas selalu ada persediaan untuk kebetean darurat.
Acya mengambil dua scoop besar es krim dan memasukkan kotak itu kembali ke freezer. Ia tidak akan
mau diganggu ketika makan es krim. Acya menghabiskan dua buah scoop es krim itu dalam beberapa
menit saja! Untungnya dia tidak takut gendut jadi Acya
nggak punya penyakit bulimia.
Kring! Tiba-tiba telepon di rumah Acya berdering.
Acya mengangkat telepon yang berada tidak terlalu
jauh darinya,
Halo? kata Acya.
Acya! Gue ada kabar yang teramat sangat meng
gembirakan sekali lho boww! kata Daina histeris.
Gosip apaan lagi sih? tanya Acya.
Ini bukan gosip! Ini fakta! Barusan, beberapa detik yang lalu, gue jadian sama KIFFI!!!
Wow...! Selamat, selamat! Ehm... Hah? APA!? LO
JADIAN SAMA KIFFI... apa-apaan tuh!? seru Acya.
Iya... gue jadian ama Kiffi... denger kan?
Denger, denger... tapi Acya bingung.
Tapi kenapa? tanya Daina.
Tapi... Kiffi kan play Kalimat Acya terputus
karena Daina langsung menyela.
Eh! Udah dulu ya! Gue mau ngasih tau Reva dan
Eci nih! Gila! Gue bahagia banget! Acya menutup

Mint Chocolate Chips

129

teleponnya. Hah? Kiffi? Nggak salah?

Halo, Eci? tanya Acya saat mendengar bahwa


Eci yang mengangkat telepon darinya.
Iya, Cya?
LO UDAH TAU GOSIP TERBESAR ABAD INI!?
Yang mana? Yang Winona Ryder ngutil, yang Britney Hamil, yang Michael Jackson sebelom dipenjara
minta supaya ada seorang cewek yang mau ngandung anaknya? Apa Daina jadian?
DAINA JADIAN SAMA KIFFI! Astagfirullahalazim.
Ya ampun Kiffi kan playboy Gila banget Mikir
nggak sih tuh anak? Udah tau Kiffi belangnya kayak
apaan? Kan kasian Daina Acya menyerocos panjang lebar.
Iya gue tau. Gue juga udah bilangin sama dia, gue
udah nasehatin dia, tapi tetep aja, dia kayaknya lagi
nggak mau mikirin apa kata orang, jawab Eci.
Duh, gila apa ya? Kiffi kan kayak gitu. Mendua
aku tak mampu Mentujuh aku baru mampu Acya
memberikan sebuah pendapat mengenai Kiffi.
Iya. Betul banget. Daina kesambet apa ya? Dia
kan paling sewot kalo ketemu cowok playboy. Kiffi
pake mantra apaan sih? Daina dipelet apa ya? Kasian banget tuh si Daina. Gue prihatin, canda Eci.

130

Mint Chocolate Chips

Terus, Reva udah nelfon lo belom? Yah, gue pe


ngen tau aja apa pendapatnya, tanya Daina.
Belom. Kemungkinan sih si Daina udah ditempeleng duluan sebelom dia nanya pendapat kita. Hahahahaha

Jakarta, 19 Mei tahun kedua SMA


Yoga berjalan menuju ruang tata usaha. Pak,
pinjem mike-nya ya! Lagi mau ngumumin rapat OSIS
nih. Boleh, ya? tanya Yoga.
Boleh! Silahkan, kata Pak Rafiq, pegawai TU.
Makasih, Pak, Kemudian Yoga menekan sebuh
tombol di gagang mike di TU tersebut yang membuat
suaranya akan didengar oleh seluruh warga sekolah,
ASSALAMUALAIKUM WARAHMATULLAHI WABA
RAKATUH. SEMUA PENGURUS OSIS DIMINTA
BERKUMPUL DI RUANG OSIS UNTUK MEMBICARAKAN MASALAH MOS. SEKALI LAGI, SEMUA
PENGURUS OSIS DIMINTA BERKUMPUL DI RUANG OSIS LANTAI TIGA. WASSALAMUALAIKUM
WARRAHMATULLAHI WABARAKATUH, Kemudian
Yoga keluar dari ruang tata usaha dan berjalan menuju lantai tiga.
Saat memasuki ruang OSIS, ruangan itu masih
kosong. Baru ada Yoga. Ia duduk di sebuah kursi.

Mint Chocolate Chips

131

Tiba-tiba masuk ke ruangan seorang cowok tegap


bernama TB. TB menyapa Yoga,
Hey, Yo! Apaan sih? Pake nyuruh-nyuruh gue ke
sini segala?
Kayak cuman elo gitu yang gue panggil Gue
manggil SEMUA PENGURUS OSIS Bukan elo doang jawab Yoga setengah sewot.
Oh, TB menjawab pendek. Kemudian melanjutkan perkataannya, Sorry deh, gue lagi nyolot nih.
Gue lagi ada masalah sama Risya gitu deh. Gue
dikira nikung. Padahal enggak. Masa dia ngira gue nikung sama Eci. Pake acara tampar-tamparan segala
lagi! Yang bener aja! Liat nih! Pipi gue biru-biru, abis
ditamparin terus sama dia! Namparnya pak-pok-pakpok sih tuh anak! Nggak berenti-berenti! Idih! Maka
nya, entar malem gue mau dugem aja ah, jadi gue
bisa ngelupain masalah sedikit,
TBTB Acara dugem lo tuh enggak ada abisnya
ya? Asal nggak terjerumus aja, Be! Yoga menasehati.
Eh, Yo! Nggak usah ngasih kuliah buat gue... Lo
ntar malem temenin gue ke Centro dong! Please, gue
nggak ada temen nih. Masa gue ke sana sendirian
udah kayak orang bego sih? Gila! Gue suntuk banget
nih! Ikut ya? ajak TB.
Enggak ah. Gue ke rumah Acya aja, deh jawab
Yoga, menolak ajakan TB.

132

Mint Chocolate Chips

Yoga payah nih! Pacaran melulu lo! TB kesal dan


ngeloyor pergi. Kemudian datang para anggota OSIS
yang lain ke ruang OSIS.

Ci, ntar temenin ke PS yuk, pinta Acya.


Ngapain? Ini kan hari Rabu tanya Eci.
Gue pengen nyari-nyari kado buat Yoga. Bulan
depan kan dia ulang tahun. Tapi, gue bingung mau
ngasih apaan,
Gue tau kasiiiiih Kemudian Eci berbisik di te
linga Acya.
Waaah bener, bener! Tapi, ntar temenin belinya
ya!
Iya, Eci mengiyakan.
Sementara itu, Yoga tetap dengan serius memimpin jalannya rapat. Pembagian tugas untuk masa
orientasi siswa besok.
Temen-temen, sorry ya. Waktu MOS nanti gue
nggak bisa ikutan. Gue mau cabut ke Inggris, kata
Yoga dengan nada menyesal.
Lama nggak? Nggak pake lama ya celetuk
TB.
Yah, kok gitu sih, Yo? Nggak fair, nih protes
Risya.
Betul itu! Tunggu aja setahun lagi. Terus, terserah

Mint Chocolate Chips

133

deh lo mau kuliah di mana! tambah Anisa. Yoga ha


nya tersenyum mendengar ocehan cewek-cewek
yang termasuk fans-nya di sekolah itu.
Eh, yang nggantiin lo siapa? tanya TB agak bi
ngung.
Ya si Acya, kekasihku jawab Yoga (Anisa
pasang tampang superngiler dan supermupenk9). Ya
udah. Segini dulu, rapat kita. Sekertaris, tolong dicatet
ya formasi sama tugas-tugasnya. Semua udah tau tugas masing-masing kan? Rapat dinyatakan selesai,
kata Yoga mengakhiri rapat OSIS. Anggota-anggota
OSIS berjalan menuju koridor. Yoga menghampiri
Acya di depan pintu ruang OSIS.
Kamu mau aku anter pulang? Aku lagi bawa mobil nih, hunny bunny sweety baby-kuuuu! tawar Yoga
sambil merangkul dan mencium pipi Acya. Kesempatan dalam kesempitan!
Enggak ah, jawab Acya pendek sambil mengelus-elus pipinya.
Loh!? Kenapa, Cya!? Nggak biasa-biasanya
kamu kayak gini. Gue bakalan ikut ke manapun elo
pergi deh, kata Yoga.
Kalo gue mau ke salon, lo mau ikut juga? tanya
Acya lagi.
Ih, jijik amat sih! Kenapa sih cewek-cewek pada
suka ke salon?! Idih, salon Tempat paling mem-

134

Mint Chocolate Chips

betekan sedunia tuh! Enggak ah! Kenapa sih ka


yaknya semoa cewek, bahkan sampe manusia metal
berinisial R kayak temen lo itu masih minat ke salon!
Emang ada apaan sih di sana? Isinya juga cewek semoa! Ngapain sih? Gue nggak mau! tolak Yoga.
Ya udah, dahhh Yoga ujar Acya sambil ngelo
yor pergi. Yoga berjalan lemas dengan tampang bete
di belakang Acya and the gank.

Jakarta, 25 Mei tahun kedua SMA


Gue udah beli kado buat Yoga. Gue selalu berharap bahwa Yoga nggak akan pergi. Gue selalu berharap dia bakalan terus ada di deket gue, buat ngejagain gue. Gue sadar kalo sebenernya gue sayang
banget sama dia dan gue nggak mau jauh-jauh dari
dia. Tapi gimana? Di dongeng-dongeng pasti terakhir
nya dibilang and finally, they live happily ever after,
Boro-boro happy, sekarang aja gue udah bete berat
denger dia mau pergi. Ke Inggris pula! Jauh! Gila ba
nget. Gue nggak tau mesti gimana
Acya menutup buku hariannya dan menyimpan
pulpen yang ia pakai untuk menulis di tempat pensilnya. Acya menyalakan radio-nya, karena sekarang
jam siarannya Reva. Ya, Reva adalah penyiar radio di
sebuah stasiun radio remaja yang terkenal seantero

Mint Chocolate Chips

135

Jakarta, ia membawakan acara Allroundjakarta.


Dinamakan Allroundjakarta karena mereka bersiaran dengan mobil minibus keliling Jakarta, terutama
ke tempat nongkrongnya anak-anak remaja. Seperti
mal, kafe, ataupun sport center. Terdengar suara Reva
dan suara seorang cowok mengudara sekarang.
Hai-hai, Kawula Muda! Balik lagi sama Reva di
sini masih di tempat anak muda mangkal... dengan
partner setia gue
Nino! Kita ngebawain Allroundjakarta dan kita lagi
di Di mana nih, Rev?
Sport X Kemang! Gila! Di sini pada sporty semua
anak-anaknya. Dikelilingin kafe sama distro lagi! Gila,
keren abis!
Kita wawancara siapa nih, Rev? Emang topik kita
apa?
Duh, telmi amat sih, lo! Hari ini tuh tentang all
about skate Apa pendapat lo tentang kemajuan
dunia skateboard di Indonesia? Kita tanya nih cowok
aja, No! Gue tau nih, namanya Yoga. Ini temen gue!
Hey, Yo!
Yoga! Apa pendapat lo tentang kemajuan dunia
skateboard di Indonesia?
Mendengar kata Yoga, Acya yang baru saja me
lamun langsung menyimak obrolan itu dengan seksama. Jangan-jangan ini Yoga-nya gue, batin Acya.

136

Mint Chocolate Chips

Menurut gue skate di Indonesia udah cukup bagus. Cuma pemerintah sebaiknya lebih memperhatikan dunia skate sebagai olahraga. Bukan tempat
anak-anak slebor nongkrong. Skater juga belum
tentu slebor dan urakan kan? Lihat aja Tony Hawk,
dia udah bisa bikin game sendiri. Kalo dia bisa, kenapa kita nggak bisa? Jadi, please, buat pemerintah,
perhatikanlah anak-anak skater sebagai atlet, bukan
perusak Gue mau request lagu dong! Boleh kan?
Boleh aja Mau minta lagu apa?
Gue mau request lagunya Simple Plan yang Id
Do Anything buat gebetan gue, Acya.
Thanks, Yo! Kita bakal puterin. OK, Kawula Muda,
here it is, Id Do Anything from Simple Plan!
Ya, ini emang Yoga-gue, batin Acya sambil tersenyum. Acya meraih gulingnya dan berbaring di tempat
tidur. Waktunya take a nap diiringi lagu favoritnya si
manusia narsis!
Baru hendak merebahkan tubuhnya di atas ranjang tidurnya, seseorang mengetuk pintu kamarnya.
Acya langsung duduk dan kemudian berdiri, membukakan pintu kamarnya. Ia melihat DAINA! Dengan
mata sembab dan pipi basah. Lo kenapa? tanya
Acya yang kemudian mempersilahkan Daina masuk.
GUE BENCI SAMA DIA! DIA JAHAT! kata Daina.
Siapa, Na? tanya Acya bingung.

Mint Chocolate Chips

137

Kiffi! Siapa lagi kalo bukan dia!


Lho? Lo kan baru jadian! Dia kenapa sih, emangnya? Acya semakin penasaran.
Belom apa-apa dia udah ngedeketin cewek lain!
Bayangin! Tadi gue liat dia lagi makan berdua si Juli di
kafe! Gila! Si Juli sama Kiffi tuh udah kayak pacaran
banget! Mesra-mesraan apa segala macem! Rese!
Daina marah-marah.
Lo udah konfirmasi belom sama Kiffinya?
Bukan konfirmasi lagi! Itu orang udah gue eksekusi! Juli sendiri yang ngaku kalo dia emang lagi HTS10
-an sama Kiffi! Kiffi ngakunya belom punya cewek!
Norak! Dasar udik! Sialan! Jahat! Daina makin berapi-api tapi kemudian ia menangis lagi.
Hhh Masalah lagi nih!

27 Mei tahun kedua SMA


NAAAAA!! teriak Kiffi dari kejauhan. Daina sudah
berjalan meninggalkannya. NAAAA!! Kiffi berteriak
sekali lagi. Kali ini sambil berlari mengejar pacarnya.
NAAAA!! Dengerin aku dulu, dong! pinta Kiffi.
Nggak ada lagi yang harus gue dengerin, Kiff!
jawab Daina.
Na, gue sayang sama lo! teriak Kiffi disaksikan
warga-warga kelas dua.

138

Mint Chocolate Chips

Gue cewek ke berapa yang lo bilangin kayak


gitu? tanya Daina masih cuek.
Pertama, jawab Kiffi setelah berhasil menarik
lengan pacarnya.
Bohong! teriak Daina. Saat itu pula Daina melihat ke arah Kiffi dan Kiffi melihat wajah pacarnya
yang sembab akibat airmata.
Jangan nangis. Gue nggak mau karena lo terlalu
cantik untuk nangisin cowok brengsek kayak gue,
ujar Kiffi. Tapi, lo bener-bener yang pertama buat
gue. Dan gue akan berusaha, supaya lo bisa jadi
yang terakhir, ikrar Kiffi. Daina tetap berjalan pergi.
NAAA!! Please, gue sayang sama lo, Na. Please,
gue cinta sama lo! teriak Kiffi. Akhirnya, Daina menghentikan langkahnya.
Terus, tadi lo mau ngomong apaan? tanya Daina.
Gue mau minta maaf, jawab Kiffi jujur.
Minta maaf kenapa? Daina sok-sok nggak tau.
Karena udah mesra-mesraan sama Juli. Sorry,
jawab Kiffi singkat.
Maksud lo kayak gitu tuh apaan sih? tanya Daina.
Enggak. Gue emang lagi khilaf banget. Gue lagi
stres. Gue lagi nggak bisa mikir. Gini yah, Na. Pada
dasarnya, banyak cowok yang suka ngeliat cewek
cantik. Sama aja kayak cewek-cewek yang suka ngeliatin tampang-tampangnya personil boyband, atau

Mint Chocolate Chips

139

Simple Plan, Chad Michael Murray, pokoknya yang


kamu bilang ganteng tuh semuanya. Tapi bukan berarti, aku sayang sama mereka. Mereka cuman enak
diliat, tapi kalo jadi pacar sih, enggak deh! Aku butuh,
aku sayang, aku cintanya cuma sama kamu. Nggak
ada yang lain. Please, maafin dong. Gue janji nggak
akan ngelakuinnya lagi. Please, maafin gue, Na. Gue
sayang sama elo, jawab Kiffi.
Lo janji? tanya Daina.
Iya, gue janji, jawab Kiffi. Please pinta Kiffi.
Gue takut, kalo gue nerima lo lagi, lo bakal ngula
ngin kesalahan yang sama Gue nggak mau Men
dingan sakit sekarang daripada nanti gue harus sakit
lagi karena elo,
Na, gue janji, gue nggak bakalan ngecewain elo.
Bener! Gue janji, Na.. Gue nggak mau nyakitin lo lagi.
Please dong, Na Kiffi memohon.
Terus, ngapain sih elo tadi mesti teriak-teriak segala? Malu-maluin tau! ujar Daina sambil tersenyum
tipis.
Kamu nerima aku balik nggak?
Asal kamu janji nggak akan ngulangin lagi
Iya, aku janji, ujar Kiffi sambil menggenggam
kedua tangan pacarnya. Kemudian ia mengusap air
mata yang mengalir di pipi Daina, dengan ibujarinya.

140

Mint Chocolate Chips

Mint Chocolate Chips

141

Family Potrait
Yoga tertegun menatap langit gelap tapi berhiaskan bintang malam itu. Tanpa teman. Yoga memang
sudah sangat terbiasa dengan kesendiriannya. Keceriaan baginya hanyalah sandiwara di depan temantemannya belaka, aslinya, Yoga persis patung hidup!
Udah cuek, alim, pendiam, dingin, dan orang yang
biasa kesepian.
Waktu kecil, dia apa-apa harus terbiasa sendirian.
Kasih sayang yang dia terima dari kedua orang tua
nya juga setengah-setengah. Nggak pernah Yoga bisa
menerima kasih sayang dua orang sekaligus. Bokap
ya bokap. Nyokap ya nyokap. Semua satu-satu!
Waktu Yoga kecil, pas TK, orang tuanya sudah
pisah rumah. Dilanjutkan dengan perceraian me
reka. Sakit banget rasanya. Makanya, Yoga tumbuh

142

Mint Chocolate Chips

jadi orang yang sensitif, jauh di dalam lubuk hatinya.


Semenjak perceraian kedua orang tuanya, ayahnya
tidak pernah lagi menghubungi Yoga. Sama sekali.
Dan saat itulah Yoga kehilangan figur seorang Ayah.
Terkadang malah membencinya.
Gimana nggak benci? Setiap disuruh mengarang
tentang Ayahku, Yoga bingung mau menulis apa. Ia
tidak mengenal ayahnya, sama sekali. Wajah ayah
nya saja sudah nyaris terlupakan oleh Yoga. Apalagi,
ayahnya tidak bekerja. Lengkap sudah kekesalannya
pada ayahnya. Anak-anak lain memiliki figur seorang
ayah yang bisa dibilang sempurna. Mapan, berwibawa, tapi baik hati walaupun tegas. Tapi, Yoga nggak
kenal siapa ayahnya. Tidak mengerti apapun tentang
ayahnya.
Dan lagi, waktu umur tigabelas tahun, Ibunya Yoga
memutuskan untuk pindah ke Inggris. Tapi, Yoga nggak mau. Dia ngotot pengen tetap di Indonesia. Di Jakarta Yoga tinggal sendirian, hanya dengan supir dan
pembantu. Kadang-kadang, ia sering menginap di
rumah saudara sepupunya, atau temannya. Supaya
nggak kesepian. Padahal, kesepian itulah makanan
sehari-hari Yoga. Dan tentunya Yoga sudah terbiasa
melahapnya.
Sampai pada suatu hari, saat Yoga baru masuk
SMA, Yoga menemukan penghilang kesepian itu.

Mint Chocolate Chips

143

Acya. Bukan yang lain. Cewek itulah yang bisa membuat kegembiraan Yoga tidak lagi dibuat-buat. Cewek
itu juga yang membuat Yoga bisa merasakan kebahagiaan yang sebenarnya untuk pertama kalinya. Cewek itulah yang membuat Yoga bisa sayang banget
sama seorang cewek, untuk pertama kalinya juga.
Acya juga yang bikin Yoga bisa belajar untuk menikmati hidup. Acya yang mengajarkannya untuk merasakan detik-detik hidupnya dengan senyuman dan
tawa. Acya. Acya yang bikin dia mau berusaha. Acya
juga yang membuatnya nggak rela meninggalkan cewek itu ke Inggris.
Cinta memang nggak pernah bisa diduga. Kapan
datangnya, kepada siapa tujuannya. Benar-benar nggak ketahuan! Tapi, entah kenapa, Yoga langsung
tahu kalau Acya bakalan jadi sesuatu yang berharga
di dalam hidupnya. Semenjak pertama kali melihat
gadis itu.
Acya memang nggak secantik Keira Knightley di
mata orang lain. Rangga juga palingan cuma pengen
tenar doang, suka sama Acya, lantaran Acya itu wakil
OSIS. Acya juga nggak pinter-pinter amat. Palingan,
di Fisika doang itu anak pinter, paling jelek juga dapat
tujuh. Pelajaran yang lain sih, biasa-biasa aja. Apalagi Geografi, kalau ulangan Geografi dibagiin, Acya
selalu bilang: WAHAI LANTAI!! TELANLAH AKU!!

144

Mint Chocolate Chips

saking sedihnya dan saking nggak relanya menyaksikan nilai yang akan dia terima. Malu!
Gaul? Nggak juga. Acya belum segaul Eci kok.
Acya betul-betul biasa-biasa aja. Jadi apa? Yoga
juga masih bingung. Mungkin, suatu saat nanti ia akan
menemukan jawaban dari pertanyaannya yang itu.
Kemudian, terlintas nama Yana di pikiran Yoga.
Yana. Iya, Yana, adiknya. Adiknya Yoga. Sudah cukup
lama Yoga tidak menghubungi Yana. Apa kabar ya itu
anak sekarang? Lagian, buat apa gue ngehubungin
dia juga? Gue juga nggak pengen tau apapun tentang
orang yang ngakunya BOKAP GUE.
Enggak, dia bukan bokap gue! Bukan! Nggak ada
ciri-ciri seorang ayah di dia! Nggak ada ayah yang nggak nghubungin anaknya selama bertahun-tahun, nggak ada ayah yang ninggalin anaknya sendirian, nggak ada ayah yang nggak bertanggung jawab sama
kehidupan anaknya, nggak ada ayah yang pengen
ngeliat anaknya kesepian, nggak ada ayah yang masa
bodo sama hidup anaknya, nggak ada ayah yang
ngebiarin anaknya nggak kenal sama dia, nggak ada
ayah yang bikin anaknya bingung mau ngarang tentang apa kalo disuruh ngarang tentang ayah! Nggak
ada! Enggak! Dia bukan bokap gue! Gue nggak kenal sama dia! Kalaupun gue mesti nerima kenyataan
kalau dia bokap gue, gue nggak pengen! Gue nggak

Mint Chocolate Chips

145

rela! Nggak sudi! Nggak ada ayah yang kayak gitu


sama anaknya sendiri! Nggak ada! Gue nggak terima!
Mungkin dia bokap biologis gue, tapi dia bukan bokap gue yang sebenernya! Yoga menunduk. Air mata
mengaliri pipinya. Kata orang, boys dont cry. Tapi, kita
harus ngerti, kalo boys do cry. Termasuk Yoga. Nggak ada larangan bagi cowok untuk nangis kan? Di
mana-mana, bokap itu akan selalu ada buat anaknya.
Ayah bakalan jadi peranan penting dalam hidupnya.
Dan bokap gue? Nggak ada yang bisa gue banggain
dari dia! Yoga kembali terisak dalam sepinya
Mas Yoga! Ada yang nyari tuh, Mas, ujar pembantunya Yoga. Yoga segera menghapus airmatanya.
Siapa? Kiffi? tanya Yoga. Sudah biasa. Kiffi memang sering datang ke rumah Yoga malam Minggu
begini, cuma buat main Playstation dan tanding game
Tekken atau Nascar Rumble. Sampai dini hari. Dan
akhirnya ketiduran di tikar ruang tamu Yoga. Dilanjutkan dengan menginap di rumah Yoga.
Bukan, Mas. Bapak-bapak, jawab pembantunya.
Hah? Siapa? tanya Yoga lagi. Belom disuruh
masuk kan? Yoga memastikan.
Belum, Mas. Masih saya suruh tunggu di luar,
jawab pembantunya. Yoga turun dari atap tempat
cucian menuju lantai bawah melalui tangga.

146

Mint Chocolate Chips

Saat membuka pintu, ia melihat ayahnya! De


ngan refleks Yoga langsung menutup lagi pintunya. I
dont wanna meet you! I dont wanna greet you!
Yoga, tunggu! seru ayahnya. Yoga membuka lagi
pintu tadi dan hanya berkata dengan singkat,
Mau apa? tanya Yoga dengan nada sinis.
Papa mau minta maaf, jawab ayahnya. Yoga
membiarkan ayahnya tetap di luar sana. Di depan
pagar. Di luar rumahnya.
Saya Yoga, bukan Yana, tanggap Yoga masih
dengan gaya sesinis mungkin.
Kamu kenal Yana?
Iya, saya kenal anak Bapak, jawab Yoga, persis
orang yang belum saling kenal.
Yo, Papa mau minta maaf, ujar ayahnya. Yoga
akhirnya membukakan pagar.
Masuk, ujarnya singkat. Setelah masuk ke ruang
tamu, Yoga mempersilahkan ayahnya untuk duduk.
Duduk,
Sepi ya? ujar ayahnya berbasa-basi. Kamu nggak kesepian? tanya ayahnya.
Enggak, udah biasa sendirian dari kecil, jawab
Yoga.
Kamu jangan gitu, dong. Papa ngerti perasaan
kamu. Papa minta maaf, Ayahnya kembali memohon.
Enggak! Bapak nggak ngerti perasaan saya!

Mint Chocolate Chips

147

Yoga masih belum rela memanggil Papa.


Papa ngerti, Yo. Papa sangat mengerti,
Ya kalo Bapak ngerti perasaan saya, kenapa
Bapak bikin Ibu saya harus kerja banting tulang, kenapa Bapak bikin saya nggak bisa dapet kasih sayang
yang penuh dari orang tua saya, kenapa Bapak bikin
saya kesepian kayak gini!? Yoga mulai kesal.
Papa minta maaf,
Minta maaf itu gampang, Pak. Maafinnya yang
susah, ujar Yoga masih saja sinis.
Yoga, Papa mohon maafkan Papa,
Nggak ada yang perlu saya maafin. Kalau mau
minta maaf, sama Ibu saya, jangan sama saya, pinta
Yoga.
Papa udah nyoba. Tapi
Pak Bapak kira selama sebelas tahun ini saya
nggak sedih apa? Saya udah terlalu banyak nangis,
Pak. Saya udah kehilangan kebahagiaan yang seharusnya semua anak punya. Bapak tau? Saya nggak
pernah lagi memakai nama belakang saya. Karena
saya udah terlalu sering sedih karenanya. Saya pernah berantem karena kondisi orang tua saya yang se
perti ini, sama sahabat saya sendiri, Pak! Saya harus
bisa selalu sendirian. Saya harus mandiri waktu saya
seharusnya masih bisa manja sama orang tua saya.
Saya harus bisa terbiasa dalam kesepian. Saya harus

148

Mint Chocolate Chips

bisa mencari jawaban kalo orang tanya tentang ayah


saya. Waktu saya lulus-lulusan SD, nggak ada Ayah
saya. Waktu SMP juga kayak gitu! Padahal ayahnya
anak-anak yang lain semuanya dateng!? Dan sekarang, setelah sebelas tahun Bapak nggak ngehubu
ngin saya, Bapak mau minta maaf? Sekarang? Bapak
baru sadar sekarang? Ke mana aja, Pak? Selama sebelas tahun Bapak nggak pernah ngehubungin saya!
Untung saya cowok, Pak, coba kalo cewek, bingung
saya nyari wali nikah, Pada kalimat terakhir, nada
pembicaraan Yoga mulai memelan, tapi tetap saja
nyelekit.
Yoga Papa minta maaf,
PA!!!! Papa tuh kok kayak gitu sih?! Dikirain Yoga
seneng, apa?! Selalu dikatain! Nggak punya ayah!!!
Dikirain Yoga nggak sedih apa?!!!!!
Papa minta maaf, Yo, ulang ayahnya.
Iya, Yoga maafin, jawab Yoga segera padahal
sejak tadi airmata sudah mengaliri pipinya.
Kamu nggak mau tinggal sama Papa aja? ta
nya ayahnya dengan tulus. Mungkin mencoba untuk
memperbaiki kesalahannya. Mungkin...
Enggak, makasih, jawab Yoga.
Kenapa? tanya ayahnya.
Telat, Pak. Bulan depan saya udah mau berangkat ke Inggris. Nyusul Mama, jawab Yoga dengan na-

Mint Chocolate Chips

149

fas yang masih belum teratur akibat tangisnya. Tapi,


Yoga jujur, ia memang telah memaafkan ayahnya sejak dulu. Ia hanya kecewa dengan apa yang terjadi.
Dan ia harus bisa jadi lebih baik, dari ayahnya.

Jam di rumah Acya menunjukkan bahwa sekarang
sudah jam tujuh malam. Telepon di rumahnya berdering.
Acya segera mengangkat gagang telefon tersebut.
Cya? tanya Yoga lewat telepon saat ia mende
ngar yang mengangkat telepon darinya adalah Acya.
Yo, lo kenapa? tanya Acya. Ia mendengar getaran hebat di suara Yoga.
Cya, gue butuh elo kata Yoga.
Woy, elo kenapa? tanya Acya untuk yang kedua
kalinya.
Cya, tolongin gue kata Yoga lagi, masih de
ngan suara rendah, datar, bergetar hebat.
YOGA! ELO KENAPA? tanya Acya setengah
membentak setengah senewen mendengar Yoga
yang dari tadi tidak memberitahu apapun padanya.
Di rumah lo lagi ada siapa? tanya Yoga.
Gue doang. Bokap nyokap gue lagi ke kawinan,
kakak gue lagi ngapel terang Acya.
Bukain pintu dong. Gue udah di depan, pinta
Yoga.

150

Mint Chocolate Chips

Iya, jawab Acya. Ia langsung meletakkan gagang


telepon dan membuka pintu. Ada mobil Yoga di situ.
Acya melihat Yoga turun dari mobil dengan bola basket di tangannya.
Cya, temenin gue, pinta Yoga.
Ke mana? tanya Acya.
Deket sini ada lapangan basket nggak? Pokoknya
ke lapangan basket. Kalo di sini nggak ada, ke mana
kek gitu. Ke Cilandak kek, Bulungan sekalian! ujar
Yoga.
Ada kok, jawab Acya.
Ayo, Cya, ikut gue, pinta Yoga.
Bentar dong, gue ganti baju dulu ya, pinta Acya.
Ya udah, cepetan. Gue butuh elo banget nih
sekarang, pinta Yoga. Acya berlari ke kamarnya dan
segera mengganti pakaiannya.
Acya sudah tau kebiasaan Yoga kalau sedang
stres atau bingung. Pasti ia langsung bermain basket
sendirian. Tumben, kenapa saat ini dia minta Acya
untuk ikut? Apakah masalahnya benar-benar berat?
Seberat apa?
Sesampainya di garasi, ternyata Yoga sudah kem
bali ke dalam mobilnya. Acya memanggil pembantunya untuk pamitan dan memberitahu bahwa ia cuma
pergi ke lapangan basket di kompleksnya. Acya masuk ke dalam mobil Yoga. Tanpa berkata apapun,

Mint Chocolate Chips

151

Yoga melesatkan mobilnya.


