Anda di halaman 1dari 20

PEMBERANTASAN KORUPSI DI

SINGAPURA, CHINA, DAN JEPANG

DISUSUN OLEH :
1.

ARYO PRABOWO

2.

FEBRIAN BAGUS SETIAWAN

3.

HENSTY SIMORANGKIR

(VII D /15)

4.

TEGUH WIBOWO

(VII D /27)

(VII D / 5)
(VII D /12)

PROGRAM DIPLOMA IV KEUANGAN


SPESIALISASI AKUNTANSI
SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA
2013

BAB I
PENDAHULUAN

Transparency International baru saja melansir hasil survei mengenai korupsi di 107
negara dengan melibatkan 114.00 responden. Kesimpulannya, korupsi di dunia makin parah
yang ditandai dengan pengakuan bahwa satu dari empat orang mengatakan melakukan suap
dalam dua tahun belakangan ini. Di sisi lain, CPI (Corruption Perception Index) yang
merangking level korupsi negara-negara di dunia juga menunjukkan bahwa korupsi akan
selalu ada di seluruh negara dalam berbagai tingkatan.
Sejarah membuktikan bahwa korupsi mampu meruntuhkan suatu negara. Runtuhnya
kerajaan Majapahit, salah satu faktor penyebabnya adalah korupsi. Hancurnya kongsi
dagang VOC tidak lain disebabkan karena ulah korup para pegawainya. Atau runtuhnya
peradaban yang telah berdiri selama 400 tahun, Kesultanan Ottoman, salah satu penyebab
utamanya adalah korupsi. Sadar akan hal ini, pemerintah di berbagai negara kemudian
melakukan berbagai upaya untuk memberantas korupsi.
Dalam upaya pemberantasan korupsi di dunia itu, hasil yang diperoleh bervariasi.
Beberapa negara mengalami kemajuan yang signifikan. Beberapa negara mengalami
stagnasi atau bahkan mengalami kemunduran dalam pemberantasan korupsi. China, Jepang,
dan Singapura adalah beberapa negara yang berhasil dalam menerapkan upaya
pemberantasan korupsi. Singapura dan Jepang masuk ke dalam jajaran 20 besar negara
dengan CPI tertinggi. China, walaupun masih dalam peringkat 80 CPI, mampu mengubah
persepsi dunia tentang sebuah negara komunis yang korup menjadi negara maju yang sangat
concern dalam pemberantasan korupsi melalui upaya-upayanya yang cukup ekstrem.
Dengan mengetahui upaya-upaya pemberantasan korupsi yang dilakukan di ketiga
negara tersebut, diharapkan mampu memberikan referensi untuk model pemberantasan
korupsi di Indonesia yang sekarang ini boleh dikatakan masih belum maksimal.

BAB II
PEMBAHASAN
1. SINGAPURA
1.1. Gambaran Umum dan Sejarah Pemberantasan Korupsi di Singapura
Singapura memiliki sebuah pasar ekonomi yang maju dan terbuka, dengan PDB per
kapita kelima tertinggi di dunia. Bidang ekspor, perindustrian, dan jasa merupakan hal yang
penting dalam ekonomi Singapura. Untuk mendukung kesuksesan Singapura dalam bidang
ekonomi, juga dibutuhkan adanya suatu sistem pemberantasan korupsi yang baik.
Korupsi merupakan sebuah penyakit yang ada di hampir seluruh pemerintahan di
dunia. Korupsi harus diberantas agar sebuah negara dapat membentuk pemerintahan yang
bersih dan efektif. Salah satu negara yang dapat dikatakan berhasil memberantas korupsi
adalah Singapura. Menurut data Tranparency International tahun 2012, Singapura
menduduki rangking 5 dengan skor 87 dalam Indeks Persepsi Korupsi.
Pemberantasan korupsi di Singapura sendiri memiliki sejarah yang panjang.
Pemberantasan korupsi itu berawal dari kegagalan Bagian Antikorupsi Kepolisian
Singapura. Terlebih, setelah seorang pejabat senior kepolisian ditangkap lantaran menerima
suap dari pedagang opium. CPIB yang semula menjadi bagian kepolisian pun dijadikan
lembaga mandiri. Gerakan-gerakan pemberantasan korupsi ini kemudian menguat
begitu People's Action Party di bawah pimpinan Lee Kwan Yew yang berkuasa pada tahun
1959. Lee Kwan Yew memproklamirkan 'perang terhadap korupsi'. Beliau menegaskan: 'no
one, not even top government officials are immuned from investigation and punishment for
corruption'. 'Tidak seorang pun, meskipun pejabat tinggi negara yang kebal dari
penyelidikan dan hukuman dari tindak korupsi'. Tekad Lee Kwan Yew ini didukung dengan
disahkannya Undang-Undang Pencegahan Korupsi (The Prevention of Corruption Act/
PCA) yang diperbaharui pada tahun 1989 dengan nama The Corruption (Confiscation of
Benefit) Act. Tindak lanjut dari undang-undang ini adalah dibentuknya lembaga antikorupsi
yang independen di negara tersebut, yang diberi nama 'The Corrupt Practices Investigation
Bureau (CPIB).
1.2. Usaha Pemberantasan Korupsi di Singapura
Dalam pemberantasan tindak pidana korupsi di Singapura, ada 2 hal penting yang
dilakukan oleh pemerintah yaitu peyusunan Undang-undang anti korupsi yang menjadi dasar
hukum pemberasantasan korupsi dan juga perangkat hukum khusus yang menangani tindak
pidana korupsi.
1.2.1. Peyusunan Undang-Undang Anti Korupsi
Salah satu pilar strategi pemberantasan korupsi di Singapura adalah perangkat
perundangan anti korupsi yang selalu dikembangkan dan disesuaikan dengan dinamika
lingkungan internal dan eksternal. Pengembangan perundangan anti korupsi di Singapura
dilakukan dengan adanya beberapa amandemen atau perubahan yang dianggap perlu untuk
mengantisipasi masalah secara kontekstual. Amandemen ini dilakukan bukan untuk
mengubah isi, namun justru untuk memperluas daya jangkau perundangan dalam rangka

efektivitas pemberantasan korupsi. Terminologi korupsi, misalnya, dalam perundangan


Singapura (Prevention of Corruption Act) adalah The asking, receiving or agreeing to
receive, giving, promising or offering of any gratification as an inducement or reward to a
person to do or not to do any act, with a corrupt intention. Jadi korupsi diartikan sebagai
upaya meminta, menerima atau menyetujui untuk meminta, memberi, menjanjikan atau
menawarkan gratifikasi sebagai inducement atau hadiah kepada orang untuk melakukan atau
tidak melakukan suatu hal, dengan sebuah maksud yang korup. Pengertian ini telah menjadi
pegangan masyarakat hukum di sana, sejak UU ini diundangkan.
Instrumen utama perundangan di Singapura terkait dengan pemberantasan korupsi,
yaitu:
1. Prevention of Corruption Act (PCA)
2. Corruption, Drug Trafficking and Other Serious Crimes (Confiscation of Benefits) Act
1.2.1.1. Prevention of Corruption Act (PCA)
PCA diundangkan pada tanggal 17 Juni 1960. Selain untuk memberdayakan CPIB, PCA
memiliki 5 unsur penting yaitu :
a. Ruang lingkup PCA diperluas menjadi 32 section, dimana dalam Prevention of
Corruption Ordinance sebelumnya hanya mempunyai 12 section. Pada
perkembangannya, PCA mengalami amandemen beberapa kali, sampai saat ini telah
bertambah menjadi 37 section.
b. Korupsi secara jelas didefinisikan dalam berbagai bentuk gratifikasi dalam section 2 yang
juga mendefinisikan untuk pertama kali CPIB dan Direkturnya.
c. Hukuman untuk pelaku korupsi ditingkatkan menjadi hukuman penjara 5 tahun dan/atau
denda S$ 10,000 dalam section 5. Hukuman ini ditingkatkan menjadi S$ 100,000 sejak
tahun 1989.
d. Bagi yang terbukti menerima gratifikasi secara ilegal harus membayar kembali suap yang
diterimanya sebagai tambahan atas hukuman yang dikenakan di pengadilan
b. Memberikan kewenangan yang lebih luas bagi CPIB seperti memberikan kewenangan
untuk melakukan penangkapan dan menyelidiki orang yang ditahan kepada personil
(section 15), memberikan keweangan kepada penuntut umum untuk mengijinkan direktur
dan personil senior CPIB menyelidiki rekening bank orang yang dicurigai melanggar
PCA (section 17) dan memberikan wewenang kepada personil CPIB untuk
memeriksarekening pejabat publik termasuk milik isteri, anak atau agennya jika
diperlukan.
Kapasitas instrumen PCA ini terus dikembangkan oleh Singapura secara ekspansif,
disesuaikan dengan dinamika lingkungan yang terjadi. PCA selain menangani dan mengatur
korupsi aktif, juga mengatur korupsi dalam bentuk pasif. Seluruh pelaku potensial korupsi
dapat dijerat oleh pasal-pasal kriminal korupsi di PCA, yaitu dari sektor publik, swasta,
individu di Singapura dan warga negara Singapura di mana pun, termasuk di luar negeri.
Seperti pada tahun 1963, PCA sudah memberikan kewenangan kepada personil CPIB untuk
meminta kehadiran saksi dan memeriksanya, serta memperoleh bantuan dari saksi. Pada
tahun 1966, PCA menambah kewenangan CPIB, yaitu :

