Anda di halaman 1dari 6

PENDEKATAN COOPERATIF LEARNING

RESUME
Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Strategi Belajar Mengajar yang dibimbing oleh
Bapak Drs. Masjhudi M.Pd

Disusun Oleh:
Kelompok 3/ Offering C-C
Amelia Ananda

(120341421942)

Anton

(120341410321)

Febrinia Tika Maratus Sholihah

(120341421936)

Noris Darmawan

(120341421935)

Valeria Christy Octavia

(120341421940)

The Learning University

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
Agustus 2014
1

1. Pengertian Pendekatan Cooperatif Learning.


Cooperative Learning adalah suatu strategi belajar mengajar yang
menekankan pada sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di
antara sesama dalam struktur kerjasama yang teratur dalam kelompok, yang
terdiri dari dua orang atau lebih. Cooperative Learning mengacu pada metode
pengajaran dimana siswa bekerja bersama dalam kelompok kecil saling
membantu dalam belajar. Kebanyakan melibatkan siswa dalam kelompok yang
terdiri dari 4 (empat) siswa yang mempunyai kemampuan yang berbeda dan ada
yang menggunakan ukuran kelompok yang berbeda-beda (Slavin, 1994) dalam
Anshori (2013).
2. Karakteristik Pendekatan Cooperatif Learning
Menurut (Suprijono, 2010) dalam Anshori 2013, karakteristik pembelajaran
kooperatif diantaranya:
1) siswa bekerja dalam kelompok kooperatif untuk menguasai materi.
2) anggota-anggota dalam kelompok diatur terdiri dari siswa yang
berkemampuan rendah, sedang, dan tinggi.
3) jika memungkinkan, masing-masing anggota kelompok kooperatif
berbeda suku, budaya, dan jenis kelamin.
4) sistem penghargaan yang berorientasi kepada kelompok daripada
individu.
Selain itu, terdapat empat tahapan keterampilan kooperatif yang harus ada dalam
model pembelajaran kooperatif yaitu:
1) forming (pembentukan) yaitu keterampilan yang dibutuhkan untuk
membentuk kelompok dan membentuk sikap yang sesuai dengan norma.
2) functioning (pengaturan) yaitu keterampilan yang dibutuhkan untuk
mengatur aktivitas kelompok dalam menyelesaikan tugas dan membina
hubungan kerja sama diantara anggota kelompok.
3) formating (perumusan) yaitu keterampilan yang dibutuhkan untuk
pembentukan pemahaman yang lebih dalam terhadap bahan-bahan yang
dipelajari, merangsang penggunaan tingkat berpikir yang lebih tinggi,
dan menekankan penguasaan serta pemahaman dari materi yang
diberikan.
4) fermenting (penyerapan) yaitu keterampilan yang dibutuhkan untuk
merangsang pemahaman konsep sebelum pembelajaran, konflik kognitif,
2

mencari lebih banyak informasi, dan mengkomunikasikan pemikiran


untuk memperoleh kesimpulan.
3. Model Pendekatan Cooperative Learning
Berikut ini model pembelajaran yang dapat mewakili model-model cooperative
learning:
a) Student teams achievement division (STAD)
Dalam STAD (slavin, 1994) dalam Anshori (2013), siswa ditempatkan dalam
tim belajar beranggotakan 4 orang yang merupakan campuran menurut tingkat
kinerja. Guru menyampaikan pelajaran dan kemudian siswa bekerja didalam tim
mereka untuk memastikan bahwa sekuruh anggota tim telah menguasai
pelajaran dan akhirnya semua siswa mendapatkan kuis tentang materi itu dan
pada waktu kuis mereka tidak dapat saling membantu. Langkah-langkah:
1) membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang.
2) guru menyajikan materi pelajaran.
3) guru memberi tugas untuk dikerjakan, anggota kelompok yang
mengetahui jawabannya memberikan penjelasan kepada anggota
kelompok.
4) guru memberikan pertanyaan/kuis dan siswa menjawab pertanyaan/kuis
dengan tidak saling membantu.
5) pembahasan kuis.
6) kesimpulan
b) Team-assisted Individualization (TAI )
TAI dalam dalam(slavin,1994) dalam Anshori (2013), sama dengan
STAD dalam penggunaan tim belajar empat anggota berkemampuan campu.
Bedanya bila STAD mengunakan satu langkah pengajaran dikelas, TAI
menggabungkan pembelajaran Kooperative dengan pengajaran individu. TAI
dirancang untuk mengajarkan matematika dikelas 3 sampai kelas 6 atau kelas
yang lebih tinggi yang belum siap dengan aljabar penuh.
c) Cooperative Integreted Reading and Composition (CIRC)
CIRC adalah sebuah progam komprehensif untuk pengajaran membaca
dan menulis untuk kelas tinggi sekolah dasar. Siswa bekerja dalam tim belajar
kooperatif beranggota empat orang. Mereka terlibat dalam sebuah kegiatan
bersama termasuk saling membacakan satu dengan yang lain membuat prediksi
bagaimana cerita naratif akan muncul. Saling membuat ikhtisar satu dengan
yang lain, menulis tanggapan terhadap cerita. Mereka juga bekerja sama untuk
memahami ide pokok dan keterampilan pemahaman lain. Tiga penelitian tentang
3

