Anda di halaman 1dari 82

HASIL PENELITIAN

HUBUNGAN HIGIENE PERORANGAN, SANITASI LINGKUNGAN DAN


SUMBER AIR BERSIH DENGAN KEJADIAN DIARE PADA ANAK BALITA (15 TAHUN) DI KELURAHAN BUKIT DURI FEBRUARI 2014

Pembimbing :
dr. Oktavianus Ch.Salim, MS.

Disusun Oleh :
Inti Herdianti 030.05.119
Vina Prawiro 030.07.264
Siti Azliza Binti Yaacob 030.08.304

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


PERIODE 13 JANUARI 22 MARET 2014
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
JAKARTA
2014

LEMBAR PENGESAHAN
Laporan hasil penelitian yang berjudul
HUBUNGAN HIGIENE PERORANGAN, SANITASI LINGKUNGAN DAN
SUMBER AIR BERSIH DENGAN KEJADIAN DIARE PADA ANAK BALITA (15 TAHUN) DI KELURAHAN BUKIT DURI FEBRUARI 2014

Telah diterima dan disahkan oleh:


Pembimbing akademis Penelitian

Pembimbing Puskesmas

Fakultas Kedokteran Univ. Trisakti

Kecematan Tebet

(dr. Oktavianus Ch.Salim, MS)

(dr.Vera M Sitanggang)

Kepala Puskesmas Masyarakat

Ka. SMF Ilmu Kesehatan

Kecamatan Tebet

Fakultas Kedokteran Univ.


Trisakti

(dr. Dewi R Anggraini M.kes)

(Dr. dr. Rina K.Kusumaratna,


M.Kes)

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum wr. wb. Salam sejahtera bagi kita semua.
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa,
atas segala nikmat dan karunia yang telah diberikan sehingga pada akhirnya kami dapat
menyelesaikan proposal penelitian ini dengan sebaik-baiknya.
Penelitian ini disusun untuk melengkapi tugas di kepanitraan klinik Ilmu
Kesehatan Masyarakat Universitas Trisakti periode 13 Januari 22 Maret 2014 di
Puskesmas Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan.
Dalam kesempatan ini, kami ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada:
1)
dr. Oktavianus Ch.Salim, MS selaku dosen pembimbing dari Fakultas
2)

Kedokteran Universitas Trisakti.


Dr. dr. Rina K Kusumaratna, M.Kes selaku kepala bagian Ilmu

3)

Kesehatan Masyarakat Universitas Trisakti


Para dosen bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran

4)

Universitas Trisakti.
dr. Vera M Sitanggang, selaku pembimbing dari Puskesmas Kecamatan

5)

Tebet.
Para dokter, paramedik dan seluruh Staf Kelurahan Bukit Duri, Jakarta

6)

Selatan.
Serta semua pihak yang telah banyak membantu kami selama
penyusunan proposal penelitian ini yang tidak dapat kami sebutkan satu
persatu.

Penyusun menyedari bahwa Penelitian ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh
karena itu, kami mengharapkan saran dan kritik yang sifatnya membangun untuk
kesempurnaan makalah yang kami buat ini. Demikian yang dapat kami sampaikan,
semoga Penelitian ini dapat bermanfaat bagi masyarakat dan khususnya bagi mahasiswa
kedokteran.
Jakarta, Februari 2014
ABSTRACT

INTRODUCTION. Diarrhea is one of public health problem in Indonesia especially among


toddlers (1-5 years old), because the number of ilness and death is high especially on chidren
under five years. Extraordinary Events (KLB) diarrhea are still common in Indonesia, the
CFR is still high. Based on SDKI 2007 there was diarrhea incidence as big as 13% of the
occurrence happens to children under five years than on SKDI 2002 which is 11%.
METHOD. The type of research is observational analytic studies with cross-sectional
designs to analyze the factors are related with the incident of diarrhea at toddlers who came
and checked at the Local clinic (puskesmas) Kelurahan Bukit Duri from 1 st February until 19
February 2014. The population in the research were all toddlers (1 - 5 years old) those
living at RW 10, 11 and 12 in the village of Bukit Duri, South Jakarta. The total sample are
114 respondents with a sampling sistematic random sampling method. The data was collected by
interview using a questionnaire. Data processing is performed with the SPSS program to test
the Pearson Chi - square test.
RESULT. The output of research is based on bivariat analysis(Chi-square, p value <0,05) that
have significant relationship within the

incidence of diarrhea

in toddlers are the bad

environmental sanitation (p=0.01), types of source water (p=0.06), 25-60 months children (p
=0.028), high risk maternal (p=0.09), low economy status (p=0.026). And there was no
significant relationship between bad personal hygiene (p=0.936) with the incidence of
diarrhea in toddlers.
DISCUSSION. Risk Factors which are proven that influence diarrhea occurrence on toddlers
are bad environmental sanitation , types of source water, 25-60 months children, high risk
maternal and low economy status. And there was no significant relationship between bad
personal hygiene within the incidence of diarrhea in toddlers.
KEYWORDS: Diarrhea, toddlers, environmental sanitation, personal hygiene, source water.

ABSTRAK

PENDAHULUAN. Di Indonesia penyakit diare merupakan salah satu masalah kesehatan


masyarakat terutama pada usia balita (1-5 tahun) karena tingginya angka kesakitan dan angka
kematian. Kejadian Luar Biasa (KLB) diare masih sering terjadi di Indonesia, dengan CFR
yang masih tinggi. Berdasarkan SDKI tahun 2007 didapatkan insidens diare sebesar 13%
dari kejadian diare terjadi pada golongan balita dibanding tahun 2002 sebesar 11%.
METODE. Jenis penelitian adalah penelitian observasi analitik dengan desain cross-sectional
yang bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian diare
pada anak balita yang datang berobat di Puskesmas Kelurahan Bukit Duri dari tanggal 1
Februari hingga 19 Februari 2014. Populasi dalam penelitian ini adalah anak balita (1 -5
tahun) yang tinggal di RW 10, 11 dan 12 di Wilayah Kelurahan Bukit Duri, Jakarta Selatan.
Jumlah

sampel

sebanyak

114 responden dengan

metode simple random sampling.

Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi dan wawancara menggunakan kuesioner.
Pengolahan data dilakukan dengan Program SPSS dengan uji Pearson Chi-square test.
HASIL. Hasil penelitian menunjukkan faktor resiko yang berpengaruh terhadap kejadian diare
pada anak balita adalah berdasarkan analisis bivariat (Chi-square, p value <0,05) yaitu sanitasi
lingkungan buruk (p=0.01), jenis sumber air (p=0.06), anak balita 25-60 tahun (p=0.028), usia
ibu beresiko tinggi (p=0.09) dan status ekonomi rendah (p=0.026). Tidak ada hubungan yang
signifikan antara higiene perorangan yang buruk (p=0.936), dengan kejadian diare pada anak
balita.
DISKUSI. Faktor-faktor risiko yang terbukti berpengauh terhadap kejadian diare pada anak
balita yaitu sanitasi lingkungan buruk, jenis sumber air, anak balita 25-60 tahun, usia ibu
beresiko tinggi dan status ekonomi rendah . Tidak ada hubungan yang signifikan antara higiene
perorangan yang buruk dengan kejadian diare pada anak balita.
KATA KUNCI: Diare, Anak Balita, Sanitasi lingkungan, Higiene perorangan, Sumber Air
Bersih.

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN................. i
KATA PENGANTAR........ ii
ABSTRACT... iii
ABSTRAK.. iv
DAFTAR ISI ....... v
DAFTAR TABEL ........................................................................................................ vii
BAB I PENDAHULUAN .. .1
1.1 Latar Belakang Masalah .1
1.2 Rumusan Masalah...........................................................................................3
1.3 Tujuan Penelitian.............................................................................................4
1.4 Hipotesis Penelitian.................................................................................................4
1.5 Manfaat Penelitian...................................................................................................5
1.6 Ruang Lingkup Penelitian...................................................................................... 5
1.7 Originalitas . 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA................................................................................ 9
2.1 Diare .................. 9
2.2 Faktor risiko yang mempengaruhi diare .. 21
2.3 Banjir dan pengaruh terhadap kesehatan ......................... 25
2.4 Kerangka Teori ................ 28

BAB III KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL ................. 28


3.1 Kerangka Konsep ..... 28
3.2 Variabel dan Definisi Operasional ....................................................... 29
BAB IV METODE PENELITIAN......................................................................... 32
4.1 Jenis penelitian..................................................................................................... 32
4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian.............................................................................32
4.3 Populasi dan Sampel Penelitian........................................................................ 33
4.4 Cara Pengambilan Sampel............................................................................... 35
4.5 Instrumen Penelitian........................................................................................ 36
4.6 Manajemen Data............................................................................................... 36
BAB V HASIL PENELITIAN ....38
5.1 Hasil Analisa Univariat ............... 38
5.2 Hasil Analisa Bivariat ..........40
BAB VI PEMBAHASAN 43
BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN 47
DAFTAR PUSTAKA....... 51
LAMPIRAN .... 54

DAFTARTABEL
BABI :

1.7TabelOriginalitas.....................6
BABII:
2.1PenyebabDiareAkutInfeksi.12
2.2PenyebabDiareNonInfeksi..................12
2.3GejalaKhasDiareAkutolehberbagaiPenyebab......................18
2.4PrasyaratSaranaSanitasiRumahSehatMenurutDepkesRI..............27
BABIII
3.2.1TabelVariabeldanDefinisiOperasional......29
BABIV
4.4.1TabelInstrumenPenelitian...37
BABV
5.1.1FrekuensiKejadianDiare,HigienePerorangan,SanitasiLingkungan,SumberAir
Bersih, Usia Anak Balita, Usia Ibu dan Status Ekonomi
Keluarga..38
5.2.1

Hubungan Antara Higiene Perorangan Ibudan Anak Balita dengan Kejadian


DiarepadaAnakBalita.40

5.2.2

HubunganAntaraSanitasiLingkungandenganKejadianDiarepadaAnakBalita
..........................................................................................................................40

5.2.8

Hubungan Antara Sumber Air dengan Kejadian Diare pada Anak Balita
.41

5.2.9

Hubungan Antara Usia Balita dengan Kejadian Diare pada Anak Balita
.41

5.2.10 HubunganAntaraUsiaIbudenganKejadianDiarepadaAnakBalita.42
5.2.11 HubunganAntaraEkonomiKeluargadenganKejadianDiarepadaAnakBalita
...............42

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG


Sebagai kota yang berada di daratan rendah, Jakarta tidak terlepas dari ancaman
banjir yang sewaktu-waktu dapat menyerang. Banjir di Jakarta bukan saja akibat dari
musim, tapi ketika terjadi jebolnya beberapa tanggul, Jakarta kembali mengalami banjir.
Seperti pada awal tahun 2013 dimana akibat jebolnya bendungan kanal banjir barat,
sehingga melumpuhkan area bisnis Jakarta. Dan untuk data terbaru kali ini terjadi juga
pada awal bulan Januari 2014, dimana terjadi banjir terutama pada 21 Kelurahan di
Jakarta, salah satunya Kelurahan Bukit Duri.
Banjir yang terjadi selalu menimbulkan kerugian bagi mereka yang terkena
banjir baik secara langsung maupun tidak langsung yang dikenal sebagai dampak
banjir.Dampak banjir yang terjadi sering kali menganggu kesehatan lingkungan dan
kesehatan warga. Lingkungan tidak sehat karena segala sampah dan kotoran yang
hanyut seringkali mencemari lingkungan. Sampah - sampah terbawa air dan membusuk
mengakibatkan penyakit gatal-gatal di kulit dan lalat banyak beterbangan karena
sampah yang membusuk sehingga sakit perut juga banyak terjadi. Sumber air bersih
tercemar

sehingga

mereka

yang

terkena

banjir

kesulitan

air

bersih

dan

mengkonsumsinya karena darurat, sebagai penyebab diare.


Penyakit Diare merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas
pada anak di seluruh dunia, yang menyebabkan satu miliar kejadian sakit dan 3-5 juta
kematian setiap tahunnya. Di Amerika Serikat, ada 20-35 juta kejadian diare terjadi
setiap tahunnya, sedangkan pada 16,5 juta anak sebelum berusia 5 tahun menghasilkan
2,1-3,7 juta anak yang harus berobat ke dokter akibat dari penyakit diare tersebut.8
Sampai saat ini penyakit diare masih menjadi salah satu masalah kesehatan
masyarakat di Indonesia dengan angka kesakitan yang tinggi yaitu 200 - 400 kejadian

diare di antara 1000 penduduk setiap tahunnya. Di berbagai daftar urutan penyebab
kunjungan pasien ke puskesmas, diare hampir selalu termasuk kedalam urutan ke 3
terbesar angka kesakitan. Dengan demikian di Indonesia diperkirakan ditemukan
penderita diare sekitar 60 juta kejadian setiap tahunnya, sebagian besar (70-80%) dari
penderita ini adalah anak di bawah umur 5 tahun.9Bayi dan anak balita merupakan
kelompok usia yang paling banyak menderita diare, kerentanan kelompok usia ini juga
banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu umur anak, pemberian ASI, pemberian
susu formula dan status gizi anak.
Definisi diare sendiri adalah buang air besar dengan tinja berbentuk cair atau
setengah cair dengan kandungan air tinja lebih banyak daripada biasanya atau dengan
frekuensi lebih dari 3x sehari yakni lebih dari 200 gram atau 200 ml/24 jam.11
Kematian karena diare di negara berkembang terjadi terutama pada anak-anak
yang berusia kurang dari 5 tahun dimana 2/3 diantaranya tinggal di daerah atau
lingkungan yang buruk, kumuh, padat dengan sistem pembuangan sampah yang tidak
memenuhi syarat, keterbatasan sumber air bersih, kurangnya sumber bahan makanan
disertai cara penyimpanan yang tidak memenuhi syarat, tingkat pendidikan yang rendah
serta kurangnya fasilitias pelayanan kesehatan.6
Kelurahan Bukit Duri, Jakarta Selatan dipilih menjadi tempat penelitian
dikarenakan menurut catatan di Puskesmas Kelurahan Bukit Duri, angka kejadian
diare pada anak di sana khususnya pada balita menempati posisi yang cukup tinggi
setelah penyakit ISPA. Selain itu Bukit Duri dipilih juga dikarenakan geografis daerah
tersebut merupakan daerah yang rawan banjir pada musim penghujan maupun tidak,
bilamana sungai Ciliwung meluap. Hal tersebut nantinya akan sangat
dengan peran kesehatan lingkungan sebagai faktor penyebab angka

berkaitan erat

kejadian penyakit

diare.
Berdasarkan uraian-uraian di atas, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui
faktor kesehatan lingkungan apa sajakah yang mempunyai hubungan bermakna dengan

10

angka kejadian diare pada anak balita, khususnya penulis melakukan

penelitian di

Kelurahan Bukit Duri Kecamatan Tebet Jakarta Selatan, sehingga diharapkan bisa
dilakukan tindakan pencegahan untuk menekan angka kejadian diare tersebut.