Sebelah mana lapangannya? tanya Yoga tanpa
menengok ke arah Acya sedikitpun.
Di perempatan depan belok kiri. Lurus dikit, udah
keliatan ntar, jawab Acya. Yo, elo kenapa sih? tanya
Acya kemudian.
Ntar aja ceritanya kalo udah nemu lapangan basketnya, jawab Yoga. Mendengarnya, Acya memilih
untuk diam. Biasanya Acya yang lebih galak, tapi,
pada saat-saat terpenting, Yoga jauh lebih galak dari
Acya. Kalo Acya berpikir instan dengan kursi listrik,
kalo Yoga berpikir menyiksa dengan merendam korban di bak mandi baru boombox nyala dicemplungin.
Sadis? Itu cuma perumpaan kok.
Kalo Acya, marahnya nyemprot abis-abisan tapi
cuma sebentar. Kalo Yoga, diamnya dan dinginnya
yang lama itu yang bikin menyiksa. Serius deh, diliatin Yoga dengan tatapan psikopat kalo kata pelatih ekskul teater di sekolah bakalan terasa tersiksa
banget.
Sesampainya di lapangan basket, Yoga membawa bola basketnya tanpa mengindahkan Acya. Ia
berjalan sendirian dan membiarkan Acya mengikutinya dari belakang. Acya pun tidak sanggup berkata
apapun. Tidak ingin Yoga marah lagi, sedih lagi
Yoga mulai seperti biasanya nge-shoot dari

152

Mint Chocolate Chips

area three point. Ia belum juga bicara. Acya duduk di


pinggir lapangan basket itu.
Yo, cerita dong, pinta Acya agak keras supaya
Yoga mendengarnya.
Bentar, kalo gue udah puas main, jawab Yoga.
Sialan bener ini orang. Udah ngajak ke lapangan basket malem-malem, didiemin pula sepanjang perjalanan, sekarang gue mesti nungguin dia pula sampe
puas main basket.
Sepuluh menit. Lima belas menit. Titik-titik peluh
di dahi Yoga mengalir deras, namun, cowok itu tidak gentar. Dia tetap bermain basket. Dan lagi-lagi,
seakan-akan memiliki dunia sendiri di mana tidak ada
orang lain. Padahal ada Acya, yang semakin merasa
akan pingsan karena bosan.
Dua puluh menit. Debum-debum dribble-an bola
masih terdengar jelas. Keringat Yoga hampir membasahi seluruh kaos hitamnya. Decitan sepatu keds
Yoga masih terdengar. Sementara Acya, sibuk menatap bintang di langit.
Tigapuluh menit. Empatpuluh lima menit. Akhir
nya Yoga puas main juga. Yoga memeluk bola basketnya dan duduk di sebelah Acya tanpa berkata apaapa. Reaksi Acya yang melihatnya pun sama, tidak
berkata apa-apa. Hanya melihat ke arah langit, yang
cukup cerah dan berbintang

Mint Chocolate Chips

153

Tadi bokap gue ke rumah, kata Yoga setelah dua


menit sebelumnya kosong tanpa obrolan. Yang terdengar hanyalah nafas Yoga yang tidak teratur.
Acya menengok ke arah Yoga. Ia bingung apa res
pons yang harus ia berikan. Di satu sisi, ia senang
karena akhirnya ayahnya Yoga menemui Yoga. Di sisi
lain, ia juga tau perasaan Yoga yang sulit untuk menerima ayahnya lagi.
Dia minta maaf, kata Yoga tanpa menunggu res
pons yang sedang dicari-cari Acya. Acya terus mendengarkan. Ya udah, gue maafin. Dia minta gue tinggal sama dia, gue bilang gue udah mau ke Inggris.
Selesai, terang Yoga singkat. Gitu doang? Sorry
udah ngerepotin elo. Makasih udah mau nemenin ya.
Soalnya, ngeliat elo tanpa elo mengatakan apa-apa,
gue udah bisa tenang. Pulang yuk, ajak Yoga sambil
menarik Acya untuk berdiri. Acya melihat mata Yoga
yang sembab sehabis menangis kembali berkacakaca. Boys do cry!
Acya tidak berdiri. Ia malah menarik Yoga untuk
duduk lagi. Yoga duduk, dan kemudian menunduk. Ia
tidak mau Acya melihatnya menangis. Dengan refleks,
Acya memeluk tubuh Yoga dengan susah payah. Iyalah!
Tubuh Yoga jauh lebih besar daripada tubuhnya.
Jangan maksain diri lo untuk nggak nangis. Gue
tau, cowok perlu nangis. Kalo emang elo mesti na

154

Mint Chocolate Chips

ngis, nangis aja, mungkin itu bisa bikin elo lega. Gue
mau kok, nemenin elo semaleman sampe tangis lo
selesai. Sampe lo lega. Sebelas tahun itu bukan waktu yang sebentar. Gue bakal meluk elo terus kayak
gini kok, sampe elo tenang. Nggak usah malu buat
nangis, gue ngerti kata Acya.
Gue cuma nyesel aja, kenapa hidup gue mesti
kayak gini?! kata Yoga dalam suaranya yang masih
bergetar. Airmatanya terus mengalir deras dalam pelukan Acya. Im a nightmare, a disaster. Thats what
they always said. Im a lost cause not a hero but Ill
make it on my own. Im gonna prove them wrong. Me
against the world. Its me against the world11
Ini jalan hidup lo. Elo nggak boleh nyesel gitu aja.
Semua ini pasti ada hikmahnya. Allah pasti punya
rencana buat kita semua, Yo. Jangan cuman ngeliat
sisi negatifnya doang. Kalo misalnya bokap lo nggak
dateng, mungkin sekarang elo nggak gue peluk kayak
sekarang, kan? Pasti ada banyak nilai positif yang
bisa elo ambil suatu hari nanti. Gue yakin Nggak
apa-apa kalo elo mau nangis. Nangis aja. Asalkan
nantinya elo bakal tenang, gue akan nemenin elo semaleman janji Acya.
Yoga mengangkat wajahnya dan menatap Acya
dengan serius. Ia mencium rambut gadis itu dan kemudian membelai rambutnya. Thanks yah

Mint Chocolate Chips

INBOX

Reply

Reply all

155

Forward

Delete

To: adhyana_firdausha@yahoo.com
From: yow-gantenk@hotmail.com

Subject: yoga mo ke britain! (kaga pake


boong)

Heyz, lil sister!

Na, kakakmu yg ganteng ini cuman mau

ngasih tau kalo tgl 1 Juli besok gue

berangkat ke Inggris, nyusul ibu gue yg


tentunya ibu lo juga. Sorry, baru ngasih

tau sekarang, dan maaf karena nggak nghubungin elo beberapa lama. Maaf banget.

Gue lagi sibuk berat soalnya, yang ngurusin fiskal lah, visa pelajar, sekolah,

dan semuanya. Kan gue tinggal sendirian,


dan yang diurusin banyak, mesti gue yg

urus semuanya sendiri. Ketemu nenek gue

dulu lah, tante gue dulu lah, buat ngurus sekolah. Banyak deh, capek makanya!

Karena itu, belom sempet call elo lagi.


Pokoknya gue cuman mau bilang, kemaren
papa dateng, minta maaf sama gue. Gue

sih jujur udah maafin dari lama, cuman

156

Mint Chocolate Chips

kecewa aja sama dia. Kok dia bisa segitu

teganya yah sama gue (dulu)? Itu aja sih

yang gue seselin Kalo dia ngapa-ngapain

elo, ato ibu lo, lo mesti bilang sama


gue. Apalagi kalo udah pake kekerasan.
Cepet

lapor

ke

gue.

Via

e-mail

kek,

telepon (ntar gue yg call elo deh!), via


Kak Acya juga nggak apa-apa. Lo tau Acya

kan? Itu lohh... cewek gue (yg cantik

itu... hehehe)... Tau kan? Lewat dia aja


kalo gak bisa contact gue.
Waktu

gue

kecil,

Papa

suka

banget

mandi,

mukul.

marah-marahin gue, sampe kadang-kadang


gue

disetrap

di

kamar

Sakit gila! Gue nggak mau lo digituin


juga. Jadi, kabarin gue yah kalo ada

apa-apa. Gue pengen elo jadi lebih baik


dari Papa. Jangan ikutin jejak dia. Lo
mesti jadi lebih baik (yaaa kayak gue

gini lah..), Papa tuh bener-bener nggak


ngasih contoh yg baik. Ngerti?

Baik-baik yah Dan buat ibu lo, bilang

aja salam dari anaknya yg ganteng. Sorry


nggak bisa ngomong & ketemu langsung.
Ceritain aja tentang gue ke ibu lo

Mint Chocolate Chips

Ok? Tunggu kabar gue.


Regards,
Yoga (yang ganteng!)

157

158

Mint Chocolate Chips

Mint Chocolate Chips

159

Sebuah
Compact Disc
Jakarta, 1 Juni tahun kedua SMA
Acya membuka lokernya. Kali ini, ia tidak melihat Yoga yang sedang menyanyi-nyanyi di beberapa
loker di sebelah loker Acya. Padahal biasanya, setiap
hari Yoga selalu ada di situ, menghafalkan lagu Hysteria milik MUSE. Tapi, sekarang dia nggak ada. Yoga
ke mana ya?
Apaan nih? Acya berbicara sendiri saat ia me
nemukan sesuatu di dalam lokernya. CD.
Kotaknya berwarna kuning neon transparan. Co
ver-nya adalah foto Acya hitam putih, dan foto Yoga
di sebelahnya. Acya membalik CD tersebut. Ia makin
kaget ketika melihat judul-judul lagu yang ada.

160

Mint Chocolate Chips

1. At The Beginning Richard Marx ft. Donna Le


wis
2. Color Of Love Boyz II Men
3. You Ryan Duarte
4. Accidentally In Love Counting Crows
5. In A Rush Blackstreet
6. Letters To You (acoustic ver.) Finch
7. Only One (acoustic ver.) Yellowcard
8. Vindicated Dashboard Confessional
9. Everlasting Love Jamie Cullum
10. You And Me Lifehouse
11. Ordinary People John Legend
12. Untitled Maliq & DEssentials
13. The Reason Hoobastank (Ive found a reason
for me to change who I used to be, a reason to
start over new. And the reason is you)
14. Sweetest Goodbye Maroon 5 (With a tear in my
eye, give me the sweetest goodbye that I ever did
receive)
15. She Will Be Loved Maroon 5 (I dont mind spending everyday out on your corner in the pouring
rain, look for a girl with the broken smile, ask her
if she wants to stay a while)
16. Love Song 311 (However far away, I will always
love you. However long I stay, I will always love
you)

Mint Chocolate Chips

161

17.My Kinda Girl Brian McKnight & Justin Timberlake (Youre the kind of girl I think of and youre
the kind of girl I dream about)
18.Blow My Mind Maliq & DEssentials (Girl, you look
so fine. Now you really, really blow my mind)
Acya tersenyum membacanya. Tiba-tiba ia mendengar suara nyaring di sampingnya yang pastinya
suara Yoga,
Ngapain lo senyum-senyum sendiri? tanya suara
itu. Dasar anak sinting!
Hmmm? Eh, elo. Makasih ya, ujar Acya sambil
memperlihatkan CD yang ia pegang.
Makasih buat? Yoga sok bingung. Acya yakin
bahwa Yoga mengerti maksud perkataannya.
Ini, jawab Acya sambil menunjukkan CD yang
tadi ia pegang sekali lagi, mengalah.
Ooh, itu. Iya, sama-sama. Itu gue kasih supaya
lo bisa inget terus sama gue. Hehehehe ujar Yoga
usil.
Iya, iya. Eh, jangan bolos Jumatan lo! Acya
mengingatkan.
Iya, sayaaaaanggg! Yoga mulai norak lagi.
Nggak usah norak deh! bentak Acya. Yoga tersenyum jahil dan kemudian berlari menuju aula.

162

Mint Chocolate Chips

Jakarta, 17 Juni tahun kedua SMA


Hmmm. Finally, gue dapet IPA juga. Hehehe.
Daina sama Kiffi ambil IPA juga kayak gue. Sisanya
ngambil IPS. Si Tama udah terancam nggak naik kelas. Gara-gara kemaren-kemaren main Tamiya melulu (nggak waras. Anak SMA mainnya Tamiya. Haha.
Just kidding!). Alhamdulilahnya, sama guru-guru dia
diijinin naik kelas. Padahal kelakuannya cukup buruk
juga sih Emang hokinya dia lah mungkin.
Semua! Gue mau ada pengumuman, nih! Karena
tahun ajaran besok gue cabut ke Inggris, dan tahun
ini gue ulang tahun ke, ehm-ehm, delapanbelas, gue
ngundang lo-lo pada ke pesta ulangtahun gue sekalian perpisahan karena gue mau ke Inggris yang nun
jauh di sana. Undangannya udah gue taro di meja lo.
Sorry ya, buat yang nggak dapet undangan, kapasitas rumah gue terbatas, nih! Jadi, lo nggak bisa ikutan! Yang dapet undangan, dateng ya! teriak Yoga di
kelas.
Lo mau gue bantuin ngedekor rumah nggak?
tanya Acya.
Nggak usah nolongin kok. Elo udah gue rekrut
jadi pembokat gue, ujar Yoga sambil nyengir.
Ngocccooll! ujar Acya. Yoga nyengir lebar.
Damai, damai. Piss yo tempar pipis di mana yo?
Yoga makin nggak jelas.

Mint Chocolate Chips

163

Apa sih?? Makin norak aja lu makin hari, ledek


Acya.
Mau tema apaan nih? Pool party apa gaya prom
night? tanya Daina dengan gaya centilnya.
House Party! jawab Yoga.
Duileee... udah kayak The Sims, celetuk Kiffi.
Gue mau anak-anaknya pake baju kasual aja. Lagian kan ultah gue nggak bakal ada acara motong kue
yang bertingkat tujuh belas, kali! Udah gitu, malemmalem dingin kalo berenang! kata Yoga menjelaskan.
Ada musik chill-out-nya nggak? tanya TB yang
tiba-tiba JB12.
Enggak!! Adanya emo!! bentak Kiffi. Pergi lo!
Minggat sana! Dugem aja pikiran lo! usir Kiffi.
Yeeee boleh dong! Namanya juga rave boy ka
yak gue gini kata TB.
Gue emo boy! Mau apa lo?! balas Kiffi membela
aliran musik yang dicintainya dengan sepenuh hati.
Imo, Imo Cowoknya adek gue namanya Imo!
balas TB.
Be, asal lo tau aja ya! Yang namanya emo tuh
keren banget! Apalagi The Used sama Taking Back
Sunday tuh nggak ada matinya, kalo yang lokal
menurut gue Side Project tuh menggila! bentak Kiffi
kemudian.
Goodnight Electric yang bawa musik techno juga

164

Mint Chocolate Chips

keren! Emangnya Faddy ama Dochi Side Project doang yang bisa keren?! ujar TB tidak mau kalah.
Sementara Kiffi dan TB bertengkar masalah musik
emo dan techno, yang lain melanjutkan obrolan me
reka yang tertunda.
Hmmm Gue udah tau gue mau pake baju apa!
Gue mau pake baju yang lengannya tiga perempat,
trus pake rok panjang yang lebar di bawah, trus pake
kaos kaki Jepang yang panjang, trus pake selop tinggi
lima sentiTrus kata Daina. Reva menyahut,
Trus, NABRAK! Dengan spontan anak-anak
tertawa. Untungnya Reva memotong kalimat Daina.
Kalo enggak, panjang kalimatnya bisa tiga jam sen
diri. Mereka pasti bete mendengar rencana dandan
Daina yang kalau di daftar pasti daftarnya akan sa
ngat panjang, belum ke salon, belum jepit, belum eyeshadow warna ini, belum lipstick warna itu Hmmm,
genit banget deh! Tapi, beruntung juga sih, punya teman seperti Daina. Karena,
10 HAL MENGAPA DAINA ITU TEMAN YANG BAIK
10 - Dia mudah bermetamorfosa. Bisa aja acara ke
pesta pernikahan tantenya Eci dia pakai ball
gown ala Nicole Kidman dan ke mal besok sudah
pakai baju a la J.Lo di Jenny from the Block.

Mint Chocolate Chips

165

9 - Dia tau mode. Daina tau apa judul rancangan


rumah mode Miu-Miu musim ini. Dia juga tau hari
ini ada fashion shownya siapa di Jakarta.
8 - Koleksi bajunya banyak jadi asyik juga buat jadi
sarana peminjaman baju sesama cewek.
7 - Make-up-nya komplit, plit, plit, plit, plit! Dari eyeshadow sampai segala lotion ada!
6 - Dia kreatif. Sebenernya dalam tiga hari dia bisa
pakai baju yang sama. Tapi kelihatan beda karena
hari pertama pakai cardigan, kedua di lapis tank
top, terakhir dipakai tumpuk. Yah suka-suka dia
aja lah, tapi tetep keren!
5 - Tau cara menggebet cowok. Dia punya segala
macam trik. (nggak tau kenapa akhir-akhirnya
sama si Kiffi juga. Nggak jauh-jauh!)
4 - Ramah. Dia selalu menyapa semua orang yang
dia kenal. Terutama orang yang lebih tua.
3 - Gaul. Tiap jalan-jalan pasti dia ketemu salah satu
kerabat atau temannya.
2 - Tau gosip. Tanyain gosip apa aja yang lagi beredar
di sekolah. Dia PASTI tau!
Dan hal yang paling penting Dia ngertiin gue
dan gue banget. Mengenal dalam arti kata, tau luardalem, dia kenal gue sampai hal yang paling pribadi
(sepribadi apa sih? Udah, nggak usah dibahas)!

166

Mint Chocolate Chips

Mint Chocolate Chips

167

Ulang Tahun
Yoga
Jakarta, 23 Juni tahun kedua SMA
Sekarang jam lima sore. Mati gue! Gue udah janji
mau ngejemput Acya (yang sudah gue anggap la
yaknya kekasih gue sendiri, ceilee) dan akan sampai
di depan rumahnya jam segini. Sekarang gue masih
kejebak macet. Emang sih, rumahnya cuma beda
paling-paling antara seratus sampe dua ratus meter
dari sini, tapi, Acya paling nggak suka sama yang namanya ngaret. Gila! Bisa-bisa gue diomelin abis sama
nih cewek.
Hidup Acya emang kayaknya well-organized ba
nget, dia tuh jarang banget telat, malah mungkin nggak pernah. Yah, itu cuma salah satu contoh kecil dari

168

Mint Chocolate Chips

karakteristik cewek super ini.


Hari ini gue ngerayain ulangtahun gue yang ke
ketujuhbelas. Kalo buat cewek sih, life begins at
seventeen. Buat gue sih biasa aja. SIM juga gue
dapet udah dari tahun lalu. Nggak lucu banget kalo
nggak nembak. Palingan KTP doang. Terus terang
gue nggak tau apakah gue seneng apa enggak.
Masalahnya, minggu depan gue udah mesti cabut
ke Inggris buat nyusul nyokap gue yang tinggal di
sana. Gue emang tinggal sendirian di Jakarta yang
luas banget ini (walaupun menurut Kiffi luasnya nggak lebih luas dari lapangan basket sekolah kalo
dipake nge-rally), tapi itu jauh lebih menyenangkan
dan membahagiakan karena ada para gokil bernama
Kiffi dan Tama, manusia metal bernama Reva, pecinta kamar mandi sekolah yang centilnya setengah
mati bernama Daina, cewek gaul bernama Eci yang
gaulnya nggak lebih gaul dari gue, dan juga si cantik Acya. Dibandingkan kalo gue mesti bergaul sama
cowok-cowok bule di sana. Rasanya sepi! Biarpun di
sana banyak cewek-cewek cantik nan seksi (kuatkan
imanku, Yaa Allah!) yang bule-bule juga cantik-cantik
dan bodinya... uuuuu, kalo kata Kiffi: aduhay abesss,
tetep aja mungkin banget kalo mereka nggak connect
sama bahasa gue.
Sekolah di sekolah gue yang sekarang emang

Mint Chocolate Chips

169

asik banget temen-temennya. Nyambung semua


rata-rata! Biarpun gue ngerti bahasa slang di Inggris,
tetep aja komunikasinya nggak akan seasik di sini.
Mau gue ngomong kayak apaan juga, pasti perang
dunia ketujuh nggak akan kejadian di situ! Sementara
elo tau sendiri, Yoga kan cinta keributan!
Gue seneng keramaian dan juga keributan, karena kalo kayak gitu, semua masalah rasanya hilang.
Di kelas kita bisa timpuk-timpukan, sambit-sambitan,
main gencetan, lari-larian (ya, permainan itulah yang
bikin icon angkatan gue: Dodit, tangannya robek lapan
senti abis nabrak kaca), sampai tepokan (kalo mainan
yang ini bisa juga dibilang gampar-gamparan dalam
bahasa sarkasme). Lima seperempat. Duh, gue bakalan dieksekusi nih. Acya bakalan marah banget sama
gue. Aduh! Gila, ini jalan macet amat sih!
Di rumah bakalan ada acara ulangtahun gue. Bisa
dibilang sekalian pesta perpisahan gitu. Minggu depan gue asli cabut ke Inggris. Asli!!! Kagak pake
boong! Gue nggak mau! Sumpah! Gue pengen terus-terusan sama temen-temen gue di sini. Gue tau
gue mesti berbakti sama nyokap, tapi ini bukan cara
yang gue pengenin buat berbakti. Buat nunjukkin ba
las budi gue. Nggak kayak gini. Kenapa nyokap nggak pindah ke sini aja, coba? Tau nggak, handphone
aja gue nggak dibeliin ama nyokap!? Beggghh...

170

Mint Chocolate Chips

memalukan memang. Cowok segaul gue gini nggak


punya handphone. Tapi paling nggak, gue masih dibeliin notebook, gue masih bisa punya Friendster...
(buat info aja, karena banyaknya cewek-cewek yang
pengen kenalan ama gue, sekarang Friendster gue
udah nyampe Yoga TIGA). MANTAP!!!
Akhirnya, mobil gue udah sampai juga di depan
rumahnya Acya. Nggak tau kenapa, dari pertama kenalan sama ini cewek, gue udah ngerasa kalo gue
bakalan naksir ama dia. Taunya, gue beneran naksir
sama dia! Ini cewek emang bawel abis, tukang ngobrol tapi aslinya kalem buanget, kita sama-sama suka
sama band Simple Plan.
Kadang gue suka bingung, kenapa banyak cowok
yang benci sama Simple Plan? Apa karena mereka
ganteng-ganteng? Apa karena lagu mereka nggak
pake teriak-teriak? Apa karena lagu mereka easy-listening? Apa karena mereka nggak disebut emo? Tapi,
setelah menyelidiki definisi musik emo dari seorang
penggila emo sejati bernama Kiffi, gue menangkap
kesan bahwa cara membedakan emo dengan punk
atau rock adalah kalau emo liriknya lebih emotional.
Biasanya tentang broken-heart atau kebencian pada
dunia. Kayak orang yang mau suicide, harakiri, atau
bunuh diri, tapi kekesalannya dicurahkan ke lirik lagu.
Abis itu gue bilang, kalo liriknya Simple Plan juga

Mint Chocolate Chips

171

semuanya kayak gitu. Kiffi nggak bisa ngejawab. Gue


rasa, mereka cuma ngiri sama Simple Plan yang pu
nya skill nyiptain lagu yang nadanya harmonis dengan
distorsi yang sedikit kali ya?
Dan berbeda dengan cowok-cowok lainnya, biasanya kan cowok-cowok menyukai musik emo dan
benci Simple Plan. Sementara cewek benci emo cinta Simple Plan. Nah gue, gue suka dua-duanya. The
Used oke, Simple Plan oke Tergantung suasana
aja!
Jam enam. Beneran, barusan Acya ngomelin gue
abis-abisan. Untungnya, dia masih minat buat nga
sih gue kado yang udah dia beliin. Acya tetep simpel
kayak biasanya, cuman makin galak. Dia pake kaos
tulisannya Simple Plan Live In Concert. Keren ba
nget deh. Ngomong-ngomong, beli di mana ya? Tapi
gue rasa dia bikin deh.
Acya udah berbaik hati ngasih gue kado, malah
guenya yang nggak tau terima kasih. Gue juga bi
ngung, gimana mau bilang thank-you, kalo dia ngasih
gue bantal! Gue agak bete. Akibat refleks gue yang
jelek, gue ngebentak Acya (dikit kok. Emangnya salah
ya?). Acya ngediemin gue sepanjang perjalanan ke
rumah gue!
Lagian, gue kira dia bakal ngasih apaan, gitu. Taunya... BANTAL! Gue masih nggak abis pikir. Pas gue

172

Mint Chocolate Chips

baca kartunya, gue baru mikir. Buat informasi lagi, isi


kartunya adalah: Yo, happy birthday ya... semoga aja
elo bakalan terus-terusan dalam lindungan-Nya. Sorry banget ngasih bantal... abis kalo tidur, elo nggak
kenal tempat. Sekalian kenang-kenangan, kan bisa lo
bawa ke Inggris... hikss... kenapa sih lo mesti pergi?
Gue kan sedih kalo nggak ada elo... btw, wishin u all
tha best, pangeran bobo... hahaha,
Gue udah coba bilang makasih dan benar-benar
minta maaf secara sungguh-sungguh dan dari lubuk
hati kecilku yang paling dalam sedalam-dalamnya
dalam. Tapi tetep aja Acya ngejawab sekedarnya.
Sampai-sampai gue maksa dia buat maafin. Dan
setengah ngebentak lagi (is that bad?). Yang ada, ini
cewek malah balik ngebentak gue. Duh, gue jadi nggak enak. Apalagi tadi gue udah telat jemput dia. Hari
ini gue bener-bener bikin dia marah. Gue ngerasa
salah banget. Cumannnnn gue bingung mesti ngomong gimana.
Sampai di rumah gue. Thank God! Akhirnya gue
bisa lepas dari kondisi yang nggak ngenakin kayak
barusan. Paling nggak, ada dua sobat cowok gue
yang sama-sama ajaib, juga temen-temen yang lain.
Semoga suasana bisa lebih cair dikiiiit aja (gue nggak tau titik leburnya berapa. Gue cuma tau titik lebur
tembaga adalah 1083 derajat celcius, gue jadi hafal

Mint Chocolate Chips

173

gara-gara pelajaran Fisika yang sialan abis). Manusia-manusia yang ada baru kita bertujuh.
Gue ngeliat ke arah arloji gue lagi. Udah jam tujuh
lewat. Pantesan rumah gue udah mulai rame. Tementemen udah pada dateng, udah pada ngasih selamat.
Dua orang yang nggak bisa berenti ngomong HAPPY BIRTHDAY adalah Anisa dan Risya yang katanya
masuk OSIS demi gue dan udah bikinin fans club buat
fans-fans gue di luar sana.
Biarpun agak berlebihan, tapi tetep aja gue merasa
agak bangga dengan segitu banyaknya cewek yang
ngantri buat gue. Mau lo bilang gue manusia ternarsis
di dunia, nggak apa-apa kok. Gue terima. Gue nggak peduli. Inilah gue. Dan semua orang mesti nerima
gue apa adanya. Tapikalo Acya nggak suka, gue
rela berubah demi dia (Acya gitu lhooo... )
Ngobrol-ngobrol, Acya mana? Kayaknya dari tadi
gue nggak liat dia. Setelah udah agak lama mata gue
berkeliling nyari manusia tercantik yang pernah gue
kenal ini, akhirnya, ketemu juga (iya, dialah cewek
tercantik yang pernah gue kenal selain DIAN SASTRO, TITI KAMAL, NIRINA, TAMARA BLESZYNSKI,
JENNIFER GARNER, KEIRA KNIGHTLEY, BRITNEY
SPEARS, ASHLEE SIMPSON dan NATALIE PORTMAN). Tapi kok tampang ini cewek rada stres ya?
Acya lagi sama cowok... Laaahhh itu cowok siapa

174

Mint Chocolate Chips

sih? Kayaknya gue nggak tau. Potongannya sih ka


yak playboy yang stres akibat jomblo. Eh, tampangnya familiar? Ih, ngapain tuh anak JB-JB (join bareng)
di party gue?!
Gue masih standing-still (atau still standing?)
di tempat gue berdiri tadi. Gue mau liat dulu, Acya
keganggu apa enggak. Idih, tuh cowok megang le
ngannya Acya. Idiiiihhh! Brengsek amat tuh cowok!
Maksudnya apaan sih?! Mau ngedeketin Acya?!
Siapa sih tuh orang? Mendingan gue samperin apa
enggak?! Sebelom elo jawab pertanyaan gue barusan, gue udah keburu ngibrit nyamperin Acya. Gue
takut dia kenapa-napa. Sebagai cowok yang naksir
dia, GUE KAN HARUS SELALU ADA UNTUK DIA
DI SAAT DIA SUSAH... setuju? (kalo lo nggak setuju, itu masalah lo, bukan masalah gue). Waktu jarak
gue tinggal satu meter dari mereka, gue baru sadar
kalo itu cowok adalah Rangga! Yang waktu itu ngajak gue duel di lapangan basket. Ngajak ribut banget
sih ini orang. Sebenernya, KALO BUKAN KARNA
ACYA, gue nggak pengen ngeladenin cowok banyak
gaya kayak dia. Ngapain sih? Buang-buang energi
aja. Enzim ptialin gue udah susah payah ngolah nasi
jadi monosakarida buat energi gue (gue bener-bener
minta maaf! Gue tau ini bukan buku biologi gue waktu
SMP). Dan pas gue liat Acya bener-bener akan ping-

Mint Chocolate Chips

175

san, gue memutuskan buat ngebentak dia dan ngedorong dia, supaya Acya aman (biarpun bukan pacar,
gue rela kok dijadiin satpamnya). Heh, elo! Yang lagi
sama Acya! tanpa gue sengaja gue teriak sekencang-kencangnya kepada pengganggu itu
ELO MANGGIL GUE? tanya Rangga. Udah playboy, tolol, nggak ganteng, norak, rese, idup lagi!
IYA, GUE MANGGIL LO! NGAPAIN LO DI SINI!?
GUE KENAL SAMA LO AJA ENGGAK!
Heh! Biasa dong lo! Nggak usah dorong-dorong
gue! pinta Rangga. Gimana gue nggak dorong dia?
Dia udah datang tak diundang pulang tak diantar
(ooooh, itu datang tak dijemput ya?), mau ngerusak
acara gue, ganggu-ganggu MAHADEWI gue, lagi! Gimana nggak naik darah? Gue sadar barusan Rangga
ngedorong gue balik.
Nyadar dong lo! Udah nggak diundang, ganggu-ganggu cewek orang, lagi! Acya tuh cewek gue!
Ngapain lo ganggu-ganggu dia? Sadar diri dong! Dia
nggak suka lo gituin! Dengan alasan refleks, gue
ngegenggam tangan Acya dan narik dia lebih deket
ke gue. Hal itu bikin Rangga mukanya merah. Jadi
mirip sama udang rebus yang (sumpah) enak abis.
Walaupun masih lebih enak udang bakarnya. STOP!
BRENGSEK. DIA BUKAN CEWEK LO! ujar
Rangga (dan emang bener). Tapi, gue nggak rela

176

Mint Chocolate Chips

harga diri gue jatuh di mata orang modelan Rangga


gitu dan gue juga nggak rela kalo cewek yang gue
sayang (sebut saja bernama Acya), digangguin sama
cowok modelan Rangga. Apalagi Acya udah keliatan
stres abis-abisan. Gila-gilaan.
Ngomong apa lo, brengsek? Dia cewek gue.
Udah, nggak usah ganggu-ganggu cewek gue lagi.
Dia terlalu cantik untuk lo ganggu, tau?! Emosi gue
udah mulai meluap. Gue sadar barusan gue bohong.
Gue sadar barusan gue ngomong brengsek. Tapi...
semua ini demi keselamatan dan kenyamanan Acya
tercinta kok.
Heh, lagak lo tuh biasa aja dong! Ngajak ribut lo!?
Kalo mau, sini gue ladenin! Rangga mulai banyak
gaya lagi. Itulah yang bikin gue stres ngadepin orang
kayak dia. Ngapain sih mesti tebar pesona sama
orang, terus-terusan? Berasa ganteng, gitu? Mending
kalo ganteng! Kalo enggak?!
Udahlah, nggak usah banyak bacot. Kalo mau
ngajak berantem tuh nggak usah banyak gaya, langsung aja! Dan lalu... gue melayangkan pukulan gue
yang paling combo ke perut si Rangga yang hina
(segitunya?).
Dengan penuh kemenangan, gue menyaksikan
Rangga terjatuh sambil megangin perutnya. Rangga berdiri dengan susah payah tanpa ada yang nolo

Mint Chocolate Chips

177

ngin (itulah akibat dari datang tak diundang) abis itu


ngabur dari rumah gue. Gue mulai calm down (ceilee,
calm down!) dan gue mencoba buat nenangin si
cantik yang tadi lagi stres banget.
Sekarang tangannya udah ada dalam genggaman
gue lagi. Gue rasa muka gue udah nunjukkin rasa
khawatir dan bingung yang mendalam... karena gue
bener-bener bingung. Gue takut kalo Acya diapa-apain. Lo nggak apa-apa? Acya menggeleng. Gue ngebelai rambutnya. Sebenernya ada perasaan pengen
meluk dia. Tapi... gue takut dia stres lagi. Jadi lebih
baik, sekarang gue nempatin diri gue dalam status
atau posisi sebagai kakaknya.
Sorry ya, tadi gue udah telat jemput lo, udah
marah-marah ke elo, udah bentak elo, sekarang udah
ngaku-ngaku cowok lo, terus gue ngebelai-belai elo...
sorry banget ya, Gue nyoba buat minta maaf lagi.
Siapa tau dia mau maafin gue. Gue bener-bener
merasa nggak enak.
Iya. Nggak apa-apa kok. Yang tadi, serius? Acya
nanya ke gue. Sekarang gue bener-bener bingung,
maksud dan tujuan pertanyaan ini apaan? Tapi gue
rasa, ini adalah tentang GUE COWOKNYA ACYA.
Yang mana? Semua yang gue bilang serius, gue
pengen itu kejadian, Gue jawab kayak gitu. Semoga
prediksi gue nggak salah, semoga gue nggak salah

178

Mint Chocolate Chips

tangkep, semoga gue nggak salah paham... amien...


