Anda di halaman 1dari 33

TRANSMISI BUDAYA

DAN PERKEMBANGAN INSTITUSI PENDIDIKAN


1. Kebudayaan dan Sub-Budaya
Kebudayaan merupakan sistem gagasan yang telah berkembang secara historik
dan memiliki organisasi dan struktur organisasi yang berkembang secara terus
menerus yang dipelajari oleh anggota-anggota suatu mansyarakat. Ruth Benedict
menyatakan bahwa kebudayaan sebenarnya adalah istilah sosiologis untuk tingkah
laku yang bisa dipelajari. Dengan demikian tingkah laku manusia bukanlah
diturunkan seperti tingkah laku binatang tetapi yang harus dipelajari kembali
berulang-ulang dari orang dewasa dalam suatu generasi. Di sini kita lihat betapa
pentingnya peranan pendidikan dalam pembentukan kepribadian manusia.
Para ahli psikologi behaviorisme melihat kelakuan manusia sebagai suatu
rekasi dari rangsangan dari sekitarnya. Di sinilah peranan pendidikan di dalam
pembentukan kelakuan manusia. John Gillin menyatukan pandangan behaviorisme
dan psikoanalis mengenai perkembangan kepribadian manusia sebagai berikut:
1. kebudayaan memberikan kondisi yang disadari dan yang tidak disadari
untuk belajar
2. kebudayaan mendorong secara sadar ataupun tidak sadar akan reaksi-reaksi
kelakukan tertentu. Jadi selain kebudayaan meletakkan kondisi yang
terakhir ini kebudayaan merupakan perangsang- perangsang untuk
terbentuknya kelakuan-kelakuan tertentu
3. kebudayaan mempunyai sistem reward and punishment terhadap
kelakuan-kelakuan tertentu. Setiap kebudayaan akan mendorong suatu
bentuk kelakuan yang sesuai dengan sistem nilai dalam kebudayan tersebut
dan sebaliknya memberikan hukuman terhadap kelakuan-kelakuan yang
bertentangan atau mengusik ketentraman hidup suatu masyarakat tertentu
LANDASAN ILMIAH ILMU PENDIDIKAN |

4. kebudayaan cenderung mengulang bentuk-bentuk kelakuan tertentu melalui


proses belajar.
Sistem gagasan yang bersumber dari akal manusia melahirkan bentuk-bentuk
tingkah laku berpola dan berbagai jenis kebudayaan materil. Karena itu secara analitis
Koentjaraningrat mengemukakan tiga wujud kebudayaan,yaitu wujud kompleks ideide,wujud kompleks aktivitas kelakuan berpola dan wujud benda-benda hasil karya
manusia.
Wujud pertama ada dalam fikiran anggota-anggota suatu masyarakat atau bila
telah dituangkan dalam berbagai media,maka akan ditemui dalam berbagai media
cetak atau media elektronik. Dalam masyarakat seringkali wujud ideal kebudayaan
ini dinamakan adat tata kelakuan atau adat saja.Kebudayaan ideal ini berfungsi
sebagai tata kelakuan yang mengatur,mengendalikan dan memberi arah kepada
kelakuan dan perbuatan manusia di dalam masyarakat. Menurut Koentjaraningrat
wujud ideal ini akan berbentuk nilai,norma,hukum dan peraturan-peraturan. Nilai
adalah bentuk yang paling abstrak dan luas cakupannya sedang aturan sopan santun
adalah yang paling kongkrit dan sempit ruang lingkupnya.
Wujud kedua dari kebudayaan adalah tingkah laku nyata yang berpola yang
dapat diamati dalam aktivitas-aktivitas anggota mansyarakat yang berintegrasi,
berhubungan,dan bergaul berdasarkan tuntunan nilai,norma,peraturan atau adat
istiadat tertentu.Kelakuan berpola ini seringkali dinamakan sistem sosial yang secara
kongkrit dapat diamati,didokumentasi dan difilmkan.
Wujud kebudayaan yang ketiga adalah hasil karya anggota-anggota suatu
masyarakat dan semua benda-benda yang mempunyai makna dalam kehidupan suatu
kelompok atau suatu masyarakat.

LANDASAN ILMIAH ILMU PENDIDIKAN |

Ketiga wujud kebudayaan tersebut disampaikan dari suatu generasi ke


generasi yang berikutnya. Proses penyampaian kebudayaan tersebut secara umum
dinamakan transimisi budaya.
Proses transmisi meliputi proses-proses imitasi, identifikasi dan sosialisasi.
Imitasi adalah meniru tingkah laku dari sekitar. Pertama-tama tentunya imitasi di
dalam lingkungan keluarga dan semakin lama semakin meluas terhadap masyarakat
lokal. Transmisi unsur-unsur tidak dapat berjalan dengan sendirinya. Seperti telah
dikemukakan manusia adalah aktor dan manipulator dalam kebudayaannya. Oleh
sebab itu, unsur-unsur tersebut harus diidentifikasi. Proses identifikasi itu berjalan
sepanjang hayat sesuai dengan tingkat kemampuan manusia itu sendiri. Selanjutnya
nilai-nilai atau unsur-unsur budaya tersebut haruslah disosialisasikan artinya harus
diwujudkan dalam kehidupan yang nyata di dalam lingkungan yang semakin lama
semakin meluas. Nilai-nilai yang dimiliki seseorang harus mendapatkan pengakuan
lingkungan sekitarnya. Artinya kelakuan-kelakuan tersebut harus mendapatkan
pengakuan sosial yang berarti bahwa kelakuan-kelakuan yang dimiliki tersebut adalah
yang sesuai atau yang seimbang dengan nilai-nilai yang ada dalam lingkungannya.
Ketiga

proses

transmisi

tersebut

berkaitan

dengan

bagaimana

cara

mentransmisikannya. Dalam hal ini ada dua bentuk yaitu peran serta dan bimbingan.
Cara transmisi dengan peran serta antara lain dengan melalui perbandingan. Demikian
pula peran serta dapat berwujud ikut serta di dalam kegiatan sehari- hari di dalam
lingkungan masyarakat. Bentuk bimbingan dapat berupa instruksi, persuasi,
rangsangan dan hukuman. Dalam pelaksanaan bimbingan tersebut melalui pranatapranata tradisional seperti inisiasi, upacara-upacara yang berkaitan dengan tingkat
umur, sekolah agama, dan sekolah formal yang sekuler.

LANDASAN ILMIAH ILMU PENDIDIKAN |

Dalam menganalisis kebudayaan perlu dipahami konsep sub-cultureyaitu


sebuah unit dalam sebuah kebudayaan yang lebih besar,sebuah unit yang memiliki
beberapa hakekat dari ideologi sebuah kebudayaan yang lebih besar tetapi dapat
dikenal secara khusus karena ia memiliki pola-pola berfikir tersendiri. Dalam
pembicaraan mengenai kebudayaan dunia ada orang yang membuat kategori subbudaya timur dan sub-budaya barat. Secara sederhana TO Thi Anh menggambarkan
karakteristik kebudayaan barat dan timur dalam kalimat-kalimat berikut ini. Yang
pertama barat memilih menguasai fisis dan timur menguasai Psike. Untuk orang
barat menguasai alam berarti menerima tugas berat untuk merobah dunia,dan hasilnya
adalah ilmu pengetahuan,teknik,kekayaan,standar hidup yang tinggi,organisasiorganisasi ekonomi,sosial dan politik. Harganya : kerja keras,ketegangan kontradiksi,
kecemasan mendasar dan ketidakteraturan permanen.
Untuk orang timur
berjuang melawan

menguasai roh berarti menguasai ambisi ,nafsu dan

dunia,mencari damai batin dan menjaga hubungan harmonis

dengan orang lain,dengan alam dan dengan yang absolut. Konsekuensinya :


kemiskinan,sikap moderat,kesabaran,menikmati hidup sebagai suatu tujuan dan bukan
sebagai suatu cara,santai dan bijaksana. Yang kedua orang barat memusatkan
perhatian pada martabat pesona ,beserta hak-hak dan kebebasannya dengan resiko
individualisme. Timur memilih mengagungkan totalitas,disitu manusia sebagai
anggota dengan resiko kehilangan hak-haknya.
Dalam sebuah masyarakat majemuk berbagai sub-budaya akan dapat pula
ditemui. Umpanya dalam masyarakat Amerika serikat akan ditemui sub-budaya yang
berasal dari adanya perbedaan asal-usul etnis dan ras. Akan ada pula sub-budaya yang
berdasarkan kepada seks dan umur, daerah dan kelas sosial. Dalam konteks sub-

