Anda di halaman 1dari 10

Obat Anti Epilepsi

Reynaldo rizky alexander / A5 - 102011042


Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Terusan Arjuna No.6, Jakarta Barat 11510
Email: reynaldoalexander31@yahoo.com
Antiepilepsi

Hidantoin
o Fenitoin
Fenitoin merupakan obat pilihan pertama untuk kejang umum, kejang tonikklonik, dan pencegahan kejang pada pasien trauma kepala/bedah saraf . Fenitoin
memiliki range terapetik sempit sehingga pada beberapa pasien dibutuhkan
pengukuran kadar obat dalam darah. Mekanisme aksi fenitoin adalah dengan
menghambat kanal sodium (Na+)yang mengakibatkan influk (pemasukan) ion Na+
kedalam membran sel berkurang. dan menghambat terjadinya potensial aksi oleh
depolarisasi terus-menerus pada neuron. Dosis awal penggunaan fenitoin 5
mg/kg/hari dan dosis pemeliharaan 20 mg/kg/hari tiap 6 jam. Efek samping yang
sering terjadi pada penggunaan fenitoin adalah depresi pada SSP, sehingga
mengakibatkan lemah, kelelahan, gangguan penglihatan (penglihatan berganda),
disfungsi korteks dan mengantuk. Pemberian fenitoin dosis tinggi dapat
menyebabkan gangguan keseimbangan tubuh dan nystagmus. Salah satu efek
samping kronis yang mungkin terjadi adalah gingival hyperplasia (pembesaran
pada gusi). Menjaga kebersihan rongga mulut dapat mengurangi resiko gingival
hyperplasia1.2

Barbiturat
o Fenobarbital
Fenobarbital merupakan obat yang efektif untuk kejang parsial dan kejang tonikklonik Efikasi, toksisitas yang rendah, serta harga yang murah menjadikan
fenobarbital obat yang penting utnuk tipe-tipe epilepsi ini. Namun, efek sedasinya
serta kecenderungannya menimbulkan gangguan perilaku pada anak-anak telah
mengurangi penggunaannya sebagai obat utama. Aksi utama fenobarbital terletak
pada kemampuannya untuk menurunkan konduktan Na dan K. Fenobarbital
menurunkan influks kalsium dan mempunyai efek langsung terhadap reseptor
GABA16 (aktivasi reseptor barbiturat akan meningkatkan durasi pembukaan
reseptor GABAA dan meningkatkan konduktan post-sinap klorida). Selain itu,
fenobarbital juga menekan glutamate excitability dan meningkatkan postsynaptic
GABAergic inhibition. Dosis awal penggunaan fenobarbital 1-3 mg/kg/hari dan
dosis pemeliharaan 10-20 mg/kg 1kali sehari. Efek samping SSP merupakan hal
yang umum terjadi pada penggunaan fenobarbital. Efek samping lain yang
mungkin terjadi adalah kelelahan, mengantuk, sedasi, dan depresi. Penggunaan
fenobarbital pada anak-anak dapat menyebabkan hiperaktivitas. Fenobarbital juga
dapat menyebabkan kemerahan kulit, dan Stevens-Johnson syndrome3,4

Deoksibarbiturat
o Primidon
Primidon digunakan untuk terapi kejang parsial dan kejang tonik-klonik.
Primidon mempunyai efek penurunan pada neuron eksitatori. Efek anti kejang
primidon hampir sama dengan fenobarbital, namun kurang poten. Didalam tubuh
primidon

dirubah

feniletilmalonamid

menjadi
(PEMA)

metabolit
(4).

PEMA

aktif

yaitu

dapat

fenobarbital

meningkatkan

dan

aktifitas

fenobarbotal. Dosis primidon 100-125 mg 3 kali sehari . Efek samping yang


sering terjadi antara lain adalah pusing, mengantuk, kehilangan keseimbangan,
perubahan perilaku, kemerahan dikulit, dan impotensi.1

