Anda di halaman 1dari 42

TEORI

PELAKSANAAN
AUDIT SEKTOR
PUBLIK

ANINTIO FANAFIAN
DAVID SULISTIYANTORO
MUHAMMAD IRFANDY AZIS
SABRANG GILANG GEMILANG

12/343899/EE/06365
12/343986/EE/06452
12/343974/EE/06440
12/343927/EE/06393

BAB 9
PELAKSANAAN AUDIT SEKTOR PUBLIK

Teori Pelaksanaan
Audit Sektor
Publik

Sistem
Pelaksanaan Audit
Sektor Publik

Teknik
Pelaksanaan Audit
Sektor Publik

Siklus
Pelaksanaan Audit
Sektor Publik

Contoh Pelaksaan
Audit Sektor
Publik

Pengertian Pelaksanaan Audit


Pelaksanaan audit adalah salah satu
tahapan dalam proses audit di mana auditor
akan mengembangkan suatu program
audit,
menilai
keefektifan
sistem
pengendalian internal organisasi, dan
melakukan pengujian-pengujian yang
diperlukan untuk memperoleh bukti audit
yang memadai.

Indikator Pelaksanaan Audit yang


Baik
Indikator pelaksanaan audit sektor publik yang
baik adalah yang dilakukan sesuai dengan
standar seperti yang telah ditetapkan, baik
standar internasional maupun standar yang
ditetapkan di dalam negara yang bersangkutan.

Berikut adalah prinsip pelaksanaan proses audit:


(1) Terkait kegiatan pelaksanaan audit.
a. Auditor harus memastikan bahwa prosedur audit
memberikan bukti
audit yang cukup tepat untuk mendukung tujuan
audit.
(2) Kegiatan yang berkaitan dengan mengevaluasi bukti
audit, menyimpulkan dan
pelaporan hasil audit.
b. Auditor harus mengevaluasi bukti audit dan
menarik kesimpulan.
c. Auditor harus menyiapkan laporan tertulis
berdasarkan kesimpulan
yang diambil.

Selain itu, Standar Pemeriksaan Keuangan Negara


(SPKN) juga menetapkan standar pelaksanaan
tambahan sebagai berikut.

a. Komunikasi
Pemeriksa.

b. Pertimbangan
terhadap Hasil
Pemeriksaan
Sebelumnya.

e. Dokumentasi
Pemeriksaan

c. Merancang Pemeriksaan
untuk Mendeteksi
Terjadinya Penyimpangan
dari Ketentuan Peraturan
Perundang-Undangan,
Kecurangan (Fraud), serta
Ketidakpatutan (Abuse).

d. Pengembangan
Temuan
Pemeriksaan.

Struktur Pengendalian Internal


Suatu proses yang dijalankan oleh eksekutif
(kepala
daerah,
instansi/dinas,
pimpinan
organisasi sektor publik dan segenap personel
yang ada di dalamnya), didesain untuk
memberikan
keyakinan
memadai
tentang
pencapaian tiga golongan tujuan sebagai berikut.
a. Keandalan laporan keuangan.
b. Kepatuhan terhadap hukum dan
peraturan yang berlaku.
c. Efektivitas dan efisiensi operasional.

Konsep Pengendalian Internal


Berikut jenis-jenis pengendalian internal,
Organisasi

Personel

Supervisi

Pemisahan
tugas

Akuntansi

Manajemen

Fisik

Persetujuan
dan otorisasi

Keterbatasan Pengendalian Internal


Berikut ciri-ciri sistem pengendalian yang baik.
1. Independen dalam prosedur pemrosesan.
2. Harus ada kolusi untuk melewatinya.
3. Personel dengan senioritas yang memadai.
4. Secara tepat waktu.
5. Pengendalian internal yang bergantung pada pemisahan
tugas, dapat dihindari dengan kolusi.
6. Otorisasi dapat diabaikan oleh seseorang yang
mempunyai kedudukan tertentu atau oleh manajemen.
7. Personel keliru dalam memahami perintah, akibat
kelalaian, tidak perhatian, maupun kelelahan.

Prosedur Pengujian Pengendalian


Ada beberapa alternatif prosedur yang dapat dilakukan, yaitu:
1. Hasil pengujian pengendalian sebelumnya.
2. Berdasarkan pertanyaan yang dibuat, apakah pengendalian
tetap sama untuk waktu yang tersisa sampai berakhirnya periode
tersebut.
3. Sifat dan ukuran transaksi dan jumlah akun yang terlibat.
4. Pengujian substantif yang akan dilakukan tanpa melihat
kecukupan prosedur pengendalian.
Jika terjadi perubahan sistem pengendalian internal selama
masa review, auditor harus mengevaluasi dan menguji
pengendalian internal sebelum dan sesudah adanya perubahan.

