Anda di halaman 1dari 34

ALAT DAN PRINSIP KERJA PADA INDUSTRI GULA

1. Ekstraksi

Alat

Prinsip Kerja
Pembuatan gula tebu adalah ekstraksi jus atau sari tebu. Caranya dengan menghancurkan tebu
dengan mesin penggiling untuk memisahkan ampas tebu dengan cairannya. Cairan tebu
kemudian dipanaskan dengan boiler. Jus yang dihasilkan masih berupa cairan yang kotor: sisasisa tanah dari lahan, serat-serat berukuran kecil dan ekstrak dari daun dan kulit tanaman,
semuanya bercampur di dalam gula.

Fungsinya
Untuk menghancurkan tebu agar bisa di pisahkan ampas dengan cairannya

Proses

Jus dari hasil ekstraksi mengandung sekitar 50 % air, 15% gula dan serat residu, dinamakan
bagasse, yang mengandung 1 hingga 2% gula. Dan juga kotoran seperti pasir dan batu-batu kecil
dari lahan yang disebut sebagai abu.

2. Pengendapan kotoran dengan kapur (Liming)

Alat

Prinsip Kerja
Jus tebu dibersihkan dengan menggunakan semacam kapur (slaked lime) yang akan
mengendapkan sebanyak mungkin kotoran , kemudian kotoran ini dapat dikirim kembali ke
lahan. Proses ini dinamakan liming. Jus hasil ekstraksi dipanaskan sebelum dilakukan liming
untuk mengoptimalkan proses penjernihan. Kapur berupa kalsium hidroksida atau Ca(OH)2
dicampurkan ke dalam jus dengan perbandingan yang diinginkan dan jus yang sudah diberi
kapur ini kemudian dimasukkan ke dalam tangki pengendap gravitasi: sebuah tangki penjernih
(clarifier). Jus mengalir melalui clarifier dengan kelajuan yang rendah sehingga padatan dapat
mengendap dan jus yang keluar merupakan jus yang jernih. Kotoran berupa lumpur dari clarifier
masih mengandung sejumlah gula sehingga biasanya dilakukan penyaringan dalam penyaring
vakum putar (rotasi) dimana jus residu diekstraksi dan lumpur tersebut dapat dibersihkan
sebelum dikeluarkan, dan hasilnya berupa cairan yang manis. Jus dan cairan manis ini kemudian
dikembalikan ke proses.

Fungsinya
untuk mendapatkan cairan yang jernih

3. Penguapan (Evaporasi)

Alat

Prinsip Kerja
Setelah mengalami proses liming, proses evaporasi dilakukan untuk mengentalkan jus
menjadi sirup dengan cara menguapkan air menggunakan uap panas (steam).Terkadang sirup
dibersihkan lagi tetapi lebih sering langsung menuju ke tahap pembuatan kristal tanpa adanya
pembersihan lagi.Jus yang sudah jernih mungkin hanya mengandung 15% gula tetapi cairan
(liquor) gula jenuh (yaitu cairan yang diperlukan dalam proses kristalisasi) memiliki kandungan
gula hingga 80%. Evaporasi dalam evaporator majemuk' (multiple effect evaporator) yang
dipanaskan dengan steam merupakan cara yang terbaik untuk bisa mendapatkan kondisi
mendekati kejenuhan (saturasi).

Fungsinya

untuk bisa mendapatkan kondisi mendekati kejenuhan


4. Pendidihan/ Kristalisasi

Alat

Prinsip Kerja
Pada tahap akhir pengolahan, sirup ditempatkan ke dalam wadah yang sangat besar untuk
dididihkan. Di dalam wadah ini air diuapkan sehingga kondisi untuk pertumbuhan kristal gula
tercapai. Pembentukan kristal diawali dengan mencampurkan sejumlah kristal ke dalam sirup.
Sekali kristal terbentuk, kristal campur yang dihasilkan dan larutan induk (mother liquor) diputar
di dalam alat sentrifugasi untuk memisahkan keduanya, bisa diumpamakan seperti pada proses
mencuci dengan menggunakan pengering berputar. Kristal-kristal tersebut kemudian dikeringkan
dengan udara panas sebelum disimpan.
Larutan induk hasil pemisahan dengan sentrifugasi masih mengandung sejumlah gula
sehingga biasanya kristalisasi diulang beberapa kali. Sayangnya, materi-materi non gula yang
ada di dalamnya dapat menghambat kristalisasi. Hal ini terutama terjadi karena keberadaan gulagula lain seperti glukosa dan fruktosa yang merupakan hasil pecahan sukrosa. Olah karena itu,
tahapan-tahapan berikutnya menjadi semakin sulit, sampai kemudian sampai pada suatu tahap di
mana kristalisasi tidak mungkin lagi dilanjutkan. Sebagai tambahan, karena gula dalam jus tidak
dapat diekstrak semuanya, maka terbuatlah produk samping (byproduct) yang manis: molasses.
Produk ini biasanya diolah lebih lanjut menjadi pakan ternak atau ke industri penyulingan untuk
dibuat alkohol (etanol) . Belakangan ini molases dari tebu di olah menjadi bahan energi alternatif
dengan meningkatkan kandungan etanol sampai 99,5%.

Fungsinya
untuk terjadinya pembentukan kristal

5. Penyimpanan

Prinsip Kerja
Gula kasar yang dihasilkan akan membentuk gunungan coklat lengket selama penyimpanan
dan terlihat lebih menyerupai gula coklat lunak yang sering dijumpai di dapur-dapur rumah
tangga. Gula ini sebenarnya sudah dapat digunakan, tetapi karena kotor dalam penyimpanan dan
memiliki rasa yang berbeda maka gula ini biasanya tidak diinginkan orang. Oleh karena itu gula
kasar biasanya dimurnikan lebih lanjut ketika sampai di negara pengguna.

Fungsinya
untuk menyimpan gula yang telah membentuk gunungan

6. Afinasi (Affination)

Alat

Prinsip Kerja
Tahap pertama pemurnian gula yang masih kasar adalah pelunakan dan pembersihan lapisan
cairan induk yang melapisi permukaan kristal dengan proses yang dinamakan dengan afinasi.
Gula kasar dicampur dengan sirup kental (konsentrat) hangat dengan kemurnian sedikit lebih
tinggi dibandingkan lapisan sirup sehingga tidak akan melarutkan kristal, tetapi hanya sekeliling
cairan (coklat). Campuran hasil (magma') di-sentrifugasi untuk memisahkan kristal dari sirup
sehingga kotoran dapat dipisahkan dari gula dan dihasilkan kristal yang siap untuk dilarutkan
sebelum

proses

karbonatasi.

Cairan yang dihasilkan dari pelarutan kristal yang telah dicuci mengandung berbagai zat warna,
partikel-partikel halus, gum dan resin dan substansi bukan gula lainnya. Bahan-bahan ini semua
dikeluarkan dari proses.

Fungsinya
untuk memisahkan kotoran gula untuk di jadikan kristal

7. Karbonatasi

Alat

Prinsip Kerja
Tahap pertama pengolahan cairan (liquor) gula berikutnya bertujuan untuk membersihkan
cairan dari berbagai padatan yang menyebabkan cairan gula keruh. Pada tahap ini beberapa
komponen warna juga akan ikut hilang. Salah satu dari dua teknik pengolahan umum dinamakan
dengan karbonatasi. Karbonatasi dapat diperoleh dengan menambahkan kapur/ lime [kalsium
hidroksida, Ca(OH)2] ke dalam cairan dan mengalirkan gelembung gas karbondioksida ke dalam
campuran

tersebut.