Iminostilben
o Karbamazepin
Karbamazepin secara kimia merupakan golongan antidepresan trisiklik.
Karbamazepin digunakan sebagai pilihan pertama pada terapi kejang parsial dan
tonik-klonik. Karbamazepin menghambat kanal Na, yang mengakibatkan influk
(pemasukan) ion Na+ kedalam membran sel berkurang dan menghambat
terjadinya potensial aksi oleh depolarisasi terus-menerus pada neuron (4). Dosis
pada anak dengan usia kurang dari 6 tahun 10-20 mg/kg 3 kali sehari, anak usia
6-12 tahun dosis awal 200 mg 2 kali sehari dan dosis pemeliharaan 400-800 mg.
Sedangkan pada anak usia lebih dari 12 tahun dan dewasa 400 mg 2 kali sehari.
Efek samping yang sering terjadi pada penggunaan karbamazepin adalah
gangguan penglihatan (penglihatan berganda), pusing, lemah, mengantuk, mual,
goyah (tidak dapat berdiri tegak) dan Hyponatremia. Resiko terjadinya efek
samping tersebut akanmeningkat seiring dengan peningkatan usia .1
o Okskarbazepin
Okskarbazepin merupakan analog keto karbamazepin. Okskarbazepin merupakan
prodrug yang didalam tubuh akan segera dirubah menjadi bentuk aktifnya, yaitu
suatu turunan 10-monohidroksi dan dieliminasi melalui ekskresi ginjal.
Okskarbazepin digunakan untuk pengobatan kejang parsial. Mekanisme aksi
okskarbazepin mirip dengan mekanisme kerja karbamazepin. Dosis penggunaan
okskarbazepin pada anak usia 4-16 tahun 8-10mg/kg 2 kali sehari sedangkan pada
dewasa, 300 mg 2 kali sehari. Efek samping penggunaan okskarbazepin adalah
pusing, mual, muntah, sakit kepala, diare, konstipasi, dispepsia, ketidak
seimbangan tubuh, dan kecemasan. Okskarbazepin memiliki efek samping lebih
ringan

dibanding

dengan

fenitoin,

asam

valproat,

Okskarbazepin dapat menginduksi enzim CYP450.4

dan

karbamazepin.

Suksimid
o Etosuksimid
Etosuksimid digunakan pada terapi kejang absens. Kanal kalsium merupakan
target dari beberapa obat antiepilepsi. Etosuksimid menghambat pada kanal Ca2+
tipe T. Talamus berperan dalam pembentukan ritme sentakan yang diperantarai
oleh ion Ca2+ tipe T pada kejang absens, sehingga penghambatan pada kanal
tersebut akan mengurangi sentakan pada kejang absens. Dosis etosuksimid pada
anak usia 3-6 tahun 250 mg/hari untuk dosis awal dan 20 mg/kg/hari untuk dosis
pemeliharaan. Sedangkan dosis pada anak dengan usia lebih dari 6 tahun dan
dewasa 500 mg/hari. Efek samping penggunaan etosuksimid adalah mual dan
muntah,

efek

samping

penggunaan

etosuksimid

yang

lain

adalah

ketidakseimbangan tubuh, mengantuk, gangguan pencernaan, goyah (tidak dapat


berdiri tegak), pusing dan cegukan.2

Asam valproat
Asam valproat merupakan pilihan pertama untuk terapi kejang parsial, kejang absens,
kejang mioklonik, dan kejang tonik-klonik. Asam valproat dapat meningkatkan GABA
dengan menghambat degradasi nya atau mengaktivasi sintesis GABA. Asam valproat
juga berpotensi terhadap respon GABA post sinaptik yang langsung menstabilkan
membran serta mempengaruhi kanal kalium.Dosis penggunaan asam valproat 10-15
mg/kg/hari.11 Efek samping yang sering terjadi adalah gangguan pencernaan (>20%),
termasuk mual, muntah, anorexia, dan peningkatan berat badan. Efek samping lain yang
mungkin ditimbulkan adalah pusing, gangguan keseimbangan tubuh, tremor, dan
kebotakan. Asam valproat mempunyai efek gangguan kognitif yang ringan. Efek samping
yang berat dari penggunaan asam valproat adalah hepatotoksik. Hyperammonemia
(gangguan metabolisme yang ditandai dengan peningkatan kadar amonia dalam darah)
umumnya terjadi 50%, tetapi tidak sampai menyebabkan kerusakan hati.1

Interaksi valproat dengan obat antiepilepsi lain merupakan salah satu masalah terkait
penggunaannya pada pasien epilepsi.

