Anda di halaman 1dari 6

Makalah Seminar Kerja Praktek

SISTEM INDUCTION HEATER MESIN EXTRUDER UNTUK PENGOLAHAN WASTE PADA


PROSES RECLAIM
Singgih Kurniawan (L2F 008 149)
Jurusan Teknik Elektro Universitas Diponegoro
Jl. Prof. Sudharto, Tembalang, Semarang, Indonesia
E-mail : singgih_fair@yahoo.com

Abstrak
Pada proses pembuatan BOPP sering kali terjadi permasalahan baik secara teknis, kimia dan human error yang
menyebabkan kegagalan produksi. Kegagalan produksi ini menghasilkan waste yang banyak dan perlu dilakukan daur
ulang agar dapat dimanfaatkan kembali. Proses daur ulang waste yang ada di PT Polidayaguna Perkasa mulanya
menggunakan extruder dengan heater konvensional jenis band heater kemudian diganti dengan induction heater.
Pada Laporan kerja praktek ini, akan dibahas tentang prinsip kerja, bagian-bagian utama dan penggunaan
sistem induction heater yang terdapat pada extruder dan perhitungan efisiensi pergantian heater konvensional menjadi
induction heater.
Dari hasil analisis dapat diketahui bahwa sistem induction heater menghasilkan panas didalam screw sehingga
energi dapat digunakan secara maksimal untuk memanaskan material dan Induction heater bekerja secara optimal pada
frekuensi tinggi, Hal ini juga yang menyebabkan penggunaan induction heater menghemat daya hingga 30% dari daya
yang digunakan untuk heater konvensional.
Kata kunci : BOPP, induction heater, keunggulan, efisiensi
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Industri plastik setiap tahun selalu mengalami
kenaikan, ke depan industri plastik akan naik sekitar 7 8
persen per tahun seiring dengan pertumbuhan industri
makanan dan minuman, bahan kimia dan farmasi.
Pada proses pembuatan BOPP sering kali terjadi
permasalahan baik secara teknis, kimia dan human error
yang menyebabkan kegagalan produksi. Kegagalan
produksi ini menghasilkan waste yang banyak dan perlu
dilakukan daur ulang agar dapat dimanfaatkan kembali.
Proses daur ulang waste yang ada di PT Polidayaguna
Perkasa mulanya menggunakan extruder dengan heater
konvensional kemudian diganti dengan induction heater.
Sistem induction heater merupakan salah satu teknologi
terbaru yang digunakan pada industri plastik yang perlu
dikaji dan dikembangkan lebih lanjut untuk meningkatkan
efisiensi dari sistem tersebut.
1.2 Tujuan
Mengetahui prinsip kerja dan bagian-bagian dari
induction heater pada extruder dan menganalisis efisiensi
penggunaan induction heater pada extruder untuk
pengolahan waste pada proses reclaim.
1.3 Pembatasan Masalah
1 Prinsip kerja sistem induction heater pada extruder
untuk pengolahan waste pada proses reclaim
2 Analisa effisiensi penggunaan induction heater
dibandingkan
konvensional
heater,
Heater

3
4
5
6

konvensional yang digunakan adalah jenis band


heater
Tidak membahas secara mendetail.
Tidak dibahas secara mendalam mengenai rangkaian
elektronika daya, kontrol dan prinsip quasy resonant.
Tidak membahas desain lilitan kumparan penginduksi
dan jarak antara kumparan penginduksi
Tidak membahas mengenai bahan yang digunakan
pada screw dan bahan kimia dari biji plastik secara
mendetail

II. PROSES PENGOLAHAN


RECLAIM
2.1 Pengertian Dasar Proses

WASTE

PADA

BOPP Film adalah singkatan dari Biaxially


Oriented Polypropylene Film, yaitu suatu bahan yang
memperoleh popularitas dengan cepat dewasa ini. Secara
garis besar proses pembuatannya dapa dilihat pada Gambar
dibawah ini