a.

Pada section 28 bahwa seseorang dapat didakwa korupsi meskipun tidak secara nyata
menerima suap, mengingat niat untuk korupsi sudah cukup untuk mendakwa.
b. Pada section 35 bahwa warga negara Singapura yang bekerja untuk pemerintah di
kedutaan besar dan badan pemerintah lainnya di luar negeri dapat dituntut di hadapan
hukum untuk korupsi yang dilakukan di luar wilayah yurisdiksi Singapura akan
diperlakukan seolah-olah dilakukan di dalam wilayah yurisdiksi Singapura.
Pada amandemen PCA yang ketiga pada tahun 1981, dimaksudkan untuk menciptakan
efek pencegahan dengan mewajibkan mereka yang terbukti di pengadilan melakukan
korupsi untuk mengembalikan dana yang korupsi, selain hukuman yang dijatuhkan oleh
pengadilan. Apabila yang bersangkutan tidak mampu mengembalikan, maka akan dikenai
hukuman yang lebih berat. Efek pencegahan ini sangat kental terasa, misalnya pada kasus
korupsi Lim How Seng (seorang mantan kepala Museum Singapura), yang pada tahun 2002
yang padahal hanya terbukti meminta 2 pinjaman sebesar S$ 20,000 kepada pemenang
tender pada proses pengadaan 3-dimensional show yang baru untuk museumnya. Dia
mendapat hukuman 3 bulan penjara, dan berkewajiban membayar denda S$ 20,000.
Ironisnya dia juga kehilangan hak pensiunnya yang jauh lebih besar dari uang yang
diperkarakan yaitu sebesar kurang lebih antara S$ 125,000 s.d. S$ 200,000 per bulan.
Diberitakan yang bersangkutan tidak lama kemudian melakukan bunuh diri akibat rasa malu
yang amat sangat serta kehilangan martabat oleh kasus korupsi yang menimpanya di mana
hanya melibatkan uang kurang lebih 10% dari penghasilan pensiunan per bulannya.
PCA juga memberikan wewenang untuk melakukan investigasi kepada pejabat
investigasi yang menangani kasus korupsi dan menetapkan hukuman yang tegas bagi segala
bentuk korupsi dan gratifikasi.
Bahkan pada bab 241 yang sangat ekspansif, PCA memberikan kewenangan kepada
CPIB untuk melakukan penangkapan terhadap pelaku tanpa harus menunggu adanya surat
perintah (seizable offences), apabila ditemukan ada indikasi pelanggaran tindak pidana
korupsi. PCA juga memungkinkan penuntut umum menerbitkan perintah yang memberikan
wewenang kepada pejabat CPIB untuk melakukan kewenangan polisi seperti pada saat
melakukan investigasi berbagai kejahatan, dan kewenangan polisi lainnya untuk
membebaskan dengan jaminan mereka yang menjadi subjek investigasi (section 16).
Dalam hal perlakuan terhadap mereka yang melaporkan kasus korupsi baik melalui
telepon maupun secara tertulis, berdasarkan section 28, PCA memberikan perlindungan.
Perlindungan ini meliputi kerahasiaan saksi, nama, alamat tempat tinggal, keluarga, dan
perlindungan hukum lainya. Namun demikian, apabila di kemudian hari diketahui laporan
yang diberikan salah, maka PCA akan mengenakan denda S$ 10,000 dan/atau hukuman
penjara masimal 1 tahun, tergantung dari berat ringannya kasus yang dituduhkan.
Beberapa hal penting yang dapat digarisbawahi dan menjadi pelajaran dalam PCA ini
adalah:
1. Pengembalian hasil korupsi kepada negara
2. Ketidaksesuaian antara kekayaan dengan pendapatan dapat dijadikan bukti di
pengadilan
3. Pernyataan di bawah sumpah atas kekayaan yang dimiliki seseorang (khususnya pejabat
publik), pasangan, maupun anak-anaknya.
4. Menyelidiki kasus korupsi di sektor publik maupun swasta.

1.2.1.2. Corruption, Drug Trafficking and Other Serious Crimes (Confiscation of


Benefits) Act
Corruption, Drug Trafficking and Other Serious Crimes (Confiscation of Benefits) Act
yang disahkan pada tahun 1999, merupakan pengganti Corruption (Confiscation of Benefits)
Act tahun 1989. UU ini kemudian diamandemen untuk terakhir kalinya pada tahun 2001.
Hasil amandemen terakhir ini memberikan kewenangan kepada pengadilan untuk
membekukan dan mengambil alih properti dan aset hasil korupsi, dan perdagangan obat
terlarang dan kejahatan berat lainnya yang berkaitan, termasuk kejahatan pencucian uang.
Dalam UU ini diatur mengenai hukuman denda maksimal S$ 200,000 dan/atau hukuman
penjara maksimal 7 tahun untuk mereka yang menyembunyikan atau mentransfer hasil
korupsi, perdagangan obat terlarang dan kejahatan berat lainnya, termasuk pencucian uang.
Sedangkan instrumen hukum internasional dalam rangka pemberantasan korupsi yang telah
diadopsi oleh Singapura adalah:
1. Anti Corruption Action Plan for Asia and the Pacific Action Plan.
2. Memorandum of Understanding (MoU) on Cooperation for Preventing and Combating
Corruption.
1.2.2. Pembentukan CPIB (Corrupt Practices Investigation Bureau)
CPIB didirikan pada tahun 1952 sebagai sebuah organisasi yang terpisah dari polisi,
bertugas untuk menginvestigasi seluruh kasus korupsi sebagai sebuah lembaga yang
independen. Lembaga ini beranggotakan investigator sipil dan anggota polisi senior. CPIB
bergerak berdasarkan Prevention of Corruption Act (PCA). Undang-undang ini memberi
kekuasaan pada CPIB untuk menginvestigasi dan menangkap para koruptor. Lembaga inilah
yang bertugas melakukan pemberantasan korupsi di Singapura. Kepada lembaga ini
diberikan wewenang untuk menggunakan semua otoritas dalam memberantas korupsi.
Namun, bukan berarti Kepolisian Singapura, sebagai penegak hukum di Singapura,
kehilangan kewenangan untuk menyelidiki dan menyidik kasus korupsi. Mereka tetap
memiliki kewenangan itu. Namun, setiap kali penyelidikan dan penyidikan itu mengarah
pada korupsi, Kepolisian Singapura menyerahkannya pada CPIB. Bahkan, untuk
pemeriksaan internal anggota polisi, jika terindikasi korupsi, akan diserahkan ke CPIB pula.
CPIB sebagai organisasi pemerintah juga melakukan kegiatannya di sektor privat. Biro ini
diketuai oleh seorang direktur yang bertanggung jawab langsung pada perdana menteri.
CPIB bertugas untuk :
a. Menjaga integritas dari public service dan memastikan adanya transaksi yang bebas
korupsi di sektor publik. Biro ini juga memastikan tidak adanya malpraktik yang
dilakukan aparat publik dan apabila terjadi, biro ini harus melaporkannya pada
departemen pemerintah yang bersangkutan dan kepada masyarakat. Hal ini dilakukan
sebagai aksi mendisiplinkan aparat. Walaupun tugas utama dari biro ini adalah melakukan
investigasi korupsi, biro ini juga melakukan investigasi terhadap hal lain yang sejenis
dengan korupsi berdasarkan undang-undang.
b. Melakukan pencegahan korupsi dengan menganalisis cara kerja dan prosedur dari
lembaga-lembaga publik untuk mengidentifikasi kelemahan administrasi yang ada di
lembaga tersebut yang dapat menimbulkan peluang melakukan korupsi dan malpraktik