Unsur Struktur Pengendalian


Internal

Unsur pengendalian internal dari lima unsur


pokok sebagai berikut.
a). Lingkungan pengendalian.
b). Penaksiran risiko.
c). Informasi dan komunikasi.
d). Aktivitas pengendalian.
e). Pemantauan.

Bukti Audit

Beberapa hal penting yang berkaitan dengan


bukti audit.
Kecukupan bukti audit.
Kompetensi bukti audit.
Dasar yang memadai atau rasional.
Prosedur yang dapat dilakukan untuk
menghimpun bukti audit.

Kecukupan Bukti Audit


Kecukupan bukti audit lebih berkaitan
dengan kuantitas bukti audit. Faktor-faktor
yang memengaruhi kecukupan bukti audit
laporan keuangan adalah:
Materialitas.

Risiko Audit.

FaktorFaktor
Ekonomi.

Ukuran dan
Karakteristik
Populasi.

Kompetensi Bukti Audit


Kompetensi bukti audit yang berupa informasi
penguat tergantung pada faktor berikut.

Relevansi
Bukti.

Sumber
Informasi
Bukti.

Ketepatan
Waktu.

Objektivitas.

Jenis Bukti Audit


Jenis-jenis bukti audit laporan keuangan, dapat
digolongkan sebagai berikut.
a. Bukti Fisik.
b. Bukti Konfirmasi.
c. Bukti Dokumenter.
d. Catatan Akuntansi
e. Bukti Surat Pernyataan Tertulis
f. Bukti Matematis.
g. Bukti Lisan.
h. Bukti Analitis dan Perbandingan.
i. Struktur Pengendalian Internal.
j. Bukti Elektronik.

SISTEM PELAKSANAAN AUDIT


SEKTOR PUBLIK
Pengumpulan Data
Berikut kegiatan dalam pengumpulan data.
Wawancara

Me-review Dokumen

Observasi

SIKLUS PELAKSANAAN AUDIT


SEKTOR PUBLIK
Pengujian Kepatuhan
Dalam audit kinerja, Auditor melaksanakan
pengujian kepatuhan organisasai terhadap ketentuan
peraturan perundang-undangan dan pengendalian
internal. Saat melakukan audit kinerja, auditor harus
mengkomunikasikan sifat pekerjaan audit dan
tingkat keyakinan, dengan memberikan penekanan
bahwa pekerjaan audit dan pelaporan yang berkaitan
dengan pengujian pengendalian internal, kepatuhan
atas ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pernyataan tentang hasil pengujian kepatuhan


terhadap ketentuan perundangan-undangan
dan pengendalian intern diatur dalam standar
pelaporan tambahan pertama, yaitu "Laporan
hasil pemeriksaan harus menyatakan bahwa
pemeriksaan dilakukan sesuai dengan
Standar Pemeriksaan".

Pengujian Validitas Bukti Transaksi


Pengujian validitas bukti transaksi dilakukan
untuk menentukan:
Ketepatan otorisasi transaksi
akuntansi klien.
Kebenaran pencatatan dan
peringkasan transaksi tersebut
dalam jurnal.

Kebenaran pelaksanaan posting


atas transaksi tersebut ke dalam
buku besar dan buku pembantu.

Pengujian Pelaksanaan Peraturan/Regulasi


Entitas pemerintahan, organisasi nirlaba, atau
perusahaan dapat menugasi auditor untuk
mengaudit laporan keuangan entitas tersebut
berdasarkan Standar Audit Pemerintahan. Dalam
melaksanakan audit berdasarkan Standar Audit
Pemerintahan, auditor memikul tanggung jawab
melampaui tanggung jawab yang dipikulnya
dalam audit berdasarkan standar auditing yang
ditetapkan Institut Akuntan Publik Indonesia
untuk melaporkan tentang kepatuhan dengan
peraturan perundang-undangan dan tentang
pengendalian internal.

Pengujian Substantif
Perancangan Pengujian Substantif
Auditor harus menghimpun bukti yang cukup
untuk memperoleh dasar yang memadai untuk
menyatakan pendapat atas laporan keuangan
klien. Pengujian substantif menyediakan bukti
mengenai kewajaran setiap asersi laporan
keuangan yang signifikan. Perancangan
pengujian substantif meliputi penentuan:
a. Sifat pengujian.
b. Waktu pengujian.
c. Luas pengujian substantif.