Gambar 1 Proses Pembuatan BOPP Film

2.2 Bahan Baku

2.4 Extruder

Bahan baku yang digunakan untuk pembuatan plastik


ini terdiri dari berbagai macam bahan dan menghasilkan
plastik yang bermacam-macam pula.
Polypropylene merupakan bahan yang digunakan oleh
PT Polidayaguna Perkasa untuk pembuatan BOPP.
Sifat-sifatnya :
Bersifat lebih keras daripada PE, lebih tahan
lama terhadap temperatur tinggi, tetapi akan mudah pecah
pada temperatur rendah, sangat bagus untuk berbagai
macam gantungan, karena sifatnya keras dan mudah pecah.
Selain itu juga bagus untuk bahan isolasi. Aman terhadap
tubuh tetapi menyebabkan bau. Ahan terhadap asam, alkali,
larutan garam, alkohol, minyak tanah, jus buah-buahan dan
berbagai macam jenis oli. Tetapi tidak tahan terhadap
cholohydrocarbon, hindarkan kontak dengan tembaga dan
semua larutannya.
Pengenalan Bahan :
Sangat mudah terbakar, apabila terbakar apinya
menetes dan menyala terus, menyala terang dan berwarna
biru ditengah-tengahnya, berbau seperti parafin.
Penginjeksian :
Memerlukan tekanan injeksi yang tinggi, yaitu
antara 120-130 Kg/
. Memerlukan waktu holding
pressure yang lama, dimaksudkan untuk menghilangkan
dekik kecepatan yang tinggi, tergantung dari ketebalan
plastik.
Pada Jenis ini OPP filmnya terdiri dari beberapa
lapis film, bagian tengahnya disebut sebagai core dan
bagian atas bawahnya disebut skin. Core terbentuk dari
polypropylene homopolymer dan tambahan/additive,
Sedangkan skin terbentuk dari polypropylene copolymer
dan bahan tambahan/additive.

Ada yang dimaksut extruder adalah mesin yang terdiri dari


Hopper, Barrel screw dan Die. Berikut gambaran extruder
yang sering ada saat ini

Gambar 3 Komponen Extruder


Gambar diatas menjelaskan dasar dari mesin
extruder. Pellet plastic atau serpihan (Juga disebut sebagai
resin) yang berasal dari sepanjang hopper dimasukkan
kedalam screw melalui barrel chamber. Resin bergerak
sepanjang barrel yang berputar, Hal ini memberikan
gesekan, tekanan dan daerah panas. Hasilnya resin akan
meleleh dan selanjutnya akan keluar melalui screw yang
berfungsi untuk mencampurkan lelehan yang menjadi
homogen. Lelehan akan memasuki ruang yang dirancang
untuk memastikan aliran merata yang mengalir pada die.
Pada die juga terdapat filter yang berfungsi mencegah
partikel atau benda asing melalui die.
Para feedscrew, barel, dan pengontrol suhu
membentuk bagian dari extruder disebut unit plastication.
Plastication didefinisikan sebagai konversi termoplastik
untuk mencairkan. Pada ekstruder untuk melelehkan
serpihan plastik digunakan pemanas atau heater yang
memiliki suhu 230C. Jenis heater yang dapat digunakan
antara lain :
1. Heater Konvensional / Band Heater
2.

Gambar 2 Composit Film / Coextrude Film


2.3 Proses Reclaim
Extrusi pada thermo plastik adalah proses pada
material sampai mencapai meleleh akibat panas dari luar /
panas gesekan dan yang kemudian dialirkan ke die oleh
screw yang kemudian dibuat produk sesuai bentuk yang
diinginkan. Proses ekstrusi adalah proses kontinyu yang
menghasilkan beberapa produk seperti, Film plastik, tali
rafia, pipa, peletan, lembaran plastik, fiber, filamen,
selubung kabel dan beberapa produk dapat juga dibentuk.
Reclaim adalah pengolahan waste yang berasal dari
kegagalan produksi maupun sisa produksi. Proses reclaim
dapat dikatakan adalah proses extrusi thermo plastik yang
menghasilkan produk Pellet. Peralatan yang ada pada
proses reclaim hampir sama dengan peralatan yang
digunakan pada proses extrusi termo plastik yang
menghasilkan BOPP (Biaxially Oriented Polypropylene)
Film.

