Anda di halaman 1dari 52

DRAFT MATERI MUSYAWARAH NASIONAL

BADAN PENGELOLA LATIHAN PENGURUS BESAR HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM


(BPL PB HMI)

12 15 Dzulhijjah1434 H/17 20 Oktober 2013

Desa Wisata Cihanjawar, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat

Daftar Isi
1. Daftar Isi
2. Bagian Pertama, Penjelasan Tema Munas BPL PB HMI II
3. Bagian Kedua, Agenda Acara Munas BPL PB HMI II
4. Bagian Ketiga, Tata Tertib Munas BPL PB HMI II
5. Bagian Keempat, Pola Pembinaan Pengelola Latihan
6. Bagian Kelima, Penilaian Aktivitas
7. Bagian Ketujuh, Petunjuk Pengisian Form Penilaian Aktivitas
8. Bagian Kedelapan, Pedoman Dasar BPL PB HMI
9. Bagian Kesembilan, Tata Kerja BPL PB HMI
10. Bagian Kesepuluh, Kode Etik Pengelolaan Latihan
11. Bagian Kesebelas, Tata Tertib Pemilihan Formatur BPL PB HMI Periode 2012 - 2014

PENJELASAN
TEMA MUNAS BPL PB HMI KE-II
HMI adalah organisasi pengkaderan, artinya HMI adalah wadah pencetak kader bangsa yang
berkualitas, mempunyai sumbangsih yang nyata terhadap bangsanya, seimbang dan terpadu antara
pemenuhan tugas duniawi dan ukhrawi. HMI mencetak kader yang dibutuhkan oleh bangsa ini.
Bagaimana seharusnya peran HMI dalam mencetak kadernya?
Tujuan HMI telah terumus dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangganya (AD/ART)
yaitu: terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab
atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT.
Dengan rumusan tersebut pada hakekatnya seharusnya pola pengkaderan di HMI mampu
menciptakan/meningkatkan spiritualitas dan intelektualitas para kadernya. HMI pada hekekatnya bukan
sekedar organisasi massa dalam pengertian fisik maupun kuantitatif saja, tetapi sebaliknya HMI secara
kualitatif merupakan lembaga pengabdian dan pengembangan ide, bakat-potensi yang mendidik,
memimpin dan membimbing anggota-anggotanya mencapai tujuan dengan cara-cara perjuangan yang
benar dan efektif. Tidak bisa dipungkiri, begitu besar kontribusi HMI terhadap Bangsa dan Negara
Indonesia. Hal ini terlihat dari peran serta secara aktif para alumni dan aktivis HMI untuk berjuang
bersama-sama dalam membangun negeri ini.
Perkembangannya,Dinamika perkaderan HMI telah mengalami degradasi hingga dititik nadzir,
oleh karena itu harus dibangkitkan kembali. Proses Recoveri harus diwujudkan dalam perkaderan
HMI.Pada awalnya proses perkaderan HMI hanyalah bersifat informal, seperti kajian dan diskusi para
mahasiswa hingga tahun 60-an, dan hal inilah menjadi cikal bakal budaya intelektualitas di HMI.Hingga
pada kepemimpinan Ismail Hasan Metarium mulai memikirkan untuk bagaimana mengadakan
pelatihan formal dan berjenjang dalam rangka mewujudkan insan muslim intelektual. Dari kajian
perkaderan, seminar hingga lokakarya perkaderan diadakanya, dan baru tahun 70-an ketika HMI
dipimpin Cak Nur mampu mewujudkan jenjang training formal di HMI.
Degradasi perkaderan ini bisa ditinjau dari kompleksitas permasalahan di internal HMI yang
cenderung mengarah pada perpecahan dan kemunduran, proses rekruitmen anggota yang serabutan,
proses kaderisasi yang kurang ideal dan out put yang kebanyakan hanya berorientasi pada dunia
politik. Tentunya hal ini telah membuat penurunan kualitas kader-kader HMI dari tahun ke tahun.
Sehingga pada awal tahun 2000-an dibentuklah kelembagaan yang secara mandiri diharapkan mampu
mencetak instruktur-instruktur handal untuk mengelola training yang berkualitas dan mampu menjaga
ritme perkaderan informal (cultural) di HMI, yaitu BADAN PENGELOLA LATIHAN (BPL) HMI. BPL
berdiri ditahun 2007, menggantikan BADAN KOORDINASI NASIONAL LEMBAGA PENGELOLA
LATIHAN (BAKORNAS LPL) PB HMI.

Oleh karena itu, Untuk keluar dari keterpurukan ini, maka diperlukan sosok instruktur/pendidik
yang berkualitas; kualitas muslim yang kaffah, memiliki intelektual tinggi, kemampuan profesionalitas
yang handal, dan jiwa kemandirian yang kokoh. Sedangkan secara kelembagaan, BPL HMI harus
seksi dan lincah dalam bergerak, agar mampu untuk menjalankan organisasi secara maksimal, berlari
cepat dari keterpurukan perkaderan selama ini menuju masa kebangkitan kembali perkaderan HMI
untuk menyongsong masa kejayaan HMI yang kedua, dan mampu menyongsong masa keemasan
bangsa Indonesia ditahun 2030, juga menjadi pelopor diera kontemporer ini.
Recovery Perkaderan HMI sudah selayaknya kita kaji kembali untuk mendapatkan sebuah
konsep dan system perkaderan terbarukan, untuk menjawab tantangan globalisasi dan menyongsong
masa keemasan Indonesia 2030. Sehingga perkaderan HMI dalam mencetak kepemimpinan pun harus
diorientasikan untuk mencetak pemimpin yang bernafaskan Islam, memiliki intelektualitas yang
konsisten dan bisa dipertanggung jawabkan, memiliki kemampuan profesionalitas yang handal dalam
segala bidang, dan berjiwa mandiri. Sehingga mampu terwujud tujuan perkaderan itu sendiri yaitu :
MUSLIM INTELEKTUAL PROFESIONAL MANDIRI.
Mengevaluasi diri secara terlembaga adalah sikap yang paling elegan untuk mengawali
perbaikan. Sistem perkaderan di HMI yang memproses anggotanya melewati berbagai jenjang
kepemimpinan organisasi mulai dari komisariat, cabang, badko hingga pengurus besar sudah saatnya
melakukan upaya penyegaran kembali (refreshment) mengingat stigma tertua dan terbesar yang
melekat pada HMI dalam peta gerakan mahasiswa secara nasional. HMI saat ini harus bisa melihat
fenomena-fenomena kepemimpinan yang berkembang, baik mulai konteks local, nasional maupun
internasional.Sebagai organisasi kader, HMI sudah seyogyanya melakukan rekonstruksi kepemimpinan
kader dalam hal mempersiapkan kepemimpinan bangsa kedepan. Makanya melalui jenjang training
formal, mulai bassic training, intermediate training dan advance training dimana ketiganya terintegrasi
dalam satu proses kaderisasi kepemimpinan untuk melahirkan kader umat kader bangsa.

******

AGENDA ACARA MUNAS BPL PB HMI KE II

Hari/tgl
Kamis/
Oktober
2013

Jumat/18
Oktober
2013

Waktu
17 08.00
19.00

Agenda

Lokasi

Registrasi peserta

PB HMI

19.00
22.00

Pemberangkatan peserta ke Purwakarta

PB HMI

22.00
09.00

Istirahat

09.00
11.30

Pembukaan :
1. Pembacaan Al-Quran

Pendopo
Bupati
Purwakarta

2. Menyanyikan Lagu Indonesia Raya, hymne HMI dan


mars BPL
3. Laporan Ketua Panitia Pelaksana
4. Sambutan-sambutan
a) Sambutan Ketua Umum BPL PB HMI
b) Sambutan Ketua Umum PB HMI
c) Sambutan Koordinator Presidium KAHMI
Jabar/Bupati Purwakarta sekaligus membuka Acara
d) Pemberian piagam penghargaan pada para Ketua
Umum BPL PBHMI dari periode ke periode atas
pengabdian pada perkaderan HMI.
e) Doa dan Penutup
5. Studium general dengan tema Membangun spirit
enterpreneurship para kader HMI sebagai penopang
kemandirian dan kemakmuran umat dan bangsa.
key note speaker :
DR. A. Nasir Biasane
11.30 13.30

ISHOMA

13.30 17.00

Seminar Perkaderan Re-covery perkaderan HMI


dalam rangka menyongsong masa ke-emas-an
Indonesia dikancah internasional
Keynote Speaker :
1. Kanda DR. Ir. Abdullah Hehamahua

aula

2. Kanda Arip Mustofa


19.30
23.30

Seminar perkaderan dengan tema Membedah

aula

Pola Pembinaan Instruktur BPL


Oleh :
3. Kanda Encep A. Hanif
4. Kanda Marbawi A. Katon

Sabtu/19
Oktober
2013

08.00
12.00

Musyawarah Nasioanal I BPL PB HMI

Aula

Sidang Pleno I:
A. Pembahasan dan Pengesahan Agenda
Acara/Tata Tertib
B. Pemilihan Presidium Sidang.

13.30
16.30

Sidang Pleno II:


a) Penyampaian Laporan Pertanggungjawaban
Pengurus BPL PB HMI periode 2010-2013
b) Pembahasan dan pandangan umum Laporan
Pertanggungjawaban Pengurus BPL PB HMI periode
2010-2013
c) Pengesahan Laporan Pertanggungjawaban Pengurus
BPL PB HMI periode 2010-2013
b). Pernyataan Demisioner

16.30
19.30

Istirahat, Sholat, Makan

19.30
24.00

Sidang Pleno III


- Sidang komisi yang membahas:
a Pedoman Dasar, tata kerja dan Kode Etik Pengelola
Latihan
b Pola pembinaan instruktur BPL
c Program kerja Nasional BPL PBHMI dan Rekomendasi

Minggu,
Oktober

20 00.00
08.00

Istirahat, Sholat, Makan

Aula

2013
08.00

Lanjutan pleno III

Aula

12.00

- Sidang paripurna Hasil Sidang Komisi

12.00
13.30

Istirahat, sholat, makan

13.30
16.30

Sidang Pleno IV

Aula

a. Pembahasan tata tertib pemilihan


b. Penyampaian visi misi calon ketua umum
c. Pemilihan Formateur/Ketua Umum

16.30
19.00

Istirahat, sholat, makan

19.00
22.00

Penutupan MUNAS BPL PBHMI KE-III


b.

Pembacaan Al-Quran

c.

Menyanyikan Lagu Indonesia Raya dan Himne


HMIdan mars BPL

d.

Laporan Ketua Panitia Pelaksana

e.

