Anda di halaman 1dari 29

PRESENTASI KASUS

DIARE KRONIK
+
KEP III + OMSK

Oleh:
Santi Maria Rugun

Pembimbing :
dr. A. Adipurnama, SpA.

BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA
RUMAH SAKIT IMMANUEL
BANDUNG
2005

SARI PUSTAKA

Diare Kronik

Batasan
Diare yang berlanjut hingga 2 minggu atau lebih dan kehilangan berat
badan atau tidak bertambah berat badan pada masa tersebut.

Etiologi
Tinja berair:
1. Gastroenteropati alergi
2. Defisiensi disakaridase, malabsorpsi glukosa-galaktosa
3. Defek imun primer
4. Infeksi usus oleh bakteri, virus, parasit
5. CSBS (contaminated small bowel syndrome)
6. Persisten postenteriting diarrhoea

dengan atau tanpa intoleransi

karbohidrat.
7. Penyakit endokrin
8. Keganasan
9. Malabsorbsi asam empedu
Tinja berlemak:
1. Insufisiensi pankreas,PEM,BBLR
2. Limfangiektasi usus
3. Kolestasis
4. Steatorea akibat obat (neomicyn, cholestiramin)
5. CSBS

short bowel syndrome

6. Abetalipoproteinemia, gastroenteropati alergi,

defek imun primer,

enteropati akrodermatitis, anemia defisiensi besi, penyakit Whipple.

Tinja berdarah
1. V. Campylobacter, Salmonella, Shigella
2. Disentri amoeba
3. Inflammatory bowel disease
4. Entero kolitis pseudomembranosa
5. Diare sehubungan dengan lesi anal

Patofisiologi
Mekanisme diare kronik bergantung pada penyakit dasarnya. Sering yang
menyebabkan terdapat lebih dari 1 macam sehingga efeknya kombinasi dari
penyebab penyebab tersebut.
a. Diare Osmotik
Akumulasi

bahan-bahan yang tidak dapat diserap oleh usus.

Mengakibatkan keadaan hipertonik dan meninggikan tekanan osmotik


intralumen yang menghalangi absorbsi air dan elektrolit dan terjadilah
diare.

b. Diare Sekretorik
Sekresi usus yang disertai sekresi ion secara aktif.

c. Bakteri tumbuh lampau,asam empedu dan asam lemak


Dalam keadaan normal usus anak adalah relatif steril. Bakteri
tumbuh lampau dapat terjadi pada setiap kondisi yang menimbulkan stasis
isi usus. Jumlah bakteri usus dapat meningkat pada bayi dengan diare
nonspesifik yang persisten dan dengan intoleransi monosakarida sekunder.
Adanya asam asam empedu bebas dalam jejunum menpunyai efek
negatif terhadap absorpsi monosakarida.

d. Tidak adanya mekanisme absorpsi ion secara aktif yang biasanya


terdapat dalam keadaan normal.

Contohnya penyakit Congenital chloridorrhoea. Pada penyakit ini


penderita tidak mampu mengabsorpsi klorida secara aktif karena defek
pada sistem penukaran anion ileum. Hal ini berakibat berkurangnya
absorpsi cairan, asidifikasi isi lumen usus dan konsentrasi klorida tinggi
dalam cairan tidak terabsorpsi yang tinggal dalam lumen ileum dan kolon.
Kosentrasi klorida melebihi konsentrasi natrium dan kalium.

e. Kerusakan mukosa
Berkurangnya
permukaan

permukaan

mukosa

atau

kerusakan

mukosa dapat mengganggu permeabilitas air dan elektrolit.

Kerusakan epitel usus halus terjadi pada kebanyakan tipe enteritis karena
infeksi, penyakit crohn, kolitis ulserativa, kolitis granulomatous, dan
kolitis infeksi.

f. Motilitas usus yang abnormal


Dapat menyebabkan gangguan digesti

dan/atau

absorpsi.

Berkurangnya motilitas memudahkan terjadinya stasis dan bakteri tumbuh


lampau, sedangkan kenaikan motilitas usus dapat menyebabkan transit
yang cepat di usus dan menimbulkan kontak yang lama dengan mukosa
yang inadekuat. Berkurangnya motilitas usus terdapat pada diabetes dan
skleroderma. Motilitas usus yang meningkat berhubungan dengan isi usus
yang meninggi, inflamasi usus, dan keadaan terdapatnya circulating
humoral agents.

g. Sindroma diare kronik


Kebanyakan bayi dengan severe, protacted diarrhoea akan
menunjukkan perubahan mukosa usus halus berupa atrofi vilus.
Kehilangan nutrient yang berlanjut dan masuknya kalori yang inadekuat
mengakibatkan deplesi protein yang bermakna dan malnutrisi. Pada
terjadinya deplesi protein, regenerasi morfologik dan fungsional usus

halus akan terganggu; ini menimbulkan malabsorpsi yang menyeluruh dan


diare yang terus-menerus, dan terjadilah lingkaran setan.

h. Mekanisme lain
Defisiensi seng (Zn) berhubungan dengan diare kronik pada
akrodermatitis enteropatik. Mekanisme gastroenteropati alergik masih
diselidiki, walaupun terdapat alasan untuk menduga bahwa mukosa
menjadi rusak dan fungsi terganggu. Hal ini dibahas pada cows milk
enteropati, CMPSE.