kemudian melaporkan hal tersebut kepada kepala lembaga badan yang bersangkutan
sehingga sistem dapat diperbaiki dan pencegahan korupsi dapat dilakukan.
Kewenangan Pejabat CPIB Singapura
Dalam menjalankan fungsi pemberantasan korupsi agar dapat berjalan secara efektif,
CPIB memiliki kewenangan-kewenangan sebagai berikut:
1. Kewenangan Penahanan
Direktur Singapura atau penyidik khusus CPIB Singapura dapat tanpa surat perintah
menangkap atau menahan setiap orang yang melakukan delik menurut Prevention of
Corruption Act atau mereka yang diadukan atau telah diterima informasi yang dapat
dipercaya dengan dugaan telah melakukan perbuatan tindak pidana korupsi.
Direktur CPIB Singapura atau penyidik khusus CPIB Singapura yang telah menangkap
atau menahan seorang tersangka dapat menggeledah dan menyita semua benda yang
ditemukan padanya. Hal tersebut dapat dilakukan jika ada alasan untuk dipercayakan
sebagai hasil atau bukti dari kejahatannya, dengan suatu ketentuan bahwa tersangka
perempuan hanya dapat digeledah oleh penyidik khusus perempuan.
Tersangka yang telah ditangkap atau ditahan dibawah ke kantor CPIB Singapura atau
kantor kepolisian, hanya dapat dibebaskan dengan jaminan yang diberikan oleh direktur
CPIB Singapura, penyidik khusus CPIB Singapura, atau perwira kepolisian.
2. Kewenangan Khusus Penyidikan
Dalam hal kewenangan penyidikan, PCA memberikan kewenangan khusus sebagai
berikut:
a. Memberi kekuasaan penuntut umum untuk memerintahkan penyidikan oleh perwiraperwira senior terhadap setiap bank, saham, pembelian, rekening pengeluaran, deposito
dan menuntut orang untuk memberitahukan atau menunjuk dokumen yang diminta
memberi wewenang penuntut umum yang sama untuk memeriksa catatan semacam itu
milik istri dan anak-anak pejabat atau siapa saja yang diyakini menjadi wali atau agen,
dan untuk menyalin catatan tadi
b. Memperluas kekuasaan tersebut hingga dapat meminta orang-orang untuk memberikan
pernyataan dengan sumpah tentang harta benda dan uang yang dikirim keluar Singapura
c. CPIB berhak memeriksa segala catatan yang berhubungan dengan kekayaan dan aset
masyarakatnya (msalnya pemilikan rumah, mobil, dan barang modal lainnya)

Terdapat ancaman pidana terdapat orang yang tidak memenuhi permintaan Penuntut
Umum tersebut, walaupun bertentangan dengan ketentuan undang-undang atau kerahasiaan
sumpah, dalam waktu seperti ditentukan dalam nota, baik sengaja maupun karena kelalaian,
dengan pidana denda tidak lebih dari $10,000 atau penjara paling lama 1 (satu) tahun atau
kedua-duanya
3. Kewenangan Penggeledahan

Apabila magistrate atau direktur CPIB Singapura telah mendapat informasi berdasarkan
pemeriksaan, Direktur CPIB Singapura dapat memerintahkan penyidik khusus CPIB
Singapura atau perwira polisi tidak berpangkat di bawah inspektur untuk memasuki tempat
itu dengan paksa, menggeledah, menyita, dan menahan dokumen, benda, atau harta benda
yang terkait dengan korupsi.
Di dalam Pasal 26 Prevention of Corruption Act terdapat ancaman pidana terhadap setiap
orang menghalangi penggeledahan dengan pidana denda paling banyak $10.000 atau pidana
penjara paling lama 1 (satu) tahun atau kedua-duanya.
Yang istimewa adalah adanya ketentuan yang mengatakan bahwa apabila seorang
pejabat publik diberi pemberian gratifikasi, tetapi tidak menangkap si pemberi itu dan
membawa ke kantor polisi terdekat tanpa alasan yang dapat diterima akal, diancam dengan
pidana denda paling banyak $ 5,000 atau pidana penjara paling lama 6 (enam) bulan atau
kedua-duanya, sebagaimana dirumuskan dalam Pasal 32 ayat (2) Prevention of Corruption
Act.
4. Penuntutan
Peran Penuntut Umum sangat menonjol dalam Prevention of Corruption Act karena
selain memberikan izin penggeledahan dan lain-lain, juga penuntutan hanya dapat dilakukan
atas atau dengan persetujuan, hal ini sebagaimana dirumuskan dalam Pasal 33 Prevention of
Corruption Act. Adapun yang mengadili perkara korupsi di Singapura adalah pengadilan
biasa, yaitu Districht Court .
5. Perlindungan Informan
Untuk melindungi informan saksi tidak wajibkan untuk mengungkap nama dan alamat
seorang informan atau memberikan sesuatu pernyataan yang dapat menjurus kepada
ditemukannya informan tersebut.
Ketentuan perlindungan terhadap informan oleh saksi dalam CPIB Singapura ini sama
dengan yang diatur dalam undang-undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun1999 tentang
Pemberantasan Korupsi, yaitu:
1. Dalam penyidikan dan pemeriksaan di sidang pengadilan, saksi dan orang lain yang
bersangkutan dengan tindak pidana korupsi dilarang menyebut nama atau alamat
pelapor; atau hal-hal lain yang memberikan kemungkinan dapat diketahuinya identitas
pelapor.
2. Sebelum pemeriksaan dilakukan, larangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
diberitahukan kepada saksi dan orang lain tersebut

1.3. Faktor yang Memengaruhi Pemberantasan Korupsi di Singapura


Selain adanya struktur yang baik, keberhasilan pemberantasan korupsi di Singapura
juga didukung oleh beberapa faktor berikut:
Adanya political will yang tinggi dari pemerintah Singapura untuk memberantas
korupsi. Political will ini terutama ditunjukkan oleh Lee Kuan Yew, Perdana Menteri

