Anda di halaman 1dari 42

PENGELOLAAN KEUANGAN

BADAN LAYANAN UMUM


Makasar, 14 Pebruari 2008

Direktorat Pembinaan PK BLU,


Ditjen Perbendaharaan,
Departemen Keuangan RI

Peranan Government
Menurut Max Weber, peranan pemerintah
dapat dipandang dari 2 perspektif:

1. Mechanic View
Sebagai Regulator
Sebagai Administrator
2. Organic View
Sebagai Public Service Agency
Sebagai Investor
Fungsi menurut Mechanic View erat dengan birokrasi,
sementara fungsi menurut Organic View hrs dinamis
dan dpt ditransformasikan ke autonomous agencies.
2

Birokrasi =
Inefisiensi, Inefektivitas?
Menurut KBBI, birokrasi adalah:
sistem pemerintahan yang dijalankan oleh pegawai
pemerintah dengan berpegang pada hierarki dan jenjang
jabatan.
cara bekerja atau susunan pekerjaan yang serba lamban,
serta menurut tata aturan (adat dan sebagainya) yang
banyak liku-likunya.
Dengan demikian, sementara pemerintahan
identik dengan sistem birokrasi, padanya
terlekat konotasi inefisiensi dan inefektivitas.
3

Kegiatan yang Bisa Ditransformasi sbg


Autonomous Agency a.l.:
1.
2.
3.
4.

5.
6.
7.

Layanan pendidikan
Layanan kesehatan masyarakat
Layanan LITBANG
Penyelenggaraan dana bergulir untuk
masyarakat
Pembinaan olah raga
Perawatan jalan raya
Pertamanan dan kebersihan
4

Kegiatan yang Tidak Bisa Ditransformasi


sbg Autonomous Agency a.l.:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Legislasi
Pengaturan
Penetapan Kebijakan Pelayanan
Penganggaran
Peradilan
Penindakan
Pertanggungjawaban

BUREAUCRACY

S
T
A
T
E

Private Goods

Semi Public Goods

Public Goods

Legislation &

Regulation
Authorities
Controls & Judiciary

Government

BLU

BUMN

Persero
Perum
Public
PT BHMN(?)
Service
Deliveries
Internal
Service
Agencies

YAYASAN
& NGOs

Non-for-Profit

P
R
I
V
A
T
E

PRIVATE
PROPERTIES

Market

Kelembagaan Sektor Publik


1. Satker biasa
Non Profit (pendapatan < belanja)
Tidak Otonom
Pengelolaan sesuai dengan mekanisme APBN.

2. Satker dengan PK BLU

Not For Profit (tidak mengutamakan keuntungan)


Pengelolaan keuangan sesuai dengan PP 23/2005
Kekayaan Negara yang Tidak Dipisahkan
Semi Otonom/Otonom

3. Perusahaan Negara/BUMN

Profit Oriented (Pendapatan > belanja)


Pengelolaan keuangan bisnis murni
Kekayaan Negara yang Dipisahkan
Otonom
7

Dasar Hukum BLU (1)


UU No. 1/2004 tentang Perbendaharaan Negara;
PP No. 23/2005 tentang PK BLU;
PMK No. 07/PMK.02/2006 diganti dgn PMK No.
119/2007 tentang Persyaratan Administrasi
Dalam Rangka Pengusulan dan Penetapan Satker
Instansi Pem. untuk Menerapkan PK BLU;
PMK No. 08/PMK.02/2006 tentang Kewenangan
Pengadaan Barang/Jasa pada BLU;
PMK No. 09/PMK.02/2006 diganti dgn PMK No.
109/2007 ttg Pembentukan Dewas pada BLU;
PMK No. 10/PMK.02/2006 dan PMK No. 73/2007
tentang Pedoman Penetapan Remunerasi Bagi
Pejabat Pengelola, Dewas, dan Pengawai BLU;
PMK No. 66/PMK.02/2006 tentang Tata Cara
Penyusunan,
Pengajuan,
Penetapan,
dan
Perubahan RBA, serta Dokumen Pelaksanaan
Anggaran BLU
8

DASAR HUKUM BLU (2)