Gas karbondioksida ini akan bereaksi dengan lime membentuk partikel-partikel kristal halus
berupa kalsium karbonat yang menggabungkan berbagai padatan supaya mudah untuk
dipisahkan. Supaya gabungan-gabungan padatan tersebut stabil, perlu dilakukan pengawasan
yang ketat terhadap kondisi-kondisi reaksi. Gumpalan-gumpalan yang terbentuk tersebut akan
mengumpulkan sebanyak mungkin materi-materi non gula, sehingga dengan menyaring kapur
keluar maka substansi-substansi non gula ini dapat juga ikut dikeluarkan. Setelah proses ini
dilakukan, cairan gula siap untuk proses selanjutnya berupa penghilangan warna. Selain
karbonatasi, t eknik yang lain berupa fosfatasi. Secara kimiawi teknik ini sama dengan
karbonatasi tetapi yang terjadi adalah pembentukan fosfat dan bukan karbonat. Fosfatasi
merupakan proses yang sedikit lebih kompleks, dan dapat dicapai dengan menambahkan asam
fosfat ke cairan setelah liming seperti yang sudah dijelaskan di atas.

fungsinya
untuk membersihkan cairan dari berbagai padatan yang menyebabkan cairan gula keruh.

8. Penghilangan warna
Ada dua metoda umum untuk menghilangkan warna dari sirup gula, keduanya mengandalkan
pada teknik penyerapan melalui pemompaan cairan melalui kolom-kolom medium. Salah
satunya dengan menggunakan karbon teraktivasi granular [granular activated carbon, GAC] yang
mampu menghilangkan hampir seluruh zat warna. GAC merupakan cara modern setingkat bone
char, sebuah granula karbon yang terbuat dari tulang-tulang hewan. Karbon pada saat ini terbuat
dari pengolahan karbon mineral yang diolah secara khusus untuk menghasilkan granula yang
tidak hanya sangat aktif tetapi juga sangat kuat. Karbon dibuat dalam sebuah oven panas dimana
warna akan terbakar keluar dari karbon.

PROSES PEMBUATAN GULA


Gula merupakan salah satu bahan makanan pokok di Indonesia. Rata rata manusia di
Indonesia mengkonsumsi gula sebanyak 12 15 kg per tahun.

Di Indonesia gula kristal yang dikonsumsi sehari hari didominasi oleh gula tebu. Gula kristal
ini dibuat dan diproses dari tanaman tebu.
Pernah kah anda membayangkan bagaimana membuat gula dari Tebu ??
Proses pembuatan gula dari tebu memerlukan beberapa tahapan dan proses kimia serta
mekanis.
Tebu mengandung hidrokarbon yang terjadi dalam tanaman karena proses fotosintesa.

6 CO2 + 6 H2O C6H12O6 + 6 O2


Kalau beras yang kita makan hanya dilakukan proses penggilingan dari gabah menjadi beras
beda dengan pembuatan gula dari tebu yang harus dilakukan dalam skala pabrik.
Pada umumnya pemrosesan tebu di pabrik gula dibagi menjadi beberapa tahap yang dikenal
dengan:

1. Proses Pemerahan (Gilingan)


Langkah pertama dalam proses pembuatan gula adalah pemerahan tebu di gilingan. Pada
proses ini tebu dicacah menggunakan alat pencacah tebu. Biasanya terdiri dari cane cutter,
hammer shredder . Tebu diperah menghasilkan nira dan ampas.
Nira inilah yang mengandung gula dan akan di proses lebih lanjut di pemurnian.
Ampas yang dihasilkan pada proses pemerahan ini digunakan untuk bahan bakar ketel (boiler)
dan apabila berlebih bisa digunakan sebagai bahan partikel board, furfural, xylitol.
Alat pada proses penggilingan :
Cane Cutter ( cane knife ), berfungsi untuk memotong tebu yang masuk masih dalam bentuk
batangan, menjadi potongan yang lebih kecil berukuran 10 - 15 cm. tujuannya untuk
memperoleh luas permukaan pemerahan yang lebih besar sehingga air tebu ( nira ) dapat
semaksimal mungkin terperah di mill station.
Cane shreeder ( cane hammer / unigrator / heavy duty cane shreeder )berfungsi untuk mencacah
potongan tebu menjadi serat potongan yang lebih kecil. tujuannya untuk memperoleh luas
permukaan pemerahan yang lebih besar sehingga air tebu ( nira ) dapat semaksimal mungkin
terperah di mill station.

2. Pemurnian
Setelah tebu diperah dan diperoleh nira mentah (raw juice), lalu dimurnikan. Dalam nira
mentah mengandung gula, terdiri dari sukrosa, gula invert (glukosa+fruktosa) ; zat bukan gula,
terdiri dari atom-atom (Ca,Fe,Mg,Al) yang terikat pada asam-asam, asam organik dan an
organik, zat warna, lilin, asam-asam yang mudah mengikat besi, aluminium, dan sebagainya.
Pada proses pemurnian zat-zat bukan gula akan dipisahkan dengan zat yang mengandung
gula.
Pada proses pemurnian nira terdapat tiga buah jenis proses, yaitu :
1.Defekasi
2. Sulfitasi
3. Karbonatasi
Pemurnian Cara Defekasi
Dalam proses defekasi pemurnian nira dilakukan dengan penambahan susu kapur sebagai reagen.
Reaktor untuk proses defekasi ini dinamakan defekator dan didalamnya terdapat pengaduk
sehingga larutan yang bereaksi dalam defekator menjadi homogen. Pemurnian nira dengan
cara defekasi dibagi menjadi 4 :

a. Defekasi Dingin
Pada defekator ditambahkan susu kapur sehingga pH menjadi 7.2 7.4. Setelah itu baru nira
dipanaskan lalu menuju ke pengendapan. Pada defekasi dingin reaksi antara CaO dengan
Phospat lebih lambat, tetapi inversi dapat dikurangi. Karena suhu dingin maka absorbsi bahan
bukan gula oleh endapan yang terbentuk lebih jelek dibandingkan defekasi panas.
b. Defekasi Panas.
Nira mentah dari gilingan dipanaskan terlebih dahulu, lalu direaksikan dengan susu kapur.
c. Defekasi Bertingkat.
Susu kapur ditambahkan pada nira dalam keadaan dingin hingga pH 6.5, kemudian nira
dipanaskan dan ditambahkan susu kapur lagi hingga pH 7.2 7.4.
d. Defekasi sachharat
Sebagian nira ditambahkan susu kapur sedangkan sebagian yang lain dipanaskan, kemudian
dicampur.
Pemurnian Cara Sulfitasi
Pemurnian cara sulfitasi hasilnya lebih baik dibandingkan dengan cara defekasi, karena telah dapat
dihasilkan gula yang berwarna putih. Cara pemurnian ini menggunakan kapur dan SO 2 sebagai
bahan pembantu pemurnian. Pemberian kapur pada cara ini dilakukan secara berlebih,
kemudian kelebihan kapur ini akan dinetralkan oleh gas SO2, sehingga terbentuk ikatan garam
kapur yang dapat mengendap.
Reaksi Pemurnian Cara Sulfitasi:
SO2 + H2O ----> H2SO3
Ca(OH)2 + H2SO3 ----> CaSO3 + 2H2O
Ca(OH)2 + SO2 -----> CaSO3 + H2O
Endapan CaSO3 yang terbentuk dapat mengabsorbsi partikel-partikel koloid yang berada di
sekitarnya, sehingga kotoran yang terbawa oleh endapan semakin banyak. Gas SO 2 juga
mempunyai sifat dapat memucatkan warna, sehingga diharapkan dapat dihasilkan kristal
dengan warna yang lebih terang, khususnya pada nira kental penguapan.
Pemurnian Cara Karbonatasi
Proses ini dilakukan dengan menggunakan susu kapur dan gas CO2 sebagai bahan pembantu.
Susu kapur yang ditambahkan pada cara ini lebih banyak dibandingkan cara sulfitasi, sehingga
menghasilkan endapan yang lebih banyak. Kelebihan susu kapur yang terdapat pada nira
dinetralkan dengan menggunakan gas CO2.
Reaksi yang terjadi adalah:
Ca(OH)2 + CO2 ----> CaCO3 + H2O
Tahap akhir dari proses pemurnian nira

Tahap akhir dari proses pemurnian nira dialirkan ke bejana pengendap (clarifier) sehingga
diperoleh nira jernih dan bagian yang terendapkan adalah nira kotor.
Nira jernih dialirkan ke proses selanjutnya (Penguapan), sedangkan nira kotor diolah dengan
rotary vacuum filter menghasilkan nira tapis dan blotong.

