Anda di halaman 1dari 15

TUGAS KEPERAWATAN ANAK

AHUHAN KEPERAWATAN PADA NEONATUS DENGAN


RDS (RESPIRASI DISTRESS SINDROM)

Disusun oleh:
Maulana Ahmad
Erdin Sikap Ginung P
Nining Febriyana
Erni Triyono
Widodo Rony S

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


STIKES NGUDI WALUYO UNGARAN
2014

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
RDS adalah keadaan darurat medis yang dipicu oleh berbagai proses
akut yang berhubungan langsung ataupun tidak langsung dengan kerusakan
paru. (aryanto suwondo, 2006). Ards mengakibatkan terjadinya gangguan paru
yang progresif dan tiba-tiba ditandai dengan sesak napas yang berat,
hipoksemia dan infiltrat yang menyebar dikedua belah paru.
RDS ( juga disebut syok paru) akibat cedera paru dimana sebelumnya
paru sehat, sindrom ini mempengaruhi kurang lebih 150.000 sampai 200.000
pasien tiap tahun, dengan laju mortalitas 65% untuk semua pasien yang
mengalami ards. Faktor resiko menonjol adalah sepsis. Kondisi pencetus lain
termasuk trauma mayor, kid, tranfusi darah, aspirasi tenggelam, inhalasi asap
atau kimia, gangguan metabolik toksik, pankreatitis, eklamsia, dan kelebihan
dosis obat. Perawatan akut secara khusus menangani perawatan kritis dengan
intubasi dan ventilasi mekanik (doenges 1999 hal 217).
RDS berkembang sebagai akibat kondisi atau kejadian berbahaya berupa
trauma jaringan paru baik secara langsung maupun tidak langsung. Ards
terjadi sebagai akibat cedera atau trauma pada membran alveolar kapiler yang
mengakibatkan kebocoran cairan kedalam ruang interstisiel alveolar dan
perubahan dalam jaring-jaring kapiler, terdapat ketidakseimbangan ventilasi
dan perfusi yang jelas akibat akibat kerusakan pertukaran gas dan pengalihan
ekstansif darah dalam paru-paru. rds menyebabkan penurunan dalam
pembentukan surfaktan, yang mengarah pada kolaps alveolar. Komplians paru
menjadi sangat menurun atau paru-paru menjadi kaku akibatnya adalah
penuruna karakteristik dalam kapasitas residual fungsional, hipoksia berat dan
hipokapnia ( brunner & suddart 616).
Oleh karena itu, penanganan rds sangat memerlukan tindakan khusus
dari perawat untuk mencegah memburuknya kondisi kesehatan klien. Hal
tersebut dikarenakan klien yang mengalami ards dalam kondisi gawat yang
dapat mengancam jiwa klien.

B. Rumusan masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan ards?
2. Apa penyebab dari ards?
3. Bagaimana manifestasi klinis dari ards?
4. Bagaimana patofisiologi dari ards?
5. Apa pemeriksaan penunjang untuk ards?
6. Bagaimana komplikasi ards?
7. Bagaimana penatalaksanaan ards?
8. Bagaimana asuhan keperawatan pada klien dengan ards?
C. Tujuan
Tujuan umum
Menjelaskan tentang ards dan asuhan keperawatan pada klien dengan kasus
ards.
Tujuan khusus:
1. Menjelaskan tentang ards.
2. Menjelaskan tentang penyebab dari ards.
3. Menjelaskan tentang manifestasi klinis dari ards.
4. Menjelaskan tentang patofisiologi dari ards.
5. Menjelaskan tentang pemeriksaan penunjang untuk ards.
6. Menjelaskan tentang komplikasi ards.
7. Menjelaskan tentang penatalaksanaan ards.
8. Menjelaskan tentang asuhan keperawatan pada klien dengan ards.