Maksud lo? tanya Acya lagi. Sekarang gue
ngerasa teramat tolol nanya yang barusan.
Yah, gue berharap aja bisa jadi cowok lo Gue
ngasih penjelasan.
Ya jangan cuma berharap, ujar Acya. Gue mulai deg-degan abis. Gue nggak tau mesti gimana.
Maksud Acya tuh gimana? Mungkin dia cuma becanda, tapi gue pengen dia tau, kalo maknanya dalem
abis buat gue... gue pengen jadian sama dia, tapi,
gue nggak bisa nembak sekarang. Gue takut dia
cuma becanda, gue ngeri ditolak, semua enak kayak
gini... karena gue takut ditolak, gue juga takut kalo dia
nerima gue, ntar kita akan putus dan musuhan... gue
nggak mau...! Gue nggak rela!
Paling nggak, gue seneng... karena lagi-lagi, gue
bisa bareng sama lo, apalagi di hari spesial gue kayak
hari ini... liat lo senyum ajague udah seneng kok,

Mint Chocolate Chips

179

Jauhnya
Inggris dan
Jakarta
Jakarta, 30 Juni tahun kedua SMA
Acya membuka inbox e-mail-nya. Ada tiga pesan
baru. Satu dari Yoga, yang lainnya nggak penting.
Acya segera membukanya, mengingat besok Yoga
akan berangkat ke Inggris. Mungkin dia mau ngasih
tau kalo bakal pergi Mungkin
INBOX
Forward
Reply all
Reply
To: acya_rd@yahoo.com

From: yow-gantenk@hotmail.com
Subject: None

Delete

180

Mint Chocolate Chips

Everytime by Simple Plan

It was 3 AM when you woke me up

Then we jumped in the car and drove as


far as we could go
Just to get away

We talked about our lives until the sun


came up

And now Im thinking about


How I wish I could go back
Just for one more day
One more day with you

Every time I see your face


Every time you look my way

Its like it all falls into place


Everything feels right

But ever since you walked away


You left my life in disarray
All I want is one more day
Its all I need

One more day with you

When the car broke down we just kept


walking along

Til we hit this town

There was nothing there at all


But that was all OK

Mint Chocolate Chips

181

We spent all our money on stupid things


But if I look back now

Id probably give it all away


Just for one more day
One more day with you

Now Im sitting here like we used to do


I think about my life

And now theres nothing I wont do


Just for one more day
One more day with you

Every time I see your face


Every time you look my way

Its like it all falls into place


Everything feels right

Every time I hear your name


Every time I feel the same

Its like it all falls into place

Everything, everything feels right


You walked away

Just one more day


Its all I need

One more day with you


Do u get it, Cya? All I want is one more

day, its all I need, one more day with

182

Mint Chocolate Chips

you... I love you (I really mean it.


Its not just A word, its THE word.

Finally I can say it out loud to you).

I love you, I love you, I love you, I


love you!
-Yo-

Jakarta, 1 Juli liburan


Mobil Kiffi berhenti di depan rumah Yoga saat itu.
Kiffi mengklakson dan Tama pun turun dari mobil,
hendak membantu Yoga membawa tas. Terang saja
Tama yang bertugas, memang sudah seharusnya.
Sudah bisa diketahui alasannya saat menyaksikan
besar badannya yang akbar. Yoga membuka pintu
pagar dan menunjukkan dua koper cukup besar dan
membawa tas ransel dengan satu bahu. Tama membawa satu koper dan Yoga pun begitu. Tama kembali
duduk di seat sebelah Kiffi, di depan. Yoga masuk
juga ke mobil dan duduk di sebelah Acya.
Gimana, udah bisa berangkat belom? tanya
Kiffi.
OK! Lets hit the road! jawab Yoga.
Kiffi mengendarai mobilnya menuju Bandara Inter-

Mint Chocolate Chips

183

nasional Soekarno-Hatta di daerah Cengkareng. Mobil itu berisi Acya, Yoga dan koper-kopernya pastinya,
Kiffi, Tama, Daina, dan Reva. Sayangnya Eci tidak
bisa mengantar karena badannya panas dan butuh
istirahat. Ponsel Reva berdering dan ia berhalo kepada seseorang di seberang sana.
Halo?
Halo. Ini Eci, Rev, sapa Eci dengan suaranya
yang serak.
Woooooeeeeyyyy! Kok nggak nongol-nongol sih
lo? Gimana, udah sembuh belom? tanya Reva ramah.
Ini gue lagi mau ke dokter nih Gue mau ngomong sama Yoga boleh nggak? tanya Eci.
Ya boleh lah! Bentar. Nih, Yo, Eci mau ngomong,
kata Reva sembari memberikan ponselnya kepada
Yoga yang sedang memakai kacamatanya karena
sedang menggunakan notebook.
Halo, Eci?
Halo, Yo. Sorry, nih, serek, kata Eci meminta
maaf. Suaranya abis.
Oh, ya, nggak apa-apa. Kenapa? tanya Yoga.
Gue mau ngucapin selamat jalan. Mau ke dokter, nih. Jadi, gue nelepon sekarang. Lo balik kapan?
tanya Eci setengah menjelaskan.
Gue juga belom tau. Tahun depan kali. Nggak

184

Mint Chocolate Chips

pasti, Yoga juga belum pasti mengenai kapan dia ke


Indonesia. Ia melanjutkan kata-katanya (karena ia tau
kemungkinan besar Acya akan bete mendengarnya),
Tapi, pasti gue bakal maen ke Indonesia kok,
Ya udah, ya. Ati-ati lho... Kirim-kirim kabar yaa...
Daah kata Eci.
Iya, iya. Daah, cepet sembuh ya, Tuut! Bunyi
telepon ditutup.
Yo, sebenernya lo ama Acya tuh udah jadian belom, sih? Kok kayaknya mesra selalu? tanya Reva.
Aduh, gimana ya? Kalo cinta udah di depan, status nggak penting, sih jawab Yoga, pamer...
Tam-tam tolong pasang CD gue dong THIS
IS THE BEST OF SIMPLE PLAN!! Mohon Acya sembari memberikan sebuah CD.
Heh! Emang gue biskuit? Tama agak tersinggung.
Ya maap... eh, tolong puterin dong, pinta Acya
memohon.
Iya, iya! kata Tama seraya memasukkan kaset itu
ke dalam tape mobil Kiffi.
Im just a kid and life is a nightmare. Im just a kid,
I know that is not fair. Nobody cares cause Im alone
and the world is anymore fun than me tonight13

Mint Chocolate Chips

185

Sudah bisa ditebak, Yoga langsung menyanyi de


ngan riang. Dalam perjalanan ke Soekarno-Hatta, 6
sahabat itu (minus Eci), menyanyikan lagu Simple
Plan bersama-sama yang membuat mereka lupa
dengan kesedihan mereka akan kepergian Yoga ke
Inggris. Iya, Yoga yang itu. Yoga yang ramai dan selalu heboh, yang selalu menghangatkan suasana dan
agak narsis. Yoga yang jago nge-shoot three point.
Yoga yang jatuh cinta dengan seorang cewek bernama... Acya.
Tak terasa, mereka sudah tiba di Bandara Soe
karno-Hatta. Yoga mengurus tiketnya. Sementara keberangkatan ke Inggris masih dua jam lagi. Kemudian
mereka makan siang di McDonalds. Reva, Kiffi, dan
Daina memesan hamburger. Acya dan Yoga memesan Paket Nasi. Dan Tama, memesan Big Mac. Walaupun Big Mac ukurannya besar, dia memesan dua
buah Big Mac! Minuman yang mereka semua pesan
adalah Coca-Cola.
1 jam sudah lewat. Setengah jam lagi Yoga akan
masuk ke pesawat. 1 jam lagi pesawat menuju Inggris
yang ditumpangi Yoga take-off.
Ehm... bentar lagi gue masuk pesawat...

dan

Yoga Si Gantenk menyadari bahwa ia telah melakukan banyak sekali kesalahan yang menyakitkan andaanda semua... jadi, Yoga Si Gantenk mau minta maaf

186

Mint Chocolate Chips

kalo-kalo pernah bikin salah... maafin yaaa... sumpah gue nggak tau mesti ngomongnya gimana. Yang
jelas, elo semua adalah sahabat-sahabat gue yang
terbaik. Walaupun kita baru kenal dua tahun, rasanya
kayak udah lamaaaaa banget... jadi, gue yakin, gue
nggak akan ngelupain elo. Gue bakalan kangen sama
eloo... yah, gue tau, gue itu jahat, narsis, nyebelin,
suka over-acting, nggak jelas, korban iklan. Tapi, lo
tau kan, nggak ada orang yang sempurna. Gue cuma
pengen, lo tau kalo elo tuh the bestlah buat gue. You
all are the best thing ever happened to me kata
Yoga memulai kata-kata perpisahannya. Acya tidak
bisa membendung air matanya.
Artinya apaan sih? bisik Tama kepada Kiffi.
Ssst! Berisik lo! kata Kiffi. Melihat isak Acya,
Yoga segera menghapus air mata yang mengalir di
pipi gadis itu.
Aduh, Cya... jangan nangis dong... kan gue
perginya jadi nggak enak nih... gue nggak nyaman
kalo lo nangis pas gue tinggal. Kan lo sendiri yang
nyaranin gue pergi... masa lo juga yang nangis gue
nggak pengen liat lo nangis... Please... gue bakal jadi
berat banget ninggalin elonya, ujar Yoga. Yoga berjalan menuju Kiffi dan Tama.
Maafin salah gue ya. Eh, tolong jagain cewek gue
dong, pinta Yoga.

Mint Chocolate Chips

187

Hah? Cewek lo? Nggak salah? tanya Kiffi.


Hehehe. Nggak deng. Jagain Acya yah? Yah?
Yah? Yah? Kasian banget lho dia. Gue nggak pengen
pergi, karena dia. Gue sebenernya pengen ada di sini,
buat dia... tapi gue nggak bisa... jadi, tolong kabarin
gue kalo ada apa-apa, secepetnya,
Iyah... kita pasti jagain dia, jawab Kiffi diserati de
ngan anggukan pasti dari Tama. Yoga memeluk kedua
temannya. Dia berjalan menuju Reva dan Daina.
Maafin salah gue yah, Rev, Na. Pasti gue banyak
salah lah sama lo. Jangan berantem aja lo berdua.
Metal dan girl power sama aja menurut gue. Temenin
Acya ya. Kalo dia bete, ajak ke mall kek, beliin baju
kek, ke distro, ke kafe, makan roti bakar, makan es
krim, beliin rumah, beliin Mercy kek gitu. Asal jangan
lo cariin cowok aja, Acya cuma buat gue seorang,
kata Yoga.
Yeeee elu! protes Reva.
Hehehehehehe, cengir Yoga. Kemudian, Yoga
kembali berjalan menuju Acya.
Acya... kalo lo kangen, telfon aja ya... ato nggak
entar gue yang nelfon lo. Gue janji gue bakalan balik
ke sini kok. Emailin gue. Terserah deh. Pokoknya, gue
janji, gue bakalan setia terus sama lo, gue nggak akan
nyeleweng. Percaya deh! Beneran... kalo elo kangen
sama gue dengerin aja lagunya Simple Plan, request

188

Mint Chocolate Chips

ke MTV, atau segalanya laaahjangan sedih sedih


yaaague Acya memeluk Yoga dengan erat. Hal
itu membuat Yoga nyaris mati kutu. Ia langsung terdiam. Yoga kaget banget. Nggak nyangka Acya bakal
memeluknya seerat ini.
Coba kalo gue bisa meluk lo terus dan lo nggak
bisa pergi. Gue nggak akan ngelepasin elo. Gue nggak tau sekolah gimana kalo nggak ada elo. Gue nggak tau siapa yang bakalan nemenin gue nyanyi lagulagunya Simple Plan. Gue nggak tau siapa yang bakal
nyiulin lagu Im Just A Kid di koridor. Gue nggak tau
apakah loker elo tetep jadi loker terpenuh yang keliatannya mau ambruk. Gue nggak tau Acya kembali menangis.
Yoga menatap mata Acya dengan sorot matanya
yang tajam. Ia mendekati wajah Acya. Ia sangat sa
yang kepadanya. Rasanya hatinya lumer kalau melihat tatapan lembut dari Acya. Kekuatannya terkuras
kalau Acya mendekapnya. Walaupun hatinya berbunga-bunga, darahnya terasa seperti soda yang bergemuruh hebat, semua jadi kacau. Biarpun mereka sahabatan, Yoga selalu menganggap dan memperlakukan Acya sebagai pacarnya.
Acya semakin erat memeluk sahabat cowoknya
yang satu itu. Yoga membelai dan kemudian mencium
rambut cewek itu. Gue takut besok nggak ada cowok

Mint Chocolate Chips

189

namanya Yoga yang suka manggil gue Sayang, gue


juga takut besok nggak ada ketua OSIS yang narsis, gue takut nggak ada manusia korban iklan yang
suka duduk sebelah gue, gue takut nggak ada yang
nemenin belanja Adidas lagi, gue takut besok nggak
ada Yoga yang tiap malem kerjaannya nelfonin gue
dan nanyain hal-hal nggak penting... Gue takut nggak ada elo di deket gue, Acya semakin menangis
terisak-terisak. Kemudian ia berkata dengan suara
nyaring, namun penuh tekanan karena terus terisak,
Yoga jangan pergi!
Acya, kamu jangan nangis terus dong... bukan
kamu aja yang takut. Aku juga takut besok nggak
ada Acya yang sukanya ngomelin aku kalo aku nelfon malem-malem cuma buat nanya udah makan apa
belom, aku juga takut nggak ada Acya yang nggak
bisa makan sambel, aku juga takut besok nggak ada
Acya yang bisa aku panggil sayang, aku juga takut
nggak ada kamu aku takuuuuut banget. Aku selalu
ngerasa kalo aku nggak sanggup tanpa kamu. Tapi,
aku harus nyoba. Karena kamu yang ngomong kalo
aku mesti nurutin maunya nyokap. Aku mesti pergi
Pesawatnya udah mau take-off Seandainya aku
bisa meluk kamu terus kayak gini Yoga melepas
dekapannya dari Acya. Menghapus air mata Acya
dengan ibujarinya. Aku harus pergi, tambahnya.

190

Mint Chocolate Chips

Sebenarnya ia ingin cepat-cepat pergi dari sana.


Bukannya tidak ingin bersama Acya, tapi ia sangat
tidak tega melihat air mata terus-terusan mengaliri
pipi Acya, tanpa ada yang bisa ia lakukan. Jika ia
menyuruh Acya menyebutkan permintaannya, pasti
Acya minta Yoga tetap di Jakarta. Dan Yoga tidak
dapat menyanggupinya. Ia berjalan menuju pintu khusus penumpang di bandara. Dia berhenti sejenak dan
melambai ke belakang. Melambai menuju Acya. Acya
masih saja menangis.
Yoga berpikir, kalau saja aku bisa membekukan
waktu dan aku bisa tetap memeluk Acya, melihatnya dari dekat, mewarnai harinya, menggapai citacita bersamanya Walaupun nantinya Yoga mau kuliah di bidang advertising dan Acya desain grafis, tapi
tetap saja. Mungkin mereka masih bisa satu negara,
satu pulau, satu daerah, satu wilayah. Tapi, itu semua
hanya dan akan terus menjadi pengandaian dalam
waktu dekat.
Yoga berjalan menuju pintu keberangkatan. Acya
masih terus melihat Yoga yang menjauh, dan kemudian hilang.
Yoga duduk di sebuah seat di pesawat yang ditumpanginya menuju Inggris. Yoga memakai earphone
discmannya. Dalam discman-nya terdapat CD yang
waktu itu Yoga berikan untuk Acya. Ia meng-copy CD

Mint Chocolate Chips

191

tersebut supaya ia juga bisa memilikinya, kenang-kenangan. Barusan ada lagu milik Maliq & DEssentials.
Untitled. Hmmm Cya, salahkah ku bila kaulah
yang ada di hatiku? Adakah ku singgah di hatimu?
Mungkinkah kau rindukan adaku? Akankah ku sedikit
di hatimu?
Beberapa menit kemudian, yang dilewati Yoga
dengan cukup cepat, lagu yang terdengar adalah The
Reason milik Hoobastank. Liriknya sangat menggambarkan perasaannya sekarang. Ive found out a reason for me to change who I used to be. A reason for all
that I do, and the reason is you Yoga melihat keluar
jendela. Ia masih berharap. Walaupun sekarang harapannya lebih masuk akal. Ia berharap, seandainya
dari jendela pesawat Acya bisa terlihat. Tapi, mana
mungkin? Mungkin sekarang masih terlihat, tapi bukan tempat parkir. Melainkan landasan pesawat yang
akan take-off. Seandainya, gue bisa mecahin kaca,
tanpa seat-belt, dan gue bisa loncat ke bawah, langsung berhadapan sama Acya, pikir Yoga.
Pesawatnya akan segera take-off. Makanya,
pramugari mengingatkan untuk memasang seat-belt.
Atau jelasnya, sabuk pengaman. Pramugari itu memakai pakaian lengan panjang dan rok selutut yang
bermotif bunga berwarna campuran antara merah
marun, sedikit biru, dan hijau palem. Rambutnya di-

192

Mint Chocolate Chips

sanggul cepol sederhana seperti iklan-iklan pesawat


terbang di televisi. Yoga mengingat percakapan antara Acya dengannya saat melihat iklan pesawat di
televisi beberapa minggu sebelumnya,
Lo tau nggak kenapa gue nggak pengen jadi
pramugari? kata Acya.
Hah? Takut crash? tanya Yoga.
Enggak... gue cuma nggak mau disanggul ka
yak gitu... iiiihh... Nggak enak kayaknya, kata Acya
dengan polosnya. Acya memang seorang cewek
mandiri tapi sangat polos ketika berbicara. Kemudian, mereka tertawa terbahak-bahak di rumah Acya
malam itu. Acya Lagi apa ya kamu sekarang?, batin
Yoga. Yoga kembali melihat keluar jendela. Berharap
melihat Acya. Ternyata tidak. Dia hanya melihat gedung-gedung di Jakarta yang terlihat sangat kecil dan
malah ada yang tertutup awan tebal.

Acya memasuki mobil Kiffi dengan lemas. Dia


duduk di seat mobil, dan menutup pintu mobil itu. Kiffi
menyalakan mobil. Dan Daina duduk di sebelah Acya.
Acya masih murung, mukanya sedikit pucat. Daina
merangkulnya,
Acya, nanti lo sampai rumah langsung kirim email ke Yoga deh. Biar kangen lo kurangan. Gue tau

Mint Chocolate Chips

193

lo pasti susah nerima Yoga pergi. Gimanapun juga,


walaupun tanpa status dia kan udah kayak cowok lo
Gue ngerti. Tapi jangan murung terus dong, Cya
kata Kiffi dia dititipin sesuatu sama Yoga,
Apaan? tanya Acya.
Nih, Cya. Surat kali. Gue juga enggak dikasih tau,
kata Kiffi sembari memberikan sebuah amplop berwarna pink pastel dengan ornamen bintang di pinggiran amplop itu yang berwarna putih, dibuat dengan
teknik emboss. Di bagian depan amplopnya, tertulis:
Dari Yoga
Acya tersenyum sekilas. Dasar Yoga, kebiasaan
banget. Masa di bagian depan amplop yang ditulis
bukannya nama penerima malah namanya sendiri.
Acya membuka amplop itu. Dia mengeluarkan salah
satu kertas dari dua lembar kertas yang terdapat di
amplop itu. Ternyata sebuah surat dari Yoga. Acya
membuka lipatan kertas itu dan membacanya,

Acya,
Gue tau lo pasti baca surat gue di mobil, soalnya gue
pesen sama Kiffi kayak gitu. Gue nulis ginian supaya kangen
lo kurangan. Gue tau kok kalo gue emang ngangenin. Haha,

194

Mint Chocolate Chips

becanda deng. Gue cuman pengen lo jangan sedih, jangan nangis


ya. Pliiisss... kan kalo Acya sedih Yoga juga sedih! Kalimat
gue barusan itu serius lho... Pokoknya entar email-email gue
ya. Kalo lo bete, minta dianterin jalan-jalan aja ama tementemen yang laen. Minta dibeliin mobil sama mereka juga nggak
apa-apa. Jangan nangis. Gue janji, gue pasti balik.
-Yoga(mu)Acya kembali tersenyum. Pede bener ini orang.
Pake nulis Yogamu lagi! Acya mengambil kertas
kedua dari amplop itu dan membuka lipatannya.

Acya
Itu adalah nama cewek yang selama ini mengisi hari-hariku
Yang mewarnai bagian-bagian dalam novel hidupku
Dan mengisi lagu cintaku sebagai rhythm

Mint Chocolate Chips

195

Acya
Dia juga bunga terindah dalam taman ceritaku
Indahnya murni
Tanpa ancaman duri seperti mawar
Harumnya tulus
Bukan seperti melati yang ingin selalu ada di saat-saat
penting
Acya
Cuma senyumnya yang bisa menerangi sisi tergelap dariku
Cuma kata-katanya yang bisa membuatku
Bisa merasakan apa yang disebut bahagia
Seumur hidupku
Karena sebelumnya aku belum pernah tau
Acya
Mungkin sekarang aku harus ninggalin kamu

196

Mint Chocolate Chips

Untuk sementara waktu


Tapi aku janji
Kalau Tuhan mengizinkan
Aku pasti kembali
Buat kamu
Tak terasa, mobil Kiffi sudah berhenti. Tepat di depan pagar rumah Acya. Acya turun dari mobil,
Makasih ya, kata Acya kepada teman-temannya.
Sama-sama! balas mereka.
Dah! Acya melambai kepada teman-temannya.
Kiffi menutup jendela mobilnya dan mengendarai
mobilnya menuju jalan keluar kompleks perumahan
Taman Anggrek, kompleks sekitar rumah Acya. Mendadak Acya baru menyadari, ia menjadi sangat ke
sepian.
Acya masuk ke dalam kamar dan menyalakan
komputernya. Dia mencabut kabel telepon dan menyambungkannya di komputernya. Dia meng-connect sambungan internetnya dan membuka program
Launch Internet Explorer 5.0 miliknya. Acya mengecek
e-mail-nya dan mengklik tulisan Compose.

Mint Chocolate Chips

197

To
Cc
Bc
Subject
Hey there,
Hows the flight? Fun? Jet-lag nggak?

Hehehehe
Begh,

nyangka,

puisinya

ternyata

nggak

cowok

nahan!

Nggak

senarsis

elo

bisa bikin puisi kayak gitu Ehh gila


lo, gue nangis abis-abisan nih Sedih!

Pokoknya kayaknya ntar mata gue bakalan


bengkak segede bola tenis deh! Elo sih,

pake pergi-pergi segala! Eh, udah dulu


yah? Dahh,
acya

SEND

Acya mengklik Send dan men-disconnect sambungan internetnya. Ia mematikan komputernya, dan
beranjak naik ke tempat tidur. Setelah kepalanya menyentuh guling, ia langsung tertidur pulas. Tampaknya
saat bangun nanti matanya akan bengkak.

198

Mint Chocolate Chips

Mint Chocolate Chips

199

Terpisah
Jakarta, 6 Juli liburan
Duh, ngapain ya? Sepi juga ya nggak ada Yoga.
Gue nyesel dulu sering marah-marahin dia. Yah, nyesel aja. Sekarang gue malah ngerasa kehilangan dia.
Gue ngerasa kehilangan banget. Gue nggak bisa
ngomel-ngomelin dia, nggak bisa cerita-cerita, nggak
bisa berantem. Padahal dulu, rasanya kalo sehari
aja nggak berantem sama yang namanya Adhyoga,
langsung pegel-pegel! Tiap hari kita mesti berantem. Tapi, abis itu langsung baikan lagi. Tiap hari gue
udah dengerin CD dari Yoga, gue udah mandangin
fotonya jutaan kali. Tapi, itu nggak nghilangin rasa
kehilangan gue. Gue pengen ada Yoga di sini. Gue
pengen ada cowok yang tiap hari nyanyiin lagunya
Simple Plan buat gue. Gue pengen ada Yoga di sini!
Gue kesepian! Mau gue makan es krim berapa cone,

200

Mint Chocolate Chips

berapa galon, itu nggak bakalan ngilangin rasa sedih


gue. Gue kangen banget sama Yoga. Gue pengen
dia ada di sini. Gue pengen denger suaranya! Gue
pengen ada dia. Gue Gue sayang sama dia! (akhir
nya pengakuan itu keluar juga dari mulut gue). Gue
suka sama dia udah lama. Gue ngerasa kalo gue nggak bisa ngapa-ngapain tanpa dia. Gue pengen dia
selalu ada buat gue dan gue bisa selalu ada buat dia.
Tapi sekarang, darat, laut, misahin kita berdua. Gue
pengen bisa bareng Yoga terus. Gue pengen ngabisin taun terakhir gue di SMA sama Yoga. Gue pengen
ada dia. Gue pengen banget. Tapi, gue nggak bisa.
Dia nggak bisa. Kita nggak bisa barengan.
Gue ngerti perasaan Tante Redya, nyokapnya
Yoga. Pasti beliau pengen bareng sama anaknya.
Sementara Yoga, dia udah biasa sendirian. Dia udah
mandiri dan dewasa banget. Waktu kecil, orangtuanya udah pisah. Yoga nggak dapet kasih sayang
seorang Ayah. Dan, bokapnya nggak pernah ngubu
ngin Yoga lagi, sampe saat dia ketemu Si Yana itu.
Makanya, Yoga jadi sensi tapi bijak banget. Dia udah
biasa bikin keputusan sendiri. Dia nggak pengen jadi
kayak bokapnya, atau nyokapnya. Tante Redya dulu
(dan sampe sekarang pun masih begitu), selalu sibuk sama karirnya. Yah, Yoga terlantar. Jadi, Yoga
udah biasa ngapa-ngapain sendiri. Buat dia, temen

Mint Chocolate Chips

201

adalah segalanya. Makanya, dia lebih seneng tinggal


di sini sama temen-temennya daripada sama nyokapnya. Yoga bukannya mau durhaka, tapi, dia cuma
nganggep nyokapnya sebagai orang yang ngandung,
ngelahirin, ngebiayain, dan ngejagain dia sampe
umur dua setengah. Sejak umur dua setengah tahun,
Yoga diurus sama susternya melulu. Ibunya jarang di
rumah. Ditambah lagi orangtuanya abis itu cerai. Tapi,
Yoga nggak pernah menyesal dengan jalan hidupnya
yang kayak gitu. Dia malah berusaha supaya nggak
jadi kayak orangtuanya. Dia bikin dirinya disenengin
semua orang. Dan dia berhasil seratus persen.

Jakarta, 7 Juli liburan


Acya mengecek inbox e-mail-nya. Ada beberapa
pesan. Salah satunya dari Yoga! Ia segera membaca
pesan tersebut.
INBOX
Dear Acya,
UK keren. Gue selalu berharap elo ada

di sini. Sekolah masih dimulai beberapa

minggu lagi dan gue msh free. Jalan-

jalan... Gue udah liat Big Ben secara

202

Mint Chocolate Chips

langsung. Hehehe. Nyokap udah kaya tour


guide gue gitu. Hampir tiap hari nyokap

nyempetin ngajak gue ngunjungin tempattempat keren di sini.