3. Penguapan
Penguapan dilakukan dalam bejana evaporator. Tujuan dari penguapan nira jernih adalah untuk
menaikkan konsentrasi dari nira mendekati konsentrasi jenuhnya.
Pada proses penguapan air yang terkandung dalam nira akan diuapkan. Uap baru digunakan
pada evaporator badan I sedangkan untuk penguapan pada evaporator badan selanjutnya
menggunakan uap yang dihasilkan evaporator badan I.
Penguapan dilakukan pada kondisi vakum dengan pertimbangan untuk menurunkan titik didih
dari nira. Karena nira pada suhu tertentu (>125 0 C) akan mengalamai karamelisasi atau
kerusakan. Dengan kondisi vakum maka titik didih nira akan terjadi pada suhu 70 0 C. Produk
yang dihasilkan dalam proses penguapan adalah nira kental .

4. Kristalisasi
Proses kristalisasi adalah proses pembentukan kristal gula. Sebelum dilakukan kristaliasi dalam
pan masak ( crystallizer ) nira kental terlebih dahulu direaksikan dengan gas SO2 sebagai
bleaching dan untuk menurunkan viskositas masakan (nira).
Langkah pertama dari proses kristalisasi adalah menarik masakan (nira pekat) untuk diuapkan
airnya sehingga mendekati kondisi jenuhnya. Dengan pemekatan secara terus menerus
koefisien kejenuhannya akan meningkat. Pada keadaan lewat jenuh maka akan terbentuk suatu
pola kristal sukrosa.
Setelah itu langkah membuat bibit, yaitu dengan memasukkan bibit gula kedalam pan masak
kemudian melakukan proses pembesaran kristal. Pada proses masak ini kondisi kristal harus
dijaga jangan sampai larut kembali ataupun terbentuk tidak beraturan.
Setelah diperkirakan proses masak cukup, selanjutnya larutan dialirkan ke palung pendingin
(receiver) untuk proses Na Kristalisasi.
Tujuan dari palung pendingin ialah : melanjutkan proses kristalisasi yang telah terbentuk
dalam pan masak, dengan adanya pendinginan di palung pendingin dapat menyebabkan
penurunan suhu masakan dan nilai kejenuhan naik sehingga dapat mendorong menempelnya
sukrosa pada kristal yang telah terbentuk. Palung pendingin dilengkapi pengaduk agar dapat
sirkulasi

5. Pemisahan
Proses pemisahan kristal gula dari larutannya menggunakan alat centrifuge atau puteran. Pada
alat puteran ini terdapat saringan, sistem kerjanya yaitu dengan menggunakan gaya sentrifugal
sehingga masakan diputar dan strop atau larutan akan tersaring dan kristal gula tertinggal
dalam puteran.
Pada proses ini dihasilkan gula kristal dan tetes. Gula kristal didinginkan dan dikeringakan
untuk menurunkan kadar airnya. Tetes di transfer ke Tangki tetes untuk di jual.

6. Pengeringan Kristal Gula & Penyelesaian


Air yang dikandung kristal gula hasil sentrifugasi masih cukup tinggi, kira-kira
20% . Gula yang mengandung air akan mudah rusak dibandingkan gula kering,untuk menjaga
agar tidak rusak selama penyimpanan, gula tersebut harus dikeringkan terlebih dahulu.
Pengeringan dapat dilakukan dengan cara alami atau dengan memakai udara panas kira-kira
800c.
Pengeringan gula secara alami dilakukan dengan melewatkan SHS (Superieure Hoofd Suiker)
pada talang goyang yang panjang. Dengan melalui talang ini gula diharapkan dapat kering dan
dingin. Proses pengeringan dengan cara ini membutuhkan ruang yang lebih luas dibandingkan
cara pemanasan. Karena itu, pabrik-pabrik gula menggunakan cara pemanasan. Cara ini bekerja
atas dasar prinsip aliran berlawanan dengan aliran udara panas.

1. Tahap-tahap dalam Pembuatan Gula


Pembuatan gula putih di pabrik gula mengalami beberapa tahapan pengolahan, yaitu pemerahan
nira, pemurian, penguapan, kristalisasi, pemisahan kristal, dan pengeringan.
1. Pemerahan Nira (Ekstrasi)
Tebu setelah ditebang, dikirim ke stasiun gilingan untuk dipisahkan antara bagian padat (ampas)
dengan cairannya yang mengandung gula (nira mentah). Alat penggiling tebu yang digunakan di
pabrik gula berupa suatu rangkaian alat yang terdiri dari alat pengerja pendahuluan (Voorbewer
keras) yang dirangkaikan dengan alat giling dari logam. Alat pengerja pendahuluan terdiri dari
Unigator Mark IV dan Cane knife yang berfungsi sebagai pemotong dan pencacah tebu. Setelah
tebu mengalami pencacahan dilakukan pemerahan nira untuk memerah nira digunakan 5 buah
gilingan, masing-masing terdiri dari 3 rol dengan ukuran 36X64.

2.

Pemurnian Nira

Ada tiga cara yang dapat dilakukan untuk proses pemurnian gula yaitu cara defekasi, sulfitasi
dan karbonatasi. Pada umumnya pabrik gula di indonesia memakai cara sulfitasi. Cara sulfitasi
menghemat biaya produksi, bahkan pemurnian mudah di dapat dan gula yang dihasilkan adalah
gula putih atau SHS (Superieure Hoofd Sumber).
Proses ini menggunakan tabung defekator, alat pengendap dan saringan Rotary Vacuum Filter
dan bahan pemurniannya adalah kapur tohor dan gas sulfit dari hasil pembakaran.
Mula-mula nira mentah ditimbang, dipanaskan, direaksikan dengan susu kapur dalam defekator,
kemudian diberi gas SO2 dalam peti sulfitasi, dipanaskan dan diendapkan dalam alat
pengendap. Nira kotor yang diendapkan kemudian disaring menggunakan Rotery Vaccum
Filter. Dari proses ini dihasilkan nira jernih dan endapan padat berupa blotong. Nira jernih yang
dihasilkan kemudian dikirim kestasiun penguapan.

3.

Penguapan Nira (Evaporasi)

Nira jernih masih banyak mengandung uap air. Untuk menghilangkan kadar air dilakukan
penguapan (evaporasi).
Dipabrik gula penguapan dilakukan dengan menggunakan beberapa evaporator dengan sistem
multiple effect yang disusun secara interchangeable agar dapat dibersihkan bergantian.

