Anda di halaman 1dari 11

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Hipertensi
1. Definisi
Hipertensi adalah suatu keadaan ketika tekanan darah di pembuluh
darah meningkat secara kronis. Hal tersebut dapat terjadi karena jantung
bekerja lebih keras memompa darah untukmemenuhi kebutuhan oksigen dan
nutrisi tubuh.
MenurutThe Seventh of The Joint National Committee on Prevention,
Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure (JNC 7)
klasifikasi tekanan darah pada orang dewasa terbagi menjadi kelompok
normal, prehipertensi, hipertensi derajat 1, dan hipertensi derajat 2.

Tabel 2.1 Klasifikasi Tekanan Darah Menurut JNC 7


Klasifikasi Tekanan Darah Menurut JNC 7
KlasifikasiTekananDarah

TDS (mmHg)

Normal

< 120

Dan

< 80

Prehipertensi

120-139

Atau

80-90

Hipertensi derajat 1

140-159

Atau

90-99

Hipertensi derajat 2

160

Atau

100

TDD (mmHg)

2. Epidemiologi
Berdasarkan Riskesdas 2013, diketahui prevalensi hipertensi di Indonesia
mencapai 31,7% dari populasi pada usia 18 tahun ke atas. Dari jumlah itu,
60% penderita hipertensi berakhir pada stroke. Sedangkan sisanya pada
jantung, gagal ginjal, dan kebutaan. Pada orang dewasa, peningkatan
tekanan darah sistolik sebesar 20 mmHg menyebabkan peningkatan 60%
risiko

kematian

akibat

penyakit

kardiovaskuler.

Data

Riskesdas

menyebutkan hipertensi sebagai penyebab kematian nomor tiga setelah


stroke dan tuberkulosis, jumlahnya mencapai 6,8% dari proporsi penyebab
kematian pada semua umur di Indonesia.
3. Patofisiologi
Mekanisme

terjadinya

hipertensi

adalah

melalui

terbentuknya

angiotensin II dari angiotensin I oleh angiotensin I-converting enzyme


(ACE). Darah mengandung angiotensinogen yang diproduksi di hati.
Selanjutnya oleh hormon, renin (diproduksi oleh ginjal) akan diubah
menjadi angiotensin I. Oleh ACE yang terdapat di paru-paru, angiotensin I
diubah menjadi angiotensin II. Angiotensin II inilah yang memiliki
peranan kunci dalam menaikkan tekanan darah melalui dua aksi utama.
Aksi pertama adalah meningkatkan sekresi hormon antidiuretik (ADH)
dan rasa haus. Dengan meningkatnya ADH, sangat sedikit urin yang
diekskresikan ke luar tubuh, sehingga menjadi pekat dan tinggi
osmolalitasnya. Untuk mengencerkannya, volume cairan ekstraseluler
akan ditingkatkan dengan cara menarik cairan dari bagian intraseluler.

Akibatnya, volume darah meningkat, yang pada akhirnya akan


meningkatkan tekanan darah. Aksi kedua adalah menstimulasi sekresi
aldosteron dari korteks adrenal. Aldosteron merupakan hormon steroid
yang memiliki peranan penting pada ginjal. Untuk mengatur volume
cairan ekstraseluler, aldosteron akan mengurangi ekskresi NaCl (garam)
dengan cara mereabsorpsinya dari tubulus ginjal. Naiknya konsentrasi
NaCl akan diencerkan kembali dengan cara meningkatkan volume cairan
ekstraseluler yang pada gilirannya akan meningkatkan volume dan tekanan
darah.
4. Faktor Risiko
Hipertensi disebabkan oleh faktor-faktor yang dapat dimodifikasi atau
dikendalikan serta faktor yang tidak dapat dimodifikasi. Faktor yang tidak
dapat dimodifikasi atau dikendalikan, antara lain genetik, umur, jenis
kelamin, etnis, penyakit ginjal, obat-obataan, dankeracunan timbal akut.
Faktor yang dapat dimodifikasi atau dikendalikan, yaitu stres, nutrisi,
merokok, obesitas dan kurang olahraga.
5. Gejala dan Tanda Klinis
Hipertensi sulit disadari oleh seseorang karena hipertensi tidak memiliki
gejala khusus. Gejala ringan seperti pusing, gelisah, mimisan, dan sakit
kepala biasanya jarang berhubungan langsung dengan hipertensi.
Hipertensi dapat diketahui dengan mengukur tekanan darah secara teratur.
Pada sebagian besar penderita, hipertensi tidak menimbulkan gejala,
meskipun secara tidak sengaja beberapa gejala terjadi bersamaan dan

