Anda di halaman 1dari 5

Seminar Nasional Teknologi Informasi dan Komunikasi 2012 (SENTIKA 2012)

Yogyakarta, 10 Maret 2012

ISSN: 2089-9815

SIMULASI BERBASIS AGEN-BASED MODELING (ABM) MENGGUNAKAN


NETLOGO
Julius Bata
Lab Pengembangan Simulasi dan Game Edukasi, PAUD Dunia Beta
Jl. Angklung No. 16, Kupang Nusa Tenggara Timur
E-mail: juliusbata@gmail.com

ABSTRAKS
Agent-based modeling telah digunakan untuk mempelajari fenomena sosial seperti perilaku manusia ketika
evakuasi, perilaku pejalan kaki dan proses yang terjadi dalam bisnis. agent-based simulation juga mulai
digunakan dalam dunia pendidikan untuk mendukung proses belajar siswa. Paper ini bertujuan memberikan
gambaran tentang agent-based modeling dan bagaimana cara mengembangkannya. Untuk itu sejumlah literatur
ditampilkan dan dibahas pada paper ini. paper ini juga memberikan gambaran bagaimana mengembangkan
agent-based simulation dengan membuat simulasi proses rantai makanan. Dalam mengembangkan simulasi,
kami menggunakan metode masim dan menggunakan netlogo sebagai tool untuk implementasi. hasil penelitian
ini menunjukkan simulasi rantai makanan yang dikembangkan mampu memvisualisasikan konsep rantai
makanan yang terjadi pada dunia nyata.
Kata Kunci: Agent-Based Modeling, NetLogo, MASIM
nyata yang semakin kompleks. ABM juga dapat
menghasilkan perilaku sistem yang kompleks,
perilaku ini dihasilkan dari interaksi agen agen
sederhana didalamnya (Macal et.al, 2010).
Paper ini bertujuan memperkenalkan konsep
simulasi dengan ABM. Secara khusus penggunaan
ABM untuk mendukung pembelajaran. Untuk itu
paper ini juga memberikan contoh pengembangan
ABM. Simulasi yang dikembangkan menggunakan
metode MASIM (Campos et.al, 2004) dan NetLogo
sebagai tool dalam implementasi.

1.

PENDAHULUAN
Sebagian besar anak anak lebih mudah
mengingat sesuatu hal ketika ia melihat dan terlibat
secara langsung dibandingkan dengan jika ia
membaca atau mendengarnya dari orang lain. Ada
juga istilah yang mengatakan Sebuah gambar lebih
bermakna dari seribu kata. Hal ini menunjukkan
pentingnya visualisasi bagi manusia dalam
memahami sesuatu, demikian juga dalam proses
belajar mengajar. Beberapa mata pelajaran memiliki
konsep konsep yang abstrak sehingga dapat
menyulitkan siswa dalam memahaminya dan
mungkin saja dapat menyebabkan pemahaman yang
keliru. Oleh karena itu visualisasi menjadi penting
dalam mendukung dan meningkatkan pemahaman
siswa terhadap konsep dan materi dari suatu mata
pelajaran. Sistem komputer seperti simulasi dan
animasi dapat memberikan pengalaman belajar yang
kongkrit kepada siswa (Mursiti et.al, 2006).
Simulasi komputer merupakan suatu program
komputer yang digunakan untuk meniru suatu
kejadian atau sistem tertentu (Sridadi, 2009).
Melalui simulasi konsep konsep yang bersifat
abstrak dapat divisualisasikan dalam bentuk gambar
dan animasi. Melalui simulasi juga siswa dapat
langsung berinteraksi, melakukan percobaan dan
langsung melihat pengaruh yang ditimbulkan pada
sebuah sistem. Simulasi berbasis agen (Agent-based
Modeling ABM) merupakan metode yang relatif
baru dalam mengembangkan simulasi (Macal et,al,
2010).
Simulasi berbasis agen telah digunakan secara
luas oleh para peneliti dalam mempelajari dan
memvisualisasi fenomena seperti interaksi individu
pada ekosistem, reaksi kimia dan perilaku serangga
(Wilensky et.al, 2007). Kelebihan dari ABM terletak
pada kemampuannya memodelkan sistem dunia

2.