BAB II
KONSEP DASAR MEDIS

A. Definisi
Adalah gangguan pernafasan yang sering terjadi pada bayi premature
dengan tanda-tanda takipnue (>60 x/mnt), retraksi dada, sianosis pada udara
kamar, yang menetap atau memburuk pada 48-96 jam kehidupan dengan x-ray
thorak yang spesifik. Tanda-tanda klinik sesuai dengan besarnya bayi, berat
penyakit, adanya infeksi dan ada tidaknya shunting darah melalui PDA (Stark
1986).
Menurut Petty dan Asbaugh (1971), definisi dan kriteria RDS bila
didapatkan sesak nafas berat (dyspnea ), frekuensi nafas meningkat
(tachypnea), sianosis yang menetap dengan terapi oksigen, penurunan daya
pengembangan paru,adanya gambaran infiltrat alveolar yang merata pada foto
thorak dan adanya atelektasis, kongesti vascular, perdarahan, edema paru, dan
adanya hyaline membran pada saat otopsi.
Menurut Murray et.al (1988) disebut RDS apabila ditemukan adanya
kerusakan paru secara langsung dan tidak langsung, kerusakan paru ringan
sampai sedang atau kerusakan yang berat dan adanya disfungsi organ non
pulmonar.
Definisi RDS menurut Bernard et.al (1994) apabila onset akut, ada
infiltrat bilateral pada foto thorak, tekanan arteri pulmonal =18mmHg dan
tidak ada bukti secara klinik adanya hipertensi atrium kiri, adanya kerusakan
paru akut dengan PaO2 : FiO2 kurang atau sama dengan 300, adanya sindrom
gawat napas akut yang ditandai PaO2 : FiO2 kurang atau sama dengan
200,disebut sebagai RDS .
B. Etiology
Defesiensi atau kerusakan surfaktan Ada 4 faktor penting penyebab
defisiensi surfaktan pada RDS yaitu prematur, asfiksia perinatal, maternal
diabetes, seksio sesaria. Respiratory Distress Syndrome (RDS) disebut juga

Hyaline Membran Disease (HMD) didapatkan pada 10% bayi prematur, yang
disebabkan defisiensi surfaktan pada bayi yang lahir dengan masa gestasi
kurang. Surfaktan biasanya didapatkan pada paru yang matur. Fungsi
surfaktan untuk menjaga agar kantong alveoli tetap berkembang dan berisi
udara, sehingga pada bayi prematur dimana surfaktan masih belum
berkembang menyebabkan daya berkembang paru kurang dan bayi akan
mengalami sesak nafas. Gejala tersebut biasanya muncul segera setelah bayi
lahir dan akan bertambah berat.
C. Faktor resiko
1. Trauma langsung pada paru
a. Pneumoni virus,bakteri, fungal
b. Contusio paru
c. Aspirasi cairan lambung
d. Inhalasi asap berlebih
e. Inhalasi toksin
f. Menghisap O2 konsentrasi tinggi dalam waktu lama
2. Trauma tidak langsung
a. Sepsis
b. Shock
c. DIC (Dissemineted Intravaskuler Coagulation)
d. Pankreatitis
e. Uremia
f. Overdosis Obat
g. Idiophatic (tidak diketahui)
h. Bedah Cardiobaypass yang lama
i. Transfusi darah yang banyak
j. PIH (Pregnand Induced Hipertension)
k. Peningkatan TIK
l. Terapi radiasi

D. Manifestasi klinik
1. Peningkatan jumlah pernapasan
2. Klien mengeluh sulit bernapas, retraksi dan sianosis
3. Pada Auskultasi mungkin terdapat suara napas tambahan
E. Patofisiologi
Pada RDS terjadi atelektasis yang sangat progresif, yang disebabkan
kurangnya zat yang disebut surfaktan. Surfaktan adalah zat aktif yang
diproduksi sel epitel saluran nafas disebut sel pnemosit tipe II.Zat ini mulai
dibentuk pada kehamilan 22-24 minggu dan mencapai max pada minggu ke
35.Zat ini terdiri dari fosfolipid (75%) dan protein (10%).Sel tipe II ini sangat
sensitive dan berkurang pada bayi dengan asfiksia pada periode perinatal, dan
kematangannya dipacu dengan adanya stress intrauterine seperti hipertensi dan
kehamilan kembar.Peranan surfaktan ialah merendahkan tegangan permukaan
alveolus sehingga tidak terjadi kolaps dan mampu menahan sisa udara
fungsional pada sisa akhir expirasi. Kolaps paru ini akan menyebabkan
terganggunya ventilasi sehingga terjadi hipoksia, retensi CO2 dan asidosis.
iHipoksia akan menyebabkan terjadinya :Oksigenasi jaringan menurun
metabolisme anaerobik dengan penimbunan asam laktat asam organic
asidosis metabolic.Kerusakan endotel kapiler dan epitel duktus alveolaris
transudasi kedalam alveoli terbentuk fibrin fibrin dan jaringan epitel yang
nekrotik

lapisan

membrane

hialin.Asidosis

dan

atelektasis

akan

menyebabkan terganggunya jantung, penurunan aliran darah ke paru, dan


mengakibatkan hambatan pembentukan surfaktan, yang menyebabkan
terjadinya atelektasis. Manifestasi KlinisTakipnea (>60 x/menit) Retraksi dada
Sianosis pada udara kamarX-ray thorak spesifik yang menetap atau memburuk
pada 48-96 jam kehidupan.
F. Penatalaksanaan Medis
Tujuan Terapi :
1) Support pernapasan
2) Mengobati penyebab jika mungkin