Kriteria Diagnosis

Anamnesis
Riwayat Penyakit adalah penting untuk menilai anak dengan diare kronik.
Yang perlu ditanyakan pada orangtua :
-

saat mulai diare

adanya gejala-gejala ekstraintestinal seperti ISPA atas.

Gejala gejala lain berupa tinja yang abnormal dan failure to


thrive sejak lahir (cystic fibrosis).

Terjadinya diare sesudah diberikan susu, buah-buahan (


defisiensi sukrose-isomaltase)

Hubungan dengan sakit perut dan muntah (malrotasi), diare


sesudah gangguan emosi dan kecemasan.

Tentang tinja diperinci frekuensi, konsistensi, penampakan,


aadanya darah atau lendir.

Riwayat diet penting untuk ditanyakan terperinci.

Riwayat diare yang profus sesudah pengobatan antibiotik


memberi dugaan adanya enterokolitis pseudomembranosa.

Pemeriksaan Fisik
-

standard anthropometric chart : TB, BB, lingkaran kepala. Perhatian


khusus perlu diberikan pada keadaan umum pasien, status hidrasi, gejala

kehilangan berat badan (wasting of buttocks and shoulder girdle,


wringkling

oh

thighs),

pemeriksaan

abdomen

(distensi,

nyeri,

hepatoslenomegali, thickened bowel loops, bunyi usus), ekskorasi pantat,


finger clubing, edema perifer, dan manifestasi kulit. Pemeriksaan rectal
toucher perlu dilakukan apabila terdapat tinja berdarah.

Pemeriksaan Penunjang
-

Tinja : nampaknya, konsistensi dan lain-lain, pH dan clinitest


setiap hari dengan cara bedside diagnosis, pemeriksaan tinja
untuk fat globules, leukosit dan reducing subtances, pewarnaan
Gram, biakan dan pemeriksaan untuk telur cacing dan parasit.

Darah

darah

lengkap,

elektrolit,

karoten,

kalsium,

magnesium, fosfatase lindi, kolesterol, waktu protrombin,


elektroforesis serum protein, imunoglobulin.
-

Kadar klorida keringat, foto toraks dan abdomen

Adanya reducing subtances dalam tinja anak yang ber-pH


rendah

disertai

eritema

natum,

menyarankan

adanya

malabsorpsi karbohidrat. Bila terdapat dugaan intoleransi


karbohidrat dilakukan pemeriksaan toleransi (laktosa, sukrosa,
dan glukosa).
-

Uji D-Xylose. Bila nilai one-hour xylose abnormal < 25 mg per


dl, perlu dilakukan biopsi usus halus.

Hydrogen Breath test. Menilai fungsi gastrointestinal, pada


dasarnya tergantung pada metabolisme bahan yang diberikan
peroral yang berbah menjadi gas yang dikeluarkan melalui
pernafasan. Gas yang utamanya dikeluarkan melalui pernafasan
yang dinilai bagi fungsi gastrointestinal adalah gas H2 dan
CO2 akhir-akhir ini juga adalah gas metan. (CH4)

Pada pasien yang tinjanya berdarah dianjurkan pemeriksaan


sigmoidoskopi dengan atau tanpa biopsi rektum.

Pemeriksaan radiologis GIT membantu menidentifikasi cacat


bawaan

inflammatory

malrotasi,
bowel

stenosis)

dan

kelainan

disease,

penyakit

seperti:

Hirschprung,

enterokolitis nekrotikans.
-

Bila diduga kontaminasi usus halus perlu dilakukan intubasi


duodenum untuk mendapatkan cairan duodenum dan dilakukan
biakan aerob dan anaerob.

Terapi

Umum dan dietetik


- Penatalaksanaan tergantung dari penyebabnya.
- Koreksi perenteral dan atasi dehidrasi
- Pemberian nutrisi enteral. Formula yang paling baik diberikan ialah yang
mengandung glukosa polimer, bebas laktosa, mengandung protein
hidrolisat, medium chain triglyceride (MCT). < 300 mOsm/L dan bersifat
hipoalergik. Menaikkan konsentrasi formula dilakukan perlahan-lahan,
mula-mula 1/3 peroral , sisanya cairanIV. Kemudian 2/3 peroral sisanya
cairan IV.
- Bila keadaan membaik (BB meningkat minimal 1 kg) maka diberikan
formula dengan konsentrasi penuh.

Pengobatan
Obat anti diare
Tidak perlu diberikan obat anti diare seperti kaolin, pektin,
difenoksilat (lomotil). Tidak satupun obat obat ini memberikan efek
posistif pada patofisiologi. Penelitian baru baru ini menunjukkan bahwa
obat obatan yang memperlambat motilitas usus justru akan
memperpanjang lamanya enteritis karena infeksi.