TINJAUAN PUSTAKA
Penggunaan simulasi untuk mendukung proses
belajar mengajar telah dilakukan selama beberapa
tahun terakhir. Mursiti et.al (2006) mengembangkan
simulasi untuk konsep kimia khususnya orbital
atom, orbital molekul dan hibridisasi. Hal ini
dilakukan untuk memperbaiki kesalahpahaman
konsep (miskonsepsi) siswa terhadap 3 konsep
tersebut. Handari et.al (2008) mengembangkan
simulasi sebagai alat bantu analisis farmakokinetik.
Analisis farmakokinetik obat dibutuhkan untuk
memperoleh informasi tentang kinetika absorbsi,
distribusi dan eliminasi obat.
Bonabeau (2006) menyatakan dalam ABM suatu
sistem dimodelkan dengan kumpulan entitas
entitas yang dapat mengambil keputusan secara
otonom, entitas ini disebut agen. Setiap agen
bertindak dan berperilaku berdasarkan aturan
tertentu di dalam lingkungannya. Pada Agent-Based
Modeling, pengamatan dan pembelajaran dilakukan
terhadap interaksi interaksi yang terjadi antar agen
(Yin, 2010). Agent-Based Modeling digunakan
dalam memodelkan proses bisnis seperti pada (Yin,
2010; Yue-qi, 2011). Entitas yang terlibat didalam
proses bisnis dimodelkan sebagai agen dan proses

75

Seminaar Nasional Teknoologi Informasi dan


d Komunikasi 2012
2
(SENTIKA 2012)
2
Yogyakkarta, 10 Maret 2012
2

bisnis yaang terjadi dimodelkan


d
s
sebagai
interaaksi
yang terjaadi antar agenn.
Bliksttein dan Wilensky (20099) menggunaakan
MaterialS
Sim dalam mendukung
m
p
pengajaran
p
pada
mahasisw
wa. MaterialSim merupakaan simulasi yang
y
dibangunn menggunakaan NetLogo untuk
u
pemodeelan
struktur atom yang menyusun suuatu benda atau
a
materi. MaterialSim memungkinnkan mahasisswa
untuk meemilih topik yang menarik untuk
u
mahasisswa
tersebut dan memodeelkan serta mengamati
m
prooses
yang terjadi melalui simulasi.
s
Hasiil dari penelittian
ini menuunjukkan dengan menjadi pembuat moodel
dalam siimulasi, mahhasiswa dapaat meningkattkan
pemaham
mannya terhaadap konsep konsep dari
d
materi yaang hendak dippelajari.

ISSN
N: 2089-9815

mangsa-meman
ngsa yang
sallah satu skenaario adalah m
terjjadi ketika posisi
p
satu aggen sama den
ngan agen
pem
mangsanya.
3.2
2

Fase Moddeling
Tujuan utam
ma fase ini addalah mengind
dentifikasi
enttitas, peran, tuugas, aktifitass dan interakssi diantara
eleemen elemenn yang terlibaat. Fase ini meemodelkan
org
ganisasi sisttem secara makro (keeseluruhan
eleemen) dan mikro
m
(indivvidu). Contoh
h entitas:
tum
mbuhan, tikuss, ular dan elaang. Aktifitas: bergerak,
maakan dan berepproduksi.
3.3
3

Fase Design dan Arch


hitectural
Kelanjutan dari
d
fase moodeling. Padaa fase ini
mo
odel konsep pada fase ssebelumnya dijabarkan
d
seccara mendetaiil mengikuti ppendekatan programing.
Haal ini dimakssudkan untukk mempermud
dah tahap
sellanjutnya, tahaap implementasi. Contoh un
ntuk aktor
elaang:

ETODOLOGII PENELITIA
AN
ME
Paperr ini meganngkat contoh proses maakan
memakann diantara individu pada suatu ekosisttem
yang diisebut dengaan rantai makanan.
m
Ranntai
makanan merupakan saalah satu konssep yang terdaapat
pada pellajaran biologgi. Proses inni menempattkan
tumbuhann pada dasaar dari rantaai makanan dan
pemangsaa (karnivora)) pada ujung teratas ranntai
makanan.
3.