Induction Heater

Pada mulanya PT Polidayaguna Perkasa


menggunakan band heater atau heater konvensional pada
proses extrusi waste. Namun karena faktor efisiensi maka
heater konvensional atau band heater digantikan induction
heater. Faktor efisiensi dan penjelasan mengenai sistem
induction heater inilah yang akan dijelaskan pada sub bab
selanjutnya.
2.5 Sistem Heater pada Proses Extrusion
Proses Extrusion yang ada di PT Polidayaguna
Perkasa dibagi menjadi 2 menurut fungsi kerja yaitu :
1. Proses Extrusion untuk peleburan pellet plastik
menjadi plastik. Prinsip peleburan ini terjadi di Main
Extruder, Satex A dan Satex B
2. Proses Extrusion untuk peleburan waste plastik
menjadi pellet plastik. Prinsip peleburan ini terjadi di
Reclaim.
Mesin dan peralatan pada kedua sistem ini hampir
sama, karena pada prinsipnya kedua proses extrusion ini
memanfaatkan suhu panas untuk meleburkan waste dan

pellet plastik. Suhu panas yang dibutuhkan untuk peleburan


plastik dan pellet plastik berkisar antara 230C. Suhu ini
didapatkan dari heater yang dipasang pada mesin extruder
pada kedua proses.
Kedua proses ini memanfaatkan heater yang
berbeda, meskipun sama-sama menghasilkan suhu panas
yang dibutuhkan untuk melakukan peleburan. Perbedaan
yang paling mendasar dari heater yang digunakan adalah
proses transfer panas yang dihasilkan heater ke objek yang
akan dileburkan
III. SISTEM INDUCTION HEATER
3.1 Induction Heater
Pada Induction Heater, panas dihasilkan didalam
material dan berasal dari pemanasan oleh material itu
sendiri sehingga energi dapat digunakan secara maksimal
untuk memanaskan material.
Pemanasan secara induksi memiliki karakteristik sebagai
berikut :
Secara teknis:

Karena kerapatan energinya tinggi, pemanas induksi


bisa berukuran kecil dan mampu melepaskan panas
dalam waktu yang relatif singkat.
Dengan induksi dimungkinkan untuk mencapai suhu
yang sangat tinggi.
Pemanasan dapat dilakukan pada lokasi tertentu.
Sistem dapat dibuat bekerja secara otomatis.
Konsumsi energi:
Pemanas induksi secara umum memiliki efisiensi
energi yang tinggi, namun hal ini juga bergantung
pada karakteristik material yang dipanaskan.
Rugi-rugi pemanasan dapat ditekan seminimal
mungkin.
3.2 Rangkaian Induction Heater
Induction heater yang digunakan di PT
Polidayaguna Perkasa memiliki beberepa komponen utama
yaitu : Power Modul, Kumparan Penginduksi dan barrel
screw yang menjadi objek yang dipanaskan seperti gambar
dibawah ini.

Gambar 5 Power Modul SAVERO


Power modul SAVERO menggunakan inverter quasy
resonant frekuensi tinggi. Frekuensi tinggi digunakan untuk
memicu 2 mosfet yang dipasang secara paralel untuk
menyuplai kumparan penginduksi. Hal ini dikarenakan
Induction Heater akan bekerja secara optimal pada
frekuensi tinggi sehingga dibutuhkan sebuah power suplai
khusus yang akan digunakan untuk menyuplai induction
heater.
2. Kumparan Induksi
Lilitan penginduksi digunakan untuk menginduksi
obyek atau benda kerja yang ingin dipanaskan. Lilitan
penginduksi ini harus mempunyai jumlah liiltan yang
cukup agar medan magnetik yang dihasilkan dapat
menginduksi benda kerja dengan baik, disamping itu juga
diusahakan memiliki nilai induktansi yang sesuai dengan
frekuensi resonansi yang diinginkan. Hal ini dikarenakan
selain kumparan berfungsi untuk menginduksi benda kerja,
kumparan ini juga digunakan sebagai induktor pada
rangkaian resonant.

Gambar 6 Lilitan Penginduksi


Prinsip kerja kumparan ini sama dengan sebuah
trafo, dimana arus pada sisi sekunder sebanding dengan
arus pada sisi primer dikalikan dengan rasio trafo.
3.

Gambar 4 Sistem Induction Heater

Barrel Screw
Barrel screw merupakan salah satu komponen
penting dari proses extrusion dan juga induction heater.
Hal ini dikarenakan barrel screw merupakan tempat
peleburan serbuk maupun pellet plastik. Dan barrel
screw juga merupakan objek yang dipanaskan oleh
induction heater.

Komponen-komponen ini akan dijelaskan secara terperinci


sebagai berikut :
1.