Obat anti mikroba


Pengobatan antibiotik pada umumnya tidak dianjurkan, bahkan hal
ini akan mengubah flora usus dan menimbulkan keadaan diare menjadi
lebih buruk. Untuk membersihkan

isi usus anak dengan infeksi usus

karena bakteri, fungsi peristaltik ternyata lebih efektif. Walaupun pada


anak lebih besar tidak diberikan antibiotik, pada neonatus, anak sakit berat,
anak dengan defisiensi imunologi dan anak dengan protracted diarrhoea
yang sangat berat tetap dianjurkan tetao diberikan. Disamping itu
antibiotik masih berguna pada blind loop syndrome. Metronidazole
merupakan obat yang efektif dan aman untuk Giardia lamblia dan bakteri
anaerob yang sering terdapat pada blind loop syndrome atau CSBS (
sindrom usus halus terkontaminasi).

Kortikosteroid
Anak dengan kolitis ulseratif, paling tidak pada serangan pertama
memberikan respon yang baik terhadap enema steroid, beberapa anak
mendapat kombinasi steroid rektal dan sistemik.

Immunosupresif
Obat imunosupresif digunakan pada penyakit Crohn dan inipun
diberikan hanya bila pengobatan konvensional tidak mungkin.

Kolesteramin
Penggunaan kolesteramin pada diare kronik, terutama untuk
malabsorpsi asam empedu ( pada reseksi akhir ileum) dan pada infeksi
usus bakteri (untuk mengikat endotoksin) sangat bermanfaaat.

Operasi
Bila diare kronik terjadi pada kasus-kasus bedah seperti misalnya
penyakit hirschprung, enterokolitis nekrotikans, maka sering terdapat
indikasi untuk melakukan operasi.

Kurang Energi Protein (KEP)

Batasan
Keadaan kurang gizi yang disebabkan oleh rendahnya konsumsi energi
dan protein dalam makanan sehari

- hari sehingga tidak memenuhi angka

kecukupan gizi.

Klasifikasi
KEP Ringan

: Berat badan mmenurut umur (BB/U) 70-80% baku median WHO


NCHS dan / atau berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) 8090% baku median WHO-NCHS

KEP Sedang : BB/U 60 70% baku median WHO NCHS dan /atau BB/TB 7080% baku median WHO NCHS
KEP Berat

: BB/U < 60% baku median WHO-NCHS dan/atau BB/TB <70%


baku median NCHS WHO.
KEP berat secara klinis ada 3 tipe : kwarsiokor, marasmus,
kwarsiokor-marasmus

ETIOLOGI
Primer

: Kekurangan konsumsi karena tidak tersedianya bahan makanan

Sekunder

: Kekurangan kalori protein akibat penyakit (misal penyakit ginjal,


hati, jantung, paru)

KRITERIA DIAGNOSIS
- Anamnesis makanan
- Klinis, termasuk antropometri
- Laboratorium

PEMERIKSAN PENUNJANG :
Darah

: Hb, Leukosit, eritrosit, nilai absolut eritrosit, Ht, SADT, albumin,


protein total, ureum, kreatinin, kolesterol, mHDL, trigliserida, Fe, TIBC,

transthyretin serum, elektrolit, glukosa, bilirubin, indeks protrombin dan


biakan
Urin

: Kultur, urea N, hidroksiprolin

Apus rektal

Penyulit
- Mudah terserang penyakit
- Diare
- Hipotermi
- Hipoglikemia
- Anemia

Terapi :
KEP I (KEP ringan)
Penyuluhan gizi/nasehat pemberian makanan dirumah
Dianjurkan untuk memberikan ASI eksklusif
Bila dirawat inap untuk penyakit lain , makanan sesuai dengan
penyakitnya untuk mencagah adagr tidak jatuh menjadi KEP sedang /
berat.

KEP II
Rawat jalan : Nasehat pemberian makanan dan ASI , selau dipantau
kenaikan BB
Dapat dirujuk ke PUSKESMAS untuk penanganan masalah penanganan
gizi
Rawat Inap : makanan tinggi energi dan protein dengan kebutuhan
energi 20-50% diatas AKG. Diet sesuai dengan penyakitnya.Beri vitamin
dan penyuluhan gizi.
KEP III
5 aspek penting :
Prinsip dasar pengobatan KEP berat ( 10 langkah utama)

Pengobatan penyakit penyerta


Kegagalan Pengobatan
Penderita pulang sebelum pengobatan tuntas
Tindakan pada kegawatan

10 langkah utama
1. Atasi / cegah hipoglikemia
2. Atasi/ cegah hipotermia

hari 1-2

3. Atasi/cegah dehidrasi
4. Koreksi gangguan keseimbangan elektrolit
5. Obati / cegah infeksi

hari 1s/d minggu ke-2

6 Mulai pemberian makanan


7. Koreksi defisiensi nutrient mikro
8. Fasilitas tumbuh kejar
9. Lakukan stimulasi sensorik dan dukungan emosi/mental
10. Siapkann rencana tindak lanjut setelah sembuh

Diare berlanjut bisa menyertai KEP berat tatapi akan berkurang dengan
sendirinya pada pemberian makanan secara hati-hati. Intoleransi laktosa tidak
jarang sebagai penyebab diare. Diobati hanya bila diare berlanjut dan tidak ada
perbaikan keadaan umum.
- Berikan formula rendah laktosa
- Metronidazol 7,5mg/kg BB p.o. tiap 8 jam selama 7 hari
- Sering kerusakan mukosa usus dan giardiasis merupakan penyebab berlanjutnya
diare.