Sambutan-sambutan
-

Sambutan Ketua Umum BPL PB


HMIdomesioner

Sambutan formateur/ketua umum BPL PBHMI


terpilih

Sambutan Ketua Umum PB HMI Sambutan


sekaligus menutup Acara

6. Doa dan Penutup


7. Ramah tamah

*****

Aula

TATA TERTIB MUNAS I BPL PB HMI


a. Nama
MUNAS BPL PB HMI
b. Waktu dan Tempat
MUNAS I BPL PB HMI dilaksanakan pada tanggal 29 Oktober 2010 sampai dengan tanggal 31
Oktober 2010, bertempat di Graha Insan Cita, Depok
c. Status
1. Munas merupakan musyawarah utusan BPL HMI Cabang, masing-masing BPL HMI Cabang diwakili
oleh 1 (satu) orang.
2. Munas memegang kekuasaan tertinggi Organisasi
3. Munas diadakan 2 (dua) tahun sekali
d. Kekuasaan
1. Meminta Laporan Pertanggungjawaban BPL PB HMI

2. Mengevaluasi Laporan Pertanggungjawaban BPL PB HMI, setelah Laporan Pertanggungjawaban


dievaluasi oleh peserta Munas, pengurus BPL PB HMI dinyatakan demisioner.
3. Memilih pengurus BPL PB HMI dengan jalan memilih 3 (tiga) orang calon Ketua Umum/Formatur
yang akan diajukan pada Pengurus Besar HMI untuk ditetapkan salah satunya sebagai Ketua
Umum/Formatur terpilih, secara otomatis 2 (dua) calon lainnya ditetapkan sebagai mide formatur.
4. Membahas dan menetapkan Pedoman Dasar BPL HMI
5. Membahas dan menetapkan Tata Kerja BPL HMI
6. Membahas dan menetapkan Pola Pembinaan Pengelola Latihan
7. Membahas dan menetapkan program kerja BPL PB HMI
8. Memberikan arah kebijakan atau kegiatan khusus yang harus diambil pada periode selanjutnya
(rekomendasi), baik sifatnya ke dalam ataupun ke luar.
e. Peserta
1. Peserta Munas terdiri dari utusan-utusan BPL HMI Cabang yang masing-masing diwakili oleh 1
(satu) orang sebagai peserta utusan, seluruh fungsionaris BPL PB HMI, serta undangan sebagai
peserta peninjau.
2. Jumlah peserta peninjau ditentukan oleh BPL PB HMI
3. Peserta Utusan adalah BPL HMI Cabang Se-Indonesia yang mempunyai Hak suara dan Hak bicara
4. Peserta peninjau mempunyai hak bicara
f. Sidang-Sidang
1. Sidang Pleno
g. Pimpinan Sidang
1. Steering Committee sampai terpilihnya pimpinan sidang yang baru yang berbentuk presidium
2. Presidium Sidang yang dipilih dari peserta utusan atau peninjau oleh peserta utusan, dengan
ketentuan sebanyak 3 orang, yang masing-masing dipilih dari peserta Munas
h. Tugas-Tugas Pimpinan Sidang
1. Steering Committee
_ Memimpin Sidang Pleno Munas BPL PB HMI sampai terpilihnya Presidium Sidang

_ Membantu tugas-tugas Presidium Sidang


_ Menyiapkan Draft ketetapan-ketetapan/ Konsideran Munas BPL PB HMI
_ Mengarahkan jalannya persidangan selama Munas BPL PB HMI
2. Presidium Sidang
_ Memimpin Sidang Pleno Munas BPL PB HMI
i. Keputusan
1. Keputusan diambil berdasarkan musyawarah untuk mufakat
2. Bila point 1 (satu) tidak tercapai, maka keputusan diambil berdasarkan suara terbanyak atau voting
j. Quorum
1. Munas BPL PB HMI dapat dinyatakan sah apabila dihadiri oleh lebih + 1 separuh jumlah utusan
2. Bila Point 1 (satu) tidak terpenuhi maka sidang Munas BPL PB HMI diundur selama 1 x 60 menit dan
setelah itu dinyatakan sah
k. Penutup
Hal-hal yang belum diatur dalam ketentuan Tata Tertib ini akan diatur kemudian berdasarkan
musyawarah dan mufakat

******
POLA PEMBINAAN PENGELOLA LATIHAN
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM

BAB I
PENDAHULUAN

A. Pengertian
HMI berfungsi sebagai organisasi perkaderan (pasal 8 AD HMI). Dari fungsi tersebut dapat
diketahui bahwa jantung organisasi adalah perkaderan. Output perkaderan yang berkualitas dihasilkan
oleh proses perkaderan yang berkualitas pula. Untuk menghasilkan proses perkaderan yang
berkualitas diperlukan sistem yang dirancang sedemikian rupa sesuai dengan kondisi organisasi dan

kebutuhannya. Selain sistem yang baik, dibutuhkan sumberdaya manusia yang handal dalam
mengimplementasikan sistem. Untuk mencetak kader-kader yang handal dalam perkaderan perlu
dibuat suatu pola pembinaan yang standar, sebagai bentuk standarisasi pengelola latihan.
Pola Pembinaan Pengelola Latihan pada dasarnya merupakan acuan yang digunakan untuk
melaksanakan dan menerapkan secara proporsional dan profesional aktifitas serta kreatifitas kader
dengan pola pembinaan terpadu.
Model pembinaan yang dikembangkan oleh Badan Pengelola Latihan Himpunan Mahasiswa
Islam (BPL HMI) disusun secara sadar, berkesinambungan, sistematis, dan progresif dalam rangka
penataan diberbagai ruang lingkup kelembagaan.
Pola pembinaan diarahkan dengan tiga bentuk operasional yakni model formal (pendidikan),
informal (aktivitas) dan model non formal (jaringan kerja / Net Work).
B. Maksud dan Tujuan
Maksud dan tujuan disusunnya Pola Pembinaan Pengelola Latihan agar seluruh upaya yang
dilakukan dalam pembinaan anggota BPL HMI selalu dalam kerangka kesadaran ke-Illahian,
sistematis, berkesinambungan dan sarat akan pertanggungjawaban. Dalam upaya pencapaian tujuan
ini kondisi-kondisi yang diharapkan dapat terwujud adalah peningkatan kualitas dan kuantitas anggota,
sikap dan konsisten terhadap perjuangan, tetap ada regenerasi kepemimpinan dan kesinambungan
aktifitas atas perjuangan serta profesionalisme komunal (kelembagaan).
C. Fungsi
1. Pola Pembinaan Pengelola Latihan berfungsi sebagai penuntun dan pegangan dalam
melaksanakan seluruh kegiatan-kegiatan BPL HMI, sehingga tetap mengarah kepada pencapaian
tujuan.
2. Pola Pembinaan Pengelola Latihan juga berfungsi sebagai parameter keberhasilan seluruh
aktifitas.
BAB II
STRATEGI PEMBINAAN
Strategi pembinaan pengelola latihan pada dasarnya adalah fungsionalisasi tugas dan peran
BPL HMI dalam pembentukan perkaderan yang berkualitas. Strategi ini sejalan dengan visi, misi, dan
tujuan organisatoris.
Implementasi strategi pembinaan ini ditujukan untuk meraih dan
mempertahankan keunggulan kompetitif, dengan kata lain strategi pembinaan merupakan suatu
strategi kompetitif HMI dalam menghadapi kebutuhan organisasional. Strategi ini diharapkan dapat
mendorong inovasi dan peningkatan kualitas perkaderan.
Strategi yang dilakukan meliputi :
1. Strategi rekrutmen dan seleksi
Strategi yang dilakukan adalah dengan pendekatan need assessment dengan menggunakan
analisis kebutuhan organisasional, analisis kebutuhan personalia, dan analisis pekerjaan. Dalam
melakukan rekrutmen hal yang harus diperhatikan adalah pemerataan sumberdaya. Rekrutmen
dilakukan melalui proses pelatihan yang dinamakan Pelatihan untuk Pelatih tingkat Dasar (Basic
Training for Trainer). Untuk mendapatkan bahan baku yang berkualitas, seleksi merupakan suatu
kemestian. Seleksi yang dilakukan meliputi tes potensi akademik, tes skolastik, metode
penyampaian, tes ke-HMI-an, dan tes ke-Islaman, kemahasiswaan serta ke-Indonesiaan. Tes
dilakukan secara tertulis dan wawancara. Soal dan kisi-kisinya dibuat oleh BPL PB HMI
2. Strategi perencanaan sumberdaya manusia
Strategi yang dilakukan adalah dengan maping kebutuhan meliputi kebutuhan organisasi,
kebutuhan kerja/aktivitas, dan kebutuhan personalia. Untuk mendukung perencanaan sumberdaya
manusia ini, maka harus didukung oleh Sistem Informasi Sumberdaya Manusia (SISDM) yang

akurat, efektif, dan efisien. BPL PB HMI bertanggung jawab atas tersusunnya rencana SDM ini,
dan membangun SISDM yang mampu diakses oleh seluruh elemen HMI. SISDM yang dibangun
berbasis Teknologi dan Informasi yang akurat, minimal memuat informasi instruktur serta penilaian
kuantitatif dan kualitatifnya.
3. Strategi pelatihan dan pengembangan
Pelatihan merupakan penciptaan suatu lingkungan dimana orang/anggota dapat memperoleh atau
mempelajari sikap, kemampuan, keahlian, pengetahuan, dan perilaku yang spesifik yang berkaitan
dengan tugas organisasional. Ada perbedaan yang cukup mendasar antara pelatihan dan
pengembangan, jika pelatihan diarahkan untuk membantu orang untuk melaksanakan tugas
organisasi secara lebih baik, sedangkan pengembangan lebih diarahkan pada investasi yang
berorientasi ke masa depan dalam diri masing-masing individu. Pelatihan adalah serangkaian
aktivitas yang dirancang untuk meningkatkan keahlian-keahlian, pengetahuan, pengalaman, atau
perubahan sikap seorang individu, sedangkan pengembangan diartikan sebagai penyiapan
individu untuk memikul tanggung jawab yang berbeda atau yang lebih tinggi dalam organisasi.
Aktivitas pelatihan yang dilakukan guna memenuhi kebutuhan organisasional yang menerapkan
pola pelatihan berjenjang, sejalan dengan kebijakan tersebut dalam pola pembinaan pengelola
latihan pun menggunakan pola yang berjenjang pula. Latihan yang dilakukan meliputi :
a. Pelatihan untuk Pelatih tingkat Dasar
b. Pelatihan untuk Pelatih tingkat Menengah
c. Pelatihan untuk Pelatih tingkat Lanjut
d. Pelatihan untuk Pelatih Profesional
Selain aktivitas pelatihan, untuk meningkatkan kuliatas SDM instruktur dilakukan pula aktivitas
pengembangan meliputi follow up/up grading, aktivitas, dan pembuatan karya.
4. Strategi penilaian aktivitas
Untuk melihat perkembangan kualitas instruktur dari masa ke masa, maka diperlukan suatu sistem
penilaian aktivitas yang accountable, dimana penilaian yang dilakukan merupakan penilaian yang
obyektif dan terukur. Penilaian yang dilakukan meliputi seluruh aktivitas pengembangan. Format
instrumen evaluasi yang digunakan adalah Graphic Rating Scale yang dipadukan dengan beban
kredit tertentu.
5. Strategi Kompensasi
Motivasi pengelola latihan untuk terus berkiprah di BPL HMI dan mengembangkan kualitasnya
sangat tergantung pada kompensasi yang diberikan kepada yang bersangkutan. Dengan
pemikiran tersebut, maka harus dirancang strategi reward and punishment sedemikian rupa yang
mampu memotivasinya. Penghargaan dan sanksi yang dapat diberikan adalah hak untuk ikut
pelatihan selanjutnya dan/atau kegiatan yang sifatnya profit oriented, duduk di jabatan struktural
Badiklat HMI serta larangan untuk ikut. Pemberian kompensasi didasarkan atas penilaian aktivitas
terhadap yang bersangkutan.

BAB III
KUALIFIKASI PENGELOLA LATIHAN
Pengelola latihan terdiri dari 4 jenis yang didasarkan atas kualitas dan jam terbang dengan
ketentuan sebagai berikut :
1) Instruktur Muda

Instruktur muda adalah anggota HMI yang telah mengikuti Pelatihan untuk Pelatih tingkat Dasar.
Instruktur muda berhak menjadi SC, tim rekam proses, dan asisten instruktur pada LK I.
2) Instruktur Madya
Instruktur madya adalah anggota BPL HMI yang telah mengikuti Pelatihan untuk Pelatih tingkat
Menengah. Instruktur madya memiliki hak yang sama dengan instruktur muda, dan menjadi
instruktur LK I, SC, asisten instruktur pada LK II, MOT pada LK I.
3) Instruktur
Instruktur adalah anggota BPL HMI yang telah mengikuti Pelatihan untuk Pelatih tingkat Lanjut.
Instruktur memiliki hak yang sama dengan instruktur madya, dan menjadi instruktur/MOT LK II,
serta berhak mengelola/terlibat dalam training yang sifatnya profit oriented, serta dipilih menjadi
pengurus BPL HMI Cabang atau Korwil.
4) Instruktur Utama
Instruktur utama adalah instruktur yang telah mengikuti LK III dan mendapatkan point 148, serta
IP 3,00. Instruktur utama memiliki hak yang sama dengan instruktur, menjadi instruktur/MOT LK
III, dan dipilih menjadi pengurus BPL PB HMI.
BAB IV
PELAKSANAAN
POLA PEMBINAAN
A. Formal
Model pembinaan yang dilakukan oleh BPL HMI adalah pelatihan yang sifatnya memberikan
pengetahuan dan keahlian pada para pengelola latihan mengenai masalah pertrainingan. Seluruh
pelatihan ini dilaksanakan oleh BPL HMI secara mandiri sesuai dengan peruntukannya.
1. Pelatihan untuk Pelatih tingkat Dasar
Tujuan
:
Terciptanya sumberdaya pengajar yang memiliki kualitas akademis, dan kemampuan memberikan
materi, serta mampu menjadikan diri sebagai teladan yang baik.
Target
:
- Mengetahui filosofi pendidikan/perkaderan
- Mengetahui teknik perencanaan materi
- Mengetahui metode-metode pengajaran
- Mengetahui teknik evaluasi peserta
Waktu
72 Jam