1.2. PERUMUSAN MASALAH


Prevalensi angka kejadian diare pada anak balita di Jakarta masih sangat tinggi
dan prevalensi tersebut meningkat dengan adanya banjir di beberapa wilayah. Berbagai
studi berbasiskan populasi telah dilakukan untuk mengidentifikasi berbagai faktor resiko
terjadinya diare. Penulis ingin lebih memfokuskan kepada faktor higiene perorangan,
sanitasi lingkungan dan sumber air bersih yang mungkin berhubungan dengan kejadian
diare pada anak balita.
Dengan rincian permasalahan yang sudah dikemukakan diatas, masalah yang
muncul adalah :
a) Apakah terdapat hubungan dari higiene perorangan ibu dan anak balita dengan
kejadian diare anak balita di Kelurahan Bukit Duri.
b) Apakah terdapat hubungan dari sanitasi lingkungan dengan kejadian diare anak
balita di Kelurahan Bukit Duri.
c) Apakah terdapat hubungan dari sumber air bersih dengan kejadian diare anak
balita di Kelurahan Bukit Duri.
d) Apakah terdapat hubungan dari usia anak balita, usia ibu dan status ekonomi
keluarga dengan kejadian diare pada anak balita di Kelurahan Bukit Duri.

Dengan demikian, masalah penelitian ini adalah sejauh mana faktor faktor
diatas mempengaruhi kejadian diare pada anak balita terutama di Kelurahan Bukit Duri,
Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan, Bulan Februari Tahun 2014.

1.3. TUJUAN PENELITIAN

11

1. Tujuan Umum
Tercapainya penurunan kejadian diare pasca banjir pada balita
2. Tujuan Khusus
a) Mendapatkan hubungan dari higiene perorangan ibu dan anak balita dengan
kejadian diare anak balita di Kelurahan Bukit Duri.
b) Mendapatkan hubungan dari sanitasi lingkungan dengan kejadian diare anak
balita di Kelurahan Bukit Duri.
c) Mendapatkan hubungan dari sumber air bersih dengan kejadian diare anak balita
di Kelurahan Bukit Duri.
d) Mendapatkan hubungan dari usia anak balita, usia ibu dan status ekonomi
keluarga dengan kejadian diare pada anak balita di Kelurahan Bukit Duri.

1.4. HIPOTESIS
Berdasarkan variabel yang diteliti maka hipotesis dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut :
a) Terdapatnya hubungan dari higiene perorangan ibu dan anak balita dengan
kejadian diare anak balita di Kelurahan Bukit Duri.
b) Terdapatnya hubungan dari sanitasi lingkungan dengan kejadian diare anak balita
di Kelurahan Bukit Duri.
e) Terdapatnya hubungan dari sumber air bersih dengan kejadian diare anak balita
di Kelurahan Bukit Duri.
f) Terdapatnya hubungan dari usia anak balita, usia ibu dan status ekonomi
keluarga dengan kejadian diare pada anak balita di Kelurahan Bukit Duri.

1.5 MANFAAT PENELITIAN


1. Manfaat bagi peneliti

12

Untuk menambah pengalaman belajar serta wawasan tentang ilmu kedokteran


khususnya tentang hubungan kesehatan lingkungan dengan penyakit diare dan juga
untuk mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang telah didapat khususnya dalam
melakukan penelitian ilmiah.
2. Manfaat bagi masyarakat
Memberikan gambaran kesehatan untuk masyarakat umumnya mengenai
pentingnya kebersihan dan kesehatan lingkungan.
3. Manfaat bagi Instansi Kesehatan
Bagi instansi kesehatan yang terkait yaitu Puskesmas Kelurahan Bukit Duri,
untuk mengetahui gambaran hubungan antara PHBS dan faktor

lingkungan

di

masyarakat terhadap angka kejadian diare dengan mempertimbangkan faktor-faktor


lain yang belum diteliti pada penelitian ini. Meningkatkan promosi kesehatan dalam
upaya pencegahan terjadinya diare pasca banjir.
4. Manfaat bagi institusi pendidikan
Diharapkan penelitian ini dapat dijadikan data awal dan acuan bagi peneliti
selanjutnya yang ingin meneliti lebih dalam mengenai kesehatan lingkungan.

1.6. RUANG LINGKUP PENELITIAN


Ruang lingkup penelitian ini dibatasi pada faktor Prilaku Hidup Bersih dan Sehat
(PHBS) dan faktor lingkungan di Puskesmas Kelurahan Bukit Duri, Kecamatan Tebet,
Jakarta Selatan, Tahun 2014.
1.7 ORIGINALITAS
Tabel 1.7.1 Tabel Originalitas
No.

Peneliti

Judul

Lokasi

Desain

Variabel yang

Hasil

13

1.

2.

(Tahun)
Wiwik
Suharti
(2000)

Tjitrowati
Djaafar
(2002)

Penelitian
Status Gizi
dan
Karakteristi
k Balita
Diare di
Ruang
Rawat Inap
RSUD Dr.
H.
Somarno
Sostroatmo
djo Kuala
Kapuas,
Kalimantan
Tengah

Penelitian
RSUD Dr.
H.
Somarno
Sostroatmo
djo Kuala
Kapuas,
Kalimantan
Tengah

Peranan
Pendidikan
Keseharan
Ibu Dalam
Menggunak
an Sarana
Air Bersih
Terhadap
Pencegahan
Diare Pada
Balita di
Kec.
Marawola
Kab.
Donggala

Kec.
Marawola
Kab.
Donggala

Penelitian
Deskriptif
Analitik

Quasi
Experimen
tal dengan
rancangan
Nonequivalent
Control
Group
Design
With Pretest and
Post-test

Diteliti
- Karakteristik
Penderita
Umur
- 0-5 bln
- 6-12 bln
- 13-24 bln
- 25-60 bln
Jenis Diare
- Diare cair
akut
- Disentri
- Diare
Persisten
- Keadaan balita
penderita diare
selama dirawat
Gizi lebih
Gizi baik
KEP Ringan
KEP Sedang
KEP Berat
- Nilai Pengetahuan
Ibu
Penyuluhan +
Folder
Penyuluhan

- Sikap Ibu
Penyuluhan +
Folder
Penyuluhan

- Ketrampilan Ibu
Penyuluhan +
Folder
Penyuluhan

15,3%
40 %
29,4%
15,3%
87,1%
5,9%
7,1%

2,4%
41,2%
34,1%
17,6%
4,7%

t=
-10,57,
p=
0,000
t=
-6,69, p
= 0,000

t=
-4,085,
p=
0,000
t=
2,658, p
= 0,012

t=
-7,475,

14

p=
0,000
t=
3,546, p
= 0,001
3.

Sinthamurni
waty (2005)

FaktorFaktor
Resiko
Kejadian
Diare pada
Balita
(Studi
Kasus di
Kabupaten
Semarang)

Puskesmas
Bergas
Kabupaten
Semarang

Case
Control

4.

Syafie Ishak
(2002)

Perbanding
an
Efektivitas
Metode
Pastisipatif

Kec.
Grabag
Kab.
Purworejo

Eksperime
ntal semu
dengan
rancangan
Non

Umur pengasuh
balita
Tingkat
pendidikan
pengasuh balita
Perilaku mencuci
tangan sebelum
makan
Perilaku mencuci
peralatan makan
Perilaku mencuci
bahan makanan
Perilaku mencuci
tangan
dengan sabun
setelah BAB
Perilaku merebus
air minum
Kebiasaan
memberi makan
anak diluar
rumah.
Tingkat
kepadatan
perumahan
KetersediaanSA
B
Pemanfaatan
SAB
KualitasSAB
Ketersediaan
JAGA
Pemanfaatan
JAGA

- Pengetahuan Ibu
Perlakuan

Kontrol

Data
dianalis
a secara
kualitati
f dan
kuantita
tif

t = 6,69
p = 0,00
t = 4,20
p = 0,00

15

dengan
Informative
dalam
Meningkat
kan
Pengetahua
n dan Sikap
Ibu Tentang
Diare Anak
Balita di
Kec.
Grabag
Kab.
Purworejo

randomize
d Pretest
Postest
Control
Group
Design

- Sikap Ibu
Perlakuan

Kontrol

- Tanggapan Ibu
Pentingnya
pendidikan
kesehatan
Manfaat
pendidikan
Kesehatan
Kemampuan
Fasilitator
Efektivitas
metode
pendidikan
kesehatan
Perlunya
tindak lanjut
pendidikan
kesehatan

t = 4,39
p = 0,00
t = 2,06
p = 0,04
X2 =
0,94
p = 0,62
X2 =
0,09
p = 0,74
X2 =
2,57 p =
0,27
X2 =
3,88
p = 0,14

X2 =
1,08
p = 0,58

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

16

2.1

DIARE

2.1.1

Definisi diare
Menurut World Health Organization (WHO), penyakit diare adalah suatu

penyakit yang ditandai dengan perubahan bentuk dan konsistensi tinja yang lembek
sampai mencair dan bertambahnya frekuensi buang air besar yang lebih dari biasa, yaitu
3 kali atau lebih dalam sehari yang mungkin dapat disertai dengan muntah atau tinja
yang berdarah.11. Pada bayi yang sedang mengkonsumsi ASI, tidak jarang buang air
besarnya lebih dari 3 - 4 kali per hari. Keadaan ini tidak dapat disebut diare, tetapi masih
bersifat fisiologis atau normal. Selama berat badan bayi meningkat normal, hal tersebut
tidak tergolong diare, tetapi merupakan intolerensi laktosa sementara akibat belum
sempurnanya perkembangan saluran cerna. Untuk bayi yang minum ASI secara
eksklusif definisi diare yang praktis adalah meningkatnya frekuensi buang air besar atau
konsistensinya menjadi cair yang menurut ibunya tidak seperti biasanya.12

Di Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI, diare diartikan sebagai buang air besar
yang tidak normal atau bentuk tinja yang encer dengan frekuensi lebih banyak dari
biasanya. Neonatus dinyatakan diare bila frekuensi buang air besar sudah lebih dari 4
kali, sedangkan untuk bayi berumur lebih dari 1 bulan dan anak, frekuensinya lebih dari
3 kali.13
2.1.2

Klasifikasi

Diare dapat di klasifikasikan berdasarkan:13


1. Pembagian diare menurut etiologi
2. Pembagian diare menurut mekanismenya yaitu gangguan :
a. Absorbsi
b. Gangguan sekresi
3. Pembagian diare menurut lamanya diare:
a. Diare akut yang berlangsung kurang dari 14 hari.

17

b. Diare kronik yang berlangsung lebih dari 14 hari dengan etiologi non infeksi.
c. Diare persisten yang berlangsung lebih dari 14 hari dengan etiologi
infeksi.
2.1.3

Diare akut pada balita


Diare akut, yaitu diare yang berlangsung kurang dari 14 hari tanpa diselang-

seling berhenti lebih dari 2 hari.12


Berdasarkan banyaknya cairan yang hilang dari tubuh penderita, gradasi penyakit diare
akut dapat dibedakan dalam empat katagori, yaitu :12,13
1. Diare tanpa dehidrasi
2. Diare dengan dehidrasi ringan, apabila cairan yang hilang 5 % dari berat badan.
3. Diare dengan dehidrasi sedang, apabila cairan yang hilang berkisar 6 10 % dari
berat badan.
4. Diare dengan dehidrasi berat, apabila cairan yang hilang lebih dari 10 %
2.1.4

Etiologi diare akut


Pada saat ini, telah dapat diidentifikasikan tidak kurang dari 25 jenis

mikroorganisme yang dapat menyebabkan diare pada anak dan bayi. Penyebab infeksi
utama timbulnya diare umumnya adalah golongan virus, bakteri, dan parasit. Dua tipe
dasar dari diare akut oleh karena infeksi adalah non imflammatory dan inflammatory..12
Enteropatogen menimbulkan non inflammatory diare melalui produksi
enterotoksin oleh bakteri, destruksi sel permukaan villi oleh virus, perlekatan oleh
parasit, perlekatan oleh dan /atau translokasi dari bakteri. Sebaliknya inflammatory diare
biasanya disebabkan oleh bakteri yang menginvasi usus secara langsung atau
memproduksi sitotoksin.11,12,13

18

Beberapa penyebab diare akut yang dapat menyebabkan diare pada manusia adalah
sebagai berikut:12
Tabel 2.1: Penyebab diare akut infeksi
Golongan Bakteri
Aeromonas
Bacillus cereus
Campylobacter
jejuni
Clostridium perfringens
Clostridium difficile
Escherichia
coli
Plesiomonas shigeloides
Salmonella
Shigella
Staphylococcus aureus
Vibrio cholera
Vibrio
parahemolyticus
Yersinia enterocolitica
Golongan Virus
Astrovirus
Calcivirus (Norovirus, Sapovirus)
Enteric
adenovirus
Coronavirus
Rotavirus
Norwalk
virus
Cytomegalovirus* Herpes simplex virus*
Golongan Parasit
Balantidium coli
Blastocystis homonis
Cryptosporidium
parvum
Entamoeba histolytica
Giardia lamblia
Isospora belli
Trichuris trichiura
Strongyloides stercoralis
* umumnya berhubungan dengan diare hanya pada penderita immunocompromised