Power Modul (Modul Daya)


Power Modul ini menggunakan modul power
merek SAVERO dengan supply 220 1 fasa, seperti
gambar dibawah ini :

Gambar 7 Barrel Screw

Bahan dari barrel screw terbuat dari baja murni


yang tahan terhadap tekanan tinggi (20.000 psig)
3.4 Prinsip Kerja Induction Heater SAVERO
Induction Heater berdasarkan pada prinsip induksi
elektromagnetik.
Tegangan AC 1 fasa dari sumber disearahkan
untuk menyuplai peralatan heater.

Gambar 8 Induction Heater


di PT Polidayaguna Perkasa
Tegangan bolak-balik yang memiliki frekuensi
tinggi yang dibangkitkan dari power modul dengan
frekuensi 27 KHz. Frekuensi ini akan memicu mosfet
untuk membangkitkan daya Ac yang memiliki frekuensi
tinggi. Daya Ac frekuensi tinggi ini yang dikirimkan ke
kumparan untuk menimbulkan fluks, besar kecilnya
fluks yang di bangkitkan bergantung pada luas bidang
kumparan induksi yang digunakan. Hal ini dikarenakan
induction heater memanfaatkan rugi-rugi yang terjadi
pada kumparan penginduksi. Rugi-rugi yang
dimanfaatkan untuk memanaskan objek adalah sebagai
berikut :
a. Arus Eddy
Arus eddy memiliki peranan yang paling dominan
dalam proses pemanasan induksi. Panas yang dihasilkan
pada material sangat bergantung kepada besarnya arus
eddy yang diinduksikan oleh lilitan penginduksi. Ketika
lilitan dialiri oleh arus bolak-balik, maka akan timbul
medan magnet di sekitar kawat penghantar. Medan
magnet tersebut besarnya berubah-ubah sesuai dengan
arus yang mengalir pada lilitan tersebut. Jika terdapat
bahan konduktif disekitar medan magnet yang berubahubah tersebut, maka pada bahan konduktif tersebut akan
mengalir arus yang disebut arus eddy.

Gambar 9 Arus Eddy pada Permukaan Bahan


b. Rugi-rugi Hysterisis
Rugi-rugi histerisis juga memiliki peranan penting
dalam pemanasan induksi. Namun hal ini hanya berlaku

pada material yang bersifat ferromagnetik seperti besi.


Untuk material diamagnetik seperti aluminium,
pemanasan lebih didominasi oleh arus eddy.
Rugi-rugi hysterisis adalah suatu energi untuk
mengubah intensitas fluks dari induksi residu menjadi
nol. Energi ini digunakan untuk mengatasi suatu
hambatan dari pergesaran intensitas fluks yang terjadi.
Penggunaan energi ini akan menyebabkan panas yang
juga dimanfaatkan untuk memanaskan benda kerja.
c. Efek Kulit
Jika arus searah melewati sebuah konduktor, maka
arus akan terdistribusi secara merata pada seluruh
permukaan konduktor tersebut. Tetapi jika arus bolakbalik dialirkan melalui konduktor yang sama, arus tidak
tersebar secara merata. Kerapatan arus paling besar
selalu berada dipermukaan konduktor dan kerapatan
arus ini akan semakin berkurang ketika mendekati pusat
konduktor. Hal ini disebut efek kulit.
Semakin tinggi frekuensi yang diterapkan pada
konduktor, maka semakin besar arus yang mengalir
pada permukaan konduktor.
Efek kulit ini
menyebabkan energi panas yang dikonversi dari energi
listrik terpusat pada permukaan material, sehingga
permukaan material lebih cepat panas dari pada
pusatnya.

Gambar 10 Pengaruh Frekuensi pada Pemanasan


Induksi
Kedalaman pemanasan bisa diatur dengan
memvariasikan
frekuensi
inverter.
Kecepatan
pemanasan
akan
semakin
tinggi
dengan
mengkonsentrasikan arus pada bagian permukaan
material.

Gambar 11 Pemanasan Screw Mengunakan Induction


Heater
Selama proses dalam screw suhu dijaga konstan
pada suhu antara 225C-230C. Untuk menjaga suhu
tetap konstan dilakukan dengan sistem on-off induction
heater. Sistem ini bekerja dengan sensor suhu yang
dipasang pada silinder heater. Sepanjang satu silinder
heater terdapat 17 induction heater dengan 6
termokontrol, setiap termokontrol mengontrol 3 buah
induction heater savero.