BLU adalah instansi di lingkungan Pemerintah yang
dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat
berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang dijual tanpa
mengutamakan mencari keuntungan dan dalam melakukan
kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan
produktivitas.
Ps 1 UUPN
BLU dibentuk untuk meningkatkan pelayanan kepada
masyarakat dalam rangka memajukan kesejahteraan umum
dan mencerdaskan kehidupan bangsa.
Kekayaan BLU merupakan kekayaan negara yang tidak
dipisahkan.
Pembinaan keuangan BLU pemerintah pusat dilakukan oleh
Menteri Keuangan dan pembinaan teknis dilakukan oleh
menteri teknis yang bertanggung jawab atas bidang
pemerintahan ybs.
Ps 68 UUPN
9

Tujuan BLU
Meningkatkan pelayanan kepada
masyarakat dalam rangka
memajukan kesejahteraan umum dan
mencerdaskan kehidupan bangsa
Fleksibilitas dalam pengelolaan
keuangan berdasarkan prinsip
ekonomi dan produktivitas
Penerapan praktek bisnis yang sehat.
10

Karakteristik BLU
1. Berkedudukan sebagai lembaga pemerintah
(bukan kekayaan negara yang dipisahkan)
2. Menghasilkan barang/jasa yang seluruhnya/
sebagian dijual kepada publik
3. Tidak bertujuan mencari keuntungan (laba)
4. Dikelola secara otonom dengan prinsip
efisiensi dan produktivitas a la korporasi
5. Rencana kerja/anggaran dan pertanggung
jawaban dikonsolidasikan pada instansi induk
6. Pendapatan & sumbangan dpt digunakan
langsung
7. Pegawai dapat terdiri dari PNS dan Non-PNS
8. Bukan sebagai subyek pajak
11

Persyaratan BLU
Persyaratan substantif BLU, fungsi
dasar pelayanan publik
Persyaratan teknis BLU diatur oleh
Kementerian/Lembaga teknis
Persyaratan
keuangan/administratif diatur oleh
Menteri Keuangan

12

Persyaratan Substantif
Menyelenggarakan tugas pokok dan fungsi utama
yang berhubungan dengan:
menyediakan barang dan/atau jasa untuk layanan
umum;
Mengelola wilayah/kawasan tertentu untuk tujuan
meningkatkan perekonomian masyarakat atau untuk
layanan umum; dan/atau
Mengelola dana khusus dalam rangka meningkatkan
ekonomi dan/atau pelayanan kepada masyarakat

Bidang layanan umum yang diselenggarakan


bersifat operasional yang menghasilkan semi
barang/jasa publik (quasi public goods);
Dalam melakukan kegiatannya tidak
mengutamakan pencarian keuntungan.
13

Persyaratan Teknis
kinerja pelayanan layak dikelola
dan ditingkatkan pencapaiannya
melalui BLU sebagaimana
direkomendasikan
menteri/pimpinan lembaga;
kinerja keuangan satker yang
bersangkutan sehat sebagaimana
ditunjukkan dalam dokumen usulan
penetapan BLU.
14

Persyaratan Administratif

pernyataan kesanggupan untuk meningkatkan


kinerja pelayanan, keuangan, dan manfaat bagi
masyarakat;
pola tata kelola;
rencana strategis bisnis ;
laporan keuangan pokok;
standar pelayanan minimum; dan
laporan audit terakhir (bila telah diaudit) atau
membuat pernyataan bersedia diaudit secara
independen.
15

Pernyataan Kesanggupan
Meningkatkan Kinerja
Kesesuaian formulir dengan format yang
ditetapkan;
Ditandatangani pimpinan Satker di atas
materai;
Disetujui oleh Menteri/Pimpinan
Lembaga terkait.
16

POLA TATA KELOLA


1.

Organisasi dan Tata Laksana;

2.

Akuntabilitas;

3.

Struktur Organisasi;
Prosedur Kerja;
Pengelompokan Fungsi yg logis;
Ketersediaan dan Pengembangan SDM.
Akuntabilitas Program;
Akuntabilitas Kegiatan;
Akuntabilitas Keuangan.

Transparansi

Kejelasan Tugas dan Kewenangan;


Ketersediaan Informasi kepada Publik.
17

RENCANA STRATEGIS BISNIS


1. Visi dan Misi
2. Program Strategis

Program 5 tahunan;
Kesesuaian visi, misi, program, kegiatan dan pengukuran
pencapaian kinerja;
Indikator kinerja 5 tahunan berupa indikator pelayanan,
keuangan, administratif, dan SDM.

3. Pengukuran Pencapaian Kinerja

18

LAPORAN KEUANGAN POKOK


1.

Kelengkapan Laporan Keuangan Pokok;

2.
3.