Di negara berkembang kuman patogen penyebab penting diare akut pada anakanak yaitu: Rotavirus, Escherichia coli enterotoksigenik, Shigella, Campylobacter jejuni
dan Cryptosopridium.12
Disamping itu penyebab diare non infeksi yang dapat menimbulkan diare pada
anak antara lain1:
Table 2.2 : Penyebab diare non infeksi
1. Kesulitan makan
2. Defek anatomis
Malrotasi, Penyakit Hirchsprung, Short Bowel Syndrome, Atofi
mikrovilli
3. Malabsorpsi
Defisiensi
disakaridase,
Malabsorpsi
glukosa-galaktosa,
Cholestosis, Celiac
4. Endokrinopati
Thyrotoksikosis, Penyakit Addison, Sindroma Adrenogenital
5. Keracunan makanan
Logam berat, Mushrooms
6. Neoplasma
Neuroblastoma, Phaeochromocytoma, Sindroma Zollinger-Ellison
7. Lain lain
Alergi susu sapi, Chrons disease, Infeksi non-GIT, Defisiensi imun,
Colitis ulserosa, Gangguan motilitas usus, Pellagra

2.1.5 Patofisiologi

19

Mekanisme utama dalam diare adalah terjadinya kelainan transport air dan
elektrolit. Distensi usus akibat bertambahnya cairan dan gas di lumen usus akan
merangsang timbulnya hiperperistalsis. Ada beberapa mekanisme utama patofisiologi
dasar diare yaitu:12,13
1. Gangguan absorbsi atau diare osmotik.
Secara umum terjadi penurunan fungsi absorpsi oleh berbagai sebab seperti
celiac sprue, atau karena:
a. mengkonsumsi magnesium hidroksida
b. defisiensi sukrase-isomaltase adanya laktase defisiensi pada anak yang lebih
besar
c. adanya bahan yang tidak diserap, menyebabkan bahan intraluminal pada
usus halus bagian proksimal tersebut bersifat hipertonis dan menyebabkan
hiperosmolaritas.13 Akibat perbedaan tekanan osmose antara lumen usus dan
darah maka pada segmen usus jejenum yang bersifat permeable, air akan
mengalir kearah lumen jejenum, sehingga air akan banyak terkumpul dalam
lumen usus. Natrium akan mengikuti masuk ke dalam lumen, dengan
demikian akan terkumpul cairan intraluminal yang besar dengan kadar
Natrium yang normal. Sebagian kecil cairan ini akan diabsorpsi kembali,
akan tetapi lainnya akan tetap tinggal di lumen oleh karena ada bahan yang
tidak dapat diserap seperti Magnesium, glukose, sukrose, laktose, maltose di
segmen ileum dan melebihi kemampuan absorpsi kolon, sehingga terjadi
diare. Bahan - bahan seperti karbohidrat dari jus buah, atau bahan yang
mengandung sorbitol dalam jumlah berlebihan, akan memberikan dampak
yang sama.

1. Malabsorbsi umum.

20

Keadaan seperti short bowel syndrome, celiac, protein, peptida, tepung, asam
amino, dan monosakarida mempunyai peran pada gerakan osmotik pada lumen
usus. Kerusakan sel (yang secara normal akan menyerap Natrium dan air) dapat
disebabkan virus atau kuman, seperti Salmonella, Shigella, atau Campylobacter.2,3
Sel tersebut juga dapat rusak karena inflammatory bowel disease idiopatik, akibat
toksin, atau obat - obat tertentu.
Gangguan atau kegagalan ekskresi pankreas menyebabkan kegagalan pemecahan
kompleks protein, karbohidrat, trigliserid, selanjutnya menyebabkan maldigesti,
malabsorbsi, dan akhirnya menyebabkan diare osmotik. 2 Steatorrhe berbeda dengan
malabsorbsi protein dan karbohidrat dengan asam lemak rantai panjang
intraluminal, tidak hanya menyebabkan diare osmotik, tetapi juga menyebabkan
pacuan sekresi ion klorida sehingga diare tersebut dapat disebabkan malabsorpsi
karbohidrat oleh karena kerusakan difus mukosa usus, defisiensi sukrosa,
isomaltosa, dan defisiensi kongenital laktase, pemberian obat pencahar; laktulose,
pemberian magnesium hydroxide (misalnya susu Mg), malabsorpsi karbohidrat
yang berlebihan pada hipermotilitas pada kolon iritabel.
2. Gangguan sekresi atau diare sekretorik.
a. Hiperplasia kripta
Teoritis adanya hiperplasia kripta akibat penyakit apapun, dapat menyebabkan
sekresi intestinal dan diare. Pada umumnya penyakit ini menyebabkan atrofi villi.13
b. Luminal secretagogues
Dikenal 2 bahan yang menstimulasi sekresi lumen yaitu enterotoksin bakteri dan
bahan kimia yang dapat menstimulasi seperti laksansia, garam empedu bentuk
dihydroxy, serta asam lemak rantai panjang.
Toksin penyebab diare ini terutama bekerja dengan cara meningkatkan
konsentrasi intrasel cAMP, cGMP, atau Ca2+ yang selanjutnya akan mengaktifkan
protein kinase.3 Pengaktifan protein kinase akan menyebabkan fosforilasi membran
protein sehingga mengakibatkan perubahan saluran ion, akan menyebabkan ion

21

klorida di kripta keluar. Di sisi lain terjadi peningkatan pompa natrium, dan natrium
masuk kedalam lumen usus bersama ion klorida.
Bahan laksatif dapat menyebabkan bervariasi efek pada aktivitas NaK-ATPase.
Beberapa diantaranya memacu peningkatan kadar cAMP intraseluler, meningkatkan
permeabilitas intestinal dan sebagian menyebabkan kerusakan sel mukosa.
Beberapa obat menyebabkan sekresi intestinal. Penyakit malabsorpsi seperti reseksi
ileum dan penyakit Crohn dapat menyebabkan kelainan sekresi seperti
menyebabkan peningkatan konsentrasi garam empedu, lemak.
c. Blood-borne secretagogues
Diare sekretorik pada anak - anak di negara berkembang, umumnya disebabkan
enterotoksin E. coli atau Cholera. Berbeda dengan negara berkembang, di negara
maju,diare sekretorik jarang ditemukan, apabila ada kemungkinan disebabkan obat
atau tumor seperti ganglioneuroma atau neuroblastoma yang menghasilkan
hormone seperti VIP. Pada orang dewasa, diare sekretorik berat disebabkan
neoplasma pankreas, sel non - beta yang menghasilkan VIP, Polipeptida pankreas,
hormon sekretorik lainnya (sindroma watery diarrhea hypokalemia achlorhydria
(WDHA).13 Diare yang disebabkan tumor ini termasuk jarang. Semua kelainan
mukosa usus, berakibat sekresi air dan mineral berlebihan pada vilus dan kripta
serta semua enterosit terlibat dan dapat terjadi mukosa usus dalam keadaan normal.
3. Diare akibat gangguan peristaltik.
Meskipun motilitas jarang menjadi penyebab utama malabsorbsi, tetapi
perubahan motilitas mempunyai pengaruh terhadap absorbsi. Baik peningkatan
ataupun penurunan motilitas, keduanya dapat menyebabkan diare. Penurunan
motilitas dapat mengakibatkan bakteri tumbuh lampau yang menyebabkan diare.
Perlambatan transit obat - obatan atau nutrisi akan meningkatkan absorbsi.
Kegagalan motilitas usus yang berat menyebabkan stasis intestinal berakibat
inflamasi,

dekonjungasi

garam

empedu,

dan

malabsorbsi.

Diare

akibat

hiperperistaltik pada anak jarang terjadi. Watery diare dapat disebabkan karena

22

hipermotilitas pada kasus kolon iritable pada bayi.12 Gangguan motilitas mungkin
merupakan penyebab diare pada thyrotoksikosis, malabsorbsi asam empedu, dan
berbagai penyakit lain.
4. Diare inflamasi
Proses inflamasi di usus halus dan kolon menyebabkan diare pada beberapa
keadaan. Akibat kehilangan sel epitel dan kerusakan tight junction, tekanan
hidrostatik dalam pembuluh darah dan limphatic menyebabkan air, elektrolit,
mukus, protein, dan seringkali sel darah merah dan sel darah putih menumpuk di
lumen. Biasanya diare akibat inflamasi ini berhubungan dengan tipe diare lain
seperti diare osmotik dan diare sekretorik.
Bakteri enteral patogen akan mempengaruhi struktur dan fungsi tight junction,
menginduksi sekresi cairan dan elektrolit, dan akan mengaktifkan kaskade
inflamasi. Efek infeksi bakterial pada tight junction akan mempengaruhi susunan
anatomis dan fungsi absorpsi yaitu cytoskeleton dan perubahan susunan
protein.Penelitian oleh Berkes J dkk. 2003 menunjukkan bahwa peranan bakteri
enteral patogen pada diare terletak pada perubahan barrier tight junction oleh toksin
atau produk kuman yaitu perubahan pada cellular cytoskeleton dan spesifik tight
junction. Pengaruh itu bisa pada kedua komponen tersebut atau salah satu
komponen saja sehingga akan menyebabkan hipersekresi klorida yang akan diikuti
natrium dan air. Sebagai contoh C.difficile akan menginduksi kerusakan
cytoskeleton maupun protein, Bacteroides fragilis menyebabkan degradasi
proteolitik protein tight junction, V cholera mempengaruhi distribusi protein tight
junction, sedangkan EPEC menyebabkan akumulasi protein cytoskeleton.12,13
5. Diare terkait imunologi
Diare terkait imunologi dihubungkan dengan reaksi hipersensitivitas tipe I, III
dan IV1. Reaksi tipe I yaitu terjadi reaksi antara sel mast dengan IgE dan alergen
makanan. Reaksi tipe III misalnya pada penyakit gastroenteropati, sedangkan reaksi

23

tipe IV terdapat pada Coeliac disease dan protein loss enteropaties. Pada reaksi tipe
I, alergen yang masuk tubuh menimbulkan respon imun dengan dibentuknya IgE
yang selanjutnya akan diikat oleh reseptor spesifik pada permukaan sel mast dan
basofil. Bila terjadi aktivasi akibat pajanan berulang dengan antigen yang spesifik,
sel mast akan melepaskan mediator seperti histamin, ECF-A, PAF, SRA-A dan
prostaglandin. Pada reaksi tipe III terjadi reaksi komplek antigen-antibodi dalam
jaringan atau pembuluh darah yang mengaktifkan komplemen. Komplemen yang
diaktifkan kemudian melepaskan Macrophage Chemotactic Factor yang akan
merangsang sel mast dan basofil melepas berbagai mediator. Pada reaksi tipe IV
terjadi respon imun seluler, disini tidak terdapat peran antibodi. Antigen dari luar
dipresentasikan sel APC (Antigen Presenting Cell) ke sel Th 1 yang MHC-II
dependen1. Terjadi pelepasan berbagai sitokin seperti MIF, MAF, dan IFN- oleh
Th1. Sitokin tersebut akan mengaktifasi makrofag dan menimbulkan kerusakan
jaringan.
Berbagai mediator diatas kan menyebabkan luas permukaan mukosa berkurang
akibat kerusakan jaringan, merangsang sekresi klorida diikuti oleh natrium dan air.

2.1.6

Gejala Klinis

Manifestasi Klinis
Infeksi usus menimbulkan tanda dan gejala gastrointestinal serta gejala lainnya
bila terjadi komplikasi ekstra intestinal termasuk manifestasi neurologik. Gejala
gastrointestinal bisa berupa diare, kram perut, dan muntah.11,13 Sedangkan manifestasi
sistemik bervariasi tergantung pada penyebabnya.
Penderita dengan diare cair mengeluarkan tinja yang mengandung sejumlah ion
natrium, klorida, dan bikarbonat. Kehilangan air dan elektrolit ini bertambah bila ada
muntah dan kehilangan air juga meningkat bila ada panas. Hal ini dapat menyebabkan
dehidrasi, asidosis metabolis dan hipokalemia. Dehidrasi merupakan keadaan yang
paling berbahaya karena dapat menyebabkan hipovolemia, kolaps kardiovaskular, dan

24

kematian bila tidak diobati dengan tepat. Dehidrasi yang terjadi menurut tonisitas
plasma dapat berupa dehidrasi isotonik, dehidrasi hipertonik (hipernatremik) atau
dehidrasi hipotonik. Menurut derajat dehidrasinya bisa tanpa dehidrasi, dehidrasi ringan,
dehidrasi sedang, atau dehidrasi berat.
Table 2.3: Gejala khas diare akut oleh berbagai penyebab.13
Gejala
klinik
Masa
tunas
Panas
Mual
muntah
Nyeri
perut
Nyeri
kepala
Lamanya
sakit
Sifat tinja
Volume
Frekuensi
Konsisten
si
Darah
Bau
Warna
Leukosit
Lain - lain

Rotavirus

Shigella

Salmonella

ETEC

EIEC

Kolera

17 -72 jam

24-48 jam

6-72 jam

6-72 jam

6-72 jam

+
Sering

++
Jarang

++
Sering

++
-

48-72
jam
Sering

Tenesmus

Tenesmus
Kolik
+

Tenesmus
cramp
-

Cramp

Tenesmus
Cramp
+

5-7 hari

>7 hari

3-7 hari

2-3 hari

Variasi

3 hari

Sedang
5-10x/hari

Sedikit
>10x/hari

Sedikit
Sering

Banyak
Sering

Sedikit
Sering

Cair

Lembek

Lembek

Cair

Lembek

Banyak
Terus
menerus
Cair

Langu
Kuning
hijau

Sering

Merah
hijau

Kadang
Busuk
Kehijauan

+
Tak
berwarna

+
Merah
hijau

Anorexia

+
Kejang

+
Sepsis

Meteorism
us

Infeksi
sistemik

Amis
Air
cucian
beras

*ETEC: enterotoxigenic eschericia coli,, EIEC: enteroinvasive eschericia coli


2.1.7

Diagnosis
Beberapa hal yang perlu dilakukan bila mendapatkan pasien terutama anak

dengan diare akut.12


1) menilai tingkat dehidrasi dan memberikan pengganti cairan danelektrolit.

