Anda di halaman 1dari 8

Bahan Beracun dan Berbahaya (B3)

A.

Pengertian B3
Limbah merupakan sisa suatu usaha dan atau kegiatan. Limbah B3 adalah

sisa suatu usaha dan atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan atau
beracun yang karena sifat dan atau konsentrasinya dan atau jumlahnya, baik
secara langsung dapat mencemarkan dan atau merusak lingkungan hidup, dan atau
membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta
makhluk hidup lainnya. Oleh karena itu perlu adanya suatu tempat yang
digunakan untuk penyimpanan sementara limbah B3 sebelum diserahkan kepada
pemanfaat dan atau pengolah dan atau penimbun limbah B3.
Limbah berdasarkan Pasal 1 angka (20) Undang-Undang No. 32 tahun
2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UUPPLH)
adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan. Selanjutnya, Limbah bahan berbahaya
dan beracun (Limbah B3 berdasarkan Pasal 1 angka (22) UUPPLH adalah sisa
suatu usaha dan/atau kegiatan yang mengandung B3. Kemudian, Bahan berbahaya
dan beracun yang selanjutnya disingkat B3 berdasarkan Pasal 1 angka (20)
UUPPLH adalah zat, energi, dan/atau komponen lain yang karena sifat,
konsentrasi, dan/atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung,
dapat mencemarkan dan/atau merusak lingkungan hidup, dan/atau membahayakan
lingkungan hidup, kesehatan, serta kelangsungan hidup manusia dan makhluk
hidup lain.
Pengelolaan limbah B3 berdasarkan Pasal 1 angka (23) UUPPLH adalah
kegiatan yang meliputi pengurangan, penyimpanan, pengumpulan, pengangkutan,
pemanfaatan, pengolahan, dan/atau penimbunan. Ketentuan lebih lanjut mengenai
pengelolaan limbah B3 berdasarkan Pasal 59 ayat (7) UUPPLH, diatur dalam
Peraturan Pemerintah.

Memperhatikan ketentuan Pasal 124 UUPPLH yang menetapkan masih


berlakunya peraturan pelaksana UUPLH, sepanjang tidak bertentangan atau belum
diganti. Adapun Peraturan Pemerintah yang mengatur tentang Pengelolaan
Limbah B3 saat ini yaitu: Peraturan Pemerintah No. 18 Tahun1999 tentang
Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (PP No. 18/1999), yang
kemudian diubah dan disempurnakan dengan Peraturan Pemerintah No. 85 tahun
1999 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah No. 18 tahun 1999 tentang
Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (PP No. 85/1999. PP No.
18/1999).

Intinya adalah setiap materi yang karena konsentrasi dan atau sifat dan
atau jumlahnya mengandung B3 dan membahayakan manusia, mahluk hidup dan
lingkungan, apapun jenis sisa bahannya.
Definisi limbah B3 berdasarkan BAPEDAL (1995) ialah setiap bahan sisa
(limbah) suatu kegiatan proses produksi yang mengandung bahan berbahaya dan
beracun (B3) karena sifat (toxicity, flammability, reactivity, dan corrosivity) serta
konsentrasi atau jumlahnya yang baik secara langsung maupun tidak langsung
dapat merusak, mencemarkan lingkungan, atau membahayakan kesehatan
manusia.

B.

Indentifikasi B3
Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2001

tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun, Pengidentifikasian limbah


B3 digolongkan ke dalam 2 (dua) kategori, yaitu:

1. Berdasarkan sumber
2. Berdasarkan karakteristik
Golongan limbah B3 yang berdasarkan sumber dibagi menjadi:
o Limbah B3 dari sumber spesifik;
o Limbah B3 dari sumber tidak spesifik;
o Limbah B3 dari bahan kimia kadaluarsa, tumpahan, bekas kemasan dan
buangan produk yang tidak memenuhi spesifikasi.
Sedangkan golongan limbah B3 yang berdasarkan karakteristik ditentukan
berdasarkan Pasal 8 PP 85/1999, mengenai limbah yang dihasilkan dari kegiatan
yang tidak termasuk dalam Lampiran Tabel I, Tabel 2 PP 85/1999, apabila
terbukti memenuhi Pasal 7 ayat (3) PP 85/1999 dan atau ayat (4), maka limbah
tersebut merupakan limbah B3 :
1. Mudah meledak (explosive), adalah bahan yang pada suhu dan tekanan standar
(25 0C,760 mmHg) dapat meledak atau melalui reaksi kimia dan atau fisika dapat
menghasilkan gas dengan suhu dan tekanan tinggi yang dengan cepat dapat
merusak lingkungan di sekitarnya. Pengujiannya dapat dilakukan dengan
menggunakan Differential Scanning Calorymetry (DSC) atau Differential
Thermal Analysis (DTA), 2,4-dinitrotoluena atau Dibenzoil-peroksida sebagai

senyawa acuan. Dari hasil pengujian tersebut akan diperoleh nilai temperatur
pemanasan. Apabila nilai temperatur pemanasan suatu bahan lebih besar dari
senyawa acuan, maka bahan tersebut diklasifikasikan mudah meledak.
2. Pengoksidasi (oxidizing), Pengujian bahan padat yang termasuk dalam kriteria B3
pengoksidasi dapat dilakukan dengan metoda uji pembakaran menggunakan
ammonium persulfat sebagai senyawa standar. Sedangkan untuk bahan berupa
cairan, senyawa standar yang digunakan adalah larutan asam nitrat. Dengan
pengujian tersebut, suatu bahan dinyatakan sebagai B3 pengoksidasi apabila
dalam waktu pembakaran bahan tersebut sama atau lebih pendek dari waktu
pembakaran senyawa standar.
3. Sangat mudah sekali menyala (extremely flammabel) adalah B3 baik berupa
padatan maupun cairan yang memiliki titik nyala dibawah 0 0C dan titik didih
lebih rendah atau sama dengan 35 0C.
4. Sangat mudah menyala (highly flammable) adalah B3 baik berupa padatan
maupun cairan yang memiliki titik nyala 00C 210C.
5. Mudah menyala (flammable) mempunyai salah satu sifat sebagai berikut:
o