dipercaya

berhubungan

dengan

tekanan

darah

tinggi

(padahal

sesungguhnya tidak.
6. Komplikasi
Komplikasi terbanyak yang ditemui pada pasien hipertensia dalah
gabungan antara stroke, gagal jantung dan penyakitginjal kronis 39-47,4%.
Sedangkan komplikasi stroke mencapai 23,3-28,4%, gagal jantung 5,96,2% dan penyakit ginjal 2,6-2,8%.
7. Tatalaksana
Tujuan pengobatan adalah menurunkan morbiditas dan mortalitas
akibat hipertensi dengan memelihara tekanan darah sistolik dibawah 140
mmHg, tekanan diastolik dibawah 90 mmHg disamping mencegah reisiko
penyakit kardiovaskuler lainnya.
Berikut ini merupakan bagan algoritma penanganan hipertensi menurut
JNC VIII .
8. Pencegahan
Berbagai cara yang terbukti mampu untuk mencegah terjadinya
hipertensi,yaitu pengendalian berat badan, pengurangan asupan natrium
klorida, aktifitas alkohol, pengendalian stres

B. Stres
1. Definisi
Lazarus dan Folkman, menyatakan, stres psikologis adalah sebuah
hubungan antara individu dengan lingkungan yang dinilai oleh individu
tersebut sebagai hal yang membebani atau sangat melampaui kemampuan

seseorang dan membahayakan kesejahteraannya. Stres adalah stimulus atau


situasi yang menimbulkan distres dan menciptakan tuntutan fisik dan psikis
pada seseorang. Stres membutuhkan koping dan adaptasi. Sindrom adaptasi
umum atau Teori Selye, menggambarkan stres sebagai kerusakan yang terjadi
pada tubuh tanpa mempedulikan apakah penyebab stres tersebutpositif atau
negatif. Respons tubuh dapat
2. Sumber
Stresor adalah semua kondisi stimulasi yang berbahaya dan
menghasilkan reaksi stres, misalnya jumlah semua respons fisiologik
nonspesifik yang menyebabkan kerusakan dalam sistem biologis. Sumber
stres yang dapat menjadi pemicu munculnya stres pada individu yaitu:
a. Stressor atau Frustrasi Eksternal
Frustrasi adalah kekecewaan yang mendalam. Stressor eksternal
berasal dari luar diri seseorang, misalnya perubahan bermakna dalam
suhu lingkungan, perubahan dalam peran keluarga atau sosial, tekanan
dari pasangan.
b. Stressor atau Frustrasi Internal
Stressor internal berasal dari dalam diri seseorang, misalnya demam,
kondisi seperti kehamilan atau menopause, atau suatu keadaan emosi
seperti rasa bersalah.
3. Gejala
Taylor menyatakan, stress dapat menghasilkan berbagai respon.
Berbagai peneliti telah membuktikan bahwa respon-respon tersebut dapat