25

2) mencegah penyebaran enteropatogen.


3) menentukan agen etiologi dan memberikan terapi spesifik jika terindikasi.
2.1.8

Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pasien diare adalah rehidrasi dengan menilai dari derajat

dehidrasinya. Dehidrasi dapat timbul jika diare berat dan asupan oral terbatas karena
nausea atau muntah terutama pada anak- anak dan lansia. Dehidrasi bermanifestasi
sebagai rasa haus yang meningkat, berkurangnya jumlah frekuensi urin pada keadaan
yang lanjut dapat mengarah ke gagal ginjal akut.12,13
Derajat Dehidrasi akibat diare pada anak dibedakan menjadi tiga yaitu
(Suraatmaja, 2010):
1. Tanpa dehidrasi, biasanya anak tampak normal, tidak ada tanda- tanda dehidrasi
2. Dehidrasi ringan/sedang, menyebabkan anak tampak rewel atau gelisah,

mata

sedikit cekung, merasa haus, turgor kulit agak lambat jika dicubit
3. Dehidrasi berat, terjadi penurunan kesadaran pada anak, mata tampak cekung,
tidak bisa minum atau malas minum, turgor kulit sangat lama kembalinya jika
dicubit, nafas cepat dan anak terlihat lemah. Sedangkan

derajat

dehidrasi

menurut keadaan klinisnya terbagi atas (Simadibrata, 2007):


1) Dehidrasi ringan, jika kekurangan cairan < 5% berat badan
2) Dehidrasi sedang, jika kekurangan cairan 5-10% berat badan
3) Dehidrasi berat, jika kekurangan cairan > 10% berat badan
Tujuan Pengobatan yang efektif dalam menangani anak-anak yang menderita
diare akut menurut WHO adalah (Suraatmaja, 2010):

26

1. Penggantian cairan (rehidrasi), cairan diberikan secara oral untuk mengatasi


dehidrasi.
2. Pemberian makanan terutama ASI dan makanan lunak selama diare dan masa
penyembuhan tetap dilakukan untuk mencegah kekurangan gizi.
3. Tidak menggunakan obat antidiare, antibiotika diberikan hanya pada kasus yang
sudah diketahui secara pasti apa agen yang menjadi penyebab diare tersebut.
Misalnya pada kasus kolera atau disentri yang disebabkan oleh Shigella.
4. Memberikan petunjuk dan edukasi yang efektif bagi ibu serta pengasuh dalam
penanganan dan pencegahan masalah diare
5. Diberikan terapi tambahan misalnya dengan pemberian suplemen zinc untuk
mengurangi lama dan beratnya diare.
2.1.10 Pencegahan
Penyakit diare dapat dicegah melalui promosi kesehatan lingkungan, yaitu:15
1) Menggunakan sumber air bersih dan memasak air hingga mendidih sebelum
diminum untuk mematikan sebagian besar kuman penyakit.
2) Mencuci tangan dengan sabun pada waktu sebelum makan, sesudah makan dan
sesudah buang air besar.
3) Menggunakan jamban yang sehat untuk keluarga dan membuang tinja bayi dan anak
dengan benar.
4) Menjaga higienitas makanan dan minuman.
5) Pengelolaan pembuangan sampah yang baik dan benar.
2.2

FAKTOR RISIKO YANG MEMPENGARUHI DIARE

27

Banyak faktor risiko yang mempengaruhi terjadinya diare pada bayi dan
balita. Cara penularan diare pada umumnya melalui cara fekaloral yaitu melalui
makanan atau minuman yang tercemar oleh enteropatogen, atau kontak langsung dengan
tangan penderita atau barang-barang yang telah tercemar tinja penderita atau tidak
langsung melalui lalat. (melalui 4 F = finger, flies, fluid, field). Adapun faktor resiko
terjadinya diare yaitu :11,13
2.2.1

Faktor Anak
Bayi dan anak balita merupakan kelompok usia yang paling banyak menderita

diare, kerentanan kelompok usia ini juga banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu
umur anak, pemberian ASI, status gizi anak dan status imunisasi campak.
a. Faktor umur
Sebagian besar diare terjadi pada 2 tahun pertama kehidupan. Insidensi tertinggi
terjadi pada kelompok umur 6 sampai 11 bulan, pada saat diberikan makanan
pendamping ASI (Juffrie, 2011). Hal ini dikarenakan belum terbentuknya kekebalan
alami dari anak usia dibawah satu tahun. Pola ini menggambarkan kombinasi efek
penurunan kadar antibodi ibu, kurangnya kekebalan aktif bayi, pengenalan makanan
yang mungkin terkontaminasi bakteri tinja dan kontak langsung dengan tinja manusia
atau binatang pada saat bayi mulai dapat merangkak (Depkes, 1999).
Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Sinthamurniwaty (2005) terhadap
faktor-faktor risiko kejadian diare akut di Semarang menyatakan bahwa kelompok umur
yang paling banyak menderita diare adalah umur < 24 bulan yaitu sebesar 58,68 %,
kemudian 24-36 bulan sebesar 24,65 %, sedangkan paling sedikit umur 37- 60 bulan
16,67 %.15
b.

Status Gizi
Status gizi pada anak sangat berpengaruh terhadap kejadian penyakit diare. Pada

anak yang menderita kurang gizi dan gizi buruk yang mendapatkan asupan makan yang

28

kurang mengakibatkan episode diare akutnya menjadi lebih berat dan mengakibatkan
diare yang lebih lama dan sering. Risiko meninggal akibat diare persisten dan atau
disentri sangat meningkat bila anak sudah mengalami kurang gizi. Beratnya penyakit,
lamanya dan risiko kematian karena diare meningkat pada anak-anak dengan kurang
gizi, apalagi pada yang menderita gizi buruk (Palupi, 2009). Dari penelitian yang
dilakukan oleh Adisasmito (2007) terhadap beberapa penelitian faktor risiko diare di
Indonesia didapatkan hasil bahwa status gizi yang buruk merupakan faktor risiko
terjadinya diare. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sinthamurniwaty
(2005) yang menyatakan bahwa balita dengan status gizi rendah mempunyai risiko 4,21
kali terkena diare akut dibanding balita dengan status gizi baik.16
c. Status Imunisasi Campak
Menurut Suraatmaja (2007), pada balita, 1-7% kejadian diare berhubungan
dengan campak, dan diare yang terjadi pada campak umumnya lebih berat dan lebih
lama (susah diobati, cendrung menjadi kronis) karena adanya kelainan pada epitel
usus. Diare dan disentri lebih sering terjadi atau berakibat berat pada anak-anak
dengan campak atau menderita campak dalam 4 minggu terakhir. Hal ini disebabkan
karena penurunan kekebalan pada penderita (Depkes, 1999).
2.2.2

Faktor Orang tua


Peranan orang tua dalam pencegahan dan perawatan anak dengan diare sangatlah

penting. Faktor yang mempengaruhinya yaitu umur ibu, tingkat pendidikan,


pengetahuan ibu mengenai hidup sehat dan pencegahan terhadap penyakit. Rendahnya
tingkat pendidikan ibu dan kurangnya pengetahuan ibu tentang pencegahan diare dan
perawatan anak dengan diare merupakan penyebab anak terlambat ditangani dan
terlambat mendapatkan pertolongan sehingga beresiko mengalami dehidrasi.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Hermin (1994), ditemukan bahwa
kelompok ibu dengan status pendidikan SLTP keatas mempunyai kemungkinan 1,25 kali
memberikan cairan rehidrasi oral dengan baik pada balita dibanding dengan

29

kelompok ibu dengan status pendidikan SD kebawah. Dari penelitian Cholis Bachroen
dan Soemantri (1993) diketahui pendidikan merupakan faktor yang berpengaruh
terhadap morbiditas anak balita, begitu pula hasil penelitian Sunoto (1990). Tingkat
pengetahuan ibu, sikap dan perilaku keluarga dalam tatalaksana penderita diare
mencegah terjadinya kondisi anak dengan dehidrasi (Sukawana, 2000). Sementara itu
dari hasil survei yang dilakukan oleh SDKI (2007) terhadap pengetahuan ibu tentang
diare didapatkan data bahwa pengetahuan ibu tentang pemberian paket oralit lebih
rendah pada wanita dengan kelompok umur 15-19 tahun dibandingkan dengan
wanita yang lebih tua. Sementara itu pendidikan ibu mempunyai hubungan yang positif
dengan pengetahuan ibu tentang pemberian paket oralit.
2.2.3

Faktor lingkungan
Di daerah kumuh yang padat penduduk, kurang air bersih dengan sanitasi yang

jelek akan mengakibatkan penyakit mudah menular. Pada beberapa tempat shigellosis
yaitu penyebab diare merupakan penyakit endemik, infeksi dapat berlangsung sepanjang
tahun, terutama pada bayi dan anak- anak yang berumur 6 bulan sampai 3 tahun
(Depkes, 1999).
Penularan penyakit diare sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan dimana
sebagian besar penularan melalui faecal- oral yang sangat dipengaruhi oleh ketersediaan
sarana air bersih dan jamban keluarga yang memenuhi syarat kesehatan serta perilaku
sehat dari keluarga.Oleh karena itu dalam usaha mencegah timbulnya diare yaitu dengan
melalui penyediaan fasilitas jamban keluarga yang disertai dengan penyediaan air yang
cukup, baik kuantitas maupun kualitasnya. Upaya tersebut harus diikuti dengan
peningkatan pengetahuan dan sosial ekonomi masyarakat, karena tingkat pendidikan
dan ekonomi seseorang dapat berpengaruh pada upaya perbaikan lingkungan.15
2.2.3.1 Penyediaan Jamban Keluarga
Di negara berkembang, masih banyak terjadi pembuangan tinja secara
sembarangan akibat tingkat sosial ekonomi yang rendah, pengetahuan dibidang

30

kesehatan lingkungan yang kurang dan kebiasaan buruk dalam pembuangan

tinja

yang diturunkan dari generasi ke generasi. Kondisi tersebut biasanya ditemukan


terutama pada masyarakat di pedesaan dan daerah kumuh perkotaan (Chandra, 2006).
2.2.3.2 Sarana Pembuangan Sampah
Menurut definisi (WHO) Sampah adalah sesuatu yang tidak digunakan, tidak
dipakai, tidak disenangi atau sesuatu yang dibuang yang berasal dari kegiatan
manusia dan tidak terjadi dengan sendirinya.
Sampah, baik kuantitas maupun kualitasnya sangat dipengaruhi oleh berbagai
kegiatan dan taraf hidup manusia. Beberapa faktor yang penting antara lain adalah
(Slamet, 2009):
a) Jumlah
banyak

penduduk,

pula

semakin

sampahnya.

banyak

Pengelolaan

penduduknya
sampah

maka

akan semakin

inipun berpacu dengan laju

pertambahan penduduk.
b) Keadaan sosial ekonomi, semakin tinggi keadaan sosial ekonomi masyarakat maka
semakin banyak jumlah perkapita sampah yang dibuang.
c) Kemajuan Teknologi, dengan kemajuan teknologi akan menambah jumlah maupun
kualitas sampah, karena pemakaian bahan baku yang semakin beragam, cara
pengepakan dan produk manufaktur yang semakin beragam pula.

2.2.4

Sanitasi Sumber Air


Air merupakan zat yang paling penting dalam kehidupan setelah udara. Sekitar

tiga per empat bagian dari tubuh kita terdiri dari air dan tidak seorangpun

dapat

31

bertahan hidup lebih dari 4-5 hari tanpa air. Kebutuhan air rata-rata setiap individu
per hari berkisar antara 150-200 liter/35-40 galon, kebutuhan tersebut bervariasi

dan

bergantung pada keadaan iklim, standar kehidupan dan kebiasaan masyarakat.


Berdasarkan analisis WHO pada negara-negara maju setiap orang memerlukan air antara
60-120 liter perhari, sedangkan pada negara berkembang tiap orang memerlukan air
antara 30-60 liter per hari (Mubarak, 2009).
Air yang berada di permukaan bumi ini dapat berasal dari berbagai sumber,
berdasarkan letak sumbernya air dapat dibagi menjadi (Chandra, 2006):
a) Air Angkasa atau Air Hujan
Air angkasa atau air hujan merupakan sumber utama air di bumi. Air ini dapat
dijadikan sebagai sumber air minum. Walau pada saat presipitasi merupakan air
yang paling bersih, air tersebut cenderung mengalami pencemaran ketika berada di
atmosfer. Pencemaran tersebut dapat disebabkan oleh partikel debu, mikroorganisme
dan juga gas.
b) Air Permukaan
Air permukaan adalah air yang terdapat pada permukaan tanah, air tersebut
meliputi badan-badan air semacam sungai, danau, telaga, waduk yang sebagian besar
berasal dari air hujan yang jatuh ke permukaan bumi. Oleh karena keadaannya yang
terbuka, maka air permukaan mudah terkena pengaruh pencemaran, baik oleh tanah,
sampah maupun lainnya.

c) Air Tanah (Ground Water)


Air tanah berasal dari air hujan yang jatuh ke permukaan bumi yang kemudian
mengalami

penyerapan

ke dalam tanah dan mengalami proses filtrasi alamiah,

32

sehingga membuat air tanah menjadi lebih baik dan lebih murni dibandingkan dengan
proses yang telah dialami air hujan tersebut.
Air minum yang ideal seharusnya jernih, tidak berwarna, tidak berasa dan tidak
berbau (Slamet, 2009). Air dinyatakan tercemar apabila mengandung bibit penyakit,
parasit, bahan-bahan kimia yang berbahaya dan sampah atau limbah industri. Berikut ini
merupakan batasan-batasan sumber air yang bersih dan aman (Chandra, 2006):
a) Bebas dari kontaminasi kuman atau bibit penyakit
b) Bebas dari substansi kimia yang berbahaya dan beracun
c) Tidak berasa dan tidak berbau
d) Dapat dipergunakan untuk mencukupi kebutuhan domestik/rumah tangga
e) Memenuhi standar minimal yang ditentukan oleh WHO atauDepartemen
Kesehatan RI
2.2.5

Higiene dan Kebersihan diri


Perilaku higiene dan kebersihan ibu dan anak mempunyai pengaruh terhadap

pencegahan terjadinya diare pada bayi dan balita, salah satu perilaku hidup bersih yang
sering dilakukan adalah mencuci tangan sebelum dan sesudah makan pada anak dan
juga setelah anak buang air besar (Hira, 2002). Banyak penyakit mudah ditularkan
melalui makanan yang terkontaminasi atau dari tangan ke mulut. Perilaku mencuci
tangan mengurangi risiko penularan penyakit pada saluran cerna (tinja) maupun saluran
pernafasan. (SDKI, 2007). Tangan yang kotor dan kuku panjang merupakan sarana
berkembang biaknya agen kuman dan bakteri terutama penyebab penyakit diare. Oleh
sebab itu pentingnya orang tua memperhatikan kebersihan tangan dan kuku pada anak
usia bayi dan balita, dimana pada usia ini anak berada pada tahapan dimana lebih
cendrung untuk memasukkan benda atau tangan ke dalam mulut.