3) Mencegah komplikasi.
Terapi :
1. Intubasi untuk pemasangan ETT
2. Pemasangan Ventilator mekanik (Positive end expiratory pressure) untuk
mempertahankan keadekuatan level O2 darah.
3. Sedasi untuk mengurangi kecemasan dan kelelahan akibat pemasangan
ventilator
4. Pengobatan tergantung klien dan proses penyakitnya :
a. Inotropik agent (Dopamine ) untuk meningkatkan curah jantung &
tekanan darah.
b. Antibiotik untuk mengatasi infeksi
c. Kortikosteroid dosis besar (kontroversial) untuk mengurangi respon
inflamasi dan mempertahankan stabilitas membran paru.

BAB III
KONSEP DASAR KEPERAWATAN
A. Pengkajian
Riwayat maternal

Menderita penyakit seperti diabetes mellitus

Kondisi seperti perdarahan placenta

Tipe dan lamanya persalinan

Stress fetal atau intrapartus

Status infant saat lahir

Prematur, umur kehamilan

Apgar score, apakah terjadi aspiksia

Bayi prematur yang lahir melalui operasi caesar

Cardiovaskular

Bradikardi (dibawah 100 x per menit) dengan hipoksemia berat

Murmur sistolik

Denyut jantung dalam batas normal

Integumen

Pallor yang disebabkan oleh vasokontriksi periferal

Pitting edema pada tangan dan kaki

Mottling

Neurologis

Immobilitas, kelemahan, flaciditas

Penurunan suhu tubuh

Pulmonary

Takipnea (pernafasan lebih dari 60 x per menit, mungkin 80 100 x )

Nafas grunting

Nasal flaring

Retraksi intercostal, suprasternal, atau substernal

Cyanosis (sentral kemudian diikuti sirkumoral) berhubungan dengan


persentase desaturasi hemoglobin

Penurunan suara nafas, crakles, episode apnea

Status behavioral

Lethargy

Study diagnostik

Seri rontqen dada, untuk melihat densitas atelektasis dan elevasi


diaphragma dengan overdistensi duktus alveolar

Bronchogram udara, untuk menentukan ventilasi jalan nafas.

Data laboratorium

Profil paru, untuk menentukan maturitas paru, dengan bahan cairan


amnion (untuk janin yang mempunyai predisposisi rds)

Lecitin/sphingomielin (l/s) ratio


2 : 1 atau lebih mengindikasikan maturitas paru
Phospatidyglicerol : meningkat saat usia gestasi 35 minggu
Tingkat phosphatydylinositol

Analisa gas darah, pao2 kurang dari 50 mmhg, paco2 kurang dari 60
mmhg, saturasi oksigen 92% - 94%, ph 7,31 7,45

Level pottasium, meningkat sebagai hasil dari release potassium dari sel
alveolar yang rusak

B. Diagnosa keperawatan
Kolaboratif problem : insufisiensi respiratory berhubungan dengan
penurunan volume dan komplians paru, perfusi paru dan vintilasi alveolar.
Tujuan 1 : tanda dan gejala disstres pernafasan, deviasi dari fungsi dan resiko
infant terhadap rds dapat teridentifikasi
Intervensi
1. Kaji infant yang beresiko mengalami Pengkajian
rds yaitu :
-

Riwayat

Rasional
diperlukan

untuk

menentukan intervensi secepatnya bila


ibu

dengan

daibetes bayi menunjukkan adanya tanda distres

mellitus atau perdarahan placenta

nafas dan terutama untuk memperbaiki

Prematuritas bayi

prognosa

Hipoksia janin

- Kelahiran melalui operasi caesar


2. Kaji perubahan status pernafasan
termasuk :

Perubahan tersebut mengindikasikan


rds telah terjadi, panggil dokter untuk

Takipnea (pernafasan diatas 60 x tindakan secepatnya


per menit, mungkin 80 100 x) -

Pernafasan

Nafas grunting

peningkatan kebutuhan oksigen

Nasal flaring

Retraksi intercostal, suprasternal penutupan glotis untuk menghentikan

Suara

ini

bayi

meningkat

merupakan

suara

karena
keran

atau substernal dengan penggunaan ekhalasi udara dengan menekan pita


otot bantu nafas

suara

Cyanosis

- Merupakan keadaan untuk menurunkan

Episode apnea, penurunan suara resistensi


nafas dan adanya crakles

dari

respirasi

dengan

membuka lebar jalan nafas


- Retraksi mengindikasikan ekspansi paru
yang tidak adekuat selama inspirasi
- Cyanosis terjadi sebagai tanda lanjut
dengan po2 dibawah 40 mmhg
- Episode apneu dan penurunan suara nafas
menandakan distress nafas semakin