Prosedur untuk melaksanakan Pengujian


Substantif
Ada delapan prosedur untuk melaksanakan
pengujian pengendalian substantif, yaitu:
a.Pengajuan pertanyaan kepada para karyawan
berkaitan dengan kinerja tugas mereka.
b.Pengamatan atau observasi terhadap persoalan
dalam melaksanakan tugas mereka.
c.Menginspeksi dokumen dan catatan.
d.Melakukan penghitungan kembali atau
reperforming.
e.Konfirmasi.
f.Analisis.
g.Tracing atau pengusutan.
h.Vouching atau penelusuran.

Pengujian Detail Saldo


Pengujian detail saldo akun yang direncanakan
harus cukup memadai untuk memenuhi setiap
tujuan spesifik audit dengan memuaskan.
Metodologi perancangan pengujian detail saldo
meliputi empat tahapan, yaitu:
1.Menilai materialitas dan risiko bawaan suatu
akun.
2.Menetapkan risiko pengendalian.
3.Merancang pengujian transaksi dan prosedur
analitis.
4.Merancang pengujian detail saldo untuk
memenuhi setiap tujuan spesifik audit secara
memuaskan.

Penentuan Saat Pelaksanaan Pengujian


Substantif
Tingkat risiko deteksi yang dapat diterima,
memengaruhi penentuan waktu pelaksanaan
pengujian substantif. Jika risiko deteksi rendah,
maka
pengujian
substantif
lebih
baik
dilaksanakan pada atau dekat dengan tanggal
neraca.
Luas Pengujian Substantif
Semakin rendah tingkat risiko deteksi dapat
diterima, semakin banyak bukti diperlukan.
Auditor dapat mengubah jumlah bukti yang harus
dihimpun dengan cara mengubah luas pengujian
substantif yang dilakukan.

Penyusunan Kuesioner
Pengumpulan data yang dilakukan auditor
meliputi pengamatan dan pengukuran.
Terdapat
banyak
metode
untuk
mengumpulkan data, di antaranya adalah
kuesioner, wawancara, observasi langsung
dan
perhitungan.
Kemahiran
auditor
mendesain dan menerapkan metode yang
dipilihnya
merupakan
kunci
untuk
memastikan bahwa data yang diperoleh
merupakan bukti yang cukup, kompeten dan
relevan.

Prosedur Analitis
Ada enam langkah yang harus dilakukan auditor
dalam melakukan prosedur analitis, yaitu:
1. Mengidentifikasi
perhitungan
dan
perbandingan yang akan dibuat.
2. Mengembangkan ekspektasi.
3. Melakukan perhitungan dan perbandingan
4. Menganalisi data
5. Menyelidiki perbedaan atau penyimpangan
yang tidak diharapkan yang signifikan
6. Menentukan pengaruh perbedaan atau
penyimpangan terhadap perencanaan audit.

TEKNIK PELAKSANAAN AUDIT SEKTOR


PUBLIK
Teknik Mengelola Risiko Audit Sektor Publik
Risiko Audit merupakan salah satu yang menjadi
perhatian auditor dalam menjalankan tugas dan
tanggung jawab profesionalnya dan kemungkinan
terjadinya risiko audit. Risiko audit dapat ditimbulkan
dari tingkat penemuan yang direncanakan dalam
menghadapi penyimpangan, misalnya:
a.Related party transaction (transaksi organisasi
induk dan anak atau transaksi antar keluarga).
b.Client misstate (klien melakukan penyimpangan).
c.Kualitas komunikasi (klien tidak kooperatif).
d.Initial audit (klien baru pertama kali diaudit).
e.Klien bermasalah.

Teknik Menulis Kertas Kerja Audit


Kertas kerja audit merupakan kertas-kertas yang
diperoleh akuntan selama melakukan pemeriksaan
dan dikumpulkan untuk memperlihatkan pekerjaan
yang telah dilaksanakan, metode dan prosedur
pemeriksaan yang diikuti serta kesimpulankesimpulan yang telah dibuatnya.
Contoh kertas kerja antara lain: Catatan memo;
Hasil analisis jawaban konfirmasi, Clients
Representation Letter; Komentar yang dibuat atau
didapat oleh akuntan pemeriksa; Tembusan (copy)
dari dokumen penting dari suatu daftar baik yang
diperoleh ataupun yang didapat dari klien dan
diverifikasi oleh akuntan.