Kurikulum :
1 Pendalaman NDP
Pendalaman Dasar-Dasar Kepercayaan
Pendalaman Hakikat Manusia (dasar-dasar kemanusiaan)
Ikhtiar dan Takdir
2. Pengantar Filsafat Pendidikan
Pengertian pendidikan
Tugas dan fungsi pendidikan
Manusia dan proses pendidikan
3. Pengantar Psikologi Pendidikan

4. Didaktik Metodik
Pengertian didaktik metodik
Bentuk, gaya, dan alat pengajaran
Metode pengajaran
5. Perencanaan Pengajaran
Pengertian pengajaran
Tujuan pengajaran
Penyusunan session design/teaching plan
6. Evaluasi
Pengertian, tujuan, dan fungsi evaluasi
Teknik, prosedur, dan alat evaluasi peserta
7. Praktek Pengajaran
Syarat :
- Telah lulus LK I
- Telah selesai mengikuti follow up/up grading pasca LK I
- Memiliki minat untuk menjadi pengelola latihan
- Lulus screening
2. Pelatihan untuk Pelatih tingkat Menengah
Tujuan
:
Terciptanya sumberdaya pengelola Latihan Kader I yang memiliki kemampuan mengelola LK I
secara baik dan benar, serta mampu menjadikan diri sebagai teladan yang baik.
Target
:
- Mengetahui manajemen pengelolaan LK I
- Menguasai seluruh materi LK I
- Mengetahui teknik penilaian peserta
Waktu
48 Jam

Kurikulum :
1. Pendalaman Materi LK I (Non NDP)
Sejarah Perjuangan HMI
Konstitusi HMI
Misi HMI
Kepemimpinan, Manajemen, dan Organisasi
2. Perencanaan Pelatihan
2.1
Pengertian pelatihan
2.2
Penilaian kebutuhan
2.3
Perencanaan kurikulum pelatihan
3. Teknik Pengelolaan Pelatihan
4. Teknik Penilaian Peserta
4.1
Pengertian penilaian
4.2
Teknik, prosesdur, dan alat penilaian peserta
5. Evaluasi Pelatihan
5.1
Pengertian, tujuan, dan fungsi evaluasi
5.2
Pelaporan dan evaluasi pelatihan
6. Praktek

Syarat :
- Instruktur Muda yang telah memiliki point 144 dan IPK 2,50
- Telah mengikuti LK II
- Lulus screening
3. Pelatihan untuk Pelatih tingkat Lanjut
Tujuan
:
Terciptanya sumberdaya pengelola Latihan Kader II yang memiliki kemampuan mengelola LK II
secara baik dan benar, serta mampu menjadikan diri sebagai teladan yang baik.
Target
:
- Mengetahui manajemen pengelolaan LK II
- Menguasai seluruh materi LK II
Waktu
36 Jam

Kurikulum :
1. Pendalaman Materi LK II
Pendalaman NDP
Pendalaman Misi HMI
Teori-teori tentang Perubahan Sosial
Ideopolitor Stratak
Kepemimpinan, Manajemen dan Organisasi
2. Manajemen Pengelolaan Pelatihan
3. Evaluasi Pelatihan
Pengertian, tujuan, dan fungsi evaluasi
Pelaporan dan evaluasi pelatihan
4. Praktek
Syarat :
- Instruktur Madya yang telah memiliki point 144 dan IPK 2,75
- Lulus screening
4. Pelatihan untuk Pelatih Profesional
Tujuan
:
Terciptanya sumberdaya pengelola training profesional yang memiliki kemampuan mengelola
segala bentuk training secara baik dan benar, serta mampu menjadikan diri sebagai teladan yang
baik.
Target
:
- Mengetahui manajemen training
- Menguasai seluruh pola pengelolaan training
- Mengetahui seluruh materi LK III
- Mengetahui manajemen LK III
Waktu
60 Jam

Kurikulum :
1. Pendalaman Materi LK III
1.1 NDP 6,7,8
1.2 Wawasan Internasional
1.3 Mission HMI
1.4 Kepemimpinan dan Manajemen Organisasi (KMO)
2. Manajemen Pelatihan
1.1 Pengertian manajemen pelatihan
1.2 Perencanaan pelatihan
1.3 Pengelolaan pelatihan
1.4 Evaluasi pelatihan
3. Dasar-dasar Kurikulum
1.1 Pengertian kurikulum
1.2 Perencanaan kurikulum
1.3 Penyusunan kurikulum
4. Simulasi Pengelolaan Training
1.1 AMT/sejenis
1.2 Entrepreneurship Training
1.3 Leadership Training
1.4 Team Building Training
1.5 Problem Solving/Decision Making Training
1.6 Pelatihan Advokasi
1.7 Skill Training (Training untuk Keahlian Khusus)
Syarat :
- Instruktur yang telah memiliki point 148 dan IPK 3,00 dan Instruktur Utama
- Lulus screening
Untuk pelaksanaan pembinaan formal pengelola latihan akan dijelaskan dalam petunjuk pelaksanaan
dan/atau modul pelatihan.
B. INFORMAL
Model pembinaan pengelola latihan yang dilakukan oleh BPL HMI menggunakan pola peningkatan
kualitas yang didasarkan pada aktivitas pengelola pelatihan. Pembinaan informal ini secara praksis
merupakan proses untuk melakukan penilaian kinerja pengelola latihan.
Aktivitas yang dilakukan dalam rangka pembinaan terhadap pembinaan pengelola latihan meliputi
aktivitas pribadi dan aktivitas kelompok atau organisasional, meliputi :
1) Follow up/up grading
2) Aktivitas pengajaran : menjadi unsur training, dll.
3) Aktivitas pembinaan kader : diskusi kader, dll.
4) Aktivitas intelektual : penulisan opini, dll.
C. NON FORMAL
Model pembinaan yang dilakukan adalah dengan memfasilitasi para pengelola latihan yang dianggap
potensial untuk melakukan aktivitas yang berada di luar wilayah HMI, tetapi masih berkaitan dengan
profesionalisme pengelola latihan. Aktivitas yang mungkin bisa dilakukan adalah magang di lembaga-

lembaga pelatihan, ditugaskan untuk mengikuti pelatihan-pelatihan di luar HMI yang hasilnya dapat
diadopsi oleh HMI dalam rangka peningkatan kualitas pengelolaan training dalam perkaderan HMI.
BAB V
EVALUASI PELAKSANAAN
POLA PEMBINAAN
Untuk tercapainya keberhasilan pola pembinaan maka diperlukan suatu evaluasi terhadap pelaksanaan
pola pembinaan. Evaluasi ini dilakukan untuk mengetahui perkembangan dan digunakan untuk
merancang pola pembinaan selanjutnya yang lebih baik.
Evaluasi yang dilakukan meliputi :
1) Evaluasi terhadap sistem manajemen SDM
2) Evaluasi terhadap pelaksanaan pola pembinaan
3) Evaluasi terhadap pelaksana
Evaluasi ini dapat dipergunakan juga untuk memberikan reward and punishment terhadap para
pengelola latihan.
BAB V
PENUTUP
Pembinaan Pengelola Latihan sebagai upaya untuk mencapai kader kualified yang menjadi
tujuan HMI, dan benar-benar akan terwujud apabila terdapat kesadaran (amanah), keterlibatan aktif,
dan sikap mental yang teguh (militan) para pengawal perkaderan.

******

FORM PA-1
FORMULIR AKTIVITAS
PENGELOLA LATIHAN

Nama

No. Anggota

Kualifikasi *)

Cabang

Instruktur Muda
Instruktur Madya
Instruktur
Instruktur Utama

No.

Aktivitas

Nilai

HM

Kredit

AM

Point

Tanggal,
TTD & Nama
Penilai

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

TOTAL POINT

*) Coret yang tidak perlu


Dapat diperbanyak sesuai kebutuhan

FORM PA-2
FORMULIR PENILAIAN AKTIVITAS
PENGELOLA LATIHAN
Nama

No. Anggota

Kualifikasi

: Instruktur Muda

No.

Aktivitas

Cabang

Jumlah

Nilai

HM

Kredit

Bobot
1.

AM

BxJ

Follow Up/Up Grade


- Diskusi Pendalaman Materi

70

Point

- Simulasi Keinstrukturan
- Diskusi Pendalaman NDP

70

2.

Penugasan sebagai Steering Committee


LK I

76

3.

Penugasan sebagai tim rekam proses


pada LK I

4.

Penugasan sebagai asisten instruktur


pada LK I

5.

Pembinaan di Komisariat
- Mengadakan diskusi komisariat

76

- Memberikan materi :

6.

a. Maperca/MOP/sejenis

b. Follow up LK I

c. Acara pelatihan Kampus

d. Acara pelatihan lain

Aktvitas lain :
- Memberi materi TPA/Bimbel/dll

76

- Membuat resume buku

- Diskusi kajian tertentu


7.

76

- Media HMI Komisariat

76

- Media HMI Cabang

76

- Media HMI Nasional

76

- Media local

76

- Media nasional

76

Aktivitas penulisan :

- Makalah/opini lepas

TOTAL

KREDIT

POINT

INDEKS PRESTASI

__________________, ___________ 200

Mengetahui,
Pengurus Badan Pengelola Latihan

HMI Cabang _________________

__________________________________

FORM PA-3

FORMULIR PENILAIAN AKTIVITAS


PENGELOLA LATIHAN

Nama

No. Anggota

Kualifikasi

: Instruktur Madya

No.

Aktivitas

Cabang

Jumlah

Nilai

HM

Kredit

Bobot
1.

Follow Up/Up Grade

AM

BxJ

Point

- Diskusi Pendalaman Materi

70

- Diskusi Pendalaman NDP

65

2.

Penugasan sebagai Steering Committee


LK II

70

3.

Penugasan sebagai tim rekam proses


pada LK II

4.

Penugasan sebagai instruktur pada LK I

5.

Penugasan sebagai asisten instruktur LK


II/MOT LK I

6.

Pembinaan di Cabang

- Simulasi Kepemanduan

- Mengadakan diskusi
Cabang/Badiklatda
70

- Memberikan materi :

7.

8.

a. Maperca/MOP/sejenis

b. Follow up LK I

c. Acara pelatihan Kampus

d. Acara pelatihan lain

Aktvitas lain :
- Membuat bahan bacaan LK I

- Membuat resume buku

- Membuat media LK I

- Membuat teaching plan

Aktivitas penulisan :
- Media HMI Komisariat

76

- Media HMI Cabang

76

- Media HMI Nasional

76

- Media lokal

76

- Media nasional

76

- Makalah/opini lepas

TOTAL

INDEKS PRESTASI

KREDIT

POINT

__________________, ___________ 200

Mengetahui,
Pengurus Badan Pengelola Latihan
HMI Cabang _________________

__________________________________

FORM PA-4
FORMULIR PENILAIAN AKTIVITAS
PENGELOLA LATIHAN
Nama

No. Anggota

Kualifikasi

: Instruktur

No.

Aktivitas

Cabang

Jumlah

Nilai

HM

Kredit

AM

Point

Bobot
1.

BxJ

Follow Up/Up Grade


- Diskusi Pendalaman Materi

70

2.

Penugasan sebagai instruktur atau MOT


pada LK I

65

3.

Penugasan sebagai instruktur pada LK II

4.

Penugasan sebagai Master of Training


LK II

5.

Mengelola pelatihan lain

6.

Pembinaan di Cabang
Memberikan materi :

7.

a. Follow up LK II

b. Acara pelatihan Kampus

c. Acara pelatihan lain

Aktvitas lain :
- Membuat teaching plan LK II

- Membuat bahan bacaan LK II

- Membuat media training LK II

- Pembinaan thd Yunior


8.

75

- Media HMI Komisariat

76

- Media HMI Cabang

76

- Media HMI Nasional

76

- Media lokal

76

- Media nasional

76

Aktivitas penulisan :

- Makalah/opini lepas

TOTAL

KREDIT

POINT

INDEKS PRESTASI

__________________, ___________ 200

Mengetahui,

Pengurus BadanPengelola Latihan


HMI Cabang ___________________

__________________________________

*****

PETUNJUK PENGISIAN FORM PA-1


Form PA-1 merupakan form yang harus dimiliki oleh setiap pengelola latihan, kecuali yang telah memenuhi
kualifikasi Instruktur Utama. Form ini dapat diperbanyak sesuai kebutuhan (banyaknya aktivitas yang dilakukan),
ini dapat dijadikan alat bukti untuk cek lapang.

