Anda di halaman 1dari 7

TUGAS INDIVIDU

DILEMA ETIK

NAMA

: ANDI NURUL WAASIU

NIM

: 10542 0065 09

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2010

Prosedur

Invasive

Jantung

Terbuka...

Tapi

Salah

Pasien...

Joan Morris (nama samaran), seorang nenek berusia 67 tahun, diminta


bantuannya dalam suatu pembelajaran di rumah sakit untuk cerebral
angiography (ilmu mengenai darah pada otak). Sehari setelahnya,
secara tidak sengaja dia "terpaksa" dijadikan objek studi mengenai
invasive
cardiac
electrophysiology.
Setelah sesi angiography, pasien ini dipindahkan ke ruangan yang lain
yang bukan merupakan ruangan asalnya. Kesalahan yang
"direncanakan" terjadi keesokan harinya saat paginya pasien ini
dibawa untuk suatu prosedur jantung terbuka. Dia berada di atas meja
operasi yang mestinya bukan untuk dia selama satu jam. Para dokter
membuat irisan pada pangkal pahanya, menusuk sebuah arterinya,
menyambungnya ke sebuah pipa pembuluh lalu ke atas ke jantungnya
(suatu prosedur yang mengakibatkan resiko tinggi terjadinya
pendarahan, infeksi, serangan jantung, dan stroke). Kemudian tiba-tiba
telepon berdering, dan seorang dokter dari bagian lain bertanya "Apa
yang kalian lakukan dengann pasienku?" Tidak ada yang salah dengan
jantungnya. Kardiologis yang melakukan prosedur itu mencek data
wanita itu dan baru menyadari kesalahan fatal telah terjadi. Studi itu
langsung distop, setelah rekondisi wanita malang itu akhirnya
dikembalikan ke kamar asalnya, beruntungya, dalam kondisi yang
masih stabil.

Dalam kasus diatas saya mendapatkan etika kedokteran yaitu prinsip murah hati
beneficence prinsip moral yang mengutamakan tindakan yang ditujukan dengan
risiko dan biaya, dan tidak hanya perbuatan untuk kebaikan saja, melainkan juga
perbuatan yang sisi baiknya (manfaat) lebih besar dari pada sisi buruknya
(mudharat). Dan melindungi, mempertahankan hak lain, mencegah terjadi
kerugian pada yang lain, menghilangkan kondisi penyebab kerugian pada yang lain
dari segi general beneficence, dalam segi benefice menolong orang cacat,
meyelamatkan orang dari bahaya.
Dalam hal ini saya mendapatkan beneficene seorang dokter kurang, karena
dokter tersebut tidak menjelaskan infromed consent kepada pasien.
Informed consent bukan hanya meminta persetujuan dari pihak pasien atau pihak
keluarga pasien untuk menandatangi sebuah surat pernyataan yang mana hak
pasien dan keluarga pasien setuju atas tindakan dokter, tampa melakukan
informend consent pada pasien seorang dokter tidak boleh melakukan tindakan
medik.
Kasus diatas kita dapat membaca Dokter tersebut langsung membawa pasien di
meja operasi dan para dokter langsung membuat irisan pada pangkal pahanya,
menusk arterinya, menyambungnya ke sebuah pipa pembuluh lalu ke atas
jantungnya, tidak di sengaja seorang dokter melupakan etika kedokteran yang
dimana seorang dokter tidak boleh melakukan tindakan medis jika pasien dan
keluarga pasien tidak mendapatkan informed consent dari dokter, yang tindakan
seorang dokter tersebut adalah suatu tindakan yang mengakibatkan resiko tinggi
terjadinya pendarahan, infeksi, serangan jantung, dan stroke.

Daftar tilik kaidah dasar bioetik


1. Mengutamakan altrunalisme yaitu menolong tanpa pamrih, rela berkorban untuk
kepentingan orang lain, dalam kasus diatas tidak terdapat menolong tanpa pamri,
rela berkorban untuk kepentingan orang lain melainkan seorang pasien nenek
yang berusia 67 tahun, diminta bantuanya dalam suatu pembelajaran di rumah
sakit untuk cerebral angiography (ilmu mengenai darah pada otak).
2. Menjamin nilai poko harkat dan martabat manusia = tidak ada
3. Memandang pasien / keluarga / sesuatu tak hanya sejauh menguntungkan dokter =
ada dalam kasus diatas yang mana seorang pasien nenen berusia 67 tahun secara
tidak disengaja dia terpaksa dijadikan objek studi mengenai invasive cardiac
electrophysiology.
4. Mengusahakan agar kebaikan / manfaatnya lebih banyak dibandingkan dengan
keburukannya = tidak ada malah kebanyakan keburukan yang terjadi kepada
pasien nene berusia 67 tahun di pakai sebagai objek studi seorang dokter.
5. Paternalism bertanggung jawab / berkasih sayang = tidak ada