progam CIRC telah menemukan pengaruh positif terhadap keterampilan


membaca siswa, termasuk skor dalam test bahasa membaca yang baku.
d) Jigsaw (model tim ahli)
Langkah-langkah:
1) siswa dikelompokkan dengan anggota 4 orang
2) tiap orang dalam tim diberi materi dan tugas yang berbeda
3) anggota dari tim yang berbeda dengan penugasan yang sama membentuk
kelompok baru (kelompok ahli)
4) setelah kelomppok ahli berdiskusi, tiap anggota kembali kekelompok
asal dan menjelaskan kepada anggota kelompok tentang subbab yang
mereka kuasai
5) tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi
6) pembahasan
7) penutup
e) Belajar bersama
Belajar bersama adalah Model pembelajaran

kooperative yang

dikembangkan David Johnson dan Roger Johnson. Model ini melibatkan siswa
bekerja dalam kelompok yang beranggotakan empat atau lima orang yang
menangani tugas tertentu. Kelompok itu menyerahkan satu hasil kelompok dan
menerima pujian dan ganjaran berdasarkan hasil kelompok tersebut. Pendekatan
mereka menekankan pada kegiatan pembinaan kerjasama tim sebelum siswa
mulai bekerja sama dan melakukan diskusi terjadwal dalam kelompok tentang
seberapa jauh mereka berhasil bekerja sama.
f) Penelitian kelompok (Group Investigation)
Langkah-langkah:
1) membagi siswa kedalam kelompok kecil yang terdiri dari 5 siswa
2) memberikan pertanyaan terbuka yang bersifat analitis
3) mengajak setiap siswa untuk berpartisipasi dalam menjawab pertanyaan
kelompoknya secara bergiliran searah jarum jam dalam kurun waktu
yang disepakati.
4. Peran Siswa dalam Cooperative Learning (Sonjaya, dkk)
a. Merencanakan
b. Menerangkan
c. Bertanya
d. Mengkritik
e. Merangkum
f. Mencatat
4

g. Penengah
5. Peran Pengajar dalam Cooperative Learning (Sonjaya, dkk)
a. Fasilitator.
b. Model.
c. Pelatih (coach)
6. Keunggulan Cooperative Learning (Sonjaya, dkk)
a. Melalui CL siswa tidak terlalu menggantungkan pada guru, akan tetapi dapat
menambah kepercayaan kemampuan berpikir sendiri, menemukan informasi dari
berbagai sumber dan belajar dari siswa yang lain.
b. Dapat mengembangkan kemampuan mengungkapkan ide atau gagasan dengan
kata-kata secara verbal dan membanding-kannya dengan ide-ide orang lain
c. Dapat membantu anak untuk respek pada orang lain dan menyadari akan segala
keterbatasannya serta menerima segala perbedaan
d. Dapat membantu memberdayakan setiap siswa untuk lebih bertanggung jawab
dalam belajar
e. CL merupakan suatu strategi yang cukup ampuh untuk meningkatkan prestasi
akademik sekaligus kemampuan sosial, termasuk mengembangkan rasa harga
diri, hubungan interpersonal yang positif dengan yang lain, mengembangkan
keterampilan mengatur waktu, dan sikap positif terhadap sekolah
f. Dapat

mengembangkan

kemampuan

siswa

untuk

menguji

ide

dan

pemahamannya sendiri, menerima umpan balik. Siswa dapat berpraktik


memecahkan masalah tanpa takut membuat kesalahan, karena keputusan yang
dibuat adalah tang-gung jawab kelompoknya,
g. Dapat

meningkatkan

kemampuan

siswa

menggunakan

informasi

dan

kemampuan belajar abstrak menjadi nyata,


h. Interaksi selama kooperatif berlangsung dapat meningkatkan motivasi dan
memberikan rangsangan untuk berpikir. Hal ini berguna untuk proses pendidikan
jangka panjang.

DAFTAR RUJUKAN
Anshori, Ari Lutfi. 2013. Cooperative Learning Dalam Pembelajaran BahasaArab II.
(online), (http:// pba2011.googlecode.com) diakses tanggal 1 September 2014
Suprijono, agus,2010. Cooperative learning: teori aplikasi paikem. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar
Sonjaya, Iwan. Kuspriyanto, Wuryandari, Aciek Ida. Tanpa tahun. Perancangan Sistem
Pembelajaran Berbasis Web dengan Menggunakan Pendekatan Model Cooperative
Learning (CL). Jurnal Institute Technology Bandung