I. Identitas Penderita

Nama penderita

: Putri Ayu Pratiwi

Jenis kelamin

: Perempuan

Tempat, tanggal lahir

: Bandung, 1 Desember 2001

Umur

: 4 tahun

Kiriman dari

: Poliklinik Spesialis Anak RSI

Dengan diagnosis

: Diare kronik + Malnutrisi

Tanggal dirawat

: 12 Oktober 2005

Tanggal diperiksa

: 12 Oktober 2005

Nama ayah

: Imam Supriyanto

Umur

: 31 tahun

Pendidikan

: SMA

Pekerjaan

: Karyawan swasta

Alamat

: Antapani 10 No.5 Rt 4 Rw 5
Cicadas Bandung

Nama ibu

: Tini

Umur

: 28

Pendidikan

: SMP

Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

Alamat

: Antapani 10 No.5 Rt 4 Rw 5
Cicadas Bandung

II. Anamnesis

Heteroanamnesis diberikan oleh Ibu Penderita


Tanggal 13 Oktober 2005
Keluhan utama: mencret
Sejak 10 hari SMRSI penderita mengalami mencret berupa cairan
berwarna kuning kehijauan, encer, tanpa lendir ataupun darah. Keluhan mencret
terjadi sebanyak 3x/hari dengan jumlah gelas aqua tiap kali mencret. Keluhan
mencret disertai dengan mual dan perut terasa kembung. Keluhan tidak disertai
dengan muntah, panas badan, batuk, pilek, pantat menjadi lecet/kemerahan, sesak
napas, ataupun penurunan kesadaran. Buang air kecil normal seperti biasa.
Penderita tampak gelisah, lemas tidak mau makan, tetapi masih mau
minum dan bila menangis masih mengeluarkan air mata. Sebelum mencret
penderita tidak mengkonsumsi apapun selain menu harian penderita seperti
biasanya. Oleh karena keluhan tersebut penderita dibawa ke dokter umum, diberi
3 macam sirup ( nama dan warna obat tidak diingat oleh ibu penderita), namun
tidak ada perbaikan, karena itu penderita dibawa ke RSI.
Penderita sudah 2 kali menderita penyakit seperti ini dan dirawat di rumah
sakit. Yang pertama kali pada saat penderita berusia 2 tahun dan yang kedua kali
pada usia 2,5 tahun. Menurut ibu penderita, jika penderita diberikan susu yang
ditambah gula, atau susu kotak penderita biasanya akan mencret.
Sejak usia 1 tahun penderita mengalami kesulitan makan. Penderita
dikatakan sering tidak menghabiskan makanannya. Saat ini selain diberi PASI
(Dancow), penderita juga diberikan makanan sesuai menu keluarga 3 kali sehari
berupa nasi + daging/ikan/ telur + sayur + buah yang sekali makan hanya 5-6
sendok makan saja, namun penderita senang ngemil makan makanan kecil.Ibu
penderita menyangkal apabila penderita muntah tiap kali diberi makan. Ibu
penderita juka mengeluhkan berat badan penderita yang sulit naik.
Riwayat sering sakit-sakitan diakui ibu penderita. Usia1 tahun penderita
pernah menderita penyakit paru paru, dibawa berobat, dilakukan pemeriksaan
foto dada, kemudian diharuskan berobat sekurang-kurangnya selama 6 bulan. Ibu

penderita mengakui kencing penderita menjadi berwarna merah selama minum


obat untuk penyakit paru-paru tersebut. Penderita berobat dengan teratur selama 1
tahun dan dinyatakan sembuh. Pada usia 3 tahun penderita pernah menderita
panas badan disertai sakit telinga, dan keluar cairan dari telinga yang berwarna
putih, tidak berbau. Pada saat itu penderita dibawa berobat dan diberikan obat
tetes telinga, namun sejak saat itu setiap penderita panas, batuk ataupun pilek,
selalu disertai keluarnya cairan dari telinga.

Riwayat kehamilan dan persalinan


Anak 2 dari 2 anak. Lahir hidup 2 lahir mati -. Abortus -.
Lahir aterm, spontan, ditolong oleh Bidan.
Berat badan lahir 2900 gram. Panjang badan lahir 45 cm.

Tumbuh kembang anak


Berbalik

: 3 bulan

Duduk tanpa bantuan

: 6 bulan

Duduk tanpa pegangan

: 7 bulan

Berjalan 1 tangan dipegang

: 17 bulan

Berjalan tanpa dipegang

: 24 bulan

Bicara 1 kata

: 12 bulan

Bicara 1 kalimat

: 18 bulan

Gigi geligi:
Pertama: 6 bulan. Sekarang 20

Susunan keluarga
No

Nama

Umur

L/P

Keterangan

Imam Supriyanto

31 tahun

Ayah penderita, sehat.