33

Table 2.4 : Prasyarat Sarana Sanitasi Rumah Sehat Menurut Departemen Kesehatan RI,
1996.20,18
Jenis Sarana

Sarana Air Bersih


(SAB)

Jamban Keluarga

Sarana Pembuangan
Air Limbah (SPAL)

Pembuangan
Sampah

Syarat-syarat Kesehatan

Jarak antara sumber air dengan sumber pengotoran (seperti septic tank, tempat
pembuangan sampah, air limbah) minimal 10 meter

Pada sumur gali sedalam 3 meter dari permukaan tanah dibuat kedap air, yaitu
dilengkapi cincin dan bibir sumur

Penampungan air hujan, perlindungan mata air, sumur artesis, terminal air,
perpipaan/kran atau sumur gali terjaga kebersihannya

Kotoran manusia tidak mencemari permukaan tanah (tidak dibuang


sembarangan di atas tanah)

Kotoran manusia tidak mencemari air permukaan tanah maupun air tanah
(tidak dibuang ke badan air, jarak jamban >10 meter dari sumur dan bila
membuat lubang jamban jangan sampai dalam lubang tersebut mencapai
sumber air)

Kotoran manusia tidak dijamah oleh lalat (jamban dengan leher angsa atau
dilengkapi tutup)

Jamban tidak menimbulkan sarang nyamuk

Jamban tidak menimbulkan bau yang mengganggu

Jamban tidak menimbulkan kecelakaan (atap tidak terlalu rendah, dll)

Tidak mencemari permukaan tanah (air limbah tidak dibuang sembarangan


sehingga menyebabkan tanah becek atau jadi comberan, berbau, dan lain-lain)

Tidak mencemari air permukaan tanah maupun air tanah, kecuali telah melalui
pengolahan sederhana (jarak lubang sumurannya dengan sumber air bersih
minimal 10 meter)

Tidak menimbulkan sarang nyamuk

Tersedia tempat sampah dalam rumah yang kedap air dan tertutup

34

2.4

Sampah basah di daerah pedesaan dapat segera ditanam pada lubang galian
ukuran 1 x 1 x 1 meter. Sampahnya tertutup tanah atau habis dibakar, tidak
mengundang lalat berkembang biak.

KERANGKA TEORI
Faktor risiko
Internal
-Allergie /
intolerance
-Immunodefisiensi
-Malabsorbsi
-malnutrisi

Eksternal

Kekebalan

BALITA
(1-5 tahun)

Faktor anak/balita
-usia
-jenis kelamin
-ASI Eksklusif
-imunisasi
-Status gizi
-Riwayat diare
sebelumnya

Faktor Ibu/Pengasuh

Hyginitas

-usia
-pendidikan
-pengetahuan
-kebiasaan mencuci tangan
sebelum memberi anak
makan.

BANJIR

DIAR
E

Lingkungan

-kepadatan
-pencemaran udara dan
lingkungan
-sarana air bersih
-jamban keluarga
-pengeloaan sampah

-ketersediaan air bersih


-pemanfaatan air bersih
-ketersediaan JAGA
sehat.

-penyimpanan sampah
-pengumpulan sampah
-pembuangan sampah

35

Bagan 2.2 kerangka teori

BAB III

KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL

3.1

KERANGKA KONSEP
Higiene Perorangan
Ibu
Anak balita
Sanitasi lingkungan
rumah
Ketersediaan
jamban keluarga
Jenis jamban
pengelolaan
sampah

DIARE PADA
ANAK BALITA
(1-5 TAHUN)

Sumber air
bersih

Karakteristik Anak
dan Ibu:
Usia Anak balita
Usia ibu
Status ekonomi

36

Bagan 3.1: kerangka konsep

3.2

Tabel Variabel dan Definisi Operasional

Variabel

Definisi
Operasional

Cara Ukur

Hasil Ukur

Skala

Referensi

Nominal

World Health
Organization
(WHO). Diarrhoea:
Why children are
still dying and what
can be done: The
United Nations
Childrens Fund
(UNICEF)/World
Health
Organization
(WHO), 2009.

Ordinal

Amin R, Masni S,
Rahma et al Faktorfaktor yang
mempengaruhi
kejadian diare pada
balita di Wilayah
kerja Puskesmas
Baranglompo
Kecematan Ujung
Tanah Tahun2012:
Fakultas Kesehatan
Masyarakat,
UNHAS, Makassar
2012.

Ordinal

Sinthamurniwaty,

dan Alat ukur

Variabel Dependen
Diare akut
pada balita

Bertambahnya
frekuensi
defekasi dari
3 atau lebih
disertai dengan
perubahan
konsistensi
feses11 menjadi
encer yang
berlangsung
kurang dari 14
hari.12

Menanyakan :

1 = diare

-frekuensi

2 = tidak
diare

-konsistensi
-disertai darah
Alat ukur :
Kuesioner

Variabel Independent
Higiene
perorangan

Sanitasi

upaya
seseorang
dalam
memelihara
kebersihan dan
kesehatan
dirinya untuk
memperoleh
kesejahteraan
fisik dan
psikologis

Catatan Ukur :
Jawaban
dari kuesioner
dan
dikelompok
mengikut skor

upaya

Catatan Ukur :

1= higiene
perorangan
baik
2=hygiene
perorangan
buruk

Alat
Ukur
kuesioner
Bila
didapatkan
skor :
7 5 =baik
4 0 =buruk
1= sanitasi

37

lingkungan

mewujudkan
lingkungan
yang bersih dan
sehat untuk
memperoleh
kesejahteraan
fisik dan
psikologis.

Jawaban
dari kuesioner
dan
dikelompok
mengikut skor

lingkungan
baik

et al. Faktor-faktor
risiko kejadian
diare akut pada
balita: Program
Studi Magister
Epidemiologi Pasca
Sarjana Universitas
Diponegoro
Semarang 2006

2=sanitasi
lingkungan
buruk

Alat
Ukur
kuesioner
Bila
didapatkan
skor :

8 4 =baik
3 0 = buruk
Jenis jamban

Sumber air
bersih

Usia anak
balita

Bangunan yang
dipergunakan
untuk
membuang
tinja/kotoran
manusia yang
digunakan oleh
keluarga yang
memenuhi
syarat
pembuangan
kotoran sesuai
aturan
kesehatan

Catatan Ukur :
Jawaban
dari kuesioner
dan
dikelompok
mengikut skor

Sumber air
yang digunakan
untuk
memenuhi
kebutuhan
hidup seharihari yang
memenuhi
syarat kualitas
air bersih.19

Catatan Ukur :
Jawaban
dari kuesioner

Lama hidup
yang dialami
oleh balita
yang diukur
dengan
menggunakan
tanggal, bulan

Cara ukur:
melihat
catatan medis
dan
menghitung
lama waktu
antara tanggal

Jenis
Jamban
yang
digunakan,
bila :

Nominal

Amin R, Masni S,
Rahma et al Faktorfaktor yang
mempengaruhi
kejadian diare pada
balita di Wilayah
kerja Puskesmas
Baranglompo
Kecematan Ujung
Tanah Tahun2012:
Fakultas Kesehatan
Masyarakat,
UNHAS, Makassar
2012.

Nominal

Departemen
Kesehatan RI,
1990. Peraturan
Menteri Kesehatn
RI Nomor :
416/Menkes/Per/IX
/1999 tentang
Syarat-syarat dan
Pengawasan
Kualitas Air.
Depkes RI, Jakarta.

Interval

Tasker RC,
McClure RJ,
Acerini CL.
Diarrhoea. Oxford
Handbook of
Paediatrics. New
York: Oxford

1 = leher
Alat
Ukur
angsa
kuesioner
2=
Cemplung/
plengsengan

1=PAM
2=Sumur
gali

Alat Ukur :
kuesioner

1 = 12-24
bulan
2 = 25-60
bulan

38

kelahiran pada
saat
dilaksanakan
penelitian.

lahir balita
sampai dengan
saat
penelitian/obs
ervasi
dilaksanakan.

University Press,
2008; 312 315

Alat ukur :
Kuesioner
Usia ibu

Status
ekonomi
keluarga

Lamanya hidup
yang dihitung
berdasarkan
tahun kelahiran

Berdasarkan
isi kuesioner
yang ditulis
ibu.

1 = resiko
rendah

Kondisi
keuangan atau
penghasilan
yang diperoleh
keluarga per
bulan

Catatan Ukur :
Jawaban
dari kuesioner

1=Tinggi,
bila
penghasilan

Alat Ukur :
kuesioner

per bulan
>2,5jt

Ordinal

Wiku.A, et al.
Faktor risiko diare
pada balita di
Indonesia:
Sytematic review
penelitian
akademik bidang
kesehatan
masyarakat.
Departemen
Administrasi dan
Kebijakan
Kesehatan,
Fakultas Kesehatan
Masyarakat,
Universitas
Indonesia, Depok
Indonesia, 2007; 3;
5-7.

Ordinal

Wiku.A, et al.
Faktor risiko diare
pada balita di
Indonesia:
Sytematic review
penelitian
akademik bidang
kesehatan
masyarakat.
Departemen
Administrasi dan
Kebijakan
Kesehatan,
Fakultas Kesehatan
Masyarakat,
Universitas
Indonesia, Depok
Indonesia, 2007; 3;

2= resiko
tinggi

2=Rendah
bila
penghasilan
per bulan
<2.5jt

39

5-7.

BAB IV
METODE PENELITIAN

4.1 JENIS PENELITIAN


Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan rancangan
cross sectional (potong silang). Dalam penelitian cross sectional peneliti mencari
hubungan antara variabel bebas dan variabel tergantung dengan melakukan pengukuran
pada saat tertentu. Dalam penelitian ini variabel dependennya adalah kejadian diare
pada anak balita dan variabel independennya adalah faktor higiene perorangan ibu serta
anak balita, sanitasi lingkungan rumah dan sarana air bersih.
4.2 LOKASI dan WAKTU PENELITIAN
4.2.1 Lokasi penelitian
Penelitian ini dilakukan di Wilayah kelurahan Bukit Duri, Jakarta Selatan. Hal
ini disebabkan karena kelurahan Bukit Duri merupakan salah satu kelurahan pada
Kecamatan Tebet yang paling terkena dampak banjir bulan Januari-Februari 2014.
4.2.2 Waktu penelitian
Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari 2014 setelah terjadinya banjir yang
melanda ibukota Jakarta. Dampak yang terjadi secara langsung pada kelurahan Bukit
Duri menyebabkan banyak terjadi penyakit, salah satunya adalah diare.

40

4.3 POPULASI dan SAMPEL PENELITIAN


4.3.1 Populasi Penelitian
Populasi target adalah anak balita usia 1-5 tahun di Kecamatan Tebet. Populasi
terjangkau adalah seluruh anak balita yang masuk tercatat di Kelurahan Bukit Duri pada
bulan Februari 2014.

4.3.2 Kriteria inklusi dan eksklusi


1. Kriteria inklusi
a) Ibu yang memiliki anak usia 1-5 tahun yang tinggal di Wilayah
Kelurahan Bukit Duri, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan
b)

Diklasifikasikan

sebagai

diare

akut

yang

ditandai

dengan

bertambahnya frekuensi defekasi dari 3 atau lebih disertai dengan


perubahan konsistensi

feses11 menjadi encer yang berlangsung

kurang dari 14 hari12. Diare akut pada balita ini terjadi dalam kurun
waktu 1 bulan terakhir pasca banjir.
c) Bersedia menjadi responden dan menandatangani informed consent.

2. Kriteria eksklusi
a) Responden yang tidak komunikatif

4.3.3 Sampel Penelitian


Besar Sampel

41

Sampel dilakukan dengan probability sampling yaitu metode pemilihan subyek


dengan berdasarkan faktor peluang. Dengan cara cluster sampling yaitu pemilihan
sampel secara acak pada kelompok individu dalam populasi yang terjadi secara alamiah
1

. Cara ini dilakukan di Wilayah Kelurahan Pejatem Timur mengambil secara acak anak

balita yang tinggal di wilayah tersebut.

Rumus populasi infinit :


Rumus populasi infinit :

n=

= besarnya sampel

= Tingkat kemaknaan yang dikehendaki 95% besarnya 1,96

= proporsi penyakit diare pada anak balita adalah 46%*

= Prevalensi atau proporsi yang tidak mengalami peristiwa yanng diteliti :


1- p = 1- 0,46 = 0,54

= Akurasi dari ketepatan pengukuran untuk p >10% adalah 0,05


n = ((1,96)2 x 0,46 x 0,54) = 382
(0,05)2

*Persentase didapatkan berdasarkan Data anak balita yang datang berobat ke Puskesmas
Kelurahan Bukit Duri periode 1 Februari - 19 Februari 2014 pasca banjir. Dari data yang
didapatkan pada bulan februari, 143 balita yang datang berobat ke Puskesmas dan
sebanyak 66 balita memenuhi kriteria diare akut.