Penggunaan fenitoin dan valproat secara

bersamaan dapat meningkatkan kadar fenobarbital dan dapat memperparah efek sedasi
yang dihasilkan. Valproat sendiri juga dapat menghambat metabolisme lamotrigin,
fenitoin, dan karbamazepin. Obat yang dapat menginduksi enzim dapat meningkatkan
metabolisme valproat. Hampir 1/3 pasien mengalami efek samping obat walaupun hanya
kurang dari 5% saja yang menghentikan penggunaan obat terkait efek samping tersebut.2

Benzodiazepin
Benzodiazepin digunakan dalam terapi kejang. Benzodiazepin merupakan agonis
GABAA, sehingga aktivasi reseptor benzodiazepin akan meningkatkan frekuensi
pembukaan reseptor GABAA.Dosis benzodiazepin untuk anak usia 2-5 tahun 0,5 mg/kg,
anak usia 6-11 tahun 0,3 mg/kg, anak usia 12 tahun atau lebih 0,2 mg/kg (11), dan
dewasa 4-40 mg/hari. Efek samping yang mungkin terjadi pada penggunaan
benzodiazepin adalah cemas, kehilangan kesadaran, pusing, depresi, mengantuk,
kemerahan dikulit, konstipasi, dan mual.3

Obat antiepilepsi lain


o Gabapentin
Gabapentin merupakan obat pilihan kedua untuk penanganan parsial epilepsi
walaupun kegunaan utamanya adalah untuk pengobatan nyeri neuropati.Uji
double-blind dengan kontrol plasebo pada penderita seizure parsial yang sulit
diobati menunjukkan bahwa penambahan gabapentin pada obat antiseizure lain
leibh unggul dari pada plasebo. Penurunan nilai median seizure yang diinduksi
oleh gabapentin sekitar 27% dibandingkan dengan 12% pada plasebo. Penelitian
double-blind monoterapi gabapentin (900 atau 1800 mg/hari) mengungkapkan
bahwa

efikasi

gabapentin

mirip

dengan

efikasi

karbamazepin

(600

mg/hari).Gabapentin dapat meningkatkan pelepasan GABA nonvesikel melalui


mekanisme yang belum diketahui. Gabapentin mengikat protein pada membran
korteks saluran Ca2+ tipe L. Namun gabapentin tidak mempengaruhi arus Ca2+

pada saluran Ca2+ tipe T, N, atau L. Gabapentin tidak selalu mengurangi


perangsangan potensial aksi berulang terus-menerus. Dosis gabapentin untuk anak
usia 3-4 tahun 40 mg/kg 3 kali sehari, anak usia 5-12 tahun 25-35 mg/kg 3 kali
sehari, anak usia 12 tahun atau lebih dan dewasa 300 mg 3 kali sehari. Efek
samping yang sering dilaporkan adalah pusing, kelelahan, mengantuk, dan
ketidakseimbangan tubuh. Perilaku yang agresif umumnya terjadi pada anakanak. Beberapa pasien yang menggunakan gabapentin mengalami peningkatan
berat badan.1
o Lamotrigin
Lamotrigin merupakan obat antiepilepsi generasi baru dengan spektrum luas yang
memiliki efikasi pada parsial dan epilepsi umum. Lamotrigin tidak menginduksi
atau menghambat metabolisme obat anti epilepsi lain. Mekanisme aksi utama
lamotrigin adalah blokade kanal Na, menghambat aktivasi arus Ca2+ serta
memblok pelepasan eksitasi neurotransmiter asam amino seperti glutamat dan
aspartat. Dosis lamotrigin 25-50 mg/hari. Penggunaan lamotrigin umumnya dapat
ditoleransi pada pasien anak, dewasa, maupun pada pasien geriatri. Efek samping
yang sering dilaporkan adalah gangguan penglihatan (penglihatan berganda), sakit
kepala, pusing, dan goyah (tidak dapat berdiri tegak). Lamotrigin dapat
menyebabkan kemerahan kulit terutama pada penggunaan awal terapi 3-4
minggu. Stevens-Johnson syndrome juga dilaporkan setelah menggunakan
lamotrigin.1
o Levetirasetam
Levetiracetam mudah larut dalam air dan merupakan derifat pyrrolidone ((S)ethyl-2-oxo-pyrrolidine acetamide). Levetirasetam digunakan dalam terapi kejang
parsial, kejang absens, kejang mioklonik, kejang tonik-klonik. Mekanisme
levetirasetam dalam mengobati epilepsi belum diketahui. Namun pada suatu studi
penelitian disimpulkan levetirasetam dapat menghambat kanal Ca2+ tipe N dan
mengikat protein sinaptik yang menyebabkan penurunan eksitatori (atau