Tini

29 tahun

Ibu penderita, sehat

Rani Maharani

7 tahun

Kakak penderita Sehat

Putri Ayu P

4 tahun

Penderita Sakit

Imunisasi
Dasar
BCG

Ulangan

+ (Scar +)

Anjuran

6. HiB

DPT

7. MMR

Polio

8.Hepatitis A

Hepatitis B

9. Cacar air

10.

Campak

Riwayat nutrisi
0-6 bulan

: ASI

6-8 bulan

: ASI, Bubur susu

8-12 bulan

: ASI, nasi tim, buah.

1 tahun-sekarang

: Makanan keluarga

Kualitas cukup, kuantitas kurang

Riwayat penyakit dahulu


Diare

:+

Difteri

:-

Campak

:-

Batuk pilek

:+

Tetanus

:-

Ginjal

:-

Tifus perut

:-

Hepatitis

:-

Asma/alergi

:-

Pneumonia

:-

TBC

:+

Kejang

:-

Batuk rejan

:-

Cacar air

:-

Lainnya

:-

Riwayat penyakit keluarga


Asma

:-

Penyakit darah : -

TBC

: + (nenek penderita)

Keganasan

Ginjal

:-

Kencing manis: -

:-

II. Pemeriksaan Fisik

1. Keadaan umum
Kesadaran

: compos mentis

Kesan sakit

: Sedang

Posisi

: tidak ada letak paksa

Penampilan umum

: Mental gelisah. Fisik lemah.

2. Tanda-tanda vital
Tekanan darah

: 90/60 mmHg

Nadi

: 80 x/menit, reguler, ekual, isi cukup.

Respirasi

: 28 x/menit, abdominothorakal

Suhu

: 36, 8 oC

3. Pengukuran antropometrik
Umur

:4

tahun

Berat badan

: 9,5

kg

Panjang badan

: 87 cm

(59 % standar BB/U)


( 85 % standar PB/U)
( 76 % standar BB/TB)
Status gizi

: kurang (76% menurut BB/TB NCHS)

Lingkar kepala

: 43

cm

Lingkar dada

: 48

cm

Lingkar perut

: 43

cm

Lingkar lengan atas

: 10

cm

Tes RL

:-

4. Pemeriksaan Sistemik
4.1.

Rambut

: warna merah, distribusi merata, agak tipis, tidak mudah


dicabut.

Kulit

: pucat - ,sianosis -, ikterik -, dermatosis -, edema ,


Scar +

Kuku

: Capillary refill < 2 detik, , tidak sianosis, clubbing finger -

KGB

: tidak teraba membesar

4.2. Kepala
Bentuk

: simetris, tidak ada kelainan.

Mata

: konjungtiva Anemis -/-, Sklera ikterik -/-, mata agak

cekung, air mata +


THT

: sekret +/+, pernapasan cuping hidung -/-.

Bibir

: agak kering

Mulut

: mukosa basah, bibir kering

4.3. Leher
Kaku kuduk

: tidak ada

KGB

: tak teraba membesar.

4.4.Dada
Inspeksi

: Bentuk dan pergerakan simetris, retraksi

Palpasi

: Pergerakan simetris, sela iga tidak melebar/menyempit.

Perkusi

: Sonor

Auskultasi

: VBS +/+, Ronki -/-, Wheezing -/-

4.5. Jantung
Inspeksi

: Ictus cordis tidak tampak.

Palpasi

: ictus cordis tidak kuat angkat, thrill -.

Perkusi

: Kanan: ICS IV linea sternalis kanan.


Atas : ICS III linea parasternalis kiri.
Kiri : ICS IV linea mid clavicularis kiri.

Auskultasi

: Bunyi jantung I dan II, reguler, tidak ada murmur.

1.6. Abdomen
Inspeksi

: Datar, soepel

Palpasi

: Hepar teraba 3 cm BAC, 3 cm BPX, kenyal, tepi tajam,


permukaan rata. Lien tidak teraba. Turgor kembali cepat

Auskultasi

: Bising usus

4.7. Alat kelamin

: Perempuan, tidak ada kelainan.

4.8. Anus dan rektum : tidak ada kelainan.


4.9. Ekstremitas

: Tonus otot baik, akral hangat, pergerakan aktif.

4.10. Neurologis

: RF +/+
RP -/Sensorik baik.

IV. Pemeriksaan Penunjang


Pemeriksaan darah:
12/10
Hb

12,7

Ht

39

Leuko

24.100

Tc

116.000

V. Resume

Seorang anak perempuan berusia 4 tahun dengan berat badan 9,5 kg dan
tinggi badan 87 cm dengan status gizi kurang (78 % menurut standar BB/U
NCHS-WHO). Datang ke rumah sakit Immanuel dengan keluhan utama mencret.
Pada anamnesis lebih lanjut didapatkan:

Sejak 10 hari SMRSI, penderita mencret berupa cairan berwarna kuning


kehijauan, encer, tanpa lendir ataupun darah.