LANDASAN ILMIAH ILMU PENDIDIKAN |

budaya yang didasarkan atas umur akan ditemui adanya sub-budaya murid-murid
sekolah dasar dan menengah,serta pendidikan tinggi. Antara berbagai sub-budaya
dalam suatu masyarakat terdapat saling hubungan, baik dalam bentuk kerjasama,
persaingan,penyeragaman dan pemeliharaan ketakseragaman.
2. Transimisi Budaya dan Pendidikan.
Dalam kepustakaan yang berhubungan dengan penyampaian kebudayaan dari
suatu generasi ke generasi berikutnya ditemui beberapa istilah , yakni enculturation
(pembudayaan/pewarisan),

socialization

(sosialisasi/pemasyarakatan),

education

(pendidikan), dan schooling (persekolahan).


Menurut Herskovits, bahwa enkulturasi berasal dari aspek-aspek dari
pengalaman belajar yang memberi ciri khusus atau yang membedakan manusia dari
makhluk lain dengan menggunakan pengalaman-pengalaman hidupnya. Proses
enkulturatif bersifat kompleks dan berlangsung hidup, tetapi proses tersebut berbedabeda pada berbagai tahap dalam lingkaran kehidupan seorang. Enkulturasi terjadi
secara agak dipaksakan selama awal masa kanak-kanak tetapi ketika mereka
bertambah dewasa akan belajar secara lebih sadar untuk menerima atau menolak nilainilai atau anjuran-anjuran dari masyarakatnya. Bahwa tiap anak yang baru lahir
memiliki serangkaian mekanisme biologis yang diwarisi, yang harus dirubah atau
diawasi supaya sesuai dengan budaya masyarakatnya.
Kesamaan dari konsep enkulturasi dengan konsep sosialisasi terlihat dari
pernyataan Herkovits yang mengatakan bahwa sosialisasi menunjukkan proses
pengintegrasi individu ke dalam sebuah kelompok sosial, sedangkan enkulturasi
adalah proses yang menyebabkan individu memperoleh kompetensi dalam
kebudayaan kelompok.

LANDASAN ILMIAH ILMU PENDIDIKAN |

Menurut Hansen, enkulturasi mencakup proses perolehan keterampilan


bertingkah laku, pengetahuan tentang standar-standar budaya, dan kode-kode
perlambangan seperti bahasa dan seni, motivasi yang didukung oleh kebudayaan,
kebiasaan-kebiasaan menanggapi, ideologi dan sikap-sikap. Sedangkan sosialisasi
menurut Gillin dan Gillin adalah proses yang membawa individu dapat menjadi
anggota yang fungsional dari suatu kelompok, yang bertingkah laku menurut standarstandar kelompok, mengikuti kebiasaan-kebiasaan kelompok , mengamalkan tradisi
kelompok dan menyesuaikan dirinya dengan situasi-situasi sosial yang ditemuinya
untuk mendapatkan penerimaan yang baik dari teman-teman sekelompoknya.
Bagi Herskovits, pendidikan (education) adalah directed learning dan
persekolahan (schooling) adalah formalized learning. Dalam literature pendidikan
dewasa ini dikenal istilah pendidikan formal, informal dan non-formal. Pendidikan
formal adalah system pendidikan yang disusun secara hierarkis dan berjenjang secara
kronologi mulai dari sekolah dasar sampai ke universitas dan disamping pendidikan
akademis umum termasuk pula bermacam-macam program dan lembaga untuk
pendidikan kejuruan teknik dan profesional.
Pendidikan informal adalah pendidikan seumur hidup yang memungkinkan
individu

memperoleh

sikap-sikap,

nilai-nilai,

keterampilan-keterampilan

dan

pengaruh-pengaruh yang ada di lingkungannya dari keluarga, tetangga. Label


informal berasal dari kenyataan bahwa tipe proses belajarnya bersifat tidak
terorganisasi dan tidak tersistematis. Pendidikan informal biasanya dilaksanakan
dalam masyarakat sederhana dimana belum ada sekolah.
Karangan Margared Mead mengenai pendidikan dalam masyarakat sederhana
(1942), dimana ia membedakan antara learning cultures dan teaching cultures atau
kebudayaan belajar dan kebudayaan mengajar. Dalam golongan yang pertama, warga

LANDASAN ILMIAH ILMU PENDIDIKAN |

masyarakatnya belajar dengan cara yang tidak resmi yaitu dengan berperan serta
dalam kehidupan rutin sehari-hari. Dimana mereka memperoleh segala pengetahuan,
kemampuan dan keterampilan yang mereka perlukan untk dapat hidup dengan layak
dalam masyarakat dan kebudayaan mereka sendiri. Dalam golongan yang kedua,
warga masyarakat mendapat pelajaran dari warga-warga lain yang lebih tahu, yang
seringkali dilakukan dalam pranata-pranata pendidikan yang resmi, dimana mereka
memperoleh segala pengetahuan, kemampuan dan keterampilan yang mereka
perlukan.
Pendidikan non-formal merupakan kegiatan terorganisasi di luar kerangka
sekolah formal

atau

sistem

universitas

yang ada

yang bertujuan untuk

mengkomunikasikan gagasan-gagasan tertentu, pengetahuan, sikap-sikap. Pendidikan


non-formal memusatkan perhatian kepada perbaikan kehidupan sosial dan
kemampuan dalam pekerjaan. Pendidikan non-formal lebih berorientasi terhadap
menolong individu-individu memecahkan masalah mereka, bukan pada penyerapan
isi kurikulum tertentu. Pengajaran dilakukan melalui kerjasama dengan guru,
umpamanya dengan pekerja-pekerja ahli, pekerja sosial, penyuluh pertanian, dan
petugas kesehatan.
Berbagai saluran dan media pendidikan telah digunakan dalam transmisi
budaya mulai dari keluarga,sekolah,teman sebaya dan media massa dan lingkungan
kerja.
a. Lingkungan keluarga
Kajian Antropologi pendidikan, lingkungan keluarga merupakan unit sosial
yang paling kecil dan menjadi salah satu lingkungan yang mendapat perhatian penting
dalam mengenali fenomena sosial yang berimplikasi kepada pengenalan sistem
kekerabatan dan organisasi sosial serta sistem mata pencaharian hidupnya. Demikian

LANDASAN ILMIAH ILMU PENDIDIKAN |

halnya dengan mengenal sitem pewarisan kebudayaan, keluarga mempunyai peranan


penting karena dalam keluarga itulah suatu generasi dilahirkan dan dibesarkan.
Mereka mendapatkan pelajaran pertama kali di lingkungan keluarga, apalagi bagi
masyarakat yang belum mengenal dan menciptakan lingkungan pendidikan formal.
Di dalam lingkungan keluarga terdapat fungsi utama keluarga, yaitu:
a.

Fungsi seksual keluarga, malalui perkawinan

b.

Pusat perekonomian

c.