3.5 Keuntungan
Penggunaan
Induction
Heater
dibandingkan dengan Heater Konvensional
Tabel
1
Perbandingan
Penggunaan
Heater
konvensional dengan Induction heater
No
1

Heater Konvensional
Memiliki efisiensi 30-70%

Panas harus dihubungkan


sepanjang kontak resistan

Panas
tidak
dapat
diterapkan secara seragam
ke seluruh barel
Operasi elemen pemanas
memiliki batas waktu

Massa panas dijumlahkan


dengan inersia termal pada
sistem
Waktu start up lama
Tidak hemat energi

6
7

Induction Heater
Memiliki efisiensi 95%
Rugi-rugi coil 2%, rugirugi power module 2%
Panas dihasilkan secara
langsung didalam dinding
barrel
Panas dapat diterapkan
seragam di seluruh barrel
Operasi elemen dingin
sehingga tidak memiliki
batas waktu
Inersia thermal pemanas
dapat dihilangkan
Waktu start up cepat
Hemat energi dan mampu
meningkatkan
kualitas
produksi

1. Hemat Energi
Induction heater merupakan salah satu perangkat
yang hemat energi. Energi yang dapat di hemat dari
penggunaan induction heater berkisar antara 30-75%.
Tabel 2 Perbandingan perhitungan efisiensi Heater
konvensional dengan Induction heater
NO
1

Daya terpasang

2
3

Waktu Heat up
Biaya Heat up

Konsumsi Daya
per
hari
(
menurut
pengukuran )
Biaya Per Hari

Heater
Konvensional
50,4 Kw

Induction Heater
35 Kw

4 Jam
P x t x harga tiap
Kwh = 50,4 x 4 x
880
= 177.408
566, 4 Kwh

20 menit
P x t x harga tiap
Kwh
= 35 x (20/60) x
880 = 10.267
393,6 Kwh

= P x Harga / Kwh
=566,4 x 880
= 498.432

= P x Harga / Kwh
=393,6 x 880
= 346.368

Dari data diatas dapat kita hitung Penghematannya sebagai


berikut :
Penghematan dalam rupiah (P) : Biaya heat up heater
konvensional- Biaya heat up induction heater
P =177.408- 10.267 = 167.141
Penghematan Daya per hari
PD = 566,4 Kwh 393,6 Kwh
= 172.8 Kwh

Prosentase Penghematan
PP (%) = 566,4 Kwh393,6 Kwh x 100%
566,4
= 30 %
Penghematan Biaya =498.432 346.368
per hari
=152.064
Penghematan Biaya =152.064 x 30
Per bulan
= 4.561.920
Dari perhitungan diatas dapat kita lihat bahwa
dengan menggunakan induction heater dapat menghemat
biaya per bulan hingga Rp. 4.561.920 rupiah. Jika biaya
pengadaan dari 1 buah induction heater adalah 10.000.000,
maka BEP (Back Even Point) dapat kita hitung sebagi
berikut :
Jumlah Induction Heater
=17 buah
Harga total induction heater
H = 17 x 10.000.000 = 170.000.000
BEP = 170.000.000 / 4.561.920
= 37, 265 Bulan = 3,1 tahun
Dalam waktu 3,1 tahun perusahan sudah dapat
mendapatkan keuntungan yang senilai dengan pengadaaan
induction heater sementara induction heater memiliki life
time yang panjang dan induction heater memiliki biaya
perawatan yang murah.

2. Mengurangi Waktu Start Up


Waktu induction heater untuk mencapai setting suhu
yang cepat membutuhkan waktu yang lebih cepat
dibandingkan dengan heater konvensional, hal ini
dikarenakan fluks yang dihasilkan pada kumparan induksi
oleh tegangan ac berfrekuensi tinggi lebih cepat
menginduksi screw tanpa memanaskan kumparan terlebih
dahulu sehingga sehingga pemanasan pada screw lebih
cepat tercapai akibat arus eddy yang terjadi pada screw.