6. Menjamin kehidupan baik minimal manusia = tidak ada dalam kasus di atas
menceritakan bahwa apsien nenek yang di jadikan objek studi itu dapat
mengakibatkan resiko tinggi terjadinya pendarahan, infeksi, serangan jantung, dan
stroke.
7. Pembatasan goal-based = tidak ada
8. Maksimalisasi pemuasan kebahagiaan / preferensi pasien = tidak ada
9. Minimalisasi akibat buruk = ada
10. Kewajiban menolong pasien gawat darurat = tidak ada
11. Menghargai hak-hak pasien secara keseluruhan = ada tapi dalam kasus diatas
seorang dokter yang tidak menghargai hak pasien secara keseluruhan dimana
seorang dokter tidak memberi informend consent kepada nenek yang berusia 67
tahun.
12. Tidak menarik honorarium diluar kepantasan = tidak ada
13. Maksimalisasi kepuasan tertinggi secara keseluruhan = tidak ada
14. Mengembangkan profesi secara terus menerus = tidak ada
15. Memberikan obat berkhasiat namun murah = tidak ada
16. Menerapkan golden rule principle = tidak ada

Kasus diatas banyak melakukan pelanggaran etika kedokteran dan hak seorang pasien.
Didalam kasus pelanggaran seorang dokter sudah jelas diman seorang dokter memakai
pasien sebagai bahan studi dan tanpa minta informed consent dari pasien baik dari pihak
keluarga mau pun pasien sendiri.

Dalam kaida dasar bioetik menjelaskan seorang dokter tidak dapat melakukan tindakan
medis jika seorang dokter tidak dapat informed consent dari pasien tapi dalam kasus
diatas tampa informed consent seorang pasien langsung dibawah ke meja operasi yang
semustinya pasien tersebut tidak mengalamin penyakit jantung.

Seorang dokter juga bukan hanya memberikan informed consent yang jelas kepada
pasien tapi seorang dokter juga yang menitipkan pasiennya ke dokter lain harus
menjelaskan bahwa pasien yang dia titip ke dokter lain bukan penyakit jantung dan
dokter yg dititipkan pasien dari dokter lain harus mencek data-data atau rekam medis
seorang pasien yang mau di operasi agar tidak mengalami tindakan yang fatal terdapat
dalam kasus diatas dimana seorang nenek menjadi korban dari tindakan dokter yang tidak
memeriksa dan memberikan informed consent yang jelas kepada pasien.

Kesehatan sebagai hak asasi manusia yang tercantum dalam undang-undang nomor 39
tahun 1999 :
1. Hak untuk memperoleh keadilan yang menjelaskan setiap orang berhak untuk
memperoleh keadilan dengan mengajukan permohonan, pengaduan, dan gugatan,
baik dalam perkara pidana, perdata, maupun administrasi. Dalam hal ini seorang
pasien nenek yang berusia 67 tahun tidak mendapatkan keadilan dari seorang
dokter yang mana dokter tersebut tidak memberikan penjelasan kepada pasien dan
langsung melakukan tindakan yang membuat pasien tersebut bisa kehilangan
nyawa.
2. Hak untuk memperoleh rasa aman yang menjelaskan setiap orang berhak atas
perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, hak milik, rasa aman
dan tenteram serta perlindungan terhadap ancaman ketakutan untuk berbuat atau
tidak berbuat sesuatu. Dalam kasus diatas seorang pasien nenek yang berusia 67
tahun tidak mendapatkan hak rasa aman dari rumah sakit dan dokter tapi pasien
ini malah mendapatkan perlakuan dari dokter yang melanggar etika kedokteran
yang secara tidak sengaja seorang nenek yang berusia 67 tahun itu di jadikan
objek suatu studi mengenai invasive cardiac electrophysiology.

Dalam teori etika islam


Dokter tersebut tidak memiliki akhlah yang menjelaskan bahwa perbuatan yang tertanam
di jiwa seseorang sehingga telah menjadi kepribadian, perbuatan yang telah mudah dan
tampa pemikiran, perbuatan yang timbul dari dalam diri orang yang mengerjakannya
tanpa ada paksaan atau tekanan dari diri orang lain, perbuatan yang dilakukan bukan
main dan harus sungguh-sungguh tapi dokter tersebut menjadikan seorang pasien nenek
yang berusia 67 tahun itu sebagai objekan suatu studi cardiac electrophysiology.

Dalam etika kedokteran islam menganut 4 asas :


1. Asas darurat : ha-hal yang di dalam keadaan biasa haram dilakukan, jika terpaksa
boleh dilakukan (al-baqarah (2) :173 )
2. Asas yang mendahulukan mudharat yang lebih kecil dibanding yang lebih besar
3. Asas yang mendahulukan kepentingan umum di banding kepentingan pribadi
4. Asaa sedapat mungkin tidak mencederai pasien.

Kasus diatas melanggar etika kedokteran islam di mana pasien nenek berusiah 67 tahun
di paksa menjadi objekan studi untuk dokter yang mana dapat mencederai pasien tampa
meminta persetujuan dari pasien sendiri.

PRINSIP DALAM IMPLEMENTASI ILMU KEDOKTERAN ISALAM


1. Menekankan kesucian nyawa manusia sebagaimana disebutkan dalam surat al
maidah (5) : 32
barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah
dia telah memelihara nyawa seluruh umat manusia
2. Klau sakit, wajib berobat, sesuai dengan sunnah nabi saw :
berobatlah, sesungguhnya allah menciptakan penyakit disertai dengan obatnya
kecuali satu yaitu tua