Singapura melalui pidatonya yang terkenal pada tahun 1979 dan Minister for Home
Affairs, Ong Pang Boon, sebagaimana yang dikatakannya di depan Legislative
Assembly. Political will yang besar ini kemudian ditunjukkan melalui pembentukan
CPIB.
Kuatnya hukum terutama peraturan mengenai anti korupsi.
Berbagai peraturan ini mengatur mengenai:
1)
memperkuat fungsi pengadilan;
2) memperkuat para investigator dengan berbagai kekuasaan yang dapat mendukung
pelaksanaan tugasnya;
3) memberi kekuasaan pada para prosecutor public untuk mendapatkan informasi dari
berbagai pihak;
4) memberi pengertian pada masyarakat mengenai tugas dan fungsi CPIB sehingga
masyarakat dapat memberi dukungan terhadap tugas dan fungsi dari lembaga ini.
Adanya hukuman yang berat bagi para koruptor.
Seseorang yang terbukti melakukan korupsi dapat dikenai hukuman hingga $100,000
atau hukuman penjara selama 5 tahun. Apabila koruptor tersebut berasal dari sektor
publik yang artinya ia akan merugikan negara dengan korupsinya maka hukuman bisa
dinaikkan hingga 7 tahun.
Adanya pendidikan anti-korupsi
Pemerintah Singapura menyadari bahwa sikap anti-korupsi harus ditanamkan semenjak
dini. Oleh sebab itu CPIB sebagai lembaga pemberantas korupsi melakukan Learning
Journey Briefing bagi siswa-siswi sekolah menengah pertama di Singapura.
Adanya analisis mengenai metode kerja
Sebagaimana telah disampaikan di atas, CPIB memiliki wewenang untuk menganalisis
metode kerja dan prosedur suatu lembaga untuk meminimalkan tingkat korupsi.
Adanya deklarasi aset dan investasi
Setiap aparat publik harus memberitahukan, saat dia diangkat dan setiap tahunnya,
mengenai daftar kekayaan dan investasi yang dimilikinya termasuk jumlah tanggungan
yang dimilikinya. Nantinya apabila aparat tersebut mendapatkan kekayaan lebih dari
yag seharusnya bisa didapat dari gaji yang diterimanya maka dia akan ditanya mengenai
bagaimana cara ia mendapatkan kekayaannya tersebut.
Larangan menerima hadiah
Aparat publik tidak diperbolehkan untuk menerima segala bentuk hadiah dalam bentuk
uang ataupun bentuk lainnya dari orang yang memiliki kepentingan terhadap pekerjaan
aparat tersebut karena dikhawatirkan akan terjadi penyuapan. Menurut PCA, segala
sesuatu yang dimaksud dengan penyuapan adalah:
1) Uang atau hadiah, pinjaman, bayaran, penghargaan, jabatan, barang berharga, barang
atau bunga dari suatu barang dengan berbagai definisi yang dapat dipindahkan
ataupun tidak dapat dipindahkan
2) Kantor, jabatan atau perjanjian kerja
3) Pembayaran, pembebasan hutang, likuidasi hutang, obligasi atau pinjaman apapun
baik seluruh ataupun sebagian

4) Jasa-jasa lainnya, keuntungan dengan berbagai definisi, termasuk perlindungan dari


berbagai hukuman yang menggunakan kekuasaan ofisial
5) Berbagai aksi atau gratifikasi yang terkait dengan berbagai hal yang telah disebutkan
sebelumnya
Adanya dukungan yang kuat dari seluruh lapisan masyarakat. Mereka menyuarakan
pemberantasan korupsi secara berkesinambungan, mendorong pemerintah untuk
membangun negara yang bersih dari segala macam bentuk penyelewengan uang negara.
Masyarakat berpartisipasi mengamati dan melaporkan jika ada indikasi penyelewengan
yang dilakukan oleh para pejabat negara.
2. CHINA
2.1. Gambaran Umum dan Sejarah Korupsi di China
Korupsi merupakan salah satu tantangan politik dan ekonomi terbesar yang dihadapi
oleh China di abad ke-21. Korupsi dianggap sebagai salah satu masalah paling besar yang
dihadapi China saat ini karena di samping kerusakan ekonomi, sosial, dan politik yang
ditimbulkannya, sifat distribusi tindak korupsi itu juga sudah sangat luas.
Korupsi telah lama terjadi di negara ini yang diperkirakan sudah ada sejak
zaman Dinasti Zhou (1027-771 SM). Kasus-kasus korupsi banyak ditemukan dalam
berbagai catatan sejarah dinasti di China. Periode revolusi nasional dan peperangan
antarwilayah menyusul berdirinya Republik Rakyat China pada tahun 1911 juga tidak luput
dari korupsi. Korupsi juga diyakini menjadi salah satu penyebab jatuhnya Guomindang,
sebuah partai nasionalis yang didirikan oleh Sun Yat Sen dalam perang saudara melawan
kekuatan komunis yang berakhir pada tahun 1949. Republik Rakyat China pada masa
pemerintahan Mao Zedong (1949-1976) pun terlibat banyak kasus korupsi.
Berkuasanya Partai Komunis China (PKC) tahun 1949 juga tak luput dari warisan
korupsi. Ciri khas korupsi PKC, yakni dilakukan secara grup, departemen, marketing, triad,
family clan dan emigrasi. Mao kemudian melakukan gebrakan untuk membersihkan Cina
dari korupsi melalui kampanye-kampanye untuk membasmi kelas kapitalis dan menciptakan
masyarakat komunis yang menjadi cita-citanya. Namun, menyebabkan pepecahan antara
Mao Zedong dan Deng Xiaoping
Naiknya kembali Deng tahun 1978 membawa reformasi ekonomi di China yang
berkaitan dengan 5 proses yaitu desentralisasi, marketisasi, diversifikasi kepemilikan,
liberalisasi, dan internasionalisasi. Deng Xiaoping pun menciptakan slogan menjadi kaya
itu mulia (zhifushiguangrong). Sejak saa titu, masyarakat di China berlomba-lomba
menjadi kaya. Di kemudian hari, fatwa ini pula lah yang menjadi gerbang maraknya korupsi.
Desentralisasi sebagai buah reformasi ekonomi, pada akhirnya pun menuai benih
korupsi. Desentralisasi kebijakan, terutama di daerah pedesaan, berupa pengalihan sejumlah
fungsi ke pemerintah lokal telah memberi kesempatan kepada pejabat lokal untuk mengeruk
keuntungan dari petani dan masyarakat desa terutama dalam hal produksi dan pemasaran
hasil pertanian.
Menurut statistik resmi pemerintah, di China terdapat 20 juta pejabat partai yang
menduduki posisi pemerintahan, selama 20 tahun lebih sudah tercatat lebih dari 8 juta orang
yang disidik dan terbukti bersalah melakukan tindakan korupsi. Saat ini rakyat secara umum
beranggapan bahwa kebobrokan pejabat sudah melampaui 2/3 dari total keseluruhan jumlah