Aktor: Elang
Atributt: umur dan ennergi
Proceddure:
Makann ()
Setiap bergerak, cekk:
Jika adda ular atau tikkus maka mak
kan
Energi energi + 10
End if
End
Gambar 2. Prosedurre aktor elang
g
3.4
4

Fase Impplementation
Melakukan coding dann implementtasi hasil
perrancangan menggunakan
m
tool atau
u bahasa
pem
mrograman teertentu.
Gambar 1. Rantai makaanan

3.5
5

Fase
validation
dan
Verification,
Accreditaation
Sebelum sim
mulasi digunnakan oleh user
u
maka
perrlu diverifikkasi dan ddivalidasi. Fase
F
ini
meembandingkann hasil fase Requirementts dengan
hassil fase implem
mentation (sofftware).
Simulasi padda paper ini m
menggunakan
n NetLogo
dallam implemenntasi. NetLoggo merupakan
n program
yan
ng dikembanggkan oleh Urii Wilensky daan tersedia
graatis pada http://ccl.norrthwestern.edu
u/netlogo/.
NeetLogo dikem
mbangkan deengan maksu
ud untuk
meemberikan kem
mudahan bagii para peneliti dan siswa
dallam membanggun simulasi (W
Wilensky, 200
07).
Lingkungan antar muka N
NetLogo seperrti tampak
pad
da Gambar 3. NetLogo m
memiliki jendeela tempat
sim
mulasi berjalann, tempat dim
mana agen dileetakan dan
meenjadi lingkuungan bagi aagen. Penggu
una dapat
meerancang antarr muka simulasi yang hend
dak dibuat
sessuai dengan keinginan
k
daari pengguna. NetLogo
jug
ga menyediaakan sejumlaah komponeen untuk
perrancangan anntar muka sepperti button, slider
s
dan
plo
ot.

Pada simulasi beerbasis ABM


M untuk ranntai
makanan, agen diguunakan untuuk memodellkan
individu dalam ekosisttem. Setiap agen
a
ini memiiliki
properties dan perilakku masing masing.
m
Interaaksi
yang terjjadi adalah ketika
k
agen saling
s
memanngsa
satu sam
ma lain. Salaah satu metoode yang daapat
digunakaan dalam mem
mbangun ABM
M adalah MAS
SIM
(Campos et.al, 2004).
MASIIM merupaakan suatu metode yang
y
difokuskaan pada penggembangan simulasi
s
berbasis
agen/mullti agen. Konnsep agen digunakan
d
dalam
metode MASIM
M
terutaama untuk meemodelkan perran,
interaksi dan ketergantungan dari tiiap entitas dalam
lingkungaan simulasi. MASIM
M
terbaggi menjadi 5 fase
f
yaitu Requirements,
R
Modeling,, Design dan
Architecttural, Implem
mentation dann yang terakkhir
adalah Veerification, vaalidation dan Accreditation.
A
Faase Requiremeents
Tahapp requiremeents pada MASIM akan
a
menghasiilkan skenarioo. Pada kasuss rantai makaanan
3.1

76

Seminaar Nasional Teknoologi Informasi dan


d Komunikasi 2012
2
(SENTIKA 2012)
2
Yogyakkarta, 10 Maret 2012
2

ISSN
N: 2089-9815

6 menunjukkann tampilan aawal simulassi dengan


jum
mlah rumput sebanyak 2200, jumlah tikus 30,
jum
mlah ular 20 dan
d jumlah elaang 10.

Gambar 3. Antar
A
muka NeetLogo
Gambaar 6. Tampilann awal simulassi

4.

PEN
NGUJIAN DA
AN PEMBAH
HASAN
Modeel hasil peerancangan dengan
d
mettode
MASIM diimplementtasi menggunnakan NetLoogo.
Terdapat 4 agen dalaam simulasi yang digunaakan
untuk meemodelkan inddividu seperti tumbuhan, tikkus,
ular dann elang. Gam
mbar 4 mennunjukkan baris
program yang mendefenisikan 4 agen
a
dan atriibut
yang dim
milikinya.