KERTAS KERJA
Tujuan Pembuatan Kertas Kerja Audit :
Mengkoordinasi dan mengorganissi semua tahap pengauditan
pendukung penting terhadap pendapat akuntan atas laporan
keuangan yang diauditnya
kesimpulan akuntan dan kompetensi pengauditannya
pedoman dalam pengauditan berikutnya
Teknik Dasar Pembuatan Kertas Kerja Audit :
Pembuatan heading
Nomor indeks
Tick marks
Pencantuman tanda tangan pembuat maupun penelaah, dan
tanggal pembuatan serta penelaahan.

KERTAS KERJA
Dalam pembuatan kertas kerja audit harus
memperhatikan ; Kertas Kerja kerja harus dibuat lengkap,
Teliti, Ringkas, Jelas, dan Rapi.
Tipe Kertas Kerja :
Audit Program
Working Trial Balance
Summary of adjusment journal entries
Top schedules
Supporting schedules

Kertas Kerja
Review Kertas Kerja dan Kesimpulan
Kertas kerja tidak hanya berisi tentang catatan klien,
tetapi langkah-langkah yang dilakukan oleh auditor dalam
melaksanakan audit.
Kertas kerja harus disesuaikan dengan keadaan yang
dihadapi dan kebutuhan auditor dalam melaksanakan suatu
penugasan audit.
Kertas kerja juga berhubungan erat dengan standar
pelaporan. Kertas kerja bukan hanya berguna untuk
memudahkan pembuatan laporan audit Kertas kerja berguna
untuk mendukung pendapat auditor yang diberikan dalam
laporan audit.

Isi Kertas Kerja


Dalam SA 339, SPAP - IAI dan SAP 7.63, kertas kerja
biasanya berisi dokumentasi yang memperlihatkan:
a. Pemeriksaan telah direncanakan dan disupervisi
dengan baik yang menunjukkan dilaksanakannya
standar pekerjaan lapangan yang pertama.
b. Pemahaman yang memadai atas struktur pengendalian
internal telah diperoleh untuk merencanakan audit dan
menentukan sifat, saat, dan lingkup pengujian
yang telah dilakukan.
c. Bukti audit telah diperoleh, prosedur pemeriksaan
yang telah diterapkan, dan pengujian yang telah
dilaksanakan, yang memberikan bukti kompeten yang
cukup sebagai dasar yang memadai untuk menyatakan
pendapat atas laporan keuangan auditan, yang
menunjukkan dilaksanakannya standar pekerjaan
lapangan yang ketiga.

Secara umum kertas kerja audit


memiliki susunan sebagai berikut.
a). Draf laporan pemeriksaan (audit report).
b). Laporan keuangan yang telah diaudit.
c). Ringkasan informasi bagi penelaah.
d). Program pemeriksaan.
e). Laporan keuangan atau neraca lajur yang
dibuat klien,
f). Ringkasan jurnal penyesuaian.
g).Working trial balance.
h).Top schedule.
i). Supporting schedule.

prinsip umum yang berkaitan


dengan pembuatan dan
penyimpanan kertas kerja.
(1) Pembuatan kertas kerja harus mempunyai
maksud dan tujuan yang jelas.
(2) Hindarkan pekerjaan salin-menyalin yang tidak
diperlukan.
(3) Buktikan keterangan lisan yang diperoleh melalui
pengajuan pertanyaan (inquiry).
(4) Jangan meninggalkan suatu pertanyaan tanpa ada
jawaban yang jelas.
(5) Tuliskan segala masalah relevan yang ditemukan
pada saat melaksanakan audit

Penelaahan Kertas Kerja


Penelaahan kertas kerja pada umumnya
dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama
dilakukan jika pekerjaan pemeriksaan pada
suatu segmen tertentu sudah selesai.
Penelaahan pada tahap ini meliputi pekerjaan
yang dilakukan, dan bukti yang diperoleh.
Dan, kesimpulan diperoleh pembuat kertas
kerja. Sedangkan, tahap kedua dilakukan bila
semua pekerjaan lapangan sudah diselesaikan.

CONTOH PELAKSANAAN AUDIT SEKTOR


PUBLIK

Flowchart Prosedur Pemeriksaan Atas Pos Pendapatan asli


Daerah

Flowchart prosedur Pemeriksaan atas Pos Dana


Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah

Contoh pelaksanaan audit pembiayaan dan


verifikasi kinerja program pembiayaan
Dokumen Sumber Transaksi Pembiayaan
Penerimaan

Contoh pelaksanaan audit dan verifikasi kinerja


aktiva tetap