1.
2.
3.
4.

Nama diisi berdasarkan nama yang bersangkutan


No. Anggota diisi sesuai dengan nomor yang diberikan oleh BPL PB HMI
Kualifikasi diisi sesuai dengan kualifikasi pengelola latihan yang bersangkutan
Cabang diisi nama cabang yang bersangkutan

5. Aktivitas diisi dengan nama aktivitas yang dilakukan sesuai dengan peruntukannya, aktivitas yang
dinilai merujuk pada Form PA-2, Form PA-3, dan Form PA-4.
a. Aktivitas yang dinilai bagi instruktur muda :
1) Follow up/up grade meliputi pendalaman materi, simulasi keinstrukturan, dan pendalaman
NDP. Sebutkan materi yang dibahas, penyelenggara dan tempat pelaksanaan.
2) Penugasan sebagai SC LK I. Sebutkan penyelenggara dan tempat pelaksanaan.
3) Penugasan sebagai tim rekam proses LK I. Sebutkan penyelenggara dan tempat
pelaksanaan, serta materi yang direkam.
4) Penugasan sebagai asisten instruktur pada LK I. Sebutkan nama materi, penyelenggara, dan
tempat pelaksanaan.
5) Pemberian materi dalam diskusi komisariat
6) Pemberian materi dalam Maperca/MOP/sejenis, follow up LK I, dan pelatihan lain di luar HMI.
Sebutkan kegiatan, penyelenggara, dan tempat pelaksanaan.
7) Pemberian materi bimbel/TPA/dll.
Sebutkan kegiatan, penyelenggara, dan tempat
pelaksanaan.
8) Pembuatan resume buku. Sebutkan judul buku, pengarang, penerbit, dan tahun terbit.
9) Mengikuti diskusi tertentu (aktivitas dinilai apabila yang bersangkutan menulis resume diskusi).
Sebutkan kegiatan, penyelenggara, dan tempat pelaksanaan.
10) Membuat tulisan di media massa (aktivitas dinilai apabila yang bersangkutan dapat
menunjukan bukti otentik).
b. Aktivitas yang dinilai bagi instruktur madya :
1) Follow up/up grade meliputi pendalaman materi, simulasi kepemanduan, dan pendalaman
NDP. Sebutkan materi yang dibahas, penyelenggara dan tempat pelaksanaan.
2) Penugasan sebagai SC LK II. Sebutkan tempat pelaksanaan.
3) Penugasan sebagai tim rekam proses LK II. Sebutkan tempat pelaksanaan, serta materi yang
direkam.
4) Penugasan sebagai instruktur LK I. Sebutkan penyelenggara, tempat pelaksanaan, dan
materi yang dibawakan.
5) Penugasan sebagai asisten instruktur LK II atau MOT LK I. Sebutkan penyelenggara, dan
tempat pelaksanaan dan atau materi yang dibawakan.
6) Pemberian materi dalam diskusi cabang/Badiklatda
7) Pemberian materi dalam Maperca/MOP/sejenis, follow up LK I, dan pelatihan lain di luar HMI.
Sebutkan kegiatan, penyelenggara, dan tempat pelaksanaan.
8) Pembuatan bahan bacaan LK I. Sebutkan materi.
9) Pembuatan media LK I. Sebutkan nama game/medianya dan untuk materi apa.
10) Pembuatan resume buku. Sebutkan judul buku, pengarang, penerbit, dan tahun terbit.
11) Pembuatan teaching plan/session design materi LK I. Sebutkan materi.
12) Membuat tulisan di media massa (aktivitas dinilai apabila yang bersangkutan dapat
menunjukan bukti otentik).
c. Aktivitas yang dinilai bagi instruktur :
1) Follow up/up grade pendalaman materi. Sebutkan materi yang dibahas, penyelenggara dan
tempat pelaksanaan.
2) Penugasan sebagai instruktur/MOT LK I. Sebutkan materi, penyelenggara, dan tempat
pelaksanaan.
3) Penugasan sebagai instruktur pada LK II. Sebutkan materi, dan tempat pelaksanaan.
4) Penugasan sebagai MOT LK II. Sebutkan tempat pelaksanaan.
5) Pengelolaan training lain. Sebutkan jenis training, penyelenggara, dan tempat pelaksanaan
6) Pemberian materi dalam follow up LK II, dan pelatihan lain di luar HMI. Sebutkan kegiatan,
penyelenggara, dan tempat pelaksanaan.
7) Pembuatan media LK II. Sebutkan nama game/medianya dan untuk materi apa.
8) Pembuatan bahan bacaan LK II. Sebutkan materi.
9) Pembuatan teaching plan/session design materi LK II. Sebutkan materi.

10) Pembinaan terhadap yunior, melalui acara formal.


11) Membuat tulisan di media massa (aktivitas dinilai apabila yang bersangkutan dapat
menunjukan bukti otentik).
6. Nilai diisi oleh pejabat yang berwenang dengan aturan untuk aktivitas :
a. 1) Nilai = 70
2) Nilai = 76
3) Nilai = 0 100 (aspek yang dinilai kelengkapan rekaman)
4) Nilai = 0 100 (aspek yang dinilai, penguasaan materi, pembangunan suasana, kesesuaian
dengan silabus)
5) Nilai = 76
6) Nilai = 0 100 (aspek yang dinilai, penguasaan materi, pembangunan suasana, kesesuaian
dengan silabus)
7) Nilai = 76
8) Nilai = 66 100 (aspek yang dinilai, sistematika berpikir, dan pengambilan kesimpulan)
9) Nilai = 76
10) Nilai = 76
b. 1) Nilai = 70 (khusus NDP Nilai = 65)
2) Nilai = 70
3) Nilai = 0 100 (aspek yang dinilai kelengkapan rekaman)
4) Nilai = 0 100 (aspek yang dinilai, penguasaan materi, pembangunan suasana, kesesuaian
dengan silabus, tingkat kepahaman peserta)
5) Nilai = 0 100 (aspek yang dinilai manajemen training, sd a.4.)
6) Nilai = 70
7) Nilai = 0 100 (aspek yang dinilai, penguasaan materi, pembangunan suasana, kesesuaian
dengan silabus)
8) Nilai = 0 100 (aspek yang dinilai, kesesuaian dengan silabus dan referensi yang up to date)
9) Nilai = 0 100 (aspek yang dinilai, kreativitas, aplikasi, tingkat keterkaitan dengan materi)
10) Nilai = 55 80 (aspek yang dinilai, sistematika berpikir, dan pengambilan kesimpulan)
11) Nilai = 0 100 (aspek yang dinilai, kesesuaian dengan silabus, aplikatif)
12) Nilai = 76
c. 1) Nilai = 70
2) Nilai = 65
3) Nilai = 0 100 (aspek yang dinilai, penguasaan materi, pembangunan suasana, kesesuaian
dengan silabus, tingkat kepahaman peserta)
4) Nilai = 0 100 (aspek yang dinilai manajemen training)
5) Nilai = 0 100 (aspek yang dinilai manajemen training)
6) Nilai = 0 100 (aspek yang dinilai, penguasaan materi, pembangunan suasana, kesesuaian
dengan silabus)
7) Nilai = 0 100 (aspek yang dinilai, kreativitas, aplikasi, tingkat keterkaitan dengan materi)
8) Nilai = 0 100 (aspek yang dinilai, kesesuaian dengan silabus dan referensi yang up to date)
9) Nilai = 0 100 (aspek yang dinilai, kesesuaian dengan silabus, aplikatif)
10) Nilai = 0 100 (aspek yang dinilai, peningkatan kemampuan yunior)
11) Nilai = 76
7. HM diisi huruf mutu, dengan ketentuan :
Nilai 76 A
Nilai 66 75 B
Nilai 56 65 C

Nilai 50 55 D
Nilai 49 E

8. Kredit diisi dengan bobot kredit aktivitas, sesuaikan dengan Form PA-2, PA-3, dan PA-4
9. AM diisi angka mutu, dengan ketentuan :
A4
B3
C2
D1
E0
10. Point diisi hasil perkalian antara kredit dengan angka mutu
11. Tanggal diisi oleh waktu penilaian
12. Penilai yang berhak memberikan penilaian adalah :

a)
b)
c)
d)
e)
f)

Follow up/up grade dinilai oleh presidium Badiklatda


Penugasan sebagai SC dinilai oleh presidium Badiklatda
Penugasan sebagai tim rekam proses dinilai oleh MOT LK yang bersangkutan
Penugasan sebagai asisten instruktur/instruktur dinilai oleh MOT LK yang bersangkutan
Penugasan sebagai MOT dinilai oleh presidium Badiklatda
Pemberian materi di komisariat/cabang dinilai oleh presidium komisariat/cabang yang
bersangkutan
g) Pemberian materi di luar HMI diberikan oleh pimpinan penyelenggara
h) Penilaian aktivitas pembuatan karya, teaching plan, resume diskusi, bahan bacaan, media
training dinilai oleh presidium Badiklatda
i) Penilaian aktivitas penulisan dinilai oleh presidium Badiklatda
PETUNJUK PENGISIAN FORM PA-2, PA-3, PA-4
Form ini merupakan hasil rekap dari Form PA-1, ditandatangani oleh Ketua Umum/Sekretaris Umum Badiklatda.

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.

Nama diisi berdasarkan nama yang bersangkutan


No. Anggota diisi sesuai dengan nomor yang diberikan oleh Badiklat HMI
Cabang diisi nama cabang yang bersangkutan
Jumlah diisi jumlah aktivitas yang dilakukan sesuai jenisnya
Nilai diisi nilai rerata untuk aktivitas sejenis
HM diisi huruf mutu (ketentuan s.d. form PA-1)
B x J diisi hasil perkalian bobot dengan jumlah
Point diisi hasil perkalian (B x J) dengan angka mutu (AM)
Total Kredit (TK) diisi (B x J)
Total Point (TP) diisi Point
Indeks Prestasi diisi hasil pembagian (TP) dengan (TK)

Catatan :
Jumlah aktivitas dapat tidak dimasukan semua, atau dipilih yang nilainya besar.

******

PEDOMAN DASAR
BADAN PENGELOLA LATIHAN
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM

PENDAHULUAN
Latihan kader pada hakikatnya merupakan bentuk perkaderan HMI yang berorientasi pada
pembentukan watak kepribadian, pola pikir, visi, orientasi serta berwawasan ke-HMI-an yang paling elementer.
Kedudukan dan peranan latihan ini adalah untuk meletakkan fundamen bagi setiap kader HMI yang dituntut siap
mengemban amanah dan tanggung jawab untuk membangun bangsa Indonesia di masa depan. Oleh karena itu
posisi latihan ini sangat menentukan gerak dan dinamika para kader maupun organisasi, sehingga apabila
penanggung jawab latihan keliru dalam mengkomunikasikan dan mensosialisasikan semangat dan gagasan
dasarnya maka keliru pula pengembangan bentuk-bentuk pembinaan berikutnya, baik pada up-grading maupun
aktivitas.
Berkaitan dengan persoalan tersebut dalam latihan sangat dibutuhkan lembaga serta forum yang
mencurahkan konsentrasi pemikiran pada pengembangan kualitas para pengelola latihan, kemampuan konsepsi
maupun manajerial.
Berawal dari kesadaran dan tanggung jawab yang mendalam tersebut maka dibentuklah Badan
Pengelola Latihan (BPL) Himpunan Mahasiswa Islam. Berikut adalah pedoman dasarnya:
BAGIAN I
NAMA, STATUS DAN TEMPAT KEDUDUKAN

Pasal 1.: Nama


Badan ini bernama Badan Pengelola Latihan Himpunan Mahasiswa Islam yang disingkat BPL HMI

Pasal 2: Status
Badan ini berstatus sebagai badan khusus HMI (pasal 51, 52, 55, 62 ayat c dan pasal 63 ART HMI)

Pasal 3: Tempat Dan Kedudukan


a. BPL PB HMI berkedudukan di tingkat Pengurus Besar HMI
b. BPL HMI Cabang berkedudukan di tingkat HMI Cabang.