Sepi. Gue pengen elo juga ada di sini,

atau gue ada di situ sama lo. Bulenya


standar semua. Nggak ada yang segalak

elo. Hahahaha. Becanda kok. Ngga ada yg


secantik lo juga. :)

Gue kesepian. Bukan cuma krn nggak ada

elo, tapi nggak ada temen-temen. Bete

bgt. Kangen sama lo, dan Jakarta-lo (ya

asepnya, ya macetnya, ya kotornya, ya


penduduknya). Gue kangen bgt sama semua

itu. Bodo amat deh Citos crowdednya kaya


apa kalo malem minggu. Yg penting enak

nongkrong di situ. Di sini ada Coffee

Bean nggak yah? *what a stupid question*

Di sini, gue belom ketemu temen gaul.

Gue kangen nih sama lo. Kangeeeen, bgt.

I miss you a lot, I need you a lot, I


love you a lot. Hahahahahaha

Open up your eyes, then you realize,

Mint Chocolate Chips

203

here I stand with my everlasting love. I


need you by my side. Girl to be my pride.
Never be denied, everlasting love !
-yo-

Jakarta, 14 Juli tahun ketiga SMA


Kira-kira sudah dua minggu sejak keberangkatan
Yoga ke Inggris. Hari ini adalah hari pertama tahun
ajaran baru. Acya berangkat ke sekolah tidak se
semangat biasanya, mengingat Yoga tidak ada. Acya
belum membuka e-mail-nya lagi. Teleponnya sedang dilarang pakai akibat kakaknya yang seharian
menelepon pacarnya. Ibu Acya khawatir tarif rekening
teleponnya akan sangat tinggi. Jadi, Acya ikut-ikutan
dilarang. Walaupun hanya kakaknya saja yang dimarahi. Acya berangkat ke sekolah di antar kakaknya
menggunakan mobil Aveo milik kakaknya, Reno.
Reno adalah seorang mahasiswa di perguruan tinggi
negeri favorit di Jakarta yang letaknya tidak jauh dari
sekolah Acya.
Kamu bener-bener kepengen banget pasang internet ya? tanya Reno tiba-tiba.
Iya, Kak. Abis, aku mau ngebales e-mail dari

204

Mint Chocolate Chips

Yoga, jawab Acya.


Oh, gitu. Kakak ngerti banget kamu pasti kangen
sama dia. Kakak aja kangen sama pacar kakak. Tapi,
ya Gimana lagi? Ibu ngelarang. Tapi kamu dilarang
kan gara-gara kakak. Ya udah, sebagai gantinya, ntar
pulang sekolah kakak jemput terus kita ke warnet ya!
Kakak bayarin deh, ujar Reno (tiba-tiba) baik.
Iya?
Iya!
Makasih ya, Kak! teriak Acya kegirangan.
Kamu pulang jam tiga kan? Ya udah ya, cepetan
turun! Ntar telat! Masa ketua OSIS telat sih kata
Reno.
Iya! Dah, Kakak! Assalamualaikum! salam Acya.
Waalaikumsalam! Bruk! Pintu mobil Chevrolet
Aveo biru itu ditutup. Kemudian mobil itu melesat
menuju sebuah perguruan tinggi tempat Reno kuliah.
Acya berjalan menuju kelasnya. Hari ini adalah
hari pertamanya menggantikan Yoga sebagai Ketua
OSIS. Sambil berjalan, dia melihat anak-anak baru
kelas satu berjalan menuju sekolah. Mereka memakai tas yang terbuat dari karung beras yang diberi
tali, yang perempuan memakai mahkota-mahkotaan
menggunakan kertas karton.
Yang cowok memakai mahkota boongan juga dan
sarung kotak-kotak (yang masih warna pelangi dong).

Mint Chocolate Chips

205

Sarungnya diselempangin di bahu kayak orang mau


siskamling. Jadi ketauan banget, siapa yang anak
baru. Hehehe Enggak susah kan peraturannya?
Acya naik ke lantai dua dan berjalan menuju kelasnya. Kelas III-IPA-3. Kemudian Acya turun lagi ke lantai bawah menuju Tata Usaha sekolah.
Pak, pinjem mike-nya ya! seru Acya kepada
petuga TU, Pak Rafiq.
Iya. Pasti buat MOS ya? tanya Pak Rafiq.
Pasti, Pak kata Acya. Kemudian Acya bersuara
di mike itu yang membuat suaranya terdengar seantero
sekolah, ASSALAMUALAIKUM WARRAHMATULLAHI
WABARAKATUH! BUAT ANAK BARU, YANG KELAS
SATU, HARAP BARIS SECEPATNYA DI LAPANGAN
BASKET SLTP! DI SANA UDAH ADA KAKAK-KAKAK
PASKIB YANG NGATUR BARISAN. WASSALAMUALAIKUM WARRAHMATULLAHI WABARAKATUH!
Serentak anak-anak kelas satu berjalan menuju lapangan basket SMA. Di lapangan siswa-siswi ekskul
Paskibra sudah menunggu untuk melatih anak-anak
baru mengenai cara berbaris yang benar.

Inggris, 14 Juli tahun ketiga SMA


Malam waktu Inggris. Di sebuah kamar berukuran
tiga kali empat meter bercat biru tua di suatu rumah,

206

Mint Chocolate Chips

terlihat seorang cowok sedang mondar-mandir di depan notebook canggihnya. Notebook itu berwarna
biru transparan, jadi prosesor, chip, kabel, dan segala
macam hardware di dalamnya dapat terlihat dari luar,
walaupun agak buram, sedikit. Cowok itu memakai
kaos bertuliskan ROLE MODEL (untuk info aja,
merk inilah yang meng-endorse14 Simple Plan) de
ngan warna dasar hitam, dan tulisannya warna putih.
Dia yang memakai celana pendek kargo berwarna
cokelat sedang men-dribble bola basket hitam bergaris kuning neonnya. Rambutnya jabrik acak-acakan
berwarna hitam. Tidak terlalu hitam, mungkin agak
sedikit kecoklatan.
Di nakas samping tempat tidurnya, terdapat foto
seorang cewek cantik yang nampaknya sebaya dengan cowok itu. Cewek itu berambut agak panjang kecokelatan dan berwajah cantik.
Setelah diteliti lebih jelas, ternyata cowok itu
adalah Yoga! Yoga di kamarnya di Inggris. Sepertinya ia sedang menunggu sesuatu.
Kemudian, terdengar sebuah suara, Click, click,
click! Mail!
Akhirnya!

Yoga

berbicara

sendiri.

Setelah

menekan beberapa tombol di notebook-nya, ia mem


baca sesuatu di e-mail-nya, sebuah surat. Dari
Acya! Begini kira-kira isinya,

Mint Chocolate Chips

207

INBOX
Yo,

2 kata buat lo. Kangen berat! Seperti

biasa, anak-anak baru selalu aja menyebalkan. Yg paling nyentrik nyolotnya,


adalah yg namanya Manda. Sumpah deh!

Gokil, nyebelin bgt! Dia tuh suka ngintipin loker lo! Temen-temennya juga suka

nanyain tentang elo ke gue! Tau nggak,

di SMP-nya aja, dia tu panggilannya MANDA-B*BI. Bukannya gue mau ngomong kasar,

tapi beneran! Gara-garanya di angkatannya ada dua Amanda. Yang satu pinter nan

cantik sekali, satu lagi dia! Yg pinter

panggilannya MANDA-PINTER, dia panggilannya MANDA-B*BI15! Gila kan?!

Gue sebel bgt sama dia. Bete. Benci!

Dia seneng banget ngeliat-ngeliat loker lo! Wuiddih Ah, pokoknya sekarang
gue males ngerjain apa-apa. Gue bete.
Gue sedih! Lagian lo pergi sih! Tapi ya

mau bagaimana lagi? Pokoknya, gue pengen


elo cepet-cepet pulaaaaaaaaaaaaaaaaang!
Sorry ya marahnya ke elo.

208

Mint Chocolate Chips

Yoga segera membalas e-mail dari Acya. Ia tidak


sabar menunggu Acya membaca kabar darinya. Kemudian Yoga mulai mengetik.
To:
Cc:
Bc:
Subject:
Hoy,

Kayaknya lo bete bener ama Si Manda-

manda itu yah? Coba gue ada di situ, gue


pengen ikut ngevaluasi pas pulang sekolah! Pasti asik, ngegebrak meja adik-

adik kelas, ngeliat TB nutup pintu de


ngan ditendang

Were da** lucky, nggak dapet ospek-

ospekan gitu. Nggak apa-apalah kalo mau

marah sama gue kayak kata Saykoji: so


what gitu loh? Hehehe Si Manda nggak

tau aja kalo 70% isi loker gue tuh elo,


elo, dan elo. Cek gih, kuncinya udah

gue kasih kan? Foto lo, fotokopian catetan lo Eh, nggak deng. Semua tentang

lo udah gue bawa ke sini! Mau gue taro


di loker baru! Jadi, setiap pergantian

pelajaran, gue bisa baca fotokopian catetan elo. Dan at least, biarpun gue

Mint Chocolate Chips

209

nggak bisa liat muka lo langsung, tapi


gue bisa liat tulisan lo. Dan ntar, pas

gue buka pintu loker gue, ada elo lagi


senyum ke gue dari dalem foto di dalem
loker! (nah lo, bingung kan?)

Kalo bantal, udah gue taro di ranjang

Tiap malem gue peluk Gue kangeeen ba

nget ama lo, pengen cepet balik ke Indonesia deh.


SEND

Setelah selesai menulis e-mail untuk Acya, Yoga


memutuskan sambungan internet dan mematikan
notebook-nya. Yoga berjalan menuju tempat tidur dan
merebahkan dirinya di atas kasur. Semoga gue mimpiin Acya... Amien, Kemudian mulut Yoga berkomatkamit, berdoa.
Seperti biasanya, Yoga membaca banyak surat
pendek sebelum tidur. Doa sebelum tidur, Al-Fatihah,
Ayat Qursi, surat An-Nas, Al-Falaq, dan Al-Ikhlas.
Dulu, setiap hari saat Yoga menelepon Acya, sebelum menutup teleponnya, Acya selalu mengingatkan
Yoga untuk membaca surat-surat tersebut. Apalagi
di Jakarta Yoga hanya tinggal dengan pembantu dan
supirnya. Wajar aja kalau Acya khawatir. Namanya
juga AZHYANTA RAIZA DEYLDA!

210

Mint Chocolate Chips

Selain masalah doa, Acya setiap hari Jumat, selalu mengatakan kata-kata singkat namun berharga
bagi Yoga. Ayo kita berpindah ke hari-hari saat Yoga
di Jakarta
Acya membuka kunci lokernya. Pintu salah satu
loker dari beberapa loker di sebelahnya sudah terbuka. Lokernya Yoga. Acya hendak mengambil mukena
dan buku keputriannya. Untuk siswi-siswi, pada hari
Jumat diadakan program keputrian yang membahas
hal-hal mengenai perempuan. Dari tubuh sampai masalah pacaran.
Sementara Acya mengambil mukenanya, Yoga
setiap hari memang menghampiri lokernya. Untuk
sekedar menyanyikan lagu-lagu yang sedang dihafalnya. Ia memang menyimpan buku teks lagunya di
loker tercintanya. Loker yang paling mau ambruk di
sekolah mereka.
Yo, panggil Acya.
Hmmm? tanya Yoga.
Ntar jangan bolos Jumatan, ujar Acya kemudian.
Iya, jawab Yoga ogah-ogahan.
Gue serius,
Iya, iya. Gue juga serius. Tiap Jumat kan lo selalu
ngomong gitu. Kapan sih gue pernah bolos semenjak
loker kita deketan?

Mint Chocolate Chips

211

Hmmm. Ya udah. Gue duluan ya, Acya menutup


pintu lokernya. Ia meninggalkan koridor tempat lokerloker berada. Tidak lama setelah itu, Yoga pun menutup pintu lokernya dan memasukkan peci ke dalam
kantong celananya. Ia pun berjalan di belakang Acya
dan bergumam, Acya, Acya Kenapa sih lo nggak
pernah bisa berhenti bikin gue makin naksir sama
elo? Tapi Acya tidak pernah mendengarnya.
Yoga tersenyum mengingat saat-saat itu. Ia memejamkan matanya untuk tidur sambil memeluk bantal
dari Acya. Acya, I love you. Eh kenapa ya sampai
sekarang gue belom nembak lo juga?

Jakarta, 15 Juli tahun ketiga SMA


Hari kedua Masa Orientasi Siswa sekolah Acya.
Hari ini Acya resmi menggantikan Yoga sebagai Ketua
OSIS. Nggak ada lagi Yoga yang menyanyikan lagulagu Simple Plan sepanjang koridor, atau Yoga yang
lokernya berisi CD dan Kaset, kaos serep, dasi darurat (Yoga memang pelupa kalau urusan seragam!),
dan tentu saja, fotonya dengan Acya. Loker itu tertutup rapat dan terkunci. Kuncinya disimpan oleh Acya.
Adik-adik kelas banyak yang sok menulis catatan di
barisan loker untuk mengintip isi loker Yoga. Terutama

212

Mint Chocolate Chips

Amanda. Si cewek centil yang selama ini sering membuat Acya kesal. Yang bikin mpet. Yang bikin sebel.
Yang bikin bete! Handphone di saku rok Acya bergetar, menandakan adanya telepon masuk.
Halo? Acya mengangkat telepon.
Halllooooo hunny bunny sweety babykuuuuuuu!
kata seorang cowok yang ternyata adalah Yoga.
Yoga! teriak Acya yang sengaja berteriak dengar
kencang agar seluruh adik kelas mendengar ucapannya.
Sesaat terdengar anak-anak kelas satu bergumam, Yoga? Kak Yoga yang keren itu? Kak Acya kan
pacarnya
Gimane kabar elu? Emangnya si Amanda itu tuh
ngocol banget ya? tanya Yoga.
Iya. Masa dia sengaja nulis di barisan loker biar
dapet kesempatan buat ngintip loker lo! Sekarang dia
lagi melakukan itu, kata Acya agak kencang, walaupun nggak sekencang tadi.
Hah!? Rese banget tuh anak! Dia nggak tau aja
isi loker gue elo semua, Yoga sok bete.
Ih, pokoknya anak-anak barunya pada nyolot,
deh! Coba lo di sini! Hmmm, pasti pengen ngelabrak
deh! kata Acya dengan nada suara mulai meninggi.
Eh, ntar pas lo pulang sekolah lo gue telfon deh.
Kasian pulsa lo roaming kan? Udah yah. Daah, Tuut!

Mint Chocolate Chips

213

Bunyi telepon ditutup. Acya mulai tambah bete de


ngan si cewek centil itu. Ia memutuskan untuk menghampiri Amanda. Ide cemerlang muncul di otaknya
dan tangannya langsung mengambil kunci loker yang
dititipkan Yoga pada Acya.
Acya berdiri di sebelah Amanda yang masih sibuk
curi-curi pandang. Padahal anak-anak lain sudah
pergi dan sibuk dengan pekerjaan mereka masingmasing di tempat lain. Amanda tentu saja kaget. Ia
langsung berdiri tegap dan menutup bukunya, menatap Acya.
Ada apa, Man? Retina lo nyangkut di dalem loker
Yoga? tanya Acya jutek. Baru kali ini Acya semarah ini pada seseorang. Nggak sopan banget sih nih
orang! Ngintip-ngintip isi loker Yoga!
Ah... enggak kok, Kak. Kakak bisa aja deh, jawab
Amanda gelagapan.
Bisa dong. Terus, lo ngapain di sini? tanya Acya
lagi.
Eeeeengisi jawaban tentang sekolah Amanda mulai sedikit menunduk.
Emangnya si Anisa ngasitau lo buat ngerjain
apaan? Baru tau gue kalo tugas orientasi adalah
ngintip loker senior, Acya memang berbicara pelan,
namun nyelekit dan daleeeem Kali ini Amanda tidak menjawab. Lo bener-bener mau ngeliat lokernya

214

Mint Chocolate Chips

Yoga? Kalo mau, serius gue bukain nih, tanya Acya.


Eeeeenggak usah... makasih, Kak, jawab
Amanda agak gagap.
Sama-sama. atau... mau nanya alamat e-mailnya? tanya Acya lagi, nyindir.
Eee... enggak kok, Amanda bergegas ngabur.
Thats what seniors are for! gumam Acya sambil
hampir ngakak. Lagian, RESE BAAAAANGET!

Mint Chocolate Chips

215

Apa Yang Baru


Acya Sadari
Jakarta, 14 Agustus tahun ketiga SMA
Jadi, yang mau ikutan lomba basket siapa aja
nih? tanya Annisa sambil mencatat nama anak-anak
di kelasnya.
Nis! Kalo gue bilang, yang ikut basket si Yo Sebelum melanjutkan kata yang terpotong, Acya teringat
bahwa Yoga sudah ada di belahan dunia yang lain.
Hmmm? Kenapa, Cya? tanya Annisa.
Enggak. Nggak jadi, jawab Acya dengan nada
agak sedih. Ini untuk yang kedua kalinya! Tadi, saat
Annisa bertanya tentang siapa yang sebaiknya ikut
lomba debat, lagi-lagi Acya nyaris menyebut nama
Yoga.
Acya benar-benar kangen dengan cowok yang

216

Mint Chocolate Chips

satu itu. Yoga masih tetap menelfon dan mengirimkan


Acya e-mail. Namun, Yoga belum bisa pulang. Kurang
lebih, sudah satu bulan dua minggu Yoga pergi ke Ing
gris. Acya sudah kangen.
Sekolah beneran sepi. Nggak ada yang heboh dan
kalo ngomong nyaring banget kayak toa, nggak ada
yang suka nemenin Acya nyanyi lagu-lagunya Simple
Plan, nggak ada yang bersiul-siul lagu Im Just A
Kid, nggak ada yang suka nge-shoot three point di
lapangan basket lagi. Nggak ada Yoga.
Acya memutuskan untuk berjalan keluar kelas. Ia
ingin bertemu teman-temannya yang lain. Ada Eci di
depan kelasnya.
Hai, Ci, sapa Acya.
Hilloooww! jawab Eci nyaring.
Eh, gue kangen nih sama Yoga. Gue kangen Si
Gantenk! canda Acya.
Hah? Sejak kapan lo manggil dia Si Gantenk? Eh,
gue mau nanya. Lo tuh sebenernya suka nggak sih
sama dia? tanya Eci.
Nggak tau,
Ya ampun! Iya, iya, enggak, enggak. Jangan iya
yang enggak-enggak! Perasaan lo sama dia gimana?
Kayaknya gue suka sama dia deh. Abis, gue
kangen berat. Nggak tau kenapa tapi tiap hari gue

Mint Chocolate Chips

217

ngerasa kalo dia masih ada di sekitar kita, jawab


Acya.
Yaaaa kalo gitu, kenapa dulu lo nggak jadian
aja sama dia? Dia kan juga suka banget sama elo
kali! Tapi oh iya yah, Yoga kan banci! Dia tuh nggak berani nyatain perasaannya sama cewek! Eci
berprediksi. Tapi, kali ini ia salah.
Ci, sebenernya
Sebenernya apaan?
Sebenernya Yoga udah pernah bilang,
Bilang apaan? tanya Eci penasaran.
Dia udah pernah bilang kalo dia sayang sama
gue Ekspresi penasaran Eci berubah jadi ekspresi
berbinar-binar.
HAH? LO SUKA SAMA DIA? DIA SAYANG SAMA
ELO? DIA UDAH PERNAH BILANG? BERARTI DIA
NEMBAK DONG! ADUH, CYA, LO TUH BEGO APA
TOLOL? COWOK KAYAK GITU LO DIEMIN AJA! KASIAN TAU! UDAH, LO JADIAN AJA GIH SAMA DIA!
DIA TUH UDAH PINTER, GANTENG, HEBOH, PO
PULER, BAIK, RAMAH, JAGO BASKET, DULUNYA
KETUA OSIS, TAJIR, ASIK, SERU! KURANG APAAN
LAGI COBA!? ROMANTIS LAGI! YA AMPUUUUNNN!
DIA NGOMONGNYA KAPAN!? KOK LO NGGAK
PERNAH CERITA? tanya Eci panjang lebar dan se
kencang-kencangnya. Untung suasana juga sedang

218

Mint Chocolate Chips

ramai, jadi, hanya segelintir orang yang mendengar


kalimat-kalimat Eci barusan.
Ssst-eh! ujar Acya. Angkatan Reinkarnax memang ajaib, terutama anak-anaknya. Pada kreatif
semua bikin kata-kata. Ssst-eh berarti Sssstttt!
atau Jangan berisik. Ada yang menyebutnya Sssteh!, ada juga yang Ssst-ah!. Nggak ngerti artinya,
yang jelas, kata itu adalah kata paling populer saat
itu. Tenang dong, Ci. Rileks, Ci! Lo teriak-teriak gitu
udah kayak apaan? Yoga pernah ngomong sama gue
pas abis dia marah-marah di lapangan basket ujar
Acya memulai.
Boong lo! Gile! Sumpelo? Ya ampun! Kok lo nggak cerita-cerita sih? Duh, jahat lo!
Terussspas di ulangtahunnya, Yoga bilang kalo
dia pengen jadi cowok gue. Tapi sampe sekarang
dia nggak nembak-nembak
Duh, Cya. Lo nyadar dong! Itu namanya nembak!
Aduh! Itu menandakan kalo dia sayang sama lo, tapi,
mungkin Yoga nggak bisa ngungkapinnya langsung!
Dia cuma bisa nyerempet-nyerempet doang. Dia
susah buat ngomong mau nggak lo jadi cewek gue?,
tapi gue yakin dia pengen jadian sama elo! jelas Eci.
Acya nyaris nganga. Tuh kan, lo kaget! Lo jadi cewek
peka dikit dong. Nggak semua cowok gampang nyatain perasaannya. Nggak semua cowok bisa nyatain-

Mint Chocolate Chips

219

nya lisan. Dia sering ngasih lo puisi kan? Puisinya di


kemanain? Sini biar gue baca! pinta Eci.
Bentar, ujar Acya. Ia berjalan ke dalam kelas dan
mengambil binder-nya. Di sana Acya sudah menyalin
puisi-puisi dari Yoga. Termasuk yang baru diberikannya kemarin lewat e-mail.
Eci segera merampas binder tersebut dari tangan
Acya. Dan ia membaca puisi-puisi dari Yoga satu per
satu.
Ini dia, Cya! Acya yang mengisi lagu cintaku se
bagai rhythm! Itu artinya, dia udah jatuh cinta sama
elo! Rhythm kan termasuk bagian penting dalam
suatu lagu. Kalo rhythm-nya nggak asik, lagunya juga
nggak asik. Jadi kalo nggak ada elo, kisah cintanya
nggak akan indah! Eci mulai berprediksi lagi.
Kemudian, ia membaca puisi yang baru Yoga ki
rimkan lewat e-mail.
Aku tersenyum pada angin

Namun, kamu tidak melihat menembusnya


Aku bernyanyi pada air

Namun, kamu terbang di dalam angin


Aku berteriak pada dunia

Namun, khayalmu melambai pada angkasa


Nah, Cya! Ini yang tadi gue omongin sama lo!

220

Mint Chocolate Chips

Lo nggak bisa baca pikiran dan kelakuan Yoga. Dan


sekarang, dia ngasih tau elo! Lewat puisi ini! ujar
Eci. Coba lo baca lagi deh, Eci menyodorkan binder
Acya.
Aku tersenyum pada angin, namun kamu tidak
melihat menembusnya. Aku bernyanyi pada air, kamu
terbang dalam angin. Aku teriak pada dunia, khayalmu melambai pada angkasa. Duh, gue masih nggak
ngerti maksudnya apa, Acya jujur.
Ya ampun. Lo nggak pernah bikin puisi apa ya?
Masa kayak gini aja nggak bisa lo baca sih? Coba
baca lagi! Harus bisa. Kalo nggak, gue nggak mau
bantu lo jadian sama Yoga!
Emmm duh, ini apaan maksudnya sih? Angin,
menembusnya. Air, angin. Dunia, angkasa. Hmmm
kalo gue bilang. Artinya adalah, Yoga udah coba buat
nyatain cintanya sama gue, tapi gue nggak ngertingerti? tanya Acya, akhirnya.
Menurut gue TEPAT SEKALI SERATUS PER
SEN!
Jadi, gue harus gimana?
BALES PAKE PUISI!

Inggris, 15 September tahun ketiga SMA


Bruk! Yoga menutup lokernya dengan kencang.

Mint Chocolate Chips

221

Bro, you look so messy.Whats wrong? tanya Riyan, teman baru Yoga yang sama-sama dari Indonesia.
Nothing. I miss my girl. Takut ada apa-apa, kata
Yoga.
Takut ada apa-apa apa takut ada apa-apa
sama cowok laen? tanya Riyan.
Nggak bakalan. She and I both already promised
one another, kata Yoga.
Really? Gue sih udah ogah pacaran long distance
gitu. Capek. Gue juga udah pernah janji gitu ama cewek gue. When I went there, rasanya satu Jakarta
malah udah tau kalo cewek gue pacaran ama sahabat gue sendiri. Pedih benerrrr kata Riyan.
Namanya siapa? tanya Yoga kemudian.
Renata... she was my everything. The way she
look at me, her smile, her laughter, her voice. Dia tuh,
udah cantik, ramah, kalo ngomong lembut banget dan
semua yang sempurna buat gue deh. Unfortunately,
karena kesempuraannya itu, dia berubah jadi sombong dan nganggep gue angin dan bukan apa-apa.
I knew she was flirty, but I was sure that I was her
only love. Eh taunya, dia jalan sama Bas, sobat gue
sendiri... she was everything to me, but then... she is
not... Yaaa... gitu. Because of her, my point of view at
women changed, I really really disappointed. Ternya-

222

Mint Chocolate Chips

ta, cewek yang gue percaya banget, yang dikagumin


banyak orang, malah ngegituin gue. It hurts,
Eh... masuk yuk, Yoga mengalihkan pembicaraan. Apa iya Acya nyeleweng? Ah, nggak mungkin.
Kita tetep e-mail-an dan telpon-telponan terus kok.
Hmh lupain aja deh. Gue percaya terus sama dia,
batin Yoga. Tapi... Rangga? Nggak mungkin!
Click! Click! Click! Mail! Yoga setengah berlari
menuju notebook-nya dan membuka e-mail yang masuk.
INBOX
Reply

Reply all

Forward

Delete

To: yow-gantenk@hotmail.com
From: acya_rd@yahoo.com

Subject: RE: puisi bwt lo


Ini gue replynya pake puisi aja ya..
Jangan bilang aku tidak lihat senyummu
Karena

dalam

menembus angin

kesunyianku

aku

menatap

Jangan katakan aku tidak ikut bernyanyi

Aku dapat mendengar ritmemu dari dalam


air

Mint Chocolate Chips

223

Jangan kira aku berkhayal terlalu jauh

Karena khayalku yang sesungguhnya adalah


khayalan pada dunia

Dan jangan bilang aku tidak menyimakmu

karena aku dengar seluruh untai teriakmu

Tapi, mestikah aku katakan semua itu?


Atau kamu yang harus?

Yoga tersenyum senang. Itu berarti Acya berharap supaya gue nembak dia!

224

Mint Chocolate Chips

Mint Chocolate Chips

225

Bab 15
A Few Weeks
Later...
Jakarta, 20 Oktober tahun ketiga SMA
Acya sudah nyaris tertidur saat ponselnya bergetar. Siapa sih nih, nge-SMS gue malem-malem? Nggak punya etika, apa? Nggak tau apa kalo gue udah
ngantuk? Nggak punya perasaan, apa? Acya ngedumel sendirian.
Ia mengambil ponselnya dan menemukan nomor
yang tidak ia kenal. Malahan, sepertinya itu nomor
yang pemiliknya bukan warga negara Indonesia.
Kode negaranya saja berbeda. Isinya
Found out a reason for me.. To change who I used to
be.. The reason to start over new.. And the reason is
you.. Gnite, Love. Yo

226

Mint Chocolate Chips

Acya tersenyum membacanya. Semua kekesalannya tadi secara instan terhapus saat membaca SMS
dari Yoga itu. Acya memindahkan SMS itu ke folder
pribadinya. Ia mematikan ponselnya dan kemudian
tertidur. Yoga, dateng dong Paling nggak, ke mimpi
gue!

Jakarta, 31 Desember tahun ketiga SMA


Heh, kenapa sih tatapan mata lo kosong begitu?
tanya Reva tiba-tiba.
Bete, jawab Acya pendek.
Kenapa nggak nonton aja sih lo? Film Thirteennya udah mau abis lhooo celetuk Eci.
Gue nggak ngerti ceritanya, jawab Acya.
Dearrrr You kenapa sih? I prihatin liat you, komentar Daina.
Itu handphone kenapa dari tadi dipelototin aja?
tanya Reva.
Yoga janji tahun baru mau nelfon. Sekarang udah
jam sebelas malem dan dia belom nelfon juga, kata
Acya.
Sabar, Buuu Mungkin dia nunggu sampe di sini
jam duabelas kali? tanya Eci.
Yeah, mungkin, kata Acya dengan malasnya.
Si Tracy kenapa sih? tanya Reva sambil menun-

Mint Chocolate Chips

227

juk televisi di kamar Eci.


Si Evie ngejahatin dia gitu deh, jawab Eci. Udah
puluhan kali gue nonton film ini, tetep aja gue nggak
ngerti-ngerti juga,
Cowok yang itu siapa sih? tanya Reva lagi.
Itu kakaknya, dodol! teriak Daina.
Ganteng ya, kata Reva.
Dari tadi juga gue udah ngomong gitu, ujar Eci.
Nah, itu nyokapnya kok malah nyobek-nyobek
karpet? tanya Reva sekali lagi.
Stres, jawab Eci. Tiba-tiba lagu Sunshine After
The Rain mengalun dari handphone Acya. Daina
yang sedang melihat-lihat foto di handphone Acya
nyaris melempar barang tersebut saat melihat tulisan
britain*yo di nama penelfon.
YOGA, CYA!!!! kata Daina. Mendengarnya, Acya
langsung merebut ponselnya dari tangan Daina.
Yoga?! kata Acya.
Heeeeyyyyyyyy!!! sapa Yoga.
Lo jahat banget sih, baru nelfonnya sekarang.
Kan gue udah nungguin dari tadi! kata Acya lagi.
Ya maap deh Maapin aku yah, Sayanggg Lo
lagi di rumah Eci ya? tanya Yoga.
ADUHHH ACYA!!! BARU DENGER SUARA
YOGA UDAH NANGIS LAGI!! GILE, BOO!! TERHARU NIH?? teriak Reva.

228

Mint Chocolate Chips

Sssst!! kata Acya.


Elo nangis, Cya? tanya Yoga.
Ah, enggak kok.. Si Reva aja tuh hiperbol ja
wab Acya.
ACYA NANGIS, YOO!!! teriak Daina, Eci dan
Reva.
Enggak, enggak kok.. bantah Acya.
NGAKU AJA LAHH!!! teriak tiga temannya.
Jangan nangis dong.. Kan gue udah bilang ja
ngan nangis pinta Yoga.
Ya abis gue kangen banget ama lo. Tapi sekarang
udah nggak nangis kok
Nah, gitu dong, jadi Acya yang happy. Jangan
nangis melulu! kata Yoga dan obrolan itu berlangsung selama dua jam.