Keluhan mencret terjadi sebanyak 3x/hari dengan jumlah gelas aqua


tiap kali mencret. Keluhan mencret disertai dengan mual dan perut terasa
kembung. Penderita tampak gelisah, lemas, tidak mau makan, tetapi masih
mau minum.Penderita dibawa ke dokter diberi 3 macam sirup tapi tidak
ada perbaikan.

Penderita sudah 2 kali menderita penyakit seperti ini dan dirawat di rumah
sakit. Yang pertama kali pada saat penderita berusia 2 tahun dan yang
kedua kali pada usia 2,5 tahun.

Pada usia 1 tahun penderita menderita TBC, berobat selama 1 tahun dan
dinyatakan sembuh. Pada usia 3 tahun penderita menderita OMA dan
belum sembuh hingga sekarang.

Anamnesis makanan : kualitas cukup kuantitas kurang.

Anamnesis imunisasi lengkap.

Pada pemeriksaan fisik didapatkan:


Keadaan umum
Kesadaran

: compos mentis

Kesan sakit

: Sedang

Posisi

: tidak ada letak paksa

Penampilan umum

: Mental gelisah. Fisik lemah.

Tanda-tanda vital
Tekanan darah

: 90/60 mmHg

Nadi

: 80 x/menit, reguler, ekual, lembut.

Respirasi

: 28 x/menit, abdominothorakal

Suhu

: 36, 8 oC

.
Pengukuran antropometrik
Umur

:4

tahun

Berat badan

: 9,5

kg

Panjang badan

: 87 cm

(59 % standar BB/U)


( 85 % standar PB/U)
( 76 % standar BB/TB)
Status gizi

: kurang (76% menurut BB/TB NCHS)

Lingkar kepala

: 43

cm

Lingkar dada

: 48

cm

Lingkar perut

: 43

cm

Lingkar lengan atas

: 10

cm

Pemeriksaan Sistemik
Kulit

: scar +

Kepala
Mata

: konjungtiva tidak Anemis , mata agak cekung

THT

: sekret .+/+, PCH -/-.

Mulut

: mukosa basah, bibir kering

KGB

: tak teraba membesar.

Inspeksi

: Bentuk dan pergerakan simetris, retraksi

Palpasi

: Pergerakan simetris, sela iga tidak melebar/menyempit.

Perkusi

: Sonor

Leher

Dada

Auskultasi

: VBS +/+, Ronki -/-, Wheezing -/-

Jantung
Inspeksi

: Ictus cordis tidak tampak.

Palpasi

: ictus cordis tidak kuat angkat, thrill -.

Perkusi

: batas normal

Auskultasi

: Bunyi jantung I dan II, reguler, tidak ada murmur.

Abdomen
Inspeksi

: Datar, soepel, Retraksi -.

Palpasi

: Hepar teraba 3 cm BAC, 3 cm BPX,


kenyal, tepi tajam, permukaan rata.
Lien tidak teraba. Turgor kembali cepat.

Auskultasi

: Bising usus

Alat kelamin

: Perempuan, tidak ada kelainan.

Anus dan rektum

: tidak ada kelainan, diaper rash -

Ekstremitas

: Tonus otot baik, akral dingin, pergerakan aktif.

Neurologis

: RF +/+
RP -/Sensorik baik.

Pemeriksaan penunjang:
Pemeriksaan darah:
12/10
Hb

12,7

Ht

39

Leuko

24.100

Tc

116.000

VI. Diagnosis
Diagnosis

: Diare Kronik e.c. DD/ malabsorbsi


underlying disease

Diagnosis Kerja

: Diare Krinik e.c. malabsorbsi

Diagnosis tambahan : KEP III, Otitis Media Kronis Perforata dextra sinistra

VII. Usul pemeriksaan


-

Feses

: feses rutin, clinitest, uji kualitatif ekskresi lemak, leukosit,

pewarnaan Gram, biakan


-

Darah

: darah lengkap, serum elektrolit,karoten, kalsium, kalium, klorida,

kolesterol, protrombin time, SADT


-

Test breath hydrogen

Foto torax

VIII. Penatalaksanaan
Non medikamentosa:
-

Infus NaCl 0,9% + Dextrose 5 % (1:4) 6 tts menit ( mikro drip)

Cegah hipoglikemia, hipotermia ( ukur suhu tubuh setiap 2 jam)

Koreksi gangguan keseimbangan elektrolit

Diet 950 kalori : Karbohidrat 570 kalori, Protein : 240 kalori,


Lemak : 140 kalori. Diberikan bertahap, sedikit dulu, kemudian
ditingkatkan sampai melebihi 100%AKG

Formula F WHO 75 ( 100 kkal / kg BB/ hari)

Medikamentosa :
-

Ampisilin 500 mg IV tiap 6 jam (2 Hari)

Gentamisin 75 mg IV 1x/ hari ( 7hari)

Multivitamin P.O

IX. Prognosis
Quo ad vitam

: dubia ad bonam

Quo ad functionam

: dubia ad bonam.

