Anda di halaman 1dari 35

Pelarut dan Kesehatan di

Lingkungan Kerja

Pengenalan faktor-faktor di lingkungan


kerja yang spesifik (larutan, debu, bising,
radiasi, temperatur, ergonomik)
Evaluasi

bahaya dan lingkungan kerja


(evaluasi bahaya, toksikologi, metoda
pengontrolan, alat perlindungan
pernafasan, ventilasi)

Pengawasan terhadap bahayabahaya di lingkungan kerja


(mata,paru-paru, kulit, pendengaran).

Pelarut dalam Lingkungan


Kerja
Pelarut: suatu zat yang mengandung
beberapa bahan (material) yang digunakan
untuk melarutkan bahan (material) lainnya.
Contoh:
rumah sakit: larutan pembersih
pertanian: pestisida
pabrik: thinner, pereaksi kimia
laboratorium: larutan pengering, pelarut,
pengekstraksi

Pelarut dalam Lingkungan


Kerja
Pelarut organik, dapat diklasifikasikan:
senyawa hidrokarbon alifatik, siklik,
aromatik, halogen
Keton, alkohol, eter.
Diperlukan pengenalan khusus tentang
pelarut organik mana yang mempunyai efek
keracunan dalam keadaan tertentu (tekanan,
temperatur dll).

Pengaruh terhadap kesehatan


pekerja
Larutan encer: pedih dengan waktu
pemaparan yang lama, infeksi kulit bila
kontak langsung.
Pelarut organik (melalui uapnya): pada
umumnya mudah menguap, menimbulkan
gangguan pada pernafasan, keracunan yang
mempengaruhi sistem syaraf, tergantung
dari derajat penguapan.

Potensi bahaya
Efek racun sendiri tidak cukup memadai
untuk menentukan potensi bahaya, tetapi
dipengaruhi pula oleh tekanan uap dari zat
tersebut.
Digunakan Vapor Hazard Ratio untuk
menentukan potensi bahan dari suatu zat (
Rasio keseimbangan uap pada temp. 25 C
terhadap TLV-Treshold Limit Value-).

Contoh:
Metilen klorid dengan TLV 500 ppm mungkin
dapat dianggap lebih aman daripada 1,1,1
trikloroethan dengan TLV 350 ppm (bila hanya
dilihat dari TLV saja).
Sebenarnya yang disebut terakhir adalah lebih
aman karena VHR metilen klorida lebih besar
(tabel 2-b hal 60 FIH).
Potensi ledakan dan kebakaran
Perhatian khusus untuk bahan yang
mempunyai titik ledak di bawah 140 F (60 C).

Prosedur pemeliharaan
kesehatan dan keselamatan kerja

Pekerja yang memperhatikan kesehatan dan


keselamatan kerja harus mengenal bahwa
penggunaan pelarut yang salah dapat
merupakan ancaman utama terhadap
kesehatan.

Prosedur pemeliharaan
kesehatan dan keselamatan kerja

Pemilihan pelarut

Penggantian pelarut yang efek bahaya lebih kecil (VHR), larutan


pembersih xylene lebih aman daripada benzene, juga toluen (untuk
hal khusus yang memerlukan daya penguapan besar), air paling baik.

perlindungan alat, ventilasi dan alat pernafasan


Jalur utama adalah paru-paru untuk masuk ke dalam tubuh melalui
darah, diperlukan ventilasi yang dipasang pada daerah pernafasan
atau respirator.

perlindungan terhadap kontak langsung

Kontak langsung yang dapat menimbulkan penyakit kulit (dermatitis),


dapat terjadi akibat pencelupan, percikan tumpahan, perlindungan
yang paling sesuai adalah sarung tangan/pakaian pelindung.