pejabat, Komite Kedisiplinan Pusat juga pernah mengakui hal ini, sedikitnya 80%. Para staf
menengah tingkat kabupaten bermasalah dalam bidang ekonomi dan keteladanan.
Adanya tradisi guanxi (koneksi) yang begitu mengakar di kalangan masyarakat China
merupakan salah satu penyebab begitu meluasnya korupsi di negeri ini. Bagi mereka,
tanpa guanxi maka bisnis tidak akan berjalan dan seseorang akan hampir tidak dapat
mencapai apa yang menjadi kehendaknya. Adanya reformasi ekonomi Posisi
tradisi guanxi diperkuat dengan pandangan tentang uang yang berubah di China, bahwa
reformasi memperbolehkan masyarakat untuk menjadi lebih kaya, bahwa memiliki lebih
banyak uang tidak lah lagi dilarang sehingga mendorong masyarakatnya untuk mengejar
kemakmuran perseorangan.
Adanya perdebatan mengenai usulan bahwa koruptor yang telah mengembalikan hasil
korupsinya tidak perlu dihukum dan usulan mengenai pemberian insentif bagi para pejabat
yang tidak korup. Wabah korupsi ini terus berlangsung meskipun pemerintah telah gencar
menyerukan hukuman berat bagi para pelakunya. Seperti banyak dilansir media akhir-akhir
ini, satu demi satu pejabat pemerintah dan pejabat partai di China dijatuhi hukuman berat
akibat korupsi. Hukuman itu beragam mulai dari dipecat dari partai dan jabatannya dalam
pemerintahan, denda dalam jumlah besar, hukuman penjara termasuk penjara seumur hidup,
bahkan hukuman mati.
Ketika kekuasaan di China identik dengan partai, dalam hal ini Partai Komunis
China, maka sungguh beralasan kekhawatiran yang dimunculkan oleh Presiden China, Hu
Jintao, bahwa korupsi telah menyebabkan berkurangnya apresiasi atau rasa hormat rakyat
terhadap partai. Padahal sesuai amanat konstitusi, partai adalah pusat kepemimpinan seluruh
China dan kelas pekerja melihat kepemimpinan negara melalui vanguard atau barisan
depannya yaitu Partai Komunis China. Ketika China berada di jaman republik pun demikian.
Republik China yang baru berdiri terperosok dalam kubangan korupsi. Bahkan
pemimpinnya, Chiang Kai Sek dan keluarganya terlibat erat, demikian pula pejabat dari
tingkat pusat hingga daerah dan para jenderalnya. Korupsi pada akhirnya menggiring pada
kejatuhan masing-masing jaman tersebut.
2.2. Upaya Pemberantasan Korupsi di China
Dalam upayanya untuk memberantas korupsi, pemerintah China melakukan beberapa
tindakan utama yaitu:
1. Pendirian NBCP (National Bureau of Corrution Prevention)
2. Penerapan kebijakan hukuman mati bagi pelaku korupsi
1.

Pendirian NBCP (National Bureau of Corruption Prevention)


Pada September 2007, pemerintah Cina mengumumkan pendirian Biro Pencegahan
Korupsi Nasional (NBCP) yang bertugas untuk memonitor jalur aset yang mencurigakan
serta aktivitas yang dicurigai merupakan hasil korupsi. Staf NBCP akan mengumpulkan dan
menganalisis informasi dari sejumlah sektor termasuk di antaranya dari perbankan,
penggunaan lahan, pengobatan, dan telekomunikasi. sehingga mampu memonitor alur
keuangan masuk dan keluar para pejabat dan mendeteksi perilaku pihak-pihak yang
dicurigai. Biro ini nantinya akan melaporkan langsung temuannya kepada dewan negara atau
kabinet China. Meski demikian, biro tersebut tidak akan terlibat dan tidak memiliki

wewenang dalam penyelidikan kasus perseorangan. Ia menambahkan, biro tersebut juga


bertugas memberikan arahan pekerjaan anti-korupsi bagi perusahaan, organisasi nonpemerintah, membantu asosiasi perdagangan untuk menciptakan sistem dan mekanisme
disiplin sendiri, mencegah penyuapan komersial, serta memperluas pencegahan korupsi bagi
organisasi pedesaan seperti halnya masyarakat kota.
Demi meningkatkan kemampuan NBCP, maka akan dilakukan kerja sama
internasional dan bantuan badan internasional dalam pencegahan korupsi. Biro tersebut, di
bawah kerangka kerja Konvensi Perlawanan Korupsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB),
juga menawarkan bantuan bagi negara-negara berkembang dalam pencegahan korupsi serta
bekerja untuk dukungan teknis dan bentuk bantuan lainnya dari negara-negara asing dan
organisasi internasional. Selain itu, juga akan mempelajari pengalaman anti korupsi di
negara-negara lain dan meningkatkan pertukaran informasi dengan organisasi internasional
dan negara lain. Menteri Pengawasan China Ma Wen pun menyambut baik keberadaan
NBCP dan berharap biro itu bisa melaksanakan tugasnya dengan baik dalam upaya negara
memberantas korupsi di China. Menurut Wen, keberadaan biro adalah untuk memenuhi
kebutuhan dalam upaya pencegahan korupsi di China secara efektif. Keberadaan biro itu
juga mendapat sambutan positif dari para ilmuwan dan berharap bisa menjalankan fungsi
dan tugasnya dengan baik dan adil. Biro tersebut juga telah ditetapkan untuk melaksanakan
tugas menjabarkan kemajuan transparansi informasi pemerintah pada semua tingkatan.
NBCP akan mengevaluasi sejumlah celah dalam kebijakan baru yang dikeluarkan
pemerintah yang kemungkinan masih ada cara untuk melakukan korupsi, melakukan
pemeriksaan dan pencegahan korupsi pada semua tingkatan, mengadakan proyek perintis
serta menyiapkan sebuah pembentukan standar untuk menetapkan apakah sebuah
departemen atau seorang pejabat bersih.
Struktur Organisasi NBPC
NBCP berada di bawah state council yang bertanggungjawab dalam pencegahan korupsi di
china. Biro ini sekarang bertempat di kementerian pengawasan dan sebelumnya jabatan
direktur dipegang oleh menteri pengawasan. Dalam biro ini terdapat dua deputi direktur,
satu sebagai Vice Minister of Supervision (wakil kepala NBCP), yang sekarang dipegang
oleh Qu Wanxiang. Satu lagi Vice Minister level oversees yang mengerjakan pekerjaan rutin
di biro, yang sekarang dijabat oleh Cui Hairong.
Tugas NBCP adalah:
1. Bertanggung jawab terhadap pengharmonisasian, perencanaan, formulasi kebijakan dan
pengujian serta supervisi dari pemberlakuan anti korupsi di Cina
2. Pengkoordinasian dan pengarahan untukpencegahan kerja di bidang swasta, sektor
public, kelompok sosial, dan organisasi sosial lainnya
3. Bertanggung jawab untuk kerjasama internasional dalam hal pencegahan korupsi
2.

Penerapan kebijakan hukuman mati bagi pelaku korupsi


Sejalan dengan pembinaan sistem antikorupsi, Tiongkok meningkatkan pula
intensitas hukuman terhadap koruptor. Kemarin, Ketua Kejaksanaan Agung Rakyat
Tiongkok, Cao Jianming dalam Laporan Pekerjaan Kejaksaan kepada sidang KRN
mengatakan, tahun lalu, badan kejaksaan totalnya memeriksa dan mengusut kasus korupsi