Evaporator bisanya terdiri dari 4-5 bejana yang bekerja dari satu bejana sebagai uap pemanas
bejana berikutnya. Total luas bidang pemanas 5990m2 vo.
Dalam bejana Nomor 1 nira diuapkan dengan menggunakan bahan pemanas uap bekas secara
tidak langsung. Uap bekas ini terdapat dalam sisi ruang uap dan nira yang diuapkan terdapat
dalam pipa-pipa nira dari tombol uap. Dari sini, uap bekas yang mengembun dikeluarkan dengan
kondespot. dalam bejana nomor 2, nira dari bejana nomor 1 diuapkan dengan menggunakan uap
nira dari bejana penguapan nomor 1. Kemudian uap nira yang mengembun dikeluarkan dengan
Michaelispot. Di dalam bejana nomor 3, nira yang berasal dari bejana nomor 2 diuapkan dengan
menggunakan uap nira dari bejana nomor 2. Demikian seterusnya, sampai pada bejana terakhir
merupakan nira kental yang berwarna gelap dengan kepekatan sekitar 60 brik. Nira kental ini
diberi gas SO2 sebagai belancing dan siap dikristalkan. Sedangkan uap yang dihasilkan dibuang
ke kondensor sentral dengan perantara pompa vakum.

4. Kristalisasi
Nira kental dari sari stasiun penguapan ini diuapkan lagi dalam suatu pan vakum, yaitu tempat
dimana nira pekat hasil penguapan dipanaskan terus-menerus sampai mencapai kondisi lewat
jenuh, sehingga timbul kristal gula.
Sistem yang dipakai yaitu ABD, dimana gula A dan B sebagai produk,dan gula D dipakai
sebagai bibit (seed), serta sebagian lagi dilebur untuk dimasak kembali. Pemanasan
menggunakan uap dengan tekanan dibawah atmosfir dengan vakum sebesar 65 cmHg, sehingga
suhu didihnya 650c. Jadi kadar gula (sakarosa) tidak rusak akibat terkena suhu yang tinggi. Hasil
masakan merupakan campuran kristal gula dan larutan (Stroop). Sebelum dipisahkan di putaran
gula, lebih dulu didinginkan pada palung pendinginan (kultrog).
5. Pemisahan Kristal Gula

pemisahan kristal dilakukan dengan menggunakan saringan yang bekerja dengan


memutar (sentrifungal). Alat ini bertugas memisahkan gula terdiri dari :
1.
2.
3.
4.
5.

gaya

3 buah broadbent 48 X 30untuk gula masakan A.


4 buah bactch sangerhousen 48 X 28 untuk masakan B.
2 buah western stated CCS untuk D awal.
6 buah batch sangerhousen 48 X 28 untuk gula SHS.
3 buah BNA 850 K untuk gula D.

dalam tingkatan pengkristalan, pemisahan gula dari tetesnya terjadi pada tingkat B. Pada tingkat
ini terjadi poses separasi (pemisahan). Mekanismenya menggunakan gaya sentrifugal. Dengan
adanya sistem ini, tetes dan gula terpisah selanjutnya pada tingkat D dihasilkan gula melasse
(kristal gula) dan melasse (tetes gula).
6. Pengeringan Kristal Gula
Air yang dikandung kristal gula hasil sentrifugasi masih cukup tinggi, kira-kira
20% . Gula yang mengandung air akan mudah rusak dibandingkan gula kering,
untuk menjaga agar tidak rusak selama penyimpanan, gula tersebut harus dikeringkan terlebih
dahulu. pengeringan dapat dilakukan dengan cara alami atau dengan memakai udara panas kirakira 800c.
pengeringan gula secara alami dilakukan dengan melewatkan SHS pada talang
goyang yang panjang. Dengan melalui talang ini gula diharapkan dapat kering dan dingin. Proses
pengeringan dengan cara ini membutuhkan ruang yang lebih luas dibandingkan cara pemanasan.
Karena itu, pabrik-pabrik gula menggunakan cara pemanasan. Cara ini bekerja atas dasar prinsip
aliran berlawanan dengan aliran udara panas.
1. Sumber Tenaga Penggerakan Mesin Pembuat Gula
Tenaga yang menggerakan mesin-mesin pembuat gula selain berasal dari pembangkit listrik
juga berasal dari pembangkit tenaga uap. Sebagai penghasil tenaga digunakan 5 buah ketel pipa
air Niew mark 16 ton/jam masing-masing 440 m2vo dengan tekanan kerja 15 kg/cm2 dan satu
buah ketel cheng-cheng kapasitas 40 ton/jam. Uap yang dihasilkan dipakai untuk menggerakan
turbin generator dan mesin uap. Uap bekasnya dipakai untuk memanaskan dan menguapkan nira
dalam panci mengguapkan dan memanaskan gula.
Bahan bakar pembangkit tenaga uap adalah ampas tebu yang berasal dari proses pemerahan nira.
Ampas tebu yang di hasilkan dari proses pemerahan nira tersebut sekitar 30% tebu. Ampas tebu
mengandung kalori sekitar 18000 kca/kg dan kekurangannya di tambah BBM (F,O).
1. Kelebihan dan Kekurangan Produksi Gula Menggunakan Mesin Manual

Produksi gula menggunakan mesin manual hasilnya cukup memuaskan, gula yang diproduksi
pun adalah gula putih atau SHS (Superieure Hoofd Suiker). Selain itu produksi gula
menggunakan mesin manual lebih menghemat energi, karena bahan bakarnya berasal dari ampas
tebu. Tetapi produksi gula menggunakan mesin manual juga memiliki kekurangan yaitu, tingkat
produksi gula belum mampu mengimbangi tingkat konsumsi masyarakat, karena produksi gula
menggunakan mesin manual lebih sedikit dari pada produksi gula menggunakan mesin yang
berteknologi canggih
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Produksi gula diupayakan terus meningkat baik dari segi kualitas maupum kuantitas,
penggunaan mesin-mesin (mekanisaai) merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan
produksi gula. Meskipun mesin-mesin yang digunakan bukan mesin berteknologi canggih. Pada
umumnya mesin-mesin yang digunakan oleh pabrik-pabrik gula di Indonesia pengoprasiannya
dilakukan oleh manusia. Mesin-Mesin tersebut bekerja secara manual tidak secara komputerisasi.
Pembuatan gula terdiri dari beberapa tahapan dan setiap tahap menggunakan mesin-mesin
tersendiri. Adapun tahapan-tahapan pembuatan gula itu adalah :
1. Tahapan pemerahan nira (ekstasi);
2. Tahapan pemurnian nira;
3. Tahapan penguapan nira;
4. Tahapan kristalisasi;
5. Tahapan pemisahan kristal; dan
6. Tahapan pengeringan.
Mesin-mesin yang digunakan dalam tahapan-tahapan pembuatan gula di atas digerakan oleh
tenaga yang berasal dari pembangkit listrik dan pembangkit tenaga uap. Sedangkan bahan bakar
untuk pembangkitan tenaga uap itu sendiri berupa ampas tebu yang dihasilkan dari proses
pemerahan nira.
Produksi gula menggunakan mesin manual lebih menghemat energi dibandingkan dengan
produksi gula menggunakan mesin yang berteknologi canggih. Kekurangan produksi gula
menggunakan mesin manual adalah tingkat produksi gula belum mampu mengimbangi tingkat
konsumsi masyarakat.
B. Saran

Penggunaan mesin-mesin pembuat gula (mekanisasi) memang telah mampu meningkatkan


produksi gula, tetapi hasilnya belum cukup memuaskan. Tingkat produksi gula belum mampu
mengimbangi tingkat konsumsi masyarakat karena itu, uapnya untuk meningkatkan produksi
gula dalam negeri masih harus diupayakan. Kalau selama ini mesin-mesin yang digunakan di
pabrik gula masih bersifat manual (tidak berteknologi canggih), mungkin untuk masa yang akan
datang mesin-mesin yang digunakan harus lebih canggih. Dengan mesin-mesin berteknologi
tinggi (canggih ) produksi gula akan lebih meningkat, baik dari segi kualitas maupun kuantitas
dibanding dengan produksi gula saat ini.