BAHAN

AIR

Natural
Neopren, nylon
Polivinyl
Butyl

<0,3
0,5
11,6
<0,3

ACETONE TOLUEN
(% kelolosan)
41
100
57,5
45,6
3,6
<0,3
<0,3
34

AGE

PGE

20
21,5
0,3
<0,3

<0,3
0,4
1
<0,3

Infeksi kulit akibat lingkungan kerja


Penyebab utama:
Senyawa kimia
Faktor mekanik
Faktor fisik
Racun tanaman
Faktor biologi

Senyawa Kimia
Dapat dibagi lagi menjadi 3:
perusak primer (primary irritant)

Yaitu senyawa-senyawa kimia yang dapat merusak jaringan kulit bila


terjadi kontak langsung dengan kulit.
Contoh: - asam kuat: HNO3, H2SO4
- basa kuat: NaOH

minyak dan malam (waxes) Oil Dermatitis


Dapat menyebabkan timbulnya jerawat dan noda-noda hitam

Senyawa-senyawa kimia yang mempengaruhi


kepekaan. Senyawa-senyawa yang tidak merusak kulit bila
digunakan 1x, tapi jika berulang-ulang akan menyebabkan alergi.
Infeksi kulit demikian disebut: sensitization dermatitis

Faktor Mekanik
Gesekan dan tekanan pada kulit dapat
menyebabkan pelepuhan pada kulit.
Contoh: partikel-partikel kecil fiber-glass dapat
masuk ke dalam lipatan-lipatan kulit dan
menyebabkan gatal. Bila daerah kulit ini digaruk
maka partikel-partikel itu dapat masuk lebih
dalam lagi dan menyebabkan infeksi.

Faktor Fisik
Seperti: panas, dingin, sinar ultra violet, sinar-x,
dan radiasi-radiasi lainnya dapat membahayakan
kulit.
Racun Tanaman

Racun-racun yang dikeluarkan oleh tanaman


dapat menyebabkan radang pada kulit.

Faktor Biologi
Yang menderita penyakit ini umumnya adalah
petani, disebabkan oleh: bakteri, jamur, parasit.
Gejala:
Umumnya pada kasus peradangan
kulit, segera dapat ditentukan akibat terhadap
kulit atau hanya alergi sehingga dapat ditentukan
jenis pengobatannya.
Jika yang diderita hanya bercakbercak merah dan kekeringan yang ringan,
pekerja dapat kembali bekerja asal menghindari
kontak dengan bahan perusak.

Pencegahan
Ada beberapa cara pencegahan yang dapat
dilakukan, yaitu:
kontrol teknik

Merencanakan proses industri yang sedapat mungkin menghindari/


mengurangi kontak langsung pekerja dengan bahan-bahan yang
digunakan.

Pendidikan

Para pekerja harus diberi informasi tentang bahan-bahan yang


berbahaya bagi kulit, yang sering digunakan dan bagi mereka harus
ditanamkan pengertian untuk menghindari kontak langsung dengan
bahan-bahan tersebut.
Menjaga kebersihan tubuh merupakan salah satu pencegahan terbaik
untuk mengurangi kerusakan pada kulit dan sebaliknya jika bekerja
memakai pakaian kerja.

Pencegahan (2)
Alat perlindungan

Seperti: - sarung tangan karet


- penutup muka
- sepatu boot
- cream pelindung
- kaca mata
- sabun basa
Tujuannya untuk mengurangi kontak langsung antara bahan dengan
kulit.

Test penerapan pekerja

Test ini bertujuan untuk mengetahui kondisi kulit pekerja sehingga


dapat disesuaikan dengan lingkungan kerja yang akan dihadapinya.

Klinik dan tempat perawatan

Pekerja yang mengalami kerusakan pada kulitnya harus segera


dikirim ke klinik untuk mendapatkan pertolongan, sehingga mencegah
kesukaran yang lebih parah.