Pengguna dapat
d
berinterraksi dengan merubah
mlah populasii awal tiap inndividu melalu
ui 4 buah
jum
slid
der seperti padda Gambar 7.

breed [mouses mouse]


breed [snakes snakee]
breed [eagles eagle]]
breed [grass gras]
grass-oown [ umur ]
mousees-own [ energgi umur ]
snakess-own [ energii umur ]
eagles-own [ energi umur ]
Gambbar 4. Kode prrogram pendeefenisian agen

Gambar 7. Slider pengatuuran populasi awal


d
m
melalui tomb
mbol run,
Simulasi dijalankan
sed
dangkan tom
mbol Set U
Up digunakaan untuk
meelakukan penggaturan awal simulasi. Hassil tombol
Sett Up tampaak seperti Gambar 6. NetLogo
meemungkinkan untuk menjaalankan simulasi secara
teru
us menerus, selain itu pengguna ju
uga dapat
meenjalankan sim
mulasi secara langkah dem
mi langkah
unttuk dapat melihat
m
peruubahan yang
g terjadi.
Pen
ngguna dapatt mengamati jalannya sim
mulasi dan
perrubahan yang terjadi pada vvariabel melau
ui monitor
dan
n plot. Gambbar 8 menunjuukkan perubaahan yang
terjjadi pada jum
mlah elang, uular, tikus daan rumput
yan
ng tampak padda monitor. Perubahan ini juga
j
dapat
dilihat pada plot
p
yang m
menampilkanny
ya dalam
ben
ntuk garis.
Ketika simullasi dijalankann, tiga agen yaitu
y
tikus,
ulaar dan elangg akan selaalu berpindah
h tempat.
Sed
dangkan rumpput tetap padaa posisinya sem
mula. Jika
terjjadi posisi aggen sama denggan posisi ageen lainnya
maaka akan diilakukan penngecekan. Ag
gen yang
possisinya sebagaai mangsa akaan hilang dim
makan oleh
ageen pemangsaa. NetLogo menggunakaan istilah

NetLoogo menggunaakan prosedurr untuk mengaatur


perilaku dari tiap agen. Sebagai coontoh agen tiikus
memiliki perilaku maakan, bergeraak, bereproduuksi
dan mati. Untuk menddefenisikan perilaku ini daapat
digunakaan 4 prosedur. Gambar 5 meenunjukkan baris
program untuk
u
perilakuu makan dari agen tikus
to tikus-makaan
let ada-rumput one-of grasss-here
if ada-rumpuut != nobody
[
ask ada-rumpput [ die ]
set energi ennergi + 5
]
End
Gambaar 5. Kode proogram proseduur tikus makann
Antarr muka simulasi rantai maakanan ini terrdiri
dari 2 buutton, 4 moniitor, 4 slider dan 1 buat plot.
p
Selengkaapnya dapat diilihat pada Gaambar 6. Gam
mbar
77

Seminaar Nasional Teknoologi Informasi dan


d Komunikasi 2012
2
(SENTIKA 2012)
2
Yogyakkarta, 10 Maret 2012
2

ISSN
N: 2089-9815

ticks untuk
u
menam
mpilkan jum
mlah perulanngan
selama simulasi. Gam
mbar 9 menam
mpilkan simuulasi
yang dijaalankan pada ticks
t
ke 10.

Gambar 10. Monitor


M
dan pplot pada tickss ke 10

Gambar 8. Monitor dann plot

Gambar 11. Keadaan ppada ticks ke 25

G
Gambar
9. Keaadaan pada ticcks ke 10
Jumlaah dari masinng masingg individu daapat
dilihat paada monitor daan plot sepertii Gambar 10.
Pada rantai
r
makanaan perbandinggan antara jum
mlah
individu perlu dijaga agar terciptaa keseimbanggan.
Jika jum
mlah pemangssa lebih banyyak dari manngsa
akan menyebabkan
m
pengurangann dari jum
mlah
pemangsaa itu sendiri.. Fenomena ini dapat diliihat
ketika sim
mulasi memassuki ticks ke 25
2 seperti tam
mpak
pada Gam
mbar 11.
Gambbar 12 mennunjukkan ketika pemanngsa
diatasnyaa seperti ular dan
d elang tidaak ada lagi maka
m
populasi tikus
t
menjadii tidak terkenddali.