yang menyangkut 2.600 kader tingkat kabupaten atau kepala divisi ke atas, termasuk 8
pejabat tingkat provinsi. Tahun lalu merupakan satu tahun dalam mana paling banyak
pejabat tinggi diusut kriminal korupsinya. Cao Jianming mengakui, badan kejaksaan
Tiongkok tahun ini akan terus memeriksa dan mengusut kriminal penyalahgunaan jabatan,
bersuaha mendorong pembinaan sistem antikorupsi. Dalam sidang tahunan KRN tahun ini,
PM Tiongkok Wen Jiabao dalam Laporan Pekerjaan Pemerintah menandaskan, Tiongkok
akan terus menempatkan "pemberantasan korupsi dan penyelenggaraan pemerintahan
bersih" pada posisi penting, khususnya akan meningkatkan pembangunan berbagai sistem
antikorupsi, dalam rangka mewujudkan target "penyelenggaraan pemerintahan di bawah
sinar matahari". Data resmi pemerintah China menunjukkan selama 2006, lebih dari 90 ribu
pejabat kena tindakan indisipliner, dan jumlah itu mencapai 0,14 persen dari total anggota
CPC.
Penerapan hukuman mati
Pemerintah China dalam satu dekade ini memang telah memberikan sanksi bahkan
mengeksekusi mati sejumlah pejabat setingkat menteri atau pejabat lebih tinggi lagi yang
dinilai sudah keterlaluan dalam melakukan korupsi. Salah satu pernyataan yang paling
melegenda dalam pemberantasan korupsi di China adalah pernyataan dari presiden Zhu
Rongji pada 1997.
"Beri saya 100 peti mati, 99 akan saya gunakan untuk mengubur para koruptor,dan 1
untuk saya kalau saya melakukan tindakan korupsi," kata Zhu.
Dari tahun 2001 sampai 2012 Cina telah menghukum mati 4000 orang karena
korupsi, dan menurut Amnesti Internasional (AI) fakta sesungguhnya masih lebih banyak
lagi. China berusaha keras untuk memerangi korupsi di negaranya. Hal ini dibuktikan
dengan memberlakukan hukuman mati, hukuman paling berat yang ditimpakan Cina
terhadap koruptor. Jumlah ini saja telah melebihi jumlah hukuman mati di 68 negara, yang
menurut Amnesty International, mencapai angka 3.246 orang.Yang menggemparkan dunia
adalah bahwa hukuman mati ini juga diterapkan tidak hanya kepada pejabat rendahan atau
orang-orang biasa saja, tetapi juga kepada pejabat tinggi negara. Presiden China Hu Jintao
juga telah berulang kali mengultimatum bahwa korupsi merupakan salah satu ancaman
terbesar bagi legitimasi hukum Partai Komunis. Langkah utama yang ditempuh China
tersebut ialah dengan menerapkan hukuman mati bagi para koruptor. Sejak kasus Chen Kejie
pada September 2000, tidak sedikit petinggi China yang dijatuhi hukuman mati ataupun
penjara seumur hidup. Dalam empat tahun terakhir, perkembangan pemberantasan korupsi
di China semakin signifikan.Orang bilang komunis itu kejam, tapi cara tsb terbukti sukses
memberantas korupsi dan hasilnya terlihat indikator perekonomian Cina melesat.
AI mengutuk cara-cara Cina itu, yang mereka sebut sebagai suatu yang mengerikan.
Tapi, bagi Perdana Menteri Zhu Rongji inilah jalan menyelamatkan Cina dari kehancuran.
Beberapa contoh penerapan hukuman mati bagi pejabat atau kalangan elite antara lain
sebagai berikut:
1.

Wakil Walikota Hangzhou, Xu Maiyong

Xu Maiyong divonis mati. Dia dianggap Mahkamah Agung China terbukti menerima
suap jutaan dollar. Vonis mati atas dirinya jatuh pada 2011 lalu. Vonis mati ini sebagai bukti
bahwa pemerintah China berlaku keras atas korupsi. Xu dieksekusi pada Juli 2011.
Xu yang berusia 52 tahun disebutkan, kerap melakukan intervensi dan bermain dalam
proyek-proyek di wilayahnya. Bukan apa-apa, Hangzhou merupakan kawasan di China
Timur yang tengah berkembang. Jadi banyak proyek pemerintah dibangun di kota itu.
Selain bermain dalam proyek, dia juga ikut membantu pengurangan pajak. Dia terbukti
menerima suap sinilai US$ 22,4 juta.
2. Pejabat Kota Suzhou, Jiang Renjie
Jiang Renjie, merupakan mantan wakil Wali Kota Suzhou. Pada Juli 2011, peluru
eksekutor menembus tubuhnya. Dia ditembak mati karena korupsi. Selaku pejabat negara
dia dianggap lalai dan melakukan perbuatan korupsi dengan menerima suap hingga pukuhan
juta dollar. Pengadilan menilai Jiang terbukti menerima suap dari perusahaan pengembang
perumahan. Usianya sudah 62 tahun. Selain penyuapan dia juga dinilai terbukti melakukan
penggelapan dan penyalahgunaan kekuasaan.
3. Pejabat Bank, Xiao Hongbo
Xiao Hongbo, dihukum mati pada 2001. Pria berusia 37 tahun yang bekerja sebagai
manajer cabang Bank Konstruksi China, salah satu bank BUMN. Dia dihukum mati
Pengadilan Sichuan pada 2001. Dia dinilai telah merugikan bank itu senilai Rp 3,9 miliar.
Xiao menggunakan uang korupsi itu untuk membiayai 8 pacarnya. Dia juga menggunakan
uang itu untuk bergaya hidup mewah. Dia dihukum mati pada 2001. Saat itu, 8 pacarnya
menangisi kepergian bankir yang royal tersebut
4. Pejabat Partai Komunis, Cheng Kejie
Wakil ketua Kongres Rakyat Nasional, Cheng Kejie dihukum mati. Dia sudah
meminta pengampunan kepada Presiden Zhu Rongji. Namun upaya itu tak digubris,
hukuman mati tetap digelar pada tahun 2000.Cheng terbukti menerima suap US$ 5 juta.
Bukan hanya Cheng, istrinya pun Li Ping dipenjara. Pengadilan juga menyita seluruh harta
kekayaan milik pasangan itu.
5. Pejabat Provinsi Jiangxi, Hu Chang-qing
Hu, terbukti menerima suap berupa mobil dan uang mencapai Rp 5 miliar. Selama
menjabat dia pun terbukti ikut bermain-main dalam proyek pemerintah. Vonis pengadilan
berupa hukuman mati pun diberikan kepadanya dan dieksekusi pada tahun 2000.
Hu merupakan seorang pejabat di Partai Komunis China, namun korupsi membuat dia
masuk penjara dan ditembak mati. Pengampunan yang diminta Hu pun tak dikabulkan. Hu
dieksekusi sebagai koruptor.
6. Mantan Menteri Kereta Api Cina, Liu Zhijun,
Pengadilan menyatakan sejak tahun 1986-2011, Liu mengambil keuntungan atas
posisinya sebagai pejabat biro kereta api setempat serta mantan Menteri Kereta Api. Dia
membantu 11 orang untuk naik jabatan, memenangkan proyek, serta kontrak transportasi
kargo. Total uang suap yang diterimanya mencapai 64,6 juta yuan (sekitar US$ 10,53 juta
atau sekitar 104,6 miliar). Liu Zhijun, dihukum mati dengan masa penangguhan dua tahun
atas kasus penyuapan dan penyalahgunaan kekuasaan, Senin, 8 Juli 2013. Selain hukuman
mati, Pengadilan Rakyat No. 2 Beijing mencabut hak-hak politik terdakwa seumur hidup
dan menyita seluruh harta kekayaannya.

2.3. Faktor yang Memengaruhi Pemberantasan Korupsi


di China
1) Sistem pemerintahan yang otoriter. Melalui sistem pemerintahan yang seperti ini,
maka China dapat menerapkan hukuman yang sangat berat bagi pelaku tindak pidana
korupsi. Dengan adanya hukuman yang berat tersebut, maka masyarakat akan berpikir
ulang untuk melakukan tindak korupsi. Dengan demikian, sistem pemerintahan juga
mempengaruhi pemberantasan korupsi di suatu negara.
2) Adanya tradisi guanxi (koneksi) yang begitu mengakar di kalangan masyarakat China
merupakan salah satu penyebab begitu meluasnya korupsi di negeri ini. Bagi mereka,
tanpa guanxi maka bisnis tidak akan berjalan dan seseorang akan hamper tidak dapat
mencapai apa yang menjadi kehendaknya.
3) Adanya reformasi ekonomi. Posisi tradisi guanxi diperkuat dengan pandangan tentang
uang yang berubah di China, bahwa reformasi memperbolehkan masyarakat untuk
menjadi lebih kaya, bahwa memiliki lebih banyak uang tidak lah lagi dilarang sehingga
mendorong masyarakatnya untuk mengejar kemakmuran perseorangan. Di satu sisi,
reformasi ekonomi ini tidak diikuti dengan reformasi politik. Pemerintah melakukan
modenisasi ekonomi namun di sisi lain pemerintah tetap mempertahankan struktur
kekuasaan yang ada. Hubungan partai dan negara di Cina bersifat subordinatif, di mana
negara yang tunduk terhadap partai. Partai menduduki posisi penting dalam
pemerintahan dan unit-unit produksi lewat komite partainya yang dipimpin oleh
Sekretaris Partai. Partai yang seharusnya memainkan fungsi pengawasan baik terhadap
masyarakat maupun aparat negara, ternyata berada di balik korupsi itu sendiri. Para
pejabat negara justru berkolusi dengan anggota partai yang seharusnya bertugas
mengawasi.
4) Adanya perdebatan mengenai usulan bahwa koruptor yang telah mengembalikan hasil
korupsinya tidak perlu dihukum dan usulan mengenai pemberian insentif bagi para
pejabat yang tidak korup.
3. JEPANG
3.1. Karakteristik Negara Jepang
Jepang (Nippon/Nihon, nama resmi: Nipponkoku/Nihonkoku) adalah sebuah negara
kepulauan di Asia Timur. Letaknya di ujung barat Samudra Pasifik, di sebelah timur Laut
Jepang, dan bertetangga dengan Republik Rakyat Cina, Korea, dan Rusia. Pulau-pulau
paling utara berada di Laut Okhotsk, dan wilayah paling selatan berupa kelompok pulaupulau kecil di Laut Cina Timur, tepatnya di sebelah selatan Okinawa yang bertetangga
dengan Taiwan. Jepang terdiri dari 6.852 pulau yang membuatnya merupakan suatu
kepulauan. Pulau-pulau utama dari utara ke selatan adalah Hokkaido, Honshu (pulau
terbesar), Shikoku, dan Kyushu.
Pada tahun 1947, Jepang memberlakukan Konstitusi Jepang yang menetapkan
Jepang sebagai negara yang menganut paham pasifisme dan mengutamakan praktik
demokrasi liberal. Pendudukan AS terhadap Jepang secara resmi berakhir pada tahun 1952
dengan ditandatanganinya Perjanjian San Francisco. Walaupun demikian, pasukan AS tetap