Fungsi edukasi

Inti proses pewarisan budaya melalui keluarga adalah terjadinya interaksi


berjalan perlahan tetapi pasti tanpa prosedur, yang berbelit-belit. Adapun fokus
perhatiannya yakni dengan meneliti tentang pola pengasuhan anak-anak.
b. Lingkungan Sekolah
adalah sarana yang diciptakan oleh masyarakat yang berfungsi untuk
melaksanakan pembelajaran. Pendidikan di sekolah dalam krangka pewarisan budaya
jelas sekali arahnya. Para pendidik yang bertugas sebagai guru melakukan
penyampaian pengetahuan dan interaksi moral itu berdasarkan rancangan adalah
program yang disesuaikan dengan sistem pengetahuan dan nilai-nilai yang dianut oleh
masyarakat.
Proses pewarisan budaya di sekolah dilakukan secara bertahap, terencana dan
terus menerus. Cara pewarisan melalui lembaga sekolah itu hanya berlaku bagi
masyarakat yang berkebudayaannya kompleks.
c. Media massa adalah
suatu bagian dalam masyarakat yang bertugas menyebarluaskan berita, opini,
pengetahuan, dsb. Sifat media massa adalah mencari bahan pemberitaan yang aktual
(hangat), menarik perhatian, dan menyangkut kepentingan bersama. Berdasrkan

LANDASAN ILMIAH ILMU PENDIDIKAN |

sifatnya, media massa salah satu fungsinya sebagai media kontrol yang

terjadinya

berbagai penyimpangan dari nilai dan norma serta aturan yang berlaku di masyarakat.
Selain itu berfungsi juga sebagai sarana pendidikan bagi masyarakat. Melalui media
massa akan terjalin hubungan atau kontak sosial secara tidak langsung antar anggota
masyarakat. Keseluruhan itu menunjukkan besarnya peran media massa dalam
pembentukan pewarisan budaya belajar bagi seluruh anggota masyarakat.
Kita tinggal memilih mana yang paling efektif dan efesien untuk
menyampaikan pesan budaya yang diingini sesuai dengan kemampuan yang tersedia.
3. Perkembangan institusi pendidikan
Dalam

masyarakat

manusia

pendidikan

merupakan

gejala

yang

universal,tetapi tidak semua masyarakat mempunyai sistem persekolahan atau


pendidikan formal.
Menurut Margaret Mead pendidikan formal diluar keluarga kelihatan baru
akan mulai berkembang bila struktur sosial suatu masyarakat sudah cukup
terdifrensiasi sehingga anak-anak dapat memperoleh kedudukan dan peran yang
berbeda dari orang tua mereka. Perkembangan persekolahan juga tergantung kepada
faktor-faktor seperti kemampuan masyarakat untuk membiayai sistem persekolahan,
kemungkinan orang tua membebaskan anak-anak dari pekerjaan produktif menolong
orang tua,dan perhatian dari kelompok-kelompok tertentu dalam mengawasi
penguasaan pengetahuan dari keterampilan tertentu dan dalam memberi kesempatan
kepada generasi muda menguasainya untuk menjamin kesinambungan masyarakat
dan kelestarian pengetahuan.
Dengan adanya faktor-faktor pendorong ini maka dalam berbagai masyarakat
telah berkembang berbagai bentuk sistem persekolahan,termasuk dalam masyarakat
sederhana dengan ekonomi yang masih bersifat subsistensi dan belum mempunyai

LANDASAN ILMIAH ILMU PENDIDIKAN |

aksara. Pemilikan aksara dapat dipakai sebagai salah satu faktor kunci dalam
menentukan tingkat perkembangan kebudayaan.
Hansen mengemukakan perbedaan kualitatif kehidupan masyarakat yang
memiliki aksara dengan masyarakat tanpa aksara berikut ini :
Masyarakat Tanpa Aksara

Masyarakat Beraksara

Jumlah pengetahuan relatif terbatas dan

Jumlah pengetahuan besar dan

tidak berkembang

berkembang

Belajar bersifat informal dan tidak

Belajar bersifat formal dan sistematik

sistematik
Pendidikan ditekankan terutama pada

Pendidikan terutama mengenai

moralitas,etika dan agama

pengetahuan objektif seperti


matematika,sain dan sejarah,kesusteraan

Pengetahuan yang disampaikan terutama

Pengetahuanyang disampaikan terutama

yang bersifat konkrit,pragmatis,dan

bersifat abstrak,dan tidak langsung

berhubungan langsung dengan kehidupan

berhubungan dengan kehidupan anak.

anak.
Mengajar hanya merupakan satu aspek

Mengajar merupakan sebuah pekerjaan

dari seorang dewasa atau seorang


spesialis.
Tidak ada sekolah formal

Ada sekolah formal

Don Adams dan G.M. Reagan menggambarkan perkembangan pendidikan dan


persekolahan serta hubungannya dengan perkembangan diferensiasi masyarakat
secara menarik sekali melalui 4 tahap, yaitu:

LANDASAN ILMIAH ILMU PENDIDIKAN |

10

Tahap pertama adalah pendidikan dalam masyarakat tanpa aksara. Pendidikan


dalam masyarakat ini ditandai oleh proses belajar yang bersifat informal dalam
keluarga dan hubungan-hubungan yang tersusun antara suatu generasi ke generasi
berikutnya untuk memberikan keterampilan-keterampilan ekonomi dan perkenalan
perilaku sosial yang benar.
Tahap kedua,Sebahagian dari proses sosialisasi mulai terdiferensiasi dari
keluarga. Disini para remaja mulai dididik oleh sekelompok orang dewasa yang sudah
terspesialisasi pengetahuan dan keterampilannya.Pada tahap kedua ini umur dan jenis
kelamin penentu siapa yang menjadi siswa. Perhatian terhadap pembawaan telah
menentukan siapa yang menjadi pengajar. Dengan demikian spesialisasi sebagai
pengajar dengan tanggung jawab pengajar yang lebih besar sebagai pendidikan mulai
berkembang.
Tahap ketiga,Ketika masyarakat sudah makin terdiferensiasi dan masalah
seleksi sosial semakin besar, keluarga-keluarga atau kelompok-kelompok tertentu
dalam masyarakat memperoleh kekuasaan yang lebih besar atau keuntungan ekonomi
yang besar, dan pendidikan formal mulai tidak menjadi hak semua anggota
masyarakat. Pendidikan terlihat sebagai institusi yang dikaitkan pada sekelompok
yang relatif kecil yang memegang kekuasaan politik,ekonomi,agama.
Tahap keempat, Hubungan antara pendidikan dan masyarakat menjadi rumit.
Industrialisasi dan peningkatan difrensiasi masyarakat diukur dengan pembagian kerja
dan spesialisasi peran menjadi ciri utama dari masyarakat.Tahap ini memberikan
beban yang besar kepada persekolahan dalam bentuk pendidikan massal,persiapanpersiapan bagi bermacam pekerjaan dan seleksi sosial.