Penyakit Kulit Akibat Industri


(Industrial Skin Disease)
Faktor-faktor penyebab:
(Diklasifikasikan menurut bagaimana pereaksi-pereaksi

tersebut bekerja terhadap kulit)


Deterjen dan Pelarut Keratin
Desikator, Pereaksi higroskopik dan Anhidrida
Pengendap protein
Zat penghidrolisa dan pengelektrolisa
Pengoksidasi
Racun turunan nitro
Pereaksi keratogenik
Pereaksi biologi
Alergi
pereduksi

Deterjen dan Pelarut Keratin

Bereaksi dengan minyak kulit untuk meningkatkan


kerentanan terhadap pengaruh zat-zat kimia. Merubah
minyak alami dari kulit.
Contoh:

Alkali, sabun dan terpentin dapat merubah minyak alami kulit.


Biji kapas, minyak zaitun, alkohol, phenil basa dan beberapa dari
hidrocarbon aromatik dapat meningkatkan kerentanan kulit.

Desikator, Perekasi higroskopik dan Anhidrida


Menyerap air dari kulit dan menimbulkan panas.
Contoh: sulfur dioksida dan trioksida, asam kuat dan
basa kuat.

Pengendap protein
Cenderung mengkoagulasi atau menghilangkan rasa dari
lapisan luar kulit. Contoh: mercuri, feriklorida, phenol.

Zat penghidrolisa dan pengelektrolisa


Bersatu dengan kulit dan mengalami disosiasi menjadi unsur
perusak. Contoh: amonium nitrat, heksametilen tetramin.

Pengoksidasi
Bergabung dengan hidrogen dan melepaskan oksigen, contoh:
nitrat, chlor dan air, yod, brom, ozon.

Racun turunan nitro


Pelarut esensial unsur utama kulit, misalnya TNT, DNT, Asam
pikrat

Pereaksi keratogenik
Merangsang pertumbuhan abnormal dalam lapisan luar kulit,
dapat menimbulkan penyakit berbahaya dan tumor yang
lunak, contoh: arsen, produk ter-batubara.

Pereaksi biologi
Mikro organisme dan parasit, seperti kutu air pada kaki.

alergi
Merangsang produksi dari antibodi yang menyebabkan reaksi
kulit. Contoh: padi-padian, bulu binatang

Pereduksi
Menarik/mengikat air dari kulit, mempertebal lapisan luar kulit
dan dapat menyebabkan pengupasan dari lapisan tanduk,
contoh: ter, phenol naphtol, asam oksalat.

Pencegahan
Prauji

secara fisik
Pemeliharaan kesehatan
Deteksi secara tepat
Pengawasan yang baik

Prauji secara fisik


Menolong untuk mengidentifikasi calon
pekerja yang mungkin rentan terhadap
iritasi kulit. Dokter yang menguji harus
diberikan informasi yang lengkap
mengenai jenis pekerjaan untuk
dipertimbangkan.

Faktor-faktor kecenderungan yang


mengakibatkan peningkatan kerentanan terhadap
infeksi kulit.

Warna kulit
Orang negro dan orang-orang yang memiliki kulit gelap ada kecenderungan
sedikit mengalami kerentanan dibandingkan orang yang berkulit terang.

Kelamin
wanita lebih mudah mengalami iritasi daripada pria

Kesehatan
penyakit kulit yang umum, bisa membuat seorang pekerja rentan terhadap
infeksi kulit

Diet
dapat menyebabkan kepekaan ekstrim pada orang-orang tertentu.

Kelebihan lemak
sedikit mengalami iritasi bila bekerja dengan pelarut berlemak, dan kontak
dengan kulit

Kekeringan
kulit yang kering cenderung retak jika sering bereaksi dengan alkali, keadaan
ini menyebabkan mudah untuk infeksi

Pemeliharaan kesehatan

Ada fasilitas pencucian yang cukup dan efisien


Pekerja harus mengetahui prosedur khusus untuk
kebersihan
Pekerja harus menukar pakaian dan membersihkan
badan sebelum meninggalkan tempat kerja.
Harus mengikat lemak, minyak dan kotoran lain tanpa
membahayakan kulit
Tidak mengekstraksi minyak alami maupun lemak kulit
Tidak mengandung bahan penggosok yang iritan
(abrasif)
Harus mudah digunakan.
Tidak membusuk

Deteksi secara tepat


Untuk hal ini, pekerja masing-masing memiliki laporan/
catatan mengenai kondisi kulitnya. Bagian medis
harus memeriksa catatan ini secara berkala.