berguna sebagai indikator terjadinya stres pada individu, dan mengukur


tingkat stres yang dialami individu. Respon stres dapat terlihat dalam
berbagai aspek, yaitu:
a. Respon fisiologis, dapat ditandai dengan meningkatnya tekanan darah,
detak jantung, detak nadi, dan sistem pernapasan.
b. Respon kognitif, dapat terlihat lewat terganggunya proses kognitif
individu, seperti pikiran menjadi kacau, menurunnya daya konsentrasi,
pikiran berulang, dan pikiran tidak wajar.
c. Respon emosi, dapat muncul sangat luas, menyangkut emosi yang
mungkin dialami individu, seperti takut, cemas, malu, marah, dan
sebagainya.
d. Respon tingkah laku, dapat dibedakan menjadi fight, yaitu melawan
situasi yang menekan, dan flight, yaitu menghindari situasi yang
menekan.
Gejalagejala lain yang dapat dilihat dari orang yang sedang mengalami
stres antara lain cemas, depresi, makan berlebihan, berpikiran negatif, tidur
berlebihan, diare, konstipasi, sakit kepala, kehilangan nafsu makan, dan
mudah tersinggung. Apabila seseorang mengalami satu atau lebih dari gejalagejala tersebut maka kemungkinan orang tersebut mengalami stres.
4. Stres Berdasarkan Jenis Kelamin
a. Stres pada Wanita
Fluktuasi

estrogen

dalam

tubuh

wanita

dapat

membuat

parasaannya berubah-ubah. Selama periode stres, kadar estrogen

10

menurun. Kelenjar adrenalin menghasilkan hormon stres lebih banyak


dari pada estrogen. Selama fase ini, ketika kadar estrogen menurun,
terjadi pembentukan plak pembuluh darah yang meningkatkan resiko
terjadinya peyakit jantung. Setelah mencapai masa menopouse, kadar
estrogen pada wanita menurun hingga 80%. Ini adalah masa titik balik
yang penting pada kehidupan wanita. Banyak perubahan besar yang
terjadi seperti muka kemerahan dan terasa panas, masa tulang yang
rendah hingga mengalami osteoporosis. Selain itu estrogen melindungi
sistem jantung dan pembuluh darah sampai pada masa menopouse.
Setelah menopouse, wanita menjadi rentan terhadap masalah jantung,
yang kemungkinan sama dengan pria.
b. Stres pada Laki-Laki
Penurunan kadar testosteron berpengaruh pada stres fisik dan
psikologis.

Testosteron

adalah

hormon

yang

memberi

tanda

maskulinitas pada pria, seperti rambut, suara yang berat, dan figur
tubuh.
Testosteron berkaitan dengan dominan pria. Hormon ini juga
berkaitan dengan pola pikir sifat mereka dengan wanita. Cara mereka
belajar, rasionalitas, dan keengganan untuk menunjukkan perasaannya
merupakan ciri khas pria. Kedua jenis kelamin ini memang benarbenar
berbeda, baik secara fisik maupun mental.

11

C. Hubungan Stres dengan Hipertensi


Hubungan antara stres dengan hipertensi diduga melalui saraf simpatis
yang dapat meningkatkan tekanan darah secara intermiten. Stres yang
berlangsung lama akan dapat mengakibatkan peninggian tekanan darah yang
menetap. Dalam keadaan stres pembuluh darah akan menyempit sehingga
menaikkan tekanan darah
Menurut Depkes RI 2006 dan Sutanto 2010, stres atau ketegangan jiwa
(rasa murung, tertekan, marah, dendam, takut dan bersalah). Ketika otak
menerima sinyal bahwa seseorang sedang stres, perintah untuk meningkatkan
sistem simpatetik berjalan dan mengakibatkan hormon stres dan adrenalin
meningkat. Lever melepaskan gula dan lemak dalam darah untuk menambah
bahan bakar. Nafas menjadi lebih cepat sehingga jumlah oksigen bertambah.
Sehingga menyebabkan kerja jantung menjadi semakin cepat.
Sutanto menjelaskan bahwa pelepasan hormon adrenalin oleh anak ginjal
sebagai akibat stres berat akan menyebabkan naikknya tekanan darah dan
meningkatkan kekentalan darah yang membuat darah mudah membeku atau
menggumpal.