LANDASAN ILMIAH ILMU PENDIDIKAN |

11

Menyertai diferensiasi dan spesialisasi beberapa dekade terakhir, terlihat ada


dua perubahan pendidikan yaitu:
Penyebaran dan ekspansi persekolahan
Asumsi peningkatan peran pendidikan formal dalam meningkatkan perubahan sosial
ekonomi lebih lanjut.
Fungsi sosial dari persekolahan dalam masyarakat modern adalah:
Pengawasan (custodial care).
Penseleksi peran sosial (social role selection).
Indoktrinasi (indoctrination).
Pendidikan (education).
Persekolahan yang dianggap sebagai sebuah industri menghasilkan:
Ilmu pengetahuan (knowledge).
Keterampilan (skills).
Jasa pengawasan (custodial care).
Sertifikasi (sertification).
Kegiatan komunitas (community activity).
Tingkat pendidikan di negara-negara maju merupakan elemen penting dalam
memelihara tingkat pembangunan yang tinggi. Hal ini disebabkan sebagai berikut:
1. Dalam masyarakat maju produksi dan perdagangan semuanya menggunakan sistem
keuangan. Ini berarti dibutuhkan sistem pembukuan yang luas ,pengumpulan dan
penyimpanan informasi yang cermat dan pengaturan kontrak yang kompleks. Hampir
semua peran sosial memerlukan pengetahuan teknis yang lebih canggih dibandingkan
dengan keperluan masyarakat yang kurang maju.
2. Dalam masyarakat modern kebanyakan komunikasi dilaksanakan secara tertulis.
Hukum tertulis telah menggantikan hukum adat. Selanjutnya keharusan soaial

LANDASAN ILMIAH ILMU PENDIDIKAN |

12

menyangkut alokasi tenaga kerja didasarkan pada catatan mengenai lapangan


kerja,lamaran tertulis,surat rekomendasi dan lain-lain.
3. Ketergantungan masyarakat maju terhadap teknologi maju bersifat absolut. Didaerah
perkotaan hampir setengah penduduk berdomisili,kebutuhan akan makanan harus
dipenuhi oleh sistem pertanian berteknologi maju dan diimpor dari luar negeri dengan
membayar dengan hasil-hasil industri yang merupakan produk teknologi maju.
Proses transmisi kebudayaan di dalam masyarakat modern akan menghadapi
tantangan-tantangan yang berat. Disinilah letak peranan pendidikan untuk
mengembangkan kepribadian yang kreatif dan dapat memilih nilai-nilai dari berbagai
lingkungan. Hanya dengan kesadaran terhadap nilai-nilai budaya lokal akan dapat
memberikan sumbangan bagi terwujudnya nilai-nilai global.
Berdasarkan konsep tersebut, maka budaya belajar juga dipandang sebagai
model-model pengetahuan menusia mengenai belajar yang digunakan oleh individu
atau kelompok sosial untuk menafsirkan benda, tindakan dan emosi dalam
lingkungannya. Budaya belajar dapat juga dipandang sebagai proses adaptasi manusia
dengan lingkungannya, baik berupa lingkungan fisik maupun lingkungan sosial.
Sistem pengetahuan belajar digunakan untuk adaptasi dalam kerangka untuk
memenuhi tiga syarat kebutuhan hidup, yakni: (1) syarat dasar alamiah, yang berupa
kebutuhan biologis seperti pemenuhan kebutuhan makan, minum, menjaga stamina,
menjadikan lebih berfungsi organ-organ tubuh manusia; (2) syarat kejiwaan
yaknipemenuhan kebutuhan akan perasaan tenang, jauh dari perasaan-perasaan takut,
keterkucilan, kegelisahan dan berbagai kebutuhan kejiwaan lainnya; (3) syarat dasar
sosial, yakni kebutuhan untuk berhubungan dengan orang lain, dapat melangsungkan
hubungan , dapat mempelajari kebudayaan, dapat mempertahankan diri dari serangan
musuh, dsb. (Suparlan, 1980; Bennet, 1976: 172).

LANDASAN ILMIAH ILMU PENDIDIKAN |

13

2.

Sifat-sifat Budaya Belajar


Kebudayaan etnis di Indonesia jumlah tidak kurang dari 300 buah masing-

masing melekat didalamnya terdapat budaya belajar. Masing-masing budaya atau


budaya belajar memiliki ciri umum yang sama.
a.

Budaya Belajar Dimiliki Bersama


Sifat budaya belajar yang melekat dalam kebudayaan diciptakan oleh

kelompok manusia secara bersama. Karena terlahir dari potensi yang dimiliki
manusia, maka budaya belajar kelompok itu merupakan suatu karya yang dimiliki
bersama. Bermacam-maca jenis kebudayaan tergantung dari pengkategoriannya. Jenis
kebudayaan dapat dipandang dari latar belakang etnis (kebudayaan etnis Sunda, etnis
Jawa, dll), letak geografis (kebudayaan masyarakat pantai atau pegunungan), agama
(kebudayaan muslim, kristen, dll), bahkan dari perkembangannya (kebudayaan
masyarakat kota, pedesaan, dll).
b.

Budaya Belajar cenderung Bertahan dan Berubah

Karena dimiliki bersama, maka kebudayaan cenderung akan dipertahankan bersama.


Kebudayaan yang dipertahankan itu mencirikan jenis kebudayaan yang tertutup dan
bersifat statis. Namun pada sisi yang lain, karena hasil kesepakatan untuk diciptakan
dan dimiliki bersama, maka kebudayaan juga akan dirubah manakala terdapat
kesepakatan untuk melakukannya secara bersama. Sifat berubah suatu kebudayaan
mencerminkan kebudayaan yang terbuka dan bersifat dinamis.
Umumnya budaya belajar cepat atau lambat mengalami perubahan selain
pertahana, namun yang harus dicatat adalah adanya membedakan pada level individu
atau kelompok sosial dalam lamanya bertahan atau cepatnya berubah.

LANDASAN ILMIAH ILMU PENDIDIKAN |

14

c.

Fungsi Budaya Belajar untuk Pemenuhuan Kebutuhan Manusia


Kebudayaan diciptakan bersama dan dikebangkan bersama karena dipercayai

akan berdaya guna untuk keperluan dan memenuhi kebutuhan hidupnya, baik secara
individu maupun kolektif. Ada tiga syarat dasar yang harud dipenuhi oleh manusia
dengan budaya belajarnya, yakni:
a. Syarat dasar alamiah
b. Syarat kejiwaan atau psikologis
c. Kebutuhan dasar sosial.
d. Budaya Belajar Diperoleh Melalui Proses Belajar
Budaya belajar bukanlah sesuatu yang diturunkan secara genetik yangbersifat
herediter, melainkan dihasilkan melalui proses belajar oleh individu atau kelompok
sosial dilingkungannya.
Faktor yang menentukan dalam mempelajari budaya belajar adalah lewat
komunikasi dengan symbol bahasa. Bagaimanapun sederhananya satu kebudayaan
masyarakat, individu atau kelompok sosial pendukungnya masih bisa berkomunikasi
dengan bahasa ciptaannya. Semakin maju suatu budaya belajar, maka struktur
komunikasi berbahasa memperlihatkan kompleksitasnya.
3.

Perwujudan Budaya Belajar


Wujud budaya belajar dalamkehidupan dapat dilihat pada dua kategori bentuk.

Pertama, perwujudan budaya belajar yangbersifat abstrak, dan kedua perwujudan budaya
yang bersifat kongkrit.
Perwujudan budaya belajar yang bersifat abstrak adalah konsekwensi dari cara
pandang budaya belajar sebagai sistem pengetahuan yang diyakini oleh individu atau
kelompok sosial sebagai pedoman dalam belajar.

LANDASAN ILMIAH ILMU PENDIDIKAN |

15

Perwujudan budaya belajar yang diperlihatkan secara kongkrit berupa (a) dalam
prilaku belajar; (b) dalam ungkapan bahasa dalam belajar; dan (c) hasil belajar berupa
material. Perwujudan prilaku belajar individu atau kelompok belajar sosial dapat dilihat
dari interaksi sosial juga dari kondisi resmi dan tidak resmi. Perbedaan dalam kondisi
mencerminkan adanya nilai, norma dan aturan yang berbeda.
Bahasa adalah salah satu perwujudan budaya belajar secara koongkrit pada individu
atau kelompok sisial. Kekurangan dalam menggunakan bahasa sedikit banyak akan
menghambat percepatan dalam merealisasikan dan mengembangkan budaya belajar.
Penguasaan bahasa ilmu pengetahuan dari berbagai bangsa lain memungkinkan akan
memperkuat dan mengembangkan budaya belajar seorang individu atau kelompok sosial.
Dalamkonteks Bangsa Indonesia yang kenyataannya multikultur menunjukkan wujud
berbahasa apa yang mencerminkan budaya belajarnya. Pada suku bangsa tertentu
memperlihatkan jenis bangsa yang masih sederhan. Kesederhanaan dalam bahasa
menunjukkan symbol dalam pengetahuannya.
Hasil belajar berupa material menjadikan perwujudan kongkret dari sistem budaya
belajar individu atau kelompok sosial. Dalam konsep keterampilan hidup terkandung
didalamnya sejumlah kecakapan-kecakapan yang dihasilkan melalui proses pembelajaran
yang berlangsung di lingkungannya, suatu masyarakat. Kecakapan tersebut diantaranya
(a) kecakapan dalam pengendalian diri; (b) kecakapan dalam kehidupan sosial; (c)
kecakapan akademik; (d) kecakapan bidang kejuruan. Perwujudan kecakapan dalam hasil
belajar banyak berupa perbuatan benda ataupun yang lainnya menunjukkan tingkat
budaya belajar yang selama ini ditempuh dan menjadi perhatiannya.