BAGIAN II
TUGAS, WEWENANG DAN TANGGUNGJAWAB
Pasal 4: Tugas
a. Menyiapkan pengelola latihan atas permintaan pengurus HMI setingkat
b. Meningkatkan kualitas dan kuantitas pengelola latihan dengan jalan menyelenggarakan training
pengelola latihan dan mengadakan forum-forum internal di lingkungan intern BPL HMI.
c. Meningkatkan kualitas latihan dengan jalan memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan latihan.
d. Membuat panduan pengelolaan training HMI
e. Melakukan standarisasi pengelola training dan pengelolaan training
f. Memberikan informasi kepada pengurus HMI setingkat tentang perkembangan kualitas latihan.
Pasal 5: Wewenang
BPL PB HMI memiliki kewenangan untuk menyiapkan pengelolaan pelatihan di tingkat nasional yang
meliputi Latihan Kader III, pusdiklat, up grading instruktur NDP dan up-grading manajemen organisasi
dan kepemimpinan.
BPL HMI Cabang memiliki kewenangan untuk menyiapkan penglolaan pelatihan yang meliputi Latihan
Kader (LK) I, LK II dan latihan ke HMI-an lainnya.
BPL dapat menyelenggarakan training lain yang berkenaan dengan pengembangan sumberdaya manusia
Pasal 6: Tanggungjawab
a. BPL PB HMI bertanggungjawab kepada Pengurus Besar HMI melalui Musyawarah Nasional BPL HMI.
b. BPL HMI Cabang bertanggungjawab kepada Pengurus HMI Cabang melalui Musyawarah BPL HMI
Cabang.
BAGIAN III
KEANGGOTAAN

Pasal 7: Syarat Dan Keanggotaan


a. Anggota BPL HMI adalah anggota HMI yang telah mengikuti training pengelola latihan
b. Anggota BPL HMI terdiri dari Instruktur Muda, Instruktur Madya, dan Instruktur Utama.
c. Anggota BPL HMI dapat kehilangan status keanggotaan apabila:
1. Habis masa keanggotaan HMI
2. Meninggal Dunia.
3. Mengundurkan diri.
4. Diskorsing atau Dipecat
BAGIAN IV

SKORSING DAN PEMECATAN

Pasal 8: Kriteria Skorsing dan Pemecatan


a. Anggota BPL HMI dapat diskorsing karena:
1. Bertindak bertentangan dengan kode etik pengelola latihan
2. Bertindak merugikan dan mencemarkan nama baik korp BPL HMI.
b. Anggota diskors atau dipecat dapat melakukan pembelaan dalam forum yang ditunjuk untuk itu.
c. Mengenai skorsing/pemecatan dan tata cara pembelaan diatur dalam ketentuan tersendiri.
BAGIAN V
ORGANISASI

Pasal 9: Struktur
a. Struktur organisasi ini adalah di tingkat pengurus besar dan pengurus HMI cabang
b. Hubungan pengurus HMI setingkat dengan BPL PB HMI adalah instruktif.
c. Hubungan BPL PB HMI dengan BPL HMI Cabang adalah instruktif.
Pasal 10: Kepengurusan.
a. Pengurus BPL HMI sekurang-kurangnya terdiri dari ketua umum, sekretaris umum dan bendahara
umum.
b. Yang dapat menjadi pengurus BPL PB HMI adalah anggota BPL HMI yang telah memenuhi kualifikasi
Instruktur Utama
c. Yang dapat menjadi pengurus BPL HMI Cabang adalah anggota BPL HMI yang telah memenuhi
kualifikasi Instruktur
d. Periode BPL HMI disesuaikan dengan periode kepengurusan HMI setingkat.
e. Pengurus BPL HMI dilarang merangkap jabatan dalam jabatan struktur HMI, dan badan
khusus/lembaga kekaryaan lainnya.
BAGIAN VI
MUSYAWARAH

Pasal 11: Musyawarah Nasional


a. Musyawarah Nasional (Munas) BPL HMI diadakan sekurang-kurangnya sekali dalam 2 tahun.
b. Munas BPL HMI adalah musyawarah utusan BPL HMI Cabang, masing-masing BPL HMI Cabang
diwakili oleh 1 (satu) orang

Pasal 12: Musyawarah BPL HMI Cabang


a. Musyawarah BPL HMI Cabang diadakan sekurang-kurangnya sekali dalam setahun.
b. Musyawarah BPL HMI Cabang adalah musyawarah anggota BPL HMI di tingkat HMI cabang.

BAGIAN VII
ADMINISTRASI LEMBAGA

Pasal 13: Surat Menyurat


a. Surat kedalam memakai nomor .../A/Sek/BPL/Bulan/Tahun. (Bulan & Tahun Hijriyah)
b. Surat keluar memakai nomor .../B/Sek/BPL/Bulan/Tahun. (Bulan & Tahun Hijriyah)
c. Bentuk surat disesuaikan dengan bentuk yang dijelaskan didalam pedoman administrasi HMI.

Pasal 14: Keuangan


a. Keuangan BPL HMI ini dapat dikelola bersama dengan pengurus HMI setingkat.
b. Sumber keuangan berasal dari sumbangan yang tidak mengikat dan usaha halal.
BAB VIII
ATURAN TAMBAHAN
Pasal 15:
Perubahan pedoman dasar ini dapat dilakukan dalam forum musyawarah nasional BPL HMI.
Pasal 16:
a.
b.
c.

Penjabaran tentang kualifikasi keanggotaan BPL HMI akan dijelaskan dalam pola pembinaan pengelola
latihan
Penjabaran tentang struktur organisasi, fungsi dan peran BPL HMI akan dijelaskan dalam Tata Kerja
BPL HMI
Hal-hal yang belum diatur dalam ketentuan ini akan diatur dalam ketentuan lain dengan tidak
bertentangan dengan AD/ART HMI dan pedoman organisasi lainnya.

******

TATA KERJA
BADAN PENGELOLA LATIHAN
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM

Pengertian Umum
Dalam tata kerja BPL HMI ini yang dimaksud dengan :
a.
b.
c.
d.
e.
f.

BPL PB HMI adalah BPL HMI di tingkat Pengurus Besar HMI


BPL HMI Cabang adalah BPL HMI di tingkat HMI cabang
Munas adalah Musyawarah Nasional BPL HMI
Musyawarah adalah musyawarah BPL HMI di tingkat HMI cabang
Korwil adalah koordinator wilayah
Unsur Training adalah pihak yang terlibat dalam pengelolaan training secara langsung (SC, Pemandu, dan
Narasumber)

Status
BPL HMI adalah badan khusus HMI (pasal 51, 52, 55, pasal 62 ayat c dan pasal 63 ART HMI)

Tugas
BPL HMI bertugas untuk :
1)

Menyiapkan pengelola latihan atas permintaan pengurus HMI setingkat.


BPL HMI berkewajiban untuk menyediakan seluruh unsur training yang berkaitan dengan pengelolaan
training pada seluruh training yang diselenggarakan oleh pengurus HMI sesuai dengan tingkatannya, baik
diminta ataupun tidak.

2)

Meningkatkan kualitas dan kualitas pengelola latihan


BPL HMI berkewajiban untuk mengadakan rekrutmen instruktur secara berkala, minimal 1 (satu) kali
dalam 1 (satu) tahun.
BPL HMI berkewajiban untuk mengadakan pembinaan terhadap instruktur secara rutin sesuai dengan
kualifikasinya.

3)

Meningkatkan kualitas latihan


BPL HMI berkewajiban untuk melakukan monitoring terhadap seluruh latihan yang diselenggarakan
pengurus HMI dan BPL HMI, baik secara langsung ataupun tidak.
BPL HMI berkewajiban untuk melakukan evaluasi terhadap seluruh latihan yang diselenggarakan oleh
pengurus HMI dan BPL HMI, dan melakukan perbaikan yang dianggap perlu untuk latihan selanjutnya.

4)

Membuat panduan pengelolaan training


BPL HMI berkewajiban untuk membuat panduan pelaksanaan training secara teknis yang merupakan
penjelasan/turunan dari pedoman perkaderan yang applicable dan dinamis untuk memudahkan
pelaksanaan dan evaluasi training.

5)

Melakukan standarisasi pengelola training dan pengelolaan training


BPL HMI berkewajiban untuk memberikan sertifikasi dan penentuan kualifikasi terhadap instruktur
BPL HMI berkewajiban untuk menetapkan indikator atau tolok ukur keberhasilan suatu latihan

6)

Memberikan informasi kepada pengurus HMI setingkat tentang perkembangan kualitas latihan
BPL HMI berkewajiban memberikan informasi kepada pengurus HMI setingkat tentang perkembangan
kualitas latihan dalam bentuk laporan kerja yang disampaikan pada rapat pleno pengurus HMI setingkat.

Wewenang
1) BPL PB HMI berkewenangan untuk mengadakan latihan nasional meliputi Latihan Kader III, Pusdiklat
Pimpinan HMI, Up-Grading Instruktur NDP, dan Up-Grading Kepemimpinan, Manajemen dan Organisasi
Penyelenggaraan latihan-latihan tersebut bisa dilakukan secara mandiri.
2) BPL HMI Cabang berkewenangan untuk mengadakan latihan meliputi Latihan Kader I, Latihan Kader II,
dan latihan ke-HMI-an lainnya.
Yang dimaksud dengan latihan ke-HMI-an lainnya adalah sebagai sebuah kegiatan atau bentuk pelatihan
yang dapat meningkatkan pemahaman ke-HMI-an dan keorganisasian, misalnya Up-grading NDP,
training pengelola latihan, up-grading administrasi dan kesekretariatan, up-grading kepengurusan dan upgrading Kepemimpinan, Manajemen dan Organisasi. Pelatihan yang diselenggarakan oleh KOHATI dan

latihan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas profesionalisme seperti pelatihan dakwah, pelatihan
jurnalistik dan sebagainya tidak termasuk dalam kategori pelatihan ke-HMI-an.
3)

Penyelenggaraan latihan-latihan tersebut bisa dilakukan secara mandiri.


BPL HMI berkewenangan untuk mengadakan pelatihan lain yang sifatnya profit oriented yang ditujukan
untuk pihak di luar HMI.
Pelatihan yang diadakan untuk pihak luar HMI ditujukan untuk membantu dana operasional BPL HMI.
BPL HMI berhak mendapat sharing fee sebesar 15% dari jumlah nilai proyek.

Organisasi
Bagian I
Struktur Organisasi
d.
e.

Struktur organisasi ini adalah di tingkat pengurus besar dan pengurus HMI cabang
Hubungan pengurus HMI setingkat dengan BPL HMI adalah instruktif.
Hubungan instruktif ini sebatas pada kebijakan yang sifatnya umum mengenai perkaderan.
BPL HMI memiliki otonomi terhadap pelaksanaan program kerjanya dan proses regenerasi internal.

f.

Hubungan BPL PB HMI dengan BPL HMI Cabang adalah instruktif.


Hubungan instruktif ini sebatas pada kebijakan umum pelaksanaan program kerja.