Kesesuaian dengan standar akuntansi;


Hubungan antar laporan Keuangan lain;

4.
5.

Laporan Realisasi Anggaran;


Neraca;
Laporan Arus Kas;
Catatan Atas Laporan Keuangan.

Saldo ekuitas di neraca = saldo ekuitas awal +/- dgn suplus /


defisit atau laba/rugi periode tsb dan +/- lainnya;
Saldo kas akhir periode pd Lap Arus Kas = saldo kas di
neraca.

Kesesuaian antara Keuangan dgn Indikator Kinerja


yang ada di Rencana Strategis;
Analisis Laporan Keuangan
19

STANDAR PELAYANAN MINIMAL


1.

2.

Penyajian SPM;
Kesesuaian SPM dengan Kebutuhan & Kemampuan
Satker Instansi Pemerintah;

3.

4.
5.

Keberadaan sistem informasi, pelaporan dan evaluasi


penyelenggaraan operasi;
Standar pelayanan tertinggi yg telah dicapai dlm bid terkait;
Keterkaitan antar SPM dlm suatu bidang & antara SPM dlm
suatu bidang dengan SPM bidang lainnya;
Kemampuan keuangan, kelembagaan, dan personil dlm bidang
terkait; dan
Pengalaman empiris ttg cara penyediaan pelayanan dasar.

Rencana Pencapaian SPM;


Indikator Pelayanan;
Adanya tanda tangan pimpinan satker ybs dan
Menteri/Pimp Lembaga terkait.
20

LAPORAN AUDIT TERAKHIR ATAU

1.

Opini audit

2.

Tahun audit dilakukan

PERNYATAAN BERSEDIA DI AUDIT


1.
2.

Kesesuaian formulir dgn format yg ditetapkan


Adanya tanda tangan pimpinan Satker ybs dan
Menteri/Pimpinan Lembaga terkait.
21

Penetapan BLU
Instansi/calon
BLU

Menteri Teknis/
Pimpinan Lembaga

ya
tidak

Tidak diusulkan

Usulkan
BLU

ya
Teliti
Persyaratan
teknis
tidak

Menteri
Keuangan

usulan

usulan

Persyaratan
substantif

memenuhi

(1-2)

memuaskan

Usulkan
diteruskan

Teliti
Persyaratan
administrasi

Penetapan
BLU Penuh

ya

kurang
tidak

Penetapan
BLU bertahap

Tdk
diusulkan
Tdk
disetujui

22

Penetapan BLU

(2-2)

Penilaian Persyaratan Administrasi oleh


Tim yang dibentuk Menteri Keuangan.
Penilaian dengan SOP yang ditetapkan
Dirjen Perbendaharaan.
Penetapan PK BLU paling lambat 3
(tiga) bulan sesudah persyaratan
administrasi diterima dengan lengkap.
Penetapan PK BLU dengan Keputusan
Menteri Keuangan
23

Status BLU dan Konsekuensinya

(1-2)

1. BLU Penuh
Kriteria:
Persyaratan Substantif, Teknis Terpenuhi
Persyaratan Administrasi Terpenuhi memuaskan sesuai
dengan kriteria SOP penilaian

Fleksibilitas: Semua yang diamanatkan PP 23/2005 a.l

Pengelolaan Pendapatan dan Belanja


Pengelolaan Kas
Pengelolaan Piutang dan Utang
Investasi
Pengadaan dan Pengelolaan Barang
Pengembangan sistem dan prosedur pengelola keuangan
dan akuntansi
24

Status BLU dan Konsekuensinya(2-2)


2. BLU Bertahap (paling lama 3 tahun)
Kriteria:
Persyaratan Substantif, Teknis Terpenuhi
Persyaratan Administrasi Terpenuhi kurang memuaskan
sesuai dengan kriteria SOP penilaian
Fleksibilitas dibatasi:
Penggunaan langsung pendapatan dibatasi, sisanya harus
disetor ke kas negara sesuai prosedur PNBP
Tidak dibolehkan mengelola Utang
Tidak dibolehkan mengelola Investasi
Pengadaan barang/jasa mengikuti ketentuan umum
pengadaan barang/jasa yang berlaku.
Tidak diterapkan flexible budget
25