meningkatkan inhibitori). Proses pengikatan levetiracetam dengan protein sinaptik


belum diketahui. Dosis levetirasetam 500-1000 mg 2 kali sehari. Efek samping
yang umum terjadi adalah sedasi, gangguan perilaku, dan efek pada SSP.
Gangguan perilaku seperti agitasi, dan depresi juga dilaporkan akibat penggunaan
levetirasetam. 1
o Topiramat
Topiramat digunakan tunggal atau tambahan pada terapi kejang parsial, kejang
mioklonik, dan kejang tonik-klonik. Topiramat mengobati kejang dengan
menghambat kanal sodium (Na+), meningkatkan aktivitas GABAA, antagonis
reseptor glutamat AMPA/kainate, dan menghambat karbonat anhidrase yang
lemah. Dosis topiramat 25-50 mg 2 kali sehari. Efek samping utama yang
mungkin terjadi adalah gangguan keseimbangan tubuh, sulit berkonsentrasi, sulit
mengingat, pusing, kelelahan, paresthesias (rasa tidak enak atau abnormal).
Topiramat dapat menyebabkan asidosis metabolik sehingga terjadi anorexia dan
penurunan berat badan.2
o Tiagabin
Tiagabin digunakan untuk terapi kejang parsial pada dewasa dan anak 16 tahun.
Tiagabin meningkatkan aktivitas GABA, antagonis neuron atau menghambat
reuptake GABA (7). Dosis tiagabin 4 mg 1-2 kali sehari. Efek samping yang
sering terjadi adalah pusing, asthenia (kekurangan atau kehilangan energi),
kecemasan, tremor, diare dan depresi. Penggunaan tiagabin bersamaan dengan
makanan dapat mengurangi efek samping SSP.1
o Felbamat
Felbamat bukan merupakan pilihan pertama untuk terapi kejang, felbamat hanya
digunakan bila terapi sebelumnya tidak efektif dan pasien epilepsi berat yang
mempunyai resiko anemia aplastik. Mekanisme aksi felbamat menghambat kerja
NMDA dan meningkatkan respon GABA (4). Dosis felbamat untuk anak usia

lebih dari 14 tahun dan dewasa 1200 mg 3-4 kali sehari (11). Efek samping yang
sering dilaporkan terkait dengan penggunaan felbamat adalah anorexia, mual,
muntah, gangguan tidur, sakit kepala dan penurunan berat badan. Anorexia dan
penurunan berat badan umumnya terjadi pada anak-anak dan pasien dengan
konsumsi kalori yang rendah. Resiko terjadinya anemia aplastik akan meningkat
pada wanita yang mempunyai riwayat penyakit cytopenia (10).
o Zonisamid
Zonisamid merupakan suatu turunan sulfonamid yang digunakan sebagai terapi
tambahan kejang parsial pada anak lebih dari 16 tahun dan dewasa (11).
Mekanisme aksi zonisamid adalah dengan menghambat kanal kalsium (Ca 2+) tipe
T. Dosis zonisamid 100 mg 2 kali sehari. Efek samping yang umum terjadi adalah
mengantuk, pusing, anorexia, sakit kepala, mual, dan agitasi. Di United Stated
26% pasien mengalami gejala batu ginjal. 1

Prinsip Pemilihan Obat Pada Pasien Epilepsi


Tujuan pook terapi epilepsi adalah membebaskan pasien dari bangkitan epilepsi, tanpa
menggagu fungsi normal SSP agar pasien dapat menunaikan tugasnya tanpa gangguan. Terapi
dapat dijalankan dengan berbagai cara, dan sebaiknya mempertahankan pedoman berikut :

melakukan pengobatan kausal kalau perlu, dengan pembedahan, umpamanya : pada


tumor serebri.

menghindari faktor pencetus suatu bangkitan, umpamanya minum alkohol, emosi,


kelelahan fisik maupun mental.

