Anda di halaman 1dari 4

BAB IV

DATA DAN PEMBAHASAN


A. Ekstraksi isoflavon genistein dari tempe
Ekstraksi merupakan pengambilan senyawa aktif dalam bagian tanaman tertentu dengan
menggunakan pelarut tertentu yang selektif. Dalam penelitian kali ini senyawa aktif yang akan
diekstraksi dan ditentukan kadarnya adalah aglikon isoflavon genistein. Dalam pembuatan crude
extract kedelai digunakan tempe dari kedelai putih. Ekstrak dari produk kedelai yang telah
difermentasi mengandung lebih banyak aglikon isoflavon. Selama proses fermentasi, ikatan -Oglikosidik terhidrolisis, sehingga dibebaskan senyawa gula dan isoflavon aglikon yang bebas.
Senyawa isoflavon aglikon ini dapat mengalami transformasi lebih lanjut membentuk senyawa
transforman baru. Hasil transformasi lebih lanjut dari senyawa aglikon ini justru menghasilkan
senyawa-senyawa yang mempunyai aktivitas biologi lebih tinggi (Pawiroharsono, 2001). Tempe
mengandung total isoflavon genistein yang paling banyak.

Reaksi Hidrolisis Glukosida Isoflavon Genistin menjadi Aglikon Isoflavon Genistein


(Ariani, 2003).
Tempe dihaluskan terlebih dahulu dengan blender sebelum dimaserasi untuk
memperkecil ukuran partikel sehingga kontak pelarut dengan sampel tempe semakin luas. Luas
permukaan yang semakin besar akanmemperbesar pembasahan bahan yang akan diekstrak
sehingga penyarian senyawa aktif dapat berjalan dengan optimal (Harborne, 1987). Setelah
tempe dihaluskan kemudian dilakukan perendaman dengan petroleum eter untuk menghilangkan

lemak pada matriks. Perendaman dilakukan selama 45 menit dengan penggojogan oleh shaker
supaya setiap partikel bahan lebih terbasahi oleh petroleum eter sehingga dapat menyari lemak
secara optimal.
Pelarut yang digunakan dalam menyari senyawa aglikon isoflavon genistein adalah etanol
teknis 70%.Dipilih pelarut organik etanol sebagai penyari karena aglikon isoflavon genistein
termasuk golongan senyawa fenolik.Dalam mengekstraksi senyawa fenolik biasanya digunakan
pelarut seperti etanol, metanol, n-butanol, aseton, dimetilformamida, dimetilsulfoksida dan
air.Pelarut-pelarut ini aman untuk digunakan karena dapat mencegah pertumbuhan kapang dan
jamur, netral, tidak toksik, dan absorbsinya baik (Hargono, 1986).Selain itu etanol dipilih karena
murah dan ramah lingkungan.Digunakan komposisi etanol 70% berdasarkan optimasi dari
penelitian yang dilakukan olehRostagno et al. (2004). Rostagno et al. melakukan optimasi
penyarian isoflavon dengan memvariasikan komposisi etanol dan air.Hasil dari penelitiannya
menyatakan bahwa peningkatan efisiensi ekstraksi berbanding lurus dengan peningkatan jumlah
komposisi air pada persentase air 0-30%, sementara jumlah komposisi air di atas presentase
tersebut menurunkan efektifitas efisiensi.
Pada ekstraksi aglikon isoflavon pada penelitian kali ini digunakan metode maserasi
karena metode ini tidak membutuhkan pemanasan. Pemanasan sampai 60o C dapat mengkonversi
bentuk isoflavon yang akan diekstraksi karena reaksi de-esterifikasi dan pemanasan sampai 80 o
C dapat mempercepat laju reaksi de-esterifikasi tersebut (Barnes et al., 1994). Metode maserasi
juga bersifat lebih praktis, efisien, dan affordable jika dibandingkan dengan perkolasi, karena
dalam metode perkolasi aliran tetesan perkolatnya perlu diatur sedemikian rupa sehingga
membutuhkan waktu yang lebih lama. Pada maserasi dilakukan penggojogan juga dengan
bantuan shaker untuk membantu mengoptimalkan kontak sel pada tempe dengan pelarut

sehingga pelarut dapat menyari isoflavon secara optimal apabila dibandingkan dengan yang
hanya didiamkan saja. Dalam maserasi digunakan perbandingan antara sampel dan pelarut etanol
1:2 dan 1:1 pada maserasi kedua. Dilakukan remaserasi untuk memaksimalkan proses penyarian
isoflavon dari matriks tempe jika dibandingkan dengan satu kali maserasi.
Setelah sampel tempe dimaserasi dengan pelarut etanol tahap selanjutnya adalah
penyaringan. Penyaringan dilakukan untuk memisahkan pelarut yang sudah menyari senyawa
analit pada sampel dengan matriks. Pada proses penyaringan menggunakan corong Buchner yang
dihubungkan dengan pompa vakum untuk mempercepat waktu dan meningkatkan efisiensi
penyaringan. Prinsip kerja dari corong Buchner sendiri adalah memisahkan endapan dari
pelarutnya atau cairan dari residunya dengan cara menyedot udara di dalam corong dengan
pompa vakum sehingga tekanan di dalamnya lebih kecil daripada yang di dalamnya cairan yang
ada didalam corong dapat menetes serta menghasilkan filtrat yang lebih banyak dan residu atau
ampasnya dapat tetap ditinggalkan didalam corong tersebut. Setelah itu untuk menguapkan
pelarut hasil filtrat dapat digunakan vacuum rotary evaporator maupun penguapan menggunakan
panas di bawah suhu 60o C.Vacuum rotary evaporator dapat menguapkan pelarut di bawah titik
didihnya karena adanya sistem vakum yang dapat menurunkan tekanan udara sehingga pelarut
dapat menguap lebih cepat (Dave, 2010).
B. Standarisasi isoflavon genistein dari tempe
Penetapan kadar aglikon isoflavon genistein dilakukan dengan menggunakan
kromatografi cair kinerja tinggi atau HPLC (High Performance Liquid Chromatography).Dipilih
instrumen HPLC untuk menetapkan kadar karena genistein merupakan komponen minor dalam
kedelai sehingga dibutuhkan instrumen yang sensitif untuk mendeteksi kadar yang kecil.

Kromatografi merupakan suatu teknik pemisahan yang menggunakan fase diam


(stationary phase) dan fase gerak (mobile phase) (Rohman, ..., 323). Fase diam yang digunakan
adalah silanol dengan modifikasi penempelan gugus oktadesil silika (ODS atau C18) karena
mampu memisahkan senyawa dengan kepolaran rendah, sedang, maupun tinggi. Metode
pemisahannya menggunakan reverse phase, di mana fase gerak bersifat lebih polar daripada fase
diam. Digunakan metode reverse phase untuk meningkatkan interaksi analit genistein yang
bersifat non-polar terhadap fase diam. Dengan prinsip like dissolve like, senyawa yang sifat
kepolarannya hampir mirip akan teretensi lebih lama pada fase diam sehingga senyawa yang
sifatnya lebih non polar akan keluar lebih akhir.