Adrenalin

juga

dapat

mempercepat

denyut

jantung,

menyebabkan gangguan irama jantung dan mempersempit pembuluh darah


koroner. Dengan demikian aliran darah ke otot jantung akan berkurang atau
terhambat sehingga dapat menyebabkan kematian. Seseorang dalam kondisi
stres akan mengalami hal-hal seperti mudah jenuh, mudah marah, bertindak
secara agresif dan defensif, sulitkonsentrasi, pelupa serta selalu merasa tidak

12

sehat. Syaifudin menambahkan bahwa hubungan stres dengan hipertensi juga


dapat meningkatkan retensi air dan garam.
Menurut Sarafindo (1990) dalam Smet (1994), stres adalah suatu kondisi
disebabkan oleh transaksi antara individu dengan lingkungan yang
menimbulkan persepsi jarak antara tuntutan-tuntutan yang berasal dari situasi
dengan sumber daya sistem biologis, psikologis dan sosial dari seseorang.
Selain itu, stres dapat meningkatkan tekanan darah untuk sementara waktu dan
bila stres sudah hilang tekanan darah bisa normal kembali. Peristiwa
mendadak menyebabkan stres dapat meningkatkan tekanan darah. Baliwati
(2004) mengungkapkan bahwa pekerjaan juga berhubungan dengan tingkat
penghasilan. Sementara itu, penghasilan berhubungan dengan gaya hidup
seseorang. Berbagai jenis pekerjaan akan menimbulkan respon stress atau
tekanan psikis yang berbeda akibat pengahasilan yang dimiliki. Pegawai tetap
cenderung lebih stabil daripada pegawai tidak tetap. Hal ini sejalan dengan
hasil penelitian Penelitian Caval Cante (1995) dalam Hasirungan (2002),
melihat dari 1766 responden, 76 diantaranya hipertensi. Dari observasi
diketahui bahwa sebagian besar individu dengan hipertensi memiliki
pendapatan keluarga yang rendah dan tingkat pendidikan yang rendah.
Stres dianggap sebagai suatu yang buruk ketika seseorang tidak mampu
menanggulangi stressor dengan baik. Stressor dapat menggangu kesehatan
emosi maupun fisik. Berikut ini adalah beberapa cara untuk melepaskan diri
dari stres, yaitu : Pertama, memperbaiki kondisi emosi, merelaksasikan tubuh
dan otak serta pikirkan hal-hal yang menyenangkan. Berbagai penelitian

13

mengenai bio-feedback telah menunjukkan bahwa manusia sebenarnya


memiliki kamampuanuntuk mengendalikan respons relaksasinya dan sejumlah
orang yang melakukan bio-feedback, kunci untuk memicu munculnya respons
relaksasi ternyata sederhana, yaitu memikirkan hal-hal yang menyenangkan
dan bernapas dengan tenang secara teratur. Hal ini bermanfaat mengatasi stres
dengan cepat dan mengurangi jumlah kejadian yang dipersepsikan sebagai
stresor. Kedua, aromaterapi. Ketiga, keluar dari stresor atau pemicu stress
serta putuskan lingkaran stres. Keempat, seimbangkan pola makan. Untk
melakukan diet sehat konsumsilah makanan bergizi tinggi, rendah lemak dan
kolesterol, banyak serat, tidak mengandung pengawet, kurangi junkfood serta
banyak minum air putih. Kelima, tidur yang berkualitas. Dan Keenam, hindari
alkohol dan merokok. Hasil penelitian Sigarlaki (2006) di Desa Bocor,
Kecamatan Bulus Pesantren, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah didapatkan
bahwa responden yang mengalami stres terhadap jenis hipertensi, didapatkan
bahwa responden prehipertensi yang mengaku tidak mengalami stres (6,86%),
sementara yang menderita hipertensi grade I (37,25%), dan yang menderita
hipertensi grade II (22,57%). Dari hasil pengolahan penyebab stres terhadap
hipertensi, didapatkan bahwa sebagian besar responden mengaku penyebab
stres terbanyak yang dialami adalah karena ekonomi (47,05%). Hal ini
disebabkan karena mereka berpenghasilan rendah. Tingkat pendidikan, status
ekonomi dan lingkungan sosial kultural dari seseorang merupakan faktor yang
harus dipertimbangkan dalam pengembangan program kesehatan masyarakat
(Baliwati, 2004). Penelitian Yuliarti (2007) menunjukkan bahwa tidak

14

terdapat hubungan yang bermakna antara stres dengan kejadian hipertensi.


Namun, penelitian Hasirungan bahwa terdapat hubungan yang bermakna
antara stres dengan kejadian hipertensi.

15