Jakarta, 15 Januari tahun ketiga SMA
Acya menutup mukanya dengan bantal. Ia mena
ngis terisak-isak. Ia ingin sekali bertemu Yoga. Akhirakhir ini ia memang sering menangis. Dari radio me
ngalun lagu Takkan Terganti milik Kahitna. Acya
berusaha menyanyi, walaupun masih menangis.
Meski waktu datang dan berlalu sampai kau

Mint Chocolate Chips

229

tiada bertahan
Semua takkan mampu mengubahku
Hanyalah kau yang ada di relungku
Hanyalah dirimu, mampu membuatku jatuh
dan mencinta
Kau bukan hanya sekedar indah
Kemudian Acya memarahi dirinya sendiri, Harusnya gue bersyukur, bisa tau kalo ada cowok kayak
Yoga di dunia ini. Harusnya gue bersyukur bisa sahabatan sama dia. Harusnya gue bersyukur, dia punya
kesempatan sekolah di luar negeri. Harusnya gue nggak nangis, karena gue udah rela ngelepas dia pergi.
Harusnya gue seneng, bisa jadi cewek yang beruntung disebut sayang sama dia. Harusnya gue bahagia, bisa liat dia ketawa, senyum. Harusnya gue bersyukur bisa merasakan rangkulannya yang hangat,
yang bikin gue tenang dan ngerasa aman. Harusnya
gue bahagia
Kau tak akan terganti
Acya berjalan keluar kamarnya menuju kamar
Reno. NOOOOO! teriaknya nggak kenal tempat.
Buset ini anak! Gile lo ya! Teriak apa teriak?! ujar
Reno marah-marah. Gue lagi tidur tau! Lo marah

230

Mint Chocolate Chips

ganggu-gang Kalimat Reno terputus saat melihat


wajah adiknya yang berbanjir airmata. Ehh... lo kenapa? Sini, cerita dong sama gue! Yuk, ke kamar gue,
Ajak Reno. Sesampainya di kamar Reno, Reno tanpa
ba-bi-bu langsung menginterogasi Acya. Naah, sekarang... lo kenapa nangis? Siapa yang bikin lo nangis?
Sini, biar tuh anak abang gebukin di tempat!?
Orangnya nggak ada di sini, ujar Acya.
Di mana sih rumahnya? Sini abang samperin!
Orangnya di Inggris, jawab Acya.
Yaelah... Lo nangis gara-gara Yoga lagi? Ya ampuuuun, adikku cayang... udahlah. Yoga pasti balik
kok. Gue yakin, dia nggak bakalan tega ninggalin lo di
sini lama-lama... dia pasti mampir ke sini kok. Di sekolahnya nggak mungkin nggak ada liburan! Beneran.
Percaya deh sama gue, Reno menenangkan Acya.
Tapi sampe sekarang dia nggak balik-baliiik!
Yeeee, terang aja nggak balik-balik. Sekarang masih bulan apaan? Januari! Baru aja enem bulan masa
lo udah ngotot minta dia pulang. Dia kan juga sekolah, di sana, nggak liburan, Cya... udahlah... jangan
nangis melulu... jelek tau! Ntar Yoga males liburan lo
kalo liat muke lo kayak gini! Sana cuci muka!
Iya, iya... tadi bilang mau bantuin! Sekarang ngusir! Aaahh, rese looo! Acya nyambit Reno pake bantal terdekat.

Mint Chocolate Chips

231

Ya bagus, kalo lo udah mulai ngajakin ribut, berarti lo udah sembuh! Reno melempar guling yang
ada di dekatnya. Acya mulai bisa tersenyum lagi.

232

Mint Chocolate Chips

Mint Chocolate Chips

233

Bab 16
14 Lampu
Merah

Jakarta, 12 February tahun ketiga SMA
Lusa udah Valentine aja. Lima hari lagi gue
ulangtahun. Tapi, Yoga nggak pulang-pulang nih. Padahal gue udah kangeeeen banget sama dia. Biarpun
tiap hari kita tetep telpon-telponan, e-mailan terus.
Tapi, aku kangen ngeliat mukanya. Walaupun tuh
tampang udah ada di fotonya yang bejibun di kamar
gue. Aduh, dia belom bisa pulang lagi. Nggak tau apa
gue kangen berat!? Ah, ya udah deh, Diary
Acya menyalakan radio. Mendengarkan acara
Allroundjakarta yang masih dipandu oleh Reva.
Tapi Nino, partner Reva sudah pensiun dari dunia
penyiaran. Mungkin karena ia akan fokus ke kuliah.

234

Mint Chocolate Chips

Reva sekarang sendiri dan sedang membawakan Allroundjakarta yang hari ini berlokasi di Cilandak Town
Square, yang beken dengan Citos.
Gue lagi di Citos!! Sendirian aja, lagi!! Nino pake
pensiun segala sih Jadi kita buka lowongan buat
lo yang mau jadi DJ nemenin gue di sini. Syaratnya,
lo harus seorang cowok 16 sampe 25 tahun, supel,
bisa nge-team sama gue, mau ngomong tiga jam
non-stop!! I need you, guysssss!! Kirim e-mail ke allroundjakarta underscore dee-jay at radio anak muda
dot com16! Topik kita hari ini adalah Menurut lo, gaul
itu perlu nggak sih? Sebelum nyari sasaran, dengerin
dulu deh, lagu request-an Yudha di 82, Everytime
from Simple Plan!
Kring! Telepon rumah Acya berbunyi. Acya me
ngangkat gagang telepon rumahnya.
Halo?
Halo? Acya? tanya seseorang di seberang
sana.
Hai! tanya Acya yang langsung mengenali suara
Yoga.
Cuma mau nanya, apa kabar hunny bunny sweety
baby-kuuuu? kata Yoga.
Ceileeh hunny bunny sweety baby? Aku baikbaik saja, kamu kamu sendiri bagaimana? Aku ka
ngen sekali sama kamuuuuu ledek Acya.

Mint Chocolate Chips

235

Baik, kamuuuu Yoga meledek balik.


Eh, lo mau pulang kapan? Pulang dong! pinta
Acya.
Sorry belom bisa, tik, kata Yoga dengan nada
menyesal.
Tik? Panggilan apapaan tuh?
Cantiiiik
Oh, God. Jadinya, kapan dong pulangnya? Ka
ngen nih. Bentar lagi kan Valentine, kata Acya berharap. Tapi kemudian ia menyesal, apa hubungannya
Valentine sama kepulangan Yoga?
Sorry banget kata Yoga.
Bentar lagi kan gue ulang tahun kata Acya.
Iya, iya, inget kok
Eh, ngomongin yang laen dong! Apa kabar sekolah lo? tanya Acya.
Baik. Lo?
Rangga nembak Reva. Tapi Reva nggak jelas
jawab apa,
Bagus tuh! Bilangin ke Reva suruh jadian aja
sama Rangga!
Lho, kenapa? Rangga kan playboy! protes
Acya.
Yaaah, kan kalo Reva jadian sama Rangga,
seenggaknya gue bisa tenang di sini. Rangga kan
yang waktu itu gangguin elo di pesta gue. Bagus deh

236

Mint Chocolate Chips

dia ama Reva aja jadi gue nggak usah takut lo bakal
jadian sama dia, kata Yoga.
Emang kalo gue jadian sama Rangga kenapa?
Bukan urusan lo juga, gitu, protes Acya.
Bukan urusan gue gimana? Gue kan suka sama
lo! ujar Yoga terus terang.
Soooo? tanya Acya.
So? So apaan maksud lo? Jelas aja ada hubu
ngannya dong! Elo itu tercipta hanya untuk gue,
Kata siapa?
Kata gue,
Idih, pede bener, protes Acya.
Lebih baik kepedean daripada minder, tau! komentar Yoga.
Eh, udah dulu ya. Besok disambung lagi, kata
Acya menyudahi.
Masa udahan sih? Gue masih pengen ngobrol
nih! Bentar lagi dong! pinta Yoga.
Ngobrol apa?
Aduh... kok jadi garing gini sih? Valentine lo ada
acara nggak?
Enggak... Nggak punya pacar sih gue,
Idiih, nyindir... maksud gue nggak ada acara sama
temen-temen? tanya Yoga kemudian.
Enggak. Mereka punya acara sendiri. Apalagi
Reno. Sibuk! Gini nih kalo nggak punya pacar! Acya

Mint Chocolate Chips

237

males sambil setengah menyindir Yoga. Jadi jomblo


kadang-kadang kan nggak enak!
Kenapa sih? Maksud lo apa? Nyindir gue, gitu?
tanya Yoga marah.
Enggak. Lo aja yang ngerasa kalo gue nyindir lo,
jawab Acya cuek.
Heh, jangan gitu dong. Gue denger lagu yang
ngalun itu, bayangin aja, itu gue yang nyanyi, kata
Yoga.
Kenapa? Lo bukan Pierrenya Simple Plan, gitu!
ujar Acya.
Bukannya gitu... gue nggak senarsis itu lagi... Eve
ry time I see your face. Every time you look my way.
Its like it all falls into place. Everything feels right. Ever
since you walked away. You put my life in disarray. All
I want is one more day. Its all I need, one more day
with you17, kata Yoga yang membuat Acya terdiam
dan merasa bersalah nyalahin Yoga melulu. Ya udah
deh. Dah! Yoga bete.
Eh, tunggu! pinta Acya.
Apaan lagi sih? tanya Yoga males.
Every time I hear your name. Every time I feel the
same. Its like it all falls into place. Everything, everything feels right, Acya balas menyanyi. Sebenarnya
di Inggris Raya sana Yoga sedang menyimpulkan senyum. Namun, menurutnya ia tidak perlu repot-repot

238

Mint Chocolate Chips

menceritakannya.
Woeiy, udah dulu ya, Tik... dah, cantik
Dah Tuut! Bunyi telepon ditutup.

Jakarta, 13 February tahun ketiga SMA


Acya menikmati harinya seperti biasanya. Tapi,
dengan tambahan ekspresi dan kondisi yang kurang
menyenangkan. Di sekolah, nggak ada yang spesial.
Sesampainya di rumah, Acya tidur siang. Sorenya,
ngemil. Malamnya, ia menikmati makan malam dan
kemudian menonton film A Walk To Remember sen
dirian. Menangis dan terharu sendirian. Sembari berharap bisa punya pacar yang seperti Landon Carter.
Reno sibuk friendster-an di kamar. Ayah dan ibunya juga tidak begitu tertarik untuk nonton DVD bersama. Acya benar-benar merasa seperti layaknya
manusia bodoh, nonton DVD sendirian, menangis
sendirian, berkhayal sendirian.
Ia membuat sebuah CD berisikan lagu-lagu cinta
yang semangat, maksudnya sebagai kado Valentine
buat diri sendiri. Acya tidak ingin membeli cokelat,
bunga, atau teddy bear. Sebenarnya, ia juga tidak
terlalu ingin merayakan Valentine. Kalaupun mau
merayakan, mau dirayakan sama siapa, coba? Pacar
nggak punya, HTS nggak punya, sahabat terbaiknya

Mint Chocolate Chips

239

ada di belahan dunia yang lain.


Saat sedang menikmati pemandangan indah di
layar televisi yaitu tampang ganteng Shane West
yang berperan sebagai Landon Carter di film yang
sedang Acya tonton, ponselnya bergetar. Acya agak
malas membaca SMS yang masuk. Paling-paling dari
Eci, yang minta dicariin jodoh Mungkin juga dari
Daina yang mau ngeledekin akan kesendirian gue
tanpa pacar. Atau siapalah gitu. Males ah!
Namun, Acya tetap membaca SMS yang masuk.
Dari siapa ya? Ah loading-nya lama bener, sih?!
Ehm Lho? Ini kan??? Ini kan nomer ponselnya
Yoga yang di Inggris!
Maafin aku yah, Valentines Day ngga bisa ksitu. Pas
kmu ulgthn kynya lbh ga bisa lagi. Feel guilty bout it.
What can I do now? All I can do now is to love you
from this place to yours. Gnite. Love you
Acya nyaris loncat-loncat kegirangan dan histeris
ketika membacanya! Yang bener ini SMS dari Yoga?!
NGGAK

MUNGKIIIIIIN!!!!

GILAAAAA!!!!

DASAR

ORANG ROMANTIS CAMPUR GOMBAL!!! SMSNYA ADAAAAAA AJA! Tapi nggak apa-apa deh, gue
seneng kok Yoga Gue makin kangen sama lo!
CYA!!! teriak Reno tiba-tiba.

240

Mint Chocolate Chips

Apaaaa? tanya Acya.


Lo jadi mau ngecek e-mail, nggak? tanya Reno.
Iya, iya, bentar. Lo log-in-in dulu dong! Gue matiin
DVD dulu nih! kata Acya.
Iye, iye. Cepetan, pinta Reno.
Setelah mematikan DVD Player-nya, Acya segera
berjalan menuju kamar Reno. Reno sudah duduk di
ranjangnya dan sudah membukakan inbox-nya Acya.
Ada pesan dari Yoga! Isinya seperti ini
INBOX
Cant you see that I wanna be there with
open arms?

Its empty tonight and Im all alone


Get me through this one
Do you notice Im gone?

Where do you run to, so far away?

I want you to know that I miss you


I miss you so

Im writing again these letters to you


Arent much I know

But Im sleeping and youre not here


The thought stops my heart
Do you notice Im gone?

Where do you run to, so far away?

Mint Chocolate Chips

241

I want you to know that I miss you


I miss you so

Maap ngganggu, cuma mau bilang kalo gue


kangen sama lo dengan liriknya Finch:
Letters To You .. Love
-yogaNI COWOK UDAH GILAAAAAAAAAA!!!!!!! teriak
Acya. Reno hanya menatap adiknya keheranan.
Pacarnya kok dibilang gila, sih?! tanya Reno. Ia
berbaring di atas tempat tidurnya dan menyelimuti di
rinya sendiri. Jangan lama-lama ya, online-nya! Ntar
Ibu marah! pinta Reno.

Jakarta, 14 Februari tahun ketiga SMA


Acya terbangun dari tidur sambil tersenyum.
Hmmm, Valentines Day. Hari Kasih Sayang. Kasih
selamat sama Ibu ah Ia beranjak dari tempat tidurnya dan keluar dari kamar cozy-nya itu.
Kakakku tercinta tersayang terbaikhati terganteng
terramah tertidaksombong tergaul terkeren abis!!!
Happy Valentines Day! Acya berteriak di depan pintu

242

Mint Chocolate Chips

kamar kakaknya. Kemudian ia berjalan pelan menuruni tangga menuju ruang makan. Diikuti Reno yang
baru saja keluar dari kamar dan berkata
BARU TAU, LO!? Kalo gue itu baik hati, ganteng,
ramah, tidak sombong, gaul, dan keren abiss?
PEDE BENNNNEEERRR! teriak Acya dari bawah
yang mendengar kalimat kakaknya tadi.
Gue gitu lowh! balas Reno.
Iya! Elo gitu lowh! Acya nyindir. Kemudian, ia
duduk di sebuah kursi. Acya menuang susu strawberry dan corn flakes ke dalam mangkuk sarapannya.
Kemudian melahap sesuap demi sesuap corn flakes
sebagai sarapan paginya. Beberapa menit kemudian
Reno sudah duduk di sebelah Acya.
Bu, Pa, ntar Reno mau jalan-jalan sama Shinta ya.
Biasa anak muda mau ngerayain Valentine nih,
Iya. Boleh kata Ibu Annetta, Ibu Acya dan
Reno.
Nanti Papa sama Ibu juga mau gala dinnerWalaupun udah tua, kita juga bisa punya acara romantis-romantisan dong. Tapi Papa berangkat dari siang,
jam tiga-an. Mau lihat-lihat pameran dulu kata
ayah Acya.
Yah Acya sepi dong. Masa cuman sama Mbok
Sri sih kata Acya protes.
Gimana dong. Adiknya abang mungkin ngerayain

Mint Chocolate Chips

243

tahun depan aja ya? kata Reno jahil.


Ah, nggak adil! Lo temenin gue di rumah dong!
pinta Acya.
Enggak bisa... udah janjian ma Shinta. Salah
sendiri nggak punya pacar! Makanya... punya pacar
dong! ledek Reno.
Aaaaaaaaaaaahh! Nyebelin lo, No! bentak Acya.
Reno nyengir.

Gue bete, bete, bete, bete, bete! Pokoknya gue


bete! Masa gue mesti ngerayain Valentine sama
Mbok Sri!? Yang bener ajaaaaa!?
To: Yoga: I will fly into Britain, and be with you to finish your study... whyd are you so far away? You know
its very hard for me to get myself close to you...
Ini Valentine, Yoga! Ini Valentine! Masa lo nggak
nyadar juga sih! Sekarang itu tanggal 14 February.
Walaupun mungkin di Indonesia nggak dirayain gimana-gimana, tapi paling nggak ini kan bisa jadi momen paling tepat buat elo untuk pulang! Lima hari lagi
ulangtahun gue! Masa elo nelfon aja enggak sih! Say
hello atow something-something gitu
Mana Yoga nggak nelepon lagi. Sama sekali nggak ngasih kabar! Padahal ini kan hari kasih sayang.
Nggak mungkin dia lupa! Di Inggris Raya sana kan

244

Mint Chocolate Chips

orang juga ngerayain Valentines Day! Kemaren aja


ditelponin ke rumahnya, Yoga-nya nggak ada, lagi
nginep di rumah temennya, kata Tante Redya. Gue
telpon ke rumah Riyan, Yoga-nya nggak ada di sana.
Malah dari kemaren Yoga-nya nggak ke sekolah tuh!
Aduh, yang bener yang mana sih? Gue jadi rada-rada
curiga sama Yoga.
Tiba-tiba terdengar siulan seseorang di jalanan
kompleks rumah Acya. Tampaknya suara cowok
yang dikenal Acya sedang bernyanyi. Suara siapa
ya? Tama, bukan. Kiffi, juga bukan. Rangga, nggak
mungkin!
Im just a kid and life is a nightmare. Im just a kid,
I know that is not fair. Nobody cares cause Im alone
and the world is anymore fun than me tonight
Kemudian cowok itu bernyanyi, masih dengan
nada lagu Im Just A Kid milik Simple Plan itu.
Acya turun Yoga udah datang Bawa bunga
Di hari Valentine Yoga kangen sama Acya di kamar
yang lagi bete nungguin Yoga pulang
Yoga! teriak Acya histeris yang langsung berlari
menuju halaman. Ia menuruni tangga dari lantai dua,

Mint Chocolate Chips

245

dan kemudian berlari melewati ruang tamu dan membuka pintu utama rumahnya dan melihat Yoga yang
tegap berdiri di halaman. Melihat ke arahnya. Acya
masih bingung,
Eh, ini Yoga kan?
Bukan! Gue temennya, jawab Yoga bikin Acya
bingung. Ya, iyalah! Pake nanya lagi, teriak Yoga
sambil memeluk Acya dalam dekapannya. I miss
you, kata Yoga kemudian sambil memberikan sebuket bunga mawar putih yang sudah dipegangnya
dari tadi kepada Acya.
Gue juga kangen sama lo. Kok nggak bilang-bilang mau pulang? Nggak nelfon, nggak ngasih kabar!? tanya Acya sambil menepuk tangan Yoga.
Aduh! Sakit Kan mau ngasih surprise, hunny
bunny sweety babykuuuuu! kata Yoga sambil me
ngelus-ngelus tangannya.
Yuk, masuk! Acya menarik tangan Yoga yang belum sembuh dari rasa sakit akibat pukulan Acya ke
dalam rumahnya.
Eh, nanti malem jalan yuk, kata Yoga.
Jalan? Jalan kaki keliling kompleks maksud lo?
Aduh, nggak gaul amat sih lo! Ya jalan. Jalan-jalan. Mejeng! Ke mall! Makan! Ngobrol! Muter-muter!
Becanda! Pokoknya keluar rumah! jelas Yoga.
Ke mana? tanya Acya. Mereka berdua sedang

246

Mint Chocolate Chips

duduk di sebuah sofa di ruang tamu rumah Acya, sore


itu.
Keliling Jakarta, kata Yoga menjelaskan.
Ayo, kata Acya.
Jadi gue nggak pulang lagi ya? Tenang sebelum ke sini gue udah mandi kok. Hehe kata Yoga
iseng.
Iya, iya... Acya mengiyakan.
Eh, gue bete nih. Nggak ada es krim MINT
CHOCOLATE CHIP apa? Kan kalo gue bete gue
suka makan es krim MINT CHOCOLATE CHIP ledek Yoga menyindir Acya.
Tau darimana lo kalo gue kayak gitu? tanya
Acya.
Reno tentunya, jawab Yoga santai.
Hah? Lah, bukannya lo nggak kenal sama kakak
gue? tanya Acya nggak percaya.
Nggak kenal darimana? Gue tiap hari ngobrol
sama dia kali, jawab Yoga membuat Acya semakin
penasaran.
Tapi, kalo ketemu dia kok lo nggak pernah ngobrol? tanya Acya.
Belom pernah denger yang namanya san-di-wara ya? Walaupun kayak nggak saling kenal, sebe
nernya gue tuh cerita apa-apa sama kakak lo. Gue
juga sering nanya-nanya semua tentang elo lewat

Mint Chocolate Chips

247

kakak lo. Makanya gue bilang sama kakak lo supaya


pergi aja sama ceweknya hari ini, jadinya, lo kesepian
terus gue dateng bawa bunga. Kan romantis. Yah,
gue jadi tau SEMUA TENTANG ELO. Ngerti?
Ngerti! Tapi
Pokoknya gini deh. Berkat kakak lo, gue jadi tau
semua yang terjadi sama elo di INDONESIA! Ngerti?
Iya, iya, ngerti, dodol! Acya bete.
Ya maap deh. Maap ya HUNNY BUNNY
SWEETY BABY-KUUUU! Yoga memohon.
Iya, iya!!!

Bruk! Yoga menutupkan pintu mobil untuk Acya


yang sudah masuk duluan. Kemudian Yoga juga masuk ke dalam mobil convertible yang tendanya ditutup karena sudah malam warna merahnya, di bagian
supir. Yoga mengendarai mobil itu.
Kita mau ke mana? tanya Acya.
Dinner, jawab Yoga pendek.
Di mana?
Liat aja entar, Yoga kekeuh merahasiakan ke
mana tujuan mereka sebenarnya.
Ngapain sih pake rahasia-rahasiaan segala?
Nanti kan gue juga tau, Acya maksa.

248

Mint Chocolate Chips

Justru itu! Karena nanti lo akan tau... Nggak usah


gue bilangin sekarang, jawab Yoga. Mobil itu berhenti
di lampu merah pertama.
Loh? Kok lampu merahnya bentuk hati sih? tanya Acya. Memang benar Acya. Lampu merah ini agak
aneh karena diblok dengan kertas yang dibolongi
bentuk hati. Jadi kelihatannya lampu lalu lintas tersebut berbentuk hati.
Hahaitu hadiah khusus pertama aku buat
kamu, kata Yoga. Kemudian mobil itu berjalan lagi.
Lampu merah kedua. Masih sama, berbentuk hati
juga.
Hah? Yang bener? tanya Acya kurang percaya.
Ya iyalah, masa aku bohong sama kamu? ujar
Yoga.
Serius? tanya Acya lagi.
Empat-belas-rius deh buat kamu, Yoga masih
usil.
Ya ampuun Lo keliling Jakarta buat ngeblok
lampu merah-lampu merah ini? Makasih! kata Acya
sambil mencium pipi Yoga.
Demi kamu kata Yoga sambil menatap Acya
dengan tatapannya yang tajam. Duh, dalem... DAHSYATNYA TATAPANMU ITU, YOGA!?
Setelah melewati empat belas lampu merah yang
semuanya diblok dengan kertas berbentuk hati, mobil

Mint Chocolate Chips

249

itu berhenti tepat di sebuah kafe yang bersebelahan


dengan sebuah distro bernama Tickies.
Turun yuk, ajak Yoga sambil membukakan pintu
mobilnya untuk Acya. Acya bergegas turun dari mobil. Acya melihat di gedung kecil itu jendela-jendela
berbentuk spiral berwarna biru muda transparan, cat
temboknya berwarna pink, ada juga sisi lain yang
berwarna kuning. Semuanya bernuansa pastel. Di
atas pintu utama yang terbuat dari kaca, dipampang
tulisan dari neon sign yang berkelap-kelip berwarna
shocking lime green berbentuk tulisan Tickies. Yoga
mendorong pintu kaca itu dan mempersilahkan Acya
masuk terlebih dahulu. Yoga mengisyaratkan agar
berjalan ke sebelah kiri, tempat kafe itu berada.
Mbak, tadi saya udah reserve meja, kata Yoga
kepada pramusaji yang berdiri di sebelah pintu kafe
mungil itu.
Atas nama siapa? tanya pramusaji itu.
Adhyoga,
Oh, silahkan. Saya antar, kata pramusaji itu sambil mengantar Yoga dan Acya menuju sebuah meja
di pojok kafe. Di dalam kafe itu hanya terdapat beberapa meja kecil, yang membuat kafe itu tenang dan
nyaman. Acya dan Yoga duduk di sofa di pojok. Di
depannya terdapat meja kecil yang cukup untuk dua
orang.

250

Mint Chocolate Chips

Pesen apa? kata pramusaji itu.


Tickies special-nya satu, Valentine menu-nya
satu, ice-blend strawberry dua. Itu aja, kata Yoga
yang nampaknya sudah menjadi langganan di sini.
Acya baru mengetahui hal itu hari ini. Sebelumnya,
Yoga belum pernah cerita apapun.
Ditunggu. Valentine menu lima belas menit, Beberapa saat kemudian, minuman dan Tickies special
pesanan mereka di antar ke meja mereka. Ice-blend
strawberry-nya mirip cappuccino, yang diberi essence strawberry sebagai campurannya. Dan Tickies
special ternyata adalah sosis goreng yang digulung
dengan roti yang sudah dibalur dengan tepung roti
kemudian digoreng lagi.
Enak kan? tanya Yoga.
He-eh, jawab Acya mengiyakan.
Belum liat Valentine menu-nya sihTunggu aja
bentar lagi, kata Yoga promosi. Benar saja, beberapa
saat kemudian menu utama yang Yoga pesan datang.
Walaupun Yoga hanya memesan satu ternyata
mendapat masing-masing dua. Menu pertama adalah
macaroni long yang disusun di loyang berbentuk hati,
dan diisi dengan saus spaghetti di dalamnya. Porsinya
memang tidak terlalu besar, tapi rasanya enak. Menu
kedua adalah pizza. Roti pizzanya tipis dan berbentuk
hati, di atasnya terdapat keju mozzarella khas pizza,

Mint Chocolate Chips

251

dengan taburan pepperoni yang dicetak hati, berikut


sosis berbentuk hati. Masing-masing porsi terdiri dari
satu slice pizza. Menu terakhir adalah dessert. Dessert-nya ternyata adalah brownies berbentuk hati
yang diberi saus strawberry seperti donat.
Ternyata bener. Keren menunya, kata Acya
memuji.
Gue gitu lho kata Yoga membanggakan diri.
Cabut yuk! Masih banyak acara lain nih, lanjutnya.
Mereka meneruskan perjalanan dalam rangka
Valentine Night. Kali ini, tentu saja, tanpa lampu
merah berbentuk hati. Rasanya Acya agak-agak familiar dengan jalan-jalan yang dilewatinya. Jalan Margaguna Lho!? Ini kan jalan menuju Pondok Indah
Mall. Benar saja, mobil Yoga masuk ke antrian PIM
yang lumayan ramai.
Oh PIM. kata Acya.
He-eh. Standar ya? Tenang aja Kita cuma bentar kok di sini. Palingan cuma setengah jam. Cuma
ngambil pesenan doang kok, kata Yoga.
Kirain ada acara lagi, kata Acya sedikit sedih.
Emang. Tapi, abis ini, Acya dan Yoga masuk di
sebuah pintu di PIM. Pintu di bagian Starbucks Coffee. Mereka jalan lurus lagi. Sampai akhirnya Yoga
berhenti di Baskin Robbins.
Mas, pesanan Adhyoga udah jadi kan? Yoga ber-

252

Mint Chocolate Chips

tanya kepada pramusaji di sana.


Sudah. Ditunggu sebentar, ujar pramusaji itu.
Yo, beliin gue es krim mint chocolate chip dong.
Itu kan favorit gue. Please pinta Acya.
Iya, gue tau, jawab Yoga.
Ya udah. Beliin! Acya memohon.
Iya, gue tau elo suka. Gue tau elo cinta. Gue tau
kalo pas lo bete lo makan gituan. Tapi Nggak usah,
kata Yoga.
Kok gitu sih, Yo?
Ya, nggak usah aja. Udah, bawain aja nih pese
nennya. Tolong ya. Yoga mau bayar bentar. Acya
duduk aja, kata Yoga meminta tolong.
Iya deh kata Acya setengah hati sambil duduk
di sebuah kursi di Baskin Robbins. Thats what girl
(best) friends are for. Cuma iya, iya, gumam Acya
kemudian. Tak lama kemudian, urusan Yoga di kasir
sudah selesai.
Yuk. Pulang,
Segini aja nih? Ah, nggak seru! Udah gue nggak
dibeliin es krim, disuruh bawa-bawa ginian! Kan berat! omel Acya.
Yah, dia marah! Hahaha! Liat aja nanti di mobil.
Pasti nanti elo girang! kata Yoga. Misterius amat.
Mereka berdua berjalan kembali ke lapangan parkir.
Sesampainya di mobil Yoga, Acya memberanikan

Mint Chocolate Chips

253

diri untuk menanyakan mengenai kue yang sejak tadi


ia bawa.
Buat siapa nih kue? tanya Acya penasaran.
Buat lo, jawab Yoga.
Hah? Buat gue?
Iya. Hadiah khusus ketiga dari Yoga, kata Yoga
menjelaskan.
Dari tadi kek, bilangnya. Makasih ya. Boleh dibuka nggak? tanya Acya.
Ya boleh lah! Buka aja, hunny bunny sweety
baby-ku! jawab Yoga. Acya membuka bungkusan itu.
Tebak apa isinya? Ice cream mint chocolate chip berbentuk hati! Di atasnya diberi tulisan dengan coklat.
Tulisannya bermodel tulisan indah. Seperti tulisan
sambung. Tulisannya adalah, I Need a Girl.
Apaan nih maksudnya? tanya Acya bingung.
I Need a Girl. maksudnya Kemudian Yoga
kembali menatap mata Acya dan memegang kedua
tangan Acya. Kemudian ia melanjutkan perkataannya
yang terputus, Maksud Yoga, boleh nggak Yoga jadi
cowok yang tiap malem nelfonin kamu buat nanya
udah makan apa belom, jadi cowok yang dipercayain
sama Tante Annetta untuk jagain Acya, jadi cowok
yang boleh ngapel ke rumah Acya tiap malem ming
gu, boleh nggak Yoga jadi pacar Acya? kata Yoga
sambil memberikan sebuah cincin yang terbuat dari

254

Mint Chocolate Chips

emas putih, di bagian atasnya terdapat rangkaian


berlian-berlian kecil yang membentuk sebuah bintang. Walaupun tanpa tempat atau bungkusan, cincin
itu sangat indah. Apalagi di bagian dalam cincin itu,
kalau diperhatikan dengan seksama, terdapat tulisan:
Dari Yoga buat Acya. Belum hilang rasa terpukau
Acya, Yoga sudah melanjutkan perkataannya, Eh...
sorry ya belom dikasih tempat. Bingung. Bukannya
gue nggak modal! Cya, skali lagi ya gue tanya... mau
nggak lo jadi cewek gue? Acya susah untuk bicara.
Tubuhnya kaku. Dan akhirnya, kepalanya membuat
sebuah anggukan yang pasti.
Yang bener? tanya Yoga nggak percaya.
Iya, jawab Acya.
Jadiiii sekarang kita pacaran nih? tanya Yoga
lagi.
Iiiyaaa
Jadi sekarang gue nggak jomblo lagi?
Iiyyaaa
Sekarang lo udah jadi cewek gue? Sekarang gue
udah jadi cowok loo?
Iya, Yogaaaaa!
Makasih! Gila, gue nggak tau mesti ngomong apa!
Makasih banget! Makan deh, es krimnya. O iya, nih,
sendoknya, kata Yoga sambil menyodorkan sebuah
sendok berwarna pink yang bagian bawahnya ber-

Mint Chocolate Chips

255

bentuk hati. Tiba-tiba, dari CD Player di mobil Yoga,


secara otomatis melantunkan lagu Everlasting Love
milik Jamie Cullum. Acya mengambil sendok pink itu
dari tangan Yoga. Ia menyendok sesuap, dan memberikannya pada Yoga, pacarnya.
Nih, lo duluan. Makasih ya buat semuanya. Gue
nggak nyangka lo bisa seromantis ini. Sampai ngarang-ngarang acara kayak gini. Walaupun kita nggak gala dinner atau candle light, dan cuma dinner
di restoran kecil, dan walaupun lo nggak bikin puisi
cinta, dan kita cuma keliling Jakarta dan ketemu
lampu merah yang lo buat keliatan jadi kayak bentuk hati, dan walaupun kita nggak dansa dan lo nggak nembak di restoran eksklusif, melainkan di mobil,
tapi gue seneng banget. Ini jauh lebih keren dari gala
dinnernya ortu gue, lebih romantis dari acaranya Kak
Reno... Jauh lebih keren Jadi Makasih ya, Acya
berterimakasih dengan panjang dan kemudian mencium pipi Yoga. Yogas face turns to pink!
Nggak apa-apa. Semua ini gue lakuin demi elo
kok. Yang penting lo nyium guenya tulus! Eh, ngomongnya pake aku kamu dong! pinta Yoga.
Yaelah. Jadiannya aja belom nyampe lima menit
udah pengen ngomong pake aku kamu. Ya udah. Pokoknya, aku cuma bisa ngekspresiin rasa terimakasihku yang segede-gedenya buat kamu dengan ini,

256

Mint Chocolate Chips

jawab Acya. Yoga tersenyum.