LANDASAN ILMIAH ILMU PENDIDIKAN |

16

Subtansi Budaya Belajar


Subtansi budaya belajar dapat dikategorikan dalam tiga bagian penting, yakni:
(a) sistem pengetahuan budaya belajar; (b) sistem nilai budaya belajar dan sistem etos
budaya belajar; (c) sistem pandangan hidup mengenai budaya belajar.
Sistem budaya belajar yang dimiliki manusia merupakan hasil akumulasi perolehan
pembelajaran sepanjang hidupnya pada lingkungannya, baik dalam lingkungan sosial
maupun alam sebagai bentuk penyesuaian diri dengan kenyataan-kenyataan hidup.
Ada tiga cara manusia mendapatkan pengetahuan belajar yang diperoleh dari
penyesuaian diri dengan lingkungannya, yakni: (a) melalui serangkaian pengalaman
hidupnya tentang kehidupan yang dirasakan, baik pengalaman dalam lingkungan alam
ataupun sosial; (b) melalui berbagai pengajaran yang diperolehnya baik melalui
pembelajaran dirumah masyarakat, ataupun pendidikan di sekolah; (c) pengalaman juga
diperoleh melalui petunjuk-petunjuk yang bersifat simbolik yang sering juga disebut
sebagai komunikasi simbolik.
Faktor-faktor yang memperngaruhi besarnya kepentingan nilai belajar adalah
pengalaman dan orientasi budaya di masa depan. Dalam perwujudan sehari-hari,
kelompok masyarakat perkotaan juga berbeda-beda dalam penghargaan budaya
belajarnya. Nilai budaya belajar juga akan berkaitan dengan jenis materi belajar apa yang
dipandang penting oleh suatu masyarakat. Etos budaya belajar merujuk pada penampilan
watak dasar belajar melekat pada individu atau kelompok suatu masyarakat. Pandangan
hidup budaya belajar terbentuk atas dasar-dasar sistem pengetahuan, nilai dan etos
budaya belajar yang dianut oleh masyarakat setempat. Sistem pengetahuan belajar yang
diperoleh dari lingkungan masyarakat di operasikan dalam bentuk sistem berpikir
mengenai pengkategorisasian.

LANDASAN ILMIAH ILMU PENDIDIKAN |

17

Dalam setiap masyarakat pandangan hidup terlihatkan atas sikap terbuka atau
tertutup. Terdapat kelompok masyarakat yang menerima budaya belajar yang hanya
cocok untuk lingkungannya dan menolak yang tidak sesuai dengan lingkungan
masyarakatnya.
5.

Bidang Materi Budaya Belajar


Mengingat budaya belajar berlangsung dalam kehidupan, maka yang menjadi

bidang garapan atau materi pembelajaran adalah seluruh bidang kehidupan manusia. Para
ahli budaya sepakat untuk menetapkan bidang-bidang kehidupan manusia yang
senantiasa dibutuhkan dalam kehidupan di masyarakat manapun adanya, yakni:
a.

Materi belajar sistem kepercayaan religi


Materi pembelajaran ini dalam masyarakat Indonesia menjadi materi yang

berkedudukan penting. Kajian materi pembelajaran ini dapat dicermati melalui


pembelajaran di lingkungan keluarga, masyarakat dan pendidikan formal. Lima
komponen yang dimasukkan dalam materi pembelajaran sistem kepercayaan dan religi,
yakni:
1.

Emosi keagamaan
Pembelajaran emosi keagamaan diarahkan pada kekuatan kolektivitas, sehingga
menjadi identitas suatu kelompok sosial berasarkan kategori agama.

2.

Sistem keyakinan
Sistem keyakinan ini diarahkan dalam budaya belajar untuk mengenal Tuhan
dengan

sifat-sifatnya

(Kosmologi);

terjadinya

alam

dan

kejadian

dunia

(Kosmogoni); percaya pada hari akhirat (esyatologi);. Dalam budaya belajar sistem
keyakinan juga menyangkut nilai dan sistem norma keagamaan, ajaran kesusilaan,
dan dokrin religi lainnya yang berhubungan dengan tingkah laku manusia.

LANDASAN ILMIAH ILMU PENDIDIKAN |

18

3.

Sistem ritus dan upacara keagamaan


Adalah suatu wujud budaya belajar dalam tindakan untuk melakukan perbandingan

kepada tuhan tme atau kekuatan gaib berupa Dewa dan Dewi, roh nenek moyang. Fungsi
ritus adalah sarana manusia untuk melakukan komunikasi secara khusus. Komunikasi itu
dilakukan secara rutin dengan menggunakan tata cara yang sudah ditentukan berupa
prilaku berdoa, bersujud, bersaji, berkorban dll.
4.

Pelaksanaan ritus menggunakan

Artinya budaya belajar diarahkan untuk mengenal tempat-tempat yang disucikan untk
melaksanakan ritus misalnya bangunan mesjid, langgar, greja, pafoda, stupa, atau tempat
keramat lainnya.
5.

Ummat beragama.

Yakni budaya belajar diarahkan untuk mengenal adanya kesatuan kelompok sosialnya
yang berdasarkan kesamaan dalam sistem agama atau keyakinan pada saat melaksanakan
ritus.
b.

Materi belajar sistem organisasi sosial

Sebagai makhluk sosial, manusia senantiasa hidup secara kelompok. Mereka memandang
hidup berkelompok jauh lebih menguntungkan dibandingkan hidup menyendiri. Terdapat
dua submateri yang disediakan bahan mengenai kehidupan sosial berikut organisasinya
yakni (a) organisasi simbolik, yakni organisasi yang semata-mata terbentuk atas tingkah
laku fisik yang bersifat otomatis, dan (b) organisasi sosial, yangterbentuk atas dasar
komunikasi dengan menggunakan sistem lambang.
Materi organisasi mempunyaidua aspek penting untuk diajarkan yakni aspek fungsi dan
aspek struktur.

LANDASAN ILMIAH ILMU PENDIDIKAN |

19

c.

Materi belajar sistem mata pencaharian hidup


Adalah materi yang paling mendapat tekanan dari masyarakat manapun. Setiap

kelompok masyarakat memiliki sistem ekonomi yang bersumber dari lingkungannya.


Dalam pengkajian perekonomian setidaknya memerlukan tiga aspek, yakni: (a) ekonomi
sektor prodeksi; (b) ekonomi sektor distribusi; (c) ekonomi sektor konsumsi. Dalam
kaitannya dengan materi pembelajaran bidang ekonomi perlu memperhatikan jenis mata
pencaharian yang dijadikan bidang kehidupannya. Misalnya pada kelompok masyarakat
pedesaan lebih menekankan pada sektor produksi dan distribusi.
d.

Materi belajar sistem peralatan dan teknologi


Adalah salah satu unsur kehidupan manusia yang berperan untuk mengembangkan

suatu masyarakat. Teknologi dipandang sebagai ilmu tentang sejumlah teknik yang
diciptakan masyarakat untuk mempermudah dan meningkatkan kualitas kehidupan suatu
masyarakat. Pada perinsipnya teknologi ditemukan manusia karena terdesaknya oleh
kebutuhan dalam pekerjaannya. Dalam lingkungan keluarga, masyarakat ataupun sekolah
pembelajaran teknologi dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung dan
penggunaannyapun tidak hanya untuk orang dewasa tetapi anak sekolah pun sudah
mempelajarinya.
e.