Dokumen Pelaksanaan Anggaran


RBA yang disetujui sebagai dasar untuk
membuat dokumen pelaksanaan anggaran.
Dokumen pelaksanaan anggaran disahkan oleh
Menteri Keuangan/pejabat pengelolaan
keuangan daerah
Dokumen pelaksanaan anggaran merupakan
lampiran dari perjanjian kerja antara pimpinan
BLU dengan kementerian/kepala daerah
Dokumen pelaksanaan anggaran menjadi dasar
penarikan dana dari APBN/APBD

26

RBA RKA K/L APBN


RBA

RKA K/L

DIPA
(Berbeda dgn DIPA satker Biasa)

Pendapatan: APBN
Layanan
KSO
Hibah
Lainnya

PNBP

Cost Accounting
Variable Direct Costs
Fixed Direct Costs
Variable OH Costs
Fixed OH Costs
Biaya Pegawai
Biaya Material dan
Supplies
Depresiasi/Amortisasi
Biaya Operasional
Lainnya

Belanja Pegawai, Barang/jasa, Modal


(APBN)

Dgn SPM
Penggunaan pendapatan BLU

Belanja Pegawai
Belanja Barang/Jasa

Belanja Pegawai
Belanja Barang/Jasa
Belanja Modal

Belanja Modal

Ringkasan Belanja Modal:


- Belanja Modal APBN Rp xxx
- Belanja Modal dr Pendapatan Fungsional Rp xxx

Dgn SPM Pengesahan

27

Sumber Pendapatan BLU


-Bel. Pegawai, barang & modal dari APBN
-Penarikan dana dgn SPM

Alokasi APBN

Imbalan Jasa BLU

PNBP
K/L

Dapat dikelola
langsung sesuai RBA

Hasil Kerjasama
Dgn Pihak Lain

Hibah Terikat

Sesuai persyaratan
pemberi hibah

28

Belanja
Pengelolaan belanja fleksibel sesuai
dengan ambang batas yang ditetapkan
dalam RBA
Jika melampaui ambang batas hrs
mendapat persetujuan Menkeu/kepala
daerah
Jika terjadi kekurangan anggaran, dapat
diajukan ke Menkeu/kepala daerah
Belanja BLU dilaporkan sebagai belanja
barang dan jasa di
kementerian/lembaga/pemerintah daerah
29

Pengelolaan Kas
Pengelolaan kas berdasarkan praktek
bisnis yang sehat
Penarikan dana APBN dengan SPM
Rekening bank BLU dibuka di bank umum
oleh pimpinan BLU
BLU dapat melakukan investasi jangka
pendek dalam rangka cash management.

30

Pengadaan Barang
Pengadaan barang berdasarkan prinsip efisien
dan ekonomis sesuai dengan praktek bisnis yang
sehatdapat dibebaskan seluruhnya atau
sebagian dari ketentuan yang berlaku bila
terdapat alasan efektivitas dan efisiensi
Kewenangan pengadaan barang secara berjenjang
berdasarkan nilai yang diatur oleh Menkeu/kepala
daerah.
Barang inventaris dapat dialihkan dan dihapuskan
oleh BLU dan dilaporkan secara berkala kepada
menteri/pimpinan lembaga/kepala daerah.

31

Pengelolaan Barang
BLU tidak dapat mengalihkan/menghapuskan Aset
tetap kecuali ijin pejabat yang berwenang.
Pengalihan/penghapusan aset tetap dilakukan
secara berjenjang berdasarkan nilai dan jenis
barang yang sesuai dengan peraturan perundangan.
Pengalihan/penghapusan aset tetap dilaporkan
kepada menteri/pimpinan lembaga/kepala SKPD
Tanah dan bangunan disertifikat atas nama
Pemerintah RI

32

Akuntansi, Pelaporan dan


Pertanggungjawaban Keuangan
BLU menyelenggarakan akuntansi sesuai dengan SAK
yang diterbitkan asosiasi profesi akuntansi Indonesia.
Jika tidak ada standar akuntasi, dapat menerapkan
standar akuntansi industri yang spesifik setelah
mendapat persetujuan Menteri Keuangan
Laporan Keuangan terdiri dari LRA, Neraca, LAK dan
CaLK disertai laporan kinerja.
Laporan keuangan tersebut disampaikan kepada
menteri/pimpinan lembaga/kepala daerah secara
berkala
LK tersebut menjadi bagian dari LK kementerian/
lembaga/pemerintah daerah.
LK sebagai LPJ BLU diaudit oleh auditor eksternal.
33