3. Kaji tanda yang terkait dengan rds


-

Pallor dan pitting edema pada

berat
Tanda-tanda tersebut terjadi pada rds
-

Tanda ini terjadi karena

tangan dan kaki selama 24 jam

vasokontriksi perifer dan penurunan

Kelemahan otot

permeabilitas vaskuler

Denyut jantung dibawah 100 x per -

Tanda ini terjadi karena ekshaution

menit pada stadium lanju

yang disebabkan kehilangan energi

Nilai agd dengan po2 dibawah 40

selama kesulitan nafas

mmhg, pco2 diatas 65 mmhg, dan

ph dibawah 7,15

Bradikardia terjadi karena


hipoksemia berat

Tanda ini mengindikasikan acidosis


respiratory dan acidosis metabolik

jika bayi hipoksik


4. Monitor po2 trancutan atau nilai pulse Nilai po2 traskutan dan pulse oksimetri
oksimetri secara kontinyu setiap jam

non invasif menunjukkan prosentase


oksigen saat inspirasi udara.

Tujuan 2. Mempertahankan dan memaksimalkan fungsi pulmonal


Intervensi
Rasional
1. Berikan kehangatan dan oksigen Untuk mencegah terjadinya hipotermia dan
sesuai dengan sbb
-

Oksigen

yang

memenuhi kebutuhan oksigen tubuh


dihangatkan

31,7c 33,9c

2.

Humidifikasi 40% - 60%

Beri cpap positif

Beri peep positif


Berikan pancuronium bromide Obat ini berguna sebagai relaksan otot

(pavulon)

untuk mencegah injury karena pergerakan

bayi saat ventilasi


3. Tempatkan bayi pada lingkungan Lingkungan dengan
dengan suhu normal serta monitor menurunkan

suhu netral

kebutuhan

oksigen

akan
dan

temperatur aksila setiap jam


menurunkan produksi co2.
4. Monitor vital signs secara Perubahan vital signs menandakan tingkat
kontinyu yaitu denyut jantung, keparahan atau penyembuhan
pernafasan, tekanan darah, serta
auskultasi suara nafas
5. Observasi perubahan warna kulit, Karena perubahan warna kulit, pergerakan
pergerakan dan aktivitas

dan aktivitas mengindikasikan peningkatan


metabolisme oksigen dan glukosa.
Informasi yang penting lainnya adalah
perubahan kebutuhan cairan, kalori dan

kebutuhan oksigen.
6. Pertahankan energi pasien dengan Mencegah penurunan tingkat energi infant
melakukan

prosedur

seefektif

mungkin.
7. Monitor serial agd seperti pao2, Perubahan

mengindikasikan

terjadinya

paco2, hco3 dan ph setiap hari acidosis respiratorik atau metabolik


atau bila dibutuhkan
Diagnosa keperawatan : gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan ketidakmampuan menghisap, penurunan motilitas usus.
Tujuan : mempertahankan dan mendukung intake nutrisi

Intervensi
Rasional
1. Berikan infus d 10% w sekitar 65 Untuk menggantikan kalori yang tidak
80 ml/kg bb/ hari
2. Pasang selang nasogastrik atau
orogastrik untuk dapat

didapat secara oral


Pilihan ini dilakukan jika masukan sudah
tidak mungkin dilakukan.

memasukkan makanan jika


diindikasikan atau untuk
mengevaluasi isi lambung
3. Cek lokasi selang ngt dengan cara : Untuk mencegah masuknya makanan ke
-

Aspirasi isi lambung

saluran pernafasan

Injeksikan sejumlah udara dan


auskultasi masuknya udara
pada lambung

Letakkan ujung selang di air,


bila masuk lambung, selang
tidak akan memproduksi

gelembung
4. Berikan makanan sesuai dengan
prosedur berikut :

tingkat energi bayi

Elevasikan kepala bayi

Berikan asi atau susu formula


dengan

Memberikan makanan tanpa menurunkan

prinsip

gravitasi

dengan ketinggian 6 8 inchi


dari kepala bayi
-

Berikan makanan dengan suhu


ruangan

Tengkurapkan

bayi

setelah

makan sekitar 1 jam


5. Berikan tpn jika diindikasikan

Tpn merupakan metode alternatif untuk


mempertahankan nutrisi jika bowel sounds
tidak ada dan infants berada pada stadium
akut.