Materi belajar sistem bahasa


Salah satu materi budaya belajar yang bersifat khas adalah bahasa. Materi budaya

belajar ini mendapat perhatian yang besar oleh Antropologi mutakhir, mengingat bahasa
dipandang menjadi pangkat terwujud suatu kebudayaan. Bahasa tidak hanya diartikan
sekedar suara (bahasa lisan), melainkanjuga dengan tulisan )bahasa tulisan), bahkan
bahasa gerak (bahasa isyarat).

LANDASAN ILMIAH ILMU PENDIDIKAN |

20

f.

Materi belajar sistem kesenian


Kesenian adalah unsur budaya yang berusia tua sebagai materi pembelajarannya,
kesenian secara tak langsung maupun langsung dijalankan dengan dengan budaya
belajar. Melihat citranya yang indah memungkinkan individu atau kelompok sosial
mempelajari kesenian setempat ataupun kelompok lain secara khusus.

B.

Transmisi Budaya Belajar


Budaya belajar bukanlah sesuatu yang diturunkan secara genetic atau herediter,

melainkan melalui proses belajar oleh individu atau kelompok sosial di lingkungannya.
Budaya belajar dapat juga dipandang sebagai proses adaptasi manusia dengan
lingkungannya, baik berupa lingkungan fisik maupun lingkunngan sosial. Sistem
pengetahuan belajar digunakan untuk adaptasi dalam kerangka untuk kebutuhan hidup,
yakni: (1) syarat dasar alamiah, yang berupa kebutuhan biologis seperti pemenuhan
kebutuhan makan, minum, menjaga stamina, menjadikan lebih berfungsi organ-organ
tubuh manusia; (2) syarat kejiwaan yakni pemenuhan kebutuhan akan perasaan tenang,
jauh dari perasaan-perasaan takut, keterkucilan, kegelisahan dan berbagai kebutuhan
kejiwaan lainnya; (3) syarat dasar sosial, yakni kebutuhan untuk berhubungan dengan
orang lain, dapat melangsungkan hubungan, dapat mempelajari kebudayaan, dapat
mempertahankan diri dari serangkai musuh dsb (suparlan, 1980;Bennet, 1976: 172).
Pewarisan budaya belajar dapat disamakan dengan istilah tranmisi kebudayaan,
yakni suatu usaha untuk menyampaikan sejumlah pengetahuan atau pengalaman untuk
dijadikan sebagai pegangan dalam meneruskan estapet kebudayaan, faktor yang
menentukan dalam mempelajari budaya belajar adalah lewat komunikasi dengan simbol
bahasa.

LANDASAN ILMIAH ILMU PENDIDIKAN |

21

1.

Kepribadian dan Budaya Belajar


Pembahasan kepribadian pada umumnya membicarakan aspek internal individu,

sementara budaya belajar berkait dengan aspek eksternal individu. Suatu pembahasan
yang komprehensif yang menghubungkan antara aspek kepribadian dengan budaya
belajar bilamana ditempatkan dalam konteks kepribadian publik, artinya suatu
kepribadian yang secara umum dianut oleh masyarakat yang ada dalam suatu lingkungan
masyarakat. Landasannya adalah budaya belajar akan dapat diinternalisasikan dalam
hidup masyarakat.
a)

Kepribadian yang Selaras


Teori sosialisasi adalah salah satu teori yang banyak digunakan untuk menganalisis

tentang adannya kepribadian yang selaras dengan lingkungannya. Kepribadian yang


selaras disini adalah kepribadian yang sesuai dengan nilai dan norma yang berkembang
dimasyarakat yang bersangkutan. Seorang individu yang selaras adalah individu yang
menjadi pendukung kebudayaan secara penuh karena jenis kepribadian yang dimilikinya
itu terbentuk karena pengaruh kebudayaan dimana ia tingga.
b)

Kepribadian yang Menyimpang

Sementara itu terdapat pula teori yang menentang adanya kepribadian publik melalui
sosialisasi, yakni psiko-analisis. Teori ini beranggapan bahwa perkembangan kepribadian
adalah suatu yang tidak sederhana seperti yang digambarkan. Kenyataan ini dibuktikan
dengan menunjukan fakta, bahwa kepribadian itu tidak hanya dibentuk oleh lingkungan
eksternal (lingkungan sosial),melainkan juga oleh internal (bakat dan karakteristik) dan
diri anak itu sendiri.

LANDASAN ILMIAH ILMU PENDIDIKAN |

22

2.

Sarana Pewarisan Budaya Belajar


Usaha pewarisan bukan sekedar menyampaikan atau memberikan sesuatu yang

material, melainkan yang terpenting adalah menyampaikan nilai-nilai yang dianggap


terbaik yang telah menjadi pedoman yang baku dalam masyarakat.
Usaha pewarisan ini dipandang sangat penting kedudukannya,karena bukan hanya untuk
kepentingan golongan tua saja atau golongan muda saja, melainkan lebih jauh untuk
menunjukkan keberadaan suatu masyarakat atau bangsa.
3.

Lingkungan Pendidikan Keluarga


Kajian Antropologi pendidikan, lingkungan keluarga merupakan unit sosial yang

paling kecil dan menjadi salah satu lingkungan yang mendapat perhatian penting dalam
mengenali fenomena sosial yang berimplikasi kepada pengenalan sistem kekerabatan dan
organisasi sosial serta sistem mata pencaharian hidupnya. Demikian halnya dengan
mengenal sitem pewarisan kebudayaan, keluarga mempunyai peranan penting karena
dalam keluarga itulah suatu generasi dilahirkan dan dibesarkan. Mereka mendapatkan
pelajaran pertama kali di lingkungan keluarga, apalagi bagi masyarakat yang belum
mengenal dan menciptakan lingkungan pendidikan formal.
Di dalam lingkungan keluarga terdapat fungsi utama keluarga, yaitu:
d.

Fungsi seksual keluarga, malalui perkawinan

e.

Pusat perekonomian

f. Fungsi edukasi
Inti proses pewarisan budaya melalui keluarga adalah terjadinya interaksi berjalan
perlahan tetapi pasti tanpa prosedur, yang berbelit-belit. Adapun fokus perhatiannya
yakni dengan meneliti tentang pola pengasuhan anak-anak.

LANDASAN ILMIAH ILMU PENDIDIKAN |

23

4.

Lingkungan Pendidikan Masyarakat


J.P. Gilian mengartikan masyarakat

sebagai sekolompok manusia yang tersebar,

yang mempunyai kebiasaan tradisi, sikap dan perasaan untuk hidup bersama. Masyarakat
terdiri atas kesatuan-kesatuan yang paling kecil. Pada perinsipnya suatu masyarakat
berwujud apabila diantara kelompok individu-individu tersebut telah lama melakukan
kerjasama serta hidup bersama secara menetap. Sistem pewarisan budaya lewat
lingkungan masyarakat berlangsung dalam berbagai pranata sosial, diantaranya
pemilikan hak milik, perkawinan, religi, sistem hukum, sistem kekeranatan dan sistem
edukasi.
5.

Lingkungan Pendidikan Sekolah


Sekolah adalah sarana yang diciptakan oleh masyarakat yang berfungsi untuk

melaksanakan pembelajaran. Pendidikan di sekolah dalam kerangka pewarisan budaya


jelas sekali arahnya. Para pendidik yang bertugas sebagai guru melakukan penyampaian
pengetahuan dan interaksi moral itu berdasarkan rancangan adalah program yang
disesuaikan dengan sistem pengetahuan dan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat.
Proses pewarisan budaya di sekolah dilakukan secara bertahap, terencana dan terus
menerus. Cara pewarisan melalui lembaga sekolah itu hanya berlaku bagi masyarakat
yang berkebudayaannya kompleks.
6.