mempertahankan pangkalan-pangkalan penting di Jepang, khususnya di Okinawa.


Perserikatan Bangsa-Bangsa secara secara resmi menerima Jepang sebagai anggota pada
tahun 1956. Seusai Perang Dunia II, Jepang mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat,
dan menempatkan Jepang sebagai kekuatan ekonomi terbesar nomor dua di dunia, dengan
rata-rata pertumbuhan produk domestik bruto sebesar 10% per tahun selama empat dekade.
Pesatnya pertumbuhan ekonomi Jepang berakhir pada awal tahun 1990-an setelah jatuhnya
ekonomi gelembung.
Jepang menganut sistem negara monarki konstitusional dengan Kaisar Jepang
sebagai kepala negara dan "simbol negara dan pemersatu rakyat" sementara kedaulatan
sepenuhnya berada di tangan rakyat Jepang. Kekuasaan pemerintah berada di tangan
Perdana Menteri Jepang dan anggota terpilih Parlemen Jepang yang mepakan parlemen dua
kamar yang dibentuk mengikuti sistem Inggris. Parlemen Jepang terdiri dari Majelis Rendah
dan Majelis Tinggi. Kabinet Jepang beranggotakan Perdana Menteri dan para menteri.
Perdana Menteri adalah salah seorang anggota parlemen dari partai mayoritas di Majelis
Rendah.
Kepala Pemerintahan Jepang merupakan Perdana Menteri yang diangkat melalui
pemilihan di antara anggota Parlemen. Bila Majelis Rendah dan Majelis Tinggi masingmasing memiliki calon perdana menteri, maka calon dari Majelis Rendah yang diutamakan.
Pada praktiknya, perdana menteri berasal dari partai mayoritas di parlemen. Menteri-menteri
kabinet diangkat oleh Perdana Menteri. Kaisar Jepang mengangkat Perdana Menteri
berdasarkan keputusan Parlemen Jepang, dan memberi persetujuan atas pengangkatan
menteri-menteri kabinet. Perdana Menteri memerlukan dukungan dan kepercayaan dari
anggota Majelis Rendah untuk bertahan sebagai Perdana Menteri.
Jepang adalah perekonomian terbesar nomor dua di dunia setelah Amerika Serikat,
Industri utama Jepang adalah sektor perbankan, asuransi, realestat, bisnis eceran,
transportasi, telekomunikasi, dan konstruksi. Jepang memiliki industri berteknologi tinggi di
bidang otomotif, elektronik, mesin perkakas, baja dan logam non-besi, perkapalan, industri
kimia, tekstil, dan pengolahan makanan. Sebesar tiga perempat dari produk domestik bruto
Jepang berasal dari sektor jasa.
Masyarakat Jepang homogen dalam etnis, budaya dan bahasa, dengan sedikit
populasi pekerja asing. Di antara sedikit penduduk minoritas di Jepang terdapat orang Korea
Zainichi, Cina Zainichi, orang Filipina, orang Brazil-Jepang, dan orang Peru-Jepang.
Tingkat kelahiran di Jepang cukup rendah yang memberikan dampak menurunnnya jumlah
angkatan kerja serta kecenderungan meningkatnya jumlah uamg jaminan sosial seperti uang
pensiun. Masyarakat Jepang gemar memakan makanan tradisi mereka. Makanan Jepang
bertumpu pada peralihan musim, dengan menghidangkan mi dingin dan sashimi pada musim
panas, sedangkan ramen panas dan shabu-shabu pada musim dingin. Makanan tradisional
Jepang lainnya sushi, yang biasanya dibuat dari pelbagai jenis ikan mentah yang
digabungkan dengan nasi dan wasabi.
Beberapa karakter orang Jepang yang menonjol antara lain kerja keras, budaya malu,
hemat, loyalitas, hobi membaca, mandiri, meghindari konflik, inovasi, pantang menyerah,
teamwork, dan menjaga tradisi.
3.2. Korupsi Di Jepang

Tingkat korupsi yang terjadi di Jepang tidak begitu parah dan Jepang termasuk
negara yang cukup bersih dari korupsi di kawasan Asia. Jepang menduduki peringkat ke-17
dengan skor 74 dalam corruption Perception Index pada tahun 2012. Beberapa bentuk
korupsi yang pernah terjadi di Jepang, antara lain:
1. Kasus Lockhead
Kasus ini merupakan salah satu bentuk skandal suap yang terjadi di Jepang pada
tahun 1974. Kasus ini melibatkan eksekutif Jepang, yaitu bekas Perdana Menteri Jepang
Kakuei Tanaka. Beliau dituduh menerima suap dari industri pesawat terbang AS sebesar
500 juta (Rp. 24,8 triliun). Modus yang digunakan, Tanaka selaku PM Jepang memberikan
fasilitas khusus pada All Nipon Airways sehingga lancarlah penjualan pesawat terbang
keluaran Lockhead Aircraft Corporation . Sebagai balas jasa, Tanaka diberikan hadiah.
Kemudian berkembang, sejumlah besar uang dalam kasus ini ternyata merupakan dana
politik untuk kepentingan partainya.
Kasus ini terungkap dua tahun setelah Tanaka mengundurkan diri, pada 1976 skandal
suap itu terkuak. Seorang eksekutif Lockheed, perusahaan pesawat jet Amerika, mengaku di
depan Kongres AS soal suap ini. Menurut pengakuannya, ia sukses menjual produknya
karena menyuap sejumlah pejabat tinggi di negara calon pembeli. Pada 1985 Tanaka dijatuhi
hukuman empat tahun penjara. Ia mengajukan banding, dan sampai ia meninggal pada 1993,
setelah terkena stroke di awal 1990, belum juga ada keputusan banding dari Mahkamah
Agung.
2. Kasus Recruit Cosmos
Kasus ini merupakan salah satu bentuk insider trading saham yang terjadi menjelang
akhir 1980-an. Pembocoran informasi silakukan oleh oleh Hiromasa Ezoe, bos Recruit,
sehingga meraup laba sekitar U$$ 165 ribu sampai U$$ 300 ribu per orang bagi para ratusan
pembelinya saat itu.
Kasus ini melibatkan sejumlah pejabat partai berkuasa, Partai Demokratik Liberal
dan berdampak pada pengunduran diri Takeshita Noboru, perdana menteri dari partai
tersebut pada 1989. Hal ini dilakukannya sebagai tanda bahwa ia menarik tanggung jawab
semua pejabat partainya kepada dirinya. Sebelas anggota parlemen dari partainya diusut,
seorang staf Takeshita bunuh diri. Pengusutan kasus ini sendiri memakan waktu 13 tahun,
lebih dari 320 dengar-pendapat dilakukan sebelum para tersangka diajukan ke pengadilan.
Takeshita tak tersentuh, konon tetap menjadi king maker di partainya sampai meninggal
pada Juni 2000.
3.3. Usaha Pemberantasan Korupsi di Jepang
Di Jepang tidak ada Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi seperti
di Indonesia. Hukuman koruptor maksimal hanya 7 tahun penjara. Kultur hukum "malu"
yang masih besar dari masyarakat Jepang sangat efektif sebagai alat preventif melawan
korupsi. Konon, pengacara Jepang senantiasa berusaha membujuk klien-nya untuk