Timbangan tebu
PENGIRIMAN DAN PENIMBANGAN TEBU

Tebu dari kebun dikirim ke pabrik menggunakan beberapa model angkutan : trailer (tebu urai),
truk bak dan truk loss bak (tebu ikat), melewati jembatan timbang dengan sistem komputerisasi
untuk pengambilan data berat kotor, nomor petak, lokasi, jenis tebang, nama pelaksana tebang
dan jam ditebang (kesegaran). Selanjutnya, truk dan trailer yang telah dibongkar, meninggalkan
pabrik melewati jembatan timbang keluar untuk pengambilan data berat kendaraan kosong.

Ruang pusat kendali unit preparasi dan ekstraksi


PENGENDALIAN OPERASIONAL PERALATAN PABRIK
Pengendalian peralatan pabrik pada masing-masing stasiun melalui ruang pusat kendali yang
ditempatkan pada posisi paling leluasa bagi operator untuk memonitor aktivitas dan berhubungan
dengan petugas jaga peralatan di lapangan. Pada bagian tertentu yang tidak memungkinkan bagi
operator melihat langsung secara visual, dilengkapi dengan kamera CCTV dari pusat ruang
kendali. Sistem pengendalian menggunakan programmable logic control (PLC) dipadukan
dengan supervisory system sebagai piranti kendali dan informasi data trending.

Pelataran tebu dan peralatan penanganan tebu


PENANGANAN TEBU
Berbagai peralatan bongkar (unloading) tebu dipasang menyesuaikan dengan model angkutan
yang ada, tebu yang diangkut menggunakan trailer dibongkar menggunakan side unloader yang
terpasang pada 2 unit gantry crane, selanjutnya Hydraulic cane grab pada gantry crane bekerja
menumpuk dan mengumpan pada cross cane carrier.
Wheel loader disamping digunakan untuk membongkar dan menumpuk tebu loss bak di
pelataran juga dipergunakan sebagai sarana pengumpan dan perata pada main cane carrier.
Untuk meningkatkan kapasitas umpan langsung pada main cane carrier , tahun 2001 dipasang 1
unit cane feeder table yang dilengkapi dengan hydraulic cane lifter yang dapat melayani tebu
yang diangkut dengan trailer dan hydraulic truck tippler untuk melayani truk bak ataupun truk
loss bak.

Pengisian dan preparasi tebu


PREPARASI TEBU
Sebelum tebu diperah pada unit gilingan, terlebih dahulu dilakukan preparasi untuk membuka
sel-sel tebu, tebu diumpankan kedalam 1st. main cane carrier dari cross carrier #1, cross carrier
#2 dan Feeder table diangkut menuju unit mesin pemotong pertama (1st. cane cutter), kemudian
dengan 2nd. elevating cane carrier menuju unit pemotong tebu kedua (2nd. cane cutter), dan
selanjutnya menggunakan unit heavy duty shredder hammer tebu dihancurkan. Tingkat open cell
yang dicapai pada unit preparasi ini 90.92%.

Stasiun gilingan
EKSTRAKSI NIRA
Enam unit gilingan jenis 4-roller disusun secara seri digunakan sebagai unit ekstraksi nira,
masing-masing unit gilingan digerakkan dengan tenaga turbin uap. Tingkat ekstraksi sukrosa dari
unit gilingan ini pada kisaran 95 - 96%. Nira mentah dari gilingan dipompa menuju stasiun
pemurnian setelah terlebih dahulu melewati sebuah magnetic flow meter untuk memonitor dan
merekam laju alirannya dalam satuan m3/jam, kemudian ampas tebu yang disebut bagasse
menuju stasiun pembangkit uap untuk digunakan sebagai bahan bakar pada ketel uap (Boiler).

Boiler dan pembangkit tenaga listrik


BOILER DAN PEMBANGKIT TENAGA LISTRIK
3 unit boiler dengan kapasitas terpasang masing-masing : No.1 = 120 ton/jam; No.2 = 80
ton/jam; dan No.3 = 120 ton/jam dengan tekanan kerja masing masing 20kg/cm2G. Energi
potensial uap yang dibangkitkan digunakan untuk menggerakkan 3 buah back pressure turboalternator yang masing masing mampu membangkitkan tenaga listrik sebesar 5MW, juga
digunakan untuk menggerakkan turbin uap penggerak unit preparasi (cane cutter dan shredder)
dan unit ekstraksi (gilingan). Pada masa tidak giling (off-season) 1 unit boiler tetap beroperasi
dan memanfaatkan bahan bakar (ampas tebu) kelebihan dari masa giling untuk melayani
kebutuhan uap penggerak turbine generator dalam memenuhi kebutuhan listrik perumahan divisi
I s/d divisi VI, perkantoran, maintenance peralatan di pabrik dan pompa irigasi pertanian.

Clarifier dan Vacuum filter


PEMURNIAN
Pemisahan kotoran dilakukan dalam bejana pengendap single tray SRI clarifier ( yang telah
dimodifikasi menjadi perforated clarifier ) yang merupakan rangkaian tahapan pengaturan suhu,
pH, waktu dan penambahan bahan pembantu (susu kapur, gas belerang dan flokulan). Tingkat
kekeruhan (turbidity) nira yang dicapai pada level 70 - 100 derajat NTU. Endapan kotoran dari
clarifier dicampur dengan bagacillo kemudian ditapis menggunakan 6 buah vacuum filter

menghasilkan limbah padat berupa blotong (filter cake) yang kemudian dikirim kembali ke
kebun sebagai pupuk organik.

Evaporator
PENGUAPAN (EVAPORATION)
Proses pengentalan nira jernih dilaksanakan dengan bejana penguap (evaporator). Guna
meminimalisasikan kebutuhan uap, stasiun evaporator dirancang dengan konsep maximum
vapour bleed. Bejana (evaporator) disusun dengan sistem quintuple effect yang terdiri dari
sembilan buah bejana jenis Roberts. Uap dari badan pertama digunakan sebagai media pemanas
badan kedua, pan kristalisasi "A" dan bejana pemanas nira tersulfitir. Uap dari badan dua
digunakan untuk media pemanas pada pan kristalisasi "C". Evaporator dibersihkan secara
periodik setiap dua minggu sekali dengan cara kimiawi selama 12 jam. Brix nira kental dijada
pada level 52-55%.

Vacuum Pans
KRISTALISASI
Kristal gula dibuat dalam Vacuum Pans melalui proses pembesaran kristal hingga mencapai
ukuran yang dikehendaki dengan cara memasukkan nira kental (syrup), gula leburan, molasses
kedalam pans pada kondisi temperatus dan vacuum yang terkendali. Hasil resultan dari
kristalisasi adalah berupa massecuite (campuran kristal gula dengan molasses). Tingkatan masak
(kristalisasi) dilaksanakan dengan sistem ABC. Kristalisasi untuk "A" dan "B" Massecuite
dikerjakan dengan menggunakan batch pan yang dilengkapi dengan pengaduk, sedangkan untuk
"C" massecuite dikerjakan dengan continous pan. Nira kental, leburan gula "B" dan "C" sebagai
bahan masakan "A" massecuite. Bahan masakan "B" massecuite berasal dari "A" molasses dan
nira kental. Bahan masakan "C" massecuite berasal dari "B" molasses dan bibitnya menggunakan
"A" molasses.