Lingkungan Pendidikan Media Massa


Media massa adalah suatu bagian dalam masyarakat yang

bertugas

menyebarluaskan berita, opini, pengetahuan, dsb. Sifat media massa adalah mencari
bahan pemberitaan yang aktual (hangat), menarik perhatian, dan menyangkut
kepentingan bersama. Berdasrkan sifatnya, media massa salah satu fungsinya sebagai
media kontrol yang terjadinya berbagai penyimpangan dari nilai dan norma serta aturan
yang berlaku di masyarakat. Selain itu berfungsi juga sebagai sarana pendidikan bagi

LANDASAN ILMIAH ILMU PENDIDIKAN |

24

masyarakat. Melalui media massa akan terjalin hubungan atau kontak sosial secara tidak
langsung antar anggota masyarakat. Keseluruhan itu menunjukkan besarnya peran media
massa dalam pembentukan pewarisan budaya belajar bagi seluruh anggota masyarakat.
C. Proses Perubahan Budaya Belajar
Perubahan budaya merupakan sebuah keharusan yang prosesnya dapat secara
langsung dan tidak langsung.
Individu/kelompok sosial akan berkesesuaian dengan motivasi untuk mengadakan
pembaharuan dalam budaya belajarnya apabila didukung oleh faktor-faktor berikut:
a.

Adanya kesadaran dari para individu akanadanya kelemahan pola budaya belajar yang
selama ini dianutnya.

b.

Adanya mutu dan keahlian para individu yangbersangkutan dalam mendorong


terjadinya penemuan budaya belajar yang baru.

c.

Adanya sistem perangsang dalam masyarakat yang mendorong adanya mutu budaya
belajar dalam bentuk penghargaan khalayak mengenai temuannya.

d.

Adanya suasana keritis yang berlangsung dalam masyarakat bersangkutan.

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi dalam proses perubagan budaya belajar, yakni:
1.

Faktor waktu dalam perubahan budaya belajar


Faktor waktu disebut juga perubahan budaya belajar yang alamiah. Budaya belajar ini

berlangsung secara perlahan, tetapi pasti berkembang. Perubahan budaya belajar


dipandang mengikuti hukum evolusi, dalamarti perkembangannya mengikuti tahapantahapan. Rentang pertahan perkembangan budaya belajar cukup lama.
2.

Faktor kontak budaya dalamperubahan budaya belajar


Kontak budaya dalam perubahan budaya berlangsung dalamproses peniruan, atau

pengambilan suatu unsur budaya luar untuk kemudian dijadikan kepentingan pemenuhan
kebutuhan bagi suatu masyarakat.

LANDASAN ILMIAH ILMU PENDIDIKAN |

25

3.

Faktor kecepatan dalam perubahan budaya belajar


Kecepatan perubahan budaya menjadi prinsip dasar dalam perubahan budaya belajar.

Dimana perubahan budaya belajar ini pada dasarnya berlangsung dari awal atau seerhana
menuju komplek.
4.

Akulturasi Budaya Belajar


Istilah akulturasi baru dapat dikemukakan pada tahun 1934 oleh sebuah lembaga

penelitian Ilmu Sosial Internasional. Adapun anggotanya yangterkenal seperti Redfield,


Linton, dan Herskovits, yang merumuskan definisi tentang akulturasi meliputi sebuah
fenomena yang timbul sebagai akibat adanya kontak secara langsung dan terus menerus
antara kelompok-kelompok manusia yang mempunyai kebudayaan yang berbeda-beda,
sehingga menimbulkan adanya perubahan kebudayaan yang asli dari kedua masyarakat
bersangkutan.
Akulturasi budaya belajar dapat terwujud melalui budaya yang bentuknya bermacammacam, antara lain:
1.

Kontak budaya belajar bisa terjadi antar seluruh anggota masyarakat atau sebagian

saja, bahkan hanya individu-individu dari dua masyarakat. Misalnya kontak budaya
dalam bidang keagamaan.
2.

Kontak budaya belajar berjalan melalui perdamaian diantara dua kelompok

masyarakat yang bersahabat, maupun melalui cara permusuhan antar kelompok.


Contohnya antara bangsa Indonesia dengan Malaysia yang kebanyakan penduduknya
masih satu rumpun bangsa.
3.

kontak budaya belajar dapat timbul diantara masyarakat yang mempuyai kekuasaan

baik dalam politik maupun ekonomi.


5.

Asimilasi Budaya Belajar

LANDASAN ILMIAH ILMU PENDIDIKAN |

26

Asimilasi dapat dipandang sebagai proses sosial yang ditandai dengan makin
bergantungnya perbedaan-perbedaan antar individu dan antar kelompok serta dengan
semakin eratnya persatuan dalam segi aktivitas. Asimilasi berkaiatan dengan sikap dan
proses mental yang berhubungan dengan tujuan dan kepentingan bersama. Asimilasi
budaya belajar pada dasarnya proses saling mempelajari pola budaya belajar
antarindividu dan kelompok sehingga dapat mengembangkan budaya belajar masingmasing.
Proses asimilasi budaya belajar dapat berjalan dengan cepat ataupun lamban bergantung
pada beberapa faktor.
1.

Adanya toleransi yang memadai antar dua individu atau kelompok masyarakat
memiliki perbedaan-perbedaan.

2.

Adanya faktor ekonomi yang menjadi kemungkinan akan memperlancar atau


memperlambat jalannya asimilasi budaya belajar.

3.

adanya faktor kesan yang baik atau rasa simpatik pada saat mengadakan kontak
budaya belajar pada awalnya.

4.

adanya faktor perkawinan campuran menjadi faktor yang kuat untuk terwujudnya
suatu asimilasi budaya belajar.

6.

Inovasi Budaya Belajar


Konsep inovasi dibedakan dalam dua term, yaitu discoveri dan invention. Keduanya

memiliki orientasi yang sama namun memiliki perbedaan. Lebih tegasnya Persudi
Suparlan (1987) menyatakan discoveri adalah suatu penemuan baru yang berupa persepsi
mengenai hakikat suatu gejala atau hakikat mengenai hubungan antara dua gejala atau
hakikat mengenai hubungan antara dua gejala/lebih. Sedangkan inventation adalah
ciptaan baru yang berupa benda/pengetahuan yang diperoleh melalui proses pencintaan

LANDASAN ILMIAH ILMU PENDIDIKAN |

27

yang didasarkan atas pengkombinasian dan pengetahuan-pengetahuan yang sudah ada


mengenai benda atau lainnya.
Individu atau kelompok masyarakat yang memiliki konfigurasi mental dalam budaya
belajar akan berjalan melalui tiga tahap.
1.

tahap analisis: melakukan analisis terhadap konfigurasi baru yang dipandang dari
konfigurasi yang sudah ada.

2.

tahap identifikasi: melakukan perbandingan-perbandingan, penilaian dan menemukan


adanya kecocokan-kecocokan.

3.

tahap substitusi: menentukan untuk mengganti konfigurasi budaya belajar yang lama
kedalam konfigurasi belajar yang baru.

Individu atau kelompok sosial akan berkesesuaian dengan motivasi untuk mengadakan
pembaharuan dalam budaya belajarnya bilamana didukung oleh faktor-faktor sebagai
berikut:
a)

Adanya kesadaran dari para Individu akan adanya kelemahan pola budaya belajar
selama ini dianutnya.

b)

Adanya mutu dan keahlian para individu yang bersangkutan dalam mendorong
terjadinya penemuan budaya belajar yang baru

c)

Adanya sistem perangsang dalam masyarakat yang mendorong adanya mutu budaya
belajar dalam bentuk penghargaan khalayak mengenai temuannya

d)

Adanya suasana krisis yang berlangsung dalam masyarakat bersangkutan.