Bagian II
Kepengurusan
A. BPL PB HMI
2)
Struktur kepengurusan BPL PB HMI sesuai dengan spesialisasi tugas dan kewajibannya terdiri dari
bidang :
a) Penelitian dan Pengembangan
b) Pembinaan Instruktur dan Kurikulum
c) Hubungan Antar Lembaga
d) Administrasi dan Kesekretariatan
e) Kebendaharaan
3)
Struktur pengurus BPL PB HMI diisi oleh anggota BPL HMI yang telah memenuhi kualifikasi
Instruktur Utama. Komposisi personalia pengurus BPL PB HMI terdiri dari :
a) Ketua Umum
b) Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan
c) Ketua Bidang Pembinaan Instruktur dan Kurikulum
d) Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga
e) Sekretaris Umum
f) Wakil Sekretaris Umum Bidang Penelitian dan Pengembangan
g) Wakil Sekretaris Umum Bidang Pembinaan Instruktur dan Kurikulum
h) Wakil Sekretaris Umum Bidang Hubungan Antar Lembaga
i) Bendahara Umum
j) Wakil Bendahara Umum
k) Departemen Penelitian dan Pengembangan
l) Departemen Pembinaan Instruktur dan Kurikulum
m) Departemen Hubungan Antar Lembaga
n) Departemen Kesekretariatan
o) Departemen Logistik

4)

5)

Masing-masing personalia pengurus BPL PB HMI menjalankan fungsinya sebagai berikut :


a) Ketua Umum adalah penanggung jawab dan koordinator umum dalam pelaksanaan tugastugas/program-program lembaga yang bersifat umum baik ke dalam maupun ke luar.
b) Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan adalah penanggung jawab dan koordinator
kegiatan dalam bidang penelitian dan pengembangan, menyangkut data-data kebutuhan
pengelolaan latihan, berikut pengolahan dan analisa guna pengembangan latihan
c) Ketua Bidang Pembinaan Instruktur dan Kurikulum adalah penangung jawab dan koordinator
kegiatan dalam bidang pembinaan instruktur dan kurikulum meliputi penyiapan materi dan
kurikulum latihan, penyiapan pengelola latihan, standarisasi latihan, dan evaluasi serta
monitoring latihan
d) Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga adalah penanggung jawab dan koordinator kegiatan
dalam bidang hubungan antar lembaga, menyangkut kerjasama dengan lembaga lain meliputi
kerjasama materi dan pengelolaan pelatihan
e) Sekretaris Umum adalah penanggung jawab dan koordinator umum dalam kegiatan di bidang
administrasi kesekretariatan, penerangan, dokumentasi ke luar dan ke dalam lembaga
f) Wakil Sekretaris Umum Bidang Penelitian dan Pengembangan bertugas atas nama sekretaris
umum untuk kegiatan bidang penelitian dan pengembangan serta membantu ketua bidangnya
g) Wakil Sekretaris Umum Bidang Pembinaan Instruktur dan Kurikulum bertugas atas nama
sekretaris umum untuk kegiatan bidang Pembinaan Instruktur dan Kurikulum serta membantu
ketua bidangnya
h) Wakil Sekretaris Umum Bidang Hubungan Antar Lembaga bertugas atas nama sekretaris umum
untuk kegiatan bidang hubungan antar lembaga dan membantu ketua bidangnya
i) Bendahara Umum adalah penanggung jawab dan koordinator kegiatan dalam bidang keuangan
dan perlengkapan lembaga ke luar dan ke dalam
j) Wakil Bendahara Umum bertugas atas nama bendahara umum untuk mengelola administrasi
keuangan dan perlengkapan
k) Departemen Penelitian dan Pengembangan bertugas sebagai koordinator operasional
pendataan kebutuhan-kebutuhan pelatihan, pengembangan latihan dan pengkajian menyangkut
hasil-hasil penelitian
l) Departemen Pembinaan Instruktur dan Kurikulum bertugas sebagai koordinator operasional
standarisasi materi dan kurikulum, serta pengembangan materi, pengelolaan latihan, meliputi
penyiapan instruktur, manajemen training, dan evaluasi training
m) Departemen Hubungan Antar Lembaga bertugas sebagai koordinator oprasional kegiatan
kerjasama lembaga
n) Departemen Kesekretariatan bertugas sebagai koordinator oprasional kegiatan administrasi
kesekretariatan
o) Departemen Logistik bertugas sebagai koordinator oprasional kegiatan pengadaan keperluan
dan inventaris organisasi
Masing-masing bidang dalam kepengurusan BPL PB HMI menjalankan wewenang dan tanggung
jawabnya sebagai berikut :
a) Bidang Penelitian dan Pengembangan
(1) Menyelenggarakan kegiatan penelitian terhadap latihan-latihan HMI dan terhadap
kebutuhan perkaderan HMI
(2) Mengembangkan hasil penelitian dan upaya-upaya pelaksanaannya
(3) Melakukan pengembangan metodologi latihan yang sesuai dengan kebutuhan organisasi
b) Bidang Pembinaan Instruktur dan Kurikulum
(1) Menyelenggarakan kegiatan-kegiatan peningkatan kualitas pelatihan dan instruktur
(2) Melakukan standarisasi pelaksanaan pelatihan-pelatihan HMI
(3) Melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelatihan-pelatihan yang dilaksanakan HMI
c) Bidang Hubungan Antar Lembaga
(1) Menjalin kerjasama dengan lembaga-lembaga sejenis dalam rangka peningkatan kualitas
instruktur dan latihan HMI
(2) Melakukan koordinasi terhadap lembaga-lembaga yang terkait baik ke dalam maupun ke
luar HMI
(3) Mengadakan Rakornas BPL HMI

6)

d) Bidang Administrasi Kesekretariatan


(1) Melakukan pengaturan tata cara pengelolaan surat-menyurat
(2) Melakukan pengumpulan, pencatatan, pengolahan, penyusunan, dan pemeliharaan
dokumentasi organisasi, bahan-bahan yang berkaitan dengan hasil kerja BPL HMI
(3) Melakukan upaya penerbitan dari hasil-hasil kerja BPL HMI
e) Bidang Kebendaharaan
(1) Menyusun Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja lembaga selama satu periode
dan per semester
(2) Mengelola sumber-sumber penerimaan lembaga
(3) Menyelenggarakan administrasi keuangan lembaga
(4) Melakukan usaha untuk mendapatkan sumber penerimaan lembaga
Untuk memudahkan koordinasi dengan BPL HMI Cabang, maka BPL PB HMI mengangkat korwil.
a) Korwil bertugas untuk mengkoordinasikan dan memberikan support, bimbingan serta
monitoring terhadap BPL HMI Cabang yang berada di wilayah kerjanya, sehingga kerja-kerja
BPL HMI dapat optimal dan terstandarisasi.
b) Pembagian wilayah kerja disesuaikan dengan Badko HMI.
c) Korwil diangkat dari anggota BPL HMI, sekurang-kurangnya memenuhi kualifikasi Instruktur,
dari Badko HMI yang bersangkutan.
d) Korwil dalam melaksanakan tugasnya dapat membentuk tim tersendiri yang dikukuhkan
dengan Keputusan BPL PB HMI.
e) Korwil merupakan peserta rapat pleno BPL PB HMI.

B. BPL HMI Cabang


1) Struktur kepengurusan BPL HMI Cabang sesuai dengan spesialisasi tugas dan kewajibannya terdiri
dari bidang :
a) Penelitian dan Pengembangan
b) Pembinaan Instruktur dan Kurikulum
c) Hubungan Antar Lembaga
d) Administrasi dan Kesekretariatan
e) Kebendaharaan
2) Struktur pengurus BPL HMI Cabang diisi oleh anggota BPL HMI yang telah memenuhi kualifikasi
Instruktur. Komposisi personalia pengurus BPL HMI Cabang terdiri dari :
a) Ketua Umum
b) Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan
c) Ketua Bidang Pembinaan Instruktur dan Kurikulum
d) Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga
e) Sekretaris Umum
f) Wakil Sekretaris Umum Bidang Penelitian dan Pengembangan
g) Wakil Sekretaris Umum Bidang Pembinaan Instruktur dan Kurikulum
h) Wakil Sekretaris Umum Bidang Hubungan Antar Lembaga
i) Bendahara Umum
j) Wakil Bendahara Umum
k) Departemen Penelitian dan Pengembangan
l) Departemen Pendidikan dan Latihan
m) Departemen Hubungan Antar Lembaga
3) Masing-masing personalia pengurus BPL HMI Cabang menjalankan fungsinya sebagai berikut :
a) Ketua Umum adalah penanggung jawab dan koordinator umum dalam pelaksanaan tugastugas/program-program lembaga yang bersifat umum baik ke dalam maupun ke luar.
b) Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan adalah penanggung jawab dan koordinator kegiatan
dalam bidang penelitian dan pengembangan, menyangkut data-data kebutuhan pengelolaan
latihan, berikut pengolahan dan analisa guna pengembangan latihan
c) Ketua Bidang Pembinaan Instruktur dan Kurikulum adalah penangung jawab dan koordinator
kegiatan dalam bidang pembinaan instruktur dan kurikulum meliputi penyiapan materi dan

kurikulum latihan, penyiapan pengelola latihan, standarisasi latihan, dan evaluasi serta monitoring
latihan
d) Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga adalah penanggung jawab dan koordinator kegiatan
dalam bidang hubungan antar lembaga, menyangkut kerjasama dengan lembaga lain meliputi
kerjasama materi dan pengelolaan pelatihan
e) Sekretaris Umum adalah penanggung jawab dan koordinator umum dalam kegiatan di bidang
administrasi kesekretariatan, penerangan, dokumentasi ke luar dan ke dalam lembaga
f) Wakil Sekretaris Umum Bidang Penelitian dan Pengembangan bertugas atas nama sekretaris
umum untuk kegiatan bidang penelitian dan pengembangan serta membantu ketua bidangnya
g) Wakil Sekretaris Umum Bidang Pembinaan Instruktur dan Kurikulum bertugas atas nama sekretaris
umum untuk kegiatan bidang Pembinaan Instruktur dan Kurikulum serta membantu ketua
bidangnya
h) Wakil Sekretaris Umum Bidang Hubungan Antar Lembaga bertugas atas nama sekretaris umum
untuk kegiatan bidang hubungan antar lembaga dan membantu ketua bidangnya
i) Bendahara Umum adalah penanggung jawab dan koordinator kegiatan dalam bidang keuangan
dan perlengkapan lembaga ke luar dan ke dalam
j) Wakil Bendahara Umum bertugas atas nama bendahara umum untuk mengelola administrasi
keuangan dan perlengkapan
k) Departemen Penelitian dan Pengembangan bertugas sebagai koordinator operasional pendataan
kebutuhan-kebutuhan pelatihan, pengembangan latihan dan pengkajian menyangkut hasil-hasil
penelitian
l) Departemen Pembinaan Instruktur dan Kurikulum bertugas sebagai koordinator operasional
standarisasi materi dan kurikulum, serta pengembangan materi, pengelolaan latihan, meliputi
penyiapan instruktur, manajemen training, dan evaluasi training
m) Departemen Hubungan Antar Lembaga bertugas sebagai koordinator oprasional kegiatan
kerjasama lembaga
n) Departemen Kesekretariatan bertugas sebagai koordinator oprasional kegiatan administrasi dan
kesekretariatan
o) Departemen Logistik bertugas sebagai koordinator oprasional kegiatan pengadaan keperluan dan
inventaris organisasi
4) Masing-masing bidang dalam kepengurusan BPL HMI Cabang menjalankan wewenang dan tanggung
jawabnya sebagai berikut :
a)
Bidang Penelitian dan Pengembangan
(1) Menyelenggarakan kegiatan penelitian terhadap latihan-latihan HMI cabang dan terhadap
kebutuhan perkaderan HMI cabang
(2) Mengembangkan hasil penelitian dan upaya-upaya pelaksanaannya
(3) Melakukan pengembangan metodologi latihan yang sesuai dengan kebutuhan organisasi
b)
Bidang Pembinaan Instruktur dan Kurikulum
(1) Menyelenggarakan kegiatan-kegiatan peningkatan kualitas pelatihan dan instruktur di
tingkat cabang
(2) Melakukan standarisasi pelaksanaan pelatihan-pelatihan HMI di tingkat cabang
(3) Melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelatihan-pelatihan yang dilaksanakan HMI di
tingkat cabang
c)
Bidang Hubungan Antar Lembaga
(1) Menjalin kerjasama dengan lembaga-lembaga sejenis dalam rangka peningkatan kualitas
instruktur dan latihan HMI di tingkat cabang
(2) Melakukan koordinasi terhadap lembaga-lembaga yang terkait baik ke dalam maupun ke
luar HMI
d)
Bidang Administrasi Kesekretariatan
(1) Melakukan pengaturan tata cara pengelolaan surat-menyurat
(2) Melakukan pengumpulan, pencatatan, pengolahan, penyusunan, dan pemeliharaan
dokumentasi organisasi, bahan-bahan yang berkaitan dengan hasil kerja BPLda
(3) Melakukan upaya penerbitan dari hasil-hasil kerja BPL HMI Cabang
e)
Bidang Kebendaharaan

(1)
(2)
(3)
(4)

Menyusun Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja lembaga selama satu periode
dan per semester
Mengelola sumber-sumber penerimaan lembaga
Menyelenggarakan administrasi keuangan lembaga
Melakukan usaha untuk mendapatkan sumber penerimaan lembaga
Bagian III
Instansi Pengambilan Keputusan