42

Rumus populasi finit


n=

= Besar sampel yang dibutuhkan untuk populasi yang finit

n0

= Besar sampel dari populasi yang infinit

= Besar sampel populasi finit

Karena jumlah balita yang terdapat di kelurahan Bukit Duri berjumlah 143 orang maka :
n=

382

= 103.3

(1+ 382/143)
antisipasi drop out = 10% x n
antisipasi drop out = 10% x 103.3 = 10.33
Total sampel = n + antisipasi drop out
Total sampel = 103.3 + 10.33 = 113,63 anak balita 114 sampel

CARA PENGAMBILAN SAMPEL

Kecamatan Tebet

Kelurahan Bukit
Duri

43

RW
10

RW
11

38
kuesioner

RW
12

38
kuesioner

38
kuesioner

114 Anak Balita


(1- 5 tahun)

Pemilihan subyek dimulai di kecamatan Tebet lalu dipilih anak balita (1-5 tahun)
di wilayah kelurahan Bukit Duri. Dari wilayah kelurahan Bukit Duri diambilah 3 RW
yaitu RW 10, RW 11, dan RW 12 dimana pemilihan RW tersebut diambil berdasarkan
daerah yang terkena bencana banjir. Dari 3 RW tersebut masing-masing diberikan 38
kuesioner sehingga didapatkan jumlah total anak balita sebanyak 114 balita.

INSTRUMEN PENELITIAN
Instrumen penelitian diambil dengan menggunakan kuesioner dan observasi
untuk memperoleh data umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, ketersediaan dan
pemanfaatan sarana air bersih dan jamban keluarga, mencuci tangan sebelum makan,
mencuci peralatan makan sebelum digunakan, mencuci bahan makanan sebelum
digunakan, mencuci tangan sesudah buang air besar dan merebus air minum. Sedangkan
cara pengumpulan datanya menggunakan wawancara dan observasi.
Tabel 4.1. Tabel Instrumen Penelitian
NO
1.

INSTRUMEN
Kepmenkes RI No.

FUNGSI
Mengetahui persyaratan kesehatan

44

829/Menkes/SK/VII/1999

Perumahan, yaitu Sarana air bersih,


jamban sehat keluarga, Pengelolaan
sampah

2.

Kuesioner penelitian

Memperoleh data primer dari

sebelumnya berjudul factor-

responden dalam menunjang

faktor resiko kejadian diare

penelitian.

akut pada balita (modifikasi)4.

4.4 MANAJEMEN DATA


4.6.1 Data entry
Setelah data diperoleh maka dilakukan pengolahan dengan tahapan sebagai berikut :
1. Editing
Memeriksa kelengkapan data yang diperoleh melalui kuesioner dan wawancara.
2. Koding
Memberi kode pada masing-masing jawaban untuk dilakukan pengolahan data.
3. Data entry
Pemindahan data ke dalam komputer agar diperoleh data masukan yang siap
diolah. Data yang telah terkumpul dari hasil kuesioner diolah dan dianalisis.

4.6.2 Analisis Data


a. Analisis Univariat
Analisis ini dilakukan pada masing-masing variabel. Hasil ini berupa distribusi dan
persentase pada variabel-variabel yang diteliti.

45

b. Analisis Bivariat
Analisis yang dilakukan untuk melihat ada tidaknya hubungan antara variabel bebas
dengan variabel tergantung. Dalam analisis ini, dilakukan chi square (Kai-kuadrat)
untuk mengetahui apakah ada hubungan antara variabel bebas dengan variabel
tergantung. Chi square (Kai-kuadrat) dilakukan karena variabel bebas dan variabel
tergantung bersifat nominal.
4.6.3

Penyajian Data

Data yang telah terkumpul dan diolah akan disajikan dalam bentuk :
a. Tekstular
Penyajian data hasil penelitian dengan menggunakan kalimat
b. Tabular
Penyajian data hasil penelitian dengan menggunakan table

BAB V
HASIL PENELITIAN
Dari penelitian yang dilakukan pada kelompok anak balita yang tinggal di RW
10, 11 dan 12 di wilayah Kelurahan Bukit Duri didapatkan sampel sebanyak 114 orang,

46

dimana 66 balita (57.9%) menderita diare akut dan 48 balita (42.1%) tidak menderita
diare akut.
5.1 Hasil Analisis Univariat
Tabel 5.1. Frekuensi Kejadian Diare, Higiene Perorangan, Sanitasi Lingkungan, Sumber
Air Bersih, Usia Anak Balita, Usia Ibu, dan Status Ekonomi Keluarga.

Frekuensi

Persen

Valid Percent

Ya
Tidak
Total
Higiene Perorangan
Baik
Buruk
Total
Sanitasi Lingkungan
Baik
Buruk
Total
Sumber Air Bersih
PAM
Sumur Gali
Total
Usia Balita

66
48
114

57.9
42.1
100.0

57.9
42.1
100.0

48
66
114

42.1
57.9
100.0

42.1
57.9
100.0

42.1
100.0

46
68
114

40.4
59.6
100.0

40.4
59.6
100.0

40.4
100.0

45
69
114

39.5
60.5
100.0

39.5
60.5
100.0

39.5
100.0

12-24 bulan
25-60 bulan
Total

37
77
114

32.5
67.5
100.0

32.5
67.5
100.0

32.5
100.0

Resiko rendah
Resiko tinggi
Total

48
66
114

42.1
57.9
100.0

42.1
57.9
100.0

42.1
100.0

Ekonomi Keluarga
Rendah
Tinggi
Total

66
48
114

57.9
42.1
100.0

57.9
42.1
100.0

57.9
100.0

Diare

Cumulative
Percent
100.0
42.1

Usia Ibu

Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa dari total 114 responden (100%)
terdapat hasil yaitu 48 responden (42.1%) anak balita tidak diare dan 66 responden

47

(57.9%) menderita diare akut. 48 responden (42.1%) memiliki higiene perorangan yang
baik dan 66 responden (57.9%) memiliki higiene perorangan yang buruk. 46 responden
(40.4%) memiliki sanitasi lingkungan yang baik dan 68 responden (59.6%) dengan
sanitasi lingkungan yang buruk. 45 responden (39.5%) memiliki Sumber Air Bersih dari
PAM dan 69 responden (60.5%) memiliki sumber air dari sumur gali. 37 responden
(32.5%) anak dengan usia 12-24 bulan dan 77 responden (67.5%) balita dengan usia 2560 bulan. 48 reponden (42.1%) dengan usia ibu yang beresiko rendah terhadap
terjadinya diare dan 66 responden (57,9%) dengan usia ibu yang beresiko tinggi
terhadap terjadinya diare. 66 responden (57.9%) memiliki ekonomi yang rendah dan 48
responden (42.1%) memiliki ekonomi yang tinggi.

5.2 Hasil Analisis Bivariat


Tabel. 5.2.1 Hubungan Antara Higiene Perorangan Ibu dan Anak Balita dengan
Kejadian Diare pada Anak Balita.
Kejadian Diare

Higiene Perorangan
Total

Nilai p

38

66

0.936

20

28

48

48

66

114

Baik

Buruk

Diare

28

Tidak Diare
Total

P = 0.936 (p > 0.05) OR 0.969

48

Berdasarkan hasil uji Chi-Square untuk hubungan antara higinitas perorangan


dengan kejadian diare didapatkan nilai p = 0.936 (p > 0.05), maka dapat disimpulkan
tidak adanya hubungan bermakna antara higinitas perorangan dengan kejadian diare.
Tabel 5.2.2. Hubungan Antara Sanitasi Lingkungan dengan Kejadian Diare Anak Balita
Kejadian Diare

Sanitasi Lingkungan
Total

Nilai p

46

66

0.010

26

22

48

46

68

114

Baik

Buruk

Diare

20

Tidak Diare
Total

p = 0.10 (p > 0,05) OR 2.718


Berdasarkan hasil uji Chi-Square untuk hubungan antara Sanitasi Lingkungan
dengan kejadian diare didapatkan nilai p = 0.010 (p < 0.05), maka dapat disimpulkan
adanya hubungan bermakna antara sumber air dengan kejadian diare Pasca Banjir.
Tabel 5.2.3. Hubungan Antara Sumber Air Bersih dengan Kejadian Diare Pada Anak
Balita
Kejadian Diare

Sumber Air Bersih


Total

Nilai p

47

66

0.006

26

22

48

45

69

114

PAM

Sumur Gali

Diare

19

Tidak Diare
Total

p = 0.006 ( p < 0,05) OR 2.923

49

Berdasarkan hasil uji Chi-Square untuk hubungan antara sumber air dengan
kejadian diare didapatkan nilai p = 0.006 (p < 0.05), maka dapat disimpulkan adanya
hubungan bermakna antara sumber air bersih dengan kejadian diare pada anak balita.
Tabel 5.2.4. Hubungan Antara Usia Anak Balita dengan Kejadian Diare Pada Anak
Balita
Kejadian Diare

Usia Anak Balita


Total

Nilai p

50

66

0.028

21

27

48

37

77

114

12-24 bulan

25-60 bulan

Diare

16

Tidak Diare
Total

p = 0.028 (p < 0,05) OR 2.431


Berdasarkan hasil uji Chi-Square untuk hubungan antara usia anak balita dengan
kejadian diare didapatkan nilai p = 0.028 (p < 0.05), maka dapat disimpulkan adanya
hubungan bermakna antara usia anak balita dengan kejadian diare pada anak balita.

Tabel 5.2.5. Hubungan Antara Usia Ibu dengan Kejadian Diare Pada Anak Balita
Kejadian Diare

Usia Ibu
Total

Nilai p

45

66

0.009

27

21

48

48

66

114

Risiko rendah

Risiko tinggi

Diare

21

Tidak Diare
Total

p = 0.009 ( p < 0,05) OR 2.755

50

Berdasarkan hasil uji Chi-Square untuk hubungan antara Usia Ibu dengan
kejadian diare didapatkan nilai p = 0.009 (p < 0.05), maka dapat disimpulkan adanya
hubungan bermakna antara usia ibu dengan kejadian diare pada anak balita.
Tabel 5.2.6. Hubungan Antara Status Ekonomi dengan Kejadian Diare Pada Anak Balita
Kejadian Diare

Ekonomi Keluarga
Total

Nilai p

26

66

0.026

22

22

48

66

48

114

Rendah

Tinggi

Diare

44

Tidak Diare
Total

p = 0.026 ( p < 0,05) OR 0.423


Berdasarkan hasil uji Chi-Square untuk hubungan antara ekonomi keluarga
dengan kejadian diare didapatkan nilai p = 0.026 (p < 0.05), maka dapat disimpulkan
adanya hubungan bermakna antara status ekonomi keluarga dengan kejadian diare pada
anak balita.

BAB VI
PEMBAHASAN

6.1 Hubungan Antara Higiene Perorangan Ibu dan Anak Balita dengan Kejadian

Diare pada Anak Balita Di Kelurahan Bukit Duri


Dari sampel yang tersedia, ditemukan 28 orang (25%) dengan higiene
perorangan baik memiliki anak balita yang menderita diare akut dan 38 orang (33%)
dengan higiene perorangan yang buruk memiliki anak balita yang menderita diare akut.

51

Uji statistik yang digunakan adalah uji Chi-Square dan diperoleh hasil p = 0,936
(p < 0,05), hal ini menunjukkan bahwa hipotesis kami tidak memiliki makna signifikan,
yaitu tidak terdapatnya hubungan antara higiene perorangan dengan kejadian diare pada
anak balita.
Pada penelitian sebelumnya uji statistik yang digunakan adalah uji Chi-Square
dan diperoleh hasil p = 0.054 (< 0.05). Maka hasil yang kami dapatkan tidak sesuai
dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan adanya hubungan antara higiene
perorangan dengan kejadian diare pada anak balita.
6.2 Hubungan antara Sanitasi Lingkungan dengan Kejadian Diare pada Anak
Balita Di Kelurahan Bukit Duri
Dari sampel yang tersedia, ditemukan 20 keluarga (18%)

dengan sanitasi

lingkungan baik namun terdapat kejadian diare pada anak balitanya dan 46 keluarga
(40%) dengan sanitasi lingkungan buruk memiliki kejadian diare pada anak balita.
Uji statistik yang digunakan adalah uji Chi-Square dan diperoleh hasil p = 0,011
(p < 0,05), hal ini menunjukkan bahwa hipotesis kami memiliki makna signifikan, yaitu
terdapatnya hubungan bermakna antara sanitasi lingkungan terhadap kejadian diare pada
anak balita.
Hasil ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa angka
kejadian diare pada anak balita dari sanitasi lingkungan yang buruk lebih besar daripada
anak balita pada sanitasi lingkungan yang baik.
Dari penelitian sebelumnya dilakukan Uji statistik yang digunakan adalah uji
Chi-Square dan diperoleh hasil p = 0.016 (< 0.05). Penelitian tersebut mengatakan
bahwa, derajat kesehatan masyarakat ditentukan oleh faktor lingkungan, prilaku dan
pelayanan kesehatan. Faktor lingkungan yang buruk inilah yang menyebabkan sesorang
mudah terkena penyakit.

52

6.3. Hubungan antara Sumber Air Bersih dengan Kejadian Diare pada Anak
Balita Di Kelurahan Bukit Duri
Dari kuisioner dan home visit, ditemukan 19 keluarga (17%) memiliki sumber
air dari PAM dan 69 keluarga (61%) memilki sumber air dari Sumur Gali memiliki anak
balita yang menderita diare akut.
Uji statistik yang digunakan adalah uji Chi-Square dan diperoleh hasil p = 0.006
(p < 0.05), hal ini menunjukkan bahwa hipotesis kami memiliki makna signifikan, yaitu
adanya hubungan bermakna antara sumber air yang digunakan oleh suatu keluarga
dengan kejadian diare pada anak balita.
Hasil ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa sumber
air bersih berpengaruh terhadap kejadian diare pada balita, dimana pada penelitian
sebelumnya didapatkan uji Chi-Square dan diperoleh hasil p = 0.021(< 0.05) dan
didapatkan yang terbanyak adalah sumur gali. Hal ini terjadi karena sumur gali bisa
digolongkan sebagai sumber air yang tak terlindungi yang menyebabkan penyakit yang
dapat ditularkan melalui air bersih.