penggunaan anti konvulsi/antiepilepsi

Diagnosa bangkitan harus tepat, pilih obat antiepilepsi tunggal yang efektif sesuai untuk jenis
bangkitannya. Pasien atau keluarganya sangat dianjurkan untuk membuat catatan mengenai
waktu arDisamping itu perlu berbagai pemeriksaan lain untuk mendeteksi timbulnya efek
samping sedini mungkin yang dapat merugikan, antara lain pemeriksaan darah, kimia darah
maupun kimia obat dalam darah. Dengan memperhatikan semua ini umumnya pasien
dapatdinyatakan sembuh. kemungkinan ini lebih besarpada pasien usia muda.1

Untuk mncapai terapi yang optimal perlu diperhatikan hal berikut. Pengobatan awal harus
dimulai dengan obat tunggal. Obat perlu dimulai dengan dosis kecil dan dinaikkan secara
bertahap dan efek terapi tercapai atau timbul efek samping yang idak dapat ditoleransi lagi oleh
pasien. Interval penyesuaian dosis tergantung dari obat yang digunakan. Sebelum penggunaan
obat kedua sebagai pengganti, bila fasilitas laboratorium memungkinkan, sebaiknya kadar obat
dalam plasma diukur. Bila obat melebihi kadar terapi sedangkan efek terapaibelum tercapai atau
efek toksik telah muncul maka penggunaan obat pengganti merupakan keharusan. Obat pertama
harus diturunkan secara bertahap untuk menghindarkan status epileptikus. Bilimana dianggap
perlu terapi kombinasi masih dibenarkan. Kegagalan terapi epilepsi paling sering disebabkan
oleh ketidakpatuhan pasien. Dalam menanggulangi epilepsi pasien perlu membuat catatan
mengenai penyakitnya, kunjungan ntertur pada awal pengobatan merupakan suatu keharusan
untuk mendeteksi efek samping maupun efek toksik yang biasanya terjadi pada awal terapi. Pada
pengobatan jangka panjang perlu dilakukan pemeriksaan EEG ulanagan maupun pemeriksaan
neurologis.pemilihan obata dalam terapi antiepilepsi didasarkan pada bentuk bangkitan dan
gambarab EEG. 1

Tidak jarang terjadi kegagalan terapi akibat:

tidak tepatnya diagnosis bentuk epilepsi

tidak tepatnya pilihan obat d an dosis yang digunakan

terlalu sering mengganti obat tanpa cukup untuk peralihan keadaan penyakit setelah tiap
kali tercapai taraf mantap kadar obat dalam darah

gagalmemanfaatkan sepenuhnya kelebihan terapi kombinasi

kurang memperhatikan aspek yang berkaitan dengan penyakit dan pengobatan

ketidakpatuhan pasien.

Fenitoin dan karbamazepin merupakan obat pilihan utama untuk terapi epilepsi, kecuali terhadap
bangkitan lena. Fenobarbital masih sering digunakan, didasarkan pada batas keamanan obat
yang lebar serta harga yang murah dan umumnya tersedia ni puskesmas. Valproat semakin
banyak digunakan karena efek sampingnya lebih ringan kecuali hepatotoksitasnya yang bersif
idiosinkratik. Obat yang relatif baru umumnya memperlihatkan spektrum yang antiepilepsi lebih
luas dan keterterimaan yang tinggi tetapi kurang dapat diandalkan di banding yang lama. Selain
itu umumnya lebih mahal. Terhadap bangkitan tonik-klonik, manfaat f enitoinsedikit melebihi
feno barbital; 60-65 % dari pasien dapat dibebaskan dari bangkitan, dan pada 20% lainnya
berkurang frekuensi dan kekuatan bangkitannya.1

Kombinasi beberapa obat sesekali diperlukan. kombinasi yang paling disukai untuk bangkitan
tonik-klonik adalah fenitoin dan feno barbital dan masing-masingdapat diberikan dalam dosis
penuh bila diperlukan karena toksisitasnya berbeda.

Daftar Pustaka
1. Lacy, Charles F., 2009,

Drug Information Handbook, American Pharmacists

Association.
2. Dillon and Sander, 2003, Clinical Pharmacy and Therapeutics, Third edition, Churchill
livingstone, New York, 465-468, 472-477.
3. Weiner WJ., 1999, The Intial Treatment of Parkinsons Disease Should Begin With
Levodopa, Mov Disord, 14: 716724.
4. McNemara, J.O., 2008, Dasar Farmakologi Terapi, Edisi 10, vol 1, diterjemahkan oleh
alih bahasa sekolah farmasi ITB, EGC, Jakarta, 1517, 522, 524.