X. Pencegahan

Umum :
Tingkatkan higiene dan sanitasi lingkungan
Mencuci tangan sebelum makan

Khusus :

Pemberian makanan yang sering dengan kandungan energi


dan nutrient yang padat

Kontrol secara teratur

Pemberian suntikan/ imnunisasi ulangan

Pemberian vitamin A setiap 6 bulan.

Apabila anak menderita batuk, pilek segera diobati,


mencegah komplikasi OMSK sampai ke telinga tengah.

Follow up Harian
Keluhan
Keadaan umum
Tanda Vital

Kulit

12 Oktober05
Mencret 2x, kuning
hijau, lendir-, darahCM KS Sedang
T: 90/60
Nadi: 80x/mnt
Resp: 28x/mnt
Suhu: 36,80 C
Pucat-,Sianosis-,
ikterik,dermatosis- ,
edema-

13 Oktober05
-BAB1x kuning, lembek,
lendir-, darahCM, KS Sedang
T:90/60 mmHg
Nadi:80x/mnt
Resp:28 x/mnt
Suhu : 36,60 C
Pucat -,sianosis-,Ikterik
dermatosis- , edema- -,

14 Oktober05
CM, KS Sedang
T:90/60 mmHg
Nadi:84x/mnt
Resp:32 x/mnt
Suhu : 36,80 C
Pucat
-,sianosis,Ikterik-, dermatosis, edema-

Kepala
Mata
Telinga
Hidung
Mulut
Leher
Thoraks
Pulmo
Jantung
Abdomen

Anus
Ekstremitas
Tanda Neuro
Ref Fisiologis
Ref Patologis
Lab / penunjang

Simetris
Anemis -/Sekret -/Epistaksis -/Mucosa
basah,bibir
krg
Kaku kuduk B/P simetris
Retraksi VBS +/+, Rh -/-, wh -/BJM, reguler, murmur
-

Simetris
Anemis -/Sekret-/Epistaksis -/Mucosa basah,bibir krg

Datar, Soepel,
H 3 cm BAC, 3 cm
BPX
L t.t, Ascites -,turgor
kembali agak lambat
Diaper rash Akral hangat, tonus
baik, Gerak aktif.

Datar, Soepel,
H 3 cm BAC, 3 cm BPX
L t.t, Ascites -,turgor
kembali agak lambat
Diaper rash Akral hangat, tonus baik,
Gerak aktif.

Datar, Soepel,
H 3 cm BAC, 3 cm
BPX
L t.t, Ascites -,turgor
kembali cepat
Diaper rash Akral hangat, tonus
baik, Gerak aktif.

+/+
-/Hb:

+/+
-/-

+/+
-/-

Diare kronik + KEP III

Diare kronik + KEP

+OMSK

III +OMSK

10.00
KAEN 1B, 6tts/menit
Smecta pulv 3x1
Sanvita B 1x1 cth
Cefotaxime 2x250mg

10.00
th/ teruskan
Order dr. Rully :
- infus aff
- extra pediasure
2x1/2 gelas

12,7.

Ht:

Kaku kuduk B/P simetris


Retraksi VBS +/+, Rh -/-, wh -/BJM, reguler, murmur -

Simetris
Anemis -/Sekret /Epistaksis -/Mucosa basah,bibir
krg
Kaku kuduk B/P simetris
Retraksi VBS +/+, Rh -/-, wh -/BJM,
reguler,
murmur -

39

Leuko: 24.100
Tc: 116.000
Assesment

Order dokter

Diare kronik + KEPIII

10.00
KAEN 1B, 6tts/menit
Diet konsul Dr.Rully
Smecta pulv 3x1
Sanvita B 1x1 cth
Cefotaxime 2x250mg
Diet : nasi tim 3x1
Extra pediasure 2x1/2
gelas
2 fls KAEN 3/24jam

BB

Keluhan
Keadaan umum
Tanda Vital

10 kg

Extra pediasure
gelas
Konsul THT

10 kg

15 Oktober05
T:90/60 mmHg
Nadi:84x/mnt
Resp:32 x/mnt
Suhu : 36,60 C

2x1/2
- acc infus aff
- cefadroxil 3x1 cth

9,5 kg

Kulit

Pucat
-,sianosis-,Ikterik-,
dermatosis- , edema-

Kepala
Mata
Telinga
Hidung
Mulut
Leher
Toraks

Simetris
Anemis -/Sekret /Epistaksis -/Mucosa basah,bibir krg
Kaku kuduk B/P simetris
Retraksi VBS +/+, Rh -/-, wh -/BJM, reguler, murmur -

Pulmo
Jantung
Abdomen

Datar, Soepel,
H 3 cm BAC, 3 cm BPX
L t.t, Ascites -,turgor kembali
cepat
Diaper rash Akral hangat, tonus baik,
Gerak aktif.