6.4. Hubungan antara Usia Balita dengan Kejadian Diare pada Anak Balita Di
Kelurahan Bukit Duri
Dari hasil penelitian yang kami lakukan dengan jumlah sampel 114 orang,
didapatkan bahwa 16 balita (14%) menderita diare akut dengan usia 12-24 bulan dan
sebanyak 50 balita (44%) dengan usia 25-60 bulan menderita diare akut. Hal ini kami
kategorikan berdasarkan rentangan umur balita yang berhasil kami dapatkan dari
kuisioner kami.
Uji statistik yang digunakan adalah Chi-Square dan diperoleh hasil p=0.028 (p <
0.05), hal ini menunjukkan bahwa hipotesis kami memiliki makna adanya hubungan

53

antara usia anak balita dengan kejadian diare. Maka, hasil ini sesuai dengan penelitian
sebelumnya, yang

menunjukkan adanya hubungan antara usia balita dengan kejadian

diare.
6.5. Hubungan antara Usia Ibu dengan Kejadian Diare pada Anak Balita Di
Kelurahan Bukit Duri
Dari sampel kami, didapatkan bahwa 45 balita (39%) mengalami diare akut
dengan usia ibu berisiko tinggi (< 26 tahun dan > 36 tahun) dan ibu berisiko rendah (27
- 35 tahun) sebanyak 21 balita (18%) mengalami diare akut. Kami kategorikan dengan
resiko tinggi dikarenakan dari hasil temuan yang kami dapatkan dari kuesioner, kami
mendapatkan 2 kelompok besar, yaitu usia kurang dari 26 tahun dan usia diatas 36 tahun
dengan usia 27 35 tahun.
Uji statistik yang digunakan adalah uji Chi-Square dan diperoleh hasil p = 0.009
( p < 0,05), hal ini menunjukkan bahwa hipotesis kami memiliki makna signifikan, yaitu
adanya hubungan antara usia ibu dengan angka kejadian diare pada anak balita. Hasil ini
sesuai dengan penelitian sebelumnya dimana dinyatakan bahwa usia ibu berhubungan
dengan kejadian diare pada anak balita.
Berdasarkan penelitian sebelumnya dengan Uji statistik yang digunakan adalah
uji Chi-Square dan diperoleh hasil p = 0.037 dengan nilai ( < 0.05). Secara umum,
didapatkan paling banyak usia ibu dengan kategori resiko tinggi, karena pada umumnya
ibu dengan kategori tinggi masih kurangnya keinginan ibu untuk mendapatkan
informasi tentang diare dan masih belum siapnya seorang ibu pada usia terlalu muda
atau terlalu tua. Hal ini menunjukkan bahwa usia ibu dapat menambah faktor resiko dari
terjadinya diare pada anak balita.

6.6. Hubungan antara Status Ekonomi Keluarga dengan Kejadian Diare pada
Anak Balita di Kelurahan Bukit Duri

54

Dari sampel yang tersedia, ditemukan 44 keluarga (39%) dengan ekonomi yang
rendah memiliki anak balita dengan diare akut dan 22 keluarga (19%) dengan ekonomi
yang tinggi memiliki anak balita yang diare akut.
Uji statistik yang digunakan adalah uji Chi-Square dan diperoleh hasil p = 0.026
( p < 0,05), hal ini menunjukkan bahwa hipotesis kami memiliki makna signifikan, yaitu
didapatkan hubungan bermakna antara ekonomi keluarga dengan kejadian diare pada
anak balita. Hal ini disebabkan karena ekonomi keluarga yang rendah, memiliki
keterbatasan dana dalam menyediakan sarana kesehatan dan kebersihan untuk keluarga
terutama balita.
Hasil ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa angka
kejadian diare pada anak balita dari keluarga dengan ekonomi rendah mempengaruhi
kejadian diare pada anak balita.

BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN

7.1.

KESIMPULAN
1. Tidak terdapat hubungan dari higiene perorangan ibu dan anak balita dengan
kejadian diare anak balita di Kelurahan Bukit Duri.
2. Terdapat hubungan dari sanitasi lingkungan dengan kejadian diare anak balita di
Kelurahan Bukit Duri.
3. Terdapat hubungan dari sumber air bersih dengan kejadian diare anak balita di
Kelurahan Bukit Duri.
4. Terdapat hubungan dari usia anak balita dengan kejadian diare pada anak balita
di Kelurahan Bukit Duri.

55

5. Terdapat hubungan usia ibu dengan kejadian diare pada anak balita di Kelurahan
Bukit Duri.
6. Terdapat hubungan status ekonomi keluarga dengan kejadian diare pada anak
balita di Kelurahan Bukit Duri.

56

7.2.

SARAN
a. Untuk Puskesmas Kelurahan Bukit Duri
- Kepala puskesmas dan karyawan mengadakan penyuluhan rutin mengenai
diare pada balita untuk menambah pengetahuan ibu sehingga tingkat
-

kejadian diare pada balita berkurang.


Mengembangkan kegiatan Posyandu, bukan hanya menjadi tempat
pengukuran indeks masa pertumbuhan bayi dan balita tetapi juga sarana

edukasi kesehatan.
Menambahakan media informasi tentang penyakit diare melalui poster dan

leafleat.
Antisipasi yang tinggi baik tenaga medis maupun masyarakat wilayah Bukit
Duri, dalam penanggulangan diare pada balita pasca banjir, mengingat

wilayah Bukit Duri adalah rawan banjir.


Saat dipengungsian, harus dipastikan bahwa para pengungsi harus mendapat
makanan dan minuman yang cukup selama dipengungsian.dapur-dapur
umum yang tersedia selalu mendapatkan suplai bahan makanan dan air
bersih yang memadai untuk makan dan minum. Hindari mengkonsumsi
makanan matang yang sudah lewat waktu tanpa dihangatkan kembali untuk

mencegah keracunan makanan.


Diusahakan makanan yang dikonsumsi dalam keadaan segar. Cuci tangan
memakai sabun atau handseptik. Kebersihan lingkungan pengungsian selalu
terjaga

dengan

tersedianya

tempat-tempat

sampah

disekitar

lokasi

pengungsian. Dengan mengajak para pengungsi muda dapat dikoordinasi


-

untuk menjaga kebersihan lingkungan.


Setiap para pengungsi diberikan multivitamin dan mineral mengingat

keterbatasan makanan dan minuman.


Saat dipengungsian, perlu adanya persediaan obat-obatan seperti penurun

panas, obat anti diare, oralit, obat-obatan lainnya.


b. Untuk Masyarakat di Wilayah Kerja Puskesmas Kelurahan Bukit Duri
- Melakukan upaya pencegahan terjadnya diare dengan membersihkan
lingkungan secara rutin dan menjaga kebersihan diri sendiri dan keluarga.

57

Ibu rumah tangga berpartisipasi sebagai kader kesehatan puskesmas sehingga


akan banyak mendapatkan informasi tentang kesehatan dan juga cara

pencegahan penyakit.
Diharapkan lebih meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat, terutama
melakukan tindakan pencegahan terjadinya diare seperti mencuci tangan

sebelum makan dengan sabun.


Mengupayakan jamban yang memenuhi syarat sanitasi antara lain dengan
model leher angsa dan memelihara kebersihan tempat pembuangan tinja,

serta tidak membiasakan buang air besar di sembarang tempat.


Saat dipengungsian, diharapkan masyarakat menjaga kebersihan diri dan
lingkungannya.

Dengan

bekerja

sama

sesama

pengungsi

untuk

membersihkan lingkungan tempat pengungsian akan menekan angka


kejadian diare dan penyakit lainnya.

c. Untuk Peneliti Selanjutnya


a. Untuk mengetahui hubungan terhadap variable terikat diperlukan
penelitian

yang

lebih

mendalam

antar

variabel

karakteristik,

pengetahuan, sikap dan perilaku ibu.


b. Peneliti perlu melibatkan orang yang berpengaruh dalam masyarakat
pada saat penelitian sehingga diharapkan pada saat pengambilan data,
masyarakat

benar-benar

memberikan

jawaban

dari

pertanyaan-

pertanyaan yang sesuai dengan kondisi yang dialami.


c. Hasil penelitian ini bisa dijadikan referensi bagi penelitian selanjutnya
untuk melakukan penelitian dari variabel-variabel yang belum diteliti
pada penelitian ini, misalnya variabel pendapatan keluarga serta
penelitian mengenai hubungan antara faktor infeksi, malabsorpsi atau
makanan dengan kejadian diare pada balita.

58

DAFTAR PUSAKA
1.

Sudigdo S, Sofyan I. Dasar - Dasar Metodologi Penelitian Klinis. Jakarta: CV.

2.
3.

Sagung Seto. 2011.


Budiman C. Pengantar kesehatan Lingkungan. Jakarta: EGC. 2006.
Sopiyudin M.D. Langkah - Langkah Membuat Proposal Penelitian Bidang
Kedokteran dan Kesehatan. Jakarta: Sagung Seto. 2009.

59

4.

Sopiyudin M.D. Besar Sampel dan Cara Pengambilan Sampel dalam Penelitian

5.

Kedokteran dan Kesehatan. Jakarta: Salemba Medika. 2009.


Sopiyudin M.D. Statistik untuk Kedokteran dan Kesehatan. Jakarta: Salemba

6.

Medika. 2009.
Departemen Kesehatan RI. Buku Pedoman Pelaksanaan Program P2 Diare.

7.

Jakarta : Ditjen PPM dan PL. 2000


Vinay K, Cotran RS, Robbins SL. Robbins Basic Pathology, 7th ed. Jakarta:

8.

EGC. 2007.
Nelson WE, Behrman RE, Kliegman R, Arvin AM. Nelson Textbook of

9.

Pediatrics, 15th ed. Jakarta : EGC. 2000.


Widoyono. Penyakit Tropis Epidemiologi,

10.

Pemberantasannya. Jakarta: Erlangga. 2008.


Data Statistik Indonesia. Jumlah penduduk menurut kelompok umur, jenis

Penularan,

Pencegahan

&

kelamin, provinsi, dan kabupaten/ kota: Data Statistik Indonesia: 2005.


Accessed on 15 September 2013. Available at: http://www.datastatistik11.

indonesia.com/portal/index.php?option=com_tabel&task=&Itemid=165
World Health Organization (WHO). Diarrhoea: Why children are still dying and
what can be done: The United Nations Childrens Fund (UNICEF)/World Health

12.

Organization (WHO), 2009.


Subagyo B. Santoso N.B. Diare Akut. Buku Ajar Gastroenterologi-Hepatologi.

13.

Jilid 1. Jakarta: Badan Penerbit IDAI. 2010; 87 - 120.


Abdoerrachman MH, Affandi MB, Agusman S, Alatas H, Ali D, Asril A, et al.
Gastroenterologi. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak. Vol. 1. Jakarta: Penerbit
Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2005;

14.

283 - 312.
Tasker RC, McClure RJ, Acerini CL. Diarrhoea. Oxford Handbook of Paediatrics.

15.

New York: Oxford University Press, 2008; 312 - 315.


Sinthamurniwaty, et al. Faktor-faktor risiko kejadian diare akut pada balita:
Program Studi Magister Epidemiologi Pasca Sarjana Universitas Diponegoro

16.

Semarang 2006.
Wiku.A, et al. Faktor risiko diare pada balita di Indonesia: Sytematic review
penelitian akademik bidang kesehatan masyarakat. Departemen Administrasi dan

60

Kebijakan Kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia,


17.

Depok Indonesia, 2007; 3; 5-7.


Ali.R, Erma.H, Mita. Hubungan kebiasaan cuci tangan dan sanitasi makanan
dengan kejadian diare pada anak SD . Program Studi DIII Gizi Fakultas Ilmu
Keperawatan dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Semarang. J Kesehatan

18.

Masyarakat Indonesia. 2010; 6; 76-83.


Keman, S . Kesehatan Perumahan
dan Lingkungan Pemukiman. J Kesehatan

19.

Lingkungan Vol.2 No.1; 2005: 29-42 .


Departemen Kesehatan RI, 1990. Peraturan Menteri Kesehatn RI Nomor :
416/Menkes/Per/IX/1999 tentang Syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas Air.

20.

Depkes RI, Jakarta.


Kepmenkes RI No. 829/Menkes/SK/VII/1999 tentang Persyaratan Kesehatan

21.

Perumahan. Jakarta : Departemen Kesehatan R.I.


Hermawan.Y, et al. Hubungan antara tingkat pendidikan dan persepsi dengan
prilaku dengan ibu rumah tangga dalam pemeliharaan kebersihan lingkungan:
Program studi Pendidikan Ekonomi FKIP Universitas Siliwangi. J Kesehatan

22.

Masyarakat
Indonesia, 2002; 10-15.
Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI: Survey
Kesehatan Nasional 2001 dan Laporan Studi Mortalitas 2001 : Pola Penyakit

23.

Penyebab Kematian di Indonesia, Jakarta,2002


Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI, Survey
Kesehatan Nasional 2001, Laporan SKRT 2001 : StudiMorbiditas dan Disabilitas,

24.

Jakarta,2002
Kolopaking MS. Penatalaksanaan Muntah dan Diare Akut, Simposium
Penatalaksanaan Kedaruratan di Bidang Ilmu Penyakit Dalam II di Hotel Sahid
30-31

25.

Maret 2002: Pusat Informasi dan Penerbitan Bagian Ilmu Penyakit

Dalam FKUI, Jakarta, 2002.


Amin R, Masni S, Rahma et al Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian diare
pada balita di Wilayah kerja Puskesmas Baranglompo Kecematan Ujung Tanah
Tahun2012: Fakultas Keseh/-atan Masyarakat, UNHAS, Makassar 2012.