Tau nggak, Cya? This is the best night ever
in my life! Nggak nyesel gue ke sini, nggak nyesel gue ngelakuin semua ini! This is the best night
eveeeeerrrrr! teriak Yoga. Kemudian ia bernyanyi,
mengikuti Jamie Cullum. Open up your eyes, then
you realize, here I stand with my everlasting love. I
need you by my side. Girl to be my pride. Never be
denied, everlasting love

Jakarta, 17 Februari tahun ketiga SMA


Barusan aja gue nyampe rumah. Tadi gue ke airport, nganterin Yoga pulang. Kita ngerayain ulangtahun gue bareng-bareng di airport. Tadi siang, kita
makan di McDonalds, berdua aja. Mungkin kesannya
nggak seru, tapi itu berarti banget buat gue. Sebe
nernya lusa dia ada tugas penting gitu. Tapi dia rela
ngambil penerbangan yang sore supaya bisa nge
rayain ulangtahun gue dulu. Kita bener-bener cuman berdua. Temen-temen yang laen nggak ikutan.
Sumpah, gue seneng banget bisa ngerayain ulangtahun gue taun ini bareng Yoga yang udah berstatus sebagai pacar gue. Tadinya gue kira gue bakal
ngerayain ulangtahun gue yang ke 17 ini tanpa ada
Yoga di sisi gue. Dan dengan bersedih-sedih ria pula.

Mint Chocolate Chips

257

Dengan berbanjir air mata pula. Dengan kesepian


pula. Ternyata, kebalik! Sebelom ke airport, kita ke
Adidas Originals dulu. Yoga beli dua pak handband
yang modelnya sama, tapi warnanya beda. Dia biru,
gue pink. Hahaha, mungkin standar banget ya cowoknya biru ceweknya pink. Tapi, tetep aja gue bahagia banget. Dia bilang dia beliinnya handband biar
bisa dipake terus... dan tiap kali gue liat tangan gue,
gue akan selalu inget dia.
Kali ini, emang nggak ada pelukan perpisahan
kayak waktu itu, sumpah, ngingetnya aja gue jadi
malu sendiri. Dan, gue udah nggak nangis kayak dulu
lagi. Gue udah seneng banget Yoga bisa ke Jakarta
pas Valentine dan kami ngerayain ulangtahun gue
bareng-bareng, dan gue juga harus ngebiarin dia pulang dengan bahagia dong. Gue berterimakasih banget sama dia udah rela dateng ke Jakarta, cuma buat
nembak gue... makasih banget... gue nggak akan
ngelupain kejadian-kejadian hari ini dan kejadian-kejadian di hari-hari yang kemaren-kemaren

Jakarta, 14 Maret tahun ketiga SMA


Hari ini gue genap satu bulan jadian sama Yoga.
Ternyata Yoga ngukur atau apa mungkin. Yang
jelas, dia ngirim hadiah satu bulanan dan nyampe

258

Mint Chocolate Chips

tepat hari ini. Tau nggak kadonya apa? Dia ngasih


puisi lagi! Tapi banyak. Ini gue salin salah satunya aja
ya
Sun is shining
Rain is dropping
Winds are laying their bodies on my face
Fellows are here, erasing my loneliness
But one thing I couldnt avoid
No love weather from my girl
No lovely wind touching my face
My girl isnt here to erase my sadness
Or Im not there to erase her sadness?
That lady is gripping this paper there
And read my doodling that perhaps wont mean a
thing to her
But I just want her to read this, and remember this
paper always
Remember these letters
I just want her to know that shell be loved
Shell be the one who Ill always love
Shell be the one wholl always mean something to
me
As someone, or anyone
As something, or anything
In this place, or there, where she read this

Mint Chocolate Chips

259

Was, is, and will always be


Yesterday, today, and tomorrow
But all I can do is to love you
From this place to yours
And our love, just like those winds
I cant see it, but I feel it
Puisinya emang sederhana banget. Tapi gue janji,
gue bakal selalu ngenang puisi ini. Thanks banget ya
Yoga

260

Mint Chocolate Chips

Mint Chocolate Chips

261

Bab 17
Kalo King-nya
Di Luar Negeri?
Jakarta, 19 Juni tahun ketiga SMA
Kamu ikut acara perpisahan nggak? tanya Acya
kepada pacarnya, Yoga.
Iyalah! Sebagai cowok terganteng di sekolah, gue
wajib ada buat nerima mahkota, kata Yoga membanggakan diri dengan pede sejutanya. Yoga memang sama sekali bukan cowok yang low profile!
Ah, narsis lo! Ya emang sih lo jadi kandidat kingnya kata Acya.
Oh, I just cant wait to be king Yoga menyanyikan soundtrack sebuah film kartun. Bukan gue
doang kok yang lagi seneng jadi nominator. Lo juga
kan? kata Yoga.

262

Mint Chocolate Chips

Lo tau darimana gue juga jadi kandidat? tanya


Acya. Setau Acya, ia belum memberitahu pacarnya
kalau ia juga jadi kandidat.
Tau, dong Yoga gitu looooohh! Biasa, banyak
koneksi ke sekolah lama! Tenang aja. Aku yakin kamu
menang. Serius kata Yoga.
Ya udah deh... Dah
Yah, kok udahan, Cya? tanya Yoga nggak rela.
Ya mau ngomongin apaan lagi? tanya Acya.
Apa kek gitu! Gue kan kangen! ujar Yoga dengan
tulus tapi sambil teriak.
Gue juga! Tapi, minggu depan kan elo juga no
ngol di sini, jawab Acya tenang.
Yaaaaah... ya udahdaaaah sesal Yoga.
Dah Tuut! Bunyi telepon ditutup.

Jakarta, 27 Juni tahun ketiga SMA


Dari sudut pandangnya Kif fi
Nama gue Kiffi. Hari ini bakalan ada acara yang
seru banget, bagi gue, dan gue rasa, anak-anak lain
juga berpikiran sama. Dari kemaren, kita udah nginep
di sini. Hotel Novotel Bogor. Kebeneran, salah satu
member angkatan kita, ada yang bokapnya punya
koneksi buat nyewa kamar-kamar di Novotel dengan
harga yang lebih minimal, seminimal-minimalnya.

Mint Chocolate Chips

263

Sekarang jam tiga siang. Pinggiran kolam renang


sudah mulai diramaikan oleh brainless monkeys dari
angkatan gue. Anak-anak mulai berdatangan. Malah
ada yang udah pesen french fries gitu. Seneeeeeng
pengorbanan gue nggak sia-sia. Alhamdulillah, gue
lulus, gue baru mengetahuinya tiga hari yang lalu.
Semuanya lulus. Kedua, sejak kurang lebih setahun
yang lalu, pas pertama kali duduk di kelas tiga, gue
udah mesti nyumbang kurang lebih gocenk18 tiap
minggu buat ngebayarin ginian. Buat buku tahunan,
buat perpisahan. Dan senengnya, hasilnya nggak
mengecewakan kok. Hahaha. Apalagi angkatan gue
bikin film independent gitu tentang tiga tahun di SMA.
Bagus deh. katanya sih ntar mau dikasih sekalian
sebagai bonus buku tahunan. Paling nggak sekalikali gue bisa bangga sama sekolah gue walaupun
biasanya gue suka mencaci-maki sekolah gue sen
diri. Kadang-kadang gue nyesel juga, pernah nyelanyela sekolah gue. Dari sistem poin, peraturan yang
ketat banget dan bikin gue nggak begitu betah belajar, sampai ruang kelas gue dulu (II-3) yang sumpah:
bobrok banget!? Sekarang, sedikit-sedikit gue bisa
banggalah sama sekolah gue.
Acya dan Eci udah duduk-duduk di pinggir kolam
renang dengan kaos dan celana pendek terpewe19
yang mereka punya sambil ngobrol-ngobrol. Gue liat

264

Mint Chocolate Chips

Reva, si cewek metal, udah nongol. Menurut jawaban


Eci pas tadi gue wawancara, tadi dia belom ikutan
gara-gara masih tidur. Reva sibuk ngacak rambutnya
biar makin nggak karu-karuan. Baru bangun juga di
tangannya tetep nangkring handcuff20 spike berwarna
merah lhooo Di sebelah gue ada manusia ternarsis
di dunia bernama Yoga yang lagi sibuk main game
boy. Ini anak emang cowok paling aneh yang pernah
gue kenal. Bentar bijak dan dewasa abis, sekarang
malah mainan game boy.
Asal lo tau aja, manusia narsis yang tinggal di Inggris ini rela dateng ke Indonesia demi pesta perpisahan sama dia bilang dia harus ada sebagai rajanya
angkatan kita buat nerima mahkota. Duileeh... pede
bener! Lagian, dia mau sekalian liburan ke Indonesia katanya. Abis sebel ngeliat cewek-cewek bule
yang seksi-seksi melulu di sana. Gue jadi bingung.
Maksudnya dia ngomong kayak gitu adalah alaesan
beneran atau cuma pengen bikin gue ngiri sih?
Tama malah sibuk makan es krim banana split
yang tadi dia pesan. Yang sebenernya porsinya cukup besar, diabisin sendirian sama dia. Setau gue,
sebelumnya dia udah pesen fish and chips kok! Gile
beneeeeerrr! Gue nggak ngerti, kenapa dia bisa sebegitu rakusnya. Padahal perutnya udah nyamain
Bajuri kok. Malah ngalahin. Waduuuuuh!

Mint Chocolate Chips

265

Gue seneng deh, ada pool party begini. Asiiik, ntar


kan gue bisa nyeburin Tama. Tapi, gue takut air ko
lamnya luber! Hahaha... Lokasi makin rame aja. Makin
asik aja. Tapi, primadona gue belom nongol-nongol!
Mana sih, Daina? Dari tadi kan gue tungguin! Udah
agak lama gue nungguin dia, (buktinya sekarang
udah jam empat kurang), Daina baru nongol. Wuih,
makin cantik aja nih cewek. Dia duduk di mana geng
nya duduk. Tentunya, setelah sebelomnya nyapa gue
dulu. Ya nyapa lah! Kalo nggak nyapa sih kebangetan! Berkat dia sifat playboy gue rada kurangan, walaupun kadang-kadang gue masih suka iseng ngeliatin cewek-cewek seksi nan cantik juga aduhay. Nama
gue bukan Kiffi kalo nggak kayak gitu.

Siapa sih yang bakalan diceburin?


Eci dan TB ditugasin buat jadi MC. Ketauan ba
nget kalo Risya semakin menyimpan rasa jealous.
Yoga sampai terkadang bingung melihat ekspresi Risya yang antara kepengen marah dan kepengen na
ngis. Dia sayang nggak sih, sama TB? Kok curigaan
banget sih? Kan yang namanya cinta, nggak boleh
pake cemburu. Kayak kata pepatah. Love is always
kind, it never jealous Tapi, ternyata Risya tetep
mencoba berusaha untuk mengontrol emosinya. TB

266

Mint Chocolate Chips

kan ditugasin, bukan maunya dia kalo dipasangin


sama Eci. Mereka berdualah orang-orang yang paling
sering beredar, paling gaul, paling populer, walaupun
dari ketiga pendeskripsian itu belom ada yang kualitasnya ngalahin si Yoga. Abis ada games-games dikit,
akhirnya sekarang bakalan diumumin pemenang-pemenang polling.
Polling yang pertama adalah cowok dan cewek
terheboh. Cowok terheboh adalah EKO! ujar Eci.
Eko, dengan bangganya, maju ke tempat Eci dan TB
berdiri. Eko memang kocak dan heboh, tapi, tepenya
nggak ada yang ngalahin kecuali makhluk bernama
Rangga. Eko mulai bergaya sok ngartis, pamer senyum dan bilang makasih... makasih
Ceweknya adalahShenny! ujar TB. Udah ke
tauan. Shenny dan Eko adalah duo gokil di angkatan
mereka. Merekalah pempopuler kalimat Situ cantik
bettul! Tapi bo-ong. Eaaa! Nggak jelas memang, cuman, dalam waktu kurang dari duapuluh empat jam,
kalimat itu udah populer banget di angkatan mereka,
berkat dua manusia itu. Nggak usah di angkatanya
Acya, di angkatan yang sekarang kelas dua sama
kelas satu, sampai-sampai anak SD sama SMP juga
ketularan! Shenny pun maju dengan agak malu-malu
ke dekat Eko.
Pengumuman kedua... adalah... Cewek terdan-

Mint Chocolate Chips

267

dan! Adalah Daina! Merasa sangat bangga, Daina


pun berdiri dari tempatnya duduk dan senyum-senyum semanis mungkin. Kiffi merasa cukup bangga
juga pacarnya bisa jadi pemenang polling. Semua
anak pun bertepuk tangan. Nggak salah lagi. Daina
pantes menang. Daina itu memang fashionista, terlalu cantik dan manis layaknya manekin berjalan.
Cowok terdandan adalaaaahRANGGA! Rangga maju dengan tepenya ke dekat Daina. Anak-anak
nyorakin manusia tepe itu. HUUUUU Rangga tapi
nggak mati kutu jua. Dia tetep senyum-senyum kayak
dia cowok culun yang menemukan cara bergaya di
depan kamera dengan rambut spike barunya. Muka
berbinar dan murah senyum. Cengir kuda. Lengkap
sudah penderitaan para penonton.
Perlu diingatkan sekali lagi, Rangga adalah cowok
yang ngegodain Acya di ulangtahunnya Yoga. Waktu
itu, Yoga sempet nonjok perutnya dan tentunya, Acya
nolak Rangga. Kenal aja enggak! Tiba-tiba dia kayak
gitu, siapa yang nggak nolak. Untungnya Rangga bukan tipe Cowok Cileduk (Cinta Ditolak, eh Dukun
Bertindak!)
Setelah ada pengumuman-pengumuman lainnya,
seperti cowok terbandel (diraih oleh Dodit icon angkatan kita), cewek tercentil (lagi-lagi diraih oleh Daina,
tentunya), cewek terjenius (Tantri yang dapet predikat

268

Mint Chocolate Chips

itu. Ada tiga tulisan istimewa di ijazahnya!), cowok


terjenius (Dodit: karena jenius bikin masalah), cowok
ter-playboy (Yoga bahagia karena pemenangnya
adalah Rangga), cewek terlaku (diraih oleh Prita...
gimana nggak laku?... lulus SD aja udah dua puluh
kali jadian, gimana sekarang!?), cowok terheboh dan
cewek terkocak diraih lagi oleh Eko dan Shenny (duet
maut yang gokil di angkatan kita), cowok terkalem,
cewek terkalem, cowok terrame, cewek terrame, cowok ternarsis (khusus kategori ini, diraih oleh pastinya Yoga!), cewek ternarsis (diraih oleh Shenny,
kali ini nggak sama Eko), cewek termetal (Reva-lah!
Siapa lagi?), cowok terfeminin, cowok terimut (diraih
oleh Tama), cowok tertebarpesona (Rangga, Rangga,
dan Rangga), cowok terganteng (Yoga dong... ), cewek tercantik (perolehannya sama antara Prita sama
Acya, tapi kualitasnya beda-lah!), cowok terkeren (Kiffi
menang!), cewek terkeren (Reva, Reva dan Reva),
cowok termodis (diraih oleh Aril), cewek termodis (Eci
pastinya), dan lain-lain.
Rencananya, pengumuman king and queen atau
cewek dan cowok terfavorit angkatan kita, bakalan
diumuminnya ntar malem. Nanti malem, bakalan ada
acara yang kayak dinner-dinner gitu, mirip-mirip sama
prom lah. Cuman, bajunya nggak mesti bener-bener
ballgown and suit. Formal, tapi nggak seformal

Mint Chocolate Chips

269

promnight-promnight di sekolah lain. Dana yang digunain buat acara ini juga dirancang seminim mungkin,
supaya nggak nguras kantong banget. Tiba-tiba, Eci
kembali bersuara.
O iya, gue lupa bilangin ke elo, Be, kalo semua
pemenang bakalan dapet hadiah, ujar Eci, masih
pake mike yang dari tadi dia pegang.
Hah? Hadiah? Hadiah apaan? Nginep di Bali?
Pertanyaan TB emang nggak penting.
Bukan... itu... hadiah kejutan, Eci mengingatkan.
Oooooh... yang itu... iya, iya, gue inget... eh, gue
mau ngasih duluan dong buat cowok terganteng di
angkatan kita... Please, pinta TB memohon.
Ya udah, jawab Eci. TB meletakkan mikenya entah di mana. Yang jelas, mike tersebut sudah tidak
ada di tangannya lagi. TB menghampiri Yoga.
Yo... mau gue kasih hadiahnya nggak? tanya TB
memastikan.
Ya mau... emang hadiahnya apaan? tanya Yoga
lagi.
Hadiahnya ini, TB mendorong Yoga sekuat tenaga ke arah kolam renang. Yoga kecebur! Tapi Yoga
jago banget berenang dari kecil. Jadi nggak akan ada
skenario Yoga kelelep. Tapi Yoga tenggelem!
BE! YOGA, BE! YOGA TENGGELEM, BE! Acya
mulai histeris ngeliatnya. Tapi dia juga nggak berani

270

Mint Chocolate Chips

nyebur takut malah nyusahin. TB pun hampir nyebur.


Tapi ia memilih untuk menunggu dulu di pinggir kolam
dan menarik tangan Yoga. Yoga nongol ke permukaan
dengan wajah sehat wal afiat dan menarik tangan TB.
TB sekarang yang kecebur. Reva lari dari tempatnya
berdiri dan ikut-ikutan nyebur. Kiffi nggak mau kalah!
Dia malah ngedorong Daina duluan kemudian baru
menceburkan diri. Semua anak yang menang polling
diceburin Eci. Karena pada nggak rela, Eci malah ditarik biar nyebur juga.
Beberapa saat kemudian, Yoga naik-ke-permukaan. Ia mengambil mike yang tadi digunakan oleh
Kiffi, yang diletakkan di atas speaker. Yoga dengan
pede sejutanya mulai berbicara. Acya... sini deh
kamuuuu pinta Yoga. Tentunya Acya langsung
nyamperin. Namun, ia terus berjaga-jaga dan waswas. Takut-takut ide jail Yoga untuk nyeburin dia
muncul. Untuk mengantisipasinya, Acya berdiri jauhjauh dari kolam renang. Woooeeeeeiiiiyyygue
pengen elo-elo semua jadi saksi kejadian bersejarah dan paling heboh di abad ini ujar Yoga. Ia
kemudian menggenggam tangan Acya yang sedang
cukup keheranan dan kebingungan. Acya gue cuman pengen bilang kalo gue itu duuuuhh... kok
jadi susah gini sih? Gue cuma mau bilang ACYA,
GUE SAYANG SAMA LODARI KEMAREN, HARI

Mint Chocolate Chips

271

INI, BESOK, DAN SETERUSNYAAAA! ujar Yoga.


Yoga nyebur lagi dengan tangan Acya masih digenggamannya. Kebayang dong, Acya ikut kecebur!
Nggak lama kemudian, anak-anak yang lain juga
ikutan nyebur. Pertama sih makmur-makmur aja. Tapi,
mereka mulai ngeri waktu Tama mau nyebur. Ya ngeri
ketiban, ngeri kelelep, ngeri air kolam renang hotelnya luber, atau malah ambles... ngeri deh!
Hampir semua anak malah kecebur. Nggak lupa
guru-guru juga pada ditarik biar nyebur juga, terutama
guru-guru cowok. Untungnya, guru-guru cowok pada
nggak marahin anak-anak seangkatan. Mungkin, kita
emang beda dari sekolah laen, nggak ngadain prom
night-prom nightan segala. Tapi tetep aja, hari ini nggak akan gue lupain seumur hidup gue. Kejadiankejadian yang pernah gue alamin selama ini, nggak
akan gue lupain. Gue akan selalu inget masa-masa
remaja gue yang bener-bener indah. Udah banyak
orang yang dateng dan pergi dalam hidup gue, tapi
gue rasa, cuma Daina, Eci, Reva, Yoga, Kiffi, dan
Tama yang akan selalu ada buat gue di saat gue
susah, akan selalu ada di hati gue. Walaupun kita kenal baru tiga tahun, tapi gue udah ngerasa udah kenal
lama sama mereka. Gue nggak pengen pisah. Gue
pengen SMA terus, gue pengen sama mereka semua
terus

272

Mint Chocolate Chips

Tapi, nanti malem masih akan ada acara lagi. Ka


yak makan malem aja sih. Sekalian pengumuman king
and queen gitu. Lama-lama gue sedih. Udah mesti
pisah sama temen-temen, Yoga juga bakalan balik ke
Inggris. Sepi deh rumah. Sepi deh hari-hari gue. Pasti
temen-temen milih universitasnya pada mencar-mencar semua. Duuuuuh, so hard to say goodbye!

Makan Malam
Tok! Tok! Tok! Acya mendengar pintu kamar tempat ia menginap diketuk. ACYA HONEEEYY!!! ACYA
SAYANNNGGGG!! CINTAKUUUU!! MANISKUUUU!!
I LOVE YOU!!! Ini gue! teriak seseorang di luar sana.
Yoga. Nggak ada suara ang bakal ngalahin nyaringnya suaranya Yoga.
Apaan? tanya Acya.
Heh, kapan lo mau turun makan? Bukain pintu
dulu napa? pinta Yoga.
Nggak mau. Lo ngomong depan situ aja. Gue
dengerin kok, jawab Acya males.
Yeeee! Elo! Turun yuk! Gue laper, tau!?
Gue belom laper! jawab Acya.
Ayo dong turun. Bentar lagi acaranya mulai. Gue
harus ada buat nerima mahkota nih! ujar Yoga nggak
mau kalah dengan pede sejutanya.

Mint Chocolate Chips

273

Turun aja sendiri! bentak Acya.


Yaaaaahhh Nggak mau! Maunya bareng kamu!!!
Id do anything, just to hold you in my arms... to try to
make you laugh, somehow I cant put you in the past!
Yoga kembali menyanyikan sebait lagu Simple Plan.
Ayo dong pleasee. Yoga memohon.
Iya, iya! Bentar! Ini gue lagi nyisir! jawab Acya.
Hah? Nggak salah denger nih? Sejak kapan lo
mulai nyisir?
Sejak lahiiiiiiiirrrr! jawab Acya males.
Yaelah! Ah, gue tau! Pasti sejak jadi nominator
ratu angkatan deeeeeh! Ya bagus deh! Lo jadi suka
nyisir, gue jadi seneng. Heh, cepetan dong! Lelet lo!
ledek Yoga.
Bentar!
Duh, lama bener sih? Emang dandan tuh pen
ting ya? Yoga masih teriak-teriak dengan noraknya
di depan pintu. Acya diam saja. ADUUUUH! ACYA
HOONNN Belum sempat Yoga berkata Ney, pintu
kamar Acya sudah terbuka dan dilihatnya Acya yang
benar-benar dandan secantik mungkin. Yoga nyaris
nganga melihatnya.
Apa liat-liat!? tanya Acya sewot. Yoga nggak juga
beranjak. Masih aja nyaris ngiler.
Acya Cantik Banget Yoga masih bengong.
Lo juga ganteng. Udah ah, turun yuk! Acya me

274

Mint Chocolate Chips

narik lengan Yoga sekuat tenaga yang masih aja be


ngong.
Malam itu, Yoga memakai kemeja lengan pendek
berwarna biru tua keunguan dan celana bahan berwarna putih yang gombrong abis a la rapper. Mau di
suasana seformil apaan juga, Yoga tetap memakai
celana yang keliatannya PW (posisi wuenakkk!) ba
nget.
Sementara Acya memakai blus berlengan tiga
perempat dan berkerah sabrina. Kerahnya memiliki
tali halter untuk menyangga blusnya itu. Warnanya
senada dengan kemejanya Yoga (terang saja, blus
itu dibawa Yoga jauh-jauh dari Inggris demi acara
malam ini. Yoga bilang, dia pengen king and queennya dateng bareng, warna bajunya juga mesti sama).
Alhasil, Acya pun memakai rok rimpel di bawah lutut berwarna putih. Keajaiban dunia nomer delapan!
Acya memakai rok selain ke sekolah!
Saat memasuki taman (iya, makan malamnya outdoor), semua mata memandang Yoga yang malam itu
ganteng setengah mati. Rambutnya yang biasanya
diindies atau dispike, kali ini dibiarkan turun tanpa gel
dan setengah berantakan (Anisa dan Risya histeris
melihatnya. Begitupun, fans Yoga yang lain). Tapi, senyum ramah tetap muncul di bibirnya, dan gayanya
yang slengekan emang nggak pernah hilang. Saat

Mint Chocolate Chips

275

mata memandang ke arah sepatunya, mereka melihat sepatu keds!


Tempat makan malamnya didesain bagus banget
sama panitia. Ada kurang lebih empat meja besar
yang dibuat mirip dengan aula di kisah Harry Potter. Meja-meja besar tersebut sebenarnya adalah
gabungan dari meja-meja kecil. Kemudian, ada buffet tempat mengambil makanan. Di rumput-rumput,
kelinci-kelinci kecil liar dilepas secara bebas. Di depan meja-meja besar tadi, akan menjadi tempat acara
dilangsungkan. Sudah diletakkan gitar, drum, bass,
keyboard, dan mike. Di sana juga akan diumumkan
king and queen angkatan mereka. Di belakang drum
dan segala alat musik itu, dipasang semacam replika
tembok yang terbuat dari kawat dan dipasang tanaman, seperti tanaman di pagar di rumah-rumah.
Ambil makanan yuk, ajak Yoga. Acya beranjak
dan berjalan di sebelah Yoga. Lo mau makan apa?
tanya Yoga.
Lo makan apaan?
Ya ampuuun. Ditanya malah bales nanya. Gue
mau mesen chicken steak. Lo mau apaan? Yoga pe
senin nih, ujar Yoga.
Gue Fettucinni Alfredo aja deh, jawab Acya.
Ooh. Ya udah. Gue pesen makan dulu ya, kata
Yoga.

276

Mint Chocolate Chips

Iya, Sementara Yoga ke bagian steak dan barberque, Acya beralih ke tempat pasta. Setelah me
ngambil piring, ia mengambil fettucinni secukupnya
dan kemudian menuangkan saus alfredo di atasnya.
Kemudian Acya mengambil segelas minuman bersoda. Ia kembali ke tempat duduknya tadi. Yoga belum kembali. Mungkin karena ia memesan steak, jadi
agak lama.
Acya menengok ke arah cewek di sebelahnya.
Acya nggak kenal, namun, wajahnya sangat familiar.
Rasanya kayak pernah ketemu. Ia mengenakan tank
top bertali spageti berwarna hitam dan rok semata
kaki berwarna sama. Di depannya ada Rangga. Iya,
Rangga memang duduk di sebelah Yoga. Untung
Rangga nggak dieksekusi sama Yoga. Tiap kali Rangga ngomong, pasti Yoga bilang, Hah? Kumur-kumur,
lo? ledek Yoga. Selalu seperti itu.
Lho itu kan REVA!
Ya ampun Reva! Lo dateng sama Rangga? Acya
nyaris histeris. Daina yang duduk di sebelah Acya
mendengarnya dan tidak setuju.
Mana Reva? Eh, Reva tuh nggak ikutan, tau!?
Katanya sakit perut, jadi dia nggak mau ikutan turun!
Dasar tuh anak, acara kayak gini masa mau dilewatin
gitu aja gara-gara sakit perut? Minum norit kek, obat
maag apa kek gitu?! Alaaaaa, payah tuh anak! Elo

Mint Chocolate Chips

277

aja ampe halusinasi gitu! Sadar deh, Reva nggak ikut,


Bu ujar Daina yang satu kamar dengan Reva.
Lha, itu sebelah Acya siapa? tanya Kiffi.
Sebelah Acya Ceweknya Rangga kan? Eh
Lho, itu YA AMPUN, REVA!? Daina ikutan kaget.
Hai-hai semuanyaaaaa! sapa Eci yang tiba-tiba
nongol nggak ada angin nggak ada badai.
Heh, ke mana aja lo? tanya Acya.
Abis melobi, honeeeyy!! Siapa tau ada cowok
cakep jomblo luput dari pandangan kan? Lumayan
lho buat mendampingi gue. Eh, Cya, si Reva kok nggak keliatan? Di mana sih tuh anak? tanya Eci.
Belakang pala lo, jawab Acya dengan tenang.
Eci langsung menengok dan nyaris menjerit.
Keajaiban dunia nomer sembilan!!! kata Eci nya
ring. Reva dateng sama Rangga. Ya ampun! Apa gue
nggak salah liat! Ya ampun, ya ampun, ya ampun!
Gile banget! Gosip terbesar nomer dua abad ini!!!
Ci, gue punya dua pernyataan. Pertama, keajaiban dunia nomer lapan apaan. Kedua, gosip terbesar
nomer satu apaan? tanya Acya.
Keajaiban dunia nomer lapan adalah elo pake
rok! Gosip nomer satu abad ini adalah, Daina jadian
sama Kiffi. Dua-duanya sama gilanya. Baru sekali ini
seumur idup gue liat elo pake rok selain ke sekolah!
jawab Eci.