Berupa cairan , Bahan berupa cairan yang mengandung alkohol kurang dari
24% volume dan atau pada titik nyala (flash point) tidak lebih dari 600 C
(1400 F) akan menyala apabila terjadi kontak dengan api, percikan api, atau
sumber nyala lain pada tekanan udara 760 mmHg. Pengujiannya dapat
dilakukan dengan metode Closed-Up Test.

o Berupa padatan, B3 yang bukan merupakan cairan, pada temperatur dan


tekanan standar (25 0C, 760 mmHg) dengan mudah terjadinya kebakaran
melalui gesekan, penyerapan uap air atau perubahan kimia secara spontan dan
apabila terbakar dapat menyebabkan kebakaran yang terus menerus dalam 10
detik. Selain itu, suatu bahan padat diklasifikasikan B3 mudah terbakar
apabila dalam pengujian dengan metode Seta closed-Up Flash Point Test
diperoleh titik nyala kurang dari 400C.
6. Beracun (moderately toxic)
B3 yang bersifat racun bagi manusia akan menyebabkan kematian atau sakit yang
serius apabila masuk ke dalam tubuh melalui pernafasan, kulit atau mulut.

Tingkatan racun B3 dikelompokkan sebagai berikut: Urutan Kelompok LD50


(mg/kg)
o

Amat sangat beracun (extremely toxic)

<1

Sangat beracun (highly toxic)

1 50

Beracun (moderately toxic)

51 500

Agak beracun (slightly toxic)

501 - 5.000

Praktis tidak beracun (practically non toxic)

5001 - 15.000

Relatif tidak berbahaya (relatively harmless)

> 15.000

7. Berbahaya (harmful) adalah bahan baik padatan maupun cairan ataupun gas yang
jika terjadi kontak atau melalui inhalasi ataupun oral dapat menyebabkan bahaya
terhadap kesehatan sampai tingkat tertentu.
8. Korosif (corrosive), B3 yang bersifat korosif mempunyai sifat antara lain:

Menyebabkan iritasi (terbakar) pada kulit;

Menyebabkan proses pengkaratan pada lempeng baja SAE 1020 dengan laju
korosi lebih besar dari 6,35 mm/tahun dengan temperatur pengujian 55 0 C.

Mempunyai pH sama atau kurang dari 2 untuk B3 bersifat asam dan sama atau
lebih besar dari 12,5 untuk yang bersifat basa.

9. Bersifat iritasi (irritant), Bahan baik padatan maupun cairan yang jika terjadi
kontak secara langsung, dan apabila kontak tersebut terus menerus dengan kulit
atau selaput lendir dapat menyebabkan peradangan.
10. Berbahaya bagi lingkungan (dangerous to the environment), Bahaya yang
ditimbulkan oleh suatu bahan seperti merusak lapisan ozon (misalnya CFC),
persisten di lingkungan (misalnya PCBs), atau bahan tersebut dapat merusak
lingkungan.
11. Karsinogenik (carcinogenic) adalah sifat bahan penyebab sel kanker, yakni sel liar
yang dapat merusak jaringan tubuh.
12. Teratogenik (teratogenic) adalah sifat bahan yang dapat mempengaruhi
pembentukan dan pertumbuhan embrio.
13. Mutagenik (mutagenic) adalah sifat bahan yang menyebabkan perubahan
kromosom yang berarti dapat merubah genetika.

Karakteristik limbah B3 ini mengalami pertambahan lebih banyak dari PP No. 18


tahun 1999 yang hanya mencantumkan 6 (enam) kriteria, yaitu:
o

mudah meledak;

mudah terbakar;

bersifat reaktif;

beracun;

menyebabkan infeksi;

bersifat korosif.

C. . Simbol-simbil B3
Adapun simbol-simbol B3 sesuai peraturan diatas sebagai berikut :
No
1

Simbol

Keterangan
B3 Mudah Meledak
Contoh : Sulphur Powder

mudah menyala
Contoh : Bensin

B3 Pengoksidasi
Contoh : Kaporit

B3 Karsinogenik, Mutagenik & Teratogenik


Contoh : Formaline

B3 Beracun
Contoh : Pestisida

B3 Korosif
Contoh : Asam Sulphat

B3 Gas Bertekanan
Contoh : LPG

B3 Berbahaya Bagi Lingkungan


Contoh : Pelumas

B3 Iritan
Contoh : Asam Format

Referensi :
http://abunajmu.wordpress.com/2011/08/16/simbol-bahan-berbahaya-danberacun-b3/
http://helmutinfo.blogspot.com/2012/03/klasifikasi-bahan-berbahaya-beracunb3.html
http://id.shvoong.com/society-and-news/environment/2287118-pengertianlimbah-b3/
http://limbahb3-limbahb3.blogspot.com/
http://majarimagazine.com/2008/01/teknologi-pengolahan-limbah-b3/
www.menlh.go.id/i/art/pdf_1054679307.pdf
http://pknjuntak.wordpress.com/2008/01/18/pengelolaan-limbah-bahan-beracun
dan-berbahaya-b3/
http://tatyalfiah.wordpress.com/tag/klasifikasi-b3/
http://pandadomainadvisor.com/