61

LAMPIRAN 1

INFORMED CONSENT
PERSETUJUAN UNTUK MENJADI RESPONDEN

Saat ini kami sedang melakukan penelitian mengenai Hubungan Higinitas dan
Sarana Air Bersih Dengan Kejadian Diare pada Anak Balita (1-5 Tahun) Pascabanjir di
Kelurahan Bukit Duri Februari 2014. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahu
bagaimana hubungan antara perilaku hidup bersih sehat dan pengetahuan ibu dengan
kejadian diare pada balita di Puskesmas Kecamatan Tebet.
Pada penelitian ini, ibu akan diberikan beberapa pertanyaan (kuesioner) yang
harus dijawab dengan baik. Semua informasi yang ibu berikan akan dijamin
kerahasiaannya dan keikutsertaan dalam program ini dilakukan secara sukarela.
Apakah ibu bersedia mengikuti program penelitian ini?

62

Saya mengerti dan memahami penjelasan tentang tujuan penelitian ini dan
secara sukarela bersedia ikut serta dalam program ini.
Tanda Tangan

Terima kasih atas kesediaan ibu dalam mengikuti program penelitian ini.
LAMPIRAN 2

KUESIONER PENELITIAN

HUBUNGAN HIGINITAS DAN SARANA AIR BERSIH DENGAN KEJADIAN


DIARE PADA ANAK BALITA (1-5 TAHUN) DI KELURAHAN BUKIT DURI
FEBRUARI 2014.

A. PENGANTAR
Berikut ini adalah pernyataan yang berkaitan dengan Hubungan Higinitas dan Sarana
Air Bersih Dengan Kejadian Diare Pada Anak Balita (1-5 tahun) di Kelurahan Bukit
Duri Februari 2014. Bacalah pertanyaan dengan sebaik-baiknya kemudian pilihlah
jawaban yang anda rasa paling sesuai dengan keadaan diri anda pada lembar jawaban
yang tersedia. Kami sangat menghargai kerjasama, kejujuran, dan keterbukaan anda.
Terimakasih atas kerjasamanya

Nomer responden
Tanggal

( diisi oleh peneliti )


( diisi oleh peneliti )

:
:

B. PETUNJUK

63

1. Jawaban akan dijaga kerahasiaannya dan hanya dipergunakan untuk penelitian


semata.
2. Bacalah pertanyaan atau pernyataan di bawah ini dengan baik dan berilah
jawaban dengan melingkari jawaban yang sesuai dengan keadaan anda.

No
I
1.
2.

Nama anak balita


Umur (bulan)

3.

Jenis kelamin

4.

Apakah anak balita menderita diare


dalam 1 bulan terakhir?

II
5.
6.
7.

IDENTITAS RESPONDEN (IBU BALITA)


Nama ibu
Usia
Tingkat pendidikan responden
1 = SLTA/Akademi/Perguruan Tinggi
2 = SD - SMP
Status ekonomi
1 = penghasilan per bulan > 2,5 juta
2 = penghasilan per bulan < 2,5 juta
HIGINITAS
Higiene Perorangan
Adakah setiap sebelum makan apa saja
1 = ya
ibu selalu mencuci tangan?
0 = tidak

8.
III
a)
1.

Pertanyaan

Jawaban
IDENTITAS ANAK BALITA
1 = 12-24 bulan
2 = 25-60 bulan
1 = Perempuan
2 = Laki-laki
1 = Ya
2 = Tidak

2.

Adakah setiap selesai membuang air


besar ibu selalu mencuci tangan?

1 = ya
0 = tidak

3.

Adakah ibu selalu mencuci tangan


sebelum menyuapi anak balita?

1 = ya
0 = tidak

4.

Adakah balita punya kebiasaan cuci


tangan pakai sabun?
Adakah ibu selalu mencuci peralatan
yang digunakan oleh anak balita
(dot/gelas minum)?
Adakah ibu selalu menutup makanan

1 = ya
0 = tidak
1 = ya
0 = tidak

5.
6.

Nilai

1 = ya

64

7.
b)

yang sudah dimasak sebelum makan?


Adakah ibu dan balita selalu
menggunting kuku bila sudah terlihat
agak panjang?
Sanitasi Lingkungan

0 = tidak
1 = ya
0 = tidak

Pengelolaan sampah
1.
2.

3.
4.
5.
6.
7.
8.
IV
1.

Dimanakah Ibu dan keluarga membuang


sampah?
Adakah kondisi tempat sampah yang
dimiliki di rumah tertutup ?

1 = Tong sampah/lobang sampah


0 = sembarang tempat
1 = ya
0 = tidak

Ketersediaan Jamban
Apakah di rumah ibu tersedia
jamban?
Adakah Ibu dan balita menggunakan
jamban jika buang air besar?
Adakah air tersedia untuk
keperluan jamban?
Adakah keadaan jamban yang
dimiliki bersih?
Adakah keadaan jamban yang
ibu miliki tertutup?
Jenis jamban apa yang ibu
pergunakan?

1 = ya
0 = tidak
1 = ya
0 = tidak
1 = ya
0 = tidak
1 = ya
0 = tidak
1 = ya
0 = tidak
1 = Leher angsa
2 = Cemplung/plengsengan

SARANA AIR BERSIH (SAB)


Darimanakah ibu memperoleh air
untuk keperluan masak?

1 = Air PAM/ sumur pompa


2 = Sumur gali

Skoring :
III. A. Higiene Perorangan ibu dan anak balita:
Bila didapatkan skor :
7 5 adalah baik
4 0 adalah buruk
III. B. Higinitas Lingkungan :
1. Bila didapatkan skor :
8 4 adalah baik
3 0 adalah buruk
IV. Sarana Air Bersih (SAB)
1. Sumber air yang didapat : 1 = Baik, 2 = Buruk

65

LAMPIRAN 3
Tabel Univariat Distribusi Responden Berdasarkan Kejadian Diare pada Balita
Diare

Frekuensi
Valid

Persen

Valid Percent

Cumulative
Percent

tidak

48

42.1

42.1

42.1

ya

66

57.9

57.9

100.0

114

100.0

100.0

Total

Higiene perorangan

Frekuensi
Valid

Persen

Valid Percent

Cumulative
Percent

Baik

48

42.1

42.1

42.1

Buruk

66

57.9

57.9

100.0

Total

114

100.0

100.0

66

Sanitasi lingkungan

Frekuensi
Valid

Persen

Cumulative
Percent

Valid Percent

Baik

46

40.4

40.4

40.4

Buruk

68

59.6

59.6

100.0

Total

114

100.0

100.0

Sumberair

Frequency
Valid

Persen

Valid Percent

Cumulative
Percent

PAM

45

39.5

39.5

39.5

sumur gali

69

60.5

60.5

100.0

114

100.0

100.0

Total

Usia Anak Balita

Frekuensi
Valid

Persen

Valid Percent

Cumulative
Percent

12-24 bulan

37

32.5

32.5

32.5

25-60 bulan

77

67.5

67.5

100.0

114

100.0

100.0

Total

67

Usia Ibu
Cumulative
Frekuensi
Valid

Persen

Valid Percent

Percent

resiko rendah

48

42.1

42.1

42.1

resiko tinggi

66

57.9

57.9

100.0

114

100.0

100.0

Total

ekonomi

Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Cumulative
Percent

Rendah

66

57.9

57.9

57.9

Tinggi

48

42.1

42.1

100.0

Total

114

100.0

100.0

68

LAMPIRAN 4
Tabel Bivariat Kejadian Diare Pasca Banjir
Case Processing Summary
Cases
Valid
N

Missing
Percent

Total

Percent

Percent

Higiene perorangan * Diare

114

100.0%

.0%

114

100.0%

Sanitasi lingkungan * Diare

114

100.0%

.0%

114

100.0%

Sumberairbersih * Diare

114

100.0%

.0%

114

100.0%

Usia Anak Balita * Diare

114

100.0%

.0%

114

100.0%

Usia Ibu * Diare

114

100.0%

.0%

114

100.0%

Status ekonomi * Diare

114

100.0%

.0%

114

100.0%

Higiene perorangan * Diare

69

Crosstab
Count
Diare
tidak
Higiene perorangan

ya

Total

baik

20

28

48

buruk

28

38

66

48

66

114

Total

Chi-Square Tests

Value

df

Asymp. Sig. (2-

Exact Sig. (2-

Exact Sig. (1-

sided)

sided)

sided)

Pearson Chi-Square

.007a

.936

Continuity Correctionb

.000

1.000

Likelihood Ratio

.007

.936

Fisher's Exact Test


N of Valid Casesb

1.000

.545

114

a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 20.21.
b. Computed only for a 2x2 table

70

Symmetric Measuresa
Value
N of Valid Cases

114

a. Correlation statistics are


available for numeric data only.

Risk Estimate
95% Confidence Interval
Value

Lower

Upper

Odds Ratio for


higinitasperorangan (baik /

.969

.456

2.059

.982

.634

1.521

1.013

.738

1.390

buruk)
For cohort Diare = tidak
For cohort Diare = ya
N of Valid Cases

114

71

Sanitasi lingkungan * Diare


Crosstab
Count
Diare
tidak
sanitasilingkungan

ya

Total

baik

26

20

46

buruk

22

46

68

48

66

114

Total

Chi-Square Tests

Value

df

Asymp. Sig. (2-

Exact Sig. (2-

Exact Sig. (1-

sided)

sided)

sided)

Pearson Chi-Square

6.575a

.010

Continuity Correctionb

5.621

.018

Likelihood Ratio

6.587

.010

Fisher's Exact Test


N of Valid Casesb

.012

.009

114

a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 19.37.
b. Computed only for a 2x2 table

72

Symmetric Measuresa
Value
N of Valid Cases

114

a. Correlation statistics are


available for numeric data only.

Risk Estimate
95% Confidence Interval
Value

Lower

Upper

Odds Ratio for


sanitasilingkungan (baik /

2.718

1.254

5.890

1.747

1.140

2.678

.643

.445

.929

buruk)
For cohort Diare = tidak
For cohort Diare = ya
N of Valid Cases

114

73

Sumber air bersih * Diare


Crosstab
Count
Diare
tidak
Sumberairbersih

ya

Total

PAM

26

19

45

sumur gali

22

47

69

48

66

114

Total

Chi-Square Tests

Value

df

Asymp. Sig. (2-

Exact Sig. (2-

Exact Sig. (1-

sided)

sided)

sided)

Pearson Chi-Square

7.492a

.006

Continuity Correctionb

6.467

.011

Likelihood Ratio

7.507

.006

Fisher's Exact Test


N of Valid Casesb

.007

.005

114

a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 18.95.
b. Computed only for a 2x2 table

74

Symmetric Measuresa
Value
N of Valid Cases

114

a. Correlation statistics are


available for numeric data only.

Risk Estimate
95% Confidence Interval
Value

Lower

Upper

Odds Ratio for


Sumberairbersih (PAM / sumur

2.923

1.342

6.369

1.812

1.184

2.774

.620

.425

.905

gali)
For cohort Diare = tidak
For cohort Diare = ya
N of Valid Cases

114

75

UsiaAnakBalita * Diare
Crosstab
Count
Diare
tidak
UsiaAnakBalita

Total

ya

Total

12-24 bulan

21

16

37

25-60 bulan

27

50

77

48

66

114

76

Chi-Square Tests

Value

df

Asymp. Sig. (2-

Exact Sig. (2-

Exact Sig. (1-

sided)

sided)

sided)

Pearson Chi-Square

4.824a

.028

Continuity Correctionb

3.975

.046

Likelihood Ratio

4.800

.028

Fisher's Exact Test

.042

N of Valid Casesb

.023

114

a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 15.58.
b. Computed only for a 2x2 table

Symmetric Measuresa
Value
N of Valid Cases

114

a. Correlation statistics are


available for numeric data only.

77

Risk Estimate
95% Confidence Interval
Value
Odds Ratio for UsiaAnakBalita
(12-24 bulan / 25-60 bulan)
For cohort Diare = tidak

Lower

Upper

2.431

1.091

5.416

1.619

1.070

2.449

.666

.445

.997

For cohort Diare = ya


N of Valid Cases

114

UsiaIbu * Diare
Crosstab
Count
Diare
tidak
UsiaIbu

Total

ya

Total

resiko rendah

27

21

48

resiko tinggi

21

45

66

48

66

114

78

Chi-Square Tests

Value

Asymp. Sig. (2sided)

df

Pearson Chi-Square

6.805a

.009

Continuity Correctionb

5.839

.016

Likelihood Ratio

6.828

.009

Fisher's Exact Test

Exact Sig. (2sided)

Exact Sig. (1sided)

.012

N of Valid Casesb

.008

114

a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 20.21.
b. Computed only for a 2x2 table

Symmetric Measuresa
Value
N of Valid Cases

114

a. Correlation statistics are


available for numeric data only.

79

Risk Estimate
95% Confidence Interval
Value
Odds Ratio for UsiaIbu (resiko
rendah / resiko tinggi)
For cohort Diare = tidak
For cohort Diare = ya

Lower

Upper

2.755

1.275

5.953

1.768

1.147

2.724

.642

.447

.920

N of Valid Cases

114

Status ekonomi * Diare

Crosstab
Count
Diare
tidak
statusekonomi

Total

ya

Total

rendah

22

44

66

tinggi

26

22

48

48

66

114

80

Chi-Square Tests

Value

df

Asymp. Sig. (2-

Exact Sig. (2-

Exact Sig. (1-

sided)

sided)

sided)

Pearson Chi-Square

4.948a

.026

Continuity Correctionb

4.130

.042

Likelihood Ratio

4.955

.026

Fisher's Exact Test

.035

N of Valid Casesb

.021

114

a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 20.21.
b. Computed only for a 2x2 table

Symmetric Measuresa
Value
N of Valid Cases

114

a. Correlation statistics are


available for numeric data only.

81

Risk Estimate
95% Confidence Interval
Value
Odds Ratio for statusekonomi
(rendah / tinggi)
For cohort Diare = tidak
For cohort Diare = ya
N of Valid Cases

Lower

Upper

.423

.197

.909

.615

.401

.945

1.455

1.023

2.068

114

82