278

Mint Chocolate Chips

Segitunya ya? tanya Acya. Kayaknya, dia nggak


tomboy-tomboy amat.
Iya, segitunya! jawab Eci. Eh, gue jalan-jalan
dulu lagi ya! Eci pamit.

Selamat malam, ujar Eci dan TB berbarengan.


Kita di sini mau mengumumkan sisa kategori polling yang tadi belum diumumin, Eci memulai.
Sebelom ngurusin masalah raja sama ratu angkatan kita, mendingan kita umumin dulu best dress
malam ini yah. Pokoknya, yang kostumnya paling
lucu, itu yang menang, oke? lanjut TB.
Pemenangnya adalah ya bidadari malam ini
Annisa Daina! ujar Eci tanpa basa-basi. Malam itu,
Daina mengenakan kostum ala peri. Ia memakai gaun
putih mengkilat dengan mahkota di kepalanya. Ia
juga membawa-bawa tongkat peri sejak tadi. Eksentrik memang. Namun, itulah Daina. Pede sejuta dan
keinginannya untuk jadi trendsetter memutuskan urat
malunya. Daina maju ke dekat Eci. Eci memasangkan
pin bertuliskan BEST DRESS of REINKARNAX21 di
gaun Daina dan TB memberikan sebuket bunga buat
Daina.
Buat yang cowok, pemenangnya adalah ARIL!
kata TB. Aril, cowok 3-IPS-I, maju ke dekat TB. Malam

Mint Chocolate Chips

279

itu, ia mengenakan kostum hitam-hitam berikut ka


camata hitam juga a la trilogi The Matrix. Aril melepas
kacamatanya dan Eci memasangkan bros di jas Aril.
Dalam hati Eci bergumam, Aril? Cute abiss... Lhoo..
kok gue jadi kayak Yoga gini? Dasar tuh anak bad
influence!
Naah, sekarang bagian yang ditunggu-tunggu.
Raja sama ratu angkatan kita. Siapa ya kira-kira?
Dengan hormat, kita panggilin Kak Widy sama Kak
Nadira yaitu raja sama ratu angkatan tahun lalu. Buat
Kak Widy sama Kak Nadira, kami persilahkan kata
Eci.
Kak Widy dan Kak Nadira maju ke dekat Eci dan
TB. Mereka menyerahkan mike yang dipegang kepada Kak Widy dan Kak Nadira.
Selamat malam, ujar Widy dan Nadira bersamaan.
Kami akan mengumumkan raja sama ratu angkatan Reinkarnax, Widy memulai. Suasana yang tadi
ribut nggak karu-karuan sekarang malah sunyi senyap. Semua anak bener-bener pengen tau apa hasil
polling yang satu itu. King-nya nggak ada yang bener-bener kampanye. Sementara dua kandidat cewek,
yaitu Prita (lagi) dan Acya (lagi)... bener-bener kampanye udah kayak Delon sama Joy! Acya sih emang
nggak niat kampanyenya, tapi, kalo Prita mah niat

280

Mint Chocolate Chips

banget. Yang ngekampanyein Acya malah Eci, Daina,


sama Reva. Lumayan, bisa numpang tenar misalkan
sohibnya jadi ratu angkatan. Di koridor sudah tertempel tulisan dari tangan-tangan Reva yang iseng: Ja
ngan lupa! Ketik AFI spasi ACYA kirim ke 3977! Ada
juga tulisan KETIK ACYA KIRIM KE 9288! Menangkan hadiah jutaan rupiah dan ketemu Irgi (kakak gue)
di Balai Sarbini. Tapi, tiketnya beli sendiri yaaa!!!;
ACYA? Gue banget! (ini slogannya Yoga yang udah
pindah ke Inggris... jadi, buat fans-fans Yoga, terutama anggota YOGA FANS CLUB, vote for Acya and
Yoga as Queen and King for our generation!); ACYA
FOR THE QUEEN; dan lain-lain.
Apalagi Yoga. Tuh anak emang udah nggak keliatan batang hidungnya selama krurang lebih setahun,
tapi tetep aja, tim Yoga Fans Club sibuk memasang
poster-poster bertuliskan PILIH YOGA SI GANTENK di tembok koridor. Sampe bikin slogan juga:
Yoga? Gue banget! Gilee banget emang itu orang.
Udah fansnya banyak, fanatik semua, lagi! King-nya
adalah hmmm siapa ya kira-kira? Udah ketauan
kali... ini cowok ganteng abis, Buat informasi aja, saat
Widy mengatakan hal itu, semua fans Yoga histeris.
Trus, jago bikin cewek-cewek beku dan histeris...
kayak cewek-cewek ini nih, Widy menunjuk ke arah
Anisa dan tim Yoga Fans Club yang nggak berhenti

Mint Chocolate Chips

281

jejeritan. Trussss ini cowok walaupun udah ilang


ke belahan dunia mana, tetep aja fansnya banyak...
gue nggak kaget... pemenangnya YOGA! Dan buat
info lagi, waktu Widy menyebut kata YOGA, Anisa
udah pasang tampang mau pingsan.
Yoga dengan bangganya maju ke dekat Kak Widy
sambil pamer senyumnya yang top abis. Makin ganteng aja tuh orang semenjak tinggal di Inggris. Apa
mungkin ketularan sama cowok-cowok di sana yang
ganteng-ganteng? Stop ngomongin cowok bule. Se
karang kita ngomongin Yoga lagi. Bukan. Maksud gue,
sekarang kita ngomongin cerita ini lagi. Sekarang giliran Nadira yang ngomong. Dari persaingan yang ketat, lebih ketat dari celana basic, hahaha, antara Prita
dan Acya, akhirnya kepilih juga ratu angkatan kalian.
Nggak usah belibet-belibet dan gue ngomong ngalor
ngidul lagi, gue cuma mau ngasitau kalo ratu angkatan kita adalah idolanya Yoga ACYA! ujar Nadira.
Acya bener-bener ngerasa beku. Rasanya kayak
udah mau pingsan. Barusan nama gue yang disebut?
Iya! Acya itu nama gue! Kepilih jadi ratu angkatan
nggak bikin gue amnesia kok! Gue mesti maju. Gue
harus maju. Kalo nggak, yang ada ntar malah malumaluin. Tenang, ini cuma gelar ratu angkatan, bukan
miss universe, jadi, lo nggak mesti pamer gigi setiap
saat. Acya pun maju. Ia harus sedekat mungkin de

282

Mint Chocolate Chips

ngan Yoga. Soalnya, kalo ada dekat manusia narsis


itu, paling nggak dia bisa ngerasa lebih pede dikit,
dan lebih nyaman dikit. Gimanapun juga, itu cowok
adalah pacarnya. Fotografer amatiran yang merupa
kan temen seangkatan, yaitu Monty, mulai jepret-jepret foto pake kameranya.
Acya yang berdiri di sebelah Yoga baru menyadari
bahwa ternyata perbedaan tinggi Acya dan Yoga sa
ngat-sangat jauh. Bisa dibilang, beda sekitar duapuluh senti! Yoga tingginya sekitar 180-an, sementara
Acya sekitar 160an. Aaaahhh Malu banget deh!
Eci membawakan dua buah mahkota di atas sebuah baki. Kak Nadira mengambil salah satunya dan
akan meletakkannya di atas kepala Yoga. Yoga yang
tentunya lebih tinggi dari Kak Nadira, sedikit menunduk supaya Kak Nadira dapat meletakkan mahkota
tersebut. Kak Nadira menyalami Yoga. Yoga pasang
senyumnya lagi yang super menawan. Kak Widy pun
mengambil mahkota yang satunya dan dengan mudah meletakkannya di atas kepala Acya. Mahkota itu
sangat cantik. Walaupun hanya replika, paling nggak,
mahkotanya bukan mahkota dari karton. Monty mulai
memotret-motret lagi.
Seperti yang udah kita tau dan kita tunggu-tunggu
dari dulu, raja sama ratu angkatannya mesti dansa
dong kata Eci ketika Widy dan Nadira sudah kem-

Mint Chocolate Chips

283

bali ke tempat duduk. Acya makin deg-degan. Kalo


Yoga sih, seperti sudah bisa ditebak, asik-asik aja.
Senang malah. Acya nggak pengen! Malu!
Gue nggak mau, ujar Acya pelan. Tapi, Yoga bisa
mendengarnya.
Kenapa?
Males, jawab Acya.
Yaelah. Udah, nggak apa-apa. Kan ada aku. Hehehe Yoga memamerkan senyum ting-tingnya (aduh
ting-ting? Bahasa mana lagi tuh?).
Yaaah ya udah, Acya menyerah.
Yoga menggenggam tangan pacarnya dan me
nariknya mendekat. Anak-anak band angkatan seperti Aril (di drum), Reva (di lead guitar), Faris (di rhythm
guitar dan vokal), dan Fadli (di bass), maju dan memegang alat musik masing-masing.
Lagu mulai mengalun. Dan Acya menyadari, lagu
yang mengalun adalah salah satu lagu yang disukai
nya. Lagu tersebut juga ada di CD pemberian Yoga.
Beauty queen of only eighteen
She had some trouble with herself
He was always there to help her
She always belonged to someone else
I drove for miles and miles and wound up at your
door

284

Mint Chocolate Chips

Ive had you so many times but somehow I want


more
I dont mind spending everyday out on your corner in
the pouring rain
Look for the girl with the broken smile
Ask her if she wants to stay a while
And she will be loved
Teman-teman yang lain benar-benar membiarkan
mereka berdansa berdua saja. Belum ada anak lain
yang ikut berdansa di sana. Acya bener-bener degdegan. Masa dansa diliatin anak-anak seangkatan?
Ada beberapa guru yang liat juga, lagi! Dikit sih. Tapi
tetep aja, malu! Dan Acya lebih malu lagi waktu mendengar teriakan anak-anak yang lain,
CIUM! CIUM! CIUM! Ya ampun, Ya Tuhan, ya
ampun! Ada guru! Yoga makin pasang senyum bahagia tapi menawannya. Yoga rupanya benar-benar
menunggu-nunggu saat-saat ini.
Eh, gue kan ex ketua OSIS nih? Kekuasaan gue
masih berlaku nggak? tanya Yoga.
MASIHHHH!! teriak teman-teman yang lain.
Jadi, selaku mantan ketua OSIS, gue memerintahkan kalian semua untuk Yoga berhenti sejenak.
Teman-teman yang lainpun menunggu-nunggu.
MEREMMMMM!!! KARNA GUE MAU NYIUM

Mint Chocolate Chips

285

ACYA!!! teriak Yoga. Teman-teman yang lain pun tertawa terbahak-bahak.


Wajah Yoga makin mendekat. Acya makin ngeri.
Makin malu. Makin nggak enak. Tinggal satu detik lagi
bibir Yoga akan menyentuh bibir Acya
Yo, guru, Yo! ujar Acya. Yoga berhenti sejenak.
Kayaknya ia berpikir sesuatu. Anak-anak juga mulai
sunyi senyap. Nggak ada lagi teriakan-teriakan kayak
tadi. Yoga tengak-tengok ke kanan dan ke kiri, melihat
ke arah guru-guru. Kemudian berpikir lagi. Tapi kemudian ia berkata
Alaaaa BIARIN! jawab Yoga cuek. Tapi kemudian, Yoga diam dan batal mencium Acya.
Lho?! Kok nggak jadi, sih?! celetuk Tama.
Abis lu meremnya pada nggak ikhlas sih! Gue tau
lu semua pada ngintip pengen liat! Ketauan banget,
tau nggak?! teriak Yoga.
Yaaaahhh sesal teman-teman yang lain.
Thank God!! gumam Acya.
Baru setelah itu, anak-anak yang lain juga berdansa. Yoga mengalihkan pandangannya ke arah Acya.
Sorry ya tadi gue mau nyium-nyium elo sembarangan, ujarnya.
Ya mau bagaimana lagi jawab Acya pasrah.
Cya, aku cuman pengen kamu tau kalo Kalo
mungkin aku susah untuk ngungkapin perasaanku

286

Mint Chocolate Chips

secara langsung. Makanya, aku sering langsung ke


kelakuan aja. Sorry banget yah nggak apa-apa nggak? tanya Yoga.
Nggak apa-apa. Dan aku juga pengen kamu tau,
Yo. Jangan bilang aku tidak lihat senyummu karena
dalam kesunyianku aku menatap menembus angin.
Jangan katakan aku tidak ikut bernyanyi. Aku dapat
mendengar ritmemu dari dalam air. Jangan kira aku
berkhayal terlalu jauh karena khayalku yang sesungguhnya adalah khayalan pada dunia. Dan jangan bilang aku tidak menyimakmu karena aku dengar seluruh untai teriakmu, kata Acya.
Lho? Itu kan puisi yang waktu itu, tanya Yoga.
Emang. Tapi, ada tambahannya lagi Meski kamu
yang harus mengatakan, aku akan ikut tersenyum
bersamamu. Aku ingin bernyanyi mendampingimu.
Dan aku ingin berteriak pada dunia kalau aku juga
sayang sama kamu lanjut Acya. Yoga terdiam.
Nyaris kaku! Acya mengatakannya! Acya bilang kalau
dia sayang sama Yoga.
MAKASIH, HUNNY BUNNY SWEETY BABYKUUUUU! Yoga memeluk Acya dengan erat. Lagulagu romantis yang tadi mengalun sudah berganti
lagu Yeah milik Usher. Anak-anak yang berdansa
pun sudah mulai berkurang. Yoga dan Acya aja sudah
kembali ke tempat duduk mereka.

Mint Chocolate Chips

287

Eko yang malah menggilai dance floor. Yah, namanya juga Eko. Ia dengan pede sejutanya mengikuti
gayanya Usher di videoklipnya, berikut lipsync juga.
Kontan teman-teman seangkatan tertawa semua.
Gokil banget sih tuh orang, kata Yoga tiba-tiba.
Yo, gue mau nanya,
Nanya apaan? tanya Yoga.
Kenapa lo suka sama gue? tanya Acya serius.
Kok elo nanya gitu? tanya Yoga, lebih serius lagi!
Gue kan nggak cantik ujar Acya.
Tapi elo enak diliat Yoga ngeles.
Gue kan nggak pinter
Tapi elo selalu berusaha supaya dapet nilai bagus Yoga semakin pintar ngeles.
Gue juga nggak bisa dandan kata Acya lagi.
Tapi elo cantik biarpun tanpa make-up Yoga
tambah jago ngeles!
Gue nggak jago olahraga
Tapi elo kerja keras supaya bisa
Gue nggak gaul
Eh, siapa bilang??? Buat apa dong lo pacaran
sama cowok segaul gue kalo akhir-akhirnya lo nggak
gaul juga??? kata Yoga membantah kalimat Acya
sebelumnya. Acya tertawa. Dasar Yoga! Setelah itu
Yoga pun ikut tertawa.
Dan gue nggak pantes mendampingi elo kata

288

Mint Chocolate Chips

Acya saat tawa mereka berdua.


Dan elo berani mengatakannya! jawab Yoga kemudian. Akhirnya! Akhirnya Yoga menemukan jawaban atas pertanyaannya selama ini! ALHAMDULILLAHIRABBIL ALAMIIIINNNN!!! kata Yoga tiba-tiba
heboh sendiri.
Kenapa? tanya Acya bingung.
Akhirnya.!
Akhirnya apa? Acya nambah bingung.
Akhirnya gue nemuin jawabannya! Akhirnya!
Pertanyaan-pertanyaan elo tadi selama ini juga jadi
pertanyaan di benak gue Tapi, duh, gimana ya?
Namanya juga CINTA, nggak ketawan kapan, nggak
ketawan cinta ke siapa, nggak ketawan alesannya,
nggak bisa dicari, iya kan?? tanya Yoga. Acya diam
saja. Bingung. Iyain aja deh, tambah Yoga.
Eh, Yo, malem ini keren banget ya. Gue yakin,
gue nggak akan ngelupain malem ini. Selama-lama
nya, kata Acya.
Lo aja nggak akan ngelupain, apalagi gue! Apalagi malem ini elo bilang kalo elo sayang sama gue.
Tau nggak, dengernya tadi gue udah hampir pingsan
di tempat! Gue seneng banget!
Apalagi gue! Waktu elo tadi mau nyium gue, gue
lebih mau pingsan di tempat lagi! protes Acya.
Ya kenapa nggak pingsan aja? Kan gue jadi bisa

Mint Chocolate Chips

289

ngasih nafas buatan! Hehehehehe!!! tambah Yoga


usil. Ah, Yoga!

Akhir dari SMA


Minggu yang lalu pengumuman kelulusan. Kita dikasih amplop tertutup yang isinya ngasih tau apakah
kita lulus apa enggak. Pas gue buka, ternyata gue
lulus! Alhamdulillah! Gue seneng banget. Dan angkatan gue, semuanya lulus. Gue angkatan kedelapan
di sekolah uge, kita namain REINKARNAX. Kurang
ngerti sih, apaan artinya, yang jelas, itu nama yang
diusulin cowok-cowok dan cukup keren kok. Gue
nangis banjir-banjiran abis, temen-temen yang cowok
juga ada yang nangis. Gila! Gue nggak percaya! Gue
seneng banget! Pengumumannya di aula. Kita disuruh
ke lapangan, dan ternyata kita semua diguyur pake air
dari selang hydrant. Alhasil, kita narik guru-guru buat
diguyur basah-basahan juga! Pokoknya seneng ba
nget! Dan walaupun gue nggak jadi peringkat ke satu
nilai ujian tertinggi, tapi gue tetep happy kok. Karena
semua temen gue, guru gue, udah ngajarin apa arti
hidup yang sebenernya. Makasih ya, semua. Diary,
thanx udah dengerin cerita gue selama ini. Sekarang
gue tutup buku SMA, dan gue bakalan buka lembaran
kuliah nanti.

290

Mint Chocolate Chips

Gue akan selalu inget masa-masa SMA ini, gue


yakin, kenangan-kenangan ini nggak akan pernah
bisa terlupakan. Nggak akan pernah bisa gue lupain.
Ini adalah masa-masa paling indah yang pernah gue
jalanin sampai saat ini. Semua temen-temen gue udah
ngasih warna di lembaran kehidupan gue waktu remaja. Iya, guru-guru udah ngasih gue kertas kosong buat
digambarin. Gue yang ngegambar sketsanya. Dan
temen-temenlah yang ngewarnain sketsa gue. Walaupun mungkin, ada bagian-bagian dari sketsa gue
yang kehapus oleh kakak kelas yang jutek-jutek dan
galak-galak, maupun guru yang nyebelin. Tapi, tetep
aja, gambar gue yang udah jadi ini tetep bagus kok
jadinya. Makasih semuanya. Sumpah, gue bener-be
ner takut nggak ada lo semua. Gue takuuut bangeeet.
Gue takut nggak ada Tama yang suka makan Taro tapi
tempramen berat, gue takut nggak ada Daina yang
kalo dandan bisa tujuh jam, gue takut nggak ada Reva
yang metal yeph tapi baiknya baik banget, gue takut
nggak ada Yoga yang suka gila sendiri tapi ternyata
sensi abis, gue takut nggak ada Eci yang suka ngomongin cowok, gue takut nggak ada Kiffi yang suka
ngetrek... gue takut banget... gue takut besok matahari bersinar dari barat... gue takut besok nggak ada lo
semuague nggak tau gue mesti gimana... gue sa
yang sama lo semua, sekarang, dan nanti...

Mint Chocolate Chips

291

Azhyanta Raiza Deylda .. (with so much love ..)


Acya menutup diary-nya dan menyimpannya di
laci nakasnya. Tiba-tiba terdengar suara seseorang
menyanyi di teras bawah. Sayup-sayup terdengar
dari kamar Acya.
Another day is going by, Im thinking about you all
the time. But your up there and Im here waiting. And
I wrote this letter in my head cuz was so many things
were left unsaid. But now youre gone and I cant think
straight. This could be the one last chance to make
you understand. Id do anything, just to hold you in
my arms. To try to make you laugh, somehow I cant
put you in the past. Id to anything, just to fall asleep
with you. Will you remember me? Cuz I know I wont
forget you22
Simple Plan, lagi... Udah ketauan, pasti Yoga
dibawah sana. Mau ngapain sih dia? Siang bolong
gini ke sini. Panas-panas... yang ada ntar malah sakit,
lagi!, Acya membatin. Acya menuruni tangga. Dan
membuka pintu. Ia berharap yang dilihatnya adalah
Yoga. Ternyata enggak! Dia tidak hanya melihat Yoga
tapi juga lima temannya yang lain. Yaitu, Daina, Kiffi,
Tama, Eci, dan Reva. Memang hanya Yoga berdiri di

292

Mint Chocolate Chips

teras. Sementara yang lain menunggu di mobil.


Apaan sih? tanya Acya. Yoga diam saja tapi sambil senyum-senyum. Eh, mau pada ngapain sih? ta
nya Acya pada teman-temannya yang berada di mobil. Mungkin karena Yoganya juga cuek.
Acya mau ikut nggak? tanya Daina dari mobil.
Ke mana nih? tanya Acya keheranan.
Jemput nyokapnya Yoga di bandara, Jelas Tama.
Lho? Ngapain ibu kamu ke sini? Liburan ya?
tanya Acya.
Enggak, jawab Yoga pendek.
Jadi? lanjut Acya lagi.
Jadi emmm Nyokap gue di sini untukSELAMANYA! Nyokap dapet kerjaan yang lebih baik
daripada di Inggris, jawab Yoga.
Jadi, kamu nggak jadi pulang ke Inggris? tanya
Acya lagi.
Pulang ke Inggris? Enggak lah! Rumah gue di sini
gitu looooowh jawab Yoga sambil memeluk Acya.
Ia melanjutkan perkataannya, Aku terus di sini kok.
Nemenin Acya. Nemenin kamu,
Iya? tanya Acya tidak percaya.
Enggak! kata Yoga.
Aaaaah!!! Kalo kayak gitu nggak usah meluk-meluk gue segala! Acya kesal.
Maaf deh. Aku beneran di sini kok. Nemenin

Mint Chocolate Chips

293

kamu! Masa kamu nggak percaya sih? tanya Yoga.


Iya deh, percaya, percaya! Udah ah, gue mau
ganti baju dulu! Ntar ibu kamu jadi nunggu lama kalo
aku nggak cepet-cepet ganti baju! Lepas dong! pinta Acya sambil mencoba melepaskan tubuhnya dari
dekapan Yoga.
Iya deh Nggak pake lama ya! pinta Yoga.
Dasar!!!

294

Mint Chocolate Chips

Mint Chocolate Chips

295

Bab 18
Malam Tahun
Baru
Acya dan Yoga duduk di atas kap mobil kesaya
ngan Yoga. Mereka sedang berada di sebuah festival peringatan tahun baru. Di sana band Yovie & The
NUno menggelar semacam showcase, dan Acya sa
ngat menyukai band itu. Sekarang sudah pukul sete
ngah duabelas. Penyalaan kembang api dan pera
yaan puncaknya baru dilaksanakan setengah jam
lagi. Daina menikmati malam dengan Kiffi dengan
berjalan-jalan di sekitar festival sejak tadi. Sementara
Eci, dia jalan sama Aril, itu... si best dress di malam
perpisahan. Kalo Reva, ya... sama si Rangga itu.
Paling apes si Tama, nggak ada pasangan. Ada sih,
snack Taro-nya yang berukuran jumbo. Ia juga dari

296

Mint Chocolate Chips

tadi berjalan mengelilingi festival, terutama di sekitar


stand makanan.
Yoga

hanya

terdiam

menikmati

keheningan

malamnya bersama Acya. Hanya menatap lurus tanpa ekspresi. Memperhatikan keramaian di depannya.
Ia menyadari sesuatu
Sekarang gue bener-bener bahagia. Nggak dibuatbuat lagi kayak dulu. Bahagia! Semuanya karena dia
karena Acya karena cinta gue ke dia, dan cinta dia
ke gue Hhhh Ternyata idup ini emang indah! Dan
wajib dinikmati sebaik mungkin!
Aduh, dingin banget sih. Tau gitu tadi gue bawa
jaket aja Kenapa gue nggak bawa jaket ya? kata
Acya yang memakai kaos lengan pendek dan celana
berwarna hitam malam itu. Yoga melepas jaket hitamnya dan meminjamkannya pada Acya.
Nih, ujarnya singkat. Tatapan Yoga kemudian lurus menerawang ke arah panggung. Tahun baru kemaren gue nggak sama lo ya... Sayang banget. Tapi,
gue tetep seneng. Karena tahun baru ini gue bisa
ngerayainnya sama lo, ujar Yoga tiba-tiba.
Rasa seneng lo kayak gimana? tanya Acya kemudian.
Ya... gue bahagia... Dulu, sebelum gue ketemu
lo. Paling nggak, sebelum gue deket sama lo, gue
nggak pernah tau seperti apa rasanya bahagia. Tapi

Mint Chocolate Chips

297

sejak gue deket sama lo, gue jadi tau, dan setiap
hari, adalah hari bahagia bagi gue. Apalagi sejak kita
jadian. Kebahagiaan gue bener-bener nyata dan jujur,
nggak dibuat-buat lagi kayak dulu. Sekarang, kapan
aja gue bahagia deh! Asalkan gue sama lo, jawab
Yoga yang kemudian menatap cewek di sebelahnya.
Acya menunduk. Kemudian ia menatap langit yang
dipenuhi bintang-bintang malam itu.
Langit malam ini keren banget. Ya kan? tanya
Acya.
Iya, tapi nggak sekeren langit di hari pertama
kalinya gue ketemu lo. Hahaha... Langit malam itu
bintangnya lebih banyak dari malam ini. Dan itu saat
pertama kalinya gue ngerasa bahagia banget. Apalagi pas ngeliat lo senyum. Sebelomnya, gue nggak
pernah ngerasa banget bahagia itu. Tapi hari itu, gue
ngerasa bener-bener bahagia Thanks banget
yah jawab Yoga. Acya menatap Yoga. Ia merasa
kaget dan bingung. Yoga menyadari kebingungan itu
dan merengkuh kepala Acya dan menyenderkannya
di bahu Yoga, mencium rambut Acya, kemudian Yoga
merangkul cewek itu. Itu saat pertama dan mungkin
terakhir kalinya gue ngerasa gue jatuh cinta sama seseorang. Biarpun sekarang gue belom tua, hehehe,
tapi tiba-tiba gue tau kalo gue sayang dan cinta banget sama lo. Gue juga nggak tau kenapa. Makanya

298

Mint Chocolate Chips

gue marah banget waktu nyokap gue nyuruh gue


tinggal di Inggris, gue nggak mau jauh dari lo. Gue
sayang sama lo, Cya. Gue pengen selalu ada buat
nemenin lo. Buat ngelindungin elo. Yang gue tau, gue
jatuh cinta sama lo, ucap Yoga serius.
Gue juga nggak mau jauh dari lo kok, kata Acya
kemudian.
Kenapa? tanya Yoga.
Karena...
Kenapa? Kok mikirnya lama? Yoga makin penasaran. Sayang kamu jarang ngomong cinta ke
aku, tapi aku yakin kamu cinta sama aku. Because,
love takes two, kan?
Karena gue juga cinta sama lo, jawab Acya.
Yoga terperangah. Ia teramat sangat kaget mendengarnya. Jarang-jarang Acya mau berkata se
perti itu. Tiba-tiba MC di panggung berbicara (Yoga
langsung ngedumel pelan, Hhhh... ganggu aja tuh
orang!).
Sekarang sudah jam duabelas kurang limabelas
menit. Jadi, countdown-nya kira-kira bentar lagi mulai. Buat yang lagi nggak deket panggung, ayo ke sini.
Kita mulai countdown-nya kompakan dong! kata MC
tersebut. Yoga beranjak berdiri dan membantu Acya
turun dari atas kap mobilnya. Ia menggandeng cewek
itu dengan lembut dan mengajaknya berjalan menuju

Mint Chocolate Chips

299

panggung yang letaknya cukup jauh dari parkiran.