Batch centrifugal dan Continuous centrifugal


PEMISAHAN KRISTAL GULA DAN MOLASSES
Bila satu siklus proses masak pembesaran kristal telah selesai, massecuite dari vacuum pans
kristalisasi dituangkan kedalam strike receiver sambil melanjutkan pertumbuhannya. Kristal gula
dipisahkan dari molasses menggunakan sebuah basket berlubang yang diputar sampai pada
kecepatan tertentu sehingga molasses terlepas dari kristal gula akibat gaya sentrifugal
(centrifugals machine). Pemisahan "A" massecuite menggunakan batch centrifugals
menghasilkan kristal gula SHS (produk) dan "A" moolasses. Pemisahan "B" massecuite
menggunakan continuous centrifugals menghasilkan gula "B" dan "B" molasses, pemisahan "C"
massecuite menggunakan continuous centrifugals menghasilkan gula "C" dan final molasses.

Pengemasan
PENANGANAN DAN PENGEMASAN PRODUK
Setelah proses pemisahan kristal gula produk (SHS) dikondisikan melalui sebuah unit fluidized
bed vibrating cooler dengan maksud untuk menurunkan tingkat kelembaban serta meningkatkan
kualitas penyimpanan, kemudian dilakukan pemilahan ukuran butiran menggunakan vibrating
screen. Kristal gula kemudian ditampung dalam sugar bin untuk selanjutnya dilakukan
penimbangan dan pengemasan. Sensor pengirim sinyal bobot pada timbangan digunakan jenis
load cell. Untuk menjamin keakuratan berat kristal dalam kemasan, mekanisme kerja mesin
timbangan dan pengemasan bekerja secara integral yang dikendalikan secara otomatis. Setiap
informasi penyimpangan terekam dan secara otomatis sistem memberi peringatan.

Pemanenan
Tanaman tebu dapat tumbuh hingga 3 meter di kawasan yang mendukung dan ketika dewasa
hampir seluruh daun-daunnya mengering, namun masih mempunyai beberapa daun hijau.
Sebelum panen, jika memungkinkan, seluruh tanaman tebu dibakar untuk menghilangkan daundaun yang telah kering dan lapisan lilin. Api membakar pada suhu yang cukup tinggi dan
berlangsung sangat cepat sehingga tebu dan kandungan gulanya tidak ikut rusak.
Di beberapa wilayah, pembakaran areal tanaman tebu tidak diijinkan karena asap dan senyawasenyawa karbon yang dilepaskan dapat membahayakan penduduk setempat. Meskipun demikian,
tidak ada dampak lingkungan, karena CO2 yang dilepaskan sebenarnya memiliki proporsi yang
sangat kecil dibandingkan dengan CO2 yang terikat melalui fotosintesis selama pertumbuhan.
Besarnya areal tanam dan jumlah tanaman tebu dapat dikurangi jika ekstraksi gula dapat
dilakukan semakin baik sehingga dapat memenuhi kebutuhan gula dunia.
Pemanenan dapat dilakukan baik secara manual dengan tangan ataupun dengan mesin.
Pemotongan tebu secara manual dengan tangan merupakan pekerjaan kasar yang sangat berat
tetapi dapat mempekerjakan banyak orang di area di mana banyak terjadi pengangguran.Tebu
dipotong di bagian atas permukaan tanah, dedauan hijau di bagian atas dihilangkan dan batangbatang tersebut diikat menjadi satu. Potongan-potongan batang tebu yang telah diikat tersebut
kemudian dibawa dari areal perkebunan dengan menggunakan pengangkut-pengangkut kecil dan
kemudian dapat diangkut lebih lanjut dengan kendaraan yang lebih besar ataupun lori tebu
menuju ke penggilingan.
Pemotongan dengan mesin umumnya mampu memotong tebu menjadi potongan pendek-pendek.
Mesin-mesin hanya dapat digunakan ketika kondisi lahan memungkinkan dengan topografi yang
relatif datar. Sebagai tambahan, solusi ini tidak tepat untuk kebanyakan pabrik gula karena
modal yang dikeluarkan untuk pengadaan mesin dan hilangnya banyak tenaga kerja kerja.

Ekstraksi
Tahap pertama pengolahan adalah ekstraksi jus atau sari tebu. Di kebanyakan pabrik, tebu
dihancurkan dalam sebuah serial penggiling putar yang berukuran besar. Cairan tebu manis
dikeluarkan dan serat tebu dipisahkan, untuk selanjutnya digunakan di mesin pemanas (boiler).
Di lain pabrik, sebuah diffuser digunakan seperti yang digambarkan pada pengolahan gula bit.
Jus yang dihasilkan masih berupa cairan yang kotor: sisa-sisa tanah dari lahan, serat-serat
berukuran kecil dan ekstrak dari daun dan kulit tanaman, semuanya bercampur di dalam gula.

Ekstraksi gula Jus dari hasil ekstraksi mengandung sekitar 15% gula dan serat residu,
dinamakan bagasse, yang mengandung 1 hingga 2% gula, sekitar 50% air serta pasir dan batubatu kecil dari lahan yang terhitung sebagai abu. Sebuah tebu bisa mengandung 12 hingga
14% serat dimana untuk setiap 50% air mengandung sekitar 25 hingga 30 ton bagasse untuk tiap
100 ton tebu atau 10 ton gula.

Pengendapan kotoran dengan kapur (Liming)


Pabrik dapat membersihkan jus dengan mudah dengan menggunakan semacam kapur (slaked
lime) yang akan mengendapkan sebanyak mungkin kotoran untuk kemudian kotoran ini dapat
dikirim kembali ke lahan. Proses ini dinamakan liming.
Jus hasil ekstraksi dipanaskan sebelum dilakukan liming untuk mengoptimalkan proses
penjernihan. Kapur berupa kalsium hidroksida atau Ca(OH)2 dicampurkan ke dalam jus dengan
perbandingan yang diinginkan dan jus yang sudah diberi kapur ini kemudian dimasukkan ke
dalam tangki pengendap gravitasi: sebuah tangki penjernih (clarifier). Jus mengalir melalui
clarifier dengan kelajuan yang rendah sehingga padatan dapat mengendap dan jus yang keluar
merupakan jus yang jernih.
Kotoran berupa lumpur dari clarifier masih mengandung sejumlah gula sehingga biasanya
dilakukan penyaringan dalam penyaring vakum putar (rotasi) dimana jus residu diekstraksi dan
lumpur tersebut dapat dibersihkan sebelum dikeluarkan, dan hasilnya berupa cairan yang manis.
Jus dan cairan manis ini kemudian dikembalikan ke proses.

Penguapan (Evaporasi)
Setelah mengalami proses liming, jus dikentalkan menjadi sirup dengan cara menguapkan air
menggunakan uap panas dalam suatu proses yang dinamakan evaporasi. Terkadang sirup
dibersihkan lagi tetapi lebih sering langsung menuju ke tahap pembuatan kristal tanpa adanya
pembersihan lagi.
Jus yang sudah jernih mungkin hanya mengandung 15% gula tetapi cairan (liquor) gula jenuh
(yaitu cairan yang diperlukan dalam proses kristalisasi) memiliki kandungan gula hingga 80%.
Evaporasi dalam evaporator majemuk (multiple effect evaporator) yang dipanaskan dengan

steam merupakan cara yang terbaik untuk bisa mendapatkan kondisi mendekati kejenuhan
(saturasi).