Diagnosa keperawatan : resiko tinggi deficit volume cairan berhubungan dengan


kehilangan cairan sensible dan insesible
Tujuan : mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit
Intervensi
Rasional
1. Pertahankan pemberian infus dex Penggantian cairan secara adekuat untuk
10% w 60 100 ml/kg bb/hari
mencegah ketidakseimbangan
2. Tingkatkan cairan infus 10 Mempertahankan asupan cairan sesuai
ml/kg/hari, tergantung dari urine kebutuhan pasien. Takipnea dan
output, penggunaan pemanas dan penggunaan pemanas tubuh akan
jumlah feedings
meningkatkan kebutuhan cairan
3. Pertahankan tetesan infus secara Untuk mencegah kelebihan atau kekurangan
stabil, gunakan infusion pump

cairan. Kelebihan cairan dapat menjadi

keadaan fatal.
4. Monitor intake cairan dan output Catatan intake dan output cairan penting
dengan cara :
-

untuk

menentukan

ketidakseimbangan

Timbang berat badan bayi cairan sebagai dasar untuk penggantian


setiap 8 jam

cairan

- Timbang popok bayi untuk


menentukan urine output
-

Tentukan jumlah bab

Monitor jumlah asupan cairan

infus setiap hari


5. Lakukan pemeriksaan sodium dan Peningkatan tingkat sodium dan potassium
potassium setiap 12 atau 24 jam

mengindikasikan terjadinya dehidrasi dan


potensial ketidakseimbangan elektrolit

Diagnosa keperawatan : koping keluarga inefektif berhubungan dengan ansietas,


perasaan bersalah, dan perpisahan dengan bayi sebagai akibat situasi krisis
Tujuan : meminimalkan kecemasan dan rasa bersalah, dan mendukung bounding
antara orangtua dan infant
Intervensi
Rasional
1. Kaji respon verbal dan non verbal Hal ini akan membantu mengidentifikasi dan
orangtua terhadap kecemasan dan membangun strategi koping yang efektif
penggunaan koping mekanisme

2. Bantu orangtua mengungkapkan Membuat orangtua bebas mengekpresikan


perasaannya secara verbal tentang perasaannya sehingga membantu menjalin rasa
kondisi sakit anaknya, perawatan saling percaya, serta mengurangi tingkat
yang lama pada unit intensive, kecemasan
prosedur dan pengobatan infant
3. Berikan informasi yang akurat dan Informasi dapat mengurangi kecemasan
konsisten

tentang

kondisi

perkembangan infant
4. Bila mungkin, anjurkan orangtua Memfasilitasi proses bounding
untuk

mengunjungi

dan

ikut

terlibat dalam perawatan anaknya


5. Rujuk pasien pada perawat Rujukan untuk mempertahankan informasi
keluarga atau komunitas

yang

adekuat,

menghadapi
anaknya.

serta

keadaan

membantu
sakit

orangtua

kronis

pada

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
RDS adalah Penyakit akut dan progressive dari kegagalan pernafasan
disebabkan terhambatnya proses difusi oksigen dari alveolar ke kapiler (a-c
block) yang disebabkan oleh karena terdapatnya edema yang terdiri dari cairan
koloid protein baik interseluler maupun intra alveolar. Penyebabnya bisa
penyakit apapun, yang secara langsung ataupun tidak langsung melukai paruparu seperti: Pneumoni virus, bakteri, fungal; contusio paru, aspirasi cairan
lambung, inhalasi asap berlebih, inhalasi toksin, menghisap O2 konsentrasi
tinggi dalam waktu lama, Sepsis, Shock, Luka bakar hebat, Tenggelam,dsb.
Gejala biasanya muncul dalam waktu 24-48 jam setelah terjadinya penyakit
atau cedera. SGPA(sindrom gawat pernafasan akut) seringkali terjadi
bersamaan dengan kegagalan organ lainnya, seperti hati atau ginjal.
B. Saran
1. Menghindari faktor resiko yang dapat menyebabkan ARDS.
2. Apabila gejala RDS mulai muncul sesegera mungkin bawalah ke rumah
sakit terdekat untuk mendapat pertolongan lebih lanjut agar tidak terjadi
komplikasi pada hati dan ginjal.

Anda mungkin juga menyukai