A. BPL PB HMI
1) Munas
a)
Munas diadakan sekurang-kurangnya sekali dalam 2 (dua) tahun
b)
Munas adalah musyawarah utusan BPL HMI Cabang
c)
Peserta Munas terdiri dari utusan-utusan BPL HMI Cabang yang masing-masing diwakili oleh 1
(satu) orang sebagai peserta utusan, seluruh fungsionaris BPL PB HMI, perwakilan PB HMI
sebanyak 3 (tiga) orang, dan korwil, serta undangan sebagai peserta peninjau.
d)
Jumlah peserta peninjau ditentukan oleh BPL PB HMI.
e)
BPL PB HMI adalah penanggung jawab Munas.
f)
Munas bertugas dan berwenang untuk :
1. Meminta Laporan Pertanggungjawaban BPL PB HMI
2. Mengevaluasi Laporan Pertanggungjawaban BPL PB HMI, setelah Laporan
Pertanggungjawaban dievaluasi oleh peserta Munas, pengurus BPL PB HMI dinyatakan
demisioner.
3. Memilih pengurus BPL PB HMI dengan jalan memilih 3 (tiga) orang calon Ketua
Umum/Formatur yang akan diajukan pada Pengurus Besar HMI untuk ditetapkan salah
satunya sebagai Ketua Umum/Formatur terpilih, secara otomatis 2 (dua) calon lainnya
ditetapkan sebagai mide formatur.
4. Membahas dan menetapkan Pedoman Dasar BPL HMI
5. Membahas dan menetapkan Tata Kerja BPL
6. Membahas dan menetapkan Pola Pembinaan Pengelola Latihan
7. Membahas dan menetapkan program kerja BPL PB HMI
8. Memberikan arah kebijakan atau kegiatan khusus yang harus diambil pada periode
selanjutnya (rekomendasi), baik sifatnya ke dalam ataupun ke luar.
2) Rapat Pleno
a)
Rapat Pleno diadakan sekurang-kurangnya 1 (satu) semester 1 (satu) kali
b)
Peserta rapat pleno adalah seluruh fungsionaris BPL PB HMI, perwakilan PB HMI sebanyak 3
(tiga) orang, dan Korwil dari seluruh Indonesia.
c)
Rapat Pleno berfungsi dan berwenang untuk :
1. Membahas laporan kerja BPL PB HMI tentang pelaksanaan ketetapan Kongres HMI,
Kebijakan PB HMI yang terkait dengan perkaderan, dan Ketetapan Munas.
2. Mendengar progress report Korwil dari seluruh Indonesia
3. Mengambil kebijakan dan keputusan yang mendasar bagi organisasi, baik ke dalam atau
ke luar.
d)
Rapat Pleno dapat memberhentikan Ketua Umum/Formatur, jika yang bersangkutan melanggar
AD/ART HMI, Pedoman HMI lainnya, Pedoman Dasar BPL HMI, Kode Etik Pengelola Latihan,
dan/atau Rangkap Jabatan dalam struktur kepengurusan HMI/badan khusus/lembaga kekaryaan
lainnya, dan/atau tidak dapat menjalankan tugasnya dan/atau mengundurkan diri.
e)
Apabila Ketua Umum/Formatur diberhentikan, maka rapat pleno mengangkat Pejabat Ketua
Umum yang bertugas sampai akhir periode.
f)
Pejabat Ketua Umum diangkat dari fungsionaris BPL PB HMI.
3) Rapat Harian
a)
Rapat harian diadakan sekurang-kurangnya 1 (satu) bulan sekali
b)
Peserta rapat harian adalah seluruh fungsionaris BPL PB HMI
c)
Rapat Harian berfungsi dan berwenang untuk :

(1)

Membahas dan menjabarkan kebijaksanaan yang telah diambil oleh PB HMI yang terkait
dengan program BPL PB HMI
(2) Mengkaji dan mengevaluasi keputusan-keputusan yang diambil oleh presidium BPL PB
HMI, menyangkut bidang masing-masing
4) Rapat Presidium
a)
Rapat presidium dihadiri oleh Ketua Umum, para Ketua, Sekretaris Umum, para Wakil Sekretaris
Umum, Bendahara Umum, dan para Wakil Bendahara Umum
b)
Rapat presidium dilaksanakan sekurang-kurangnya 2 (dua) kali sebulan, yang satu kali
diintegrasikan dengan rapat harian
c)
Fungsi dan wewenang rapat presidium :
(1) Mengambil keputusan tentang perkembangan BPL PB HMI sehari-hari baik intern maupun
ekstern, khususnya pengaruh perkembangan terhadap program BPL PB HMI
(2) Mendengar informasi tentang perkembangan dari beberapa aspek BPL PB HMI baik
ekstern maupun intern yang dikaitkan dengan kebijaksanaan BPL PB HMI
(3) Mengevaluasi perkembangan BPL dalam menjalankan program kegiatan
7) Untuk melaksanakan program dilakukan rapat kerja dan rapat bidang
a)
Rapat Kerja
(1) Rapat kerja dihadiri oleh seluruh fungsionaris pengurus BPL
(2) Rapat kerja dilakukan sekurang-kurangnya satu kali setiap semester
(3) Fungsi dan wewenang rapat kerja :
(a)
Menyusun jadwal aktivitas/rencana kerja untuk satu semester
(b)
Menyusun rancangan anggaran pendapatan dan belanja BPL PB HMI selama
satu semester
b)
Rapat Bidang
(1) Rapat bidang dihadiri oleh aparat bidang yang bersangkutan
(2) Rapat bidang dilakukan setidak-tidaknya 1 (satu) kali dalam sebulan
(3) Fungsi dan wewenang rapat bidang :
(a) Mengontrol pelaksanaan proyek/kerja yang dilakukan oleh setiap bidang dengan
tetap merujuk pada kebijaksanaan/pedoman yang telah ditetapkan oleh organisasi
(b) Membuat penyesuaian terhadap pelaksanaan proyek/kerja dari setiap bidang yang
mengalami perubahan
(c) Menyusun langkah-langkah teknis untuk menyelenggarakan proyek/kerja berikutnya
sesuai dengan kebijaksanaan yang telah ditetapkan oleh rapat harian dan rapat
presidium
A. BPL HMI Cabang
1)
Musyawarah
a)
Musyawarah diadakan sekurang-kurangnya sekali dalam 1 (satu) tahun
b)
Musyawarah adalah musyawarah anggota BPL HMI di tingkat cabang
c)
Peserta Musyawarah terdiri dari seluruh anggota BPL HMI di tingkat cabang sebagai peserta
utusan, perwakilan BPL PB HMI, dan undangan sebagai peserta peninjau.
d)
Jumlah peserta peninjau ditentukan oleh BPL HMI Cabang.
e)
BPL HMI Cabang adalah penanggung jawab Musyawarah.
f)
Musyawarah bertugas dan berwenang untuk :
1. Meminta Laporan Pertanggungjawaban BPL HMI Cabang
2. Mengevaluasi Laporan Pertanggungjawaban BPL HMI Cabang, setelah Laporan
Pertanggungjawaban dievaluasi oleh peserta Musyawarah, pengurus BPL HMI Cabang
dinyatakan demisioner.
3. Memilih pengurus BPL HMI Cabang dengan jalan memilih 3 (tiga) orang calon Ketua
Umum/Formatur yang akan diajukan pada Pengurus HMI Cabang untuk ditetapkan salah
satunya sebagai Ketua Umum/Formatur terpilih, secara otomatis 2 (dua) calon lainnya
ditetapkan sebagai mide formatur.
4. Membahas dan menetapkan program kerja BPL HMI Cabang
5. Memberikan arah kebijakan atau kegiatan khusus yang harus diambil pada periode
selanjutnya (rekomendasi), baik sifatnya ke dalam ataupun ke luar.

2) Rapat Harian
a)
Rapat harian diadakan sekurang-kurangnya 1 (satu) bulan sekali
b)
Peserta rapat harian adalah seluruh fungsionaris BPL HMI Cabang
c)
Rapat Harian berfungsi dan berwenang untuk :
1.
Membahas dan menjabarkan kebijaksanaan yang telah diambil oleh Pengurus BPL PB
HMI, Korwil, Konferensi/Musyawarah Cabang dan Pengurus HMI Cabang yang terkait
dengan program BPL HMI Cabang
2.
Mengkaji dan mengevaluasi keputusan-keputusan yang diambil oleh presidium BPL HMI
Cabang, menyangkut bidang masing-masing
d)
Rapat Harian dapat memberhentikan Ketua Umum/Formatur, jika yang bersangkutan melanggar
AD/ART HMI, Pedoman HMI lainnya, Pedoman Dasar BPL HMI, Kode Etik Pengelola Latihan,
dan/atau Rangkap Jabatan dalam struktur kepengurusan HMI/badan khusus/lembaga kekaryaan
lainnya, dan/atau tidak dapat menjalankan tugasnya, dan/atau mengundurkan diri.
e)
Usulan pemberhentian Ketua Umum harus diajukan dan disetujui kepada/oleh BPL PB HMI.
f)
Apabila Ketua Umum/Formatur diberhentikan, maka rapat harian mengangkat Pejabat Ketua
Umum yang bertugas sampai akhir periode.
g)
Pejabat Ketua Umum diangkat dari fungsionaris BPL HMI Cabang.
3) Rapat Presidium
a)
Rapat presidium dihadiri oleh Ketua Umum, para Ketua, Sekretaris Umum, para Wakil Sekretaris
Umum, Bendahara Umum, dan para Wakil Bendahara Umum
b)
Rapat presidium dilaksanakan sekurang-kurangnya 2 (dua) kali sebulan, yang satu kali
diintegrasikan dengan rapat harian
c)
Fungsi dan wewenang rapat presidium :
1.
Mengambil keputusan tentang perkembangan BPL HMI Cabang sehari-hari baik intern
maupun ekstern, khususnya pengaruh perkembangan terhadap program BPL HMI
Cabang
2.
Mendengar informasi tentang perkembangan dari beberapa aspek BPL HMI Cabang baik
ekstern maupun intern yang dikaitkan dengan kebijaksanaan BPLda
3.
Mengevaluasi perkembangan BPL HMI Cabang dalam menjalankan program kegiatan
4) Untuk melaksanakan program dilakukan rapat kerja dan rapat bidang
a)
Rapat Kerja
1.
Rapat kerja dihadiri oleh seluruh fungsionaris pengurus BPL HMI Cabang
2.
Rapat kerja dilakukan sekurang-kurangnya satu kali setiap semester
3.
Fungsi dan wewenang rapat kerja :
(a)
Menyusun jadwal aktivitas/rencana kerja untuk satu semester
(b)
Menyusun rancangan anggaran pendapatan dan belanja BPLda selama satu
semester
b)
Rapat Bidang
(1) Rapat bidang dihadiri oleh aparat bidang yang bersangkutan
(2) Rapat bidang dilakukan setidak-tidaknya 1 (satu) kali dalam sebulan
(3) Fungsi dan wewenang rapat bidang :
(a)
Mengontrol pelaksanaan proyek/kerja yang dilakukan oleh setiap bidang dengan
tetap merujuk pada kebijaksanaan/pedoman yang telah ditetapkan oleh organisasi
(b)
Membuat penyesuaian terhadap pelaksanaan proyek/kerja dari setiap bidang
yang mengalami perubahan
(c)
Menyusun langkah-langkah teknis untuk menyelenggarakan proyek/kerja
berikutnya sesuai dengan kebijaksanaan yang telah ditetapkan oleh rapat harian
dan rapat presidium.

*****

KODE ETIK PENGELOLAAN LATIHAN HMI

PENDAHULUAN
Maha suci Allah yang telah menganugrahkan hamba-Nya kejernihan dan ketulusan hati nurani terhadap
sesama makhluk ciptaan-Nya.

Bahwa kode etik merupakan kaidah yang mengatur sikap dan perilaku agar dapat bertindak secara baik
dan benar, dapat menghindari dari hal-hal yang dianggap buruk, yang penghayatan dan pengamalannya
didasari oleh moralitas yang dalam. Karena pada dasarnya setiap orang dengan segala harapan dan
keinginannya, cenderung mendambakan ketenangan dalam kelompok serta merasa bertanggungjawab
terhadap kelompok tersebut, karena dimana eksistensi dan missi yang dianggapnya mulia. Dengan demikian,
maka kedudukan suatu kode etik tersebut adalah sebagai tolok ukur kesetiaan anggota kelompok terhadap tata
nilainya.
Pelaku-pelaku yang setia menekuni sikap dan tindakan seperti yang ditunjukkan oleh kode etik, mereka
dikategorikan sebagai pengemban setia dari nilai-nilai kelompok yang diperjuangkannya, dan pada saatnya
mereka mendapat ganjaran yang terhormat dari anggota kelompoknya.
Sebaliknya pelaku yang cenderung lalai dalam mengemban kode etik, pada saatnya akan
mendapatkan tekanan sosial dari kelompoknya yang menyadari dirinya untuk mengentalkan kesetiaan pada tata
nilai kelompok dengan jalan memberikan kepatuhan pada kode etik.
Demikian juga halnya pengelola latihan sebagi satu kelompok yang secara sadar terlibat dalam proses
pengelolaan pelatihan di HMI, perlu mendalami dan mentaati kode etikya yang dirimuskan sebagai berikut:

BAGIAN I
SIKAP DAN PERILAKU UMUM
Pasal I: Peran Keilmuan
Pengelola training memberikan perhatian tinggi pada kegiatan keilmuan, terutama pada materi garap yang
ditanganinya dalam training, serta berusaha mencari relevansi penerangan ilmu tersebut.