2
Gambaar 12. Keadaann pada ticks 62
78

Seminar Nasional Teknologi Informasi dan Komunikasi 2012 (SENTIKA 2012)


Yogyakarta, 10 Maret 2012

ISSN: 2089-9815

Atomic Orbital, Molecular Orbital and


Hibriziation Concepts by Computer Asissted
Instruction with Animation and Simulation
Model. Indonesian Journal of Chemistry,
(Online), Vol 6, No. 1, (http://pdmmipa.ugm.ac.id/ojs/index.php/ijc/article/viewFile
/272/229, diakses 28 Januari 2012).
Sridadi, B. 2009. Pemodelan dan Simulasi Sistem,
Teori, Aplikasi dan Contoh Program dalam
Bahasa C. Penerbit INFORMATIKA Bandung.
Wilensky, U., Blikstein, P. & Abrahamson, D. 2007.
Classroom Model, Model Classroom: ComputerSupported Methodology for Investigating
Collaborative-Learning Pedagogy. Dalam C.
Chinn, G. Erkens & S. Puntambekar (Eds),
Proceedings of the Computer Supported
Collaborative Learning (CSCL) Conference (hal
46 55) NJ: Rutgers University.
Yin, Q., Li, Y & Zhi, K. 2010. Multi-Agent Based
Simulation of Negotiate Pricing Process in B2C.
Second WRI Global Congress on Intelligent
Systems.
Yue-qi, L. 2011. Analysis and Design of the
Business Simulation Based on the Multi-Agent.
Fourth International Joint Conference on
Computational Science and Optimization.

5.

KESIMPULAN
Agent-Based Modeling dapat dikatakan sebagai
suatu paradigma dalam membangun simulasi.
Agent-Based Modeling merupakan konsep simulasi
yang menggunakan agen dan interaksinya dalam
memunculkan fenomena atau perilaku baru tanpa
perlu didefenisikan terlebih dahulu.
Kemampuan dan kelebihan dari Agent-Based
Modeling dapat digunakan dalam membuat model
visualisasi dari konsep konsep dalam bidang mata
pelajaran tertentu. Hal ini diharapkan dapat
meningkatkan pengertian siswa terhadap konsep
tersebut. Berdasarkan hasil percobaan terlihat bahwa
Agent-Based Modeling berhasil memodelkan proses
rantai makanan. Sekaligus menampilkan fenomena
yang terjadi didalamnya tanpa perlu didefenisikan.
NetLogo merupakan salah satu tool yang dapat
digunakan untuk membangun simulasi berbasis
Agent-Based Modeling. Penggunaan NetLogo yang
relatif mudah dapat mendukung para pendidik dalam
membangun simulasi untuk mendukung proses
belajar mengajar.

PUSTAKA
Blikstein, P & Wilensky, U. 2009. An Atom is
Known by the Company it Keeps: A
constructionist Learning Environment for
Materials Science Using Agent-Based Modeling.
International Journal of Computer Math
Learning, Vol 14 (hal 81 119). Springer
Science+Business Media.
Bonabeau, E. 2006. Agent-Based Modeling:
Meethods and Techniques for Simulating Human
Systems. Dalam Proceedings of National
Academy of Sciences of the United States of
America (hal 7280 7287).
Campos, A., Canuto, A., Fernandes, J. & de Moura,
E. 2004. MASIM: A Methodology for the
Development of Agent-Based Simulations.
Dalam Gyorgy Lipovszky, Istvan Molnar,
Proceedings
16th
European
Simulation
Symposium, SCS Press.
Handari, B., Djajadisastra, J. & Silaban, D. 2006.
Pengembangan Perangkat Lunak Simulasi
Komputer Sebagai Alat Bantu dalam Analisis
Farmakokinetik. Jurnal MAKARA SAINS,
(Online), Vol 10, No. 1, (http://journal.ui.ac.id,
diakses 28 Januari 2012).
Macal, C.M., Chan, W.K.V & Young-Jun, S. 2010.
Agent-Based Simulation Tutorial-Simulation of
Emergent Behavior and Differences Between
Agent-Based Simulation and Discrete-Event
Simulation. Dalam B. Johansson, S. Jain, J.
Montoya-Torres, J. Hugan, and E. Yucesan
(eds), Proceedings of the 2010 Winter Simulation
Conference (hal 135 150).
Mursiti, S., Fardhyanti, D.S., Cahyono, E &
Sudarmin. 2006. Misconception Remediation of
79