Suatu pembaharuan budaya belajar akan diterima oleh suatu masyarakat bila memenuhi
syarat-syarat berikut.
1.

Masyarakat bersangkutan harus merasa butuh dengan perubahan budaya belajar yang

diawali adanya kesadaran bersama bahwa budaya belajar yang saat ini berlangsung
sudah tidak cocok lagi digunakan dalam kehidupan.

LANDASAN ILMIAH ILMU PENDIDIKAN |

28

2.

Perubahan budaya belajar yang ditemukan harus dapat dipahami dan dikuasai oleh
anggota masyarakat lainnya.

3.

penemuan budaya belajar harus bisa diajarkan pada masyarakat.

4.

penemuan budaya belajar harus menggambarkan keuntungan masyarakat pada masa


yang akan datang.

5.

perubahan tersebut tidak merusak prestise pribadi atau gologan.

7.

Difusi Budaya Belajar


Difusi budaya belajar dipandang sebagai proses penyebaran dari suatu budaya belajar

individu ke individu lainnya atau intra-masyarakat atau dari masyarakat ke masyarakat


lainnya atau difusi inter-masyarakat, nila suatu budaya belajar baru diterima oleh
masyarakat karena bekesesuaian dengan sistem gagasan, kebiasaan serta emosi-emosinya
maka budaya belajar akan menjadi gejala universal. Sebaliknya budaya belajarbaru yang
ketika disebarkan hanya didukung oleh sebagaian masyarakat saja disebut alternative.
Sedangkan bila pendukung budaya belajar hanya sebagian kecil disebut spesialis.
Manakala sistem gagasan, tingkahlaku dan sikap budaya belajar baru hanya muncul pada
perorangan saja maka disebut particular individu.
Proses peniruan budaya belajar disebut imitasi. Dikalangan para inovasi budaya
belajar gejala peniruan bisa dilakukan, manakala mereka dihadapkan pada suatu masalah
untuk segera memecahkan masalah dilingkungannya. Gejala peniruan ini bisa berbentuk
trial and error artinya mencoba-coba, bisa benar bisa juga salah.
Salah satu prinsip difusi budaya belajar adalah jika terjadi mula pertama menyebar
atau diidentifikasi oleh kelompok masyarakat yang letaknya dan hubungannya paling
dekat dengan sumber perubahan budaya belajar. Prinsip lainnya berkenaan dengan
marginal servival, yakni jauh unsur kebudayaan yang disebarkan itu dari pusatnya maka

LANDASAN ILMIAH ILMU PENDIDIKAN |

29

sifat kebudayaan itu semakin kabur atau dengan kata lain unsur kebudayaan yang
tersebar itu telah mengalami perubahan baik dari bentuknya maupun isinya.
8.

Dampak Perubahan Budaya Belajar


Besarnya tuntutan budaya belajar baru dari dalam disebabkan karena semakin

besarnya tuntutan akan kebutuhan hidup. Adanya kesempatan atau peluang dimiliki oleh
lingkungan tersebut untuk memungkinkan terjadinya perubahan budaya belajar. Bila
peluang tersebut dipandang menguntungkan dalam kehidupan sosial, sangat besar
kemungkinan perubahan budaya belajar baru akan diterima.
Dampak perubahan budaya belajar dalam kehidupan dapatlah kita amati dalam
kejadian sehari-hari di lingkungan kita. Setiap individu atau kelompok masyarakat
menginterpretasi semakin sulitnya kehidupan dan semakin ketatnya persaingan yang
menjadikan individu atau kelompok sosial mengubah pola budaya belajar dalam
kehidupannya. Dalam prilaku sehari-hari pembangunan sarana seperti transportasi,
teknologi informasi memungkinkan setiap individu atau kelompok masyarakat di
pedesaan ataupun diperkotaan melakukan perubahan pola belajar. Terlebih lagi dalam
lingkungan, baik dipersekolahan dasar, menengah ataupun tinggi penggunaan ICT telah
berdampak pada perubahan pola budaya belajar.
Dalam pandangan adaptasi budaya belajar, individu atau kelompok sosial melakukan
tindakan adaptasi dalam rangka dapat memenuhi kebutuhan hidup dasar sehingga dapat
melangsungkan kehidupannya dengan sebaik-baiknya. Perbedaan respon dalam
menghadapi budaya belajar baru pada dasarnya disebabkan karena perbedaan dalam
beradaptasi yang dikategori menjadi dua begian, yakni kelompok yang setuju dan yang
tidak setuju dengan perubahan budaya
Penetrasi budaya belajar adalah penyebab budaya belajar individu atau kelompok sosial
dapat berubah yang disebabkan kontak dengan dunia luar. Dapat secara langsung, yakni

LANDASAN ILMIAH ILMU PENDIDIKAN |

30

melalui antarindividu atau antarkelompok secara berhadapan. Maupun secara tidak


langsung berupa bentuk kontak melalui media massa, koran, majalah, radio, televisi, dan
bentuk media lainnya sehingga membentuk sejumlah pengetahuan baru yang bernilai
penting bagi pengembangan kehidupan di lingkungannya. Proses penerimaan suatu unsur
kebudayaan dari luar disebut penetrasi budaya. Artinya unsur yang datang dari luar
secara perlahan ikut menyertai atau membonceng dalam suatu saluran yang dianggap
sebagai saluran umum, kemudian secara perlahan unsur tersebut masuk dan mengubah
budaya belajar atau sebagian budya belajar yang hidup dalam suatu masyarakat.

LANDASAN ILMIAH ILMU PENDIDIKAN |

31

KESIMPULAN

Kebudayaan merupakan sistem gagasan yang telah berkembang secara historik


dan memiliki organisasi dan struktur organisasi yang berkembang secara terus
menerus yang dipelajari oleh anggota-anggota suatu mansyarakat. Ruth Benedict
menyatakan bahwa kebudayaan sebenarnya adalah istilah sosiologis untuk tingkah
laku yang bisa dipelajari. Dengan demikian tingkah laku manusia bukanlah
diturunkan seperti tingkah laku binatang tetapi yang harus dipelajari kembali
berulang-ulang dari orang dewasa dalam suatu generasi. Di sini kita lihat betapa
pentingnya peranan pendidikan dalam pembentukan kepribadian manusia.
Proses transmisi kebudayaan di dalam masyarakat modern akan menghadapi
tantangan-tantangan yang berat. Disinilah letak peranan pendidikan untuk
mengembangkan kepribadian yang kreatif dan dapat memilih nilai-nilai dari berbagai
lingkungan. Hanya dengan kesadaran terhadap nilai-nilai budaya lokal akan dapat
memberikan sumbangan bagi terwujudnya nilai-nilai global.
Berdasarkan konsep tersebut, maka budaya belajar juga dipandang sebagai
model-model pengetahuan menusia mengenai belajar yang digunakan oleh individu
atau kelompok sosial untuk menafsirkan benda, tindakan dan emosi dalam
lingkungannya. Budaya belajar dapat juga dipandang sebagai proses adaptasi manusia
dengan lingkungannya, baik berupa lingkungan fisik maupun lingkungan sosial.

LANDASAN ILMIAH ILMU PENDIDIKAN |

32

Anonimus.http:// www.kosmext 2010.com/makalah- sosiologi-antropologi-pendidikankonsep-transmisi-perubahan-budaya-belajar.php


Anonimus.http://ismitauziahulfah.blogspot.com/2010/10/konsep transmisi dan
perubahan budaya.html
Ardiwinata, S Jajat, Hufad, Achmad. 2006. Sosiologi Antropologi Pendidikan.
Bandung: UPI Press
Manan,imran.1989.Dasar-dasar Sosial Budaya pendidikan.Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan.Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan
Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan.Jakarta

LANDASAN ILMIAH ILMU PENDIDIKAN |

33