Pengawasan yang baik


Pengawasan harus menjamin bahwa:
Mesin dan area kerja tetap bersih
Lantai ruangan kerja bersih setiap saat
Pekerja mengenali iritasi kulit dan sifat-sifatnya.
Pengawas harus mengawasi para pekerja secara ketat
untuk melihat bahwa mereka melakukan tindakan
pencegahan yang baik.

Luka bakar akibat zat kimia


Tingkat kerusakan dari luka bakar akibat
zat kimia begantung kepada hal berikut:
Sifat merusaknya
Konsentrasi zat kimia
Temperatur dan kelarutan
Lamanya kontak

Klasifikasi dari luka bakar


Pada umumnya dibagi dalam 3 tingkat:
1. Luka bakar tingkat pertama
Ditandai dengan warna sedikit merah, disertai panas, gatal, terbakar
dan sangat sakit.

2. Luka bakar tingkat kedua


Ditandai oleh sakit yang amat sangat, melibatkan epidemis yang lebih
dalam. Pada umumnya pada kulit bimbul bercak merah, permukaan basah
dan melepuh. Luka bakar seperti ini mudah kena infeksi.

3. Luka bakar tingkat ketiga


terjadi luka yang sangat parah, melibatkan seluruh bagian kulit
dan jaringan yang lebih dalam. Timbul bercak putih atau terbakar
hangus dan permukaan yang kering. Luka bakar seperti ini
menimbulkan sakit yang amat sangat.

Efek dari luka bakar


Kehilangan cairan tubuh
Kulit yang melepuh berisi cairan, sehingga

merusak kulit.
Shock yang bisa mengakibatkan depresi.

Shock primer, disebabkan rasa sakit dan ketakutan


Shock sekunder, disebabkan kehilangan cairan tubuh dan
kehilangan protein plasma dari tubuh yang terbakar.

Keadaan ini bisa terjadi beberapa jam atau

beberapa hari setelah kebakaran.

Pertolongan pertama pada


luka bakar akibat zat kimia
Menyiram bagian/daerah luka dengan air

sebanyak-banyaknya (Dilusi)
Mencuci dengan sabun (bila
memungkinkan)
Pakaian yang terkontaminasi oleh zat
kimia segera dilepas
Dalam hal ini zat penetralisasi, pomade atau pengobatan lainnya
tidak dianjurkan.

Pertolongan pertama pada luka bakar

mata akibat zat kimia. Tingkat keseriusan


dari luka bakar mata bergantung kepada
kedalaman dan luasnya luka bakar, kondisi
yang ada sebelumnya, infeksi atau radang
mata yang ditimbulkan.
Dalam dan luasnya luka bakar ditentukan
oleh: sifat perusak zat, konsentrasi,
temperatur dari zat atau larutannya.

Untuk mencegah penjalaran selanjutnya, maka


pertolongan pertama yang dilakukan adalah menyiram
dengan air sebanyak-banyaknya. Cara tersebut
dianjurkan oleh komisi ilmu kedokteran mata untuk
industri.
Zat penetralisasi tidak digunakan untuk luka bakar
mata akibat zat kimia. Pada semua kasus dimana zat
kimia sudah kontak dengan mata, segera mungkin
diobati oleh ahli mata atau dokter yang ahli/mengenai
cara untuk mengatasi luka bakar mata akibat zat
kimia.

Pertolongan pertama bagi yang shoc:


Ditempatkan pada tempat yang teduh
dengan posisi berbaring, kepala sejajar
dengan badan.
Harus dijaga agar suhu tubuh normal,
ditenangkan.