Pendidihan/ Kristalisasi
Pada tahap akhir pengolahan, sirup ditempatkan ke dalam panci yang sangat besar untuk
dididihkan. Di dalam panci ini sejumlah air diuapkan sehingga kondisi untuk pertumbuhan
kristal gula tercapai. Pembentukan kristal diawali dengan mencampurkan sejumlah kristal ke
dalam sirup. Sekali kristal terbentuk, kristal campur yang dihasilkan dan larutan induk (mother
liquor) diputar di dalam alat sentrifugasi untuk memisahkan keduanya, bisa diumpamakan
seperti pada proses mencuci dengan menggunakan pengering berputar. Kristal-kristal tersebut
kemudian dikeringkan dengan udara panas sebelum disimpan.

Sentifugasi gula (Sumber)Larutan induk hasil pemisahan dengan sentrifugasi masih


mengandung sejumlah gula sehingga biasanya kristalisasi diulang beberapa kali. Sayangnya,
materi-materi non gula yang ada di dalamnya dapat menghambat kristalisasi. Hal ini terutama
terjadi karena keberadaan gula-gula lain seperti glukosa dan fruktosa yang merupakan hasil
pecahan sukrosa. Olah karena itu, tahapan-tahapan berikutnya menjadi semakin sulit, sampai
kemudian sampai pada suatu tahap di mana kristalisasi tidak mungkin lagi dilanjutkan.
Dalam sebuah pabrik pengolahan gula kasar (raw sugar) umumnya dilakukan tiga proses
pendidihan. Pertama atau pendidihan A akan menghasilkan gula terbaik yang siap disimpan.
Pendidihan B membutuhkan waktu yang lebih lama dan waktu tinggal di dalam panci

pengkristal juga lebih lama hingga ukuran kristal yang dinginkan terbentuk. Beberapa pabrik
melakukan pencairan ulang untuk gula B yang selanjutnya digunakan sebagai umpan untuk
pendidihan A, pabrik yang lain menggunakan kristal sebagai umpan untuk pendidihan A dan
pabrik yang lainnya menggunakan cara mencampur gula A dan B untuk dijual. Pendidihan C
membutuhkan waktu secara proporsional lebih lama daripada pendidihan B dan juga
membutuhkan waktu yang lebih lama untuk terbentuk kristal. Gula yang dihasilkan biasanya
digunakan sebagai umpan untuk pendidhan B dan sisanya dicairkan lagi.
Sebagai tambahan, karena gula dalam jus tidak dapat diekstrak semuanya, maka terbuatlah
produk samping (byproduct) yang manis: molasses. Produk ini biasanya diolah lebih lanjut
menjadi pakan ternak atau ke industri penyulingan untuk dibuat alkohol. Inilah yang
menyebabkan lokasi pabrik rum di Karibia selalu dekat dengan pabrik gula tebu.

Penyimpanan
Gula kasar yang dihasilkan akan membentuk gunungan coklat lengket selama penyimpanan dan
terlihat lebih menyerupai gula coklat lunak yang sering dijumpai di dapur-dapur rumah tangga.
Gula ini sebenarnya sudah dapat digunakan, tetapi karena kotor dalam penyimpanan dan
memiliki rasa yang berbeda maka gula ini biasanya tidak diinginkan orang. Oleh karena itu gula
kasar biasanya dimurnikan lebih lanjut ketika sampai di negara pengguna.

Afinasi (Affination)
Tahap pertama pemurnian gula yang masih kasar adalah pelunakan dan pembersihan lapisan
cairan induk yang melapisi permukaan kristal dengan proses yang dinamakan dengan afinasi.
Gula kasar dicampur dengan sirup kental (konsentrat) hangat dengan kemurnian sedikit lebih
tinggi dibandingkan lapisan sirup sehingga tidak akan melarutkan kristal, tetapi hanya sekeliling
cairan (coklat). Campuran hasil (magma) di-sentrifugasi untuk memisahkan kristal dari sirup
sehingga pengotor dapat dipisahkan dari gula dan dihasilkan kristal yang siap untuk dilarutkan
sebelum perlakuan berikutnya (karbonatasi).
Cairan yang dihasilkan dari pelarutan kristal yang telah dicuci mengandung berbagai zat warna,
partikel-partikel halus, gum dan resin dan substansi bukan gula lainnya. Bahan-bahan ini semua
dikeluarkan dari proses.

Karbonatasi
Tahap pertama pengolahan cairan (liquor) gula berikutnya bertujuan untuk membersihkan cairan
dari berbagai padatan yang menyebabkan cairan gula keruh. Pada tahap ini beberapa komponen
warna juga akan ikut hilang. Salah satu dari dua teknik pengolahan umum dinamakan dengan
karbonatasi. Karbonatasi dapat diperoleh dengan menambahkan kapur/ lime [kalsium hidroksida,
Ca(OH)2] ke dalam cairan dan mengalirkan gelembung gas karbondioksida ke dalam campuran
tersebut. Gas karbondioksida ini akan bereaksi dengan lime membentuk partikel-partikel kristal
halus berupa kalsium karbonat yang menggabungkan berbagai padatan supaya mudah untuk
dipisahkan. Supaya gabungan-gabungan padatan tersebut stabil, perlu dilakukan pengawasan
yang ketat terhadap kondisi-kondisi reaksi. Gumpalan-gumpalan yang terbentuk tersebut akan

mengumpulkan sebanyak mungkin materi-materi non gula, sehingga dengan menyaring kapur
keluar maka substansi-substansi non gula ini dapat juga ikut dikeluarkan. Setelah proses ini
dilakukan, cairan gula siap untuk proses selanjutnya berupa penghilangan warna. Selain
karbonatasi, t eknik yang lain berupa fosfatasi. Secara kimiawi teknik ini sama dengan
karbonatasi tetapi yang terjadi adalah pembentukan fosfat dan bukan karbonat. Fosfatasi
merupakan proses yang sedikit lebih kompleks, dan dapat dicapai dengan menambahkan asam
fosfat ke cairan setelah liming seperti yang sudah dijelaskan di atas.

Penghilangan warna
Ada dua metoda umum untuk menghilangkan warna dari sirup gula, keduanya mengandalkan
pada teknik penyerapan melalui pemompaan cairan melalui kolom-kolom medium. Salah
satunya dengan menggunakan karbon teraktivasi granular [granular activated carbon, GAC]
yang mampu menghilangkan hampir seluruh zat warna. GAC merupakan cara modern setingkat
bone char, sebuah granula karbon yang terbuat dari tulang-tulang hewan. Karbon pada saat ini
terbuat dari pengolahan karbon mineral yang diolah secara khusus untuk menghasilkan granula
yang tidak hanya sangat aktif tetapi juga sangat kuat. Karbon dibuat dalam sebuah oven panas
dimana warna akan terbakar keluar dari karbon. Cara yang lain adalah dengan menggunakan
resin penukar ion yang menghilangkan lebih sedikit warna daripada GAC tetapi juga
menghilangkan beberapa garam yang ada. Resin dibuat secara kimiawi yang meningkatkan
jumlah cairan yang tidak diharapkan.
Cairan jernih dan hampir tak berwarna ini selanjutnya siap untuk dikristalisasi kecuali jika
jumlahnya sangat sedikit dibandingkan dengan konsumsi energi optimum di dalam pemurnian.
Oleh karenanya cairan tersebut diuapkan sebelum diolah di panci kristalisasi.

Pendidihan
Sejumlah air diuapkan di dalam panci sampai pada keadaan yang tepat untuk tumbuhnya kristal
gula. Sejumlah bubuk gula ditambahkan ke dalam cairan untuk mengawali/memicu
pembentukan kristal. Ketika kristal sudah tumbuh campuran dari kristal-kristal dan cairan induk
yang dihasilkan diputar dalam sentrifugasi untuk memisahkan keduanya. Proses ini dapat
diumpamakan dengan tahap pengeringan pakaian dalam mesin cuci yang berputar. Kristal-kristal
tersebut kemudian dikeringkan dengan udara panas sebelum dikemas dan/ atau disimpan siap
untuk didistribusikan.