Pasal 2. Citra Kekaderan


Dalam forum manapun juga, pengelola training selalu menjaga nama baik kelompok/himpunan serta
mengembangkan citra kekaderan dengan tingkah laku simpatik.

Pasal 3. Peran Kemasyarakatan


a. Pengelola training selalu berusaha menjadi satu dalam kegiatan masyarakat dilingkungannya, serta
berusaha memberikan andil agar kegiatan yang berlangsung tersebut berjalan secara lebih bermakna
kemanusiaan berlandaskan Islam.
b. Berusaha menetralisir gambaran yang keliru tentang islam maupun mission HMI pada kalangan
masyarakat yang mengalami salah pengertian.

Pasal 4: Membina Komisariat

Pengelola training selalu berusaha mengikuti perkembangan kegiatan komisariat dan ikut serta dalam usaha
meningkatkan kualitas anggota komisariat tersebut.

Pasal 5: Fungsionaris Himpunan.


a. Membagi waktu sebaik-baiknya agar tidak hanya hanyut dalam kegiatan rutin operasionalisasi program,
dengan selalu berpartisipasi pada perumusan dan evaluasi langkah strategis perkaderan.
b. Tugas dan tanggungjawab pada jabatan fungsionaris himpunan disingkronkan dengan tugas dan
tanggungjawab sebagai kelompok pengelola latihan.

Pasal 6. Aktivitas Kampus


a. Pengelola training pada periode tertentu mengkhususkan diri pada kesibukan kampus/intra universitas,
tetap selalu menjaga dan memelihara komuniksi serta terlibat secara adil dengan langkah pengelolaan
training.
b. Pada waktu tertentu masih menyisihkan untuk berperan secara fisik pada kegiatan pengelolaan training,
tanpa mengacaukan suasana khas yang masing-masing terdapat pada intra dan ekstra universitas.

Pasal 7: Pengembangan Diri


a. Pengelolaan training selalu berdaya upaya memperdalam persepsi dan penguasaan ketrampilan serta
pematangan kepribadian, baik secara kolektif amaupun aktifitas individual
b. Secara periodik pengelola training menunjukkan prestasi di luar forum kemahasiswaan, misalnya dunia
kemahasiswaan, keilmuwan seperti penulisan papar dan sebagainya.

BAGIAN II
PADA SAAT MENJADI PEMANDU
Pasal 8: Terhadap Diri Sendiri
a. Pemandu putra adalah: pakaian rapi, baju dengan krah, lengkap dengan sabuk dan sepatu, serta
mengenakan gordon dan muts.
b. Pemandu putri: pakaian sopan dengan mode yang menutup aurat tidak ketat, mamakai sepatu, dan
perhiasan seperlunya.
c. Sedapat mungkin full time di medan training atau hanya meninggalkan medan hanya apabila ada
keperluan sangat penting.
d. Membawa bahan bacaan yang berhubungan dengan kebutuhan training serta Al Quran dan
terjemahnya.

Pasal 9. Sebagai Tim Pemandu


a. Tim pemandu menjaga kerahasiaan kondite/penilaian terhadap trainers selama pelatihan berlangsung
dan mengumumkan pada akhir pelatihan setelah melakukan perhitungan orestasi secara teliti.
b. Mengadakan pembagian tugas yang seimbang pada setiap sesion bagi setiap pemandu.
c. Memimpin studi Al Quran (bada magrib) bagi trainers secara khusus menurut tingkat kemampuannya.
d. Memilih ayat-ayat alquran untuk dibacakan pada acara pembukaan sesuai konteks langsung dengan
materi acara.
e. Mengambil alih tanggungjawab mengisi materi, apabila pemateri yang bertugas betul-betul berhalangan,
sedangkan waktu untuk mencari penggantinya sudah tidak mungkin.
f. Pada saat selesai training langsung meyelesaikan laporan training secara rapi dan lengkap untuk dijilid.

Pasal 10: Sesama Pemandu


a. Memeriksa kembali pembagian tugas sebelum masuk ruangan training dan tidak melakukan pemotongan
pembicaraan rekan pemandu.
b. Pemandu tidak dibenarkan berbicara atau berbisik-bisik di depan forum, sebaiknya komunikasi pada saat
tersebut secara tertulis.
c. Selama acara berlangsung harus selalu ada minimal seorang pemandu di lokasi training serta jangan
sering keluar masuk lokasi.
d. Sesama pemandu (putra putri) yang mempunya ikatan pribadi agar tidak menampakkan hubungan
istimewa di medan training.
e. Sesama tim pemandu menggunakan waktu yang ada untuk bertukar fikiran tentang berbagai persoalan.

Pasal 11: Terhadap narasumber


a. Pemandu menyampaikan perkembangan training pada narasumber yang akan memberikan materi,
kemudian mempersilahkan mengisi materi apabila waktunya sudah masuk.
b. Selama narasumber berada dalam loksi maupun di lokasi, agar pemandu mengesankan sikap ukhuwah
islamiyah terhadap narasumber.
c. Memanfaatkan waktu yang tersedia untuk berdiskusi (informal) dengan narasumber, baik segara sesuatu
yang berkaitan dengan perkaderan maupun topik umum yang aktual.

d. Pada sesion berikutnya, pemandu dapat memantapkan materi yang disampaikan terdahulu tanpa keluar
dari pola yang sudah ada.

Pasal 12: Terhadap Trainee.


a. Pemandu menunjukkan rasa penghargaan dan persaudaraan terhadap trainee, misalnya mulai pada
penyebutan nama yang benar, memperhatikan asal usul, bersabar mengikuti jalan pikirannya,
memahami latar belakangnya dan seterusnya.
b. Pemandu tidak menunjukkan sikap atau tindakan yang membawa kesan pilih kasih.
c. Pemandu tidak menunjukkan senyum atau rasa geli yang wajar dalam menyaksikan tindakan trainee
yang bersifat lucu.
d. Pemandu apabila terpaksa menjatuhkan sanksi terhadap trainee, hendaknya dengan cara mendidik dan
teknik yang tidak berakibat menimbulkan antipati.
e. Pada dasarnya pemandu harus menyesuaikan diri dengan kesepakatan ketertiban trainers. Dan memberi
contoh shalat berjamaah maupun aktifitas masjid.
f. Diskusi (informal) dapat dilakukan dilakukan diluar lokasi dengan trainee yang sifatnya melayani hasrat
ingin tahu dari trainee dengan menyesuaikan dengan penggarapan dalam lokasi.
g. Apabila suatu saat di medan training, pemandu bersimpatik secara feeling terhadap lawan jenisnya
hendaknya selalu bertindak dewasa sehingga tidak
perlu menunjukkan tingkah laku yang mengundang penilaian negatif.

Pasal 13: Terhadap Panitia


a. Pemandu selalu berusaha memahami kondisi dan permasalahan yang dihadapi panitia, dengan
memberikan bimbingan maupun dorongan moril.
b. Hal-hal yang menyangkut fasilitas kesekretariatan training maupun konsumsinya diperlukan hanya
sebatas kemampuan panitia.
c. Menyesuaikan pengaturan acara atau di dalam dan di luar lokasi dengan pesiapan teknis yang selesai
dikerjakan panitia, dengan lebih dulu mengadakan pemeriksaan.
d. Waktu luang dari panitia dimanfaatkan untuk melakukan diskusi tentang topik yang bersifat memperdalam
persepsi dan wawasan berfikir panitia.

Pasal 14: Terhadap Sesama Anggota Korp BPL


a. Rekan BPL yang tidak bertugas diajak untuk mempelajari jalannya training sekedar tukar fikiran untuk
mendapatkan hasil maksimal.

b. Dalam keadaan situasi training ang memerlukan bantuan untuk mempertahankan target training maka
rekan korp BPL yang berkinjung dapat diminta tenaga khusus.

Pasal 15: Terhadap Alumni


a. Alumni (terutama yang pernah mengelola training) yang berrkunjung ke medan training, kalau mungkin
diperkenalkan dengan trainers disertai dialog singkat tanpa merubah manual.
b. Terhadap alumni tersebut, pemandu melakukan diskusi intensif mengenai perkembangan perkaderan.

Pasal 16: Terhadap Masyarakat


a. Pemandu bertanggungjawab memlihara nama baik HMI pada masyarakat sekitar.
b. Pemandu mengatur kegiatan yang bersifat pengabdian masyarakat sekitar sesuai kebutuhan masyarakat
yang mungkin digarap.

BAGIAN III
PADA SAAT MENJADI PEMATERI

Pasal 47: Terhadap Diri Sendiri


a. Pemateri pada saat dihubungi panitia segera memberi kepastian kesedaan atau tidak.
b. Membawa bahan bacaan yang berhubungan dengan kebutuhan training serta Al Quran dan
terjemahnya.
c. Menyesuaikan pakaian pemandu.
d. Mengisi riwayat hidup sebelum masuk lokasi training.

Pasal 18: Terhadap Trainee


a. Pemateri memberikan kesempatan yang merata dan adil pada trainee untuk bicara, serta menghargai
pendapat peserta dan membimbing merumuskan pendapat mereka.
b. Pada saat trainee berbicara hendaknya pemateri memberikan perhatian sunguh sungguh.
c. Trainee yang konsentrasinya terganggu atau tertidur dan semacamnya hendaknya ditegur.
d. Treinee yang masih berminat berbincang diluar lokasi, hendaknya dilayani selama kondisi
memungkinkan.

Pasal 19: Terhadap Sesama Nara Sumber


a. Diusahakan sebelum mengisi materi, berdialog dengan rekan narasumber yang mengasuh metari sejenis
dan yang berkaitan.
b. Saling mengisi dengan materi ayng disampaikan.

Pasal 20. Terhadap Tim Pemandu


a. Memberikan informasi dan membantu memberikan pertimbangan kepada pemandu apabila diperlukan
atau bila terjadi kekurangsiapan dari pemandu, agar training berrlangsung mencapai target.
b. Membuat penilaian tertulis kepada korp BPL tantang kondite pemandu, sebagai bahan perbandingan
evaluasi.

BAGIAN IV
SANKSI
Pasal 21:
Pelanggaran terhadap kode etik pengelola latihan akan dikenakan sanksi, dari sanksi paling ringan sampai
paling berat.

BAGIAN V
PENUTUP
Pasal 22:
Hal-hal yang belum diatur dalam kode etik ini, akan disesuaikan dengan pedoman BPL dan aturan operasinya.

******

TATA TERTIB PEMILIHAN CALON FORMATEUR


BPL PB HMI
PERIODE 2012 - 2014
a. Bakal calon yang dapat menjadi calon Formateur BPL PB HMI adalah yang memenuhi persyaratan
sesuai dengan Tata Kerja BPL HMI
b. Setiap Utusan Penuh mengajukan 1 orang bakal calon formateur
c. Pengajuan bakal Calon Formateur dilakukan dengan cara:
1. Musyawarah Mufakat
2. Apabila tidak tercapai musyawarah mufakat maka dilakukan voting

d. Pengajuan dilakukan dengan sistem One Man One Vote dan setiap utusan penuh hanya berhak
menulis 1 (satu) nama bakal calon yang ada di kertas suara. Kertas suara pengajuan terdapat
stempel BPL PB HMI dan peserta menulis nama 1 orang bakal calon Formateur
e. Kertas suara dianggap sah apabila :
1. Pada kertas suara terdapat stempel BPL PB HMI
2. Hanya terdapat 1 (satu) nama calon Formateur
3. Penulisan nama yang berjumlah lebih dari satu nama dianggap tidak sah
f. 3 bakal calon formateur dengan suara terbanyak otomatis terpilih menjadi calon formateur BPL PB
HMI

******