Sesampainya di depan panggung, tempat itu sudah
cukup ramai dipenuhi remaja-remaja seumuran me
reka. Melihat di depannya sudah ramai, MC acara itu
langsung menyapa. Nah, gitu dong! Wah, wah... jam
dua belas malem tinggal dua menitan lagi nih. Jadi,
bentar lagi kita akan mulai ya!
Yoga masih menggenggam tangan pacarnya de
ngan erat. Tiba-tiba, ada tangan yang menyentuh
pundaknya. Yoga langsung menengok ke belakang.
Ia menemukan...Riyan! Riyan! Apa kabar lo? tanya
Yoga ramah.
Feelin great... You? balas Riyan.
Still healthy enough... Eh, lo kok di Jakarta? ta
nya Yoga.
Im bored. And I really missed rendang so much.
Haha. So, I returned to Indonesia. Sekarang gue di
UI jawab Riyan. Acya memperhatikan cowok yang
diajak Yoga ngobrol itu.
Ri, let me introduce my girlfriend. This is Acya.
Cya, ini Riyan, Yoga memperkenalkan Acya pada
Riyan.
Acya, jelas Acya lagi sambil berjabat tangan de
ngan Riyan. Cowok itu juga menyebutkan namanya
dan menambahkan...
Wah, wah... Jadi ini ya, yang namanya Acya? You

300

Mint Chocolate Chips

were damn right! Yoga bilang kalo Acya itu cantik ba


nget. Nggak ada tandingan... Ternyata memang nggak salah... Yaaa... tandingannya mah cuma cewek
gue... hahaha,
Eh, Ri! Laku amat sih lo! Baru bentar di sini udah
punya cewek. Kenalin dong... canda Yoga melihat
cewek di sebelah Riyan yang sepertinya lebih muda
dari mereka.
Oh... kenalin... this is Kisha, my girlfriend. She
was my junior in high school, ujar Riyan cepat tanggap. Kemudian ia berbicara pada cewek bernama Kisha itu. Sha, this is Yoga. My classmate in Britain,
Mereka saling berjabat tangan.
Gile lo ye! Fedofil yee?? Gue baru tau elu fedofil!
komentar Yoga.
Fedofil tuh apaan, lagi? tanya Riyan kebingungan mendengar kata yang cukup asing di telinganya
itu.
Sukanya ama yang kecil-kecil! Hehehe!! kata
Yoga.
Ah, apaan sih looo tanggap Riyan malu terhadap pacarnya.
Tiba-tiba Eci dengan Aril menghampiri Acya dan
Yoga. Seperti biasa, Eci mulai
bergosip-ria!
Eh, Cya. Tadi gue liat si Dion, dong! Udah bawa

Mint Chocolate Chips

301

cewek kayaknya... kata Eci kepada Acya. Kemudian ia berhenti dan memperhatikan Riyan dengan
seksama. Eh Lo Riyan kan? Temennya Renata
kan? Lo bukannya sekolah di Inggris? Lo temennya
Yoga yah? Inget gue nggak lo? Gue Eci, inget kan?
Kita kenalan waktu ulangtahunnya Renata Eci me
ngeluarkan jurus jitu bergaulnya kepada Riyan de
ngan menyerang cowok itu menggunakan ribuan
pertanyaan. Riyan sedikit lupa, sedikit bingung pula.
Ditambah lagi Eci menyebut-nyebut nama Renata,
segala! Yang merupakan sebuah nama yang sangat
ingin ia lupakan
Oh Eh Iya, gue temennya Renata. Ehm
Eci? Iya, iya, inget kok Iya gue temennya Yoga.
Nggak nyangka, lo temennya Acya sama Yoga juga
yah? Dunia emang sempit kata Riyan menganggapi dengan seadanya.
Iya. Dunia sempit, apa Si Eci yang kelewat gaul?
celetuk Yoga. Yaaaa Tapi masih gaulan gue, sih
tambahnya.
Aduuhhhh komentar Acya dan Eci, serta Riyan
pun mengeluh mendengar kenarsisan Yoga itu.
Nah, mari kita bergosip lagi ajak Eci. Trus,
trus, kan ada adiknya Aril yang masih kelas satu
sekarang... Tadi gue ngobrol-ngobrol sama dia. Be
neran lho! Rambut jabriknya Kiffi yang kemaren

302

Mint Chocolate Chips

dipake sama banyak anak cowok di SMA kita! Dasar


emang trendsetter tuh anak! Yang bikin kaget, masa
kata adiknya Aril, katanya dia sekelas sama si Amanda! Eci bercerita dengan antusias sementara Arilnya
malah kalem-kalem aja.
Amanda mana? tanya Acya bingung. Nama Aman
da kan cukup banyak dipakai. Paling nggak di setiap
sekolah di Jakarta ada lah, minimal satu. Nggak ngerti emang namanya bagus, orangtuanya nggak kreatif,
apa gimana
Itu... Amanda yang nyolot itu! Dia tuh nggak naik
kelas! Gila nggak sih? jawab Eci.
Hah? Dia? Acya super-duper kaget.
Iya! Itu anak! Ck, ck, ck, Eci heran sendiri. Kemudian Acya melihat sosok yang ia kenal. Siapa ya? Kak
Widy dan Kak Nadira!
Yo, ada Kak Widy sama Kak Nadira tuh! Acya
berucap.
Mana? Yoga nggak ngeliat.
Itu
Hah? Mana sih?
Aduh! Masa lo nggak ngeliat sih? Itu... Deket
stand pizza...! ujar Acya sembari menunjuk ke arah
pasangan yang ia lihat.
Ooh... Eh, samperin yuk! Ri, Sha, Ci, Ril, gue tinggal dulu ya! kata Yoga sambil menarik tangan Acya

Mint Chocolate Chips

303

dan berjalan ke arah Widy dan Nadira. Yoga berdiri di


depan mereka yang membuat Widy dan Nadira berhenti berjalan. Hai! Yoga langsung menyapa.
Inget kita nggak? tanya Acya memberanikan dirinya. Ia kan tidak sepede Yoga yang tahan banting
dan nggak tau malu. Widy dan Nadira kelihatan agak
ling-lung. Bingung. Setelah berpikir selama beberapa
detik, akhirnya...
Hai! Yoga sama Acya kan? tanya Widy.
Iya, Kak, jawab Acya. Yoga menjawab dengan
senyumnya yang cukup dahsyat.
Udahlah... Nggak usah pake kak segala, ujar
Widy.
Apa kabar, Cya? tanya Nadira lembut. Mereka
sambil berjalan menuju ke depan panggung bersama-sama.
Hmmm? Baik... Kakak sendiri gimana? tanya
Acya. Ia memasukkan tangannya ke dalam kantong
celananya. Agak gugup. Ya gugup lah! Yang ngajak
dia ngobrol adalah mantan seniornya gitu!
Baik-baik aja... Berdua aja? tanya Nadira.
Enggak... bareng yang lain. Ada Aril, Eci, Reva,
Rangga, Tama, Kiffi, Daina. Katanya sih tadi ada Dion
juga, jawab Acya menjelaskan.
Eh, countdown-nya udah mau mulai tuh! Gue
ke Widy dulu ya... Jangan lupa nanti tukeran nomer

304

Mint Chocolate Chips

handphone, yah! pinta Nadira. Acya menatap panggung dan melihat MC sedang bersiap-siap mengajak
penonton melakukan countdown. Tiba-tiba Yoga sudah kembali berada di sebelahnya dan menggenggam erat tangan kanan Acya dengan tangan kirinya.
Mereka sudah akan menghitung mundur menuju
jam duabelas malam. Sepuluh Sembilan Delapan Tujuh Enam Lima Empat Tiga Dua
Satu Happy New Year, everybody!!! Acya tersenyum
kecil tapi manis. Sekarang sudah tahun baru. Dan tahun baru ini dilewatinya bersama Yoga yang kini sudah
berstatus sebagai pacarnya.
Namun, Yoga kembali memberi surprise. Ia membisikkan sesuatu di telinga Acya. However far away, I
will always love you. However long I stay, I will always
love you. Whatever words I say, I will always love
you. I will always love you...23, Acya menengok dan
menatap Yoga yang sedang menatapnya juga. Gue
sayang banget deh sama elo, tambah Yoga.
Sudah berkali-kali Yoga mengatakan hal itu, seolah-olah ia sangat gampang menyebut kata cinta,
cinta dan cinta. Hanya untuk Acya. Namun, lain hal
dengan Acya. Mungkin sudah kodratnya kali ya, harus cowok yang pdkt, harus cowok yang nembak,
harus cowok yang bilang I love you.
Acya selalu bingung akan menjawab apa. Ia tidak

Mint Chocolate Chips

305

mudah mengatakan hal itu. Susah! Tapi She has to


say it loudly, and clearly!
Gue juga, jawab Acya singkat.
Elo juga, apaan? tanya Yoga. Ekspresinya serius. Berarti, kali ini ia tidak bercanda.
Gue juga, ujar Acya lagi.
Apaan? tanya Yoga sekali lagi.
Pikir sendiri! kata Acya ketus.
Maaf deh, pacarkuuuuuuu! Hunny bunny sweety
babyku, darlingku, cintaku, manisku, sweetheart-ku
Acya memotong kalimat Yoga selanjutnya.
Jadi cowok tuh jangan norak! kata Acya. Yoga dan
Acya tertawa bersama saat itu. Yovie and The NUno
memainkan lagu hits mereka, Lebih Dekat Denganmu, Nanti (Juwita).
Hmh... Coba kalo Yoga nggak cabut ke Inggris setahun? Kisahnya nggak bakal kayak gini nantinya.

306

Mint Chocolate Chips

Mint Chocolate Chips

307

Epilog
Lima Tahun
Kemudian...
Acya berjalan di dalam sebuah mal. Sendirian.
Yoga bilang, dia mesti ngurusin iklan yang baru rampung kemarin. Iya, Yoga udah jadi sutradara iklan!
Yah, sampai sekarang sih dia tetep aja korban iklan
dan masih aja narsis. Sementara Acya, akhirnya ia
berhasil menjadi seorang VJ MTV! Itulah impian Acya
dan Yoga yang terpendam bertahun-tahun. Tau-tau
Acya yang mendapat predikat itu.
Lima tahun sudah lewat. Acya kembali mengingat,
dan merenungi masa SMAnya yang tidak terlupakan
sampai sekarang. Acya terus ingat setiap detik kenangan indahnya. Bersama Yoga, Daina, Eci, Kiffi,
Reva, Tama. Dan semua temen yang lain. Bahkan,

308

Mint Chocolate Chips

Rangga. Kalo nggak ada Rangga, mungkin warna kehidupannya di SMA nggak sebanyak sekarang. Acya
terus berjalan sambil merenungi apa yang telah terjadi selama ini.
Ia melewati kios Baskin Robbins. Pikirannya langsung menerawang pada suatu Valentine beberapa
tahun yang lalu. Yoga meminta Acya untuk menjadi
pacarnya pada malam itu. Acya tidak akan pernah
melupakan kejadian hari itu. Sampai sekarang, Acya
masih jadian sama Yoga. Udah dua kali putus. Tapi,
Yoga rasanya nggak akan pernah bisa hidup tanpa
Acya. Begitupun sebaliknya.
Kemudian, Acya melewati kios telepon selular. Di
salah satu poster yang terpajang, terpampang wajahnya. Tetapi, di sana juga terpampang wajah Kiffi.
Kiffi, yang sekarang sudah menjadi salah satu pegokart Indonesia muda yang berdedikasi, juga terpilih
sebagai model kartu selular tersebut karena prestasinya, sama seperti Acya.
Acya dihampiri oleh segerombolan cewek-cewek
berseragam putih abu-abu. Acya jadi makin teringat
akan masa-masa SMAnya dulu. Masa-masa paling
indah Masa-masa di sekolah
Hmmm Kak Acya ya? tanya salah seorang dari
mereka.
Iya. Kenapa? tanya Acya ramah.

Mint Chocolate Chips

309

Gini Aku sama temen-temen boleh foto bareng


nggak? tanyanya.
Boleh, jawab Acya singkat. Cewek-cewek tadi
mulai mengatur posisi. Gue di tengah aja ya, pinta
Acya.
Iya. Bener, bener! Ta, lo fotoin dulu dong! Entar
gantian gue yang motretin, ujar salah seorang dari
mereka.
Ya udah. Satu, dua Ti ga, kata Dita yang tadi
mengambil gambar Acya dan anak-anak SMA itu. Kemudian, Dita kembali ke barisan dan salah seorang
yang lain gantian memotret.
Kak Acya, makasih banyak ya. O iya, boleh minta
tandatangannya nggak, Kak? Soalnya adikku ngefans
banget sama kakak. Ini Kak, bolpen sama kertasnya,
ujarnya.
Namanya siapa? tanya Acya.
Raiza, jawab cewek tadi.
Wah, kebetulan banget. Itu kan nama tengah
gue, ujar Acya sambil menuliskan Buat: Raiza, dan
menandatanganinya. Kemudian Acya mengembalikan
kertas dan bolpen tadi ke cewek itu. Cewek-cewek
tadi kegirangan dan tanpa hentinya mengucapkan
terima kasih. Acya membalas dengan senyuman.
Acya kembali berjalan. Kali ini ia menuju toko kaset. Di depan toko kaset tersebut, dipasang sebuah

310

Mint Chocolate Chips

poster yang cukup besar. Poster grup band CARILLON. Acya tau dari Yoga kalau kata carillon adalah
bahasa Italinya music box. Namanya juga Yoga, cowok paling cerdas yang pernah Acya kenal. Ya, Yoga
pernah bercerita tentang band Carillon ini. Tapi, di
mana? Kapan?
Acya kembali menatap poster itu lekat-lekat. Judul
album band tersebut adalah White and Grey. Tapi,
Acya yakin, grup band itu adalah grup band asal Indonesia. Sampai akhirnya Acya menemukan suatu
wajah yang ia kenal. Cewek. Satu-satunya cewek di
band itu. Ia memegang gitar. Tapi, siapa? Acya memperhatikan gambar cewek itu seserius mungkin. Acya
melihat di tangan cewek itu, nangkring sebuah handcuff spike berwarna merah! Berarti cewek itu Reva!
Bener! Itu cewek adalah Reva, si makhluk metal teman SMAnya! Tanpa berpikir dua kali, Acya langsung
membeli CD band tersebut. Setelah membayar, ia
berjalan lagi, sekarang ke toko buku.
Acya melihat-lihat buku di bagian psikologi. Yah,
siapa tau ada yang bagus. Apa kek gitu. Sampai ia
menemukan suatu nama yang sangat dikenalnya.
Rezzy. Rezzy Artya. Rezzy! Eci! Iya, itu namanya
Eci. Acya melihat judulnya Kembali Menerawang Ke
Masa Lalu (dan renungi siapa dirimu yang sekarang)
oleh Rezzy Artya.

Mint Chocolate Chips

311

Acya mengambil buku tersebut. Cover-nya bergambar siluet anak-anak berpakaian seragam SMA.
Warnanya siluet itu putih dan abu-abu. Lho, itu bukannya Gambar itu adalah desain yang Acya buat waktu lulus SMA dulu! Foto yang diambil adalah fotonya
dan keenam temannya saat pengumuman kelulusan.
Ia mengirimkan foto tersebut ke teman-temannya lewat e-mail. Dulu.
INBOX
Reply

Reply all

Forward

To:yow-gantenk@hotmail.com
CC:rezzy_artya@yahoo.com,

Delete

hidupsyste-

mofadown@yahoo.com, kiffi87@hotmail.com,
pinkernopunker@boleh.com, akbar1@yahoo.
com

Attc.:kita_putih_abu2.jpg
Dear all,

Berhubung gue pengen msk jurusan Desain


Grafis, gue mau tes kemampuan dulu nih..
Ini foto kita waktu lulus-lulusan. Gue

transfer dari hp eci > hp gue > memory


card > card reader > USB connection ca-

ble > komputer gue > disket > warnet >


elo.

312

Mint Chocolate Chips

Disimpen ya, buat kenang-kenangan. Mungkin aja kapan-kapan perlu. Terserah sih,
mau diapain. Yah, simpen aja nih foto.

Kalo kpn2 prlu. Mgkn 5 taun lg kita uda


beda. Lo bs liat foto ini. Tserah ini gbr
mau diapain. Mgkn Yoga uda jd sutradara
iklan, gbr ini boleh kok dmskin k iklan

lo. Mgkn Daina uda jd dokter, blh kok

foto ini dprint trus ditaro di meja kerja lo. Mgkn Reva udah jd rocker. Bole

kok gbr ini djdin bonus album lo yg ptm.


Mgkn Eci uda jd psikolog dan bikin buku.

Bole gbr ini djdin covernya.. please,

jgn saling mlupakan yah. And buat Yo, I


love you.
Acya
Acya membalik buku yang dipegangnya. Terdapat
biografi singkat si penulis. Biografi singkat Eci.
Rezzy Artya, merupakan seorang psikolog muda
ternama di Indonesia. Di usianya yang baru 23 tahun,
ia sudah menjadi salah satu pendiri sebuah tempat
konseling anak-anak broken home maupun yang

Mint Chocolate Chips

313

memiliki masalah apapun. Ia juga mencoba menulis


buku ini. Di dalam buku ini terdapat cerita-cerita Rezzy Artya mengenai kehidupannya dan harapan-harapannya di masa lampau dan kenyataannya sekarang.
Merenungi hidupnya yang lalu ternyata membuat
Rezzy Artya lebih termotivasi. Buku ini juga mengulik
habis masa-masa sekolahnya. Dan kita nggak akan
pernah tau bahwa dia pernah diceburin pas perpisahan SMA seandainya dia nggak menulis buku ini.
Acya menjadi semakin bangga saja dengan sahabatnya yang satu itu. Eci memang pernah bilang kalau
dia ingin masyarakat sedunia bisa temenan. Semua
orang yang dia kasihtauin mengatakan bahwa hal itu
nggak mungkin kejadian. Tapi, Eci tetap optimis dan
ingin mimpinya itu tercapai. Akhirnya ia memutuskan
untuk menjadi psikolog.
Acya membeli buku karangan Eci itu. Ia sesegera
mungkin membayar buku tersebut tanpa melihat-lihat
buku-buku yang lain. Setelah membayar, Acya bergegas menuju sebuah kedai kopi di lantai dasar. Di
sana, ia terbiasa minum frappucinno chocolate sambil membaca buku yang baru ia beli. Akhir-akhir ini,
waktu Yoga sedang sibuk dengan proyek terbarunya,
Acya sering sekali melakukan hal ini. Sorenya, Yoga
menjemput dan mengantar Acya pulang. Iya, dibalik

314

Mint Chocolate Chips

Acya yang ramai, yang sekarang berprofesi sebagai


VJ, Acya masih senang menyendiri. Kayaknya dia
memiliki dunia sendiri. Acya tetap tidak terpengaruh
oleh perubahan lingkungan sekitarnya. Acya membaca halaman per halaman buku yang tadi ia beli.
Di usia saya yang 23 tahun ini, saya mulai merenungi kejadian-kejadian yang sudah lewat. Kejadiankejadian yang mempengaruhi saya, masa muda saya,
dan harapan-harapan saya dulu yang membuat saya
bisa menjadi seperti sekarang. Namun, masa lalu
saya dan buku ini tidak akan pernah terjadi tanpa
Allah SWT, yang telah memberikan kesempatan,
ide, dan semuanya.
Ayah dan Bunda, atas semua dukungannya.
Aril, atas kasih sayang tulus yang udah kamu kasih ke aku.
Tito, semoga kamu bahagia ya di atas sana. Aku
harap di sana ada toko buku dan kamu bisa liat bahwa impianku ini tercapai. Makasih atas semangatnya
ya. Aku rela kamu pergi. Kamu mesti temenin Fina di
sana. Dan di sini, jangan khawatir, ada Aril yang akan
terus jagain aku.
Dan buku ini didedikasikan buat angkatan REINKARNAX. Terutama, enam orang di antaranya
yang udah nemenin gue selama tiga tahun. Sam-

Mint Chocolate Chips

315

pai selama-lamanya gue nggak akan ngelupain elo


semua. Daina, Reva, Acya (dan Yoganya), Kiffi, dan
Tama. Kenangan kita sama-sama gue abadiin di buku
ini. You are the best I ever had!
Kakak-kakak di PT. Pustaka Remaja, atas kesabaran dan kesempatan yang udah dikasih buat saya.
Semua yang membeli buku ini.. Thanks!
Rezzy Artya

Acya? Nama gue ada di situ?, batin Acya. Acya


benar-benar tidak percaya. Eci masih ingat sama dia!
Eci menuliskan namanya di bukunya! Acya meneguk
frapucinno-chocolatenya. Tiba-tiba, ada seorang wa
nita menghampirinya. Wanita itu memakai celana pa
lazo marun dan kemeja putih. Acya? tanya wanita
itu. Ini cewek siapa sih? Nyapa-nyapa orang sembarangan. Sok kenal. Sok deket! Tapi, kayaknya kok
pernah ketemu ya? Siapa?
Elo DAINA? tanya Acya. Iya, lo Daina kan?
Iya. Masih inget lo sama gue? tanya Daina.
Ya masih lah! jawab Acya. Duduk, Na, ujar
Acya. Daina duduk di depannya.
Apa kabar lo? tanya Daina.

316

Mint Chocolate Chips

Baik-baik aja Lo? Acya balas bertanya.


Baik-baik juga Kalo Yoga-Lo? Daina iseng
nanya.
Hahaha. Dia juga baik-baik aja kok, jawab Acya.
Mukanya hampir bersemu merah. Masalahnya Daina
berkata dengan kata Yoga-lo. Hhh
Lo masih sama Yoga, Cya? tanya Daina lagi.
Iya. Masih Sebenernya udah putus dua kali
Tapi, ujung-ujungnya baikan lagi, jawab Acya.
Awet amat sih! komentar Daina. Gue bingung,
kenapa elo bisa terus-terusan ama dia. Dia kan pacar pertama lo! Nggak bosen, apa? Apalagi lo berdua
kelakuannya udah kayak mau nikah besok. Nempel
mulu, ke mana-mana berdua tambahnya.
Eh, Na, lo masih sama Kiffi? tanya Acya.
Enggak lah. Nggak berapa lama abis lulus SMA,
kita putus. Abisnya dia masih suka belanja kanan
kiri sih, matanya. Masih suka tepe gitu. Gue nggak
tahan lama-lama. Dia hang-outnya sama cewek-cewek melulu, jawab Daina. Eh, tau nggak, Cya? Gue
kan sering liat muke lo! kata Daina serius.
Hah? Kapan? Kok gue nggak pernah liat elo? Kok
lo nggak nyapa gue? Kok nggak nyamperin? tanya
Acya.
Gue sering liat elo di toko handphone! canda
Daina.

Mint Chocolate Chips

317

Yaaah Ngeledek nih? Acya ngambek.


Gitu aja ngambek. Becanda kok. Gue juga tiap
hari ngeliat elo di MTV, ujar Daina.
Iiiiiih Eh, lo sana balik gih sama si Kiffi. Lo tuh
cocok lho, berdua. Liat aja, dulu kan si Kiffi sifat playboy-nya mantep banget! Semenjak jadian sama elo,
dia nggak tepe-tepe amat kan? Emang dasarnya dia
seneng ngeliat cewek cantik kali. Itu hobinya tuh.
Jadinya, dia seneng terkagum-kagum liat cewek cantik. Tapi kan bukan berarti dia nggak sayang sama
lo saran Acya.
Hmmm? Emmm Iya juga sih. Gue sih sebe
nernya masih sayang banget sama dia, sering nga
ngenin dia, apalagi sekarang dia udah sukses kayak
gitu. Udah jadi pembalap, sesal Daina.
Kiffi tuh masih sayang sama elo, kali! Waktu
pemotretan iklan kan gue ketemu dia, dia cerita-cerita
gitu kalo dia tuh sayang banget sama lo. Tapi, dia nggak cerita lo berdua udah putus apa enggak. Dia juga
bilang kalo hobinya dia tuh ngeliat cewek cantik, bukan berarti dia nggak cinta mati sama lo. O iya, sekarang lo udah jadi apaan? tanya Acya.
Hah? Hmmm gue masih jadi ko-as24 aja kok.
Kadang-kadang. Kalo Sabtu Minggu gue suka disuruh
bantuin dokter gitu. Tapi, karena sekarang lagi bebas
lepas, gue ke sini aja. Gue pengen beli CD band-nya

318

Mint Chocolate Chips

Reva. Sama tadi gue beli bukunya Eci. Udah liat?


tanya Daina.
Cieeee Calon dokter nih? Bukunya Eci gue
udah beli. Nih, Acya memperlihatkan buku yang tadi
ia beli. Eh, emangnya Tito meninggal? tanya Acya
pelan.
Lho? Lo nggak tau? tanya Daina.
Enggak, jawab Acya.
Itu sempet kok jadi berita di TV. Tapi cuman bentar. Enggak booming. Bokapnya kan dulunya pejabat gitu! Makanya sampe sempet masuk berita segala! Dia sempet dirawat di rumah sakit tempat gue
kadang-kadang bantu-bantu dokter, ujar Daina.
Meninggal kenapa? tanya Acya lagi.
OD25. Itu anak ternyata nggak berubah juga.
Tetep aja ancur. Gue masih nggak abis pikir kenapa
cewek kayak Eci yang sekarang udah sukses kayak
gitu pernah mau-mau aja sama cowok modelan Tito
begitu. Tito pernah bilang sama gue waktu gue ngejenguk dia bentar. Dia bilang, dia masih sayang sama
Eci. Tapi, dia ngerasa bersalah banget sama Eci, dia
takut nyakitin Eci lagi, dia yakin Eci bakalan sukses,
dia nitip maaf karena udah gituin Eci. Dia selalu sinis
karena dia nganggep hidupnya selalu ironis. Selalu
tragis. Dan akan berakhir dengan menyedihkan juga.
Sampe sekarang Eci nggak tau kalo Tito pernah ngo-

Mint Chocolate Chips

319

mong kayak gitu. Gue belom bilang, kata Daina panjang lebar.
Ya bilang dong, Na. Kalo lo udah bilang, pasti
Titonya juga bakalan tenang karena dia udah nge
jelasin semuanya. Dia pasti pengen Eci tau itu, saran
Acya.
Iya. Nanti gue mau bilang sama dia. Eh, ada be
rita tentang Tama nggak? tanya Daina.
Hmmm Gue denger dari Yoga sih si Tama mau
ngambil S2 di luar negeri. Tapi gue lupa, di Aussie26
apa di mana. Kayaknya sih di Aussie, jawab Acya.
Hah? Yang bener? Hebat bener itu anak! Padahal
dulunya
Mungkin karena sekarang Tamiya udah nggak
musim lagi jadi dia bisa belajar Daina dan Acya
tertawa bersama di kedai tersebut sore itu.
Eh, iya! ujar Acya tiba-tiba.
Apaan yang eh iya? tanya Daina bingung.
Yoga juga bilang, hari Sabtu minggu depan, ada
soft opening restorannya Tama! jawab Acya.
Hah? Maksud lo?
Iya. Yoga bilang si Tama buka restoran khusus
makanan kecil sama snack-snack gitu. Macem kafe
kecil gitu lah! Seru banget kan!? Pokoknya pas soft
opening itu, kita berenam bebas makan di sana
sepuasnya GRATISSSS!!!

320

Mint Chocolate Chips

Sebuah ide, dan ideologi


Barusan, gue baca-baca lagi buku harian gue ini.
Buku harian gue waktu SMA. Sekarang gue sibuk!
Udah nggak pernah lagi nulis-nulis macem diary gini.
Gue baru sadar, ternyata hidup kita itu pasti penuh
warna. Hidup semua orang. Termasuk hidup gue.
Kadang-kadang gue mikir, harusnya gue bersyukur
Yoga mesti ke Inggris sebentar, kalo hidup seneng
terus kan nggak asik juga. Nggak enak. Nggak ngepas.
Kadang-kadang gue juga mikir, kalo sebenernya
hidup ini itu kaya es krim Mint Chocolate Chip.Yeah,
es krim favorit gue.Warnanya cerah, tapi sebenernya
agak pedas. Tapi enak. Kalo nggak pedas, namanya
bukan es krim mint. Mintnya itulah yang bikin enak.
Dan di bagian yang pedas itu, dikasih pemanis kan?
Dikasih chocolate chip, semoga pedasnya kurangan.
Es krim itu jadi enak.
Berarti, sama aja dengan prinsip hidup kita. Di
dalam hidup, kalo nggak ada yang nggak enak, kalo
enak melulu, itu nggak akan asik. Nggak akan ngepas
deh pokoknya. Jadi, gue berpendapat, apapun yang
terjadi, gue mesti terus jalanin hidup ini. Sama aja
kayak es krim, mesti diabisin! Mubazir kan, kalo eng-

Mint Chocolate Chips

321

gak! Hidup juga gitu. Hidup cuman sekali, lagi! Mesti


kita nikmatin dan gunakan sebaik yang kita bisa. Jadi
inget kata Reva, Kita emang nggak bisa ngerubah
masa lalu, dan jangan menyesali apa yang udah terjadi. Yang bisa kita lakuin cuma, merubah sesuatu,
sebelum hal itu terjadi dan kita sesali Iya nggak?
Lima tahun emang bikin semuanya berubah. Bukan semuanya juga sih, cuma sebagian. Ada yang
dateng, ada yang pergi. Ada yang berhasil, ada yang
keberhasilannya masih tertunda. Ada yang bersama,
ada yang berpisah. Begitulah hidup.
Tapi, dibalik kesuksesan gue dan temen-temen
gue, ternyata, masih ada karakter-karakter dan kebiasaan-kebiasaan kami yang sama kayak waktu masih SMA. Tapi, perjalanan kita masih panjang. Dan
gue harap, kebersamaan ini nggak akan pernah hilang, selama-lamanya.
Selain itu, masih ada hikmah lain yang bisa gue
ambil dari masa SMA gue. Di SMA, gue nemuin temen-temen yang bener-bener temen. Nggak kayak
waktu SMP. Kalo waktu SMP kan anak-anaknya se
ngak-sengak, dan sok elit gitu lah. Gue nggak suka.
Apalagi mereka suka nge-judge seseorang duluan
sebelom ngenal bener-bener. Tapi, di SMA, gue belajar kalo kita temenan sama seseorang, nggak boleh pake syarat. Mesti tulus, setulus-tulusnya. Mesti

322

Mint Chocolate Chips

nerima segala kelebihan yang dia punya, dan menerima kekurangannya. Karena gue tau, nggak ada
orang yang sempurna. Yah, betapa wonderful-nya
temen-temen gue! Senarsis-narsisnya Yoga, sega
lak-galaknya Reva, sengocol-ngocolnya Tama, seplayboy-playboy-nya Kiffi, secentil-centilnya Daina
dan secerewet-secerewetnya Eci, nggak pernah ada
yang mempermasalahkan hal itu. Nggak ada satupun
yang masalahin kekurangan gue, walaupun gue senyebelin apapun, mereka nerima. Gue bener-bener
butuh temen yang kayak gitu sejak dulu, dan gue
nemuinnya waktu SMA! Telat mungkin, tapi paling
nggak, gue tetep happy. Dan punya sahabat-sahabat
yang baik. Yang ngertiin kekurangan dan kelebihan
gue, temenan ama gue nggak pake syarat!
Hari esok masih menanti kita. Masa depan udah
nungguin gue. Udah banyak orang-orang yang datang
dan pergi di hidup gue. Tapi, gue yakin, sahabat-sahabat guelah yang pernah dan akan selalu ada di hati
gue. Buktinya, waktu juga kan yang mempertemukan
kita?

Mint Chocolate Chips

323

ENDNOTES !
1

Memuja dan mencintai diri sendiri

Masa Orientasi Siswa. Disingkat MOS.

Mengganja

Preman

Sedikit

Thank You by Simple Plan. Taken from Still Not


Getting Any

Kalo nggak tau isinya, ambil handphone dan ketik


sendiri

Nemtek

Muka pengen = MUPENK

10

Hubungan Tanpa Status

11

Me Against The World by Simple Plan. Taken


from Still Not Getting Any

12

Join Bareng / Join Boy

13

Im Just A Kid by Simple Plan. Taken from No


Pads, No Helmets, Just Balls.

14

Mensponsori dengan cara memberikan produk


(pakaian)

15

Diambil berdasarkan kisah nyata

16

allroundjakarta_dj@radioanakmuda.com

324
17

Mint Chocolate Chips

Everytime by Simple Plan. Taken from Still Not


Getting Any.

18

Rp5.000,-

19

Pewe = PW = Posisi Wuenakkk!

20

Handcuff = Handband

21

Nama angkatannya Acya cs.

22

Id Do Anything by Simple Plan. Taken from No


Pads, No Helmets, Just Balls.

23

Love Song by 311. Taken From OST 50 First


Dates.

24

Asisten Dokter

25

Over-dosis

26

Australia.

Mint Chocolate Chips

325

326

Mint Chocolate Chips

Mint Chocolate Chips

327

328

Mint Chocolate Chips

Dear Readers,
Sebelum Kamu membeli buku ini, sebaiknya periksa dulu kelengkapan buku ini :
* Jumlah Halaman
* Apakah ada halaman terbalik?
* Cetakan tidak terbaca
* Halaman yang terlepas dari buku.
Apabila Kamu menemukan kesalahan-kesalahan di
atas, silahkan hubungi kami :
Terrant Books
Jln. Cimahi No. 628 Blok M Cinere Depok
Telp : (021) 754-1329
Fax : (021) 754-5772
Dan Kamu dapat menukarkan buku Kamu dengan yang baru. Jadi
telitilah sebelum membeli. Semoga Kamu dapat menikmati buku
ini. Selain itu kami juga memberikan batasan usia pada setiap buku
terbitan kami dengan slogan Lit Alert! dengan begitu Kamu bisa
memilih buku apa yang cocok dengan usiamu.

Semua umur

Selamat Membaca,
Terrant Books

Remaja

Dewasa