Anus
Ekstremitas
Tanda Neuro
Ref Fisiologis
Ref Patologis
Lab / penunjang

+/+
-/-

Assesment

Diare kronik + KEP III


+OMSK

Order dokter

10.00
Boleh pulang

BB

9,5 kg

Pemeriksaan Penunjang
12/10
LED
Hb
Ht
Leukoosit
24.100
Trombosit
116.000

: 10
: 12,7
: 39
:
:

MPV
Diff count
Basofil
Eosinofil
N. staff
N.segmen
Limfosit

: 9,6
:
: 7,8
: 0.6
:0
: 43,6
: 31,6

X-Thorax
Cor : Normal. Pulmo : Hili agak lebar, beberapa garis kabur
Kesan : Sedikit pembesaran KGB

Monosit

: 16,4

Na
K
Cal
GDS

: 133
: 2,3
: 9,8
: 101

13/10
Feses
Warna
Konsistensi
Lendir
Eritrosit
Leukosit

Amylum
Amuba
Makrofag
Lain2

::::-

: kuning
: lembek
::0-2/LPB
: 2-4/LPB

SADT :
Eri
Leukosit
Tc

: normokrom normositer, normoblast -, reticulosit


: leukositosis, limfositosis
: kurang (ringan)

DISKUSI

Diagnosis yang ditegakkan adalah Diare Kronik e.c. malabsorbsi dengan D/


tambahan KEP III dan OMSK
Diagnosis Diare Kronik e.c. malnutrisi + KEP III

dan OMSK

ditegakkan

berdasarkan:
Anamnesis:

Sejak 10 hari SMRSI, penderita mencret berupa cairan berwarna kuning


kehijauan, encer, tanpa lendir ataupun darah.

Keluhan mencret terjadi sebanyak 3x/hari dengan jumlah gelas aqua


tiap kali mencret

RPD : Penderita mengalami diare yang berulang. Yang pertama kali pada
saat penderita berusia 2 tahun dan yang kedua kali pada usia 2,5 tahun.

Anamnesis yang mendukung ke arah KEP antara lain asupan makanan


kurang, berat badan sulit naik. Hal ini sesuai dengan etiologi KEP yang
bisa primer sebagi akibatnya kurangnya bahan makanan ataupun sekunder
yang disebabkan oleh penyakit paru, ginjal, hepar, jantung, dsb.

Pemeriksaan fisik:
Keadaan umum
Kesadaran

: compos mentis

Kesan sakit

: Sedang

Posisi

: tidak ada letak paksa

Penampilan umum

: Fisik lemah.

Tanda-tanda vital
Tekanan darah

: 90/60 mmHg

Nadi

: 80 x/menit, lembut.

Respirasi

: 28 x/menit.

Suhu

: 36, 8 oC.

Pengukuran antropometrik
Umur

:4

tahun

Berat badan

: 9,5

kg

Panjang badan

: 87 cm

(59 % standar BB/U)


( 85 % standar PB/U)
( 76 % standar BB/TB)
Status gizi

: kurang (76 % BB/TB menurut NCHS WHO)

Lingkar kepala

: 43

cm

Lingkar dada

: 48

cm

Lingkar perut

: 43

cm

Lingkar lengan atas

: 10

cm

Kulit

: scar +

Kepala
Mata

: Konjungtiva Anemis -/-

THT

: sekret +/+

Inspeksi

: Bentuk dan pergerakan simetris, retraksi

Perkusi

: Sonor

Dada

Auskultasi

: VBS +/+, Ronki -/-, Wheezing -/-

Abdomen
Inspeksi

: Datar, soepel, Retraksi -.

Palpasi

: Hepar teraba 3 cm BAC, 3 cm BPX, kenyal, tepi tajam,


permukaan rata. Turgor kulit kembali cepat

Ekstremitas

: Tonus otot baik, akral hangat, pergerakan aktif

Pemeriksaan penunjang:
Darah :
12/10
Hb

12,7

Ht

39

Leuko

24.100

Tc

116.000

Pengobatan yang diberikan:


Nonmedikamentosa

KAEN 1B, 6 tts / menit

Diet : Nasi tim 3x 1

Extra pediasure 2x1/2 gelas

2 fls KAEN 3A/ 24 jam ( setelah konsul ke ahli bagian nutrisi)

Pemberian terapi secara prinsipnya sama yaitu untuk mengatasi gangguan


elektrolit serta memberikan kalori yang adekuat.

Medikamentosa :

Cefotaxim 2x250mg IV

Smecta pulvis 3x1

Sanvita B 1x1 cth

Pemberian antibiotik dan multivitamin sesuai dengan anjuran.

DAFTAR PUSTAKA

1. Suharyono; Gastroenterologi Anak Praktis; Balai Penerbit FK UI; 1988


hlm 94 95
2. Suparto Pitono, Japri Liek S ; Gangguan absorbsi sekresi SINDROMA
DIARE; Graha Masyarakat Ilmiah Kedokteran, FK Airlangga; 1999, hlm
154-239
3. Solihin Pudjiadi, Prof.DR.Dr. DSAK; Ilmu Gizi Klinis pada Anak, edisi
Keempat, Balai Penerbit UI, 1990, hlm 95-137; 215-218; 235