Surplus dan Defisit


Surplus anggaran dapat digunakan untuk TA
berikutnya.
Surplus dapat disetor sebagian/seluruhnya
ke Kas Negara/Kas Daerah atas perintah
Menkeu/kepala daerah dengan
mempertimbangkan likuiditas BLU
Defisit anggaran BLU dapat diajukan
pembiayaannya dalam TA berikutnya
kepada Menkeu/kepala daerah melalui
menteri/pimpinan lembaga/kepala SKPD
34

Remunerasi
Pengelola, dewan pengawas dan pegawai
BLU dapat diberikan remunerasi
berdasarkan tingkat tanggungjawab dan
tuntutan profesionalisme.
Remunerasi ditetapkan berdasarkan
peraturan Menteri Keuangan/kepala
daerah

35

Pembinaan dan Pengawasan


Pembinaan Teknis BLUmenteri/pimpinan
lembaga/kepala SKPD
Pembinaan Keuangan Menteri Keuangan/
Pejabat Pengelolaan Keuangan Daerah
Dapat dibentuk suatu dewan pengawas dalam
melaksanakan pembinaan untuk BLU yang
memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh
Menteri Keuangan.
Pemeriksaan intern dilakukan oleh satuan
pemeriksaan intern BLU.
Pemeriksaan ekstern BLU sesuai dengan
peraturan perundangan.
36

Dewan Pengawas
Satker BLU yang memenuhi persyaratan, dapat
mempunyai Dewas, yang ditetapkan oleh
Menteri/Pimpinan Lembaga dengan persetujuan
Menkeu.
Persyaratan jumlah Dewas sbb:
Nilai omset Rp 15 miliar s.d 30 miliar/th atau aset
di atas Rp 75 miliar tiga Dewas.
Nilai omset di atas Rp 30 miliar/th atau aset Rp
200 miliar tiga atau lima Dewas.

Unsur dewas terdiri dari unsur kementerian


negara/lembaga teknis, kementerian keuangan,
dan tenaga ahli.
37

Tata Kelola
Kelembagaan tunduk pada peraturan
perundangan sektoral.
Jika terjadi perubahan kelembagaan, harus
berpedoman pada ketentuan Menteri PAN
Pejabat pengelola BLU dapat terdiri dari
PNS dan non PNS
Nomenklatur pejabat pengelola BLU
disesuaikan dengan nomenklatur yang
berlaku di instansi BLU.
38

TATA KELOLA BLU YANG BAIK


(GOOD CORPORATE GOVERNANCE)
Flexibilitas Keuangan
Corporate
Governance
Lingkungan
BLU

Nilai Tambah

Investor

Lain-lain
Pemerintah
Masyarakat

Pegawai

39

PERBANDINGAN BLU DENGAN BHMN


BLU
(PP 23 Tahun 2005)

BHMN
(PP 61 Tahun 1999)

Status Hukum

Bagian kementerian/lembaga

Badan Hukum/kekayaan negara yang


dipisahkan.
Non Profit oriented

Tujuan

Non profit oriented

Manajemen

Otonom ala korporasi


Nomenklatur & struktur
manajemen sesuai dgn Instansi

Otonom ala korporasi

Operasional Keuangan

Pengecualian asas Universalitas

Bukan Pengecualian Asas


Universalitas/bisinis

Sumber Pendanaan

APBN (pendapatan BLU)


Pendapatan Hasil usaha/jasa

APBN (PMP/Subsidi)
Hibah
Pendapatan Hasil Usaha/Jasa

SDM

PNS dan non PNS

Pegawai BHMN

Subyek Pajak

Bukan Subyek Pajak

Subyek Pajak

40

Satker BLU

Per 14 Pebruari 2008


37 satker telah ditetapkan untuk menerapkan
PK BLU, yang terdiri dari:
13 BLU (RS) telah beroperasi mulai tahun 2006;
4 BLU (BPJT, BIP, BTIP dan LPDB) seharusnya
telah beroperasi mulai Januari 2007;
19 BLU (BPPH, LLP-UKM,PP IPTEK, 15 RS, UIN
Sunan Kalijaga)

10 satker dlm proses (3 Balai, 2 UIN, AKA,


STAN, PPPR-Menpera, Fatekgan-LAPAN dan
LPRAN-BPN)
41

TERIMA KASIH

Kontak:
Gedung KPPN II Lt. 3
Jln Wahidin II No. 3 Jakarta Pusat 10710
Telp. (021) 381-1174; Fax (021) 381-2767
42