Pengolahan sisa (Recovery)


Cairan sisa baik dari tahap penyiapan gula putih maupun dari pembersihan pada tahap afinasi
masih mengandung sejumlah gula yang dapat diolah ulang. Cairan-cairan ini diolah di ruang
pengolahan ulang (recovery) yang beroperasi seperti pengolahan gula kasar, bertujuan untuk
membuat gula dengan mutu yang setara dengan gula kasar hasil pembersihan setelah afinasi.
Seperti pada pengolahan gula lainnya, gula yang ada tidak dapat seluruhnya diekstrak dari cairan
sehingga diolah menjadi produk samping: molase murni. Produk ini biasanya diolah lebih lanjut
menjadi pakan ternak atau dikirim ke pabrik fermentasi seperti misalnya pabrik penyulingan
alkohol.

1. Tahap-tahap dalam Pembuatan Gula


Pembuatan gula putih di pabrik gula mengalami beberapa tahapan pengolahan, yaitu pemerahan
nira, pemurian, penguapan, kristalisasi, pemisahan kristal, dan pengeringan.
1. Pemerahan Nira (Ekstrasi)
Tebu setelah ditebang, dikirim ke stasiun gilingan untuk dipisahkan antara bagian padat (ampas)
dengan cairannya yang mengandung gula (nira mentah). Alat penggiling tebu yang digunakan di
pabrik gula berupa suatu rangkaian alat yang terdiri dari alat pengerja pendahuluan (Voorbewer
keras) yang dirangkaikan dengan alat giling dari logam. Alat pengerja pendahuluan terdiri dari
Unigator Mark IV dan Cane knife yang berfungsi sebagai pemotong dan pencacah tebu. Setelah
tebu mengalami pencacahan dilakukan pemerahan nira untuk memerah nira digunakan 5 buah
gilingan, masing-masing terdiri dari 3 rol dengan ukuran 36X64.

2. Pemurnian Nira
Ada tiga cara yang dapat dilakukan untuk proses pemurnian gula yaitu cara defekasi, sulfitasi
dan karbonatasi. Pada umumnya pabrik gula di indonesia memakai cara sulfitasi. Cara sulfitasi
menghemat biaya produksi, bahkan pemurnian mudah di dapat dan gula yang dihasilkan adalah
gula putih atau SHS (Superieure Hoofd Sumber).
Proses ini menggunakan tabung defekator, alat pengendap dan saringan Rotary Vacuum Filter
dan bahan pemurniannya adalah kapur tohor dan gas sulfit dari hasil pembakaran.
Mula-mula nira mentah ditimbang, dipanaskan, direaksikan dengan susu kapur dalam defekator,
kemudian diberi gas SO2 dalam peti sulfitasi, dipanaskan dan diendapkan dalam alat
pengendap. Nira kotor yang diendapkan kemudian disaring menggunakan Rotery Vaccum
Filter. Dari proses ini dihasilkan nira jernih dan endapan padat berupa blotong. Nira jernih yang
dihasilkan kemudian dikirim kestasiun penguapan.

3. Penguapan Nira (Evaporasi)


Nira jernih masih banyak mengandung uap air. Untuk menghilangkan kadar air dilakukan

penguapan (evaporasi).
Dipabrik gula penguapan dilakukan dengan menggunakan beberapa evaporator dengan sistem
multiple effect yang disusun secara interchangeable agar dapat dibersihkan bergantian.
Evaporator bisanya terdiri dari 4-5 bejana yang bekerja dari satu bejana sebagai uap pemanas
bejana berikutnya. Total luas bidang pemanas 5990m2 vo.
Dalam bejana Nomor 1 nira diuapkan dengan menggunakan bahan pemanas uap bekas secara
tidak langsung. Uap bekas ini terdapat dalam sisi ruang uap dan nira yang diuapkan terdapat
dalam pipa-pipa nira dari tombol uap. Dari sini, uap bekas yang mengembun dikeluarkan dengan
kondespot. dalam bejana nomor 2, nira dari bejana nomor 1 diuapkan dengan menggunakan uap
nira dari bejana penguapan nomor 1. Kemudian uap nira yang mengembun dikeluarkan dengan
Michaelispot. Di dalam bejana nomor 3, nira yang berasal dari bejana nomor 2 diuapkan dengan
menggunakan uap nira dari bejana nomor 2. Demikian seterusnya, sampai pada bejana terakhir
merupakan nira kental yang berwarna gelap dengan kepekatan sekitar 60 brik. Nira kental ini
diberi gas SO2 sebagai belancing dan siap dikristalkan. Sedangkan uap yang dihasilkan dibuang
ke kondensor sentral dengan perantara pompa vakum.

4. Kristalisasi
Nira kental dari sari stasiun penguapan ini diuapkan lagi dalam suatu pan vakum, yaitu tempat
dimana nira pekat hasil penguapan dipanaskan terus-menerus sampai mencapai kondisi lewat
jenuh, sehingga timbul kristal gula.
Sistem yang dipakai yaitu ABD, dimana gula A dan B sebagai produk,dan gula D dipakai
sebagai bibit (seed), serta sebagian lagi dilebur untuk dimasak kembali. Pemanasan
menggunakan uap dengan tekanan dibawah atmosfir dengan vakum sebesar 65 cmHg, sehingga
suhu didihnya 650c. Jadi kadar gula (sakarosa) tidak rusak akibat terkena suhu yang tinggi. Hasil
masakan merupakan campuran kristal gula dan larutan (Stroop). Sebelum dipisahkan di putaran
gula, lebih dulu didinginkan pada palung pendinginan (kultrog).
5. Pemisahan Kristal Gula
pemisahan kristal dilakukan dengan menggunakan saringan yang bekerja dengan
gaya
memutar (sentrifungal). Alat ini bertugas memisahkan gula terdiri dari :
1. 3 buah broadbent 48 X 30untuk gula masakan A.

2.
3.
4.
5.

4 buah bactch sangerhousen 48 X 28 untuk masakan B.


2 buah western stated CCS untuk D awal.
6 buah batch sangerhousen 48 X 28 untuk gula SHS.
3 buah BNA 850 K untuk gula D.

dalam tingkatan pengkristalan, pemisahan gula dari tetesnya terjadi pada tingkat B. Pada tingkat
ini terjadi poses separasi (pemisahan). Mekanismenya menggunakan gaya sentrifugal. Dengan
adanya sistem ini, tetes dan gula terpisah selanjutnya pada tingkat D dihasilkan gula melasse
(kristal gula) dan melasse (tetes gula).
6. Pengeringan Kristal Gula
Air yang dikandung kristal gula hasil sentrifugasi masih cukup tinggi, kira-kira
20% . Gula yang mengandung air akan mudah rusak dibandingkan gula kering,
untuk menjaga agar tidak rusak selama penyimpanan, gula tersebut harus dikeringkan terlebih
dahulu. pengeringan dapat dilakukan dengan cara alami atau dengan memakai udara panas kirakira 800c.
pengeringan gula secara alami dilakukan dengan melewatkan SHS pada talang
goyang yang panjang. Dengan melalui talang ini gula diharapkan dapat kering dan dingin. Proses
pengeringan dengan cara ini membutuhkan ruang yang lebih luas dibandingkan cara pemanasan.
Karena itu, pabrik-pabrik gula menggunakan cara pemanasan. Cara ini bekerja atas dasar prinsip
aliran berlawanan dengan aliran udara panas.