Gambar 12 Pembagian Panas pada Induction Heater dan


Heater Konvensional
3. Peningkatan Kualitas dan Pemerataan Panas
Kualitas panas yang dihasilkan oleh induction
heater lebih merata dibandingkan dengan heater
konvensional. Transfer panas yang dihasilkan pada
heater konvensional ke screw cenderung tidak merata
akibat panas hanya dihasilkan pada band heater
sehingga semakin jauh jarak antara band heater yang
satu dengan yang lain maka panas yang di transferkan
semakin tidak merata, dimana titik yang cenderung

dekat dengan band heater lebih cepat mencapai panas


yang dibutuhkan di bandingkan dengan titik yang jauh
dari band heater. Hal ini dapat dilihat pada gambar
dibawah ini.

Gambar 13 Pembagian Panas pada Induction Heater dan


Heater Konvensional
4. Life Time Operasi Koil (Kumparan) Lebih Lama
Operasi dari koil atau kumparan penginduksi dari
induction heater memiliki life time yang lebih lama
dibandingkan dengan heater konvensional, hal ini
dikarenakan saat memanaskan screw, elemen pemanas atau
koil pada induction heater tidak akan ikut memanas. Koil
pada induction heater hanya berfungsi sebagai penghasil
fluks yang digunakan untuk menimbulkan induksi pada
screw sehingga pada screw akan timbul arus eddy dan
screw akan menjadi panas.
IV. Penutup
4.1 Kesimpulan
1. Induction Heater menghasilkan panas didalam material
screw sehingga energi dapat digunakan secara
maksimal untuk memanaskan material.
2. Induction heater bekerja secara optimal pada frekuensi
tinggi, pada sistem ini induction heater bekerja pada
frekuensi 27 KHz.
3. Induction heater adalah sistem pemanasan objek
dengan memanfaatkan rugi-rugi yang terjadi pada
kumparan yang dialiri arus :
1. Arus Eddy
2. Rugi-rugi Hysterisis
3. Efek kulit
5. Panas yang dihasilkan pada material sangat bergantung
kepada besarnya arus eddy yang diinduksikan oleh
lilitan penginduksi.
6. Induction heater memiliki efisiensi yang lebih baik
dibandingkan heater konvensional. Penggunaan
induction heater menghemat daya hingga 30% dari
daya yang digunakan untuk heater konvensional.
7. Di PT. Polidayaguna Perkasa penggantian heater
konvensional ke induction heater memiliki BEP (Back
Even Point) selama 4 tahun.
8. Kualitas panas yang dihasilkan oleh induction heater
lebih merata dibandingkan dengan heater konvensional.
9. Operasi dari koil atau kumparan penginduksi dari
induction heater memiliki life time yang lebih lama
dibandingkan dengan heater konvensional.

4.2 Saran
1. Perlu adanya perencanaan dan perhitungan lebih
lanjut untuk meningkatkan efisiensi dan
penghematan energi pada penggantian sistem
heater.
2. Perlu dilakukan penelitian mengenai peningkatan
frekuensi kerja induction heater dan pemilihan
bahan dari screw.
3. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai
induction heater yang menggunakan inverter
bertopologi quasy resonant.
DAFTAR PUSTAKA
1) Presentation
Nxheat
Melt
Tecnology
Revolutionary New Melt Technology For The
Plastic Industri. XALOY.2010
2) Manual Book Extrusion Processes. Reliance
Electric. 2000
3) Manual Book User and
Maintenance Senfa
Extrusion. Yung Kang City, Taiwan,
4) Pandu Sandi P. Tugas Akhir Perancangan Inverter
Resonan Seri Frekuensi Tinggi Sebagai Suplai
Pemanas Induksi Pada Alat Pemanas Bearing.
Universitas Dipponegoro.2010
5) Alberth Zachariace N. Tugas Akhir Perancangan
Modul Inverter Frekuensi Tinggi Sebagai Pemanas
Induksi Untuk Aplikasi Pengering Pakaian.
Universitas Dipponegoro.2009
6) AN9012 : Induction Heating System Topology
Review, Fairchaild semiconductor, 2000.
7) www.sextrusion.con.tw
8) www.XAloy.com
9) http://dunia-listrik.blogspot.com/
BIODATA
SINGGIH KURNIAWAN
Penulis yang lahir di Pringsewu, 9
Januari 1990 mempunyai riwayat
pendidikan di SD Muhammadiyah,
SMPN 1 Pringsewu, SMAN 10
Yogyakarta dan saat ini sedang
menjalankan studi strata 1 di Teknik
Elektro
Universitas
Diponegoro
konsentrasi teknik tenaga listrik.

Pembimbing

Ir. Agung Warsito, DHET