mengakui kesalahannya, mundur dari jabatan, dan setelah itu mengembalikan hasil
kejahatannya.
Korupsi mereka golongkan sebagai salah satu di antara tindak pidana umum, semisal
penyuapan, penggelapan uang negara, dan penipuan. Hukuman maksimalnya pun hanya
tujuh tahun, bukan hukuman mati seperti dalam undang-undang korupsi di Indonesia. Tetapi
anehnya, Indonesia yang memiliki undang-undang khusus itu, justru merupakan negara
paling korup di dunia, sebaliknya Jepang tergolong negara yang cukup bersih dari tindak
pidana
yang
di
Indonesia
kita
namakan
korupsi
itu.
Fenomena itulah yang membuktikan bahwa penegakan hukum yang baik tidak sekadar
ditentukan oleh substansi perundang-undangan-nya, melainkan lebih banyak ditentukan
oleh kultur hukum warga masyarakat maupun para penegak hukum dan penguasanya.
Menarik melihat sistem di Jepang. Setiap anggota parlemen Jepang wajib membuat
laporan kegiatan. Laporan tahunan tersebut kemudian harus dipublikasikan melalui internet
dan dapat diakses oleh publik.
Selain laporan kerja, juga diwajibkan laporan keuangan. Semua pemasukan dan
pengeluaran anggota harus dipublikasikan di website. Secara rinci dimulai dengan
pengeluaran 1 Yen (Rp. 100). Masyarakat bisa melihat laporan itu secara terbuka kapan saja.
Prinsip transparansi ini dampaknya dapat mengurangi korupsi politik di Jepang.
Beberapa waktu lalu, terdapat kasus dimana seorang anggota parlemen berusaha
memanipulasi laporan biaya penggunaan listrik, padahal acara dilakukan di gedung
parlemen. Anggota parlemen bernama Toshikatsu Matsuoka dari LDP itu jadi bulan-bulanan
media dan publik. Meskipun jumlah uang listrik itu tak seberapa, namun Matsuoka merasa
malu. Akhirnya yang bersangkutan bunuh diri. Selain itu, ada juga Menteri Jasa Keuangan
Jepang, Tadahiro Matsushita, yang ditemukan tewas bunuh diri. Tadahiro Matsushita
ditemukan telah meninggal dengan cara gantung diri dan hal ini terjadi ketika sedang
dilakukan penyelidikan kasus korupsi yang terjadi di Kementerian yang dipimpinnya.
Jepang memiliki sebuah lembaga yang bertugas melakukan pemeriksaan keuangan
sebuah proyek. Lembaga itu dikenal dengan sebutan Jigyoushiwake. Jigyoushiwake telah
berhasil memeriksa ratusan institusi. Salah satunya adalah JICA. JICA dikritik karena telah
memberikan gaji dan bonus kepada staf yang bekerja di luar negeri. Selain gaji tetap
bulanan, staf JICA menerima tunjangan sebesar 440 ribu sampai 640 ribu yen yang dianggap
tak wajar. Adapun penghasilan tahunan rata-rata staf administrasi JICA adalah sebesar 16
juta yen dengan jumlah staf 13 orang dianggap sangat besar. JICA diminta mengurangi
jumlah stafnya dan juga mengurangi pembiayaan proyek di luar Jepang.
Shiwake juga melakukan pemeriksaan terhadap Pusat Industri Garam Jepang.Yang
dikritik adalah aset sebesar 60 miliar yen, sementara harga garam di pasaran tidak turun.
Pusat Industri Garam dianggap memonopoli produksi garam dan tidak menjalankan pasar
bebas. Tim shiwake meminta mereka untuk menyerahkan aset tersebut kepada negara.
Jigyoushiwake dianggap sebagai pendekatan yang cukup bagus untuk memeriksa
penggunaan uang rakyat di lembaga atau institusi yang dikontrol negara. Terdapat sekitar
447 proyek yang akan diselidiki dan sudah puluhan masalah yang dibongkar. Pertanyaan
yang sering diajukan adalah ke mana uang itu pergi? atau kenapa pembiayaan terlalu
besar?
Program ini menjadi sangat menarik dan ditanggapi positif oleh rakyat Jepang,
karena dengannya mereka dapat mengetahui bagaimana penyalahgunaan pajak yang mereka

bayarkan. Tetapi mereka juga mengkritisi apakah proyek-proyek yang diputuskan berhenti
atau ditinjau ulang benar-benar dilaksanakan, yang dengan demikian rakyat bisa menikmati
hasilnya, misalnya dengan penurunan harga garam.

BAB III
PENUTUP

1.
1.

2.

3.

2.

Kesimpulan
Singapura dan China memiliki lembaga khusus yang bertugas memberantas korupsi
sebagaimana Komisi Pemberantasan Korupsi di Indonesia yang juga diberi kewenangan
khusus untuk melakukan penangkapan, penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan
terhadap tindak pidana korupsi;
Jepang tidak memiliki lembaga khusus untuk memberantas korupsi. Korupsi di Jepang
digolongkan sebagai pidana umum yang ditangani oleh kepolisian setempat. Namun
demikian, Jepang memiliki lembaga yang bertugas untuk memeriksa keuangan atas
kegiatan proyek bernama Jigyoushiwake.
Di China, penjatuhan hukuman mati bagi para koruptor sudah biasa dilakukan.
Sementara di Singapura dan Jepang, beberapa koruptor memilih untuk bunuh diri
sebagai dampak dari penerapan budaya malu yang tinggi dalam kehidupan bangsanya.

Saran
Dengan mempelajari pemberantasan korupsi di negara lain, bangsa Indonesia
seyogyanya dapat mengambil nilai-nilai positif dari negara-negara itu guna mengoptimalkan
upaya pemberantasan korupsi di Indonesia. Bangsa Indonesia dapat mengadopsi ketegasan
pemerintahan China serta menerapkan budaya malu yang selama ini menjadi salah satu pilar
pemberantasan korupsi di Singapura dan Jepang.

DAFTAR PUSTAKA

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Strategi Penanganan Korupsi Di Negara-Negara Asia Pasifik. Laporan Kajian Lembaga


Administrasi Negara Pusat Kajian Administrasi Internasional. PKAI: 2007.
http://www.unikgaul.com/2012/09/5-pejabat-koruptor-yang-di-tembak-mati.html
http://allaboutadministration.blogspot.com/2012/04/perbandingan-pemberantasankorupsi.html
http://hukum.kompasiana.com/2010/07/30/memberantas-korupsi-ala-cina-210030.html
http://www.ti.or.id/media/documents/2012/12/12/m/a/map_and_country_result_1.pdf
http://my.opera.com/fariziy/blog/2013/02/18/11-karakter-orang-jepang
http://sihiteezra.wordpress.com/2010/11/29/jepang-dari-korupsi-ke-korupsi/